Thursday, March 19, 2009

My Father's Job

Ayahku Tukang Batu
Alkisah, ada sebuah keluarga sederhana yang memiliki seorang puteri yang menginjak usia remaja. Demi mencukupi kebutuhan keluarganya, sang ayah bekerja menjadi tukang batu bagi sebuah perusahaan kontraktor di kota.

Karena pekerjaan ayahnya, si puteri merasa malu. Ia tak mau mengakui profesi sebenarnya dari sang ayah. Jika ada orang yang bertanya tentang pekerjaan ayahnya, ia selalu menghindar dengan memberi jawaban yang tidak jujur. “Oh, ayahku bekerja sebagai eksekutif di perusahaan kontraktor,” katanya. Puteri lebih senang menyembunyikan keadaan yang sebenarnya dan berpura-pura menjadi anak orang kaya.

Mengetahui sikap tersebut, ayah sang puteri merasa sedih. Perkataan dan perbuatan anaknya yang tidak jujur demi mengingkari keadaan yang sebenarnya telah melukai hati ayahnya. Ia tak mengerti mengapa puteri semata wayangnya tega berbuat hal itu kepadanya.

Akibat sikap dan perilaku puterinya tersebut, hubungan ayah dan puteri kurang harmonis. Bahkan puteri lebih banyak menghindar saat bertemu dengan ayahnya. Ia lebih suka mengurung diri di kamarnya yang kecil. Sang puteri sibuk menyesali keadaannya. “Sungguh Tuhan tidak adil kepadaku. Mengapa Engkau memberiku ayah seorang tukang batu?” keluhnya dalam hati.

Karena ingin menyelesaikan masalah itu sehingga tak berlarut-larut, pada suatu hari sang ayah mengajak puterinya berjalan-jalan berdua ke sebuah taman tak jauh dari rumah mereka. Meski enggan, sang puteri terpaksa mengikuti kehendak ayahnya. Mereka berjalan-jalan berkeliling sembari menikmati pemandangan di sekitar taman.

Saat beristirahat sejenak, sambil memandangi gedung-gedung megah yang membentang di tengah kota, sang ayah berkata, “Puteriku, selama ini ayah menghidupi dan membiayai sekolahmu dan hidupmu dengan bekerja sebagai tukang batu. Walaupun hanya sebagai tukang batu, tetapi ayah adalah tukang batu yang baik, jujur, disiplin dan jarang melakukan kesalahan. Ayah ingin menunjukkan sesuatu kepadamu. Lihatlah gedung bersejarah yang ada di sana. Ayah adalah salah seorang yang ikut membangun gedung itu hingga bisa berdiri dengan megah dan indah,” ucap sang ayah dengan senyuman kebapakan.

“Memang nama ayah tidak tercatat di sana, tetapi keringat ayah ada di sana. Lihatlah juga berbagai bangunan megah dan indah di kota ini. Ayah telah menjadi bagian tak terpisahkan dari gedung-gedung itu. Ayah bangga dan mensyukuri pekerjaan ayah hingga hari ini. Nah, ayah juga ingin engkau merasakan kebanggaan yang sama dengan ayahmu. Tak peduli apapun pekerjaan yang kita kerjakan, jika kita mengerjakannya disertai dengan komitmen, kejujuran, perasaan cinta dan tahu untuk apa itu semua, maka sepantasnya kita mensyukuri nikmat pekerjaan itu.”

Sang puteri terpana mendengar penjelasan ayahnya. Rupanya selama ini ia tak menyadari betapa mulianya pekerjaan ayahnya. Sambil memeluk sang ayah, puteri berkata, “Maafkan puteri, ayah! Puteri telah bersalah selama ini. Walaupun tukang batu, tetapi ayah adalah seorang pekerja yang hebat. Puteri bangga dengan ayah.” Dan mereka tenggelam dalam pelukan penuh haru.

Dikisahkan oleh Andre Wongso di dalam Majalah Media Kawasan edisi Maret 2009. Pertama kali diposting di Pentas Kesaksian pada tanggal 19 Maret 2009.

Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com