Search This Blog

Tuesday, June 30, 2009

Do Good Anyway

Tadi malam saya bertemu teman semasa kecil. Dia adalah pengusaha. Dia dipercayakan menjadi Ketua Panitia Pembangunan Gereja Katholik. Selama menjadi Ketua Panitia ternyata banyak suka dukanya. Selama menjadi Ketua dia telah banyak keluar uang untuk menjamu konsumsi dan akomodasi para tamu dari Jakarta yang datang ke kotanya. Begitu juga dia seringkali merogoh uangnya untuk perjalanan ke Jakarta menemui para calon donatur. Hal ini dia ceritakan bukan untuk menyombongkan diri, tetapi dia selalu berprinsip bahwa melayani pekerjaan Tuhan memang memerlukan pengorbanan dan dia rela melakukannya. Sayangnya, masih saja ada orang-orang yang malahan mencurigai dia menyalah-gunakan dana pembangunan. Tidak selalu perbuatan baik mendapatkan tanggapan positif dari lingkungan sekitar. Ada banyak kepentingan yang sering bertabrakan dengan kepentingan gereja, sehingga mereka menghalalkan segala cara untuk menjatuhkan orang yang diincar jabatannya.

Dia bercerita, ketika dana pembangunan baru terkumpul Rp. 1 milyar, banyak orang acuh tak acuh terhadap rencana pembangunan gereja. Tetapi sekarang ketika semua kebutuhan dana sebesar Rp. 12 milyar sudah tersedia, banyak orang berlomba-lomba untuk menjadi Ketua Panitia Pembangunan Gereja. Teman saya sedih melihat orang-orang yang masih ingin mencari keuntungan dari pembangunan gereja Tuhan. Supaya tidak dicurigai pihak lain, sebagai ketua panitia pembangunan dia menyerahkan kepada para donatur di Jakarta untuk menunjuk perusahaan kontraktor yang akan membangun gereja.

Jangan kira, jika Anda berbuat baik, orang-orang akan memberi tanggapan positif. Tetapi seperti apa yang dikatakan Bunda Teresa, "Meskipun demikian, teruslah berbuat baik."

Ditulis/diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Monday, June 29, 2009

Naturally Healthy

HIDUP SEHAT ALAMI
Dr. Tan Tjiauw Liat
Oleh: Emma Madjid (Majalah Nirmala, April-2007)

KITA boleh iri melihat sosok Dr Tan Tjiauw Liat. Bukan hanya fisiknya yang segar, sehat, dan lincah (tinggi 167 cm/berat 59 kg) tapi daya ingatnya juga luar biasa. Selama wawancara dua setengah jam, ia membuka lebih dari 10 buku, di antaranya How To Use Glutamine to Strengthen the Immune System, Improve Muscle Mass & Heal the Digestive Tract, The Anti-aging Zone, dan Water Cures: Drugs Kill untuk menunjukkan latar belakang pendapatnya. Buku-buku tersebut hanya sebagian kecil dari koleksi buku yang berjajar rapi di dalam lemari bukunya. Saya benar-benar kagum pada dokter berusia 76 tahun itu. la bukan hanya ingat warna cover buku, judul, atau tempat buku itu disimpan, melainkan hafal di luar kepala isi buku-buku itu. Mulai dari alinea, kalimat, yang sudah diberi dua garis dengan tinta merah, sampai kata per kata! Luar biasa....

Buku-buku, jurnal-jurnal kesehatan, newsletter, baginya merupakan harta yang tak ternilai. Ketika banjir melanda Jakarta tahun 2002, rumahnya di bilangan Pluit tak luput dari bencana. Anak-anaknya khusus menyewa truk dan jukung untuk mengevakuasinya, namun Dr Tan tetap bertahan hanya mengungsi ke rumah tetangganya. la enggan beranjak dari rumahnya. "Lantaran buku-buku saya masih di dalam," katanya. la hanya minta dibawakan sayuran mentah sebagai menu makannya. Senjatanya: tomat dan mentimun.

Pukul 15.00 saat mewawancarai Dr Tan di tempat praktiknya di Pluit, tampak beberapa pasien yang mengalami stroke mulai berdatangan. Beberapa pasien harus dipapah atau didorong di kursi roda, untuk sampai ke ruang praktik.

Pria berkacamata yang sore itu mengenakan kemeja putih lengan pendek itu langsung berdiri dan membuka pintu kamar praktiknya. Dengan suara yang nyaring yang merupakan ciri khasnya, ia menyapa para pasien dan memperkenalkan mereka kepada saya. "Ini pasien saya yang sudah berumur 100 tahun. Nah, bapak yang itu tadinya stroke berat, sekarang sudah bisa jalan. Pasien yang duduk di kursi roda itu otaknya sudah dibedah di rumah sakit. Waktu datang tidak berdaya sama sekali, tetapi setelah saya anjurkan makan tomat dan mentimun, kondisinya jauh lebih baik," ujarnya sambil menunjuk ke arah pasien-pasien yang dimaksud. Mereka tampak ceria, dan mengatakan bahwa gairah hidupnya kembali setelah dirawat dengan penuh kasih sayang oleh Dr Tan.

Dulu 'kapal keruk'
Dokter Tan mengaku kesadaran akan pentingnya hidup sehat, tumbuh sejak lima tahun terakhir ini. "Sedari kecil saya doyan makan. Kalau sedang ada perayaan Cap Go Meh, Nenek menyediakan berbagai macam makanan enak. Tentu saja saya 'sikat' sampai perut saya keras kekenyangan," tuturnya.

Kebiasaan makan enak itu terus berlanjut sampai ia bersekolah di Jakarta.
"Waktu itu saya indekos di Jalan Raden Saleh. Dalam waktu 3 bulan, berat badan saya bertambah 13 kg," katanya. Sampai ia berkeluarga, ia belum bisa mengerem kebiasaannya itu. "Saya sering makan di hotel berbintang lima yang memberi diskon 50% untuk paket makan sepuasnya (all you can eat) Saya pikir, kapan lagi bisa makan enak dengan harga murah? Di sana saya bisa ngopi dan makan sepuasnya," tutur Dr Tan mengenang kebiasaannya ketika ia berusia 60 tahun.

Bukan Dr Tan namanya jika berbicara tanpa data. Dari lacinya, ia mengeluarkan selembar foto diri saat bobotnya 80 kg. Penampilannya sama sekali berbeda dengan sosok yang berada di depan saya! Namun setelah itu badannya mulai terasa tidak nyaman. Pada waktu berjalan, misalnya, dadanya terasa sesak. "Padahal saya rajin mengukur tekanan darah, dan hasilnya normal, 120/80," katanya. Pada satu kesempatan berkunjung ke Australia menengok seorang anaknya yang bersekolah di sana, ia mendatangi seorang dokter. Dari pemeriksaan yang dilakukan oleh dokter itu, diketahui tekanan darahnya melesat sampai 180.

"Dokter menyuruh saya minum obat. Tetapi saya bilang, NO!. Saya katakan kepadanya, saya akan kembali tiga bulan lagi, dan saya pasti sudah sembuh," ujarnya. Pulang dari dokter, ia langsung ngeloyor ke toko buku mencari buku kesehatan. "Saya tidak mau sakit, saya ingin panjang umur. Nah, sejak itu saya gandrung membaca buku-buku mengenai kesehatan," katanya.

Sekolah di Internet
Latar belakang pendidikannya sebagai dokter lulusan FKUI tahun 1958 dan spesialis radiologi sangat mendukung keinginannya untuk menemukan kunci hidup sehat. Penguasaannya terhadap bahasa Inggris, Belanda, dan Mandarin secara aktif memudahkannya membaca dan menyerap ilmu kesehatan dari berbagai sumber. "Sampai sekarang saya masih belajar dan terus belajar. Sekolah saya Internet. Media cybernet atau penjelajahan situs-situs Internet yang dapat dipertanggungjawabkan, semakin memperluas wasasan saya," ujarnya sambil menyebut situs favoritnya: www.mercola.com.

Hampir setiap hari ia duduk di depan laptop-nya dari pukul 23.30 sampai pukul 05.00, mencari berita kesehatan yang aktual. Dengan demikian, ia tidak pernah ketinggalan informasi. Sebelum duduk di depan laptop, ia selalu melakukan meditasi terlebih dahulu dengan bantuan CD yang berisi suara gemercik air hujan. "CD tersebut dipakai untuk meningkatkan kemampuan fokus. Sudah setahun lebih saya menggunakan CD untuk meditasi," ujarnya. Gadget IT milik orang kantoran masa kini adalah mainannya di usia kepala tujuh. la mahir mengoperasikan komputer dengan segala programnya, merekam dengan USB, sms dijawab melalui PDA-nya dengan kecepatan anak muda, mengirim faksimili pun dilakukannya sendiri.

Ada apa dengan tomat dan mentimun?
Hasil bacaan dan penelusuran di alam maya itulah yang menelurkan gaya hidup dan pola makan yang diterapkannya sekarang. "Unsur genetika spesies manusia yang dibawa DNA-nya pada kenyataannya tidak pernah berubah sejak zaman purba hingga kini; bahkan di masa mendatang," katanya. Yang berbeda adalah yang ada di sekeliling kita, sebagai hasil dari kecerdasan manusia dan olah teknologi. Ini yang mempengaruhi cara hidup manusia dan cara mengelola hidup termasuk makanannya, serta bagaimana tubuh bereaksi terhadap apa yang dikonsumsi. Gen (pembawa sifat keturunan yang terdapat pada inti sel) adalah rangkaian gugusan DNA yang tidak mungkin mengalami perubahan dalam waktu singkat.

Perubahan pada struktur gen membutuhkan waktu ribuan tahun lamanya akibat paparan (ter-expose) oleh lingkungan yang juga telah berubah dalam kurun waktu sekian lama. Banyak bukti antropologis (bukan hanya dari sisi medis) yang menjelaskan bahwa penyakit yang muncul saat ini adalah sebagai akibat pola makan, gaya hidup, dan paparan lingkungan. Yaitu karena manusia sudah jauh melenceng ke luar dari rel sebagaimana alam.

Hidup di zaman sekarang tidak bisa terlepas dari polusi, dan kepungan penyakit yang membuat kita mudah sakit. Bagaimana mengantisipasinya? "Pertama insulin harus dikontrol, dan yang kedua pola makan kita harus mengikuti pola makan manusia purba. Manusia purba tidak mengenal api, apalagi kompor dan microwave. Segala sesuatu dikonsumsi secara mentah (raw) dan segar (fresh). Dengan asupan serupa ini tidak heran tubuh akan jauh lebih tahan terhadap segala sesuatu," tuturnya. Lalu, untuk apa ada restoran? "Restoran itu suatu kebudayaan (civilitation). Itu bukan untuk kesehatan kita. Jika untuk kesehatan, kita harus balik ke DNA kita. Kita hanya makan dedaunan atau sayuran mentah. Tidak ada cara lain. Kalau tidak demikian, pasien saya pasti gagal semua....," katanya dengan lantang.

Sayur mentah satu baskom
Dokter Tan, tidak hanya cuap-cuap memberi nasihat kepada pasien-pasiennya agar mengkonsumsi sayuran mentah untuk mengobati stroke yang mereka derita, tetapi dalam keseharian ia benar-benar mempraktikannya dengan disiplin.

"Pukul 6 pagi saya makan buah. Buah yang ada dalam simpanan saya. Kalau ada apel ya itu saja yang dimakan, tapi bukan buah manis tinggi fruktosa seperti pepaya, pisang atau mangga ranum," katanya. Menurutnya, dari tengah malam sampai jam 12.00 terjadi siklus pembuangan, sebaiknya perut tidak diisi dengan makanan berat.

"Siang hari saya makan sayur mentah. Banyaknya satu baskom (mangkuk besar) yang ditambah jahe, kunyit, masing-masing ukuran satu jari, dan satu siung bawang putih. Semua bahan itu dimasukkan ke dalam juice-extractor- bukan blender atau juicer biasa. juice extractor ini mempunyai putaran mesin hanya 30 rpm sehingga tidak menimbulkan panas di atas 30 derajat Celsius, dan ekstraksi mineral terjamin sempurna.

Selain itu saya juga makan satu kuning telur mentah organik yang jelas bebas bakteri," katanya. Siang itu sayur yang memenuhi baskomnya terdiri dari brokoli, selada, paprika kuning, tomat, dan mentimun yang dipotong-potong. la adalah pelaku raw-food yang setia dan mengerti betul dasar latar belakang mengapa makanan yang disantap harus raw alias mentah. Bahan makanan dari tanaman yang memungkinkan dimakan mentah dan enzim (katepsin) yang terkandung dalam sayuran mentah itulah yang menghancurkan diri sendiri (self destruct) agar komponennya dapat diserap pencernaan kita sebagai sumber gizi. Sedangkan sayuran lain yang biasanya perlu dimasak (misalkan kangkung, bayam, kailan, caisim, diambil ekstraknya melalui juice extractor.

Makan sayur mentah saja, apakah tidak lapar? "Tentu saja tidak, karena komposisi sayuran saya bermacam-macam, kondisi ini menjamin" plant-based food" tetap prima sebagai sumber kalori dan energi. Masih ditambah bawang bombai, aneka sprouts (sejenis taoge). Kalau masih lapar saya menggado tomat dan mentimun," katanya.

