Kunci untuk Membuat Hidup Unik dan Berharga
Kunci untuk membuat kehidupan kita sungguh-sungguh unik dan bermakna adalah membagikan – sharing. Sharing memiliki keajaiban yang unik. Inilah yang saya pelajari ketika saya membagikan ide-ide.
Jika anda membagikan sebuah gagasan dengan sepuluh orang yang berbeda, mereka harus mendengarnya masing-masing satu kali, tetapi anda harus mendengarnya sepuluh kali. Inilah bagian yang menguntungkan anda: anda menjadi semakin lebih baik menyiapkan diri bagi masa depan. Bagikanlah gagasan anda. Bagikan dengan keluarga anda, bagikan dengan orang-orang di sekitar anda, bagikan dengan karyawan anda, bagikan dengan teman-teman anda.
Karena dengan membagikan, ada dua hal terjadi. Ketika seseorang sharing satu sama lain, dua hal terjadi. Pendengarnya bisa ditransformasi, juga pembicaranya. Jika anda sharing dengan orang lain, mereka bisa ditransformasi. Mungkin anda datang kepada mereka dengan sharing itu pada saat yang tepat. Mungkin inilah waktu yang tepat bagi mereka. Mungkin mereka sudah tahu sebagian, tetapi ketika anda membagikan ide itu, gagasan mereka menjadi lengkap sehingga terjadilah transformasi itu. Orang-orang yang mendengarkan anda bisa mengalami transformasi seperti itu.
Namun ada hal lain yang menarik. Orang yang membagikan gagasan juga dapat mengalami transformasi. Tahukah apa yang kita semua sedang cari? Transformasi bagi kehidupan kita yang baru. Kehidupan yang baru pada esok hari, kehidupan yang baru pada bulan depan, kehidupan yang baru pada tahun ini, kehidupan baru tahun depan, dan sebagainya.
Pada suatu hari seekor ulat berkata, “Aku pikir aku diciptakan Tuhan lebih dari sekedar merayap di tanah.” Oleh karena itu, sang ulat mendaki sebuah pohon, menempelkan dirinya ke sebuah daun dan merajut sebuah kepompong. Siapa yang tahu betapa memerlukan upaya yang sangat keras untuk merajut sebuah kepompong. Namun di dalam hati sang ulat itu berkata, “Aku dirancang untuk sesuatu yang lebih besar dari sekedar seekor ulat.”
Dan ketika kepompong itu sudah siap dan terbuka, keluarlah seekor kupu-kupu cantik yang terbang, dan mungkin bernyanyi, “I believe I can fly! I believe I can touch the sky! Dahulu aku sekedar seekor ulat di tanah, sekarang aku terbang.”
Saya berharap anda juga mengalami metamorfosa seperti itu. Saya berharap anda sering melewati suatu masa dimana anda dapat berkata, “Ketrampilan baru, hal-hal baru sedang menungguku.” Dan sebagian hal ini terjadi ketika anda dapat menerjemahkan bagi orang-orang lain apa yang anda rasakan di dalam hati dan jiwa anda. Mungkin pertama kali kedengarannya gagasan anda agak aneh, tetapi janganlah ragu, bagikan saja kepada orang-orang lain. Ada keajaiban menanti anda.
Inilah yang terjadi ketika anda membagikan, ketika anda sharing. Sharing membuat anda memiliki ruang yang lebih luas. Pertanyaan yang penting, bagaimana sebuah gelas yang terisi penuh air dapat menampung lebih banyak air lagi? Jika gelas itu sudah penuh air, apakah bisa menampung lebih banyak air? Jawabannya, bisa! Jika anda menuangkan sebagian isinya keluar. Maka, tuangkan sebagian keluar. Jika anda ingin menampung lebih banyak, anda harus mencurahkan sebagian apa yang anda miliki, dan anda akan memiliki kesempatan untuk menerima lebih banyak.
Nah, berbeda dengan gelas yang tetap sama isinya ketika anda menuangkan sebagian isinya keluar, tidaklah demikian dengan kesadaran manusia. Kapasitas anda akan meningkat bersamaan dengan kerelaan anda membagikan kepada orang lain. Makin banyak anda membagikan, makin besar kapasitas diri anda. Anda akan semakin besar dan semakin besar dan semakin besar.
Sekarang, mengapa anda perlu memiliki keinginan untuk menjadi lebih besar? Inilah sebabnya: untuk menampung lebih banyak pengalaman berikutnya. Beberapa orang tak dapat menikmati lebih banyak kebahagiaan karena mereka terlalu kecil, pikiran mereka terlalu kecil, kegiatan mereka terlalu kecil, mimpi mereka terlalu kecil, kemampuan mereka untuk membagikan terlalu kecil, mereka sama sekali terlalu kecil dalam segala hal. Mereka tak dapat menampung banyak karena mereka terlalu kecil.
Namun semakin besar anda, semakin banyak anda akan menerima. Ketika kebahagiaan dicurahkan keluar, anda akan menerima lebih banyak kebahagiaan. Ketika sukacita dibagikan kepada banyak orang, anda akan mendapat sukacita lebih banyak. Jika anda membagikan apa yang anda miliki, anda akan semakin besar dan semakin besar dan semakin besar.
Nah, beberapa orang bukan hanya terlalu kecil, tetapi mereka juga menjungkirkan gelas mereka menghadap ke bawah. Sulit menerima sesuatu. Namun inilah yang anda lakukan dengan membaca artikel ini. Anda telah datang dengan pikiran terbuka, kesadaran terbuka, siap untuk menerima, dan saya berjanji kepada anda untuk terus membagikan segala sesuatu yang kami punya melalui setiap artikel untuk menjadi manfaat bagi anda. Ditulis oleh Jim Rohn, diterjemahkan oleh Hadi Kristadi pada tanggal 27 Mei 2009 untuk Pentas Kesaksian, http://pentas-kesaksian.blogspot.com. Mohon keterangan ini jangan dihilangkan ketika anda memforwardnya atau memostingnya di website atau blog anda. Terima kasih banyak.
Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com
kesaksian hidup - #inspiring story - #kisah nyata - #mukjizat kehidupan - #sign and wonders - #miracles - inspirational christian story - nice story - true story - inspirational touching story - an amazing story: kisah orang biasa dengan pengalaman luar biasa - ordinary people living the extra-ordinary lives
Search This Blog
Friday, May 29, 2009
Thursday, May 28, 2009
God Is Real (1)
Tuhan itu Nyata
Kesaksian ini tentang Ibu Lidya Dewi Yana atau Ibu Dewi Witono beserta keluarga besarnya yang diambil dari Buku "Tuhan itu Nyata", terbitan Bethlehem, 2009. Kesaksiannya bagus, sayang bahasanya agak blepotan, karena buku ini ditulis dari bahasa lisan tanpa diedit dengan baik oleh penerbitnya. Dalam kesaksian ini saya edit seperlunya agar enak dibaca.
Nama saya Lidya Dewi Yana, lahir tahun 1948, mempunyai suami, tiga anak dan menantu, delapan cucu, satu menantu cucu, dan satu cicit. Saya dilahirkan di sebuah keluarga kaya. Keluarga besar ayah saya semuanya adalah eksportir karet. Saya tumbuh sebagai anak manja yang sangat disayang. Saya adalah orang yang mau menang sendiri, tidak pernah mau mengalah, tidak mau mengerti orang lain. Saya selalu ingin mendapatkan apa yang saya inginkan. Di dalam keluarga saya ayah suka menikah. Dia mempunyai beberapa wanita simpanan. Ibu saya suka main kartu mahyong. Saya tumbuh di tengah keluarga yang suka bertengkar.
Ketika saya lulus SMA saya menikah dengan seorang pemuda tampan. Gaya kehidupan mertua saya sangat kuno, sedangkan kehidupan saya modern dan bebas. Karena dua latar belakang yang berbeda ini, timbullah pertengkaran hebat antara saya dengan mertua. Di mata mereka saya adalah menantu yang kurang ajar, sehingga pada puncaknya mertua mengancam suami saya: memilih saya atau memilih orangtua suami. Saya membujuk suami saya agar memilih saya. Saya katakan, jika dia memilih saya, saya akan pergi kemanapun dia ingin pergi. Apapun akan saya lakukan demi suami. Akhirnya suami memilih berpisah dari orangtuanya. Pada saat itu saya memendam kebencian yang mendalam dan menyimpan kemarahan yang besar terhadap mertua saya.
Dalam perjalanan hidup dengan suami, saya bertumbuh menjadi seseorang yang hanya punya satu tujuan, yaitu mencari uang sebanyak-banyaknya. Saya ingin menunjukkan kepada mertua saya bahwa saya adalah menantu yang pandai mencari uang dan mempunyai uang banyak. Bisnis saya memang berhasil. Saya sering bepergian ke Singapura, Hongkong, atau Tokyo. Namun dalam rumah tangga saya, yang terjadi adalah pertengkaran demi pertengkaran. Anak-anak saya bertumbuh dalam lingkungan keluarga yang kacau karena saya jarang ada di rumah. Mereka bertumbuh tanpa kasih, kepedulian, dan perhatian orang tua mereka. Sebagai mama, saya bukanlah mama yang baik tetapi mama yang egoistis yang selalu mencari uang. Saya masih ingat, ketika anak-anak datang untuk menceritakan tentang sekolah mereka atau apapun juga, maka saya selalu menolak dan menyuruh mereka langsung datang ke kasir untuk mendapatkan uang. Saya tidak pernah mengantar anak ke sekolah. Saya tidak pernah tahu apa kebutuhan mereka. Lebih parahnya, ketika anak saya sakit, saya tak ada waktu untuk menjaga atau merawat mereka karena waktu itu saya sedang ada di luar negeri. Jangan heran apabila anak-anak lelaki saya menjadi nakal, terjerat narkoba, masuk dalam kehidupan seksual yang bebas. Mereka hancur-hancuran dan berantakan sekali karena kekurangan cinta kasih orang tua mereka.
Terhadap suami saya adalah istri yang mau menang sendiri. Saya merasa lebih pandai dari pada suami saya. Saya merasa suami saya ada di bawah saya. Setiap proyek bisnis, saya dapatkan sendiri tanpa pertolongan suami. Saya merasa menjadi orang yang super dan hebat. Saat itu saya suka memelihara kuku tangan yang panjang, dengan tujuan jika sedang marah dengan suami saya dapat mencakarnya dengan kuku saya. Waktu itu orang melihat saya sebagai figur yang eksklusif, kaya, cantik, pandai, serba bisa, dan berpenampilan elit. Saya tidak mau sembarangan bergaul dengan orang yang tidak selevel dengan saya. Saya mengukur orang dari kedudukan, pangkat dan kekayaan. Kalau seseorang tidak menguntungkan saya, maka saya menganggap bergaul dengan mereka hanya membuang-buang waktu saja. Saya pandai bergaul dengan para pejabat di pemerintahan, kepolisian, kejaksaan, bankir dan lain-lain. Jika ada orang mempunyai masalah dan ingin menyelesaikan masalah bisnis atau perkara hukum, mereka biasanya mencari saya. Asal pembayarannya cocok, saya akan bantu mereka melobi kepada para pejabat yang saya kenal baik. Saya biasa mengenakan baju, sepatu, dan tas mahal. Saya memakai perhiasan emas dan berlian, serta mengendarai mobil mewah. Waktu itu saya bangga sekali karena rasanya di Banjarmasin tidak ada orang yang tidak kenal siapa saya. Saya suka hura-hura, pesta dan dansa di nite club. Saya tidak sadar bahwa semua itu merupakan kehidupan yang semu. Suatu kehidupan dimana semua itu tidak ada artinya.
Sementara itu, hobby suami saya adalah berjudi di kasino. Biasanya saya mau menemani dia berjudi asalkan dia mau menemani saya dugem di klub malam. Dengan latar belakang kehidupan keluarga yang hancur-hancuran di dalam, nampak terlihat hebat di luar, bagaimana Tuhan mengubah kehidupan kami, sehingga saat ini saya dan suami menjadi pendeta, ketiga anak saya semuanya menjadi pendeta, menantu saya juga pendeta, suaminya cucu saya juga pendeta. Ada dua belas orang dalam keluarga besar kami yang menjadi pendeta atau melayani Tuhan di gereja. Luar biasa ya, Tuhan itu? Bagaimana kisah pertobatan kami, nantikan kisah berikutnya. (Bersambung)
Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com
Kesaksian ini tentang Ibu Lidya Dewi Yana atau Ibu Dewi Witono beserta keluarga besarnya yang diambil dari Buku "Tuhan itu Nyata", terbitan Bethlehem, 2009. Kesaksiannya bagus, sayang bahasanya agak blepotan, karena buku ini ditulis dari bahasa lisan tanpa diedit dengan baik oleh penerbitnya. Dalam kesaksian ini saya edit seperlunya agar enak dibaca.
Nama saya Lidya Dewi Yana, lahir tahun 1948, mempunyai suami, tiga anak dan menantu, delapan cucu, satu menantu cucu, dan satu cicit. Saya dilahirkan di sebuah keluarga kaya. Keluarga besar ayah saya semuanya adalah eksportir karet. Saya tumbuh sebagai anak manja yang sangat disayang. Saya adalah orang yang mau menang sendiri, tidak pernah mau mengalah, tidak mau mengerti orang lain. Saya selalu ingin mendapatkan apa yang saya inginkan. Di dalam keluarga saya ayah suka menikah. Dia mempunyai beberapa wanita simpanan. Ibu saya suka main kartu mahyong. Saya tumbuh di tengah keluarga yang suka bertengkar.
Ketika saya lulus SMA saya menikah dengan seorang pemuda tampan. Gaya kehidupan mertua saya sangat kuno, sedangkan kehidupan saya modern dan bebas. Karena dua latar belakang yang berbeda ini, timbullah pertengkaran hebat antara saya dengan mertua. Di mata mereka saya adalah menantu yang kurang ajar, sehingga pada puncaknya mertua mengancam suami saya: memilih saya atau memilih orangtua suami. Saya membujuk suami saya agar memilih saya. Saya katakan, jika dia memilih saya, saya akan pergi kemanapun dia ingin pergi. Apapun akan saya lakukan demi suami. Akhirnya suami memilih berpisah dari orangtuanya. Pada saat itu saya memendam kebencian yang mendalam dan menyimpan kemarahan yang besar terhadap mertua saya.
Dalam perjalanan hidup dengan suami, saya bertumbuh menjadi seseorang yang hanya punya satu tujuan, yaitu mencari uang sebanyak-banyaknya. Saya ingin menunjukkan kepada mertua saya bahwa saya adalah menantu yang pandai mencari uang dan mempunyai uang banyak. Bisnis saya memang berhasil. Saya sering bepergian ke Singapura, Hongkong, atau Tokyo. Namun dalam rumah tangga saya, yang terjadi adalah pertengkaran demi pertengkaran. Anak-anak saya bertumbuh dalam lingkungan keluarga yang kacau karena saya jarang ada di rumah. Mereka bertumbuh tanpa kasih, kepedulian, dan perhatian orang tua mereka. Sebagai mama, saya bukanlah mama yang baik tetapi mama yang egoistis yang selalu mencari uang. Saya masih ingat, ketika anak-anak datang untuk menceritakan tentang sekolah mereka atau apapun juga, maka saya selalu menolak dan menyuruh mereka langsung datang ke kasir untuk mendapatkan uang. Saya tidak pernah mengantar anak ke sekolah. Saya tidak pernah tahu apa kebutuhan mereka. Lebih parahnya, ketika anak saya sakit, saya tak ada waktu untuk menjaga atau merawat mereka karena waktu itu saya sedang ada di luar negeri. Jangan heran apabila anak-anak lelaki saya menjadi nakal, terjerat narkoba, masuk dalam kehidupan seksual yang bebas. Mereka hancur-hancuran dan berantakan sekali karena kekurangan cinta kasih orang tua mereka.
Terhadap suami saya adalah istri yang mau menang sendiri. Saya merasa lebih pandai dari pada suami saya. Saya merasa suami saya ada di bawah saya. Setiap proyek bisnis, saya dapatkan sendiri tanpa pertolongan suami. Saya merasa menjadi orang yang super dan hebat. Saat itu saya suka memelihara kuku tangan yang panjang, dengan tujuan jika sedang marah dengan suami saya dapat mencakarnya dengan kuku saya. Waktu itu orang melihat saya sebagai figur yang eksklusif, kaya, cantik, pandai, serba bisa, dan berpenampilan elit. Saya tidak mau sembarangan bergaul dengan orang yang tidak selevel dengan saya. Saya mengukur orang dari kedudukan, pangkat dan kekayaan. Kalau seseorang tidak menguntungkan saya, maka saya menganggap bergaul dengan mereka hanya membuang-buang waktu saja. Saya pandai bergaul dengan para pejabat di pemerintahan, kepolisian, kejaksaan, bankir dan lain-lain. Jika ada orang mempunyai masalah dan ingin menyelesaikan masalah bisnis atau perkara hukum, mereka biasanya mencari saya. Asal pembayarannya cocok, saya akan bantu mereka melobi kepada para pejabat yang saya kenal baik. Saya biasa mengenakan baju, sepatu, dan tas mahal. Saya memakai perhiasan emas dan berlian, serta mengendarai mobil mewah. Waktu itu saya bangga sekali karena rasanya di Banjarmasin tidak ada orang yang tidak kenal siapa saya. Saya suka hura-hura, pesta dan dansa di nite club. Saya tidak sadar bahwa semua itu merupakan kehidupan yang semu. Suatu kehidupan dimana semua itu tidak ada artinya.
Sementara itu, hobby suami saya adalah berjudi di kasino. Biasanya saya mau menemani dia berjudi asalkan dia mau menemani saya dugem di klub malam. Dengan latar belakang kehidupan keluarga yang hancur-hancuran di dalam, nampak terlihat hebat di luar, bagaimana Tuhan mengubah kehidupan kami, sehingga saat ini saya dan suami menjadi pendeta, ketiga anak saya semuanya menjadi pendeta, menantu saya juga pendeta, suaminya cucu saya juga pendeta. Ada dua belas orang dalam keluarga besar kami yang menjadi pendeta atau melayani Tuhan di gereja. Luar biasa ya, Tuhan itu? Bagaimana kisah pertobatan kami, nantikan kisah berikutnya. (Bersambung)
Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com
Sex Before Marriage
Tubuhnya yang kecil serta wajahnya yang naif, tak dapat menyembunyikan usianya yang memang baru belasan. Tepatnya, 16 tahun. Bagi saya, "anak" ini mewakili generasi sebayanya. Mungkin tak semuanya, namun paling sedikitnya sebagian dari mereka.
Pagi itu ia -- sebut saja namanya "Irene" -- datang, meminta agar pernikahannya dapat diberkati digereja. Tentu saja saya terkejut. Saya mengenal benar "anak" ini. Ia pernah jadi "anak didik" saya.
"Mengapa begitu cepat? Dan mengapa begitu tiba-tiba?"
"Saya sudah hamil empat bulan,pak,"
"Hamil? Empat bulan?"
"Ya, pak."
"Apa yang terjadi? Dengan siapa?" Lalu ia pun bercerita. Bla bla bla. Tanpa beban. Setelah itu, giliran saya ber"khotbah". Bla bla bla. Sangat penasaran.
Akhirnya saya bertanya, "Apa kamu tidak menyesal?"
"Menyesal sih menyesal, pak."
"Menyesal karena apa yang telah kalian lakukan, atau sekadar karena kamu hamil?"
"Ya terutama karena saya hamil, pak. Sebab sebenarnya saya 'kan masih pengen sekolah, pak."
"Itu artinya kamu tidak menyesal karena "dosa" yang telah kamu lakukan. Begitu, bukan?" tanya saya - wah, gemasnya!
"Yah, namanya juga anak muda, pak," jawabnya. Enteng sekali.
Saya setuju dengan Barclay yang mengatakan, bahwa etika Kristen harus berbicara mengenai masalah "seks pra-nikah" ini dengan serius. Bukan saja karena jumlahnya semakin banyak, tetapi terutama karena kegiatan seksual ini-- dengan lambat, tapi pasti -- kian menahbiskan diri sebagai kegiatan seksual yang "normal". Sekiranya tidak terjadi wabah HIV/AIDS, kecenderungan ini pasti kian tak terbendung.
Namun begitu, banyak orang toh memilih diam atau sekadar mencaci-maki tak keruan. Orang-orang yang menolak seks pra-nikah dengan sepenuh keyakinan kian terpinggirkan. Karenanya, enggan menampilkan posisinya dengan lantang dan terus terang.
Di Barat, sejak puluhan tahun silam, malah muncul teolog-teolog kristen yang justru membela praktik ini. Salah satunya yang paling terkenal adalah Joseph Fletcher. Profesor etika Kristen ini antara lain menulis,"Kultus keperawanan agaknya akan menjadi benteng perlawanan terakhir terhadap kebebasan seks, dan pasti akan ambruk. Sebab kini, berkat perkembangan di bidang kedokteran, orang bisa bebas melakukan kegiatan seksualnya tanpa dibayangi ketakutan seperti sebelumnya".
Memang tidak semua yang dikatakan Fletcher itu salah. Namun, saya mohon, jangan pula pandangan-pandangannya itu kita telan bulat-bulat. Sebab tidak semua yang walaupun dikatakan oleh seorang profesor, bermanfaat bagi kekristenan.
Ini telah diingatkan oleh seorang teolog lain, Malcolm Muggeridge, yang mengatakan, "Kita telah membiarkan seniman-seniman kita dengan bebas menghancurkan kesenian; penulis-penulis kita menghancurkan kesusastraan; sarjana-sarjana kita menghancurkan keilmuwanan; dan agamawan-agamawan kita menghancurkan agama. Kita mengembang-biakkan barbarian di rumah kita sendiri".
Kebungkaman banyak orang terhadap masalah seks pra-nikah, adalah ke"diam"an yang berbahaya. Seperti diilustrasikan oleh eksperimen terkenal dari seorang psikolog, Profesor John Court.
Seekor katak ia taruh di sebuah wadah yang berisi air dingin. Pelahan-pelahan sekali, suhu air itu dinaikkan. Sedikit demi sedikit, sampai akhirnya ke titik didih. Namun yang mengherankan adalah, katak itu kalem-kalem saja. Tak sedikit pun ia berusaha menyelamatkan diri. Rupanya proses perubahan itu berlangsung begitu lambatnya, sehingga katak itu nyaris tak merasakan apa-apa. Karena ke"diam"annya itulah, ia mati.
Apa yang disebut sebagai "revolusi seks", juga demikian. Ia terjadi dengan bergugurannya "tabu-tabu" - tidak sekaligus, melainkan satu demi satu. Tidak kentara. Eksperimen di atas mengingatkan, justru karena itulah "revolusi" ini layak kita cermati dengan serius. Sebelum kita terkejut, lalu cuma bisa tergagap-gagap. Ditulis oleh Alm. Pdt. Dr. Eka Darmaputera, kiriman dari Elia Stories.
Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com
Pagi itu ia -- sebut saja namanya "Irene" -- datang, meminta agar pernikahannya dapat diberkati digereja. Tentu saja saya terkejut. Saya mengenal benar "anak" ini. Ia pernah jadi "anak didik" saya.
"Mengapa begitu cepat? Dan mengapa begitu tiba-tiba?"
"Saya sudah hamil empat bulan,pak,"
"Hamil? Empat bulan?"
"Ya, pak."
"Apa yang terjadi? Dengan siapa?" Lalu ia pun bercerita. Bla bla bla. Tanpa beban. Setelah itu, giliran saya ber"khotbah". Bla bla bla. Sangat penasaran.
Akhirnya saya bertanya, "Apa kamu tidak menyesal?"
"Menyesal sih menyesal, pak."
"Menyesal karena apa yang telah kalian lakukan, atau sekadar karena kamu hamil?"
"Ya terutama karena saya hamil, pak. Sebab sebenarnya saya 'kan masih pengen sekolah, pak."
"Itu artinya kamu tidak menyesal karena "dosa" yang telah kamu lakukan. Begitu, bukan?" tanya saya - wah, gemasnya!
"Yah, namanya juga anak muda, pak," jawabnya. Enteng sekali.
Saya setuju dengan Barclay yang mengatakan, bahwa etika Kristen harus berbicara mengenai masalah "seks pra-nikah" ini dengan serius. Bukan saja karena jumlahnya semakin banyak, tetapi terutama karena kegiatan seksual ini-- dengan lambat, tapi pasti -- kian menahbiskan diri sebagai kegiatan seksual yang "normal". Sekiranya tidak terjadi wabah HIV/AIDS, kecenderungan ini pasti kian tak terbendung.
Namun begitu, banyak orang toh memilih diam atau sekadar mencaci-maki tak keruan. Orang-orang yang menolak seks pra-nikah dengan sepenuh keyakinan kian terpinggirkan. Karenanya, enggan menampilkan posisinya dengan lantang dan terus terang.
Di Barat, sejak puluhan tahun silam, malah muncul teolog-teolog kristen yang justru membela praktik ini. Salah satunya yang paling terkenal adalah Joseph Fletcher. Profesor etika Kristen ini antara lain menulis,"Kultus keperawanan agaknya akan menjadi benteng perlawanan terakhir terhadap kebebasan seks, dan pasti akan ambruk. Sebab kini, berkat perkembangan di bidang kedokteran, orang bisa bebas melakukan kegiatan seksualnya tanpa dibayangi ketakutan seperti sebelumnya".
Memang tidak semua yang dikatakan Fletcher itu salah. Namun, saya mohon, jangan pula pandangan-pandangannya itu kita telan bulat-bulat. Sebab tidak semua yang walaupun dikatakan oleh seorang profesor, bermanfaat bagi kekristenan.
Ini telah diingatkan oleh seorang teolog lain, Malcolm Muggeridge, yang mengatakan, "Kita telah membiarkan seniman-seniman kita dengan bebas menghancurkan kesenian; penulis-penulis kita menghancurkan kesusastraan; sarjana-sarjana kita menghancurkan keilmuwanan; dan agamawan-agamawan kita menghancurkan agama. Kita mengembang-biakkan barbarian di rumah kita sendiri".
Kebungkaman banyak orang terhadap masalah seks pra-nikah, adalah ke"diam"an yang berbahaya. Seperti diilustrasikan oleh eksperimen terkenal dari seorang psikolog, Profesor John Court.
Seekor katak ia taruh di sebuah wadah yang berisi air dingin. Pelahan-pelahan sekali, suhu air itu dinaikkan. Sedikit demi sedikit, sampai akhirnya ke titik didih. Namun yang mengherankan adalah, katak itu kalem-kalem saja. Tak sedikit pun ia berusaha menyelamatkan diri. Rupanya proses perubahan itu berlangsung begitu lambatnya, sehingga katak itu nyaris tak merasakan apa-apa. Karena ke"diam"annya itulah, ia mati.
Apa yang disebut sebagai "revolusi seks", juga demikian. Ia terjadi dengan bergugurannya "tabu-tabu" - tidak sekaligus, melainkan satu demi satu. Tidak kentara. Eksperimen di atas mengingatkan, justru karena itulah "revolusi" ini layak kita cermati dengan serius. Sebelum kita terkejut, lalu cuma bisa tergagap-gagap. Ditulis oleh Alm. Pdt. Dr. Eka Darmaputera, kiriman dari Elia Stories.
Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com
Wednesday, May 27, 2009
The Story of a Whore
Sulitnya Pertobatan Seorang Pelacur
Berkat pekerjaan Roh Kudus, seorang pelacur bertobat lalu menerima Yesus sebagai Juru Selamatnya dan dipenuhi dengan Roh Kudus pada hari itu juga. Suaminya adalah seorang pemabuk yang sangat kejam dan selalu memaksa istrinya untuk mencari uang dengan cara hidup yang berdosa guna menghidupi rumah tangga mereka. Setelah bertobat, perempuan itu pun menolak pekerjaannya yang lama, dan sebagai akibatnya suaminya menjadi sangat marah dan memukuli istrinya tanpa ampun. Setelah itu sang suami mencari saya (penulis) di tempat kebaktian yang sedang saya layani sambil membawa sebatang tongkat. Ketika ia hendak menghantam kepala saya dengan tongkat itu, yang terkena adalah tiang penopang atap yang segera roboh menimpa dirinya sendiri. Ia lalu diseret keluar oleh orang-orang.
Keesokan harinya, ia memukuli istrinya sampai pingsan. Kemudian ditelanjanginyalah perempuan yang malang itu, lalu tubuhnya yang penuh darah dilemparkan ke atas timbunan sampah. Setelah itu, ia pergi mencari saya dengan tujuan untuk membunuh saya. Waktu itu saya sedang berdoa di dekat sawah. Tiba-tiba saya mendengar langkah seseorang, dan ternyata yang datang adalah suami dari istri yang telah dianiaya tersebut. Orang itu datang dengan membawa sebilah parang siap untuk membunuh saya. Saya berdiri dan menjelaskan bahwa saya tidak bersalah kepadanya. Bila ia hendak membunuh saya dan istrinya sendiri, tidaklah menjadi soal sebab hal ini hanyalah akan mempercepat waktu kami untuk masuk ke surga. Orang itu lalu menurunkan tangannya untuk menyarungkan parangnya kembali.
Keesokan harinya, ibu pemabuk itu datang ke tempat kebaktian bersama keluarganya sambil mengunyah sirih. Ia lalu meludahkan liurnya yang merah itu ke baju dan wajah kami. Kami tetap memuji Tuhan dan melanjutkan kebaktian seperti biasa. Tetapi Tuhan menurunkan hukuman kepada mereka sehingga dalam waktu yang singkat lidah mereka pun membusuk. Pemabuk itu sendiri juga mati. Dalam waktu 3 bulan saja, matilah seluruh anggota keluarga pemabuk tersebut. Perempuan yang sudah bertobat itu lalu dapat melayani Tuhan dengan leluasa bersama putranya. Orang-orang belajar takut akan Tuhan dan gereja-gereja pun makin berkembang. Diambil dan disunting seperlunya dari buku: God's Grace to Me, penulis: S.D. Barnabas. Email kiriman dari pttwr
Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com
Berkat pekerjaan Roh Kudus, seorang pelacur bertobat lalu menerima Yesus sebagai Juru Selamatnya dan dipenuhi dengan Roh Kudus pada hari itu juga. Suaminya adalah seorang pemabuk yang sangat kejam dan selalu memaksa istrinya untuk mencari uang dengan cara hidup yang berdosa guna menghidupi rumah tangga mereka. Setelah bertobat, perempuan itu pun menolak pekerjaannya yang lama, dan sebagai akibatnya suaminya menjadi sangat marah dan memukuli istrinya tanpa ampun. Setelah itu sang suami mencari saya (penulis) di tempat kebaktian yang sedang saya layani sambil membawa sebatang tongkat. Ketika ia hendak menghantam kepala saya dengan tongkat itu, yang terkena adalah tiang penopang atap yang segera roboh menimpa dirinya sendiri. Ia lalu diseret keluar oleh orang-orang.
Keesokan harinya, ia memukuli istrinya sampai pingsan. Kemudian ditelanjanginyalah perempuan yang malang itu, lalu tubuhnya yang penuh darah dilemparkan ke atas timbunan sampah. Setelah itu, ia pergi mencari saya dengan tujuan untuk membunuh saya. Waktu itu saya sedang berdoa di dekat sawah. Tiba-tiba saya mendengar langkah seseorang, dan ternyata yang datang adalah suami dari istri yang telah dianiaya tersebut. Orang itu datang dengan membawa sebilah parang siap untuk membunuh saya. Saya berdiri dan menjelaskan bahwa saya tidak bersalah kepadanya. Bila ia hendak membunuh saya dan istrinya sendiri, tidaklah menjadi soal sebab hal ini hanyalah akan mempercepat waktu kami untuk masuk ke surga. Orang itu lalu menurunkan tangannya untuk menyarungkan parangnya kembali.
Keesokan harinya, ibu pemabuk itu datang ke tempat kebaktian bersama keluarganya sambil mengunyah sirih. Ia lalu meludahkan liurnya yang merah itu ke baju dan wajah kami. Kami tetap memuji Tuhan dan melanjutkan kebaktian seperti biasa. Tetapi Tuhan menurunkan hukuman kepada mereka sehingga dalam waktu yang singkat lidah mereka pun membusuk. Pemabuk itu sendiri juga mati. Dalam waktu 3 bulan saja, matilah seluruh anggota keluarga pemabuk tersebut. Perempuan yang sudah bertobat itu lalu dapat melayani Tuhan dengan leluasa bersama putranya. Orang-orang belajar takut akan Tuhan dan gereja-gereja pun makin berkembang. Diambil dan disunting seperlunya dari buku: God's Grace to Me, penulis: S.D. Barnabas. Email kiriman dari pttwr
Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com
Tuesday, May 26, 2009
Not Everyone who Talks about God comes from God
"My dear friends, don't believe everything you hear. Carefully weigh and examine what people tell you. Not everyone who talks about God comes from God." (1 John 4:1 - The Message)
"Sahabatku yang kekasih, jangan percaya pada segala sesuatu yang engkau dengar. Pertimbangkanlah dan ujilah dengan seksama apa yang orang katakan kepadamu. Tidak semua orang yang berkata-kata tentang Tuhan datang dari Tuhan." (1 Yohanes 4:1 - Terjemahan dari Alkitab versi The Message)
Tadi malam saya melihat tayangan Bukan Empat Mata yang salah satu bintang tamunya adalah Ratna Listi, artis, dengan topik Indra Keenam dan hal-hal supranatural. Ratna mengaku mendalami Reiki. Dia mengaku menyerap enerji ilahi dari alam semesta untuk penyembuhan dan untuk mengetahui hal-hal yang akan datang. Dia mengaku mempunyai saluran dengan Tuhan sehingga memiliki kekuatan supranatural. Dia sangat yakin bahwa kekuatan itu datangnya dari Tuhan.
Ayat yang saya baca pagi ini mengingatkan kita, "Tidak semua orang yang berkata-kata tentang Tuhan berasal dari Tuhah." Ilmu-ilmu yang membuat orang menjadi seperti Tuhan sehingga memiliki kuasa supranatural memang sepertinya berasal dari Tuhan, namun sejak awal di Taman Eden iblis menggunakan cara yang klasik, mengajak manusia menjadi seperti Allah. Jika Hawa dahulu terperdaya, sekarang ribuan orang berbondong-bondong ingin menjadi seperti Allah, meraih enerji ilahi (begitulah kata pawang Reiki) untuk mendapatkan kesembuhan, kedamaian, dan lain-lain. Sayangnya, banyak orang tertipu seperti Hawa telah tertipu. Sayangnya, banyak orang belum merasa tertipu, sampai mereka berdiri di depan pengadilan Tuhan.
Ditulis/diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com
"Sahabatku yang kekasih, jangan percaya pada segala sesuatu yang engkau dengar. Pertimbangkanlah dan ujilah dengan seksama apa yang orang katakan kepadamu. Tidak semua orang yang berkata-kata tentang Tuhan datang dari Tuhan." (1 Yohanes 4:1 - Terjemahan dari Alkitab versi The Message)
Tadi malam saya melihat tayangan Bukan Empat Mata yang salah satu bintang tamunya adalah Ratna Listi, artis, dengan topik Indra Keenam dan hal-hal supranatural. Ratna mengaku mendalami Reiki. Dia mengaku menyerap enerji ilahi dari alam semesta untuk penyembuhan dan untuk mengetahui hal-hal yang akan datang. Dia mengaku mempunyai saluran dengan Tuhan sehingga memiliki kekuatan supranatural. Dia sangat yakin bahwa kekuatan itu datangnya dari Tuhan.
Ayat yang saya baca pagi ini mengingatkan kita, "Tidak semua orang yang berkata-kata tentang Tuhan berasal dari Tuhah." Ilmu-ilmu yang membuat orang menjadi seperti Tuhan sehingga memiliki kuasa supranatural memang sepertinya berasal dari Tuhan, namun sejak awal di Taman Eden iblis menggunakan cara yang klasik, mengajak manusia menjadi seperti Allah. Jika Hawa dahulu terperdaya, sekarang ribuan orang berbondong-bondong ingin menjadi seperti Allah, meraih enerji ilahi (begitulah kata pawang Reiki) untuk mendapatkan kesembuhan, kedamaian, dan lain-lain. Sayangnya, banyak orang tertipu seperti Hawa telah tertipu. Sayangnya, banyak orang belum merasa tertipu, sampai mereka berdiri di depan pengadilan Tuhan.
Ditulis/diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com
The Law of Garbage Truck
Hukum Truk Sampah
Suatu hari saya naik sebuah taxi dan menuju ke Bandara. Kami melaju pada jalur yang benar ketika tiba-tiba sebuah mobil hitam melompat keluar dari tempat parkir tepat di depan kami. Supir taxi menginjak pedal rem dalam-dalam hingga ban mobil berdecit dan berhenti hanya beberapa cm dari mobil tersebut.
Pengemudi mobil hitam tersebut mengeluarkan kepalanya &mulai menjerit ke arah kami. Supir taxi hanya tersenyum & melambai pada orang orang tersebut. Saya benar-benar heran dengan sikapnya yang bersahabat. Maka saya bertanya, "Mengapa anda melakukannya? Orang itu hampir merusak mobil anda dan dapat saja mengirim kita ke rumah sakit!" Saat itulah saya belajar dari supir taxi tersebut mengenai apa yang saya kemudian sebut "Hukum Truk Sampah". Ia menjelaskan bahwa banyak orang seperti truk sampah. Mereka berjalan keliling membawa sampah, seperti frustrasi, kemarahan, kekecewaan.. Seiring dengan semakin penuh kapasitasnya, semakin mereka membutuhkan tempat untuk membuangnya, & seringkali mereka membuangnya kepada anda. Jangan ambil hati, tersenyum saja, lambaikan tangan, berkati mereka, lalu lanjutkan hidup.
Jangan ambil sampah mereka untuk kembali membuangnya kepada orang lain yang anda temui, di tempat kerja, di rumah atau dalam perjalanan. Intinya, orang yang sukses adalah orang yang tidak membiarkan "truk sampah" mengambil alih hari-hari mereka dengan merusak suasana hati.
Hidup ini terlalu singkat untuk bangun di pagi hari dengan penyesalan, maka: Kasihilah orang yang memperlakukan anda dengan benar, berdoalah bagi yang tidak.Hidup itu 10% mengenai apa yang kau buat dengannya dan 90% tentang bagaimana kamu menghadapinya. Hidup bukan mengenai menunggu badai berlalu, tapi tentang bagaimana belajar menari dalam hujan.
Selamat menikmati hidup yang diberkati & bebas dari "sampah". Email dari pttwr/lily.
Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com
Suatu hari saya naik sebuah taxi dan menuju ke Bandara. Kami melaju pada jalur yang benar ketika tiba-tiba sebuah mobil hitam melompat keluar dari tempat parkir tepat di depan kami. Supir taxi menginjak pedal rem dalam-dalam hingga ban mobil berdecit dan berhenti hanya beberapa cm dari mobil tersebut.
Pengemudi mobil hitam tersebut mengeluarkan kepalanya &mulai menjerit ke arah kami. Supir taxi hanya tersenyum & melambai pada orang orang tersebut. Saya benar-benar heran dengan sikapnya yang bersahabat. Maka saya bertanya, "Mengapa anda melakukannya? Orang itu hampir merusak mobil anda dan dapat saja mengirim kita ke rumah sakit!" Saat itulah saya belajar dari supir taxi tersebut mengenai apa yang saya kemudian sebut "Hukum Truk Sampah". Ia menjelaskan bahwa banyak orang seperti truk sampah. Mereka berjalan keliling membawa sampah, seperti frustrasi, kemarahan, kekecewaan.. Seiring dengan semakin penuh kapasitasnya, semakin mereka membutuhkan tempat untuk membuangnya, & seringkali mereka membuangnya kepada anda. Jangan ambil hati, tersenyum saja, lambaikan tangan, berkati mereka, lalu lanjutkan hidup.
Jangan ambil sampah mereka untuk kembali membuangnya kepada orang lain yang anda temui, di tempat kerja, di rumah atau dalam perjalanan. Intinya, orang yang sukses adalah orang yang tidak membiarkan "truk sampah" mengambil alih hari-hari mereka dengan merusak suasana hati.
Hidup ini terlalu singkat untuk bangun di pagi hari dengan penyesalan, maka: Kasihilah orang yang memperlakukan anda dengan benar, berdoalah bagi yang tidak.Hidup itu 10% mengenai apa yang kau buat dengannya dan 90% tentang bagaimana kamu menghadapinya. Hidup bukan mengenai menunggu badai berlalu, tapi tentang bagaimana belajar menari dalam hujan.
Selamat menikmati hidup yang diberkati & bebas dari "sampah". Email dari pttwr/lily.
Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com
Monday, May 25, 2009
My Last Email
Pada tanggal 15 Mei yang lampau di televisi NBC ditayangkan film "Farrah's Story". Satu film kisah nyata yang sangat mengharukan mengenai perjuangan bintang film Charlie's Angel, Farrah Fawcett (62) dalam melawan kanker anal. Farrah didiagnosa mengidap kanker sejak 2,5 tahun yang lampau. Berat badannya sekarang ini hanya 39 kg. Mantan suaminya Ryan O'Neal menyatakan, bahwa keadaan Farrah sudah benar-benar sekarat, sehingga hanya tinggal menunggu hari kematiannya saja.
O'Neal berbicara sambil berlinang air mata mengenai hari-hari yang harus ia lewati tanpa Fawcett. "Setelah menjalani kemoterapi rambutnya yang terkenal indah dan panjang itu sudah rontok habis semua. Saya masih menyimpannya sebagian di rumah, walaupun ia sudah tak mempedulikannya lagi," pungkas O'Neal
Ini kali O'Neal merasa tidak mampu untuk dapat memainkan peran "Love Story" di dalam kehidupan nyata sekarang ini. Beda ketika ia memerankan kisah yang serupa dalam film "Love Story" (1970) dimana dikisahkan istrinya meninggal dalam pelukan tangannya, karena di gerogoti kanker darah leukami. Dan anehnya pula, di dalam kehidupannya sendiri pada tahun 2001; O'Neal juga dinyatakan menderita penyakit leukaemia.
Aktor Patrick Swayze, yang membintangi film laris Dirty Dancing dan Ghost, juga menderita kanker pankreas. Perlu diketahui bahwa kanker pankreas adalah salah satu yang paling mematikan di antara semua jenis tumor.
Entah Farrah Fawcett maupun Patrich Swayze, mereka mengharapkan agar bisa terjadi mukjizat yang dapat menyembuhkan mereka. Hanya sayangnya, walaupun mukjizat apapun yang terjadi; mereka tidak akan bisa lolos dari cengkeraman maut, sebab ini sudah merupakan takdir yang tidak bisa ditawar maupun dihindari lagi bagi setiap orang. Mukjizat hanya bisa memperpanjang usia seseorang untuk sejenak waktu saja.
Percayalah, bagi mereka berdua, walaupun sudah memiliki uang berjibun, dan nama sudah beken selangit, anugerah yang paling indah dan yang paling berharga adalah kehidupan. Mereka setiap hari akan sangat berterima kasih dan bersyukur, apabila di hari esok, mereka masih bisa menikmati terbitnya matahari di waktu pagi. Hal ini akan terjadi bagi setiap orang, kenapa tidak dari sekarang kita mensyukuri untuk anugerah ini?
Kematian bisa saja datang menjemput saya entah itu esok ataupun 10 tahun lagi. Hal inilah yang menggerakan saya untuk menulis surat kematian, sebab setelah saya mati kemungkinan ini tidak akan ada lagi. Jadi apa salahnya selama saya masih hidup untuk menyiapkan surat kematian tersebut.
Email surat kematian kita bisa dikirimkan entah dalam kurun waktu 25 tahun mendatang ataupun 10 tahun lagi. Kita bisa mengirimkan email surat kematian ke milis atau entah kepada siapapun juga di tahun 2035 yang akan datang secara otomatis melalui: www.futureme.org Disamping itu kita pun dapat mengatur prosedur acara perkabungan kematian kita secara maya (virtual) melalui www.mylastemail.com Disitu kita bisa menentukan teks dari iklan kematian ataupun memberikan saran teks apa saja yang sebaiknya ditulis diatas batu nisan kita.
Pernahkan terenungkan oleh Anda, hal-hal apa saja yang ingin Anda tulis atau beritahu kepada orang-orang yang Anda kasihi pada saat menjelang ajal tiba ataupun setelah Anda meninggal dunia? Atau kepada siapa saja Anda ingin mengirim email setelah Anda meninggal dunia? (Ditulis oleh Mang Ucup)
Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com
O'Neal berbicara sambil berlinang air mata mengenai hari-hari yang harus ia lewati tanpa Fawcett. "Setelah menjalani kemoterapi rambutnya yang terkenal indah dan panjang itu sudah rontok habis semua. Saya masih menyimpannya sebagian di rumah, walaupun ia sudah tak mempedulikannya lagi," pungkas O'Neal
Ini kali O'Neal merasa tidak mampu untuk dapat memainkan peran "Love Story" di dalam kehidupan nyata sekarang ini. Beda ketika ia memerankan kisah yang serupa dalam film "Love Story" (1970) dimana dikisahkan istrinya meninggal dalam pelukan tangannya, karena di gerogoti kanker darah leukami. Dan anehnya pula, di dalam kehidupannya sendiri pada tahun 2001; O'Neal juga dinyatakan menderita penyakit leukaemia.
Aktor Patrick Swayze, yang membintangi film laris Dirty Dancing dan Ghost, juga menderita kanker pankreas. Perlu diketahui bahwa kanker pankreas adalah salah satu yang paling mematikan di antara semua jenis tumor.
Entah Farrah Fawcett maupun Patrich Swayze, mereka mengharapkan agar bisa terjadi mukjizat yang dapat menyembuhkan mereka. Hanya sayangnya, walaupun mukjizat apapun yang terjadi; mereka tidak akan bisa lolos dari cengkeraman maut, sebab ini sudah merupakan takdir yang tidak bisa ditawar maupun dihindari lagi bagi setiap orang. Mukjizat hanya bisa memperpanjang usia seseorang untuk sejenak waktu saja.
Percayalah, bagi mereka berdua, walaupun sudah memiliki uang berjibun, dan nama sudah beken selangit, anugerah yang paling indah dan yang paling berharga adalah kehidupan. Mereka setiap hari akan sangat berterima kasih dan bersyukur, apabila di hari esok, mereka masih bisa menikmati terbitnya matahari di waktu pagi. Hal ini akan terjadi bagi setiap orang, kenapa tidak dari sekarang kita mensyukuri untuk anugerah ini?
Kematian bisa saja datang menjemput saya entah itu esok ataupun 10 tahun lagi. Hal inilah yang menggerakan saya untuk menulis surat kematian, sebab setelah saya mati kemungkinan ini tidak akan ada lagi. Jadi apa salahnya selama saya masih hidup untuk menyiapkan surat kematian tersebut.
Email surat kematian kita bisa dikirimkan entah dalam kurun waktu 25 tahun mendatang ataupun 10 tahun lagi. Kita bisa mengirimkan email surat kematian ke milis atau entah kepada siapapun juga di tahun 2035 yang akan datang secara otomatis melalui: www.futureme.org Disamping itu kita pun dapat mengatur prosedur acara perkabungan kematian kita secara maya (virtual) melalui www.mylastemail.com Disitu kita bisa menentukan teks dari iklan kematian ataupun memberikan saran teks apa saja yang sebaiknya ditulis diatas batu nisan kita.
Pernahkan terenungkan oleh Anda, hal-hal apa saja yang ingin Anda tulis atau beritahu kepada orang-orang yang Anda kasihi pada saat menjelang ajal tiba ataupun setelah Anda meninggal dunia? Atau kepada siapa saja Anda ingin mengirim email setelah Anda meninggal dunia? (Ditulis oleh Mang Ucup)
Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com
Saturday, May 23, 2009
Forgiveness
Amy Biehl, 26 tahun, tewas mengenaskan di tangan empat pemuda kulit hitam saat melakukan pekerjaan kemanusiaan di Afrika Selatan. Peter dan Linda Biehl, orangtua Amy, berkunjung ke Afrika Selatan untuk melihat tempat di mana Amy terbunuh. Mereka pun tiba di Guguletu, daerah kumuh tempat para pemuda pembunuh Amy tinggal dan dibesarkan. Melihat kondisi daerah itu, mereka memahami mengapa para pemuda itu tumbuh menjadi pelaku kriminal.
Mereka kemudian mendirikan Yayasan Amy Biehl. Yayasan ini didirikan agar mereka dapat memberikan pelatihan bagi para pemuda Guguletu. Tidak hanya itu, tahun 1998, Peter dan Linda juga menerima Easy Nofomela dan Ntebecko Penny, dua dari empat pembunuh Amy, ke dalam program pelatihan mereka. "Dengan mengampuni, kami telah membebaskan diri kami sendiri," begitu Peter Biehl berkata kepada wartawan yang mewawancarainya.
Ya, pengampunan itu membebaskan. Bukan hanya membebaskan si pelaku dari rasa bersalah, tetapi juga membebaskan kita dari rasa benci, dendam, dan akar pahit. Tidak heran kalau pengampunan menjadi salah satu tema penting dalam Alkitab. Bukan berarti kita tidak boleh marah atau kesal terhadap orang yang telah berbuat tidak baik terhadap kita. Marah tentu boleh saja, asal jangan sampai menjadi dendam. Kesal juga tidak salah, asal tidak sampai membuat kita terbakar kebencian dan berkeinginan untuk membalas. Sebab, bagaimanapun pembalasan itu bukan hak kita (Roma 12:19). Tugas kita adalah melakukan kebaikan kepada siapa pun, termasuk kepada orang yang telah menyakiti.
~~ KETIKA KITA BISA MENGAMPUNI SESEORANG PIHAK PERTAMA YANG MENDAPAT MANFAAT ADALAH DIRI KITA SENDIRI ~~
Email dari Ibu Suharti
Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com
*****
Note:
Terima kasih atas pesanan buku "Mukjizat Kehidupan" oleh Bapak F. Sidauruk, buku sudah dikirim dengan pos kilat khusus pada hari Jumat pagi 22 Mei 2009. Jika buku itu memberkati bapak, tolong rekomendasikan kepada para kolega dan relasi bapak ya. God bless you!
Mereka kemudian mendirikan Yayasan Amy Biehl. Yayasan ini didirikan agar mereka dapat memberikan pelatihan bagi para pemuda Guguletu. Tidak hanya itu, tahun 1998, Peter dan Linda juga menerima Easy Nofomela dan Ntebecko Penny, dua dari empat pembunuh Amy, ke dalam program pelatihan mereka. "Dengan mengampuni, kami telah membebaskan diri kami sendiri," begitu Peter Biehl berkata kepada wartawan yang mewawancarainya.
Ya, pengampunan itu membebaskan. Bukan hanya membebaskan si pelaku dari rasa bersalah, tetapi juga membebaskan kita dari rasa benci, dendam, dan akar pahit. Tidak heran kalau pengampunan menjadi salah satu tema penting dalam Alkitab. Bukan berarti kita tidak boleh marah atau kesal terhadap orang yang telah berbuat tidak baik terhadap kita. Marah tentu boleh saja, asal jangan sampai menjadi dendam. Kesal juga tidak salah, asal tidak sampai membuat kita terbakar kebencian dan berkeinginan untuk membalas. Sebab, bagaimanapun pembalasan itu bukan hak kita (Roma 12:19). Tugas kita adalah melakukan kebaikan kepada siapa pun, termasuk kepada orang yang telah menyakiti.
~~ KETIKA KITA BISA MENGAMPUNI SESEORANG PIHAK PERTAMA YANG MENDAPAT MANFAAT ADALAH DIRI KITA SENDIRI ~~
Email dari Ibu Suharti
Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com
*****
Note:
Terima kasih atas pesanan buku "Mukjizat Kehidupan" oleh Bapak F. Sidauruk, buku sudah dikirim dengan pos kilat khusus pada hari Jumat pagi 22 Mei 2009. Jika buku itu memberkati bapak, tolong rekomendasikan kepada para kolega dan relasi bapak ya. God bless you!
Friday, May 22, 2009
The Power of Forgiveness
Kekuatan Pengampunan
Seorang wanita berkulit hitam yang telah renta dengan pelahan bangkit berdiri di suatu ruang pengadilan di Afrika Selatan. Umurnya kira-kira 70, di wajahnya tergores penderitaan yang dialaminya bertahun-tahun. Di depan, di kursi terdakwa, duduk Mr. Van der Broek, ia telah dinyatakan bersalah telah membunuh anak laki-laki dan suami wanita itu.
Beberapa tahun yang lalu laki-laki itu datang ke rumah wanita itu. Ia mengambil anaknya, menembaknya dan membakar tubuhnya. Beberapa tahun kemudian, ia kembali lagi. Ia mengambil suaminya. Dua tahun wanita itu tidak tahu apa yang terjadi dengan suaminya. Kemudian, van der Broek kembali lagi dan mengajak wanita itu ke suatu tempat di tepi sungai. Ia melihat suaminya diikat dan disiksa. Mereka memaksa suaminya berdiri di tumpukan kayu kering dan menyiramnya dengan bensin. Kata-kata terakhir yang didengarnya ketika ia disiram bensin adalah, “Bapa, ampunilah mereka.”
Belum lama berselang, Mr. Van den Broek ditangkap dan diadili. Ia dinyatakan bersalah, dan sekarang adalah saatnya untuk menentukan hukumannya. Ketika wanita itu berdiri, hakim bertanya, “Jadi, apa yang Anda inginkan? Apa yang harus dilakukan pengadilan terhadap orang ini yang secara brutal telah menghabisi keluarga Anda?”
Wanita itu menjawab, “Saya menginginkan tiga hal. Pertama, saya ingin dibawa ke tempat suami saya dibunuh dan saya akan mengumpulkan debunya untuk menguburkannya secara terhormat.” Setelah berhenti sejenak, ia melanjutkan, “Suami dan anak saya adalah satu-satunya keluarga saya. Oleh karena itu permintaan saya kedua adalah, saya ingin Mr. Van den Broek menjadi anak saya. Saya ingin dia datang dua kali sebulan ke ghetto (perumahan orang kulit hitam) dan melewatkan waktu sehari bersama saya hingga saya dapat mencurahkan padanya kasih yang masih ada dalam diri saya.”
