Anak muda ini kehilangan pekerjaannya dan tidak tahu kemana ia harus berpaling meminta pertolongan. Oleh karena itu ia menemui seorang pendeta tua. Setelah memasuki ruang kerja pendeta itu, sang anak muda langsung memberondongkan masalahnya. Akhirnya dia mengepalkan tangannya dan berteriak, “Aku telah memohon kepada Tuhan agar Ia mengatakan sesuatu untuk menolongku. Katakan kepadaku, Pendeta, kenapa Tuhan tidak menjawab?”
Pendeta tua itu, yang duduk di bagian lain di ruangan itu, mengatakan sesuatu sebagai jawabannya, sesuatu yang lembut dan tenang sehingga tak terdengar jelas. Anak muda itu maju mendekatinya. “Apa yang Bapak katakan?” tanyanya.
Pendeta itu mengulanginya lagi, namun kembali dengan nada yang lembut seperti bisikan. Oleh karena itu sang anak muda makin mendekat sampai dia menempel di kursi pendeta.
“Sorry,” katanya. “Aku masih tidak dapat mendengar Bapak.”
Dengan kepala mereka bersentuhan, pendeta tua itu berkata sekali lagi, “Tuhan kadang-kadang berbisik,” katanya, “sehingga kita akan bergerak mendekati untuk mendengarkan Dia.”
Kali ini sang anak muda mendengar dan mengerti.
Seringkali kita ingin suara Tuhan terdengar bagai halilintar di udara dengan jawaban atas semua masalah kita. Namun Tuhan datang dengan suara lembut dan bisikan (the still small voice, seperti yang dialami Elia ketika di gunung Horeb). Bisikan Tuhan berarti kita harus berhenti memberondongnya dengan masalah kita dan bergerak mendekati Dia, sampai kepala kita bersentuhan dengan kepala-Nya. Dan kemudian, kita akan mendengar Dia dan menemukan jawaban kita. Untuk mendengar bisikan-Nya, tenanglah dan mendekatlah kepada-Nya. Diterjemahkan oleh Hadi Kristadi untuk Pentas Kesaksian, http://pentas-kesaksian.blogspot.com.
*****
The young man had lost his job and didn't know which way to turn. So he went to see the old preacher. Pacing about the preacher's study, the young man ranted about his problem. Finally he clenched his fist and shouted, "I've begged God to say something to help me. Tell me, Preacher, why doesn't God answer?"
The old preacher, who sat across the room, spoke something in reply -- something so hushed it was indistinguishable. The young man stepped across the room. "What did you say?" he asked.
The preacher repeated himself, but again in a tone as soft as a whisper. So the young man moved closer until he was leaning on the preacher's chair.
"Sorry," he said. "I still didn't hear you."
With their heads bent together, the old preacher spoke once more. "God sometimes whispers," he said, "so we will move closer to hear Him."
This time the young man heard and he understood.
We all want God's voice to thunder through the air with the answer to our problem. But God's is the still, small voice . . . the gentle whisper. Perhaps there's a reason. Nothing draws human focus quite like a whisper. God's whisper means I must stop my ranting and move close to Him, until my head is bent together with His. And then, as I listen, I will find my answer. Better still, I find myself closer to God.
Author Unknown
Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com