Search This Blog

Friday, October 30, 2009

The Answer to Prayer

Sebuah kapal karam di tengah laut karena terjangan badai dan ombak hebat. Hanya dua orang lelaki yang bisa menyelamatkan diri dan berenang ke sebuah pulau kecil yang gersang. Dua orang yang selamat itu tak tahu apa yang harus dilakukan. Namun, mereka berdua yakin bahwa tidak ada yang dapat dilakukan kecuali berdoa.

Untuk mengetahui doa siapakah yang paling dikabulkan mereka sepakat untuk membagi pulau kecil itu menjadi dua wilayah. Dan mereka tinggal sendiri-sendiri berseberangan di sisi-sisi pulau tersebut. Doa pertama mereka panjatkan, mereka memohon agar diturunkan makanan. Esok harinya, lelaki pertama melihat sebuah pohon penuh dengan buah-buahan tumbuh di sisi tempat tinggalnya. Sedangkan di daerah tempat tinggal lelaki yang lainnya tetap kosong.

Seminggu kemudian, lelaki yang pertama merasa kesepian dan memutuskan untuk berdoa agar diberikan seorang istri. Keesokan harinya, ada kapal yang karam dan satu-satunya penumpang yang selamat adalah seorang wanita yang berenang dan terdampar di sisi tempat lelaki pertama itu tinggal. Sedangkan di sisi tempat tinggal lelaki kedua tetap saja tidak ada apa-apanya.

Segera saja, lelaki pertama ini berdoa memohon rumah, pakaian, dan makanan. Keesokan harinya,seperti keajaiban saja, semua yang diminta hadir untuknya. Sedangkan lelaki yang kedua tetap saja tidak mendapatkan apa-apa. Akhirnya, lelaki pertama ini berdoa meminta kapal agar ia dan istrinya dapat meninggalkan pulau itu. Pagi harinya mereka menemukan sebuah kapal tertambat di sisi pantainya. Segera saja lelaki pertama dan istrinya naik ke atas kapal dan siap-siap untuk berlayar meninggalkan pulau itu. Ia pun memutuskan untuk meninggalkan lelaki kedua yang tinggal di sisi lain pulau. Menurutnya, memang lelaki kedua itu tidak pantas menerima berkat tersebut karena doa-doanya tak pernah terkabulkan.

Begitu kapal siap berangkat, lelaki pertama ini mendengar suara dari langit menggema, "Hai, mengapa engkau meninggalkan rekanmu yang ada di sisi lain pulau ini?"

"Berkatku hanyalah milikku sendiri, karena hanya doakulah yang dikabulkan," jawab lelaki pertama ini. "Doa lelaki temanku itu tak satupun dikabulkan. Maka,ia tak pantas mendapatkan apa-apa."

"Kau salah!" suara itu membentak membahana. "Tahukah kau bahwa rekanmu itu hanya memiliki satu doa. Dan, semua doanya terkabulkan. Bila tidak, maka kau takkan mendapatkan apa-apa."

"Katakan kepadaku," tanya lelaki ke satu itu. "doa macam apa yang ia panjatkan sehingga aku harus merasa berutang atas semua ini kepadanya?"

"Ia berdoa agar semua doamu dikabulkan!"

Teman-teman hari ini kita belajar satu hal: apakah yang membuat kita merasa lebih baik dari yang lain? Sadarilah betapa banyak orang yang telah mengorbankan segala sesuatu demi keberhasilan kita. Tak selayaknya kita mengabaikan peran orang lain, dan janganlah menilai seseorang atau sesuatu hanya dari "yang terlihat" saja.

“Seorang sahabat menaruh kasih setiap waktu,dan menjadi seorang saudara dalam kesukaran” Amsal 17:17. Sumber: Email kiriman Yuni Lam/Milis Terang Dunia.

Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

*******
Personal Note:
Terima kasih atas pesanan 5 buku "Mukjizat Kehidupan" dari seorang Ibu di Jakarta Barat. Pesanan akan dikirim hari ini dengan pos kilat khusus.

Wednesday, October 28, 2009

Campus Church

Enam tahun lalu, Jason Ma mengikuti perkuliahan pendahuluan untuk mata kuliah Filsafat. Tiba-tiba, Profesor yang mengajarnya bertanya "Siapa diantara kalian yang percaya bahwa Yesus Kristus adalah Anak Allah?" Hanya Jason dan salah seorang temannya yang mengangkat tangan di dalam ruang kuliah yang dihadiri 100 orang mahasiswa tersebut. Jason tidak bisa percaya bahwa kebanyakan teman mahasiswanya tidak tahu apa yang ditawarkan Yesus kepada mereka, maka dia mulai melakukan doa keliling di universitas. Dia meminta kepada Tuhan untuk memberikan petunjuk, sehingga 28.000 mahasiswa di universitas tersebut bisa mengenal Dia. Tuhan membukakan pintu untuk Jason. Para pengurus univesitas menaruh simpati pada tujuannya dan mereka memberi izin pada Jason untuk mengadakan serangkaian program penginjilan di universitas. Ada ratusan mahasiswa yang diselamatkan.

Satu hal yang segera disadari Jason bahwa hanya sebagian kecil dari petobat baru itu yang beribadah di sebuah gereja, setelah mereka menjadi Kristen. "Sejujurnya," kata Jason, "kebanyakan gereja di sekitar universitas tidak memiliki program pelayanan untuk para mahasiswa. Belum ada gereja yang memikirkan untuk menjangkau mahasiswa. Ada beberapa mahasiswa yang bertemu untuk melakukan pendalaman Alkitab. Namun, ketika mereka lulus dari universitas, masalah itu masih tetap ada; mereka tidak bisa menemukan satu tempat untuk beribadah yang memahami kebutuhan mereka. Saya sendiri juga melihat masalah yang sama di beberapa universitas. Kebanyakan mahasiswa memandang gereja-gereja sebagai tempat yang membosankan, tidak relevan dengan kebutuhan mereka dan hipokrit. Namun, para mahasiswa itu sendiri juga tidak menyadari bahwa diri mereka sebenarnya juga merasa kosong, terluka, dan menderita. Mereka mencari kasih sejati melalui obat-obat terlarang, pesta pora, seks, dan juga nilai-nilai yang bagus. Banyak yang mengalami depresi, bahkan banyak diantara mereka yang hampir memutuskan untuk bunuh diri."

Jason mulai mendoakan bagaimana caranya ´membawa´ gereja kepada mahasiswa. Setelah melakukan banyak riset, termasuk mempelajari gerakan gereja bawah tanah di China, dia menjadi yakin bahwa "gereja sederhana" yang berorientasi pada jalinan relasi merupakan cara terbaik untuk menjangkau para mahasiswa. Dia membaca mengenai seorang gadis China berusia 18 tahun yang merintis lebih dari 100 gereja rumah dalam setahun. Gereja-gereja yang dipelajarinya di China merupakan jaringan persekutuan kecil yang beranggotakan 15-30 orang. Mereka bertemu di rumah-rumah atau di toko-toko kecil untuk mensharingkan hidup mereka sehari-hari bersama Yesus. "Jika seorang gadis China berumur 18 tahun dapat merintis 100 gereja dalam setahun di China, apakah seorang mahasiswa tidak dapat merintis beberapa persekutuan di univertas?" Jason bertanya kepada dirinya sendiri.

Dia sadar bahwa, seorang misionaris dapat memenangkan seorang mahasiswa bagi Yesus, yang nantinya mahasiswa ini akan memenangkan teman-teman di sekitarnya, sehingga terbentuklah gereja kecil. Sebuah gereja kecil tentu saja tidak bisa menjangkau berbagai macam mahasiswa, maka Jason mulai menganggap setiap kelompok mahasiswa sebagai "kelompok suku yang belum terjangkau", dan bertujuan untuk merintis sebuah gereja di setiap kelompok. Gereja-gereja baru dengan anggota 15-20 jemaat itu akan bertemu di suatu tempat, dan jika anggota mereka terus bertumbuh, mereka tidak perlu mencari tempat yang lebih besar untuk bersekutu. Kelompok yang semakin besar itu dapat dibagi menjadi beberapa kelompok dan terus bermultiplikasi. Mereka dapat bertemu di mana pun -- di asrama, apartemen, ruang reuni, kelas atau kedai kopi di seberang jalan. Kemudian Jason mulai merintis gereja- gereja di universitasnya. Mereka kemudian mengirim ´misionaris´ ke universitas-universitas lain untuk melakukan hal yang sama; Campus Church Network (CCN) telah didirikan, dimulai di San Jose State University pada tahun 1998, dan semakin berkembang.

Para misiologi membuat istilah ´10/40 Window´ untuk mendeskripsikan daerah geografis antara 10 dan 40 derajat garis lintang sebagai wilayah yang paling jarang diinjili. "´The 13/30 Window´ kemungkinan juga merupakan hal yang penting," kata Jason. Yang dimaksud dengan ´The 13/30 Window´ adalah orang-orang yang berusia antara 13-30 tahun. Kelompok umur itu berpotensi menjadi ladang tuaian terbesar bagi Injil di masa sekarang. "Kelompok tersebut sangat terbuka terhadap Injil." Survey menunjukkan bahwa 90% dari semua orang Kristen memutuskan untuk menerima Yesus sebagai Juruselamat sebelum mereka berulang tahun ke-25. Ini juga menjadi kelompok yang paling penting, karena mereka adalah masa depan dunia dan gereja.

Statistik menunjukkan bahwa 60% dari populasi global berusia di bawah 25 tahun; 30% atau sekitar 1,7 juta orang berusia antara 10-24 tahun. Jason mempelajari penelitian yang dilakukan oleh Barna Research Group yang menunjukkan bahwa usia 18-25 tahun merupakan kelompok yang paling jarang ke gereja. Mayoritas mahasiswa yang beribadah di gereja selama masa studi tidak lagi beribadah ke gereja setelah mereka lulus kuliah. Jason menyimpulkan bahwa "Kami sangat membutuhkan gereja baru untuk generasi baru, karena bentuk gereja tradisional kurang bisa menjangkau para mahasiswa di Amerika. Para pemuda post-modern tidak lagi mengetahui standar, tidak percaya pada apa pun dan ingin mencari Tuhan dengan cara mereka sendiri. Mereka tidak hanya ingin duduk diam di gereja dan mendengarkan seseorang berkotbah. Namun, mereka juga ingin menerapkan iman mereka. Menurut Jason, "Itu tidak membutuhkan komite baru, akan tetapi sebuah revolusi."

Motto Jason adalah "Memulai suatu revolusi berarti memulai sebuah gereja kampus!" Pada Situs Campus Church Networks (CCN), dia menulis "Setiap revolusi dimulai oleh seorang yang revolusioner. Apakah Anda siap menjadi salah satunya? Apakah sudah ada gereja kampus di universitas Anda? Jika belum, maka Anda harus memulainya ...." Campus Church Networks adalah gerakan perintisan gereja yang dilakukan oleh para mahasiswa. CNN menantang sekaligus melatih para mahasiswa untuk merintis gereja-gereja bagi suatu generasi baru di setiap universitas yang ada di dunia. Sumber: Elia Stories.

Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Tuesday, October 27, 2009

Sharing Your Blessings

Seorang wartawan mewawancarai seorang petani untuk mengetahui rahasia di balik kesuksesan tanaman jagungnya yang selama bertahun-tahun selalu berhasil memenangkan kontes hasil pertanian.

Ketika ditanya rahasianya, sang petani termenung lama karena tidak terpikirkan sedikitpun hal unik yang dilakukannya. Ia bahkan selalu membagi-bagikan bibit jagung terbaiknya kepada petani-petani tetangga di sekitar perkebunannya. Sang wartawan sedikit aneh dengan cara kerja petani itu dan bertanya, "Mengapa Anda membagi-bagikan bibit jagung terbaik itu kepada tetangga-tetangga Anda?" Bukankah mereka mengikuti kontes ini juga setiap tahunnya?"

