Di kampung Nancao, Provinsi Henan, China, ada seorang guru bernama Du Chanyun. 17 tahun lalu, karena memperbaiki sekolah jatuh lantas lumpuh, namun semangat mengajarnya tidak luntur. Selama 17 tahun, isterinya dengan tubuh yang kokoh menggendong suaminya pergi mengajar, hari demi hari dari rumah ke sekolah berjalan ke atas gunung sepanjang 3 mil.
Menurut laporan dari website Dahe, Du Chanyun mengajar di kampung Dakou kota Liushan, tempatnya di pedalaman pegunungan Tuniu, dia menjadi tumpuan harapan dari 500 KK yang tersebar di kampung Dakou.
1981 Du Chanyun tamat SMA pada umur 19 tahun, dia lantas menjadi seorang Guru di kampung Dakou. Sepuluh tahun setelah itu, setiap bulan dia hanya memperoleh gaji guru sebesar RB. 6.5 (Kira-kira Rp. 7.000,-).
Bencana itu datang pada tahun 1990. Musim Panas tahun itu, hujan badai membasahi ruangan kelas sekolahnya. Ketika liburan musim panas, orang-orang di kampung itu mengumpulkan uang memperbaiki sekolah, Du Chanyun begitu bersemangat bekerja, kehujanan pun tetap kerja memindahkan batu, seluruh badan basah kuyup. Akhirnya pada suatu hari, dia jatuh sakit, sakit berat karena kehujanan dan capek.
Setelah sembuh dia mendapatkan, bahwa dia sudah tidak dapat berdiri lagi, tubuhnya sisi kiri tidak dapat bergerak. Dia khawatir, mengajar akan menjadi sebuah mimpi yang jauh.
Istrinya Li Zhengjie melihat apa isi hatinya, lantas menentramkannya, "Kamu jangan kuatir, kamu tidak bisa jalan, sampai panggung pun saya akan menggendongmu." Istri seorang penduduk di kampung yang buta huruf, akhirnya memikul tanggung jawab menggendong suaminya yang menjadi guru, dari rumah sampai sekolah, setiap hari 6 mil.
Menggunakan tubuhnya menopang suami
Sejak 1 September 1990, setiap pagi istrinya Li Zhengjie bangun menanak nasi, membangunkan 4 anggota keluarganya, setelah makan menggendong suaminya berangkat.
Sepanjang jalan, meraba, merangkak jatuh bangun sampai tiba di sekolah, setelah istri menempatkan suaminya, kemudian menitip pesan ke beberapa murid yang agak besar, lantas tergesa-gesa pulang, di rumah masih ada 2 hektar sawah yang menunggunya untuk digarap.
Sejak memikul tanggung jawab mengendong suaminya, dua hal yang paling dia takuti adalah musim panas dan musim dingin.
Rumah Du Chanyun di sebelah tenggara sekolah, walaupun jarak dari rumahnya ke sekolah hanya 3 mil, namun tidak ada jalan lain, selain dari jalan tikus, dengan batu-batuan yang berserakan, ranting-ranting pohon, sungai kecil.
Pada suatu hari di musim panas, baru saja turun hujan lebat, Li Zhengjie seperti hari biasa menggendong suaminya berangkat. Air sungai yang melimpah menutup batu injakkan kakinya. Li Zhengjie sudah hati-hati meraba-raba batu pijakan, namun tidak disangka tergelincir. Arus sungai yang deras menghanyutkan mereka sampai 10 meter lebih, untung tertahan oleh ranting pohon yang melintang di hulu sungai. Setelah lebih kurang setengah jam, ayahnya yang merasa khawatir akhirnya datang. Mereka ditarik, anak dan menantunya kemudian berhasil diselamatkan, lolos dari ancaman maut.
Dalam beberapa tahun ini, Li Zhengjie terus menggendong suaminya, entah sudah berapa kali jatuh bangun. Pada mulainya, kadang-kadang suaminya jatuh di bawah, kadang-kadang Li Zhengjie jatuh di bawah. Akhirnya Li Zhengjie timbul akal, asal jatuh dia berusaha duluan jatuh di bawah, menggunakan tubuhnya yang kekar menahan batu yang mengganjal.
"Walaupun nanti kamu tidak bisa bangun lagi, saya juga akan menggendong kamu sampai tua," ujar istrinya.
Li Zhengjie siang malam kerja keras dan capek, suaminya melihat dengan jelas, hatinya merasa iba.
Pada tahun 1993, dia mulai merencanakan agar istrinya meninggalkan dia, agar tak lagi melihatnya menderita. Untuk mencapai tujuan ini, dia mengubah karakternya, sengaja cari gara-gara untuk bertengkar, dia yang mulai memakinya. Li Zhengjie yang tidak memahami merasa tertekan, setelah 2 kali ribut besar, mereka sungguh-sungguh mau bercerai.
Pada hari perceraian, Li Zhengjie menggendong suaminya naik sepeda, hati-hati mendorong suaminya ke lurah setempat. Pekerja di sana sangat mengenal sepasang suami istri yang akrab ini, begitu melihat tampang kedua orang tersebut makin gembira, "Saya tidak pernah lihat wanita menggendong suaminya ke lurah minta cerai, kalian pulang saja," teriak para petugas lurah.
Tidak sekalipun bolos mengajar
Kondisi di sekolah sangat parah, namun kedua pasang suami istri bisa memberikan pendidikan yang baik buat anak-anak, kondisi guru kurang baik, bu guru bawa anak-anak tamasya, olah raga. Tidak ada alat musik, Du Guangyun menggunakan daun membuat irama musik buat anak-anak, tidak ada poliklinik, Li Zhengjie naik ke gunung memcari obat ramuan, pada musim panas dia memasak obat pendingin buat anak-anak, pada musim dingin masak obat anti flu buat anak-anak.
Di bawah bantuan istri, dalam 17 tahun, hari demi hari, tidak terhalangi oleh angin hujan, tidak pernah bolos satu kali pun.
Data yang terkumpul dari kepala sekolah tentang hasil ujian negeri: bulan April, tingkat siswa yang lulus dari sekolah SD tersebut mencapai 100%. Tahun lalu ketika ujian masuk perguruan tinggi, ada 4 orang siswa yang dulu pernah diajari dia masuk ke perguruan tinggi, tahun ini ada 4 lagi yang lulus masuk ke spesialis.
Kini, setiap hari raya Imlek, murid-muridnya sengaja pulang ke kampung menjengut bapak dan ibu gurunya, masalah tersebut menjadi peristiwa yang sangat menggembirakan bagi sepasang suami istri guru ini.(Epochtimes.com/waa, sumber: http://erabaru.net/kehidupan/41-cermin-kehidupan/3994-seorang-istriselama-17-tahun)
Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com
kesaksian hidup - #inspiring story - #kisah nyata - #mukjizat kehidupan - #sign and wonders - #miracles - inspirational christian story - nice story - true story - inspirational touching story - an amazing story: kisah orang biasa dengan pengalaman luar biasa - ordinary people living the extra-ordinary lives
Search This Blog
Monday, August 31, 2009
Friday, August 28, 2009
Father Judge
Seorang pria hendak mengunjungi pacarnya. Ketika akan memasuki rumah itu dia mendengar dengan jelas di hatinya suara yang berkata, "Aku ingin engkau menjadi seorang pendeta." Pria ini kaget sekali. Apa tidak salah? Tidak pernah di hatinya ada keinginan menjadi pendeta. Dia menjadi sedih. Koq, Tuhan mau dia menjadi pendeta? Apa kata orang nanti? Apa kata pacarnya nanti? Apa kata teman-temannya nanti? Dia bukanlah seseorang yang terlalu banyak memikirkan Tuhan dan memikirkan perkara-perkara rohani. Koq, tega-teganya Tuhan meminta dia jadi seorang pendeta, padahal itu bukan "profesi" yang dia kehendaki?
Banyak orang menganggap Tuhan sebagai seorang hakim, sewenanq-wenang, diktator, bikin takut. Apakah pujian dan penyembahan saya bagus? Dapat nilai berapa di hadapan Tuhan? Apakah perilaku saya hari ini baik, tidak bakal ditegur Tuhan? Apakah perkataan saya semuanya oke? Apakah tidak ada perkataan yang mendapatkan nilai minus? Apakah pembacaan Kitab Suci setiap hari saya mendapat pujian atau teguran karena sering bolong-bolong?
Semua pertanyaan dan pernyataan itu timbul karena kita menganggap Tuhan sebagai seorang Hakim, seorang Wasit, seorang Jaksa yang segera menindak, menghukum, menilai, menghakimi semua perbuatan kita. Padahal, lebih dari itu Tuhan adalah seorang Bapa. Ketika Adam dan Hawa masih ada di Taman Eden sebagai manusia baru, mereka mengenal Tuhan sebagai Bapa. Ketika manusia jatuh dalam dosa, dosa mereka memaksa Tuhan bertindak sebagai Hakim. Namun kemudian Tuhan menunjukkan bahwa belas kasihan akan menang atas penghakiman. Belas kasih Tuhan Yesus Kristus menunjukkan kemenangannya atas penghukuman.
Ketika di kayu Salib Tuhan Yesus berkata, "Sudah Selesai", itu berarti penghakiman Allah telah dikalahkan oleh belas kasihan dan pengampunan. Ketika di kayu salib Tuhan Yesus berkata, "Sudah Selesai", di sorgapun Bapa berkata yang sama: "Sudah selesai Aku bertindak sebagai Hakim. Sekarang Aku sepenuhnya menjadi Bapa atas semua anak-anak-Ku yang percaya dan mengandalkan sepenuhnya kepada Diri-Ku."
Jika Tuhan bertindak sebagai Bapa, itu tidak berarti kita boleh menyepelekan kasih karunia-Nya dengan bertindak dan berbuat dosa seenaknya, dengan pikiran: "Toh nanti juga diampuni Tuhan?" Tidak selalu kita mempunyai waktu dan kesempatan untuk diampuni. Bagaimana kalau kita meninggal, sebelum sempat minta ampun atas dosa tertentu? Kita tidak bisa bermegah bahwa kasih karunia Tuhan selalu tersedia bagi kita semaunya. Ada hal-hal yang di luar kendali kita. Itulah kuasa Tuhan.
Sebagai penutup, kisah di bagian awal tulisan ini dikisahkan oleh seorang pendeta dari Melbourne, Ps. Allan Meyer, tentang bagaimana awalnya dia dipanggil ke dalam pelayanan. Sepanjang hidupnya ia melihat kebaikan dan kasih karunia Tuhan dalam peyananannya. Pilihan Tuhan atas dirinya sekarang tak pernah disesali. Tuhan itu tahu apa yang terbaik bagi setiap orang yang berserah kepada Tuhan.
Ditulis/diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com
Banyak orang menganggap Tuhan sebagai seorang hakim, sewenanq-wenang, diktator, bikin takut. Apakah pujian dan penyembahan saya bagus? Dapat nilai berapa di hadapan Tuhan? Apakah perilaku saya hari ini baik, tidak bakal ditegur Tuhan? Apakah perkataan saya semuanya oke? Apakah tidak ada perkataan yang mendapatkan nilai minus? Apakah pembacaan Kitab Suci setiap hari saya mendapat pujian atau teguran karena sering bolong-bolong?
Semua pertanyaan dan pernyataan itu timbul karena kita menganggap Tuhan sebagai seorang Hakim, seorang Wasit, seorang Jaksa yang segera menindak, menghukum, menilai, menghakimi semua perbuatan kita. Padahal, lebih dari itu Tuhan adalah seorang Bapa. Ketika Adam dan Hawa masih ada di Taman Eden sebagai manusia baru, mereka mengenal Tuhan sebagai Bapa. Ketika manusia jatuh dalam dosa, dosa mereka memaksa Tuhan bertindak sebagai Hakim. Namun kemudian Tuhan menunjukkan bahwa belas kasihan akan menang atas penghakiman. Belas kasih Tuhan Yesus Kristus menunjukkan kemenangannya atas penghukuman.
Ketika di kayu Salib Tuhan Yesus berkata, "Sudah Selesai", itu berarti penghakiman Allah telah dikalahkan oleh belas kasihan dan pengampunan. Ketika di kayu salib Tuhan Yesus berkata, "Sudah Selesai", di sorgapun Bapa berkata yang sama: "Sudah selesai Aku bertindak sebagai Hakim. Sekarang Aku sepenuhnya menjadi Bapa atas semua anak-anak-Ku yang percaya dan mengandalkan sepenuhnya kepada Diri-Ku."
Jika Tuhan bertindak sebagai Bapa, itu tidak berarti kita boleh menyepelekan kasih karunia-Nya dengan bertindak dan berbuat dosa seenaknya, dengan pikiran: "Toh nanti juga diampuni Tuhan?" Tidak selalu kita mempunyai waktu dan kesempatan untuk diampuni. Bagaimana kalau kita meninggal, sebelum sempat minta ampun atas dosa tertentu? Kita tidak bisa bermegah bahwa kasih karunia Tuhan selalu tersedia bagi kita semaunya. Ada hal-hal yang di luar kendali kita. Itulah kuasa Tuhan.
Sebagai penutup, kisah di bagian awal tulisan ini dikisahkan oleh seorang pendeta dari Melbourne, Ps. Allan Meyer, tentang bagaimana awalnya dia dipanggil ke dalam pelayanan. Sepanjang hidupnya ia melihat kebaikan dan kasih karunia Tuhan dalam peyananannya. Pilihan Tuhan atas dirinya sekarang tak pernah disesali. Tuhan itu tahu apa yang terbaik bagi setiap orang yang berserah kepada Tuhan.
Ditulis/diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com
Thursday, August 27, 2009
Traffic Camera
Seorang pria sedang mengendarai mobilnya ketika lampu kamera yang memonitor lalu lintas menyala. Dia pikir foto itu diambil gara-gara dia melanggar batas kecepatan, meskipun dia tahu dia tidak sedang ngebut. Untuk memastikan, dia memutar mengelilingi blok itu dan melewati tempat yang sama, sambil menjalankan mobilnya dengan lebih pelan, tetapi lampu kamera itu menyala lagi. Dia pikir hal ini lucu sekali, sehingga dia melewati tempat itu lagi dengan lebih lambat, dan kamera itu menyala lagi. Dia mencoba empat kali dengan hasil yang sama. Pada kali yang kelima dia tertawa ketika kamera menyala lagi padahal dia mengendarai mobilnya sangat pelan, selambat siput.
Dua minggu kemudian, dia menerima lima tagihan tilang karena berkendaraan tanpa mengenakan sabuk pengaman. Sumber: Milis Kanisius/Chester Wiradja.
*****
A man was driving when a traffic camera flashed. He thought his picture was taken for exceeding the speed limit, even though he knew he was not speeding. Just to be sure, he went around the block and passed the same spot, driving even more slowly, but again the camera flashed. He thought this was quite funny, so he slowed down even further as he drove past the area, but the traffic camera flashed yet again. He tried a fourth time with the same result. The fifth time he was laughing when the camera flashed as he rolled past at a snail's pace.
Two weeks later, he got five traffic fine letters in the mail for driving without a seat belt.
Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com
Dua minggu kemudian, dia menerima lima tagihan tilang karena berkendaraan tanpa mengenakan sabuk pengaman. Sumber: Milis Kanisius/Chester Wiradja.
*****
A man was driving when a traffic camera flashed. He thought his picture was taken for exceeding the speed limit, even though he knew he was not speeding. Just to be sure, he went around the block and passed the same spot, driving even more slowly, but again the camera flashed. He thought this was quite funny, so he slowed down even further as he drove past the area, but the traffic camera flashed yet again. He tried a fourth time with the same result. The fifth time he was laughing when the camera flashed as he rolled past at a snail's pace.
Two weeks later, he got five traffic fine letters in the mail for driving without a seat belt.
Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com
Wednesday, August 26, 2009
Challenges
Ketika saya masih duduk di kelas tiga SD, saya mempunyai seorang guru yang tak pernah terlupakan. Kapanpun kami mulai mengeluh tentang tugas sekolah yang terlalu berat, Ibu Guru tersebut selalu berkata, “Hal itu akan membangun karakter kalian.” Pada waktu itu saya tidak mengerti apa karakter itu dan seandainya saya harus mengerjakan lebih banyak PR untuk mendapatkan karakter, saya tidak kepingin. Pada waktu itu saya tidak menginginkan kehidupan yang menantang. Dahulu saya lebih suka kehidupan yang mudah.
Ketika saya semakin dewasa, saya mulai mengagumi orang-orang yang mengerjakan hal-hal menantang. Saya ingin menjadi seperti mereka. Dan kini, percaya atau tidak, saya sungguh-sungguh bosan ketika kehidupan saya mulai menjadi begitu mudah.
Saya telah menjadi pembicara profesional selama delapan tahun. Ketika Anda ada di bisnis seperti ini, Anda akan mencari orang-orang yang telah melakukan hal-hal yang spektakuler, mendaki puncak gunung-gunung, berlayar keliling dunia, menjelajah ke hutan-hutan atau pergi ke kutub utara atau selatan.
Dua tahun yang lampau saya menyewa beberapa orang pemandu untuk mendaki puncak gunung Rainier di negara bagian Washington. Wow! Itu adalah petualangan yang luar biasa. Tahun lalu saya terbang ke Spanyol dengan teman baik saya, Greg Reid, dan kami lari dikejar-kejar banteng di Pamplona. Kemudian pada tahun itu juga saya berbicara di Afrika Selatan dan memutuskan untuk terbang skydiving. Luar biasa sekali. Dan sekarang, saya merencanakan untuk mengadakan perjalanan safari ke Afrika dan mendaki gunung Kilimanjaro.
Mengapa hal itu penting? Karena seperti yang pernah dikatakan guru saya, tantangan itu membangun karakter. Setiap kali Anda menantang diri sendiri, Anda akan menjadi lebih kuat. Keyakinan Anda akan meroket, dan Anda akan berubah wujud menjadi orang yang jauh lebih baik. Jadi sekarang, seandainya kehidupan menerpa Anda dengan tantangan-tantangan yang mungkin merontokkan semangat orang lain, Anda tidak akan kecut hati lagi karena Anda tahu bahwa jika dulu Anda telah berhasil mengatasi tantangan yang ada, sekarang Anda sudah tahu bahwa Anda memiliki kemampuan untuk mengatasi tantangan yang ini juga.
Semua ini hanya menyangkut kesadaran di dalam hati Anda bahwa Anda tahu, bahwa Anda tahu, bahwa Anda memiliki segala hal untuk mengatasi tantangan apapun yang dilontarkan oleh kehidupan ke hadapan Anda. Dengan cara itu Anda takkan terhentikan….
(Penulis: Ruben Gonzales, diterjemahkan oleh Hadi Kristadi untuk Pentas Kesaksian, http://pentas-kesaksian.blogspot.com pada tanggal 24 Agustus 2009)
******
When I was in the third grade, I had a teacher I will never forget. Whenever we started whining about an assignment being too tough, she would always say, "It builds character." Back then, I didn't know what character was and if I had to do more homework to get it, I didn't want any of it. I didn't want life to be challenging. I wanted life to be easy.
As I got older, I started to admire people who did challenging things. I wanted to be like them. And today, believe it or not, I actually get bored when life starts getting too easy.
I've been a professional speaker for 8 years. When you're in the speaking business, you start running into people who have done some pretty amazing things, climbed mountains, sailed around the world, explored jungles or even gone to the North or South Poles.
Talking to these people got me thinking about how much fun and challenging it would be to do some of those things. Especially since my athletic career is coming to an end. So a couple of years ago I started doing things that challenged me to dig deep.
Two years ago, I hired some guides and climbed Mt. Rainier. Wow! That was an adventure. Last year I flew to Spain with my good friend Greg Reid and we ran with the bulls in Pamplona. Later that year, I was speaking in South Africa and decided to go skydiving. What a blast that was! And now we're planning a trip to Africa where we're going to climb Mt. Kilimanjaro and go on a four day safari.
I thoroughly research each trip and take experienced guides with me to reduce the risk. But even so, all of these adventures push me to face fears and to challenge myself to go beyond my comfort zone.
Why is that important? Because just like my teacher said, challenges build character. Every time you challenge yourself, you become stronger. Your self-belief skyrockets, and you are transformed into a better you. Now, when life hits you with a challenge that would discourage anyone else, you're not even fazed because you know that if you could do all those other things and succeed, you have what it takes to get over this challenge too.
It's all about knowing in your heart that you know, that you know, that you have what it takes to overcome anything life throws at you. It's becoming unstoppable...
Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com
Ketika saya semakin dewasa, saya mulai mengagumi orang-orang yang mengerjakan hal-hal menantang. Saya ingin menjadi seperti mereka. Dan kini, percaya atau tidak, saya sungguh-sungguh bosan ketika kehidupan saya mulai menjadi begitu mudah.
Saya telah menjadi pembicara profesional selama delapan tahun. Ketika Anda ada di bisnis seperti ini, Anda akan mencari orang-orang yang telah melakukan hal-hal yang spektakuler, mendaki puncak gunung-gunung, berlayar keliling dunia, menjelajah ke hutan-hutan atau pergi ke kutub utara atau selatan.
Dua tahun yang lampau saya menyewa beberapa orang pemandu untuk mendaki puncak gunung Rainier di negara bagian Washington. Wow! Itu adalah petualangan yang luar biasa. Tahun lalu saya terbang ke Spanyol dengan teman baik saya, Greg Reid, dan kami lari dikejar-kejar banteng di Pamplona. Kemudian pada tahun itu juga saya berbicara di Afrika Selatan dan memutuskan untuk terbang skydiving. Luar biasa sekali. Dan sekarang, saya merencanakan untuk mengadakan perjalanan safari ke Afrika dan mendaki gunung Kilimanjaro.
Mengapa hal itu penting? Karena seperti yang pernah dikatakan guru saya, tantangan itu membangun karakter. Setiap kali Anda menantang diri sendiri, Anda akan menjadi lebih kuat. Keyakinan Anda akan meroket, dan Anda akan berubah wujud menjadi orang yang jauh lebih baik. Jadi sekarang, seandainya kehidupan menerpa Anda dengan tantangan-tantangan yang mungkin merontokkan semangat orang lain, Anda tidak akan kecut hati lagi karena Anda tahu bahwa jika dulu Anda telah berhasil mengatasi tantangan yang ada, sekarang Anda sudah tahu bahwa Anda memiliki kemampuan untuk mengatasi tantangan yang ini juga.
Semua ini hanya menyangkut kesadaran di dalam hati Anda bahwa Anda tahu, bahwa Anda tahu, bahwa Anda memiliki segala hal untuk mengatasi tantangan apapun yang dilontarkan oleh kehidupan ke hadapan Anda. Dengan cara itu Anda takkan terhentikan….
(Penulis: Ruben Gonzales, diterjemahkan oleh Hadi Kristadi untuk Pentas Kesaksian, http://pentas-kesaksian.blogspot.com pada tanggal 24 Agustus 2009)
******
When I was in the third grade, I had a teacher I will never forget. Whenever we started whining about an assignment being too tough, she would always say, "It builds character." Back then, I didn't know what character was and if I had to do more homework to get it, I didn't want any of it. I didn't want life to be challenging. I wanted life to be easy.
As I got older, I started to admire people who did challenging things. I wanted to be like them. And today, believe it or not, I actually get bored when life starts getting too easy.
I've been a professional speaker for 8 years. When you're in the speaking business, you start running into people who have done some pretty amazing things, climbed mountains, sailed around the world, explored jungles or even gone to the North or South Poles.
Talking to these people got me thinking about how much fun and challenging it would be to do some of those things. Especially since my athletic career is coming to an end. So a couple of years ago I started doing things that challenged me to dig deep.
Two years ago, I hired some guides and climbed Mt. Rainier. Wow! That was an adventure. Last year I flew to Spain with my good friend Greg Reid and we ran with the bulls in Pamplona. Later that year, I was speaking in South Africa and decided to go skydiving. What a blast that was! And now we're planning a trip to Africa where we're going to climb Mt. Kilimanjaro and go on a four day safari.
I thoroughly research each trip and take experienced guides with me to reduce the risk. But even so, all of these adventures push me to face fears and to challenge myself to go beyond my comfort zone.
Why is that important? Because just like my teacher said, challenges build character. Every time you challenge yourself, you become stronger. Your self-belief skyrockets, and you are transformed into a better you. Now, when life hits you with a challenge that would discourage anyone else, you're not even fazed because you know that if you could do all those other things and succeed, you have what it takes to get over this challenge too.
It's all about knowing in your heart that you know, that you know, that you have what it takes to overcome anything life throws at you. It's becoming unstoppable...
Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com
Tuesday, August 25, 2009
Excellent Christian Couple
Sabtu malam yang lalu saya diundang oleh seorang sahabat berhubung dengan pengucapan syukur atas rumah barunya. Tahun 1990 yang lalu dia bersama istrinya masih mengontrak sebuah gubuk derita di dekat kali Ciliwung, namun dia mempunyai impian yang sangat besar. Dengan kerja keras dan kerja cerdas, disertai dengan kasih karunia Tuhan yang besar, dia sekarang menjadi seorang pengusaha yang sukses, selain hamba Tuhan yang melayani dengan biaya sendiri kemana-mana.
Di rumah Pak Jarot Wijanarko malam itu saya melihat kemegahan sebuah impian, di atas tanah yang sangat luas di bilangan Bintaro. Padahal selama ini dia selalu mengontrak rumah, meskipun rumah yang dikontraknya tergolong mewah. Malam itu pak Jarot bersaksi bahwa ada seorang mitra usaha, yang lebih erat hubungannya dibandingkan saudara kandung sekalipun, yang telah menolongnya mencapai impian itu, yaitu Bapak Sutomo, mantan atasan di PT. Astra Export Company. Selain itu pak Jarot juga bersyukur kepada Tuhan karena menganugerahkan seorang istri yang cakap seperti permata. "Sekarang ini, tidaklah aneh kalau banyak wanita yang mau menikah dengan saya. Sedari dulu, sejak waktu saya masih miskin, Esther adalah istri yang setia dan penolong yang sepadan bagi saya," kata pak Jarot bersaksi.
Pernikahan pak Jarot dengan ibu Esther merupakan pernikahan antar suku yang menjadi teladan bagi kita semua. Pertemuan antara pria Jawa (Solo) dengan perempuan Tionghoa asal Cirebon, putri seorang hamba Tuhan dan cici Pdt. Daniel Arief dari Bandung ini, telah melahirkan anak-anak juara yang mendapat beasiswa penuh untuk sekolah di Singapura. Puji Tuhan!
