Seorang pemilik bank yang kisahnya pernah saya tulis beberapa hari yang lalu mengisahkan betapa Tuhan itu tidak pernah berutang kepada kita. Pembangunan Sentul City Convention Center memerlukan dana lebih dari Rp. 210 milyar. Jemaat dan para pengerja gereja diajak untuk ikut menyumbang dana pada pembangunan itu. Salah satunya, sang bankir itu menyumbang dana yang cukup besar. Itu dari uang pribadi lho!
Beberapa waktu kemudian ada seorang nasabah yang jarang ketemu beliau, mengajukan proposal bisnis: Nasabahnya yang pengusaha di bidang property ini telah membebaskan tanah sekian hektar, tetapi kekurangan dana untuk menutup sekian hektar lagi sehingga tanah itu bisa lengkap, tidak bolong-bolong karena ada bagian yang belum dibebaskan. Sang nasabah menawarkan kepada bankir ini untuk ikut serta membebaskan tanah. Yang dibawa sang nasabah hanya peta tanah dan diceritakan bahwa tanah itu akan dijual kepada sebuah perusahaan asing. Hanya berdasarkan peta tanah itu saja, sang bankir berdoa kepada Tuhan, apakah bagus dan menguntungkan ikut dalam pembebasan tanah itu. Setelah berdoa dan mendapat jawaban dari Tuhan, esok harinya sang bankir menelpon pengusaha property tadi dan mentransfer dana yang dibutuhkan. Tidak ada jaminan apa-apa, tetapi hati sang bankir merasa damai sejahtera.
Beberapa minggu kemudian pengusaha property itu melaporkan bahwa seluruh tanah itu telah terjual dan bagian keuntungan sang bankir adalah jumlah yang cukup besar. Karena merasa bahwa keuntungan itu datang berkat penawaran sang pengusaha, maka sang bankir ingin memberikan "tanda terima kasih" kepada pengusaha itu.
"Pak, saya akan kirim kembali uang sejumlah sekian sebagai tanda terima kasih saya, ya!"
"Oh, jangan pak! Itu semua buat bapak. Bagian keuntungan saya sudah cukup banyak, Pak. Terima kasih."
Amsal 10:22 dalam terjemahan bahasa Inggeris berbunyi: "The blessing of the LORD, it maketh rich, and he addeth no sorrow with it." Berkat Tuhanlah yang menjadikan seseorang kaya, dan Ia tidak menambahkan kesusahan pada kekayaan itu."
Ditulis oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com