Baru-baru ini seorang ibu menyesali keputusannya untuk merawat ayah tercintanya di sebuah Rumah Sakit terkenal di bilangan Jakarta Barat. Ayahnya masih dalam keadaan segar bugar ketika masuk rumah sakit, namun didiagnosa awal terkena Demam Berdarah. Saudara-saudaranya menyarankan dia memasukkan ayahnya di RS itu karena ada dokter terkenal di RS itu yang juga menjadi gembala di beberapa gereja. Namun apa yang terjadi?
Setelah dirawat di RS itu, kondisi ayahnya semakin memburuk, sehingga perlu dirawat di ICU selama berhari-hari. Karena tidak jelas kemungkinan kesembuhannya, ketika ayahnya agak baikan, ibu ini memaksa untuk mengeluarkan ayahnya dari RS itu dan dipindahkan ke RS Husada. Namun karena kondisi kesehatannya sudah parah, dokter di RS Husada juga tak dapat menolong banyak. Minggu lalu ayahnya meninggal.
Ia sangat menyesal telah mengambil keputusan yang salah dengan merawat ayahnya di RS Jakarta Barat itu.
"Masa gara-gara DB saja ayah saya meninggal?"
Dia juga kecewa atas pelayanan dokter terkenal itu karena sulit ditemui, sehingga tidak jelas apa penyakitnya. Katanya, jantung ayahnya membengkak. Ketika masuk RS ayahnya masih bisa berjalan, keluar dari rumah sakit itu malah harus memakai ambulans.
Hal lain terjadi sebaliknya. Ibu Lydia yang kesaksiannya saya muat di dalam buku "Mukjizat Kehidupan" harus membawa ibunya yang berusia 75 tahun ke Singapura. Selama dirawat di Jakarta dokter tidak menemukan penyakit mamanya. Ketika diperiksa di RS Singapura, dokter dengan kaget menemukan bahwa usus buntu mamanya telah pecah dan terkena infeksi. Dokter harus mengoperasi dua kali luka akibat pecahnya appendix atau usus buntu ini.
Beberapa minggu ibu Lydia harus menunggui ibunya yang kondisi kesehatannya cukup kritis. Bahkan hari Minggu malam, tanggal 11 Januari 2009 yang lalu, mama ibu Lydia sangat kritis, paru-parunya dipenuhi cairan, dan sudah dirawat di ICU. Yang luar biasa, para dokter seperti dibimbing Tuhan untuk melakukan tindakan medis yang diperlukan untuk mengatasi kondisi kritis akibat infeksi yang telah menyebar itu. Akhirnya pada hari Selasa tanggal 13 Januari 2009 lalu, mama ibu Lydia secara ajaib dapat dipulihkan, dan hari Sabtu 17 Januari 2009 lalu mamanya dapat kembali ke rumah dalam keadaan sehat. Puji Tuhan!
Mama ibu Lydia adalah seorang pendoa syafaat. Meskipun sudah berusia lanjut, ia masih aktif melayani Tuhan. Ia senang sekali mengurus wisma retreat milik anaknya yang terletak di daerah Ciputat. Di wisma yang dijadikan rumah doa itu seringkali dipakai untuk kegiatan-kegiatan gereja, di antaranya oleh Abbalove Ministry.
Ditulis oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com