Ditulis/diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com
Di rumah Pak Jarot Wijanarko malam itu saya melihat kemegahan sebuah impian, di atas tanah yang sangat luas di bilangan Bintaro. Padahal selama ini dia selalu mengontrak rumah, meskipun rumah yang dikontraknya tergolong mewah. Malam itu pak Jarot bersaksi bahwa ada seorang mitra usaha, yang lebih erat hubungannya dibandingkan saudara kandung sekalipun, yang telah menolongnya mencapai impian itu, yaitu Bapak Sutomo, mantan atasan di PT. Astra Export Company. Selain itu pak Jarot juga bersyukur kepada Tuhan karena menganugerahkan seorang istri yang cakap seperti permata. "Sekarang ini, tidaklah aneh kalau banyak wanita yang mau menikah dengan saya. Sedari dulu, sejak waktu saya masih miskin, Esther adalah istri yang setia dan penolong yang sepadan bagi saya," kata pak Jarot bersaksi.
Pernikahan pak Jarot dengan ibu Esther merupakan pernikahan antar suku yang menjadi teladan bagi kita semua. Pertemuan antara pria Jawa (Solo) dengan perempuan Tionghoa asal Cirebon, putri seorang hamba Tuhan dan cici Pdt. Daniel Arief dari Bandung ini, telah melahirkan anak-anak juara yang mendapat beasiswa penuh untuk sekolah di Singapura. Puji Tuhan!
Ditulis/diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com
Monday, August 24, 2009
Bad Looking Guys
Orang-Orang Buruk Rupa
Sebuah bis yang dipenuhi oleh orang-orang berparas ‘buruk’ mengalami kecelakaan fatal di jalan raya. Bis tersebut ditubruk dari depan oleh sebuah truk yang amat besar. Semua yang ada di dalamnya mati seketika itu juga. Sebagai akibatnya … mereka bertemu dengan Tuhan.
Oleh karena penderitaan mereka selama hidup gara-gara ‘keburukan’ wajah mereka, Tuhan merasa iba dan ingin menghibur dengan menjatah setiap orang yang ada di sana sebuah permintaan yang akan dikabulkan oleh-Nya, sebelum mereka masuk ke dalam sorga.
Berderetan mereka berdiri di hadapan-Nya. Kepada orang pertama Tuhan bertanya: “Apakah yang engkau inginkan, anak-Ku?” Tanpa merasa ragu ia menjawab: “Aku ingin menjadi seorang yang berparas cakap.” Tuhan menjamah kepalanya, dan … saat itu juga ia berubah menjadi seorang yang berwajah cakap sekali!
Tercengang melihat permintaan tersebut dikabulkan oleh Tuhan secara instan, ketika ditanya, orang yang berdiri di sebelahnya meniru permohonan rekannya: “Aku juga ingin mempunyai paras yang cakap seperti dia.” Kembali Tuhan hanya menjamah kepalanya saja, dan permohonan orang itu pun langsung dikabulkan!
Yang lain ikut merasa takjub menyaksikan perubahan wajah kedua rekannya. Oleh karena itu mereka juga ingin mempunyai wajah yang cakap seperti itu. Satu-per-satu keinginan-keinginan mereka dikabulkan oleh Tuhan. Tetapi ketika Ia baru melayani setengah jalan, tiba-tiba terdengarlah ledakan tawa seseorang yang berdiri paling akhir di ujung deretan tersebut.
Pada saat masih ada sepuluh orang yang belum menerima giliran mereka, ia sudah bergulung-gulung di bawah, tertawa terbahak-bahak tak terkendalikan lagi.
Akhirnya … berdirilah Tuhan di depannya, lalu bertanya: “Apakah yang menjadi keinginan hatimu, anak-Ku?”
Menenangkan diri sejenak setelah bangkit berdiri, dengan wajah masih tersenyum-simpul penuh kejenakaan ia menjawab: “Jadikanlah paras mereka semua buruk lagi seperti semula!”
Saya ikut tersenyum kala berusaha sebaik mungkin merangkai kata-kata untuk menceriterakan kembali kisah humor ini. Seandainya saja bukan cerita fiksi, meskipun sudah mengetahui sebelumnya, mungkinkah hati Tuhan ikut tergelitik oleh ‘kenakalan’ permintaannya? Saya tahu kisah tersebut tidak mungkin terjadi, sebab intinya saja sudah sangat tidak alkitabiah. Karena Tuhan tidak pernah memandang muka atau menilai kebahagiaan hidup umat ciptaan-Nya melalui penampilan mereka! (1 Samuel 16:7b)
Tuhan selalu menjenguk isi hati manusia terlebih dahulu untuk melihat, ‘Siapakah’ yang bersemayan di sana. Karena hanya Yesus yang menjadi penentu kelayakan mereka untuk bisa bertemu, atau menghadap Bapa di sorga. Hanya Ia saja yang mampu mengubah ‘keburukan’ paras kita untuk selama-lamanya!
Lagipula di sorga, ... semua orang sama ‘cakap’-nya, karena dosa-dosa leluhur yang sudah membelenggu hidup dan yang menyebabkan ketidak-sempurnaan (paras atau kharakter) kita sudah ditanggalkan untuk selama-lamanya. Di sana kecantikan atau ketampanan manusia bukan merupakan suatu hal yang penting lagi. Di sana Dia-lah yang paling penting! Sumber: Milis Sahabat Kristen/John Adisubrata.
Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com
Sebuah bis yang dipenuhi oleh orang-orang berparas ‘buruk’ mengalami kecelakaan fatal di jalan raya. Bis tersebut ditubruk dari depan oleh sebuah truk yang amat besar. Semua yang ada di dalamnya mati seketika itu juga. Sebagai akibatnya … mereka bertemu dengan Tuhan.
Oleh karena penderitaan mereka selama hidup gara-gara ‘keburukan’ wajah mereka, Tuhan merasa iba dan ingin menghibur dengan menjatah setiap orang yang ada di sana sebuah permintaan yang akan dikabulkan oleh-Nya, sebelum mereka masuk ke dalam sorga.
Berderetan mereka berdiri di hadapan-Nya. Kepada orang pertama Tuhan bertanya: “Apakah yang engkau inginkan, anak-Ku?” Tanpa merasa ragu ia menjawab: “Aku ingin menjadi seorang yang berparas cakap.” Tuhan menjamah kepalanya, dan … saat itu juga ia berubah menjadi seorang yang berwajah cakap sekali!
Tercengang melihat permintaan tersebut dikabulkan oleh Tuhan secara instan, ketika ditanya, orang yang berdiri di sebelahnya meniru permohonan rekannya: “Aku juga ingin mempunyai paras yang cakap seperti dia.” Kembali Tuhan hanya menjamah kepalanya saja, dan permohonan orang itu pun langsung dikabulkan!
Yang lain ikut merasa takjub menyaksikan perubahan wajah kedua rekannya. Oleh karena itu mereka juga ingin mempunyai wajah yang cakap seperti itu. Satu-per-satu keinginan-keinginan mereka dikabulkan oleh Tuhan. Tetapi ketika Ia baru melayani setengah jalan, tiba-tiba terdengarlah ledakan tawa seseorang yang berdiri paling akhir di ujung deretan tersebut.
Pada saat masih ada sepuluh orang yang belum menerima giliran mereka, ia sudah bergulung-gulung di bawah, tertawa terbahak-bahak tak terkendalikan lagi.
Akhirnya … berdirilah Tuhan di depannya, lalu bertanya: “Apakah yang menjadi keinginan hatimu, anak-Ku?”
Menenangkan diri sejenak setelah bangkit berdiri, dengan wajah masih tersenyum-simpul penuh kejenakaan ia menjawab: “Jadikanlah paras mereka semua buruk lagi seperti semula!”
Saya ikut tersenyum kala berusaha sebaik mungkin merangkai kata-kata untuk menceriterakan kembali kisah humor ini. Seandainya saja bukan cerita fiksi, meskipun sudah mengetahui sebelumnya, mungkinkah hati Tuhan ikut tergelitik oleh ‘kenakalan’ permintaannya? Saya tahu kisah tersebut tidak mungkin terjadi, sebab intinya saja sudah sangat tidak alkitabiah. Karena Tuhan tidak pernah memandang muka atau menilai kebahagiaan hidup umat ciptaan-Nya melalui penampilan mereka! (1 Samuel 16:7b)
Tuhan selalu menjenguk isi hati manusia terlebih dahulu untuk melihat, ‘Siapakah’ yang bersemayan di sana. Karena hanya Yesus yang menjadi penentu kelayakan mereka untuk bisa bertemu, atau menghadap Bapa di sorga. Hanya Ia saja yang mampu mengubah ‘keburukan’ paras kita untuk selama-lamanya!
Lagipula di sorga, ... semua orang sama ‘cakap’-nya, karena dosa-dosa leluhur yang sudah membelenggu hidup dan yang menyebabkan ketidak-sempurnaan (paras atau kharakter) kita sudah ditanggalkan untuk selama-lamanya. Di sana kecantikan atau ketampanan manusia bukan merupakan suatu hal yang penting lagi. Di sana Dia-lah yang paling penting! Sumber: Milis Sahabat Kristen/John Adisubrata.
Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com
The Handkerchief
Sebab yang bodoh dari Allah lebih besar hikmatnya dari pada manusia dan yang lemah dari Allah lebih kuat dari pada manusia. ( 1 Korintus 1:25)
Frank adalah seorang pengusaha yang sedang terbang ke luar negeri beberapa tahun yang lalu. Ia baru saja menyelesaikan perjalanan panjang dan duduk di kursi pesawat dengan harapan akan bisa beristirahat dengan tenang ketika seorang pria yang duduk di sampingnya mulai mengajaknya berbicara. Frank dengan sopan meladeni pembicaraan itu dengan harapan bahwa pembicaraannya akan berlangsung singkat sehingga ia dapat beristirahat segera. Namun, ketika waktu terus berlalu, pria itu mulai bertanya dan bertanya terus. Anehnya, pria itu nampak sedang mencari “sesuatu” dari caranya dia bertanya. Akhirnya, pembicaraan itu beralih ke masalah keluarga dan topik tentang bayi segera muncul. Frank mengaku kepada pria itu bahwa puterinya sudah berusaha hamil selama bertahun-tahun tanpa hasil.
Pria itu memandang wajah Frank dan berkata, “Nah, itulah! Saya tahu bahwa ada sesuatu yang Tuhan inginkan saya mendesak kepadamu, namun sampai Anda mengatakan hal tentang kesulitan hamil itu, saya tadi terus mencari-cari apakah itu.” Frank bahkan tidak menyadari bahwa pria itu adalah seorang beriman sampai saat itu. “Hal ini mungkin kedengaran aneh bagimu namun Tuhan telah memberi saya karunia yang aneh untuk menolong wanita-wanita yang mandul agar hamil. Kapanpun saya berdoa bagi para wanita-wanita itu, mereka akan menjadi hamil. Bolehkah saya meminta sesuatu yang agak tak biasa?” Frank terus mendengarkan sebelum dia menyatakan sesuatu.
“Saya ingin kita berdoa atas saputangan ini. Ketika Anda bertemu dengan puterimu saya minta Anda meletakkan saputangan ini di atas perut puterimu dan berdoa atasnya.” Frank merasa aneh dengan pemikiran itu, tetapi dia telah melihat banyak hal-hal tak biasa daripada hal ini dalam perjalanan internasionalnya.
Frank kembali ke Amerika Serikat dan beberapa waktu kemudian dia mengatur waktu untuk bertemu dengan puterinya dan menantu laki-lakinya. Frank merasa aneh, mungkin menantu laki-lakinya menganggap bahwa hal itu adalah suatu kebodohan. Meskipun demikian, Frank kemudian menjelaskan apa yang telah terjadi dan mereka meletakkan saputangan itu di atas perut puterinya dan berdoa.
Beberapa minggu berlalu dan Frank menerima telpon dari puterinya. “Ayah, tentu Ayah tidak pernah menduga apa yang telah terjadi. Saya hamil!” teriak puterinya.
(Naskah asli ditulis oleh Os Hillman, diterjemahkan oleh Hadi Kristadi untuk Pentas Kesaksian, http://pentas-kesaksian.blogspot.com pada tanggal 22 Agustus 2009)
*****
The Handkerchief
"For the foolishness of God is wiser than man's wisdom, and the weakness of God is stronger than man's strength" (1 Cor. 1:25).
Frank is a businessman who was flying overseas a few years ago. He had just completed a long trip and settled into his seat for a quiet return trip when the man next to him began to start up a conversation. Frank politely conversed with the man hoping it would be a brief conversation so he could rest. However, as time went on, the man began to ask more and more questions. Strangely, he seemed to be "looking for something" by the nature of his questions. Finally, the conversation turned to family and the subject of babies came up. Frank confided in the man that his daughter had been seeking to become pregnant for years without success.
The man turned to Frank and said, "That's it! I knew there was something the Lord wanted me to press in on with you, but until you said that, I was searching and searching." Frank did not even realize the man was a believer until that moment. "This may sound strange to you but God has given me a strange kind of gift to help barren women become pregnant. Whenever I pray for women, they get pregnant. May I ask you to do something rather unusual?" Frank continued to listen before committing to anything.
"I would like us to pray over this handkerchief. When you get back to your daughter I would like you to lay this handkerchief on your daughters belly and pray over it." Frank was a bit taken back by the thought, but he had seen more unusual things than this in his international travels.
Frank returned to the states and a short time later arranged a time for his daughter and her husband to come by the house. Frank felt very awkward, as he knew his son-in-law would think this was foolishness. Nevertheless, Frank proceeded to explain what had happened and they laid the handkerchief on his daughter's belly and prayed.
A few weeks passed and Frank received a phone call from his daughter. "Dad, you will never guess what has happened. I am pregnant!" she exclaimed. Os Hillman
Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com
Frank adalah seorang pengusaha yang sedang terbang ke luar negeri beberapa tahun yang lalu. Ia baru saja menyelesaikan perjalanan panjang dan duduk di kursi pesawat dengan harapan akan bisa beristirahat dengan tenang ketika seorang pria yang duduk di sampingnya mulai mengajaknya berbicara. Frank dengan sopan meladeni pembicaraan itu dengan harapan bahwa pembicaraannya akan berlangsung singkat sehingga ia dapat beristirahat segera. Namun, ketika waktu terus berlalu, pria itu mulai bertanya dan bertanya terus. Anehnya, pria itu nampak sedang mencari “sesuatu” dari caranya dia bertanya. Akhirnya, pembicaraan itu beralih ke masalah keluarga dan topik tentang bayi segera muncul. Frank mengaku kepada pria itu bahwa puterinya sudah berusaha hamil selama bertahun-tahun tanpa hasil.
Pria itu memandang wajah Frank dan berkata, “Nah, itulah! Saya tahu bahwa ada sesuatu yang Tuhan inginkan saya mendesak kepadamu, namun sampai Anda mengatakan hal tentang kesulitan hamil itu, saya tadi terus mencari-cari apakah itu.” Frank bahkan tidak menyadari bahwa pria itu adalah seorang beriman sampai saat itu. “Hal ini mungkin kedengaran aneh bagimu namun Tuhan telah memberi saya karunia yang aneh untuk menolong wanita-wanita yang mandul agar hamil. Kapanpun saya berdoa bagi para wanita-wanita itu, mereka akan menjadi hamil. Bolehkah saya meminta sesuatu yang agak tak biasa?” Frank terus mendengarkan sebelum dia menyatakan sesuatu.
“Saya ingin kita berdoa atas saputangan ini. Ketika Anda bertemu dengan puterimu saya minta Anda meletakkan saputangan ini di atas perut puterimu dan berdoa atasnya.” Frank merasa aneh dengan pemikiran itu, tetapi dia telah melihat banyak hal-hal tak biasa daripada hal ini dalam perjalanan internasionalnya.
Frank kembali ke Amerika Serikat dan beberapa waktu kemudian dia mengatur waktu untuk bertemu dengan puterinya dan menantu laki-lakinya. Frank merasa aneh, mungkin menantu laki-lakinya menganggap bahwa hal itu adalah suatu kebodohan. Meskipun demikian, Frank kemudian menjelaskan apa yang telah terjadi dan mereka meletakkan saputangan itu di atas perut puterinya dan berdoa.
Beberapa minggu berlalu dan Frank menerima telpon dari puterinya. “Ayah, tentu Ayah tidak pernah menduga apa yang telah terjadi. Saya hamil!” teriak puterinya.
(Naskah asli ditulis oleh Os Hillman, diterjemahkan oleh Hadi Kristadi untuk Pentas Kesaksian, http://pentas-kesaksian.blogspot.com pada tanggal 22 Agustus 2009)
*****
The Handkerchief
"For the foolishness of God is wiser than man's wisdom, and the weakness of God is stronger than man's strength" (1 Cor. 1:25).
Frank is a businessman who was flying overseas a few years ago. He had just completed a long trip and settled into his seat for a quiet return trip when the man next to him began to start up a conversation. Frank politely conversed with the man hoping it would be a brief conversation so he could rest. However, as time went on, the man began to ask more and more questions. Strangely, he seemed to be "looking for something" by the nature of his questions. Finally, the conversation turned to family and the subject of babies came up. Frank confided in the man that his daughter had been seeking to become pregnant for years without success.
The man turned to Frank and said, "That's it! I knew there was something the Lord wanted me to press in on with you, but until you said that, I was searching and searching." Frank did not even realize the man was a believer until that moment. "This may sound strange to you but God has given me a strange kind of gift to help barren women become pregnant. Whenever I pray for women, they get pregnant. May I ask you to do something rather unusual?" Frank continued to listen before committing to anything.
"I would like us to pray over this handkerchief. When you get back to your daughter I would like you to lay this handkerchief on your daughters belly and pray over it." Frank was a bit taken back by the thought, but he had seen more unusual things than this in his international travels.
Frank returned to the states and a short time later arranged a time for his daughter and her husband to come by the house. Frank felt very awkward, as he knew his son-in-law would think this was foolishness. Nevertheless, Frank proceeded to explain what had happened and they laid the handkerchief on his daughter's belly and prayed.
A few weeks passed and Frank received a phone call from his daughter. "Dad, you will never guess what has happened. I am pregnant!" she exclaimed. Os Hillman
Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com
Saturday, August 22, 2009
The Lost Wrist Watch
Kisah Arloji yang Hilang
Ada seorang tukang kayu. Suatu saat ketika sedang bekerja, secara tak disengaja arlojinya terjatuh dan terbenam di antara tingginya tumpukan serbuk kayu. Arloji itu adalah sebuah hadiah dan telah dipakainya cukup lama. Ia amat mencintai arloji tersebut. Karenanya ia berusaha sedapat mungkin untuk menemukan kembali arlojinya. Sambil mengeluh mempersalahkan keteledoran diri sendiri si tukang kayu itu membongkar tumpukan serbuk yang tinggi itu.
Teman-teman pekerja yang lain juga turut membantu mencarinya. Namun sia-sia saja. Arloji kesayangan itu tetap tak ditemukan. Tibalah saat makan siang. Para pekerja serta pemilik arloji tersebut dengan semangat yang lesu meninggalkan bengkel kayu tersebut.
Saat itu seorang anak yang sejak tadi memperhatikan mereka mencari arloji itu, datang mendekati tumpukan serbuk kayu tersebut. Ia berjongkok dan mencari. Tak berapa lama berselang ia telah menemukan kembali arloji kesayangan si tukang kayu tersebut. Tentu si tukang kayu itu amat gembira. Namun ia juga heran, karena sebelumnya banyak orang telah membongkar tumpukan serbuk namun sia-sia. Tapi anak ini cuma seorang diri saja, dan berhasil menemukan arloji itu.
"Bagaimana caranya engkau mencari arloji ini?" tanya si tukang kayu.
"Saya hanya duduk secara tenang di lantai. Dalam keheningan itu saya bisa mendengar bunyi tik-tak, tik-tak. Dengan itu saya tahu di mana arloji itu berada," jawab anak itu.
Keheningan adalah pekerjaan rumah yang paling sulit diselesaikan selama hidup. Sering secara tidak sadar kita terjerumus dalam seribu satu macam 'kesibukan dan kegaduhan'. Ada baiknya kita menenangkan diri kita terlebih dahulu sebelum mulai melangkah menghadapi setiap permasalahan. Sumber: Email dari Ibu Shirley K.
Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com
Ada seorang tukang kayu. Suatu saat ketika sedang bekerja, secara tak disengaja arlojinya terjatuh dan terbenam di antara tingginya tumpukan serbuk kayu. Arloji itu adalah sebuah hadiah dan telah dipakainya cukup lama. Ia amat mencintai arloji tersebut. Karenanya ia berusaha sedapat mungkin untuk menemukan kembali arlojinya. Sambil mengeluh mempersalahkan keteledoran diri sendiri si tukang kayu itu membongkar tumpukan serbuk yang tinggi itu.
Teman-teman pekerja yang lain juga turut membantu mencarinya. Namun sia-sia saja. Arloji kesayangan itu tetap tak ditemukan. Tibalah saat makan siang. Para pekerja serta pemilik arloji tersebut dengan semangat yang lesu meninggalkan bengkel kayu tersebut.
Saat itu seorang anak yang sejak tadi memperhatikan mereka mencari arloji itu, datang mendekati tumpukan serbuk kayu tersebut. Ia berjongkok dan mencari. Tak berapa lama berselang ia telah menemukan kembali arloji kesayangan si tukang kayu tersebut. Tentu si tukang kayu itu amat gembira. Namun ia juga heran, karena sebelumnya banyak orang telah membongkar tumpukan serbuk namun sia-sia. Tapi anak ini cuma seorang diri saja, dan berhasil menemukan arloji itu.
"Bagaimana caranya engkau mencari arloji ini?" tanya si tukang kayu.
"Saya hanya duduk secara tenang di lantai. Dalam keheningan itu saya bisa mendengar bunyi tik-tak, tik-tak. Dengan itu saya tahu di mana arloji itu berada," jawab anak itu.
Keheningan adalah pekerjaan rumah yang paling sulit diselesaikan selama hidup. Sering secara tidak sadar kita terjerumus dalam seribu satu macam 'kesibukan dan kegaduhan'. Ada baiknya kita menenangkan diri kita terlebih dahulu sebelum mulai melangkah menghadapi setiap permasalahan. Sumber: Email dari Ibu Shirley K.
Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com
Thursday, August 20, 2009
Three Days and Three Nights
3 HARI 3 MALAM
Sebuah pesawat terbang kecil berputar-putar mencari landasan di tengah-tengah rimba belantara Kalimantan. Sesaat kemudian, pesawat menukik dan mendarat dengan hati-hati. Sang pilot turun, disusul satu-satunya penumpang -- seorang hamba Tuhan yang diundang ke daerah itu untuk menyampaikan Kabar Baik dari sorga. Orang ini agak terkesiap menatap rombongan laki-laki yang rupanya telah berkumpul menyambut kedatangannya. Ketua rombongan maju memperkenalkan diri, dan setelah saling berjabat tangan, mereka pun mulai berbincang-bincang.
"Berapa jumlah penduduk desa Bapak?" tanyanya berbasa-basi kepada ketua rombongan. "Ini semua kepala keluarganya Pak Pendeta," jawab lelaki setengah usia itu sambil menunjuk pada rombongan penyambut.
Termangu-mangu, pak pendeta itu mendengarkan keterangan ini. Diam-diam dihitungnya orang-orang yang mengelilinginya. Hanya tiga puluh kepala! Tanpa disadarinya, terlintas dalam ingatannya gedung pertemuan yang mahaluas di Ottawa, Kanada, yang memuat lima ribu orang, yang menjadi penuh sesak tatkala mereka berdatangan untuk mendengarkan firman yang disampaikannya. Itu baru beberapa minggu yang lalu.
"Mari, Pak," kata ketua rombongan dengan ramah sambil membuat gerakan tangan, mempersilakannya berjalan. "Baik," katanya.
Terbersit dalam hatinya, sebuah harapan, semoga jarak yang kini harus ditempuhnya dengan berjalan kaki, tidaklah terlalu jauh.
Ternyata harapannya buyar. Mereka meninggalkan landasan pesawat itu, dan memasuki hutan rimba. Tak terpikirkan betapa mengerikan rimba itu! Hujan yang turun telah menciptakan kubangan-kubangan lumpur yang bercampur daun-daun membusuk. Bau yang menyebar dari kubangan-kubangan tersebut sungguh memuakkan! Di sana-sini tampak gundukan kotoran hewan, entah binatang liar ataukah hewan peliharaan penduduk. Di kiri kanan jalan setapak, tirai tebal daun-daun serta sulur-suluran membuat orang enggan menyimpang sedikit pun dari jalan setapak itu.
Jalan ternyata berliku-liku, turun naik bukit pula! Udara panas luar biasa, sekalipun sinar matahari hampir tak tampak dalam rimba yang pekat itu. Dalam sekejap saja, tubuhnya sudah mulai memprotes siksaan yang tak terduga-duga itu. Kepalanya terasa berdenyut-denyut nyeri. Kaki bagaikan dibebani berkilo-kilo. Rongga dada serasa hendak meledak, menahan napas yang memburu sehingga menimbulkan desah yang ramai pula. Matanya mulai berkunang-kunang. Langkahnya pun sudah terhuyung-huyung dengan kepala merunduk berat. Ia benar-benar membutuhkan istirahat. Tetapi baru saja ia hendak minta kepada pengantarnya agar mereka berhenti dulu, telinganya menangkap suara orang ramai.
Ia mengangkat kepala. Mereka berada di puncak sebuah bukit. Di bawah terhampar pemandangan yang membuatnya terharu. Beratus-ratus ... tidak, beribu-ribu orang laki perempuan tampak hiruk-pikuk membuat barisan panjang menuju sebuah "rumah adat".
"Mereka ... ?" tanyanya heran pada pengantarnya.
"Ya," jawab yang ditanya, "mereka tahu Bapak akan datang. Mereka datang dari kampung-kampung yang tersebar di wilayah yang luas. Ada di antara mereka yang berjalan 3 hari 3 malam untuk berbakti bersama-sama."
3 hari 3 malam! Ia melihat, jam tangannya menunjukkan bahwa mereka sendiri berjalan tak lebih dari 2 jam.