Sang petani kemudian menjawab, "Angin menerbangkan serbuk sari dari bunga-bunga di perkebunan dan menyebarkannya dari satu ladang ke ladang yang lain. Jika tanaman jagung tetangga saya buruk, maka serbuk sari yang diterbangkan ke ladang saya juga akan buruk. Ini tentu menurunkan kualitas jagung saya. Kalau saya ingin mendapatkan hasil jagung yang terbaik, saya harus menolong para tetangga saya untuk mendapatkan jagung yang terbaik pula."

Demikian pula halnya dengan hidup kita. Mereka yang ingin meraih keberhasilan harus terlebih dahulu menolong orang lain menjadi berhasil. Mereka yang menginginkan hidup yang baik harus menolong orang lain memperoleh hidup yang baik pula. Nilai kehidupan kita diukur dari kehidupan-kehidupan yang kita sentuh. Darmadi Darmawangsa, dimuat di Majalah Kawasan edisi Oktober 2009.

Ditulis/diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Placebo

Apakah Obat Bius di Gereja?
Kamus Webster mengartikan "Placebo" sebagai "obat yang diberikan lebih ditujukan untuk memberikan kelegaan mental kepada seorang pasien dibandingkan dengan untuk penyakit aslinya. Placebo itu obat palsu, yang isinya hanya tepung, namun bersalut gula, dan tidak mengandung unsur penyembuhan yang nyata.

Para dokter memberitahu kita bahwa jika kita tahu bahwa kita sedang memakan placebo maka tidak akan ada hasilnya. Dalam pikiran kita, kita harus menganggap bahwa placebo adalah obat mujarab dan mempunyai khasiat untuk menyembuhkan penyakit. Jika pasien itu percaya demikian, maka pengobatan itu akan mendatangkan keajaiban dalam banyak kasus. Pengobatan dengan placebo sesungguhnya tidak ada apa-apanya, tetapi di pikiran sang pasien placebo itu berkasiat. Agar pengobatan ini berhasil, dokter harus meyakinkan pasiennya tentang khasiat "obat" placebo itu.

Sahabatku, itulah pengobatan yang sekarang sedang dijalani oleh kebanyakan orang yang mengaku Kristen. Dokter yang memberikan resep ini adalah Dokter Setan sendiri. Ia memberi obat dengan berselaput gula keagamaan yang manis, pengalaman yang dangkal, dan setengah kebenaran kepada para pendengarnya.

Dokter Setan mengizinkan para pasiennya untuk terus datang ke gereja dan membolehkan mereka untuk ambil bagian dalam kegiatan menyanyi, berdoa, mengajar sekolah minggu dan bahkan berkhotbah. Pengobatan placebo di gereja adalah agama permukaan yang mengandung semua unsur-unsur yang benar dari gereja sejati, tetapi unsur-unsur itu tiruan dan berasal dari bidang intelektual. Gereja yang keliru dan yang sejati dewasa ini pada umumnya memiliki unsur-unsur yang sama. Perbedaannya, gereja yang keliru hanya mengajar kebenaran (atau setengah kebenaran), gereja yang sejati menghidupi kebenaran sepenuhnya. Anda berada di gereja mana? Apakah Anda selama ini hanya dicekoki placebo, obat boong-boongan? Howard Pittman, diterjemahkan oleh Hadi Kristadi.


*******


“What is the Church’s Dope”?

Webster’s Dictionary defines “placebo” as “a medication prescribed more for the mental relief of a patient than for the actual effect on his disorder. The doctors tell us that if we know we are being treated with a placebo, it does not work. In our minds we must think that it is a real medication and has the strength or power to heal. If the patient believes this, then the treatment has been known to work wonders in many cases that otherwise could not have been treated. Placebo treatment is in fact nothing of substance, but in the mind of the patient it is real. In order for this treatment to work, the doctor must convince the patient of the work of the medication.

My friend, I declare to you that this is the exact “treatment” that most “mouth-professing” Christians are using today. The doctor administering this “medication” is Satan himself. He gives the patient a sugar-coated religion, a shallow experience, and whispers half truths into his ears.

Doctor Satan will allow his “patient” to continue to go to church and will allow him to take part in any church that is singing, leading in prayer, teaching in Sunday School, and even preaching……The Placebo treatment in the church today is a surface religion which contains all the elements of true Christian religion with the exception that these elements are superficial and intellectual. The true and false religions in our Christian denominations today contain nearly all the same elements. The big difference is that the false religion is only taught; the true one must be lived. Howard Pittman.

Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Monday, October 26, 2009

The Account of Howard Pittman

Howard Pittman is a dear friend and brother in Messiah, whom I have met in person back in 1996 and have spoken with on several occasions over the phone. He and his dear wife Joyce travel together to go and tell about Howard’s clinical death experience on August 3, 1979.

Howard O. Pittman was a Baptist minister for 35 years. He was born November 24, 1928 the seventh living child in a family of eight children. He was raised on a small farm in the southwestern part of the state of Mississippi.

On August, 1979, his main body trunk artery ruptured and at some point in the ensuing hours, he suffered physical death.

His spirit was lifted from his body by his guardian angels and taken into the Second Heaven (Satan’s dominion) where he saw many startling things.

He appeared before the Lord in the Third Heaven where he pleaded for an extension of his physical life. It was here that God showed him what kind of life of worship and service to Yeshua/Jesus the Messiah that he really led. He was given a message to bring back to God’s latter rain soldiers in this generation.

Through Howard’s Testimony, God has begun to deliver this message through such means as the Christian Broadcasting Network, the Trinity Broadcasting Network, numerous radio stations, church services, and public appearances.

Since his death experience on August 3, 1979, and his call to “go tell” on May 7, 1980, he has traveled all over the United States and into Old Mexico telling of this great experience and repeating the message God gave him for this generation.

The book, “Demons An Eye Witness Account,” gives the first eye witness account of the activities of the spirit world. Howard saw the various ranks of demonic principalities while he was in The Second Heaven as he was taken on a tour by the Angel of the Lord to see the way in which these fallen angels operate.

He witnessed at least Five Orders of demons which are listed as follows:

1.) The Demon of Greed (Second in Command to Satan himself).
2.) The Warring Demons (who rule over cities and geographic locations).
3.) Witchcraft Demons (these were had the appearance of being part human and part animal as seen in Greek Mythological beings) such as Pan, Pegasus, Mermaids, etc.)
4.) The Mystery Demons (these are behind mental insanity, multiple personality disorders,
5.) Unclean Spirits (these are reptilian beings such as frogs, and they are behind sexual perversion).

Howard Pittman was given insight into how the demonic realm operates and how humans are oblivious to how subtly they are able to tempt, and possess people through their own ignorance. He was then taken back to earth by the angel to see how the demons operate behind the scenes on earth to possess people.

After Howard was taken on his tour into the Second Heaven, he pleaded with the angel to allow him to talk with the Lord. He wanted to ask for an extension of his physical life.

He was taken through a tunnel to the third heaven under escort by his angel. But before he could enter, he was told that if he entered the Third Heaven, he could not come out and that he would have to remain there until brought back by Messiah himself. He protested “but if I can’t come out, then my body will die! That will defeat my whole purpose.”

Howard was told by the angel to stand by one side of the gate and to present his case to God.

Howard recalls his visit to the Third Heaven:

“Boldly I came before the throne and started out by reminding God
what a great life of love, worship and sacrifice I had lived for him……I reminded him that I was now in trouble and only he could help by granting me the extension to my physical life. God was totally silent while I spoke. When I had completed my request, I heard the real audible voice of God as he answered me.

The voice I heard was not like the sweet voice that Satan had used to trick me before in the valley. You could put together the noise of all the storms, volcanoes, tornadoes, and hurricanes, and they could in no way imitate what I heard….The sound of his voice came down on me over the Gates even before the words hit me. The tone of His anger knocked me on my face as God proceeded to tell me just what kind of life I had really lived……He pointed out that my faith was dead, that my works were not acceptable, and that I had labored in vain. He told me that it was an abomination for me to live such a life and then dare to call it a life of worship…”

Howard was eventually granted an extension on his life, after a long conversation with God and a detailed discourse of the things that were unacceptable in his life before God.


Below, you will find part 1 of 12 videos of Howard Pittman’s Testimony:

http://www.youtube.com/watch?v=HFG-wUESBSQ&feature=email

Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Friday, October 23, 2009

God Never Forsake You

Tanggal 7 Desember 1998 di bagian utara Armenia, gempa dengan kekuatan 6,9 skala richter menghancurkan sebuah gedung sekolah. Di tengah kegaduhan dan kepanikan, seorang bapak berlari menuju sekolaah, dimana anaknya menuntut ilmu setiap hari. Sambil berlari, ia terus teringat pada kata-kata yang sering ia ucapkan kepada anaknya, "Anakku, apapun yang terjadi, papa akan selalu bersamamu.

Sesampainya di tempat dimana sekolah itu dulunya berdiri, yang ia dapati hanyalah sebuah bukit tumpukan batu, kayu dan semen sisa dari gedung yang hancur total. Mula-mula ia hanya terpaku berdiri di sana sambil menahan tangis. Namun kemudian, ia bergegas pergi ke sekolah yang ia yakini adalah tempat ruang kelas anaknya. Dengan hanya menggunakan tangannya ia mulai menggali dan mengangkat batu-batu yang bertumpuk disana. Seseorang sempat menegurnya, "Pak, tak ada gunanya lagi. Mereka semua pasti sudah mati. "Bapak itu menjawab, "Anda bisa berdiri saja disana, atau ikut membantu mengangkat batu-batu ini". Maka orang itu dan beberapa orang lain ikut menolong, namun setelah beberapa jam mereka lelah dan menyerah.

Sebaliknya, si bapak tak bisa berhenti memikirkan anaknya, dan terus menggali. Dua jam berlalu, lima jam, sepuluh jam, tiga belas jam, delapan belas jam. Tiba-tiba ia mendengar suara dari bawah papan yang rubuh. Dia mengangkat sebagian papan, dan berteriak, "Armando" dari kegelapan di bawah terdengarlah suara kecil, "Papa" Kemudian terdengar pula suara-suara lain ikut berteriak. Semua orang yang ada di sekitar reruntuhan, kebanyakan para orangtua murid-murid itu, kaget dan bersyukur saat menyaksikan dan mendengar teriakan anak-anak ada 14 anak yang masih hidup. Armando membantu menggali dan mengangkat batu-batu sampai semua temannya diselamatkan. Semua orang mendengarnya ketika ia berkata kepada teman-temannya, "Lihat, aku sudah bilang 'kan, bahwa papaku pasti datang untuk menyelamatkan kita".

Bila kita berada dalam kegelapan, tertimpa oleh berbagai macam masalah, akankah kita seperti Armando, yang terus menggenggam harapan bahwa papanya akan datang untuk menyelamatkannya. Tuhan berjanji, "...seperti Aku menyertai Musa, demikianlah Aku akan menyertai engkau; Aku tidak akan membiarkan engkau dan tidak akan meninggalkan engkau" (Yosua 1:5b). Email kiriman Bpk. Leonard Handjoyo / Sahabat Kristen

*****
Personal Note:
Terima kasih banyak atas pesanan buku Mukjizat Kehidupan oleh Ibu Ruty dari Jakarta. Buku pesanan akan dikirimkan dengan pos kilat khusus pada hari Senin pagi. God bless you...


Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Thursday, October 22, 2009

A Puppy

Anak Anjing
Seorang petani mempunyai beberapa anak anjing yang akan di jualnya. Dia menulisi papan untuk mengiklankan anak-anak anjing tersebut, dan memakukannya pada tiang di pinggir halamannya.

Ketika dia sedang dalam perjalanan untuk memasangnya, dia merasakan tarikan pada bajunya. Dia memandang ke bawah dan bertemu mata dengan seorang anak laki-laki kecil.

"Tuan," anak itu berkata, "Saya ingin membeli salah satu anak anjing anda."

"Yah," kata si petani, sambil mengusap keringat di lehernya, "Anak-anak anjing ini berasal dari keturunan yang bagus dan cukup mahal harganya."

Anak itu tertunduk sejenak, kemudian merogoh ke dalam saku bajunya, Ia menarik segenggam uang receh dan menunjukkannya kepada si petani.

"Saya punya tiga puluh sembilan sen. Apakah ini cukup untuk membelinya?"