“Dan, akhirnya,” ia berkata, “permintaan saya yang ketiga. Saya ingin Mr. Van den Broek tahu bahwa saya memberikan maaf bagi dia karena Yesus Kristus mati untuk mengampuni. Begitu juga dengan permintaan terakhir suami saya. Oleh karena itu, bolehkah saya meminta seseorang membantu saya ke depan hingga saya dapat membawa Mr. Van den Broek ke dalam pelukan saya dan menunjukkan padanya bahwa dia benar-benar telah saya maafkan.”
Ketika petugas pengadilan membawa wanita tua itu ke depan, Mr. Van den Broek sangat terharu dengan apa yang didengarnya hingga pingsan. Kemudian, mereka yang berada di gedung pengadilan – teman, keluarga, dan tetangga – korban penindasan dan ketidakadilan serupa – berdiri dan bernyanyi "Amazing grace, how sweet the sound that saved a wretch like me. I once was lost, but now I'm found. 'Twas blind, but now I see. (Anugerah yang ajaib, sungguh merdu suara yang telah menyelamatkan orang yang malang seperti saya. Saya pernah hilang, tetapi sekarang saya ditemukan. Saya pernah buta, tetapi sekarang saya melihat).“ Email from: pttwr/lily
Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com
Seorang wanita berkulit hitam yang telah renta dengan pelahan bangkit berdiri di suatu ruang pengadilan di Afrika Selatan. Umurnya kira-kira 70, di wajahnya tergores penderitaan yang dialaminya bertahun-tahun. Di depan, di kursi terdakwa, duduk Mr. Van der Broek, ia telah dinyatakan bersalah telah membunuh anak laki-laki dan suami wanita itu.
Beberapa tahun yang lalu laki-laki itu datang ke rumah wanita itu. Ia mengambil anaknya, menembaknya dan membakar tubuhnya. Beberapa tahun kemudian, ia kembali lagi. Ia mengambil suaminya. Dua tahun wanita itu tidak tahu apa yang terjadi dengan suaminya. Kemudian, van der Broek kembali lagi dan mengajak wanita itu ke suatu tempat di tepi sungai. Ia melihat suaminya diikat dan disiksa. Mereka memaksa suaminya berdiri di tumpukan kayu kering dan menyiramnya dengan bensin. Kata-kata terakhir yang didengarnya ketika ia disiram bensin adalah, “Bapa, ampunilah mereka.”
Belum lama berselang, Mr. Van den Broek ditangkap dan diadili. Ia dinyatakan bersalah, dan sekarang adalah saatnya untuk menentukan hukumannya. Ketika wanita itu berdiri, hakim bertanya, “Jadi, apa yang Anda inginkan? Apa yang harus dilakukan pengadilan terhadap orang ini yang secara brutal telah menghabisi keluarga Anda?”
Wanita itu menjawab, “Saya menginginkan tiga hal. Pertama, saya ingin dibawa ke tempat suami saya dibunuh dan saya akan mengumpulkan debunya untuk menguburkannya secara terhormat.” Setelah berhenti sejenak, ia melanjutkan, “Suami dan anak saya adalah satu-satunya keluarga saya. Oleh karena itu permintaan saya kedua adalah, saya ingin Mr. Van den Broek menjadi anak saya. Saya ingin dia datang dua kali sebulan ke ghetto (perumahan orang kulit hitam) dan melewatkan waktu sehari bersama saya hingga saya dapat mencurahkan padanya kasih yang masih ada dalam diri saya.”
“Dan, akhirnya,” ia berkata, “permintaan saya yang ketiga. Saya ingin Mr. Van den Broek tahu bahwa saya memberikan maaf bagi dia karena Yesus Kristus mati untuk mengampuni. Begitu juga dengan permintaan terakhir suami saya. Oleh karena itu, bolehkah saya meminta seseorang membantu saya ke depan hingga saya dapat membawa Mr. Van den Broek ke dalam pelukan saya dan menunjukkan padanya bahwa dia benar-benar telah saya maafkan.”
Ketika petugas pengadilan membawa wanita tua itu ke depan, Mr. Van den Broek sangat terharu dengan apa yang didengarnya hingga pingsan. Kemudian, mereka yang berada di gedung pengadilan – teman, keluarga, dan tetangga – korban penindasan dan ketidakadilan serupa – berdiri dan bernyanyi "Amazing grace, how sweet the sound that saved a wretch like me. I once was lost, but now I'm found. 'Twas blind, but now I see. (Anugerah yang ajaib, sungguh merdu suara yang telah menyelamatkan orang yang malang seperti saya. Saya pernah hilang, tetapi sekarang saya ditemukan. Saya pernah buta, tetapi sekarang saya melihat).“ Email from: pttwr/lily
Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com
Land for Sale in Bali
Personal Note:
LAND FOR SALE
A piece of land in Nusa Dua Bali is for sale, 10 hectares, the price is negotiable, suitable for hotel or exclusive villas or bungalows. Contact: Hadi Kristadi, hadi.kristadi@gmail.com or kristadi2004@yahoo.com.
Ditulis/diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com
LAND FOR SALE
A piece of land in Nusa Dua Bali is for sale, 10 hectares, the price is negotiable, suitable for hotel or exclusive villas or bungalows. Contact: Hadi Kristadi, hadi.kristadi@gmail.com or kristadi2004@yahoo.com.
Ditulis/diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com
Email from California - USA
Dear Pak Hadi :)
Hello again! It has been couple months ya sejak kita ketemuan. I want to thank you for the book (Mukjizat Kehidupan) that you gave me. It really blesses me in a way you can't picture it :) I have been meaning to drop you an email, but krn repot with our daily life; ngga sempet nih kirim emailnya sampe hari ini (tak paksain sempet2in).
****
Email di atas datangnya dari Yuni, wong Suroboyo yang sekarang tinggal di L.A, California, USA. Yuni membantu saya dalam mengedit buku Pdt. Jarot Wijanarko yang saya terjemahkan dari bahasa Indo ke bahasa Inggris.
Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com
Hello again! It has been couple months ya sejak kita ketemuan. I want to thank you for the book (Mukjizat Kehidupan) that you gave me. It really blesses me in a way you can't picture it :) I have been meaning to drop you an email, but krn repot with our daily life; ngga sempet nih kirim emailnya sampe hari ini (tak paksain sempet2in).
****
Email di atas datangnya dari Yuni, wong Suroboyo yang sekarang tinggal di L.A, California, USA. Yuni membantu saya dalam mengedit buku Pdt. Jarot Wijanarko yang saya terjemahkan dari bahasa Indo ke bahasa Inggris.
Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com
Does Your Husband Make You Happy?
John C. Maxwell suatu ketika pernah diundang menjadi pembicara di sebuah seminar bersama istrinya. Ia dan istrinya, Margaret, diminta menjadi pembicara pada beberapa sesi secara terpisah. Ketika Maxwell sedang menjadi pembicara, istrinya selalu duduk di barisan terdepan dan mendengarkan seminar suaminya. Sebaliknya, ketika Margaret sedang menjadi pembicara di salah satu sesi, suaminya selalu menemaninya dari bangku paling depan.
Ceritanya, suatu ketika sang istri, Margaret, sedang menjadi pembicara di salah satu sesi seminar tentang kebahagiaan. Seperti biasa, Maxwell duduk di bangku paling depan dan mendengarkan. Dan di akhir sesi, semua pengunjung bertepuk tangan. Yang namanya seminar selalu ada interaksi dua arah dari peserta seminar juga kan?
Di sesi tanya jawab itu, setelah beberapa pertanyaan, seorang ibu mengacungkan tangannya untuk bertanya. Ketika diberikan kesempatan, pertanyaan ibu itu seperti ini, "Miss Margaret, apakah suami Anda membuat Anda bahagia?"
Seluruh ruangan langsung terdiam. Satu pertanyaan yang bagus. Dan semua peserta penasaran menunggu jawaban Margaret. Margaret tampak berpikir beberapa saat dan kemudian menjawab, "Tidak.."
Seluruh ruangan langsung terkejut. "Tidak," katanya sekali lagi, "John Maxwell tidak bisa membuatku bahagia." Seisi ruangan langsung menoleh ke arah Maxwell. Dan Maxwell juga menoleh-noleh mencari pintu keluar. Rasanya ingin cepat-cepat keluar.
Kemudian, lanjut Margaret, "John Maxwell adalah seorang suami yang sangat baik. Ia tidak pernah berjudi, mabuk-mabukan, main serong. Ia setia, selalu memenuhi kebutuhan saya, baik jasmani maupun rohani. Tapi, tetap dia tidak bisa membuatku bahagia."
Tiba-tiba ada suara bertanya, "Mengapa?"
"Karena," jawabnya, "tidak ada seorang pun di dunia ini yang bertanggung jawab atas kebahagiaanku selain diriku sendiri."
Dengan kata lain, maksud dari Margaret adalah, tidak ada orang lain yang bisa membuatmu bahagia. Baik itu pasangan hidupmu, sahabatmu, uangmu, hobimu. Semua itu tidak bisa membuatmu bahagia. Karena yang bisa membuat dirimu bahagia adalah dirimu sendiri. Kamu bertanggung jawab atas dirimu sendiri. Kalau kamu sering merasa berkecukupan, tidak pernah punya perasaan minder, selalu percaya diri, kamu tidak akan merasa sedih. Sesungguhnya pola pikir kita yang menentukan apakah kita bahagia atau tidak, bukan faktor luar.
Contohnya rasul Paulus. Ketika itu rasul Paulus sedang dihimpit oleh keadaan. Ia disiksa dan dipenjara, ditolak kanan kiri. Tapi coba lihat surat-suratnya. Apakah berisi keluh kesah? Justru sebaliknya! Sebagian besar surat-surat Paulus justru berisikan motivasi, berita gembira dan inspirasi. Rasul Paulus bahagia. Meskipun keadaan sekelilingnya mungkin merupakan alasan ia tidak bahagia, namun ia bahagia.
Bahagia atau tidaknya hidupmu bukan ditentukan oleh seberapa kaya dirimu, seberapa cantik istrimu, seberapa baik suamimu atau sesukses apa hidupmu.. Ini masalah pilihan: apakah kamu memilih untuk bahagia atau tidak. Sumber: Email dari Ibu Suharti
Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com
Ceritanya, suatu ketika sang istri, Margaret, sedang menjadi pembicara di salah satu sesi seminar tentang kebahagiaan. Seperti biasa, Maxwell duduk di bangku paling depan dan mendengarkan. Dan di akhir sesi, semua pengunjung bertepuk tangan. Yang namanya seminar selalu ada interaksi dua arah dari peserta seminar juga kan?
Di sesi tanya jawab itu, setelah beberapa pertanyaan, seorang ibu mengacungkan tangannya untuk bertanya. Ketika diberikan kesempatan, pertanyaan ibu itu seperti ini, "Miss Margaret, apakah suami Anda membuat Anda bahagia?"
Seluruh ruangan langsung terdiam. Satu pertanyaan yang bagus. Dan semua peserta penasaran menunggu jawaban Margaret. Margaret tampak berpikir beberapa saat dan kemudian menjawab, "Tidak.."
Seluruh ruangan langsung terkejut. "Tidak," katanya sekali lagi, "John Maxwell tidak bisa membuatku bahagia." Seisi ruangan langsung menoleh ke arah Maxwell. Dan Maxwell juga menoleh-noleh mencari pintu keluar. Rasanya ingin cepat-cepat keluar.
Kemudian, lanjut Margaret, "John Maxwell adalah seorang suami yang sangat baik. Ia tidak pernah berjudi, mabuk-mabukan, main serong. Ia setia, selalu memenuhi kebutuhan saya, baik jasmani maupun rohani. Tapi, tetap dia tidak bisa membuatku bahagia."
Tiba-tiba ada suara bertanya, "Mengapa?"
"Karena," jawabnya, "tidak ada seorang pun di dunia ini yang bertanggung jawab atas kebahagiaanku selain diriku sendiri."
Dengan kata lain, maksud dari Margaret adalah, tidak ada orang lain yang bisa membuatmu bahagia. Baik itu pasangan hidupmu, sahabatmu, uangmu, hobimu. Semua itu tidak bisa membuatmu bahagia. Karena yang bisa membuat dirimu bahagia adalah dirimu sendiri. Kamu bertanggung jawab atas dirimu sendiri. Kalau kamu sering merasa berkecukupan, tidak pernah punya perasaan minder, selalu percaya diri, kamu tidak akan merasa sedih. Sesungguhnya pola pikir kita yang menentukan apakah kita bahagia atau tidak, bukan faktor luar.
Contohnya rasul Paulus. Ketika itu rasul Paulus sedang dihimpit oleh keadaan. Ia disiksa dan dipenjara, ditolak kanan kiri. Tapi coba lihat surat-suratnya. Apakah berisi keluh kesah? Justru sebaliknya! Sebagian besar surat-surat Paulus justru berisikan motivasi, berita gembira dan inspirasi. Rasul Paulus bahagia. Meskipun keadaan sekelilingnya mungkin merupakan alasan ia tidak bahagia, namun ia bahagia.
Bahagia atau tidaknya hidupmu bukan ditentukan oleh seberapa kaya dirimu, seberapa cantik istrimu, seberapa baik suamimu atau sesukses apa hidupmu.. Ini masalah pilihan: apakah kamu memilih untuk bahagia atau tidak. Sumber: Email dari Ibu Suharti
Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com
Thursday, May 21, 2009
Love at the First Sight
Menara Doa Anak Sabtu sore bulan April beberapa minggu setelah Paskah (lupa tepatnya kapan) aku pernah cerita tentang salah seorang anak murid, namanya Silvya, mungkin beberapa Guru Sekolah Minggu yang saat itu hadir masih ingat. Anak itu kelas 1 SD, beragama Budha.
Sebelum perayaan Paskah pertanyaan pertamanya adalah: "Kenapa Yesus harus mati disiksa dan disalibkan?". Aku tak tahu bagaimana menjelaskan, tapi setelah aku renungkan, sebenarnya hari itu aku tidak berniat untuk menjelaskan karena banyak anak yang non-kristen di kelas saat itu. Tapi karena Silvya terus membicarakan aku coba menjelaskan dengan sesingkat dan secepat mungkin. Bahwa Yesus harus mati untuk menebus dosa manusia. Aku hanya berpikir kalau dijelaskan lebih lagi Silvya mungkin tidak terlalu mengerti banyak.
Seminggu setelah Paskah dia bercerita tentang mendapatkan telur paskah. Lalu temannya bilang dia tak suka menonton film The Passion of the Christ (saat itu mungkin ditayangkan di sekolah mereka) karena terlalu mengerikan.
Aku berpikir kalau anak non-Kristen pasti berpikir itu bukan Film menyenangkan tapi Silvya membalas perkataan temannya, "Kalo kamu bilang begitu berarti kamu tidak percaya Tuhan Yesus," katanya marah sama temannya, lalu temannya membalas, "Alah, kamu nangis kan nontonnya?" Silvya diam saja.
Terus secara iseng aku bertanya kembali yang minggu lalu ditanyakan. "Silvya, kenapa Yesus harus mati?" dan yang menakjubkan dia bisa menjelaskan dengan baik dan kali ini penjelasannya lebih panjang dari yang aku ceritakan minggu lalu. Ternyata karena tidak mendapat penjelasan yang memuaskan dari aku dia bertanya sama gurunya di sekolah (Forgive me, Lord).
Setelah itu aku sempat share kan untuk anak-anak di Menara Doa sabtu itu. Aku sempat kagum sama Silvya akan kehausannya untuk mengetahui segala hal tentang kematian Tuhan Yesus. Aku berharap anak-anak sekolah minggu saat itu di tempatku bisa punya kehausan yang sama seperti Silvya.
Tapi saat berlalunya waktu aku agak sedikit melupakan, Aku tidak bertanya lagi pada Silvya tentang perasaanya mengenai Yesus yang mungkin baru dikenalnya. Lagipula mungkin saja itu cuma Perayaan Paskah dimana kematian Kristus begitu berarti bagi anak-anak dan setelah itu mereka akan melupakannya (sama seperti kita bukan?) Aku tidak berani menindak-lanjuti sebab profesiku sebagai guru di tempat kursus akan berpengaruh, aku takut dituduh mengajari anak-anak tentang kekristenan. Mungkin Silvya juga sudah lupa.
Tapi ternyata aku salah besar. Siang kemarin (6 Mei 09) Silvya datang dengan membawa Alkitab yang terlalu besar untuk anak seusianya lalu memamerkannya padaku. "Jadi kamu punya Alkitab sekarang?" tanyaku. "Ya, aku minta mama beliin di Mal. Kata mama gak boleh hilang, belinya mahal soalnya." Aku tersenyum melihatnya. Oh, jadi dia sudah punya Alkitab, takut mengganggu pelajaran aku mengalihkan kembali ke pelajaran hari itu.
Tiba2 Silvya bertanya, "Miss. Apa artinya tabir itu?" Dia bertanya dari Mat 27:51 (Dan lihatlah, tabir Bait suci terbelah dua dari atas sampai ke bawah dan terjadilah gempa bumi, dan bukit-bukit batu terbelah). Aku kaget, Silvya bertanya sambil membuka Alkitabnya.
Ternyata peristiwa kematian Tuhan Yesus tidak berlalu begitu saja dari pikirannya. Aku coba menjelaskan, kali ini aku tidak akan mengalihkan pembicaraan. Aku jelaskan dengan sesederhana mungkin yang bisa ditangkap oleh anak seumurnya mengenai tabir namun masih dengan suara sepelan mungkin, karena banyak anak muslim juga disana.
Melihat Silvya begitu antusias mendengar dan bertanya, Aku coba berani bertanya, dengan bahasa Inggris supaya tidak terlalu mencolok di kelas saat itu. "Silvya, do you like to read the Bible?" dia mengangguk. Aku tersentuh, memberanikan diri dan menghembus napas dalam2 aku bertanya lagi, "Do you love Jesus?" Pertanyaan ini ternyata membuat Silvya bersemu. Aku tak percaya melihatnya. Dia pasti tidak lebih dari 7 tahun usianya tapi sudah malu-malu menjawab kalo dia cinta Tuhan Yesus. Oh, my God! Kapan terakhir kali aku telihat begitu merona atau excited bercerita tentang Yesus? I can't hold it anymore, I'm so touched.
Aku coba menahan semua emosi dalam diriku yang kepengen menangis sejadi-jadinya. Kenapa aku jadi cengeng yah akhir2 ini? Aku melihat Silvya kali ini lebih fokus ke matanya dan bertanya. "Silvya, do you want to be Christian? To have Jesus in your heart forever?" Kali ini dengan mantap tapi masih malu-malu Silvya mengangguk dan menjawab, "Yes!" Aku pegang kepalanya dan mengusap pipinya, "then you have to pray. you need to tell Jesus that you believe Him and asked Him to come in to your heart. He will never ever leave you from now on."
Brother and sister, ini terjadi kemarin. Satu orang diselamatkan dengan latar belakang bukan Kristen sama sekali. Aku sedang menerobos diriku sendiri. I make my own breaktrough dan itu Tuhan ajarkan melalui gadis kecil bernama Silvya. Anak yang jatuh cinta pada Yesus pada saat perayaan Paskah. Dia mungkin ga terlalu ngerti banyak. You don't need so many reason to love Him. Silvya tidak mengalami mukjizat yang luar biasa seperti yang lainnya. Dia belum tentu mengerti kalaupun mukjizat itu diperlihatkan di depannya, dia tidak berjumpa dengan Yesus langsung, hanya melalui cerita Paskah. Tapi yang terjadi saat ini She's fallin' in love. That's All.
Kisah ini diperoleh dari email Ibu Suharti.
Ditulis/diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com
Sebelum perayaan Paskah pertanyaan pertamanya adalah: "Kenapa Yesus harus mati disiksa dan disalibkan?". Aku tak tahu bagaimana menjelaskan, tapi setelah aku renungkan, sebenarnya hari itu aku tidak berniat untuk menjelaskan karena banyak anak yang non-kristen di kelas saat itu. Tapi karena Silvya terus membicarakan aku coba menjelaskan dengan sesingkat dan secepat mungkin. Bahwa Yesus harus mati untuk menebus dosa manusia. Aku hanya berpikir kalau dijelaskan lebih lagi Silvya mungkin tidak terlalu mengerti banyak.
Seminggu setelah Paskah dia bercerita tentang mendapatkan telur paskah. Lalu temannya bilang dia tak suka menonton film The Passion of the Christ (saat itu mungkin ditayangkan di sekolah mereka) karena terlalu mengerikan.
Aku berpikir kalau anak non-Kristen pasti berpikir itu bukan Film menyenangkan tapi Silvya membalas perkataan temannya, "Kalo kamu bilang begitu berarti kamu tidak percaya Tuhan Yesus," katanya marah sama temannya, lalu temannya membalas, "Alah, kamu nangis kan nontonnya?" Silvya diam saja.
Terus secara iseng aku bertanya kembali yang minggu lalu ditanyakan. "Silvya, kenapa Yesus harus mati?" dan yang menakjubkan dia bisa menjelaskan dengan baik dan kali ini penjelasannya lebih panjang dari yang aku ceritakan minggu lalu. Ternyata karena tidak mendapat penjelasan yang memuaskan dari aku dia bertanya sama gurunya di sekolah (Forgive me, Lord).
Setelah itu aku sempat share kan untuk anak-anak di Menara Doa sabtu itu. Aku sempat kagum sama Silvya akan kehausannya untuk mengetahui segala hal tentang kematian Tuhan Yesus. Aku berharap anak-anak sekolah minggu saat itu di tempatku bisa punya kehausan yang sama seperti Silvya.
Tapi saat berlalunya waktu aku agak sedikit melupakan, Aku tidak bertanya lagi pada Silvya tentang perasaanya mengenai Yesus yang mungkin baru dikenalnya. Lagipula mungkin saja itu cuma Perayaan Paskah dimana kematian Kristus begitu berarti bagi anak-anak dan setelah itu mereka akan melupakannya (sama seperti kita bukan?) Aku tidak berani menindak-lanjuti sebab profesiku sebagai guru di tempat kursus akan berpengaruh, aku takut dituduh mengajari anak-anak tentang kekristenan. Mungkin Silvya juga sudah lupa.
Tapi ternyata aku salah besar. Siang kemarin (6 Mei 09) Silvya datang dengan membawa Alkitab yang terlalu besar untuk anak seusianya lalu memamerkannya padaku. "Jadi kamu punya Alkitab sekarang?" tanyaku. "Ya, aku minta mama beliin di Mal. Kata mama gak boleh hilang, belinya mahal soalnya." Aku tersenyum melihatnya. Oh, jadi dia sudah punya Alkitab, takut mengganggu pelajaran aku mengalihkan kembali ke pelajaran hari itu.
Tiba2 Silvya bertanya, "Miss. Apa artinya tabir itu?" Dia bertanya dari Mat 27:51 (Dan lihatlah, tabir Bait suci terbelah dua dari atas sampai ke bawah dan terjadilah gempa bumi, dan bukit-bukit batu terbelah). Aku kaget, Silvya bertanya sambil membuka Alkitabnya.
Ternyata peristiwa kematian Tuhan Yesus tidak berlalu begitu saja dari pikirannya. Aku coba menjelaskan, kali ini aku tidak akan mengalihkan pembicaraan. Aku jelaskan dengan sesederhana mungkin yang bisa ditangkap oleh anak seumurnya mengenai tabir namun masih dengan suara sepelan mungkin, karena banyak anak muslim juga disana.
Melihat Silvya begitu antusias mendengar dan bertanya, Aku coba berani bertanya, dengan bahasa Inggris supaya tidak terlalu mencolok di kelas saat itu. "Silvya, do you like to read the Bible?" dia mengangguk. Aku tersentuh, memberanikan diri dan menghembus napas dalam2 aku bertanya lagi, "Do you love Jesus?" Pertanyaan ini ternyata membuat Silvya bersemu. Aku tak percaya melihatnya. Dia pasti tidak lebih dari 7 tahun usianya tapi sudah malu-malu menjawab kalo dia cinta Tuhan Yesus. Oh, my God! Kapan terakhir kali aku telihat begitu merona atau excited bercerita tentang Yesus? I can't hold it anymore, I'm so touched.
Aku coba menahan semua emosi dalam diriku yang kepengen menangis sejadi-jadinya. Kenapa aku jadi cengeng yah akhir2 ini? Aku melihat Silvya kali ini lebih fokus ke matanya dan bertanya. "Silvya, do you want to be Christian? To have Jesus in your heart forever?" Kali ini dengan mantap tapi masih malu-malu Silvya mengangguk dan menjawab, "Yes!" Aku pegang kepalanya dan mengusap pipinya, "then you have to pray. you need to tell Jesus that you believe Him and asked Him to come in to your heart. He will never ever leave you from now on."
Brother and sister, ini terjadi kemarin. Satu orang diselamatkan dengan latar belakang bukan Kristen sama sekali. Aku sedang menerobos diriku sendiri. I make my own breaktrough dan itu Tuhan ajarkan melalui gadis kecil bernama Silvya. Anak yang jatuh cinta pada Yesus pada saat perayaan Paskah. Dia mungkin ga terlalu ngerti banyak. You don't need so many reason to love Him. Silvya tidak mengalami mukjizat yang luar biasa seperti yang lainnya. Dia belum tentu mengerti kalaupun mukjizat itu diperlihatkan di depannya, dia tidak berjumpa dengan Yesus langsung, hanya melalui cerita Paskah. Tapi yang terjadi saat ini She's fallin' in love. That's All.
Kisah ini diperoleh dari email Ibu Suharti.
Ditulis/diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com
Wednesday, May 20, 2009
God's Plan: The Story of Chuck Norris
KESAKSIAN CHUCK NORRIS: GOD'S PLAN
Lahir dengan nama Carlos Ray pada tahun 1940, "Chuck" kecil tumbuh tanpa seorang ayah. Sosok ayah yang sempat diingatnya adalah seorang pria yang kasar dan suka mabuk, yang kemudian pergi meninggalkan keluarganya. Meninggalkan ibu serta adik-adiknya begitu saja. Kehilangan figur ayah membuat Chuck menjadi seorang yang pemalu, tidak pernah berprestasi dalam olahraga, apalagi dalam pergaulan. Chuck selalu minder dan dihindari teman-temannya.
Chuck si pemalu dan ramah ini kemudian masuk ke Angkatan Udara, dan ditugaskan di Korea. Di tanah ginseng inilah ia secara tidak sengaja mempelajari seni bela diri Tae Kwon Do. Dan di negeri ini jugalah untuk pertama kali teman-teman di baraknya memberi nama julukan "Chuck" yang berarti usapan, karena keramahan dan kelembutannya. Kemudian penambahan nama Norris diambil dari marga ibunya. Dalam seni bela diri, Chuck seperti menemukan jati dirinya. Suatu hal dimana dia tidak perlu berkomunikasi dengan orang lain atau pun bekerja dalam satu tim. Yang perlu dia lakukan hanyalah berlatih keras dan lebih keras lagi, dalam kesendirian yang dinikmatinya.
