Search This Blog

Sunday, November 29, 2009

Power of Love

Di India utara ada sebuah desa yang memiliki kondisi alam kurang bersahabat, membuat desa hidup dalam kemiskinan. Untuk mencari makanan sehari-hari penuh dengan perjuangan. Semua orang ingin mengubah keadaan tapi tidak ada yang tahu bagaimana melakukannya.

Tidak jauh dari desa tersebut ada sebuah jalan antar kota. Karena kondisi jalan jelek, banyak mobil dan truk yang jatuh di sana. Suatu hari sebuah truk penuh dengan makanan kaleng terguling ke pinggir jalan dan kaleng-kaleng berserakan di mana-mana. Karena sopir terluka, dia menumpang kendaraan menuju ke rumah sakit dan meninggalkan makanan kaleng berserakan di tanah. Ketika penduduk desa menemukan makanan kaleng "gratis", mereka membawanya pulang. Selama beberapa hari setelah kecelakaan itu, setiap keluarga memiliki makanan kaleng di meja makan malam mereka. "Keberuntungan" ini mengilhami para penduduk desa. Sebagai pepatah lama mengatakan : "Bertahan dengan apa saja yang ada di dekat, baik itu gunung atau danau." Sekarang penduduk desa berpikir bahwa mereka bisa hidup dari jalan raya tersebut. Mereka mulai sering pergi ke jalan raya, berharap menemukan truk rusak dan penuh makanan.

Tapi kecelakaan tidak terjadi sesering yang mereka inginkan. Hanya melihat truk makanan datang dan pergi, Penduduk desa kecewa tidak mendapatkan apa-apa. Suatu hari, seseorang datang dengan ide yang cerdik. Mereka pergi ke jalan dengan sekop dan cangkul, dan menggali banyak lubang di malam hari. Tak lama kemudian, lebih dan lebih banyak mobil dan truk pecah ban di sana. Karena jalan yang buruk, truk-truk melaju sangat lambat menghindari terjadinya kecelakaan. Penduduk desa kemudian dengan mudah mengikuti dan mencuri beberapa barang di truk.

Lambat laun, keadaan semakin memburuk. Awalnya, mereka mencuri makanan hanya untuk konsumsi mereka sendiri. sekarang mereka mulai mengambil barang-barang lain dan menjualnya di pasar. Akhirnya, pencurian berubah menjadi murni perampokan. Jalan dekat desa menjadi bagian paling berbahaya di sepanjang jalan raya tersebut. Setiap bulan, polisi menerima beberapa laporan tentang perampokan. Suatu hari, polisi menangkap dua penduduk desa saat mereka merampok sebuah truk dan memenjarakan mereka.

Penahanan itu tidak membuat penduduk desa lainnya jera. Mereka menjadi lebih licik dalam melakukan kejahatan ini. Mereka mengorganisasi diri mereka dan menugaskan orang-orang untuk mengawasi polisi. Setelah perampokan, mereka menyembunyikan barang atau mengubah kemasan sehingga polisi tidak bisa menemukan bukti. Pemerintah lokal mencoba berbagai cara menghentikan tindak kejahatan ini. Karena penduduk sudah terbiasa dengan cara hidup seperti ini, perampokan tidak menunjukkan tanda-tanda akan berhenti.

Selama satu musim dingin, karena reputasi desa, banyak pengemudi truk menghindari jalan desa dengan memilih jalan memutar. Hasilnya, penduduk desa tidak mendapat apa-apa selama beberapa hari berturut-turut. Suatu hari, sebuah truk penuh dengan pati fosfat lewat. Pati fosfat digunakan untuk industri dan beracun. Para penduduk desa kebanyakan tidak berpendidikan, dan menurut mereka, pati adalah makanan yang bisa dimasak dengan berbagai cara. Jadi, mereka menghadang truk, dan sebagaian meloncat ke atas truk dan mengambil lebih dari 20 kantong.

Pengemudi yang masih muda ini menghentikan truk dan mengejar para perampok. Penduduk desa lainnya mengambil kesempatan ini, mereka membongkar semua kantong-kantong pati yang tersisa. Ketika pengemudi pergi ke desa, ia memohon kepada penduduk desa untuk mengembalikan pati tersebut. Saat ini, semua penduduk desa sudah menyembunyikannya dan tak seorang pun mengaku sebagai pencuri. Permohonan pengemudi ini tidak mendapat perhatian. Akhirnya, ia mengatakan kepada penduduk desa bahwa pati tersebut tidak dapat dimakan dan ini hanya dipakai untuk industri. Orang bisa meninggal jika mereka memakannya, jadi bagi penduduk desa ini adalah tidak bermanfaat. Pengemudi mengatakan kepada mereka kebenaran, tetapi penduduk tidak percaya kepadanya. Bagaimanapun, pati itu kelihatan dan rasanya persis sama seperti pati biasa yang bisa dimakan.

Pengemudi menjadi sangat takut ketika penduduk desa tidak percaya kepadanya. Dia ingin melaporkan kejadian tersebut kepada polisi, tetapi ia juga khawatir seseorang akan memakan pati dan mati. Walaupun ia tidak akan bertanggung jawab atas kematian siapa pun, dia tidak mau seseorang meninggal karena suatu kesalahan bodoh. Dia pergi dari pintu ke pintu untuk memberitahu orang-orang kebenaran, bahkan ia berlutut dan berkata: "Saya tidak peduli tentang pati itu bahkan jika Anda tidak mengembalikannya, hal yang terburuk bukan pada kerugian ekonomi saya. tapi saya memohon kepada Anda untuk tidak memakannya, karena jika tidak, anda akan meninggal."

Melihat desakan pengemudi itu, beberapa penduduk desa mulai ragu akan diri mereka sendiri. Seseorang memberi makan ayam dengan pati tersebut dan ayam mati dalambeberapa menit. Pengemudi itu mengatakan kebenaran! Penduduk desa terkejut, dan hati mereka sangat tersentuh. Mereka telah mencuri barang-barang pengemudi ini dan seharusnya pengemudi itu membenci mereka. Bahkan jika mereka mati karenapati beracun, mereka merasa pantas mendapatkanya. Namun pengemudi ingin menyelamatkan nyawa mereka yang sangat buruk, dia bahkan memohon dengan berlutut kepada mereka . Ini semacam rasa cinta dan belas kasih, serta kerendahan hati membuat penduduk desa merasa malu.

Penduduk desa mengembalikan semua pati ke truk. Sejak hari itu, orang-orang di desa tidak pernah merampok truk lagi. Ketika seseorang tergoda untuk mencuri, yang lain akan berkata: "Pikirkan tentang orang baik itu. Kita merampok dia, tetapi ia menyelamatkan hidup kita. Apakah kita masih ingin melakukan hal buruk ini? Apakah kita benar-benar jahat?"

Sekarang jalan dekat desa ini menjadi aman kembali. Setelah semua upaya-upaya penegakan hukum dan persuasi pemerintah gagal, pengemudi muda dengan belas kasih mengubah segalanya.

Kebiasaan orang-orang dapat diubah jika kita tahu bagaimana mendekati mereka. Belas kasih dapat bangkit dalam diri orang jika itu dilakukan dengan tepat. Ada belas kasih dalam hati setiap orang, tetapi satu-satunya cara untuk beresonansi dengan hal tersebut adalah melalui belas kasih. Jika kita ingin orang lain menjadi baik, kita yangpertama menunjukkan rasa belas kasih kepada mereka. Tidak peduli seberapa jahatnya orang itu, belas kasihnya dapat dibangkitkan dan ia dapat membuang pikiran – pikiran jahatnya. Kami percaya setiap orang memiliki belas kasih dalam hatinya, dan jika kita semua mampu menunjukkan kepada orang lain, dunia akan menjadi tempat yang indah. Sumber: ERA BARU - posted by Bao Yuan/Anas FB.

Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Thursday, November 26, 2009

Simple Life

Antonio Ermirio, Hidup Dalam Kesederhanaan
Bagi beberapa orang, berada dalam keluarga yang berkecukupan membuat mereka menjadi orang yang bermalas-malasan, otoriter, dan tidak berpikir ke masa depan. Tetapi, tidak dengan pria sukses yang satu ini. Antonio Ermirio de Moraes adalah keturunan ketiga dari keluarga pemimpin perusahaan, Votorantim.

Votorantim merupakan salah satu perusahaan konglomerat terbesar di Brasil, dan terdiri atas berbagai perusahaan yang memimpin atau menonjol di berbagai bidang mulai dari produksi semen, baja dan kertas hingga produk kimia dan minuman jeruk. Tidak hanya itu, Grup perusahaan itu juga menapakkan kaki di sektor finansial, bioteknologi, dan teknologi informasi. Walau begitu, bagi Antonio Ermirio, kesuksesan tidak begitu saja datang kepadanya.

Di tahun 1945, ketika ia belajar ilmu teknik di Amerika Serikat, pewaris Vorotantim itu tinggal selama empat tahun di kamar asrama, dan sehari-hari hanya makan sandwich untuk menghemat uang. Ketika kembali ke Brasil, ia mendapat peringatan dari ayahnya, Jose Ermirio bahwa pekerjaan yang menantinya di bisnis keluarga hanyalah ujian. "Kalau tidak berhasil, ayah tidak akan mempekerjakan kamu," kata Jose Ermirio. Namun, ia membuktikan diri mampu menghadapi tantangan itu.

Dalam waktu enam tahun, ia mendirikan perusahaannya sendiri, Companhia Brasieleira de Alumunio (perusahaan alumunium). Pada tahun 1962, Antonio Ermirio memegang kendali seluruh perusahaan di grup, dan Votorantim tak pernah berhenti untuk melebarkan sayapnya dengan membuka usaha-usaha baru seperti pabrik semen, seng, dan nikel. Tahun 2002, grup perusahaan yang dipimpin Antonio Ermirii melaporkan bahwa aset yang dimilikinya ketika itu adalah sebesar $27 miliar.