Ia tak mampu berkata-kata lagi. Ia membayangkan perasaan yang mencekam diri Tuhan Yesus tatkala dilihatnya "orang banyak datang berbondong-bondong". Kehausan jiwa yang mencari kebenaran pada masa itu, sekarang pun masih begitu menonjol. Dan ini lebih dirasakannya lagi ketika kebaktian dimulainya. Suara-suara yang menaikkan puji-pujian dalam aneka nada memang jauh daripada indah, namun mampu menggugah hatinya kepada suatu kesadaran yang lebih mendalam, bahwa Kasih Tuhan ada di mana-mana. Jiwa-jiwa di kota gemerlapan atau di rimba belantara, sama di mata Tuhan. Tetapi kasih kepada Tuhan, kiranya tiada yang melebihi kasih yang ada di dalam hati manusia penghuni rimba ini. Murni dan teguh, demikianlah iman yang membuat mereka itu menjadi "indah". Diambil dan disunting seperlunya dari buku: Untaian Mutiara, Penulis: Betsy T., Penerbit: Penerbit Gandum Mas, Malang, halaman: 116 -- 118/Email kiriman dari Bapak Wawan S.T
*****
Personal Note:
Seorang bapak di Batam mengaku diberkati oleh buku "Mukjizat Kehidupan". "Kesaksian yang luar biasa!" katanya sembari bertanya apakah buku "Mukjizat Kehidupan" volume kedua sudah terbit. Namun beliau memesan buku tersebut lagi untuk dibagikan kepada teman-temannya. God bless you.
Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com
Sebuah pesawat terbang kecil berputar-putar mencari landasan di tengah-tengah rimba belantara Kalimantan. Sesaat kemudian, pesawat menukik dan mendarat dengan hati-hati. Sang pilot turun, disusul satu-satunya penumpang -- seorang hamba Tuhan yang diundang ke daerah itu untuk menyampaikan Kabar Baik dari sorga. Orang ini agak terkesiap menatap rombongan laki-laki yang rupanya telah berkumpul menyambut kedatangannya. Ketua rombongan maju memperkenalkan diri, dan setelah saling berjabat tangan, mereka pun mulai berbincang-bincang.
"Berapa jumlah penduduk desa Bapak?" tanyanya berbasa-basi kepada ketua rombongan. "Ini semua kepala keluarganya Pak Pendeta," jawab lelaki setengah usia itu sambil menunjuk pada rombongan penyambut.
Termangu-mangu, pak pendeta itu mendengarkan keterangan ini. Diam-diam dihitungnya orang-orang yang mengelilinginya. Hanya tiga puluh kepala! Tanpa disadarinya, terlintas dalam ingatannya gedung pertemuan yang mahaluas di Ottawa, Kanada, yang memuat lima ribu orang, yang menjadi penuh sesak tatkala mereka berdatangan untuk mendengarkan firman yang disampaikannya. Itu baru beberapa minggu yang lalu.
"Mari, Pak," kata ketua rombongan dengan ramah sambil membuat gerakan tangan, mempersilakannya berjalan. "Baik," katanya.
Terbersit dalam hatinya, sebuah harapan, semoga jarak yang kini harus ditempuhnya dengan berjalan kaki, tidaklah terlalu jauh.
Ternyata harapannya buyar. Mereka meninggalkan landasan pesawat itu, dan memasuki hutan rimba. Tak terpikirkan betapa mengerikan rimba itu! Hujan yang turun telah menciptakan kubangan-kubangan lumpur yang bercampur daun-daun membusuk. Bau yang menyebar dari kubangan-kubangan tersebut sungguh memuakkan! Di sana-sini tampak gundukan kotoran hewan, entah binatang liar ataukah hewan peliharaan penduduk. Di kiri kanan jalan setapak, tirai tebal daun-daun serta sulur-suluran membuat orang enggan menyimpang sedikit pun dari jalan setapak itu.
Jalan ternyata berliku-liku, turun naik bukit pula! Udara panas luar biasa, sekalipun sinar matahari hampir tak tampak dalam rimba yang pekat itu. Dalam sekejap saja, tubuhnya sudah mulai memprotes siksaan yang tak terduga-duga itu. Kepalanya terasa berdenyut-denyut nyeri. Kaki bagaikan dibebani berkilo-kilo. Rongga dada serasa hendak meledak, menahan napas yang memburu sehingga menimbulkan desah yang ramai pula. Matanya mulai berkunang-kunang. Langkahnya pun sudah terhuyung-huyung dengan kepala merunduk berat. Ia benar-benar membutuhkan istirahat. Tetapi baru saja ia hendak minta kepada pengantarnya agar mereka berhenti dulu, telinganya menangkap suara orang ramai.
Ia mengangkat kepala. Mereka berada di puncak sebuah bukit. Di bawah terhampar pemandangan yang membuatnya terharu. Beratus-ratus ... tidak, beribu-ribu orang laki perempuan tampak hiruk-pikuk membuat barisan panjang menuju sebuah "rumah adat".
"Mereka ... ?" tanyanya heran pada pengantarnya.
"Ya," jawab yang ditanya, "mereka tahu Bapak akan datang. Mereka datang dari kampung-kampung yang tersebar di wilayah yang luas. Ada di antara mereka yang berjalan 3 hari 3 malam untuk berbakti bersama-sama."
3 hari 3 malam! Ia melihat, jam tangannya menunjukkan bahwa mereka sendiri berjalan tak lebih dari 2 jam.
Ia tak mampu berkata-kata lagi. Ia membayangkan perasaan yang mencekam diri Tuhan Yesus tatkala dilihatnya "orang banyak datang berbondong-bondong". Kehausan jiwa yang mencari kebenaran pada masa itu, sekarang pun masih begitu menonjol. Dan ini lebih dirasakannya lagi ketika kebaktian dimulainya. Suara-suara yang menaikkan puji-pujian dalam aneka nada memang jauh daripada indah, namun mampu menggugah hatinya kepada suatu kesadaran yang lebih mendalam, bahwa Kasih Tuhan ada di mana-mana. Jiwa-jiwa di kota gemerlapan atau di rimba belantara, sama di mata Tuhan. Tetapi kasih kepada Tuhan, kiranya tiada yang melebihi kasih yang ada di dalam hati manusia penghuni rimba ini. Murni dan teguh, demikianlah iman yang membuat mereka itu menjadi "indah". Diambil dan disunting seperlunya dari buku: Untaian Mutiara, Penulis: Betsy T., Penerbit: Penerbit Gandum Mas, Malang, halaman: 116 -- 118/Email kiriman dari Bapak Wawan S.T
*****
Personal Note:
Seorang bapak di Batam mengaku diberkati oleh buku "Mukjizat Kehidupan". "Kesaksian yang luar biasa!" katanya sembari bertanya apakah buku "Mukjizat Kehidupan" volume kedua sudah terbit. Namun beliau memesan buku tersebut lagi untuk dibagikan kepada teman-temannya. God bless you.
Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com
Breast Cancer
Dalam acara Temu Pasien Kanker Payudara yang digelar atas kerjasama Sanofi Aventis dan RS Kanker Dharmais di Hotel Nikko, Jakarta, Rabu (19/8/2009), dr Maria A. Wijaksono, Cert.In PC, MPALL mengatakan bahwa seorang wanita yang divonis kanker payudara membutuhkan semangat dari semua pihak karena emosinya akan terguncang.
Maria mengatakan, umumnya terdapat lima fase reaksi emosional penderita ketika diberitahu penyakitnya ataupun mereka yang baru mengetahui penyakitnya di stadium yang sudah lanjut, yaitu :
1. Fase denial (menyangkal)
"Penderita biasanya mencoba menyangkal kenyataan, dan berkata 'pasti dokternya salah periksa' atau 'saya nggak mungkin kena kanker' setelah diberitahu kenyataan tersebut. Hal tersebut menurut Maria sangat wajar karena mereka masih belum siap menerima pil pahit tersebut.
2. Fase anger (marah)
Pada fase ini penderita marah terhadap kenyataan yang dihadapi. Biasanya mereka berujar 'kenapa harus saya yang kena?' dan emosinya akan melonjak-lonjak. Mereka menjadi sangat sensitif dan emosional.
3. Fase bargaining (menimbang)
Setelah merasa puas meluapkan rasa marah dan kecewanya, penderita pun kemudian menjadi seseorang yang penuh pertimbangan. Mereka menjadi ragu melakukan aktivitas dan memikirkan hal-hal buruk yang akan menimpa mereka.
4. Fase depression (depresi)
Fase ini adalah masa-masa tersulit untuk seorang wanita. "Mereka merasa kehilangan keutuhan pribadi dan integritasnya. Mereka berpikir 'saya tidak akan secantik dulu lagi', kehilangan kontrol, kebebasan, sosialisasi berkurang dan mereka menjadi lebih takut dengan kematian," ujar Maria.
5. Fase acceptance (sadar)
Disini penderita biasanya sudah mulai menerima kenyataan dan merasa harus melakukan sesuatu untuk menyembuhkan dirinya. Mereka juga biasanya mulai mendekatkan dan memasrahkan dirinya pada pengobatan dokter dan juga kuasa Tuhan.
Untuk dapat melewati semua tahapan itu, penderita butuh dukungan dari semua pihak. "Komunikasi yang baik dengan dokter, pasangan dan anak bisa membantu mereka melewati itu semua," ujar Maria. Peran support group juga sangat membantu karena dari situ mereka akan saling berbagi informasi dan menularkan semangat hidup.
Sudah banyak wanita yang sembuh dari kanker payudara, jadi jangan terlalu mendramatisir. Setiap penyakit ada obatnya, asalkan mau berusaha.
"Untuk stadium 1,2 dan 3 dianjurkan operasi, namun pilihan terapinya lainnya seperti kemoterapi, radioterapi dan hormonal juga bisa. Untuk stadium 3B memerlukan kombinasi terapi yaitu kemoterapi neoadjuvan, operasi, radioterapi dan terapi hormon. Sedangkan untuk stadium 4, dibutuhkan kombinasi ditambah dengan biphosponat dan sebagian melakukan operasi paliatif," ujar dr Asrul Harsal, SpPD, K-HOM.
Hidup memang tidak akan pernah semulus yang kita bayangkan. Tapi yang harus diingat, di balik setiap cobaan pasti ada hikmahnya. Berpikir positif dan merubah pola pikir negatif akan sangat membantu para penderita kanker atau siapa saja yang sedang dilanda ujian hidup.
"Kita tidak bisa mengubah kartu-kartu yang sudah dibagikan oleh Tuhan kepada kita, tinggal bagaimana cara kita memainkan kartu itu saja," ujar Maria mengutip salah satu kalimat yang dibuat oleh salah seorang penderita kanker payudara.
Oleh karena itu, terapkan pola hidup sehat dari sekarang. Kurangi menghirup asap rokok, polusi, makanan junk food dan perbanyaklah olahraga, konsumsi sayur dan buah. Ayo lawan kanker payudara, jangan menyerah sebelum waktunya. Sumber: Detik.com/Detik Health/Agustus 2009.
Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com
Maria mengatakan, umumnya terdapat lima fase reaksi emosional penderita ketika diberitahu penyakitnya ataupun mereka yang baru mengetahui penyakitnya di stadium yang sudah lanjut, yaitu :
1. Fase denial (menyangkal)
"Penderita biasanya mencoba menyangkal kenyataan, dan berkata 'pasti dokternya salah periksa' atau 'saya nggak mungkin kena kanker' setelah diberitahu kenyataan tersebut. Hal tersebut menurut Maria sangat wajar karena mereka masih belum siap menerima pil pahit tersebut.
2. Fase anger (marah)
Pada fase ini penderita marah terhadap kenyataan yang dihadapi. Biasanya mereka berujar 'kenapa harus saya yang kena?' dan emosinya akan melonjak-lonjak. Mereka menjadi sangat sensitif dan emosional.
3. Fase bargaining (menimbang)
Setelah merasa puas meluapkan rasa marah dan kecewanya, penderita pun kemudian menjadi seseorang yang penuh pertimbangan. Mereka menjadi ragu melakukan aktivitas dan memikirkan hal-hal buruk yang akan menimpa mereka.
4. Fase depression (depresi)
Fase ini adalah masa-masa tersulit untuk seorang wanita. "Mereka merasa kehilangan keutuhan pribadi dan integritasnya. Mereka berpikir 'saya tidak akan secantik dulu lagi', kehilangan kontrol, kebebasan, sosialisasi berkurang dan mereka menjadi lebih takut dengan kematian," ujar Maria.
5. Fase acceptance (sadar)
Disini penderita biasanya sudah mulai menerima kenyataan dan merasa harus melakukan sesuatu untuk menyembuhkan dirinya. Mereka juga biasanya mulai mendekatkan dan memasrahkan dirinya pada pengobatan dokter dan juga kuasa Tuhan.
Untuk dapat melewati semua tahapan itu, penderita butuh dukungan dari semua pihak. "Komunikasi yang baik dengan dokter, pasangan dan anak bisa membantu mereka melewati itu semua," ujar Maria. Peran support group juga sangat membantu karena dari situ mereka akan saling berbagi informasi dan menularkan semangat hidup.
Sudah banyak wanita yang sembuh dari kanker payudara, jadi jangan terlalu mendramatisir. Setiap penyakit ada obatnya, asalkan mau berusaha.
"Untuk stadium 1,2 dan 3 dianjurkan operasi, namun pilihan terapinya lainnya seperti kemoterapi, radioterapi dan hormonal juga bisa. Untuk stadium 3B memerlukan kombinasi terapi yaitu kemoterapi neoadjuvan, operasi, radioterapi dan terapi hormon. Sedangkan untuk stadium 4, dibutuhkan kombinasi ditambah dengan biphosponat dan sebagian melakukan operasi paliatif," ujar dr Asrul Harsal, SpPD, K-HOM.
Hidup memang tidak akan pernah semulus yang kita bayangkan. Tapi yang harus diingat, di balik setiap cobaan pasti ada hikmahnya. Berpikir positif dan merubah pola pikir negatif akan sangat membantu para penderita kanker atau siapa saja yang sedang dilanda ujian hidup.
"Kita tidak bisa mengubah kartu-kartu yang sudah dibagikan oleh Tuhan kepada kita, tinggal bagaimana cara kita memainkan kartu itu saja," ujar Maria mengutip salah satu kalimat yang dibuat oleh salah seorang penderita kanker payudara.
Oleh karena itu, terapkan pola hidup sehat dari sekarang. Kurangi menghirup asap rokok, polusi, makanan junk food dan perbanyaklah olahraga, konsumsi sayur dan buah. Ayo lawan kanker payudara, jangan menyerah sebelum waktunya. Sumber: Detik.com/Detik Health/Agustus 2009.
Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com
Tuesday, August 18, 2009
Burned Biscuits
Roti Hangus
Ketika saya masih kecil, ibu saya kadang-kadang suka mempersiapkan hidangan pagi untuk makan malam. Dan saya ingat bahwa pada suatu malam ibu saya mempersiapkan makan malam setelah seharian lelah bekerja. Pada malam itu beberapa tahun yang lalu, ibu saya menghidangkan telor, sosis dan roti hangus di hadapan ayah. Saya ingat bahwa saya menunggu apakah ada orang lain yang memperhatikan hal itu. Namun ayah saya meraih roti itu, tersenyum kepada ibu dan bertanya kepada saya bagaimana sekolah saya pada hari itu. Saya tidak ingat lagi apa yang saya katakan kepadanya, namun saya sangat ingat benar bahwa ayah mengoleskan mentega dan selai pada roti itu dan menelan semuanya.
Ketika saya bangkit dari meja makan pada malam itu, saya mendengar bahwa ibu saya memohon maaf kepada ayah atas roti yang hangus itu. Dan saya takkan pernah melupakan apa yang ayah katakan, “Sayang, saya menyukai roti hangus juga koq.”
Kemudian pada malam itu saya mencium ayah sambil mengucapkan selamat malam dan saya juga bertanya apa benar dia sungguh-sungguh menyukai roti hangus. Dia memeluk saya dan berkata, “Ibumu sudah bekerja keras seharian dan dia sungguh-sungguh kelelahan. Selain itu, roti hangus tidak terlalu membahayakan siapapun.”
Anda tahu, hidup ini penuh hal-hal yang tak sempurna… dan orang-orang tak sempurna. Saya bukanlah ibu rumah tangga atau jurumasak terbaik. Apa yang saya pelajari selama beberapa tahun adalah bahwa belajar menerima kesalahan orang lain dan menyambut perbedaan satu sama lain merupakan kunci yang penting untuk menciptakan hubungan yang bertumbuh, sehat dan tahan lama.
Dan inilah doaku bagi Anda pada hari ini. Semoga Anda akan belajar menerima bagian yang baik, buruk, atau sangat buruk dalam kehidupanmu dan menyerahkan semua itu di kaki Tuhan karena pada akhirnya, Dialah satu-satunya Pribadi yang mampu memberikan Anda hubungan dimana roti hangus bukanlah perusak suasana.
Kita dapat mengaitkan hal ini pada setiap hubungan apapun, karena saling pengertian merupakan dasar dari setiap hubungan, apakah itu hubungan suami istri maupun hubungan orang tua anak dan hubungan persahabatan!
“Jangan taruh kunci kebahagianmu di kantong orang lain, jangan menggantungkan diri kebahagiaanmu pada orang lain, taruhlah kunci itu di saku Anda sendiri.”
Penulis Tak Dikenal/God's Work Ministry Email/Email dikirim oleh Bpk. Wawan S.T/Diterjemahkan oleh Hadi Kristadi untuk Pentas Kesaksian, http://pentas-kesaksian.blogspot.com pada tanggal 18 Agustus 2009.
******
BURNED BISCUITS
When I was a little child, my mom liked to make breakfast food for dinner every now and then. And I remember one night in particular when she had made breakfast after a long, hard day at work. On that evening so long ago, my mom placed a plate of eggs, sausage and extremely burned biscuits in front of my dad. I remember waiting to see if anyone noticed! Yet all my dad did was reach for his biscuit, smile at my mom and ask me how my day was at school. I don't remember what I told him that night, but I do remember watching him smear butter and jelly on that biscuit and eat every bite!
When I got up from the table that evening, I remember hearing my mom apologize to my dad for burning the biscuits. And I'll never forget what he said: “Baby, I love burned biscuits.”
Later that night, I went to kiss Daddy good night and I asked him if he really liked his biscuits burned. He wrapped me in his arms and said, “Your Momma put in a hard day at work today and she's real tired. And besides - a little burned biscuit never hurt anyone!”
You know, life is full of imperfect things...and imperfect people. I'm not the best housekeeper or cook. What I've learned over the years is that learning to accept each other's faults - and choosing to celebrate each other's differences - is one of the most important keys to creating a healthy, growing, and lasting relationship.
And that's my prayer for you today. That you will learn to take the good, the bad, and the ugly parts of your life and lay them at the feet of God...Because in the end, He's the only One who will be able to give you a relationship where a burnt biscuit isn't a deal-breaker!
We could extend this to any relationship in fact - as understanding is the base of any relationship, be it a husband-wife or parent-child or friendship!
“Don't put the key to your happiness in someone else's pocket - keep it in your own.”
Author Unknown
Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com
Ketika saya masih kecil, ibu saya kadang-kadang suka mempersiapkan hidangan pagi untuk makan malam. Dan saya ingat bahwa pada suatu malam ibu saya mempersiapkan makan malam setelah seharian lelah bekerja. Pada malam itu beberapa tahun yang lalu, ibu saya menghidangkan telor, sosis dan roti hangus di hadapan ayah. Saya ingat bahwa saya menunggu apakah ada orang lain yang memperhatikan hal itu. Namun ayah saya meraih roti itu, tersenyum kepada ibu dan bertanya kepada saya bagaimana sekolah saya pada hari itu. Saya tidak ingat lagi apa yang saya katakan kepadanya, namun saya sangat ingat benar bahwa ayah mengoleskan mentega dan selai pada roti itu dan menelan semuanya.
Ketika saya bangkit dari meja makan pada malam itu, saya mendengar bahwa ibu saya memohon maaf kepada ayah atas roti yang hangus itu. Dan saya takkan pernah melupakan apa yang ayah katakan, “Sayang, saya menyukai roti hangus juga koq.”
Kemudian pada malam itu saya mencium ayah sambil mengucapkan selamat malam dan saya juga bertanya apa benar dia sungguh-sungguh menyukai roti hangus. Dia memeluk saya dan berkata, “Ibumu sudah bekerja keras seharian dan dia sungguh-sungguh kelelahan. Selain itu, roti hangus tidak terlalu membahayakan siapapun.”
Anda tahu, hidup ini penuh hal-hal yang tak sempurna… dan orang-orang tak sempurna. Saya bukanlah ibu rumah tangga atau jurumasak terbaik. Apa yang saya pelajari selama beberapa tahun adalah bahwa belajar menerima kesalahan orang lain dan menyambut perbedaan satu sama lain merupakan kunci yang penting untuk menciptakan hubungan yang bertumbuh, sehat dan tahan lama.
Dan inilah doaku bagi Anda pada hari ini. Semoga Anda akan belajar menerima bagian yang baik, buruk, atau sangat buruk dalam kehidupanmu dan menyerahkan semua itu di kaki Tuhan karena pada akhirnya, Dialah satu-satunya Pribadi yang mampu memberikan Anda hubungan dimana roti hangus bukanlah perusak suasana.
Kita dapat mengaitkan hal ini pada setiap hubungan apapun, karena saling pengertian merupakan dasar dari setiap hubungan, apakah itu hubungan suami istri maupun hubungan orang tua anak dan hubungan persahabatan!
“Jangan taruh kunci kebahagianmu di kantong orang lain, jangan menggantungkan diri kebahagiaanmu pada orang lain, taruhlah kunci itu di saku Anda sendiri.”
Penulis Tak Dikenal/God's Work Ministry Email/Email dikirim oleh Bpk. Wawan S.T/Diterjemahkan oleh Hadi Kristadi untuk Pentas Kesaksian, http://pentas-kesaksian.blogspot.com pada tanggal 18 Agustus 2009.
******
BURNED BISCUITS
When I was a little child, my mom liked to make breakfast food for dinner every now and then. And I remember one night in particular when she had made breakfast after a long, hard day at work. On that evening so long ago, my mom placed a plate of eggs, sausage and extremely burned biscuits in front of my dad. I remember waiting to see if anyone noticed! Yet all my dad did was reach for his biscuit, smile at my mom and ask me how my day was at school. I don't remember what I told him that night, but I do remember watching him smear butter and jelly on that biscuit and eat every bite!
When I got up from the table that evening, I remember hearing my mom apologize to my dad for burning the biscuits. And I'll never forget what he said: “Baby, I love burned biscuits.”
Later that night, I went to kiss Daddy good night and I asked him if he really liked his biscuits burned. He wrapped me in his arms and said, “Your Momma put in a hard day at work today and she's real tired. And besides - a little burned biscuit never hurt anyone!”
You know, life is full of imperfect things...and imperfect people. I'm not the best housekeeper or cook. What I've learned over the years is that learning to accept each other's faults - and choosing to celebrate each other's differences - is one of the most important keys to creating a healthy, growing, and lasting relationship.
And that's my prayer for you today. That you will learn to take the good, the bad, and the ugly parts of your life and lay them at the feet of God...Because in the end, He's the only One who will be able to give you a relationship where a burnt biscuit isn't a deal-breaker!
We could extend this to any relationship in fact - as understanding is the base of any relationship, be it a husband-wife or parent-child or friendship!
“Don't put the key to your happiness in someone else's pocket - keep it in your own.”
Author Unknown
Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com
Saturday, August 15, 2009
Things I Cannot Understand
Perkara-Perkara Yang Tak Kupahami
“Itulah sebabnya, tanpa pengertian aku telah bercerita tentang hal-hal yang sangat ajaib bagiku dan yang tidak kuketahui,” (Ayub 42:3)
Jika ada satu orang di bumi yang paling mempunyai alasan untuk mempertanyakan kasih Allah, dialah Ayub. Dia kehilangan seluruh anak-anaknya, kekayaannya, dan kesehatannya – semua pada saat yang hampir bersamaan. Sahabat-sahabatnya datang ke sisinya hanya untuk menyelidiki kondisi kerohanian Ayub. Allah sudah menjawab pertanyaan tentang integritas Ayub. Ayub disebutkan dalam ayat pembukaan dari kitab itu sebagai orang yang saleh dan jujur, takut akan Allah dan menjauhi kejahatan (Lihat Ayub 1:1). Malapetaka yang menimpa dia bukan terjadi akibat dosanya. Ayub mengakui hak Allah untuk melakukan apapun dalam kehidupannya sampai suatu hari dia tidak tahan lagi. Ayub mempertanyakan maksud-maksud Allah mengizinkan penderitaan itu terjadi dalam hidupnya.
Allah menjawab Ayub, namun bukan dengan cara yang ingin didengar Ayub. Allah menjawabnya dengan serangkaian pertanyaan yang menunjukkan rangkaian koreksi yang luar biasa oleh Allah terhadap manusia. Tiga pasal kemudian, Ayub menyadari bahwa dia telah keliru mempertanyakan maksud-maksud sang Maha Pencipta Semesta, Pencipta Kasih. Ayub jatuh tersungkur di kaki sang Pencipta dan menyadari seluruh kekeliruannya. “Itulah sebabnya, tanpa pengertian aku telah bercerita tentang hal-hal yang sangat ajaib bagiku dan yang tidak kuketahui,” kata Ayub.
Apakah Anda pernah mempertanyakan perbuatan-perbuatan Allah dalam kehidupanmu? Apakah Anda pernah mempertanyakan kasih-Nya bagi Anda hanya berdasarkan keadaan-keadaan yang menimpa kehidupanmu? Salib di Kalvari menjawab pertanyaan kasih Allah terhadap Anda. Dia mengirimkan Anak-Nya yang Tunggal untuk menebus dosamu. Jika seandainya saja Anda adalah satu-satunya orang di muka bumi ini, Dia akan tetap mau mati di kayu salib bagi Anda seorang. Jalan-jalan-Nya tak selalu dapat dipahami atau dicocokkan dengan pikiran kita dalam keterbatasan otak kita. Ada hal-hal yang hanya ada di masa mendatang ketika semuanya dapat kita mengerti. Sementara itu, untuk masa kini, percayakanlah kehidupanmu sepenuhnya kepada Dia. Berpeganganlah kepada-Nya di masa sukar atau dalam keadaan semua baik-baik saja. Ditulis oleh Os Hillman, diterjemahkan oleh Hadi Kristadi untuk Pentas Kesaksian, http://pentas-kesaksian.blogspot.com pada tanggal 15 Agustus 2009.
*****
Things I Cannot Understand
"Surely I spoke of things I did not understand, things too wonderful for me to know." Job 42:3b
If there was any one man on earth who had reason to question God's love, it was Job. He lost his family, his health, and his wealth - all at the same time. His friends came to his side only to question his spirituality. God had already answered the question of his integrity. Job was described in the opening verses of the book as "blameless and upright" (see Job 1:1). His calamities were not born from sin. Job acknowledged God's right to do anything in his life until one day he could take it no longer. He questioned God's motives.
God answered Job, but not in the way he wanted to hear. God answered him with a series of questions that represents the most incredible discourse of correction by God to any human being. Three chapters later, Job realized that he had questioned the motives of the Author of the universe, the Author of love. He fell flat before his Creator and realized his total depravity. "Surely I spoke of things I did not understand, things too wonderful for me to know."
