Search This Blog

Friday, July 31, 2009

Shocking News about Terry MacAlmon

SINGER, pianist and worship leader Terry MacAlmon, who has risen to prominence through his appearances on Christian TV working with such figures as Benny Hinn, has announced that he is stepping down from ministry after having had an extra-marital affair. MacAlmon wrote in a letter to ministry supporters, "I don't have a timeline as to if or when I will return to ministry, but I know I cannot go forward with my soul in this condition."

McAlmon's wife Greta said she planned to file for legal separation, saying counselling and a restoration process had failed. She said, "At this time Terry has chosen to leave his family, these [counselling] relationships and the ministry," adding that she believes MacAlmon will one day be restored.

****

Berita tentang penyanyi, pemain piano dan pemimpin penyembahan Terry MacAlmon, yang telah mengundurkan diri dari pelayanan karena perselingkuhan dengan wanita lain, sangat mengejutkan. MacAlmon menulis, "Saya tidak tahu kapan akan kembali ke pelayanan, tetapi saya tahu saya tak dapat bergerak maju dengan keadaan jiwa seperti sekarang ini."

Istri MacAlmon, Greta, mengatakan bahwa ia telah merencanakan untuk mengajukan gugatan cerai sambil mengatakan bahwa proses konseling dan pemulihan telah gagal. Greta berkata, "Pada saat ini Terry telah memilih untuk meninggalkan keluarganya, meninggalkan proses konseling dan pelayanan," sambil menambahkan bahwa dia percaya MacAlmon akan dipulihkan pada suatu saat nanti.

Peristiwa ini mengingatkan kita bahwa pria yang paling gagah perkasa, seperti Samson, jatuh karena wanita; pria yang paling berhikmat, seperti Salomo, jatuh karena wanita; pria paling dekat di hati Tuhan, seperti Daud, jatuh karena wanita.

Teman saya, seorang Doktor Ekonomi dan seorang muslim yang saleh, berkata, "Jika kita menjaga hati istri kita, maka kita akan diberkati luar biasa. Seorang muslim tahu hikmat seperti itu. Bagaimana dengan kita?


****

Personal Note:
Terima kasih banyak atas pesanan buku "Mukjizat Kehidupan" oleh Bapak Halex dari Batam. Buku sudah dikirim hari Jumat ini. Jika Bapak diberkati buku tersebut, mohon referensikan kepada teman dan handai taulan. Terima kasih. God bless you.
Ditulis/diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Thursday, July 30, 2009

An Empty Chair

Seorang gadis mengundang pastor Paroki untuk datang ke rumahnya mendoakan ayahnya yang sedang sakit.

Pada waktu pastor datang, ia mendapati seorang bapak tua yang sedang berbaring lemah di tempat tidur, dan sebuah kursi kosong di depannya.

“Tentu anda telah menanti saya,” kata si Pastor.

“Tidak, siapakah anda?” tanya bapak itu.

Pastorpun memperkenalkan diri dan berkata, “Saya melihat kursi kosong ini, saya kira Bapak sudah tahu kalau saya akan datang.”

“Oo, kursi itu,” kata si Bapak, “Maukah anda menutup pintu kamar itu?”

Sambil bertanya-tanya dalam hati, Pastorpun menutup pintu kamar.

“Saya mempunyai sebuah rahasia, tidak ada seorangpun yang mengetahuinya, bahkan putri tunggal sayapun tidak tahu,” kata si Bapak. “Seumur hidupku saya tidak pernah tahu bagaimana caranya berdoa. Di gereja saya pernah mendengarkan kotbah Pastor tentang bagaimana caranya berdoa, tapi semuanya itu berlalu begitu saja dari kepala saya.”

“Semua cara sudah saya coba, tapi selalu gagal,” lanjut si Bapak, “Sampai pada suatu hari, tepatnya 4 tahun yang lalu, seorang sahabat karib saya mengajari suatu cara yang amat sederhana untuk dapat bercakap-cakap dengan Yesus.”

“Dia mengajari saya begini : duduklah di kursi, letakkan sebuah kursi kosong di depanmu, lalu bayangkan Yesus duduk di atas kursi tersebut. Ini bukan hantu-Nya lho, karena Ia telah berjanji “akan senantiasa besertamu”, kemudian berbicaralah biasa seperti halnya kamu sedang bercakap-cakap dengan saya saat ini.”

“Sayapun mencoba cara yang diberikan teman saya itu, dan sayapun dapat menikmatinya. Setiap hari saya melakukannya sampai beberapa jam. Semuanya itu saya lakukan secara sembunyi-sembunyi, agar putri saya tidak menganggap saya gila kalau melihat saya bercakap-cakap dengan kursi kosong.

”Si Pastor sangat tersentuh akan cerita Bapak itu, dan memberi dorongan agar si Bapak tetap melanjutkan kebiasaan berdoa tersebut. Setelah berdoa bersama, dan memberinya Sakramen Perminyakan, Pastorpun pulang.

Dua hari kemudian, si gadis memberitahu Pastor kalau ayahnya telah meninggal tadi siang.

“Apakah ia meninggal dengan damai?” tanya si Pastor.“Ya, waktu saya pamit untuk membeli beberapa keperluan ke toko siang itu, ayah memanggil saya dan mengatakan bahwa ia sangat mencintai saya, lalu mencium kedua pipi saya. Satu jam kemudian, pada waktu saya pulang dari berbelanja, saya mendapati ayah sudah meninggal.”

“Tapi ada suatu kejadian yang aneh waktu ayah meninggal. Ia meninggal dalam posisi duduk di atas tempat tidur dengan kepala tersandar pada kursi kosong yang ada di sebelah tempat tidur.

Bagaimana pendapat Pastor?

”Sambil mengusap air matanya, Pastorpun berkata, “Saya berharap kita semua kelak dapat meninggal dengan cara itu.” (Sumber: Milis Rohani/Evyla Yulia/Simon Rivian.)

Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Wednesday, July 29, 2009

Value Your Time

Jack baru saja mendapatkan pelajaran berharga. Ia membuka sebuah kotak keemasan dan ia mendapati di dalamnya sesuatu yang sangat berharga juga secarik kertas yang sangat berkesan.

Waktu kecil ia tinggal bersama ibunya di sebuah kota kecil. Ia bertetangga dengan seorang duda yang istrinya sudah meninggal. Duda itu tidak mempunyai anak dan hanya tinggal sendiri. Pria malang itu melihat Jack bertumbuh dari seorang anak-anak, sampai kencan pertamanya, lulus dari kuliah, bekerja dan menikah.

Jack adalah seorang pekerja keras yang gila kerja.Ia bahkan tidak ada waktu untuk putrinya dan istrinya. Setelah ia menikah,ia dan keluarganya tidak lagi tinggal di sebelah rumah pria tua itu. Mereka pindah.

Suatu hari Jack mendapat telepon dari ibunya, "Ingat Pak Belser? Ia meninggal dunia hari Selasa lalu. Pemakamannya hari Kamis pagi."

Kenangan masa kecilnya berseliweran dalam dirinya. Ia mengenang kembali masa-masa kecilnya dengan Pak Belser. "Halo?" suara ibunya membangunkannya. "Iya bu, aku akan ke sana hari Rabu," kata Jack"tapi kupikir Pak Belser sudah lupa tentang diriku."

"Oh tidak, Jack," kata ibunya, "Pak Belser selalu ingat padamu. Ia ingat akan hari- hari di mana kamu main-main di balik pagar rumahnya dan hari ketika kamu duduk di pangkuannya ketika istrinya meninggal."

"Beliau orang pertama yang mengajariku ilmu pertukangan. Tanpa beliau,aku tidak akan mungkin terjun ke usaha ini." kata Jack.

Sesibuk-sibuknya Jack, ia kemudian mengatur ulang jadwalnya di hari Rabu dan Kamis. Ia menghargai Pak Belser seperti ayahnya sendiri dan ia sangat ingin ada di sana ketika pemakamannya.

Hari Rabu malam ia tiba di kampung halamannya. Ia dan ibunya kemudian berjalan ke rumah Pak Belser untuk terakhir kalinya. Di beranda, ia mengintip ke dalam rumah Pak Belser.Terbesit banyak kenangan tentang masa kecilnya. Sofa yang sering ia duduk, meja makan di mana ia pernah memecahkan piring, telepon di sudut ruangan dan hey... Jack terdiam sejenak. "Kotak emas di ujung meja itu hilang!" seru Jack.

Ibunya bingung. Segera Jack menjelaskan tentang kotak emas di ujung meja itu. Ukurannya tak lebih dari satu jengkal orang dewasa dan bercat emas di luarnya. "Pak Belser selalu mengatakan itu miliknya paling berharga dan akan diberikan kepada seseorang yang layak menerimanya. Tapi setiap kali aku menanyakan isinya, ia selalu menjawab 'Pokoknya berharga deh'." Dan sekarang kotak emas itu sudah tidak ada lagi. Dugaan Jack, mungkin diambil oleh seorang keluarga jauhnya.

Dua minggu kemudian setelah pemakaman, seorang kurir mengantarkan sebuah paket untuk Jack. Nama Jack tertulis di atas paket itu dengan tulisan yang sangat sulit dibaca.
Jack membuka paket itu... Di dalamnya ada sebuah kotak emas (persis seperti kotak emas Pak Belser yang hilang itu) dan sepucuk surat. Jack membaca surat itu, "Setelah kepergianku, tolong sampaikan kotak ini kepada Jack Bennet. Ini adalah harta paling berharga yang kumiliki." Sebuah kunci ada dalam amplop itu, kunci untuk membuka kotak itu. Hatinya bergetar, tanpa sadar ia menangis terharu, Jack perlahan membuka kotak itu.

Di dalamnya dia menemukan sebuah jam saku yang indah yang terbuat dari emas. Dengan perlahan Jack membuka jam itu. Di dalamnya terukir kata-kata yang tak pernah ia lupakan seumur hidupnya, "Terima kasih, Jack, untuk waktumu. Ini saya berikan jam untukmu, sesuatu yang paling berharga bagiku. Harold Belser."

"Yang ia hargai dariku adalah... waktuku." serunya perlahan.

Ia menggenggam jam itu beberapa saat. Kemudian ia menelepon sekertarisnya dan membatalkan semua janjinya untuk dua hari ke depan. "Mengapa?" tanya Janet, sekertarisnya. "Aku ingin menghabiskan waktu untuk keluargaku," kata Jack, "dan Janet, terima kasih untuk waktumu..."

Sobat, di dunia ini ada dua hal yang tidak bisa ditarik kembali: itu adalah perkataan dan waktu. Waktu yang sudah lewat tidak akan bisa dikembalikan lagi. Waktu tidak bisa dipaksa mundur, tidak bisa diperlambat dan juga tidak bisa dipercepat. Waktu akan terus bergerak maju dengan kecepatan konstan. Kita tidak akan bisa kembali ke masa kanak-kanak. Kita tidak bisa mengulang satu peristiwa yang sama di waktu itu.

Sudahkah Anda memberi waktu pada diri Anda dan sesama Anda? Sudahkah orang lain menghargai waktu yang telah Anda korbankan kepada mereka? (Email dari Ibu Suharti)

*****

Personal Note:
Terima kasih atas pesanan 2 buku Mukjizat Kehidupan oleh Bpk. Hengky di Surabaya. Buku telah dikirim dengan pos kilat khusus pada Rabu pagi. God bless you. Jika Bapak diberkati buku tersebut, mohon referensikan kepada kolega-kolega Bapak.


Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Tuesday, July 28, 2009

On Time

Hari Minggu yang lalu Pdt. Kong Hee dari Singapura bercerita tentang pengalamannya membangun kantor gereja yang mula-mula. Pada saat itu Kong Hee masih berusia 25 tahun dan sudah menggembalakan jemaat. Seorang pengusaha tergerak untuk membantu pembangunan kantor gereja. "Berapa yang Anda perlukan?" tanya pengusaha itu. Setelah mencari lokasi yang pas dan menghitung biaya renovasi, diperlukan dana sebesar SGD$ 60 ribu dan Kong Hee sudah menunjuk perusahaan kontraktor untuk merenovasi bangunan tersebut. Bagi gereja City Harvest Church sekarang, jumlah itu tidak berarti, tetapi dulu jumlah ini besar sekali. Ketika renovasi selesai dan tagihan dari perusahaan kontraktor datang Kong Hee menyampaikan kebutuhan dana tersebut, sang pengusaha menjawab, "OK, temui CEO perusahaan saya besok!"

Kong Hee mendatangi sebuah kantor yang besar. Dia menunggu di sebuah ruang rapat yang besar dengan meja rapat yang mewah sekali ketika seorang boss datang dan berkata, "Apa yang dapat kami bantu?"

"Sesuai pesan Bapak Lee (nama samaran), saya mengajukan kebutuhan dana untuk pembangunan kantor gereja sebesar $ 60,000.-"

"Anak muda, itu bukan masalah. Kami akan penuhi asalkan saya menjadi Senior Pastor dan Anda menjadi salah seorang anggota majelisnya."

Kong Hee pernah mendengar kisah-kisah tentang perusahaan besar mencaplok perusahaan kecil, tetapi belum pernah mendengar ada perusahaan besar mencaplok gereja kecil.

"Maaf, saya tidak setuju. Berikan saja bantuan Anda kepada gereja lain," kata Kong Hee kepada CEO tersebut dan berlalu.

Ketika sadar apa yang sudah dilakukannya, Kong Hee bingung bagaimana membayar tagihan sebesar $ 60.000,- yang akan jatuh tempo lima hari lagi. Saat itu hari Senin, Jumat depannya harus lunas, kalau tidak akan muncul berita: Gereja City Harvest bangkrut, Kong Hee penipu, dan lain-lain bayangan buruk yang mungkin terjadi.

Apa yang dilakukan Kong Hee? Dia berdoa sungguh-sungguh kepada Tuhan Yesus Kepala Gereja. Dia memperkatakan firman Tuhan: "Allahku akan memenuhi segala keperluanku menurut kekayaan dan kemuliaan dalam Kristus".

Hari Selasa datang telpon dari seorang Guru Alkitab, tempat Kong Hee dahulu belajar. "Kong Hee, aku digerakkan Tuhan untuk memberi bantuan keuangan bagi gerejamu." Di dunia ini guru Alkitab adalah hamba Tuhan yang hidupnya pas-pasan. Yang kaya adalah para penginjil. Bantuan dari seorang guru Alkitab? Kong Hee tak pernah membayangkannya. Tetapi apa yang tak pernah terlintas di hati Kong Hee, itulah yang disediakan oleh Tuhan bagi orang-orang yang mengasihi Tuhan.