Selama lebih dari ½ Abad berada di Votorantim, Antonio Ermirio hampir tidak pernah mengambil cuti, dan secara disipilin mulai bekerja pada pukul 07:00. Ia dikenal sebagai orang yang penuh pertimbangan, disiplin, dan tidak terbiasa hidup mewah yang umum untuk orang-orang di posisinya. Suatu waktu ia pernah mengeluarkan pernyataan yang cukup menghentak para kolega dan masyarakat Brasil seperti berikut ini, "Kalau Anda sampai melihat saya mengendarai Ferrari, maka hari itu juga Anda boleh mengikat saya dengan straightjacket (jaket pengikat orang sakit jiwa) dan mengirim saya ke rumah sakit jiwa, karena itu berarti saya sudah gila. Di dalam negara seperti negara ini, Anda tidak dapat mengendarai mobil seperti itu hanya demi status. Status harus berasal dari kecerdasan".

Tidak banyak orang seperti Antonio Ermirio yang dapat kita temui hari-hari ini dimana kesederhanaan adalah gaya hidupnya dan tidak mengejar status dari orang-orang sekelilingnya agar diakui sebagai orang kaya atau sukses. Sebuah keteladanan yang patut dicontoh oleh siapa pun yang ingin menjadi sukses dalam berbisnis dan memimpin perusahaan. Sumber: Stefani Asih Gracia Trinita FB.

Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Wednesday, November 25, 2009

Honesty

Posted By : BaoYuan 粱寶榞

Pada jaman dulu, di sebuah kota kecil di Tiongkok Utara terdapat dua toko yang menjual beras, toko yang satu bernama Yong Chang, yang satunya lagi bernama Feng Yu. Pemilik tua toko beras Feng Yu melihat saat itu situasi sedang kacau oleh peperangan tidak mudah untuk berdagang, dia lalu memikirkan suatu rencana yang bisa mendatangkan keuntungan yang lebih besar.

Hari itu, dia mengundang ahli pembuat timbangan ke rumahnya, dengan sembunyi-sembunyi dia berkata kepada ahli pembuat timbangan itu, “Tolong Anda buatkan satu timbangan yang ukuran beratnya 1kg sama dengan 15,5 kati, nanti ongkos pembuatannya saya tambah seratus tael.” (1 kg yang sebenarnya adalah 16 kati)

Demi untuk mendapatkan uang seratus tael lebih banyak, dia telah mengabaikan moralnya, dan segera menyanggupi pemilik toko tua itu. Setelah selesai berpesan, pemilik toko itu pun meninggalkan ahli timbangan itu seorang diri di halaman rumahnya untuk membuat timbangan, dia sendiri berjalan ke dalam toko mengurus dagangannya.

Pemilik toko beras tua itu mempunyai empat orang putra, semua anaknya memban-tu dia mengolah toko beras itu. Putra yang bungsu dua bulan yang lalu baru menikah, istrinya adalah putri seorang guru pengajar.

Ketika mertuanya berpesan dengan ahli pembuat timbangan, dia sedang menjahit di dalam kamar, percakapan mertuanya dengan ahli timbangan telah terdengar semuanya olehnya.

Setelah ditinggal pergi oleh si pemilik toko, menantu baru itu merenung sejenak, berjalan keluar dari kamar dan berbicara dengan ahli pembuat timbangan itu, “Mertua saya itu sudah tua, pikirannya agak kacau, tadi pasti salah mengucapkan kata-kata. Mohon Anda buatkan timbangan yang ukuran beratnya 1kg sama dengan 16,5 kati, nanti saya berikan ongkos lebih 200 tael. Tetapi, Anda harus berjanji tidak memberitahukan hal ini kepada mertua saya itu.” Ahli pembuat timbangan itu demi mendapatkan uang 200 tael lebih banyak lagi, dia mengabulkan permintaan itu.

Timbangan yang ukuran beratnya 1kg sama dengan 16,5 kati dengan cepat telah selesai dibuat, dan ahli pembuat timbangan itu sungguh tidak memberitahu perubahan berat timbangan itu kepada pemilik tua.
Pemilik toko yang tua itu sudah pernah beberapa kali membuatkan dacin kepada ahli timbangan itu, sangat mempercayai keahliannya, jadi timbangan baru setelah selesai dibuat hari itu juga dibawa ke dalam toko beras untuk dipergunakan.

Beberapa waktu kemudian, perdagangan toko beras Feng Yu kian makmur, pelanggan lama dari toko beras Yong Chang juga ikut meramaikan. Mereka berbondong-bondong beralih ke toko beras Feng Yu untuk membeli beras.

Tidak lama setelah itu, orang-orang yang tinggal di sebelah barat dan timur jalanan kota kabupaten itu juga mencari yang jauh dan melepaskan yang dekat, mereka menelusuri kampung dan jalanan datang ke Feng Yu untuk membeli beras, sedangkan toko beras Yong Chang yang berada di depan jalanan menjadi sepi sekali.

Tiba pada akhir tahun, toko beras Feng Yu mendapatkan keuntungan besar, se-dangkan toko beras Yong Chang merugi hingga tidak bisa melanjutkan perdagangan, toko beras itu akhirnya dipindah-tangankan kepada Feng Yu.

Pada malam tahun baru, keluarga besar pemilik toko Feng Yu duduk berkeliling makan Shuijiao (sejenis pangsit, yang merupakan makanan utama malam tahun baru imlek untuk penduduk Tiongkok Utara) bersama.

Hati pemilik tua sedang bergembira, dia mengeluarkan pertanyaan untuk semua orang. Dia ingin tahu siapa yang dapat menebak bagaimana dia bisa menjadi kaya raya. Mereka semua berebut untuk berbicara, ada yang mengatakan berkat perlindungan Yang Kuasa, ada yang mengatakan pemilik tua menggunakan cara yang tepat untuk mengelola, ada juga yang mengatakan letak toko beras itu sangat strategis, ada pula yang berkata berkat kerja sama dari seluruh anggota keluarga.

Pemilik tua itu dengan tertawa dan berkata, “Jawaban kalian semuanya salah. Kita menggantungkan apa untuk menjadi kaya? Menggantungkan timbangan yang kita miliki! Timbangan kita beratnya 1kg sama dengan 15,5 kati, setiap menjual 1kg beras, kurang 0,5 kati, setiap hari menjual ratusan bahkan ribuan kilo beras, maka akan mendapatkan untung banyak, dengan mengumpul keuntungan ini dari hari ke hari, maka akhirnya kita menjadi kaya.”

Selanjutnya dia menceritakan bagaimana dia pada awal tahun telah membuat timbangan yang berat 1 kilonya sama dengan 15,5 kati dengan menambahkan 100 tael kepada ahli pembuat timbangan.

Mendengarkan penuturan ini, anak cucunya sangat takjub hingga melupakan Shuijiao di mangkuk mereka. Setelah ketakjuban mereda, semua orang memuji pemilik tua alias orang tua mereka ini sangat hebat, tidak menunjukkan gelagat sedikitpun, hingga orang sendiripun tidak menyadari, uang sudah masuk ke dalam saku. Mendengarkan perkataan ini pemilik tua merasa bangga, girang bukan kepalang, berulang-ulang memegangi janggut panjangnya.

Saat itu, menantu barunya perlahan-lahan berdiri dari atas bangkunya, dan berbicara kepada sang pemilik tua, “Ada satu hal yang ingin saya sampaikan kepada ayah, sebelum saya beritahukan kepada ayah, saya berharap ayahanda mau berjanji memaafkan kesalahan saya.”

Dia menunggu pemilik tua menganggukkan kepala, dengan tenang-tenang saja menantu baru itu menceritakan kepada semua orang, tentang bagaimana dia pada awal tahun itu telah memberikan uang 200 tael lebih banyak kepada ahli pembuat timbangan untuk membuatkan timbangan yang beratnya 1 kilo sama dengan 16,5 kati.

Dia berkata, “Ucapan ayah sangat benar sekali, kita menjadi kaya berkat timbangan yang kita pakai. Timbangan kita setiap 1 kilo mempunyai kelebihan berat 0,5 kati, semua pelanggan tahu kita berdagang sangat jujur tidak mencuri timbangan, maka mereka semua mau membeli beras kita, maka usaha perdagangan kita menjadi makmur. Walaupun setiap kilonya kita mendapatkan untung lebih sedikit, tetapi jika penjualannya banyak keuntungan yang didapatkan akan besar pula. Kita telah menjadi kaya raya berkat ke-jujuran yang kita tunjukkan kepada pelanggan ”

Kali ini semua orang dibuat jadi lebih takjub, mereka terperangah. Pemilik tua tidak percaya bahwa hal ini adalah benar, dia mengambil dan menera timbangan yang dipergunakan setiap hari untuk menjual beras. Ternyata memang benar berat 1 kg-nya sama dengan 16,5 kati. Pemilik tua itu tercengang kaget, dia tidak mengatakan sepatah katapun, dengan perlahan-lahan berjalan masuk ke dalam kamarnya.

Keesokan pagi setelah sarapan pagi, tepat pada awal tahun baru tanggal satu, pemilik tua mengumpulkan seluruh anggota keluarga, sambil melepaskan kunci kasir yang terikat di pinggangnya ia berkata, “Saya sudah tua, sudah tidak berguna. Kemarin semalaman saya telah mempertimbangkan, memutuskan mulai saat ini, menyerahkan kendali toko ini kepada menantu saya yang keempat, dikemudian hari, kita semua orang mematuhi kehendak dia!”

Semua orang bagai sebuah timbangan, dengan timpang sebelah (tidak jujur), orang lain akan dapat melihatnya dengan sangat jelas. Berdagang yang diutamakan adalah ‘kejujuran’, dan sebagai manusia bukankah kita juga harus demikian? Sumber: ERA BARU/Anas.

Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Tuesday, November 24, 2009

Coke and The Place

Sudah tepatkah keberadaan anda sekarang?
Ada 3 kaleng coca cola, ketiga kaleng tersebut diproduksi di pabrik yang sama. Ketika tiba harinya, sebuah truk datang ke pabrik, mengangkut kaleng-kaleng coca cola dan menuju ke tempat yang berbeda untuk pendistribusian.

