Search This Blog

Friday, January 30, 2009

The Girl who Silenced the UN Meeting Room

Pidato Severn Suzuki, 12 tahun, di Ruang Sidang PBB
Cerita ini berbicara mengenai seorang anak yg bernama Severn Cullis-Suzuki. Severn Cullis-Suzuki adalah salah seorang pemerhati masalah Lingkungan Hidup yang concern dengan isu Pemanasan Global. Ia dikenal sebagai aktivis lingkungan hidup, pembicara, pemandu acara televisi dan pengarang. Severn Suzuki memulai karirnya sejak umur 9 Tahun dengan mendirikan organisasi pemerhati lingkungan untuk Anak-anak. Hingga kini Ia sudah berkeliling dunia untuk berbicara tentang masalah lingkungan hidup yang sudah semakin memprihatinkan.

Severn Cullis-Suzuki atau lebih dikenal dengan nama Severn Suzuki dilahirkan di Vancouver, Canada. Ibunya adalah seorang penulis bernama Tara Elizabeth Cullis dan Ayahnya adalah David Suzuki, seorang aktivis lingkungan hidup. Ketika bersekolah di Lord Tennyson Elementary School, ia mendirikan Environmental Children’s Organization (ECO), sebuah organisasi yang didedikasikan untuk belajar dan mengajar anak-anak tentang masalah lingkungan hidup.

Dan mereka pun diundang menghadiri Konferensi Lingkungan Hidup PBB tahun 1992. Pada saat itu, Severn yg berusia 12 tahun, memberikan sebuah pidato yang sangat kuat yang memberikan pengaruh besar dan membungkam beberapa pemimpin dunia terkemuka.

Apa yang disampaikan oleh seorang anak kecil ber-usia 12 tahun, hingga bisa membuat RUANG SIDANG PBB hening, dan saat pidatonya selesai, ruang sidang yang penuh dengan orang-orang terkemuka berdiri dan memberikan tepuk tangan yg meriah kepada anak berusia 12 tahun itu? Inilah Isi pidato tersebut: (Sumber The Collage Foundation)

Halo, nama saya Severn Suzuki, berbicara mewakili E.C.O - Enviromental Children's Organization. Kami adalah kelompok dari Kanada yg terdiri dari anak-anak berusia 12 dan 13 tahun, yang mencoba membuat perbedaan: Vanessa Suttie, Morga, Geister, Michelle Quiq, dan saya sendiri.

Kami menggalang dana untuk bisa datang ke sini sejauh 6000 mil untuk memberitahukan kepada anda sekalian, orang dewasa, bahwa anda harus mengubah cara anda, hari ini disini juga. Saya tidak memiliki agenda tersembunyi. Saya menginginkan masa depan bagi diri saya saja.

Kehilangan masa depan tidaklah sama seperti kalah dalam pemilihan umum atau rugi dalam pasar saham. Saya berada disini untuk berbicara bagi semua generasi yang akan datang. Saya berada di sini mewakili anak-anak yang kelaparan di seluruh dunia yang tangisannya tidak lagi terdengar. Saya berada di sini untuk berbicara bagi binatang-binatang yang sekarat yang tidak terhitung jumlahnya di seluruh planet ini karena kehilangan habitatnya. Kami tidak boleh tidak didengar.

Saya merasa takut berada di bawah sinar matahari karena berlubangnya lapisan OZON. Saya merasa takut untuk bernafas karena saya tidak tahu ada bahan kimia apa yang dibawa oleh udara. Saya sering memancing di Vancouver bersama ayah saya, hingga beberapa tahun yang lalu kami menemukan bahwa ikan-ikannya penuh dengan kanker. Dan sekarang kami mendengar bahwa binatang-binatang dan tumbuhan satu per satu mengalami kepunahan setiap harinya - hilang selamanya.

Dalam hidup saya, saya memiliki mimpi untuk melihat kumpulan besar binatang-binatang liar, hutan rimba dan hutan tropis yang penuh dengan burung dan kupu-kupu. Tetapi sekarang saya tidak tahu apakah hal-hal tersebut masih ada untuk dilihat oleh anak saya nantinya. Apakah anda sekalian harus khawatir terhadap masalah-masalah kecil ini ketika anda sekalian masih berusia sama seperti saya sekarang?

Semua ini terjadi di hadapan kita dan walaupun begitu kita masih tetap bersikap bagaikan kita masih memiliki banyak waktu dan semua pemecahannya. Saya hanyalah seorang anak kecil dan saya tidak memiliki semua pemecahannya tetapi saya ingin anda sekalian menyadari bahwa anda sekalian juga sama seperti saya! Anda tidak tahu agaimana caranya memperbaiki lubang pada lapisan ozon kita. Anda tidak tahu bagaimana cara mengembalikan ikan-ikan salmon ke sungai asalnya. Anda tidak tahu bagaimana caranya mengembalikan binatang-binatang yang telah punah. Dan anda tidak dapat mengembalikan hutan-hutan seperti sediakala di tempatnya yang sekarang hanya berupa padang pasir. Jika anda tidak tahu bagaimana cara memperbaikinya. TOLONG BERHENTI MERUSAKNYA!

Disini anda adalah deligasi negara-negara anda. Pengusaha, anggota perhimpunan, wartawan atau politisi - tetapi sebenarnya anda adalah ayah dan ibu, saudara laki-laki dan saudara perempuan, paman dan bibi - dan anda semua adalah anak dari seseorang.

Saya hanyalah seorang anak kecil, namun saya tahu bahwa kita semua adalah bagian dari sebuah keluarga besar, yang beranggotakan lebih dari lima milyar, terdiri dari 30 juta rumpun dan kita semua berbagi udara, air dan tanah di planet yang sama - perbatasan dan pemerintahan tidak akan mengubah hal tersebut. Saya hanyalah seorang anak kecil, namun begitu saya tahu bahwa kita semua menghadapi permasalahan yang sama, dan kita seharusnya bersatu untuk tujuan yang sama. Walaupun marah, namun saya tidak buta, dan walaupun takut, saya tidak ragu untuk memberitahukan dunia apa yang saya rasakan.

Di negara saya, kami sangat banyak melakukan penyia-nyiaan, kami membeli sesuatu dan kemudian membuangnya, beli dan kemudian buang. Walaupun begitu tetap saja negara-negara di utara tidak akan berbagi dengan mereka yang memerlukan. Bahkan ketika kita memiliki lebih dari cukup, kita merasa takut untuk kehilangan sebagian kekayaan kita, kita takut untuk berbagi. Di Kanada kami memiliki kehidupan yang nyaman, dengan sandang, pangan dan papan yang berkecukupan - kami memiliki jam tangan, sepeda, komputer dan pesawat televisi.

Dua hari yang lalu di Brazil sini, kami terkejut ketika kami menghabiskan waktu dengan anak-anak yang hidup di jalanan. Dan salah satu anak tersebut memberitahukan kepada kami: “Aku berharap aku kaya, dan jika aku kaya, aku akan memberikan anak-anak jalanan makanan, pakaian dan obat-obatan, tempat tinggal, cinta dan kasih sayang.”

Jika seorang anak yang berada di jalanan yang tidak memiliki apapun, bersedia untuk berbagi, mengapa kita yang memiliki segalanya masih begitu serakah? Saya tidak dapat berhenti memikirkan bahwa anak-anak tersebut berusia sama dengan saya, bahwa tempat kelahiran anda dapat membuat perbedaan yang begitu besar. Bahwa saya bisa saja menjadi salah satu dari anak-anak yang hidup di Favellas di Rio; saya bisa saja menjadi anak yang kelaparan di Somalia; seorang korban perang Timur Tengah atau pengemis di India.

Saya hanyalah seorang anak kecil namun saya tahu bahwa jika semua uang yang dihabiskan untuk perang dipakai untuk mengurangi tingkat kemiskinan dan menemukan jawaban terhadap permasalahan alam, betapa indah jadinya dunia ini. Di sekolah, bahkan di taman kanak-kanak, anda mengajarkan kami untuk berbuat baik. Anda mengajarkan kepada kami untuk tidak berkelahi dengan orang lain, mencari jalan keluar, membereskan kekacauan yang kita timbulkan, tidak menyakiti makhluk hidup lain, berbagi dan tidak tamak. Lalu mengapa anda kemudian melakukan hal yang anda ajarkan kepada kami untuk tidak boleh dilakukan tersebut? Jangan lupakan mengapa anda menghadiri konferensi ini. Mengapa anda melakukan hal ini - kami adalah anak-anak anda semua. Anda sekalianlah yang memutuskan dunia seperti apa yang akan kami tinggali. Orang tua seharusnya dapat memberikan kenyamanan kepada anak-anak mereka dengan mengatakan, “Semuanya akan baik-baik saja”, “Kami melakukan yang terbaik yang dapat kami lakukan,” dan “Ini bukanlah akhir dari segalanya,”

Tetapi saya tidak merasa bahwa anda dapat mengatakan hal tersebut kepada kami lagi. Apakah kami bahkan ada dalam daftar prioritas anda semua? Ayah saya selalu berkata, “Kamu akan selalu dikenang karena perbuatanmu bukan oleh kata-katamu.” Jadi, apa yang anda lakukan membuat saya menangis pada malam hari. Kalian orang dewasa berkata bahwa kalian menyayangi kami. Saya menantang ANDA, cobalah untuk mewujudkan kata-kata tersebut. Sekian dan terima kasih atas perhatiannya.

