Seorang gadis kecil—cacat dan yatim piatu—pada saat pengumpulan persembahan
syukur di gereja, mempersembahkan cincin emasnya untuk pembangunan gedung
gereja. Beberapa anggota majelis gereja kaget, dan setelah kebaktian usai mereka sepakat untuk menemuigadis kecil itu. “Nak, kami putuskan untuk mengem balikan cincin ini kepadamukarena kami tahu engkau lebih memerlukan cincin ini da ripada kami. Di gerejaini masih ada banyak orang yang bisa menyumbang. Kamu jangan ya, Nak.” Jawab
gadis kecil itu, “Tetapi, Pak, saya bukan memberikan cincin ini untuk Bapak.
Saya mempersembahkan cincin ini untuk Tuhan Yesus. Hanya cincin ini yang saya
punya, yang terbaik untuk Tuhan Yesus.”
Kita kerap bersikap seperti majelis gereja itu—salah mengerti terhadap konsep persembahan. Persembahan diberikan untuk Tuhan, tetapi kita memberikannya seolah-olah untuk manusia dan kita hitung-hitungan atau memberi ala kadarnya. Roma 12:1 dengan gamblang menjelaskan bahwa Tuhan tidak mau diperlakukan sembarangan. Dia tidak pernah memberi sembarangan kepada kita. Dia bahkan tidak menyayangkan nyawa-Nya untuk diberikan kepada kita. Sudah seharusnya kita memberi yang terbaik kapada Tuhan; bahkan hidup kita bagi-Nya; hidup yang kudus dan yang berkenan kepada-Nya.
Setiap kita memberi persembahan di gereja, ingatlah bahwa kita bukan memberi kepada majelis gereja. Juga bukan untuk pamer, tetapi untuk kemuliaan Tuhan. Maka, berikanlah yang terbaik. Bukankah segala sesuatu yang ada pada kita adalah milik Tuhan?
PERSEMBAHAN YANG TERBAIK
ADALAH SEGENAP HIDUP KITA, SEBAGAIMANA YESUS TELAH MEMBERIKAN HIDUP-NYA
Penulis: Mira Novita Thios/Email kiriman Bpk. Tefa/Milis Terang Dunia
Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com