Masih makan kedondong
Dengan berbagai pengetahuan yang dimilikinya kini Dr Tan sangat hati-hati mengkonsumsi makanan maupun minuman. la tidak lagi minum kopi kendati dulu disukainya. "Kalau orang setua saya minum kopi sekali, berarti terbentuk kortisol dalam waktu 24 jam. Kortisol akan bertumpuk jika kita terus mengkonsumsi kopi. Jika sudah demikian, segala macam penyakit akan datang. Misalnya, kita jadi pikun," katanya.

Air putih adalah minuman terbaik, karena dapat menggelontor lemak-lemak tubuh. Seberapa banyak kita minum air putih per hari? "Ukurannya yaitu sampai urine kita tidak berwarna. Urine yang sehat adalah yang bening seperti air ledeng, tidak boleh berwarna," katanya.

Ia juga mengingatkan bahwa kita harus waspada terhadap bahaya gula. "Batasi makanan yang mengandung gula seperti beras, terigu, kentang, umbi-umbian, serta wortel (yang dimasak sebagai sup atau dijus). Wortel yang dijus akan menjadi air gula. Artinya kalau kita minum jus wortel sama dengan kita minum air gula. Segala buah yang manis juga mengandung gula. Pemanis dalam bentuk artifisial, seperti aspartam, sakarin, lebih berbahaya daripada gula," katanya.

Jika demikian, buah apa yang baik? Ditanya demikian ia tersenyum.
"Buah yang baik adalah alpukat dan kedondong. Gigi saya sudah habis. Agar saya bisa makan sayur mentah, kedondong, mangga muda, dan pepaya muda, semua gigi sudah diganti dengan teknologi implant. Bukan karena keropos, tapi kebanyakan karena kecelakaan di masa lalu, zaman masih menunggang scooter. Oh ya, mangga muda, pepaya muda (bukan yang sudah ranum dengan tinggi kadar fruktosanya) baik dimakan," sambungnya.

Menularkan pola hidup sehat
Dengan mengubah pola makannya, Dr Tan merasa badannya nyaman dan lebih energik. Bobot tubuhnya pun proporsional dengan tingginya. la berhasil menurunkan berat badannya 21 kg dari berat semula 80 kg. Bukan hanya itu, daya ingatnya pun semakin tajam. "Waktu kuliah dulu, kalau ada teman yang menyebut suatu masalah, saya langsung ingat masalah itu dibahas di buku apa, halaman berapa. Nah, di usia saya sekarang ini, daya ingat saya kembali seperti itu. Temuan-temuan ini ditularkan kepada pasien-pasiennya.

"Mereka saya anjurkan makan tomat dan mentimun. Saya perhatikan, hanya dalam waktu tiga hari atau seminggu, kondisi kesehatan mereka mengalami kemajuan. Mengapa? Karena sayuran mentah adalah makanan yang sesuai dengan DNA kita," katanya.
Kepada pasien-pasiennya, Dr Tan tidak pernah memberi obat-obatan kimia. Bilamana perlu ia hanya memberikan satu suntikan untuk memperlebar pembuluh darah. "Pembuluh darah pasien stroke sering bermasalah," demikian alasannya. Di samping itu, ia juga mengaplikasikan teknik meridian melalui titik-titik akupuntur. Ilmu tersebut dipelajarinya antara lain dari sebuah buku keluaran Bayer dan banyak buku asli tentang meridian dan akupuntur dari bahasa dan sumber aslinya yaitu bahasa Mandarin. Bahasa itu justru baru dikenalnya sebagai orang Tionghoa ketika Jepang masuk dan bahasa Belanda dilarang.

Tidak merepotkan orang lain
Sekarang ini Dr Tan masih sering ke hotel bintang lima untuk makan, tapi ia lebih cerdik. "Saya pilih light lunch, ya murah, ya sehat. Saya bisa makan salad sesuka saya," katanya.

Ia sangat yakin, apabila setiap orang mau menjaga diri dan merawat diri, ia akan mendapatkan kesehatan yang prima, yang memperpanjang usia hidup aktif.
"Dampaknya tentu sangat positif, yang jelas kita tidak merepotkan diri sendiri di usia lanjut dan tidak tergantung pada pasangan, anak-anak, atau orang-orang di sekitar kita. Saya mempunyai tujuan mempertahankan hidup yang berkualitas demi kemanusiaan dengan mempraktikkan kejujuran serta kebenaran untuk tujuan tersebut," tuturnya. "Sekarang saya punya konklusi yang jelas sekali, yaitu dengan mengikuti DNA
- hanya makan sayur, selanjutnya dikombinasi dengan quantum touch- pasti akan sehat seumur hidup."

Bagaimana dengan bermacam-macam diet yang digembar-gemborkan sekarang ini? "Omong kosong! Tidak bisa itu! Pokoknya paling baik hanya mengkonsumsi sayuran mentah. Yang lain dilupain aja, deh," ujarnya. Ekstrim? Tentu begitu kesan pertamanya. Tapi bagaimanapun, komitmen dan disiplinnya untuk sehat sangat mengagumkan. Email dari pttwr dan Gunawan Sadono.

Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

The Shoes of Willingness

Kasut Kerelaan Mengabarkan Injil Damai Sejahtera

"Kakimu berkasutkan kerelaan untuk memberitakan Injil damai sejahtera." (Efesus 6:15)

Seperti halnya air menjadi bau jika air itu tergenang dalam waktu lama, demikian juga kehidupan rohani kita akan menjadi bau membusuk jika kita tidak bagikan dan teruskan kepada orang-orang lain. Terlalu banyak orang yang mencari pengalaman rohani bagi kepentingan diri mereka sendiri. Mereka percaya bahwa pengalaman emosinal adalah hal yang paling penting. Memang, sangatlah menggairahkan berada dalam KKR yang ramai dan gegap gempita, namun tak ada yang bisa dibandingkan dengan pengalaman membimbing orang lain untuk percaya kepada Tuhan Yesus. Melihat Roh Kudus bekerja dalam diri orang lain, atau melihat orang-orang menyerahkan hidup mereka kepada Tuhan Yesus, disertai linangan air mata atau dengan kekhidmatan, merupakan pengalaman yang paling indah yang dapat kita nikmati. Kita tidak akan pernah merasa bahagia dan penuh semangat atau sangat dekat Tuhan seperti ketika kita membagikan kabar keselamatan kepada orang lain. Terlalu sedikit orang-orang Kristen yang mengalami hal seperti ini.

Adalah kehendak Tuhan agar orang percaya dan lasykar-Nya memiliki hak istimewa untuk pergi dan memenangkan jiwa-jiwa bagi kerajaan Allah. Namun tanpa kasut/sepatu, kita tidak dapat pergi kemana-mana. Dan tak seorangpun yang dapat mengenakan sepatu itu pada kita. Kitalah yang memutuskan apakah kita rela dan bersedia membagikan Kabar Baik itu kepada orang-orang lain atau kita berdiam diri menyimpan keselamatan itu bagi diri kita sendiri. Sepatu itu disebut kerelaan atau kesediaan, karena Tuhan Yesus tidak pernah memaksa siapapun. Dalam Injil Matius 10:8 Tuhan Yesus katakan, "Kamu telah memperolehnya dengan cuma-cuma, karena itu berikanlah pula dengan cuma-cuma." Setiap orang perlu Tuhan Yesus. Dan Tuhan Yesus perlu Anda dan saya. Dia tidak mempunyai kaki dan tangan selain kaki dan tangan kita, namun Dia tak pernah memaksa siapapun untuk pergi. Yang Dia minta adalah kerelaan kita untuk menyampaikan Kabar Baik itu kepada orang-orang lain. (Naskah dalam bahasa Inggris ditulis oleh Ulf Ekman, gembala dan pendiri gereja Word of Life di Uppsala, Swedia dengan jemaat lebih dari 3.000 orang. Diterjemahkan oleh Hadi Kristadi untuk Pentas Kesaksian, http://pentas-kesaksian.blogspot.com pada tanggal 26 Juni 2009)


*****

The Shoes of the Gospel of Peace

[Stand therefore,] having shod your feet with the preparation of the gospel of peace. Ephesians 6:15

Just as water becomes stale if it stands still, so too, does our spiritual life grow stale if it is not passed on to others. Too many people seek spiritual experiences for their own sake. They believe that emotional experiences are most important. Surely, it is wonderful with a great meeting, but nothing compares to the experience of leading another person to Jesus. To see the Holy Spirit working in someone’s life, or to see people give their life to Jesus, with tears or with resolve, is among the most beautiful experiences we can have. We are never as happy and energized or as near to God as when we share the gospel with another person. Far too few Christians have experienced this.

It is God’s will that every believer, every soldier in His army, has the privilege of going out and winning souls for the kingdom of God. But without shoes we cannot go. And no one else can put on our shoes. We decide whether we are willing to share the Good News with others or whether we selfishly want to keep Jesus for ourselves. These shoes are also called the shoes of willingness, for Jesus never forces anyone. In Matthew 10:8 Jesus says, “Freely you have received, freely give.” Everyone needs Jesus. And Jesus needs you and me. He has no other hands and feet than ours, but He does not force anyone to go. - Ulf Ekman

I thank You, Lord, for helping me to think of others instead of focusing on myself. My neighbors, friends, coworkers and acquaintances need to hear about You through me. In Jesus’ name. Amen.

Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Sunday, June 28, 2009

Are You a Lover or a Prostitute?

(Note: Indonesian Version is attached below - Versi Indonesia ada di bagian bawah)

A number of years ago, I had the privilege of teaching at a school of ministry. My students were hungry for God, and I was constantly searching for ways to challenge them to fall more in love with Jesus and to become voices for revival in the Church. I came across a quote attributed most often to Rev. Sam Pascoe. It is a short version of the history of Christianity, and it goes like this: Christianity started in Palestine as a fellowship; it moved to Greece and became a philosophy; it moved to Italy and became an institution; it moved to Europe and became a culture; it came to America and became an enterprise. Some of the students were only 18 or 19 years old--barely out of diapers--and I wanted them to understand and appreciate the import of the last line, so I clarified it by adding, “An enterprise. That’s a business.”

After a few moments Martha, the youngest student in the class, raised her hand. I could not imagine what her question might be. I thought the little vignette was self-explanatory, and that I had performed it brilliantly. Nevertheless, I acknowledged Martha’s raised hand, “Yes, Martha.” She asked such a simple question, “A business? But isn’t it supposed to be a body?” I could not envision where this line of questioning was going, and the only response I could think of was, “Yes.” She continued, “But when a body becomes a business, isn’t that a prostitute?”

The room went dead silent. For several seconds no one moved or spoke. We were stunned, afraid to make a sound because the presence of God had flooded into the room, and we knew we were on holy ground. All I could think in those sacred moments was, “Wow, I wish I’d thought of that.” I didn’t dare express that thought aloud. God had taken over the class. Martha’s question changed my life. For six months, I thought about her quesion at least once every day. “When a body becomes a business, isn’t that a prostitute?” There is only one answer to her question. The answer is “Yes.” The American Church, tragically, is heavily populated by people who do not love God. How can we love Him? We don’t even know Him; and I mean really know Him.

What do I mean when I say “really know Him?” Our understanding of knowing and knowledge stems from our western culture (which is based in ancient Greek philosophical thought). We believe we have knowledge (and, by extension, wisdom) when we have collected information. A collection of information is not the same thing as knowledge, especially in the culture of the Bible (which is an eastern, non-Greek, culture). In the eastern culture, all knowledge is experiential. In western/Greek culture, we argue from premise to conclusion without regard for experience--or so we think. An example might be helpful here. Let us suppose a question based upon the following two premises: First, that wheat does not grow in a cold climate and second, that England has a cold climate. The question: Does wheat grow in England? The vast majority of people from the western/Greek culture would answer, “No. If wheat does not grow in a cold climate and if England has a cold climate, then it follows that wheat does not grow in England.” In the eastern culture, the answer to the same question, based on the same premises, most likely would be, “I don’t know. I’ve never been to England.” We laugh at this thinking, but when I posed the same question to my friends from England, their answer was, “Yes, of course wheat grows in England. We’re from there, and we know wheat grows there.” They overcame their cultural way of thinking because of their life experience. Experience trumps information when it comes to knowledge.

A similar problem exists with our concept of belief. We say we believe something (or someone) apart from personal experience. This definition of belief is not extended to our stockbroker, however. Again, allow me to explain. Suppose my stockbroker phones me and says, “I have a hot tip on a stock that is going to triple in price within the next week. I want your permission to transfer $10,000 from your cash account and buy this stock.” That’s a lot of money for me, so I ask, “Do you really believe this stock will triple in price, and so quickly?” He/she answers, I sure do.” I say, “That sounds great! How exciting! So how much of your own money have you invested in this stock?” He/she answers, “None.” Does my stockbroker believe? Truly believe? I don’t think so, and suddenly I don’t believe, either. How can we be so discerning in the things of this world, especially when they involve money, and so indiscriminate when it comes to spiritual things? The fact is, we do not know or believe apart from experience. The Bible was written to people who would not understand the concepts of knowledge, belief, and faith apart from experience. I suspect God thinks this way also.