***

Servern Cullis-Suzuki telah membungkam satu ruang sidang Konfrensi PBB, membungkam seluruh orang-orang penting dari seluruh dunia hanya dengan pidatonya. Setelah pidatonya selesai serempak seluruh orang yang hadir di ruang pidato tersebut berdiri dan memberikan tepuk tangan yang meriah kepada anak berusia 12 tahun itu.

Setelah itu Sekjen PBB mengatakan dalam pidatonya:
“Hari ini saya merasa sangat malu terhadap diri saya sendiri karena saya baru saja disadarkan betapa pentingnya lingkungan dan isinya di sekitar kita oleh anak yang hanya berusia 12 tahun yang maju berdiri di mimbar ini tanpa selembarpun naskah untuk berpidato, sedangkan saya maju membawa berlembar naskah yang telah dibuat oleh asisten saya kemarin. Saya … tidak, kita semua dikalahkan oleh anak yang berusia 12 tahun.”

Cerita ini benar-benar terjadi dan pidato Severn Cullis-Suzuki itu benar-benar pidato yang dikatakannya, tanpa dilebih-lebihkan.

Artikel ini diterbitkan oleh Pustaka Nilna dan pertama kali dipublikasikan pada tanggal 16 January 2009. Sumber: http://pustakanilna.com/pidato-severn-suzuki-12-th-di-ruang-sidang-umum-pbb.html/ dan Wikipedia, http://en.wikipedia.org/wiki/Severn_Cullis-Suzuki

Jika anda ingin melihat video Severn Suzuki sedang berpidato, lihat YouTube di: http://www.youtube.com/watch?v=uZsDliXzyAY

Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

He gave the only lifejacket to another passenger

Laut Selatan memang terkenal akan ombak yang tinggi, cuaca yang tak menentu karenanya sering kali menelan korban jiwa. Ada sejumlah kapal yang tenggelam dan sulit ditemukan mayatnya.

Salah satu korban penumpang tenggelamnnya KM Lisma Jaya di Muara Asmat, Kabupaten Asmat, Papua, 14 Januari 2009 lalu yang ditemukan tim penyelamat diterbangkan dari Asmat ke Timika 16 Januari lalu untuk dilakukan otopsi.

Jenasah Dr Wendiansyah Sitompul diterbangkan dari Bandara Ewer Asmat dengan menggunakan pesawat Mimika Air Milik Pemerintah Kabupaten Mimika tiba di Bandara Mozes Kilangin Jumat (16/1) pukul 09.00 WIT. Selain jenasah Dr Wendiansyah juga didampingi istrinya Dr Lidya bersama tim Dokter serta Pejabat Pemerintah Kabupaten Asmat yang diwakiili oleh Asisten I Drs George Tuantana serta tim Dokter dari Pemerintah Asmat.

Selain berita di atas yang terambil dari http://cafeinbuti.blogspot.com/search?q=dr+wendiansyah, saya mendengar kabar dari teman isteri Dr. Wendiansyah Sitompul, bahwa almarhum dokter itu menyerahkan satu-satunya pelampung yang dia pegang kepada penumpang lain, dan membiarkan dirinya tenggelam. Itulah pengorbanan seorang dokter yang sangat langka di zaman ini.

Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Thursday, January 29, 2009

Obama Lookalike

Kembaran Barack Obama Asal Indonesia Jadi Berita Dunia
Lihat video Ilham Anas - Obama Palsu di : http://news.bbc.co.uk/2/hi/asia-pacific/7842347.stm

London (ANTARA News) kiri: Ilham Anas, kanan: Obama - Dengan senyuman yang menampakkan gigi, kuping yang sedikit besar dan rambut cepak, Ilham Anas dari Indonesia yang mirip dengan Presiden Amerika Serikat (AS) keturunan Afro-Amerika, Barrack Hussein Obama Jr, itu menjadi terkenal di dunia.

Stasiun televisi CNN dan juga berbagai media di Inggris menyiarkan kembaran Barack Obama, menyusul munculnya Obamamania di mana-mana setelah acara pelantikan orang nomor satu di Amerika Serikat itu kemarin.

Fotografer yang menjadi kembaran Barack Obama tidak saja menjadi dikenal di Jakarta, tetapi juga diberitakan dengan dilantiknya presiden kulit hitam pertama AS Selasa waktu Washington DC (Rabu dinihari WIB).

Perusahaan obat di Filipina juga menawarkan Anas dalam acara komersial dengan mengenakan jas lengkap, seperti yang dipakai Obama. Selain itu, Anas juga menerima banyak tawaran dari perusahaan di Korea Selatan dan juga Indonesia.

Anas yang berasal dari Jawa Barat dan berusia 34 tahun tampil dalam tayangan "Bukan Empat Mata" di Trans-7, pada Selasa malam bersamaan dengan persiapan acara pelantikan Obama di Washington.

Kakak laki-laki Anas adalah orang pertama yang mengenali persamaan wajah Anas dengan Barack Obama, dan rekan Anas di majalah remaja yang memintanya berpose dengan mengenakan jas dan dasi serta bendera AS.

Setelah foto diambil dan dikirim ke teman-teman, dunia pun menyadari kesamaan wajah Anas dengan Obama. "Saya sebenarnya seorang pemalu, saya tidak suka menjadi perhatian," ujar Anas seperti yang dikutip AFP.

Bagaimana pun wajahnya yang mirip dengan Presiden AS, sehingga membuat dirinya menjadi makin percaya diri.

Barack Obama pernah bersekolah di Jakarta sekitar tahun 1960, dan ia dikenal di sekolah dengan nama Barry.(*) Sumber: Milis Idaarmurti dan BBC News.

Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Please Listen!

When I ask you to listen to me and you start giving me advice, you have
not done what I asked.

When I ask you to listen to me and you begin to tell me why I shouldn’t
feel that way, you are trampling on my feelings.

When I ask you to listen to me and you feel you have to do something to
solve my problem, you have failed me, strange as that may seem.

Listen! All I ask is that you listen. Don’t talk or do—just hear me.
Advice is cheap; 20 cents will get
you both Dear Abby and Billy Graham in the same newspaper.

And I can do for myself; I am not helpless. Maybe discouraged and
faltering, but not helpless.

When you do something for me that I can and need to do for myself, you
contribute to my fear and inadequacy.

But when you accept as a simple fact that I feel what I feel, no matter
how irrational, then I can stop tying to convince you and get a bout
this business of understanding what’s behind this irrational feeling.

And when that’s clear, the answers are obvious and I don’t need advice.

Irrational feelings make sense when we understand what’s behind them.

So please listen, and just hear me.

And if you want to talk, wait a minute for your turn—and I will listen
to you.
(Author Unknown)

Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Wednesday, January 28, 2009

From Caterpillar to Butterfly

Ada lagu populer yang belakangan ini sering terdengar di radio dan menjadi soundtract sebuah sinetron di TV. Ikuti kisahnya di bawah ini:

Untuk mendengarkan lagunya, lihat di http://gudanglagu.com/s/sindentosca/sindentosca-kepompong/ Klik YouTube di sebelah kanan.

Lirik Lagu Kepompong - Sind3ntosca

dulu kita sahabat
teman begitu hangat
mengalahkan sinar mentari

dulu kita sahabat
berteman bagai ulat
berharap jadi kupu-kupu

* kini kita melangkah berjauh-jauhan
kau jauhi diriku karna sesuatu
mungkin ku terlalu bertindak kejauhan
namun itu karna ku sayang

reff:
persahabatan bagai kepompong
mengubah ulat menjadi kupu-kupu
persahabatan bagai kepompong
hal yang tak mudah berubah jadi indah

persahabatan bagai kepompong
maklumi teman hadapi perbedaan
persahabatan bagai kepompong
na na na na na na na na na

semua yang berlalu
biarkanlah berlalu
seperti hangatnya mentari

siang berganti malam
sembunyikan sinarnya
hingga ia bersinar lagi

** dulu kita melangkah berjauh-jauhan
kau jauhi diriku karna sesuatu
mungkin ku terlalu bertindak kejauhan
namun itu karna ku sayang

repeat reff

*****

Bagaimana ciri seorang anak muda yang telah menciptakan 800 lagu? Autis. Begitu menurut bahasa gaul untuk menyebut orang kuper yang asyik dengan dirinya sendiri. Gambaran itu ada pada Jalu Hikmat Fitriadi. Ia selama bertahun-tahun berkutat di depan komputer, mengutak-atik Cakewalk dan Fruity Loops (dua peranti lunak untuk rekaman rumahan), menggubah aransemen, dan menghasilkan lagu.

Kalaupun Jalu keluar dari rumahnya di kawasan Ciburial, Bandung, paling sering untuk membeli pulsa telepon seluler. Kadang ia menonton film atau mencari pernak-pernik komputer. Sesudah itu, ia akan kembali "bertapa" di kamarnya.

Tiga perempat hidup Jalu dihabiskan di kamarnya yang nyaman. Di sana ada seperangkat komputer rakitan, keyboard, gitar listrik dan akustik, serta sejumlah aksesori pendukung rekaman. Alat terbaru di kamarnya adalah treadmill.

Jalu sudah tidak kuliah. Ia hanya tahan beberapa semester di sebuah perguruan tinggi swasta di Bandung. Juga tidak memiliki pekerjaan. Demikian pula pacar. Hobi dan agenda teratas dalam kegiatan sehari-harinya adalah membuat lagu, meski latar belakang musik sesungguhnya tidak langsung mengalir di darah anak keempat dari lima bersaudara ini.