"Saya akan sumbangkan $ 25.000,-" kata Guru Alkitab itu mengagetkan Kong Hee.

Hari Rabu Kong Hee diminta ketemu dengan seseorang yang merupakan teman dari teman dari teman dari teman Kong Hee. Pada waktu Kong Hee mengetuk pintu apartemen orang ini, sang penghuni langsung bertanya, "Apakah Anda Pdt. Kong Hee?"

"Ya, saya."
"Terangkan apa arti mimpi saya. Dua malam yang lalu saya bermimpi berjumpa Anda dan Anda memencet bel pintu apartemen saya dan saya memberikan sebuah cheque tunai kepada Anda."

Kong Hee dengan bersemangat menjelaskan kebutuhan dana pembangunan kantor gereja. "Baiklah, saya menyumbang $ 30.0000.- Dia adalah orang yang tak dikenal langsung oleh Kong Hee, dia adalah teman dari teman dari teman dari teman dari teman Kong Hee, teman jauh sekali, tetapi oleh karena kasih karunia Tuhan dia digerakkan untuk menyumbang gereja.

Hari Jumat pagi, Kong Hee mengecek saldo bank yang dimiliki gereja. Dia mendapati ada saldo sekitar $ 5.000.- Kini jumlah dana gereja ada sebesar $ 60.000, pas untuk membayar tagihan pembangunan kantor gereja. Itulah hebatnya Tuhan kita, tetapi mukjizat dari Tuhan bikin deg-degan.

Ditulis/diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Healed Immediately

"She was healed immediately." --Luke 8:47

One of the most touching and teaching of the Saviour's miracles is before us tonight. The woman was very ignorant. She imagined that virtue came out of Christ by a law of necessity, without His knowledge or direct will. Moreover, she was a stranger to the generosity of Jesus' character, or she would not have gone behind to steal the cure which He was so ready to bestow. Misery should always place itself right in the face of mercy. Had she known the love of Jesus' heart, she would have said, "I have but to put myself where He can see me--His omniscience will teach Him my case, and His love at once will work my cure." We admire her faith, but we marvel at her ignorance. After she had obtained the cure, she rejoiced with trembling: glad was she that the divine virtue had wrought a marvel in her; but she feared lest Christ should retract the blessing, and put a negative upon the grant of His grace: little did she comprehend the fulness of His love! We have not so clear a view of Him as we could wish; we know not the heights and depths of His love; but we know of a surety that He is too good to withdraw from a trembling soul the gift which it has been able to obtain. But here is the marvel of it: little as was her knowledge, her faith, because it was real faith, saved her, and saved her at once. There was no tedious delay--faith's miracle was instantaneous. If we have faith as a grain of mustard seed, salvation is our present and eternal possession.

If in the list of the Lord's children we are written as the feeblest of the family, yet, being heirs through faith, no power, human or devilish, can eject us from salvation. If we dare not lean our heads upon His bosom with John, yet if we can venture in the press behind Him, and touch the hem of his garment, we are made whole. Courage, timid one! thy faith hath saved thee; go in peace. "Being justified by faith, we have peace with God." CH Spurgeon. Email dari Ibu Suzianti/Bpk. Wawan ST.

Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Sunday, July 26, 2009

Dangerous Online Exposure

Setelah melemparkan buku-bukunya di sofa, dia mengambil camilan dan mulai online. Dia log-on dengan nama ByAngel213. Dia memeriksa daftar sambungan yang masuk, ada yang bernama GoTo123 juga sedang online. Dia mengirimkan pesan:

ByAngel213:
Hi. Aku senang kamu online! Aku pikir ada seseorang yang mengikutiku pulang dari sekolah hari ini. Itu mengerikan!

GoTo123:
LOL (Laugh Out Loud = Ketawa Ngakak). Kamu kebanyakan nonton TV. Kenapa orang mengikuti kamu? Bukankah kamu tinggal di perumahan yang aman?

ByAngel213:
Tentu saja. LOL (Ketawa Ngakak). Aku rasa itu hanya pikiranku saja, karena aku tidak lihat seorang pun.

GoTo123:
Kecuali kamu menuliskan namamu saat online. Kamu tidak lakukan itu khan?

ByAngel213:
Tentu saja tidak. Aku tidak sebodoh itu, tahu.

GoTo123:
Apa kamu bermain softball sehabis sekolah hari ini?

ByAngel213:
Ya, dan teamku menang !!

GoTo123:
Itu hebat! Team siapa yang kamu mainkan?

ByAngel213:
Kita mainkan team Hornets. LOL (Ketawa Ngakak). Seragamnya keren banget! Mereka seperti lebah. LOL

GoTo123:
Apa nama teammu?

ByAngel213:
Canton Cats (Kucing2 Canton). Ada gambar cakar harimau di seragam kita. Pokoknya keren.

GoTo1 23:
Kamu pelempar bola?

ByAngel213:
Tidak, aku jaga di base kedua. Aku harus pergi. Ada PR yang harus kukerjakan sebelum orang tuaku pulang. Dah!

GoTo123:
Sampai ketemu lagi. Dah

Sementara itu, GoTo123 mulai melacak menu "keanggotaan" dan mulai mencari profil sebenarnya dari ByAngel213. Ketika ditemukan, dia langsung menandai dan mencetaknya. Dia mengambil pena dan mulai menuliskan apa yang telah diketahuinya tentang ByAngel213.

Namanya: Shannon (perempuan)
Lahir: 3 Januari 1985
Umur: 13 tahun
Tempat tinggal: Carolina Utara

Hobi: softball, koor, skating dan pergi ke mall.

Selain informasi ini, dia tahu Shannon tinggal di Canton karena baru saja memberitahu. Dia tahu Shannon sendirian di rumah sampai jam 06:30 sore sampai kedua orang tuanya pulang kerja. Dia tahu Shannon bermain softball tiap hari Kamis sore dalam team sekolah yang bernama Canton Cats. Nomer favoritnya 7, seperti yang tercetak di kaosnya. Dia tahu Shannon kelas delapan (satu SMP) di SMP Canton. Semua informasi itu dia peroleh dari Shannon waktu mereka online. Dia sekarang sudah memperoleh informasi yang cukup untuk bisa menemukan Shannon.

* * * * *

Shannon tidak bercerita pada orang tuanya mengenai kejadian dalam perjalanan pulang dari lapangan taman kemarin. Dia tidak ingin orang tuanya ribut dan melarang dia jalan kaki saat pulang dari bermain softball. Orang tuanya selalu berlebihan dan berpikir yang buruk. Itu membuatnya berharap seandainya dia bukan anak tunggal. Mungkin jika dia punya saudara laki-laki atau perempuan, orang tuanya tidak menjadi over protektif lagi.

Pada hari Kamis, Shannon sudah lupa dengan langkah kaki yang mengikutinya.

Permainan softballnya sangat asyik, sampai tiba-tiba dia merasa ada seseorang yang memperhatikannya. Saat itu ingatannya muncul kembali. Dia melirik dari posisinya berdiri di base kedua, ada seorang laki-laki sedang mengamatinya dengan seksama.

Laki-laki itu bersandar di pagar di belakang base pertama dan dia tersenyum saat melihatnya. Dia tidak terlihat menakutkan dan Shannon langsung membuang perasaan ketakutan yang dirasakan.

Setelah permainan selesai, Shannon duduk di bangku sambil berbicara dengan pelatih. Dia memperhatikan laki-laki itu tersenyum lagi saat dia melewatinya. Dia mengangguk dan Shannon membalas tersenyum. Laki-laki itu melihat nama Shannon tercetak di belakang kaosnya seragamnya. Dia tahu sudah menemukan semua identitas Shannon.

Diam-diam, dia berjalan menjauh dalam jarak yang aman. Rumah Shannon hanya beberapa blok dari lapangan itu, dan begitu dia melihat tempat tinggalnya, laki-laki itu segera kembali ke tempat parkir dan mengambil mobilnya.

Sekarang dia menunggu. Dia memutuskan untuk makan sedikit sebelum pergi ke rumah Shannon. Dia mengendarai mobil ke sebuah restoran cepat saji dan duduk di sana menunggu waktu untuk bergerak.

* * * * *

Shannon sedang berada di kamarnya saat dia mendengar suara panggilan dari ruang tamu.

"Shannon, cepat kemari," panggil ayahnya. Suaranya kedengaran marah tapi dia tidak tahu mengapa. Dia berjalan menuju ruang tamu dan melihat laki-laki yang yang ditemui di taman sedang duduk di sofa.

"Duduk," ayahnya memulai pembicaraan, "Bapak ini baru saja bercerita banyak hal yang menarik tentang kamu."

Shannon terhenyak ke belakang. Bagaimana mungkin laki-laki itu bisa bercerita segala macam pada orang tuanya? Dia tidak pernah bertemu dengannya sebelum hari ini!

"Kamu tahu siapa saya, Shannon?" laki-laki itu bertanya.

"Tidak," jawab Shannon

"Saya adalah perwira polisi dan teman online-mu, GoTo123."

Shannon terkejut luar biasa, "Itu tidak mungkin! GoTo123 adalah anak seumuranku. Umurnya 14 tahun. Dan dia tinggal di Michigan!"

Laki-laki itu tersenyum, "Saya memang sudah menceritakan semuanya, tapi itu tidak benar. Kamu lihat Shannon, ada orang-orang di online yang berpura-pura menjadi seorang anak; dan saya salah satunya. Tapi saat yang lain melakukan itu untuk menyakiti dan berbuat jahat kepada anak-anak, saya termasuk kelompok dari orang tua yang melakukannya untuk melindungi anak-anak dari orang jahat. Saya datang kemari untuk bertemu denganmu dan mengajarimu bahayanya berkomunikasi dengan orang yang tidak kamu kenal secara online. Kamu telah menceritakan semua hal yang cukup untuk saya pakai untuk menemukan kamu. Kamu menyebutkan nama sekolahmu, nama team softballmu dan posisi dimana kamu bermain. Bahkan kamu menyebutkan nomer kaos seragammu yang membuat saya menemukanmu dengan mudah."

Sekali lagi Shannon tertegun, "Bukankan anda tinggal di Michigan?"

Laki-laki itu tertawa. "Tidak, saya tinggal di Releigh, dekat sini. Itu saya lakukan supaya kamu merasa aman karena berpikir bahwa saya tinggal di tempat yang jauh, bukan?"

Shannon mengangguk.

"Saya punya seorang teman yang memiliki anak perempuan seperti kamu. Hanya dia tidak beruntung. Laki-laki yang menemukannya membunuhnya saat dia sendirian di rumah. Anak-anak diajarkan untuk tidak mengatakan pada siapa pun bahwa mereka sedang sendirian di rumah, dimana sepanjang waktu itu mereka gunakan untuk online. Orang jahat akan menjebak kalian untuk memberikan informasi sedikit tentang ini dan tentang itu saat online. Sebelum kamu mengetahuinya, kamu telah mengatakan banyak hal sehingga mereka mudah menemukanmu bahkan sebelum kamu menyadari telah melakukannya. Saya harap kamu belajar dari kejadian ini dan tidak mengulanginya lagi. Beritahu teman-temanmu juga supaya mereka bisa aman."

"Saya berjanji!"

Malam itu Shannon, ayah dan ibunya mengucapkan terima kasih kepada Tuhan karena sudah melindungi Shannon dari kejadian yang bisa menjadi peristiwa tragis.

Sekarang, kirimkan pesan ini bahkan kepada orang-orang yang belum mempunyai anak supaya mereka bisa mengirimkannya ke teman-temannya yang memiliki anak, saudara perempuan atau cucu.

Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Saturday, July 25, 2009

Restored Teenager

Ada seseorang datang kepada saya, dan berkata bahwa anaknya yang sedang bersekolah di Malaysia bermasalah. Sebenarnya anak itu tidak suka disuruh orangtuanya bersekolah di sana, tetapi dia tidak berani menentang kehendak orangtuanya. Anak itu belajar mulai dari kelas 1 SMA sampai kelas 3. Ketika di pertengahan kelas 3 anak itu pulang ke Banjarmasin dan tidak mau kembali lagi ke Malaysia. Dia menjadi anak yang pendiam, murung, tidak suka tertawa, sering tinggal di kamar tidur, dan main games saja. Dia jarang berbicara dengan orangtuanya, sering marah dan ngambek. Orangtuanya sudah putus asa menghadapi anak ini. Apa yang ada di hati anak itu, orangtuanya tidak tahu. Dipanggil makan tidak mau. Dipanggil ulang dia marah. Dia tidak mau sekolah lagi.

Orangtuanya datang kepada saya karena mereka merasa mempunyai masalah besar dengan anak itu. Tuhan berkata kepada saya bahwa masalah anak itu kecil, tidak ada artinya. Kalau Tuhan ingini, sebenarnya sebentar saja Dia bisa membuka hati anak itu dan anak itu akan berubah 180 derajat. Saya sampaikan kepada mereka bahwa masalah mereka itu kecil, tetapi Tuhan mereka besar. Dan saya bersyukur suami istri itu percaya.

Tepat pada tahun baru Tuhan menyuruh saya untuk mengajak anak itu bertahun baru di rumah kami. Anak itu mau saya peluk, saya sayangi anak itu. Saya ajak dia ikut acara malam tahun baru bagi anak-anak muda dan menginap di gereja. Saya serahkan anak SMA itu kepada anak saya. Saya berkata kepada anak saya bahwa anak ini tidak bisa tertawa. Sementara acara berlangsung, saya berdoa agar belas kasihan Tuhan turun atas anak itu, agar Tuhan mengembalikan kehidupannya seperti apa yang Tuhan ingini.

Tepat jam 2 dinihari anak itu bisa tertawa bebas, normal, bisa bergaul. Anak ini dijamah Tuhan luar biasa. Setelah anak ini dipulihkan, keesokan harinya dia pulang dan dapat berkomunikasi dengan orangtuanya. Anak ini telah sadar bahwa perilakunya selama ini tidak benar.

Anak ini kembali melanjutkan sekolahnya. Secara logika, sulit sekali dalam waktu empat bulan dia dapat lulus SMA. Tetapi saya percaya bahwa jika Tuhan menyertai anak ini dan dia mau mengikut-sertakan Tuhan dalam hidupnya, maka anak ini dapat lulus SMA. Saya cuma berdoa dan mengijikan apa yang Tuhan mau kerjakan. Dan Tuhan bekerja. Ketika ujian di sekolahnya, dia bisa lulus ujian dengan nilai yang cukup baik. Bahkan dia bisa melanjutkan studinya ke universitas. Anak itu kini menjadi anak yang baik, anak yang takut akan Tuhan, dan mengambil bagian dalam pelayanan di gereja. Perubahan yang terjadi pada anak ini membuat orangtuanya mengambil bagian dalam pelayanan di gereja.

