Ketika Beni Prananto, seorang pengusaha, bertobat dan lahir baru pada tahun 1990, ia mulai menjalankan bisnis penyewaan 36 kapal dengan cara-cara Alkitabiah. Jika sebelumnya ia menjalin bisnis dengan BUMN seperti yang biasa dilakukan para pengusaha lainnya, sejak itu ia tidak melakukannya lagi. Apa akibatnya? Tiga puluh enam kapal itu tidak diperpanjang lagi kontrak penyewaannya. Lingkungan di sekitarnya mencela cara bisnis Beni. “Mana mungkin menjalankan bisnis sesuai Alkitab? Kalau mau hidup suci, nanti saja pada waktu sudah tua, sekarang jalankan bisnis dengan cara yang lazim di Indonesia!” begitulah nasihat orang-orang di sekitarnya. Namun hatinya tetap teguh ingin mengikuti prinsip-prinsip Alkitabiah.
Akhirnya 36 kapal menganggur selama lebih dari enam bulan, dan Tuhan gantikan dengan sebuah proyek pengadaan kapal supertanker FSO (Floating Storage and Offloading – kapal supertanker untuk penyimpanan minyak yang mengambang di tempat tertentu) yang disewa oleh sebuah perusahaan minyak terbesar di dunia sampai kini. Kapal itu menghasilkan pendapatan jauh lebih besar dibandingkan dengan 36 kapal terdahulu. Ketika Beni ingin menjual kapal tanker itu karena sudah tua dan sebagai besi tua harganya cukup tinggi, namun dari tahun ke tahun pihak penyewa selalu menolak. Berkat itu mengalir terus ke perbendaharaan Beni Prananto.
Ditulis/diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com