"Tentu," kata si petani yang kemudian bersiul " Dolly, kemari!" panggilnya.

Dolly keluar dari rumah anjingnya dan berlari turun diikuti oleh anak-anaknya. Si anak laki-laki tersebut menempelkan wajahnya ke pagar, matanya bersinar-sinar. Sementara anjing-anjing tersebut berlarian menuju pagar, perhatian anak laki-laki tersebut beralih pada sesuatu yg bergerak di rumah anjing.

Perlahan keluarlah seekor anak anjing, lebih kecil dari yang lain. Ia berlari menuruni lereng dan terpeleset. Kemudian dengan terpincang-pincang berlari, berusaha menyusul yang lain.

"Aku mau yang itu," kata si anak, menunjuk pada yg anak anjing kecil itu.

Sang petani berjongkok disampingnya dan berkata," Nak, kau tidak akan mau anak anjing yang itu, dia tidak akan bisa berlari dan bermain bersamamu seperti yang bisa dilakukan anak-anak anjing lainnya."

Anak itu melangkah menjauh dari pagar, meraih ke bawah, menggulung celana di salah satu kakinya, memperlihatkan penguat kaki dari logam yang melingkari kakinya hingga sepatu yg di buat khusus untuknya.

Ia memandang sang petani, dan berkata, "Anda lihat, tuan, saya juga tidak bisa berlari, dan anak anjing itu memerlukan seseorang yang memahaminya." Email kiriman Gunawan Kartajaya/Milis Rohani.

Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Wednesday, October 21, 2009

Blindness

Helen Keller, demikian berani dan memberi inspirasi kepada kita dalam keadaannya yang tuli dan buta, pernah menulis artikel dalam sebuah majalah yang berjudul: "Tiga Hari Untuk Melihat". Dalam artikel itu dia menyusun hal-hal apa yang ia akan lihat jika ia diberi waktu tiga hari untuk melihat. Artikel itu sangat berpengaruh dan sangat menantang pikiran kita. Jika tidak buta, pada hari pertama ia ingin melihat wajah teman-temannya. Hari kedua ia ingin menghabiskan waktu dengan melihat pemandangan alam. Hari ketiga ia ingin menghabiskan harinya dengan melihat kota tempat tinggalnya New York City, memandangi kesibukan kota dan kesibukan orang bekerja. Ia menyimpulkan dengan perkataan ini: "Saya saja yang buta dapat memberi saran kepada orang yang melek: Gunakanlah matamu seakan-akan besok engkau akan buta."

Sayangnya banyak di antara kita buta, bukan buta secara fisik, tetapi buta secara batin. Jika anda menyadari "kebutaan" anda, datanglah kepada Tuhan Yesus karena Dia telah diurapi untuk mencelikkan mata jasmaniah dan mata batiniah yang buta.

******

Helen Keller, so brave and inspiring to us in her deafness and blindness, once wrote a magazine article entitled: "Three days to see." In that article she outlined what things she would like to see if she were granted just three days of sight. It was a powerful, thought provoking article. On the first day she said she wanted to see friends. Day two she would spend seeing nature. The third day she would spend in her home city of New York watching the busy city and the workday of the present. She concluded it with these words: "I who am blind can give one hint to those who see: Use your eyes as if tomorrow you were stricken blind.”

As bad as blindness is in the 20th century, however, it was so much worse in Jesus' day. Today a blind person at least has the hope of living a useful life with proper training. Some of the most skilled and creative people in our society are blind. But in first century Palestine blindness meant that you would be subjected to abject poverty. You would be reduced to begging for a living. You lived at the mercy and the generosity of others. Unless your particular kind of blindness was self-correcting, there was no hope whatsoever for a cure. The skills that were necessary were still centuries beyond the medical knowledge of the day.

Little wonder then that one of the signs of the coming of the Messiah was that the blind should receive their sight. When Jesus he announced his messiahship, he said: "The spirit of the Lord is upon me. He has sent me to recover sight to the blind."

The story this morning of the healing of blind Bartimaeus would suggest to us that there are three kinds of blindness.

1. The first kind of blindness is the blindness of Bartimaeus.
2. The second kind of blindness is the blindness of the disciples.
3. The third kind of blindness is the blindness of you and me.


Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Tuesday, October 20, 2009

Willingness

Beberapa tahun lalu, sementara sedang makan siang dengan teman-teman lama, kami mulai berbicara tentang betapa pentingnya bagi kita untuk bersedia menyangkal diri kita sendiri, menyerahkan segala sesuatu di kaki Tuhan dan mengikuti-Nya. Salah seorang teman saya berkata, “Nancy, saya tidak sependapat dengan kamu. Saya kira beberapa orang tidak memiliki kekuatan dan kesanggupan untuk menyerahkan segala sesuatu dan melakukan dengan cara Tuhan.” Kemudian ia memberikan berbagai alasan mengapa dia begitu yakin bahwa mereka tidak akan dapat melakukan hal ini: keluarga yang berantakan, saling ketergantungan, pernikahan yang malang, pelecehan fisik, masalah emosi dan pengaruh lingkungan.

Saya berpikir sejenak dan kemudian menjawab, “Suzy, kalau orang-orang ini orang Kristen, maka Allah ada di dalam mereka. Betul?”

“Betul,” katanya.

“Nah, kalau begitu, Allah adalah Pribadi yang akan membuat mereka sanggup dan memberikan mereka kemampuan untuk menyangkal diri mereka sendiri. Saya pikir semua orang Kristen akan sanggup menyingkirkan ego mereka karena Allah ada di dalam mereka, namun tidak semua orang Kristen bersedia melakukannya. Itulah, menurut saya, akar masalahnya.”

Orang-orang yang Suzy bicarakan sebenarnya tidak sudi menyangkal diri mereka. Dalih mereka mulai dari “keluarga berantakan” sampai “suami saya tidak mau mencoba”. Namun, saya tidak percaya akan hal-hal itu sebagai alasan yang sesungguhnya, karena Allah memiliki kasih, hikmat dan kuasa yang mereka butuhkan; mereka cuma tidak bersedia menyisihkan diri mereka sehingga Allah dapat melakukan banyak hal melalui mereka. Oleh Nancy Missler, diterjemahkan oleh Hadi Kristadi untuk Pentas Kesaksian pada tanggal 20 Oktober 2009.

******

The Result of Unwillingness
Several years ago, while having lunch with some dear old friends, we began to talk about how important it is for us to be willing to deny ourselves, lay everything down to Jesus and follow Him. One friend of mine said, “Nancy, I don’t agree with you. I think some people don’t have the ability or the capability to lay everything down and do it God’s way.” She then gave various reasons why she was convinced they couldn’t do this: dysfunctional families, co-dependency, poor marriages, physical abuse, emotional problems, and other environmental circumstances.

I thought for a moment and then replied, “Suzy, if these people are Christians, then God is in them. Right?”

“Right,” she said.

“Well, then, He is the One who will make them capable and give them the ability to deny themselves. I think all Christians are capable of laying themselves aside because God is in them, but not all Christians are willing to do so! That, to me, is the bottom line!”

The people Suzy was talking about simply weren’t willing to lay themselves aside. Their excuses ranged from “dysfunctional families,” to “my husband is not trying.” But, I don’t believe these things were the real problem, because God has all the Love, Wisdom and Power they need; they just weren’t willing to set themselves aside so that God could do these things through them.

Perhaps this example will help us to understand Matthew 24:12 a little more clearly. This Scripture says that in the end times “...because iniquity shall abound, the Agape of many will grow cold.” This is simply saying that in the end times, many Christians will not be willing to deny themselves, but rather want to hold on to their “justified” hurts, unforgiveness, etc. Therefore, the Agape Love of God in their hearts will grow cold. It will be covered over, blocked and unable to flow forth

Thus, the bottom line is that all Christians have God’s Love in them, but not all Christians are willing to set themselves aside to let it flow.

God promises us in Luke 18:30, as well as in many other Scriptures, that the more we are willing to deny ourselves, the more He will return a hundredfold, not only “in this present time” but “in the world to come” as well. I know this has been true in my own life. My first book Why Should I Be the First to Change? shares how God has restored a hundredfold my marriage, my family, my kids, etc. because I finally learned how to surrender myself to God.

I’m certainly not any more capable than anybody else, but one thing is for certain: I’m willing. And that seems to be all that’s necessary! The question is: Are you?

As Matthew 16:24 says, “If any man [is willing to] come after Me, let him deny himself, and take up his cross, and follow Me.” By Nancy Missler.

Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Monday, October 19, 2009

He Will Multiply You

God is in the multiplication business. It doesn't matter what your need is today, God wants to increase you.

One time in the Old Testament, God simply multiplied the sound of four men's footsteps and caused them to sound like a mighty army. When their enemies heard them coming, they took off running. Thousands of people, thousands of troops running for their lives, scared to death, thinking they were being attacked by a massive army, when in fact, it was just four people.

Friend, God can make you seem bigger than you really are. He can make you look more powerful. He knows how to multiply your influence, your strength, your talent. He can multiply your income or whatever else you need! You don't have to figure it all out. All you have to do is believe. If you will release your faith and get up every day expecting God's far and beyond favor, then you're going to see God show up and do amazing things. He’ll bless you beyond your wildest dreams and multiply you in every area of your life! Joel Osteen

Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Friday, October 16, 2009

Look Forward!

This Day Thought

Begitu banyak dari antara kita dibutakan terhadap semua hal indah dalam kehidupan ini oleh rasa kebencian yang lama dipendam, oleh ketakutan atau oleh dosa yang menghantui kita sepanjang hidup. Seperti istri Lot, dia berhenti jadi manusia. Dia mengering seperti garam dan membatu, teronggok dalam keburukan, ketakutan dan penderitaan masa lalu. "Jangan lihat ke belakang," karena di belakang terletak Sodom dan Gomora, sedangkan di depan Anda tersedia tanah perjanjian.
Ahron Opher/This Day Thought.org. Diterjemahkan oleh Hadi Kristadi untuk Pentas Kesaksian.


So many of us are blinded to all that is beautiful in life by some ancient hate, fear or sin which haunts us throughout our life. Like Lot's wife, we cease to be human. We dry up like salt and become petrified, imbedded in the ugliness, fright or pain of the past. "Look not behind thee," for behind thee lies Sodom and Gomorrah; before thee the land of promise.

Ahron Opher

Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com


******
Personal Note:
Terima kasih atas pesanan buku "Mukjizat Kehidupan" oleh Sdri. Hanny. Buku segera dikirim hari ini. Gbu.

Thursday, October 15, 2009

Godly Woman in Hell

Kunjungan Kedua Victoria Nehale Ke Dunia Orang Mati

Victoria Nehale dilahirkan dan dibesarkan di Namibia, Afrika. Dia menyerahkan hidupnya bagi Tuhan Yesus pada tanggal 6 Februari 2005. Tuhan Yesus telah menyingkapkan banyak peristiwa spiritual dalam kehidupannya, termasuk perjalanannya ke dunia orang mati. Dalam setiap pertemuan dengan Tuhan, Dia mengatakan sebelum pergi bahwa: Waktunya hampir habis. Time is fast running out.

Pada tanggal 18 Oktober 2005 saya terbangun pada jam 5.30 tetapi saya tidak dapat pergi bekerja. Saya merasa lemah dan pusing. Saya tak bisa bergerak atau berbalik badan di tempat tidur saya. Saya bergetar dan merasa ada aliran seperti listrik di seluruh tubuh saya.

Tuhan datang pada pukul 7.48 pagi dan Dia menyalami saya. Dia segera mengajak saya pergi dalam tubuh kemuliaan karena waktunya hampir habis. Saya berdiri dan mulai berjalan. Cara kami berjalan saat itu berbeda, kami seperti terapung di udara.

Sementara dalam perjalanan, Tuhan Yesus berkata bahwa semua dosa itu buruk, tidak ada dosa besar atau dosa kecil. Semua dosa membawa pada kematian, tak peduli dosa besar atau kecil.