Mungkin hanya naluri berkesenian, mengingat ayahnya, Dedi Supardi, adalah pelukis. Sedangkan naluri bermusiknya dibangun sendiri oleh Jalu. Kecintaan pria kelahiran Bandung, 12 Agustus 1980, ini pada musik secara serius dikembangkan pada 1994. Ia mulai dengan mempelajari piano dan gitar, lalu membuat lagu.

Bersamaan dengan itu, penguasaannya atas software Cakewalk versi 3.0 (yang di-install di PC Intel 486) makin berkembang. Buat Jalu, peranti lunak ini ajaib. Ia bisa melakukan apa saja: menerjemahkan nada-nada yang ada di kepala, mengutak-atik aransemen, bahkan mendapat bunyi baru.

Jalu jadi keranjingan membuat lagu hingga aransemen penuh. Ia mengisi sendiri drum, bas, hingga efek pada vokal. Pendeknya, software itu benar-benar diulik. Walhasil, dalam sehari, ia bisa membuat tiga lagu "matang" sekaligus. Makin betah saja penggemar The Cranberries ini di dalam kamar.

Dalam membuat lagu, ide dan inspirasi Jalu bisa datang dari mana saja dan kapan saja. Pernah ketika naik angkot di Bandung, ia meminta teman-temannya diam karena ada nada baru melintas di kepalanya. Jalu bisa membuat lagu tentang kelinci (Kelinci Tosca), kamar mandi (My Name is Bathroom), rokok (Second Hand Smoker), dan lain-lain. Soal musik, ia tidak mematok pada satu aliran saja.

Mampu membuat karya sendirian, lama-lama Jalu tertarik untuk membentuk sebuah band. Maka, ia mendirikan Sindentosca pada 1999 bersama empat kawannya. Sebanyak 90% materi lagu berasal dari Jalu. Demikian juga nama band, yang resminya ditulis "Sind3ntosca".

Kata "Sinden" diambil karena nama ini mewakili sisi etnik yang hendak mereka tonjolkan. "Tosca" adalah perpaduan biru dan hijau --biru merujuk pada langit, sedangkan hijau pada daratan. Artinya, "Kalau sudah berhasil, jangan sampai lupa daratan. Harus tetap lihat ke bawah. Itu doa," kata Jalu.

Sayang, band itu tidak berumur panjang. Sempat manggung beberapa kali dan menetaskan album "Tiduran, Tertidur & Bertelur", yang direkam di kamar Jalu pada 2004, satu per satu personelnya cabut. Tersisa dua untuk selanjutnya hanya tinggal Jalu sendiri. Kadung dikenal, Jalu mempertahankan nama Sind3ntosca.

Setelah bubar, Sindentosca masih kerap ditanggap. Mendapat job begini, Jalu terpaksa memakai formasi cabutan. Kalau tidak ada panggung, ia kembali ke kamarnya. Jalu makin terpacu membuat lagu setelah berkenalan dengan software Fruity Loops.

Setahun lalu, berkat dorongan teman-temannya, Jalu mengirim tiga lagu ke radio Prambors. Ia mengirim Kepompong, Aku Hanya Orang di Jawa, dan Bola Mataku Hilang Sebelah, tiga materi pengisi "Pixel Personality", album Jalu berikutnya (meski belum mendapat kontrak rekaman).

Dari ketiga lagu itu, Kepompong mendapat respons paling bagus. Ini yang kemudian membawa lagu itu ke album kompilasi "NuBuzz 1.1". Kepompong rajin diminta pendengar radio di Jakarta. Nama Sind3ntosca pun kian dikenal.

Apalagi, wajah Jalu mulai sering tampil di layar kaca. Klip videonya juga sering nongol. Bahkan lagu Kepompong disandingkan dengan sinetron bertajuk serupa. "Makin banyak orang kenal, 'Eh, si kepompong'," kata Jalu, menirukan reaksi masyarakat.

Jelas ini berkah sekaligus bencana buat Jalu. Imbas sukses itu, ia harus meninggalkan keautisannya dan (mulai) membuka diri. Ia tak bisa lagi berlama-lama ngendon di kamarnya. Ridhan, sang manajer, sudah punya sederet kegiatan buat Jalu, yang mengharuskannya pergi-pulang Jakarta-Bandung.

Tawaran manggung penuh hingga awal tahun depan. Sayang, sebagian besar panggung Jalu masih diisi dengan penampilan lipsync. Ia belum cukup percaya diri untuk tampil minus one. Belum, karena Jalu masih mencari band pengiringnya. Selama ini, ia hanya ditemani Selly, sepupunya, yang memainkan gitar.

Jalu tak seperti penyanyi baru lainnya --yang jungkir balik kegirangan ketika lagunya di sebuah album kompilasi beken-- serta ada klip videonya. Ia cenderung biasa-biasa saja. Sebab Jalu tidak lagi merasakan emosi yang dulu ia bangun ketika menciptakan Kepompong. Jalu mengaku, emosi aura lagu itu telah hilang.

Ia makin bete ketika mendapati aransemen Kepompong diubah tanpa sepengetahuannya. Padahal, dalam kontrak jelas tertulis: perubahan aransemen harus sepengetahuan pemilik lagu. Apalagi, Jalu punya fakta, aransemen asli Kepompong lebih banyak diminati pendengar ketimbang versi barunya.

Sebelum lagu itu dilempar ke pasar, Jalu meminta kedua versi itu diadu di radio. Hasilnya: 29 orang menyukai versi asli, sedangkan aransemen baru diminati sembilan orang saja. Namun itulah kenyataan yang harus dihadapi Jalu. Ia tidak bisa lagi asyik sendiri, menghasilkan karya yang "nyaman di telinga gue". Ada pihak lain yang lebih berpengalaman dalam mengemas sebuah lagu menjadi hit. Formulanya belum dimiliki Jalu.

Sebaliknya, kondisi tadi menjadi pemicu bagi Jalu untuk membuktikan bahwa gudang lagunya memang bakal menciptakan sejumlah hit lainnya. Dalam catatan Gatra, ada beberapa komposisi yang memiliki peluang untuk jadi hit. Misalnya Annoying Banget, My Name is Bathroom, Sebatas Teman, dan Bubble Appointment.

Sebelum sampai ke sana, Jalu harus menemukan dulu perusahaan rekaman yang mau memproduksi karyanya --yang tidak hanya menginginkan "kepompong-kepompong", melainkan juga menerima lagu minor milik Jalu lainnya (meski Jalu sesungguhnya siap menghasilkan "kepompong" baru). Pasalnya, ada 800 lagu siap garap terkompres dalam hard-disk Jalu. Membuat lagu baru hanya akan menghabiskan energi, lalu menunda sang kepompong menjadi kupu-kupu.

Carry Nadeak dan Wisnu Wage Pamungkas
[Musik, Gatra Nomor 8 Beredar Kamis, 1 Januari 2009]
Sumber: Majalah Gatra -
http://cybertainment.cbn.net.id/cbprtl/cybertainment/detail.aspx?x=Showbiz+News&y=cybertainment|0|0|2|7530

Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

The Amazing Jessica Cox

Kisah tentang Jessica Cox ini pernah saya tulis di blogspot saya tanggal 31 Desember 2008 yang lalu. Inilah tambahan informasi dan foto-foto:



Jessica Cox, 25, a girl born without arms, stands inside an aircraft. The girl from Tucson, Arizona got the Sport Pilot certificate lately and became the first pilot licensed to fly using only her feet.
*****


Jessica Cox of Tucson was born without arms, but that has only stopped her from doing one thing: using the word "can't."

*****


With one foot manning the controls and the other delicately guiding the steering column, Cox, 25, soared to achieve a Sport Pilot certificate. Her certificate qualifies her to fly a light-sport aircraft to altitudes of 10,000 feet.

****


*****




"When she came up here driving a car," Traweek recalled, "I knew she'd have no problem flying a plane."
*****


*****


Doctors never learned why she was born without arms, but she figured out early on that she didn't want to use prosthetic devices.

Ditulis/diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

In the Lord's Hands

Hidup Mati Di Tangan Tuhan
Setelah 10 tahun menikah saya, Norita dan Mike, 37 tahun dikaruniai dua putera, yaitu: Nicholas 9 tahun dan Nathaniel 8 tahun. Kehidupan kami dapat dikatakan bahagia karena kami hidup di dalam Tuhan. Kami diberikan kesempatan oleh Tuhan untuk melayani di beberapa bidang, antara lain: penginjilan ke Rumah Sakit, Paduan Suara dan aktif di dalam kepengurusan gereja.

Kami sangat bahagia dapat melayani orang-orang yang membutuhkan penghiburan di Rumah Sakit sambil memberitakan kabar baik tentang Tuhan Yesus. Tapi sungguh di luar rencana kami, secara berangsur-angsur berat badan Michael turun secara drastis dan perutnya semakin membuncit dan keras sekali.

Sesungguhnya, sejak saya menikah dengan dia, saya rasakan adanya hal yang tidak beres dalam kesehatannya, yaitu apabila sehabis makan, dia selalu seperti ingin muntah dan juga mengalami sakit punggung yang cukup berat. Tapi kami tidak tahu sakit apakah itu.

