Saya lahir di kota Solo, kota kecil yang tenang dan damai, dan dibesarkan dalam keluarga Kristen yang cukup harmonis. Saya anak bungsu dari tiga bersaudara dan satu-satunya anak perempuan dalam keluarga. Saya dimanja lebih dari kedua kakak laki-laki saya. Hal itu membuat saya menjadi anak yang manja, keras kepala dan egois.
Singkat cerita, kehidupan saya mulai berubah sejak duduk di bangku SMP. Papa yang sedang berada di puncak kariernya tiba-tiba berubah drastis. Papa yang tidak pernah kasar dan selalu menyayangi keluarga, tiba-tiba menjadi pemarah dan jarang pulang ke rumah. Maka mama yang menjadi korban. Sampai akhirnya mama berpikir untuk bercerai.
Thank God, it never happened. Tapi keadaan rumah semakin memburuk, ekonomi keluarga semakin menurun dan papa semakin jarang pulang. Setiap malam saya melihat mama berdoa dan itu berlangsung selama tiga tahun.
Cerita berlanjut saat saya masuk kelas 1 SMA. Saya diajak oleh teman untuk bergabung dalam satu gereja yang cukup terkenal di Solo. Saya mulai melayani, namun tidak merasakan pertumbuhan secara rohani maupun mental di gereja tersebut. Yang ada, saya melayani hanya untuk mengisi waktu luang, mengisi kekosongan hati, serta sebagai alasan untuk keluar sesering mungkin dari rumah.
Perlahan keadaan keluarga mulai membaik. Papa mulai kembali menjadi papa yang saya kenal dahulu. Walaupun keadaan ekonomi belum membaik, karena saat itu papa sempat ditipu oleh temannya sendiri. Perubahan yang paling saya rasakan dalam diri saya adalah bagaimana saya yang suka membantah, mencoba untuk menjadi anak yang penurut dan perhatian terhadap mama. Hubungan saya dengan mama membaik.
Kemudian saya memutuskan untuk menghentikan studi di Solo, lalu melanjutkan sekolah fesyen di Jakarta. Beberapa minggu pertama saya tinggal di Jakarta, saya sangat kangen terhadap mama. Setiap hari saya menelpon mama, namun saya tak bernah bisa berbicara dengannya. Kakak saya sering mengatakan bahwa mama sedang tidur karena pengaruh obat.
Suatu hari tiba-tiba saya mendapat kabar bahwa mama sakit kanker. Saya sangat kaget dan tidak percaya. Mama dibawa berobat ke Jakarta, namun kesehatannya tidak kunjung membaik, dan akhirnya kembali dibawa pulang ke Solo. Saya ikut menemaninya dan mengambil cuti kuliah selama kurang lebih tiga bulan. Singkat cerita, ternyata mama harus meninggalkan kami semua begitu cepat. Sementara saya harus melanjutkan hidup di Jakarta.
Setelah kejadian itu saya mulai menjauh dari Tuhan. Saya merasa bahwa Tuhan tidak mengasihi saya. Saya juga merasa kehilangan arah setelah mama meninggal.
Satu bulan berlalu, kakak seppu saya mengenalkan saya pada seorang teman yang kemudian mengenalkan saya ke gereja JPCC. Pertama-tama ke JPCC hanya sebatas rutinitas untuk menghargai kakak sepupu saya, tetapi lama kelamaan saya melihat sesuatu yang berbeda di JPCC. Bukan hanya gereja yang mengkhotbahkan omong kosong, tetapi gereja yang mempunyai nilai-nilai (values) dan releevan di dalam kehidupan sehari-hari.
Akhirnya saya pun bergabung di Date (Komsel), dan komunitas baru, yaitu Oxygen, komunitas yang sangat berbeda dari komunitas yang lama. Di sini saya merasa disambut, dihargai, dipedulikan dan diajarkan untuk menjadi orang yang berani, optimis. Saat ini saya memiliki keluarga yang bahkan lebih dekat dan lebih perhatian dari keluarga saya sendiri. Sumber: Buletin "Breaking", Agustus 2009.
Ditulis/diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com