Pemberhentian pertama adalah supermaket lokal. Kaleng coca cola pertama di turunkan disini. Kaleng itu dipajang di rak bersama dengan kaleng coca cola lainnya dan diberi harga Rp. 4.000.

Pemberhentian kedua adalah pusat perbelanjaan besar. Di sana , kaleng kedua diturunkan. Kaleng tersebut ditempatkan di dalam kulkas supaya dingin dan dijual dengan harga Rp. 7.500.

Pemberhentian terakhir adalah hotel bintang 5 yang sangat mewah. Kaleng coca cola ketiga diturunkan di sana. Kaleng ini tidak ditempatkan di rak atau di dalam kulkas. Kaleng ini hanya akan dikeluarkan jika ada pesanan dari pelanggan. Dan ketika ada yang pesan, kaleng ini dikeluarkan besama dengan gelas kristal berisi batu es. Semua disajikan di atas baki dan pelayan hotel akan membuka kaleng coca cola itu, menuangkannya ke dalam gelas dan dengan sopan menyajikannya ke pelanggan. Harganya Rp. 60.000.

Sekarang, pertanyaannya adalah :

Mengapa ketiga kaleng coca cola tersebut memiliki harga yang berbeda padahal diproduksi dari pabrik yang sama, diantar dengan truk yang sama dan bahkan mereka memiliki rasa yang sama.

Lingkungan Anda mencerminkan harga Anda.

Lingkungan berbicara tentang RELATIONSHIP.

Apabila Anda berada dilingkungan yang bisa mengeluarkan terbaik dari diri Anda, maka Anda akan menjadi cemerlang. Tapi bila Anda berada dilingkungan yang meng-kerdil- kan diri Anda, maka Anda akan menjadi kerdil.

(Orang yang sama, bakat yang sama, kemampuan yang sama) + lingkungan yang berbeda = NILAI YANG BERBEDA. Kiriman dari Anas FB, yang diposting oleh Kanezane Arihyoshi.

Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Thursday, November 19, 2009

You

One day all the employees reached the office and they saw a big advice on the door on which it was written:
"Yesterday the person who has been hindering your growth in this company passed away. We invite you to join the funeral in the room that has been prepared in the gym."

In the beginning, they all got sad for the death of one of their colleagues, but after a while they started getting curious to know who was that man who hindered the growth of his colleagues and the company itself.

The more people reached the coffin, the more the excitement heated up. Everyone thought: Who is this guy who was hindering my progress? Well, at least he died! One by one the thrilled employees got closer to the coffin, and when they looked inside it they suddenly became speechless. They stood nearby the coffin, shocked and in silence, as if someone had touched the deepest part of their soul.

There was a mirror inside the coffin: everyone who looked inside it could see himself. There was also a sign next to the mirror that said: There is only one person who is capable to set limits to your growth: it is YOU. You are the only person who can revolutionize your life. You are the only person who can influence your happiness, your realization and your success.

You are the only person who can help yourself. Your life does not change when your boss changes, when your friends change, when your parents change, when your partner changes, when your company changes. Your life changes when YOU change, when you go beyond your limiting beliefs, when you realize that you are the only one responsible for your life. The most important relationship you can have is the one you have with yourself. Examine yourself, watch yourself. Don’t be afraid of difficulties, impossibilities and losses: Be a winner, build yourself and your reality.
It’s the way you face Life that makes the difference.


Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Wednesday, November 18, 2009

KPK International

Tony Kwok Man-wai, Pemburu Koruptor yang Laris Disewa Banyak Negara
Sebanyak 21 negara telah menggunakan jasa Tony Kwok Man-wai dalam berbagai kapasitas terkait dengan pemberantasan korupsi. Dia tak menganggap penting bayaran yang diterima.

Para pejabat Hongkong yang korup rata-rata punya koneksi dengan kelompok mafia. Tapi, jika dibandingkan dengan saat bertugas selama 27 tahun (1975-2002) di Komisi Independen Pemberantasan Korupsi Hongkong (ICAC), Tony Kwok merasa bahwa pengalaman paling menegangkan sebagai pemburu koruptor adalah ketika bekerja selama setahun di Nigeria atas permintaan Bank Dunia.

Bukan saja harus menghadapi resistensi keras dari para petinggi negara yang doyan mengancam, Tony juga mesti berurusan dengan para pejabat militer yang terbiasa menyelesaikan masalah dengan senjata.

"Jadi, mereka yang mengira memberantas korupsi di Filipina bagaikan disodori cawan beracun, saya rasa mereka belum pernah ke Nigeria," kelakarnya, seperti dikutip AFP.

Filipina? Tak usah heran. Karir sebagai investigator korupsi memang telah mengantarkan Tony Kwok sebagai "warga dunia." Setidaknya pemerintahan di 21 negara di berbagai benua telah menggunakan jasa pria yang hobi menyelam, golf, dan skuas tersebut untuk memberantas korupsi. Juga 10 pemerintahan kota di Tiongkok.

Jadilah dia investigator korupsi paling laris di dunia. Baik itu dalam kapasitas sebagai konsultan, penasihat, maupun sekadar narasumber seminar atau workshop. Berbagai media besar dunia pun bergantian memuat kisahnya. Cobalah ketika namanya di Google, setidaknya 5 ribu entri akan muncul.

Yang terbaru, pada 12 Oktober lalu, dia berbagi pengalaman dengan Komisi Antikorupsi Malaysia (MACC) di Kuala Lumpur. Dalam kesempatan itu, pria yang pernah diwawancarai Jawa Pos ketika berkunjung ke Indonesia pada April 2006 tersebut menegaskan pentingnya kontinuitas dan jam terbang.

"Butuh setidaknya dua setengah tahun agar seseorang bisa menjadi investigator korupsi yang andal," kata pria yang sejak pensiun dari ICAC pada 2002 telah membuka jasa konsultasi antikorupsi itu, seperti dikutip Bernama.

Tony mulai membangun karir sebagai investigator korupsi tak lama setelah ICAC berdiri. Sebelumnya, dia bekerja di Bea Cukai Hongkong. Seperti dilansir Financial Times, selama 27 tahun ayah tiga anak itu bertugas, ICAC berhasil menekan drastis praktik patgulipat di birokrasi Hongkong. Jika pada saat KPK-nya Hongkong tersebut pertama berdiri pada 1974 angka korupsi birokrasi mencapai 86 persen dari semua laporan yang masuk, pada 1999 angka itu tinggal 41 persen. Contoh keberhasilan lain bisa dilihat di korupsi di kepolisian. Pada 1974, jumlahnya mencapai 45 persen. Tapi, pada 1999, angkanya tinggal 16 persen.

Saat tenaganya disewa Presiden Filipina Gloria Macapagal-Arroyo sebagai penasihat antikorupsi (2005-2007), penerima sejumlah penghargaan dari pemerintah Hongkong tersebut berhasil membidani lahirnya tim antikorupsi di 16 lembaga penting pemerintahan. Itu dilakukan dalam waktu tiga bulan saja.

Tony menganut prinsip zero tolerance dalam soal korupsi. Dalam wawancara dengan Jawa Pos pada 2006, dia mengatakan pernah menangkap seorang tukang pos di Hongkong karena meminta uang lelah kepada seorang penerima paket. "Ketika melamar suatu pekerjaan, Anda tentu tahu berapa gaji yang akan diterima. Jadi, kecilnya gaji tak bisa dijadikan alasan untuk melakukan korupsi," katanya ketika itu.

Pria berkacamata itu juga percaya betul pada tiga rumus untuk membasmi sekaligus menangkal "aksi kriminal berisiko rendah tapi sangat menghasilkan" tersebut. "Kunci memberantas korupsi adalah pencegahan, pendidikan, dan penciptaan hambatan supaya kejahatan yang sama tidak muncul lagi." Pentingnya menanamkan kesadaran antikorupsi lewat pendidikan itu pula yang mendorong Tony memelopori kelahiran program studi international postgraduate certificate course in corruption studies di Hongkong University. Itu merupakan program studi pertama di dunia.

Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Late

Dalam sebuah karikatur, tampak seseorang sedang duduk di tepi sebuah sungai dengan aliran air yang deras. Tiba-tiba ia mendengar suara, “Help, help, help!” Ia tidak tahu arti kata-kata tersebut, karena tidak pernah belajar bahasa Inggris. Syukurlah ia membawa kamus, sehingga segera mencari arti kata tersebut. Begitu mengetahui artinya, ia segera terjun untuk menolong. Namun terlambat, orang itu telah meninggal.

Apa yang akan kita lakukan saat melihat seseorang memerlukan pertolongan kita, ketika kita mampu berbuat sesuatu untuknya? Pastinya kita tidak ingin seseorang terlambat menerima pertolongan kita, bukan? Tulisan Petrus Kwik/Email dari Bpk. Tefa/Milis Terang Dunia

Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Tuesday, November 17, 2009

A Six Year Old Boy Talks of China Bombing 2011

A 6 year old talks of China bombing USA 2011

"And it shall come to pass afterward, [that] I will pour out my spirit upon all flesh; and your sons and your daughters shall prophesy, your old men shall dream dreams, your young men shall see visions" Joel 2:28

One day last spring, Joan and I were having lunch with our friends Chester and Jean Sharpe. Chester told us of a family he knew that had an unusual thing happen. When he begin to relate the event, I asked him to send the testimony to me, which he did about a week later. It was so thrilling that I wanted to share it with everyone possible! With permission, I do so now.