Pada tahun 1995, ketika papi saya dikatakan menderita sakit kanker hati dengan stadium 4 dan usianya tinggal 6 bulan lagi, bukan main sedihnya hati kami. Kami berusaha mencari dokter yang terbaik. Dari beberapa teman dikatakan bahwa di Shanghai ada pengobatan yang terbaik. Maka berangkatlah kami ke sana.

Kami berangkat berempat, yaitu orang tua saya dan kami berdua. Setelah bertemu dengan Prof. Tang, Papi dan Mike diperiksa. Setelah pemeriksaan, dokter mendiagnosa bahwa penyakit papi sudah terlambat karena sudah menyebar ke paru-paru dan Mike juga mempunyai tujuh benjolan dengan ukuran antara 2 sampai 7 cm yang dikhawatirkan adalah kanker ganas.

Bukan main sedihnya kami karena dua orang yang saya kasihi terbaring di rumah sakit. Setelah beberapa minggu dirawat di rumah sakit, kami diperkenankan pulang. Sungguh waktu yang Tuhan sediakan untuk Papi begitu indah, sehingga Papi dapat mengenal Tuhan dan menerima Dia sebagai Juru Selamat sebelum Papi dipanggil kepangkuan Tuhan 6 bulan setelah kami kembali dari Shanghai.

Mike diberikan pengobatan TAE (Trans Artery Embolization) atau pemberian suntikan melalui Interferon untuk membungkus sel kanker tersebut agar tidak menjalar keluar. Tetapi pengobatan ini tidak dapat bertahan lama. Kami harus bolak-balik beberapa kali. Sekali berobat harus tinggal dua minggu di rumah sakit. Karena kondisi fisik Mike begitu baik, tidak seperti orang sakit, maka Mike dianjurkan untuk berobat ke Singapura saja supaya lebih dekat. Menurut dokter di sana, ini tidak ganas, tetapi hanya Hepatitis dengan virus C, jadi pencegahannya melalui suntikan Interferon.

Setelah menjalankan beberapa kali pengobatan, maka dia merasa tidak ada lagi yang harus diteruskan, dan kehidupan kami berjalan normal seperti biasa.

Namun lima tahun kemudian badan Mike menjadi begitu kurus dan tidak mempunyai nafsu makan. Maka kemudian kami memutuskan untuk mencari dokter lain di Singapura. Ternyata dokter itu juga seorang anak Tuhan.

Setelah pemeriksaan dijalankan, dokter mengatakan sebaiknya dilakukan transplantasi. Benjolannya sudah begitu besar dan diperkirakan sekitar 18 cm serta sangat berbahaya karena isinya darah dan dapat pecah setiap saat apabila terbentur. Apabila pecah dapat langsung meninggal dunia.

Saya sangat sedih dan bingung, tidak tahu apa yang harus saya lakukan. Kami terus berdoa minta pimpinan Tuhan untuk mengetahui apa yang harus kami lakukan. Melalui seorang teman, kami dikenalkan dengan dokter yang paling baik di Amerika untuk transplantasi hati, yaitu di Mayo Clinic, Minneapolis, USA.

Kami berangkat dengan hati penuh harap. Setiba kami di sana, Mike langsung menjalankan pemeriksaan. Setelah hasil darah keluar, kami langsung bertemu dokter. Dan seperti yang sudah saya prediksikan, benar, ini adalah kanker ganas (HCC) level 2 dan sudah tidak dapat dioperasi karena sudah terlalu besar.

Lalu kami disuruh pulang serta melakukan hal-hal yang belum dilakukan serta menikmati hidup. Tidak ada pengobatan lain selain kemoterapi sebanyak enam kali dan setiap kalinya dilakukan melalui infus selama 4 hari, 4 jam sehari. Dilakukannya chemo dengan harapan benjolan itu akan mengecil baru kemudian dapat dioperasi. Tetapi berdasarkan pengalaman yang ada, dari sekian banyak penderita hanya 2% yang selamat melewati hal ini.

Setelah mendengar hal itu, belum sampai di luar ruang dokter saya sudah tidak dapat menahan air mata. Sambil terus menangis saya mengajukan beberapa pertanyaan dan memohon untuk mungkin ada pengobatan lain yang dapat membantu. Tapi kami sudah tahu jawabannya adalah tidak ada. Setelah kami keluar, kami tidak bisa langsung kembali ke hotel, melainkan kami duduk di lobi rumah sakit. Kami berdua menangis, menangis dan menangis serta terus berdoa. Kami menyadari bahwa kami begitu lemah dan tidak dapat melakukan apapun dan kami hanya dapat menyerahkan seluruh hidup kami di dalam tangan Tuhan. Hati kami begitu hancur dan kami mulai berpikir apa yang harus kami katakan kepada anak-anak kami dan orang tua kami. Dan saya pun berpikir bagaimana saya harus menjalankan hidup sebagai single parent.

Praktis dalam satu minggu itu saya tidak dapat tidur sama sekali. Paling banyak saya tidur selama 2-3 jam. Pikiran saya begitu kacau, sedih dan tiada hari tanpa air mata. Tetapi di dalam kesedihan saya yang paling dalam saya tahu Tuhan juga mengetahui kesedihan saya. Saya terus berdoa dan berdoa.

Kalau sebelumnya saya berdoa, tapi sekarang ini doa saya sungguh mencurahkan seluruh perasaan sedih saya kepada-Nya. Saya mencurahkan seluruh perasaan ini kepada para hamba Tuhan, saudara-saudara seiman untuk mohon dukungan doa dari mereka, karena saya percaya doa adalah hal yang paling penting di dalam kehidupan kita.

Setelah kami menjadwalkan kemoterapi tersebut, maka pada bulan November 2000 kami berangkat ke Singapura untuk chemo yang pertama. Mike begitu yakin bahwa ia dapat melaluinya dengan baik, karena dia merasa masih muda. Meskipun setiap orang share setelah chemo bisa muntah, seluruh badan rasa tidak enak dan lain-lain. Setelah 4 hari kami langsung pulang. Dan sebelum pulang, pada hari ke-3 di Singapura, Mike sudah muntah-muntah, tapi tidak terlalu parah. Tetapi setelah kami pulang, dia muntah dan buang air dalam satu hari tidak pernah berhenti. Sampai karena saya takut dia kekurangan cairan, maka kami bawa ke Rumah Sakit untuk dirawat. Ternyata setelah itu bukan lebih baik tapi semakin menjadi-jadi, bukan hanya kotoran yang keluar tapi sudah darah. Darah pun keluar dari segala tempat, yaitu: hidung, mulut dan sebagian besar dia sudah tidak sadarkan diri. Sampai pada hari ke-7 adalah hari yang paling gawat, dimana semua fungsi darah tidak ada yang baik, HB tingal 0,5 RBC hanya 2,5 keadaan sangat mengkhawatirkan.

Saya terus berdoa dan Pdt. Hendra (Gembala Sidang kami) mengajak seluruh jemaat untuk berdoa syafaat minta Tuhan mau bermurah hati untuk menolong. Dan sungguh kami melihat kasih dan tangan Tuhan memelihara. Saya menghubungi dokter di Singapura untuk meminta bantuan obat yang dapat menghentikan semua ini. Bagaimana mungkin kalau bukan Tuhan yang bekerja dokter tersebut dapat dihubungi pukul 12 malam pada saat weekend, yang mana mereka sedang berlibur ke Malaysia dan malam itu sedang hujan lebat? Dokter itu pun mengajak seluruh keluarganya berdoa untuk Michael. Sungguh hal-hal seperti itu membuat saya sangat terharu dan mengucap syukur kepada Tuhan, bahwa Tuhan tidak pernah meninggalkan kami. Dan melalui perhatian, doa, sampai-sampai Kaum Ibu secara bergiliran membuatkan masakan untuk Mike, kami merasa sangat dihiburkan oleh saudara-saudara seiman kami. Selama 10 hari dirawat di rumah sakit membuat kami semakin dekat dengan Tuhan.

Kemoterapi tersebut sebagian dilakukan di Singapura dan sebagian lagi di Jepang. Sungguh Tuhan sangat mengetahui sifat anak-anaknya dan Tuhan juga sangat tahu akan kekerasan hati Mike. Pada mulanya dia tidak mau sama sekali ke Jepang karena takut operasi dan sangat bersikeras. Sampai semua dari kami berdoa, dan Dr. Karmen di Singapura berdoa serta mengatakan, "Mike, kita sebagai anak Tuhan tidak boleh takut mati, karena kita tahu bahwa setelah kita mati kita akan ke mana. Tetapi Tuhan juga bekerja melalui ilmu pengetahuan dan ingin menyatakan kemuliaan-Nya melalui pencobaan yang kamu lalui. Jadi sangatlah bijaksana apabila kita mendengarkan apa yang Tuhan ingin perbuat melalui semua itu." Dia juga mengatakan bahwa dia telah berkonsultasi dengan Prof. Makuuchi yang adalah seorang dokter yang sangat terkenal. Beliau adalah Top Surgeon no. 5 di dunia dan no. 1 di Jepang. Saya sungguh bersyukur masih begitu banyak anak Tuhan yang begitu memperhatikan kami. Baru setelah melalui hal tersebut akhirnya Mike memutuskan untuk operasi ke Jepang.