Kami tiba di suatu gerbang. Dia menoleh kepada saya dan berkata, “Victoria, kita akan masuk melalui gerbang itu dan hal yang akan kau saksikan akan sangat menakutkanmu dan menggoncangkanmu, namun kuatkanlah imanmu sebab kau ada dalam perlindungan-Ku. Bukalah matamu dan perhatikanlah segala sesuatu yang Kutunjukkan kepadamu.”

Kami memasuki gerbang itu. Saya tak dapat menggambarkan kengerian tempat itu kepada Anda. Saya tahu bahwa tak ada tempat seburuk dan sengeri tempat itu di seluruh jagat raya. Tempat itu sangat luas, gelap pekat, dan kepanasannya tak dapat diukur karena melebihi panasnya api. Tempat itu sangat bau, seperti bau daging busuk, tetapi baunya seratus kali lebih busuk. Tempat itu dipenuhi dengan tangisan, keluhan, rintihan, kertakan gigi, dan tawa yang penuh kekejian dari para iblis penghuninya.

Hal terburuk di tempat ini adalah tempat itu dipenuhi manusia, berbentuk tengkorak. Beberapa dari tengkorak itu dapat kukenali karena mereka adalah sanak saudara saya dan orang-orang sekampung saya.

Tuhan menunjukkan seorang wanita setengah baya yang saya kenal sebelum dia meninggal. Dia mengalami kecelakaan mobil pada awal 2005. Saya terkejut melihat dia ada di neraka ini sebab kami mengenalnya sebagai seorang yang takut akan Allah dan mengasihi Allah. Tuhan mengatakan bahwa wanita ini memang mengasihi Tuhan dan Tuhan mengasihi dia. Wanita ini melayani Tuhan saat di muka bumi, membimbing banyak orang kepada Tuhan dan mengenal firman Tuhan dengan baik. Ia juga mengasihi orang-orang miskin yang membutuhkan, memberi dan menolong mereka dalam banyak hal. Dia adalah hamba Tuhan yang baik hampir dalam segala hal.

Perkataan ini sangat mengejutkan saya. Saya bertanya kepada Tuhan, mengapa dan bagaimana mungkin seorang yang melayani Tuhan dengan sangat baik bisa ada di neraka? Tuhan memandang saya penuh kasih dan berkata bahwa wanita itu telah mempercayai tipuan iblis. Walaupun wanita itu tahu benar firman Allah dengan baik, namun dia percaya tipuan si jahat bahwa ada dosa besar dan dosa kecil. Dia berpikir bahwa dosa kecil tidak akan membawanya ke neraka sebab dia adalah orang Kristen, percaya Tuhan, mengasihi Tuhan, dan melayani Tuhan.

Tuhan melanjutkan, “Aku telah pergi menemuinya berulang kali dan mengatakan agar dia berhenti melakukan apa yang dia sebut sebagai dosa kecil, namun banyak kali dia berdalih bahwa apa yang dia lakukan adalah dosa yang sangat kecil. Dia juga menyimpulkan bahwa peringatan-Ku hanyalah perasaan bersalahnya saja. Ada saat dia berhenti berbuat dosa untuk sementara, namun kemudian dia membenarkan dirinya sendiri bahwa peringatan itu bukan dari-Ku, tetapi suara hatinya sendiri sebab dosa itu terlalu kecil untuk mendukakan Roh Kudus.”

Saya bertanya kepada Tuhan apakah dosa yang diperbuatnya? Dia suka meminta temannya yang bekerja di RS untuk mencuri obat baginya setiap kali dia sakit. Dia menyebabkan orang lain berdosa, namun lebih buruk daripada itu adalah dia mendukakan Roh Kudus! Itulah sebabnya dia ada di neraka sekarang. Tak peduli engkau membawa jutaan jiwa kepada Tuhan, namun ada kemungkinan engkau masuk ke neraka karena engkau mendukakan Roh Kudus. Kamu tak harus mempedulikan keselamatan jiwa orang lain, namun kamu harus mempedulikan keselamatan dirimu. Pekalah pada Roh Kudus setiap saat.

Banyak orang Kristen yang mendengar kesaksian ini heran, bagaimana mungkin orang yang sudah bertobat dan menerima Tuhan Yesus dapat masuk ke neraka? Bukankah sekali selamat tetap selamat? “Sebab jika kita sengaja berbuat dosa (dosa besar dan dosa kecil) sesudah memperoleh pengetahuan tentang kebenaran, maka tidak ada lagi korban untuk menghapus dosa kita, tetapi yang ada ialah kematian yang mengerikan akan penghakiman dan api yang dahsyat yang akan menghapuskan semua orang durhaka.” (Ibrani 10:26-27). Diambil dari buku Pewahyuan Surga dan Neraka, JKI Injil Kerajaan Semarang, telah diedit seperlunya.

******

I was born and lived in Namibia all my life and surrendered my life to Jesus on February 06, 2005. The Lord Jesus Christ has revealed many things in the spiritual realm to me including a couple of trips to hell. The Lord instructed me to share my experiences with the people; He also warned me not to add anything or omit anything from whatever the Lord Jesus Christ showed or told me. By the time of the writing of this book, end of 2006, I was visited 33 times by the Lord Jesus Christ. Every single time of those visitations, the Lord would tell me before leaving that: TIME IS FAST RUNNING OUT.

On October 18 2005 I woke up at 5.30 but I could not go to work. I was feeling very weak and drunk; I could not move or turn around in my bed, and the presence of the Lord was very heavy in the room. I was trembling and felt electricity going through my body. The Lord came to take me just before 08H00 because the last time I had looked at my watch, it was 07H48, and he arrived very shortly after that. He greeted me and said that we should go again because time was fast running out. I stood up and we began to walk. The way we were walking on this day was very different from all other times; although our legs were doing the walking movements, we were sort of floating more than walking. While we were on our way, Jesus told me that all sins are bad and there is nothing such as small sin and big sin. All sin will lead to death, no matter how big or small. He extended His hand to me and pulled me up from where I was lying. Suddenly I was in a beautiful, transformed body; I looked the same as I was when I was eighteen years old. I was wearing a white robe tied with a white rope. Although my robe was white, the material was different from the man's robe. His robe was silky with a brilliance that I do not know how to describe.

He said, in a most loving and tender voice: "Victoria, I want you to come with me; I will show you frightening things and I am taking you to a place where you have never been before in your whole life". He held my right hand and we went. I felt as if we were walking on air and we were ascending all the time. After a while on the way, I was very tired and told Him that I was unable to continue the journey and begged Him to allow me to go back. However, He looked at me tenderly and said, "You are not tired - you are fine. If you get tired, I will carry you, but for now you are fine. Peace be with you. Let us go."

The place at which we arrived was very arid, worse than the worst desert known to man, with no sign of life in any form whatsoever. There was not a single tree or blade of grass or any living thing in sight. It was a very depressing place indeed.
We came to a gate and the man turned to me and said: "Victoria, we will enter through the gate and the things you will see will frighten and upset you - but you must rest assured that wherever I take you, you will be well protected. Just open your eyes and observe everything I will show you." I was terrified and started to weep.

We entered through the gate. I cannot describe to you the horror of that place. I am convinced that there is no other place in the entire universe as bad as that place. The place was extremely large and I had the sense that it was expanding all the time. It was a place of utmost darkness and the heat of it could not be measured: it was hotter than the hottest of fires. I could not see any flames of fire or the source of the heat but it was HOT. The place was filled with the most disgusting stench; there are no words to describe the intensity of the stench in that place. The smell was almost like rotten meat but was a hundred times worse than the most decaying meat I have ever smelled in my entire life. The place was filled with the noise of wailing and gnashing of teeth, as well as of demonic, evil laughter.

The worst thing about this place is that it was filled with people. The humans, on the other hand, looked miserable and depressed; they were in a state of helplessness and hopelessness. The noise from humans was caused by pain; they were weeping, screaming and gnashing their teeth, and were in a desperate situation of unimaginable pain and agony.

The Lord pointed out one middle-aged woman whom I knew before her death. She had died in a car accident at the beginning of 2005. I was shocked to see that woman in Hell because we all knew her as a God-fearing and God-loving person. The Lord told me that that woman loved Him and He also loved her; she had served Him when she was on Earth; she had led many people to the Lord and she knew the Word very well. She was kind to the poor and needy; she gave to them, and helped them in many ways. She was a good servant of the Lord in most ways.

Those words of the Lord shocked me even more and I asked Him why He would let someone who had served Him so well end up in Hell. The Lord looked at me and said that this lady had believed the deception of the Devil. Although she knew the Scriptures well, she believed the lie of the Devil that there are big sins and small sins. She thought that a ‘small' sin would not lead her to Hell because, after all, she was a Christian.

The Lord continued, "I went to her many times and told her to stop what she was doing but many times she would reason that what she was doing was too small and she attributed my warning to her own feelings of guilt. There was a time when she stopped for a while but then she convinced herself again that the warning was not from Me but her own voice because that sin was too insignificant to grieve the Holy Spirit."
I asked the Lord again to tell me what the sin was that this woman has committed and He answered me thus,"This woman had a friend who is a nurse at Oshakati Hospital. Whenever this woman was sick, she would not go to hospital and pay for her hospital card as normal practice; she would just pick up the telephone and tell her friend to organize medicine for her from the Hospital Dispensary. Her friend would always oblige and tell her to pick up the medicine at a particular time. Firstly, she decided to accept the lie of the Devil about small and big sin and rejected my truth; she caused somebody else to sin and steal on her behalf but, worst of all, she grieved the Holy Spirit. This is what caused her to be in Hell. It does not matter whether you bring millions of souls to the Lord; it is still possible to go to Hell for grieving the Holy Spirit. You must not only care about the salvation of others but you must be careful not to forget about your own soul. Be sensitive to the Holy Spirit at all times." After the Lord said those words He said that we should go back.

Many Christians who have heard this story do find it problematic. They would always ask me, "What about justification, mercy and grace?" and "Is it possible to lose your Salvation after you have received it?" "Is that not a bit too harsh?" "Can God be so cruel?"

Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Wednesday, October 14, 2009

Are you like Aircon or Hot Stove?

Apakah Anda Ibarat Kompor atau AC?

Sukses tidak bisa diraih sendirian. Anda butuh orang lain untuk mendukung, untuk mencapai kesuksesan anda. Anda membutuhkan network yang akan menolong keberhasilan anda. Untuk dapat mengumpulkan network seluas-luasnya, anda harus memiliki kepribadian yang disukai oleh banyak orang. Anda akan disukai orang jika anda memiliki kepribadian positif.

Orang lebih suka dekat dengan AC dibandingkan dengan kompor panas. AC memberikan kesejukan kepada kita, kompor menyala membuat kita kepanasan. Kita mempunyai kepribadian ibarat AC jika kehadiran kita membawa kesejukan dan kesukaan kepada orang lain. Kita ibarat kompor panas jika kehadiran kita membuat orang lain gerah, tidak nyaman, kepanasan. Kepribadiana ibarat AC menarik orang untuk mendekat, sedangkan kepribadian ibarat kompor panas akan dijauhi orang.

Ciri-ciri kepribadian tipe AC:
- suka bekerja sama dengan orang lain;
- suka menolong orang lain;
- tidak sombong;
- sering memberikan masukan positif kepada sesama;
- tidak hitung-hitungan;
- ramah, tidak ketus.
- tidak bawel, tidak suka gosip, tidak suka mengritik.
- selalu bersikap positif dalam menghadapi kesulitan.

Ciri-ciri kepribadian tipe kompor panas:
- sulit bekerja sama dengan orang lain;
- sangat egois, mau menang sendiri;
- angkuh;
- sering menuding dan menyalahkan orang di depan umum;
- suka hitung-hitungan dan mengungkit-ungkit kebaikan yang pernah diberikan.
- suka gosip, bawel, suka mengeluh.
- suka menjilat dan mencari muka;
- sering menyalahkan berbagai kondisi;
- sering melanggar aturan;
- mudah emosional dan gampang tersinggung.

Ditulis oleh Freddy Liong MBA, Media Kawasan Oktober 2009, diedit seperlunya.


Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Tuesday, October 13, 2009

The End of Powerful Men

Akhir Hidup Orang-orang Berkuasa
Pada sekitar tahun 1923, orang-orang yang sangat berkuasa yang menguasai dunia keuangan adalah:

Charles Schwab, presiden direktur sebuah perusahaan baja raksasa di Amerika Serikat.
Samuel Insull, presiden direktur sebuah perusahaan jasa terbesar.
Howard Hopson, presiden direktur sebuah perusahaan gas terbesar.
Richard Whitney, presiden direktur Bursa Efek New York.
Albert Fall, menteri dalam negeri dalam kabinet Presiden Harding.
Jesse Livermore, investor terbesar di Bursa Saham Wall Street.
Ivan Krueger, pemimpin monopoli terbesar di dunia.
Leon Fraseer, presiden direktur Bank of International Settlements.

Orang-orang ini adalah penentu dan penggerak dunia ekonomi di Amerika Serikat, golongan orang-orang yang diidam-idamkan banyak orang lain. Namun terjadi sesuatu yang sangat mengerikan dengan kehidupan mereka, sehingga 25 tahun kemudian:

Charles Schwab, terpuruk dalam properti yang macet dengan total utang 1.7 million.
Samuel Insull, meninggal karena serangan jantung di Paris subway station dengan uang hanya 20 cents di sakunya.
Howard Hopson, meninggal di sebuah sanitarium
Richard Whitney baru saja dilepaskan dari penjara Sing-Sing.
Albert Fall meninggal di rumahnya dalam keadaan bangkrut.
Jesse Livermore mati bunuh diri satu minggu setelah hari Thanksgiving di tahun 1940.
Ivan Krueger mati bunuh diri.
Leon Fraser mati bunuh diri.

Sesuatu telah berjalan salah dalam kehidupan manusia batin mereka. Mereka tidak menjaga integritas dan kehidupan yang benar di hadapan Tuhan. Mati sia-sia.


*******

Around 1923, the most powerful men of the day ruled the world of money:

Charles Schwab, president of the largest steel company in America.
Samuel Insull, president of the largest utility company.
Howard Hopson, president of the largest gas company.
Richard Whitney, president of the New York Stock Exchange.
Albert Fall, Secretary of Interior in President Harding's cabinet.
Jesse Livermore, the great "bear" on Wall Street.
Ivan Krueger, head of the world's greatest monopoly.
Leon Fraser, president of the Bank of International Settlements.

These men were "movers and shakers," the kind many people envy and wish to be like. Yet something went terribly wrong with these men's lives. Twenty-five years later:

Charles Schwab, left behind an insolvent estate with debts and obligations totalling 1.7 million.
Samuel Insull, died of a heart attack in a Paris subway station with 20 cents in his pocket.
Howard Hopson, died in a sanitarium
Richard Whitney had just been released from Sing-Sing prison.
Albert Fall died at home, broke.
Jesse Livermore committed suicide a week after Thanksgiving in 1940.
Ivan Krueger committed suicide.
Leon Fraser committed suicide.

Something went wrong during the process of their lives. It began in the inner man. Truth in the inner man is where the integrity battles are won or lost.

Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Monday, October 12, 2009

Good Scars

Luka-Luka yang Indah
Beberapa tahun lalu di suatu hari yang panas di Florida selatan seorang anak laki-laki memutuskan untuk berenang di kolam di belakang rumahnya. Dengan terburu-buru dia menceburkan diri ke air dingin setelah dia berlari dari pintu belakang, meninggalkan sepatu, kaos kaki dan bajunya. Dia masuk ke dalam air tanpa menyadari bahwa ketika dia sedang berenang menuju ke tengah danau, seekor buaya sedang berenang ke arahnya.

Ibunya yang berada di dalam rumah melihat ke luar jendela. Ibunya melihat anak laki-lakinya dan buaya itu saling mendekat. Dalam ketakutan yang sangat, ibunya segera berlari ke arah danau, sambil berteriak-teriak memanggil anaknya sekeras mungkin. Ketika mendengar suara ibunya, anak laki-laki itu menjadi ketakutan dan berenang balik menuju ke ibunya. Sayangnya terlambat. Tepat ketika anak itu sampai ke ibunya, buaya itu juga menerkamnya. Dari geladak ibunya meraih tangan anaknya, sedangkan buaya itu menggigit kaki anaknya. Itulah dimulainya pertarungan hidup mati di antara ibunya dan buaya. Buaya itu terlalu kuat bagi sang ibu, tetapi ibunya terlalu sayang untuk melepaskan anaknya.

Seorang petani kebetulan sedang melintas di dekat situ, dan mendengar teriakan ibunya, sehingga dia bergegas turun dari truknya. Petani itu segera menolong dan menembak buaya tersebut. Yang mengherankan, setelah berninggu-minggu di rumah sakit, anak kecil itu dapat diselamatkan. Kakinya sangat terluka oleh keganasan sang buaya. Di lengannya juga ada goresan dalam akibat kuku-kuku ibunya yang tertusuk ke dalam daging lengannya ketika dia berusaha untuk mempertahankan anak yang dia kasihi.

Wartawan dari surat kabar yang mewawancarai anak itu setelah kecelakaan bertanya apakah dia mau menunjukkan luka-lukanya. Anak itu mengangkat celana panjangnya, dan dengan bangga, dia berkata kepada sang wartawan, “Lihatlah pada tangan saya. Saya punya luka yang banyak di tangan juga. Saya mendapatkan luka di tangan ini karena ibu saya tidak mau melepaskan saya.”

Anda dan saya dapat menyamakan diri dengan anak laki-laki itu. Kita mempunyai luka-luka juga. Bukan, bukan karena gigitan buaya atau karena sesuatu yang demikian dramatis. Luka itu datangnya dari sakit hati di masa lalu. Beberapa luka itu mungkin tak terlihat dan menyebabkan sakit hati yang dalam. Namun beberapa luka, sahabatku, terjadi karena Tuhan kita menolak untuk membiarkan kita. Di tengah pergumulan kita, Tuhan ada di sana untuk menggenggam erat kita. Tuhan itu mengasihi kita. Dengan Kristus dalam kehidupan Anda, Anda adalah anak Tuhan. Dia ingin melindungi Anda dan menyediakan kebutuhan Anda dalam setiap jalan kehidupan.

Namun demikian kadang-kadang kita dengan bodohnya masuk ke dalam situasi yang berbahaya. Kolam kehidupan ini penuh bahaya dan kita lupa bahwa musuh sedang mengaum-aum untuk menerkam kita. Itulah saatnya pergumulan antara hidup dan mati. Jika Anda mendapatkan luka tanda kasih-Nya di tangan, bersyukurlah. Artinya, Dia tidak membiarkan dan melepaskan Anda ke dalam tangan musuh. Tak peduli pergumulan apa yang Anda lewati, Tuhan beserta dengan Anda. Diterjemahkan oleh Hadi Kristadi untuk Pentas Kesaksian, http://pentas-kesaksian.blogspot.com pada tanggal 12 Oktober 2009.


*******
Good Scars
Some years ago on a hot summer day in south Florida a little boy decided to go for a swim in the old swimming hole behind his house. In a hurry to dive into the cool water, he ran out the back door, leaving behind shoes, socks, and shirt as he went. He flew into the water, not realizing that as he swam toward the middle of the lake, an alligator was swimming toward the shore.

His mother was in the house and looking out the window. She saw the two as they got closer and closer together. In utter fear, she ran toward the water, yelling to her son as loudly as she could. Hearing her voice, the little boy became alarmed and made a U-turn to swim to his mother. It was too late. Just as he reached her, the alligator reached him. From the dock, the mother grabbed her little boy by the arms just as the alligator snatched his legs. That began an incredible tug-of-war between the two. The alligator was much stronger than the mother, but the mother was much too passionate to let go.

A farmer happened to drive by, heard her screams, raced from his truck, took aim and shot the alligator. Remarkably, after weeks and weeks in the hospital, the little boy survived. His legs were extremely scarred by the vicious attack of the animal. On his arm were deep scratches where his mother's fingernails dug into his flesh, in her effort to hang on to the son she loved.

The newspaper reporter who interviewed the boy after the trauma, asked if he would show him his scars. The boy lifted his pant legs. Then with obvious pride, he said to the reporter, "But look at my arms. I have great scars on my arms too. I have them because my mom wouldn't let go."

You and I can identify with that little boy. We have scars too. No, not from an alligator or anything quite so dramatic. Rather the scars of a painful past. Some of those scars are unsightly and have caused us deep regret. Yet some wounds my friend, are because God has refused to let go. In the midst of your struggle, He's been there holding on to you. The Scriptures teach that God loves you. With Christ in your life, you are a child of God. He wants to protect you and provide for you in every way.

Yet sometimes we foolishly wade into dangerous situations. The swimming hole of life is filled with peril and we forget that the enemy is waiting to attack. That's when the tug-o-war begins. If you have the scars of His love on your arms be very, very grateful. He did not and will not let you go.

No Matter What You're Going Through God Is With You!

Author Unknown


Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Sunday, October 11, 2009

Understatements

You've heard of "too little and too late." How about "too many and too much"? That's the way I'd describe our times. In a society overrun with overstatements, I find an occasional "not quite enough" a sheer delight.

Too much empty talk. Too much rich food. Too much emphasis on success, winning, being the biggest and the best. Too much comparison and commercialism. Too many meetings. Too many pages in the newspaper. Too many TV channels, neon signs, sports teams, schools, and opinions. Too many options on stuff like cars, sound systems, computers, and soft drinks.

We find ourselves making the extreme the standard. Periods are fast being replaced by exclamation points. "Nice" is no longer sufficient. Now it's got to be "fantastic" or "incredible."

Whatever happened to a quiet, barefoot walk along a beach? Or an evening of just listening to music? Or going on a bike ride, topped off with an ice cream cone, single dip? Or flying a kite, then lying on our backs and taking a snooze? When did we let candle-lit loveliness and holding hands with someone we love get bumped by the fluorescent and flashy?

How nice to be surprised by subtlety. To stumble across genuine beauty, true sincerity without overt attempts to impress. First-class class . . . understated elegance that leaves room to imagine, to think, to decide for ourselves, to appreciate. Films and other art forms that give us spaces of silence to feel, to sigh. Speeches, sermons, and writing that reflect true craftsmanship, convincing us that so much more was meant to be said.

My plea in a nutshell? More originals, fewer copies. More creativity, less technology. More implying, less explaining. More thought, less talk. Someone put it like this: When's the best time to stop talking? Probably now.

A story is told about F.D Roosevelt when he was a young lawyer. He heard his opponent summarize a case before the jury in eloquent, emotional, but lengthy appeal. Sensing the jury was restless, FDR is reported to have said, "You have heard the evidence. You have also listened to a brilliant orator. If you believe him, and disbelieve the evidence, you will decide in his favor. That's all I have to say." He won. Overstate and bore. Understate and score. When a baseball umpire says, "Strike three!" he doesn't have to add "Yer out." That's what strike three means.

"To state with restraint . . . for greater effect." That's what understatement means. As in "I love you." Next time you're tempted to say too much, just say that. Excerpted from Come Before Winter and Share My Hope, Written by Charles Swindoll, posted by JOHN SYKES AT 9:15 AM

Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Saturday, October 10, 2009

The Value of Time

To realize the value of one year:
Ask a student who has failed a final exam.

To realize the value of one month:
Ask a mother who has given birth to a premature baby.

To realize the value of one week:
Ask an editor of a weekly newspaper.

To realize the value of one hour:
Ask the lovers who are waiting to meet.

To realize the value of one minute:
Ask the person who has missed the train, bus or plane.

To realize the value of one second:
Ask a person who has survived an accident.

To realize the value of one millisecond:
Ask the person who has won a silver medal in the Olympics.

Time waits for no one. Treasure every moment you have.

You will treasure it even more when you can share it with someone special.

Author unknown

Ditulis/diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Thursday, October 8, 2009

I Am Precious

Sudah satu minggu ini ikan sapu-sapuku mati. Sejak saat dia meninggalkan akuariumku, baru tiga hari saja tidak dibersihkan, lumut pasti akan bermunculan di akuarium kesayanganku. Aku tidak ada waktu untuk membersihkan lumut-lumut itu dan juga tidak ada waktu untuk membeli ikan sapu-sapu yang baru.