Jordan is a six-year-old boy who lives here in Phoenix, Arizona. I am told that he is shy and retiring-not outgoing (that is the thing that makes this so astounding). To protect him from those who would not have his best interest at heart, I will not use his last name. You may know that this is the true testimony just as his mother heard and wrote it. - April 20, 2008

Jordan and God
We went to visit my grandparents (Jordan’s great grandparents) for lunch with the family. On the way home in the car with my husband, my mother, my son Jordan (6yrs old), and My youngest son (3yrs old). Jordan started talking about God…

*Testimony*
First he said which got all of our attention. This planet will be destroyed. In 2011 some things will start happening, like what I asked. There will be bombs. The armies are going to throw bombs at us, but we have things that can block bombs in the air and throw them back. Who is going to throw bombs at us I asked, China he replied. How does he even know anything about China, he is only 6 we thought? (Is he predicting a war with China in 2011?). There will be lots of volcanoes with fire coming out, floods and those twisting things…what are they called mommy? “ I replied” tornados? Yes, tornados… he said.

At this point we all had goose bumps and were in awe! Then Jordan said those bugs that look like ants, there will be lots of them everywhere but they will grow big and have faces. (Is he talking about the plague of the locust in the bible, but he doesn’t know what locusts are called? If you think about it locust enlarged kind of do look like ants) We will be scared he said, but God says it’s ok and not to be scared. He continued there will be a lion with lots of horns and fire coming out of his mouth. People will disappear and people left will be like huh? (Dismayed). There will be clones too. Clones? I said “ do you even know what clones are Jordan?” Yes he said when there is more than one of the same people. Who will be the people that are clones, I asked? Everyone, he said, after we die and go to heaven, there will be clones of all of us there and you will see and it will walk inside of your body and then there will be only one of you. (I wonder if he is talking about the Holy Spirit?)

Jordan continued saying, after the world is destroyed, the clouds will come down to the earth and God will re-grow everything on earth. God will say “ trees grow” and they will grow. He will just tell just tell everything to grow back again And they listen. Everything will be new again. And God will live with us on earth. What happens to all the bad people asked his grandma? They will go with the monsters, he said. And the other good people that are already dead will open their eyes and they will Wake up, there skin will re-grow and they will get up and go to Jesus.

What will heaven look like we asked? In heaven the streets are made of gold and they are slippery (probably meaning shiny we thought). There are lots of flowers of all colors, lots of yellow flowers. There are lots of butterflies and ladybugs. Grandma asked, are we all going to live in our own houses in Heaven? Yes Jordan answered but all the houses will be connected together. There are no bad people there. Everybody is happy. The animals go to heaven too and they talk. The lions are nice. The goats are nice. The goats will sleep with the lions. Do we eat there, asked grandma…yes there is lot of food, and you can have anything you want. The trees talk too, if you want an apple all you have to do is close your eyes and ask for a apple and an apple will appear on the tree. Anything you want in heaven, you just close your eyes and think of it and you will have it.

We’re going to be invisible but not to each other. The other people who are not in heaven can’t see us. It’s like magic. Who tells you these things Jordan I asked, I just know he replied. Does God talk to you and show you these things his grandma asked, yes he said. He tells me I can make wishes but not for myself…only for other people. Your not suppose to wish for yourself. We all asked one by one are we going to heaven and he replied, if you’re good.

Was God talking through him to testify to us, did he have the Holy Spirit upon him? We do recall one thing later that night. Before eating lunch at my grandparent’s house we all formed a circle and held hands to say a prayer and my husband and me noticed Jordan went limp and fell in front of me on the ground. He then jumped up confused and got back into the circle. Maybe the Holy Ghost touched him then, or maybe that was just Coincidence. But we do believe that God was using my son to let us know that he is real and he is coming back for his people.

Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Hookers for Jesus

Annie Lobért (born September 26, 1967) is an American former call girl who founded the international Christian ministry Hookers for Jesus. Lobert worked 11 years as a prostitute and escort in Las Vegas, which included catering to celebrities and professional athletes.

Lobert was convinced to leave the industry by one of her regular johns, with whom she established an international Super GT Series auto body and design firm. They became successful working with Japanese automobiles developed for drift racing, but following a takeover in 2003 Lobert lost control of the company and the relationship came to an end.

Today, Lobért is the founder and leader of Hookers for Jesus and is working as well on a joint media project with Heather Veitch of JCs Girls entitled "Saving Sex City."

Lobért gives lectures in both secular and religious communities on the effects of the adult entertainment industry, and to date has been featured on Life Today with James Robison, Morris Cerullo's HelpLine TV, the 700 Club, the Jim Bakker Show with Mark Gungor, JCTV, and TBNs Praise the Lord with Carman. Additionally, she has been heard on talk radio and interviewed in major news publications throughout the world, including the UK, France, Spain, Germany, Japan, Australia and Africa. She is the author of Hooker for Jesus, a soon to be released autobiography targeting both secular and religious audiences.


Ditulis/diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Friday, November 13, 2009

This Is It

Film Michael Jackson, This Is It, sangat menarilk perhatian. Film yang diambil dari persiapan dan latihan untuk konser musik di London, O2 Arena, selama 50 kali pertunjukan tersebut patut disimak. Konser itu melibatkan banyak para ahli, misalnya saja dlsainer kostum Christian Audigier, koreografer Kenny Ortega, body builder Lou Ferrigno yang semuanya hebat di bidangnya.

Saya sendiri belum menonton film tersebut tetapi anak remaja saya yang sudah menonton memberi beberapa poin bagus. Di film ini nampak sekali betapa Michael Jackson menuntut kesempurnaan performa. Dia akan tahu jika ada penari yang salah ketukannya, atau musisi yang kurang pas iramanya. Michael menuntut standar yang sempurna karena dia tahu dan bisa melakukan apapun dengan sempurna. Poin berikutnya, Michael Jackson yang sudah lima puluhan tahun bisa bergerak lincah dan penuh semangat sepanjang konser, ibarat anak muda umur 25 tahunan. Betapa dia berusaha menampilkan energi dan kemampuan terbaiknya, tidak peduli dia telah ada umur.

Teman saya yang sudah menonton film tersebut menambahkan bahwa Michael Jackson adalah orang yang rendah hati. Dia tidak akan membentak-bentak rekan kerjanya yang berbuat kekeliruan. Dia cukup menjelaskan apa yang dia mau dan menegur dengan bahasa yang terhormat apabila dia menemukan kesalahan. Kerendah-hatian Michael Jackson juga ditunjukkan dengan tidak lupa mengatakan "terima kasih" apabila tim kerjanya sudah melakukan apa yang terbaik.

JIka kita melihat Michael Jackson sebagai seorang superstar, kita tidak usah heran, karena orang luar biasa tahu apa yang harus dilakukan untuk membuat sesuatu yang luar biasa. Bayangkan, tiket konser di O2 Arena untuk 50 kali pertunjukan sudah terjual habis, meski konsernya batal. Sosok Michael Jackson memang fenomenal dan luar biasa di bidangnya.


Ditulis/diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Thursday, November 12, 2009

A Pair of Kebaya Clothes for Mom

Lastri menimang-nimang kembali jarit dan kebaya yang masih baru. Sebuah jarit dengan warna dasar coklat tua. Dia tidak tahu nama corak batik. Baginya itu tidak penting. Dia hanya melihat bahwa warna ini sangat cocok bagi emaknya. Dia juga pernah melihat emaknya memiliki jarit dengan corak yang seperti ini, tapi itu sudah beberapa tahun yang lalu dan jarit itu sudah dijual ketika Lastri membutuhkan uang untuk membayar uang sekolah.

Ditatapnya kebaya yang ada di tangan kirinya. Kebaya yang baru saja selesai dijahit oleh Mbak Mi, tetangga sebelah. Warna bunga-bunga yang cerah sangat cocok dengan warna dasar jarit. Pikiran Lastri terbang membayangkan emaknya memakai jarit dan kebaya baru. Betapa bahagia emak nanti berlebaran dengan jarit dan kebaya baru, pikir Lastri dengan senyum mengambang bahagia.

Entah sudah berapa kali sepasang pakaian itu ditimang-timangnya. Setiap melihat keduanya hati Lastri menjadi berbunga-bunga. Dia sangat bahagia. Dia sudah lama menabung untuk kedua pakaian ini. Gajinya yang kecil disisihkan sedikit demi sedikit. Dia pun harus mengurangi jatah makan dan kesenangan pribadi. Sejak masuk kerja dulu tekadnya sudah bulat bahwa Lebaran kali ini dia harus memberi emaknya hadiah. Dia ingin emaknya bahagia di hari Lebaran dengan pakaian baru. Terbayang wajah emak di desa. Seorang perempuan desa yang sederhana. Tidak berpendidikan. Namun bagi Lastri emak adalah segalanya. Dialah orang tua satu-satunya. Sejak kecil emak sudah ditinggal bapak yang nikah lagi. Lastri tidak tahu persis mengapa bapak meninggalkan keluarganya dan menikah lagi. Konon menurut cerita beberapa tetangga dan cerita emak sendiri, bapak tergila-gila sama janda lain desa. Bapak ingin menikahi janda itu. Tapi emak tidak mau dimadu, maka bapak menceraikan emak.

Tanpa bekal ketrampilan dan pendidikan, emak harus bekerja untuk menghidupi ketiga anaknya yang masih kecil, sebab bapak tidak peduli lagi terhadap mereka. Setiap subuh emak harus bangun dan bergegas ke pasar yang berjarak 5 km dari rumah. Emak berjualan kue yang dibuatnya sendiri sepanjang sore dan malam hari. Siang hari emak baru pulang lalu mengurus rumah. Lastri dan kedua adiknya yang masih kecil hanya bisa membantu ala kadarnya. Mereka diserahi untuk memelihara ayam untuk biaya sekolah. Emak tidak ingin anak-anaknya bodoh dan bisa disepelekan oleh lelaki seperti dirinya. Bagi emak, seorang perempuan harus bisa mandiri dan mempunyai pendirian yang kukuh. Tidak perlu memohon belas kasih dari lelaki. Lastri senantiasa mengingat ajaran emaknya. Meski dia hanya seorang anak desa yang miskin dan wajahnya tidak cantik, namun dia tidak mau dijadikan istri pertama apalagi kedua. Menurut emak menjadi istri pertama atau kedua atau ketiga, hanya menunjukan kelemahan seorang perempuan. Perempuan harus punya harga diri. Dia harus bisa mensejajarkan diri dengan lelaki. Bukan obyek yang bisa dipermainkan, kalau senang dinikahi setelah bosan ditinggalkan begitu saja. Lastri tersenyum membayangkan wajah emaknya.