Have you ever questioned God's activity in your life? Have you questioned His love for you based on circumstances that came your way? The cross at Calvary answers the love question. He sent His own Son in replacement for your sin. If you were the only person on earth, He would have done the same. His ways cannot always be understood or reconciled in our finite minds. That must be left for a future time when all will be understood. For now, entrust your life to Him completely. Embrace Him in the hard times and the good. Os Hillman
Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com
“Itulah sebabnya, tanpa pengertian aku telah bercerita tentang hal-hal yang sangat ajaib bagiku dan yang tidak kuketahui,” (Ayub 42:3)
Jika ada satu orang di bumi yang paling mempunyai alasan untuk mempertanyakan kasih Allah, dialah Ayub. Dia kehilangan seluruh anak-anaknya, kekayaannya, dan kesehatannya – semua pada saat yang hampir bersamaan. Sahabat-sahabatnya datang ke sisinya hanya untuk menyelidiki kondisi kerohanian Ayub. Allah sudah menjawab pertanyaan tentang integritas Ayub. Ayub disebutkan dalam ayat pembukaan dari kitab itu sebagai orang yang saleh dan jujur, takut akan Allah dan menjauhi kejahatan (Lihat Ayub 1:1). Malapetaka yang menimpa dia bukan terjadi akibat dosanya. Ayub mengakui hak Allah untuk melakukan apapun dalam kehidupannya sampai suatu hari dia tidak tahan lagi. Ayub mempertanyakan maksud-maksud Allah mengizinkan penderitaan itu terjadi dalam hidupnya.
Allah menjawab Ayub, namun bukan dengan cara yang ingin didengar Ayub. Allah menjawabnya dengan serangkaian pertanyaan yang menunjukkan rangkaian koreksi yang luar biasa oleh Allah terhadap manusia. Tiga pasal kemudian, Ayub menyadari bahwa dia telah keliru mempertanyakan maksud-maksud sang Maha Pencipta Semesta, Pencipta Kasih. Ayub jatuh tersungkur di kaki sang Pencipta dan menyadari seluruh kekeliruannya. “Itulah sebabnya, tanpa pengertian aku telah bercerita tentang hal-hal yang sangat ajaib bagiku dan yang tidak kuketahui,” kata Ayub.
Apakah Anda pernah mempertanyakan perbuatan-perbuatan Allah dalam kehidupanmu? Apakah Anda pernah mempertanyakan kasih-Nya bagi Anda hanya berdasarkan keadaan-keadaan yang menimpa kehidupanmu? Salib di Kalvari menjawab pertanyaan kasih Allah terhadap Anda. Dia mengirimkan Anak-Nya yang Tunggal untuk menebus dosamu. Jika seandainya saja Anda adalah satu-satunya orang di muka bumi ini, Dia akan tetap mau mati di kayu salib bagi Anda seorang. Jalan-jalan-Nya tak selalu dapat dipahami atau dicocokkan dengan pikiran kita dalam keterbatasan otak kita. Ada hal-hal yang hanya ada di masa mendatang ketika semuanya dapat kita mengerti. Sementara itu, untuk masa kini, percayakanlah kehidupanmu sepenuhnya kepada Dia. Berpeganganlah kepada-Nya di masa sukar atau dalam keadaan semua baik-baik saja. Ditulis oleh Os Hillman, diterjemahkan oleh Hadi Kristadi untuk Pentas Kesaksian, http://pentas-kesaksian.blogspot.com pada tanggal 15 Agustus 2009.
*****
Things I Cannot Understand
"Surely I spoke of things I did not understand, things too wonderful for me to know." Job 42:3b
If there was any one man on earth who had reason to question God's love, it was Job. He lost his family, his health, and his wealth - all at the same time. His friends came to his side only to question his spirituality. God had already answered the question of his integrity. Job was described in the opening verses of the book as "blameless and upright" (see Job 1:1). His calamities were not born from sin. Job acknowledged God's right to do anything in his life until one day he could take it no longer. He questioned God's motives.
God answered Job, but not in the way he wanted to hear. God answered him with a series of questions that represents the most incredible discourse of correction by God to any human being. Three chapters later, Job realized that he had questioned the motives of the Author of the universe, the Author of love. He fell flat before his Creator and realized his total depravity. "Surely I spoke of things I did not understand, things too wonderful for me to know."
Have you ever questioned God's activity in your life? Have you questioned His love for you based on circumstances that came your way? The cross at Calvary answers the love question. He sent His own Son in replacement for your sin. If you were the only person on earth, He would have done the same. His ways cannot always be understood or reconciled in our finite minds. That must be left for a future time when all will be understood. For now, entrust your life to Him completely. Embrace Him in the hard times and the good. Os Hillman
Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com
Friday, August 14, 2009
Life Is About Decision
Saya lahir di kota Solo, kota kecil yang tenang dan damai, dan dibesarkan dalam keluarga Kristen yang cukup harmonis. Saya anak bungsu dari tiga bersaudara dan satu-satunya anak perempuan dalam keluarga. Saya dimanja lebih dari kedua kakak laki-laki saya. Hal itu membuat saya menjadi anak yang manja, keras kepala dan egois.
Singkat cerita, kehidupan saya mulai berubah sejak duduk di bangku SMP. Papa yang sedang berada di puncak kariernya tiba-tiba berubah drastis. Papa yang tidak pernah kasar dan selalu menyayangi keluarga, tiba-tiba menjadi pemarah dan jarang pulang ke rumah. Maka mama yang menjadi korban. Sampai akhirnya mama berpikir untuk bercerai.
Thank God, it never happened. Tapi keadaan rumah semakin memburuk, ekonomi keluarga semakin menurun dan papa semakin jarang pulang. Setiap malam saya melihat mama berdoa dan itu berlangsung selama tiga tahun.
Cerita berlanjut saat saya masuk kelas 1 SMA. Saya diajak oleh teman untuk bergabung dalam satu gereja yang cukup terkenal di Solo. Saya mulai melayani, namun tidak merasakan pertumbuhan secara rohani maupun mental di gereja tersebut. Yang ada, saya melayani hanya untuk mengisi waktu luang, mengisi kekosongan hati, serta sebagai alasan untuk keluar sesering mungkin dari rumah.
Perlahan keadaan keluarga mulai membaik. Papa mulai kembali menjadi papa yang saya kenal dahulu. Walaupun keadaan ekonomi belum membaik, karena saat itu papa sempat ditipu oleh temannya sendiri. Perubahan yang paling saya rasakan dalam diri saya adalah bagaimana saya yang suka membantah, mencoba untuk menjadi anak yang penurut dan perhatian terhadap mama. Hubungan saya dengan mama membaik.
Kemudian saya memutuskan untuk menghentikan studi di Solo, lalu melanjutkan sekolah fesyen di Jakarta. Beberapa minggu pertama saya tinggal di Jakarta, saya sangat kangen terhadap mama. Setiap hari saya menelpon mama, namun saya tak bernah bisa berbicara dengannya. Kakak saya sering mengatakan bahwa mama sedang tidur karena pengaruh obat.
Suatu hari tiba-tiba saya mendapat kabar bahwa mama sakit kanker. Saya sangat kaget dan tidak percaya. Mama dibawa berobat ke Jakarta, namun kesehatannya tidak kunjung membaik, dan akhirnya kembali dibawa pulang ke Solo. Saya ikut menemaninya dan mengambil cuti kuliah selama kurang lebih tiga bulan. Singkat cerita, ternyata mama harus meninggalkan kami semua begitu cepat. Sementara saya harus melanjutkan hidup di Jakarta.
Setelah kejadian itu saya mulai menjauh dari Tuhan. Saya merasa bahwa Tuhan tidak mengasihi saya. Saya juga merasa kehilangan arah setelah mama meninggal.
Satu bulan berlalu, kakak seppu saya mengenalkan saya pada seorang teman yang kemudian mengenalkan saya ke gereja JPCC. Pertama-tama ke JPCC hanya sebatas rutinitas untuk menghargai kakak sepupu saya, tetapi lama kelamaan saya melihat sesuatu yang berbeda di JPCC. Bukan hanya gereja yang mengkhotbahkan omong kosong, tetapi gereja yang mempunyai nilai-nilai (values) dan releevan di dalam kehidupan sehari-hari.
Akhirnya saya pun bergabung di Date (Komsel), dan komunitas baru, yaitu Oxygen, komunitas yang sangat berbeda dari komunitas yang lama. Di sini saya merasa disambut, dihargai, dipedulikan dan diajarkan untuk menjadi orang yang berani, optimis. Saat ini saya memiliki keluarga yang bahkan lebih dekat dan lebih perhatian dari keluarga saya sendiri. Sumber: Buletin "Breaking", Agustus 2009.
Ditulis/diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com
Singkat cerita, kehidupan saya mulai berubah sejak duduk di bangku SMP. Papa yang sedang berada di puncak kariernya tiba-tiba berubah drastis. Papa yang tidak pernah kasar dan selalu menyayangi keluarga, tiba-tiba menjadi pemarah dan jarang pulang ke rumah. Maka mama yang menjadi korban. Sampai akhirnya mama berpikir untuk bercerai.
Thank God, it never happened. Tapi keadaan rumah semakin memburuk, ekonomi keluarga semakin menurun dan papa semakin jarang pulang. Setiap malam saya melihat mama berdoa dan itu berlangsung selama tiga tahun.
Cerita berlanjut saat saya masuk kelas 1 SMA. Saya diajak oleh teman untuk bergabung dalam satu gereja yang cukup terkenal di Solo. Saya mulai melayani, namun tidak merasakan pertumbuhan secara rohani maupun mental di gereja tersebut. Yang ada, saya melayani hanya untuk mengisi waktu luang, mengisi kekosongan hati, serta sebagai alasan untuk keluar sesering mungkin dari rumah.
Perlahan keadaan keluarga mulai membaik. Papa mulai kembali menjadi papa yang saya kenal dahulu. Walaupun keadaan ekonomi belum membaik, karena saat itu papa sempat ditipu oleh temannya sendiri. Perubahan yang paling saya rasakan dalam diri saya adalah bagaimana saya yang suka membantah, mencoba untuk menjadi anak yang penurut dan perhatian terhadap mama. Hubungan saya dengan mama membaik.
Kemudian saya memutuskan untuk menghentikan studi di Solo, lalu melanjutkan sekolah fesyen di Jakarta. Beberapa minggu pertama saya tinggal di Jakarta, saya sangat kangen terhadap mama. Setiap hari saya menelpon mama, namun saya tak bernah bisa berbicara dengannya. Kakak saya sering mengatakan bahwa mama sedang tidur karena pengaruh obat.
Suatu hari tiba-tiba saya mendapat kabar bahwa mama sakit kanker. Saya sangat kaget dan tidak percaya. Mama dibawa berobat ke Jakarta, namun kesehatannya tidak kunjung membaik, dan akhirnya kembali dibawa pulang ke Solo. Saya ikut menemaninya dan mengambil cuti kuliah selama kurang lebih tiga bulan. Singkat cerita, ternyata mama harus meninggalkan kami semua begitu cepat. Sementara saya harus melanjutkan hidup di Jakarta.
Setelah kejadian itu saya mulai menjauh dari Tuhan. Saya merasa bahwa Tuhan tidak mengasihi saya. Saya juga merasa kehilangan arah setelah mama meninggal.
Satu bulan berlalu, kakak seppu saya mengenalkan saya pada seorang teman yang kemudian mengenalkan saya ke gereja JPCC. Pertama-tama ke JPCC hanya sebatas rutinitas untuk menghargai kakak sepupu saya, tetapi lama kelamaan saya melihat sesuatu yang berbeda di JPCC. Bukan hanya gereja yang mengkhotbahkan omong kosong, tetapi gereja yang mempunyai nilai-nilai (values) dan releevan di dalam kehidupan sehari-hari.
Akhirnya saya pun bergabung di Date (Komsel), dan komunitas baru, yaitu Oxygen, komunitas yang sangat berbeda dari komunitas yang lama. Di sini saya merasa disambut, dihargai, dipedulikan dan diajarkan untuk menjadi orang yang berani, optimis. Saat ini saya memiliki keluarga yang bahkan lebih dekat dan lebih perhatian dari keluarga saya sendiri. Sumber: Buletin "Breaking", Agustus 2009.
Ditulis/diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com
Thursday, August 13, 2009
Choose Faith Instead of Fear
Pilihlah Iman, Bukan Ketakutan
Firman Tuhan Hari Ini:
Bukankah telah Kuperintahkan kepadamu: "Kuatkan dan teguhkanlah hatimu? Janganlah kecut dan tawar hati, sebab TUHAN, Allahmu, menyertai engkau, ke manapun engkau pergi." (Yosua 1:9)
Firman Tuhan Melalui Joel dan Victoria Osteen
Apakah anda tahu bahwa ketakutan itu bekerja seperti halnya iman, namun dengan arah yang berlawanan? Sama halnya iman membuka pintu bagi Allah untuk bekerja dalam kehidupan kita, ketakutan juga bekerja bagi musuh untuk melakukan sesuatu dalam kehidupan kita.
Alkitab berkata bahwa ketakutan itu membawa penyiksaan. Ketakutan tidak memiliki belas kasihan. Jika anda bertindak berdasarkan ketakutan, bukannya atas dasar iman, hal itu akan membuat anda depresi, sengsara dan kesepian. Dan begitu banyak orang pada hari ini kehilangan sukacita, damai sejahtera dan kemenangan dari Allah hanya karena mereka terus mengalah pada ketakutan. Mereka memanjakan ketakutan dan memberi makan pada ketakutan melalui apa yang mereka lihat di TV atau dari film-film. Jangan biarkan anda seperti itu! Kitab Roma menyatakan bahwa iman datang dari pendengaran akan firman Allah. Semakin banyak anda mengisi hati dan pikiran anda dengan firman Allah, semakin kuat anda dalam menghadapi kekuatan dari dunia kegelapan. Pilihlah iman, bukannya ketakutan, dengan memilih firman Allah.
Ingatlah selalu bahwa kekuatan yang ada di dalam kita jauh lebih dahsyat daripada kekuatan ketakutan. Ketika datang pikiran yang mengatakan, "Kamu tidak mampu.", pilihlah beriman dengan mengatakan, "Segala perkara dapat kutanggung di dalam Kristus Yesus yang memberi kekuatan kepadaku." Sekarang pilihlah iman sehingga anda dapat mengalahkan ketakutan dan hidup dalam kebebasan yang telah disediakan Allah bagi anda. (Diterjemahkan oleh Hadi Kristadi untuk Pentas Kesaksian, http://pentas-kesaksian.blogspot.com)
*****
TODAY'S SCRIPTURE
"This is my command–be strong and courageous! Do not be afraid or discouraged. For the Lord your God is with you wherever you go"
(Joshua 1:9, NLT).
TODAY'S WORD from Joel and Victoria
Did you know that fear works just like faith but in the opposite direction? In the same way that faith opens the door for God to work in our lives; fear opens the door for the enemy to work in our lives.
The Bible says that fear has torment. Fear has no mercy. If you act on fear instead of acting on faith, it will keep you depressed, miserable and lonely. And so many people today are missing out on God's joy, peace, and victory because they keep giving in to fear. They feed fear by what they watch on TV or at the movies. Don't let that be you! Romans tells us that faith comes by hearing the Word of God. The more you fill your heart and mind with God's Word, the stronger you will be to stand against the powers of darkness. Choose faith instead of fear by choosing God's Word.
Remember, the power that is in you is greater than the power of fear. When thoughts come that say, "You're not able", choose faith by saying, "I can do all things through Christ!" Choose faith today so you can overcome fear and live in the freedom God has in store for you!
Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com
Firman Tuhan Hari Ini:
Bukankah telah Kuperintahkan kepadamu: "Kuatkan dan teguhkanlah hatimu? Janganlah kecut dan tawar hati, sebab TUHAN, Allahmu, menyertai engkau, ke manapun engkau pergi." (Yosua 1:9)
Firman Tuhan Melalui Joel dan Victoria Osteen
Apakah anda tahu bahwa ketakutan itu bekerja seperti halnya iman, namun dengan arah yang berlawanan? Sama halnya iman membuka pintu bagi Allah untuk bekerja dalam kehidupan kita, ketakutan juga bekerja bagi musuh untuk melakukan sesuatu dalam kehidupan kita.
Alkitab berkata bahwa ketakutan itu membawa penyiksaan. Ketakutan tidak memiliki belas kasihan. Jika anda bertindak berdasarkan ketakutan, bukannya atas dasar iman, hal itu akan membuat anda depresi, sengsara dan kesepian. Dan begitu banyak orang pada hari ini kehilangan sukacita, damai sejahtera dan kemenangan dari Allah hanya karena mereka terus mengalah pada ketakutan. Mereka memanjakan ketakutan dan memberi makan pada ketakutan melalui apa yang mereka lihat di TV atau dari film-film. Jangan biarkan anda seperti itu! Kitab Roma menyatakan bahwa iman datang dari pendengaran akan firman Allah. Semakin banyak anda mengisi hati dan pikiran anda dengan firman Allah, semakin kuat anda dalam menghadapi kekuatan dari dunia kegelapan. Pilihlah iman, bukannya ketakutan, dengan memilih firman Allah.
Ingatlah selalu bahwa kekuatan yang ada di dalam kita jauh lebih dahsyat daripada kekuatan ketakutan. Ketika datang pikiran yang mengatakan, "Kamu tidak mampu.", pilihlah beriman dengan mengatakan, "Segala perkara dapat kutanggung di dalam Kristus Yesus yang memberi kekuatan kepadaku." Sekarang pilihlah iman sehingga anda dapat mengalahkan ketakutan dan hidup dalam kebebasan yang telah disediakan Allah bagi anda. (Diterjemahkan oleh Hadi Kristadi untuk Pentas Kesaksian, http://pentas-kesaksian.blogspot.com)
*****
TODAY'S SCRIPTURE
"This is my command–be strong and courageous! Do not be afraid or discouraged. For the Lord your God is with you wherever you go"
(Joshua 1:9, NLT).
TODAY'S WORD from Joel and Victoria
Did you know that fear works just like faith but in the opposite direction? In the same way that faith opens the door for God to work in our lives; fear opens the door for the enemy to work in our lives.
The Bible says that fear has torment. Fear has no mercy. If you act on fear instead of acting on faith, it will keep you depressed, miserable and lonely. And so many people today are missing out on God's joy, peace, and victory because they keep giving in to fear. They feed fear by what they watch on TV or at the movies. Don't let that be you! Romans tells us that faith comes by hearing the Word of God. The more you fill your heart and mind with God's Word, the stronger you will be to stand against the powers of darkness. Choose faith instead of fear by choosing God's Word.
Remember, the power that is in you is greater than the power of fear. When thoughts come that say, "You're not able", choose faith by saying, "I can do all things through Christ!" Choose faith today so you can overcome fear and live in the freedom God has in store for you!
Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com
Wednesday, August 12, 2009
Anchor and Storm
Seorang kapten angkatan laut mengajukan beberapa pertanyaan kepada seorang angkatan laut muda.
"Apa yang akan kamu lakukan jika tiba-tiba ada badai?"
"Saya akan melemparkan jangkar, Pak!"
"Apa yang akan kamu lakukan jika ada badai datang lagi?"
"Saya akan melemparkan jangkar yang lain, Pak!"
"Nah, terus bagaimana kalau ada badai ketiga yang menyerang?"
"Saya akan melemparkan jangkar yang ketiga, Pak!"
"Tunggu dulu, Nak. Dari mana kamu dapatkan jangkar sebanyak itu?"
"Dari tempat yang sama dimana Bapak mendapatkan badai itu."
Sumber: Mix, Buletin Youth Abbalove, Agustus 2009.
Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com
"Apa yang akan kamu lakukan jika tiba-tiba ada badai?"
"Saya akan melemparkan jangkar, Pak!"
"Apa yang akan kamu lakukan jika ada badai datang lagi?"
"Saya akan melemparkan jangkar yang lain, Pak!"
"Nah, terus bagaimana kalau ada badai ketiga yang menyerang?"
"Saya akan melemparkan jangkar yang ketiga, Pak!"
"Tunggu dulu, Nak. Dari mana kamu dapatkan jangkar sebanyak itu?"
"Dari tempat yang sama dimana Bapak mendapatkan badai itu."
Sumber: Mix, Buletin Youth Abbalove, Agustus 2009.
Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com
Tuesday, August 11, 2009
My Life As A Pharisee
Hidup Saya Sebagai Seorang Farisi
Sebagai orang yang tumbuh di gereja, saya selalu menyamakan diri saya dengan kisah dalam Alkitab tentang "orang-orang baik" -- rendah hati, jujur, berkepribadian kuat-- yang dinyatakan dalam firman Tuhan. Kisah perempuan yang membasuh kaki Yesus dengan rambutnya juga termasuk di dalamnya. Saya tahu bahwa saya seorang pendosa yang telah diselamatkan karena kasih karunia. Dan tentu saja, saya mengasihi dan menyembah Yesus sama banyaknya dengan perempuan itu.
Saya tidak seperti orang Farisi yang tidak memahami bahwa ia memerlukan pengampunan Yesus. Tepat sebelum ulang tahun saya yang kesembilan belas, saya digerakkan untuk masuk ke sekolah Alkitab.
Semuanya karena komentar orang mengenai hubungan saya dengan Tuhan
Saya sangat percaya diri terhadap respek mereka, tapi saya mendapati bahwa saya masuk ke dalam perangkap "kesan baik". Saya dibesarkan dan diasuh oleh orang tua Kristen, dan terus bertumbuh dengan mendengarkan nasihat ayah yang penuh hikmat. Hal tersebut memberikan manfaat yang sangat baik. Lagipula, saya adalah orang yang membawa damai, memiliki rasa humor, dan tidak mudah marah. Orang-orang cenderung menyukai saya, dan saya menyukai mereka karena mereka juga menyukai saya.
Sekalipun demikian, saya ragu bagaimana selama semester kedua kuliah saya, orang-orang sering datang ke kamar saya. Mereka meminta nasihat dan dukungan. Teman sekamar saya mengejek dan mengancam akan memasang tanda "Konselor PERGI". Sementara orang banyak meminta pertolongan, saya mulai dijangkiti dengan "merasa penting". Perasaan itu mulai berada di luar kendali dan menggeser fokus saya kepada Tuhan. Saya semakin pintar untuk berbangga diri. Itu sama sekali tidak dapat diterima dan sungguh-sungguh merusak kerendahan hati. Namun, hati saya tidak dapat meyakini bahwa Tuhan seharusnya disenangkan karena saya ada di dalam tim kerja-Nya.
Mengundang Yesus Menjadi Tamu Saya
Sementara saya merasa bahwa respek orang lain semakin membanggakan diri saya, ego saya pun tumbuh semakin kuat. Jauh di dalam hati, saya tahu bahwa semua itu tidak baik. Saya seperti berada di sebuah kereta api yang melaju cepat dan saya tidak yakin mampu menghentikannya, bahkan jika saya menginginkannya. Namun kenyataannya, saya tidak menginginkannya. Saya menikmatinya dan berharap hal itu akan berlanjut. Saya ingin Yesus hadir dalam hidup saya. Namun, saya tidak siap untuk kehilangan "pelayanan" saya yang sedang tumbuh dengan cara mengizinkan Dia mengatasi kesombongan saya. Saya berdoa supaya Dia memberi saya hikmat dan petunjuk yang saya perlukan untuk membantu orang lain, tetapi saya tidak mengakui betapa dalamnya kebutuhan dan kekosongan yang saya rasakan dalam seluruh popularitas yang saya dapatkan.
Seperti Simon, saya ingin Yesus hadir di pesta saya, tetapi saya ingin Dia ada di sana sesuai keinginan saya. Sesungguhnya, dengan Yesus ada di dalam pesta saya, semuanya akan berlangsung dengan baik. Dia memberkati saya dengan kehadiran-Nya, dan sebagaimana Ia melakukannya, saya akan menjadi alat untuk menciptakan hubungan yang lebih baik antara Dia dengan orang lain. Citra diri saya akan tetap utuh, orang lain akan mengenal Dia dengan lebih baik, dan Dia akan memiliki kesempatan untuk memakai saya berbicara kepada orang banyak. Sungguh suatu rancangan yang sangat indah! Saya dapat melihat masa depan pertumbuhan rohani bagi orang-orang di sekitar saya. Sejauh ini pesta itu sungguh sukses. Tetapi, ia tersandung sebuah batu besar.
Pesta Selesai: Dari Orang Farisi Sampai pada Kegagalan
Semua orang Farisi yang penuh dengan kebanggaan diri harus dipatahkan, tetapi hanya beberapa yang akan bangkit. Mereka yang bangkit inilah yang beruntung. Saya akan senantiasa bersyukur kepada Yesus karena telah berjuang keras untuk bangkit (oleh karena kasih karunia). Kejatuhan saya telah membutakan saya. Hal itu menyakitkan dan menghancurkan kesombongan saya. Tidak banyak orang yang tahu kejatuhan saya, dan saya yakin kasih karunia Tuhanlah yang telah menutupi rasa malu saya. Saya tahu telah jatuh, dan saya melihat hal itu terjadi dengan jelas.
Peristiwa itu datang diam-diam. Saya merasa kian kesepian dan beberapa tempat kosong di dalam relung hati saya yang telah lama terabaikan, berteriak menuntut perhatian, dan hubungan secara fisik pun mulai di luar kendali. Saya terlibat dalam hubungan tak bermoral yang saya sendiri tak pernah percaya hal itu dapat terjadi. Saya tiba-tiba merasa seolah-olah orang lain -- pribadi yang saya tidak tahu bahwa itu ada -- mengendalikan tindakan saya. Saya melihat kegagalan saya dengan rasa ngeri. Dan, ketika saya menjadi diri saya (bersama Tuhan), saya dikendalikan oleh rasa malu dan kesepian yang lebih parah daripada sebelumnya.
Masa lalu saya seperti satu momen dalam hidup saya, momen perubahan
Hal itu berlangsung selama beberapa bulan dan sangat sulit. Pada momen itulah saya berubah dari orang Farisi yang merasa diri penting, yang perlu mencari kasih dan pengampunan Yesus, menjadi merindukan pertolongan dan simpati-Nva. Akibat dosa, saya menjadi begitu terpuruk, dan pada masa itu saya berteriak kepada Yesus agar menolong saya. Dalam respons-Nya, Dia dengan sangat baik (dan ajaib) membuat saya tidak dapat melanjutkan kuliah lagi. Tiba-tiba saja kebijakan finansial universitas berubah, dan saya tidak dapat memenuhi kewajiban saya. Hal ini menjadi masalah dan saya terpaksa pulang ke rumah.
