Tuesday, January 20, 2009

Walking Under His Plan

Seorang profesional yang berhasil di bidangnya ternyata harus mengalami kebangkrutan pada era tahun 1998 yang lalu.5) Investasinya di suatu bisnis ternyata berantakan, sehingga rumah yang ditinggali mereka harus diserahkan kepada pihak bank, karena rumah itu dipakai sebagai agunan bagi kredit usahanya. Sejak itu keluarganya hidup susah. “Pernah pada suatu hari anak kami sakit. Untuk berobat ke dokter saja, kami tidak mampu, sehingga anak itu hanya didoakan saja. Sungguh menyedihkan memang, namun melalui doa itu anak kami disembuhkan. Pernah teman-teman isteri saya berkata, ‘Hei Christine (bukan nama sebenarnya), gua liat lu naik angkot, apa bener itu elu?’”

Memang selama kesulitan, isterinya tidak bepergian dengan Benz lagi seperti dahulu. Ia harus tabah menggunakan jasa angkot ke mana-mana. Gaya hidup mereka berubah drastis, lebih tepat dikatakan turun drastis. Mereka harus meninggalkan zona kenyamanan yang selama bertahun-tahun telah mereka nikmati.

Setelah mengalami lahir baru, sang profesional dengan roh yang berkobar-kobar melayani orang-orang miskin dan para pemulung. Kebanyakan hamba Tuhan lebih suka melayani orang-orang dari golongan menengah ke atas ketika mereka membuka gereja atau persekutuan. Hamba Tuhan yang berasal dari profesional yang bangkrut ini radikal dalam pelayanannya. Dengan dana seadanya ia melayani orang-orang yang terpinggirkan, orang-orang yang tak diperhitungkan, dan orang-orang yang susah dan bermasalah, seperti Daud beserta orang-orang bermasalah di Gua Adulam. Lihat 1 Samuel 22:1 - 2.

Namun kasih karunia Tuhan itu luar biasa. Ketika mantan profesional ini bertemu dengan seorang teman lamanya yang bekerja di sebuah perusahaan BUMN, temannya menawarkan suatu proyek. Dari proyek itu dia memperoleh pendapatan yang lumayan besar. Melalui berkat Tuhan ini sekarang kehidupan mereka dibuat berlimpah-limpah.

Ditulis oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com