Didikan emak membuatnya menjadi perempuan yang mandiri. Setelah lulus SMA di desa, dia ke Surabaya mencari kerja. Akhirnya di terima disebuah home industri yang tidak jauh dari tempat kos. Dia bekerja mulai dari pagi sampai sore dengan gaji Rp 350.000 per bulan. Bagi Lastri gaji ini sudah cukup besar. Kalau dihitung perhari dia mendapatkan gaji sekitar Rp 11.000 lebih. Padahal hasil keuntungan emaknya perhari hanya sekitar Rp 6000, itupun harus bangun sebelum subuh dan bekerja sampai larut malam. Belum lagi harus jalan kaki ke pasar sejauh 5 km sambil membawa barang baik waktu pergi maupun saat pulang. Maka dia tidak mau meneruskan pekerjaan emaknya.
Lastri juga teringat apa yang dikatakan oleh majikannya bahwa gajinya sudah besar, sebab kerjanya hanya membuat kotak sepatu. Tidak perlu mengeluarkan banyak tenaga. Lastri pun puas akan gajinya dan pekerjaannya. Dari pada di desa lebih baik dia bekerja disini. Dia bisa melihat dan merasakan kehidupan kota dan mendapatkan gaji yang lebih besar dari penghasilan emaknya. Selain itu dengan bekerja di kota, dia merasa lebih memiliki harga diri dari pada hanya menjadi sekedar penjual kue seperti emaknya. Lebih penting lagi emaknya bangga, bahwa anaknya bisa bekerja di kota. Emak tidak rugi menyekolahkan kamu sampai pinter, sehingga kamu tidak menjadi penjual kue seperti emak. Ini pernah dikatakan emaknya ketika Lastri memberitahu bahwa dia sudah bekerja di sebuah perusahaan.

Beberapa kali ada teman yang mengatakan bahwa gajinya tidak sesuai dengan UMR, tapi Lastri tidak peduli. Majikannya pernah mengatakan, kalau dia merasa gajinya kurang, silakan mencari pekerjaan di tempat lain. Mencari pekerjaan saat ini sangat sulit, apalagi hanya berbekal ijasah SMA dari desa dan dia tidak memiliki ijasah lain. Maka dia tidak tertarik ketika ada seorang teman mengajak nya mogok kerja untuk meminta kenaikan upah dan uang makan. Bagi Lastri biarlah banyak buruh yang mogok untuk menuntut kenaikan upah. Dia tidak akan ikut-ikutan mereka. Dia sudah sangat berterima kasih pada majikannya, sebab mau menerima dia bekerja disini. Selain itu jika dia dikeluarkan oleh majikannya akibat ikut-ikutan temannya mogok, maka dia tidak tahu harus bekerja apa. Majikannya pernah mengatakan bahwa kalau dia keluar, akan banyak orang yang datang dan siap menggantikannya. Saat ini situasi sedang sulit. Banyak orang butuh pekerjaan. Mereka tidak hanya lulusan SMA bahkan banyak yang lulusan sarjana. Maka Lastri bersedia saja menerima gaji yang telah ditentukan oleh majikannya, tanpa dia sendiri tahu tentang perhitungan dan patokan gajinya.

Uang Rp 350.000 itu memang sebenarnya tidak cukup. Untuk bayar kos di sebuah kamar kecil saja sudah Rp 50.000 per bulan. Untuk makan di warung Budhe Yah sekali makan dia harus bayar Rp 2500. Itupun hanya dapat nasi dengan sedikit lauk dan teh. Dengan demikian dia harus mengeluarkan Rp 7500 per hari atau Rp 225.000 per bulan. Dengan demikian untuk makan dan kos saja sudah Rp 275.000. ini belum termasuk air untuk minum dan kebutuhan sehari-hari lainnya, seperti sabun mandi, sabun cuci, odol, bedak dan lainnya. Rekreasi? Suatu hal yang hanya bisa dia bayangkan. Selama 8 bulan di Surabaya, baru sekali dia nonton bioskop dekat pasar dengan tiket Rp 1500. Dia hanya pernah mendengar ada plaza dengan nama TP dan Delta, tapi lewat di depannya saja jarang sekali. Apalagi masuk ke dalamnya. Dia tidak berani. Sejak datang ke Surabaya dia baru dua kali beli pakaian di tukang loak yang banyak membuka stand kalau malam hari. Dia harus hidup irit seirit-iritnya. Sebetulnya kalau masak sendiri, bisa lebih irit, tapi mau masak kadang tidak sempat, sebab jam 8 pagi harus sudah di perusahaan dan baru pulang jam 17.00. Itupun kalau tidak lembur. Sering kali Lastri pulang dengan kecapekan sebab seharian hanya duduk untuk memotong dan melem karton.

Dia pun masih harus mengirim uang untuk kedua adiknya setiap dua bulan sekali. Emak sudah semakin tua, sehingga tidak bisa berjualan seperti dulu lagi. Emak hanya berjualan ala kadarnya, maka Lastri harus menanggung beban biaya sekolah kedua adiknya. Untuk itu Lastri harus memperhitungkan dengan teliti setiap pengeluaran. Dia pun sering terpaksa puasa agar uangnya masih cukup untuk menutup semua kebutuhan. Tapi dia bangga bisa membantu emak membiayai adik-adiknya. Selama setengah tahun ini Lastri harus lebih mengirit pengeluaran. Sisa uang yang ada dia kumpulkan sedikit demi sedikit untuk membelikan jarit dan kebaya bagi emak. Ini bukan suatu kemewahan. Sudah 6 kali Lebaran emak tidak pernah menggunakan jarit dan kebaya baru. Maka Lastri ingin pada Lebaran kali ini emak bisa menggunakan pakaian baru. Pakaian yang dia belikan dari hasil keringatnya. Ini adalah bentuk sedikit balas kasih emak kepadanya yang tidak mungkin terbalaskan.

Di tengah keredupan lampu 15 watt Lastri tersenyum membayangkan wajah emaknya yang sangat bahagia. Lastri tidak membelikan baju untuk kedua adiknya, sebab dia tahu pasti emak telah membelikan untuk mereka. Setiap lebaran emak pasti membelikan baju baru bagi anak-anaknya. Bagi emak sudah merupakan suatu kebahagiaan jika melihat anak-anaknya memakai baju baru di hari yang baik ini. Emak tidak peduli dengan dirinya asal anak-anaknya bahagia. Dengan perlahan Lastri memasukan kebaya dan jarit itu dalam tas besar yang besok akan dibawanya pulang. Dia sudah tidak sabar menunggu hari esok. Dia ingin segera pulang dan memeluk emaknya. Dia kangen sama emaknya. Dia ingin melihat kegembiraan yang terpancar di wajah emaknya. Emak aku sangat mencintaimu, bisik Lastri lirih. Email kiriman bpk Wawan S.T.

Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Wednesday, November 11, 2009

Picking Fruit

Saya hidup di padang golf. Golf telah menjadi sebagian hidup saya sejak saya berusia sebelas tahun. Permainan itu telah mengajar saya banyak pelajaran kehidupan. Saya masuk kuliah dengan beasiswa dari permainan golf dan kemudian saya menjadi pemain golf profesional tiga tahun kemudian.

Saya sering berjalan-jalan di padang golf pada sore hari untuk latihan dan menggunakan waktu ini untuk berdoa juga. Tempat itu tenang sekali dan indah untuk jalan-jalan. Ketika berjalan di sana, saya biasanya menemukan satu atau dua bola golf di sepanjang jalan. Tetapi pada suatu kali ada yang berbeda.

Pada kesempatan jalan-jalan yang satu ini saya mulai menemukan bola golf di manapun saya memandang. Ketika saya sudah mengumpulkan lima bola, saya mulai memperhatikan betapa anehnya hal ini. Kemudian saya mengumpulkan delapan, kemudian sepuluh dan akhirnya saku celana saya dipenuhi tiga belas bola.

Ketika sesuatu yang aneh terjadi dalam kehidupan sehari-hari kita, itulah waktu yang tepat untuk beralih ke antena rohani. Seringkali Tuhan berbicara sesuatu. Saya bertanya kepada Tuhan, "Tuhan, apakah yang Engkau ingin katakan melalui hal ini?" Jawaban dari Tuhan datang segera, "Aku telah memanggil engkau di jalan tertentu. Aku akan mendatangkan buahnya bagimu. Yang engkau harus lakukan hanyalah petik dan kumpulkan buah-buah itu dan setialah di jalan-Ku yang kusediakan bagimu. Itulah yang dimaksud dengan tinggal di dalam-Ku." Ditulis oleh Os Hillman, diterjemahkan oleh Hadi Kristadi untuk Pentas Kesaksian, http://pentas-kesaksian.blogspot.com


Personal Note:
Terima kasih atas pesanan buku "Mukjizat Kehidupan" oleh Ibu M. Lingga di Riau. Buku akan segera dikirim besok pagi dengan pos kilat khusus. Buku "Sorga Terbuka" akan dikirim via email karena materinya dalam bentuk file komputer. Mohon alamat emailnya.
Terima kasih dan Tuhan memberkati.

*******

I live on a golf course. Golf has been a part of my life since I was eleven years old. It has taught me many life lessons. I went to college on a golf scholarship and later turned professional for three years.

I often walk at sundown for exercise and use this time to pray. It is a quiet and beautiful place to walk. When I walk, I usually find one or two golf balls along the way. But one time was different.

On this particular walk, I began to find golf balls everywhere I looked. When I had collected 5, I began to notice how strange this was. Then, it became 8, then 10 and finally my pockets were literally stuffed with 13 golf balls!