Sumber: Buku "Tuhan itu Nyata" oleh Lidya Dewi Yana, terbitan Bethlehem Publisher


Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Friday, July 24, 2009

Safe and Secured

Corush Muzuni masih berusia tiga belas tahun ketika ia turut mendaftar sebagai calon presiden Iran tahun ini. Dalam sebuah wawancara, ia mengungkapkan alasannya mendaftar sebagai calon presiden. “Aku ingin mengukir sejarah, karena aku akan menandatangani kesepakatan dengan Barack Obama untuk menyewa beberapa pulau di Hawaii, sehingga anak-anak Gaza beserta anak-anak di seluruh dunia dapat merasa aman dan nyaman.”

Kepulauan Hawaii terkenal sebagai surga para wisatawan karena tempatnya yang tenang dan indah. Tepat jika anak-anak mendambakan tempat seperti ini. Anak-anak akan memiliki lingkungan yang tenang, aman, dan nyaman bagi pertumbuhannya, baik pertumbuhan jasmani maupun rohani.

Tuhan, di dalam Yesaya 44, memberikan pengharapan bagi anak cucu dan keturunan Yakub yang masih dalam pembuangan. Secara jasmani, mereka akan mengalami pemeliharan Tuhan seperti rumput yang tumbuh di tengah-tengah air dan seperti pohon gandarusa di tepi sungai (ayat 4); cukup mendapat asupan makanan yang berguna bagi pertumbuhannya. Secara rohani, mereka pun bertumbuh, sehingga mereka mengaku bahwa mereka kepunyaan Tuhan (ayat 5). Dan, janji tersebut juga berlaku bagi anak-anak kita, anak cucu dan keturunan rohani Yakub.

Jika “beberapa pulau di Hawaii” itu bergantung pada kita, kita dapat memulainya dengan memberikan lingkungan bermain yang mendukung bagi anak-anak; membuka kesempatan agar mereka belajar berbagai hal positif yang mereka sukai; mendampingi menonton televisi; atau mengajak jalan-jalan sore sembari kita menyampaikan pesan-pesan mengenai kebaikan dalam setiap perbincangan. Lingkungan yang aman dan nyaman pantas diberikan kepada anak-anak—tumpuan masa depan. Penulis: Sunandar Sirait. Email dari Bpk. Tefa/Terangdunia.

Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Thursday, July 23, 2009

Dead People and the Billing

A lady died this past January, and Citibank billed her for February and March for their annual service charges on her credit card, and added late fees and interest on the monthly charge. The balance had been $0.00 when she died, but now somewhere around $60.00. A family member placed a call to Citibank.

Here is the exchange :

Family Member: 'I am calling to tell you she died back in January.'
Citibank: 'The account was never closed and the late fees and charges still apply.'

Family Member: 'Maybe, you should turn it over to collections. '
Citibank: 'Since it is two months past due, it already has been.'

Family Member: So, what will they do when they find out she is dead?'
Citibank: 'Either report her account to f! rauds di vision or report her to the credit bureau, maybe both!'

Family Member: 'Do you think God will be mad at her?'
Citibank: 'Excuse me?'

Family Member: 'Did you just get what I was telling you - the part about her being dead?'
Citibank: 'Sir, you'll have to speak to my supervisor.'

Supervisor gets on the phone:
Family Member: 'I'm calling to tell you, she died back in January with a $0 balance.'
Citibank: 'The account was never closed and late fees and charges still apply.'

Family Member: 'You mean you want to collect from her estate?'
Citibank: (Stammer) 'Are you her lawyer?'

Family Member: 'No, I'm her great nephew.' (Lawyer info was given)
Citibank: 'Could you fax us a certificate of death?'

Family Member: 'Sure.'! (Fax nu mber was given )
After they get the fax :
Citibank: 'Our system just isn't setup for death. I don't know what more I can do to help.'

Family Member: 'Well, if you figure it out, great! If not, you could just keep billing her. She won't care.'
Citibank: 'Well, the late fees and charges will still apply.' (What is wrong with these people?!?)

Family Member: 'Would you like her new billing address?'
Citibank: 'That might help...'

Family Member: 'Odessa Memorial Cemetery, Highway 129, Plot Number 69.'
Citibank: 'Sir, that's a cemetery!'

Family Member: 'And what do you do with dead people on your planet???' Priceless!! Have you wondered why Citi is going broke and needs the feds to bail them out!!
Source: Email from Mr. Wawan S.T

Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Wednesday, July 22, 2009

Humor

SO WRONG .......BUT SO FUNNY

A woman takes a lover home during the day while her husband is at work.

Her 9 year old son comes home unexpectedly, he sees them and hides in the bedroom closet to watch.

The woman's husband also comes home.
She puts her lover in the closet, not realizing that the little boy is in there already.

The little boy says, 'Dark in here.'
The man says, 'Yes, it is..'
Boy: 'I have a baseball.'
Man: 'That's nice'
Boy: 'Want to buy it?'
Man: 'No, thanks.'
Boy: 'My Dad's outside.'
Man: 'OK, how much?'
Boy: '$250'

In the next few weeks, it happens again that the boy and the lover are in the closet together.

Boy: 'Dark in here.'
Man: 'Yes, it is.'
Boy: 'I have a baseball glove.'
The lover, remembering the last time, asks the boy, How much?'
Boy: '$750'
Man: 'Sold.'

A few days later, the Dad says to the boy , 'Grab your glove, let's go outside and have a game of catch.'
The boy says, 'I can't, I sold my baseball and my glove.'

The Dad asks, 'How much did you sell them for?'
Boy: '$1,000'

The Dad says, 'That's terrible to over charge your friends like that...that is way more than those two things cost. I'm taking you to church, to confession.'

They go to the church and the Dad makes the little boy sit in the confessional booth and closes the door..

Wait For It !!

The boy says, 'Dark in here.'
The priest says, 'Don't start that shit again; you're in my closet now..'

Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Why They Hate Us?

Sebuah puisi di sarapanpagi.org sangat menempelak saya...
Inilah penyebab bangsa ini memusuhi kita.
Penyebab bangsa ini merasa asing dengan kita.
Penyebab bangsa ini mencap kita sombong dan ekslusif.
Penyebab kita tidak bisa jadi terang bagi rakyat sekitar.
Penyebab gereja saya didesak ditutup oleh RT/RW sekitar....

besok rapat RT!
tidak bisa
besok ada doa malam!

besok kerja bakti!
tidak bisa
besok ada kebaktian pagi!

besok acara tahlilan di lingkungan RT!
tidak bisa
besok ada doa puasa!

besok giliran ronda malam!
tidak bisa
besok ada doa semalam suntuk pengerja!

besok rapat RW!
tidak bisa
besok ada rapat pengerja gereja!

Sumber: Email dari Mamusung/Milis Terangdunia

Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Tuesday, July 21, 2009

Stop Shopping

Puasa Belanja
The Compact, sekelompok aktivis lingkungan Amerika, bertekad untuk puasa belanja selama setahun. Tidak membeli barang baru apa pun kecuali kebutuhan pokok. Hasilnya? Mereka belajar banyak. Seorang remaja berkata, “Banyak barang yang tadinya sangat kuinginkan, ternyata tidak kubutuhkan.” Seorang ibu menutup kartu kreditnya. Seorang bapak mengaku bisa lebih menghargai barang. Jika rusak, ia berusaha memperbaikinya dulu, tidak langsung membeli yang baru. Mereka menyimpulkan, perilaku konsumtif membuat kita berbelanja lebih dari yang kita butuhkan.

Waspadailah jebakan perilaku konsumtif. Iklan dan promosi terus meyakinkan kita bahwa hidup belumlah lengkap sebelum membeli produk mereka. Kita dipacu untuk menginginkan dan memperoleh semuanya. Jika dituruti terus, segala cara akan kita tempuh. Mulai dari menumpuk utang sampai bertengkar demi mendapat lebih banyak uang belanja. Doa pun bisa dipakai untuk memaksa Tuhan memenuhi daftar belanja.

Apakah Anda selalu merasa apa yang Anda miliki kurang? Apakah Anda resah jika belum memiliki benda yang banyak orang telah memilikinya? Apakah belanja Anda tak seimbang dengan penghasilan? Apakah doa Anda didominasi permintaan materi? Jika jawabnya “ya”, Anda tengah berada dalam jerat perilaku konsumtif. Bebaskan diri segera. Tak ada salahnya mencoba puasa belanja! Masalah kebanyakan orang bukanlah memiliki terlalu sedikit, melainkan berharap memiliki terlalu banyak. Penulis: Juswantori Ichwan, sumber: http://www.renunganharian.net/Email dari Bpk. Tefa.

Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Because of Him

27 Juli 2002 aku mengakhiri masa lajang dengan mempersunting Fenty Inggriani. Seperti kebanyakan pasangan suami-istri yang lain, kami merindukan kehadiran seorang anak dalam keluarga baru kami. Hanya saja, niat itu terganjal oleh kista berdiameter 4,6 cm yang bersarang di indung telur istriku. Gumpalan itu amat mengganggu terjadinya proses kehamilan. Bukan itu saja, beberapa kali Fenty mengalami pendarahan karenanya. Beberapa dokter spesialis obstetry dan ginekologi yang kami sambangi, memiliki suara beragam tentang kista itu. Sebagian memvonisnya harus dioperasi, sebagian lagi menyatakan tidak perlu dilakukan operasi. Kebingungan lantas menggelayuti kami. Penyerahan kepada Tuhanlah yang akhirnya membuat hati kami tenang. Dalam penyerahan itu, Tuhan menyatakan anugerah-Nya. Ketika suatu saat kami mengunjungi dokter, pemeriksaan USG menunjukkan bahwa kista itu sudah lenyap. Kami bersyukur Tuhan menjawab doa kami. Secercah harapan muncul dan akhirnya Fenty hamil dalam tahun keempat pernikahan kami.

MUNCUL MASALAH BARU
Minggu demi minggu dan bulan demi bulan kehamilan, kami lewati dengan sukacita. Sebentar lagi harapan menimang seorang bayi akan menjadi kenyataan. Bulan Desember 2006, dalam bulan keenam kehamilan Fenty, masalah baru muncul. Sesaat setelah mandi, Fenty mengalami pendaharan hebat. Waktu itu ia ada di rumah sendirian. Aku segera pulang dan melarikannya ke rumah sakit. Menurut dokter, letak plasenta yang ada di bawah rahimlah yang menyebabkan pendarahan itu. Sejak itu Fenty harus bedrest. Ia juga disarankan untuk banyak makan es krim oleh suster agar berat badan bayi bertambah, berjaga-jaga bila harus terjadi proses persalinan lebih awal. Kekhawatiran lantas datang.

Alih-alih menikmati Natal, bulan itu harus kami lewati dengan rasa was-was.

Tidak banyak yang bisa dilakukan Fenty pada masa bedrest itu. Ia hanya turun dari tempat tidur untuk keperluan ke kamar mandi atau makan. Suatu kali Fenty keluar dari kamar mandi dan mengalami pecah ketuban.

Ia segera menghubungi dokter untuk meminta saran tentang tindakan apa yang harus diambil. Dokter mendorong untuk langsung ke rumah sakit. Karena air ketuban yang terus mengalir, tidak ada pilihan lain kecuali bedrest total. Fenty sama sekali tidak bisa turun dari tempat tidurnya. Semua aktivitas berlangsung di situ.

LAHIR PREMATUR
Kondisi itu tak bertahan lama. Karena air ketuban yang tak bisa dihentikan, dokter meminta persetujuan kepada kami untuk mendorong terjadinya persalinan melalui proses induksi. “Silakan dokter melakukan apa pun yang terbaik buat anak kami sebisa yang dokter lakukan. Kami akan mengambil bagian kami dengan berserah kepada Tuhan,” jawabku diikuti anggukan dokter tanda setuju.

Setelah diperiksa, ternyata memang telah terjadi pembukaan setelah proses induksi itu. “Saya usahakan lahir normal, tetapi jika karena induksi ini detak jantung bayi jadi tidak normal, tidak ada pilihan lain kecuali bedah caesar,” papar dokter. Aku mengangguk, meski dalam hati terbersit keraguan. “Bayar dengan apa kalau harus operasi? Aku tidak punya persiapan uang yang cukup,” gumamku dalam hati. Tetapi, sekali lagi, penyerahan kepada Allah memberi kekuatan khusus kepadaku. Setelah melewati proses beberapa jam, akhirnya jabang bayi terlahir normal meski prematur dalam usia 7,5 bulan. Bayi seberat 1,4 kg itu kami beri nama Jeremy Graciano. Karena beratnya di bawah normal, ia harus dihangatkan di inkubator. Selama sebulan ia harus menghuni ‘aquarium’ itu dengan kabel-kabel dan selang di tubuhnya. Kekhawatiran akan biaya rumah sakit mulai membayang. Angkanya hampir menembus Rp 40 juta. Perasaan saya jadi campur aduk.

Melihat Fenty yang terus menangis karena tak bisa menggendong Jery, bayi yang baru dilahirkannya.

Melihat Jery di dalam inkubator yang membuat trenyuh.

Membayangkan bagaimana dan dengan apa saya harus melunasi biaya rumah sakit. Dalam berbagai kesempatan saya menyendiri dan menyerahkan pergumulan berat ini kepada Tuhan.

SEMPAT DINYATAKAN MENINGGAL
Secara ajaib Tuhan mencukupkan kebutuhan dana yang kami perlukan untuk melunasi biaya rumah sakit. Dengan bantuan berbagai pihak, akhirnya kami bisa membawa pulang Jeremy sesudah sebulan dirawat. Tetapi masalah baru muncul ketika jam memberikan susu bagi Jeremy tiba. Beberapa menit sesudah mendapat susu melalui selang yang terhubung dengan lambungnya, ia muntah. Sebagian susu keluar melalui mulut dan hidungnya, sebagian lagi tertelan kembali. Rupanya ada juga susu yang mengaspirasi paru-parunya. Cairan itu membuatnya megap-megap dan kesulitan bernafas. Sekujur tubuhnya lantas membiru. Kepanikan kami rasakan di tengah malam buta itu. Akhirnya, belum genap sehari di rumah, Jeremy kami larikan kembali ke rumah sakit.

Dokter dan perawat segera menanganinya di UGD.

Selain dokter jaga, ada juga dokter anak yang menangani Jeremy. Setelah difoto rontgen, tampak jelas paru-parunya dipenuhi bercak-bercak cairan. Dokter memutuskan untuk merawatnya kembali di rumah sakit.

