Saya mendapat kabar bahwa ada seorang pengerja gereja di kawasan Dadap/Tangerang yang bunuh diri setelah menghabisi nyawa isteri dan anaknya. Ia melakukan tindakan nekad itu gara-gara rugi besar di dalam spekulasi sahamnya. Sayang sekali, ia mengukur kehidupan ini dari nilai saham. Apabila nilai saham jeblok, maka kehidupannya tidak berarti lagi.
Mengapa kehidupan pelayanannya tidak berakar pada kedalaman hubungan dengan Tuhan? Kalau ia mempunyai hubungan yang intim dengan Tuhan, tentu ia sudah mendengar bahwa spekulasi yang terlalu berani di bidang saham itu sangat berbahaya. Kalau ia mempunyai hubungan yang dekat dengan Tuhan, tentu ia sudah mendengar bahwa membunuh isteri dan anaknya lalu bunuh diri bukanlah menyelesaikan masalah dengan baik. Kalau ia mempunyai hubungan yang benar dengan Tuhan, tentu kehidupannya tidak diukur dengan indeks harga saham. Kalau indeks hancur, maka kehidupannya juga hancur?
Ditulis oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com