Suatu hari kudapati lumut sudah memenuhi kaca bagian dalam akuariumku. Aku berpikir, ini tidak bisa dibiarkan. Keindahan ikan-ikan kokiku akan tersembunyi jika lumut-lumut itu kurelakan tumbuh dengan sehatnya menemani mereka. Ikan sapu-sapu bisa menjadi solusi untuk membantuku membersihkan lumut-lumut itu. Sebab sapu-sapu adalah ikan yang makanan utamanya lumut dalam akuarium atau kolam ikan.

Pada sela-sela sempitnya waktuku, sepulang kerja kuluangkan waktu untuk mampir ke toko ikan dekat rumahku. Aku berkeliling mencari ikan hitam yang tidak menarik dan berkulit kasar itu. Akhirnya, kutemukan satu ikan sapu-sapu yang tidak begitu suram kulitnya, walaupun tetap tidak indah dipandang mata dan tetap saja kulitnya akan kasar. “Berapa Pak, harganya?” tanyaku pada si penjual ikan itu. “Tujuh ratus lima puluh rupiah, Mbak,” jawab si penjual itu. Segera kusodorkan uang dan setelah itu langsung kutapakkan kakiku menuju rumah.

Ikan sapu-sapu itu lalu aku cemplungkan ke dalam akuarium. Dengan sigap dan bagai habis lepas dari kurungan, ikan itu langsung meliuk-liuk. Dan … betapa senangnya dia menemukan sebuah sisi kaca yang penuh dengan lumut. Ikan itu langsung menempel di kaca penuh lumut tersebut. Tidak peduli dengan ikan-ikan kokiku yang seakan sedang mengerumuni ikan sapu-sapu itu untuk berkenalan. Lagi-lagi karena tidak ada waktu, ikan itu memang hanya kucemplungkan dulu tanpa kubersihkan akuariumnya. Pikirku weekend nanti pasti aku ada waktu.

Keesokan harinya, saat akan berangkat ke kantor, kusempatkan menyapa ikan-ikan kokiku. Wow, pagi ini mereka tampak begitu indah …. Tapi bukankah memang ikan kokiku itu warnanya indah. Ehhh …, tapi kok lain ya? Warnanya bukan saja indah, tapi begitu bersinar. Terus kuamati ikan-ikan kokiku dengan sirip mereka yang panjang bagaikan kain sutera yang berkibar-kibar seolah ditiup angin. Terus kuperhatikan mereka karena terlalu indah bagiku untuk kutinggalkan.

Saat pandanganku tertuju di pojok akuariumku, ada seekor ikan hitam yang tidak bersinar sama sekali. Dia seolah sedang menepi dalam dunianya sendiri dan takut untuk bergabung dengan koki-koki indah itu. Aku tersadar …. Ya, ikan-ikan kokiku terlihat begitu indah dan bersinar bukan karena ikan-ikan itu yang berubah, tetapi keadaan di sekitar merekalah yang berubah. Lumut-lumut yang membuat kaca akuariumku buram sudah lenyap! Ya, lenyap! Kaca akuariumku kembali bening sehingga ikan-ikan indahku terlihat semakin indah. Ikan yang tidak menarik yang kubeli kemarin dengan harga murah itu telah melahap habis lumur-lumut itu. Memang untuk itulah ikan itu kubeli, tetapi aku tidak tahu akan mendapat ketakjuban yang luar biasa seperti ini.
Kupandangi kembali ikan hitam yang sedang menyendiri itu. Dia yang tidak menarik itu telah membuat sesuatu yang indah untukku pagi ini. Ikan sapu-sapu sangatlah tidak menarik. Dia tidak punya kelebihan fisik yang dapat dibanggakan. Harganya pun sangat murah. Tetapi Tuhan memberikan kelebihan luar biasa pada dia. Dia dapat membersihkan permukaan kaca yang begitu kotor menjadi bening kembali. Itulah yang membuat ikan sapu-sapu begitu dicari-cari oleh siapa saja yang ingin akuarium atau kolam ikannya terbebas dari lumut.

Aku ingat diriku. Begitu banyak protesku pada Tuhan karena merasa aku tidak memiliki kelebihan dari segala sisi. Tuhan memakai ikan kecil itu untuk menyadarkan aku, “Kuciptakan dirimu bukan untuk hal yang tidak berguna. Kau ada di dunia ini karena kau berarti bagi-Ku, untuk melakukan hal-hal besar bagi-Ku!” Aku masih terpaku di depan akuariumku. Aku masih menatap ikan kecil yang tidak menarik itu. Aku seperti menatap diriku. Hari ini Tuhan memberikan aku pelajaran indah dari seekor ikan. Hari ini, Tuhan tidak ingin aku semakin tenggelam dalam pencarian arti hidupku di dunia ini. Aku berarti bagi-Nya, aku berharga bagi-Nya. Dalam pandangan mata, aku memang tidak semenarik mereka yang ada di sekelilingku, tetapi ada hal istimewa yang Tuhan berikan padaku, dan aku yakin itu akan jadi berkat bagi banyak orang karena Tuhan yang menganugerahkannya.

Aku beranjak dari depan akuariumku. Jam di tanganku sudah menunjukkan waktu untuk segera berangkat ke kantor. Semangatku menapaki hari-hari ke depan kembali menyala. Kuucapkan syukur untuk semua pelajaran indah ini. Terima kasih, Tuhan! Terima kasih ikan sapu-sapuku!

Terima kasih Tuhan untuk badanku yang segede ini
Terima kasih Tuhan untuk kulitku yang hitam ini
Terima kasih Tuhan untuk semua sifat kelemahan yang Kautempelkan pada diriku
Terima kasih Tuhan untuk semua kelebihan yang Kautanamkan pada diriku
Terima kasih Tuhan untuk kehidupanku yang keras dan berat ini
Terima kasih Tuhan untuk masa laluku yang suram itu
Terima kasih Tuhan untuk orang tuaku tersayang yang penuh kelemahan itu
Terima kasih Tuhan untuk telah menjadi Tuhanku

Aku tahu aku begitu berarti di mata-Mu, sehingga Engkau ciptakan aku hidup sampai sekarang ini. Aku tahu aku punya banyak kekurangan, tapi aku tahu Engkau menciptakanku untuk sebuah tujuan yang mulia. Aku tahu aku berharga di mata-Mu
Aku tahu, Tuhan. Dan untuk itulah aku saat ini bersyukur kepada-Mu, karena aku berharga di mata-Mu.

Sumber:
http://berlinsianipar.wordpress.com/2008/10/01/pelajaran-dari-seekor-ikan-aku-berharga-di-mata-tuhan/

Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Autograph Your Life With Excellence

In 1644, a child was born. He lived to be 93 at a time in history when the average life span was but 35 to 40. He taught himself his trade and began his career. He often worked alone with primitive tools, but his focus every day was to put the best he had into his work. The man made violins. He labored over each and every process and step to ensure that he had “autographed” them with excellence and the best that was in him. He created his own personal standard of excellence for his craft, and he actually signed his name on each instrument that passed the test.

Today, some three hundred years later, the name of this craftsman who was committed to excellence is the benchmark for the best in musical instruments. His name? Antonio Stradivari! His Stradivarius violins sell for hundreds of thousands of dollars because they are the best.

When Stradivari labored, he did not know of the legacy he was creating. He was doing his best, day in and day out, to reach his standard of excellence. He didn’t spend the extra time and care to get the accolades of upper management or to be the top producer in the company. He did it because excellence was part of his focus, mission, and obsession.

It is easy to do world-class work when a boss is looking or a supervisor is around. But the test is in what you do when no one is looking. High achievers have developed the ability to stay focused when no one else is around. Does your quality or performance fluctuate based on who is in the office or which customer you are serving? Excellence is not something that you can just turn on and off whenever you feel you need it. It is a habit rooted in your attitude about your life and career.

Are you just going through the motions day to day, or are you creating a masterpiece? Autographs are valuable because they are rare and are tied to excellent performance. In today’s world, superior effort and service are becoming endangered species. Is the autograph you place on your work and service each day a Stradivarius or a Michael Jordan? Or is it unknown, with little value? Autograph your career and your life with excellence.

Having a firm commitment to excellence, like Stradivari, has an amazing effect on your achievement motivation. When people who are simply going through the motions or who are just working for a paycheck hit a challenge or obstacle, they often run to their boss and get him or her to do it, or they procrastinate by getting a cup of coffee or shuffling the papers on their desk. On the other hand, when individuals who are committed to excellence hit a similar challenge, they immediately bounce back with energy, and they are actually exhilarated by the chance to stretch themselves to overcome the problem. A commitment to excellence will create focus, and focus will assist you in maintaining your positive motivation and in creating a balanced life.

So, start today and autograph your work with excellence! (By Dennis Waitley)

Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Wednesday, October 7, 2009

Thinking Like A Farmer

Berpikirlah Seperti Seorang Petani
Salah satu kesulitan yang kita hadapi dalam zaman industrialisasi sekarang ini adalah kenyataan bahwa kita telah kehilangan kepekaan akan musim-musim. Tak seperti para petani yang prioritasnya akan berubah seiring dengan perubahan musim, kita telah menjadi begitu kebal terhadap irama kehidupan alam. Sebagai akibatnya, kita mendapati prioritas kita jadi berantakan. Biarlah saya ilustrasikan apa yang saya maksud.

Bagi seorang petani, musim semi adalah masa yang paling sibuk. Itulah masa ketika dia harus bekerja sehari semalam, bangun pagi sebelum mentari terbit dan masih bekerja sampai tengah malam. Dia harus menyiapkan peralatannya agar dapat bekerja selama 24 jam dengan kapasitas penuh karena dia hanya memiliki celah waktu yang sempit untuk menanam tanamannya. Akhirnya, musim dingin tiba, ketika dia tidak banyak banyak kerjaan.

Ada pelajaran penting di sini. Belajarlah tentang musim-musim dalam kehidupan. Putuskan kapan Anda harus mencurahkan segenap waktu, daya, dan dana. Pertimbangkan kapan Anda harus menarik diri, tidak terlalu turun tangan; kapan harus memanfaatkan kesempatan, dan kapan harus membiarkan sesuatu lewat saja. Sangatlah mudah bekerja dari jam 9 sampai jam 5 sore dari tahun ke tahun, dan kehilangan kepekaan akan musim-musim dan siklus kehidupan. Janganlah biarkan tahun yang satu bercampur dengan tahun yang lain, hanya merupakan parade tugas dan tanggung jawab yang tak ada habisnya. Arahkan pandangan Anda terhadap musim kehidupan Anda sendiri. Kalau tidak, Anda akan kehilangan makna dan jatidiri kehidupan. Ditulis oleh Jim Rohn, dan diterjemahkan oleh Hadi Kristadi untuk Pentas Kesaksian, http://pentas-kesaksian.blogspot.com pada tanggal 7 Oktober 2009.

******

Thinking Like a Farmer
One of the difficulties we face in our industrialized age is the fact we’ve lost our sense of seasons. Unlike the farmer whose priorities change with the seasons, we have become impervious to the natural rhythm of life. As a result, we have our priorities out of balance. Let me illustrate what I mean:

For a farmer, springtime is his most active time. It’s then when he must work around the clock, up before the sun and still toiling at the stroke of midnight. He must keep his equipment running at full capacity because he has but a small window of time for the planting of his crop. Eventually winter comes, when there is less for him to do to keep him busy.

There is a lesson here. Learn to use the seasons of life. Decide when to pour it on and when to ease back, when to take advantage and when to let things ride. It’s easy to keep going from nine to five year in and year out and lose a natural sense of priorities and cycles. Don’t let one year blend into another in a seemingly endless parade of tasks and responsibilities. Keep your eye on your own seasons, lest you lose sight of value and substance. By Jim Rohn.

Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Tuesday, October 6, 2009

Thanks for Listening!

Mendengarkan
Saya telah belajar mengharapkan hadiah-hadiah dari Allah dalam bentuk orang-orang yang saya temui, baik untuk selama hanya beberapa detik, beberapa jam atau bahkan seumur hidup saya. Saya dan istri saya naik kereta api jarak pendek yang sudah antik dan bersejarah. Itu adalah bagian dari perayaan ulang tahun istri saya. Perjalanan kereta selama satu jam disertai makan siang itu bagi saya terlalu berpengharapan tinggi.

