Bill dan Mary adalah pasangan suami isteri yang tetap hidup berdampingan walaupun di dalam rumah tangga mereka sering terjadi ketegangan yang disebabkan oleh perbedaan karakter. Bill dikenal sebagai pria yang egois, suka berdebat, sulit bergaul, suka mengkritik, selalu menunjukkan sikap-sikap negatifnya, dan sangat suka membanggakan dirinya. Bill juga tidak suka membicarakan hal-hal yang berhubungan dengan kerohanian. Mary sangat berbeda dengan Bill. Ia adalah wanita yang baik, lembut, sabar, dan sangat mengasihi Tuhan. Mary jarang mengeluhkan sifat-sifat buruk suaminya. Ia lebih memilih untuk diam dan bergumul di dalam doa, "Tuhan, mengapa aku harus hidup dengan suami yang seperti ini? Kapan Engkau akan mengubah suamiku?" Mary cukup lama berdiam diri di dalam doa dan Tuhan berbicara dalam hatinya.
"Mary, Aku akan mengubah suamimu segera setelah engkau berubah."
"Tuhan, apa maksud-Mu? Dialah sumber masalahnya, bukan aku,"
"Mary, engkau belum melakukan segala upaya yang mungkin engkau lakukan, karena engkau sering bersikap masa bodoh terhadap masalah ini. Aku menganggapmu bertanggung jawab karena engkau yang lebih dahulu mengetahui kebenaran. Engkau tahu bahwa sebagai orang yang lebih dewasa dalam kerohanian, engkaulah yang harus mengupayakan kedamaian di dalam rumahmu. Jika engkau melakukan bagianmu, maka Aku akan mengubah Bill."
Mary pun mulai menanggapi perkataan Tuhan itu dengan tindakan nyata untuk menjaga kedamaian di dalam rumahnya. Setelah hari itu Mary lebih banyak melayani Bill dan mencoba memenuhi kebutuhan Bill sebagai seorang pria, yaitu kebutuhan akan rasa dihormati dan dikagumi.
Apa yang terjadi kemudian?
Dalam kurun waktu setahun Bill menunjukkan banyak perubahan. Ia semakin mengasihi Mary, semakin romantis terhadap Mary, dan semakin sering berbicara dengan Mary. Mary hanya dapat bersyukur kepada Tuhan atas anugerah-Nya terhadap keluarganya.
Sumber: Manna Sorgawi, Februari 2009.
Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com