When something unusual happens in our daily life experience it is a time to tune in to your spiritual antennae. God is often at work. So, I prayed, "Lord, what are you saying through this?" The answer came quickly: "I have called you to walk a specific path. I will bring the fruit to you. All you will have to do is pick it up and stay on my path for you. That is what it means to abide in Me." Written by Os Hillman.

Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Tuesday, November 10, 2009

Old Age

Banyak orang yang memiliki hobby setiap hari membaca iklan kematian untuk mengetahui dalam usia berapa tahun mereka mati. Bahkan pada saat salah satu sahabat atau rekannya meninggal dunia langsung bertanya terhadap diri sendiri, kapankah giliran saya? Sangat disayangkan masa hidup yang sedemikian pendeknya hanya digunakan untuk memikirkan masalah kematian.

Daripada memikirkan tentang kematian lebih baik memikirkan bagaimana bisa membuat hidup ini menjadi lebih hidup. Usia bukanlah batasan bagi seseorang untuk melakukan apapun juga. Terlebih lagi jangan sampai kita mau dibelenggu oleh pikiran sendiri dengan alasan sudah tua, karena Age is just only a number.

Banyak orang baru menemukan bakatnya pada saat mereka sudah tua, entah itu bakat melukis ataupun menulis. Mang Ucup sendiri baru sadar, bahwa saya senang menulis setelah saya berumur diatas 55 tahun. Harry Bernstein mempublikasikan buku pertamanya yang berjudul The Invisible Wall dalam usia 96 tahun.

Ann Nixon Cooper dalam usia 106 tahun masih aktif dalam politik. Ia adalah salah satu supporter dari Barrack Obama.

Olive Riley adalah blogger tertua ia membuat blog pertamanya dalam usia 107 tahun.

Arthur Wilson baru mulai menikmati masa pensiun sebagai karyawan dari Los Angelos Metro dalam usia 100 tahun. Bahkan Buster Martin dari England sampai saat ini masih tetap aktif bekerja, walaupun usianya sudah mencapai 103 tahun.

Penyanyi dan pemain film gaek yang masih tetap aktif adalah Johannes Heester dari Belanda. Usia dia sekarang telah mencapai 106 tahun. Konser terakhir ia lakukan dalam usia 105 tahun. Ditulis oleh Mang Ucup/Milis Sahabat Kristen.

Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Monday, November 9, 2009

Divorce after 35 years of marriage

Seorang pria tua di Mumbai, India, menelpon anak lelakinya yang tinggal di New York dan berkata, "Aku tidak suka mengganggu harimu, tetapi aku harus mengaku bahwa aku dan ibumu akan bercerai, setelah 35 tahun menikah...penderitaan ini sudah tak tertahankan."

"Ayah, ada apa sih?" teriak anak lelakinya.

"Kami sudah tidak tahan bertemu satu sama lain," kata pria tua itu. "Kami sudah saling sebel satu sama lain. Aku tak suka membicarakan hal ini, tolong telpon kakak perempuanmu yang di Hongkong."

Dengan kalut, sang anak lelaki menelpon kakak perempuannya yang mengamuk di telpon.

"Masakan pasangan erat ini mau bercerai?" kata kakak perempuannya,"Aku akan mengurus hal ini."

Sang kakak segera menelpon Mumbai dan berkata, "Ayah, jangan bercerai! Jangan lakukan apapun sampai aku datang ke sana. Aku akan telpon adikku dan kami akan ke Mumbai besok. Tapi, jangan lakukan apapun sampai besok! Mengerti?" langsung sang anak perempuan meletakkan gagang telponnya.

Pria tua itu meletakkan juga gagang telponnya dan berpaling kepada istrinya sambil berkata, "OK, semuanya sudah beres. Kedua anak kita akan merayakan hari ulang tahun pernikahan kita besok dan mereka yang bakal membayar tiket pesawatnya."



^^^^

An elderly man in Mumbai calls his son in New York and says, "I hate to ruin your day son, but I have to tell you that your mother and I are getting a divorce; 35 years of marriage...and that much misery is enough!"

"Dad, what are you talking about?" the son screams.

"We can't stand the sight of each other any longer," the old man says.
"We're sick of each other, and I'm sick of talking about this, so you call your sister in Hong Kong and tell her!"

Frantic, the son calls his sister, who explodes on the phone.

"Like heck they're getting divorced," she shouts, "I'll take care of this."

She calls Mumbai immediately, and screams at the old man,

"You are not getting divorced!. Don't do a single thing until I get there!. I'm calling my brother back, and we'll both be there tomorrow. Until then , don't do a thing, DO YOU HEAR?" and she hangs up.

The old man hangs up his phone and turns to his wife. "Okay", he says, "It's all set.They're both coming for our anniversary and paying their own airfare!!"

Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

A Gift

Seorang gadis kecil—cacat dan yatim piatu—pada saat pengumpulan persembahan
syukur di gereja, mempersembahkan cincin emasnya untuk pembangunan gedung
gereja. Beberapa anggota majelis gereja kaget, dan setelah kebaktian usai mereka sepakat untuk menemuigadis kecil itu. “Nak, kami putuskan untuk mengem balikan cincin ini kepadamukarena kami tahu engkau lebih memerlukan cincin ini da ripada kami. Di gerejaini masih ada banyak orang yang bisa menyumbang. Kamu jangan ya, Nak.” Jawab
gadis kecil itu, “Tetapi, Pak, saya bukan memberikan cincin ini untuk Bapak.
Saya mempersembahkan cincin ini untuk Tuhan Yesus. Hanya cincin ini yang saya
punya, yang terbaik untuk Tuhan Yesus.”

Kita kerap bersikap seperti majelis gereja itu—salah mengerti terhadap konsep persembahan. Persembahan diberikan untuk Tuhan, tetapi kita memberikannya seolah-olah untuk manusia dan kita hitung-hitungan atau memberi ala kadarnya. Roma 12:1 dengan gamblang menjelaskan bahwa Tuhan tidak mau diperlakukan sembarangan. Dia tidak pernah memberi sembarangan kepada kita. Dia bahkan tidak menyayangkan nyawa-Nya untuk diberikan kepada kita. Sudah seharusnya kita memberi yang terbaik kapada Tuhan; bahkan hidup kita bagi-Nya; hidup yang kudus dan yang berkenan kepada-Nya.

Setiap kita memberi persembahan di gereja, ingatlah bahwa kita bukan memberi kepada majelis gereja. Juga bukan untuk pamer, tetapi untuk kemuliaan Tuhan. Maka, berikanlah yang terbaik. Bukankah segala sesuatu yang ada pada kita adalah milik Tuhan?

PERSEMBAHAN YANG TERBAIK
ADALAH SEGENAP HIDUP KITA, SEBAGAIMANA YESUS TELAH MEMBERIKAN HIDUP-NYA

Penulis: Mira Novita Thios/Email kiriman Bpk. Tefa/Milis Terang Dunia

Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Saturday, November 7, 2009

In Everything

TODAY'S SCRIPTURE
"Give thanks in all circumstances, for this is God's will for you in Christ Jesus"
(Thessalonians 5:18, NIV)

TODAY'S WORD from Joel and Victoria

Are you giving thanks in every circumstance? This might seem like a stretch at first, especially when you are going through a season of difficulty. But notice today's verse doesn't say to give thanks "for" everything, it says give thanks "in" everything. In other words, no matter what's going on, find something to be thankful for. Don't just focus on what's wrong in your life; focus on what God will do in your life!

When you are thankful, it opens the door for God to move on your behalf. That's why it says "this is God's will for you." He wants you to be close to Him and receive His strength and power by giving thanks.

Today, have the attitude that says, "God, in spite of what's happened, I choose to be grateful. I may be sick, but Father, thank You for being my healer. Thank you for giving me great friends and family." Or, "I may be struggling in my marriage, but God, thank You for being my restorer. Thank You for giving me another sunrise." As you give thanks in everything, you will see God's hand move mightily on your behalf. Before long, you'll come out of that difficulty better, stronger, and wiser than before!

Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Friday, November 6, 2009

Secret

Bayangkan. Suatu hari Anda bertemu dengan aktor film terkenal di ruang tunggu bandara. Ia duduk di sebelah Anda, bahkan mengajak Anda bicara. Apa yang akan Anda lakukan? Mungkin Anda akan mengajaknya foto bersama; mengabadikan peristiwa langka itu. Sesampainya di rumah, pasti Anda tidak tahan lagi untuk menceritakan pengalaman istimewa itu pada semua orang.

Petrus, Yohanes, dan Yakobus juga pernah punya pengalaman istimewa ketika mereka diajak Yesus naik gunung. Di situ mereka menyaksikan pemandangan spektakuler. Tuhan Yesus berubah rupa. Bercahaya. Keilahian-Nya terpancar keluar. Lalu mereka melihat Musa dan Elia, dua nabi terbesar dalam sejarah Israel. Tak seorang pun pernah menyaksikan peristiwa sedahsyat ini! Ketiganya sudah tak sabar lagi menceritakan apa yang mereka lihat. Ini wajar, tetapi Yesus melarang mereka bercerita. Saatnya belum tiba. Lagipula Yesus tak ingin ketiganya jadi besar kepala. Mereka harus tutup mulut. Ini tidak mudah. Menjaga rahasia berarti melawan keinginan untuk dipandang hebat. Perlu pengendalian diri. Syukurlah Petrus berhasil. Puluhan tahun kemudian, baru ia ceritakan kejadian ini dalam suratnya (Baca 2 Petrus 1:17,18).

Bisakah Anda menjaga rahasia? Orang kerap membocorkan rahasia, lantas berkata: ”Jangan bilang kepada siapa-siapa lagi.” Dengan begitu orang berpikir tak akan menimbulkan masalah. Toh ”hanya” satu-dua orang yang tahu. Namun akhirnya, rahasia itu bocor ke mana-mana; menimbulkan masalah; melukai hati. Kita perlu belajar mengendalikan diri seperti ketiga murid Yesus. Ada saatnya diam adalah emas.