Citra diri saya yang salah telah dihancurkan, dan di rumah, saya berdiri dalam kenyataan diri bahwa saya berdosa. Itulah yang memenuhi pikiran saya. Saya terus-menerus dicekam rasa malu dan saya merindukan penerimaan dan pengampunan dari orang terdekat. Keinginan itu mendorong saya untuk menceritakan kepada ayah sesuatu yang telah terjadi dalam hidup saya. Dia meyakinkan bahwa ia masih mengasihi saya, tetapi saya merasakan kekecewaannya yang begitu dalam terhadap saya. Saya pun menghindar untuk membicarakannya bahkan dengan cara yang lebih tercela. Saya tahu bahwa Yesus mengampuni orang lain. Akan tetapi, saat rasa sedih muncul, saya memaksa diri untuk tidur. Saya tidak dapat tidur, saya ragu apakah Dia sungguh-sungguh dapat mengasihi dan mengampuni saya.
Mengikuti dari Jauh
Saya merasa tidak layak untuk mencoba suatu hubungan yang dekat dengan Yesus -- hubungan yang saya nikmati sebelum saya "jatuh". Saya malah mengawasi Dia dari kejauhan, berharap dapat mendekati-Nya, tetapi saya tidak berani. Saya meluangkan waktu untuk membaca Alkitab, kisah demi kisah, pengalaman demi pengalaman, serta mencermati perkataan dan respons Yesus. Saya tidak akan membaca jika ada orang lain di dekat saya, karena saya tidak dapat menahan isak tangis kapan saja saya membaca kisah Yesus bersikap begitu lembut kepada seseorang. Juga saat saya membaca, untuk pertama kalinya dalam hidup saya, mengenali respons orang Farisi yang juga ada dalam diri saya, yakni sikap hati yang sombong dan meninggikan diri.
Rasa malu terhadap kegagalan dan rasa muak terhadap kesombongan diri telah menyulut pertobatan dalam hati saya. Akan tetapi, saya tidak dapat mendekati Yesus dengan dukacita. Pada saat itu, saya mulai bekerja di bagian perakitan sebuah perusahaan elektronik. Beberapa orang di bagian itu bersikap sangat kasar. Mereka berbicara terang-terangan dengan tanpa malu menceritakan gaya hidup mereka yang penuh dosa. Saya tidak pernah lari atau bersembunyi dari kondisi seperti itu. Daripada memandang rendah rekan kerja saya, saya merenungkan kebutuhan mereka sambil berharap dapat membawa mereka kepada Yesus. Bahkan diam-diam dari dasar hati, saya mengasihi mereka. Sementara saya memikirkan para rekan kerja, saya pun menyadari keyakinan saya yang kukuh bahwa Yesus ingin mengasihi dan mengampuni mereka. Kemudian, dengan cara-Nya yang tenang, Roh Kudus membuat saya memahami bahwa saya seperti rekan kerja saya, dan Yesus ingin mengasihi dan mengampuni saya juga. Yesus memahami dukacita hatimu, Christine. Saya pun merasakan Ia berbicara kepada saya. Bawalah dukacita itu kepada Yesus.
Botol Perasaan Sedih dan Berdosa Saya
Atas dorongan Roh Kudus, saya mulai mencurahkan isi hati yang penuh dukacita kepada Yesus. Saya tidak mengingat kembali bagian yang sangat indah, pengalaman laksana air mata dan minyak wangi di kaki Yesus. Akan tetapi, saya ingat saat berdiri di mesin pencuci PCB tempat saya memasukkan papan sirkuit komputer ke dalam alat pembawa barang. Sementara saya secara mekanis mengerjakan tugas, saya menangis saat merasakan simpati Yesus menyentuh jiwa saya, memberi tahu bahwa Dia mengasihi dan mengampuni saya.
Itu hanya salah satu dari banyak peristiwa yang sama selama masa itu, dan kedalaman cinta saya kepada Yesus lebih besar ketimbang yang pernah saya alami sebelumnya. Saya tidak dapat berhenti mengucap syukur kepada-Nya dan memuji Dia. Saya ingin melakukan apa pun yang Dia inginkan. Saya ingin mengikut Dia ke mana pun Dia pergi. Botol dukacita dan perasaan berdosa saya, sekali dituangkan, menjadi senyum kasih yang begitu manis -- kasih saya kepada Yesus dan kasih-Nya kepada saya. Saya berharap tidak pernah lagi meninggalkan Dia ataupun menjauh dari-Nya. Selama hidup, saya tidak pernah ingin mendukakan hati-Nya lagi. Tentu saja, sejak saat itu, saya pernah mengecewakan Dia berkali-kali. Namun, saya kembali pada pengalaman masa lalu, terutama masa terburuk saya untuk mengingatkan diri bahwa jika pertobatan saya tulus, saya dapat menuangkannya di kaki Yesus, dan Dia akan menyambutnya. Tidak peduli kata orang atau apa yang mereka pikirkan tentang diri saya bahwa saya "kotor". Yang penting adalah saya diterima dan diampuni. Itu adalah kenyataan, dan tidak ada seorang pun yang dapat mengambilnya dari saya.
Harapan dan Masa Depan
Entah terluka karena kejatuhan yang tiba-tiba atau karena perilaku buruk yang terjadi selama bertahun-tahun, hati kita dapat memerlukan waktu yang lama -- bahkan sepanjang hidup -- untuk sembuh. Namun, semakin saya menyadari Yesus mengasihi saya dan memahami betapa hati saya rindu untuk dibebaskan dari dosa, saya semakin percaya bahwa hati-Nya yang penuh pengampunan itu bersimpati kepada saya, dan saya juga dapat merasakan sebuah harapan yang baru akan masa depan. Itulah masa depan di mana saya dimerdekakan dari beban menjaga citra diri. Yesus ikut campur dalam proses untuk membentuk saya kembali ke dalam citra Tuhan. Itulah masa depan di mana reputasi dosa saya dihapuskan. Yesus berjanji bahwa kebenaran-Nya akan bersinar lebih terang dalam hidup saya.
Diambil dan disunting seperlunya dari buku: Bagaimana Saya Tahu Jika Yesus Mengasihi Saya? Penulis: Christine A. Dallman dan J. Isamu Yamamoto, Penerjemah: Dwi Prabantini Penerbit: Yayasan ANDI, Yogyakarta 2003, halaman: 19 -- 24. Email kiriman dari Bpk. Wawan S.T
Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com
Sebagai orang yang tumbuh di gereja, saya selalu menyamakan diri saya dengan kisah dalam Alkitab tentang "orang-orang baik" -- rendah hati, jujur, berkepribadian kuat-- yang dinyatakan dalam firman Tuhan. Kisah perempuan yang membasuh kaki Yesus dengan rambutnya juga termasuk di dalamnya. Saya tahu bahwa saya seorang pendosa yang telah diselamatkan karena kasih karunia. Dan tentu saja, saya mengasihi dan menyembah Yesus sama banyaknya dengan perempuan itu.
Saya tidak seperti orang Farisi yang tidak memahami bahwa ia memerlukan pengampunan Yesus. Tepat sebelum ulang tahun saya yang kesembilan belas, saya digerakkan untuk masuk ke sekolah Alkitab.
Semuanya karena komentar orang mengenai hubungan saya dengan Tuhan
Saya sangat percaya diri terhadap respek mereka, tapi saya mendapati bahwa saya masuk ke dalam perangkap "kesan baik". Saya dibesarkan dan diasuh oleh orang tua Kristen, dan terus bertumbuh dengan mendengarkan nasihat ayah yang penuh hikmat. Hal tersebut memberikan manfaat yang sangat baik. Lagipula, saya adalah orang yang membawa damai, memiliki rasa humor, dan tidak mudah marah. Orang-orang cenderung menyukai saya, dan saya menyukai mereka karena mereka juga menyukai saya.
Sekalipun demikian, saya ragu bagaimana selama semester kedua kuliah saya, orang-orang sering datang ke kamar saya. Mereka meminta nasihat dan dukungan. Teman sekamar saya mengejek dan mengancam akan memasang tanda "Konselor PERGI". Sementara orang banyak meminta pertolongan, saya mulai dijangkiti dengan "merasa penting". Perasaan itu mulai berada di luar kendali dan menggeser fokus saya kepada Tuhan. Saya semakin pintar untuk berbangga diri. Itu sama sekali tidak dapat diterima dan sungguh-sungguh merusak kerendahan hati. Namun, hati saya tidak dapat meyakini bahwa Tuhan seharusnya disenangkan karena saya ada di dalam tim kerja-Nya.
Mengundang Yesus Menjadi Tamu Saya
Sementara saya merasa bahwa respek orang lain semakin membanggakan diri saya, ego saya pun tumbuh semakin kuat. Jauh di dalam hati, saya tahu bahwa semua itu tidak baik. Saya seperti berada di sebuah kereta api yang melaju cepat dan saya tidak yakin mampu menghentikannya, bahkan jika saya menginginkannya. Namun kenyataannya, saya tidak menginginkannya. Saya menikmatinya dan berharap hal itu akan berlanjut. Saya ingin Yesus hadir dalam hidup saya. Namun, saya tidak siap untuk kehilangan "pelayanan" saya yang sedang tumbuh dengan cara mengizinkan Dia mengatasi kesombongan saya. Saya berdoa supaya Dia memberi saya hikmat dan petunjuk yang saya perlukan untuk membantu orang lain, tetapi saya tidak mengakui betapa dalamnya kebutuhan dan kekosongan yang saya rasakan dalam seluruh popularitas yang saya dapatkan.
Seperti Simon, saya ingin Yesus hadir di pesta saya, tetapi saya ingin Dia ada di sana sesuai keinginan saya. Sesungguhnya, dengan Yesus ada di dalam pesta saya, semuanya akan berlangsung dengan baik. Dia memberkati saya dengan kehadiran-Nya, dan sebagaimana Ia melakukannya, saya akan menjadi alat untuk menciptakan hubungan yang lebih baik antara Dia dengan orang lain. Citra diri saya akan tetap utuh, orang lain akan mengenal Dia dengan lebih baik, dan Dia akan memiliki kesempatan untuk memakai saya berbicara kepada orang banyak. Sungguh suatu rancangan yang sangat indah! Saya dapat melihat masa depan pertumbuhan rohani bagi orang-orang di sekitar saya. Sejauh ini pesta itu sungguh sukses. Tetapi, ia tersandung sebuah batu besar.
Pesta Selesai: Dari Orang Farisi Sampai pada Kegagalan
Semua orang Farisi yang penuh dengan kebanggaan diri harus dipatahkan, tetapi hanya beberapa yang akan bangkit. Mereka yang bangkit inilah yang beruntung. Saya akan senantiasa bersyukur kepada Yesus karena telah berjuang keras untuk bangkit (oleh karena kasih karunia). Kejatuhan saya telah membutakan saya. Hal itu menyakitkan dan menghancurkan kesombongan saya. Tidak banyak orang yang tahu kejatuhan saya, dan saya yakin kasih karunia Tuhanlah yang telah menutupi rasa malu saya. Saya tahu telah jatuh, dan saya melihat hal itu terjadi dengan jelas.
Peristiwa itu datang diam-diam. Saya merasa kian kesepian dan beberapa tempat kosong di dalam relung hati saya yang telah lama terabaikan, berteriak menuntut perhatian, dan hubungan secara fisik pun mulai di luar kendali. Saya terlibat dalam hubungan tak bermoral yang saya sendiri tak pernah percaya hal itu dapat terjadi. Saya tiba-tiba merasa seolah-olah orang lain -- pribadi yang saya tidak tahu bahwa itu ada -- mengendalikan tindakan saya. Saya melihat kegagalan saya dengan rasa ngeri. Dan, ketika saya menjadi diri saya (bersama Tuhan), saya dikendalikan oleh rasa malu dan kesepian yang lebih parah daripada sebelumnya.
Masa lalu saya seperti satu momen dalam hidup saya, momen perubahan
Hal itu berlangsung selama beberapa bulan dan sangat sulit. Pada momen itulah saya berubah dari orang Farisi yang merasa diri penting, yang perlu mencari kasih dan pengampunan Yesus, menjadi merindukan pertolongan dan simpati-Nva. Akibat dosa, saya menjadi begitu terpuruk, dan pada masa itu saya berteriak kepada Yesus agar menolong saya. Dalam respons-Nya, Dia dengan sangat baik (dan ajaib) membuat saya tidak dapat melanjutkan kuliah lagi. Tiba-tiba saja kebijakan finansial universitas berubah, dan saya tidak dapat memenuhi kewajiban saya. Hal ini menjadi masalah dan saya terpaksa pulang ke rumah.
Citra diri saya yang salah telah dihancurkan, dan di rumah, saya berdiri dalam kenyataan diri bahwa saya berdosa. Itulah yang memenuhi pikiran saya. Saya terus-menerus dicekam rasa malu dan saya merindukan penerimaan dan pengampunan dari orang terdekat. Keinginan itu mendorong saya untuk menceritakan kepada ayah sesuatu yang telah terjadi dalam hidup saya. Dia meyakinkan bahwa ia masih mengasihi saya, tetapi saya merasakan kekecewaannya yang begitu dalam terhadap saya. Saya pun menghindar untuk membicarakannya bahkan dengan cara yang lebih tercela. Saya tahu bahwa Yesus mengampuni orang lain. Akan tetapi, saat rasa sedih muncul, saya memaksa diri untuk tidur. Saya tidak dapat tidur, saya ragu apakah Dia sungguh-sungguh dapat mengasihi dan mengampuni saya.
Mengikuti dari Jauh
Saya merasa tidak layak untuk mencoba suatu hubungan yang dekat dengan Yesus -- hubungan yang saya nikmati sebelum saya "jatuh". Saya malah mengawasi Dia dari kejauhan, berharap dapat mendekati-Nya, tetapi saya tidak berani. Saya meluangkan waktu untuk membaca Alkitab, kisah demi kisah, pengalaman demi pengalaman, serta mencermati perkataan dan respons Yesus. Saya tidak akan membaca jika ada orang lain di dekat saya, karena saya tidak dapat menahan isak tangis kapan saja saya membaca kisah Yesus bersikap begitu lembut kepada seseorang. Juga saat saya membaca, untuk pertama kalinya dalam hidup saya, mengenali respons orang Farisi yang juga ada dalam diri saya, yakni sikap hati yang sombong dan meninggikan diri.
Rasa malu terhadap kegagalan dan rasa muak terhadap kesombongan diri telah menyulut pertobatan dalam hati saya. Akan tetapi, saya tidak dapat mendekati Yesus dengan dukacita. Pada saat itu, saya mulai bekerja di bagian perakitan sebuah perusahaan elektronik. Beberapa orang di bagian itu bersikap sangat kasar. Mereka berbicara terang-terangan dengan tanpa malu menceritakan gaya hidup mereka yang penuh dosa. Saya tidak pernah lari atau bersembunyi dari kondisi seperti itu. Daripada memandang rendah rekan kerja saya, saya merenungkan kebutuhan mereka sambil berharap dapat membawa mereka kepada Yesus. Bahkan diam-diam dari dasar hati, saya mengasihi mereka. Sementara saya memikirkan para rekan kerja, saya pun menyadari keyakinan saya yang kukuh bahwa Yesus ingin mengasihi dan mengampuni mereka. Kemudian, dengan cara-Nya yang tenang, Roh Kudus membuat saya memahami bahwa saya seperti rekan kerja saya, dan Yesus ingin mengasihi dan mengampuni saya juga. Yesus memahami dukacita hatimu, Christine. Saya pun merasakan Ia berbicara kepada saya. Bawalah dukacita itu kepada Yesus.
Botol Perasaan Sedih dan Berdosa Saya
Atas dorongan Roh Kudus, saya mulai mencurahkan isi hati yang penuh dukacita kepada Yesus. Saya tidak mengingat kembali bagian yang sangat indah, pengalaman laksana air mata dan minyak wangi di kaki Yesus. Akan tetapi, saya ingat saat berdiri di mesin pencuci PCB tempat saya memasukkan papan sirkuit komputer ke dalam alat pembawa barang. Sementara saya secara mekanis mengerjakan tugas, saya menangis saat merasakan simpati Yesus menyentuh jiwa saya, memberi tahu bahwa Dia mengasihi dan mengampuni saya.
Itu hanya salah satu dari banyak peristiwa yang sama selama masa itu, dan kedalaman cinta saya kepada Yesus lebih besar ketimbang yang pernah saya alami sebelumnya. Saya tidak dapat berhenti mengucap syukur kepada-Nya dan memuji Dia. Saya ingin melakukan apa pun yang Dia inginkan. Saya ingin mengikut Dia ke mana pun Dia pergi. Botol dukacita dan perasaan berdosa saya, sekali dituangkan, menjadi senyum kasih yang begitu manis -- kasih saya kepada Yesus dan kasih-Nya kepada saya. Saya berharap tidak pernah lagi meninggalkan Dia ataupun menjauh dari-Nya. Selama hidup, saya tidak pernah ingin mendukakan hati-Nya lagi. Tentu saja, sejak saat itu, saya pernah mengecewakan Dia berkali-kali. Namun, saya kembali pada pengalaman masa lalu, terutama masa terburuk saya untuk mengingatkan diri bahwa jika pertobatan saya tulus, saya dapat menuangkannya di kaki Yesus, dan Dia akan menyambutnya. Tidak peduli kata orang atau apa yang mereka pikirkan tentang diri saya bahwa saya "kotor". Yang penting adalah saya diterima dan diampuni. Itu adalah kenyataan, dan tidak ada seorang pun yang dapat mengambilnya dari saya.
Harapan dan Masa Depan
Entah terluka karena kejatuhan yang tiba-tiba atau karena perilaku buruk yang terjadi selama bertahun-tahun, hati kita dapat memerlukan waktu yang lama -- bahkan sepanjang hidup -- untuk sembuh. Namun, semakin saya menyadari Yesus mengasihi saya dan memahami betapa hati saya rindu untuk dibebaskan dari dosa, saya semakin percaya bahwa hati-Nya yang penuh pengampunan itu bersimpati kepada saya, dan saya juga dapat merasakan sebuah harapan yang baru akan masa depan. Itulah masa depan di mana saya dimerdekakan dari beban menjaga citra diri. Yesus ikut campur dalam proses untuk membentuk saya kembali ke dalam citra Tuhan. Itulah masa depan di mana reputasi dosa saya dihapuskan. Yesus berjanji bahwa kebenaran-Nya akan bersinar lebih terang dalam hidup saya.
Diambil dan disunting seperlunya dari buku: Bagaimana Saya Tahu Jika Yesus Mengasihi Saya? Penulis: Christine A. Dallman dan J. Isamu Yamamoto, Penerjemah: Dwi Prabantini Penerbit: Yayasan ANDI, Yogyakarta 2003, halaman: 19 -- 24. Email kiriman dari Bpk. Wawan S.T
Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com
Monday, August 10, 2009
Waiting on God
Waiting on God
"Yet the Lord longs to be gracious to you; He rises to show you compassion. For the Lord is a God of justice. Blessed are all who wait for Him!" Isaiah 30:18
Have you ever noticed that God is not in a hurry? It took 40 years for Moses to receive his commission to lead the people out of Egypt. It took 17 years of preparation before Joseph was delivered from slavery and imprisonment. It took 20 years before Jacob was released from Laban's control. Abraham and Sarah were in their old age when they finally received the son of promise, Isaac. So why isn't God in a hurry?
God called each of these servants to accomplish a certain task in His Kingdom, yet He was in no hurry to bring their mission into fulfillment. First, He accomplished what He wanted in them. We are often more focused on outcome than the process that He is accomplishing in our lives each day. When we experience His presence daily, one day we wake up and realize that God has done something special in and through our lives. However, the accomplishment is no longer what excites us. Instead, what excites us is knowing Him. Through those times, we become more acquainted with His love, grace, and power in our lives. When this happens, we are no longer focused on the outcome because the outcome is a result of our walk with Him. It is not the goal of our walk, but the by-product. Hence, when Joseph came to power in Egypt, he probably couldn't have cared less. He had come to a place of complete surrender so that he was not anxious about tomorrow or his circumstances.
This is the lesson for us. We must wait for God's timing and embrace wherever we are in the process. When we find contentment in that place, we begin to experience God in ways we never thought possible. TGIF Today God Is First Volume 1 by Os Hillman
Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com
"Yet the Lord longs to be gracious to you; He rises to show you compassion. For the Lord is a God of justice. Blessed are all who wait for Him!" Isaiah 30:18
Have you ever noticed that God is not in a hurry? It took 40 years for Moses to receive his commission to lead the people out of Egypt. It took 17 years of preparation before Joseph was delivered from slavery and imprisonment. It took 20 years before Jacob was released from Laban's control. Abraham and Sarah were in their old age when they finally received the son of promise, Isaac. So why isn't God in a hurry?
God called each of these servants to accomplish a certain task in His Kingdom, yet He was in no hurry to bring their mission into fulfillment. First, He accomplished what He wanted in them. We are often more focused on outcome than the process that He is accomplishing in our lives each day. When we experience His presence daily, one day we wake up and realize that God has done something special in and through our lives. However, the accomplishment is no longer what excites us. Instead, what excites us is knowing Him. Through those times, we become more acquainted with His love, grace, and power in our lives. When this happens, we are no longer focused on the outcome because the outcome is a result of our walk with Him. It is not the goal of our walk, but the by-product. Hence, when Joseph came to power in Egypt, he probably couldn't have cared less. He had come to a place of complete surrender so that he was not anxious about tomorrow or his circumstances.
This is the lesson for us. We must wait for God's timing and embrace wherever we are in the process. When we find contentment in that place, we begin to experience God in ways we never thought possible. TGIF Today God Is First Volume 1 by Os Hillman
Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com
Friday, August 7, 2009
God's Way
Cara Tuhan
Malam itu saya gelisah. Tidak bisa tidur. Pikiran saya bekerja ekstra keras. Dari mana saya bisa mendapatkan uang sebanyak itu? Sampai jam tiga dini hari otak saya tetap tidak mampu memecahkan masalah yang saya hadapi.
Tadi sore saya mendapat kabar dari rumah sakit tempat kakak saya berobat. Menurut dokter, jalan terbaik untuk menghambat penyebaran kanker payudara yang menyerang kakak saya adalah dengan memotong kedua payudaranya. Untuk itu, selain dibutuhkan persetujuan saya, juga dibutuhkan sejumlah biaya untuk proses operasi tersebut. Soal persetujuan, relatif mudah. Sejak awal saya sudah menyiapkan mental saya menghadapi kondisi terburuk itu. Sejak awal dokter sudah menjelaskan tentang risiko kehilangan payudara tersebut. Risiko tersebut sudah saya pahami. Kakak saya juga sudah mempersiapkan diri menghadapi kondisi terburuk itu.
Namun yang membuat saya tidak bisa tidur semalaman adalah soal biaya. Jumlahnya sangat besar untuk ukuran saya waktu itu. Gaji saya sebagai redaktur suratkabar tidak akan mampu menutupi biaya sebesar itu. Sebab jumlahnya berlipat-lipat dibandingkan pendapatan saya. Sementara saya harus menghidupi keluarga dengan tiga anak.
Sudah beberapa tahun ini kakak saya hidup tanpa suami. Dia harus berjuang membesarkan kelima anaknya seorang diri. Dengan segala kemampuan yang terbatas, saya berusaha membantu agar kakak dapat bertahan menghadapi kehidupan yang berat. Selain sejumlah uang, saya juga mendukungnya secara moril. Dalam kehidupan sehari-hari, saya berperan sebagai pengganti ayah dari anak-anak kakak saya.
Dalam situasi seperti itu kakak saya divonis menderita kanker stadium empat. Saya baru menyadari selama ini kakak saya mencoba menyembunyikan penyakit tersebut. Mungkin juga dia berusaha melawan ketakutannya dengan mengabaikan gejala-gejala kanker yang sudah dirasakannya selama ini. Kalau memikirkan hal tersebut, saya sering menyesalinya. Seandainya kakak saya lebih jujur dan berani mengungkapkan kecurigaannya pada tanda-tanda awal kanker payudara, keadaannya mungkin menjadi lain.
Tapi, nasi sudah menjadi bubur. Pada saat saya akhirnya memaksa dia memeriksakan diri ke dokter, kanker ganas di payudaranya sudah pada kondisi tidak tertolong lagi. Saya menyesali tindakan kakak saya yang “menyembunyikan” penyakitnya itu dari saya, tetapi belakangan -- setelah kakak saya tiada -- saya bisa memaklumi keputusannya. Saya bisa memahami mengapa kakak saya menghindar dari pemeriksaan dokter. Selain dia sendiri tidak siap menghadapi kenyataan, kakak saya juga tidak ingin menyusahkan saya yang selama ini sudah banyak membantunya. Namun ketika keadaan yang terburuk terjadi, saya toh harus siap menghadapinya. Salah satu yang harus saya pikirkan adalah mencari uang dalam jumlah yang disebutkan dokter untuk biaya operasi. Otak saya benar-benar buntu.
Sampai jam tiga pagi saya tidak juga menemukan jalan keluar. Dari mana mendapatkan uang sebanyak itu? Kadang, dalam keputus-asaan, terngiang-ngiang ucapan kakak saya pada saat dokter menganjurkan operasi. “Sudahlah, tidak usah dioperasi. Toh tidak ada jaminan saya akan terus hidup,” ujarnya. Tetapi, di balik ucapan itu, saya tahu kakak saya lebih merisaukan beban biaya yang harus saya pikul. Dia tahu saya tidak akan mampu menanggung biaya sebesar itu.
Pagi dini hari itu, ketika saya tak kunjung mampu menemukan jalan keluar, saya lalu berlutut dan berdoa. Di tengah kesunyian pagi, saya mendengar begitu jelas doa yang saya panjatkan. “Tuhan, sebagai manusia, akal pikiranku sudah tidak mampu memecahkan masalah ini. Karena itu, pada pagi hari ini, aku berserah dan memohon Kepada-Mu. Kiranya Tuhan, Engkau membuka jalan agar saya bisa menemukan jalan keluar dari persoalan ini.” Setelah itu saya terlelap dalam kelelahan fisik dan mental.
Pagi hari, dari sejak bangun, mandi, sarapan, sampai perjalanan menuju kantor otak saya kembali bekerja. Mencari pemecahan soal biaya operasi. Dari mana saya mendapatkan uang? Adakah Tuhan mendengarkan doa saya? Pikiran dan hati saya bercabang. Di satu sisi saya sudah berserah dan yakin Tuhan akan membuka jalan, namun di lain sisi rupanya iman saya tidak cukup kuat sehingga masih saja gundah. Di tengah situasi seperti itu, handphone saya berdering. Di ujung telepon terdengar suara sahabat saya yang bekerja di sebuah perusahaan public relations. Dengan suara memohon dia meminta kesediaan saya menjadi pembicara dalam sebuah workshop di sebuah bank pemerintah. Dia mengatakan terpaksa menelepon saya karena “keadaan darurat”. Pembicara yang seharusnya tampil besok, mendadak berhalangan. Dia memohon saya dapat menggantikannya.
