Wednesday, July 11, 2007

She's Gone Tragically

Ketika Jakarta dan Indonesia meributkan kecelakaan maut yang menimpa Taufik Savalas, pada minggu yang sama Jakarta juga dikejutkan kematian Annie, menantu seorang konglomerat ternama di negeri ini. Kematian Taufik Savalas menjadi pembicaraan ramai dimana-mana, tapi kepergian Annie hanya dibicarakan dalam bisik-bisik.

Annie, nama samaran, telah pergi. Ia adalah isteri seorang pengusaha. Hari Senin yang lalu saya mendengar kabar bahwa Annie telah meninggal di Singapura. Namun ada yang tak wajar, ia meninggal sebelum waktunya. Ada hal-hal yang janggal dalam kepergiannya. Ketika seorang teman saya yang tinggal di Singapura ingin datang melayat ke rumah duka di Mt. Vermont, diumumkan bahwa kesempatan teman-teman untuk melayat jenazah Annie tidak dapat dilakukan pagi itu, karena dikhususkan bagi kalangan terbatas. Juga tak ada iklan dukacita yang beredar di koran-koran ibukota. Dan hari Kamis, 12 Juli, jenazahnya langsung diantar dari Bandara Soekarno-Hatta ke pemakaman keluarga di Karawang.

Saya ingat ketika kami biasa mengadakan komsel di rumahnya, ia sungguh-sungguh seorang isteri dan ibu yang taat kepada Tuhan, mengasihi Tuhan dan keluarganya. Ia dulu suka ikut doa fajar, doa pada waktu subuh bersama jemaat lain. Namun belakangan, demi menyenangkan papa mertuanya, ia pindah gereja, beribadah di gereja dimana keluarga besar mereka beribadah.

Ketika para pelayat dari handai taulan mengantarkan jenazah Annie ke pemakaman, mereka pada terharu melihat akhir kehidupan Annie. Kalau kita dapat melihat ke alam maut apa yang terjadi pada detik-detik terakhir kepergian Annie, tentu kita akan terperangah. Tragis, hanya itu yang dapat kita katakan.