Kami siapkan semua dan akhirnya kami berangkat. Hati saya begitu sedih, karena kepergian kami kali ini begitu mengkhawatirkan, antara sembuh atau pulang hanya nama. Dan kami tidak tahu berapa lama harus tinggal di sana. Kami tinggalkan semua pekerjaan kami, anak-anak, dengan satu keyakinan bahwa di dalam Tuhan ada pengharapan. Tuhan memimpin segalanya sampai kami dapat tiba di Jepang dengan selamat dan langsung melakukan beberapa pengecekan.

Test demi test Mike jalankan dengan sungguh. Setiap melakukan test saya telepon kepada hamba Tuhan untuk didoakan, dan sungguh iman kami terus naik turun, karena kadang-kadang hasil test jelek, dan tiada hari tanpa doa minta Tuhan memimpin kami.

Setiap pulang dari RS sekitar jam 7 malam, saya harus jalan sendirian melalui taman di Ueono. Saat itu musim salju, udara dingin sekali dan jalanan begitu sepi sampai-sampai saya tidak menemukan seorang pun di sana. Untuk menghilangkan rasa takut, saya berlari sambil bernyanyi "Sepanjang Jalan Tuhan Pimpin". Setibanya di hotel saya tidak lagi kedinginan, malah keringatan karena saya berlari.

Sampai akhirnya dokter memutuskan untuk operasi pada tanggal 4 Januari 2001. Kami hanya dapat berserah sepenuhnya kepada Tuhan yang dapat memberikan jalan terbaik kepada kami. Saya kembali menelepon Pdt. Hendra dan minta didoakan. Beliau mengajak beberapa pemuda untuk berpuasa bersama dan juga berdoa.

Operasi berjalan 10 jam dan Tuhan sungguh ajaib, tumor dapat dikeluarkan tanpa pecah sama sekali karena apabila pecah, sel kanker akan menyebar ke tempat yang lain. Berat dari tumor ganas itu sendiri adalah 4,2 kg dan ukurannya adalah 22 cm. Yang lebih heran lagi adalah fungsi hati diberikan oleh Tuhan bukan hanya 25% (yang pada mulanya diperkirakan oleh dokter), tapi 40%. Penyembuhan Mike juga sangat luar biasa cepat, hanya 16 hari kami sudah dapat kembali ke Indonesia.

Tidak ada yang mustahil di mata Tuhan dan selalu ada pengharapan bagi anak Tuhan yang bersandar kepada Dia. Mike sudah dapat melakukan kegiatan sehari-hari seperti orang normal lainnya. Kami sungguh bersyukur atas semua dukungan doa dari saudara-saudara seiman yang dengan setianya mendukung kami.

Kiranya kesaksian ini membawa berkat bagi banyak orang yang membacanya, sehingga nama Tuhan dapat dimuliakan. (Email kiriman dari Ibu Suharti)

Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Tuesday, January 27, 2009

Act of Bravery

Tidak banyak orang tahu mengenai kisah Lawrence Lemieux, seorang pedayung dari Kanada yang bertanding di kelas Finn (dinghy = perahu dayung) pada Olimpiade 1988 di Seoul. Pada hari bersejarah itu Lemieux melakukan tindakan penuh keberanian yang luar biasa. Angin berhembus kencang, dan air menjadi bergelombang keras. Lemieux ada di tempat kedua selama pertandingan mendayung itu ketika dia melihat dua pedayung dari tim Singapura tercebur ke dalam air. Yang luar biasa, tanpa mempedulikan medali emas, Lemieux mendayung ke samping dan menolong para pedayung itu, dan mengangkat mereka ke dalam perahunya.

Meskipun ia tertinggal dalam pertandingan itu, ia menuntaskan perlombaannya setelah perahu panitia mengangkat para pedayung yang naas itu. Namun panitia pertandingan Olimpiade menganugerahinya gelar juara kedua. Ketua IOC pada waktu itu, Juan Antonio Samaranch berkata, "Dengan jiwa sportif anda yang luar biasa, pengorbanan diri dan semangat anda, anda telah menghadirkan semua apa yang benar sesuai jiwa luhur Olimpiade." Lemieux bukanlah sebuah nama besar, namun tindakannya yang berani telah membawa kehormatan bagi Olimpiade. Sumber: http://www.beliefnet.com, diterjemahkan oleh Hadi Kristadi untuk http://pentas-kesaksian.blogspot.com.


******

Not many know the story of Lawrence Lemieux, a Canadian rower competing in the Finn (dinghy) class in the 1988 games in Seoul. On that fateful day Lemieux performed an incredible act of bravery. The winds had picked up, and the water became exceedingly choppy. Lemieux was in second place during his race when he saw two sailors from the Singaporean team in another race fall into the water. Lemieux rowed over and rescued the sailors, hauling them into his small boat.

Though he was out of contention, he finished his race after an official boat picked up the sailors. But the Olympics committee awarded him an honorary second-place finish. IOC president Juan Antonio Samaranch said, "By your sportsmanship, self-sacrifice and courage, you embody all that is right with the Olympic ideal." Lemieux was not a big name, but his act of bravery brought honor to the Games. --DDA

Ditulis/diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Monday, January 26, 2009

A hundred Years from Now

Seratus tahun dari sekarang tak seorangpun akan ingat
berapa banyak uang yang saya miliki di bank,
mobil jenis apa yang saya kendarai,
atau pekerjaan apa yang saya miliki.
Namun saya akan diingat
sebagai seorang yang istimewa
karena saya telah membuat perbedaan
dalam kehidupan seorang anak kecil.


Penulis Tak Dikenal


*****

A hundred years from now no one will remember
How much money I had in the bank
what kind of car I drove
or what kind of job I had.
But I will be remembered
as someone special
because I made a difference
in the life of a child.


Author unknown

Ditulis/diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Almost Give

Ada suatu kampanye iklan yang kreatif beberapa tahun yang lalu, yang disebut "Jangan Hampir Memberi." Tujuannya adalah untuk membangkitkan kesadaran masyarakat tentang kebutuhan-kebutuhan di sekitar mereka, dan mendorong orang untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan tersebut.

Salah satu iklan itu memperlihatkan seorang wanita tua yang duduk sendirian di kursinya, memandang ke depan dengan tatapan kosong. Si pencerita yang menyertai iklan itu berkata, "Ini adalah Sarah Watkins. Banyak orang hampir menolongnya. Seseorang hampir memasak baginya. Orang lain hampir membawa dia ke dokter. Masih ada lagi orang lain yang hampir berhenti di depannya dan menyapa "Hallo." Mereka semua hampir membantunya. Mereka hampir memberikan diri mereka. Namun hampir memberi sama saja dengan tidak memberi sama sekali."

Iklan itu menyimpulkan dengan kata-kata, "Ingatkah pada saat ketika anda hampir menolong orang? Anda memang berniat, namun anda lupa akan hal itu. Anda terlalu sibuk dan hal itu lewat dari pikiran anda." Yah, itulah manusia, hampir memberi. Namun jika anda hampir memberi, kemungkinan besar orang-orang lain juga hampir memberi. Janganlah hampir memberi! Berilah!"

Ditulis oleh Eric Elder, diterjemahkan oleh Hadi Kristadi untuk http://pentas-kesaksian.blogspot.com. Mohon keterangan ini jangan dihapus ketika anda memforward/mempostingnya dalam website/blog anda. Terima kasih banyak.

*****

There was a creative ad campaign a few years ago called, “Don’t Almost Give.” Its purpose was to raise people’s awareness of the needs around them, encouraging people to help meet those needs.

One ad showed an elderly woman sitting alone in her chair, staring blankly ahead. The narrator said, “This is Sarah Watkins. A lot of people almost helped her. One almost cooked for her. Another almost drove her to the doctor. Still another almost stopped by to say ‘Hello.’ They almost helped. They almost gave of themselves. But almost giving is the same as not giving at all.”

The series of ads concluded with the words, “Remember all those times you almost helped? You meant to, but somehow you forgot. You were too busy and it slipped your mind. Well, it’s only human, this almost giving. But if you almost gave, there’s a good chance everybody else almost gave, too. Don’t almost give. Give.”
Sumber: Eric Elder.

Ditulis/diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Sunday, January 25, 2009

The Youngest IT Professional: Amazing Story of Marko Calasan

Marko Calasan telah membuktikan bahwa tak ada batasan usia untuk menunjukkan bahwa bakat dan prestasi yang luar biasa itu didasarkan pada campuran antara semangat, paparan, dan tekad yang kuat.

Marko Calasan, berusia 8 tahun dari Skopje (tempat kelahiran Bunda Teresa), Makedonia telah disebut sebagai Mozart di bidang komputer oleh para wartawan lokal setelah dia menjadi Profesional di bidang IT ketika lulus ujian Microsoft Certified System Administrator.

Menurut sebuah laporan di majalah Times minggu lalu, Microsoft menghadiahi Marko games dan DVD setelah lulus ujian itu, dan meskipun menganggap hadiah itu sebagai ungkapan yang baik, ia mengaku bahwa hal-hal itu tidak menarik.

Marko yang hobi matematika dan fisika, sudah mampu membaca dan menulis pada usia dua tahun, dan pada usia empat tahun ia mampu berbahasa Inggeris. Dalam sebuah video yang ditayangkan di Youtube (dalam bahasa Makedonia), Marko menjelaskan bahwa penggunaan komputer itu urusan matematik yang sangat mudah dan sekedar mengikuti perintah saja.

Pemahaman yang sederhana ini telah membawanya menjadi seorang selebriti lokal yang telah ditawari Laboratiorium IT oleh Perdana Menteri Makedonia, Nikola Gruevski.

