Pada waktu berdoa itu dengan jelas Tuhan berbicara di hatinya, "Lan, tempat retret yang ada di Ciputat itu harus dijadikan Rumah Doa..." Ia memang memiliki sebidang tanah luas di Ciputat dengan beberapa bangunan yang biasa dipakai oleh para pemimpin Abbalove Ministries untuk berdoa puasa di sana, atau dari gereja-gereja lain. Namun pesan saat ini jelas sekali: Pakai tempat itu untuk rumah doa setiap hari, bukan ketika ada retret saja.
Beberapa hari setelah rumah doa dibuka di Ciputat itu, ada seorang ibu, dari kepercayaan lain, yang datang ke tempat itu minta didoakan karena dirinya sudah tidak sanggup lagi membiayai pengobatan matanya yang buta. Pengurus di Rumah Doa itu berkata, "Kami bukan dari kepercayaan yang sama dengan Ibu, tapi kami akan berdoa kepada Tuhan agar terjadi mukjizat pada mata ibu. Apakah ibu mau didoakan?"
"Ya, mau!" katanya dengan penuh kepasrahan.
Setelah mereka memuji dan menyembah Tuhan serta berdoa, ibu itu tiba-tiba berkata, "Lho, saya bisa melihat sekarang..." Mereka yang ada di situ mulai menguji apakah benar-benar dia telah dapat melihat.
"Ini berapa?" sambil mengacungkan lima jari.
"Lima!"
"Ini warna apa?" kata yang lain menunjukkan warna kuning.
"Kuning!"
"Puji Tuhan! Itulah Tuhan, ini mukjizat dari Tuhan. Mata ibu sudah disembuhkan Tuhan Yesus."
Sekarang pengusaha wanita itu tahu bahwa melalui kesembuhan mata ibunya, Tuhan ingin menjadikan keluarga ini sebagai saluran berkat untuk membagikan mukjizat kesembuhan bagi sesama manusia. Memang dalam buku "Mukjizat Kesembuhan" telah dituliskan nubuatan bahwa pengusaha wanita ini akan menjadi berkat melalui mukjizat kesembuhan karena dirinyapun dulu mendapatkan mukjizat kesembuhan yang luar biasa. Baca kisahnya dalam buku yang saya tulis itu. (Tamat)
Ditulis oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com