Saya mengharapkan bertemu orang baru yang akan duduk bersama di meja makan kami. Mereka tidak akan mengetahui hal itu tetapi Tuhan mengirimkan mereka kepada kami. Tuhan selalu mengirimkan banyak orang atau paling tidak satu orang saja. Itu adalah hadiah bagi saya hari itu.

Belum sampai kami duduk dua menit saya mendengar ada orang yang bertanya, “Boleh saya bergabung dengan kalian?”

Saya segera menjawab, “Wah, kami sedang mengharapkan kedatangan Anda.”

Orang ini berusia awal enam puluh tahunan dan agak cacat karena penyakit stroke. Dengan sopan dia memperkenalkan dirinya dan selama 45 menit berikutnya dia tidak pernah berhenti bicara dan bicara dengan keras. Jika ada jeda dalam pembicaraan kami, itu adalah karena seorang pemandu wisata di kerata antik itu menawarkan diri untuk menceritakan latar belakang sejarah kereta api itu. Kalau tidak, pria ini terus berbicara kepada kami tentang dirinya.

Beberapa hal yang dia ceritakan memang sangat menarik, tetapi kebanyakan bercerita tentang kemarahannya bekerja sebagai seorang pengacara, jenis-jenis perkara hokum dan pengetahuannya tentang peta. Dia tidak pernah bertanya kepada salah seorang di antara kami tentang apa yang kami kerjakan.

Jadi, kalau saya percaya Tuhan mengirimkan pria ini kepada kami, apa pesan buat kami?Pria itu perlu berbicara dan saya perlu diingatkan betapa pentingnya mendengarkan orang-orang lain barang sebentar saja, beberapa jam, atau selama seumur hidup. Pria itu nampaknya tak pernah memahami pelajaran itu.

Saya menguatirkan orang ini sepanjang sisa hari itu. Saya kuatir bahwa kebanyakan orang tidak akan memberi kesempatan kepadanya untuk berbicara. Beberapa orang di kereta api itu memberikan komentar yang menyalahkan saya karena saya telah mendengarkan pria itu. Mungkin saya telah dikirim untuk dia. Mungkin dia telah berdoa kepada Tuhan agar bertemu dengan seseorang yang mau mendengarkannya. Hal itu memang berlaku untuk dua arah. Kenyataannya Tuhan memberi kita dua telinga dan satu mulut, karena kita perlu mendengar dua kali lebih banyak dari pada apa yang kita katakan. Terima kasih karena sudah mendengarkan! Naskah asli ditulis oleh Bob Perks, God's Work Ministry Email. Diterjemahkan oleh Hadi Kristadi untuk Pentas Kesaksian, http://pentas-kesaksian.blogspot.com pada tanggal 6 Oktober 2009.

******

THANKS FOR LISTENING!
I have learned to expect gifts from God in the form of people. People who I meet for a few seconds, a few hours or even for a lifetime.
My wife and I took a short train ride on an old historic train. It was part of her birthday plans. The one hour included lunch and for me high expectations.

I expected to meet someone new who would be seated at our table. They wouldn't know it but God was sending them to me. He always sends me many gifts and at least one person.

This would be my gift for today.

Sure enough, we weren't seated two minutes, when I heard, “Would you mind if I joined you?”

I replied, “I was expecting you!”

He was in his early sixties and handicapped from a stroke.

He politely introduced himself and for the next 45 minutes...never stopped talking and loudly.

If there was a pause in the conversation it was because a guide with the train offered a little background on the history of the train.

Otherwise, this gentleman spoke to us about himself.

Some things he had to say were very interesting but most was a rant about his experience as a lawyer, types of law and his knowledge of maps.

He never asked either one of us what we did.

So, if I do believe God sent him, what was the message here?

He needed to talk and I needed to be reminded how important it was to listen to people if only for a few seconds, a few hours, or for a lifetime.

He apparently never learned that lesson.

I did worry about him the rest of the day. I worried that most people would not give him the opportunity.

A few people on the train made derogatory comments to me because they felt sorry that we had to listen to him.

Perhaps I was sent to him. Maybe he was praying to God to meet someone who would listen. It does work both ways.

It is a fact, God gave us two ears and one mouth, because we need to listen twice as much as we speak.

Thanks for listening!

By Bob Perks

******

Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Monday, October 5, 2009

Don't Give Up

Ikan Yang Pesimis
Suatu saat, seorang peneliti melakukan percobaan dengan ikan untuk mengetahui apakah hewan berdarah dingin bisa kehilangan kepercayaan diri! Kemudian, dia menyediakan sebuah kotak yang tidak terlalu besar, diisi air. Di tengah kotak tersebut diberi pembatas berupa sebuah kaca bening. Di salah satu sisi dimasukkan ikan yang relatif besar dan sangat kelaparan. Dan disisi lainnya, dimasukan beberapa ekor ikan kecil yang cukup untuk dimakan oleh si ikan besar. Karena sudah sangat kelaparan. Ikan besar itu langsung dengan beringasnya berenang dengan penuh semangat untuk melahap ikan-ikan kecil itu. Namun apa yang terjadi? Anda pasti sudah dapat menduganya. Setiap kali ikan besar itu berenang menghampiri mangsanya, setiap kali itu pula dia menabrak dinding kaca pembatas.

Namun rasa lapar yang amat sangat memaksanya untuk terus mencoba, sampai akhirnya dia menghentikan usahanya yang sia-sia tersebut. Dan.... menyerahlah dia. Percobaan dilanjutkan. Kali ini kaca pembatas yang ada di tengah-tengah air tersebut diambil. Dan sekarang apa yang terjadi? Ajaib! Dengan leluasa ikan-ikan kecil itu dapat berenang tanpa rasa takut. Bahkan ikan-ikan kecil itu sampai mendekati dan menyentuh sirip atau insang si ikan besar. Tetapi si ikan besar itu tetap diam dan tidak bergerak sedikitpun. Sebenarnya, bisa saja si ikan besar melahap ikan-ikan kecil itu, tapi dia hanya diam saja. Karena Dia telah menyerah, pasrah dengan asumsi bahwa apapun juga yang diperbuatnya pasti ujung-ujungnya gagal juga dan mungkin sekarang bukan saatnya untuk menyantap mangsa walaupun sebenarnya dia mempunyai kesempatan.

Banyak orang mempunyai kesempatan, namun selalu berpikir bahwa rintangannya terlalu banyak dan mungkin dan tidak mungkin dapat teratasi. Di sisi lain dia juga tidak berbuat apapun untuk memperjuangkan hidupnya sehingga menghasilkan sikap menyerah. Sama seperti si ikan besar yang akhirnya menyerah, pasrah. Seorang yang pesimistis, seperti si ikan besar tersebut, adalah orang yang mudah menyerah dan bersikap masa bodoh, tanpa disadari sikap seperti itu adalah sikap yang meragukan Tuhan, bimbang dan tidak percaya! Jangan bimbang karena orang yang bimbang tidak mendapatkan apa-apa!

Berjuanglah bersama Tuhan, jangan bimbang sebab orang bimbang tidak akan melihat mukjizat.

"Orang yang demikian janganlah mengira bahwa ia akan menerima sesuatu dari Tuhan." (Yakobus 1:7). Email kiriman dari Ibu Suharti.

Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Saturday, October 3, 2009

Breast Cancer

Selalu Merasa Sedih dan Kesepian Picu Kanker Payudara

Chicago,, Wanita yang selalu merasa kesepian dan sedih berisiko terkena kanker payudara. Demikian menurut studi terkini para peneliti dari Chicago University. Kok bisa? Apa hubungannya?

Meskipun fakta tersebut baru ditemukan pada tikus, namun para ahli mengatakan hal itu bisa juga terjadi pada manusia. Adanya studi ini mungkin bisa menjadi alternatif untuk mendapatkan obat jenis baru dalam pencegahan kanker payudara yang menyerang bagian paling indah dari seorang wanita.

Para peneliti berasumsi bahwa rasa kesepian dan sedih akan membuat seseorang stres dan depresi. Rasa stres dan depresi yang muncul kemudian akan mengubah beberapa gen yang ada di jaringan payudara dan akan memicu pertumbuhan daging tidak normal (tumor).

Sebenarnya hubungan antara kesepian dan kanker payudara sudah ada sejak 100 tahun yang lalu, namun saat itu masih banyak kontroversi. Terdapat banyak konflik antar para peneliti mengenai hal tersebut.

Dr Suzanne Conzen dan rekannya yang menjalankan studi tersebut meneliti 2 grup tikus yang dibesarkan dalam lingkungan yang berbeda. Satu grup ditempatkan dalam lingkungan sosial dan satunya lagi di tempat sunyi.

Kedua tikus diberi makanan dengan kuantitas dan kualitas yang sama. Mereka juga diberi akses berolahraga yang sama. Namun ternyata tikus yang hidup dalam lingkungan yang sunyi dan terisolasi memiliki tumor yang berkembang di payudaranya.

Peneliti menemukan bahwa tikus yang terisolasi lebih gugup dan melepaskan hormon stres yang lebih banyak seiring dengan pertambahan usia. Stres menyebabkan kelenjar mammary (buah dada) yang berada pada payudara wanita tumbuh dengan tidak normal.

Stres akibat kesepian ternyata tidak hanya meningkatkan pertumbuhan daging tidak normal dalam otak (tumor otak) tapi juga pada bagian tubuh termasuk payudara.

Studi yang dipulikasikan dalam jurnal Cancer Prevention Research tersebut menunjukkan bahwa lingkungan tidak hanya berpengaruh pada kesehatan mental tapi juga kesehatan fisik seperti penyakit kanker payudara. Beberapa studi lainnya juga menyebutkan bahwa kesepian juga penyebab diabetes, obesitas dan tekanan darah tinggi.

"Dukungan moril dan persahabatan bisa mengurangi risiko tersebut. Jadi para wanita sebaiknya jangan terlalu banyak bersedih dan carilah lingkungan yang bisa membuat Anda bersosialisasi. Jangan pernah mengisolasi diri sendiri dari dunia luar, dan jangan lupa lakukan screening untuk mengantisipasi segala kemungkinan buruk pada payudara Anda," ujar Dr Lesley Walker dari Cancer Research UK seperti dilansir Dailymail, Jumat (2/10/2009), Nurul Ulfah - Detikhealth.

^^OOO^^

Note:
Terima kasih untuk pesanan buku "Mukjizat Kehidupan" oleh Bpk. Monang di Jakarta Utara. Pesanan akan segera dikirim hari Senin depan. God bless you.

Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Friday, October 2, 2009

The Notebook

Cinta dan kasih sayang bukan hanya berlaku bagi kaum remaja saja. Hari ini saya ingin menceritakan Love Story dari pasangan yang sudah sudah lanjut usia (lansia). Mereka sudah menikah puluhan tahun, tetapi mereka masih saja tetap saling mengasihi satu dengan yang lain, seperti juga pada saat mereka masih berpacaran. Hanya sayangnya dalam usia senja ini istrinya menderita penyakit “Dementia Alzheimer” – Penyakit Pelupa atau hilangnya daya ingat.

Penyakit sang istri ini semakin hari semakin parah sampai ia tidak bisa mengenali anak-anak maupun cucunya lagi, bahkan mengenali suaminya pun sudah tidak bisa lagi. Sebagai akibat dari penyakit ini, anak-anak maupun cucunya sudah tidak mau mengunjungi ibunya lagi. Dengan terpaksa istrinya harus dirawat di rumah jompo. Hal ini membuat sang suami sangat terpukul dan sedih sekali. Ia merasa sangat kehilangan istri kekasihnya.

Ia pernah membaca, bahwa apabila seorang penderita Alzheimer sering diingatkan kembali, mengenai masa lampau maupun sweet memorynya, maka kemungkinan besar ingatannya bisa pulih kembali. Hal inilah yang menggerakkan dia untuk menulis “Buku Harian Cinta” mengenai kisah cinta mereka.