Setelah administrasi dibereskan dan pertolongan pertama diberikan, Jeremy segera dibawa ke ruang rawat. Sesaat menjelang masuk lift, tubuhnya kembali membiru. Akhirnya ia harus kembali ditolong di ruang UGD. Bantuan oksigen diberikan, tetapi tidak ada respon. “Maaf, tidak tertolong lagi,” kata dokter sambil melepas stetoskop dari kupingnya. Seperti adegan sebuah sinetron, peristiwa itu sangat membuatku syok. Aku tidak siap menerima kenyataan itu. Mertua, Bapak dan Fenty menangis. Aku masih bengong seperti kehilangan pegangan.

MUKJIZAT DINYATAKAN
Aku mencoba menguasai diri. Dalam kondisi lemah, aku berseru lirih,“Tuhan tolong! Tuhan tolong! Nyatakan kuasa-Mu…!” Selang beberapa saat Bapak keluar dari ruang UGD itu lalu memegang pundakku. Satu tangannya terkepal sambil berkata, “Thole (anakmu) nangis… dia hidup lagi… haleluya!” Ada luapan sukacita karena pertolongan Allah yang ajaib itu. Jeremy hidup lagi setelah dinyatakan tak tertolong.

Jeremy kecil telah menjadi berkat tersendiri bagi keluarga kami. Ia telah mengajar kami tentang arti bergantung kepada Allah dan hidup di dalam iman kepada-Nya. Kini, ia tumbuh sehat dan ‘sedang lucu-lucunya’ sebagai seorang anak. Terima kasih telah menjadi ‘dosen’ dalam sekolah kehidupanku. Sumber: Elia Stories.

Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Monday, July 20, 2009

The King of Pain Bearing

The World’s Toughest Gymnast?
There were many stories that came out of the 1976 Olympics. The gymnastics events at the 1976 Olympics were dominated by the surpassing grace and precision of Romanian gymnast, Nadia Comaneci, who caused a sensation when, for her performance on the uneven bars, she was awarded the first-ever perfect score of 10.0. She eventually earned seven perfect 10.0s.

Toughness defines athletes, just as skill and talent do. Some, by their deeds and their demeanors, become the toughest of them all. If you don't have mental toughness, you are never going to perform to your full physical potential. From time to time there are athletes who give us a brand new perspective on what that potential might be. Eternal respect is perpetuated for those who compete in the face of overwhelming odds and real pain and danger.

While the media concentrated on Nadia, those in the know around the gymnastics world and especially in Japan will never forget the tremendous courage, dedication and self-discipline shown by male gymnast Shun Fujimoto. The heroic story of male gymnast Shun Fujimoto is incredible in every respect..

The Japanese men’s gymnastics team was in a tremendous battle to upset the long dominant Russian team and win the Olympic team gold medal. Every score and every tenth of a point was critical.

As Japanese gymnast Shun Fujimoto completed his final tumbling run on floor exercises,he experienced an odd and painful sensation in his right knee.

He recalled later that it felt hollow as if there were air in it. In fact, his kneecap, his patella was fractured, an injury that under ordinary circumstances would have immediately ended his participation in the Olympic Games. The patella when broken is a extremely painful debilitating injury which causes impaired function of the entire leg.

Twenty-six year old Shun Fujimoto was no common competitor and not in ordinary circumstances. His team might need every point he might earned to upset the highly favored Soviet team.

Fujimoto knew when he broke his kneecap during his floor routine that without his participation, Japan had no chance for a team gold medal and he therefore told no one of his injury.

With two events to go, Fujimoto decided he would tell no one, not even his coach, Yakuji Hayata, how badly he was hurt for fear he would be scratched form the event. The next event was pommel horse where there would be relatively little stress on the knee during the routine and dismount. . He was completely occupied by the thought that he and his team could not afford to make any mistakes. Fujimoto continued on to the pommel horse routine, courageously performed an excellent routine and achieved a score of 9.5 out of a possible 10.0.

By the final ring event, the rings, Fujimoto was pale gray in pallor, covered in a sweat, and obviously in some pain. With an increasingly obvious painful injury, Fujimoto resolutely decided to stay in the competition and with his leg completely braced, he prepared to participate in still rings event. As he said later in the TBS' 100 Years of Olympic video, "There was only one thing to do. I must try to forget the pain."

It was perfectly clear that the gold medal would be decided on the rings apparatus which was Fujimoto’s strongest event. Hobbling to the rings, he was hoisted to grab the rings by his coach.

He performed a near-flawless routine hitting e very element and with very few even minor visible errors and deductions. Then, as if holding their breath, everyone watching the Games waited for the dismount, which he would have to stick perfectly to secure the team gold medal for Japan. The question on everyone’s mind was how could a gymnast with broken kneecap possibly withstand the pain, the strain and the impact of a world class dismount from the eight foot high rings?

When Fujimoto left the rings it seemed as if the entire sequence proceeded in slow motion as indeed it was shown many times later on television. Fujimoto somersaulted through the air and completed his brilliant routine and, to the amazement of everyone, sticking his landing and never moving an inch, in spite of the excruciating pain from the impact, which caused further injury dislocating the broken kneecap and tearing ligaments in his leg. Gritting his teeth and holding his landing position without a waver, Fujimoto willed himself into the traditional stick finish pose. Cheers erupted both for his heroic performance of courage and the Olympic gold medal Fujimoto and his teammates earned.

The judges awarded him a 9.7 - the highest score he had ever recorded on the rings. His score on the rings was not only a personal best but it allowed Japan to edge out Russia in the closest team win in Olympic gymnastic history. Fujimoto’s amazingly flawless dismount earned a gold medal not only for himself on rings but also for the Japanese in the gymnastics team competition. Japan won the closest gymnastics team competition in Olympic history by a score of 576.85 points to 576.45. Japan won the team gold by just four tenths of a point over the Soviet Union, which would not have happened without Fujimoto’s team score contributions on pommel horse and rings.

Later in another show of courage, refusing help, Fujimoto hobbled unassisted onto the victory stand to receive the team gold medal. When he mounted the podium to receive his gold medal with the rest of his teammates, Fujimoto continued to refuse any assistance.

Regardless of whatever has been said or will be said, the tremendous self-discipline, concentration and courage Fujimoto demonstrated serves as an example to all of the seemingly limitless possibilities of the human body and mind. When asked how he was able to do it, Fujimoto said, "My desire to win was greater than my moment of pain."

This moment in Olympic gymnastics history was a display of extraordinary courage and determination that is seared into the memory of everyone who witnessed it. If ever there was to be a special gold medal presented to an Olympic athlete who displayed extraordinary courage, then one certain recipient would have to be Shun Fujimoto.

Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Sunday, July 19, 2009

Autism

Stop using the word "AUTISM" on our daily jokes

Siang itu aku sibuk membaca buku resep makanan khusus untuk anak autistik. Ya, anakku memang tidak bisa makan sembarang makanan. Salah-salah… anakku bisa berputar-putar seperti gasing jika ada zat dalam makananya yang tidak cocok untuk dikonsumsi oleh anakku.

Di tangan sebelah kiri, ada buku Food Diary anakk yang aku tulis sejak pertama kali dia kuperkenalkan pada makanan padat, berisi makanan apa saja yang cocok untuk tubuhnya, reaksi alerginya dan mana saja makanan yang tidak cocok dan menyebabkan dia overwhelmed. Kebayang gak?

Di usia 4 bulan misalnya, kuberikan jeruk bayi pada anakku, dh, gak lama kemudian ia muntah dan seluruh tubuhnya seperti dipenuhi… ULAT BULU… hiii. Pernah aku beri dia tomat. Tapi kemudian, berhari-hari dia diare dan uring-uringan. Kuberi dia susu instant, anakku malah jingkrak-jingkrak, mengepak-ngepakkan tangannya, persis seperti orang gila! Dia berputar-putar tanpa merasa lelah dan kemudian mengamuk ketika tidak mengerti bagaimana cara mengendalikan tubuhnya yang tidak mau diam.

Ahhh, sudahlah… life must go on anyway. Kulirik sekali lagi food diarynya… hmm, hari ini aku harus mencoba memberinya 5 ml putih telur tanpa kuningnya, karena 7 hari yang lalu, dia sudah sedikit kebal ketika kukenalkan pada telur ayam ini.
Baru saja hendak memasak, tiba-tiba kudengar jeritannya. Kucari anakku, tapi tidak kutemukan.

Aku ke ruang setrika dan di sana kutemukan anakku sedang nangkring diatas lemari, dengan setrika panas yang baru saja dicabut oleh Baby Sitternya karena kupanggil untuk membantuku memasak. Setrika panas ini masih menempel di atas punggung tangan kirinya. Oh… My… God!!! Aku panik.

Dari punggung tangannya mengepul asap. Bau daging panggang begitu segar menempel di hidungku. Kuangkat setrika itu dari tangannya… dan, aduh Tuhan, aku tidak kuat melihatnya. Sebagian dagingnya menempel di balik gosokan panas itu… :(( :(( :((
AAAAAARRRRGGGHHHH…

Sumpah kalau saja ini bukan anakku, aku pasti sudah mati berdiri karena ketakutan. Melihat daging dari punggung tangannya, yang menempel pada setrika itu itu sudah berubah menjadi putih kekuningan… Dan luka di tangannya juga sudah berubah menjadi putih seperti daging ayam matang :((

Aku menjerit sekencang-kencangnya. Kupanggil Baby Sitternya yang tadi aku suruh untuk membantuku didapur, lalu dengan kesetanan, kukebut mobilku ke UGD Rumah Sakit, untuk dirawat secara intensif. Begitu anakku segera tertangani… tiba-tiba aku kehilangan seluruh tenagaku. AKU PINGSAN!!!

* * *
Hari itu, lagi-lagi aku sedang mempersiapkan makanannya. Memang, khusus untuk makanannya, aku memutuskan untuk memasak sendiri, karena hanya aku yang tahu berapa gram atau mililiter… porsi makanan yang masih bisa ditoleransi oleh tubuh anakku.
Sedang membersihkan kompor yang kecipratan makanan… tiba-tiba, lagi-lagi kudengar bunyi benda jatuh. GEDEBUK!!!…

Buru-buru kucari sumber suara itu, memastikan bahwa itu bukan anakku. Oh Tuhan, lagi-lagi anakku, dia baru saja terjatuh dan sepertinya kepalanya terantuk pada pinggir tembok, sehingga kepala sobek dan berdarah. Dia masih berusaha berdiri, meskipun sempoyongan…. Dan sambil berjalan, dia menggaruk luka di kepalanya yang bocor. Sementara darahnya terus aja mengucur deras, tepat di belakang otak kecilnya.

Tangannya berlumuran darah. Punggung bajunya pun juga sudah berubah menjadi merah oleh darah. Tapi dia tidak menangis. Dia hanya berjalan sambil menggaruk luka menganga yang ada dibelakang kepalanya. Aku menjeritttt sekuat-kuatnya. Kepalanya kututupi dengan lap kompor yang tadi aku pegang.

Tapi itupun tak lama karena dalam sekejap, lap kompor itu sudah berubah menjadi merah kehitaman. Aku berteriak panik, “Mbak, minta handuk… handuk… CEPATTTT!!!”
Dan lagi-lagi kukebut mobilku ke rumah sakit, langsung menuju UGD. Disana, dokter yang sudah terbiasa menangani anakku sudah siap menunggu dan segera menjahit kepala anakku.

Dia tidak menangis, hanya minta sesuatu yang bulat untuk dia pegang. Dan setelah dijahit dengan 8 (delapan) jahitan hatikupun sedikit lega. Seluruh persendianku serasa dicopot dari tubuhku, dan tanpa sadar…lagi-lagi aku… PINGSAN.

* * *

Terlalu banyak cerita haru dan berurai airmata yang kami harus jalani. Berkali-kali jantung kami harus terpacu 100x lipat manakala mereka melakukan hal-hal yang tanpa mereka sadari mencelakai diri mereka sendiri.

Tapi ini bukan keluhan kok,… karena saya selalu sadar. Tuhan itu ARSITEK YANG AGUNG. Karyanya tidak pernah gagal. Tidak satupun makluk yang diciptakannya, yang merupakan produk gagal Jadi ketika dia menciptakan seorang bayi yang memiliki kekurangan, dia tidak pernah lupa untuk menitipkan KELEBIHAN pada anak ini. So, buat semua orang tua, berhentilah mengeluhkan kekurangan anak kita… mari bantu mereka untuk menemukan kelebihan mareka.

Anakku memang autistik, tapi aku bangga setiap kali menceritakan bahwa anakku autis. Aku bangga setiap kali menceritakan bagaimana proses menangis berdarah-darah itu, sudah Tuhan rubah menjadi Senyum sukacita dan bangga yang luar biasa. Selalu ada haru yang menyesakkan dadaku, manakala mendengarkan tangan-tangan mungilnya menari-nari dengan lincah diatas tuts2 piano,… mendengarnya bercakap-cakap dalam bahasa Inggris,… seolah yang kudegar ini adalah anak bule asli… yang nyasar dalam tubuh putriku.

Namun dibalik itu, walaupun bangga… selalu tersisa rasa risih dan tidak nyaman, kalau tidak ingin dibilang tersinggung… manakala mendengar orang-orang bercanda dengan menggunakan kata “Autis”.

Minggu yang lalu sahabat saya menyelenggarakan pesta ultah di sebuah resto terkenal, salah satu teman kami, sibuk dengan BB-nya, sehingga teman yang lain menegur begini…
“Tuh,… liat tuh sill… autis banget khan dia…? KAYAK ANAK LOE khan?… Loe marahin deh sil… marahin sil… Coba loe terapi dulu nih dia,… biar sembuh kayak anak loe” Dan semua lalu tertawa terbahak-bahak… Saya??? hmmm… Cuma bisa senyum kecut, karena tidak ingin merusak suasana Pesta Ulang Tahun sahabat saya…

Well, saya tahu mereka hanya bercanda, namun biar bagaimanapun saya sudah merasakan dan tahu betul sulitnya membesarkan anak autistik.

Semoga artikel ini semakin mencerahkan teman-teman mengapa orang sepertinya terlalu over campaign dengan gerakan “Stop Using Autism on our daily jokes” ini. Semoga berkenan. Written by A mother of an Authistic Child, SiLLy. Email from: Nadia S/Wawan S.T

Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Saturday, July 18, 2009

A Merciful Doctor

Dokter Lo Siaw Ging Tak Sudi Berdagang
Ketika biaya perawatan dokter dan rumah sakit semakin membubung tinggi, tidak ada yang berubah dari sosok Lo Siaw Ging, seorang dokter di Kota Solo, Jawa Tengah. Dia tetap merawat dan mengobati pasien tanpa menetapkan tarif, bahkan sebagian besar pasiennya justru tidak pernah dimintai bayaran.