So I stand by my statement that most American Christians do not know God--much less love Him. The root of this condition originates in how we came to God. Most of us came to Him because of what we were told He would do for us. We were promised that He would bless us in life and take us to heaven after death. We married Him for His money, and we don’t care if He lives or dies as long as we can get His stuff. We have made the Kingdom of God into a business, merchandising His anointing. This should not be. We are commanded to love God, and are called to be the Bride of Christ--that’s pretty intimate stuff. We are supposed to be His lovers. How can we love someone we don’t even know? And even if we do know someone, is that a guarantee that we truly love them? Are we lovers or prostitutes?

I was pondering Martha’s question again one day, and considered the question, “What’s the difference between a lover and a prostitute?” I realized that both do many of the same things, but a lover does what she does because she loves. A prostitute pretends to love, but only as long as you pay. Then I asked the question, “What would happen if God stopped paying me?”

For the next several months, I allowed God to search me to uncover my motives for loving and serving Him. Was I really a true lover of God? What would happen if He stopped blessing me? What if He never did another thing for me? Would I still love Him? Please understand, I believe in the promises and blessings of God. The issue here is not whether God blesses His children; the issue is the condition of my heart. Why do I serve Him? Are His blessings in my life the gifts of a loving Father, or are they a wage that I have earned or a bribe/payment to love Him? Do I love God without any conditions? It took several months to work through these questions. Even now I wonder if my desire to love God is always matched by my attitude and behavior. I still catch myself being disappointed with God and angry that He has not met some perceived need in my life. I suspect this is something which is never fully resolved, but I want more than anything else to be a true lover of God.

So what is it going to be? Which are we, lover or prostitute? There are no prostitutes in heaven, or in the Kingdom of God for that matter, but there are plenty of former prostitutes in both places. Take it from a recovering prostitute when I say there is no substitute for unconditional, intimate relationship with God. And I mean there is no palatable substitute available to us (take another look at Matthew 7:21-23 sometime). We must choose. By: David Ryser/WLC Team (worldlastchance.com), email sent by pttwr.


****
INDONESIAN VERSION brought to you by Hadi Kristadi:


Apakah Anda Kekasih Allah atau Pelacur?
Beberapa tahun yang lalu, saya mendapatkan kesempatan istimewa untuk mengajar di sebuah sekolah pelayanan. Para mahasiswa saya sangat lapar akan Tuhan, dan saya selalu mencari cara-cara untuk menantang mereka agar jatuh cinta kepada Tuhan Yesus lebih lagi dan menjadi suara kebangkitan dalam gereja. Saya menemukan suatu pernyataan yang berasal dari Pdt. Sam Pascoe. Pernyataan itu merupakan sejarah singkat kekristenan: “Kekristenan bermula di Palestina sebagai persekutuan, berpindah ke Yunani sebagai sebuah filsafat, berpindah ke Itali dan menjadi sebuah lembaga gereja, berpindah ke Eropa dadn menjadi sebuah kebudayaan Kristen, berpindah ke Amerika Serikat dan menjadi sebuah badan usaha." Beberapa mahasiswa baru berusia 18 atau 19 tahun, sudah cukup besar, dan saya ingin mereka mengerti dan menghargai bagian kalimat terakhir itu, sehingga untuk menegaskannya saya tambahkan, “Badan usaha. Itulah bisnis.”

Setelah beberapa saat Martha, mahasiswa paling muda di kelas itu, mengangkat tangannya. Saya tak dapat membayangkan apa yang akan ditanyakannya. Saya pikir gambaran yang saya berikan sudah cukup jelas, dan saya pikir saya telah berhasil membuat mereka jelas. Namun demikian, saya menanggapi keinginan Martha untuk bertanya, sehingga saya berkata, “Ya, Martha.” Dia bertanya sebuah pertanyaan yang sederhana, “Bisnis? Bukankah kekristenan seharusnya menjadi sebuah tubuh?” Saya tak dapat membayangkan kemana arah pertanyaan ini, dan jawaban yang dapat saya hanya pikirkan adalah, “Ya, benar.” Kemudian dia melanjutkan, “Tetapi ketika sebuah tubuh menjadi bisnis, bukankah hal itu merupakan pelacuran?”

Ruangan kelas itu menjadi sunyi senyap. Selama beberapa detik tak ada seorangpun yang bergerak atau berkata-kata. Kami semua terperangah, takut mengeluarkan suara karena kehadiran Allah telah melanda ruangan kelas, dan kami tahu bahwa kami sedang berdiri di tempat kudus. Segala yang dapat saya pikirkan dalam saat-saat kudus itu adalah, “Wow, andaikan saja saya berpikir demikian.” Saya tak berani mengungkapkan pemikiran itu terang-terangan. Allah telah mengambil alih ruangan kelas itu. Pertanyaan Martha telah mengubah kehidupan saya. Selama enam bulan, saya memikirkan pertanyaan Martha paling tidak sekali setiap hari. “Ketika sebuah tubuh menjadi bisnis, bukankah itu pelacuran?” Hanya ada satu jawaban bagi pertanyaannya. Jawabannya adalah “Ya.” Gereja-gereja di Amerika Serikat kebanyakan, yang sangat menyedihkan, telah dipenuhi jemaat yang tidak mengasihi Allah. Bagaimana kita mengasihi Dia? Kita bahkan tidak mengenal-Nya; dan yang saya maksud adalah sungguh-sungguh mengenal Dia.

Apa yang saya maksud ketika saya katakan “sungguh-sungguh mengenal Dia?” Pengertian kita tentang mengenal dan mengetahui berasal dari kebudayaan Barat (yang berasal dari pemikiran filsafat Yunani kuno). Kita menganggap kita telah memperoleh pengetahuan (dan selanjutnya memperoleh hikmat) ketika kita telah berhasil mengumpulkan banyak informasi. Sekumpulan informasi bukanlah pengetahuan, khususnya menurut kebudayaan Alkitab (yang merupakan kebudayaan Timur, bukan Yunani). Dalam budaya Timur, semua pengetahuan diperoleh dari pengalaman, bukan dari pengumpulan informasi. Dalam budaya Yunani atau Barat, kita mendapatkan kesimpulan bukan hanya dari pengalaman, begitulah pola pemikiran kita. Sebuah contoh mungkin dapat menolong kita memahami hal ini. Marilah kita mengajukan sebuah pertanyaan berdasarkan dua pernyataan berikut: Pertama, gandum tidak tumbuh di daerah yang beriklim dingin dan kedua, Inggris mempunyai iklim dingin. Pertanyaannya adalah: Apakah gandum tumbuh di Inggris? Kebanyakan orang dari kebudayaan Barat/Yunani akan menjawab, “Tidak. Jika gandum tidak tumbuh di daerah beriklim dingin dan Inggris memiliki iklim dingin, maka kesimpulannya gandum tidak tumbuh di Inggris. Di dalam budaya Timur, jawaban bagi pertanyaan yang sama, berdasarkan dua pernyataan yang sama, jawabannya mungkin akan seperti ini: “Tidak tahu. Saya belum pernah ke Inggris.” Kita mungkin akan menertawakan jawaban seperti itu, tetapi ketika saya mengajukan pertanyaan itu kepada teman-teman saya yang tinggal di Inggris, jawaban mereka adalah: “Ya, gandum tumbuh di Inggris. Kami berasal dari Inggris, dan kami tahu bahwa gandum tumbuh di sana.” Mereka mengabaikan cara berpikir Barat karena mereka telah mengalami apa yang mereka tahu. Pengalaman menghasilkan informasi ketika pengalaman menjadi pengetahuan.

Persoalan yang mirip timbul dalam konsep keyakinan kita. Kita katakan kita percaya sesuatu (atau seseorang) terlepas dari pengalaman pribadi kita. Pengertian percaya ini tidak kita berikan kepada pialang saham kita. Sekali lagi, izinkan saya menjelaskan. Anggaplah bahwa pialang saham saya menelpon saya dan berkata, “Saya punya nasihat paling hebat tentang suatu saham yang harganya akan naik tiga kali lipat dalam waktu seminggu. Saya harap Anda mau mentransfer $ 10.000 untuk membeli saham ini.” Bagi saya itu adalah jumlah uang yang besar, sehingga saya bertanya, “Apakah Anda benar-benar percaya bahwa harga saham ini akan naik tiga kali lipat, dan dalam waktu cepat?” Dia menjawab, “Saya yakin sekali.” Saya tanya lagi, “Wah, bagus sekali. Betapa menarik. Jadi, berapa banyak uang Anda sendiri yang sudah Anda investasikan pada saham yang akan naik tiga kali lipat dalam waktu seminggu ini?” Dia menjawab, “Tak ada.” Apakah pialang saya benar-benar percaya tentang saham yang akan naik tiga kali lipat dalam waktu seminggu itu? Apakah dia sungguh-sungguh percaya? Saya pikir tidak, dan tiba-tiba saya tidak percaya juga. Bagaimana mungkin kita begitu teliti mengenai perkara-perkara di dunia ini, khususnya ketika berurusan dengan uang, dan kita begitu tidak peduli ketika berurusan dengan perkara-perkara rohani? Kenyataannya, kita tidak tahu atau tidak percaya tanpa kita mengalami. Alkitab ditulis bagi orang-orang yang tidak mungkin mengerti konsep pengetahuan, keyakinan, dan iman tanpa mengalaminya terlebih dahulu. Saya pikir Allah berpikir dengan cara demikian juga.

Jadi, saya tetap pada pendirian saya bahwa kebanyakan orang-orang Kristen di Amerika Serikat tidak mengenal Allah, dan kurang mengasihi Dia. Segala penyebab dari keadaan ini berasal dari cara kita datang kepada Allah. Kebanyakan di antara kita datang kepada Dia karena apa yang orang-orang katakan kepada kita apa yang akan Dia lakukan kepada kita. Kita dijanjikan bahwa Dia akan memberkati kita dalam kehidupan dan membawa kita ke sorga setelah kematian. Kita memilih Dia karena uang dan berkat yang dapat kita raih, tak peduli apakah Dia senang atau tidak, asalkan kita mendapatkan sesuatu dari Dia. Kita telah menyulap kerajaan Allah menjadi badan usaha, memperjual-belikan urapan-Nya. Sekali-kali janganlah hal ini terjadi! Kita telah diperintahkian untuk mengasihi Allah, dan kita dipanggil untuk menjadi Mempelai Kristus – itu adalah hubungan yang paling intim. Seharusnya kita menjadi kekasih-kekasih-Nya. Bagaimana kita mengasihi seseorang yang bahkan kita tidak kenal? Dan meskipun kita mengenal seseorang, apakah ada jaminan bahwa kita sungguh-sungguh mengasihinya? Apakah kita ini kekasih-kekasih Allah atau para pelacur?

Saya terus merenungkan pertanyaan Martha di atas, dan mulai merenungkan apa perbedaan antara kekasih dan pelacur? Saya menyadari bahwa keduanya memiliki banyak persamaan, tetapi seorang kekasih melakukan apa yang dia lakukan karena dia mengasihi. Seorang pelacur berpura-pura mengasihi, selama Anda mau membayarnya. Kemudian saya bertanya lagi, “Apa yang akan terjadi kalau Tuhan berhenti memberikan sesuatu kepada kita?”

Selama beberapa bulan berikutnya, saya mengizinkan Allah untuk menyelidiki diri saya agar mengungkapkan motif-motif saya dalam mengasihi dan melayani Dia. Apakah saya sungguh-sungguh seorang yang mengasihi Dia? Apa yang akan terjadi seandainya Dia berhenti memberkati saya? Bagaimana kalau Dia tidak melakukan sesuatu bagi saya? Apakah saya masih mengasihi Dia? Pahamilah, saya percaya akan janji-janji dan berkat-berkat dari Allah. Persoalannya di sini bukanlah apakah Allah memberkati anak-anak-Nya atau tidak; masalahnya di sini bagaimana kondisi hati kita. Apa alasan saya melayani Dia? Apakah berkat-berkat-Nya yang saya terima dalam kehidupan ini merupakan kasih karunia dari seorang Bapa yang penuh kasih, atau merupakan pembayaran yang harus saya terima terima atau uang suap agar saya mengasihi Dia? Apakah saya mengasihi Allah tanpa syarat? Hal ini memerlukan waktu beberapa bulan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan itu. Bahkan sekarangpun saya masih menyelidiki apakah keinginan saya untuk mengasihi Allah selalu berpadanan dengan sikap dan tingkah laku saya. Saya sering mendapati diri saya kecewa terhadap Allah dan bahkan marah terhadap-Nya manakala Dia tidak memenuhi apa yang saya anggap saya butuhkan. Saya curiga hal ini adalah sesuatu yang belum saya selesaikan sungguh-sungguh, tetapi saya benar-benar ingin menjadi kekasih Allah yang sejati lebih dari apapun yang lain.