Ketekunannya di dalam dunia bela diri, membuahkan hasil. Chuck diminta mempertunjukkan keahliannya dalam sebuah acara besar yang dihadiri seluruh Angkatan Udara Amerika Serikat. Sebelum mempertunjukan kebolehannya, dia diharuskan untuk memberikan sebuah pidato singkat sebagai kata sambutan. Chuck pun mempersiapkan pidatonya di atas sehelai kertas dan menghafalkannya. Tiba pada waktunya, ia berdiri di depan ribuan prajurit Angkatan Udara yang menatapnya, Chuck terdiam seribu bahasa di depan mikrofon, sangat gugup dan lupa akan semua kata-kata yang dihafalkannya. Tubuhnya dibanjiri oleh keringat dingin. Ia pun lupa bahwa apakah ia sempat mengatakan sesuatu pada acara itu, yang jelas ia tidak mau mengingat-ingatnya. Baginya, peristiwa itu adalah peristiwa yang paling memalukan dalam hidupnya.
Tidak lama kemudian, prestasinya mendunia. Ia menjuarai enam kali berturut-turut "World Karate Championships", dengan mengalahkan para petarung terhebat kaliber dunia. Dan karena bosan tidak ada lagi yang bisa mengimbanginya, kemudian ia mundur dari kejuaraan itu. Lagipula, seandainya ia tetap ikut dalam kejuaraan itu, para petarung cenderung mundur teratur karena mereka gentar bila harus berhadapan dengannya. Chuck kemudian mendapat penghargaan tertinggi dalam bela diri Korea tersebut, dengan mencapai Ban Hitam tingkat delapan dalam Tae Kwon Do. Dia adalah orang pertama yang berhasil mencapai tingkatan itu sejak 4500 tahun sejarah beladiri Tae Kwon Do didirikan.
Secara bertahap, Chuck mundur dari olahraga bela diri karena tidak menemui lawan yang berarti lagi. Ia kemudian hijrah ke Hollywood yang membuat namanya melambung dan dikenal oleh seluruh orang di dunia. Salah satu debutnya yang terkenal adalah perannya dalam film "Enter The Dragon", sebuah pertarungan yang dikenang dalam sejarah perfilman maupun sejarah bela diri, saat ia bertarung melawan legenda kungfu, Bruce Lee.
Chuck Norris kini menjadi megabintang dan terjun dalam kehidupan glamor selebriti. Pundi-pundi uangnya terus bertambah dari banyak perguruan bela diri miliknya, apalagi setiap buku yang ditulisnya selalu menjadi "best seller". Segera ia masuk dalam jajaran "red carpet" di semua acara selebriti dan segera menjadi teman baik setiap presiden Amerika Serikat beserta para stafnya.
Merasa Ketakutan
"Ada beberapa perisitiwa yang mengubah hidup saya," ujar bintang film seri "Walker Texas Ranger" ini. (Film ini adalah salah satu film seri yang memiliki episode terpanjang dalam sejarah perfilman, diputar di televisi selama 12 tahun.) "Yang pertama adalah saat saya membesuk Lee Atwater -- mantan ketua kampanye Presiden George Bush, Sr. -- di rumah sakit, Lee adalah orang yang berpengaruh besar dalam hidup saya, dan juga seorang teman dekat saya. Saat saya sampai di rumah sakit, ada begitu banyak orang penting mengantri untuk datang menjenguk, namun mereka tidak bisa masuk. Bahkan banyak keluarga dekatnya tidak diperkenankan masuk. Ia hanya mengizinkan orang-orang tertentu untuk menjenguknya." "Saat saya sedang bercakap-cakap dengan orang-orang yang menanti di luar, tiba-tiba nama saya dipanggil dan diperkenankan masuk. Saya merasa beruntung saat itu karena dipilih untuk boleh bertemu dengan dia. Saya masuk dan melihat di dalam ruangan sudah ada beberapa orang yang sangat penting, sehingga saya memilih tempat di pojok ruangan dan melihatnya dari jauh. Saya melihat Lee sedang sekarat, usianya jauh lebih muda dari saya, baru 30-an tahun. Dia yang biasanya begitu bersemangat dan selalu menginspirasi banyak orang, kini sedang terbaring lemah tak berdaya, bergulat dengan maut karena sebuah tumor besar di kepalanya, dan tidak ada satu pun yang dapat dilakukan dokter untuk menyelamatkannya."
"Lee memandang aku dengan lemah, dan melambai agar aku mendekat. Aku harus menunduk untuk mendengar dia berbisik karena dia sudah sangat lemah untuk berbicara secara normal. Katanya perlahan, ‘Chuck, percayalah kepada Tuhan, aku mengasihimu ....' Aku terkejut mendengar hal itu, seperti terpukul keras. Aku mundur perlahan darinya dan keluar dari tempat itu dengan sangat terkejut. Aku tahu itu adalah kata-kata terakhir Lee bagiku. Entah sudah berapa kali aku mendengar kata-kata itu dari para rohaniwan, tetapi semua itu seakan hanya lewat begitu saja seperti sebuah sampah bagiku. Sekarang aku mendengarnya dari sahabatku sendiri yang sedang berada di ujung kematian, sebuah pesan terakhir yang sangat penting, tidak mungkin dia menyia-nyiakan napas terakhirnya untuk berbicara padaku kalau itu tidak begitu penting."
"Aku duduk terdiam di dalam mobil dan mulai menangis, mengingat kehidupanku selama ini. Aku telah terlalu jauh dari Tuhan, terhisap dan terjebak dalam gemerlap kehidupan seorang bintang, membuat hidupku berantakan. Keluargaku berantakan, dan aku bukan ayah yang baik bagi anak-anakku. Melihat sahabatku sedang menjelang maut, membuat diriku merasa sangat dekat akan maut juga. Sebelumnya, aku tidak pernah takut pada apa pun, bahkan dalam pertarungan bela diri hidup dan mati, tapi kini aku merasa sangat gentar. Aku merasa hidupku menjadi sangat rapuh, dan aku tersadar bahwa semua kekuatan yang telah kubangun selama ini ternyata tidak bisa menghindarkan aku dari maut."
Malam yang Mencekam
Tapi peristiwa "pesan terakhir" dari Lee Atwater pun berlalu, Chuck kembali sibuk dengan bisnisnya. Kembali tenggelam dalam kehidupan selebritisnya dan hanyut dalam pikiran bagaimana mencari uang lebih banyak lagi. Walaupun begitu, peristiwa itu telah membawanya dalam sebuah pemikiran bahwa ia membutuhkan Tuhan. Peristiwa selanjutnya terjadi tidak lama kemudian. Malam itu adalah malam di mana istrinya, Gena, akan melahirkan bayi kembar. Dokter mengatakan kelahiran ini sangat berbahaya karena ada beberapa komplikasi. Paling kurang salah satu nyawa dipertaruhkan malam itu; kalau tidak ibunya, maka salah satu dari kedua anaknya.
Malam itu sangat mencekam bagi Chuck, ia tidak bisa berbuat apa-apa. Tidak ada lawan yang harus dikalahkannya selain rasa takutnya sendiri, tidak ada dokter yang bisa ia bayar untuk menjamin keselamatan keluarganya. Ia menangis, karena sadar uang yang begitu berlimpah di rekeningnya yang dikumpulkan sepanjang kariernya, ternyata tidak dapat menyelamatkannya. Dia lalu teringat, bahwa hanya satu Pribadi yang dapat menyelamatkan keluarganya saat ini, yaitu Yesus. Seorang Pribadi yang lembut dan penuh kasih, yang kepada-Nya ia pernah menyerahkan hidup masa remajanya di suatu KKR Billy Graham. Dan kini ia telah melupakan komitmennya untuk mengikuti Dia, Chuck menangis, merasa begitu berdosa dan telah begitu jauh dari-Nya. Chuck juga teringat ibunya. Dia adalah seorang ibu yang tangguh membesarkan Chuck serta adik-adiknya sendirian. Ibunya adalah seorang yang rajin berdoa, dan selalu berkata pada Chuck, "Tuhan punya rencana untukmu." Selama ini, ia tidak mengerti apa maksud ibunya itu, ia pikir semua ketenarannya ini adalah rencana Tuhan, sampai di situ saja. Tapi pada peristiwa itu, ia kini menjadi mengerti apa yang berusaha disampaikan oleh ibunya. Malam itu pun ia berdoa, agar Tuhan mengampuni semua dosanya, mengembalikan ia kembali dekat pada-Nya, menyelamatkan istri serta bayinya, dan agar rencana Tuhan seutuhnya tergenapi dalam hidupnya. Sungguh luar biasa, Tuhan memberi tanda bahwa Dia mendengarkan Chuck, dengan menyelamatkan istri dan kedua bayi kembarnya. Malam itu juga Chuck menyerahkan seluruh hidupnya pada Tuhan.
Sejak saat itu, ia menghentikan segala usahanya untuk menambahkan pundi-pundi uangnya, dan terjun sangat aktif dalam kegiatan kemanusiaan yang begitu banyak. Menjadi wakil dan utusan perdamaian, memimpin yayasan-yayasan kemanusiaan, masuk sampul-sampul majalah sebagai "Man Of The Year", dan begitu banyak yang lain. Ia melihat setiap hari Gena membaca Alkitab, karena pada waktu itu Gena sudah terlebih dahulu hidup dekat dengan Tuhan sebelum mengenal Chuck. Melihat hal itu, lama-kelamaan Chuck turut bergabung dalam kegiatan membaca Alkitab. Dan menurutnya, hal itu menjadi sangat menyenangkan dan dinikmatinya, membaca Alkitab bersama istrinya setiap hari.
Orang sering datang pada Chuck dan berkata, "Chuck, engkau adalah orang paling beruntung di dunia. Juara karate tak terkalahkan, bintang film terkenal, dan penulis buku-buku terlaris. Tidak ada orang seberuntung engkau di dunia!" Chuck menjawab dengan tersenyum ramah, "Keberuntungan tidak ada hubungannya dengan itu semua, Tuhanlah yang berhubungan dengan itu semua."
Diambil dan disunting seperlunya dari: Majalah: VOICE Indonesia, Edisi 83, Tahun 2006, Penulis: LM (dari berbagai sumber) Penerbit: Communication Department -- Full Gospel Business's Men Fellowship International -- Indonesia: Yayasan Usahawan Injil Sepenuhnya Internasional (PUISI), Jakarta 2006. Diposting Hadi Kristadi pada tanggal 19 Mei 2009 berdasarkan email dari Saudara pttwr.
Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com
Lahir dengan nama Carlos Ray pada tahun 1940, "Chuck" kecil tumbuh tanpa seorang ayah. Sosok ayah yang sempat diingatnya adalah seorang pria yang kasar dan suka mabuk, yang kemudian pergi meninggalkan keluarganya. Meninggalkan ibu serta adik-adiknya begitu saja. Kehilangan figur ayah membuat Chuck menjadi seorang yang pemalu, tidak pernah berprestasi dalam olahraga, apalagi dalam pergaulan. Chuck selalu minder dan dihindari teman-temannya.
Chuck si pemalu dan ramah ini kemudian masuk ke Angkatan Udara, dan ditugaskan di Korea. Di tanah ginseng inilah ia secara tidak sengaja mempelajari seni bela diri Tae Kwon Do. Dan di negeri ini jugalah untuk pertama kali teman-teman di baraknya memberi nama julukan "Chuck" yang berarti usapan, karena keramahan dan kelembutannya. Kemudian penambahan nama Norris diambil dari marga ibunya. Dalam seni bela diri, Chuck seperti menemukan jati dirinya. Suatu hal dimana dia tidak perlu berkomunikasi dengan orang lain atau pun bekerja dalam satu tim. Yang perlu dia lakukan hanyalah berlatih keras dan lebih keras lagi, dalam kesendirian yang dinikmatinya.
Ketekunannya di dalam dunia bela diri, membuahkan hasil. Chuck diminta mempertunjukkan keahliannya dalam sebuah acara besar yang dihadiri seluruh Angkatan Udara Amerika Serikat. Sebelum mempertunjukan kebolehannya, dia diharuskan untuk memberikan sebuah pidato singkat sebagai kata sambutan. Chuck pun mempersiapkan pidatonya di atas sehelai kertas dan menghafalkannya. Tiba pada waktunya, ia berdiri di depan ribuan prajurit Angkatan Udara yang menatapnya, Chuck terdiam seribu bahasa di depan mikrofon, sangat gugup dan lupa akan semua kata-kata yang dihafalkannya. Tubuhnya dibanjiri oleh keringat dingin. Ia pun lupa bahwa apakah ia sempat mengatakan sesuatu pada acara itu, yang jelas ia tidak mau mengingat-ingatnya. Baginya, peristiwa itu adalah peristiwa yang paling memalukan dalam hidupnya.
Tidak lama kemudian, prestasinya mendunia. Ia menjuarai enam kali berturut-turut "World Karate Championships", dengan mengalahkan para petarung terhebat kaliber dunia. Dan karena bosan tidak ada lagi yang bisa mengimbanginya, kemudian ia mundur dari kejuaraan itu. Lagipula, seandainya ia tetap ikut dalam kejuaraan itu, para petarung cenderung mundur teratur karena mereka gentar bila harus berhadapan dengannya. Chuck kemudian mendapat penghargaan tertinggi dalam bela diri Korea tersebut, dengan mencapai Ban Hitam tingkat delapan dalam Tae Kwon Do. Dia adalah orang pertama yang berhasil mencapai tingkatan itu sejak 4500 tahun sejarah beladiri Tae Kwon Do didirikan.
Secara bertahap, Chuck mundur dari olahraga bela diri karena tidak menemui lawan yang berarti lagi. Ia kemudian hijrah ke Hollywood yang membuat namanya melambung dan dikenal oleh seluruh orang di dunia. Salah satu debutnya yang terkenal adalah perannya dalam film "Enter The Dragon", sebuah pertarungan yang dikenang dalam sejarah perfilman maupun sejarah bela diri, saat ia bertarung melawan legenda kungfu, Bruce Lee.
Chuck Norris kini menjadi megabintang dan terjun dalam kehidupan glamor selebriti. Pundi-pundi uangnya terus bertambah dari banyak perguruan bela diri miliknya, apalagi setiap buku yang ditulisnya selalu menjadi "best seller". Segera ia masuk dalam jajaran "red carpet" di semua acara selebriti dan segera menjadi teman baik setiap presiden Amerika Serikat beserta para stafnya.
Merasa Ketakutan
"Ada beberapa perisitiwa yang mengubah hidup saya," ujar bintang film seri "Walker Texas Ranger" ini. (Film ini adalah salah satu film seri yang memiliki episode terpanjang dalam sejarah perfilman, diputar di televisi selama 12 tahun.) "Yang pertama adalah saat saya membesuk Lee Atwater -- mantan ketua kampanye Presiden George Bush, Sr. -- di rumah sakit, Lee adalah orang yang berpengaruh besar dalam hidup saya, dan juga seorang teman dekat saya. Saat saya sampai di rumah sakit, ada begitu banyak orang penting mengantri untuk datang menjenguk, namun mereka tidak bisa masuk. Bahkan banyak keluarga dekatnya tidak diperkenankan masuk. Ia hanya mengizinkan orang-orang tertentu untuk menjenguknya." "Saat saya sedang bercakap-cakap dengan orang-orang yang menanti di luar, tiba-tiba nama saya dipanggil dan diperkenankan masuk. Saya merasa beruntung saat itu karena dipilih untuk boleh bertemu dengan dia. Saya masuk dan melihat di dalam ruangan sudah ada beberapa orang yang sangat penting, sehingga saya memilih tempat di pojok ruangan dan melihatnya dari jauh. Saya melihat Lee sedang sekarat, usianya jauh lebih muda dari saya, baru 30-an tahun. Dia yang biasanya begitu bersemangat dan selalu menginspirasi banyak orang, kini sedang terbaring lemah tak berdaya, bergulat dengan maut karena sebuah tumor besar di kepalanya, dan tidak ada satu pun yang dapat dilakukan dokter untuk menyelamatkannya."
"Lee memandang aku dengan lemah, dan melambai agar aku mendekat. Aku harus menunduk untuk mendengar dia berbisik karena dia sudah sangat lemah untuk berbicara secara normal. Katanya perlahan, ‘Chuck, percayalah kepada Tuhan, aku mengasihimu ....' Aku terkejut mendengar hal itu, seperti terpukul keras. Aku mundur perlahan darinya dan keluar dari tempat itu dengan sangat terkejut. Aku tahu itu adalah kata-kata terakhir Lee bagiku. Entah sudah berapa kali aku mendengar kata-kata itu dari para rohaniwan, tetapi semua itu seakan hanya lewat begitu saja seperti sebuah sampah bagiku. Sekarang aku mendengarnya dari sahabatku sendiri yang sedang berada di ujung kematian, sebuah pesan terakhir yang sangat penting, tidak mungkin dia menyia-nyiakan napas terakhirnya untuk berbicara padaku kalau itu tidak begitu penting."
"Aku duduk terdiam di dalam mobil dan mulai menangis, mengingat kehidupanku selama ini. Aku telah terlalu jauh dari Tuhan, terhisap dan terjebak dalam gemerlap kehidupan seorang bintang, membuat hidupku berantakan. Keluargaku berantakan, dan aku bukan ayah yang baik bagi anak-anakku. Melihat sahabatku sedang menjelang maut, membuat diriku merasa sangat dekat akan maut juga. Sebelumnya, aku tidak pernah takut pada apa pun, bahkan dalam pertarungan bela diri hidup dan mati, tapi kini aku merasa sangat gentar. Aku merasa hidupku menjadi sangat rapuh, dan aku tersadar bahwa semua kekuatan yang telah kubangun selama ini ternyata tidak bisa menghindarkan aku dari maut."
Malam yang Mencekam
Tapi peristiwa "pesan terakhir" dari Lee Atwater pun berlalu, Chuck kembali sibuk dengan bisnisnya. Kembali tenggelam dalam kehidupan selebritisnya dan hanyut dalam pikiran bagaimana mencari uang lebih banyak lagi. Walaupun begitu, peristiwa itu telah membawanya dalam sebuah pemikiran bahwa ia membutuhkan Tuhan. Peristiwa selanjutnya terjadi tidak lama kemudian. Malam itu adalah malam di mana istrinya, Gena, akan melahirkan bayi kembar. Dokter mengatakan kelahiran ini sangat berbahaya karena ada beberapa komplikasi. Paling kurang salah satu nyawa dipertaruhkan malam itu; kalau tidak ibunya, maka salah satu dari kedua anaknya.
Malam itu sangat mencekam bagi Chuck, ia tidak bisa berbuat apa-apa. Tidak ada lawan yang harus dikalahkannya selain rasa takutnya sendiri, tidak ada dokter yang bisa ia bayar untuk menjamin keselamatan keluarganya. Ia menangis, karena sadar uang yang begitu berlimpah di rekeningnya yang dikumpulkan sepanjang kariernya, ternyata tidak dapat menyelamatkannya. Dia lalu teringat, bahwa hanya satu Pribadi yang dapat menyelamatkan keluarganya saat ini, yaitu Yesus. Seorang Pribadi yang lembut dan penuh kasih, yang kepada-Nya ia pernah menyerahkan hidup masa remajanya di suatu KKR Billy Graham. Dan kini ia telah melupakan komitmennya untuk mengikuti Dia, Chuck menangis, merasa begitu berdosa dan telah begitu jauh dari-Nya. Chuck juga teringat ibunya. Dia adalah seorang ibu yang tangguh membesarkan Chuck serta adik-adiknya sendirian. Ibunya adalah seorang yang rajin berdoa, dan selalu berkata pada Chuck, "Tuhan punya rencana untukmu." Selama ini, ia tidak mengerti apa maksud ibunya itu, ia pikir semua ketenarannya ini adalah rencana Tuhan, sampai di situ saja. Tapi pada peristiwa itu, ia kini menjadi mengerti apa yang berusaha disampaikan oleh ibunya. Malam itu pun ia berdoa, agar Tuhan mengampuni semua dosanya, mengembalikan ia kembali dekat pada-Nya, menyelamatkan istri serta bayinya, dan agar rencana Tuhan seutuhnya tergenapi dalam hidupnya. Sungguh luar biasa, Tuhan memberi tanda bahwa Dia mendengarkan Chuck, dengan menyelamatkan istri dan kedua bayi kembarnya. Malam itu juga Chuck menyerahkan seluruh hidupnya pada Tuhan.
Sejak saat itu, ia menghentikan segala usahanya untuk menambahkan pundi-pundi uangnya, dan terjun sangat aktif dalam kegiatan kemanusiaan yang begitu banyak. Menjadi wakil dan utusan perdamaian, memimpin yayasan-yayasan kemanusiaan, masuk sampul-sampul majalah sebagai "Man Of The Year", dan begitu banyak yang lain. Ia melihat setiap hari Gena membaca Alkitab, karena pada waktu itu Gena sudah terlebih dahulu hidup dekat dengan Tuhan sebelum mengenal Chuck. Melihat hal itu, lama-kelamaan Chuck turut bergabung dalam kegiatan membaca Alkitab. Dan menurutnya, hal itu menjadi sangat menyenangkan dan dinikmatinya, membaca Alkitab bersama istrinya setiap hari.
Orang sering datang pada Chuck dan berkata, "Chuck, engkau adalah orang paling beruntung di dunia. Juara karate tak terkalahkan, bintang film terkenal, dan penulis buku-buku terlaris. Tidak ada orang seberuntung engkau di dunia!" Chuck menjawab dengan tersenyum ramah, "Keberuntungan tidak ada hubungannya dengan itu semua, Tuhanlah yang berhubungan dengan itu semua."
Diambil dan disunting seperlunya dari: Majalah: VOICE Indonesia, Edisi 83, Tahun 2006, Penulis: LM (dari berbagai sumber) Penerbit: Communication Department -- Full Gospel Business's Men Fellowship International -- Indonesia: Yayasan Usahawan Injil Sepenuhnya Internasional (PUISI), Jakarta 2006. Diposting Hadi Kristadi pada tanggal 19 Mei 2009 berdasarkan email dari Saudara pttwr.
Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com
Tuesday, May 19, 2009
Profits Better Than Wages
"Biarlah orang lain menjalani kehidupan yang biasa, asalkan bukan Anda. Biarlah orang lain meributkan perkara-perkara biasa dan remeh, asalkan bukan Anda. Biarlah orang lain menaruh masa depannya pada orang lain lagi, asalkan bukan Anda." Jim Rohn
Pembimbing saya, ketika saya berumur 25 tahun, memberikan kalimat kepada saya yang kemudian mengubah kehidupan saya selamanya, ketika ia berkata, "keuntungan lebih baik dari uang gaji. Uang gaji hanya cukup memberi kamu nafkah, keuntungan memberi kamu kekayaan." Anda pasti tahu betapa sulitnya menjadi kaya dengan mengandalkan uang gaji, tetapi siapapun dapat menjadi kaya dari keuntungan. Keuntungan bisa mengubah seluruh sikap anda, meskipun pada awalnya Anda hanya memulainya dengan paruh waktu.
Mungkin Anda mendapatkan keuntungan dari bisnis wirausaha, bisnis networking atau bisnis jasa. Anda dapat berbisnis di bidang pertamanan, atau jasa menghias pohon Natal. Anda bisa berbisnis di bidang pelatihan, konsultasi, atau bimbingan belajar. Anda dapat memanfaatkan hobby untuk bisnis, seperti: memasak, melukis, mengukir dan lain sebagainya. Namun setelah Anda menginvestasikan waktu untuk bisnis Anda sendiri, Anda akan lebih bergairah di pagi hari untuk mengerjakan bisnis paruh waktu Anda dan mendapatkan keuntungan, meskipun Anda mengerjakannya hanya beberapa jam saja dalam seminggu.
Ketika Anda mengerjakan bisnis Anda, Anda akan merasa diberdayakan, karena setiap hari Anda mendapatkan keuntungan, bukan hanya hidup dari uang gaji untuk membayar keperluan sehari-hari. Memang perlu untuk membayar keperluan sehari-hari, tetapi jika Anda mendapatkan keuntungan untuk menghidupi kehidupan yang luar biasa, apa salahnya? Selamat menikmati keuntungan, bukan sekedar terima uang gaji doang!
Ditulis oleh Jim Rohn, diterjemahkan oleh Hadi Kristadi pada tanggal 18 Mei 2009 untuk Pentas Kesaksian, http://pentas-kesaksian.blogspot.com
*****
"Let others lead small lives, but not you. Let others argue over small things, but not you. Let others cry over small hurts, but not you. Let others leave their future in someone else's hands, but not you." Jim Rohn
Profits Are Better Than Wages by Jim Rohn
My mentor, when I was 25 years old, dropped a phrase on me that changed my life forever when he said, "profits are better than wages. Wages will make you a living, profits can make you a fortune." You know it is a bit difficult to get rich on wages, but anybody can get rich on profits. Profits change your whole attitude, even if you start part-time. Whether it's part time on your entrepreneurial business, network marketing company or service business.
It can be a landscape business in the summer or hanging Christmas lights in the winter. It can be training, consulting or tutoring. It can be your hobby such as painting, writing, crafts, woodworking, computers or cooking. But once you start investing even part time effort into your own business, you will find how much more exciting it is to get up in the morning and go to work on your fortune, even if you're only spending a few hours a week doing it.
How empowering it is to be able to go to work on your fortune every day rather than going to work to pay the rent. Now - it is noble to go to work to pay the rent, but if you could also parcel out part of your time - go to work to make your fortune. Your whole attitude changes; your spirit changes. It is in your voice. It is in your face. It is in your gestures. And then you can say, "I am now working full-time on my job and part-time on my fortune because I found a way to make profits." Wow!
And I will know what you mean.
To Your Success,
Jim Rohn
Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com
Pembimbing saya, ketika saya berumur 25 tahun, memberikan kalimat kepada saya yang kemudian mengubah kehidupan saya selamanya, ketika ia berkata, "keuntungan lebih baik dari uang gaji. Uang gaji hanya cukup memberi kamu nafkah, keuntungan memberi kamu kekayaan." Anda pasti tahu betapa sulitnya menjadi kaya dengan mengandalkan uang gaji, tetapi siapapun dapat menjadi kaya dari keuntungan. Keuntungan bisa mengubah seluruh sikap anda, meskipun pada awalnya Anda hanya memulainya dengan paruh waktu.
Mungkin Anda mendapatkan keuntungan dari bisnis wirausaha, bisnis networking atau bisnis jasa. Anda dapat berbisnis di bidang pertamanan, atau jasa menghias pohon Natal. Anda bisa berbisnis di bidang pelatihan, konsultasi, atau bimbingan belajar. Anda dapat memanfaatkan hobby untuk bisnis, seperti: memasak, melukis, mengukir dan lain sebagainya. Namun setelah Anda menginvestasikan waktu untuk bisnis Anda sendiri, Anda akan lebih bergairah di pagi hari untuk mengerjakan bisnis paruh waktu Anda dan mendapatkan keuntungan, meskipun Anda mengerjakannya hanya beberapa jam saja dalam seminggu.
Ketika Anda mengerjakan bisnis Anda, Anda akan merasa diberdayakan, karena setiap hari Anda mendapatkan keuntungan, bukan hanya hidup dari uang gaji untuk membayar keperluan sehari-hari. Memang perlu untuk membayar keperluan sehari-hari, tetapi jika Anda mendapatkan keuntungan untuk menghidupi kehidupan yang luar biasa, apa salahnya? Selamat menikmati keuntungan, bukan sekedar terima uang gaji doang!