Setelah buku tersebut selesai dengan tiada lelahnya setiap hari ia datang ke rumah jompo untuk membacakanya halaman demi halaman sambil menceritakan kembali mengenai kisah masa lampau mereka. Ia percaya dan berkeyakinan penuh, apabila ia membacakan setiap hari; maka ingatan istrinya akan bisa pulih kembali. Oleh sebab itulah ia memberi judul: “Read this to me, and I’ll come back to you” – “Bacakanlah untuk’ku dan ku kembali kepadamu”. Tanyalah kepada diri sendiri apakah Anda akan memiliki kesabaran maupun ketekunan pergi ke rumah jompo setiap hari hanya untuk membacakan buku bagi orang yang sudah lupa ingatan, hari demi hari selama berbulan-bulan?

Ceritanya diawali oleh pasangan remaja Noah Calhoun dan Allie Hamilton di awal tahun 1940. Mereka pertama kali jumpa di pasar malam. Pada awalnya Allie menolak untuk date dengan Noah, tetapi karena kegigihan dari Noah yang pantang pasrah, akhirnya ia menyetujuinya juga. Seiring kebersamaan mereka, akhirnya Allie jatuh cinta kepada Noah. Satu-satunya kendala berat bagi mereka ialah status sosial mereka. Noah adalah seorang pemuda miskin sedang Allie adalah putri satu-satunya dari keluarga konglomerat. Walaupun Noah seorang pemuda miskin dengan gaji pas-pasan, tetapi ia sudah berani sesumbar, bahwa pada suatu saat ia akan membangun istana (rumah besar) untuk Allie.

Ibu Allie tidak merestui hubungan mereka, sehingga memaksa Allie sekeluarga untuk pindah ke New York. Noah merasa sangat sedih dan merasa sangat kehilangan Allie. Hal inilah yang mendorong Noah untukmenulis surat setiap hari untuk Allie. Hanya sayangnya semua surat dari Noah tersebut disita oleh ibu Allie, sehingga tidak sepucuk suratpun yang diterima oleh Allie. Dengan tiada lelahnya Noah menulis surat terus menerus, walaupun tidak satu suratpun yang dibalas oleh Allie selama setahun penuh. Ia menulis 365 surat, akhirnya ia putus harapan, karena tak satu suratpun yang dibalas.

Di pihak lain setelah mereka pisah selama bertahun-tahun Allie menilai, bahwa Noah sudah melupakan dia, sehingga akhirnya ia menerima lamaran dari seorang pemuda kaya.

Memang Noah sudah tidak menulis surat lagi untuk Allie, tetapi dengan tekun ia menabung terus, sehingga akhirnya ia bisa membeli rumah tua yang besar. Rumah tersebut ia renovasi, sehingga menjadi seperti layaknya sebuah rumah mewah. Walaupun demikian ia sendiri tidak pernah mau tinggal di rumah tersebut, karena di dalam hatinya ia masih tetap mengharapkan kedatangan Allie. Rumah besar yang bertahun-tahun kosong ini; akhirnya menjadi berita di koran. Berita ini muncul satu minggu sebelum Allie menikah dengan tunangannya. Berita ini dibaca oleh Allie sehingga dengan mana ia langsung pergi mencari Noah kembali. Akhirnya mereka bisa menikah juga.

Setelah sang suami tua (Noah) selesai membacakan buku ini setiap hari selama berbulan-bulan dihapadan istrinya (Allie) yang menderita Alzheimer, akhirnya Allie bisa ingat kembali, bahwa kisah yang diceritakan oleh Noah itu adalah kisah tentang dirinya mereka sendiri. Jadi tepatlah judul dari buku itu “Read this to me, and I’ll come back to you”. Karena hari sudah jauh malam Allie memohon suaminya untuk menemani dia tidur dirumah jompo. Keesokan harinya perawat menemukan pasangan tua ini meninggal dunia dalam keadaan saling berpenganan tangan di atas tempat tidur dengan senyum bahagia.

Love Never Dies
He gave her Twelve Roses
Eleven real, One fake
And he said: “He would Love her
Until the last Rose dies”

Kisah tersebut diatas adalah resensi dari film “The Notebook”. Pemerandari Noah senior J. Garner sedangkan pemeran dari Allie senior adalahG. Rowlands. Pemeran Noah Junior adalah R. Gossling dan untuk AllieJunior R. McAdam. Saya yakin DVD nya masih ada di Indonesia, walaupunfilm ini dari tahun 2004. Film novel romantis yang sangat manis dan layak untuk ditonton.
Ditulis oleh Mang Ucup/Milis Sahabat Kristen

Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Thursday, October 1, 2009

My Letter to Mama


Surat untuk mama...


Mamaku sayang, aku mau cerita sama mama. Tapi ceritanya pake surat ya. Kan, mama sibuk, capek, pulang udah malem.
Kalo aku banyak ngomong nanti mamamarah kayak kemarin itu, aku jadinya takut dan nangis. Kalo pake surat kan mama bisa sambil tiduran bacanya. Kalo ngga sempet baca malem ini bisa disimpen sampe besok, pokoknya bisa dibaca kapan aja deh. Boleh juga suratnya dibawa ke kantor.

Ma, boleh ngga aku minta ganti mbak? Mbak Jum sekarang suka galak, Ma. Kalo aku ngga mau makan, piringnya dibanting di depan aku. Kalo siang aku disuruh tidur melulu, ngga boleh main, padahal mbak kerjanya cuman nonton TV aja. Bukannya dulu kata mama mbak itu gunanya buat nemenin aku main?Trus aku pernah liat mbak lagi ngobrol sama tukang roti di teras depan. Padahal kata mama kan ngga boleh ada tukang-tukang yang masuk rumah kan? Kalo aku bilang gitu sama mbak, mbak marah banget, kan katanya kalo diaduin sama mama dia mau berhenti kerja. Kalo dia berhenti berarti nanti mama repot ya? Nanti mama ngga bisa kerja ya? Nanti ngga ada yang jagain aku di rumah ya? Kalo gitu susah ya, ma?

Mbak ngga diganti ngga apa-apa tapi mama bilangin dong jangan galak sama aku. Ma, bisa ngga hari Kamis sore mama nganter aku ke lomba nari Bali? Pak Husin sih selalu nganterin, tapi kan dia cowok, ma. Ntar yang dandanin aku siapa?
Mbak Jum ngga ngerti dandan. Ntar aku kayak lenong. Kalo mama kan kalo dandan cantik. Temen-temen aku yang nganterin juga mamanya. Waktu lomba gambar minggu lalu Pak Husin yang nganter; tiap ada lomba Pak Husin juga yang nganter. Bosen, ma. Lagian aku pingin ngasi liat sama temen-temenku kalo mamaku itu cantik banget, aku kan bangga, ma.

Temen-temen tuh ngga pernah liat mama. Pernah sih liat, tapi itu tahun lalu pas aku baru masuk SD, kan mereka jadinya udah lupa tampangnya mama. Ma, hadiah ulang tahun mulai tahun ini ngga usah dibeliin deh. Uangnya mama tabungin aja. Trus aku ngga usah dibeliin baju sama mainan mahal lagi deh.

Uangnya mama tabung aja. Kalo uang mama udah banyak, kan mama ngga usah kerja lagi. Nah, itu baru sip namanya. Lagian mainanku udah banyak dan lebih asyik main sama mama kali ya? Uduah dulu ya, ma. Udah ngantuk.
I love you Mom

Email dari Bpk Wawan S.T/Hendra Lim
Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Kesaksian Pembaca Buku "Mukjizat Kehidupan"

Pada tanggal 28 Oktober 2009 datang SMS dari seorang Ibu di NTT, bunyinya:
"Terpujilah Tuhan karena buku "Mukjizat Kehidupan", saya belajar untuk bisa mengampuni, sabar, dan punya waktu di hadirat Tuhan, dan akhirnya Rumah Tangga saya dipulihkan, suami saya sudah mau berdoa. Buku ini telah jadi berkat buat teman-teman di Pasir Panjang, Kupang, NTT. Kami belajar mengasihi, mengampuni, dan selalu punya waktu berdoa."

Hall of Fame - Daftar Pembaca Yang Diberkati Buku Mukjizat Kehidupan

  • A. Rudy Hartono Kurniawan - Juara All England 8 x dan Asian Hero
  • B. Pdt. DR. Ir. Niko Njotorahardjo
  • C. Pdt. Ir. Djohan Handojo
  • D. Jeffry S. Tjandra - Worshipper
  • E. Pdt. Petrus Agung - Semarang
  • F. Bpk. Irsan
  • G. Ir. Ciputra - Jakarta
  • H. Pdt. Dr. Danny Tumiwa SH
  • I. Erich Unarto S.E - Pendiri dan Pemimpin "Manna Sorgawi"
  • J. Beni Prananto - Pengusaha
  • K. Aryanto Agus Mulyo - Partner Kantor Akuntan
  • L. Ir. Handaka Santosa - CEO Senayan City
  • M. Pdt. Drs. Budi Sastradiputra - Jakarta
  • N. Pdm. Lim Lim - Jakarta
  • O. Lisa Honoris - Kawai Music Shool Jakarta
  • P. Ny. Rachel Sudarmanto - Jakarta
  • Q. Ps. Levi Supit - Jakarta
  • R. Pdt. Samuel Gunawan - Jakarta
  • S. F.A Djaya - Tamara Jaya - By Pass Ngurah Rai - Jimbaran - Bali
  • T. Ps. Kong - City Blessing Church - Jakarta
  • U. dr. Yoyong Kohar - Jakarta
  • V. Haryanto - Gereja Katholik - Jakarta
  • W. Fanny Irwanto - Jakarta
  • X. dr. Sylvia/Yan Cen - Jakarta
  • Y. Ir. Junna - Jakarta
  • Z. Yudi - Raffles Hill - Cibubur
  • ZA. Budi Setiawan - GBI PRJ - Jakarta
  • ZB. Christine - Intercon - Jakarta
  • ZC. Budi Setiawan - CWS Kelapa Gading - Jakarta
  • ZD. Oshin - Menara BTN - Jakarta
  • ZE. Johan Sunarto - Tanah Pasir - Jakarta
  • ZF. Waney - Jl. Kesehatan - Jakarta
  • ZG. Lukas Kacaribu - Jakarta
  • ZH. Oma Lydia Abraham - Jakarta
  • ZI. Elida Malik - Kuningan Timur - Jakarta
  • ZJ. Luci - Sunter Paradise - Jakarta
  • ZK. Irene - Arlin Indah - Jakarta Timur
  • ZL. Ny. Hendri Suswardani - Depok
  • ZM. Marthin Tertius - Bank Artha Graha - Manado
  • ZN. Titin - PT. Tripolyta - Jakarta
  • ZO. Wiwiek - Menteng - Jakarta
  • ZP. Agatha - PT. STUD - Menara Batavia - Jakarta
  • ZR. Albertus - Gunung Sahari - Jakarta
  • ZS. Febryanti - Metro Permata - Jakarta
  • ZT. Susy - Metro Permata - Jakarta
  • ZU. Justanti - USAID - Makassar
  • ZV. Welian - Tangerang
  • ZW. Dwiyono - Karawaci
  • ZX. Essa Pujowati - Jakarta
  • ZY. Nelly - Pejaten Timur - Jakarta
  • ZZ. C. Nugraheni - Gramedia - Jakarta
  • ZZA. Myke - Wisma Presisi - Jakarta
  • ZZB. Wesley - Simpang Darmo Permai - Surabaya
  • ZZC. Ray Monoarfa - Kemang - Jakarta
  • ZZD. Pdt. Sunaryo Djaya - Bethany - Jakarta
  • ZZE. Max Boham - Sidoarjo - Jatim
  • ZZF. Julia Bing - Semarang
  • ZZG. Rika - Tanjung Karang
  • ZZH. Yusak Prasetyo - Batam
  • ZZI. Evi Anggraini - Jakarta
  • ZZJ. Kodden Manik - Cilegon
  • ZZZZ. ISI NAMA ANDA PADA KOLOM KOMENTAR UNTUK DIMASUKKAN DALAM DAFTAR INI