KEGAGALAN MENJAGA RAHASIA MEMBUAT ORANG TAK LAGI PANTAS DIPERCAYA

Penulis: Juswantori Ichwan, sumber: http://www.renunganharian.net.id/Email kiriman Bpk Tefa/Milis Terang Dunia.

Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Thursday, November 5, 2009

A Success Story: From A Bus Crew to Businessman

DULU KONDEKTUR, SEKARANG JURAGAN- Kisah Sukses Muhadi Menjadi Pengusaha Bus PO Dedy Jaya

Lewat kerja keras dan keuletan, Muhadi sukses menjadi pengusaha bus Dedy Jaya. Ia merintis usahanya dari berdagang es lilin serta menjadi kondektur bus. Kini bisnisnya sudah menggurita, mulai dari hotel, pabrik cat, mal, hingga toko bangunan.

"Soal nasib urusan belakang". Itulah pegangan hidup Muhadi Setiabudi, konglomerat asal Brebes, Jawa Tengah. Kerja kerasnya selama sekitar 19 tahun kini membuahkan hasil. Grup usaha PT. Dedy Jaya Lambang Perkasa yang berdiri sekitar 15 tahun silam, kini menjelma menjadi kerajaan bisnis dengan 2.500 karyawan. Lini usahanya juga sungguh beragam luas, mulai dari mengelola ratusan armada di bawah bendera perusahaan otobus (PO) Dedy Jaya, hotel, pabrik cat, toko bahan bangunan, toko emas, hingga bisnis maLl di Brebes, Tegal & Pemalang. "Nasib itu urutan kesekian. Siapa pun yang bekerja keras pasti bisa berhasil," ucap lelaki kelahiran Brebes, Maret 1961 ini mantap.

Muhadi tentu tidak asal omong. Boleh dibilang pria yang hanya menamatkan pendidikan madrasah tsanawiyah (setingkat SMP) dari sebuah pesantren di Cirebon ini, benar-benar sudah membuktikannya. Maklum, kerajaan bisnisnya itu ia rintis dengan susah payah dan bukan terima menjadi dari warisan. "Saya benar-benar mulai dari nol besar," tandas bapak tiga anak ini.

Merintis Sukses Dari Berdagang Bambu
Simak saja kisahnya. Muhadi muda sempat melakoni pekerjaan kasar seperti berdagang es lilin di kampung, menjadi kondektur bus, serta berjualan minyak tanah. Pekerjaan itu ia jalani hingga 1979 atawa sekitar lima tahun sejak menamatkan pendidikan menengah. Di saat senggang, ia juga ikut membantu ayahnya bertani di sawah.

Jalan terang agaknya mulai terbentang setelah Muhadi menikahi Atik
Sri Subekti pada 1981. "Waktu itu umur saya baru 19 tahun, tapi saya nekat menikah," tuturnya mengenang. Nasibnya berubah bukan karena dia menikahi anak konglomerat. Sebaliknya, mungkin karena kian terdesak harus membiayai keluarga barunya, dia tak bisa lagi menyandarkan penghasilan dari kerja serabutan itu.

Maka, Muhadi mulai menerjuni usaha dagang bambu dengan modal awal sekitar Rp 50.000. Modal ini ia kumpulkan dari upah membantu orang tuanya di sawah. "Usaha ini masih saya pertahankan sampai sekarang karena ia adalah cikal bakal semua usaha yang tidak bisa saya lupakan," tutur Muhadi.

Guratan sukses Muhadi tampaknya memang sudah terukir di bambu. Sebab, jerih payahnya berjualan bambu tersebut menuai hasil lumayan. Apalagi beberapa pesanan dalam jumlah besar juga mulai berdatangan. Misalnya, dia sempat mendapat order dari sebuah kontraktor bangunan untuk menyuplai ribuan batang. Untungnya meningkat, dari sekitar Rp 70.000 sebulan menjadi Rp 470.000 saban bulan.

Selain mendapat order, ada berkahnya juga Muhadi bergaul dengan para kontraktor itu. Ia jadi mulai mafhum tentang seluk-beluk usaha bahan bangunan. Dua tahun setelah berdagang bambu, Muhadi lantas mendirikan toko bahan bangunan dengan modal yang ia kumpulkan dari untung berdagang bambu. "Kekurangannya saya pinjam dari bank," ucapnya terus terang.

Rupanya pilihan Muhadi melebarkan sayap ke bisnis bahan bangunan sungguh tepat. Karena usaha barunya itu benar-benar menjadi tambang emas yang tiada henti mengalirkan untung. Bahkan, tujuh tahun setelah berkutat di material, keuntungannya dari berjualan bahan bangunan sudah bisa menjadi modal untuk membeli beberapa bus besar. Muhadi seperti terobsesi berusaha di jasa sarana angkutan. Boleh jadi selain meraup untung dari jasa ini, dia ingin mengenang masa sulitnya menjadi kondektur.

Kini, jumlah armada busnya yang berbendera PO Dedy Jaya sudah mencapai ratusan unit. Penumpang asal Pantura, Tegal, Pekalongan, dan Purwokerto yang hendak ke Jakarta tentu sudah tak asing lagi dengan bus ini. Maklum, Dedy Jaya melayani trayek Jakarta-Purwokerto, Jakarta-Tegal, dan Jakarta-Pemalang- Pekalongan. Ia mencomot nama untuk bus serta grup usahanya dari nama anak pertamanya, Dedion Supriyono. Selain menggeluti bus, Muhadi juga mulai merambah ke toko emas dan bisnis perkayuan.

Masih Muda Sudah Kaya Raya
Konglomerasi bisnis Muhadi tak berhenti sampai di situ saja. Ia pun mulai melirik bisnis pusat perbelanjaan lantaran melihat peluang yang masih terbuka lebar di Tegal. Selain itu, "Saya ingin menjadi pelopor pengembang lokal, daripada peluang itu diambil developer dari luar," ucapnya.

Alhasil, berdirilah Mal Dedy Jaya pada 1998, yang kini menjadi pusat perbelanjaan termegah di kota warteg itu. Tak puas mendirikan mal, Muhadi lantas menerjuni pula bisnis perhotelan. Dua tahun berselang setelah membangun mal itu, ia juga membangun dua hotel berbintang sekaligus. Satu di Tegal dan satunya lagi di Brebes.

Sepak terjang Muhadi boleh dibilang mencengangkan karena ia membangun kerajaan bisnis itu saat usianya baru menginjak 31 tahun. Tak heran jika ia mendapat banyak penghargaan berkat keuletannya tersebut. Ini bisa dilihat dari tiga buah lemari besar yang penuh berisi berbagai penghargaan. Yang paling membanggakan Muhadi, dia pernah terpilih menerima penghargaan upakarti dari presiden. "Saya bangga, karena saya ini cuma orang desa," tuturnya merendah.

Muhadi tak memungkiri bahwa perkembangan bisnisnya ini tak
lepas dari peran bank yang mengucurinya kredit. Tentu saja tak serta-merta bank mau mengucurkan pinjaman ketika usahanya belum sebesar sekarang. Kendati sekarang utangnya masih lumayan besar, dia mengaku tak risau ataupun malu. "Saya baru malu kalau tak bisa membayar," tegasnya.

Begitulah, kerja kerasnya kini sudah membuahkan hasil. Toh, ia tak lantas puas dengan hasil yang sudah ia peroleh. Muhadi juga tak lantas bermewah-mewah dengan hasilnya selama ini. Kantornya pun sederhana. Hanya sebuah ruang seluas 24 m2 di salah satu sudut rumahnya di Jalan Raya Cimohong, Bulakamba, sekitar tujuh kilometer dari pusat kota Brebes. Toh, dari kota kecil inilah Muhadi mengendalikan bisnisnya yang
sudah menggurita.

Menggulung Layar Hiburan dan Kapal Ikan
Sudah lumrah setiap ada senang pasti ada susah. Kalau tidak untung ya rugi. Demikian pula dengan bisnis yang dijalani Muhadi. Tidak semua usahanya berjalan mulus dan menjadi tambang duit yang berlimpah. Salah satu usahanya yang terpuruk adalah bioskop Dedy Jaya di Tegal. Semula bioskopnya sempat menjadi maskot dan sasaran hiburan warga Tegal. Namun, usaha itu menjadi berantakan akibat membanjirnya video compact disc (VCD) bajakan yang murah meriah. Bioskopnya menjadi sepi pengunjung dan pemasukannya makin seret hingga berbuntut rugi. Tak heran Muhadi lantas melego bisnis tontonannya itu.

Selain bioskop, bisnis kapal ikannya pun terpaksa gulung tikar. Itu terjadi akibat sengitnya persaingan di Tegal serta belitan krisis moneter pada 1997 hingga 1998. Padahal, kala itu usaha Muhadi baru mulai berbiak dan membutuhkan dana besar untuk mengembangkannya. Sayang, ketika itu tak ada bank yang berani mengucurkan kredit. Muhadi mengaku hampir menyerah saat itu lantaran imbasnya begitu dahsyat menerpa usahanya. "Berat sekali waktu itu. Ternyata lebih mudah merintis ketimbang mempertahankan usaha yang sudah ada", kenang Muhadi.

Pengusaha yang Royal & Sosial
Ditengah kekayaan yang dinikmatinya. Muhadi juga seorang yang royal dalam proyek2 sosial. Ia selalu membantu pembangunan rumah2 ibadah & juga membantu fakir miskin, panti jompo & yatim piatu. "Rezeki dunia hanya sementara. Rezeki Akherat jauh lebih penting." tandasnya. PST. PHILIPS Y. WENAS, MBA, MTH

Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Wednesday, November 4, 2009

To Bless Others in Blindness

Alkisah ada seorang pria tua yang usianya sudah di atas tujuh puluh tahun. Ia hidup di pinggir desa. Walaupun ia hidup sebatang kara, tetapi ia selalu mensyukuri dengan apa yang ia terima. Hal inilah yang membuat dia bisa hidup dengan penuh ceria. Namum tiba-tiba ia menjadi buta. Ia harus hidup dalam kegelapan, sehingga tidak ada harapan lagi untuk bisa melihat sinar matahari maupun keindahan alam disekitarnya. Hal inilah yang membuat dia jadi sangat bersedih hati.