Orang tua Marko berencana untuk menerbitkan sebuah buku tentang komputerisasi bagi anak-anak kecil, berdasarkan pengalaman dan sukses Marko. Diterjemahkan oleh Hadi Kristadi untuk Pentas Kesaksian, http://pentas-kesaksian.blogspot.com

****


Marco Calasan has proven that their is no age limit for demonstating talent and exceptional achievement is based on a mixture of passion, exposure and determination.

Eight year old Marco Calasan from Skopje, Macedonia has been dubbed the Mozart of Computers by local press after becoming the worlds youngest IT Professional when he passed the Microsoft Certified System Administrator exam.

According to a report in the Times last week, Microsoft presented Marko with games and DVDs after he'd passed the exams, and although he considered it a nice gesture, he said he wasn't "really interested in those things."

Marko, who has a bent for mathematics and physics, was reading and writing by the time he was two years old, and by four he was speaking in English. In a video posted on YouTube (Macedonian), Marko explains that computing is a simple matter of mathematics and following instructions.

This simple understanding has made him into something of a local celebrity who has since been offered his own IT lab by the Macedonian Prime Minister, Nikola Gruevski.

Marko's parents plan to publish a book for small children about computing based on Marko's experience and success.

Source: http://www.readwriteweb.com/archives/marko_calasan_mini_mozart_of_c.php

Ditulis/diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Friday, January 23, 2009

Pray for Our Leaders!

Berita dari Detik.com:
Gianyar - PDIP meminta Partai Demokrat menghentikan iklan penurunan BBM yang kini marak di media massa. Namun partai pendukung SBY itu sepertinya tidak peduli.

"Yang penting realistis. Terbukti ada penurunan BBM 3 kali kan," kata fungsionaris Partai Demokrat, Andi Malarangeng.

Hal itu disampaikan Andi saat mendampingi SBY berkunjung ke Pura Tirta Empul, Tampak Siring, Kabupaten, Gianyar, Bali, Jumat (23/1/2009). Laporan detik.com

=====

Hal yang menarik dari berita di atas adalah kunjungan Presiden SBY ke Tampak Siring. Kira-kira ada apa Presiden datang ke sana? Piknik? Banyak tempat lain di Bali yang jauh lebih indah.

Saya pernah mendengar cerita bahwa di Tampak Siring tinggal seorang dukun sakti yang biasa dimintai konsultasi oleh para pejabat tentang nasib dan peruntungan mereka. Memang tidak ada konfirmasi atau berita resmi bahwa Presiden SBY beraudiensi dengan dukun yang bersangkutan. Saya tidak dapat memastikan beliau ketemu dukun itu. Hanya Tuhan yang tahu, dan orang-orang di sekitar ring satu saja yang tahu.

Di negeri yang pengaruh paranormalnya kuat seperti Indonesia ini, kita harus meningkatkan doa kita agar para pejabat di negeri ini dilindungi Tuhan. Sayangi bangsa ini, doakan bangsa ini, doakan para pemimpin bangsa ini, supaya kita tidak diintimidasi roh kekerasan yang sedang berhembus kuat di dekat kita.

Ditulis/diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Judge Gently

Berdoalah agar engkau jangan menunjuk kesalahan orang yang pincang atau yang tersandung di jalan, kecuali engkau telah menempatkan diri di tempatnya atau bergumul di bawah bebannya.

Mungkin ada paku-paku di sepatunya yang melukai meski tak nampak atau ada beban yang ia tanggung, yang ditaruh di punggungnya yang mungkin akan membuat engkau tersandung juga.

Jangan mencibir terhadap orang yang jatuh hari ini kecuali engkau telah merasakan pukulan yang membuat ia jatuh atau merasakan malu yang hanya diketahui oleh orang yang jatuh.

Engkau mungkin saja kuat, namun pukulan yang sekarang dirasakannya andai saja dirasakan olehmu dengan cara yang sama dan pada waktu yang sama mungkin membuat engkau tersungkur juga.

Jangan terlalu kejam menghakimi orang yang berdosa dan melontarinya dengan kata-kata atau batu, kecuali engkau yakin – ya, sangat yakin, bahwa engkau juga tidak melakukan dosa yang sama.

Mungkin saja, ketahuilah, andai suara si penggoda itu berbisik dengan lembut kepadamu, seperti halnya terhadap dia ketika dia tergelincir, hal yang sama akan membuat engkau terjerumus juga.

Penulis Tak Dikenal

******

Pray don't find fault with the man that limps or stumbles along the road
unless you have worn the shoes he wears or struggled beneath his load.

There may be tacks in his shoes that hurt though hidden away from view or the burden he bears, placed on his back might cause you to stumble too.

Don't sneer at the man who's down today unless you have felt the blow that caused his fall or felt the shame that only the fallen know.

You may be strong but still the blows that were his if dealt to you in the selfsame way at the selfsame time might cause you to stagger too!

Don't be too harsh with the man that sins or pelt him with word or stone
unless you are sure - yea, doubly sure- that you have no sins of your own.

For you know, perhaps, if the tempter's voice should whisper as soft to you as it did to him when he went astray it might cause you to falter too.

Author Unknown


Ditulis/diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Whose Hands?

WHOSE HANDS?

A basketball in my hands is worth about $19. A basketball in Michael Jordan's hands is worth about $33 million. It depends whose hands it's in.

A baseball in my hands is worth about $6. A baseball in Mark Mcquire's hands is worth $19 million. It depends whose hands it's in.

A tennis racket is useless in my hands. A tennis racket in Pete Sampras' hands is a Wimbledon Championship. It depends whose hands it's in.

A rod in my hands will keep away a wild animal. A rod in Moses' hands will part the mighty sea. It depends whose hands it's in.

A sling shot in my hands is a kid's toy. A sling shot in David's hand is a mighty weapon. It depends whose hands it's in.

Two fish and 5 loaves of bread in my hands is a couple of fish sandwiches. Two fish and 5 loaves of bread in God's hands will feed thousands. It depends whose hands it's in.

Nails in my hands might produce a birdhouse. Nails in Jesus Christ's hands will produce salvation for the entire world. It depends whose hands it's in.

As you see now it depends whose hands it's in. So put your concerns, your worries, your fears, your hopes, your dreams, your families and your relationships in God's hands because - It depends whose hands it's in.

Sumber: http://www.gardenministries.com/whose_hands.htm

Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Thursday, January 22, 2009

Japanese Martyrs

Gelombang penganiayaan yang keras terjadi di Jepang pada awal tahun 1600, di mana selama waktu tersebut banyak umat Kristen menjadi martir.

Pada tanggal 20 Februari 1627, pemimpin gereja bernama Paulo Uchibori, istrinya dan ketiga anaknya ditahan karena menampung para misionari. Pada hari itu, Paulo dan 37 orang Kristen lainnya dipukuli, diarak telanjang melalui pusat kota dan dipenjarakan di Istana Shimabara.

Pada keesokan harinya, orang-orang Kristen tersebut dianiaya. Pemerintah tidak berkeinginan menjadikan mereka martir, tetapi mereka menggunakan cara-cara terkeji untuk memaksa orang-orang Kristen menyangkal iman mereka. Salah satu prajurit mengusik Paulo ketika ia memegang sebilah pisau, dengan berkata, “Berapa banyak jari anak-anakmu yang harus kami ambil ?” Paulo menjawab, “Semua terserah padamu.”

Para prajurit memotong semua jari anak-anak Paulo kecuali jempol dan kelingking mereka, dengan berkata orang-orang Kristen seharusnya mempunyai jari lebih sedikit dari binatang. Dua anak tertua Paulo, Antonio dan Barutabazaru merelakan jari-jari mereka kepada para prajurit tersebut, tanpa menangis atau menunjukkan kesakitan. Anak Paulo yang bungsu, Ignatius, berumur lima tahun. Ia juga tidak menunjukkan rasa sakit saat jari-jari tangannya dipotong. Ia mengangkat tangannya yang berlumuran darah ke langit, mempersembahkannya kepada Allah. Mereka yang melihat terkejut dengan apa yang mereka saksikan dan hati mereka dijamah oleh keberanian anak-anak itu.

Lalu para prajurit mengikat tangan dan kaki ke-16 tahanan tersebut termasuk anak-anak Paulo dan melemparkan mereka berkali-kali ke dalam air es yang sangat dingin di Teluk Shimabara. Walaupun begitu orang-orang Kristen tersebut tidak mau menyangkal iman mereka. Kata-kata terakhir Antonio sebelum ia hilang ditelan laut adalah, “Ayah, kita harus bersyukur kepada Allah karena memberikan kita berkat luar biasa seperti ini.”

Setelah anak-anaknya ditenggelamkan, wajah Paulo dicap dengan tiga huruf Jepang dari kata “Kristen.” Ia dilemparkan ke jalan-jalan dengan tulisan di baju kimononya yang terbaca, “Dihukum karena menjadi Kristen. Dilarang menolong orang ini atau memberinya perlindungan.”

Seminggu setelah kematian martir anak-anaknya, Paulo dibawa ke atas Gunung Unzen dengan ke 15 orang Kristen lainnya untuk merasakan “siksaan di dalam neraka kawah Unzen.” Paulo digantung terbalik dan diturunkan berkali-kali ke atas permukaan air kawah belerang yang mendidih. Ia berdoa dengan suara keras setiap kali, menyadari ia adalah bagian dari Tubuh Kristus, “Perjamuan Suci harus disucikan.” Akhirnya, tubuhnya dilemparkan ke dalam kawah mendidih yang bergolak.