Karena hari Sabtu saya libur, saya menyanggupi permintaan sahabat saya itu. Singkat kata, semua berjalan lancar. Acara worskshop itu sukses. Sahabat saya tak henti- henti mengucapkan terima kasih. Apalagi, katanya, para peserta puas. Bahkan pihak bank meminta agar saya bisa menjadi pembicara lagi untuk acara-acara mereka yang lain. Sebelum meninggalkan tempat workshop, teman saya memberi saya amplop berisi honor sebagai pembicara. Sungguh tak terpikirkan sebelumnya soal honor ini. Saya betul betul hanya berniat menyelamatkan sahabat saya itu. Tapi sahabat saya memohon agar saya mau menerimanya.
Di tengah perjalanan pulang hati saya masih tetap risau. Rasanya tidak enak menerima honor dari sahabat sendiri untuk pertolongan yang menurut saya sudah seharusnya saya lakukan sebagai sahabat. Tapi akhirnya saya berdamai dengan hati saya dan mencoba memahami jalan pikiran sahabat saya itu.
Malam hari baru saya berani membuka amplop tersebut. Betapa terkejutnya saya melihat angka rupiah yang tercantum di selembar cek di dalam amplop itu. Jumlahnya sama persis dengan biaya operasi kakak saya! Tidak kurang dan tidak lebih satu sen pun. Sama persis! Mata saya berkaca-kaca. Tuhan, Engkau memang luar biasa. Engkau Maha Besar. Dengan cara-Mu Engkau menyelesaikan persoalanku. Bahkan dengan cara yang tidak terduga sekalipun. Cara yang sungguh ajaib. Esoknya cek tersebut saya serahkan langsung ke rumah sakit. Setelah operasi, saya ceritakan kejadian tersebut kepada kakak saya. Dia hanya bisa menangis dan memuji kebesaran Tuhan.
Tidak cukup sampai di situ. Tuhan rupanya masih ingin menunjukkan kembali kebesaran-Nya. Tanpa sepengetahuan saya, Bapak Surya Paloh, pemilik harian Media Indonesia tempat saya bekerja, suatu malam datang menengok kakak saya di rumah sakit. Padahal selama ini saya tidak pernah bercerita soal kakak saya. Saya baru tahu kehadiran Bapak Surya Paloh dari cerita kakak saya esok harinya. Dalam kunjungannya ke rumah sakit malam itu, Bapak Surya Paloh juga memutuskan semua biaya perawatan kakak saya, berapa pun dan sampai kapan pun, akan dia tanggung. Tuhan Maha Besar. Email dari: Azret Batseba Lutaporu/Bpk. Wawan S.T
Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com
Malam itu saya gelisah. Tidak bisa tidur. Pikiran saya bekerja ekstra keras. Dari mana saya bisa mendapatkan uang sebanyak itu? Sampai jam tiga dini hari otak saya tetap tidak mampu memecahkan masalah yang saya hadapi.
Tadi sore saya mendapat kabar dari rumah sakit tempat kakak saya berobat. Menurut dokter, jalan terbaik untuk menghambat penyebaran kanker payudara yang menyerang kakak saya adalah dengan memotong kedua payudaranya. Untuk itu, selain dibutuhkan persetujuan saya, juga dibutuhkan sejumlah biaya untuk proses operasi tersebut. Soal persetujuan, relatif mudah. Sejak awal saya sudah menyiapkan mental saya menghadapi kondisi terburuk itu. Sejak awal dokter sudah menjelaskan tentang risiko kehilangan payudara tersebut. Risiko tersebut sudah saya pahami. Kakak saya juga sudah mempersiapkan diri menghadapi kondisi terburuk itu.
Namun yang membuat saya tidak bisa tidur semalaman adalah soal biaya. Jumlahnya sangat besar untuk ukuran saya waktu itu. Gaji saya sebagai redaktur suratkabar tidak akan mampu menutupi biaya sebesar itu. Sebab jumlahnya berlipat-lipat dibandingkan pendapatan saya. Sementara saya harus menghidupi keluarga dengan tiga anak.
Sudah beberapa tahun ini kakak saya hidup tanpa suami. Dia harus berjuang membesarkan kelima anaknya seorang diri. Dengan segala kemampuan yang terbatas, saya berusaha membantu agar kakak dapat bertahan menghadapi kehidupan yang berat. Selain sejumlah uang, saya juga mendukungnya secara moril. Dalam kehidupan sehari-hari, saya berperan sebagai pengganti ayah dari anak-anak kakak saya.
Dalam situasi seperti itu kakak saya divonis menderita kanker stadium empat. Saya baru menyadari selama ini kakak saya mencoba menyembunyikan penyakit tersebut. Mungkin juga dia berusaha melawan ketakutannya dengan mengabaikan gejala-gejala kanker yang sudah dirasakannya selama ini. Kalau memikirkan hal tersebut, saya sering menyesalinya. Seandainya kakak saya lebih jujur dan berani mengungkapkan kecurigaannya pada tanda-tanda awal kanker payudara, keadaannya mungkin menjadi lain.
Tapi, nasi sudah menjadi bubur. Pada saat saya akhirnya memaksa dia memeriksakan diri ke dokter, kanker ganas di payudaranya sudah pada kondisi tidak tertolong lagi. Saya menyesali tindakan kakak saya yang “menyembunyikan” penyakitnya itu dari saya, tetapi belakangan -- setelah kakak saya tiada -- saya bisa memaklumi keputusannya. Saya bisa memahami mengapa kakak saya menghindar dari pemeriksaan dokter. Selain dia sendiri tidak siap menghadapi kenyataan, kakak saya juga tidak ingin menyusahkan saya yang selama ini sudah banyak membantunya. Namun ketika keadaan yang terburuk terjadi, saya toh harus siap menghadapinya. Salah satu yang harus saya pikirkan adalah mencari uang dalam jumlah yang disebutkan dokter untuk biaya operasi. Otak saya benar-benar buntu.
Sampai jam tiga pagi saya tidak juga menemukan jalan keluar. Dari mana mendapatkan uang sebanyak itu? Kadang, dalam keputus-asaan, terngiang-ngiang ucapan kakak saya pada saat dokter menganjurkan operasi. “Sudahlah, tidak usah dioperasi. Toh tidak ada jaminan saya akan terus hidup,” ujarnya. Tetapi, di balik ucapan itu, saya tahu kakak saya lebih merisaukan beban biaya yang harus saya pikul. Dia tahu saya tidak akan mampu menanggung biaya sebesar itu.
Pagi dini hari itu, ketika saya tak kunjung mampu menemukan jalan keluar, saya lalu berlutut dan berdoa. Di tengah kesunyian pagi, saya mendengar begitu jelas doa yang saya panjatkan. “Tuhan, sebagai manusia, akal pikiranku sudah tidak mampu memecahkan masalah ini. Karena itu, pada pagi hari ini, aku berserah dan memohon Kepada-Mu. Kiranya Tuhan, Engkau membuka jalan agar saya bisa menemukan jalan keluar dari persoalan ini.” Setelah itu saya terlelap dalam kelelahan fisik dan mental.
Pagi hari, dari sejak bangun, mandi, sarapan, sampai perjalanan menuju kantor otak saya kembali bekerja. Mencari pemecahan soal biaya operasi. Dari mana saya mendapatkan uang? Adakah Tuhan mendengarkan doa saya? Pikiran dan hati saya bercabang. Di satu sisi saya sudah berserah dan yakin Tuhan akan membuka jalan, namun di lain sisi rupanya iman saya tidak cukup kuat sehingga masih saja gundah. Di tengah situasi seperti itu, handphone saya berdering. Di ujung telepon terdengar suara sahabat saya yang bekerja di sebuah perusahaan public relations. Dengan suara memohon dia meminta kesediaan saya menjadi pembicara dalam sebuah workshop di sebuah bank pemerintah. Dia mengatakan terpaksa menelepon saya karena “keadaan darurat”. Pembicara yang seharusnya tampil besok, mendadak berhalangan. Dia memohon saya dapat menggantikannya.
Karena hari Sabtu saya libur, saya menyanggupi permintaan sahabat saya itu. Singkat kata, semua berjalan lancar. Acara worskshop itu sukses. Sahabat saya tak henti- henti mengucapkan terima kasih. Apalagi, katanya, para peserta puas. Bahkan pihak bank meminta agar saya bisa menjadi pembicara lagi untuk acara-acara mereka yang lain. Sebelum meninggalkan tempat workshop, teman saya memberi saya amplop berisi honor sebagai pembicara. Sungguh tak terpikirkan sebelumnya soal honor ini. Saya betul betul hanya berniat menyelamatkan sahabat saya itu. Tapi sahabat saya memohon agar saya mau menerimanya.
Di tengah perjalanan pulang hati saya masih tetap risau. Rasanya tidak enak menerima honor dari sahabat sendiri untuk pertolongan yang menurut saya sudah seharusnya saya lakukan sebagai sahabat. Tapi akhirnya saya berdamai dengan hati saya dan mencoba memahami jalan pikiran sahabat saya itu.
Malam hari baru saya berani membuka amplop tersebut. Betapa terkejutnya saya melihat angka rupiah yang tercantum di selembar cek di dalam amplop itu. Jumlahnya sama persis dengan biaya operasi kakak saya! Tidak kurang dan tidak lebih satu sen pun. Sama persis! Mata saya berkaca-kaca. Tuhan, Engkau memang luar biasa. Engkau Maha Besar. Dengan cara-Mu Engkau menyelesaikan persoalanku. Bahkan dengan cara yang tidak terduga sekalipun. Cara yang sungguh ajaib. Esoknya cek tersebut saya serahkan langsung ke rumah sakit. Setelah operasi, saya ceritakan kejadian tersebut kepada kakak saya. Dia hanya bisa menangis dan memuji kebesaran Tuhan.
Tidak cukup sampai di situ. Tuhan rupanya masih ingin menunjukkan kembali kebesaran-Nya. Tanpa sepengetahuan saya, Bapak Surya Paloh, pemilik harian Media Indonesia tempat saya bekerja, suatu malam datang menengok kakak saya di rumah sakit. Padahal selama ini saya tidak pernah bercerita soal kakak saya. Saya baru tahu kehadiran Bapak Surya Paloh dari cerita kakak saya esok harinya. Dalam kunjungannya ke rumah sakit malam itu, Bapak Surya Paloh juga memutuskan semua biaya perawatan kakak saya, berapa pun dan sampai kapan pun, akan dia tanggung. Tuhan Maha Besar. Email dari: Azret Batseba Lutaporu/Bpk. Wawan S.T
Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com
Thursday, August 6, 2009
Say I Love You
PERSAHABATAN PETER DAN TINA
Peter dan Tina sedang duduk bersama di taman kampus tanpa melakukan apapun, hanya memandang langit sementara sahabat-sahabat mereka sedang asik bercanda ria dengan kekasih mereka masing-masing.
Tina: "Duh bosen banget. Aku harap aku juga punya pacar yang bisa berbagi waktu denganku."
Peter: "Kayaknya cuma tinggal kita berdua deh yang jomblo. cuma kita berdua saja yang tidak punya pasangan sekarang." (keduanya mengeluh dan berdiam beberapa saat)
Tina: "Kayaknya aku ada ide bagus deh. Kita adakan permainan yuk?"
Peter: "Eh? permainan apaan?"
Tina: "Eng... gampang sih permainannya. Kamu jadi pacarku dan aku jadi pacarmu tapi hanya untuk 100 hari saja. Gimana menurutmu?"
Peter: "Baiklah... lagian aku juga gak ada rencana apa-apa untuk beberapa bulan ke depan."
Tina: "Kok kayaknya kamu gak terlalu niat ya... semangat dong! hari ini akan jadi hari pertama kita kencan. Mau jalan-jalan kemana nih?"
Peter: "Gimana kalo kita nonton saja? Kalo gak salah film The Troy lagi maen deh. Kata orang film itu bagus."
Tina: "OK deh.... Yuk kita pergi sekarang. tar pulang nonton kita ke karaoke ya... ajak aja adik kamu sama pacarnya biar seru."
Peter: "Boleh juga..." (mereka pun pergi nonton, berkaraoke dan Peter mengantarkan Tina pulang malam harinya)
Hari ke 2:
Peter dan Tina menghabiskan waktu untuk ngobrol dan bercanda di kafe, suasana kafe yang remang-remang dan alunan musik yang syahdu membawa hati mereka pada situasi yang romantis. Sebelum pulang Peter membeli sebuah kalung perak berliontin bintang untuk Tina.
Hari ke 3:
Mereka pergi ke pusat perbelanjaan untuk mencari kado untuk seorang sahabat Peter.
Setelah lelah berkeliling pusat perbelanjaan, mereka memutuskan membeli sebuah miniatur mobil mini. Setelah itu mereka beristirahat duduk di Food Court, makan satu potong kue dan satu gelas jus berdua dan mulai berpegangan tangan untuk pertama kalinya.
Hari ke 7:
Bermain bowling dengan teman-teman Peter. Tangan tina terasa sakit karena tidak pernah bermain bowling sebelumnya. Peter memijit-mijit tangan Tina dengan lembut.
Hari ke 25:
Peter mengajak Tina makan malam di Ancol Bay . Bulan sudah menampakan diri, langit yang cerah menghamparkan ribuan bintang dalam pelukannya. Mereka duduk menunggu makanan, sambil menikmati suara desir angin berpadu dengan suara gelombang bergulung di pantai. Sekali lagi Tina memandang langit, dan melihat bintang jatuh. Dia mengucapkan suatu permintaan dalam hatinya.
Hari ke 41:
Peter berulang tahun. Tina membuatkan kue ulang tahun untuk Peter. Bukan kue buatannya yang pertama, tapi kasih sayang yang mulai timbul dalam hatinya membuat kue buatannya itu menjadi yang terbaik. Peter terharu menerima kue itu, dan dia mengucapkan suatu harapan saat meniup lilin ulang tahunnya.
Hari ke 67:
Menghabiskan waktu di Dufan. Naik halilintar, makan es krim bersama,dan mengunjungi stand permainan. Peter menghadiahkan sebuah boneka Teddy Bear untuk Tina, dan Tina membelikan sebuah pulpen untuk Peter.
Hari ke 72:
Pergi Ke PRJ. Melihat meriahnya pameran lampion dari negeri China. Tina penasaran untuk mengunjungi salah satu tenda peramal. Sang peramal hanya mengatakan "Hargai waktumu bersamanya mulai sekarang", kemudian peramal itu meneteskan air mata.
Hari ke 84:
Peter mengusulkan agar mereka refreshing ke pantai. Pantai Anyer sangat sepi karena bukan waktunya liburan bagi orang lain. Mereka melepaskan sandal dan berjalan sepanjang pantai sambil berpegangan tangan, merasakan lembutnya pasir dan dinginnya air laut menghempas kaki mereka. Matahari terbenam, dan mereka berpelukan seakan tidak ingin berpisah lagi.
Hari ke 99:
Peter memutuskan agar mereka menjalani hari ini dengan santai dan sederhana.
Mereka berkeliling kota dan akhirnya duduk di sebuah taman kota.
15:20 pm
Tina: "Aku haus.. Istirahat dulu yuk sebentar."
Peter: "Tunggu disini, aku beli minuman dulu. Aku mau teh botol saja. Kamu mau minum apa?"
Tina: "Aku saja yang beli. kamu kan capek sudah menyetir keliling kota hari ini. Sebentar ya."
Peter mengangguk. kakinya memang pegal sekali karena dimana-mana Jakarta selalu macet.
15:30 pm
Peter sudah menunggu selama 10 menit and Tina belum kembali juga. Tiba-tiba seseorang yang tak dikenal berlari menghampirinya dengan wajah panik.
Peter: "Ada apa pak?"
Orang asing: "Ada seorang perempuan ditabrak mobil. Kayaknya perempuan itu adalah temanmu."
Peter segera berlari bersama dengan orang asing itu. Disana, di atas aspal yang panas terjemur terik matahari siang, tergeletak tubuh Tina bersimbah darah, masih memegang botol minumannya. Peter segera melarikan mobilnya membawa Tina ke rumah sakit terdekat. Peter duduk diluar ruang gawat darurat selama 8 jam 10 menit.
Seorang dokter keluar dengan wajah penuh penyesalan.
23:53 pm
Dokter: "Maaf, tapi kami sudah mencoba melakukan yang terbaik. Dia masih bernafas sekarang tapi Yang kuasa akan segera menjemput. Kami menemukan surat ini dalam kantung bajunya." Dokter memberikan surat yang terkena percikan darah kepada Peter dan dia segera masuk ke dalam kamar rawat untuk melihat Tina. Wajahnya pucat tetapi terlihat damai. Peter duduk disamping pembaringan tina dan menggenggam tangan Tina dengan erat. Untuk pertama kali dalam hidupnya Peter merasakan torehan luka yang sangat dalam di hatinya. Butiran air mata mengalir dari kedua belah matanya. Kemudian dia mulai membaca surat yang telah ditulis Tina untuknya.
Dear Peter...
ke 100 hari kita sudah hampir berakhir. Aku menikmati hari-hari yang kulalui bersamamu. Walaupun kadang-kadang kamu jutek dan tidak bisa ditebak, tapi semua hal ini telah membawa kebahagiaan dalam hidupku. Aku sudah menyadari bahwa kau adalah pria yang berharga dalam hidupku. Aku menyesal tidak pernah berusaha untuk mengenalmu lebih dalam lagi sebelumnya. Sekarang aku tidak meminta apa-apa, hanya berharap kita bisa memperpanjang hari-hari kebersamaan kita. Sama seperti yang kuucapkan pada bintang jatuh malam itu di pantai, Aku ingin kau menjadi cinta sejati dalam hidupku. Aku ingin menjadi kekasihmu selamanya dan berharap kau juga bisa berada disisiku seumur hidupku. Peter, aku sangat sayang padamu.
23:58
Peter: "Tina, apakah kau tahu harapan apa yang kuucapkan dalam hati saat meniup lilin ulang tahunku? Aku pun berdoa agar Tuhan mengijinkan kita bersama-sama selamanya. Tina, kau tidak bisa meninggalkanku! hari yang kita lalui baru berjumlah 99 hari! Kamu harus bangun dan kita akan melewati puluhan ribu hari bersama-sama! Aku juga sayang padamu, Tina. Jangan tinggalkan aku, jangan biarkan aku kesepian! Tina, Aku sayang kamu...!"
Jam dinding berdentang 12 kali.... jantung Tina berhenti berdetak.
Hari itu adalah hari ke 100...
Katakan perasaanmu kepada orang yang kau sayangi sebelum terlambat. Kau tidak akan pernah tahu apa yang akan terjadi besok. Kau tidak akan pernah tahu siapa yang akan meninggalkanmu dan tidak akan pernah kembali lagi. Email dari Kiki/Bpk. Wawan S.T
Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com
Peter dan Tina sedang duduk bersama di taman kampus tanpa melakukan apapun, hanya memandang langit sementara sahabat-sahabat mereka sedang asik bercanda ria dengan kekasih mereka masing-masing.
Tina: "Duh bosen banget. Aku harap aku juga punya pacar yang bisa berbagi waktu denganku."
Peter: "Kayaknya cuma tinggal kita berdua deh yang jomblo. cuma kita berdua saja yang tidak punya pasangan sekarang." (keduanya mengeluh dan berdiam beberapa saat)
Tina: "Kayaknya aku ada ide bagus deh. Kita adakan permainan yuk?"
Peter: "Eh? permainan apaan?"
Tina: "Eng... gampang sih permainannya. Kamu jadi pacarku dan aku jadi pacarmu tapi hanya untuk 100 hari saja. Gimana menurutmu?"
Peter: "Baiklah... lagian aku juga gak ada rencana apa-apa untuk beberapa bulan ke depan."
Tina: "Kok kayaknya kamu gak terlalu niat ya... semangat dong! hari ini akan jadi hari pertama kita kencan. Mau jalan-jalan kemana nih?"
Peter: "Gimana kalo kita nonton saja? Kalo gak salah film The Troy lagi maen deh. Kata orang film itu bagus."
Tina: "OK deh.... Yuk kita pergi sekarang. tar pulang nonton kita ke karaoke ya... ajak aja adik kamu sama pacarnya biar seru."
Peter: "Boleh juga..." (mereka pun pergi nonton, berkaraoke dan Peter mengantarkan Tina pulang malam harinya)
Hari ke 2:
Peter dan Tina menghabiskan waktu untuk ngobrol dan bercanda di kafe, suasana kafe yang remang-remang dan alunan musik yang syahdu membawa hati mereka pada situasi yang romantis. Sebelum pulang Peter membeli sebuah kalung perak berliontin bintang untuk Tina.
Hari ke 3:
Mereka pergi ke pusat perbelanjaan untuk mencari kado untuk seorang sahabat Peter.
Setelah lelah berkeliling pusat perbelanjaan, mereka memutuskan membeli sebuah miniatur mobil mini. Setelah itu mereka beristirahat duduk di Food Court, makan satu potong kue dan satu gelas jus berdua dan mulai berpegangan tangan untuk pertama kalinya.
Hari ke 7:
Bermain bowling dengan teman-teman Peter. Tangan tina terasa sakit karena tidak pernah bermain bowling sebelumnya. Peter memijit-mijit tangan Tina dengan lembut.
Hari ke 25:
Peter mengajak Tina makan malam di Ancol Bay . Bulan sudah menampakan diri, langit yang cerah menghamparkan ribuan bintang dalam pelukannya. Mereka duduk menunggu makanan, sambil menikmati suara desir angin berpadu dengan suara gelombang bergulung di pantai. Sekali lagi Tina memandang langit, dan melihat bintang jatuh. Dia mengucapkan suatu permintaan dalam hatinya.
Hari ke 41:
Peter berulang tahun. Tina membuatkan kue ulang tahun untuk Peter. Bukan kue buatannya yang pertama, tapi kasih sayang yang mulai timbul dalam hatinya membuat kue buatannya itu menjadi yang terbaik. Peter terharu menerima kue itu, dan dia mengucapkan suatu harapan saat meniup lilin ulang tahunnya.
Hari ke 67:
Menghabiskan waktu di Dufan. Naik halilintar, makan es krim bersama,dan mengunjungi stand permainan. Peter menghadiahkan sebuah boneka Teddy Bear untuk Tina, dan Tina membelikan sebuah pulpen untuk Peter.
Hari ke 72:
Pergi Ke PRJ. Melihat meriahnya pameran lampion dari negeri China. Tina penasaran untuk mengunjungi salah satu tenda peramal. Sang peramal hanya mengatakan "Hargai waktumu bersamanya mulai sekarang", kemudian peramal itu meneteskan air mata.
Hari ke 84:
Peter mengusulkan agar mereka refreshing ke pantai. Pantai Anyer sangat sepi karena bukan waktunya liburan bagi orang lain. Mereka melepaskan sandal dan berjalan sepanjang pantai sambil berpegangan tangan, merasakan lembutnya pasir dan dinginnya air laut menghempas kaki mereka. Matahari terbenam, dan mereka berpelukan seakan tidak ingin berpisah lagi.
Hari ke 99:
Peter memutuskan agar mereka menjalani hari ini dengan santai dan sederhana.
Mereka berkeliling kota dan akhirnya duduk di sebuah taman kota.
15:20 pm
Tina: "Aku haus.. Istirahat dulu yuk sebentar."
Peter: "Tunggu disini, aku beli minuman dulu. Aku mau teh botol saja. Kamu mau minum apa?"
Tina: "Aku saja yang beli. kamu kan capek sudah menyetir keliling kota hari ini. Sebentar ya."
Peter mengangguk. kakinya memang pegal sekali karena dimana-mana Jakarta selalu macet.
15:30 pm
Peter sudah menunggu selama 10 menit and Tina belum kembali juga. Tiba-tiba seseorang yang tak dikenal berlari menghampirinya dengan wajah panik.
Peter: "Ada apa pak?"
Orang asing: "Ada seorang perempuan ditabrak mobil. Kayaknya perempuan itu adalah temanmu."
Peter segera berlari bersama dengan orang asing itu. Disana, di atas aspal yang panas terjemur terik matahari siang, tergeletak tubuh Tina bersimbah darah, masih memegang botol minumannya. Peter segera melarikan mobilnya membawa Tina ke rumah sakit terdekat. Peter duduk diluar ruang gawat darurat selama 8 jam 10 menit.
Seorang dokter keluar dengan wajah penuh penyesalan.
23:53 pm
Dokter: "Maaf, tapi kami sudah mencoba melakukan yang terbaik. Dia masih bernafas sekarang tapi Yang kuasa akan segera menjemput. Kami menemukan surat ini dalam kantung bajunya." Dokter memberikan surat yang terkena percikan darah kepada Peter dan dia segera masuk ke dalam kamar rawat untuk melihat Tina. Wajahnya pucat tetapi terlihat damai. Peter duduk disamping pembaringan tina dan menggenggam tangan Tina dengan erat. Untuk pertama kali dalam hidupnya Peter merasakan torehan luka yang sangat dalam di hatinya. Butiran air mata mengalir dari kedua belah matanya. Kemudian dia mulai membaca surat yang telah ditulis Tina untuknya.
Dear Peter...
ke 100 hari kita sudah hampir berakhir. Aku menikmati hari-hari yang kulalui bersamamu. Walaupun kadang-kadang kamu jutek dan tidak bisa ditebak, tapi semua hal ini telah membawa kebahagiaan dalam hidupku. Aku sudah menyadari bahwa kau adalah pria yang berharga dalam hidupku. Aku menyesal tidak pernah berusaha untuk mengenalmu lebih dalam lagi sebelumnya. Sekarang aku tidak meminta apa-apa, hanya berharap kita bisa memperpanjang hari-hari kebersamaan kita. Sama seperti yang kuucapkan pada bintang jatuh malam itu di pantai, Aku ingin kau menjadi cinta sejati dalam hidupku. Aku ingin menjadi kekasihmu selamanya dan berharap kau juga bisa berada disisiku seumur hidupku. Peter, aku sangat sayang padamu.
23:58
Peter: "Tina, apakah kau tahu harapan apa yang kuucapkan dalam hati saat meniup lilin ulang tahunku? Aku pun berdoa agar Tuhan mengijinkan kita bersama-sama selamanya. Tina, kau tidak bisa meninggalkanku! hari yang kita lalui baru berjumlah 99 hari! Kamu harus bangun dan kita akan melewati puluhan ribu hari bersama-sama! Aku juga sayang padamu, Tina. Jangan tinggalkan aku, jangan biarkan aku kesepian! Tina, Aku sayang kamu...!"