Maka, tak heran kalau pasien-pasien Lo Siaw Ging tidak hanya warga Solo, tetapi juga mereka yang berasal dari Sukoharjo, Karanganyar, Sragen, Klaten, Boyolali, dan Wonogiri. Usianya yang sudah menjelang 75 tahun tak membuat pria itu menghentikan kesibukannya memeriksa para pasien.

Dokter Lo, panggilannya, setiap hari tetap melayani puluhan pasien yang datang ke tempatnya praktik sekaligus rumah tinggalnya di Jalan Jagalan 27, Kelurahan Jebres, Kota Solo. Mayoritas pasien Lo adalah keluarga tak mampu secara ekonomi. Mereka itu, jangankan membayar ongkos periksa, untuk menebus resep dokter Lo pun sering kali tak sanggup.

Namun, bagi Lo, semua itu dihadapinya dengan "biasa saja". Dia merasa dapat memahami kondisi sebagian pasiennya itu. Seorang pasiennya bercerita, karena terlalu sering berobat ke dokter Lo dan tak membayar, ia merasa tidak enak hati. Dia lalu bertanya berapa biaya pemeriksaan dan resep obatnya.

Mendengar pertanyaan si pasien, Lo malah balik bertanya, "Memangnya kowe sudah punya uang banyak?"

Pasiennya yang lain, Yuli (30), warga Cemani, Sukoharjo, bercerita, dia juga tak pernah membayar saat memeriksakan diri. "Saya pernah ngasih uang kepada Pak Dokter, tetapi enggak diterima," ucapnya.

Kardiman (45), penjual bakso di samping rumah dokter Lo, mengatakan, para tetangga dan mereka yang tinggal di sekitar rumah dokter itu juga tak pernah diminta bayaran. "Kami hanya bisa bilang terima kasih dokter, lalu ke luar ruang periksa," katanya.

Cara kerja Lo itu membuat dia setiap bulan justru harus membayar tagihan dari apotek atas resep-resep yang diambil para pasiennya. Ini tak terhindarkan karena ada saja pasien yang benar-benar tak punya uang untuk menebus obat atau karena penyakitnya memerlukan obat segera, padahal si pasien tak membawa cukup uang.

Dalam kondisi seperti itu, biasanya setelah memeriksa dan menuliskan resep untuk sang pasien, Lo langsung meminta pasien dan keluarganya menebus obat ke apotek yang memang telah menjadi langganannya. Pasien atau keluarganya cukup membawa resep yang telah ditandatangani Lo, petugas di apotek akan memberikan obat yang diperlukan.

Pada setiap akhir bulan, barulah pihak apotek menagih harga obat tersebut kepada Lo. Berapa besar tagihannya? "Bervariasi, dari ratusan ribu sampai Rp 10 juta per bulan."

Bahkan, pasien tak mampu yang menderita sakit parah pun tanpa ragu dikirim Lo ke Rumah Sakit Kasih Ibu, Solo. Dengan mengantongi surat dari dokter Lo, pasien biasanya diterima pihak rumah sakit, yang lalu membebankan biaya perawatan kepada Lo.

Kerusuhan 1998
Nama dokter Lo sebagai rujukan, terutama bagi kalangan warga tak mampu, relatif "populer". Namun, mantan Direktur RS Kasih Ibu ini justru tak suka pada publikasi. Beberapa kali dia menolak permintaan wawancara dari media.

"Enggak usahlah diberita-beritakan. Saya bukan siapa-siapa," ujarnya.

Bagi Lo, apa yang dia lakukan selama ini sekadar membantu mereka yang tak mampu dan membutuhkan pertolongan dokter. "Apa yang saya lakukan itu biasa dilakukan orang lain juga. Jadi, tak ada yang istimewa," ujarnya.

Di kalangan warga Solo, terutama di sekitar tempat tinggalnya, Lo dikenal sebagai sosok yang selalu bersedia menolong siapa pun yang membutuhkan. Tak heran jika saat terjadi kerusuhan rasial di Solo pada Mei 1998, rumah dokter keturunan Tionghoa ini justru dijaga ketat oleh masyarakat setempat.

Lo juga tak merasa khawatir. Justru para tetangga yang meminta dia tidak membuka praktik pada masa kerusuhan itu mengingat situasinya rawan, terutama bagi warga keturunan Tionghoa. Namun, Lo menolak permintaan itu, dia tetap menerima pasien yang datang.

"Saya mengingatkan dokter, kenapa buka praktik. Wong suasananya kritis. Eh, saya yang malah dimarahi dokter. Katanya, dokter akan tetap buka praktik, kasihan sama orang yang sudah datang jauh-jauh mau berobat," cerita Putut Hari Purwanto (46), warga Purwodiningratan, yang rumahnya tak jauh dari rumah Lo.

Bahkan, meski tentara datang ke rumah Lo untuk mengevakuasi dia ke tempat yang aman, Lo tetap menolak. Maka, wargalah yang kemudian berjaga-jaga di rumah Lo agar dia tak menjadi sasaran kerusuhan.

"Saya ini orang Solo, jadi tak perlu pergi ke mana-mana. Buat apa?" ucapnya.

Anugerah
Menjadi dokter, bagi Lo, adalah sebuah anugerah. Dia kemudian bercerita, seorang dokter di Solo yang dikenal dengan nama dokter Oen, seniornya, dan sang ayahlah yang membentuk sosoknya. Dokter Oen dan sang ayah kini telah tiada.

Lo selalu ingat pesan ayahnya saat memutuskan belajar di sekolah kedokteran. "Ayah saya berkali-kali mengatakan, kalau saya mau jadi dokter, ya jangan dagang. Kalau mau dagang, jangan jadi dokter. Makanya, siapa pun orang yang datang ke sini, miskin atau kaya, saya harus terbuka. Saya tidak pasang tarif," kata Lo yang namanya masuk dalam buku Kitab Solo itu.

Papan praktik dokter pun selama bertahun-tahun tak pernah dia pasang. Kalau belakangan ini dia memasang papan nama praktik dokternya, itu karena harus memenuhi peraturan pemerintah.

Tentang peran dokter Oen dalam dirinya, Lo bercerita, selama sekitar 15 tahun dia bekerja kepada dokter Oen yang dia jadikan sebagai panutan. "Dokter Oen itu jiwa sosialnya tinggi dan kehidupan sehari-harinya sederhana," ujarnya.

Dari kedua orang itulah, Lo belajar bahwa kebahagiaan justru muncul saat kita bisa berbuat sesuatu bagi sesama. "Ini bukan berarti saya tak menerima bayaran dari pasien, tetapi kepuasan bisa membantu sesama yang tidak bisa dibayar dengan uang," katanya sambil bercerita, sebagian pasien yang datang dari desa suka membawakan pisang untuknya.

Gaya hidup sederhana membuat Lo merasa pendapatan sebagai dokter bisa lebih dari cukup untuk membiayai kehidupannya sehari-hari. Apalagi, dia dan sang istri, Maria Gan May Kwee atau Maria Gandi, yang dinikahinya tahun 1968, tak memiliki anak.

"Kebutuhan kami hanya makan. Lagi pula orang seumur saya, seberapa banyak sih makannya?" ujar Lo.

Bahkan, di mata para pasien, Lo seakan tak pernah "cuti" praktik. Lies (55), ibu dua anak, warga Kepatihan Kulon, Solo, yang selama puluhan tahun menjadi pasiennya mengatakan, "Dokter Lo praktik pagi dan malam. Setiap kali saya datang tak pernah tutup. Sepertinya, dokter Lo selalu ada kapan pun kami memerlukan."

DATA DIRI
* Nama: Lo Siaw Ging * Lahir: Magelang, 16 Agustus 1934 * Istri: Maria
Gan May Kwee (62) * Pendidikan: - Fakultas Kedokteran Universitas
Airlangga, 1962 - S-2 (MARS) Universitas Indonesia, 1995 * Profesi: -
Dokter RS Panti Kosala, Kandang Sapi, Solo (sekarang RS dokter Oen,
Solo) - Mantan Direktur Rumah Sakit Kasih Ibu, Solo

Sumber: KOMPAS Sonya Helen Sinombor/Email dari Ibu Suharti.

Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Friday, July 17, 2009

The King Knows

But the King Knows
Rizpah daughter of Aiah took sackcloth and spread it out for herself on a rock. From the beginning of the harvest till the rain poured down from the heavens on the bodies, she did not let the birds of the air touch them by day or the wild animals by night. When David was told what Aiah's daughter Rizpah, Saul's concubine, had done, he went and took the bones of Saul and his son Jonathan from the citizens of Jabesh Gilead. (They had taken them secretly from the public square at Beth Shan, where the Philistines had hung them after they struck Saul down on Gilboa.) David brought the bones of Saul and his son Jonathan from there, and the bones of those who had been killed and exposed were gathered up.

They buried the bones of Saul and his son Jonathan in the tomb of Saul's father Kish, at Zela in Benjamin, and did everything the king commanded. After that, God answered prayer in behalf of the land. 2 Samuel 21:10-14

Buried in the Bible are these little stories that can easily get passed over for the "juicier" sections (e.g., Moses parting the Red Sea, David and Goliath, Jesus turning water into wine). Rizpah, a relative of Saul, wanted to protect the bodies of the seven men who were killed. She was protecting them from the birds. A simple act of kindness and decency. No one would notice. After all, the men she was protecting were already dead.

But King David heard about it and acted. Long story short: Saul, Jonathan, and the seven men were all buried together. Away from the birds, away from the open air.

Rizpah's legacy lives on around the world. Most people have never heard her name but they are like her. Most reading this are like her. You work and labor and wonder if it's making a difference. No one seems to notice your deeds. You get discouraged and want to give it all up for an easier life.

But the King knows. The King is recording all of those deeds. Sometimes he rewards you on the spot; most times, however, your small acts of kindness and hard work go seemingly unnoticed. Seemingly. The Enemy would want you to think that it's all for nothing. But it's not.

Take heart, Brothers and Sisters, your work for the Lord is not in vain, even the smallest things you do for others. Like the concert pianist whispering in the ear of a five-year-old as he plays a simple Chopsticks, "Keep on, Lad, you're doing great. Keep it up. I'm here with you. You're doing good. You're doing great. Don't stop now." Source: Devotions ChopChop,http://devotionschopchop.typepad.com/

Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Jakarta Bomb Blasts at J.W Marriot Hotel and Ritz Carlton

Jakarta Bomb Blasts at the J.W Marriot Hotel and Ritz Carlton
Coordinating Minister for Political and Security Affairs Widodo AS says nine people have been killed and at least 42 injured in two powerful blasts that hit two luxury hotels in Mega Kuningan business area in downtown Jakarta.

Widodo told reporters that six of the victims were killed at the Marriot hotel, two others at the Ritz-Carlton hotel and one died in hospital.

He also said that as at least 42 injured victims, including 13 foreigners, were being treated at four hospitals in Jakarta.

Police has stated that high explosive bombs caused the explosions.

The Marriott hotel was attacked in 2003, killing 12 people died. Southeast Asian terror network Jamaah Islamiyah was blamed for that blast. (dre-the jakarta posts)

*****

Berita mengejutkan di pagi hari Jumat ini menegaskan bahwa dalam waktu ke depan, beberapa pihak yang tidak senang atas ketenteraman Indonesia akan terus mengadakan teror. Doakan agar datang kerajaan-Nya dan jadilah kehendak-Nya atas Indonesia.

Ditulis/diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Churches in Sakhalin Island

Teman saya, seorang pengusaha, yang saya kenal ketika saya melayani di Melbourne, bercerita tentang pelayanannya bersama Pastor Jin (asal Korea) ke Pulau Sakhalin di daerah Siberia - Rusia beberapa minggu yang lalu. Di pulau itu banyak tinggal orang Korea dan Rusia. Ketika mereka bertemu dengan salah satu gembala di sana, gembala yang bersangkutan menceritakan sekitar 200 gereja yang sudah ia bangun dengan kasih karunia Tuhan.

Ketika pengusaha itu bertanya, "Pak Gembala, kalau bapak meninggal, bagaimana dengan gereja-gereja yang sudah dibangun itu?" Dengan mengejutkan gembala tadi menjawab, "Ah, saya tidak pernah ambil pusing. Gereja-gereja itu sudah memiliki gembala lokal masing-masing. Saya tidak akan mewariskan gereja-gereja itu kepada anak-anak saya. Saya bahkan tidak pernah memikirkan hal itu karena saya selalu sibuk membuka dan membangun gereja-gereja baru."

Memang, gereja-gereja yang dibangun oleh gembala tersebut selalu didukung banyak orang Kristen di pulau Sakhalin karena gereja-gereja itu tidak bermerek, tidak mencantumkan denominasi, tidak dikuasai sang gembala pelopor. Anak-anaknya tidak diprogram untuk menggembalakan atau "mewarisi" gereja-gereja yang sudah dibangun ayah mereka.

Bandingkan dengan beberapa gereja di Indonesia. Banyak pendeta berlomba-lomba membangun gereja untuk diwariskan kepada anak, menantu dan keluarganya, seolah-olah gereja adalah perusahaan keluarga yang tidak boleh lepas dari keturunan sampai keturunan berikutnya. Banyak gembala di sini bukan menjadi pengelola atau penatalayan gereja, tetapi menjadi pemilik gereja.

Ditulis/diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Thursday, July 16, 2009

Meeting The Savior

SANG PENIPU
Saya (Omotoni Akintoye) lahir tanggal 18 November 1956 dari keluarga poligami yang tidak mengenal Kristus. Ibu sangat menderita saat mengandung dan melahirkan saya, karena saya adalah anak ke-10 dalam keluarga dan ke-9 kakak saya semuanya meninggal saat masih bayi atau pun dalam kandungan, sehingga ketika keluarga tahu bahwa ibu mengandung, mereka menolak dan menyingkirkannya. Akhirnya, ibu saya bersembunyi di sebuah kampung terpencil. Saya tidak lahir tepat pada saatnya, tapi pada usia kandungan ibu saya 18 bulan, sehingga ia sangat kesakitan saat saya lahir. Ibu dibawa ke rumah sakit yang sangat jauh dari kampung karena komplikasi. Orang tua saya tidak mau memberikan nama, karena takut saya akan meninggal jika diberi nama. Lagipula dalam adat saya, pemberian sebuah nama harus dilakukan dengan perayaan yang sangat mahal. Hal itu membuat saya dipanggil sekenanya pada masa kanak-kanak, sehingga pada saat remaja, saya memberi nama diri saya sendiri "Wahid".

