Wednesday, August 27, 2008

God, Where Were You? (2)

Dimanakah Engkau, Tuhan? (2)
Saya merasa bahwa perempuan ini telah menyampaikan pertanyaan itu sebelumnya dan bahwa ia telah berkali-kali merasa kecewa karena tidak mendapatkan jawaban yang memuaskan. Sekarang ia duduk menunggu, mengharapkan saya untuk menyampaikan sesuatu yang menjelaskan kasusnya dan menolong untuk memulihkan kehidupannya.

Saya mengatakan kepadanya bahwa pertanyaan “Mengapa?” adalah pertanyaan favorit dari setan. Tidak ada seorangpun yang dapat menjawabnya kecuali Bapa Sorgawi. Oleh karena itu saya menyarankan pertanyaan lain: “Untuk apa?”

Dengan bertanya “Untuk apa?”, ia akan mencari kehendak Bapa agar dipenuhi dalam kehidupannya di masa mendatang, bukan bertanya apa kesalahannya sehingga ia mendapatkan perlakuan seperti itu. Seorang perempuan yang menderita sakit gigi yang hebat pada jam 2 dini hari tidaklah sama dengan seorang perempuan yang akan melahirkan pada dini hari yang sama. Meskipun perempuan yang akan melahirkan itu mengalami rasa sakit yang hebat, namun ia menantikan rasa sakit itu bertambah hebat agar ia segera melahirkan bayinya.

Perempuan pada konferensi itu yang berbicara dengan saya bertanya, "Bagaimana mungkin ada berkat dalam penderitaan semacam itu?" Saya menjelaskan kepadanya bahwa 4 dari 10 perempuan menderita beberapa bentuk kekerasan seksual atau penganiayaan di dalam rumah tangga. Jika ia ingin mencari solusi, maka ia dapat membantu mereka. Ketika para korban lain ditolongnya, mereka akan melihat dua hal: bahwa ia mengetahui dan sudah mengalami apa yang mereka alami sehingga ia dapat diterima, dan bahwa ia telah mendapatkan jalan keluar sehingga dapat memberi harapan kepada para korban lain.

“Di mana Allah berada ketika saya dianiaya?” desaknya.

Saya mengatakan kepadanya bahwa saya tidak tahu jawabannya, tetapi karena itu adalah pertanyaan yang wajar, maka kita harus mencoba menemukannya. Kemudian saya membimbingnya untuk mengunjungi kenangannya yang paling awal.

Kami mengunjungi kembali saat dimana ibunya tidak mempercayai ceritanya dan ia berlari ke arah sungai yang deras. Saya bertanya kepadanya, “Mengapa anda tidak menerjunkan diri ke sungai?”

“Tidak tahu!”
Saya mendesaknya untuk berpikir.
“Saya tidak bisa!”

Saya terus mendesak dan ia menangis.
“Saya tidak ingin melakukannya!”

Dengan lembut tetapi tegas, saya terus mendorongnya untuk melanjutkan. Ketika ia mencobanya, wajahnya mulai mengejang, tubuhnya bergetar hebat dan air matanya membanjir keluar. Saya dapat melihat bahwa ia mencoba untuk menerobos tembok emosinya yang tertindas bersama dengan rasa sakit dan kepahitan. Ini berlangsung selama beberapa waktu. Kemudian ketika saya mulai memperhatikan apa yang mungkin tidak dapat ia tahan lagi, ia mulai tersenyum dengan cerah.

Ia membuka matanya yang penuh cahaya kegembiraan saat ia mengatakan, “Saya melihat Dia! Saya melihat Dia!”

Saya menanyakan siapa yang ia lihat. Ia berkata, “Tuhan Yesus! Ia berada di sana, di pinggir sungai. Ia memeluk saya dan menghibur saya. Itulah sebabnya saya tidak jadi melompat ke dalam sungai!”

Kami maju ke memori berikutnya menuju saat dimana ia hendak mengiris nadinya. Pengalaman yang sama terjadi lagi. Rasa sakit pada awalnya dan akhirnya digantikan dengan sukacita yang besar. “Saya melihat-Nya! Saya melihat-Nya. Seorang malaikat datang dan melingkupi saya dengan sayapnya.”

Saya mengatakan kepadanya, “Karena Allah telah begitu dekat dengan anda, ada sebuah alasan untuk mempercayai bahwa hasil akhirnya akan menjadi positif.”

“Apakah anda yakin?” tanyanya, “Bagaimana dengan kepribadian ganda saya? Anda tidak mengetahui betapa mengerikannya hidup saya. Saya tidak pernah merasa menjadi manusia seutuhnya, dan saya tidak mengetahui kapan kepribadian saya yang jahat akan mengambil alih diri saya.” (Bersambung)

Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com