Sekarang iman Paulo dan anak-anaknya menguatkan kita. Kita tahu bahwa mereka, bersama dengan banyak orang-orang Kristen Jepang tanpa nama, diterima dalam hadirat Yesus dan sekarang mereka mengenakan jubah putih.

Sumber : Elia Stories, yang mengambil bahan dari Buletin Kasih Dalam Perbuatan (KDP) September-Oktober 2007 halaman 12.

Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Succeed to Market Your Product

Apakah anda pernah mendengar seseorang berkata, “Ia hidup mendahului zamannya”? Ada banyak contoh orang-orang yang menemukan suatu produk atau jasa di zaman ketika pasarnya belum siap menerima produk itu. Hal-hal lain harus dikembangkan sebelum produk itu dapat berhasil.

George Washington Carver mengalami hal ini. Lahir sekitar tahun 1861 selama Perang Saudara di Amerika Serikat, ia adalah orang yang seharusnya menjadi korban keadaan. Ia selalu diperlakukan secara diskriminatif. Ia kehilangan ibunya yang dijual oleh pedagang budak. Sebagai seorang pemuda ia berseru kepada Bapa di tengah keadaannya yang sulit dan Bapa mendengar doanya. Bapa memberi Carver semangat bertahan yang kuat dan ia sangat termotivasi untuk belajar apapun.

Carver mendapati bahwa di wilayah Selatan Amerika Serikat para petani/pekebun yang menanam kapas selama ratusan tahun perlu menanam jenis tanaman baru karena tanah di sana telah aus dan gersang, dan para petani/pekebun itu akan dililit utang sebagai akibatnya. Untuk memulihkan tanah pertanian Carver menganjurkan penanaman kacang tanah dan ubi, sebagai ganti kapas. Setelah pendekatan yang intensif, para petani lambat laun meningkatkan penanaman kacang tanah dan ubi, sampai kedua jenis tanaman itu menjadi tanaman utama di wilayah Selatan. Namun, pada waktu itu belum ada pasar yang cukup besar untuk menyerap kacang tanah dan ubi. Jika tanaman itu dibiarkan membusuk di ladang pertanian, maka para petani akan mengalami kerugian yang lebih besar dari pada sebelumnya.

Keadaan ini membuat Carver sangat tertekan. Ia membawa masalah ini kepada Bapa dalam doa dan berseru, “Tuhan Pencipta, mengapa Engkau menciptakan kacang tanah?” Beberapa tahun kemudian ia bersaksi bahwa Bapa menuntun dia kembali ke laboratoriumnya dan Bapa bekerja sama dengan dia untuk menemukan 300 macam produk yang dapat dihasilkan dari kacang tanah, termasuk: lemak, mayonaise, keju, shampoo, kopi instan, tepung, bedak, plastik, perekat, gemuk, pengawet, dan lain-lain.

Sama halnya, dari ubi ia dapat mengadakan penemuan lebih dari 100 produk baru, di antaranya: tepung kanji, pasta, cuka, semir sepatu, tinta, sirup gula, dan lain-lain. Karena penemuan produk-produk baru tersebut, permintaan akan kacang tanah dan ubi meningkat dan sungguh-sungguh mentransformasi perekonomian wilayah Selatan Amerika Serikat.

Apakah Bapa membuat anda menjadi seorang penemu? Berdoalah kepada Tuhan untuk menolong anda memasarkan produknya.

Sumber: TGIF-2, diterjemahkan oleh Hadi Kristadi untuk http://pentas-kesaksian.blogspot.com, mohon keterangan ini jangan dihapus ketika anda memforwardnya atau mempostingnya di website/blog anda. Terima kasih.


*****

Have you ever heard someone say, "He was before his time"? There are many examples of people who invented a product or service in a time when the market was not ready to embrace the product yet. Other things had to develop before the product could be a success.

George Washington Carver experienced this. Born around 1861 during the Civil War, he was a man who should have been a victim to his circumstances. Discriminated against constantly, he lost his mother to slave traders. As a young boy he cried out to God in the midst of his circumstances and God heard him. God gave George an indomitable persevering spirit and he was highly motivated to learn.

Carver discovered that Southern farmers who planted cotton for hundreds of years needed to plant a new crop because the soil had worn out and the farmers were going into interminable debt as a result. To restore the soil Carver advised the planting of peanuts and sweet potatoes instead of cotton. After much persuasion, planters gradually increased their peanut and sweet potato acreage, until these became the number-one crops in the South. However, there was not substantial market for the peanuts and sweet potatoes. Forced to let the product rot in the fields, the farmers ended up losing more money then before.

This situation placed a great deal of pressure on Carver. He took the problem to God in prayer and said, "Mr. Creator, why did You make the peanut?" Many years later, he shared that God led him back to his lab and worked with him to discover some 300 marketable products from the peanut including lard, mayonnaise, cheese, shampoo, instant coffee, flour, sop, face powder, plastics, adhesives, axle grease, and pickles.

Likewise, from the sweet potato he made more than 100 discoveries, among them starch, library paste, vinegar, shoe blacking, ink, and molasses. Because of these new products, the demand for peanuts and sweet potatoes grew and literally transformed the Southern economy.*

Has God made you an inventor? Ask him to help you bring your product to market.
*Adapted from More Than Conquerors, John Woodridge, General Editor, Moody Press, 820 N LaSalle St Chicago, IL 60610-3284 p. 311, 1992.

Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Wednesday, January 21, 2009

Lady Wisdom

Beberapa tahun yang lalu, saya tinggal di Tulsa Oklahoma dan saya beribadah di The Family Prayer Center. Dave Robertson adalah gembala di situ dan juga sahabat baik saya. Saya telah mengikuti pengajarannya lebih dari dua puluh tahun. Pada suatu hari saya mendengar Dave mengajar bagaimana merenungkan firman Tuhan dan “mengasimilasi” firman Tuhan (mengenali, menyerap, mencerna, menerima, atau membayangkan firman Tuhan) Dia mendesak kami untuk membaca Kitab Amsal seluruhnya berkali-kali – paling sedikit 50 kali – sambil berdoa dalam Roh di sela-sela pembacaannya. Dengan cara ini Hikmat akan diberikan kepada kita. Saya terinspirasi dengan anjurannya dan saya dengan penuh keyakinan melakukan apa yang diajarkan Dave. Memang sangat berat pada mulanya, namun saya terus membaca dan membaca Amsal selama beberapa bulan.

Setelah kurang lebih membaca untuk ketiga puluh kali, sesuatu mulai terjadi. Saya mulai memasuki “kitab Amsal”. Sebagai ganti membaca kata-kata, saya mulai “melihat” gambaran yang dijelaskan dalam kitab itu. Setiap amsal ibarat sebuah film pendek yang memberikan sebuah pelajaran. Namun, bersamaan dengan setiap amsal itu, saya merasa di dalam hati saya ada tusukan atau terobosan, seperti ada benih-benih yang menembus hati saya, yang mulai ditanamkan jauh di dalam sana. Setiap amsal memiliki “salib” di dalamnya. Jika saya berkata “ya” kepada setiap amsal itu dan berserah, saya dapat merasakan bahwa ada sedikit “kedagingan” lagi yang mati. Dengan perkataan lain, proses ini menyakitkan!

Saya merasa saya berada dalam sebuah gedung bioskop dalam roh saya dimana saya melihat dari satu film pendek ke film pendek berikutnya. Setiap amsal menjadi hidup dan saya melihatnya di hadapan saya. Bahkan yang lebih mengherankan, seluruh kitab itu mulai terbentuk di dalam diri saya, seperti pohon besar yang tumbuh ke segala arah, tepat seperti yang Dave ceritakan telah terjadi padanya. Saya melihat keseluruhan isi kitab itu ketika terasimilasi dan terserap ke dalam diri saya. Amsal itu semakin menjadi jelas dan terang serta terperinci ketika saya mencapai pembacaan keempat puluh tiga kali.

Kemudian saya mulai membaca untuk yang keempat puluh empat atas keseluruhan kitab Amsal. Pada waktu ini saya melihat kitab Amsal dibagi menjadi tiga bagian – sekitar sembilan pasal pertama berbicara tentang dua wanita – kemudian ada amsal Salomo selama kehidupannya – dan kemudian kitab itu diakhiri dengan amsal-amsal yang dicatat setelah kematian Salomo. Akhirnya kitab Amsal itu ditutup dengan wanita yang baik seperti yang kita jumpai di bagian pertama.

Tiba-tiba saya dipindahkan ke dalam kitab itu! Saya tidak tahu apakah hal itu hanya penglihatan atau hanya sebuah pengalaman profetik atau apa, namun saya sudah tidak dapat membaca kata-kata lagi. Saya ada “di sana” di dalam kitab Amsal. Hal itu sungguh ajaib dan luar biasa. Saya berada di dalam sebuah gedung yang besar dan sangat indah yang terbuat dari batu pualam yang putih. Gedung itu memiliki tujuh pilar yang besar berdiri di mukanya, sedemikian tinggi sehingga saya tak dapat melihat puncaknya. Gedung itu sedikit mirip Gedung Putih dan Lincoln Memorial.

