Friday, August 24, 2007

God in the Hard Times (2)

Setelah mobil itu berhenti dan terguling di sisi jalan dan ketika para orang tua menoleh ke belakang, ke arah anak-anak yang duduk di kursi paling belakang, kursi belakang patah jadi dua dan melesak ke kursi tengah. Yang aneh, bagian belakang Kijang itu rusak berat tepat di tengahnya, memisahkan dua orang anak di sisi kiri dan dua orang anak di sisi kanan, namun semuanya selamat tanpa luka yang serius. Kijang baru itu rusak parah, namun mereka melihat kebaikan Tuhan. Mereka tidak terlalu dirugikan karena mobil baru ini telah diasuransikan, sehingga mereka mendapat penggantian.

Kebaikan Tuhan dinyatakan dalam urusan cicilan rumah mereka. Kakak isterinya, seorang dokter bujangan yang tinggal di Surabaya menolong dengan meminjamkan uang kepada mereka agar cicilan rumah dapat terbayar. Kiriman uang dari dokter baik hati ini senantiasa datang tepat pada waktunya sampai rumah itu lunas terbayar.

Pada suatu hari keluarga ini mengundang dokter, kakak isterinya yang tinggal di Surabaya itu, untuk datang ke Jakarta ikut mengadakan syukuran atas rumah mereka yang telah lunas. Undangan sudah disampaikan kepada kakaknya dan pada hari syukuran itu diadakan datang telpon dari Surabaya. Itu adalah kabar buruk. Sang dokter ditemukan tewas dibunuh orang di tempat prakteknya. Sampai detik ini polisi tidak dapat menemukan siapa pelaku pembunuhan sadistis itu. Dokter yang baik hati itu pulang ke Rumah Bapa dengan cara yang mengenaskan. Itu merupakan pukulan berat bagi keluarga yang sudah banyak dibantu. Pada waktu itu suami isteri ini sempat kecewa, ”Mengapa Tuhan tidak melindungi kakak isterinya yang baik hati itu? Mengapa ia meninggal secara tragis?” Namun iman isterinya kemudian bangkit. Isterinya percaya bahwa Tuhan tidak pernah merancangkan kejahatan dan pembunuhan. Tuhan tidak merancangkan yang jahat dan yang menghancurkan. Hanya mereka belum mengerti maksud Tuhan dan mengapa kakaknya meninggal seperti itu. Isterinya percaya bahwa dalam setiap keadaan dan dalanm kesulitan seperti itupun Tuhan ingin mereka mengandalkan Tuhan dan percaya bahwa Ia selalu baik dan sangat baik.

Sejak saat itu berkat Tuhan mengalir dengan berlimpah. Orang ini kini menjadi pengusaha. Ketika ia bersama isterinya berkisah di atas pesawat dalam perjalanan dari Singapura ke Jakarta, Pdt. Edward Supit yang mendengarkan kesaksiannya bertanya, ”Bapak ke Singapura dalam rangka apa nih?” ”Oh, kami baru saja melihat-lihat property di Singapura untuk kedua anak kami yang akan studi di sana, sementara anak ketiga bersekolah di Gandhi International School. Hari Minggu kemarin kami ikut kebaktian di Bethany Church Singapore dimana Bapak berkhotbah di Ibadah Raya yang kedua. ”

Dimulai dari kehidupan dengan gaji total Rp. 650 ribu, kini usahanya telah berkembang pesat, bisa menyekolahkan anak di luar negeri dan membeli apartemen di Singapura. ”Kalau saya melihat ke belakang, waktu itu nampaknya mustahil kami akan sampai pada kehidupan seperti sekarang ini. Untunglah saya dikaruniai Tuhan seorang isteri yang memiliki iman yang tangguh dan dia merupakan seorang pendoa yang tekun.
Isteri saya selalu yakin bahwa Tuhan selalu dapat diandalkan dalam masa-masa sulit.

Semua ini berkat doa-doa isteri saya, sehingga kami ada sebagaimana kami ada saat ini dan sayapun sekarang telah percaya kepada Tuhan. Semua ini karena anugerah Tuhan semata-mata. Apa yang tidak pernah kami lihat dengan mata kami, apa yang tidak pernah kami dengar dengan telinga kami, dan apa yang tidak pernah timbul di dalam hati kami, itulah yang Tuhan sediakan bagi kita yang mengasihi Dia.” (Tamat)
Posted by Hadi Kristadi for http://pentas-kesaksian.blogspot.com