Tuesday, February 24, 2009

Race of Life

Setiap manusia yang hidup di dunia ini tanpa terkecuali sedang berada di gelanggang pertandingan. Di dalam segala segi kehidupan, kita sedang bertanding untuk dapat menang atas tantangan dan masalah.

Adik kami, JJ, adalah teladan ketika ia tidak menyerah dan putus asa di dalam perlombaan hidup yang diwajibkan ini. Dalam usianya yang ke-30 tahun, empat bulan yang lalu ia didiagnosa dokter dengan suatu penyakit komplikasi yang parah dan berbahaya.

Ia harus dirawat di rumah sakit selama beberapa minggu. Ia mengalami pendarahan, sehingga ia harus bernafas melalui mulutnya karena kedua lubang hidungnya terus menerus mengeluarkan darah. Kondisinya sangat memprihatinkan, namun ia tak pernah menyerah. Ia percaya akan janji Tuhan dan rindu agar kehidupannya menjadi berkat bagi banyak orang. Tuhan mendengar dan mengerti kerinduannya.

Pada bulan Desember 2008 JJ bisa keluar dari rumah sakit dan bersaksi akan kebaikan Tuhan, khususnya lewat ibadah Natal. Ia bersukacita dan sangat menikmati pelayanan yang Tuhan berikan.

Pada tanggal 6 Januari 2009 JJ kembali harus menghadapi tantangan dalam pertandingan kehidupannya. Paru-parunya membengkak dan penuh cairan. Ia menjadi sangat sulit bernafas, tidak dapat tidur atau tiduran. Hari itu ia kembali dirawat di rumah sakit dalam kondisi yang sangat lemah. Namun ia tidak pernah mengeluh walaupun selama 24 jam harus mengenakan masker oksigen dan duduk di tempat tidurnya terus menerus.

Setelah enam hari dirawat, tanpa makanan masuk dalam tubuhnya, tanpa dapat berbaring, tanpa tidur karena ia tak dapat tidur dalam posisi duduk, JJ memanggil isterinya tercinta. Dengan terbata-bata karena sulit sekali berbicara, ia berbisik, “I love you.” kepada isteri dan anaknya.

Setelah itu kondisi JJ terus menerus turun hingga beberapa jam kemudian ia meninggal dengan tenang dan damai didampingi kedua kakaknya, isteri, anak, serta ibundanya yang tercinta.

JJ telah menang dalam pertandingan imannya. Selama penyakit menggerogoti tubuh dan kesehatannya, ia tidak pernah mengeluh dan marah kepada Tuhan. Ia selalu mengucap syukur dan senantiasa percaya bahwa dalam kelemahanlah justru kuasa Allah menjadi sempurna. Ia telah sampai di garis finish dan memenangkan pertandingan iman.

Hari ini Tuhan masih memberikan kesempatan kepada kita yang masih bernafas untuk terus berlari di gelanggang pertandingan kehidupan kita. Teruslah bertanding dan jangan menyerah. Meskipun tantangan dan masalah yang kita hadapi cukup berat, kita masih memiliki Bapa yang jauh jauh jauh lebih besar dari masalah dan tantangan kita. Apalagi pencobaan-pencobaan yang kita alami ialah pencobaan-pencobaan biasa, yang tidak melebihi kekuatan manusia. Sebab Allah setia dan karena itu Ia tidak akan membiarkan kita dicobai melampaui kekuatan kita. Pada waktu kita dicobai Ia akan memberikan kepada kita jalan ke luar, sehingga kita dapat menanggungnya. Oleh: Pdt. Edward Supit, seperti dimuat dalam Tabloid Keluarga Edisi no. 43/2009.

Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com