Jadi, kita ini akan menjadi apa? Apakah kita akan menjadi kekasih Allah atau pelacur? Tak ada pelacur di sorga, atau di kerajaan Allah, meskipun ada banyak bekas pelacur di kedua tempat itu. Meskipun kita "bekas pelacur", kita harus menyadari bahwa tak ada pengganti bagi hubungan yang sangat intim dan tanpa syarat dengan Allah. Dan saya juga mengartikan tak ada pilihan bagi kita, selain menjadi kekasih Allah yang sejati. Kita harus memilih. Naskah dalam bahasa Inggris ditulis oleh David Ryser (WLC Team, worldlastchance.com), email kiriman: pttwr, diterjemahkan oleh Hadi Kristadi untuk Pentas Kesaksian, http://pentas-kesaksian.blogspot.com pada tanggal 28 Juni 2009.

Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Saturday, June 27, 2009

How To Do What You Have To Do

How To Do What You Have To Do -- Even When You Don't Feel Like Doing It

How often do you get that heavy feeling that weighs down your entire body so the only thing you really feel like doing is watching TV?

Use these tips to get back to work and see your productivity soar.

1. Plan ahead. You can’t always predict your moods, but you can plan ahead so you start out with the right state of mind. If you wake up without a concrete plan for your day you can easily waft into checking e-mail and social networking sites before doing any actual work.

2. Wait until late morning or early afternoon to open your e-mail software or check any social networking sites. If you check your e-mail, there’s a strong chance that there will be something in your Inbox that will require action on your part, and you can bet you’ll feel compelled to deal with that e-mail before you get to work on the tasks you had planned for the day.

3. Minimize distractions. Turn off the TV and the phone ringer, and disable any chat or instant messaging software. It’s especially important when you work from home to make sure your friends and family know when you are working, so you can maintain a consistent, productive environment.

4. Take care of whatever is distracting
you and then come back to work. If it’s “fun” that’s distracting you, take a half hour to go do something enjoyable.

5. Build in a system of rewards and punishments. The reward and punishment can be two sides of the same coin: if you accomplish your task, you get to do a particular fun activity, and if you don’t accomplish your task, you don’t get to do that activity.

Finally, there’s the powerful “just do it” strategy. Once you start working and getting in the groove of productivity, you’ll find that it’s much easier to stay in that “productivity zone.” And once you’re in that zone, you may find that you can get more accomplished in an hour than you might normally get done in an entire day.
Sources: Lifehack March 26, 2009/Dr. Mercola

Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Friday, June 26, 2009

Who Knew Preventing Kidney Stones Was This Easy?

Who Knew Preventing Kidney Stones Was this Easy?
By Dr. Mercola

Kidney stones (renal lithiasis) can be one of the most excruciatingly painful conditions you can experience. In the United States, about 10-15 percent of adults will be diagnosed with a kidney stone in their lifetime.

Roughly 1 million Americans develop kidney stones each year. Once you have had one kidney stone attack, your chance of recurrence is about 70 to 80 percent.

Family genetics can increase your risk. And the younger you are when you have your first attack, the greater your risk of recurrence.

Records of kidney stones can be found since the beginning of civilization. Lithotomy, a surgical procedure for removing stones, is one of the earliest known surgical procedures. In fact, a caution about the dangers of surgically removing stones is even found in the text of the Hippocratic Oath.

If you are a man, your risk for kidney stones is four times greater than if you are a woman. And if you live in the southeastern part of the U.S., also referred to as the “Kidney Stone Belt,” your risk is even greater due to higher rates of dehydration.

In the Middle East, kidney stone rates are nearly double what they are in the U.S., due to the warmer climate.

Kidney stones can range in size from a grain of sand to larger than a golf ball. If a stone fails to pass, permanent damage to your urinary tract can result.

This is not something to ignore -- not that you could easily ignore such a painful episode.

The number of cases of adult kidney stones appears to be on the rise, most likely as a result of modern diets. And now, kidney stones are being seen in children in unprecedented numbers ... just one more sad result of our modern dietary habits.

Fortunately, 90 to 95 percent of kidney stones pass within a number of days or weeks, without any intervention at all. And, even better news -- the best remedy is also the best prevention, and also happens to be the least expensive: simply drink more water.

Recognizing a Kidney Stone Attack
Your kidneys are responsible for removing excess fluid from your body and filtering out unneeded electrolytes and wastes from your blood, resulting in the production of urine.

Kidney stones form when the minerals and acid salts in your urine crystallize, stick together, and solidify into a mass. This happens when your urine contains more crystal-forming substances, such as calcium and uric acid, than the available fluid can dilute. This can happen when urine is highly acid or highly alkaline.

The conditions allowing kidney stones to form are created by problems in the way your body absorbs and eliminates calcium and other substances. Sometimes the underlying cause is a metabolic disorder or kidney disease.

Certain drugs can also promote kidney stones, such as Lasix (furosemide), Topomax (topiramate), and Xenical, among others. Many times, it is a combination of factors that create an environment favorable to stone formation.

You won’t know you have a stone until it moves into the ureter—the tube connecting your kidney and your bladder. Common symptoms include:

•Pain in your side and back, below your ribs
•Episodes of pain lasting 20 to 60 minutes, of varying intensity
•Pain “waves” radiating from your side and back, to your lower abdomen and groin
•Bloody, cloudy or foul-smelling urine
•Pain with urination
•Nausea and vomiting
•“Urgency” (persistent urge to urinate)
•Fever and chills (indicates an infection is also present)

The pain is a result of distention of the tissues above the stone, since it is blocking the passage of urine, rather than from the pressure of the stone itself.

Four Types of Kidney Stones
Most kidney stones contain crystals of multiple types. However, usually one type predominates, and determining the type helps you identify the underlying cause3:

1. Calcium stones. The most common type (four out of five cases)is usually in the form of calcium oxalate. Oxalate is found in some fruits and vegetables, but your liver produces most of your oxalate. If you are found to have oxalate stones, your doctor may recommend avoiding foods rich in oxalates, such as dark green vegetables, nuts and chocolate.

2. Struvite stones: Found more often in women, these are almost always the result of urinary tract infections.

3. Uric acid stones. These are a byproduct of protein metabolism.They’re commonly seen with gout,and may result from certain genetic factors and disorders of your blood-producing tissues.

4. Cystine stones. Represent a very small percentage of kidney stones.These are the result of a hereditary disorder that causes your kidneys to excrete massive amounts of certain amino acids (cystinuria).

Many Risk Factors are Under YOUR Control
The number one risk factor for kidney stones is not drinking enough water. If you aren’t drinking enough, your urine will simply have higher concentrations of substances that can form stones.

How do you know if you are drinking enough water?
You want your urine to be a light yellow. Every person’s water requirement is different, depending on your particular system and activity level, but simply keeping your urine light yellow will go a long way toward preventing kidney stones. Remember to increase your water intake whenever you increase your activity, and when you’re in a warmer climate.

If you happen to be taking any multivitamins or B supplements that contain vitamin B2 (riboflavin), the color of your urine will be a very bright nearly fluorescent yellow and this will not allow you to use the color of your urine as a guide to how well you are hydrated.

Waiting until you feel thirsty is often too late. Thirst usually signifies dehydration.

Healthy Lifestyle is KEY to Avoiding Kidney Stones
Another risk factor is being sedentary. You’re more prone to kidney stones if you’re bedridden or very sedentary for a long period of time, partly because limited activity can cause your bones to release more calcium.

High blood pressure doubles your risk for kidney stones.

Digestive problems also increase your risk, since changes in the digestive process affect your absorption of calcium and other minerals.

A diet high in sugar can set you up for stones, since sugar upsets the mineral relationships in your body by interfering with calcium and magnesium absorption. Not only does sugar and high fructose corn syrup lead to obesity and diabetes, but also the current over-the-top consumption of these unhealthy sugars by children is a large factor in why children as young as age 5 or 6 are now turning up with kidney stones.

A 1999 South African study found that drinking soda exacerbates conditions in the urine that lead to formation of calcium oxalate kidney stone problems.

Diets high in processed salt are also bad news. Salt increases the amount of calcium and oxalate in your urine. And processed foods are extremely high in salt.

Dr. Bruce L. Slaughenhoupt, co-director of pediatric urology at the University of Wisconsin, reports a huge increase in the salt load of children’s diets -- from salty chips, French fries, sandwich meats, canned soups, and sports drinks like Gatorade, which are now sold in child-friendly juice boxes. He believes the overconsumption of processed foods by children today is the cause of increased kidney stones in children2.

Not surprisingly, there also appears to be a connection between childhood obesity and kidney stones. Children are notorious for not drinking enough water, adding to the problem.

Consumption of soy can predispose you to developing kidney stones due to high levels of oxalate present in many varieties of soybeans. One more nail in the coffin for non-fermented soy!

And finally, caffeine has been linked to kidney stones. In one study, caffeine was given to people with a history of kidney stones, after which their urine was examined. The subjects showed elevated urine calcium, putting them at higher risk for kidney stones.

What About Your Calcium Intake?
In the past, kidney stone sufferers have been warned to avoid foods rich in calcium. However, there is now evidence that avoiding calcium may do more harm than good. The Harvard School of Public Health conducted a study of more than 45,000 men. The men who had diets rich in calcium had a one-third lower risk of kidney stones than those with lower calcium diets.

Why would this be? It seems counterintuitive. After all, calcium is the largest component in the stones.

The answer is that high dietary calcium actually blocks a chemical action that causes the formation of the stones. It binds with oxalates (from foods) in your intestine, which then prevents both from being absorbed into your blood and later transferred to your kidneys.

So, urinary oxalates may be more important to formation of calcium-oxalate kidney stone crystals than is urinary calcium.

It is important to note that it is the calcium from foods that is beneficial -- not calcium supplements, which have actually been found to increase your risk of kidney stones by 20 percent[6].

Busting the Myth That High Protein Diets Lead to Kidney Stones
In the 1990s when the Atkins diet reached huge popularity, critics claimed that high protein intake leads to kidney stones. This turned out to be a complete myth, but the misinformation is still being circulated.

Although protein restricted diets are helpful for people who already have kidney disease, eating meat does not cause kidney problems[7]. Furthermore, the fat-soluble vitamins and saturated fat found in animal foods are pivotal for the proper functioning of your kidneys.

“Don’t Do Something -- Just Sit There!”

As with most things, the best approach is the safest and simplest--letting the stone pass on its own. This might take days, or weeks in some cases, but the key is to drink enough water -- NOT soda -- to decrease the concentration of solids in your urine to the point that the stone will be dissolved.

Avoid drinking tea since it is high in oxalates.

There are several medical procedures and surgical techniques that can be used to treat kidney stones, but the risks are high enough that physicians typically shy away from them, unless there's no other choice. This is actually a good thing, considering the multitude of problems American patients face due to medical errors.

Pain medications will usually be offered, if your pain level is intolerable.

Some medicinal herbs have been identified to be helpful for acute episodes, including:

•nettle leaf
•bearberry
•cleavers
•corn silk
•crampbark
•gravel root
•kava kava
•khella
•hydrangea
•stone root
You should always consult the advice of an expert herbalist, since herbs can be every bit as potent as pharmaceuticals and may cause harm if used improperly.

Of course, even better than letting a kidney stone pass naturally would be if you never had to deal with this very painful problem in the first place.

Lifestyle Modifications for Healthy Kidneys
In summary, a few lifestyle modifications will go a long way toward preventing a painful kidney stone attack:

•As discussed previously, stay well hydrated;

•Eat a diet based on your body’s unique nutritional type;

•Avoid taking prescription drugs that harm more than they heal;

•Avoid sugar, soy, caffeine, excess salt, and processed foods;

•Get plenty of exercise to keep your body’s fluids moving;

•Make sure you’re getting adequate magnesium and vitamin B6 in your diet, which have both been suggested to help prevent kidney stone formation.

Lifestyle changes always take some effort and might seem inconvenient at first. But compared to the painful process of passing a kidney stone, a few lifestyle changes are a cinch!

Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Spreading the Gospel Through Kindness

Seorang temannya anak saya sedang belajar musik dan Pujian & Penyembahan di Gereja Hillsong di Sydney, Australia. Dia bercerita bahwa dia dan teman-temannya melakukan aksi sosial ke rumah-rumah penduduk, menolong mereka membersihkan rumput dan halaman rumah secara gratis. Gereja menyediakan seluruh peralatannya, anak-anak muda menyediakan tenaganya. Tak lupa mereka berdoa agar pelayanan mereka menyentuh jiwa-jiwa yang sedang membutuhkan pertolongan Tuhan.

Yang mengharukan, salah seorang penghuni rumah itu adalah wanita yang dilecehkan dan ditinggalkan suaminya, sedang frustrasi dan merokok terus. Ketika anak-anak muda dari Hillsong itu datang menawarkan bantuan, dia berkata, "Sorry, saya tidak dapat membayar kalian." "Oh, ini kami lakukan dengan gratis." Wanita itu kaget karena tidak menyangka ada orang-orang yang masih memedulikan dia. Mereka ngobrol dan akhirnya wanita itu mau diajak ke gereja. "Nanti ada bis jemputan yang menunggu di jalan anu, dekat dari sini. Ikutlah kami," kata anak-anak muda itu. Sang nyonya rumah akhirnya mau ikut ke gereja karena melihat anak-anak itu telah membuktikan iman mereka dengan perbuatan nyata. So, mengabarkan kabar baik bukan hanya melalui perkataan, tetapi sangat menyentuh apabila disertai dengan perbuatan baik.

