Saturday, July 25, 2009

Restored Teenager

Ada seseorang datang kepada saya, dan berkata bahwa anaknya yang sedang bersekolah di Malaysia bermasalah. Sebenarnya anak itu tidak suka disuruh orangtuanya bersekolah di sana, tetapi dia tidak berani menentang kehendak orangtuanya. Anak itu belajar mulai dari kelas 1 SMA sampai kelas 3. Ketika di pertengahan kelas 3 anak itu pulang ke Banjarmasin dan tidak mau kembali lagi ke Malaysia. Dia menjadi anak yang pendiam, murung, tidak suka tertawa, sering tinggal di kamar tidur, dan main games saja. Dia jarang berbicara dengan orangtuanya, sering marah dan ngambek. Orangtuanya sudah putus asa menghadapi anak ini. Apa yang ada di hati anak itu, orangtuanya tidak tahu. Dipanggil makan tidak mau. Dipanggil ulang dia marah. Dia tidak mau sekolah lagi.

Orangtuanya datang kepada saya karena mereka merasa mempunyai masalah besar dengan anak itu. Tuhan berkata kepada saya bahwa masalah anak itu kecil, tidak ada artinya. Kalau Tuhan ingini, sebenarnya sebentar saja Dia bisa membuka hati anak itu dan anak itu akan berubah 180 derajat. Saya sampaikan kepada mereka bahwa masalah mereka itu kecil, tetapi Tuhan mereka besar. Dan saya bersyukur suami istri itu percaya.

Tepat pada tahun baru Tuhan menyuruh saya untuk mengajak anak itu bertahun baru di rumah kami. Anak itu mau saya peluk, saya sayangi anak itu. Saya ajak dia ikut acara malam tahun baru bagi anak-anak muda dan menginap di gereja. Saya serahkan anak SMA itu kepada anak saya. Saya berkata kepada anak saya bahwa anak ini tidak bisa tertawa. Sementara acara berlangsung, saya berdoa agar belas kasihan Tuhan turun atas anak itu, agar Tuhan mengembalikan kehidupannya seperti apa yang Tuhan ingini.

Tepat jam 2 dinihari anak itu bisa tertawa bebas, normal, bisa bergaul. Anak ini dijamah Tuhan luar biasa. Setelah anak ini dipulihkan, keesokan harinya dia pulang dan dapat berkomunikasi dengan orangtuanya. Anak ini telah sadar bahwa perilakunya selama ini tidak benar.

Anak ini kembali melanjutkan sekolahnya. Secara logika, sulit sekali dalam waktu empat bulan dia dapat lulus SMA. Tetapi saya percaya bahwa jika Tuhan menyertai anak ini dan dia mau mengikut-sertakan Tuhan dalam hidupnya, maka anak ini dapat lulus SMA. Saya cuma berdoa dan mengijikan apa yang Tuhan mau kerjakan. Dan Tuhan bekerja. Ketika ujian di sekolahnya, dia bisa lulus ujian dengan nilai yang cukup baik. Bahkan dia bisa melanjutkan studinya ke universitas. Anak itu kini menjadi anak yang baik, anak yang takut akan Tuhan, dan mengambil bagian dalam pelayanan di gereja. Perubahan yang terjadi pada anak ini membuat orangtuanya mengambil bagian dalam pelayanan di gereja.

Sumber: Buku "Tuhan itu Nyata" oleh Lidya Dewi Yana, terbitan Bethlehem Publisher


Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com