Jam dinding berdentang 12 kali.... jantung Tina berhenti berdetak.
Hari itu adalah hari ke 100...
Katakan perasaanmu kepada orang yang kau sayangi sebelum terlambat. Kau tidak akan pernah tahu apa yang akan terjadi besok. Kau tidak akan pernah tahu siapa yang akan meninggalkanmu dan tidak akan pernah kembali lagi. Email dari Kiki/Bpk. Wawan S.T
Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com
Wednesday, August 5, 2009
Eagle vs Chicken
Teman saya, lulusan S-3 dari Amerika Serikat, membandingkan pendidikan di Indonesia dengan di luar negeri. "Ibaratnya, telor rajawali atau telur ayam dierami dan dibesarkan oleh induk ayam, itulah pendidikan di Indonesia. Tetapi di AS, telor ayam atau telor rajawali dierami dan dibesarkan oleh rajawali." Bayangkan, jika anak-anak kita mempunyai potensi ibarat seekor rajawali, akan menjadi maksimal dididik di luar negeri, karena fasilitas dan sistemnya ibarat induk rajawali.
Teman saya bercerita, ketika dia baru lulus Doktor, dia ditawari untuk bekerja di perusahaan Boeing dan mendapat status PR (Permanent Resident), tetapi karena keinginan untuk mengabdi kepada bangsa dan negara, maka tawaran bagus itu dia lepaskan saja. Dari pengalamannya menyelesaikan pendidikan di AS, dia melihat bahwa sistem pendidikan di sana sangat bagus memperlengkapi seseorang untuk menjadi "rajawali", bukan sekedar orang-orang biasa saja.
*****
Kisah Si Jenius dari Surabaya
Maria Audrey Lukito, lahir tanggal 1 Mei 1988 di Surabaya. Sejak kecil ia tumbuh seperti anak ‘normal’ lainnya. Bagi pasangan Budi Loekito dan Natalie Angela Oenarto orang tua Audrey, karunia terbesar yang dipunyai adalah memiliki anak jenius dan berbakat seperti Audrey. Sejak kecil, putri tunggal ini sudah menunjukkan bakat-bakat yang luar biasa. Di umur 16 bulan, Audrey sudah mampu mengenal abjad dengan baik, dan bisa memainkan nada-nada pada tuts kotak pensil. Dan pada usia 2 tahun sudah lancar membaca.
Bakat Audrey awalnya dianggap sebagai hal yang biasa oleh kedua orang tuanya. Budi dan Natalie mulai sadar saat mereka berada di Vietnam sekitar tahun 1993, saat itu Audrey berumur 5 tahun. Disana, mereka tinggal di sebuah perkampungan. Seperti layaknya anak-anak, Audrey bermain dengan anak-anak lain. Disinilah uniknya. Walaupun Audrey hanya bisa berbahasa Indonesia saat itu, namun dia bisa memimpin anak-anak Vietnam yang sebenarnya tidak bisa bahasa Indonesia. Dan pada umur yang sama, Audrey sudah mempertanyakan tentang eksistensi Tuhan.
Setelah menyaksikan sekolah dasar selama 5 tahun (dimana sebenarnya Audrey direkomendasikan guru-gurunya untuk loncat kelas), Audrey sempat meraih penghargaan dari MURI karena menjadi anak Indonesia termuda yang lulus TOEFL dengan skor 575, yaitu saat usianya 10 tahun. Saat ini TOEFLnya sudah mencapai 670. Tidak hanya bahasa Inggris, di usianya yang masih belia itu, Audrey mampu menguasai bahasa Prancis dan Rusia. Bahasa Prancis dikuasai dalam waktu 3 bulan. Sedangkan bahasa Rusia dikuasai hanya dalam tempo 2 bulan. Pada usia 11 tahun, Audrey mendapat julukan Dictionary Girl dari koran Indonesian Daily News karena mampu menghafal kamus bahasa Inggris sebanyak ± 650 halaman. Selanjutnya, berturut-turut Audrey mampu menyelesaikan pendidikan SMP dan SMA nya hanya dalam waktu setahun.
Atas anjuran berbagai ahli, Audrey akhirnya diterbangkan ke Amerika untuk melanjutkan pendidikan S1-nya dalam usia 13 tahun. Audrey yang juga pantas menjadi bintang film mandarin ini, resmi menjadi mahasiswa fisika the College of William and Mary saat ia masih berumur 13 tahun. Dia menjadi mahasiswa Indonesia termuda di kampus itu. Hanya dalam waktu 3 tahun, Audrey berhasil lulus dengan semua nilai A, kecuali satu mata kuliah, yang mendapat nilai A minus. Ketika kuliah, Audrey tercatat mampu mengambil kredit terbanyak dibanding mahasiswa lainnya, yakni 36,5 SKS dalam satu semester dan berhasil meraih GPA tertinggi setiap tahunnya.
Selain prestasi akademik, audrey juga melesat dengan berbagai prestasi ‘non- akademik’ , seperti sastra, musik, olahraga. Karena prestasinya yang mengagumkan, Audrey didaulat menjadi anggota Phi Beta Kappa, Honor Society Global Young Leader Conference di Washington DC, tertua di Amerika Serikat. Prestasi Audrey terdengar hingga ke Gedung Kongres Senat Amerika Serikat dan ia pun diundang untuk berpidato.
Selain prestasi-prestasi akademik dikampusnya William and Mary, ketika di Amerika, Audrey tercatat sebagai peserta termuda dari Indonesia, yaitu usia 14 tahun, yang mengikuti Summer Courses bahasa Rusia, dan berhasil memperoleh nilai tertinggi. Hanya dalam waktu dua bulan, Audrey mampu menguasai bahasa Rusia, dari standar masa kuliah yang biasanya empat semester masa kuliah. Selain bahasa Rusia, Audrey juga berhasil menguasai bahasa Prancis dalam waktu 3 bulan, selain juga menguasai bahasa Inggris, Mandarin, dan Ibrani. Pada umur 16 tahun, Audrey menjadi sarjana Indonesia termuda lulusan tahun 2005 dari The College of William and Mary, Williamburg, Virginia, Amerika Serikat dengan major fisika dan ia lulus dengan predikat Summa Cum Laude dengan nilai rata-rata GPA 3,95. judul tesisnya, “Analysis of neutrinos emitted by radioactivity in the earth’s core”. Saat ini ia berobsesi untuk mendapatkan gelar MBA dan M.Div sebelum usianya 22 tahun. Lagi-lagi MURI pun tertarik memberikan rekor pada Maria Audry L sebagai Sarjana Fisika (S1) termuda yaitu 16 tahun dengan predikat summa cum laude dari The College of William And Marry.
Tidak hanya rentetan prestasi akademik yang ditorehkan audrey. Banyak prestasi non akademik yang juga tidak luput menjadi incaran prestasi Audrey, termasuk didalamnya bidang seni dan kreativitas. Mungkin selama ini kita mengira, anak-anak yang memiliki tingkat intelegensi tinggi, biasanya tidak memiliki kepekaan dalam seni dan kreatifitas, atau olahraga. Hanya salah satu di antara otak kiri atau otak kanannya yang menonjol. Tetapi ternyata, Audrey memiliki kelebihan yang menonjol pada dua sisi otaknya. Sejak SD, Audrey sudah punya banyak prestasi. Di rumahnya di Surabaya, Audrey menempatkan semua piala dan penghargaan seni lukis, piano, balet, dan berkudanya di sebuah lemari khusus. Di dinding rumahnya, terpajang lukisan tokoh dan ilmuwan Barat, yang dillukisnya sendiri, terinspirasi dari buku-buku biografi tokoh tokoh dunia yang dilahapnya sejak kecil. Selain itu, Audrey juga menekuni olahraga ice skating, menembak, dan tekhnik menyanyi opera. Memang ia memiliki lebih banyak peluang jika memilih tinggal di luar negeri, namun Audrey ternyata menyimpan mimpi tersendiri untuk mempersembahkan segala kemampuannya untuk negerinya sendiri, Indonesia.
Sarjana fisika alumnus The College of William and Marry, Virginia, USA dengan GPA 3,95 dan juga anggota Phi Beta Kappa, telah mempersiapkan diri untuk studi S-2, sambil mempersiapkan diri, remaja jenius plus multitalenta yang juga gemar berbisnis, bermain piano, melukis, memasak, dan olahraga ini bekerja di sebuah bank swasta dan tinggal di Surabaya.
Prestasi Audrey yang dicatat MURI:
1. Anak Indonesia pertama yang diundang untuk hadir di Global Young Leader Conference di Washington DC dan New York.
2. mahasiswi termuda (14 tahun) dari Indonesia dengan kredit terbanyak 36,5 kredit dalam satu semester termasuk summer course dengan GPA tertinggi 3,975 di Mary Baldwin college USA.
3. Peserta termuda dari Indonesia (14 tahun) yang mendapatkan penghargaan (honors) untuk spring semester 2002 di Baldwin College USA
4. Anak usia termuda dari Indonesia yang menguasai tiga bahasa asing (TOEFL : 670), Perancis (lulus DELF A3) dan Rusia (University of Virginia)
5. Peserta termuda Indonesia dengan nilai tertinggi (670) untuk ujian TOEFL.
6. Peserta termuda (14 tahun) dari Indonesia yang mengikuti summer course bahasa Rusia di University of Virginia, USA dengan nilai tinggi A.
7. Mahasiswa termuda (13 tahun) dari Indonesia yang ikut berpartisipasi berkunjung ke Senat di Richmond (ibukota Virginia) dalam memperoleh biaya pendidikan dari pemerintah.
8. Mahasiswi termuda dari Indonesia (13 tahun) yang masuk perguruan tinggi di Amerika (Mary Baldwin College).
9. Peserta termuda dari Indonesia (13 tahun) yang mengikuti test SAT II dengan subjek terbanyak 5 pelajaran (writing: 640, matematik : 680, French: 730, world history : 530 dan physic: 690).
Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com
Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com
Teman saya bercerita, ketika dia baru lulus Doktor, dia ditawari untuk bekerja di perusahaan Boeing dan mendapat status PR (Permanent Resident), tetapi karena keinginan untuk mengabdi kepada bangsa dan negara, maka tawaran bagus itu dia lepaskan saja. Dari pengalamannya menyelesaikan pendidikan di AS, dia melihat bahwa sistem pendidikan di sana sangat bagus memperlengkapi seseorang untuk menjadi "rajawali", bukan sekedar orang-orang biasa saja.
*****
Kisah Si Jenius dari Surabaya
Maria Audrey Lukito, lahir tanggal 1 Mei 1988 di Surabaya. Sejak kecil ia tumbuh seperti anak ‘normal’ lainnya. Bagi pasangan Budi Loekito dan Natalie Angela Oenarto orang tua Audrey, karunia terbesar yang dipunyai adalah memiliki anak jenius dan berbakat seperti Audrey. Sejak kecil, putri tunggal ini sudah menunjukkan bakat-bakat yang luar biasa. Di umur 16 bulan, Audrey sudah mampu mengenal abjad dengan baik, dan bisa memainkan nada-nada pada tuts kotak pensil. Dan pada usia 2 tahun sudah lancar membaca.
Bakat Audrey awalnya dianggap sebagai hal yang biasa oleh kedua orang tuanya. Budi dan Natalie mulai sadar saat mereka berada di Vietnam sekitar tahun 1993, saat itu Audrey berumur 5 tahun. Disana, mereka tinggal di sebuah perkampungan. Seperti layaknya anak-anak, Audrey bermain dengan anak-anak lain. Disinilah uniknya. Walaupun Audrey hanya bisa berbahasa Indonesia saat itu, namun dia bisa memimpin anak-anak Vietnam yang sebenarnya tidak bisa bahasa Indonesia. Dan pada umur yang sama, Audrey sudah mempertanyakan tentang eksistensi Tuhan.
Setelah menyaksikan sekolah dasar selama 5 tahun (dimana sebenarnya Audrey direkomendasikan guru-gurunya untuk loncat kelas), Audrey sempat meraih penghargaan dari MURI karena menjadi anak Indonesia termuda yang lulus TOEFL dengan skor 575, yaitu saat usianya 10 tahun. Saat ini TOEFLnya sudah mencapai 670. Tidak hanya bahasa Inggris, di usianya yang masih belia itu, Audrey mampu menguasai bahasa Prancis dan Rusia. Bahasa Prancis dikuasai dalam waktu 3 bulan. Sedangkan bahasa Rusia dikuasai hanya dalam tempo 2 bulan. Pada usia 11 tahun, Audrey mendapat julukan Dictionary Girl dari koran Indonesian Daily News karena mampu menghafal kamus bahasa Inggris sebanyak ± 650 halaman. Selanjutnya, berturut-turut Audrey mampu menyelesaikan pendidikan SMP dan SMA nya hanya dalam waktu setahun.
Atas anjuran berbagai ahli, Audrey akhirnya diterbangkan ke Amerika untuk melanjutkan pendidikan S1-nya dalam usia 13 tahun. Audrey yang juga pantas menjadi bintang film mandarin ini, resmi menjadi mahasiswa fisika the College of William and Mary saat ia masih berumur 13 tahun. Dia menjadi mahasiswa Indonesia termuda di kampus itu. Hanya dalam waktu 3 tahun, Audrey berhasil lulus dengan semua nilai A, kecuali satu mata kuliah, yang mendapat nilai A minus. Ketika kuliah, Audrey tercatat mampu mengambil kredit terbanyak dibanding mahasiswa lainnya, yakni 36,5 SKS dalam satu semester dan berhasil meraih GPA tertinggi setiap tahunnya.
Selain prestasi akademik, audrey juga melesat dengan berbagai prestasi ‘non- akademik’ , seperti sastra, musik, olahraga. Karena prestasinya yang mengagumkan, Audrey didaulat menjadi anggota Phi Beta Kappa, Honor Society Global Young Leader Conference di Washington DC, tertua di Amerika Serikat. Prestasi Audrey terdengar hingga ke Gedung Kongres Senat Amerika Serikat dan ia pun diundang untuk berpidato.
Selain prestasi-prestasi akademik dikampusnya William and Mary, ketika di Amerika, Audrey tercatat sebagai peserta termuda dari Indonesia, yaitu usia 14 tahun, yang mengikuti Summer Courses bahasa Rusia, dan berhasil memperoleh nilai tertinggi. Hanya dalam waktu dua bulan, Audrey mampu menguasai bahasa Rusia, dari standar masa kuliah yang biasanya empat semester masa kuliah. Selain bahasa Rusia, Audrey juga berhasil menguasai bahasa Prancis dalam waktu 3 bulan, selain juga menguasai bahasa Inggris, Mandarin, dan Ibrani. Pada umur 16 tahun, Audrey menjadi sarjana Indonesia termuda lulusan tahun 2005 dari The College of William and Mary, Williamburg, Virginia, Amerika Serikat dengan major fisika dan ia lulus dengan predikat Summa Cum Laude dengan nilai rata-rata GPA 3,95. judul tesisnya, “Analysis of neutrinos emitted by radioactivity in the earth’s core”. Saat ini ia berobsesi untuk mendapatkan gelar MBA dan M.Div sebelum usianya 22 tahun. Lagi-lagi MURI pun tertarik memberikan rekor pada Maria Audry L sebagai Sarjana Fisika (S1) termuda yaitu 16 tahun dengan predikat summa cum laude dari The College of William And Marry.
Tidak hanya rentetan prestasi akademik yang ditorehkan audrey. Banyak prestasi non akademik yang juga tidak luput menjadi incaran prestasi Audrey, termasuk didalamnya bidang seni dan kreativitas. Mungkin selama ini kita mengira, anak-anak yang memiliki tingkat intelegensi tinggi, biasanya tidak memiliki kepekaan dalam seni dan kreatifitas, atau olahraga. Hanya salah satu di antara otak kiri atau otak kanannya yang menonjol. Tetapi ternyata, Audrey memiliki kelebihan yang menonjol pada dua sisi otaknya. Sejak SD, Audrey sudah punya banyak prestasi. Di rumahnya di Surabaya, Audrey menempatkan semua piala dan penghargaan seni lukis, piano, balet, dan berkudanya di sebuah lemari khusus. Di dinding rumahnya, terpajang lukisan tokoh dan ilmuwan Barat, yang dillukisnya sendiri, terinspirasi dari buku-buku biografi tokoh tokoh dunia yang dilahapnya sejak kecil. Selain itu, Audrey juga menekuni olahraga ice skating, menembak, dan tekhnik menyanyi opera. Memang ia memiliki lebih banyak peluang jika memilih tinggal di luar negeri, namun Audrey ternyata menyimpan mimpi tersendiri untuk mempersembahkan segala kemampuannya untuk negerinya sendiri, Indonesia.
Sarjana fisika alumnus The College of William and Marry, Virginia, USA dengan GPA 3,95 dan juga anggota Phi Beta Kappa, telah mempersiapkan diri untuk studi S-2, sambil mempersiapkan diri, remaja jenius plus multitalenta yang juga gemar berbisnis, bermain piano, melukis, memasak, dan olahraga ini bekerja di sebuah bank swasta dan tinggal di Surabaya.
Prestasi Audrey yang dicatat MURI:
1. Anak Indonesia pertama yang diundang untuk hadir di Global Young Leader Conference di Washington DC dan New York.
2. mahasiswi termuda (14 tahun) dari Indonesia dengan kredit terbanyak 36,5 kredit dalam satu semester termasuk summer course dengan GPA tertinggi 3,975 di Mary Baldwin college USA.
3. Peserta termuda dari Indonesia (14 tahun) yang mendapatkan penghargaan (honors) untuk spring semester 2002 di Baldwin College USA
4. Anak usia termuda dari Indonesia yang menguasai tiga bahasa asing (TOEFL : 670), Perancis (lulus DELF A3) dan Rusia (University of Virginia)
5. Peserta termuda Indonesia dengan nilai tertinggi (670) untuk ujian TOEFL.
6. Peserta termuda (14 tahun) dari Indonesia yang mengikuti summer course bahasa Rusia di University of Virginia, USA dengan nilai tinggi A.
7. Mahasiswa termuda (13 tahun) dari Indonesia yang ikut berpartisipasi berkunjung ke Senat di Richmond (ibukota Virginia) dalam memperoleh biaya pendidikan dari pemerintah.
8. Mahasiswi termuda dari Indonesia (13 tahun) yang masuk perguruan tinggi di Amerika (Mary Baldwin College).
9. Peserta termuda dari Indonesia (13 tahun) yang mengikuti test SAT II dengan subjek terbanyak 5 pelajaran (writing: 640, matematik : 680, French: 730, world history : 530 dan physic: 690).
Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com
Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com
Tuesday, August 4, 2009
Be Yourself
Mengapa Harus Meniru?
Seorang rabi muda menggantikan ayahnya. Umat banyak yang protes, karena mereka sering membandingkannya dengan ayahnya, rabi senior yang mereka hormati. Dalam pertemuan jemaat, kritik kepadanya berbunyi “Engkau tidak seperti ayahmu”. Dengan tenang rabi muda menjawab, “Kalian tahu, ayahku seorang yang tidak pernah meniru siapa pun. Kini biarkan aku menjadi diriku sendiri, tidak meniru siapa pun, termasuk meniru ayahku. Dengan begitu, bukankah aku justru mirip ayahku?”
Godaan untuk meniru dan menyesuaikan diri dengan harapan untuk menyenangkan banyak orang sering mengusik kita. Mengapa? Karena kita ingin diterima. Kita pun sering tergoda untuk mencari muka di depan orang yang berpengaruh. Padahal mereka pun bisa salah. Hari ini kita belajar perlunya mandiri dalam bersikap, tanpa berlaku sok pintar. Teguh dalam pendirian, tanpa menjadi keras kepala. Menjadi diri sendiri, tanpa merendahkan orang lain. TUHAN MENCIPTAKAN KITA MASING-MASING UNIK. JADI KENAPA MESTI MENIRU ORANG LAIN? (Ditulis oleh Pipi Agus di http://www.renunganharian.net/, email dikirim oleh Bpk. Tefa di Milis Terang Dunia.
Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com
Seorang rabi muda menggantikan ayahnya. Umat banyak yang protes, karena mereka sering membandingkannya dengan ayahnya, rabi senior yang mereka hormati. Dalam pertemuan jemaat, kritik kepadanya berbunyi “Engkau tidak seperti ayahmu”. Dengan tenang rabi muda menjawab, “Kalian tahu, ayahku seorang yang tidak pernah meniru siapa pun. Kini biarkan aku menjadi diriku sendiri, tidak meniru siapa pun, termasuk meniru ayahku. Dengan begitu, bukankah aku justru mirip ayahku?”
Godaan untuk meniru dan menyesuaikan diri dengan harapan untuk menyenangkan banyak orang sering mengusik kita. Mengapa? Karena kita ingin diterima. Kita pun sering tergoda untuk mencari muka di depan orang yang berpengaruh. Padahal mereka pun bisa salah. Hari ini kita belajar perlunya mandiri dalam bersikap, tanpa berlaku sok pintar. Teguh dalam pendirian, tanpa menjadi keras kepala. Menjadi diri sendiri, tanpa merendahkan orang lain. TUHAN MENCIPTAKAN KITA MASING-MASING UNIK. JADI KENAPA MESTI MENIRU ORANG LAIN? (Ditulis oleh Pipi Agus di http://www.renunganharian.net/, email dikirim oleh Bpk. Tefa di Milis Terang Dunia.
Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com
Pit Stop
Michael Schumacher menjadi juara dunia Formula One (F1) tujuh kali. Ia mampu memacu mobil balapnya dengan kecepatan di atas 300 km/jam, menyelesaikan puluhan lap dalam waktu yang amat cepat. Ada satu hal yang selalu ia lakukan saat berlomba, yaitu melakukan pit stop. Di pit stop itu, ia berhenti sejenak untuk mengisi bahan bakar, mengganti ban yang aus, dan memeriksa peralatan mobilnya. Sesaat kemudian ia pun melanjutkan lomba.
Sejarah mencatat, dalam F1 strategi pit stop tidak jarang menjadi penentu. Perhentian sesaat di pit stop itu bisa mengantar seorang pembalap meraih kemenangan. Mirip dengan kehidupan kita. Setiap hari kita menjalani berbagai aktivitas dan kerap terjebak dalam rutinitas. Tujuh hari dalam seminggu kita memacu diri kita dengan berbagai kesibukan pekerjaan, mungkin ditambah juga dengan pelayanan di gereja atau aktivitas di tempat lain. Sehingga saking sibuknya sampai-sampai kita pun kerap kali lupa hal yang sangat penting, yaitu “berhenti” sejenak.
Dalam bacaan kita, Tuhan Yesus mengetahui kelelahan para murid-Nya setelah melayani orang banyak. Dia pun lalu mengajak mereka beristirahat, menarik diri dari kesibukan. Ada saat di mana kita harus sejenak berhenti. Mengambil jeda dari kebisingan hidup. Sejenak menarik diri dari hiruk pikuk rutinitas. Mengistirahatkan bukan hanya tubuh, tetapi juga hati dan pikiran. Saat di mana kita memeriksa dan mengasah diri. Ibarat me-recharge baterai kehidupan kita. Untuk kemudian bersiap melanjutkan perjalanan lebih jauh lagi. TANPA AKTIVITAS KITA BISA TUMPUL, TETAPI TANPA LIBUR KITA BISA AUS. Penulis: Ayub Yahya/Email kiriman Bpk. Tefa/Milis Terang Dunia.
Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com
Sejarah mencatat, dalam F1 strategi pit stop tidak jarang menjadi penentu. Perhentian sesaat di pit stop itu bisa mengantar seorang pembalap meraih kemenangan. Mirip dengan kehidupan kita. Setiap hari kita menjalani berbagai aktivitas dan kerap terjebak dalam rutinitas. Tujuh hari dalam seminggu kita memacu diri kita dengan berbagai kesibukan pekerjaan, mungkin ditambah juga dengan pelayanan di gereja atau aktivitas di tempat lain. Sehingga saking sibuknya sampai-sampai kita pun kerap kali lupa hal yang sangat penting, yaitu “berhenti” sejenak.
Dalam bacaan kita, Tuhan Yesus mengetahui kelelahan para murid-Nya setelah melayani orang banyak. Dia pun lalu mengajak mereka beristirahat, menarik diri dari kesibukan. Ada saat di mana kita harus sejenak berhenti. Mengambil jeda dari kebisingan hidup. Sejenak menarik diri dari hiruk pikuk rutinitas. Mengistirahatkan bukan hanya tubuh, tetapi juga hati dan pikiran. Saat di mana kita memeriksa dan mengasah diri. Ibarat me-recharge baterai kehidupan kita. Untuk kemudian bersiap melanjutkan perjalanan lebih jauh lagi. TANPA AKTIVITAS KITA BISA TUMPUL, TETAPI TANPA LIBUR KITA BISA AUS. Penulis: Ayub Yahya/Email kiriman Bpk. Tefa/Milis Terang Dunia.
Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com
Monday, August 3, 2009
Jesus is the Way, the Truth, and the Life
Saya lahir dari sebuah keluarga di Jawa Timur yang taat menjalankan perintah agama. Doktrin yang saya terima dari bapak begitu jelas. Saya boleh menikah dengan siapa saja, apapun rasnya, asal yang bersangkutan seiman dengan saya. Maka ketika hati saya tertambat pada seorang pria Tionghoa yang berbeda agama dengan saya, tiba-tiba saja sebuah masalah besar menghadang di depan mata. Apalagi sebagai wanita yang masih sangat muda waktu itu, saya lebih menuruti kata hati dan perasaan. Ya, perasaan yang tengah tumbuh subur oleh cinta. Sebenarnya sebagai anak yang berbakti, saya tak hendak menentang kehendak orangtua. Tapi yang satu ini, dorongan hatiku agaknya lebih kuat dari berbagai larangan maupun resiko paling buruk yang mesti kuhadapi. Maka mesti ditentang disana-sini, kadang juga diancam, aku pantang mundur untuk memadu cinta dengannya.
Tetapi kekangan dan tekanan keluarga rupanya jauh lebih kuat. Keinginan orang tua kami cuma satu: kalau aku hendak menikah dengan pacarku, maka dia yang tidak seiman dengan kami mesti memeluk kepercayaan yang kami anut. Mungkin demi kasihnya yang begitu besar kepadaku, dia pacarku, akhirnya menuruti kemauan orang tuaku. Begitulah, setelah semua persyaratan yang diajukan bapak dipenuhi, kamipun menikah pada 27 Juli 1985, tepat pada hari ulang tahun pacar saya. Tak lama kemudian buah hati pertama kami lahir, kami beri nama Nova. Ia cantik dan pintar.