Yang menarik, teman anak saya itu bercerita bahwa setelah dia berdoa beberapa bulan untuk memiliki gitar baru agar dapat dipakai untuk memuji dan menyembah Tuhan, secara ajaib Tuhan memberikan gitar baru seharga AUD $ 500.- melalui seseorang yang mengasihi Tuhan.


PS: Mungkin pak Ali yang tinggal di Sydney dapat menggerakkan teman-teman untuk berbuat baik dengan memberi jasa pelayanan cleaning service gratis sebulan sekali?

Ditulis/diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

If We Knew How to Listen to God

Andaikan kita tahu bagaimana mendengarkan Allah
Kita seharusnya mendengar Dia berkata-kata kepada kita
Karena Allah tetap berbicara.

Dia berkata-kata melalui Injil-Nya: Dia juga berkata-kata sepanjang kehidupan
Itulah Injil baru yang kita tambahkan setiap halaman setiap hari
Namun karena iman kita terlalu lemah dan hidup kita terikat pada dunia,
Kita jarang terbuka pada pesan Allah.

Untuk menolong kita mendengar, pada awal keintiman baru bersama Kristus,
bayangkan saja apa yang akan Dia katakan andai Dia menafsirkan Injil-Nya kepada manusia zaman sekarang.

Allah memberikan kita mata dan kita mencari alternatif,
Dia membentuk telinga kita dan kita mendengar suara yang keliru,
Dia membentuk kaki kita dan kita mengikuti jejak yang salah,
Maka Allah menerobos pada keadaan kita.

Ketika Dia membuka mata kita, kita dapat melihat kemuliaan-Nya,
Ketika Dia membuka telinga kita, kita dapat mendengar suara-Nya,
Ketika Dia membimbing tangan kita, kita dapat mengikuti jalan-Nya.

Maka pandanglah Tuhan dan dengarlah suara-Nya
Ikutilah jalan-Nya maka Dia akan meluruskan jalanmu.

(Diterjemahkan oleh Hadi Kristadi untuk Pentas Kesaksian, http://pentas-kesaksian.blogspot.com pada tanggal 26 Juni 2009)

******


If we knew how to listen to God,
We should hear him speaking to us.
For God does speak.

He speaks in His gospel: He speaks also through life -
That new Gospel to which we ourselves add a page each day.
But because our faith is too weak and our life to earth-bound,
We are rarely open to God's message.
To help us to listen, at the beginning of our new intimacy with Christ,
let us imagine what He would say if He himself interpreted His gospel to
the men of our day.

God gave us eyes and we looked for alternatives,
He formed our ears and we listened to wrong voices,
He created our feet but we followed the wrong paths.
So God broke through into our situation.
When He opens our eyes we can see His glory
When He opens our ears we can hear His voice
When He takes our hand we can follow His path.

So look to the Lord and listen to His voice
Follow His way and he will make your paths straight.

Author unknown
Ditulis/diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Thursday, June 25, 2009

New Modus of Scam Text Message

Beberapa hari yang lalu salah seorang teman saya menerima SMS yang berbunyi:
'Anda telah memenangkan hadiah pertama sebesar RM 200.000,- tunai. SMS itu dilengkapi dengan nomor telpon untuk dihubungi. Teman saya mengabaikan SMS itu karena ia telah mendengar banyak penipuan menggunakan taktik semacam itu.

Setelah beberapa saat berlalu HP-nya berdering, dan seorang yang mengaku Nona Fang bertanya, "Pak, apakah Anda telah menerima SMS yang mengabarkan bahwa Anda telah memenangkan hadiah pertama?"

Jawab teman saya, "Ya, saya telah menerimanya."

Nona Fang: "Tolong sebutkan nomor rekening Anda dan nama bank Anda sehingga kami dapat menyetorkan hadiah itu."

Teman saya pikir, "Mengapa tidak? Coba lihat apa yang akan dilakukan wanita ini." Teman saya mempunyai seorang sahabat yang bekerja di bank tempat dia membuka rekening. Oleh karena itu teman saya memberikan nomor rekeningnya kepada Nona Fang. Sepuluh menit kemudian teman saya menerima telpon lagi.

Nona Fang berkata di telpon: "Pak, kami sudah mengirimkan dana hadiah pertama itu ke rekening Anda. Silakan periksa ya." Teman saya mengecek saldo rekening banknya via HP, ternyata saldonya sudah bertambah RM 200.000,- Teman saya gembira sekali, seolah-olah sudah lebih kaya RM 200.000,-

30 menit kemudian dia mendapat telpon lagi dari Nona Fang. Dengan menangis dia berkata, "Maafkan, Pak. Saya kelupaan memotong pajak sebesar 20% dari jumlah RM 200.000,- yaitu RM 40.000,- Sekarang, perusahaan saya memaksa saya mengganti uang RM 40.000,- itu. Dapatkah Anda mengembalikan uang sejumlah RM 40.000 tersebut. Saya mohon, Pak!"

Teman saya berpikir sejenak dan merasa kasihan terhadap wanita itu. Karena berpikir bahwa ia telah mendapat uang hadiah itu, maka ia segera berpikir untuk mengembalikan RM 40.000,- Tetapi sebelum itu ia ingin mengecek ulang kepada temannya yang bekerja di bank itu. Setelah temannya yang bekerja di bank itu memeriksa, ternyata kiriman uang itu berdasarkan cheque yang ditarik dari bank lain. Meskipun uang itu telah disetorkan, tetapi uang itu belum dapat ditransfer pada hari yang sama. Kalau pihak yang menyetorkan uang itu membatalkan setoran sebesar RM 200.000,- sementara itu ia mentransfer RM 40.000,- maka rugilah ia.

Sebelum ia pulang ke rumah, temannya yang bekerja di bank memberi tahu bahwa setoran sebesar RM 200.000,- itu telah dibatalkan. Untunglah ia mengecek ulang. Jangan sampai Anda tertipu hal yang sama. Email: kiriman dari Ibu Suharti Ali. Diterjemahkan oleh Hadi Kristadi untuk Pentas Kesaksian, http://pentas-kesaksian.blogspot.com pada tanggal 25 Juni 2009. Mohon keterangan ini jangan dihapus ketika Anda memforwardnya atau mempostingnya di website/blog Anda. Terima kasih.

****

A few days ago one of my friends received a text message saying:

'You've strike 1st prize with a prize money of RM 200,000 cash. The text message came with a contact no. My friend ignored it since he had heard of too many bogus scams using similar tactics.

After a short while his handphone rang, a Miss Fang asked: "Sir, have you received a text message telling you that you've won 1st prize?"

My friend answered: "Yes, I have."

Miss Fang: "Please let us have your bank account number so that we can deposit the money into your account."

My friend thought, why not, let's see what you can do. My friend has a buddy who works in that bank. Hence, he gave her his account number. Ten minutes later, my friend's handphone started ringing again.

Miss Fang said: "Sir, we have deposited your prize money into your account, please check and verify." My friend checked using his handphone and found that RM 200,000 was really deposited into his account. He was euphoric, just like that and he's RM200,000 richer!

30 minutes later, Miss Fang called again. She was crying: "I'm sorry sir, I made a mistake, I forgot to deduct the tax before I deposited the prize money, 20% of RM200,000 equals to RM40,000. Now the company wants me to reimburse the money. Can you please return the RM 40,000 tax? I beg you."

My friend thought for a while and felt pity for the lady. Thinking of the money in his bank account, he went to the bank. Suddenly he thought of his buddy working in that bank and decided to ask his buddy to double check and confirm for him first. Upon checking, his buddy found out that the money was deposited using a cheque of a different bank.

Eventhough the cheque was deposited but the actual amount of money can't be transfered into his account on the same day. If the other party decided to cancel the cheque, then he'll not get this RM 200,000. My friend was shocked. He almost lost RM 40,000.

Before my friend left for home on that day, the cheque was actually cancelled. If not for his buddy, if not for him being a professional. Or if he was scare of letting others know of striking the prize then this bogus scam would be successful. This is a true story, please beware.

Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Wednesday, June 24, 2009

My Twitter

Silakan kunjungi My Twitter, http://www.twitter.com/hadikristadi

Ditulis/diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

The Habits of a Self-Made Millionaires

Saya sedang membaca buku bagus yang ditulis oleh Adam Khoo. Dia adalah jutawan termuda di Singapura, usia 26 tahun sudah berhasil mengumpulkan uang lebih dari US$ 1 juta. Bukunya berjudul "The Secrets of Self-Made Millionaires", sudah diterjemahkan oleh Gramedia. Ada sembilan kebiasaan para milyarder, diantaranya:

1. Go the Second Mile. Melakukan lebih dari yang diharapkan, melakukan lebih dari kebanyakan orang. Contohnya, Michael Jordan mengaku: "Jika pelatih menyuruh saya latihan tiga kali seminggu, saya latihan lima kali seminggu. Jika pelatih mengharapkan saya memasukkan 15 bola, saya akan memasukkan tiga puluh bola." Tidaklah mengherankan jika Michael Jordan menjadi pemain bola basket terbaik.

2. Proaktif. Istilah ini sering kita dengar, tetapi itulah yang membedakan antara para pemenang, para milyarder, dengan kebanyakan orang. Jika penerbangan Anda dibatalkan atau ditunda, apa yang Anda akan lakukan? Marah-marah, mengeluh, atau enjoy aja? Para milyarder melakukan hal yang hebat. Ketika Richard Branson mengunjungi suatu pulau di Karibia, penerbangan pulangnya ditunda untuk waktu yang tidak ditentukan. Tidak ada penerbangan lain dari pulau itu pada hari yang bersangkutan. Branson putar otak. Dia mencari informasi dimana ada perusahaan penyewaan pesawat charter. Dia mencarter pesawat dan kemudian dia berkeliling bandara membawa white board yang bertuliskan: "Ada penerbangan satu kali jalan ke Puerto RIco, seharga US$40 per orang." Hari itu dia pulang bersama para penumpang lain yang ikut dalam penerbangan charternya. Selain untung, dia membawa pulang ide brilian untuk membuka penerbangan murah. Selebihnya adalah sejarah keberhasilan Virgin Air. Maskapai penerbangan milik Branson itu sampai sekarang terus memberikan keuntungan yang besar. Itu dimulai dari suatu masalah yang ditanggapi secara proaktif oleh jiwa pemenang.

Kebiasaan selanjutnya, silakan baca buku itu.

Ditulis/diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

When To Eat

When it comes to shedding body fat, when you eat is just as important as what you eat. This is true for two reasons. First, allowing too much time to lapse between meals is a sure-fire way to lower your metabolism – the less often you eat, the less calories your body is willing to burn. Second, eating more frequent meals stabilizes blood sugar and insulin. When insulin spikes, it sends the body a “store-fat” signal – bad news when you’re trying to get rid of the stuff.

The trick to getting around both these problems is eating small meals that contain an equal portion of protein and carbohydrate (your clinched fist is a great way to determine the portion size that’s right for you) and space meals out about every 2 – 1/2 to 3 hours.

Here’s what a perfect day of eating might look like:

7:30am – Egg whites and oatmeal
10:00am – Protein shake and strawberries
12:30pm – Turkey sandwich on whole wheat with lettuce, tomato and mustard
3:00pm – Baked sweet potato sprinkled with Splenda® and cinnamon, topped with low fat cottage cheese (hey, don’t knock this one until you try it!)
5:30pm – Lean steak, brown rice with salsa, steamed broccoli
8:00pm – Cottage cheese, low fat vanilla yogurt with fresh blueberries

Remember, portions are small. Depending on your size, use your open palm to gauge the proper portion of protein and a clinched fist to determine your carbohydrate size.

As you acclimate to eating small meals more often, you will gradually learn if your portions are either too big or too small based on how long it takes to feel hungry again. If you’re starving one hour after you’ve eaten a meal, it was too small. If you’ve gone three hours and are still not hungry, your portions need to be cut back a bit.

Try It This Week! – Here are a few simple rules to help you get started. Why not try it out for one week and see if it doesn’t make a difference in both your energy and the reading on your scale:

Rule #1 – Eat every 2-1/2 to 3 hours from the time you open your eyes in the morning until your head hits the pillow.

Rule #2 – For each meal choose a small portion of protein (palm size) and a small portion of carbohydrate (fist size) from the two lists below.

Rule #3 – Drink at least 8 ounces of water for every meal you consume. If you are eating every three hours you will need to drink between 4 and 6 pints of water (70 to 100 oz total) per day. (With the exception of perhaps a glass of wine or one short cocktail with your evening meal, avoid alcohol.)

Rule #4 – Have a small portion of any raw or steamed, non-starchy vegetable with at least one of your meals but, if you wish, you may have a portion of vegetable with up to 3 of your daily meals.