Ditulis oleh Jim Rohn, diterjemahkan oleh Hadi Kristadi pada tanggal 18 Mei 2009 untuk Pentas Kesaksian, http://pentas-kesaksian.blogspot.com
*****
"Let others lead small lives, but not you. Let others argue over small things, but not you. Let others cry over small hurts, but not you. Let others leave their future in someone else's hands, but not you." Jim Rohn
Profits Are Better Than Wages by Jim Rohn
My mentor, when I was 25 years old, dropped a phrase on me that changed my life forever when he said, "profits are better than wages. Wages will make you a living, profits can make you a fortune." You know it is a bit difficult to get rich on wages, but anybody can get rich on profits. Profits change your whole attitude, even if you start part-time. Whether it's part time on your entrepreneurial business, network marketing company or service business.
It can be a landscape business in the summer or hanging Christmas lights in the winter. It can be training, consulting or tutoring. It can be your hobby such as painting, writing, crafts, woodworking, computers or cooking. But once you start investing even part time effort into your own business, you will find how much more exciting it is to get up in the morning and go to work on your fortune, even if you're only spending a few hours a week doing it.
How empowering it is to be able to go to work on your fortune every day rather than going to work to pay the rent. Now - it is noble to go to work to pay the rent, but if you could also parcel out part of your time - go to work to make your fortune. Your whole attitude changes; your spirit changes. It is in your voice. It is in your face. It is in your gestures. And then you can say, "I am now working full-time on my job and part-time on my fortune because I found a way to make profits." Wow!
And I will know what you mean.
To Your Success,
Jim Rohn
Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com
Monday, May 18, 2009
Graciousness
Meskipun Anda belum pernah menonton American Idol, mungkin Anda pernah mendengar Adam Lambert. Ia berlomba di American Idol minggu ini di tingkat grand final dalam kontes menyanyi yang paling terkenal di seluruh dunia.
Selain memiliki suara yang sangat mengagumkan, ada suatu hal lagi yang menarik perhatian saya dari kontestan yang top ini: kebajikannya.
Ketika dipuji oleh para juri karena penampilannya yang hebat, Adam segera menyampaikan terima kasihnya kepada semua anggota band yang telah memungkinkan dia untuk menyanyi dengan baik. Ketika ditanya oleh pembawa acara, bagaimana dia akan menambahkan sesuatu ciri khasnya pada suatu lagu terkenal, Adam memuji orang yang telah menggubah lagu itu dan berkata bahwa lagu itu sudah digubah dengan sangat baik sehingga dia tidak perlu lagi menambahkan apa-apa untuk membuat lagu itu menjadi semakin baik.
Nampaknya setiap kali Adam mendapat pujian, dia selalu mengembalikan pujian itu kepada orang-orang di sekitarnya.
Ketika kita tidak dapat menyanyi sebaik Adam Lambert, kita dapat belajar daripadanya tentang suatu rahasia keberhasilan dari sisi lain kehidupan Adam Lambert: kebajikannya terhadap orang lain. Selain vokalnya yang "gila" dan luar biasa, kemampuannya untuk tetap populer di ajang ini dari minggu ke minggu adalah perhatiannya kepada orang-orang lain.
Ketika pikiran, perkataan, dan tindakan Anda dipenuhi dengan kebajikan dan kasih karunia terhadap orang-orang lain, orang-orang lain dengan sendirinya akan tertarik kepada Anda. Mereka akan lebih mudah mendengar apa yang Anda katakan, melakukan apa yang Anda minta, atau menjadi seperti apa yang Anda inginkan. Bapa di Sorga ingin agar Anda dipenuhi dengan kebajikan dan kasih karunia, bukan hanya karena hal itu akan meningkatkan kehidupanmu, tetapi juga akan meningkatkan kehidupan orang-orang di sekitar Anda.
Bapa di Sorga tahu bagaimana suatu kebajikan akan memberkati banyak orang karena Ia telah berbuat kebajikan dan memberikan kasih karunia melimpah sepanjang sejarah umat manusia, melalui kasih Tuhan Yesus Kristus di kayu salib. Ia tahu bahwa untuk mengasihi manusia, Ia harus melimpahkan kebajikan dan kasih karunia-Nya kepada mereka.
Kasih karunia Tuhan telah menyelamatkan banyak orang, mengubah orang-orang yang semula dipenuhi kepahitan, kepedihan, dan kemarahan menjadi orang-orang yang dipenuhi dengan kebahagiaan, sukacita, dan kegairahan. Saya telah banyak mengenal orang-orang yang sulit menerima kasih karunia Tuhan, maka mereka juga sulit menyatakan kebajikan dan kasih karunia terhadap orang-orang lain. Jadi, terimalah kasih karunia Tuhan dan nyatakanlah kepada orang-orang lain. Ditulis oleh Eric Elder dan diterjemahkan oleh Hadi Kristadi pada tanggal 17 Mei 2009 untuk Pentas Kesaksian, http://pentas-kesaksian.blogspot.com. Mohon keterangan ini jangan dihapus ketika Anda memforwardnya atau mempostingnya di website atau blog Anda. Terima kasih.
*****
Even if you’ve never watched American Idol, you may still have heard of Adam Lambert. He’s competing this week in the grand finale of the nation’s most famous singing contest.
Besides having an astounding voice, there’s another thing that stands out to me about this top contender: his consistent graciousness.
When complimented by the judges for an outstanding performance, Adam readily offers his thanks to those in the band who helped make it possible. When asked by the host how he’ll be adding his own spin to a famous song, Adam compliments the one who wrote the song, saying that it was so well-written there’s little he could add to make it better.
It seems that almost every time a compliment comes his way, Adam steers the praise towards those around him.
While not many of us will ever be able to sing like Adam Lambert, we can all take a lesson from this other facet of his life that has helped to make him so incredibly successful: his graciousness towards others. Besides his “crazy vocals,” it seems that his ability to be so “other-focused” is part of what has made him so popular with those who watch him perform week after week.
When your thoughts, words and actions are filled with grace, people are naturally drawn towards you. They’re more likely to listen to what you have to say, to do what you ask them to do, and to become all that they can become. God wants you to be grace-filled, not only because it will enhance your life, but because it will enhance the lives of those around you as well.
God knows what a blessing graciousness can be because He’s been showering people with grace throughout human history. He knows that the best way to express His love to others is to overwhelm them with His grace.
God’s grace has helped transform countless lives, turning some of the most sour, bitter and angry people into people who are the most joy- filled, happy, and delightful people I know. I’ve also seen how those who don’t understand God’s grace, or who find it hard to understand or receive, also find it hard to express grace to others in meaningful or practical ways.
Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com
Selain memiliki suara yang sangat mengagumkan, ada suatu hal lagi yang menarik perhatian saya dari kontestan yang top ini: kebajikannya.
Ketika dipuji oleh para juri karena penampilannya yang hebat, Adam segera menyampaikan terima kasihnya kepada semua anggota band yang telah memungkinkan dia untuk menyanyi dengan baik. Ketika ditanya oleh pembawa acara, bagaimana dia akan menambahkan sesuatu ciri khasnya pada suatu lagu terkenal, Adam memuji orang yang telah menggubah lagu itu dan berkata bahwa lagu itu sudah digubah dengan sangat baik sehingga dia tidak perlu lagi menambahkan apa-apa untuk membuat lagu itu menjadi semakin baik.
Nampaknya setiap kali Adam mendapat pujian, dia selalu mengembalikan pujian itu kepada orang-orang di sekitarnya.
Ketika kita tidak dapat menyanyi sebaik Adam Lambert, kita dapat belajar daripadanya tentang suatu rahasia keberhasilan dari sisi lain kehidupan Adam Lambert: kebajikannya terhadap orang lain. Selain vokalnya yang "gila" dan luar biasa, kemampuannya untuk tetap populer di ajang ini dari minggu ke minggu adalah perhatiannya kepada orang-orang lain.
Ketika pikiran, perkataan, dan tindakan Anda dipenuhi dengan kebajikan dan kasih karunia terhadap orang-orang lain, orang-orang lain dengan sendirinya akan tertarik kepada Anda. Mereka akan lebih mudah mendengar apa yang Anda katakan, melakukan apa yang Anda minta, atau menjadi seperti apa yang Anda inginkan. Bapa di Sorga ingin agar Anda dipenuhi dengan kebajikan dan kasih karunia, bukan hanya karena hal itu akan meningkatkan kehidupanmu, tetapi juga akan meningkatkan kehidupan orang-orang di sekitar Anda.
Bapa di Sorga tahu bagaimana suatu kebajikan akan memberkati banyak orang karena Ia telah berbuat kebajikan dan memberikan kasih karunia melimpah sepanjang sejarah umat manusia, melalui kasih Tuhan Yesus Kristus di kayu salib. Ia tahu bahwa untuk mengasihi manusia, Ia harus melimpahkan kebajikan dan kasih karunia-Nya kepada mereka.
Kasih karunia Tuhan telah menyelamatkan banyak orang, mengubah orang-orang yang semula dipenuhi kepahitan, kepedihan, dan kemarahan menjadi orang-orang yang dipenuhi dengan kebahagiaan, sukacita, dan kegairahan. Saya telah banyak mengenal orang-orang yang sulit menerima kasih karunia Tuhan, maka mereka juga sulit menyatakan kebajikan dan kasih karunia terhadap orang-orang lain. Jadi, terimalah kasih karunia Tuhan dan nyatakanlah kepada orang-orang lain. Ditulis oleh Eric Elder dan diterjemahkan oleh Hadi Kristadi pada tanggal 17 Mei 2009 untuk Pentas Kesaksian, http://pentas-kesaksian.blogspot.com. Mohon keterangan ini jangan dihapus ketika Anda memforwardnya atau mempostingnya di website atau blog Anda. Terima kasih.
*****
Even if you’ve never watched American Idol, you may still have heard of Adam Lambert. He’s competing this week in the grand finale of the nation’s most famous singing contest.
Besides having an astounding voice, there’s another thing that stands out to me about this top contender: his consistent graciousness.
When complimented by the judges for an outstanding performance, Adam readily offers his thanks to those in the band who helped make it possible. When asked by the host how he’ll be adding his own spin to a famous song, Adam compliments the one who wrote the song, saying that it was so well-written there’s little he could add to make it better.
It seems that almost every time a compliment comes his way, Adam steers the praise towards those around him.
While not many of us will ever be able to sing like Adam Lambert, we can all take a lesson from this other facet of his life that has helped to make him so incredibly successful: his graciousness towards others. Besides his “crazy vocals,” it seems that his ability to be so “other-focused” is part of what has made him so popular with those who watch him perform week after week.
When your thoughts, words and actions are filled with grace, people are naturally drawn towards you. They’re more likely to listen to what you have to say, to do what you ask them to do, and to become all that they can become. God wants you to be grace-filled, not only because it will enhance your life, but because it will enhance the lives of those around you as well.
God knows what a blessing graciousness can be because He’s been showering people with grace throughout human history. He knows that the best way to express His love to others is to overwhelm them with His grace.
God’s grace has helped transform countless lives, turning some of the most sour, bitter and angry people into people who are the most joy- filled, happy, and delightful people I know. I’ve also seen how those who don’t understand God’s grace, or who find it hard to understand or receive, also find it hard to express grace to others in meaningful or practical ways.
Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com
Saturday, May 16, 2009
Saved Through Jehovah Witness
Diselamatkan Lewat Saksi Yehova
Setelah lulus SMA, saya ikut saudara ke Jakarta. Saat itu saya tidak memiliki tujuan hidup yang jelas. Tamat SD - SMP - SMA berlalu begitu saja. Suatu kali saya mengunjungi Monas, naik ke atas menara dan memperhatikan mobil-mobil dan orang-orang yang berlalu lalang. Saya bertanya pada diri saya sendiri, "Apa sebenarnya yang saya cari dalam hidup ini?" Saya ingin mencari pengalaman dan pengetahuan, dan inilah yang menjadi visi saya waktu itu.
Saya seorang muslim, dan ketika kuliah saya menjalin hubungan dengan seorang wanita beragama Kristen. Saya sangat mencintainya dan saya menemukan ada 'kasih' yang lain pada dirinya. Namun saya saat itu tidak mengerti kenapa orang Kristen itu bisa menyembah Yesus. Saya ingin tahu lebih banyak dan membaca Alkitabnya.
Pernah pada suatu kesempatan saya bertanya pada dosen agama Islam di kampus, "Kalau Yesus itu bukan Tuhan, kenapa orang Kristen menyembah-Nya?" Ia hanya memberikan buku-buku miliknya untuk saya baca. Saya berusaha untuk mendalami dan mempelajari tentang kehidupan Yesus lewat Alkitab pacar saya, Al Qur'an saya dan buku-buku yang diberikan oleh dosen saya.
Semakin saya mempelajarinya, semakin kagum saya dengan pribadi-Nya. Kemana-mana saya selalu membicarakan tentang Yesus, hingga teman-teman saya sempat mengkritik saya, bahkan saudara-saudara saya menuduh saya sudah murtad dan sesat. Saya selalu mengatakan bahwa Yesus adalah orang yang Revolusioner, pejuang HAM, rela mati demi sesama dan tidak munafik seperti ahli-ahli agama pada umumnya.
Saya sempat memimpin ibadah di mesjid kampus dan berbicara tentang Isa Al Masih. Ada salah satu umat yang memprotes saya dan menuduh saya sebagai orang Kristen yang menyusup. Ia memaksa saya untuk memperlihatkan KTP saya dan setelah saya menyerahkan kepadanya barulah ia sadar bahwa saya seorang muslim asli. Ia lalu minta maaf dan bahkan berusaha untuk mencium tangan saya.
Semakin hari saya semakin mencintai Yesus. Saya tetap rajin beribadah dan sering menangis saat sujud berdoa. Teman-teman dan saudara-saudara saya semakin bingung dan saya pun ikut bingung. Saya tetap mencintai pacar saya, namun tidak tahu bagaimana jadinya. Haruskah kami berpisah? Saya sangat berputus asa dan patah hati seperti mau mati rasanya. Saya tidak bisa menjadi seorang Kristen seperti dia, dan dia pun tidak mau meninggalkan Yesus, Tuhannya.
Dalam keadaan seperti itu saya mendapat kunjungan dari dua orang yang mengaku sebagai orang Kristen juga. Namun mereka menjelaskan bahwa Yesus bukan Allah seperti yang disembah oleh agama Kristen mayoritas. Mereka menerangkan bahwa Yesus hanyalah tuan, bukan Tuhan. Nama Allah sendiri adalah Yehuwa. Saya dapat menerima keyakinan mereka dan mau belajar lebih banyak dari mereka.
Akhirnya saya memutuskan untuk menjadi Kristen aliran mereka dan dibaptis, karena Kristen aliran ini tidak mengganggu iman saya, dan saya dapat menikah dengan pacar saya yang sangat saya cintai secara Kristiani. Iman saya saat itu tetaplah Islam, namun saya dibaptis secara Kristen hanya untuk sebagai syarat supaya saya bisa menikah dengan pacar saya.
Saat perjalanan ke Sulawesi untuk menikah di sana, saya naik kapal dengan segala beban di hati, dengan perasaan galau dan tidak tahu kemana nasib membawa saya dengan seribu macam pertanyaan yang tidak terjawab dalam pikiran saya.
Saya teringat kata-kata bijak dari seorang Norma Edwin, seorang penjelajah, pendaki gunung dan penelusur gua yang mati beku di gunung Everest. Ketika mayatnya ditemukan, ada selembar kertas di tangannya yang bertuliskan, "Hidup ini menuntut keberanian, berani menghadapi tanda tanya tanpa bisa menjawab, berani menghadapi tantangan tanpa bisa melawan, oleh karena itu, hadapilah dengan berani!" Inilah yang saya pegang.
Saya berdoa dalam hati, "Jika Allah yang saya sembah pagi, siang dan malam dan yang disembah oleh nenek moyang saya tidak mau saya dibaptis dan menikah di Sulawesi, biarlah kapal yang saya tumpangi ini tenggelam dan biarlah saya mati kaku di dalam laut!"
Beberapa saat kemudian, di kapal itu saya melihat ada orang asing, saya mengira ia orang Amerika. Saya sekedar menyapa saja,
"Are you Christian?"
"Yes, you?" balasnya.
"I am a Jehova Witness," jawab saya.
Dia agak kaget mendengar jawaban saya, namun sesaat kemudian dia menanyakan apakah saya mau diajak berdoa bersama dengannya.
"Ok!" saya setuju. Lalu, sambil berdiri kami menghadap ke laut, dia kemudian merangkul saya dengan satu tangan dan tangan yang lain ia angkat tinggi ke langit.
Urapan yang luar biasa saya rasakan, beban berat yang menghimpit saya lenyap begitu saja, dan begitu ringan ketika saya mencoba berjalan. Setelah selesai berdoa, saya berkata kepadanya,
"If Jesus is here now, we can see Him walks on the water!"
Dia tertawa, dan entah apa yang dia katakan saat itu, tetapi saya mengetahui dengan pasti bahwa Yesus sedang berjalan dalam lautan hati saya. Saya telah menerima-Nya sebagai Tuhan dan Juruselamat saya.
Saya akhirnya tiba di Sulawesi dengan selamat, dibaptis dan menikah di gereja dengan lancar dan saya menemukan suatu bentuk ibadah yang sempurna, yang sungguh bisa merasakan dekatnya hadirat Allah. Ada lagu pujian yang selalu terngiang-ngiang di telinga saya:
"Ajaib, ajaib, ajaib, ajaiblah Tuhanku,
Ajaib, ajaib, ajaib, ajaiblah yang sungguh,
Besarlah rahmatNya, heranlah kuasa-Nya,
Ajaiblah Engkau Tuhan, ajaib, ajaib."
Pada suatu saat saya mengalami sakit, divonis dokter kena TBC dan Typhus. Isteri saya pulang gereja membawa perjamuan kudus dan meminta saya untuk memakan dan meminumnya. Ia mengatakan bahwa ini adalah Tubuh dan Darah Tuhan Yesus, kalau saya memakan dan meminumnya, maka saya menyatu dengan Tuhan dan segala sakit penyakit yang saya alami akan ditanggung oleh-Nya. Saya menyerahkan hidup saya kepada Tuhan dan menerima perjamuan kudus, dan saya sembuh total secara ajaib. Sebab memang Tuhan sudah menanggung sakit penyakit kita di atas kayu salib.
Yesaya 53:5 berbunyi, " Tetapi dia tertikam oleh karena pemberontakan kita, dia diremukkan oleh karena kejahatan kita; ganjaran yang mendatangkan keselamatan bagi kita ditimpakan kepadanya, dan oleh bilur-bilurnya kita menjadi sembuh."
Inilah kesaksian saya tentang Yesus yang tadinya asing bagi saya, kemudian menjadi idola saya, lalu barulah saya mengakuinya sebagai Tuhan dan Juruselamat saya, yang mengampuni dosa-dosa saya dan menyembuhkan segala penyakit saya. Sebenarnya masih banyak lagi kesaksian saya, terutama karena saya sekarang telah berjalan bersama Tuhan Yesus, namun rasanya 30 halamanpun masih kurang untuk menuliskan semuanya.
Demikianlah kesaksian saya. Ditulis oleh Yeremia Ibrahim Harahap, diterima dari Elia Stories.
Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com
Setelah lulus SMA, saya ikut saudara ke Jakarta. Saat itu saya tidak memiliki tujuan hidup yang jelas. Tamat SD - SMP - SMA berlalu begitu saja. Suatu kali saya mengunjungi Monas, naik ke atas menara dan memperhatikan mobil-mobil dan orang-orang yang berlalu lalang. Saya bertanya pada diri saya sendiri, "Apa sebenarnya yang saya cari dalam hidup ini?" Saya ingin mencari pengalaman dan pengetahuan, dan inilah yang menjadi visi saya waktu itu.
Saya seorang muslim, dan ketika kuliah saya menjalin hubungan dengan seorang wanita beragama Kristen. Saya sangat mencintainya dan saya menemukan ada 'kasih' yang lain pada dirinya. Namun saya saat itu tidak mengerti kenapa orang Kristen itu bisa menyembah Yesus. Saya ingin tahu lebih banyak dan membaca Alkitabnya.
Pernah pada suatu kesempatan saya bertanya pada dosen agama Islam di kampus, "Kalau Yesus itu bukan Tuhan, kenapa orang Kristen menyembah-Nya?" Ia hanya memberikan buku-buku miliknya untuk saya baca. Saya berusaha untuk mendalami dan mempelajari tentang kehidupan Yesus lewat Alkitab pacar saya, Al Qur'an saya dan buku-buku yang diberikan oleh dosen saya.
Semakin saya mempelajarinya, semakin kagum saya dengan pribadi-Nya. Kemana-mana saya selalu membicarakan tentang Yesus, hingga teman-teman saya sempat mengkritik saya, bahkan saudara-saudara saya menuduh saya sudah murtad dan sesat. Saya selalu mengatakan bahwa Yesus adalah orang yang Revolusioner, pejuang HAM, rela mati demi sesama dan tidak munafik seperti ahli-ahli agama pada umumnya.
Saya sempat memimpin ibadah di mesjid kampus dan berbicara tentang Isa Al Masih. Ada salah satu umat yang memprotes saya dan menuduh saya sebagai orang Kristen yang menyusup. Ia memaksa saya untuk memperlihatkan KTP saya dan setelah saya menyerahkan kepadanya barulah ia sadar bahwa saya seorang muslim asli. Ia lalu minta maaf dan bahkan berusaha untuk mencium tangan saya.
Semakin hari saya semakin mencintai Yesus. Saya tetap rajin beribadah dan sering menangis saat sujud berdoa. Teman-teman dan saudara-saudara saya semakin bingung dan saya pun ikut bingung. Saya tetap mencintai pacar saya, namun tidak tahu bagaimana jadinya. Haruskah kami berpisah? Saya sangat berputus asa dan patah hati seperti mau mati rasanya. Saya tidak bisa menjadi seorang Kristen seperti dia, dan dia pun tidak mau meninggalkan Yesus, Tuhannya.
Dalam keadaan seperti itu saya mendapat kunjungan dari dua orang yang mengaku sebagai orang Kristen juga. Namun mereka menjelaskan bahwa Yesus bukan Allah seperti yang disembah oleh agama Kristen mayoritas. Mereka menerangkan bahwa Yesus hanyalah tuan, bukan Tuhan. Nama Allah sendiri adalah Yehuwa. Saya dapat menerima keyakinan mereka dan mau belajar lebih banyak dari mereka.
Akhirnya saya memutuskan untuk menjadi Kristen aliran mereka dan dibaptis, karena Kristen aliran ini tidak mengganggu iman saya, dan saya dapat menikah dengan pacar saya yang sangat saya cintai secara Kristiani. Iman saya saat itu tetaplah Islam, namun saya dibaptis secara Kristen hanya untuk sebagai syarat supaya saya bisa menikah dengan pacar saya.
Saat perjalanan ke Sulawesi untuk menikah di sana, saya naik kapal dengan segala beban di hati, dengan perasaan galau dan tidak tahu kemana nasib membawa saya dengan seribu macam pertanyaan yang tidak terjawab dalam pikiran saya.
Saya teringat kata-kata bijak dari seorang Norma Edwin, seorang penjelajah, pendaki gunung dan penelusur gua yang mati beku di gunung Everest. Ketika mayatnya ditemukan, ada selembar kertas di tangannya yang bertuliskan, "Hidup ini menuntut keberanian, berani menghadapi tanda tanya tanpa bisa menjawab, berani menghadapi tantangan tanpa bisa melawan, oleh karena itu, hadapilah dengan berani!" Inilah yang saya pegang.
Saya berdoa dalam hati, "Jika Allah yang saya sembah pagi, siang dan malam dan yang disembah oleh nenek moyang saya tidak mau saya dibaptis dan menikah di Sulawesi, biarlah kapal yang saya tumpangi ini tenggelam dan biarlah saya mati kaku di dalam laut!"
Beberapa saat kemudian, di kapal itu saya melihat ada orang asing, saya mengira ia orang Amerika. Saya sekedar menyapa saja,
"Are you Christian?"
"Yes, you?" balasnya.
"I am a Jehova Witness," jawab saya.
Dia agak kaget mendengar jawaban saya, namun sesaat kemudian dia menanyakan apakah saya mau diajak berdoa bersama dengannya.
"Ok!" saya setuju. Lalu, sambil berdiri kami menghadap ke laut, dia kemudian merangkul saya dengan satu tangan dan tangan yang lain ia angkat tinggi ke langit.
Urapan yang luar biasa saya rasakan, beban berat yang menghimpit saya lenyap begitu saja, dan begitu ringan ketika saya mencoba berjalan. Setelah selesai berdoa, saya berkata kepadanya,
"If Jesus is here now, we can see Him walks on the water!"
Dia tertawa, dan entah apa yang dia katakan saat itu, tetapi saya mengetahui dengan pasti bahwa Yesus sedang berjalan dalam lautan hati saya. Saya telah menerima-Nya sebagai Tuhan dan Juruselamat saya.
Saya akhirnya tiba di Sulawesi dengan selamat, dibaptis dan menikah di gereja dengan lancar dan saya menemukan suatu bentuk ibadah yang sempurna, yang sungguh bisa merasakan dekatnya hadirat Allah. Ada lagu pujian yang selalu terngiang-ngiang di telinga saya:
"Ajaib, ajaib, ajaib, ajaiblah Tuhanku,
Ajaib, ajaib, ajaib, ajaiblah yang sungguh,
Besarlah rahmatNya, heranlah kuasa-Nya,
Ajaiblah Engkau Tuhan, ajaib, ajaib."
Pada suatu saat saya mengalami sakit, divonis dokter kena TBC dan Typhus. Isteri saya pulang gereja membawa perjamuan kudus dan meminta saya untuk memakan dan meminumnya. Ia mengatakan bahwa ini adalah Tubuh dan Darah Tuhan Yesus, kalau saya memakan dan meminumnya, maka saya menyatu dengan Tuhan dan segala sakit penyakit yang saya alami akan ditanggung oleh-Nya. Saya menyerahkan hidup saya kepada Tuhan dan menerima perjamuan kudus, dan saya sembuh total secara ajaib. Sebab memang Tuhan sudah menanggung sakit penyakit kita di atas kayu salib.
Yesaya 53:5 berbunyi, " Tetapi dia tertikam oleh karena pemberontakan kita, dia diremukkan oleh karena kejahatan kita; ganjaran yang mendatangkan keselamatan bagi kita ditimpakan kepadanya, dan oleh bilur-bilurnya kita menjadi sembuh."
Inilah kesaksian saya tentang Yesus yang tadinya asing bagi saya, kemudian menjadi idola saya, lalu barulah saya mengakuinya sebagai Tuhan dan Juruselamat saya, yang mengampuni dosa-dosa saya dan menyembuhkan segala penyakit saya. Sebenarnya masih banyak lagi kesaksian saya, terutama karena saya sekarang telah berjalan bersama Tuhan Yesus, namun rasanya 30 halamanpun masih kurang untuk menuliskan semuanya.
Demikianlah kesaksian saya. Ditulis oleh Yeremia Ibrahim Harahap, diterima dari Elia Stories.
Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com
Friday, May 15, 2009
New Hope
Pelayanan ini bermula dari perjumpaan pribadi Joel Ivan dengan Tuhan ketika dalam keputus-asaan yang besar, Joel ingin mengakhiri hidupnya dengan melompat dari lantai 11 di sebuah apartemen. Ketika Joel hampir mengakhiri hidupnya, Tuhan dengan kuasa supranatural-Nya tiba-tiba menghembuskan angin yang kuat dan membatalkan Joel untuk melakukan tindakan yang bodoh.
Dalam perjumpaan pribadi dengan Tuhan, Tuhan berkata, "BRING MY HOPE TO MY PEOPLE, YOU WILL SEE THOUSAND UPON THOUSANDS WILL COME TO ME AS GREAT ARMY". Kemudian Tuhan memberikan sebuah visi untuk memulai sebuah program radio yang diberi nama NEW HOPE (PENGHARAPAN BARU) dengan sebuah visi utama untuk membangkitkan orang-orang yang berputus asa, kalah, jatuh dan murtad, agar kembali disegarkan oleh pengharapan baru dari Tuhan. Mereka memulai Program New Hope di Radio Heartline FM Jakarta dan diluar dugaan, setiap live kurang lebih 500 SMS yang mereka terima dan 80% adalah dari orang-orang yang sudah berputus asa dan hampir murtad dengan Tuhan karena kebanyakan orang-orang itu telah kecewa dengan hidup mereka bahkan orang-orang seiman sendiri. Tetapi mereka dijamah dan dipulihkan Tuhan ketika mendengar program radio New Hope. Seiring berjalan waktu, mereka mulai mengembangkan jalur radio ke kota dan pulau lain antara lain: Makasar, Manado, Semarang, dan Surabaya. Sumber: Joel Ivan Ministry.
Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com
Dalam perjumpaan pribadi dengan Tuhan, Tuhan berkata, "BRING MY HOPE TO MY PEOPLE, YOU WILL SEE THOUSAND UPON THOUSANDS WILL COME TO ME AS GREAT ARMY". Kemudian Tuhan memberikan sebuah visi untuk memulai sebuah program radio yang diberi nama NEW HOPE (PENGHARAPAN BARU) dengan sebuah visi utama untuk membangkitkan orang-orang yang berputus asa, kalah, jatuh dan murtad, agar kembali disegarkan oleh pengharapan baru dari Tuhan. Mereka memulai Program New Hope di Radio Heartline FM Jakarta dan diluar dugaan, setiap live kurang lebih 500 SMS yang mereka terima dan 80% adalah dari orang-orang yang sudah berputus asa dan hampir murtad dengan Tuhan karena kebanyakan orang-orang itu telah kecewa dengan hidup mereka bahkan orang-orang seiman sendiri. Tetapi mereka dijamah dan dipulihkan Tuhan ketika mendengar program radio New Hope. Seiring berjalan waktu, mereka mulai mengembangkan jalur radio ke kota dan pulau lain antara lain: Makasar, Manado, Semarang, dan Surabaya. Sumber: Joel Ivan Ministry.
Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com
Thursday, May 14, 2009
Set Your Day
Firman Tuhan Hari Ini bersama Joel dan Victoria Osteen
"Aturlah pikiranmu dan jagalah pikiranmu tetap pada perkara yang di atas (hal-hal yang lebih tinggi), bukan pada perkara yang ada di bumi." (Kolose 3:2 - terjemahan dari Alkitab Versi Amplified)
Pernahkah Anda sedang berbaring di tempat tidur pada pagi hari dan tak jelas dari mana datangnya Anda diingatkan pada semua kekeliruan yang Anda buat pada masa yang lalu dan semua masalah yang Anda harus hadapi di masa mendatang? Itulah upaya sang musuh yang mencoba menyetel pikiran Anda untuk mengalami hari yang buruk, berantakan dan dikalahkan, tetapi Anda jangan jatuh ke dalam perangkap tersebut.
Firman Tuhan katakan, "Arahkanlah pikiranmu dan jagalah pikiranmu pada hal-hal yang lebih tinggi." Hal ini memberitahu kita bahwa kita harus bersikap proaktif. Kita harus selalu berada pada posisi menyerang, bukan diserang musuh. Pada saat Anda bangun pagi, milikilah sikap seperti Daud yang terdapat dalam Mazmur dan berkata, "Inilah hari yang dijadikan Tuhan! Tak peduli apa yang aku rasakan, tak peduli seperti apa perekonomian, tak peduli apa kata laporan medis, aku memilih untuk bersuka cita. Aku memilih untuk berbahagia hari ini."
Jika Anda berkata apa yang Daud katakan seperti di atas, apakah Anda tahu apa yang sesungguhnya Anda sedang katakan? Anda sedang mengatakan, "Aku tak membiarkan orang lain atau pihak lain mencuri sukacitaku hari ini! Aku tak mengizinkan patah semangat dan kemunduran mengalahkanku hari ini. Aku tak akan berfokus pada masalah-masalahku atau kekeliruan-kekeliruanku. Aku akan mengatur pikiranku untuk meraih segala sesuatu yang baik yang telah disediakan Allah bagiku." Email: kiriman dari Bapak Gary Lee, Sydney, Australia. Ditulis oleh Joel & Victoria Osteen, diterjemahkan oleh Hadi Kristadi pada tanggal 14 Mei 2009 untuk Pentas Kesaksian, http://pentas-kesaksian.blogspot.com. Mohon keterangan ini jangan dihilangkan ketika Anda memforward atau memuatnya dalam website/blog Anda. Terima kasih banyak.
****
TODAY'S WORD from Joel and Victoria
“Set your minds and keep them set on what is above (the higher things), not on the things that are on the earth.” (Colossians 3:2, AMP)
Have you ever been laying in bed in the morning and out of nowhere you’re reminded of all the mistakes you made yesterday and all the problems you have in your future? That’s the enemy trying to set your mind for a negative, defeated, lousy day, but you don’t have to fall into that trap.
The Scripture says, “Set your mind and keep it set on the higher things.” This tells us that we have to be proactive. We have to stay on the offensive. When you get up in the morning, have the attitude that David did in the Psalms and say, “This is another day the Lord has made! No matter how I feel, no matter what the economy looks like, no matter what the medical report says, I am choosing to rejoice. I am choosing to be happy this day.” You know what you’re really saying? You’re saying, “I’m not going to let other people steal my joy today. I’m not going to let disappointments and setbacks discourage me. I’m not going to focus on my problems and my mistakes. I’m making up my mind to embrace everything the Lord has in store for me!”
Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN pada tanggal 14 Mei 2009 di
http://pentas-kesaksian.blogspot.com
"Aturlah pikiranmu dan jagalah pikiranmu tetap pada perkara yang di atas (hal-hal yang lebih tinggi), bukan pada perkara yang ada di bumi." (Kolose 3:2 - terjemahan dari Alkitab Versi Amplified)
Pernahkah Anda sedang berbaring di tempat tidur pada pagi hari dan tak jelas dari mana datangnya Anda diingatkan pada semua kekeliruan yang Anda buat pada masa yang lalu dan semua masalah yang Anda harus hadapi di masa mendatang? Itulah upaya sang musuh yang mencoba menyetel pikiran Anda untuk mengalami hari yang buruk, berantakan dan dikalahkan, tetapi Anda jangan jatuh ke dalam perangkap tersebut.
Firman Tuhan katakan, "Arahkanlah pikiranmu dan jagalah pikiranmu pada hal-hal yang lebih tinggi." Hal ini memberitahu kita bahwa kita harus bersikap proaktif. Kita harus selalu berada pada posisi menyerang, bukan diserang musuh. Pada saat Anda bangun pagi, milikilah sikap seperti Daud yang terdapat dalam Mazmur dan berkata, "Inilah hari yang dijadikan Tuhan! Tak peduli apa yang aku rasakan, tak peduli seperti apa perekonomian, tak peduli apa kata laporan medis, aku memilih untuk bersuka cita. Aku memilih untuk berbahagia hari ini."
Jika Anda berkata apa yang Daud katakan seperti di atas, apakah Anda tahu apa yang sesungguhnya Anda sedang katakan? Anda sedang mengatakan, "Aku tak membiarkan orang lain atau pihak lain mencuri sukacitaku hari ini! Aku tak mengizinkan patah semangat dan kemunduran mengalahkanku hari ini. Aku tak akan berfokus pada masalah-masalahku atau kekeliruan-kekeliruanku. Aku akan mengatur pikiranku untuk meraih segala sesuatu yang baik yang telah disediakan Allah bagiku." Email: kiriman dari Bapak Gary Lee, Sydney, Australia. Ditulis oleh Joel & Victoria Osteen, diterjemahkan oleh Hadi Kristadi pada tanggal 14 Mei 2009 untuk Pentas Kesaksian, http://pentas-kesaksian.blogspot.com. Mohon keterangan ini jangan dihilangkan ketika Anda memforward atau memuatnya dalam website/blog Anda. Terima kasih banyak.
****
TODAY'S WORD from Joel and Victoria
“Set your minds and keep them set on what is above (the higher things), not on the things that are on the earth.” (Colossians 3:2, AMP)
Have you ever been laying in bed in the morning and out of nowhere you’re reminded of all the mistakes you made yesterday and all the problems you have in your future? That’s the enemy trying to set your mind for a negative, defeated, lousy day, but you don’t have to fall into that trap.
The Scripture says, “Set your mind and keep it set on the higher things.” This tells us that we have to be proactive. We have to stay on the offensive. When you get up in the morning, have the attitude that David did in the Psalms and say, “This is another day the Lord has made! No matter how I feel, no matter what the economy looks like, no matter what the medical report says, I am choosing to rejoice. I am choosing to be happy this day.” You know what you’re really saying? You’re saying, “I’m not going to let other people steal my joy today. I’m not going to let disappointments and setbacks discourage me. I’m not going to focus on my problems and my mistakes. I’m making up my mind to embrace everything the Lord has in store for me!”
Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN pada tanggal 14 Mei 2009 di
http://pentas-kesaksian.blogspot.com
Pass It On
Teruskan Kebaikan Ini
Ketika anak lelaki saya, Mark, duduk di SD kelas tiga, ia menabung uang sakunya selama lebih dari dua bulan untuk membeli hadiah Natal bagi orang-orang yang disayanginya. Ia berhasil menabung sebanyak dua puluh dollar. Pada hari Sabtu ketiga di bulan Desember Mark mengatakan bahwa daftar orang-orang yang hendak dibelikannya hadiah sudah lengkap, begitu pula uang untuk keperluan itu sudah ada di kantongnya.
Saya mengantarnya dengan mobil ke sebuah toko swalayan. Mark masuk ke dalam seorang diri karena ia tidak ingin saya mengetahui apa yang akan diberikan sebagai hadiah-hadiah, sementara saya menunggu di mobil sambil membaca buku. Tiga perempat jam lamanya Mark sibuk memilih hadiah-hadiah yang hendak dibeli. Akhirnya, ia menghampiri kasir dengan senyuman bahagia menghias wajahnya. Setelah kasir selesai menjumlahkan semuanya, Mark merogoh kantong celananya, untuk mengambil uang.
Ternyata uang itu tidak ada lagi. Yang ada hanya sebuah lubang di kantongnya. Mark berdiri di tengah toko dengan tangan memegang keranjang tempat belanjaan dan air mata bercucuran membasahi pipi. Ia menangis tersedu-sedu. Tiba-tiba terjadilah keajaiban. Seorang wanita yang juga sedang berbelanja datang menghampiri Mark. Wanita itu berlutut lalu merangkul anak saya sambil berkata, "Ijinkanlah aku mengganti uangmu yang hilang. Itu akan menjadi hadiah terindah yang bisa kauberikan kepadaku. Aku hanya minta agar pada suatu saat nanti kau berbuat yang sama. Pada suatu waktu apabila kau sudah dewasa, aku ingin kau membantu orang-orang yang membutuhkan. Apabila kau membantu orang itu, aku tahu bahwa perasaanmu saat itu akan seenak yang kurasakan sekarang." Mark menerima uang yang disodorkan dan sambil berusaha mengeringkan air mata ia berlari secepat-cepatnya menuju tempat pembayaran.
Saya rasa tahun itu kami semua menikmati hadiah-hadiah yang kami terima, namun Mark lebih berbahagia lagi ketika memberikannya kepada kami.
Saya ingin mengucapkan terima kasih kepada wanita yang telah memberi uang kepada Mark. Saya ingin menceritakan kepadanya bahwa empat tahun kemudian Mark pergi dari rumah ke rumah, mengumpulkan sumbangan berupa selimut dan mantel untuk para korban kebakaran Oakland - dan melakukannya sambil terkenang kepada wanita yang pernah menolongnya. Saya ingin bercerita kepada wanita yang murah hati itu bahwa setiap kali saya menyumbang makanan atau pakaian kepada para tunawisma, saya senantiasa terkenang kepadanya. Dan saya ingin berjanji kepadanya bahwa Mark takkan pernah lupa meneruskan kemurahan hatinya kepada orang-orang lain lagi. Ditulis oleh Laurie Pines untuk Chicken Soup for the Soul, terbitan Gramedia 2008. Pertama kali diposting di Pentas Kesaksian, http://pentas-kesaksian.blogspot.com pada tanggal 14 Mei 2009. Mohon keterangan ini jangan dihilangkan ketika Anda memforwardnya kepada orang-orang yang Anda kasihi atau mempostingnya di website/blog Anda. Terima kasih.
Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com
Ketika anak lelaki saya, Mark, duduk di SD kelas tiga, ia menabung uang sakunya selama lebih dari dua bulan untuk membeli hadiah Natal bagi orang-orang yang disayanginya. Ia berhasil menabung sebanyak dua puluh dollar. Pada hari Sabtu ketiga di bulan Desember Mark mengatakan bahwa daftar orang-orang yang hendak dibelikannya hadiah sudah lengkap, begitu pula uang untuk keperluan itu sudah ada di kantongnya.
Saya mengantarnya dengan mobil ke sebuah toko swalayan. Mark masuk ke dalam seorang diri karena ia tidak ingin saya mengetahui apa yang akan diberikan sebagai hadiah-hadiah, sementara saya menunggu di mobil sambil membaca buku. Tiga perempat jam lamanya Mark sibuk memilih hadiah-hadiah yang hendak dibeli. Akhirnya, ia menghampiri kasir dengan senyuman bahagia menghias wajahnya. Setelah kasir selesai menjumlahkan semuanya, Mark merogoh kantong celananya, untuk mengambil uang.
Ternyata uang itu tidak ada lagi. Yang ada hanya sebuah lubang di kantongnya. Mark berdiri di tengah toko dengan tangan memegang keranjang tempat belanjaan dan air mata bercucuran membasahi pipi. Ia menangis tersedu-sedu. Tiba-tiba terjadilah keajaiban. Seorang wanita yang juga sedang berbelanja datang menghampiri Mark. Wanita itu berlutut lalu merangkul anak saya sambil berkata, "Ijinkanlah aku mengganti uangmu yang hilang. Itu akan menjadi hadiah terindah yang bisa kauberikan kepadaku. Aku hanya minta agar pada suatu saat nanti kau berbuat yang sama. Pada suatu waktu apabila kau sudah dewasa, aku ingin kau membantu orang-orang yang membutuhkan. Apabila kau membantu orang itu, aku tahu bahwa perasaanmu saat itu akan seenak yang kurasakan sekarang." Mark menerima uang yang disodorkan dan sambil berusaha mengeringkan air mata ia berlari secepat-cepatnya menuju tempat pembayaran.
Saya rasa tahun itu kami semua menikmati hadiah-hadiah yang kami terima, namun Mark lebih berbahagia lagi ketika memberikannya kepada kami.
Saya ingin mengucapkan terima kasih kepada wanita yang telah memberi uang kepada Mark. Saya ingin menceritakan kepadanya bahwa empat tahun kemudian Mark pergi dari rumah ke rumah, mengumpulkan sumbangan berupa selimut dan mantel untuk para korban kebakaran Oakland - dan melakukannya sambil terkenang kepada wanita yang pernah menolongnya. Saya ingin bercerita kepada wanita yang murah hati itu bahwa setiap kali saya menyumbang makanan atau pakaian kepada para tunawisma, saya senantiasa terkenang kepadanya. Dan saya ingin berjanji kepadanya bahwa Mark takkan pernah lupa meneruskan kemurahan hatinya kepada orang-orang lain lagi. Ditulis oleh Laurie Pines untuk Chicken Soup for the Soul, terbitan Gramedia 2008. Pertama kali diposting di Pentas Kesaksian, http://pentas-kesaksian.blogspot.com pada tanggal 14 Mei 2009. Mohon keterangan ini jangan dihilangkan ketika Anda memforwardnya kepada orang-orang yang Anda kasihi atau mempostingnya di website/blog Anda. Terima kasih.
Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com
Wednesday, May 13, 2009
Powerful and Powerless
Ada pesan bagus yang masuk ke HP saya hari ini, bunyinya:
"Waktu kita berpikir kita lemah, pada saat itulah kita sebenarnya sangat kuat dan bisa melangkah dengan iman kita. Waktu kita merasa kita kuat, pada waktu itulah kita sangat lemah karena kita sedah membuka celah kesombongan di hati kita sehingga kita melangkah dengan pikiran kita yang terbatas."
Firman Tuhan menegaskan: "Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna." Sebab itu terlebih suka aku bermegah atas kelemahanku, supaya kuasa Kristus turun menaungi aku." (2 Kor. 12:9)
Ditulis/diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com
"Waktu kita berpikir kita lemah, pada saat itulah kita sebenarnya sangat kuat dan bisa melangkah dengan iman kita. Waktu kita merasa kita kuat, pada waktu itulah kita sangat lemah karena kita sedah membuka celah kesombongan di hati kita sehingga kita melangkah dengan pikiran kita yang terbatas."
Firman Tuhan menegaskan: "Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna." Sebab itu terlebih suka aku bermegah atas kelemahanku, supaya kuasa Kristus turun menaungi aku." (2 Kor. 12:9)
Ditulis/diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com
Tuesday, May 12, 2009
Pet's Lover
Seorang Ibu sedang sedih hari ini. Salah seekor kucingnya (dari jumlah total 15 ekor) sedang sakit. Sudah tiga kali dokter hewan dipanggil ke rumahnya di bilangan jalan raya Metro Pondok Indah (sejajar dengan Pondok Indah Mal 2). Ketika Ibu ini menceritakan perihal kucingnya, ia mengaku baru saja menyuapi makanan kepada kucingnya dengan penuh rasa belas kasihan.
"Wah, kasihan deh. Kucing kesayangan saya itu cuma bisa menatap mata saya dengan sayu," katanya. Aneh juga Ibu ini! Dia studi di Amerika Serikat beberapa tahun hanya untuk mengurus kucing. Suaminya memang seorang pengusaha sukses. Sang Ibu tak memiliki kegiatan lain, karena anak-anaknya sedang studi di luar negeri. Ibu ini hanya sibuk mengurus rumah tangga dan lima belas ekor kucing.
Ditulis/diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com
"Wah, kasihan deh. Kucing kesayangan saya itu cuma bisa menatap mata saya dengan sayu," katanya. Aneh juga Ibu ini! Dia studi di Amerika Serikat beberapa tahun hanya untuk mengurus kucing. Suaminya memang seorang pengusaha sukses. Sang Ibu tak memiliki kegiatan lain, karena anak-anaknya sedang studi di luar negeri. Ibu ini hanya sibuk mengurus rumah tangga dan lima belas ekor kucing.
Ditulis/diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com
Tips to Avoid Swine Flu
Tips untuk mencegah penularan virus flu babi di lingkungan kita:
1.Jangan berjabat tangan dan peluk cium dengan babi (nanti dikira pasien psikiater);
1.Jika anda memelihara babi, sediakan masker untuk penutup hidup dan mulut babi-babi tsb;
2.Jangan tidur bersebelahan dengan babi;
3.Jangan suka mengucapkan kata "babi" ke pada orang lain: babi loe......
4.Kalau mendapat kiriman lauk/dendeng babi panggang, jangan segera dimakan. Tapi kirim dulu ke dokter untuk dicicipi apakah positif kena virus flu atau tidak;
2.Jangan menerima babi sebagai teman Anda di Facebook/Friendster karena dia dapat mengharvest teman-teman Anda;
3.Jangan memforward email ini ke babi-babi, dikhawatirkan mereka jadi tahu sehingga mencari cara penularan lainnya;
4.Hindari memakai segala aksesori babi (kaos gambar babi, anting2 babi, kalung babi, ikat pinggang sabuk babi, dll). Karena babi-babi yang sedang flu itu mungkin akan mengira Anda adalah simpatisan babi, sehingga kemungkinan mereka akan menyerbu Anda untuk meminta perlindungan karena saat ini banyak yang memburu mereka;
5.Salah satu yang juga penting adalah agar para babi ngepet untuk segera menyadarkan diri dan kembali ke jalan yang benar sebelum mereka menciptakan varian baru virus tersebut=> " flu babi ngepet".
Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com
1.Jangan berjabat tangan dan peluk cium dengan babi (nanti dikira pasien psikiater);
1.Jika anda memelihara babi, sediakan masker untuk penutup hidup dan mulut babi-babi tsb;
2.Jangan tidur bersebelahan dengan babi;
3.Jangan suka mengucapkan kata "babi" ke pada orang lain: babi loe......
4.Kalau mendapat kiriman lauk/dendeng babi panggang, jangan segera dimakan. Tapi kirim dulu ke dokter untuk dicicipi apakah positif kena virus flu atau tidak;
2.Jangan menerima babi sebagai teman Anda di Facebook/Friendster karena dia dapat mengharvest teman-teman Anda;
3.Jangan memforward email ini ke babi-babi, dikhawatirkan mereka jadi tahu sehingga mencari cara penularan lainnya;
4.Hindari memakai segala aksesori babi (kaos gambar babi, anting2 babi, kalung babi, ikat pinggang sabuk babi, dll). Karena babi-babi yang sedang flu itu mungkin akan mengira Anda adalah simpatisan babi, sehingga kemungkinan mereka akan menyerbu Anda untuk meminta perlindungan karena saat ini banyak yang memburu mereka;
5.Salah satu yang juga penting adalah agar para babi ngepet untuk segera menyadarkan diri dan kembali ke jalan yang benar sebelum mereka menciptakan varian baru virus tersebut=> " flu babi ngepet".
Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com
Monday, May 11, 2009
Ministry to the Poor
Nama Tambus Sihombing mungkin kurang dikenal banyak orang Kristen. Namun bagi anak-anak jalanan, gelandangan, pengamen, penghuni gubuk-gubuk di sepanjang bantaran rel kereta api di wilayah Senen sampai Kota, pria kelahiran tahun 1953 ini tidak asing lagi. Selama 19 tahun ia telah melayani mereka dengan memberi makanan, pelayanan kesehatan, pendidikan, dan rumah singgah.
Awal pelayanan Tambus berawal dari Perayaan Natal tahun 1990 di Gelanggang Olahraga Remaja di Senen, Jakarta Pusat. Di luar dugaan, acara tanpa publikasi itu dihadiri ribuan anak jalanan, orang buta dan lumpuh, gembel dan pengemis yang ada di sekitar Stasiun Kereta Api Senen.
"Acara Natal itu spontan karena ada dana sumbangan dari Advent Bangun, mantan artis dan sekarang sudah menjadi pendeta di GTI Tiberias, sebesar Rp. 5 juta. Akhirnya kami menyewa gedung gelanggang remaja Senen. Kami memasak sendiri makanan untuk mereka." tutur Tambus kepada Majalah Narwastu Pembaruan belum lama ini.
Melihat antusiasme mereka, ia pun tergerak untuk melayani lebih jauh. Setiap pagi bersama istrinya, Habibah, Tambus menelusuri jalan sepanjang rel kereta api dari Stasiun Senen hingga Stasiun Beos di Kota, untuk memberi makan para penghuni gubuk-gubuk plastik, anak-anak jalanan, pengamen, sekaligus berbincang-bincang sembari membagikan Firman Tuhan.
"Kami berjalan kaki untuk mencari jiwa-jiwa, bersahabat dengan mereka, memberi bantuan, membagikan makanan dan sebagainya. Awalnya kami melakukan pendekatan, berbincang-bincang, bertamu dan minum di gubuk mereka. Kadang-kadang kami juga tidur-tiduran di gubuk mereka. Saya tidak merasa risi untuk minum dan tidur-tiduran di tempat kumuh seperti itu. Ketika kami datang mereka sudah menyuguhkan minuman untuk kami. Kami banyak ngobrol dengan mereka: bertanya latar belakang mereka, bertanya bagaimana mereka bisa sampai tinggal di situ, bertanya tentang masalah-masalah yang mereka hadapi dan sebagainya."
Pelayanan Tambus Sihombing kemudian semakin berkembang. Dia mulai mengadakan ibadah bagi kaum pra-sejahtera itu. Sekitar 50 sampai 100 orang hadir dalam ibadah sederhana di pinggir rel kereta api. Tempat ibadah pun berpindah-pindah. Pernah di Mess Irian di Jalan Tanah Tinggi, pernah di Wisma Duma di Tanah Tinggi, kemudian pindah lagi ke Cempaka Putih.
Dalam pelayanannya Tambus pernah mengalami tantangan ketika salah seorang preman bernama Slamet mengancam. "Waktu itu dia mengancam akan membunuh saya kalau masih terus melayani orang-orang di pinggir rel kereta api. Akhirnya, saya berdoa dan esoknya jam 10 pagi saya mendatangi gubuknya. Kemudian saya bertemu dan mengobrol dengan dia."
Satu bulan setelah pertemuan itu rupanya Slamet menderita sakit Hernia dan harus dibawa ke RS Cipto Mangunkusumo untuk operasi dengan biaya Rp. 7 juta. Karena dia tidak ada dana untuk operasi, lalu istrinya meminta Tambus untuk mendoakannya. "Saya mengajak istri saya untuk berdoa di gubuknya. Saya berkata kepada Slamet untuk membuang semua jimat-jimat yang dipegangnya. Saya katakan, 'Kamu rela tidak semua jimat ini dimusnahkan supaya kamu sembuh?' Akhirnya dia rela. Kami membakar semua jimat-jimat itu. Lalu sebelum pulang saya katakan, 'Malam ini kamu bukan tambah sembuh, tapi tambah sakit. Tetapi jangan takut, besok Tuhan akan sembuhkan kamu jika kamu tetap percaya kepada Tuhan Yesus dan berdoa. Jam lima pagi kamu akan sembuh.' Saya berkata seperti itu dengan spontan. Kemudian saya berdoa terus. Jam lima pagi saya sudah ada di dekat gubuknya, terus berdoa, tetapi dia tidak tahu. Akhirnya dia disembuhkan Tuhan. Preman yang tadinya melarang orang-orang lain untuk beribadah kepada Tuhan itu akhirnya menerima dan percaya kepada Tuhan Yesus. Sekarang, malahan dia mengajak anak-anak jalanan, pengamen, pemulung untuk beribadah kepada Tuhan," kata Tambus terharu.
Tambus juga menuturkan bahwa pelayanannya dimulai dari dana pribadi, tanpa menunggu bantuan orang lain. Semua dilakukan hanya karena cinta-kasihnya kepada Tuhan dan ingin melaksanakan Amanat Agung yang terdapat dalam Matius 28. Meskipun demikian, tanpa disadari rupanya banyak orang yang terbeban untuk membantunya dengan memberikan dana tanpa ingin diketahui jati diri mereka.