Saya sebenarnya anak yang cerdas di sekolah (Ahmadiyah Grammar School), namun saya juga sekaligus anak yang nakal, suka merokok, dan melakukan begitu banyak kenakalan remaja. Hal itu membuat saya menjadi anak yang paling banyak dihukum di sekolah, dan saya bangga akan hal itu. Sekolah segan mengeluarkan saya karena saya anak yang sangat cerdas, bahkan berhasil lulus SMA dengan nilai yang tinggi. Tapi saya melawan kehendak orang tua saya. Mereka ingin saya masuk universitas, tapi saya malah bergabung dengan kehidupan geng dan preman di kota kami. Melakukan apa saja untuk mendapatkan uang dengan cepat, namun hanya menghambur-hamburkan uang yang saya dapat untuk tidur bersama pelacur di hotel dan mabuk-mabukan sampai pagi.

Hal itu membuat ibu saya memaksa saya untuk menikah. Saya menikah bulan Desember tahun 1981. Tapi di malam pernikahan saya, saya malah menghabiskan malam itu bersama dengan seorang pelacur di sebuah hotel. Malah pada malam ketika anak pertama saya lahir, saya mabuk-mabukan sampai tertidur di sebuah hotel.

Saya sama sekali tidak memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga dan sama sekali tidak peduli dengan istri saya yang membanting tulang bekerja sebagai buruh kasar untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Sebaliknya, saya malah meninggalkan mereka pergi ke Amerika tanpa pamit, hanya karena seseorang menghina saya tidak punya gelar sarjana. Di Amerika, saya masuk ke Borough Of Manhattan Community College, lalu ke Baruch College; kedua-duanya di New York. Sekolah saya berjalan cukup baik, namun seperti biasa saya terus terlibat dalam pencarian uang secara instan. Seperti penipuan, pemalsuan, pengedaran narkoba, bahkan perdagangan manusia. Semua, baik pendidikan dan penghasilan dari dunia gelap, berjalan baik (terutama dari bisnis penipuan saya). Saya merasa begitu penuh dan tercukupi, merasa diri paling hebat, itu semua hasil usaha saya, dan di manakah Tuhan? Buktinya Dia tidak bisa menghentikan hal-hal jahat yang saya lakukan ini.

Pengenalan saya yang pertama kali kepada Yesus terjadi agak aneh. Saya sedang bermain judi bersama teman-teman saya. Kemudian ada seorang teman yang bernama Ray, sering menang dan setiap kali menang dia berseru, "Puji Tuhan, HaleluYah, dan Terima kasih Yesus". Hal itu sungguh mengesalkan hati saya. Saya memandangi Ray dan berpikir dia sudah gila. Masakan membawa-bawa jargon-jargon agama dalam judi. Dan saya juga katakan padanya bahwa Yesus yang dia puji-puji itu tidak ada istimewanya, hanya manusia biasa seperti kita, seorang penipu yang lebih pintar dari pengikutnya, sehingga pengikutnya mau saja dibohongi dan mengikutinya. Namun pada malam harinya, tanggal 5 Februari, saya bermimpi dan mimpi itu begitu nyata. Saya melihat seorang pria yang matanya, kulitnya, dan jubahnya semuanya berwarna putih bagai salju.
Saya bertanya padanya, "Siapakah engkau?" Dia lalu menjawab, "Aku adalah Yesus yang kau bilang sebagai penipu. Tapi sekarang Aku akan memberimu tugas untuk memberitahukan seluruh dunia kalau Aku bukan tipuan, tetapi sesuatu yang sungguh nyata."

Saya katakan kepada-Nya, "Saya tidak punya urusan dengan-Mu, untuk itu pergilah tinggalkan saya." Kejadian itu menjadi awal dibongkarnya hidup saya dan akhir dari kenyamanan yang dibangun atas kejahatan saya. Saya tidak bisa lagi hidup tenang sejak mimpi itu. Beberapa hari setelah mimpi itu, ibu saya menelepon, katanya istri saya akan meninggalkan saya kalau saya tidak berbicara dengannya. Saya memang meninggalkan istri saya pada ibu saya, karena saya pikir dia tidak berpendidikan atau pun setingkat kehidupannya dengan saya. Saya coba bicara dengannya, namun saya malah salah bicara dan menghancurkan sedikit harapan yang tersisa padanya. Ia pun langsung pergi keluar dari rumah ibu saya, kembali pada orang tuanya, dengan meninggalkan sebuah amplop berisi surat yang mengatakan bahwa dia akan tetap menunggu saya, peduli sampai berapa lama. Tidak lama kemudian, rumah saya yang di Amerika dirampok habis saat saya sedang pergi kuliah, tidak ada harta saya yang tersisa, semuanya habis dibawa perampok.

Pada bulan Maret 1987, saya menembak seseorang hingga hampir mati hanya karena masalah wanita. Pada 15 September 1987, FBI menangkap dan membekuk saya di dalam kelas saat sedang kuliah, dengan tuntutan penipuan dan pemalsuan. Saya ditahan 13 bulan sebelum akhirnya dibebaskan. Baru saja saya dibebaskan, departemen imigrasi langsung menangkap saya dan langsung mendeportasi saya kembali ke Nigeria.

Setelah hampir 4 tahun mencoba kembali ke Amerika, saya akhirnya berhasil kembali ke negeri itu tahun 1991. Namun dua tahun kemudian terjadi masalah besar, pertama ibu saya meninggal di bulan Januari. Lalu saya ditangkap pihak berwajib sampai 19 kali di tahun itu juga. Bukan semuanya karena kesalahan saya. Banyak orang dalam perusahaan saya terlibat dalam penipuan dan pemalsuan, sehingga saya sering terseret dalam penyelidikan.

Tahun 1994, saya kembali ke Nigeria untuk mencari pertolongan spiritual. Saya benar-benar hancur, baik dalam hal kejiwaan dan finansial. Saya benar-benar butuh pertolongan. Hal yang mendorong saya mencari pertolongan spritual. Setiap kali kejadian-kejadian di atas terjadi, suara dalam mimpi yang saya alami itu terus datang.

Menantang dan terus memanggil saya. Tapi saya coba lari dari-Nya, saya tidak mau itu menjadi jalan hidup saya. Saya memutuskan untuk mencoba sedikit berdamai dengan pemilik suara itu. Maka saya mencari seorang pendeta dan meminta sarannya. Ia menyarankan agar saya kembali bersama istri dan keluarga saya. Bila tidak, keadaan akan bertambah buruk. Saya mematuhi sarannya, dan berusaha kembali pada keluarga saya. Itulah hadiah Natal terindah, 23 Desember 1994, dua putri saya yang manis kembali duduk di pangkuan saya dengan sukacita.

Bulan Februari 1997, saya memutuskan kembali ke Amerika, karena bisnis saya di Nigeria, apapun itu, selalu gagal. Saya transit di Amsterdam, Belanda, saya menelepon teman saya yang tinggal di situ. Ia pun dengan senangnya langsung mengundang saya ke rumahnya, karena ada perayaan pemberian nama untuk anaknya. Setelah perayaan itu selesai, saya jalan-jalan melihat-lihat Amsterdam. Namun di tengah jalan, mendadak polisi memberhentikan mobil saya. Menurut data yang mereka miliki, ternyata saya termasuk dalam daftar orang dicari di negara tersebut. Saya sangat terkejut, bagaimana mungkin, saya belum pernah datang ke negara itu, namun tertuduh atas sebuah kejahatan di situ? Setelah diusut, ternyata saya tercatat karena kejahatan yang saya lakukan di negara lain 5 tahun lalu, yang dilaporkan oleh warga negara di negara tersebut. Saat didorong masuk dengan kasar ke dalam sel dan pintu sel dengan keras terkunci, suara dari mimpi itu dengan jelas datang lagi dan berkata, "Apakah engkau sudah siap sekarang?"

Saya langsung tersungkur di lantai sel itu dengan muka menghadap ke tanah. Saya menangis sejadi-jadinya seperti anak kecil. "Tuhan ..., ampuni aku, aku sudah lelah, aku menyerah!" Di dalam penjara itu, pada tanggal 7 Februari 1997, saya akhirnya menyerahkan hidup saya kepada Yesus Kristus. Di dalam penjara itu pula saya menjadi manusia yang tergantung hanya pada satu buku, yaitu Alkitab. Tidak saya lepas ke mana pun saya pergi di dalam lingkungan penjara. Saya baca berulang-ulang, sekali lagi dan lagi. Roh Kudus banyak berbicara pada saya melalui firman-Nya. Selama 7 bulan dalam penjara, saya pun dilepaskan dan menjadi luntang-lantung di Belanda. Di jalanan, saya bertemu dengan seorang pecandu narkoba dan dia menawarkan tempat sementara untuk berteduh. Tempat itu ternyata sebuah gereja bernama Victory Outreach Church. Dan saya disambut dengan sangat baik di sana, seperti di keluarga sendiri, bahkan mungkin lebih baik dari keluarga. Saya ikut dalam program rehabilitasi di gereja itu selama 3 bulan dan kemudian dipindahkan ke Utrecth. Ternyata pendeta pelayan di Utrecth adalah seorang Nigeria, namanya Pendeta Franklin Ogunnorin. Saya belajar banyak di bawah bimbingannya selama 6 bulan, dan pemerintah Belanda memerintahkan saya untuk melanjutkan perjalanan ke Amerika.

Namun, saat saya sedang transit di Spanyol dan mengunjungi seorang teman, suara itu datang lagi. "Aku tidak mengutusmu ke Amerika, tapi kembali ke Afrika dan dirikanlah gereja seperti yang telah engkau lihat, khusus untuk melayani pecandu, pelacur, pemabuk, narapidana, anak jalanan, dan mereka yang berasal dari keluarga yang berantakan. Mendengar suara itu, saya memilih patuh daripada mengikuti keinginan diri saya sendiri. Saya pun kembali ke Nigeria dengan hanya $10 di kantong dan langsung menggunakan rumah warisan ibu saya sebagai tempat pelayanan dan rehabilitasi. Kami juga melayani ibadah, sampai diadakan di hampir setiap hotel di Ibadan. Kehidupan dalam pelayanan bukanlah jalanan yang penuh bunga, namun begitu banyak tantangannya. Saya dan istri memang memiliki beban yang sama dalam pelayanan, tapi kami hidup tidak seperti suami istri, kami hidup seperti dua orang yang asing. Begitu banyak adu mulut dan perkelahian dalam kehidupan perkawinan kami. Sampai suatu saat, saya ditegur dengan firman Tuhan yang menyatakan agar saya harus mengasihi istri saya, menghormatinya, dan menjaganya. Puji nama Tuhan, kehidupan keluarga saya menjadi harmonis sejak saya patuh pada firman Tuhan.

Tuhan Yesus yang Mahakuasa telah memanggil dan mengubahkan saya. Saya yang dahulunya suka memukul wanita, menjadi seorang pencinta istri. Saya tidak lagi melihat anak-anak saya sebagai parasit dan pengganggu hidup saya, melainkan warisan mulia dari Tuhan. Tuhan telah mengubahkan saya, dari seorang penghujat Tuhan menjadi pengabar Injil-Nya. Dari penjara menjadi pendeta, dari pencinta kehidupan malam menjadi pencinta kehidupan doa. Saya tidak melihat wanita dari tubuhnya lagi, tapi dari jiwanya yang terluka. Saya tidak mabuk akan anggur lagi, melainkan mabuk akan Roh Kudus.

Dibebaskan dari lembah kematian dan diletakkan pada gunung batu kemulian-Nya. Saya sekarang percaya kalau Tuhan bisa memanggil saya, memilih saya, dan mengubahkan saya dengan karunia-Nya, kasih-Nya, dan kuasa-Nya yang begitu besar. Tuhan juga pasti mampu memanggilmu dan mengubahkanmu dari yang terhilang menjadi anak kesayangan-Nya.

Asal kau mau bertobat dan kembali kepada-Nya. Saya sekarang merasa begitu hidup, begitu diperbaharui, dan begitu dipulihkan. Membuat saya berpikir jika pengalaman saya bersama Kristus yang begitu indah ini adalah sebuah mimpi, maka saya tidak mau dibangunkan. Biarkan saya tetap bermimpi dalam hidup berkemenangan seperti ini.

Diambil dan disunting seperlunya dari Majalah VOICE Indonesia, Vol. 88/2007. Penulis: Omotoni Akintoye, Penerbit: Communication Department Full Gospel Business's Men Fellowship International -- Indonesia. Email kiriman dari Bpk. Wawan S.T

Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Wednesday, July 15, 2009

A Loving Husband

Suami yang Penuh Kasih: Kisah John & Jessica

John dan Jessica telah berumah tangga selama 7 tahun. Mereka saling mencintai, namun Jessica sejak awal menutupi semua perasaan cintanya terhadap John. Ia begitu takut apabila John mengetahui betapa ia mencintai pria itu, John lantas meninggalkannya sebagaimana kekasih-kekasihnya selama ini. Tapi tidak bagi John. Ia selalu menyatakan perasaan cintanya kepada Jessica dengan tulus dan begitu terbuka. Setiap saat ketika bersama Jessica, John selalu menunjukkan cintanya yang besar, seolah-olah itulah saat akhir John bersama Jessica.

Jessica selalu bersikap tidak menyenangkan terhadap John. Setiap saat dia selalu mencoba menguji seberapa besar cinta John terhadapnya. Jessica selalu mencoba melakukan hal-hal yang keterlaluan dan diluar batas kepada John. Meski Jessica tahu betapa hal itu sungguh salah, namun melihat sikap John yang tetap berlaku baik kepadanya, membuat Jessica tetap bertahan untuk melihat seberapa besar kesungguhan cinta pria yang dinikahinya itu.

Tahun pertama pernikahan mereka….

Jessica bangun siang. Dia tidak sempat menyiapkan sarapan untuk John ketika John hendak berangkat kerja. Namun John tetap tersenyum dan mengatakan, "Tidak apa-apa. Nanti aku bisa sarapan di kantor."

Saat John pulang dari kantor, Jessica tidak sengaja memasak makanan yang tidak disukai John. Meski menyadari hal itu, Jessica tetap memaksakan agar suaminya mau makan makanan itu. John tetap tersenyum dan berkata, "Wah, sepertinya sudah saatnya aku belajar menghadapi tantangan. Masakanmu sepertinya tantangan yang hebat, sayang. Aku sudah tidak sabar untuk menyantapnya." Jessica terkejut, tapi tidak mengatakan apa-apa.

