Monday, September 1, 2008

God, Where Were You? (3)

Dimanakah Engkau, Tuhan? (3)Saya menerangkan kepadanya bahwa pembagian kepribadiannya adalah apa yang telah menjaganya dari kegilaan, karena tidak mungkin bagi seorang anak perempuan untuk menyimpan gambar yang sama dari seorang ayah yang dicintainya secara naluriah dan binatang buas yang telah memperkosanya. Kepribadian yang terpecah itu telah membuatnya mematikan dan melindungi beberapa bagian dari kenangan mengenai tindakan kekerasan itu. Saya meyakinkannya bahwa Bapa Sorgawi sanggup dan akan menyembuhkannya.

Saya telah melihat hal yang sama sebelumnya dan mengetahui fakta bahwa Allah dapat menyembuhkan kondisi seperti itu. Isteri saya, Ruth, dan saya telah melayani konseling seorang mahasiswi di Moody Bible Institute yang datang kepada kami dengan masalah yang berat. Mahasiswi ini berada di ujung daya tahan emosionalnya. Ia telah mengikuti setiap bentuk konseling yang dapat dilakukan untuk mengatasi sebelas bagian dari kepribadiannya yang terpecah. Sementara ia berbicara, saya bertanya kepada Bapa apa yang seharusnya saya lakukan, dan saya dengan jelas merasakan bahwa Bapa berkata, “Yakinkan dia bahwa Aku akan menyembuhkannya. Kemudian, berdoalah dengan iman!” Ruth dan saya melakukan tepat seperti apa yang telah dikatakan Bapa, dan hari berikutnya perempuan muda ini telah mengalami transformasi kepribadian secara total.

Mahasiswi ini mengatakan kepada kami bahwa setiap malam ia mengalami sakit yang parah pada jiwanya, seolah-olah tulang-tulangnya yang tidak beraturan dipatahkan dan disusun kembali. Kemudian ia bangun dan merasa utuh untuk pertama kali dalam hidupnya. Kami memeriksa keadaannya tiga bulan kemudian, dan keadaannya bahkan menjadi lebih baik lagi. Kami mengetahui bahwa Bapa Sorgawi dapat menyembuhkan kondisi kejiwaan yang mengerikan ini.

Perempuan di konferesi ini kemudian bertanya tentang rasa marah yang tak terkendali. Ia bercerita bagaimana ia merasa menyesal bahwa ayahnya telah meninggal terlebih dahulu sebelum ia dapat membunuhnya. Kemarahannya begitu dalam sehingga ia meyakinkan saya bahwa jika ayahnya berada di ruangan ini, ia akan membunuhnya tanpa penyesalan. “Bagaimana dengan kemarahan saya?” tangisnya.

“Saudariku,” saya berkata, “kemarahan itu adalah sesuatu yang telah membuat anda tidak jatuh dalam keputus-asaan karena ia memberikan suatu harapan – yang memang tidak sempurna dan jahat, tetapi meskipun demikan itu adalah tetap harapan. Namun, hal itu telah gagal menolong anda. Ini seperti memberikan senjata untuk ditembakkan pada seekor badak yang mengamuk. Anda memerlukan sebuah senjata yang lebih besar. Saya ingin memberikan anda sebuah bazooka yang terisi penuh untuk ditembakkan dalam jarak dekat.”

Akhirnya saya mendapatkan perhatiannya. Ia bertanya, “Apakah itu?”

Saya menjelaskan kepadanya bahwa ia telah menerima kemuliaan Bapa dengan sia-sia, sesuatu yang telah disediakan Bapa, anugerah pengampunan, tidak diterimanya karena ia menunggu agar ayahnya memohon ampun kepadanya. Ketika Tuhan Yesus mati di kayu salib, Ia mencurahkan darah-Nya bagi dosa manusia, dan setiap orang diampuni. Tetapi berapa banyak orang yang menerima pengampunan-Nya? Pengampunan selalu menjadi pilihan bagi pihak yang hatinya dilukai. Setan mengetahui hal ini dan ia bekerja keras untuk meyakinkan kita bahwa tidak ada sesuatu yang dapat kita lakukan sampai orang yang berdosa kepada kita itu bertobat dan meminta ampun kepada kita. Apabila orang Kristen mempercayai kebohongan ini, maka ia menerima anugerah dengan sia-sia. Menerima anugerah sih iya, tetapi hatinya tetap dibelenggu dengan sakit hati, dendam, amarah, dan kepahitan. Itu anugerah yang sia-sia!

Apa yang saya bagikan kepada perempuan itu tentang anugerah pengampunan mengubah hidup wanita ini. Dalam waktu kurang dari 30 menit, penderitaan selama setengah abad berubah menjadi piala yang berkilau karena anugerah Bapa Sorgawi. Puji Tuhan!

Sumber: Ed Silvoso, “Wanita – Senjata Rahasia Tuhan”, Metanoia, 2005.

Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com