Thursday, February 5, 2009

He Gave Me Strengths Day by Day

Seorang hamba Tuhan menceritakan tentang seorang anak gadis empat tahun yang terkena kanker hati dengan stadium 4B. Para dokter di Indonesia sudah angkat tangan, tidak sanggup mengobati anak ini. Karena keluarga ini cukup berada dan mereka masih mempunyai pengharapan akan kesembuhan anaknya, maka mereka membawa anak ini untuk berobat di sebuah Rumah Sakit di Singapura.

Para dokter spesialis kanker di Singapura juga pada mulanya kaget melihat kondisi anak itu dan sebenarnya mereka angkat tangan. Penyebaran virus kanker sudah kemana-mana. Menurut analisis kedokteran, tak ada harapan bagi anak itu. Namun kedua orangtua anak itu terus mendesak mereka agar mereka mau mencoba mengobati anak itu. Sementara itu kedua orangtua berdoa terus kepada Tuhan untuk kesembuhan anak ini. Teman-teman mereka di Indonesia juga diminta berdoa bagi anak mereka.

Ketika seorang hamba Tuhan datang mendoakan anak ini di Singapura, sang hamba Tuhan tidak tahan melihat penderitaan anak kecil ini. Karena sakit yang luar biasa, anak itu sering berteriak-teriak kesakitan. Yang mendengar teriakan anak ini pasti sedih dan pilu. Sebagai orangtua, pastilah orangtuanya tidak tega mendengar penderitaan anaknya. Kalau mungkin, orangtua bersedia menggantikan posisi anak mereka. Banyak orang yang membezuk anak itu tidak tahan dan menangis melihat penderitaan hebat anak itu. Namun yang menarik perhatian sang hamba Tuhan, ibu si anak dengan penuh kasih sayang menggendong anaknya, dan tidak terlihat menangis. Apakah ibu ini tidak mempunyai perasaan sama sekali?

Kejadian di atas terjadi sebelas tahun yang lalu. Ketika hamba Tuhan itu bertemu kembali dengan keluarga tadi dan mendengar bahwa anak itu akhirnya sembuh total dari penyakit kankernya, hal yang mengganjal di hati hamba Tuhan itu akhirnya ditanyakan juga kepada keluarga ini.

"Bu, saya tidak heran dengan mukjizat kesembuhan yang anak ibu alami. Saya sampai saat ini masih heran, mengapa pada waktu itu Ibu tidak nampak menangis di depan kami dan di depan anak ibu, meskipun penderitaan anak ibu demikian hebat?"

"Pak, selama empat bulan saya menunggui anak saya di Singapura. Setiap hari saya berat sekali menghadapi penderitaan anak saya. Setiap malam saya selalu datang kepada Tuhan dan memohon, 'Tuhan saya tidak kuat lagi menghadapi penderitaan anak saya. Tolong saya, berikan kekuatan supaya saya tetap tabah.' Setiap pagi hari saya datang kepada Tuhan dan berdoa, 'Tuhan, saya tidak tahu apa yang akan saya hadapi hari ini, tetapi saya mohon Tuhan berikan kekuatan kepada saya hari ini.' Setelah doa itu, saya selalu mendapat kekuatan baru dari Tuhan. Saya jadi tabah melihat penderitaan anak saya. Kalau saya menangis, saya pikir saya tidak dapat memberi kekuatan dan pengharapan kepada anak saya. Demikianlah hari-hari berlalu. Kadang-kadang ketika kondisi anak saya parah sekali saya pernah berkata kepada Tuhan, 'Kalau Engkau mau memanggil anak saya pulang, saya sudah rela dan pasrah. Jadilah kehendak-Mu yang terbaik. Namun, jika belum waktunya anak saya dipanggil Tuhan, berikan kekuatan kepada saya untuk menghadapi semua ini.' Anehnya, Tuhan terus memberikan kekuatan kepada saya, sampai anak saya akhirnya sembuh total."

Oh, pantas, ibu ini sangat tabah dan kuat, karena semuanya dari Dia, melalui Dia, dan untuk Dia! Segala kemuliaan hanya bagi Tuhan!

Ditulis oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com