Bagi perempuan, dapur adalah istananya. Tak beda juga bagiku. Namun, apalah arti istana tanpa perabot indah yang menghiasinya? 4 November 2007 adalah hari bersejarahku. Hari itu, aku sah dipersunting Emil kekasihku. Namun, tak seperti kebanyakan pengantin baru yang mabuk mereguk indahnya bulan madu, aku dan suami justru harus menghadapi kerasnya hidup di negeri orang. Jauh dari keluarga dan handai taulan. Jauh dari teman-teman tempat bersenda gurau.
Tepat sehari setelah pernikahan, aku dan suami langsung terbang ke Manila. Suamiku harus berjuang menyelesaikan tesisnya di salah satu kampus di sudut kota Manila. Aku, sebagai istri yang baik, ingin menemaninya di masa sulit ini. Kutinggalkan kenyamanan yang kudapat di Jogja. Pekerjaan mapan dan teman-teman yang menyenangkan. Aku melompat dalam ketidak-pastian. Hidup di negeri orang, tanpa banyak uang di saku.
Memulai Petualangan Baru
Benar saja. Sampai di Manila, kami diperhadapkan pada kenyataan bahwa kami belum punya tempat tinggal. Sebelumnya suamiku tinggal di asrama kampus. Tapi setelah menikah, mau tidak mau, kami harus cari kontrakan. Sementara uang di tangan hanya pas-pasan. “Tuhan, tolong aku butuh rumah nih,” begitu batinku dalam hati. Setelah beberapa malam mencari, suamiku akhirnya menemukan satu rumah tanpa sengaja. Kebetulan penghuninya akan segera pindah. Setelah negosiasi, kami langsung mengambil rumah itu dan membayar sewa untuk satu bulan, 3.500 peso (Rp700 ribu). Harga yang cukup mahal bagi pasangan baru seperti kami. Tanpa perabot, kosongan saja.
“Yang penting kita dapat rumah dulu, Sayang. Nanti Tuhan bisa beri uang untuk beli perabotnya,” ujar suamiku seakan membaca gundah hatiku. Aku hanya mengiyakan dengan mulut membisu. Rumah sederhana dengan dua kamar yang kecil. Plus sebuah dapur dan kamar mandi yang juga mungil. Namun, apalah arti rumah tanpa perabotnya? Kami tak punya uang untuk membelinya. Terutama kebutuhan dapur. Kalau terus-terusan makan di luar, tentu pengeluaran semakin membengkak. Karena itu, aku memutuskan masak sendiri. Tapi bagaimana aku bisa masak? Kompor tak punya, apalagi panci-pancinya. “Tuhan, aku butuh uang untuk membeli perlengkapan dapur kecilku,” batinku dalam doa. Tak ada yang tahu kerinduanku ini. Kusimpan saja semua dalam hati.
Bertemu si Korea yang Baik Hati
Sabtu, 10 November 2007. “Yang, ayo ikut aku pelayanan. Ntar kukenalin sama teman-temanku.” Kuiyakan saja ajakan suamiku. Daripada sendirian di rumah, begitu aku membatin. Di sana, aku diperkenalkan kepada teman-teman kampus suamiku yang juga melayani. Pemimpin pelayanan ini seorang pastor dari Korea. Pastora Kim, begitu mereka memanggilnya. Wanita paruh baya ini sangat ramah. Mata sipitnya bertambah kecil saja jika ia tertawa. Dengan bahasa Inggris yang terbata-bata dan susah dimengerti, kami pun berkomunikasi.
Menjelang tengah hari, suami mengajakku pulang karena hari itu kami harus pindahan. “Wait a minute. I have something for you,” ujar Pastora Kim sambil tertatih mengangkat dua plastik besar berisi barang. Aku termangu ketika membukanya. Semuanya barang dapur yang sangat kubutuhkan. Piring, panci, gelas, mangkok, dan bahkan wajan. “These things aren’t new, but I hope it can help you,” ujarnya. Ia juga memberiku handuk, peralatan mandi, bumbu-bumbu dapur, mie, dan makanan instan serta tak lupa beras untuk kebutuhan sebulan. Bahkan ketika kami hendak pulang, ia masih memberikan amplop kecil berisi uang yang cukup untuk membeli kompor, kasur dan beberapa perabot rumah tangga lainnya.
Kini dapur kecilku telah penuh. Aku bisa masak untuk suamiku tercinta. Kadang-kadang terbersit rasa haru. “Tuhan, terima kasih Engkau telah memenuhi dapur kecilku. Bahkan lewat orang asing yang tak pernah kukenal sebelumnya.” Terima kasih Pastora Kim. Lewat pemberianmu, Tuhan telah membuat penuh dapur kecilku. (Eva Yunita, Manila, Filipina) Sumber: BahanaMagazine.com
Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com