Tadi siang, Minggu 12 Oktober 2008, datang SMS di HP saya yang menanyakan apakah saya mengetahui ayat-ayat Firman Tuhan (FT) yang dapat digunakan untuk menghadapi isteri yang menceraikan suaminya dan melarang anak-anaknya menemui ayah mereka. Saya berpikir keras, dan bertanya kepada Tuhan, apakah ada ayat-ayat seperti itu? Mungkin ada. Tetapi yang terbayang pada saya adalah seorang wanita yang keras hati karena kepahitan yang mendalam akan sulit menerima ayat FT apapun. Apalagi kalau wanita gampangan yang sangat materialistis, akan sangat mudah menceraikan suaminya apabila sang suami kena stroke, atau bangkrut, atau sedang terpuruk, atau kedapatan selingkuh.
Saya ingat tentang seorang teman yang telah meninggal. Pada waktu ibadah penghiburan, saya katakan di dalam hati, "Walaupun saya mendapatkan karunia untuk membangkitkan orang mati, saya tidak akan membangkitkan teman yang meninggal mendadak ini." Mengapa? Ceritanya panjang, namun beginilah kisah singkatnya.
Pria ini adalah seorang Tapanuli. Dulu ia kuliah di Yogyakarta dan mendapatkan gelar Sarjana Hukumnya dari sana. Ketika masih muda ia aktif dalam pelayanan di kampus. Nah, di tempat itulah ia berkenalan dengan seorang gadis Jawa yang manis. Gadis ini diperkenalkan kepada Tuhan, diajak pelayanan bersama, dan akhirnya mereka menikah. Masalahnya mulai terjadi di sini.
Dalam kehidupan pernikahan itu sang pria sangat ceroboh dan hidup sembarangan. Ia banyak menghabiskan waktunya untuk main bilyar dan main perempuan. Biaya kehidupannya ditanggung isterinya yang bekerja. Kegoncangan itu tambah parah, ketika sang suami selingkuh dengan suster yang mengasuh anak mereka. Sang isteri yang tadinya sangat respek diperkenalkan kekristenan oleh suaminya semasa mahasiswa, lambat laun makin kecewa dan benci dan sakit hati terhadap suaminya. Akhirnya bisa ditebak, suaminyapun diceraikan, meskipun mereka telah dikaruniai satu orang putera dan satu orang puteri. Proses perceraian digelar di pengadilan. Dari tingkat pengadilan negeri, sampai pengadilan tinggi, suaminya yang Sarjana Hukum itu berusaha mementahkan gugatan cerai isterinya. Proses perceraian ini berlarut-larut dan memakan hati kedua belah pihak. Permintaan suaminya agar isterinya mengampuni masa lalunya tak digubris lagi, karena sudah berkali-kali suaminya pernah meminta maaf dan berjanji meninggalkan kelakuannya yang buruk, tetapi akhirnya kumat lagi.
Saya mengenal pria ini karena pada suatu malam ketika di rumah saya diadakan Family Altar (Komsel), pria ini datang mengikuti ibadah pada hari Jumat malam itu. Pada waktu itu pria ini menceritakan kesulitannya. Saya berusaha menemui isterinya bersama isteri saya. Isterinya tidak mau didamaikan lagi karena sakit hati yang sangat mendalam. Saya juga sudah berusaha meminta bantuan pihak saudara isterinya yang ada kaitan dengan seorang Menteri di zaman Pak Harto. Namun semua usaha ini tidak berarti karena kekerasan hati isterinya.
Sementara itu pria ini makin sungguh-sungguh dalam pelayanan, dan kehidupannya menunjukkan pertobatan. Ia mengikuti Sekolah Misi di gereja kami, dan aktif dalam pelayanan penginjilan sampai ke luar kota dan ke Kalimantan. Banyak sukaduka pelayanan yang saya dengar dari teman ini. Seolah-olah dia ingin menebus kehidupan masa lalunya yang kelam.
Selama itu pula kehidupan pria ini sangatlah mengenaskan. Seringkali dalam keadaan kelaparan dia datang ke rumah dan saya ajak dia makan bersama. Di saat lain ia mengaku kekurangan uang dan kami memberi seberapa kami mampu. Dia juga menceritakan betapa sulitnya menemui anak-anaknya. Isterinya melarang dia ketemu anak-anaknya, karena pria ini suka meminta uang saku yang dimiliki anak-anaknya ketika dia sudah sangat kelaparan. Sebenarnya dia baik sekali terhadap anak-anaknya, dan menasihati mereka agar menjadi anak yang takut akan Tuhan.
Pada suatu hari saya kaget karena mendengar kabar bahwa teman saya ini meninggal mendadak karena serangan stroke dan tak ada orang yang sempat menolongnya, karena ia tinggal sendiri di tempat kos. Mengingat segala penderitaan pria ini, saya relakan kepergiannya. Saya mendengar kabar bahwa isterinya telah menikah lagi dengan pria lain.
Dari berbagai pengalaman para pria yang diceraikan isterinya, kebanyakan kisahnya berakhir tragis. Namun, selalu masih ada harapan di dalam Kristus, apabila para suami itu berdoa, berpuasa, membaca Alkitab dan melakukannya. Dengan kasih karunia Tuhan, masih ada harapan keluarganya dipulihkan lagi. Yang penting, sebelum digugat cerai oleh isteri, setiap suami perlu menjaga hati di hadapan Tuhan dan isterinya agar keadaan tidak menjadi parah, sehingga tidak ada jalan mundur, selain gugatan cerai dari isteri yang hatinya sudah keras oleh sakit hati dan kekecewaan.
"Kata Yesus kepada mereka: "Karena ketegaran hatimu Musa mengizinkan kamu menceraikan isterimu, tetapi sejak semula tidaklah demikian." (Matius 19:8)
****
BARU TERBIT : BUKU "KUASA DAN BERKAT IKAT JANJI"
Penulis : Leonardo A. Sjiamsuri
Editor : Hadi Kristadi
Terbitan : Nafiri Gabriel
Harga Sama Dengan Toko Buku: Rp. 35.000.- Silakan pesan melalui 08129716102, harga belum termasuk ongkos kirim, sebutkan nama, alamat lengkap & kode pos. Pembayaran via BCA atas nama HADI no. 4980036931
Ikat janji atau covenant membuat perbedaan yang sangat besar dalam kehidupan anda dan keturunan anda. Ikat janji anda dengan Tuhan memberikan kepastian kehidupan, memberikan kasih setia dan kebenaran Tuhan, pertolongan dan perlindungan Tuhan. Ikat janji anda dengan pemimpin yang memiliki ikat janji dengan Tuhan menyediakan penudungan rohani dan mengalirkan berkat-berkat yang Tuhan berikan melalui pemimpin anda.
Jangan menyesal seperti Ham, anak Nuh, yang tidak menghormati ikat janji Tuhan, sehingga keturunannya menjadi orang-orang terkutuk, orang-orang yang jahat, orang-orang yang menyusahkan banyak orang. Jangan hidup biasa-biasa saja, tanpa arti dan tanpa kepuasan, di luar ikat janji!
Buku ini menyajikan banyak pelajaran yang mengubah kehidupan anda!
****
Ditulis oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com