Sabtu malam yang lalu saya diundang oleh seorang sahabat berhubung dengan pengucapan syukur atas rumah barunya. Tahun 1990 yang lalu dia bersama istrinya masih mengontrak sebuah gubuk derita di dekat kali Ciliwung, namun dia mempunyai impian yang sangat besar. Dengan kerja keras dan kerja cerdas, disertai dengan kasih karunia Tuhan yang besar, dia sekarang menjadi seorang pengusaha yang sukses, selain hamba Tuhan yang melayani dengan biaya sendiri kemana-mana.
Di rumah Pak Jarot Wijanarko malam itu saya melihat kemegahan sebuah impian, di atas tanah yang sangat luas di bilangan Bintaro. Padahal selama ini dia selalu mengontrak rumah, meskipun rumah yang dikontraknya tergolong mewah. Malam itu pak Jarot bersaksi bahwa ada seorang mitra usaha, yang lebih erat hubungannya dibandingkan saudara kandung sekalipun, yang telah menolongnya mencapai impian itu, yaitu Bapak Sutomo, mantan atasan di PT. Astra Export Company. Selain itu pak Jarot juga bersyukur kepada Tuhan karena menganugerahkan seorang istri yang cakap seperti permata. "Sekarang ini, tidaklah aneh kalau banyak wanita yang mau menikah dengan saya. Sedari dulu, sejak waktu saya masih miskin, Esther adalah istri yang setia dan penolong yang sepadan bagi saya," kata pak Jarot bersaksi.
Pernikahan pak Jarot dengan ibu Esther merupakan pernikahan antar suku yang menjadi teladan bagi kita semua. Pertemuan antara pria Jawa (Solo) dengan perempuan Tionghoa asal Cirebon, putri seorang hamba Tuhan dan cici Pdt. Daniel Arief dari Bandung ini, telah melahirkan anak-anak juara yang mendapat beasiswa penuh untuk sekolah di Singapura. Puji Tuhan!
Ditulis/diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com