Sampai pada suatu hari ketika dia berjalan melewati pagar rumahnya dan mencium sekuntum bunga mawar, ia berkata, "Aku bisa memiliki sebuah taman. Meskipun aku tidak bisa melihat bunga-bunga ini, aku dapat merawatnya dengan baik dan merasakan serta mencium dan mengasihi mereka."

Kemudian dia mulai membuat sebuah taman, merawatnya dengan penuh kasih. Tangannya yang peka mulai tahu setiap tanaman yang baru tumbuh. Bunga-bunga tampaknya dapat merasakan perawatan yang baik yang diberikan oleh pria itu. Bunga-bunga itu bermekaran seperti bunga-bunga yang ada di desa itu. Setiap hari pria itu menyuruh seorang anak laki-laki tetangganya untuk mengantarkan seikat bunga ke rumah sakit terdekat. Bunga-bunga itu mengantarkan kasih yang diberikan pria tua itu kepada orang-orang yang sedang sakit.

Meskipun ia harus hidup dalam kegelapan, orang tua yang buta itu telah mengukir kedamaian dan kegembiraan melalui kasihnya kepada bunga-bunga yang ditanamnya dan melalui kasihnya kepada orang lain. Ia merasa hidupnya bisa bermanfaat lagi bagi sesama manusia. Hal ini telah dapat memulihkan kembali rasa ceria di dalam kehidupan laki-laki tua itu. Dari tulisan Mang Ucup di Milis Sahabat Kristen.

Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Monday, November 2, 2009

The Bishop's Gift

Hadiah dari Penilik Jemaat
Pada suatu saat sebuah gereja mengalami masa-masa yang sulit. Hanya ada lima anggota gereja yang tersisa: seorang Pendeta dan empat anggota, semuanya di atas 60 tahun.

Di sebuah bukit dekat gereja itu tinggal seorang Penilik Jemaat yang sudah pensiun. Sang pendeta akhirnya meminta nasihat sang Penilik Jemaat untuk menyelamatkan gereja tersebut. Pendeta dan Penilik Jemaat itu berbicara panjang lebar, tetapi ketika diminta nasihatnya, Penilik Jemaat hanya menjawab, "Saya tidak mempunyai nasihat untuk diberikan. Satu hal yang saya dapat katakan ialah bahwa salah seorang di antara kalian adalah juruselamat."

Sekembalinya dari pertemuan dengan Penilik Jemaat, Pendeta itu menceritakan apa yang telah dikatakan Penilik Jemaat. Selama beberapa bulan berikutnya semua anggota jemaat mulai merenungkan perkataan Penilik Jemaat. "Salah seorang di antara kita adalah juruselamat?" Ketika mulai memikirkan kemungkinan itu, mereka mulai memperlakukan satu sama lain dengan penuh hormat, dengan harapan mereka melakukannya untuk sang juruselamat. Selain itu mereka juga saling memperlakukan satu sama lain dengan kepedulian yang luar biasa.

Dengan berlalunya waktu, orang-orang yang datang ke gereja itu melihat aura yang istimewa yang penuh hormat dan kepedulian yang sangat luar biasa diantara kelima anggota gereja. Tanpa disadari orang-orang mulai datang lagi ke gereja itu. Orang-orang mulai mengajak teman-temannya, dan teman-temannya mengajak teman-temannya yang lain. Dalam waktu beberapa tahun saja gereja itu kembali menjadi gereja yang hidup, yang penuh terobosan karena ada rasa saling hormat dan kepedulian satu sama lain yang luar biasa, berkat hadiah dari seorang pensiunan Penilik Jemaat. Diterjemahkan oleh Hadi Kristadi untuk Pentas Kesaksian, 1 Nopember 2009.

******


The Bishop's Gift

Once a church had fallen upon hard times. Only five members were left: the pastor and four others, all over 60 years old.

In the mountains near the church there lived a retired Bishop. It occurred to the pastor to ask the Bishop if he could offer any advice that might save the church. The pastor and the Bishop spoke at length, but when asked for advice, the Bishop simply responded by saying, "I have no advice to give. The only thing I can tell you is that the Messiah is one of you."

The pastor, returning to the church, told the church members what the Bishop had said. In the months that followed, the old church members pondered the words of the Bishop. "The Messiah is one of us?" they each asked themselves. As they thought about this possibility, they all began to treat each other with extraordinary respect on the off chance that that one among them might be the Messiah. And on the off, off chance that each member himself might be the Messiah, they also began to treat themselves with extraordinary care.

As time went by, people visiting the church noticed the aura of respect and gentle kindness that surrounded the five old members of the small church. Hardly knowing why, more people began to come back to the church. They began to bring their friends, and their friends brought more friends. Within a few years, the small church had once again become a thriving church, thanks to the Bishop's gift.

Ditulis/diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com


**************
Personal Note:

Terima kasih atas pesanan buku "Mukjizat Kehidupan" oleh Bapak Yongky dari NYC, pesanan akan dikirim via Surabaya dan akan dibawa oleh Tim Pria Sejati yang akan berangkat ke New York City. God bless you.

Kesaksian Pembaca Buku "Mukjizat Kehidupan"

Pada tanggal 28 Oktober 2009 datang SMS dari seorang Ibu di NTT, bunyinya:
"Terpujilah Tuhan karena buku "Mukjizat Kehidupan", saya belajar untuk bisa mengampuni, sabar, dan punya waktu di hadirat Tuhan, dan akhirnya Rumah Tangga saya dipulihkan, suami saya sudah mau berdoa. Buku ini telah jadi berkat buat teman-teman di Pasir Panjang, Kupang, NTT. Kami belajar mengasihi, mengampuni, dan selalu punya waktu berdoa."

Hall of Fame - Daftar Pembaca Yang Diberkati Buku Mukjizat Kehidupan

  • A. Rudy Hartono Kurniawan - Juara All England 8 x dan Asian Hero
  • B. Pdt. DR. Ir. Niko Njotorahardjo
  • C. Pdt. Ir. Djohan Handojo
  • D. Jeffry S. Tjandra - Worshipper
  • E. Pdt. Petrus Agung - Semarang
  • F. Bpk. Irsan
  • G. Ir. Ciputra - Jakarta
  • H. Pdt. Dr. Danny Tumiwa SH
  • I. Erich Unarto S.E - Pendiri dan Pemimpin "Manna Sorgawi"
  • J. Beni Prananto - Pengusaha
  • K. Aryanto Agus Mulyo - Partner Kantor Akuntan
  • L. Ir. Handaka Santosa - CEO Senayan City
  • M. Pdt. Drs. Budi Sastradiputra - Jakarta
  • N. Pdm. Lim Lim - Jakarta
  • O. Lisa Honoris - Kawai Music Shool Jakarta
  • P. Ny. Rachel Sudarmanto - Jakarta
  • Q. Ps. Levi Supit - Jakarta
  • R. Pdt. Samuel Gunawan - Jakarta
  • S. F.A Djaya - Tamara Jaya - By Pass Ngurah Rai - Jimbaran - Bali
  • T. Ps. Kong - City Blessing Church - Jakarta
  • U. dr. Yoyong Kohar - Jakarta
  • V. Haryanto - Gereja Katholik - Jakarta
  • W. Fanny Irwanto - Jakarta
  • X. dr. Sylvia/Yan Cen - Jakarta
  • Y. Ir. Junna - Jakarta
  • Z. Yudi - Raffles Hill - Cibubur
  • ZA. Budi Setiawan - GBI PRJ - Jakarta
  • ZB. Christine - Intercon - Jakarta
  • ZC. Budi Setiawan - CWS Kelapa Gading - Jakarta
  • ZD. Oshin - Menara BTN - Jakarta
  • ZE. Johan Sunarto - Tanah Pasir - Jakarta
  • ZF. Waney - Jl. Kesehatan - Jakarta
  • ZG. Lukas Kacaribu - Jakarta
  • ZH. Oma Lydia Abraham - Jakarta
  • ZI. Elida Malik - Kuningan Timur - Jakarta
  • ZJ. Luci - Sunter Paradise - Jakarta
  • ZK. Irene - Arlin Indah - Jakarta Timur
  • ZL. Ny. Hendri Suswardani - Depok
  • ZM. Marthin Tertius - Bank Artha Graha - Manado
  • ZN. Titin - PT. Tripolyta - Jakarta
  • ZO. Wiwiek - Menteng - Jakarta
  • ZP. Agatha - PT. STUD - Menara Batavia - Jakarta
  • ZR. Albertus - Gunung Sahari - Jakarta
  • ZS. Febryanti - Metro Permata - Jakarta
  • ZT. Susy - Metro Permata - Jakarta
  • ZU. Justanti - USAID - Makassar
  • ZV. Welian - Tangerang
  • ZW. Dwiyono - Karawaci
  • ZX. Essa Pujowati - Jakarta
  • ZY. Nelly - Pejaten Timur - Jakarta
  • ZZ. C. Nugraheni - Gramedia - Jakarta
  • ZZA. Myke - Wisma Presisi - Jakarta
  • ZZB. Wesley - Simpang Darmo Permai - Surabaya
  • ZZC. Ray Monoarfa - Kemang - Jakarta
  • ZZD. Pdt. Sunaryo Djaya - Bethany - Jakarta
  • ZZE. Max Boham - Sidoarjo - Jatim
  • ZZF. Julia Bing - Semarang
  • ZZG. Rika - Tanjung Karang
  • ZZH. Yusak Prasetyo - Batam
  • ZZI. Evi Anggraini - Jakarta
  • ZZJ. Kodden Manik - Cilegon
  • ZZZZ. ISI NAMA ANDA PADA KOLOM KOMENTAR UNTUK DIMASUKKAN DALAM DAFTAR INI