Short Protein List: (palm size portion) Egg whites, egg substitute, cottage cheese, tuna, lean steak, chicken breast, turkey breast, steamed or baked fish, whey protein, lean pork tenderloin, lean ham, steamed shrimp, steamed crab or steamed lobster

Short Carbohydrate List: (fist size portion) Oatmeal, baked potato, sweet potato, brown rice, 100% whole wheat bread, pasta, fat-free yogurt, beans, peas, corn, apple, berries, orange, low-fat graham crackers

Keep in mind that the most important part of this first week trial is TIMING! Small portions of cleanly prepared protein and carbohydrates, eaten every 2-1/2 to 3 hours will not only keep your energy even all day long, it will stoke your metabolism and prevent the body from shifting into low gear.

Just for this week, try to consume foods that are fresh and prepared without a lot of extra saturated fat, sauces or cheese. Use small amounts of olive or canola oil when cooking. Especially at the beginning, keep things super simple - simple food, simply prepared.

Once you have tried this way of eating for one week, I hope you will email me and tell me how things went. I would love to hear from you!

Good luck, good heath, good timing and good eating!

Dianne Orwig CPT, CFC, CYFI is founder and creator of Living Fit Online. For more information about her 12-week transformation program, please visit www.LoveLivingFit.com.

Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Tuesday, June 23, 2009

Assessing Your Leadership Skill

Assessing Your Own Leadership Skills by Dr. John C. Maxwell

When I was a kid, every once in a while my parents would back my brother, Larry, and I up to a doorframe, lay a ruler across our heads, and mark a line with a pencil to chart our growth. They would then write the date next to it. It was always exciting to see how much I'd grown since my last measurement.

If only measuring our effectiveness as a leader was so easy. Why is it so hard to get a clear picture of our own strengths and weaknesses?

Self evaluation means:

* Being willing to critique myself.

* Asking for and accepting honest feedback from those who can most accurately assess our leadership-those who follow us.

* Exercising self-discipline.

This last point is perhaps the hardest. I define self-control, in the beginning of life, as the choice of achieving what I really want by doing things I really don't want to do. Once this becomes a habit, discipline becomes the choice of achieving what I really want by doing the very things I now want to do! I really believe that a disciplined life becomes a joy – but only after we have worked hard to practice it.

All great leaders have understood that their number one responsibility is cultivating their own discipline and personal growth. Those who cannot lead themselves cannot lead others.

Here's what I call the START plan for becoming a disciplined leader.

* START ON YOURSELF - We'd all rather focus on changing everyone else to conform to us. The only problem with that is we end up with an organization full of people who reflect our weaknesses!

* START EARLY - I'm grateful for parents who taught me the value of a disciplined lifestyle early on.

* START SMALL - A simple plan will more likely bear fruit than anything elaborate will. Remember the value of small things, consistently practiced over time, in transforming a life.

* START NOW - The will to prepare is more important than the will to succeed. The dream to succeed, apart from the will to prepare, is simply wishful thinking.

* START ORGANIZED - Those who take time to organize have a special power. Organizational skills allow for the possibility of gaining stamina and momentum as your successes build. You gain a reputation as the person who always follows through.

Now that you've started down the road of self-evaluation, receiving constructive criticism, and self-discipline, you're ready to determine where you are as an effective leader.

-- Dr. John C. Maxwell


Ditulis/diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

His Father Son

I was ten. Life that summer was softball, climbing trees, pollywog hunting and bike riding, in that order.

Our city street was made for softball. A well-hit grounder could skip for a mile down that paved "field." There was, thankfully, very little traffic to disrupt our practice and games. Whenever a car would approach, we simply ambled off to the curbsides, waving to the driver as he or she passed.

Amazingly, I remember not a single accident, mishap or problem with this arrangement... except one. Just one.

The instant that softball shot off from my bat, I knew I had messed up. Big time. In a neighborhood graced with houses lining both sides of the street, room for error was limited. Hours upon hours of practice greatly improved our odds of keeping the ball between curbs and thereby avoiding houses, lawns and cars parked in driveways. Any ball hit beyond either curb was, by necessity, a foul.

Immediately following the earsplitting shatter of that enormous square of glass, my teammates split to parts unknown. This was indeed a grave situation and not the time to contemplate the obvious fact that I had a flock of chickens for friends.

Now, the Hansons were not trolls. Well, at least as long as no one was trip-trap-trip-trapping over their lawn. Up to this point, they had never, as far as I knew, killed any neighbor child. But, this was a serious offense.

Being one of eight kids and the daughter of a milkman, I was aware that, mostly, money was for essential things―not to be taken lightly. I also knew, instinctively, that my dad would replace that window. I was a minor child. My dad was my dad and responsible for me―for better or worse. He would pay for the window because I broke it. Simple as that. The Hansons had a giant jagged gaping hole in the front of their house, and I had put it there.

I finally set my bat down, not wanting to carry a smoking gun with me on this particular journey. Suddenly, each leg weighed about a hundred pounds, as I trudged up the walkway to the porch of the House of Horrors.

No need to knock. Mrs. Hanson wasted no time greeting me, with the door wide open, and escorted me inside to this new vantage point of the crime scene. Like a stoic wooden judge, her grandson's highchair stood starkly in that very room. Mrs. Hanson was saying, "What if he had been sitting there?" Even though the baby was not in the house, the highchair was several yards from the window, and the window screen was still intact, I absolutely felt as if I had killed the baby.

About a year later, I was released and walked down the sidewalk, toward home. I wondered if it were possible to feel any worse. Now, I had to face my dad with what I had done.

I was surprised to see Mr. Terryberry leaving my house. He was an across-the-street neighbor and had never come over before. His son and daughter were on my street softball team―part of the chicken clutch.

I wondered briefly if perhaps his kids had told him what I did. Or, maybe he was an eyewitness, and he had come over to squeal to my dad.

I knew I was not going to get hit. I knew I wouldn't even get yelled at. But, my dad would no doubt say, "Man!" in an agitated manner, and he might grumble for a few seconds, before walking next door to apologize and measure the hole where the window belonged. Then he would drive off to buy the replacement.

He would be disappointed. And, it was my fault.

When I walked in the door and stepped into our living room, my dad was right there to meet me. I avoided looking right at him, but plainly heard what he said: "I am proud of you."

Oh great. There was some kind of enormous misunderstanding. Anxious to enlighten him and get the truth out, I blurted, "I was the one who hit the ball!"

"I know," my dad said. He had kind eyes. "Mr. Terryberry saw the whole thing."

I was still confused. I was missing something here. My dad, Mr. Character, was proud of me?

He told me Mr. Terryberry had seen his son pitch the ball to me, saw me belt it, saw the window shatter, and could hardly believe his eyes when his kids and the others hightailed it and left me standing to face the music alone. He thought that I would surely drop that bat and follow the others. He said that he was pleasantly surprised to see me walk up, instead, to face Mrs. Hanson.

Mr. Terryberry told my dad, "I am as proud of your kid as I am ashamed of my own."

And, it was Mr. Terryberry who bought the replacement window―and would not accept any argument.

My dad was proud of me and I was on Cloud Nine... until he said no more batting in the street―only ball and gloves.

But, Cloud Eight didn't feel too shabby. Sumber: http://www.beliefne t.com/Inspiratio n/Chicken- Soup-For- The-Soul/ 2009/06/His- Fathers-Son. aspx?source= NEWSLETTER

Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Sunday, June 21, 2009

The Wet Pants

Ngompol di Celana
Ada seorang anak laki-laki umur sembilan tahun sedang duduk di bangku kelasnya dan tiba-tiba, ada genangan air di selangkangannya dan bagian depan celananya basah. Ia malu sekali dan tak tahu mengapa hal ini terjadi. Tak pernah terjadi hal ini sebelumnya, dan ia tahu bahwa jika anak-anak lelaki mengetahui hal ini, tidak tahu akan bagaimana jadinya nanti... Jika anak-anak perempuan tahu hal itu, mungkin mereka tak mau bergaul dengan dirinya seumur hidup.

Anak lelaki ini malu sekali dan sambil membenamkan kepalanya ke bawah ia berdoa, "Tuhan, ini keadaan darurat. Saya perlu bantuan, kalau tidak saya mati saja!"

Ketika ia menengadah ke atas dari sikap doanya, ia melihat Ibu Guru mendatangi dengan tatapan mata yang mengatakan bahwa ia telah tertangkap basah. Ketika Ibu Guru berjalan menuju ke bangku anak ini, seorang teman sekelas yang bernama Susie datang membawa toples wadah ikan mas yang berisi air. Susie menyelinap di depan Ibu Guru dan tanpa diduga menumpahkan air dari toples itu ke pangkuan anak lelaki itu. Anak lelaki itu berpura-pura marah, namun di dalam hatinya ia berkata, "Terima kasih, Tuhan. Terima kasih, Tuhan."

Kini tiba-tiba anak lelaki ini menjadi pusat simpati, bukannya pusat olok-olokan. Ibu Guru cepat membawa anak lelaki ini ke lantai bawah dan memberinya celana olah raga sementara celananya dikeringkan. Semua anak-anak lain sibuk membersihkan dan mengepel lantai yang basah di sekitar bangku anak lelaki itu. Dan ejekan yang seharusnya diterima anak lelaki itu kini dialihkan kepada temannya yang "jahat", Susie. Anak perempuan ini mencoba membantu membersihkan, tetapi mereka menolaknya. "Sudah cukup, anak jahat!"

Akhirnya, ketika anak-anak akan pulang, mereka menunggu di halte bis. Anak lelaki ini mendekati Susie dan berbisik, "Kamu menyiramku dengan sengaja 'kan?"

Susie menjawab dengan berbisik pula, "Aku pernah ngompol di celana juga."

Semoga Tuhan menolong kita untuk melihat setiap kesempatan dimana kita dapat berbuat baik kepada orang-orang lain. Masing-masing kita mungkin akan melewati suatu pengalaman yang sulit saat ini, tetapi hanya Tuhan yang dapat memberkati Anda dengan cara yang dapat Dia lakukan. Diterjemahkan oleh Hadi Kristadi untuk Pentas Kesaksian, http://pentas-kesaksian.blogspot.com pada tanggal 22 Juni 2009.

****



The Wet Pants

Come with me to a third grade classroom.....

There is a nine-year-old kid sitting at his desk and all of a sudden, there is a puddle between his feet and the front of his pants are wet.

He thinks his heart is going to stop because he cannot possibly imagine how this has happened. It's never happened before, and he knows that when the boys find out he will never hear the end of it..

When the girls find out, they'll never speak to him again as long as he lives.

The boy believes his heart is going to stop; he puts his head down and prays this prayer, "Dear God, this is an emergency! I need help now! Five minutes from now I'm dead meat."

He looks up from his prayer and here comes the teacher with a look in her eyes that says he has been discovered.

As the teacher is walking toward him, a classmate named Susie is carrying a goldfish bowl that is filled with water. Susie trips in front of the teacher and inexplicably dumps the bowl of water in the boy's lap.

The boy pretends to be angry, but all the while is saying to himself,

"Thank you, Lord! Thank you, Lord!"

Now all of a sudden, instead of being the object of ridicule, the boy is the object of sympathy. The teacher rushes him downstairs and gives him gym shorts to put on while his pants dry out.

All the other children are on their hands and knees cleaning up around his desk. The sympathy is wonderful. But as life would have it, the ridicule that should have been his has been transferred to someone else - Susie.

She tries to help, but they tell her to get out. "You've done enough, you klutz! "

Finally, at the end of the day, as they are waiting for the bus, the boy walks over to Susie and whispers, "You did that on purpose, didn't you?"

Susie whispers back, "I wet my pants once too."

May God help us see the opportunities that are always around us to do good.

Each and everyone one of us are going through tough times right now, but God is getting ready to bless you in a way that only He can.



Ditulis/diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Friday, June 19, 2009

Never Argue with a Woman

Jangan Berdebat dengan Wanita
Pada suatu pagi seorang suami kembali dari memancing selama beberapa jam dan dia memutuskan untuk tidur sejenak. Meskipun tidak mengenal danau itu, sang istri memutuskan untuk menjalankan perahu motor ke arah danau. Wanita ini melajukan boat-nya sampai beberapa jauh, menurunkan jangkar, dan kemudian membaca buku.

Beberapa saat kemudian datanglah petugas penjaga danau dalam sebuah motor boat. Ia merapat ke dekat perahu motor sang wanita, dan berkata, "Selama pagi, Bu, Apa yang sedang Anda kerjakan?" "Membaca buku," jawabnya sambil berpikir, "Bukankah sudah jelas apa yang aku lakukan"?"
"Anda berada di Daerah Terlarang Pemancingan," kata petugas.

"Maafkan saya, Pak! Saya tidak sedang memancing tapi sedang membaca buku,"

"Ya, tetapi Anda memiliki semua peralatannya. Menurut hemat saya, Anda dapat memulainya kapanpun Anda kehendaki. Saya harus membawa Anda dan membuat berkas laporan."

"Hanya untuk membaca?" jawab wanita itu.

"Anda berada di Daerah Terlarang Pemancingan," kata petugas mengulangi.

"Saya tidak sedang memancing tapi sedang membaca buku," kata wanita itu tak mau kalah.

"Ya, tetapi Anda memiliki semua peralatannya. Menurut hemat saya, Anda dapat memulainya kapanpun Anda kehendaki. Saya harus membawa Anda dan membuat berkas laporan."