Tetapi Malaikat tahu betapa malam-malam saat Jessica terlelap John memanjatkan doa, "Tuhan, di pagi pertama pernikahan kami Jessica tidak membuatkanku sarapan. Padahal aku begitu ingin bercakap-cakap di meja makan bersamanya sambil membicarakan betapa indah hari ini, di hari pertama kami menjalani kehidupan baru sebagai suami istri. Tapi tidak apa-apa, Tuhan. Karena sepertinya Jessica kelelahan setelah resepsi pernikahan kami tadi malam. Bantulah kekasih hatiku ini, Tuhan agar dia boleh punya tenaga yang cukup untuk menghadapi hari baru bersamaku besok. Tuhan, Engkau tahu betapa aku tidak bisa makan spaghetti karena pencernaanku yang tidak begitu baik. Tapi sepertinya Jessica sudah bekerja keras untuk masak makanan itu. Mampukan aku untuk menghargai setiap apa yang dilakukan istriku kepadaku, Tuhan. Jangan biarkan aku menyakiti perasaannya meski itu tidak mengenakkan bagiku."

Tahun kedua pernikahan mereka….

John membangunkan Jessica pagi-pagi untuk berdoa bersama. Namun Jessica menolak dan lebih memilih melanjutkan tidurnya. John tersenyum dan akhirnya berdoa seorang diri.

Sore hari sepulang kantor, John mengajak Jessica berjalan-jalan ke taman. Meski terpaksa, Jessica akhirnya mau juga ke tempat dimana dulu perasaannya begitu berbunga-bunga saat bersama John. Tetapi Jessica menolak rangkulan John, dan berkata, "Jangan, John, aku malu." John tersenyum dan berkata, "Ya, aku mengerti." Jessica melihat kekecewaan dimata John, namun tidak melakukan apapun untuk menghilangkan kekecewaan itu.

Tetapi Malaikat tahu betapa malam-malam setelah Jessica terlelap, John memanjatkan doanya. "Tuhan, ampuni aku yang tidak bisa membawa istriku untuk lebih dekat kepada Mu pagi hari ini. Mungkin tidurnya kurang karena pikirannya yang sedang berat. Tapi aku yakin, Tuhan besok Jessica mau bersama-sama denganku bercakap-cakap kepadaMu. Tuhan, Engkau juga tahu kesedihanku saat Jessica meolak kurangkul ketika ke taman hari ini. Tapi tidak apa-apa. Dia sedang datang bulan, mungkin karena itu perasaannya juga jadi lebih sensitif. Mampukan aku untuk melihat suasana hati istriku, Tuhan…"

Tahun ketiga pernikahan mereka….

Mereka kini mempunyai seorang putera bernama Mark. Jessica menjadi tidak pernah lagi meneruskan kebiasaannya membaca bersama John sebelum tidur. Jessica semakin sering menolak ciuman John.

Jessica memarahi John habis-habisan sore itu ketika John lupa mencuci tangan saat akan menggendong Mark ketika John pulang kerja..Jessica tahu betapa hal itu membuat John terpukul. Namun idealismenya terhadap mendidik Mark membuat Jessica mengabaikan perasaan John. Dan John tetap tersenyum.

Tetapi Malaikat tahu betapa malam-malam setelah Jessica terlelap, John memanjatkan doanya. "Tuhan, Engkau tahu betapa sedih hatiku saat ini. Semenjak kelahiran Mark, aku kehilangan begitu banyak waktu bersama Jessica. Aku merindukan saat-saat kami membaca bersama sebelum tidur dan menciuminya sebelum ia tertidur. Tapi tidak apa apa. Dia begitu capek mengurusi Mark seharian saat aku bekerja di kantor. Hanya saja, biarkanlah dia tetap terus tertidur dalam pelukanku, Tuhan. Karena aku begitu mencintainya. Sore tadi Jessica memarahiku karena aku lupa mencuci tangan saat menggendong Mark, Tuhan. Aku begitu kangen pada anakku sehingga teledor melakukan sebagaimana yang diminta istriku. Engkau tahu betapa aku terluka akan kata-kata Jessica, Tuhan. Tapi tidak apa-apa, Jessica mungkin hanya kuatir terhadap kesehatan anak kami Mark apabila aku langsung menggendongnya. Kesehatan Mark lebih penting daripada harga diriku…."

Tahun keempat pernikahan mereka….

Jessica tidak ingat memasak makanan kesukaan John di hari ulang tahunnya. Jessica terlalu sibuk belanja sehingga lupa bahwa John selalu minta dibuatkan Blackforest dengan taburan coklat dan ceri di atasnya setiap ulang tahunnya tiba.

Jessica juga lupa menyetrika kemeja John yang menyebabkan John terlambat ke kantor pagi itu karena John terpaksa menyetrika sendiri kemejanya. Jessica tahu kesalahannya, namun tidak menganggap hal itu sebagai sesuatu hal yang penting.

Tetapi Malaikat tahu betapa malam-malam setelah Jessica terlelap, John memanjatkan doanya. "Tuhan, untuk kali pertama Jessica lupa membuatkan Blackforest kesukaanku di hari ulang tahunku ini. Padahal aku sangat menyukai kue buatannya itu. Menikmati kue Blackforest buatannya membuatku bersykur mempunyai istri yang pandai memasak sepertinya, dan merasakan cintanya padaku. Namun tahun ini aku tidak mendapatinya. Tapi tidak apa-apa, mungkin lebih banyak hal-hal lain yang jauh lebih penting daripada sekedar Blackforest itu. Paling tidak, aku masih mendapatkan senyuman dan ciuman darinya hari ini. Ampuni aku, Tuhan, apabila tadi pagi aku lupa tersenyum kepada Jessica. Aku terlalu sibuk menyetrika bajuku dan memikirkan pekerjaanku di kantor. Jessica sepertinya lupa untuk melakukan hal itu, meski aku sudah meminta tolong padanya tadi malam. Jangan biarkan aku melampiaskan emosiku karena dampratan atasanku akibat keterlambatanku hari ini kepada Jessica, Tuhan. Jessica mungkin keliru menyetrika kemeja mana yang seharusnya kupakai hari ini. Lagipula, sepatuku begitu mengkilap. Aku yakin Jessica sudah berusaha keras agar aku kelihatan menarik saat presentasiku tadi. Terima kasih untuk kebaikan istriku, Tuhan…"

Tahun kelima pernikahan mereka…

Jessica menampar dan menyalahkan John karena Mark sakit sepulang mereka berenang. John terlalu asyik bermain-main dengan Mark sehingga tidak menyadari betapa Mark sangat sensitive terhadap dinginnya air kolam renang, yang mengakibatkan Mark terpaksa dirawat di rumah sakit.

Jessica mengancam akan meninggalkan John apabila terjadi apa-apa dengan Mark. Jessica melihat genangan air mata di mata John, namun kekerasan hatinya lebih menguasainya ketimbang perasaan John.

Tetapi Malaikat tahu betapa saat itu John lantas menuju ke Kapel rumah sakit dan memanjatkan doanya sambil menangis. "Tuhan, tadi Jessica menamparku karena kelalaianku menjaga Mark sehingga dia sakit. Belum pernah Jessica bersikap dan berkata sekasar itu kepadaku, Tuhan. Tapi tidak apa-apa. Jessica benar-benar kuatir terhadap anak kami sehingga ia bersikap demikian. Tapi Tuhan, aku begitu terluka saat ia mengatakan akan meninggalkanku. Engkau tahu betapa ia adalah belahan jiwaku. Jangan biarkan hal itu terjadi, Tuhan. Mungkin dia begitu dikuasai kekuatiran sehingga melampiaskannya kepadaku. Tidak apa-apa, Tuhan. Tidak apa-apa. Asal dia mendapat ketenangan, aku akan merasa bersyukur sekali. Dan sembuhkanlah putera kami, Mark agar dia boleh kembali dapat ceria dan bermain-main bersama kami lagi, Tuhan."

Tahun keenam pernikahan mereka….

Jessica semakin menjaga jarak dengan John setelah kehadiran Rebecca, puteri mereka. Jessica tidak pernah lagi menemani John makan malam karena menjaga puteri mereka yang baru berusia 5 bulan.

Jessica juga menjual kalung berlian pemberian John dan menggantinya dengan perhiasan lain yang lebih baru. Ketika John mengetahui hal itu, Jessica tahu John menahan amarahnya, namun Jessica berdalih, "John, itu hanya kalung berlian biasa. Lagipula, aku bukan menjualnya, melainkan menukarnya dengan perhiasan yang lebih baru."

Tetapi Malaikat tahu betapa malam-malam setelah Jessica terlelap, John memanjatkan doanya. "Tuhan, Aku begitu kesepian melewatkan makan malam sendirian tanpa Jessica bersamaku. Aku begitu ingin terus bercerita dan tertawa bersamanya di meja makan. Engkau tahu, itulah penghiburanku untuk melepas kepenatanku setelah seharian bekerja di kantor. Tapi tidak apa-apa. Rebecca lebih membutuhkan perhatiannya daripadaku. Lagipula, Mark kadang-kadang mau menemaniku. Hanya saja, jangan biarkan aku. memendam sakit hati kepada Jessica karena menjual kalung pemberianku. Engkau tahu begitu lama aku menabung dan bekerja ekstra demi menghadiahinya kalung itu, hanya untuk membuktikan terima kasihku padanya atas kesetiaan dan pengabdiannya sebagai istriku dan ibu dari anak-anakku. Ampuni aku apabila tadi aku sempat berpikir untuk marah kepadanya."

Tahun ketujuh pernikahan mereka….

Jessica sama sekali tidak mengindahkan kebiasaannya membelai kepala John dan mencium kening suaminya sebelum John berangkat kantor. Padahal Jessica tahu, selama ini apabila dia lupa melakukannya, John selalu kembali kerumah siang hari demi mendapatkan belaian dan ciuman Jessica untuknya. Karena John tidak akan pernah tenang bekerja apabila hal itu belum dilakukan Jessica padanya. Jessica tidak mengucapkan I LOVE YOU untuk kali pertama dalam 7 tahun pernikahan mereka.

Dan di tahun ketujuh itu pula, John mengalami kecelakaan saat akan berangkat ke kantor. Ia mengalami pendarahan yang hebat, yang membuatnya terbaring tidak sadarkan diri di ranjang rumah sakit.

Jessica begitu terguncang dan terpukul. Ia begitu takut kehilangan John, suami yang dicintainya. Yang selalu ada kapan saja dia butuhkan. Yang selalu dengan tersenyum menampung semua emosi dan kemarahannya. Yang tak pernah berhenti mengatakan betapa John mencintainya. Tak sedikitpun Jessica beranjak dari sisi tempat tidur John. Tangannya menggenggam erat jemari suaminya yang terbaring lemah tak sadarkan diri. Bibirnya terus mengucapkan I LOVE YOU, karena ia ingat kalau ia belum mengatakan kalimat itu hari ini.

Karena begitu sedih dan lelah menunggui John, Jessica tertidur. Dalam tidurnya, malaikat yang selama ini mendengar doa-doa John kepada Tuhan membawa Jessica melihat setiap malam yang John lewatkan untuk mendoakan Jessica. Ia menangis sedih melihat ketulusan dan rasa cinta yang besar dari John kepadanya. Tak sedikitpun John menyalahkannya atas semua sikapnya yang tidak mempedulikan perasaan dan harga diri John selama ini. Alih-alih demikian, John malahan menyalahkan dirinya sendiri. Jessica menangis menahan perasaannya. Dan untuk kali pertama dalam hidupnya, Jessica berdoa, "Tuhan, ampuni aku yang selama ini menyia-nyiakan rasa cinta suamiku terhadapku. Ampuni aku yang tidak memahami perasaan dan harga dirinya selama ini. Beri aku kesempatan untuk menunjukkan cintaku pada suamiku, Tuhan. Beri aku kesempatan untuk meminta maaf dan melayaninya sebagai suami yang kucintai."

Dan ketika Jessica terbangun, Ia melihat pancaran kasih suaminya menatapnya. "Kamu keliatan begitu lelah, sayang. Maafkan aku yang tidak berhati-hati menyetir sehingga keadaannya mesti jadi begini dan membuatmu kuatir. Aku tidak konsentrasi saat menyetir karena memikirkan bahwa kau lupa mengatakan I LOVE YOU kepadaku." Belum selesai John berbicara, Jessica lantas menangis keras dan menghambur ke pelukan suaminya.

"Maafkan aku, John. Maafkan aku. I LOVE YOU. I really Love you. Kaulah matahariku, John. Aku tidak bisa bertahan tanpamu..Aku berjanji tidak akan pernah lupa lagi mengatakan betapa aku mencintaimu. Aku berjanji tidak akan pernah mengabaikan perasaan dan harga dirimu lagi. I LOVE YOU, John. I LOVE YOU…"

Berapa banyak diantara kita yang menjadi seperti Jessica? Yang mengabaikan perasaan kekasih hati kita demi kepentingan diri kita sendiri? Jangan sampai terjadi sesuatu yang berat untuk kita lalui demi menyadari betapa berharganya orang-orang yang mengasihi kita.

Lebih dari itu, cinta yang sesungguhnya adalah ketika kita bisa seperti John, yang mengabaikan kepentingan dirinya dan perasaannya demi menjaga dan menunjukkan cintanya kepada pasangannya. Yang menjadikan pasangan hidup kita sebagai subjek untuk dikasihi dan dilayani, bukan sebaliknya. Semoga memberi makna untuk kita semua. Email from: Lienda S/Wawan S.T

Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Luck

Dalam acara Business Art With Mario Teguh di saluran O-Channel, ada seseorang yang bertanya, "Berapa persen peran keberuntungan dalam menentukan sebuah kesuksesan?"

Karena sebelumnya Mario Teguh selalu menekankan tentang berpikir positif dan bertindak positif untuk mencapai hal yang positif, saya jadi bertanya-tanya, apa jawaban yang akan diberikannya. Sebab umumnya orang beranggapan bahwa keberuntungan itu adalah sesuatu hal yang berada di luar kepastian sebuah teori yang matematis.

"Luck" bagi banyak orang adalah suatu misteri, sehingga di dalam saku atau dompet dengan diam-diam orang membawa sebentuk "jimat keberuntungan." Benda-benda yang sudah didoakan atau dikeramatkan diharapkan bisa membawa keberuntungan bagi pemiliknya.

Tentunya kita masih ingat akan ikan arwana yang harganya bisa mencapai puluhan juta rupiah karena dianggap bisa memberi keberuntungan. Padahal dahulu kala di tempat asalnya, ikan Arwana termasuk dalam daftar menu makanan kegemaran penduduk setempat.

