Sejak di-PHK dari perusahaan asing tempat saya bekerja, saya mencari nafkah dengan menjadi guru bahasa Inggris di rumah. Murid saya dari bermacam-macam latar belakang, ada anak SMU, mahasiswa bahkan karyawan. Salah satu murid saya namanya Daniel. Dia termasuk anak yang tidak pandai. Nilainya selalu paling jelek. Tetapi dia anak yang rajin, tidak pernah putus asa. Kehidupan rohaninyapun cukup baik, dia rajin ke gereja dan rajin berdoa. Daniel belajar bahasa Inggris karena dia ingin sekali bekerja di luar negeri. Walapun sebetulnya keluarganya sudah menganggap dia gila, karena keluarganya tahu bahwa dia bukan seorang anak yang pandai.
Dan untuk bekerja di luar negeri pada perusahaan yang akan dilamar oleh Daniel, standar Bahasa Inggrisnya harus excellent. Jadi keluarganya selalu menyuruhnya untuk melupakan impiannya dan menyuruhnya bekerja di Indonesia saja. Apalagi biaya yang harus dikeluarkan oleh keluarganya lumayan besar untuk membiayai keberangkatannya.
Tetapi Daniel tetap berusaha keras dengan belajar dan berdoa. Kalau pada anak normal 3-5 bulan saya mengajar sudah terlihat kemajuannya, ibaratnya seekor burung, maka sudah bisa berkicau walaupun belum sempurna. Tapi Daniel ini, sudah 3-5 bulan kondisinya tetap saja "bisu," tidak ada satu katapun yang bisa dia katakan, yang membuat saya sukacita.
Saya tetap dengan sabar mengajar dia, tapi sesudah 7 bulan tidak ada kemajuan yang berarti saya akhirnya mulai putus asa. Saya mencoba berbicara dengan dia dari hati ke hati. Maksud saya supaya dia melupakan impiannya untuk bekerja di luar negeri karena kemampuannya belajar bahasa Inggris sangat kurang, dan saya juga akan meminta dia untuk berhenti les dari saya, karena saya sungguh-sungguh sudah putus asa. Saya 'kan juga tidak mau dibilang menerima uang les dengan cuma-cuma tanpa ada kemajuan dari sang murid.
Daniel berkata: "Ibu, kalau saya berjalan dengan Tuhan, saya percaya saya akan mendapatkan pekerjaan ini."
Saya sungguh malu, bagaimana tidak... Daniel seorang muda dan sudah mempunyai keyakinan iman yang menakjubkan. Saya berkata: "OK, you can join my class again if you can say that words once again in a good English!" (Baiklah, kamu boleh belajar lagi sama saya kalau kamu bisa mengatakan sekali lagi perkataanmu tadi dalam Bahasa Inggris yang baik) - ini dengan maksud bahwa kalau dia tidak bisa mengatakan dengan baik, maka saya mempunyai alasan untuk menyuruh dia berhenti belajar karena saya sudah putus asa.
Tapi tidak saya sangka Daniel mengulangi perkataannya dengan bahasa Inggris sempurna: "Mam, if I walk with Thee, I believe that I can get this job."
Rupanya perkataan ini selalu diulang-ulang Daniel untuk membangkitkan iman dia pada saat dia sendiri putus asa... Makanya pada waktu saya meminta dia mengatakannya dalam Bahasa Inggris, dengan lancar dia memperkatakannya. Jadi hal itu dia katakan bukan karena dia pintar, tetapi karena dia sudah hafal. Oleh karena itu tidak ada alasan bagi saya untuk tidak mengajarnya lagi, setelah belajar selama 12 bulan, tibalah waktunya Daniel untuk maju interview di perusahaan asing tempat dia melamar.
Saya sebetulnya tahu bahwa Bahasa Inggrisnya belum sempurna sekali dan masih di bawah standar yang ditentukan oleh perusahaan, tapi kemauan dan iman dia bahwa dia akan ditolong Tuhan membuat saya pun bisa melepas dia interview dengan hati besar.
Pada hari dia interview saya berdoa terus, saya mohon kepada Tuhan agar Tuhan tidak mengecewakan Daniel yang sungguh bergantung pada Tuhan.
Siang jam 2, Daniel menelpon saya dan mengatakan dia LULUS. Puji Tuhan!! Saya menangis terharu, saya merasa pasti bahwa tangan Tuhan yang sudah menolong Daniel, bukan karena saya guru yang hebat, atau bukan karena kemampuan Daniel berbahasa Inggris. Tapi betul-betul karena tangan Tuhan. Saya meminta dia datang ke rumah saya dan menceritakan semuanya secara detail.
Ternyata si interviewer, yaitu orang asing yang seharusnya menginterview Daniel pada hari itu tidak ada, karena harus pulang kampung halamannya di London karena ibunya meninggal, dan penggantinya adalah orang Indonesia yang nama keluarganya atau marganya sama dengan Daniel... yaitu "Sianturi."
Jadilah interview itu bukan dalam bahasa Inggris full... tapi seperti ngobrol ngalor ngidul campur-campur Bahasa Inggris dan Batak.
Saya PERCAYA bahwa ini bukan suatu KEBETULAN, yaitu KEBETULAN orang asingnya harus pulang kampung; dan KEBETULAN penggantinya "saudara sekampung" Daniel... TAPI INI SUNGGUH MUJIZAT TUHAN.
Akhirnya, tentu saja Daniel lulus interview dan sekarang dia sudah bekerja di Miami. Setiap kali telepon saya, Daniel selalu saya ingatkan bahwa dia mendapatkan pekerjaan ini hanya karena kebaikan Tuhan.... bukan karena kehebatan dia, karena dia memang bukan anak yang pandai, dan juga bukan karena kebetulan. Daniel menyadari itu dan ia selalu berkata: "Don't worry Mam, I always walk with Thee..."
"Serahkanlah hidupmu kepada Tuhan dan percayalah kepadaNya, dan Ia akan bertindak." Mazmur 37:5
(Sumber Kesaksian: Diana, Jakarta, naskah diambil dari Milis Sahabat Kristen kiriman Sandra Dewi)
Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com