Sampai sekarang Tambus sudah membangun dua rumah singgah di Bulak Macan Permai, Bekasi Barat, dan satu rumah jompo di Jl. Kembang Sepatu, Senen, Jakarta.
"Di rumah singgah ini ada 36 orang yang kami tampung. Dua rumah singgah di Bekasi Barat, yang satu untuk anak-anak perempuan, dan satu lagi untuk anak-anak laki-laki. Di rumah singgah itu kami memberikan ketrampilan kepada mereka di Balai Latihan Kerja yang ada di Kalimalang, Jakarta Timur. Jika ada anak-anak jalanan yang berbakat, kami mengirim mereka untuk sekolah teologi di Semarang. Setelah mereka belajar selama enam bulan di sana, mereka akan dikirim pelayanan ke Kalimantan. Jika mereka ingin bekerja di dunia sekuler, kami menyalurkan mereka ke perusahaan-perusahaan. Jika ada di antara mereka yang ingin berdagang, kami juga membantu mereka."
Dengan rumah singgah itu Tambus memindahkan mereka dari habitat mereka yang tidak sehat dan memberikan sentuhan kasih kepada mereka. Apa yang dilakukan Tambus selama ini sudah banyak membuahkan hasil. Dari antara mereka yang pernah tinggal di rumah singgah itu, ada yang sudah menjadi hamba Tuhan, penjual minuman, tenaga satpam, dan sebagainya. Bahkan ada di antara mereka yang sekarang bekerja di Batam, Medan, dan daerah lainnya untuk bekerja di berbagai perusahaan. Sumber: Majalah Narwastu Pembaruan edisi Mei 2009. Diposting pertama kali di Pentas Kesaksian http://pentas-kesaksian.blogspot.com pada tanggal 11 Mei 2009. Mohon keterangan ini jangan dihilangkan ketika anda memforwardnya atau memuatnya di website/blog anda. Terima kasih banyak.
Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com
Awal pelayanan Tambus berawal dari Perayaan Natal tahun 1990 di Gelanggang Olahraga Remaja di Senen, Jakarta Pusat. Di luar dugaan, acara tanpa publikasi itu dihadiri ribuan anak jalanan, orang buta dan lumpuh, gembel dan pengemis yang ada di sekitar Stasiun Kereta Api Senen.
"Acara Natal itu spontan karena ada dana sumbangan dari Advent Bangun, mantan artis dan sekarang sudah menjadi pendeta di GTI Tiberias, sebesar Rp. 5 juta. Akhirnya kami menyewa gedung gelanggang remaja Senen. Kami memasak sendiri makanan untuk mereka." tutur Tambus kepada Majalah Narwastu Pembaruan belum lama ini.
Melihat antusiasme mereka, ia pun tergerak untuk melayani lebih jauh. Setiap pagi bersama istrinya, Habibah, Tambus menelusuri jalan sepanjang rel kereta api dari Stasiun Senen hingga Stasiun Beos di Kota, untuk memberi makan para penghuni gubuk-gubuk plastik, anak-anak jalanan, pengamen, sekaligus berbincang-bincang sembari membagikan Firman Tuhan.
"Kami berjalan kaki untuk mencari jiwa-jiwa, bersahabat dengan mereka, memberi bantuan, membagikan makanan dan sebagainya. Awalnya kami melakukan pendekatan, berbincang-bincang, bertamu dan minum di gubuk mereka. Kadang-kadang kami juga tidur-tiduran di gubuk mereka. Saya tidak merasa risi untuk minum dan tidur-tiduran di tempat kumuh seperti itu. Ketika kami datang mereka sudah menyuguhkan minuman untuk kami. Kami banyak ngobrol dengan mereka: bertanya latar belakang mereka, bertanya bagaimana mereka bisa sampai tinggal di situ, bertanya tentang masalah-masalah yang mereka hadapi dan sebagainya."
Pelayanan Tambus Sihombing kemudian semakin berkembang. Dia mulai mengadakan ibadah bagi kaum pra-sejahtera itu. Sekitar 50 sampai 100 orang hadir dalam ibadah sederhana di pinggir rel kereta api. Tempat ibadah pun berpindah-pindah. Pernah di Mess Irian di Jalan Tanah Tinggi, pernah di Wisma Duma di Tanah Tinggi, kemudian pindah lagi ke Cempaka Putih.
Dalam pelayanannya Tambus pernah mengalami tantangan ketika salah seorang preman bernama Slamet mengancam. "Waktu itu dia mengancam akan membunuh saya kalau masih terus melayani orang-orang di pinggir rel kereta api. Akhirnya, saya berdoa dan esoknya jam 10 pagi saya mendatangi gubuknya. Kemudian saya bertemu dan mengobrol dengan dia."
Satu bulan setelah pertemuan itu rupanya Slamet menderita sakit Hernia dan harus dibawa ke RS Cipto Mangunkusumo untuk operasi dengan biaya Rp. 7 juta. Karena dia tidak ada dana untuk operasi, lalu istrinya meminta Tambus untuk mendoakannya. "Saya mengajak istri saya untuk berdoa di gubuknya. Saya berkata kepada Slamet untuk membuang semua jimat-jimat yang dipegangnya. Saya katakan, 'Kamu rela tidak semua jimat ini dimusnahkan supaya kamu sembuh?' Akhirnya dia rela. Kami membakar semua jimat-jimat itu. Lalu sebelum pulang saya katakan, 'Malam ini kamu bukan tambah sembuh, tapi tambah sakit. Tetapi jangan takut, besok Tuhan akan sembuhkan kamu jika kamu tetap percaya kepada Tuhan Yesus dan berdoa. Jam lima pagi kamu akan sembuh.' Saya berkata seperti itu dengan spontan. Kemudian saya berdoa terus. Jam lima pagi saya sudah ada di dekat gubuknya, terus berdoa, tetapi dia tidak tahu. Akhirnya dia disembuhkan Tuhan. Preman yang tadinya melarang orang-orang lain untuk beribadah kepada Tuhan itu akhirnya menerima dan percaya kepada Tuhan Yesus. Sekarang, malahan dia mengajak anak-anak jalanan, pengamen, pemulung untuk beribadah kepada Tuhan," kata Tambus terharu.
Tambus juga menuturkan bahwa pelayanannya dimulai dari dana pribadi, tanpa menunggu bantuan orang lain. Semua dilakukan hanya karena cinta-kasihnya kepada Tuhan dan ingin melaksanakan Amanat Agung yang terdapat dalam Matius 28. Meskipun demikian, tanpa disadari rupanya banyak orang yang terbeban untuk membantunya dengan memberikan dana tanpa ingin diketahui jati diri mereka.
Sampai sekarang Tambus sudah membangun dua rumah singgah di Bulak Macan Permai, Bekasi Barat, dan satu rumah jompo di Jl. Kembang Sepatu, Senen, Jakarta.
"Di rumah singgah ini ada 36 orang yang kami tampung. Dua rumah singgah di Bekasi Barat, yang satu untuk anak-anak perempuan, dan satu lagi untuk anak-anak laki-laki. Di rumah singgah itu kami memberikan ketrampilan kepada mereka di Balai Latihan Kerja yang ada di Kalimalang, Jakarta Timur. Jika ada anak-anak jalanan yang berbakat, kami mengirim mereka untuk sekolah teologi di Semarang. Setelah mereka belajar selama enam bulan di sana, mereka akan dikirim pelayanan ke Kalimantan. Jika mereka ingin bekerja di dunia sekuler, kami menyalurkan mereka ke perusahaan-perusahaan. Jika ada di antara mereka yang ingin berdagang, kami juga membantu mereka."
Dengan rumah singgah itu Tambus memindahkan mereka dari habitat mereka yang tidak sehat dan memberikan sentuhan kasih kepada mereka. Apa yang dilakukan Tambus selama ini sudah banyak membuahkan hasil. Dari antara mereka yang pernah tinggal di rumah singgah itu, ada yang sudah menjadi hamba Tuhan, penjual minuman, tenaga satpam, dan sebagainya. Bahkan ada di antara mereka yang sekarang bekerja di Batam, Medan, dan daerah lainnya untuk bekerja di berbagai perusahaan. Sumber: Majalah Narwastu Pembaruan edisi Mei 2009. Diposting pertama kali di Pentas Kesaksian http://pentas-kesaksian.blogspot.com pada tanggal 11 Mei 2009. Mohon keterangan ini jangan dihilangkan ketika anda memforwardnya atau memuatnya di website/blog anda. Terima kasih banyak.
Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com
Friday, May 8, 2009
Almost Cheated
Tadi malam ketika saya melayani Firman Tuhan di sebuah Kebaktian Tengah Minggu, salah seorang pemimpin jemaat setempat bersaksi tentang apa yang dialami pada hari Rabu 7 Mei 2009. Sekitar sepuluh hari sebelumnya, dia diminta oleh pemilik sebuah ruko yang dia tidak perpanjang lagi kontraknya untuk mencari penyewa lain. Setelah diiklankan di sebuah surat kabar, beberapa telpon masuk menanyakan ruko itu. Semuanya ternyata cuma tanya doang, tak ada yang serius. Pada hari kedelapan, yaitu Rabu 7 Mei 2009 itu ada telpon masuk.
"Pak, saya sudah melihat ruko yang bapak tawarkan. Saya berminat menyewanya selama setahun. Berapa harga sewanya, pak?" tanya seorang pria dengan sopan.
"Sembilan puluh juta, pak!"
"Wah, koq mahal ya?"
Kemudian mereka berdua saling tawar menawar dan akhirnya disepakati harga sewa itu sebesar Rp. 80 juta per tahun. Dari transaksi itu, sang pemimpin berharap akan mendapat komisi yang lumayan.
Rabu malam itu sebenarnya sang pemimpin harus berkhotbah di sebuah komsel. Di tengah acara komsel, tiba-tiba telpon masuk lagi.
"Pak, saya sudah transfer tanda jadi sebesar Rp. 10 juta. Tetapi ketika transaksi sudah selesai, listrik mati di sini. Saya belum sempat mendapatkan slip bukti transfer. Coba cek deh, di rekening Bapak, apakah sudah masuk."
Sang pemimpin yang sedang melayani acara komsel itu hanya berkata, "Pak, saya sedang memimpin acara ibadah, nanti saya cek deh,"
Kemudian sang pemimpin itu mengirim sms untuk mengecek saldo rekening BCA-nya. Ternyata saldonya tidak berubah, transfer Rp. 10 juta itu tidak masuk.
Setelah komsel, dia mengirim SMS.
"Transfer belum masuk, pak!"
"Coba sekarang cek lagi ke ATM, pak!" kata calon penyewa ruko itu.
Karena penasaran, sang pemimpin ini mendatangi ATM. Dia mengecek saldonya sekali lagi. Tak ada transfer masuk. Setelah keluar dari ATM dan ada di jalan, dia mengirim SMS, "Sudah saya cek di ATM, tetapi transfer tidak masuk, pak!"
"Wah, gimana ya? Apakah bapak bisa menghubungi call center BCA sekarang juga? Karena rekening saya sudah didebit sebesar Rp. 10 juta, tetapi koq tidak masuk ke rekening bapak? Ini nomor telpon call center-nya, pak. Coba hubungi sekarang dan bapak siap-siap di ATM sekali lagi, supaya jelas." kata calon penyewa mendesak sekali.
Sang pemimpin ini mulai curiga. Koq harus berhubungan dengan Call Center BCA segala? Apa urusannya? "Pak, itu urusan bapak dengan Call Center, saya tidak mau tahu. Pokoknya, bukti transfer harus ada dulu, baru transaksi kita jadi," kata sang pemimpin itu dengan tegas.
Setelah dipikir-pikir, sang pemimpin itu mulai menyadari bahwa dia hampir tertipu orang yang mengaku-ngaku telah mentransfer, lalu mengajak calon korbannya berbicara dengan "Call Center BCA". Pada waktu berbicara dengan Call Center palsu itu sang korban akan dihipnotis dan selama berada di ATM akan diperintahkan untuk mentransfer uangnya ke rekening penjahat. Untung dia tidak masuk jerat penipuan yang sedang marak ini.
Ditulis/diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com
"Pak, saya sudah melihat ruko yang bapak tawarkan. Saya berminat menyewanya selama setahun. Berapa harga sewanya, pak?" tanya seorang pria dengan sopan.
"Sembilan puluh juta, pak!"
"Wah, koq mahal ya?"
Kemudian mereka berdua saling tawar menawar dan akhirnya disepakati harga sewa itu sebesar Rp. 80 juta per tahun. Dari transaksi itu, sang pemimpin berharap akan mendapat komisi yang lumayan.
Rabu malam itu sebenarnya sang pemimpin harus berkhotbah di sebuah komsel. Di tengah acara komsel, tiba-tiba telpon masuk lagi.
"Pak, saya sudah transfer tanda jadi sebesar Rp. 10 juta. Tetapi ketika transaksi sudah selesai, listrik mati di sini. Saya belum sempat mendapatkan slip bukti transfer. Coba cek deh, di rekening Bapak, apakah sudah masuk."
Sang pemimpin yang sedang melayani acara komsel itu hanya berkata, "Pak, saya sedang memimpin acara ibadah, nanti saya cek deh,"
Kemudian sang pemimpin itu mengirim sms untuk mengecek saldo rekening BCA-nya. Ternyata saldonya tidak berubah, transfer Rp. 10 juta itu tidak masuk.
Setelah komsel, dia mengirim SMS.
"Transfer belum masuk, pak!"
"Coba sekarang cek lagi ke ATM, pak!" kata calon penyewa ruko itu.
Karena penasaran, sang pemimpin ini mendatangi ATM. Dia mengecek saldonya sekali lagi. Tak ada transfer masuk. Setelah keluar dari ATM dan ada di jalan, dia mengirim SMS, "Sudah saya cek di ATM, tetapi transfer tidak masuk, pak!"
"Wah, gimana ya? Apakah bapak bisa menghubungi call center BCA sekarang juga? Karena rekening saya sudah didebit sebesar Rp. 10 juta, tetapi koq tidak masuk ke rekening bapak? Ini nomor telpon call center-nya, pak. Coba hubungi sekarang dan bapak siap-siap di ATM sekali lagi, supaya jelas." kata calon penyewa mendesak sekali.
Sang pemimpin ini mulai curiga. Koq harus berhubungan dengan Call Center BCA segala? Apa urusannya? "Pak, itu urusan bapak dengan Call Center, saya tidak mau tahu. Pokoknya, bukti transfer harus ada dulu, baru transaksi kita jadi," kata sang pemimpin itu dengan tegas.
Setelah dipikir-pikir, sang pemimpin itu mulai menyadari bahwa dia hampir tertipu orang yang mengaku-ngaku telah mentransfer, lalu mengajak calon korbannya berbicara dengan "Call Center BCA". Pada waktu berbicara dengan Call Center palsu itu sang korban akan dihipnotis dan selama berada di ATM akan diperintahkan untuk mentransfer uangnya ke rekening penjahat. Untung dia tidak masuk jerat penipuan yang sedang marak ini.
Ditulis/diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com
Arise and Stand Up
Bangkit dan Berjalanlah
Mohammad Ridwan sungguh beruntung. Dia dilawat Tuhan Yesus ketika harapan hidupnya sudah menipis. Sang Tabib Agung itu datang, tersenyum dan berkata, “Bangkit dan berdirilah!” Ridwan yang lumpuh itu pun berjalan, dan hatinya dipenuhi ucapan syukur.
“Lihat nih, bulu kuduk saya sampai merinding setiap kali menceritakan perjumpaan itu,” ungkap Moh. Ridwan kepada Reformata, sambil menunjukkan bulu-bulu di tangan dan kakinya yang menegang seperti ditarik ke atas. Selama wawancara di rumahnya, Kampung Sawah, Semper Timur, Cilincing, Jakarta Utara, wajahnya memancarkan kebahagiaan. Dia menguraikan kesaksiannya dengan jelas dan terinci. Bahkan sesekali dia berdiri memeragakan cara Tuhan Yesus menyuruhnya bangun ketika tubuhnya lumpuh total dan ia hanya bisa berbaring selama setahun.
Perjumpaan dengan Sosok yang dahulu dia kenal sebagai Isa Almasih itu terjadi pada akhir 1986. Ketika itu Ridwan yang tinggal di Tebet, Jakarta Selatan, tiba-tiba terserang penyakit misterius. Seketika tubuhnya lumpuh dari leher sampai kaki. Yang “normal” hanya bagian kepalanya saja. Berdasarkan diagnosis dokter, darah Ridwan mengalami pengentalan dan berwarna hitam pekat seperti kecap manis, namun pihak Rumah Sakit tidak sanggup mendeteksi sumber penyakit itu. Ridwan pun dibawa pulang oleh keluarganya karena dianggap telah mendekati ajal.
Di kamar lantai dua di rumahnya, Ridwan dibaringkan sendirian. Istri dan kedua anaknya tinggal di lantai satu. Bermacam obat dan ramuan tradisional telah diberikan, namun tak ada hasilnya. Ridwan pun akhirnya berserah diri kepada Yang Mahakuasa. Semakin merasa ajalnya sudah dekat, hatinya pilu menyaksikan sikap istri dan kedua anaknya yang mulai acuh tak acuh atas kondisinya. “Mereka sudah masa bodoh. Perhatian mereka sudah berkurang. Mungkin lantaran mereka sudah capek mengurus saya karena sudah lama sakit-sakitan,” tutur pria kelahiran Medan, 24 Maret 1950 ini. Selama setahun dalam kelumpuhan, Ridwan hanya berbaring dan melamun. Dia sudah pasrah dijemput maut.
Suatu malam sekitar pukul 21.00 Ridwan menyaksikan sesuatu yang tak lazim di kamarnya. Matanya yang siap-siap terpejam karena kantuk berat mendadak melotot. Sosok berjubah putih, bersinar terang, dengan kepala ditudungi kain, tiba-tiba berdiri di hadapannya sambil tersenyum. Ridwan panik, tetapi tidak bisa berbuat apa-apa. Tak lama kemudian sosok itu menghilang. “Seharian saya gelisah memikirkan penglihatan itu. Wajah-Nya jelas sekali, tetapi saya belum mau memberitahukan peristiwa itu kepada siapapun,” ungkap pria yang pernah membakar sebuah gereja di Medan itu.
Malam berikutnya sosok itu muncul lagi. Kali ini Dia menyuruh Ridwan berdiri. “Kamu bangkit. Berdirilah!” demikian Sosok misterius itu memerintahkan Ridwan. Awalnya, perintah itu tidak digubris Ridwan karena dianggap mustahil. “Saya hanya bilang kepada-Nya kalau saya tidak bakal bisa bangun,” kisah Ridwan. Pada perintah yang ketiga kali, akhirnya Ridwan memaksa diri untuk berdiri. Ajaib! Seluruh tubuh Ridwan dapat digerakkan. Ridwan kaget bercampur senang. “Saya seperti dalam mimpi karena mendadak bisa berdiri,” kata Ridwan senang. Setelah tubuhnya berdiri tegak, sosok misterius itu mengangkat kedua tangan-Nya ke atas kepala Ridwan.
Beberapa saat kemudian, Sosok itu menghilang. Ridwan bergegas turun ke lantai satu, dan disambut dengan rasa heran luar biasa oleh istri dan anak-anaknya. “Ayah turun, Ayah turun, Ayah turun…!” demikian pekik sorak anak-anaknya sambil melonjak-lonjak kegirangan. Malam itu rumah tangga Ridwan diselimuti keharuan dan kegembiraan. Namun mukjizat kesembuhan itu belum diutarakan Ridwan kepada keluarganya. Esok harinya Ridwan mencoba berjalan-jalan disekitar rumahnya sambil menggunakan tongkat. Tak ayal, warga sekitar pun gempar!
Memasuki hari ketiga, saat Ridwan sedang berjalan-jalan, seorang pria yang memperkenalkan diri sebagai seorang Pendeta menyapa dan menanyakan keadaannya. Ridwan bingung lantaran Pendeta itu meminta waktu untuk mengobrol di dalam rumahnya. Saat berbincang, Ridwan tiba-tiba melontarkan pertanyaan kepada hamba Tuhan itu, “Pak, ada kawan saya mau masuk Kristen. Bagaimana caranya ya?” Sebetulnya yang mau masuk Kristen itu adalah Ridwan sendiri. Sebab dia berkeyakinan bahwa Sosok ajaib yang menyuruhnya bangkit itu adalah Tuhan Yesus Kristus. Namun sejauh itu, dia belum berani mengutarakan niatnya untuk mengikuti Juru Selamat, mengingat keluarganya dikenal sebagai pemeluk agama yang taat bahkan fanatik.
Beberapa hari kemudian Ridwan menemui Pendeta itu sambil mengutarakan niatnya untuk menjadi pemeluk agama Kristen, dan meminta dibaptis. Pendeta yang tiba-tiba diliputi rasa heran itu hanya bisa berkata, “Sungguh, pak? Puji Tuhan! Haleluyah!” Kemudian kisah mukjizat yang dialami Ridwan dan perjumpaannya dengan Tuhan Yesus mengantarkan istri dan kedua anaknya untuk turut dibaptis.
Sejak ikut Tuhan Yesus, keluarga Ridwan berlimpah berkat. Tidak saja berkat jasmani, suasana batin mereka pun selalu damai sejahtera dan sukacita. “Kedua anak saya bisa kuliah dan langsung mendapatkan pekerjaan. Itu salah satu berkat dari Tuhan,” tutur pria yang berprofesi sebagai sopir angkutan barang miliknya sendiri itu. Tak lama setelah dibaptis, tiga unit mobil angkutannya hilang. Kejadian itu tak membuat iman Ridwan menjadi lemah. Namun setelah kejadian itu istrinya meninggal, mungkin tidak siap menerima musibah itu. Sumber: Tabloid Reformata edisi 105 April 2009.Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN http://pentas-kesaksian.blogspot.com pada tanggal 8 Mei 2009. Mohon keterangan ini jangan dihilangkan jika anda memforwardnya atau mempostingnya di web/blog anda. Terima kasih.
Mohammad Ridwan sungguh beruntung. Dia dilawat Tuhan Yesus ketika harapan hidupnya sudah menipis. Sang Tabib Agung itu datang, tersenyum dan berkata, “Bangkit dan berdirilah!” Ridwan yang lumpuh itu pun berjalan, dan hatinya dipenuhi ucapan syukur.
“Lihat nih, bulu kuduk saya sampai merinding setiap kali menceritakan perjumpaan itu,” ungkap Moh. Ridwan kepada Reformata, sambil menunjukkan bulu-bulu di tangan dan kakinya yang menegang seperti ditarik ke atas. Selama wawancara di rumahnya, Kampung Sawah, Semper Timur, Cilincing, Jakarta Utara, wajahnya memancarkan kebahagiaan. Dia menguraikan kesaksiannya dengan jelas dan terinci. Bahkan sesekali dia berdiri memeragakan cara Tuhan Yesus menyuruhnya bangun ketika tubuhnya lumpuh total dan ia hanya bisa berbaring selama setahun.
Perjumpaan dengan Sosok yang dahulu dia kenal sebagai Isa Almasih itu terjadi pada akhir 1986. Ketika itu Ridwan yang tinggal di Tebet, Jakarta Selatan, tiba-tiba terserang penyakit misterius. Seketika tubuhnya lumpuh dari leher sampai kaki. Yang “normal” hanya bagian kepalanya saja. Berdasarkan diagnosis dokter, darah Ridwan mengalami pengentalan dan berwarna hitam pekat seperti kecap manis, namun pihak Rumah Sakit tidak sanggup mendeteksi sumber penyakit itu. Ridwan pun dibawa pulang oleh keluarganya karena dianggap telah mendekati ajal.
Di kamar lantai dua di rumahnya, Ridwan dibaringkan sendirian. Istri dan kedua anaknya tinggal di lantai satu. Bermacam obat dan ramuan tradisional telah diberikan, namun tak ada hasilnya. Ridwan pun akhirnya berserah diri kepada Yang Mahakuasa. Semakin merasa ajalnya sudah dekat, hatinya pilu menyaksikan sikap istri dan kedua anaknya yang mulai acuh tak acuh atas kondisinya. “Mereka sudah masa bodoh. Perhatian mereka sudah berkurang. Mungkin lantaran mereka sudah capek mengurus saya karena sudah lama sakit-sakitan,” tutur pria kelahiran Medan, 24 Maret 1950 ini. Selama setahun dalam kelumpuhan, Ridwan hanya berbaring dan melamun. Dia sudah pasrah dijemput maut.
Suatu malam sekitar pukul 21.00 Ridwan menyaksikan sesuatu yang tak lazim di kamarnya. Matanya yang siap-siap terpejam karena kantuk berat mendadak melotot. Sosok berjubah putih, bersinar terang, dengan kepala ditudungi kain, tiba-tiba berdiri di hadapannya sambil tersenyum. Ridwan panik, tetapi tidak bisa berbuat apa-apa. Tak lama kemudian sosok itu menghilang. “Seharian saya gelisah memikirkan penglihatan itu. Wajah-Nya jelas sekali, tetapi saya belum mau memberitahukan peristiwa itu kepada siapapun,” ungkap pria yang pernah membakar sebuah gereja di Medan itu.
Malam berikutnya sosok itu muncul lagi. Kali ini Dia menyuruh Ridwan berdiri. “Kamu bangkit. Berdirilah!” demikian Sosok misterius itu memerintahkan Ridwan. Awalnya, perintah itu tidak digubris Ridwan karena dianggap mustahil. “Saya hanya bilang kepada-Nya kalau saya tidak bakal bisa bangun,” kisah Ridwan. Pada perintah yang ketiga kali, akhirnya Ridwan memaksa diri untuk berdiri. Ajaib! Seluruh tubuh Ridwan dapat digerakkan. Ridwan kaget bercampur senang. “Saya seperti dalam mimpi karena mendadak bisa berdiri,” kata Ridwan senang. Setelah tubuhnya berdiri tegak, sosok misterius itu mengangkat kedua tangan-Nya ke atas kepala Ridwan.
Beberapa saat kemudian, Sosok itu menghilang. Ridwan bergegas turun ke lantai satu, dan disambut dengan rasa heran luar biasa oleh istri dan anak-anaknya. “Ayah turun, Ayah turun, Ayah turun…!” demikian pekik sorak anak-anaknya sambil melonjak-lonjak kegirangan. Malam itu rumah tangga Ridwan diselimuti keharuan dan kegembiraan. Namun mukjizat kesembuhan itu belum diutarakan Ridwan kepada keluarganya. Esok harinya Ridwan mencoba berjalan-jalan disekitar rumahnya sambil menggunakan tongkat. Tak ayal, warga sekitar pun gempar!