Lalu menyusul adiknya, Agnes. Nah saat Agnes berusia 2 tahun, tepatnya pada 1989, saya mengalami mimpi aneh. Dalam mimpi itu seakan-akan saya berada di padang pasir yang tandus dan panas. Rasa haus menyiksa kerongkongan. Sepi, tak seorangpun ada di sana. Jeritan minta tolong seperti lenyap disapu angin padang pasir. Tiba-tiba dalam mimpi itu, saya seperti melihat kilat. Bersamaan dengan itu muncul sesosok laki-laki berambut panjang dan berjubah. Di bagian belakang jubahnya terlihat warna biru langit yang segar. Sayapun melambaikan tangan kearahnya, berharap pertolongan. Mendadak orang itu berkata, "Saat ini kamu sedang diambang kematian. Jika ingin selamat, kamu harus percaya kepada-Ku. Karena jalan keselamatan, hanya ada didalam-Ku. Akulah Tuhanmu. Apakah kamu masih belum percaya? Akulah jalan kebenaran hidup. Barangsiapa percaya kepadaKu, maka ia akan selamat. Ikutlah Aku!"
Saya kontan terbangun. Anehnya keadaan kamar saya waktu itu ikut terang benderang. Padahal lampu penerangan di kamar saya hanya 15 watt. Saya jadi tercenung, mengenangkan semua mimpi yang baru terjadi. Saya ingat dengan jelas wajah laki-laki berjubah yang menemui saya di dalam mimpi itu.
Ah, benar! Wajahnya itu kerap dibawa suami saya dari Surabaya, enam tahun silam. Ketika itu suami saya membawa gambar Yesus dan sebuah Alkitab. Melihat semua itu emosi saya jadi terbakar, gambar Yesus saya injak-injak dan saya sobek. Dengan penuh kemarahan saya berkata kepada suami saya, "Saat ini juga kita cerai....!" Mungkin takut atau tak ingin ribut-ribut, sejak itu suami saya tak pernah lagi membawa gambar Yesus ke rumah.
Demikian pula dengan Alkitab, saya tak pernah melihatnya untuk yang kedua kali. Kendati begitu mimpi di padang pasir terus mengusik pikiran saya. Sampai kira-kira sebulan kemudian, saya bertengkar hebat dengan suami. Jujur mesti saya akui kalau suami saya sangat baik dan sabar. Jika terjadi pertengkaran di antara kami, ia memilih mengalah atau menghindar. Saya sendiri aduh ..... acapkali kesetanan, dengan kedua tangan saya mencekiknya. Sesudah itu saya berendam di kamar mandi hingga berjam-jam. Begitu juga yang terjadi malam itu, usai bertengkar dengan suami, saya langsung masuk ke kamar mandi dan menguncinya dari dalam. Takut terjadi sesuatu dengan saya, suami mencoba menggedor-gedor pintu. "Kalau kamu marah, jangan begitu. Itu namanya menyiksa diri. Lebih baik kau pukul saja aku .... biar lega," bujuk suami saya.
Mendengar kata-katanya yang begitu sejuk, kemarahan saya akhirnya mencair. Tiba-tiba muncul perasaan iba kepadanya. Keluar dari kamar mandi, saya langsung membaringkan tubuh ke atas tempat tidur. Malam itu suhu tubuh saya meninggi dan mendekati tengah malam saya mengalami kejang-kejang. Suami saya kebingungan melihat kondisi saya. Dipanggilnya seluruh keluarga, termasuk tante-tante saya. Lalu dibacakan doa-doa untuk saya. Tapi keadaan saya makin memburuk. Perut saya mengeras, dan bibir saya terlihat biru. Samar-samar terdengar suami saya berkata, "Ma, kami semua mencintai mama. Aku dan juga anak-anak, sangat sayang pada mama. Apakah mama tidak ingin sembuh, tidak ingin hidup dan mendampingi kami lagi? Tolong ma, bertahanlah. Cobalah mama mengumpulkan semangat. Sebutlah nama Yesus!"
Saat itu saya merasakan segalanya hampir berakhir. Tapi hati kecil saya belum rela meninggalkan anak-anak dan suami. Dan dalam himpitan demikian, sayapun menyebut nama yang disarankan suami saya. Yesus! Bahkan dengan cara berdoa semampu saya, saya minta tolong Yesus untuk disembuhkan. Lalu perlahan-lahan saya merasakan seluruh syaraf saya mengendur. Saya tidak tegang lagi. Saya bisa melihat dengan sempurna. Saya melihat suami saya tersenyum dan memanggil saya.
Sebuah panggilan yang lembut dan mesra. Kendati begitu saya belum juga mau bertobat. Dan malamnya, saya bermimpi lagi. Dalam mimpi itu seolah-olah saya hendak tenggelam di laut. Lalu tiba-tiba muncul sesosok wajah seperti dalam mimpi yang dulu. Wajah Yesus. "Kamu masih belum percaya kepada-Ku? Akulah Tuhanmu, Akulah jalan, kebenaran dan hidup", katanya. Sayapun mengangguk.
Lalu saya diangkat-Nya. Keesokan harinya saya mulai membuka Alkitab yang disembunyikan suami saya. Ketika pertama membuka, saya temukan bunyi kalimat: "Akulah Tuhanmu. Akulah jalan, kebenaran dan hidup". Pembaca yang seiman, meski dengan sembunyi-sembunyi saya tahu kalau selama ini suami saya ternyata masih rajin ke gereja. Agar kepergiannya tidak saya ketahui, biasanya ia ke gereja dengan menyamar, hanya mengenakan sandal jepit, kaus oblong dan Alkitab kecil diselipkan di dalam saku.
Agaknya ia takut ketahuan keluarga saya. Mula-mula saya kerap berkata Alkitab itu najis. Tapi waktu itu saya buka, saya mendapat firman itu lagi. Saya bilang, "Ya Tuhan, kok saya memperoleh ayat itu lagi?". Saya tutup Alkitab itu dan besoknya saya buka kembali. Namun lagi-lagi ayat itu yang saya temukan. Saya sampai berpikir waktu itu, "Kok ayatnya ini semua? Apa tidak ada bacaan lain?" Padahal Alkitab Perjanjian Baru itu tebal. Saya jadi penasaran, dan akhirnya mulai membukanya dari yang pertama.
Sejak saat itu saya jadi tekun mendalami Alkitab. Tapi gengsi saya masih menggunung. Malu diketahui suami, semua itu saya lakukan dengan sembunyi-sembunyi. Saya mulai membanding-bandingkan mana ajaran yang paling benar. Saya bahkan pernah baca dua kitab suci sekaligus dan mencoba membandingkannya. Roh Tuhan rupanya bekerja dalam jiwa saya. Setelah sadar bahwa Alkitab merupakan kebenaran Firman Allah, maka saya mencoba berkata kepada-Nya: "Tuhan, saatnya saya bertobat dan berlutut di hadapan Engkau". Ya, sejak itu Tuhan mulai berkarya dalam hidup saya. Saya berani bilang kepada suami, "Kamu boleh ke gereja, tapi pakai sandal jepit dan jangan sampai kelihatan tetangga."
Tetapi seperti pepatah "Sepandai-pandainya tupai melompat akhirnya jatuh juga", begitulah yang terjadi pada kami. Aktifitas kami berdua ke gereja akhirnya ketahuan juga. Sejak itulah keluarga kami mulai mengalami masa penganiayaan. Tiga tahun kami mengalami pergulatan yang menyesakkan. Bahkan dua anak saya, pernah diancam akan dimasukkan ke sumur. Setiap pagi saat saya membuka toko, di depan toko saya temukan banyak kotoran manusia terserak dimana-mana. Bahkan di atas kotoran itu pernah ditancapkan sebuah salib dan diberi komentar "Lihatlah Tuhanmu lagi tidur". Atau "Seperti inilah Tuhanmu".
Polisi agaknya melihat kami sedang diteror dan diancam, karena itu mereka mulai menjaga toko kami. Kami sendiri sudah pasrah, dan hanya menggantungkan semua perkara kepada Tuhan. Puncaknya rumah kami pernah dikepung dan hendak dibakar massa. Akan halnya bapak, beliau yang begitu benci kepada saya pernah mengizinkan orang-orang untuk menghabisi kami semua. Begitu juga dengan tante-tante, mereka bahkan pernah bilang pada bapak, "Lebih baik nggak punya anak dari pada kamu punya anak menjadi kafir". Yang lebih tragis, sejak itu toko saya menjadi sepi. Paling banyak saya hanya mendapat pemasukan Rp. 2 ribu sehari.
Ketika anak ketiga kami lahir, ia tak pernah merasakan bermain dengan anak-anak sebayanya di kampung. Mereka ditolak masuk kampung. Bukan itu saja, anak-anak juga dicemooh, dikatakan, "Kristen ...Kristen". Sudah tak terhitung paha anak saya disulut rokok. Atau rambutnya dipangkas tak beraturan. Sejak itu saya melarang anak-anak keluar rumah. Ajaibnya, meski keluarga kami mengalami tekanan yang begitu dahsyat, ternyata diam-diam adik saya mengikuti jejak kami. Prosesnya nyaris sama, yakni setelah ia diselamatkan Tuhan dari sakitnya. Tetapi sejak mengikuti jalan Kristus ia harus membayar dengan mahal, penganiayaan yang dialaminya lebih berat. Suatu hari adik saya bahkan hendak dibunuh. Pedang dan clurit sudah melingkar di tubuhnya. Saya yang mendengar laporan itu lalu berkata pada suami, "Pa, jika aku mati, aku rela karena kematianku demi Yesus. Aku titip anak-anak padamu. Sekarang, aku harus berangkat menolong dan menyelamatkan adikku".
Ketika saya berangkat air mata bercucuran membasahi pipi. Di tengah perjalanan mulut saya tak pernah lepas sedetikpun dari doa. Begitu saya sampai di lokasi tempat adik saya hendak dihabisi, orang-orang tercengang melihat saya. Sebab dari mulut saya terus meluncur doa yang saya kutip dari dua kitab suci sekaligus. Dan meski hati ini tergetar melihat tubuh adik saya basah kuyup oleh minyak tanah, mulut saya tetap melantunkan doa-doa kepada Yesus.
Tuhan yang penuh kasih itu menjamah kami dengan hangat. Adik saya dilepas massa. Dan kamipun berangkulan. Lalu kepada adik, saya minta dia untuk tinggal di rumah kami. Saya telah membuktikan kekuatan Yesus. Oleh karena itu saya tidak takut mati karena Yesus. Saya tidak takut mati demi Yesus.
"Berbahagialah orang yang bertahan dalam pencobaan, sebab apabila ia sudah tahan uji, ia akan menerima mahkota kehidupan yang dijanjikan Allah kepada barangsiapa yang mengasihi Dia" (Yakobus 1 : 12) - Dari Elia Stories/Gloria.
Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com
Tetapi kekangan dan tekanan keluarga rupanya jauh lebih kuat. Keinginan orang tua kami cuma satu: kalau aku hendak menikah dengan pacarku, maka dia yang tidak seiman dengan kami mesti memeluk kepercayaan yang kami anut. Mungkin demi kasihnya yang begitu besar kepadaku, dia pacarku, akhirnya menuruti kemauan orang tuaku. Begitulah, setelah semua persyaratan yang diajukan bapak dipenuhi, kamipun menikah pada 27 Juli 1985, tepat pada hari ulang tahun pacar saya. Tak lama kemudian buah hati pertama kami lahir, kami beri nama Nova. Ia cantik dan pintar.
Lalu menyusul adiknya, Agnes. Nah saat Agnes berusia 2 tahun, tepatnya pada 1989, saya mengalami mimpi aneh. Dalam mimpi itu seakan-akan saya berada di padang pasir yang tandus dan panas. Rasa haus menyiksa kerongkongan. Sepi, tak seorangpun ada di sana. Jeritan minta tolong seperti lenyap disapu angin padang pasir. Tiba-tiba dalam mimpi itu, saya seperti melihat kilat. Bersamaan dengan itu muncul sesosok laki-laki berambut panjang dan berjubah. Di bagian belakang jubahnya terlihat warna biru langit yang segar. Sayapun melambaikan tangan kearahnya, berharap pertolongan. Mendadak orang itu berkata, "Saat ini kamu sedang diambang kematian. Jika ingin selamat, kamu harus percaya kepada-Ku. Karena jalan keselamatan, hanya ada didalam-Ku. Akulah Tuhanmu. Apakah kamu masih belum percaya? Akulah jalan kebenaran hidup. Barangsiapa percaya kepadaKu, maka ia akan selamat. Ikutlah Aku!"
Saya kontan terbangun. Anehnya keadaan kamar saya waktu itu ikut terang benderang. Padahal lampu penerangan di kamar saya hanya 15 watt. Saya jadi tercenung, mengenangkan semua mimpi yang baru terjadi. Saya ingat dengan jelas wajah laki-laki berjubah yang menemui saya di dalam mimpi itu.
Ah, benar! Wajahnya itu kerap dibawa suami saya dari Surabaya, enam tahun silam. Ketika itu suami saya membawa gambar Yesus dan sebuah Alkitab. Melihat semua itu emosi saya jadi terbakar, gambar Yesus saya injak-injak dan saya sobek. Dengan penuh kemarahan saya berkata kepada suami saya, "Saat ini juga kita cerai....!" Mungkin takut atau tak ingin ribut-ribut, sejak itu suami saya tak pernah lagi membawa gambar Yesus ke rumah.
Demikian pula dengan Alkitab, saya tak pernah melihatnya untuk yang kedua kali. Kendati begitu mimpi di padang pasir terus mengusik pikiran saya. Sampai kira-kira sebulan kemudian, saya bertengkar hebat dengan suami. Jujur mesti saya akui kalau suami saya sangat baik dan sabar. Jika terjadi pertengkaran di antara kami, ia memilih mengalah atau menghindar. Saya sendiri aduh ..... acapkali kesetanan, dengan kedua tangan saya mencekiknya. Sesudah itu saya berendam di kamar mandi hingga berjam-jam. Begitu juga yang terjadi malam itu, usai bertengkar dengan suami, saya langsung masuk ke kamar mandi dan menguncinya dari dalam. Takut terjadi sesuatu dengan saya, suami mencoba menggedor-gedor pintu. "Kalau kamu marah, jangan begitu. Itu namanya menyiksa diri. Lebih baik kau pukul saja aku .... biar lega," bujuk suami saya.
Mendengar kata-katanya yang begitu sejuk, kemarahan saya akhirnya mencair. Tiba-tiba muncul perasaan iba kepadanya. Keluar dari kamar mandi, saya langsung membaringkan tubuh ke atas tempat tidur. Malam itu suhu tubuh saya meninggi dan mendekati tengah malam saya mengalami kejang-kejang. Suami saya kebingungan melihat kondisi saya. Dipanggilnya seluruh keluarga, termasuk tante-tante saya. Lalu dibacakan doa-doa untuk saya. Tapi keadaan saya makin memburuk. Perut saya mengeras, dan bibir saya terlihat biru. Samar-samar terdengar suami saya berkata, "Ma, kami semua mencintai mama. Aku dan juga anak-anak, sangat sayang pada mama. Apakah mama tidak ingin sembuh, tidak ingin hidup dan mendampingi kami lagi? Tolong ma, bertahanlah. Cobalah mama mengumpulkan semangat. Sebutlah nama Yesus!"
Saat itu saya merasakan segalanya hampir berakhir. Tapi hati kecil saya belum rela meninggalkan anak-anak dan suami. Dan dalam himpitan demikian, sayapun menyebut nama yang disarankan suami saya. Yesus! Bahkan dengan cara berdoa semampu saya, saya minta tolong Yesus untuk disembuhkan. Lalu perlahan-lahan saya merasakan seluruh syaraf saya mengendur. Saya tidak tegang lagi. Saya bisa melihat dengan sempurna. Saya melihat suami saya tersenyum dan memanggil saya.
Sebuah panggilan yang lembut dan mesra. Kendati begitu saya belum juga mau bertobat. Dan malamnya, saya bermimpi lagi. Dalam mimpi itu seolah-olah saya hendak tenggelam di laut. Lalu tiba-tiba muncul sesosok wajah seperti dalam mimpi yang dulu. Wajah Yesus. "Kamu masih belum percaya kepada-Ku? Akulah Tuhanmu, Akulah jalan, kebenaran dan hidup", katanya. Sayapun mengangguk.
Lalu saya diangkat-Nya. Keesokan harinya saya mulai membuka Alkitab yang disembunyikan suami saya. Ketika pertama membuka, saya temukan bunyi kalimat: "Akulah Tuhanmu. Akulah jalan, kebenaran dan hidup". Pembaca yang seiman, meski dengan sembunyi-sembunyi saya tahu kalau selama ini suami saya ternyata masih rajin ke gereja. Agar kepergiannya tidak saya ketahui, biasanya ia ke gereja dengan menyamar, hanya mengenakan sandal jepit, kaus oblong dan Alkitab kecil diselipkan di dalam saku.
Agaknya ia takut ketahuan keluarga saya. Mula-mula saya kerap berkata Alkitab itu najis. Tapi waktu itu saya buka, saya mendapat firman itu lagi. Saya bilang, "Ya Tuhan, kok saya memperoleh ayat itu lagi?". Saya tutup Alkitab itu dan besoknya saya buka kembali. Namun lagi-lagi ayat itu yang saya temukan. Saya sampai berpikir waktu itu, "Kok ayatnya ini semua? Apa tidak ada bacaan lain?" Padahal Alkitab Perjanjian Baru itu tebal. Saya jadi penasaran, dan akhirnya mulai membukanya dari yang pertama.
Sejak saat itu saya jadi tekun mendalami Alkitab. Tapi gengsi saya masih menggunung. Malu diketahui suami, semua itu saya lakukan dengan sembunyi-sembunyi. Saya mulai membanding-bandingkan mana ajaran yang paling benar. Saya bahkan pernah baca dua kitab suci sekaligus dan mencoba membandingkannya. Roh Tuhan rupanya bekerja dalam jiwa saya. Setelah sadar bahwa Alkitab merupakan kebenaran Firman Allah, maka saya mencoba berkata kepada-Nya: "Tuhan, saatnya saya bertobat dan berlutut di hadapan Engkau". Ya, sejak itu Tuhan mulai berkarya dalam hidup saya. Saya berani bilang kepada suami, "Kamu boleh ke gereja, tapi pakai sandal jepit dan jangan sampai kelihatan tetangga."
Tetapi seperti pepatah "Sepandai-pandainya tupai melompat akhirnya jatuh juga", begitulah yang terjadi pada kami. Aktifitas kami berdua ke gereja akhirnya ketahuan juga. Sejak itulah keluarga kami mulai mengalami masa penganiayaan. Tiga tahun kami mengalami pergulatan yang menyesakkan. Bahkan dua anak saya, pernah diancam akan dimasukkan ke sumur. Setiap pagi saat saya membuka toko, di depan toko saya temukan banyak kotoran manusia terserak dimana-mana. Bahkan di atas kotoran itu pernah ditancapkan sebuah salib dan diberi komentar "Lihatlah Tuhanmu lagi tidur". Atau "Seperti inilah Tuhanmu".
Polisi agaknya melihat kami sedang diteror dan diancam, karena itu mereka mulai menjaga toko kami. Kami sendiri sudah pasrah, dan hanya menggantungkan semua perkara kepada Tuhan. Puncaknya rumah kami pernah dikepung dan hendak dibakar massa. Akan halnya bapak, beliau yang begitu benci kepada saya pernah mengizinkan orang-orang untuk menghabisi kami semua. Begitu juga dengan tante-tante, mereka bahkan pernah bilang pada bapak, "Lebih baik nggak punya anak dari pada kamu punya anak menjadi kafir". Yang lebih tragis, sejak itu toko saya menjadi sepi. Paling banyak saya hanya mendapat pemasukan Rp. 2 ribu sehari.
Ketika anak ketiga kami lahir, ia tak pernah merasakan bermain dengan anak-anak sebayanya di kampung. Mereka ditolak masuk kampung. Bukan itu saja, anak-anak juga dicemooh, dikatakan, "Kristen ...Kristen". Sudah tak terhitung paha anak saya disulut rokok. Atau rambutnya dipangkas tak beraturan. Sejak itu saya melarang anak-anak keluar rumah. Ajaibnya, meski keluarga kami mengalami tekanan yang begitu dahsyat, ternyata diam-diam adik saya mengikuti jejak kami. Prosesnya nyaris sama, yakni setelah ia diselamatkan Tuhan dari sakitnya. Tetapi sejak mengikuti jalan Kristus ia harus membayar dengan mahal, penganiayaan yang dialaminya lebih berat. Suatu hari adik saya bahkan hendak dibunuh. Pedang dan clurit sudah melingkar di tubuhnya. Saya yang mendengar laporan itu lalu berkata pada suami, "Pa, jika aku mati, aku rela karena kematianku demi Yesus. Aku titip anak-anak padamu. Sekarang, aku harus berangkat menolong dan menyelamatkan adikku".
Ketika saya berangkat air mata bercucuran membasahi pipi. Di tengah perjalanan mulut saya tak pernah lepas sedetikpun dari doa. Begitu saya sampai di lokasi tempat adik saya hendak dihabisi, orang-orang tercengang melihat saya. Sebab dari mulut saya terus meluncur doa yang saya kutip dari dua kitab suci sekaligus. Dan meski hati ini tergetar melihat tubuh adik saya basah kuyup oleh minyak tanah, mulut saya tetap melantunkan doa-doa kepada Yesus.
Tuhan yang penuh kasih itu menjamah kami dengan hangat. Adik saya dilepas massa. Dan kamipun berangkulan. Lalu kepada adik, saya minta dia untuk tinggal di rumah kami. Saya telah membuktikan kekuatan Yesus. Oleh karena itu saya tidak takut mati karena Yesus. Saya tidak takut mati demi Yesus.
"Berbahagialah orang yang bertahan dalam pencobaan, sebab apabila ia sudah tahan uji, ia akan menerima mahkota kehidupan yang dijanjikan Allah kepada barangsiapa yang mengasihi Dia" (Yakobus 1 : 12) - Dari Elia Stories/Gloria.
Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com
Subscribe to:
Posts (Atom)
Kesaksian Pembaca Buku "Mukjizat Kehidupan"
Pada tanggal 28 Oktober 2009 datang SMS dari seorang Ibu di NTT, bunyinya:
"Terpujilah Tuhan karena buku "Mukjizat Kehidupan", saya belajar untuk bisa mengampuni, sabar, dan punya waktu di hadirat Tuhan, dan akhirnya Rumah Tangga saya dipulihkan, suami saya sudah mau berdoa. Buku ini telah jadi berkat buat teman-teman di Pasir Panjang, Kupang, NTT. Kami belajar mengasihi, mengampuni, dan selalu punya waktu berdoa."
Hall of Fame - Daftar Pembaca Yang Diberkati Buku Mukjizat Kehidupan
- A. Rudy Hartono Kurniawan - Juara All England 8 x dan Asian Hero
- B. Pdt. DR. Ir. Niko Njotorahardjo
- C. Pdt. Ir. Djohan Handojo
- D. Jeffry S. Tjandra - Worshipper
- E. Pdt. Petrus Agung - Semarang
- F. Bpk. Irsan
- G. Ir. Ciputra - Jakarta
- H. Pdt. Dr. Danny Tumiwa SH
- I. Erich Unarto S.E - Pendiri dan Pemimpin "Manna Sorgawi"
- J. Beni Prananto - Pengusaha
- K. Aryanto Agus Mulyo - Partner Kantor Akuntan
- L. Ir. Handaka Santosa - CEO Senayan City
- M. Pdt. Drs. Budi Sastradiputra - Jakarta
- N. Pdm. Lim Lim - Jakarta
- O. Lisa Honoris - Kawai Music Shool Jakarta
- P. Ny. Rachel Sudarmanto - Jakarta
- Q. Ps. Levi Supit - Jakarta
- R. Pdt. Samuel Gunawan - Jakarta
- S. F.A Djaya - Tamara Jaya - By Pass Ngurah Rai - Jimbaran - Bali
- T. Ps. Kong - City Blessing Church - Jakarta
- U. dr. Yoyong Kohar - Jakarta
- V. Haryanto - Gereja Katholik - Jakarta
- W. Fanny Irwanto - Jakarta
- X. dr. Sylvia/Yan Cen - Jakarta
- Y. Ir. Junna - Jakarta
- Z. Yudi - Raffles Hill - Cibubur
- ZA. Budi Setiawan - GBI PRJ - Jakarta
- ZB. Christine - Intercon - Jakarta
- ZC. Budi Setiawan - CWS Kelapa Gading - Jakarta
- ZD. Oshin - Menara BTN - Jakarta
- ZE. Johan Sunarto - Tanah Pasir - Jakarta
- ZF. Waney - Jl. Kesehatan - Jakarta
- ZG. Lukas Kacaribu - Jakarta
- ZH. Oma Lydia Abraham - Jakarta
- ZI. Elida Malik - Kuningan Timur - Jakarta
- ZJ. Luci - Sunter Paradise - Jakarta
- ZK. Irene - Arlin Indah - Jakarta Timur
- ZL. Ny. Hendri Suswardani - Depok
- ZM. Marthin Tertius - Bank Artha Graha - Manado
- ZN. Titin - PT. Tripolyta - Jakarta
- ZO. Wiwiek - Menteng - Jakarta
- ZP. Agatha - PT. STUD - Menara Batavia - Jakarta
- ZR. Albertus - Gunung Sahari - Jakarta
- ZS. Febryanti - Metro Permata - Jakarta
- ZT. Susy - Metro Permata - Jakarta
- ZU. Justanti - USAID - Makassar
- ZV. Welian - Tangerang
- ZW. Dwiyono - Karawaci
- ZX. Essa Pujowati - Jakarta
- ZY. Nelly - Pejaten Timur - Jakarta
- ZZ. C. Nugraheni - Gramedia - Jakarta
- ZZA. Myke - Wisma Presisi - Jakarta
- ZZB. Wesley - Simpang Darmo Permai - Surabaya
- ZZC. Ray Monoarfa - Kemang - Jakarta
- ZZD. Pdt. Sunaryo Djaya - Bethany - Jakarta
- ZZE. Max Boham - Sidoarjo - Jatim
- ZZF. Julia Bing - Semarang
- ZZG. Rika - Tanjung Karang
- ZZH. Yusak Prasetyo - Batam
- ZZI. Evi Anggraini - Jakarta
- ZZJ. Kodden Manik - Cilegon
- ZZZZ. ISI NAMA ANDA PADA KOLOM KOMENTAR UNTUK DIMASUKKAN DALAM DAFTAR INI