"Kalau Anda lakukan itu, saya juga akan melaporkan Anda karena Anda melakukan pelecehan seksual."

"Tetapi saya bahkan tidak menyentuh Anda," bela sang petugas.

"Ya, tetapi Anda memiliki semua peralatannya. Menurut hemat saya, Anda dapat memulainya kapanpun Anda kehendaki," jawab wanita itu tak mau kalah.

"Ya, sudahlah. Semoga hari Anda menyenangkan," kata petugas itu sambil berlalu. Moral cerita: Jangan pernah berdebat dengan wanita yang suka membaca, dia mungkin cerdas sekali. Email dari Ibu Shirley K., naskah ini telah diterjemahkan oleh Hadi Kristadi untuk Pentas Kesaksian, http://pentas-kesaksian.blogspot.com, pada tanggal 19 Juni 2009. Mohon informasi ini jangan dihilangkan apabila Anda memforwardnya atau mempostingnya untuk website atau blog Anda. Terima kasih.


****

Never Argue with a Woman
One morning the husband returns after several hours of fishing and decides to take a nap. Although not familiar with the lake, the wife decides to take the boat out. She motors out a short distance, anchors, and reads her book.

Along comes a Game Warden in his boat. He pulls up alongside the woman and says, 'Good morning, Ma'am. What are you doing?'
'Reading a book,' she replies,(thinking, 'Isn't that obvious?')

'You're in a Restricted Fishing Area,' he informs her.

'I'm sorry, officer, but I'm not fishing. I'm reading'

'Yes, but you have all the equipment. For all I know you could start at any moment. I'll have to take you in and write you up.'

'For reading a book,' she replies,

'You're in a Restricted Fishing Area,' he informs her again,
'I'm sorry, officer, but I'm not fishing. I'm reading'

'Yes, but you have all the equipment. For all I know you could start at any moment. I'll have to take you in and write you up.'

'If you do that, I'll have to charge you with sexual assault,' says the woman.

'But I haven't even touched you,' says the game warden.

'That's true, but you have all the equipment. For all I know you could start at any moment.'

'Have a nice day ma'am,' and he left.

MORAL: Never argue with a woman who reads. It's likely she can also think.

Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Thursday, June 18, 2009

My Multiply

Dear All,
Ada beberapa khotbah yang saya upload di http://hadikristadi2009.multiply.com.
Silakan dengarkan....


Ditulis/diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

A.R Bernard

Berikut ini adalah kisah tentang A.R Bernard yang belum saya sempat terjemahkan. Di bagian akhir tulisan ini ada link ke Youtube yang menayangkan khotbah dua menit A.R Bernard yang padat dan berisi. A.R Bernard akan diundang oleh Gereja JPPC Jakarta untuk memberikan seminar dalam suatu acara Dinner dengan harga tiket Rp. 500.000,-/orang pada tanggal 3 Juli 2009. Inilah latar belakang A.R Bernard:

Born in Panama in 1953, Bernard came to New York at the age of four with his mother and they settled in the Bedford-Stuyvesant section of Brooklyn. He was part of the 1960s desegregation movement in the public school system being bussed to school in Ridgewood, Queens and then attended Grover Cleveland High School. In order to help his mother in their single parent household, Bernard worked after school in the garment district pushing garment racks for $2.00 per hour. In his senior year, he left the garment district for a job at Bankers Trust Company. Beginning as a clerk in the Consumer Lending Division he earned a number of promotions leading to Operations Specialist in the Consumer Lending Division.

Establishment of Church
Prior to becoming a Christian, Bernard was a Black Muslim. Bernard left the banking world to answer his calling to full time ministry in 1979. Starting with a Bible Study group in a kitchen, he and his wife Karen took their savings and rented a small storefront in the Greenpoint section of Brooklyn. As his ministry grew, so did the need for a larger facility. In 1979, Household of Faith Ministries was incorporated with Bernard as its president and CEO. In 1988 the ministry purchased an abandoned supermarket in Brownsville and renovated it into a 1000 seat sanctuary complete with ministry offices and a bookstore. Christian Life Center became its new name and the ministry moved into its new property in June 1989 with 625 members.

Further Growth
The ministry was quickly outgrowing its home on Linden Blvd. With four services at capacity, and overflow rooms full, the need for a larger facility was evident. In 1995 a vacant lot adjacent to Starrett City was purchased and soon after, construction began. On December 31, 2000, under the leadership of Bernard, Christian Cultural Center took its new name and moved into its new home. The 6.5-acre (26,000 m2) sanctuary and conference center also includes a café, bookstore and restaurant. A new paradigm in houses of worship, Christian Cultural Center is one of the largest independent churches in the tri-state area. A.R. Bernard remains a highly sought after speaker, teacher and community leader. He has traveled extensively throughout the United States, the Caribbean Islands and to the continents of Asia, Africa, Australia and Europe addressing religious organizations, businessmen and political dignitaries.

Future expansion and development is anticipated on a 4.5-acre (18,000 m2) of land adjacent to the current facility, which was recently purchased by the ministry.

Outreach Programs
Outreach programs under his leadership include a food pantry serving the homeless and those in need, Prison Ministry, Literacy and Sonrise, an aid to substance abusers–assisting with counseling and an extensive referral system. A partnership was formed with JHS 275, the neighborhood middle school. As part of that partnership the ministry provided computers, sponsored trips to Washington DC, provided the use of church facilities for their graduations and initiated an annual scholarship to their valedictorian. Today, the ministry continues to support organizations such as Anchor House and Teen Challenge.

Christian Men's Network/International Christian Brotherhood
In 1990 while the ministry continued to grow, Bernard was asked to serve on the Board of Directors for the Christian Men’s Network (CMN) to help restructure the organization. During his six years on the board, CMN grew to an organization with 74 international offices and with a presence in approximately 150 nations. In addition to serving as Treasurer for the board, Bernard was one of their most requested speakers. With the passing of Dr. Edwin Louis Cole in 2002 he became the President of CMN. Under his leadership, CMN has been reborn as ICB, International Christian Brotherhood.

Involvement in Education
Bernard is also the founder of Brooklyn Preparatory School (BPS) in New York City. Formed in 1993, BPS is a premiere early education institution dedicated to serving young children, ages 3–6. Their June 1999 first grade graduates ranked 91st in the national percentile in reading and 96th in the national percentile in mathematics.

Christian Renaissance Corporation
Along with a number of ministers and not-for-profit representatives, Bernard formed the Christian Renaissance Corporation, established to foster urban revitalization through an alliance of church and para-church organizations. They have already sponsored a forum on Faith-Based Initiatives featuring Dr. John DiIulio and "United We Rise", a Memorial Service in the aftermath of the World Trade Center attacks which was broadcast live via satellite to over 25 sites throughout the tri-state area, churches around the country and 1,700 stations throughout parts of North and Latin America. It has since been rebroadcast throughout the nation and internationally via television and radio. CRC currently represents a constituency of over 100,000 people.

Leadership, Achievements and Politics
A. R. Bernard is the President of the Council of Churches of the City of New York representing 1.5 million Protestants, Anglicans and Orthodox Christians.

Presidents, Senators, and a host of other influential figures have honored Bernard for his outstanding leadership and achievements. New York Magazine named Bernard as one of their "Most Influential New Yorkers". In February 2007, Bernard was named by a consortium of organizations in the New York Daily News as the number one religious leader in New York.

On February 27, 2007, he was honored with a lifetime achievement award by the Consulate General of Israel in New York, the Jewish Community Relations Council and the Jewish National Fund.

Bernard has been personally cited in the Congressional record at least twice. He sits on several different boards including Anchor House, and Teen Challenge – a teen substance abuse program with a 70% success rate. In addition, under Commissioner Howard Safir, he sat on the NYC Police Department Advisory Board for Courtesy, Professionalism and Respect. Bernard presently serves as Chaplain to the Division of Law Enforcement of the NYS Department of Environmental Conservation Police. He is also a board member of the New York City Economic Development Corporation ("EDC") appointed by Mayor Michael Bloomberg and a member of the Board of Directors of the Brooklyn Public Library.

Prompted by Bernard's influence as a life coach to many high profile individuals, People Magazine recently highlighted his bi-coastal study group, which remains well attended by celebrities, sports figures and entertainers.

Media Coverage
Bernard has been featured in New York Magazine, The New York Times, The New York Post, The New York Daily News, Black Enterprise, Essence, Class Magazine, Charisma and a host of other newspapers and magazines.

He has also appeared on Fox News Channel, NBC's Today, MSNBC, CBS News, BET, The 700 Club, TBN's Praise the Lord, Tony Brown's Journal as well as various national and local news programs.

A.R. Bernard Broadcasts
Bernard is the host of two weekly television broadcasts. Faith In Practice and A.R. Bernard - airing nationally on TBN, TV One, and FamilyNet Television. The programs also air in New York on WWOR and WRNN. Bernard's radio broadcasts can be heard nationwide on Salem Communication stations, on FamilyNet Radio SIRIUS Channel 161, and locally within New York’s tri-state area on WMCA, WLIB and WBLS. Sumber: Wikipedia

Contoh khotbah Pdt. A.R Bernard (dua menit, tapi berbobot):
http://www.youtube.com/watch?v=L6DONvDKuYs

Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Killer Statement

Ada sebuah istilah komunikasi negatif dalam Kecerdasan Emosional yang disebut killer statement. Apa itu killer statement? Gampangnya, killer statement adalah segala bentuk pernyataan kita yang kita keluarkan, sadar maupun tidak, tetapi melukai dan mampu merusak mental maupun semangat orang lain.

Jenis-jenis killer statement ini, tanpa sadar kita dengar setiap hari, atau barangkali tanpa sadar kita keluarkan dengan maksud bercanda, memotivasi, tapi justru merusak. Nah, kalimat-kalimat perusak jiwa yang menghasilkan perasaan yang negatif pada diri seseorang itulah yang seringkali kita sebut killer statement.
Menariknya, sejarah dunia komik pun pernah mencatat akibat buruk dari killer statement yang pernah diterima oleh dua anak bernama Jerry Siegel dan Joe Shuster.

Kisahnya begini:
Di masa depresi yang melanda Amerika pada 1933, Jerry Siegel mempunyai ide menciptakan seorang tokoh pahlawan anak-anak yang mempunyai kemampuan luar biasa. Tenaganya lebih kuat dari besi, bisa terbang dan asalnya dari planet lain. Maka, bersama dengan temannya, yakni Joe Shuster, yang pandai melukis, diciptakanlah untuk pertama kalinya gambaran manusia baja tersebut.

Tetapi gambaran komik manusia super itu tidaklah begitu menarik. Kecaman dan kritikan diterima. Selama enam tahun berturut-turut komiknya pun ditolak sana-sini. Hingga akhirnya, puncak kehancuran mental Siegel dan Shuster terjadi saat mereka mendengar ada editor dari Detective Comics yang membutuhkan komik strips. Lantas mereka pun mencoba menjual kepada mereka. Tapi, saat membuka-buka dan melihat gambaran komik mereka, para editor pun tertawa dan berkata, "Wah, nggak akan ada yang percaya dengan ide komik seperti ini. Gambarnya murahan dan tak mungkin laku dijual."

Maka, karena sudah terlalu frustrasi dengan penolakan dan kalimat yang menghancurkan itu, Shuster dan Siegel akhirnya sepakat menjual komik serta segala hak ciptanya kepada Detective Comics hanya senilai US$130.

Perhatikan baik-baik, hanya seharga US$130 !
Tapi, itulah kesalahan terbesar Siegel dan Shuster akibat terlalu mendengarkan killer statement yang diterimanya. Karena, beberapa saat setelah komiknya dibeli, karakter komiknya ternyata menjadi pujaan. Anda pasti bisa menebak. Itulah tokoh Superman, manusia Krypton dengan kemampuan terbang, penglihatan super serta kekuatan fisik yang luar biasa. Komik Superman menjadi begitu laris, hingga difilmkan, karakternya menjadi tokoh idola anak-anak. Sementara Shuster dan Siegel, penciptanya yang pertama, hanya bisa gigit jari. Tokoh Superman menjadi populer dan meraup keuntungan miliaran dolar AS. Tapi tokoh penciptanya hanya mendapat US$130, bahkan hidup dalam utang dan kemiskinan.

Untungnya, pada 1975 setelah mendapatkan tekanan bertubi-tubi dari publik yang menganggap Detective Comics tidak berperikemanusiaan dengan membiarkan pencipta Superman hidup miskin, akhirnya Detective Comics sepakat memberikan jaminan finansial kepada mereka. Tetapi, kalau kita renungkan kembali, itulah harga dari sebuah killer statement yang telah menghancurkan karir dan kehidupan dua orang bocah bernama Shuster dan Siegel.

Pembaca, kisah ini kiranya membuat kita sadar akan bahaya dari killer statement dalam hubungan interpersonal kita. Memang, kadang killer statement ini diucapkan tidak dengan intensi yang negatif, tapi dampaknya, sungguh merusak! Namun, bisa juga killer statement ini diucapkan dengan maksud khusus untuk menjatuhkan mental orang yang mendengarnya. Hendaklah kata-katamu senantiasa penuh kasih, jangan hambar, sehingga kamu tahu, bagaimana kamu harus memberi jawab kepada setiap orang. (Kolose 4:6)

Penulis Anthony Dio Martin, email dari pttwr yang diterima dari Vina Vitasari. Diposting oleh Hadi Kristadi pada tanggal 18 Juni 2009 di Pentas Kesaksian, http://pentas-kesaksian.blogspot.com. Mohon keterangan ini tidak dihapus ketika Anda memforwardnya atau mempostingnya di website/blog Anda. Terima kasih.

Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Restoran De Daoen Dapur Manado

Dalam perjalanan ke Bona Indah, Lebak Bulus, kemarin sore saya mampir di sebuah restoran Manado. Letaknya di belakang gedung Garda Oto, Jl. TB Simatupang, melalui jalan samping yang ke arah apartemen dan perumahan Bona Indah.

Dari sekian masakan Manado dan Jawa yang tersedia, saya memilih Bakmi Bakso. Mengapa? Karena bakmi ini mendadak dibuat di depan mata kita, maksudnya pembuatan bakmi mulai dari tepung terigu dan bumbu-bumbu, kemudian dibuat adonan mie, digiling-giling, dan akhirnya jadi mie, barulah dimasak agar mie matang. Mie ini cukup enak, halal, fresh, dan murah pula.

Selain masakan Manado yang umum, disini ada aneka nasi goreng dan masakan Jawa lainnya. Bukan itu saja, bagi Anda yang mau bersantai sambil internetan, restoran ini menyediakan sambungan Hotspot gratis dan disediakan pula ruang pertemuan khusus dengan kapasitas 20 orang.

Ditulis/diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Wednesday, June 17, 2009

Passport Processing in Indonesia

Pengalaman Memperpanjang Paspor
Pengalaman saya mungkin berguna bagi teman-teman yang ingin memperpanjang paspor di kantor imigrasi. Jika Anda ingin memperpanjang paspor, datanglah ke kantor imigrasi pagi-pagi sekali, boleh datang jam 7.00 pagi. Saya datang ke sebuah kantor imigrasi kelas I khusus di Jakarta.

Hari Pertama:
Anda perlu membeli map perpanjangan paspor seharga Rp. 5.000,- dan dilengkapi dengan formulir permohonan pembuatan paspor. Yang harus diisi di dalam formulir itu, antara lain: Nama, Nama Alias, Tempat Tanggal Lahir, Alamat Rumah, No. Telpon, Nama dan Alamat Kantor, Tinggi Badan, Nama Ibu, Tempat dan Tanggal Lahir Ibu, Alamat Orang Tua, Nama Ayah, Tempat dan Tanggal Lahir Ayah, Nama Isteri/Suami, Tempat dan Tanggal Lahir Isteri/Suami, Pekerjaan Anda, dan Tanda Tangan. Perlu diperhatikan bahwa untuk mengisi Formulir Permohonan Paspor harus diisi dengan Huruf Besar (Kapital) dan menggunakan TINTA HITAM. Formulir Permohonan Paspor dapat di-download dari http://www.imigrasi.go.id dan diisi di rumah serta ditanda-tangani oleh pemegang paspor yang berhalangan datang ke kantor imigrasi.

Formulir ini harus dilampiri:
1. Fotocopy KTP.
2. Fotocopy Kartu Keluarga.
3. Fotocopy Akte Kelahiran.
4. Fotocopy Akte Pernikahan, Akte Perceraian, atau Akte Kematian (pasangan).
5. Fotocopy Paspor.
6. Formulir Wiraswasta, jika Anda tidak bekerja di kantor orang lain. Formulir ini dibeli di kios imigrasi, seharga Rp. 7.000,- karena sudah termasuk bea meterai Rp. 6.000,-
7. Surat Sponsor/Rekomendasi dari perusahaan/instansi pemerintah/ABRI bagi karyawan swasta, pegawai negeri sipil/ABRI. Atau, fotocopy Surat Resign (Mengundurkan Diri) dari perusahaan terakhir, jika Anda mengisi Formulir Wiraswasta.

Untuk permohonan paspor bagi anak di bawah umur, maka Anda perlu membeli Formulir Persetujuan Orang Tua, seharga Rp. 7.000,- di kios imigrasi dan sudah termasuk bea meterai Rp. 6.000,- Formulir ini harus ditanda-tangani Ayah DAN Ibu. Selain itu, dalam berkas permohonan paspor anak di bawah umur harus dilengkapi dengan fotocopy KTP Ayah dan Ibu, fotocopy Kartu Keluarga, dan fotocopy Akte Pernikahan, fotocopy Paspor Orang Tua, selain fotocopy Paspor dan Akte Kelahiran anak yang bersangkutan. Anak di bawah umur perlu disiapkan untuk bisa membuat tanda tangan sendiri.

Dalam pengajuan berkas-berkas itu, Anda perlu memperlihatkan dokumen aslinya. Dokumen asli ini hanya diperlihatkan saja, dan bisa dibawa pulang pada hari itu juga. Sebelumnya, Anda perlu mengambil nomor antrian untuk proses pengajuan berkas permohonan paspor.

Jika Anda sudah dipanggil, Anda akan mendapatkan Tanda Terima Permohonan Paspor untuk diproses dan Anda diminta datang dua hari lagi untuk pemotretan dan pembayaran biaya paspor. Untuk biaya paspor ini, biaya yang tercetak dalam brosur kantor imigrasi adalah Rp. 200.000,- tetapi pada kenyataannya saya harus membayar Rp. 270.000,- per paspor, yaitu Rp. 200.000,- untuk buku paspor, Rp. 55.000,- untuk biaya TI/Foto, dan Rp. 15.000,- untuk biaya sidik jari.

Hari Ketiga:
Anda perlu menyerahkan Tanda Terima Permohonan Paspor ke loket tertentu untuk diberi pengantar untuk membayar paspor, dan Anda membayar biaya paspor di loket kasir. Di loket kasir ini Anda akan menerima Print Out Tanda Terima Pembayaran, dua lembar yaitu asli dan copy. Copy-nya harus segera diserahkan kepada petugas di bagian pembuatan foto/wawancara. Setelah menunggu panggilan, maka Anda siap difoto. Disarankan untuk menggunakan pakaian rapi dan warna terang. Setelah selesai foto dan wawancara, serta tanda tangan paspor dan sidik jari, Anda diminta datang empat hari kerja lagi.

Hari Ketujuh:
Seharusnya hari ini paspor saya sudah jadi. Ketika saya datang pagi-pagi jam 7.00, saya menyerahkan asli Print Out Tanda Terima Pembayaran ke loket Pengambilan Paspor. Setelah dicari, ternyata paspor saya belum jadi. Saya harus kembali lagi sore atau esok hari. Ketika kembali sore harinya, paspor saya dan istri sudah jadi, tetapi paspor anak saya belum jadi. Petugas menyarankan saya untuk mengecek proses penyelesaian paspor melalui SMS ke 08118113456 dengan mengetik: PASPOR Nomor Permohonan yang terdapat dalam Print Out Tanda Terima Pembayaran, misalnya: PASPOR 1044000000012345. Nanti akan ada jawaban dari kantor Imigrasi, seperti: "Berkas Priscilla di Posisi Paspor Siap Ditandatangani Kepala Kantor". Setelah berkali-kali jawaban SMS hanya seperti itu, kemudian saya minta petugas imigrasi mengecek. Setelah dicek, ternyata buku paspor baru yang sudah ditanda-tangan anak saya ada halaman yang salah/hilang/tidak lengkap. Akhirnya, saya harus memanggil anak saya untuk datang ke kantor imigrasi, untuk menanda-tangan ulang pada buku paspor yang baru, yang lengkap halaman bukunya. Untunglah, kantor imigrasi ternyata buka sampai jam 20.00 malam. Jadi, sebaiknya sebelum Anda datang mengambil paspor ke kantor imigrasi, kirim SMS dahulu untuk memastikan apakah paspor sudah selesai dibuat. Jika paspor belum selesai dibuat, mungkin ada masalah, sebaiknya pemegang paspor ikut datang ke kantor imigrasi, untuk tanda-tangan ulang atau untuk hal lain yang mungkin diperlukan. Akhirnya saya menerima paspor anak saya setelah anak saya datang menyusul ke kantor imigrasi pada pukul 19.05. Ditulis oleh Hadi Kristadi pada tanggal 17 Juni 2009 untuk Pentas Kesaksian, http://pentas-kesaksian.blogspot.com. Mohon keterangan ini jangan dihapus ketika Anda memforwardnya atau mempostingnya di website atau blog Anda. Terima kasih.

Ditulis/diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Kesaksian Pembaca Buku "Mukjizat Kehidupan"

Pada tanggal 28 Oktober 2009 datang SMS dari seorang Ibu di NTT, bunyinya:
"Terpujilah Tuhan karena buku "Mukjizat Kehidupan", saya belajar untuk bisa mengampuni, sabar, dan punya waktu di hadirat Tuhan, dan akhirnya Rumah Tangga saya dipulihkan, suami saya sudah mau berdoa. Buku ini telah jadi berkat buat teman-teman di Pasir Panjang, Kupang, NTT. Kami belajar mengasihi, mengampuni, dan selalu punya waktu berdoa."

Hall of Fame - Daftar Pembaca Yang Diberkati Buku Mukjizat Kehidupan

  • A. Rudy Hartono Kurniawan - Juara All England 8 x dan Asian Hero
  • B. Pdt. DR. Ir. Niko Njotorahardjo
  • C. Pdt. Ir. Djohan Handojo
  • D. Jeffry S. Tjandra - Worshipper
  • E. Pdt. Petrus Agung - Semarang
  • F. Bpk. Irsan
  • G. Ir. Ciputra - Jakarta
  • H. Pdt. Dr. Danny Tumiwa SH
  • I. Erich Unarto S.E - Pendiri dan Pemimpin "Manna Sorgawi"
  • J. Beni Prananto - Pengusaha
  • K. Aryanto Agus Mulyo - Partner Kantor Akuntan
  • L. Ir. Handaka Santosa - CEO Senayan City
  • M. Pdt. Drs. Budi Sastradiputra - Jakarta
  • N. Pdm. Lim Lim - Jakarta
  • O. Lisa Honoris - Kawai Music Shool Jakarta
  • P. Ny. Rachel Sudarmanto - Jakarta
  • Q. Ps. Levi Supit - Jakarta
  • R. Pdt. Samuel Gunawan - Jakarta
  • S. F.A Djaya - Tamara Jaya - By Pass Ngurah Rai - Jimbaran - Bali
  • T. Ps. Kong - City Blessing Church - Jakarta
  • U. dr. Yoyong Kohar - Jakarta
  • V. Haryanto - Gereja Katholik - Jakarta
  • W. Fanny Irwanto - Jakarta
  • X. dr. Sylvia/Yan Cen - Jakarta
  • Y. Ir. Junna - Jakarta
  • Z. Yudi - Raffles Hill - Cibubur
  • ZA. Budi Setiawan - GBI PRJ - Jakarta
  • ZB. Christine - Intercon - Jakarta
  • ZC. Budi Setiawan - CWS Kelapa Gading - Jakarta
  • ZD. Oshin - Menara BTN - Jakarta
  • ZE. Johan Sunarto - Tanah Pasir - Jakarta
  • ZF. Waney - Jl. Kesehatan - Jakarta
  • ZG. Lukas Kacaribu - Jakarta
  • ZH. Oma Lydia Abraham - Jakarta
  • ZI. Elida Malik - Kuningan Timur - Jakarta
  • ZJ. Luci - Sunter Paradise - Jakarta
  • ZK. Irene - Arlin Indah - Jakarta Timur
  • ZL. Ny. Hendri Suswardani - Depok
  • ZM. Marthin Tertius - Bank Artha Graha - Manado
  • ZN. Titin - PT. Tripolyta - Jakarta
  • ZO. Wiwiek - Menteng - Jakarta
  • ZP. Agatha - PT. STUD - Menara Batavia - Jakarta
  • ZR. Albertus - Gunung Sahari - Jakarta
  • ZS. Febryanti - Metro Permata - Jakarta
  • ZT. Susy - Metro Permata - Jakarta
  • ZU. Justanti - USAID - Makassar
  • ZV. Welian - Tangerang
  • ZW. Dwiyono - Karawaci
  • ZX. Essa Pujowati - Jakarta
  • ZY. Nelly - Pejaten Timur - Jakarta
  • ZZ. C. Nugraheni - Gramedia - Jakarta
  • ZZA. Myke - Wisma Presisi - Jakarta
  • ZZB. Wesley - Simpang Darmo Permai - Surabaya
  • ZZC. Ray Monoarfa - Kemang - Jakarta
  • ZZD. Pdt. Sunaryo Djaya - Bethany - Jakarta
  • ZZE. Max Boham - Sidoarjo - Jatim
  • ZZF. Julia Bing - Semarang
  • ZZG. Rika - Tanjung Karang
  • ZZH. Yusak Prasetyo - Batam
  • ZZI. Evi Anggraini - Jakarta
  • ZZJ. Kodden Manik - Cilegon
  • ZZZZ. ISI NAMA ANDA PADA KOLOM KOMENTAR UNTUK DIMASUKKAN DALAM DAFTAR INI