Memasuki hari ketiga, saat Ridwan sedang berjalan-jalan, seorang pria yang memperkenalkan diri sebagai seorang Pendeta menyapa dan menanyakan keadaannya. Ridwan bingung lantaran Pendeta itu meminta waktu untuk mengobrol di dalam rumahnya. Saat berbincang, Ridwan tiba-tiba melontarkan pertanyaan kepada hamba Tuhan itu, “Pak, ada kawan saya mau masuk Kristen. Bagaimana caranya ya?” Sebetulnya yang mau masuk Kristen itu adalah Ridwan sendiri. Sebab dia berkeyakinan bahwa Sosok ajaib yang menyuruhnya bangkit itu adalah Tuhan Yesus Kristus. Namun sejauh itu, dia belum berani mengutarakan niatnya untuk mengikuti Juru Selamat, mengingat keluarganya dikenal sebagai pemeluk agama yang taat bahkan fanatik.
Beberapa hari kemudian Ridwan menemui Pendeta itu sambil mengutarakan niatnya untuk menjadi pemeluk agama Kristen, dan meminta dibaptis. Pendeta yang tiba-tiba diliputi rasa heran itu hanya bisa berkata, “Sungguh, pak? Puji Tuhan! Haleluyah!” Kemudian kisah mukjizat yang dialami Ridwan dan perjumpaannya dengan Tuhan Yesus mengantarkan istri dan kedua anaknya untuk turut dibaptis.
Sejak ikut Tuhan Yesus, keluarga Ridwan berlimpah berkat. Tidak saja berkat jasmani, suasana batin mereka pun selalu damai sejahtera dan sukacita. “Kedua anak saya bisa kuliah dan langsung mendapatkan pekerjaan. Itu salah satu berkat dari Tuhan,” tutur pria yang berprofesi sebagai sopir angkutan barang miliknya sendiri itu. Tak lama setelah dibaptis, tiga unit mobil angkutannya hilang. Kejadian itu tak membuat iman Ridwan menjadi lemah. Namun setelah kejadian itu istrinya meninggal, mungkin tidak siap menerima musibah itu. Sumber: Tabloid Reformata edisi 105 April 2009.Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN http://pentas-kesaksian.blogspot.com pada tanggal 8 Mei 2009. Mohon keterangan ini jangan dihilangkan jika anda memforwardnya atau mempostingnya di web/blog anda. Terima kasih.
Thursday, May 7, 2009
Unstoppable
Ketika berumur lima tahun, Glenn Cunningham mengalami luka bakar yang parah di tungkainya. Para dokter yang merawat terpaksa angkat tangan. Menurut mereka, Glenn akan tetap cacat dan terpaksa menggunakan kursi roda seumur hidupnya. "Ia takkan bisa berjalan lagi," kata mereka.
Para dokter memang telah memeriksa keadaan tungkainya dengan seksama, namun mereka tidak memeriksa ke dalam lubuk hatinya. Glenn tidak memedulikan kata-kata mereka. Ia bertekad, pasti ia akan bisa berjalan lagi. Sementara masih terkapar di tempat tidur, dengan kakinya yang kurus kemerah-merahan akibat luka bakar ia berikrar, "Minggu depan aku akan bangun dari tempat tidur. Aku akan berjalan." Dan itu benar-benar dilakukannya.
Ibunya bercerita betapa ia sering menyingkapkan gordin dan memandang ke luar, memperhatikan Glenn menggapaikan tangan ke atas untuk menggenggam gagang alat membajak tanah yang sudah tak terpakai lagi. Di pekarangan, dengan kedua tangannya Glenn menggenggam gagang bajak. Ia mulai melatih juga kakinya yang cacat. Dan dengan setiap langkah yang menyakitkan, semakin dekat pula ia ke tujuan yang telah diikrarkannya, yaitu bisa berjalan lagi. Tak lama kemudian ia sudah mulai berlari-lari dengan lambat, makin lama makin cepat dengan gerak semakin pasti.
"Aku sejak awal sudah yakin akan bisa berjalan lagi, dan ternyata memang bisa. Sekarang aku akan berlari lebih cepat dari siapapun juga." Dan itu pun berhasil ia lakukan.
Ia menjadi pelari yang tangguh untuk jarak satu mil. Pada tahun 1936 ia mencatat prestasi 4.06 menit yang merupakan rekor dunia pada saat itu. Ia menerima penghormatan sebagai atlet luar biasa abad 20 di Madison Square Garden, New York City. Ditulis oleh Jeff Yalden untuk Chicken Soup for the Soul.
Kau mungkin saja kecewa jika percobaanmu gagal, namun kau pasti takkan berhasil jika tidak mencobanya. (Beverly Sills)
Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com
Para dokter memang telah memeriksa keadaan tungkainya dengan seksama, namun mereka tidak memeriksa ke dalam lubuk hatinya. Glenn tidak memedulikan kata-kata mereka. Ia bertekad, pasti ia akan bisa berjalan lagi. Sementara masih terkapar di tempat tidur, dengan kakinya yang kurus kemerah-merahan akibat luka bakar ia berikrar, "Minggu depan aku akan bangun dari tempat tidur. Aku akan berjalan." Dan itu benar-benar dilakukannya.
Ibunya bercerita betapa ia sering menyingkapkan gordin dan memandang ke luar, memperhatikan Glenn menggapaikan tangan ke atas untuk menggenggam gagang alat membajak tanah yang sudah tak terpakai lagi. Di pekarangan, dengan kedua tangannya Glenn menggenggam gagang bajak. Ia mulai melatih juga kakinya yang cacat. Dan dengan setiap langkah yang menyakitkan, semakin dekat pula ia ke tujuan yang telah diikrarkannya, yaitu bisa berjalan lagi. Tak lama kemudian ia sudah mulai berlari-lari dengan lambat, makin lama makin cepat dengan gerak semakin pasti.
"Aku sejak awal sudah yakin akan bisa berjalan lagi, dan ternyata memang bisa. Sekarang aku akan berlari lebih cepat dari siapapun juga." Dan itu pun berhasil ia lakukan.
Ia menjadi pelari yang tangguh untuk jarak satu mil. Pada tahun 1936 ia mencatat prestasi 4.06 menit yang merupakan rekor dunia pada saat itu. Ia menerima penghormatan sebagai atlet luar biasa abad 20 di Madison Square Garden, New York City. Ditulis oleh Jeff Yalden untuk Chicken Soup for the Soul.
Kau mungkin saja kecewa jika percobaanmu gagal, namun kau pasti takkan berhasil jika tidak mencobanya. (Beverly Sills)
Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com
Wednesday, May 6, 2009
Ringing of Mobile Phone at the Wrong Time
Ada kisah lucu yang saya dengar dari Pdt. Leonardo A. Sjiamsuri. Sebelum memasuki ruang ibadah untuk berkhotbah, beliau mematikan HP-nya terlebih dahulu. Beliau bercerita tentang seorang hamba Tuhan yang sedang memberkati pernikahan sepasang suami istri. Pendeta itu sedang menumpangkan tangan ke atas pasangan yang berbahagia itu ketika Handphone-nya berbunyi keras, menjerit-jerit. Sang hamba Tuhan yang kedua tangannya sedang terangkat ke atas tidak dapat berbuat apa-apa selain melanjutkan ucapan berkat itu, diiringi bunyi HP yang berdering keras. Ia kelupaan menon-aktifkan mobile phone atau membuat HP-nya "Silent". Suasana ibadah menjadi tegang dan amat sangat terganggu. Jemaat menyesalkan mengapa Pendeta lupa menon-aktifkan HP-nya. Pendeta jengkel, mengapa ada panggilan masuk di saat-saat seperti ini?
Hal-hal kecil seperti ini sangat mengganggu jika terjadi pada saat peristiwa-peristiwa penting.
Ditulis/diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com
Hal-hal kecil seperti ini sangat mengganggu jika terjadi pada saat peristiwa-peristiwa penting.
Ditulis/diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com
Tuesday, May 5, 2009
A Lesson from a Raccoon
Belajar Dari Raccoon "Culun"
Anda tahu Rakun? Bukan..bukan makanan! Apa? Wah bukan..yang di leher itu mah jakun! Rakun itu binatang. Jika Anda penggemar kartun, Anda paling tidak pernah melihat bentuk "culun" nya lewat film-film keluaran Disney.
Raccoon dengan nama latin Procyon Lotor, adalah binatang yang punya kampung halaman di Amerika Utara. Memiliki ukuran panjang antara 41-71 cm dan berat badan 3,6-9 kg. Mamalia yang satu ini memang unik, selain bentuknya yang merupakan penggabungan tupai, kucing dan musang, beberapa fakta mengenai binatang itu sangat menarik. Aku sendiri baru mengetahuinya ketika iseng menonton sebuah film satwa yang diproduksi oleh salah satu stasiun TV asing. Nah mari kita mulai…
Pertama, ia termasuk binatang yang enggan berenang, tetapi jika diperlukan ia adalah perenang yang tangguh. Saking tangguhnya Raccoon sanggup melawan derasnya arus sungai. Kedua, indra penglihatannya kurang baik. Beberapa ahli malah membuktikan jika Raccoon sebenarnya buta warna. Tetapi jika sedang berburu, ia dapat menangkap makanan yang jaraknya demikian jauh. Bukan lewat matanya, tetapi dengan menggunakan indra pendengarannya. Kemudian ketiga, Raccoon termasuk binatang yang mencari makanan dekat dari sarang. Tetapi jika makanan disekitarnya sudah habis, Raccoon dapat berjalan hingga tujuh mil untuk mendapatkan makanan dan kembali lagi ke sarangnya! Keempat, untuk tempat tinggal biasanya Raccon memanfaatkan celah atau sarang yang sudah ada, tetapi jika tempat itu tidak ditemukan, maka ia akan membuat sendiri sarangnya dengan tangannya yang luar biasa. Kelima, sebenarnya Raccon punya habitat di mixed forest, tetapi karena penebangan hutan, area hutan mulai terbatas. Anehnya itu tidak membuat Raccoon punah, malah sebaliknya. Raccoon dapat hidup di mana saja. Pegunungan, ladang, pantai bahkan perumahan penduduk. Yang keenam. Raccoon sebenarnya adalah pemakan serangga, tetapi jika menu makanan yang satu ini habis. Ia bisa makan apa saja, dari mulai ikan, burung, kulit kayu, hingga dedaunan. Mengagumkan bukan?
Ngomong-ngomong soal Raccoon, pikiranku langsung bercermin. Jika Raccoon didesign sedemikian rupa sehingga mampu mengatasi apa saja “permasalahan” hidupnya. Bagaimana dengan kita, manusia. Puncak dari segala ciptaan Sang Khalik. Manager sekaligus Pemimpin yang diserahi kekuasaan atas binatang dan seluruh kekayaan alam bumi ini. Pasti nya kita didesign jauh lebih dashyat dari seekor Raccoon. TUHAN pasti sudah memperlengkapi kita dengan segala perlengkapan 1000 kali lebih hebat dari mahluk manapun juga dimuka jagat ini. Kalau Raccoon diperlengkapi dengan kemampuan fisik dan insting yang mengagumkan, untuk kita pastilah Ia sudah melengkapi kita dengan benih ilahi. Wong kita ini spesial! Tinggal bagaimana kita menyadari dan memanggil keluar kekuatan ilahi yang tertanam dalam diri kita. Seperti halnya Raccoon kemungkinan besar kemampuan luar biasa itu bisa muncul kepermukaan jika “dipicu” oleh permasalahan hidup. Kesulitan-kesulitan membuat “kuasa” itu mencuat kepermukaan. Jika itu benar, berarti kita harus mengubah sikap dan pandangan psikologis kita terhadap sebuah persoalan. Persoalan, kesulitan dan tantangan bukan musuh, melainkan guru, yang akan membuat kita menyadari betapa hebatnya kita didesign oleh Sang Pencipta. Manusia selalu jauh lebih dahsyat dari persoalan hidup apapun !! Segala hormat hanya bagi Dia, yang bersemayam dalam kekekalan, dari selama-lamanya sampai selama-lamanya.
"In the middle of every difficulty lies opportunity" (Albert Einstein)
Sebagai penutup. Ada kejadian lucu yang aku alami sendiri waktu kecil, yang mungkin dapat dijadikan sedikit gambaran tentang uraian diatas. Waktu itu lutut ini sering mengalami nyeri-nyeri terutama ketika menjelang sore. Wah rasanya nggak enak banget. Setiap sore – terutama jika musim hujan- orang tua ku harus menyiapkan botol berisi air panas yang digunakan untuk mengkompres kaki. Benar-benar merepotkan. Kebetulan ada seseorang yang menyarankanku agar melatih kaki ini dengan cara jogging teratur. Saran yang waktu itu aku pikir lebih mirip sebuah ledekan. Boro-boro lari, jalan aja linu! Waktu berlalu.
Dan terjadilah sesuatu yang mengubah semua itu. Aku memang terkenal suka buah. Tetapi persoalannya buah itu didapat bukan dengan cara membeli tetapi lewat “maling”. Suatu kali aku kena batunya. Pada saat sedang mencuri mangga di sebuah taman kanak-kanak sebelah rumah, keluarlah seekor anjing peliharaan yang pada saat itu kebetulan sedang tidak dirantai. Bagaikan disambar petir rasanya. Tanpa mengeluarkan tembakan peringatan alias gonggongan, Si Hitam segera berkelebat ke arah ku. Karena panik, aku segera berlari sekencang-kencangnya. Tunggang langgang. Dan terjadilah kejar-kejaran yang sangat seru antara “pencuri mangga” dan “penjaga mangga”. Beberapa yang orang sempat memergoki adegan dashyat tapi memalukan itu, malah bertepuk tangan sambil berteriak-teriak. Seolah sedang menonton pertandingan lari tujuh belasan.
Cukup lama dan panjang rute yang kami tempuh, dan Si Hitam tetap tidak sanggup menyusulku. Tiba-tiba saja dalam waktu sepersekian detik, aku dapat wangsit. Teringat pesan kakek bahwa anjing takut jika kita berjongkok dan berpura-pura mengambil batu. Tanpa memperhitungkan jarak antara aku dan Si Hitam, aku sekonyong-konyong berjongkok mengambil batu sebisanya. Reaksiku yang tiba-tiba itu, tampak membuat Si Hitam gelagapan. Wajah sangar itu tiba-tiba berubah kecut. Kaki-kakinya yang tadi begitu bernafsu memburuku itupun, terlihat sibuk ngerem, “ngepot” kesana-sini sebisa mungkin, kemudian dia ngibrit menjauhiku. Ini dia…it’s my turn..dengan refleks batu di tangan segera kuayunkan ke arahnya. Ia terlihat semakin panik. Kini adeganpun berganti, “penjaga mangga” terbirit-birit dikejar “pencuri mangga”. Supporter dipinggir jalanpun ngakak nggak karuan. Ha..ha..ha..aku pemenangnya. Tetapi bukan itu intinya, setelah insiden tidak berdarah itu, entah mengapa nyeri lututkupun berkurang. Dan aneh, aku jadi suka jogging. Alhasil ekstrakurikuler yang kuikuti pada saat SMP adalah atletik. Hal itu berlanjut, aku suka berenang di sela-sela waktu luang karena kebagian ticket gratis, bahkan jadi hobby naik gunung ketika SMA. Wah, kegiatan yang sama sekali tidak terpikirkan sebelumnya olehku. Apa jadinya jika waktu itu Si Hitam tidak mengejar aku? Mungkin sampai saat ini aku tetap ditemani botol culun berisi air panas untuk mengkompres lututku. Ditulis oleh Made Teddy Artiana, diambil dari Milis Sebelah
Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com
Anda tahu Rakun? Bukan..bukan makanan! Apa? Wah bukan..yang di leher itu mah jakun! Rakun itu binatang. Jika Anda penggemar kartun, Anda paling tidak pernah melihat bentuk "culun" nya lewat film-film keluaran Disney.
Raccoon dengan nama latin Procyon Lotor, adalah binatang yang punya kampung halaman di Amerika Utara. Memiliki ukuran panjang antara 41-71 cm dan berat badan 3,6-9 kg. Mamalia yang satu ini memang unik, selain bentuknya yang merupakan penggabungan tupai, kucing dan musang, beberapa fakta mengenai binatang itu sangat menarik. Aku sendiri baru mengetahuinya ketika iseng menonton sebuah film satwa yang diproduksi oleh salah satu stasiun TV asing. Nah mari kita mulai…
Pertama, ia termasuk binatang yang enggan berenang, tetapi jika diperlukan ia adalah perenang yang tangguh. Saking tangguhnya Raccoon sanggup melawan derasnya arus sungai. Kedua, indra penglihatannya kurang baik. Beberapa ahli malah membuktikan jika Raccoon sebenarnya buta warna. Tetapi jika sedang berburu, ia dapat menangkap makanan yang jaraknya demikian jauh. Bukan lewat matanya, tetapi dengan menggunakan indra pendengarannya. Kemudian ketiga, Raccoon termasuk binatang yang mencari makanan dekat dari sarang. Tetapi jika makanan disekitarnya sudah habis, Raccoon dapat berjalan hingga tujuh mil untuk mendapatkan makanan dan kembali lagi ke sarangnya! Keempat, untuk tempat tinggal biasanya Raccon memanfaatkan celah atau sarang yang sudah ada, tetapi jika tempat itu tidak ditemukan, maka ia akan membuat sendiri sarangnya dengan tangannya yang luar biasa. Kelima, sebenarnya Raccon punya habitat di mixed forest, tetapi karena penebangan hutan, area hutan mulai terbatas. Anehnya itu tidak membuat Raccoon punah, malah sebaliknya. Raccoon dapat hidup di mana saja. Pegunungan, ladang, pantai bahkan perumahan penduduk. Yang keenam. Raccoon sebenarnya adalah pemakan serangga, tetapi jika menu makanan yang satu ini habis. Ia bisa makan apa saja, dari mulai ikan, burung, kulit kayu, hingga dedaunan. Mengagumkan bukan?
Ngomong-ngomong soal Raccoon, pikiranku langsung bercermin. Jika Raccoon didesign sedemikian rupa sehingga mampu mengatasi apa saja “permasalahan” hidupnya. Bagaimana dengan kita, manusia. Puncak dari segala ciptaan Sang Khalik. Manager sekaligus Pemimpin yang diserahi kekuasaan atas binatang dan seluruh kekayaan alam bumi ini. Pasti nya kita didesign jauh lebih dashyat dari seekor Raccoon. TUHAN pasti sudah memperlengkapi kita dengan segala perlengkapan 1000 kali lebih hebat dari mahluk manapun juga dimuka jagat ini. Kalau Raccoon diperlengkapi dengan kemampuan fisik dan insting yang mengagumkan, untuk kita pastilah Ia sudah melengkapi kita dengan benih ilahi. Wong kita ini spesial! Tinggal bagaimana kita menyadari dan memanggil keluar kekuatan ilahi yang tertanam dalam diri kita. Seperti halnya Raccoon kemungkinan besar kemampuan luar biasa itu bisa muncul kepermukaan jika “dipicu” oleh permasalahan hidup. Kesulitan-kesulitan membuat “kuasa” itu mencuat kepermukaan. Jika itu benar, berarti kita harus mengubah sikap dan pandangan psikologis kita terhadap sebuah persoalan. Persoalan, kesulitan dan tantangan bukan musuh, melainkan guru, yang akan membuat kita menyadari betapa hebatnya kita didesign oleh Sang Pencipta. Manusia selalu jauh lebih dahsyat dari persoalan hidup apapun !! Segala hormat hanya bagi Dia, yang bersemayam dalam kekekalan, dari selama-lamanya sampai selama-lamanya.
"In the middle of every difficulty lies opportunity" (Albert Einstein)
Sebagai penutup. Ada kejadian lucu yang aku alami sendiri waktu kecil, yang mungkin dapat dijadikan sedikit gambaran tentang uraian diatas. Waktu itu lutut ini sering mengalami nyeri-nyeri terutama ketika menjelang sore. Wah rasanya nggak enak banget. Setiap sore – terutama jika musim hujan- orang tua ku harus menyiapkan botol berisi air panas yang digunakan untuk mengkompres kaki. Benar-benar merepotkan. Kebetulan ada seseorang yang menyarankanku agar melatih kaki ini dengan cara jogging teratur. Saran yang waktu itu aku pikir lebih mirip sebuah ledekan. Boro-boro lari, jalan aja linu! Waktu berlalu.
Dan terjadilah sesuatu yang mengubah semua itu. Aku memang terkenal suka buah. Tetapi persoalannya buah itu didapat bukan dengan cara membeli tetapi lewat “maling”. Suatu kali aku kena batunya. Pada saat sedang mencuri mangga di sebuah taman kanak-kanak sebelah rumah, keluarlah seekor anjing peliharaan yang pada saat itu kebetulan sedang tidak dirantai. Bagaikan disambar petir rasanya. Tanpa mengeluarkan tembakan peringatan alias gonggongan, Si Hitam segera berkelebat ke arah ku. Karena panik, aku segera berlari sekencang-kencangnya. Tunggang langgang. Dan terjadilah kejar-kejaran yang sangat seru antara “pencuri mangga” dan “penjaga mangga”. Beberapa yang orang sempat memergoki adegan dashyat tapi memalukan itu, malah bertepuk tangan sambil berteriak-teriak. Seolah sedang menonton pertandingan lari tujuh belasan.
Cukup lama dan panjang rute yang kami tempuh, dan Si Hitam tetap tidak sanggup menyusulku. Tiba-tiba saja dalam waktu sepersekian detik, aku dapat wangsit. Teringat pesan kakek bahwa anjing takut jika kita berjongkok dan berpura-pura mengambil batu. Tanpa memperhitungkan jarak antara aku dan Si Hitam, aku sekonyong-konyong berjongkok mengambil batu sebisanya. Reaksiku yang tiba-tiba itu, tampak membuat Si Hitam gelagapan. Wajah sangar itu tiba-tiba berubah kecut. Kaki-kakinya yang tadi begitu bernafsu memburuku itupun, terlihat sibuk ngerem, “ngepot” kesana-sini sebisa mungkin, kemudian dia ngibrit menjauhiku. Ini dia…it’s my turn..dengan refleks batu di tangan segera kuayunkan ke arahnya. Ia terlihat semakin panik. Kini adeganpun berganti, “penjaga mangga” terbirit-birit dikejar “pencuri mangga”. Supporter dipinggir jalanpun ngakak nggak karuan. Ha..ha..ha..aku pemenangnya. Tetapi bukan itu intinya, setelah insiden tidak berdarah itu, entah mengapa nyeri lututkupun berkurang. Dan aneh, aku jadi suka jogging. Alhasil ekstrakurikuler yang kuikuti pada saat SMP adalah atletik. Hal itu berlanjut, aku suka berenang di sela-sela waktu luang karena kebagian ticket gratis, bahkan jadi hobby naik gunung ketika SMA. Wah, kegiatan yang sama sekali tidak terpikirkan sebelumnya olehku. Apa jadinya jika waktu itu Si Hitam tidak mengejar aku? Mungkin sampai saat ini aku tetap ditemani botol culun berisi air panas untuk mengkompres lututku. Ditulis oleh Made Teddy Artiana, diambil dari Milis Sebelah
Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com
Subscribe to:
Posts (Atom)
Kesaksian Pembaca Buku "Mukjizat Kehidupan"
Pada tanggal 28 Oktober 2009 datang SMS dari seorang Ibu di NTT, bunyinya:
"Terpujilah Tuhan karena buku "Mukjizat Kehidupan", saya belajar untuk bisa mengampuni, sabar, dan punya waktu di hadirat Tuhan, dan akhirnya Rumah Tangga saya dipulihkan, suami saya sudah mau berdoa. Buku ini telah jadi berkat buat teman-teman di Pasir Panjang, Kupang, NTT. Kami belajar mengasihi, mengampuni, dan selalu punya waktu berdoa."
Hall of Fame - Daftar Pembaca Yang Diberkati Buku Mukjizat Kehidupan
- A. Rudy Hartono Kurniawan - Juara All England 8 x dan Asian Hero
- B. Pdt. DR. Ir. Niko Njotorahardjo
- C. Pdt. Ir. Djohan Handojo
- D. Jeffry S. Tjandra - Worshipper
- E. Pdt. Petrus Agung - Semarang
- F. Bpk. Irsan
- G. Ir. Ciputra - Jakarta
- H. Pdt. Dr. Danny Tumiwa SH
- I. Erich Unarto S.E - Pendiri dan Pemimpin "Manna Sorgawi"
- J. Beni Prananto - Pengusaha
- K. Aryanto Agus Mulyo - Partner Kantor Akuntan
- L. Ir. Handaka Santosa - CEO Senayan City
- M. Pdt. Drs. Budi Sastradiputra - Jakarta
- N. Pdm. Lim Lim - Jakarta
- O. Lisa Honoris - Kawai Music Shool Jakarta
- P. Ny. Rachel Sudarmanto - Jakarta
- Q. Ps. Levi Supit - Jakarta
- R. Pdt. Samuel Gunawan - Jakarta
- S. F.A Djaya - Tamara Jaya - By Pass Ngurah Rai - Jimbaran - Bali
- T. Ps. Kong - City Blessing Church - Jakarta
- U. dr. Yoyong Kohar - Jakarta
- V. Haryanto - Gereja Katholik - Jakarta
- W. Fanny Irwanto - Jakarta
- X. dr. Sylvia/Yan Cen - Jakarta
- Y. Ir. Junna - Jakarta
- Z. Yudi - Raffles Hill - Cibubur
- ZA. Budi Setiawan - GBI PRJ - Jakarta
- ZB. Christine - Intercon - Jakarta
- ZC. Budi Setiawan - CWS Kelapa Gading - Jakarta
- ZD. Oshin - Menara BTN - Jakarta
- ZE. Johan Sunarto - Tanah Pasir - Jakarta
- ZF. Waney - Jl. Kesehatan - Jakarta
- ZG. Lukas Kacaribu - Jakarta
- ZH. Oma Lydia Abraham - Jakarta
- ZI. Elida Malik - Kuningan Timur - Jakarta
- ZJ. Luci - Sunter Paradise - Jakarta
- ZK. Irene - Arlin Indah - Jakarta Timur
- ZL. Ny. Hendri Suswardani - Depok
- ZM. Marthin Tertius - Bank Artha Graha - Manado
- ZN. Titin - PT. Tripolyta - Jakarta
- ZO. Wiwiek - Menteng - Jakarta
- ZP. Agatha - PT. STUD - Menara Batavia - Jakarta
- ZR. Albertus - Gunung Sahari - Jakarta
- ZS. Febryanti - Metro Permata - Jakarta
- ZT. Susy - Metro Permata - Jakarta
- ZU. Justanti - USAID - Makassar
- ZV. Welian - Tangerang
- ZW. Dwiyono - Karawaci
- ZX. Essa Pujowati - Jakarta
- ZY. Nelly - Pejaten Timur - Jakarta
- ZZ. C. Nugraheni - Gramedia - Jakarta
- ZZA. Myke - Wisma Presisi - Jakarta
- ZZB. Wesley - Simpang Darmo Permai - Surabaya
- ZZC. Ray Monoarfa - Kemang - Jakarta
- ZZD. Pdt. Sunaryo Djaya - Bethany - Jakarta
- ZZE. Max Boham - Sidoarjo - Jatim
- ZZF. Julia Bing - Semarang
- ZZG. Rika - Tanjung Karang
- ZZH. Yusak Prasetyo - Batam
- ZZI. Evi Anggraini - Jakarta
- ZZJ. Kodden Manik - Cilegon
- ZZZZ. ISI NAMA ANDA PADA KOLOM KOMENTAR UNTUK DIMASUKKAN DALAM DAFTAR INI