Saya termasuk seberuntung saudara kita di pedalam Kalimantan, karena pernah menikmati daging ikan Arwana milik saudara yang tiba-tiba sekarat karena salah makan. Terasa nikmat lebih karena membayangkan sedang menyantap daging seekor ikan yang pernah ditawar jutaan rupiah, tetapi berakhir tragis di penggorengan.

Fengshui bagi sebagian orang juga dipercaya mengubah keberuntungan lebih besar bagi yang mengikutinya. Bahkan ada saluran TV yang secara khusus menayangkan program fengshui, dan ternyata menjadi tayangan dengan rating yang tinggi - karena memang orang sangat rindu untuk meraih keberuntungan hidup.

Keberuntungan adalah hal yang diliputi kabut misteri yang menyebabkan orang mengambil kesempatan dengan menawarkan barang dan jasa yang bisa menyingkap kabut kalau-kalau bisa menemukan keberuntungan dibaliknya. Beruntung adalah lawan dari sial, yang kedatangannya pasti dihindari oleh semua orang.

Kemudian apa jawaban Mario Teguh? Seperti biasa sambil tersenyum dan penuh percaya diri dia menjawab, "Orang menempuh pendidikan yang baik supaya hidupnya beruntung. Orang berpakaian dengan rapi dan baik supaya beruntung. Orang menjaga tutur kata dan tingkah lakunya supaya beruntung dalam pergaulan. Orang melakukan semua hal yang baik supaya beruntung dalam hidupnya."

"Jadi berapa persen peran keberuntungan dalam sebuah kesuksesan? Jawabnya adalah Seratus Persen!"

Hebat sekali sekali jawaban yang diberikan. Mengubah hal yang diluar perkiraan dan tidak terukur (intangible) menjadi hal yang terukur (tangible) dan masuk akal. Semua penonton di studio dan juga di rumah setuju dan membenarkan jawaban jitu yang diberikan oleh Mario Teguh.

Tetapi kemudian saya melihat hal berbeda - bukan karena mau mengkritisi atau merasa lebih pintar dari Mario Teguh. Saya lebih melihat bahwa keberuntungan yang disampaikannya adalah bentuk "keberuntungan yang diusahakan."

Orang dengan pendidikan yang tinggi mempunyai tingkat keberuntungan yang lebih besar daripada yang berpendidikan rendah. Orang dengan penampilan fisik yang sempurna akan lebih beruntung dalam hidupnya dibandingkan yang cacat. Orang yang kuper (kurang pergaulan) tidak akan seberuntung orang yang pergaulannya luas. Dan masih banyak deretan yang lain untuk menunjukkan bahwa semua yang terbaik dan sempurna bisa menciptakan keberuntungan yang lebih. Semua alasan itu mudah untuk dipahami.

Tetapi disamping "keberuntungan yang diusahakan" saya akan menambahkan dengan "keberuntungan yang dianugerahkan". Akan tetapi kita harus hati-hati dengan keberuntungan yang kedua untuk tidak menjadi latah dengan gambaran jimat ataupun ikan arwana di penjelasan awal.

Di kantor, saya menemukan orang melamar pekerjaan dengan ijazah SMU karena itu yang dibutuhkan dibandingkan dengan ijazah sarjana yang dimiliki.

Ada teman wanita yang cantik, pintar, karir bagus dan sudah ingin menikah tetapi tidak ada yang mengajukan proposal padanya. Sempat dia memburu cowok idamannya, tetapi pelaminan ternyata berpihak pada wanita lain yang tampak biasa-biasa saja.

Ada staf di kantor yang pendidikannya tinggi, pintar, pribadinya simpatik, mudah bekerjasama dengan baik - tetapi di manapun ditempatkan tidak mencapai target karir yang membuatnya frustrasi. Sampai akhirnya saya ajak dia untuk bergabung dengan team di proyek yang saya kerjakan. Baru saya tahu penyebab utamanya, yaitu entah kenapa dia selalu berada di tempat dan waktu yang tidak tepat.

Banyak kali, dia tidak ada di tempat karena sedang ditugaskan untuk mengerjakan pekerjaan yang lain. Padahal momen itu berguna bagi karirnya. Walaupun saya sudah berusaha memberi jalan untuk membantunya, mendorong semangatnya, tetapi pada akhirnya selalu ada saja yang membuatnya tidak berhasil.

Kemudian dia resign. Ternyata hanya beberapa minggu setelahnya ada program penyegaran perusahaan yang menawarkan kompensasi resign dengan nominal yang lebih tinggi. Karena surat resignnya terlanjur sudah diterima oleh management sebelumnya, maka dia tidak bisa menerima kompensasi sebesar yang ada di program penyegaran.

Karena ketidakberhasilan bekerja dengan orang lain, dia memutuskan untuk wirasrasta. Tetapi setelah itu saya mendengar usahanya juga bermasalah cukup serius. Saya sampai bingung sendiri melihat kenyataan itu, dan akhirnya mengakui bahwa dia adalah orang yang 'tidak beruntung'.

Saya punya banyak teman yang merasa tidak seberuntung yang lain - walaupun tingkat pendidikannya lebih tinggi. Walaupun dia sudah berusaha bekerja sama dengan semua pihak. Walaupun sudah mengorbankan waktu dan pikiran untuk lebih mementingkan pekerjaan dibandingkan keluarga dan hubungan sosial; tetapi tetap saja mereka merasa tidak sukses - sehingga harus berpindah dari satu tempat kerja ke tempat yang lain. Sehingga akhirnya memutuskan untuk berhenti berpindah dan menekuni satu pekerjaan dengan merasa tetap tidak berhasil.


Kalau saya mengajukan sebuah pertanyaan, "Apakah anda merasa beruntung saat ini?" Saya percaya jawaban yang saya terima adalah lebih banyak gelengan kepala dengan perasaan sedih. Kenapa bisa seperti itu? Karena semua usaha dan kerja keras yang sudah dilakukan untuk membuatnya beruntung ternyata tidak sebanding dengan harapan keuntungan ataupun sukses yang sudah diraih. Itu yang membuat orang merasa tidak sukses atau bahkan merasa gagal dalam hidup.

Mereka pada akhirnya merasa gagal karena berusaha meraih keberhasilan dengan menggunakan "Keberuntungan yang diusahakan."

Ada jalan keluar yang lebih manjur untuk mencapai kesuksesan diluar cara-cara pengumpulan jimat, fengshui atau pun kerja keras untuk membentuk "kebentungan yang diusahakan." Cara yang ampuh yaitu dengan menggunakan jurus, "keberuntungan yang dianugerahkan."

Petrus, Thomas, Natanael dan dua orang murid Tuhan Yesus adalah para profesional penjala ikan. Tetapi dengan semua kemampuan yang membuatnya bisa memperoleh "Keberuntungan yang diusahakan," semalam-malaman mereka bekerja dan tidak menangkap apa-apa. Nothing! Tidak ada satu ikan pun yang berhasil diperoleh.

Tetapi menjelang siang, mereka kembali melaut dengan berbekal "Keberuntungan yang dianugerahkan" oleh Tuhan Yesus, dan mereka memperoleh ikan-ikan besar sebanyak seratus lima puluh tiga ekor dan jalanya tidak koyak (Yohanes 21:11).

Memang tetap diperlukan keahlian dan usaha mereka sebagai "keberuntungan yang diusahakan." Mereka harus bisa mengendalikan perahu, harus bisa membuat jala, harus bisa menebarkan jala dan menarik jala dengan benar serta semua keahlian yang harus dimiliki oleh seorang nelayan. Akan tetapi keberhasilan memperoleh ikan ternyata hanya karena "keberuntungan yang dianugerahkan."

Berapa besar perbandingan keduanya? Kalau diperhitungkan terhadap hasil akhir dan kesuksesan yang diraih, maka porsi "keberuntungan yang diusahakan" sekitar 10% dan "Keberuntungan yang dianugerahkan" sebesar 90%. Ada yang menyebut 15% dan 85%, tetapi semuanya setuju bahwa "keberuntungan yang dianugerahkan" menduduki peran yang paling utama.


Apa kata TUHAN melalui nabi Yeremia mengenai kedua macam keberuntungan ini?

Pertama, mengenai "keberuntungan yang diusahakan," dalam Yeremia 17:5 dikatakan :
"Beginilah firman TUHAN: 'Terkutuklah orang yang mengandalkan manusia, yang mengandalkan kekuatannya sendiri, dan yang hatinya menjauh dari pada TUHAN!' "

Ternyata TUHAN sama sekali tidak berkenan dengan orang yang MENGANDALKAN kesuksesannya pada "keberuntungan yang diusahakan." Kemampuan dasar memang harus dimiliki dan kerja keras harus dilakukan - tetapi itu lebih dipandang sebagai sarana pendukung saja. Sebab jika itu yang menjadi andalan untuk memperoleh keberhasilan, maka TUHAN justru berfirman sebaliknya: "Ia akan seperti semak bulus di padang belantara, ia tidak akan mengalami datangnya keadaan baik; ia akan tinggal di tanah angus di padang gurun, di negeri padang asin yang tidak berpenduduk."

Melihat hasil dari jerih payah yang sia-sia itu, kita bisa menyimpulkan dengan satu kalimat pendek, "Capek deh ...."

Sekarang bagaimana dengan "keberuntungan yang dianugerahkan"? TUHAN rupanya menjamin dengan firmanNya, "Diberkatilah orang yang mengandalkan TUHAN, yang menaruh harapannya pada TUHAN." (Yeremia 17:7)

Kemudian hasil yang bisa dicapai dengan "keberuntungan yang dianugerahkan" itu adalah: "Ia akan seperti pohon yang ditanam di tepi air, yang merambatkan akar-akarnya ke tepi batang air, dan yang tidak mengalami datangnya panas terik, yang daunnya tetap hijau, yang tidak kuatir dalam tahun kering, dan yang tidak berhenti menghasilkan buah."

Suatu kesuksesan yang luar biasa yang pasti dicapai oleh orang yang mengandalkan dan bergantung kepada, "keberuntungan yang dianugerahkan." Dahsyat... Sumber: Elia Stories.

Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Kesaksian Pembaca Buku "Mukjizat Kehidupan"

Pada tanggal 28 Oktober 2009 datang SMS dari seorang Ibu di NTT, bunyinya:
"Terpujilah Tuhan karena buku "Mukjizat Kehidupan", saya belajar untuk bisa mengampuni, sabar, dan punya waktu di hadirat Tuhan, dan akhirnya Rumah Tangga saya dipulihkan, suami saya sudah mau berdoa. Buku ini telah jadi berkat buat teman-teman di Pasir Panjang, Kupang, NTT. Kami belajar mengasihi, mengampuni, dan selalu punya waktu berdoa."

Hall of Fame - Daftar Pembaca Yang Diberkati Buku Mukjizat Kehidupan

  • A. Rudy Hartono Kurniawan - Juara All England 8 x dan Asian Hero
  • B. Pdt. DR. Ir. Niko Njotorahardjo
  • C. Pdt. Ir. Djohan Handojo
  • D. Jeffry S. Tjandra - Worshipper
  • E. Pdt. Petrus Agung - Semarang
  • F. Bpk. Irsan
  • G. Ir. Ciputra - Jakarta
  • H. Pdt. Dr. Danny Tumiwa SH
  • I. Erich Unarto S.E - Pendiri dan Pemimpin "Manna Sorgawi"
  • J. Beni Prananto - Pengusaha
  • K. Aryanto Agus Mulyo - Partner Kantor Akuntan
  • L. Ir. Handaka Santosa - CEO Senayan City
  • M. Pdt. Drs. Budi Sastradiputra - Jakarta
  • N. Pdm. Lim Lim - Jakarta
  • O. Lisa Honoris - Kawai Music Shool Jakarta
  • P. Ny. Rachel Sudarmanto - Jakarta
  • Q. Ps. Levi Supit - Jakarta
  • R. Pdt. Samuel Gunawan - Jakarta
  • S. F.A Djaya - Tamara Jaya - By Pass Ngurah Rai - Jimbaran - Bali
  • T. Ps. Kong - City Blessing Church - Jakarta
  • U. dr. Yoyong Kohar - Jakarta
  • V. Haryanto - Gereja Katholik - Jakarta
  • W. Fanny Irwanto - Jakarta
  • X. dr. Sylvia/Yan Cen - Jakarta
  • Y. Ir. Junna - Jakarta
  • Z. Yudi - Raffles Hill - Cibubur
  • ZA. Budi Setiawan - GBI PRJ - Jakarta
  • ZB. Christine - Intercon - Jakarta
  • ZC. Budi Setiawan - CWS Kelapa Gading - Jakarta
  • ZD. Oshin - Menara BTN - Jakarta
  • ZE. Johan Sunarto - Tanah Pasir - Jakarta
  • ZF. Waney - Jl. Kesehatan - Jakarta
  • ZG. Lukas Kacaribu - Jakarta
  • ZH. Oma Lydia Abraham - Jakarta
  • ZI. Elida Malik - Kuningan Timur - Jakarta
  • ZJ. Luci - Sunter Paradise - Jakarta
  • ZK. Irene - Arlin Indah - Jakarta Timur
  • ZL. Ny. Hendri Suswardani - Depok
  • ZM. Marthin Tertius - Bank Artha Graha - Manado
  • ZN. Titin - PT. Tripolyta - Jakarta
  • ZO. Wiwiek - Menteng - Jakarta
  • ZP. Agatha - PT. STUD - Menara Batavia - Jakarta
  • ZR. Albertus - Gunung Sahari - Jakarta
  • ZS. Febryanti - Metro Permata - Jakarta
  • ZT. Susy - Metro Permata - Jakarta
  • ZU. Justanti - USAID - Makassar
  • ZV. Welian - Tangerang
  • ZW. Dwiyono - Karawaci
  • ZX. Essa Pujowati - Jakarta
  • ZY. Nelly - Pejaten Timur - Jakarta
  • ZZ. C. Nugraheni - Gramedia - Jakarta
  • ZZA. Myke - Wisma Presisi - Jakarta
  • ZZB. Wesley - Simpang Darmo Permai - Surabaya
  • ZZC. Ray Monoarfa - Kemang - Jakarta
  • ZZD. Pdt. Sunaryo Djaya - Bethany - Jakarta
  • ZZE. Max Boham - Sidoarjo - Jatim
  • ZZF. Julia Bing - Semarang
  • ZZG. Rika - Tanjung Karang
  • ZZH. Yusak Prasetyo - Batam
  • ZZI. Evi Anggraini - Jakarta
  • ZZJ. Kodden Manik - Cilegon
  • ZZZZ. ISI NAMA ANDA PADA KOLOM KOMENTAR UNTUK DIMASUKKAN DALAM DAFTAR INI