Ketika saya melihat ke dalamnya, saya melihat sebuah tahta besar dengan seorang Ratu duduk di atasnya. Pada mulanya ia nampak tidak hidup, seperti patung Abraham Lincoln yang terbuat dari batu. Ratu itu sangat cantik namun nampak seperti sebuah patung. Saya terus berjalan masuk ke dalam gedung melewati pilar-pilar itu. Saya berjalan makin dekat dan makin dekat. Ketika saya terus berjalan, tahta dengan Ratu yang terbuat dari batu itu semakin besar dan semakin besar.

Akhirnya, saya berdiri di depan tahtanya. Ketika saya semakin mendekat, Ratu itu menjadi hidup. Di sana ada cahaya terang yang semakin terang di sekeliling tahta. Saya mendengar malaikat-malaikat menyanyi di masing-masing sisi tahta dan di atas Ratu. Keadaan di situ sungguh penuh keagungan dan kemuliaan sehingga saya mulai gemetar ketika saya masuk ke dalam gedung sekitar 50 kaki. Kemuliaan itu terus meningkat sampai akhirnya saya tidak dapat datang lebih dekat lagi. Saya jatuh bertelut di hadapannya. Saya tak dapat menahannya. Hal itu terjadi begitu saja.

Sekarang, Dia hidup sepenuhnya dan berkilau-kilauan seperti yang belum saya pernah lihat sebelumnya. Dia penuh keindahan, kecantikan, keagungan, kemuliaan, digabung menjadi satu. Saya tidak pernah bertemu dengan sesuatu atau seseorang yang lebih indah dan cantik dibandingkan Dia. Saya merasa sedemikian kecil dan merasa tersanjung karena ada di sana di hadapan-Nya. Dia hanya memandang kepada saya selama beberapa waktu dalam keheningan. Saya bahkan tak sanggup menatap wajah-Nya untuk beberapa lama tanpa memalingkan pandangan saya ke tempat lain.

Kemudian Dia berkata, “Selamat datang, anak-Ku. Bapa telah mendengar jeritan hatimu bagi-Ku. Engkau telah diundang untuk datang ke hadirat-Ku sebagai jawaban atas kelaparan dan kehausanmu. Diberkatilah mereka yang lapar dan haus akan Daku – karena mereka akan dipuaskan.” Suara-Nya terdengar seperti musik yang sangat indah dan begitu penuh kuasa dan wibawa pada saat yang sama. Perkataan yang terakhir bergaung di ruang tahta itu dan gemanya bergaung mengitari batu pualam ke segala arah. Kemudian Dia berkata lagi, “Hanya melalui kerendah-hatian dan takut akan TUHAN sehingga engkau dapat menemukan Daku.” Saya hanya menyembah dan berlutut serta gemetaran.

Kemudian Dia berdiri. Bagaimanapun juga ketika Dia berdiri, saya dapat bangkit berdiri juga. Dia memiliki cahaya yang keluar dari kepala-Nya dan dari mahkota-Nya dalam paparan sinar yang pergi ke segala arah seperti lampu sorot. Saya berkata kepada diri saya sendiri, “Saya pernah melihat hal ini sebelumnya di suatu tempat.” Sepertinya Dia mendengarkan pikiran saya, sehingga Dia menjawab, “Ya, engkau pernah! Aku pernah muncul dalam bentuk ini kepada mereka yang menaruh fondasi bagi negara Amerika Serikat. Mereka menggambarkan Aku dalam bentuk Patung Liberty. Rupa-Ku juga digambarkan dalam koin emas dollar Amerika Serikat. Aku telah menampakkan diri dan beserta dengan mereka yang mau memilih Aku. Namun, Aku telah menyembunyikan Diri-Ku dari setiap orang yang sombong, ada dalam kesia-siaan, jalan yang bengkok, dan bebal. Mereka tidak menginginkan Daku. Setiap orang harus memilih bagi dirinya sendiri. Begitu sedikit orang yang mau membayar harga untuk datang ke sini, meskipun Aku mengasihi semua anak-anak Bapa. Rumah-Ku senantiasa terbuka bagi semua orang yang menginginkan Daku dengan gelora cinta yang hebat. Para bapak pendiri Amerika Serikat memanggilku ‘Lady Liberty’, namun sesungguhnya Aku adalah Roh Hikmat Allah. Engkau dapat memanggilku ‘Ibu Hikmat’ (Lady Wisdom), kalau engkau mau.

Dalam keadaan seperti inilah Aku dulu muncul kepada Raja Salomo. Aku adalah Penjelmaan Roh Kudus dalam bentuk Pribadi Hikmat Allah.” Kemudian saya menyadari bahwa Suara yang saya sedang dengarkan itu demikian akrab – Itulah suara Tuhan Yesus Kristus! Dialah Tuhan! Ibu Hikmat kemudian berkata, “Aku perlu muncul di depan Salomo dalam bentuk seperti ini karena Aku belum diberikan suatu Tubuh. Kini Aku dapat menyatakan kepadamu kepenuhan Hikmat, karena engkau sanggup menerimanya, karena engkau adalah anak Ikat Janji-Ku melalui Ikat Janji Baru dalam darah-Ku.”

Kemudian saya melihat Tuhan Yesus berdiri di hadapan saya dan Dia berkata, “Siapa yang mau datang kepada-Ku dan hidup? Sampai berapa lama lagi umat-Ku melacurkan diri mereka padahal Aku memiliki sedemikian banyak berkat untuk diberikan kepada mereka? Tidak tahukah mereka betapa Aku sangat rindu untuk memberikan kepada mereka kekayaan hikmat dan kemuliaan-Ku!” Saya melihat bahwa Tuhan menitikkan air mata ketika Dia mengatakannya.

“Mari ikutlah Aku dan Aku akan menunjukkan kepadamu sedikit kekayaan Hikmat yang tak terselami.” Kemudian TUHAN dalam bentuk Ibu Hikmat kembali lagi berdiri di depan saya dan mulai berjalan ke arah belakang tahta. Saya melihat sebuah pintu besar terbuka dengan sendirinya di hadapan Dia. Dia berjalan dengan langkah tegap dan saya harus mengejarnya dengan langkah cepat untuk mengimbanginya. “Ini adalah salah satu ruang harta kekayaan-Ku. Aku akan memberikan apa yang diteriakkan hatimu.” Ia berhenti dan saya melihat permata-permata dari segala jenis dan bentuk serta ukuran. Timbunan harta kekayaan itu seperti tumpukan harta karun milik para perompak, namun 1000 kali lebih besar. Di sana ada perkakas-perkakas emas, vas bunga yang sangat indah, cangkir, piala, batu permata, dan mahkota dalam berbagai desain dan ukuran. Setiap perhiasan begitu menakjubkan, sehingga saya tak sanggup memalingkan mata dari semua barang itu.

Dia berkata, “Ambillah yang ini dan lihatlah ke dalamnya.” Saya melihat ke arah yang Dia tunjukkan dan saya mengambil sebuah permata yang besar. Permata ini berwarna merah gelap seperti batu rubi yang besar. Permata itu demikian cantiknya! Saya memandang ke dalamnya dan tiba-tiba saya melihat Salib Kristus. Ia sedang mati dalam kesengsaraan bagi saya dan anda. Kemudian saya melihat, hanya sebentar ketika Dia menderita di Alam Maut, menggantikan tempat saya. Saya hampir tak sanggup melihat hal itu dan setelah beberapa lama saya memalingkan wajah saya. Saya seolah-olah dapat merasakan sedikit penderitaan-Nya ketika Dia terpisah dari Bapa. Akhirnya hal itu membuat saya menangis tersedu-sedu dan saya menangis dan menangis sampai saya tak sanggup mengeluarkan airmata lagi. Saya memandang kepada Ibu Hikmat dan Dia berkata, “Itu adalah permata kasih Bapa bagimu.”

Ini akan menjadi hatimu sejak saat ini. Ketika engkau memainkan biola dan melayani, semua orang akan mendengar dan tahu betapa besarnya Bapa mengasihi mereka. Batu permata ini berisi firman Tuhan yang engkau sebut sebagai Yohanes 3:16. Setiap permata di sini memiliki janji di dalamnya. Inilah warisanmu dalam anugerah-Ku. Pada saat engkau siap dan datang kepada-Ku melalui segenap kekekalan, Aku akan menyatakan dan mengungkapkan semua harta kekayaan ini kepadamu, anak-Ku!”

Kemudian Dia memberikan saya sebuah batu permata berwarna hijau yang nampaknya seperti batu emerald. Saya melihat ke dalam batu itu, dan tiba-tiba, saya ada di dalam sebuah taman yang sangat indah. Saya melihat Adam dan Hawa ketika mereka berjalan bersama Bapa di siang hari yang sejuk. Pemandangan itu sungguh menakjubkan! Taman itu lebih besar dari pada semua taman yang pernah saya lihat atau ketahui di bumi. Saya dipenuhi dengan sukacita, pengharapan, dan kasih.

Saya memakan buah yang nampaknya seperti peach, namun berwarna putih. Buah itu lebih manis dari pada semua peach yang pernah saya cicipi. Pada saat saya memakannya, semua sakit hati dan penghianatan yang pernah dilakukan orang-orang lain kepada saya pada masa lampau sepertinya diangkat dari dalam hati saya. Saya merasa sepertinya racun-racun dibuang dan pengharapan menggantikan tempat dimana sebelumnya terdapan luka-luka batin. “Anak-Ku, mulai sekarang ketika engkau bermain musik dan melayani, banyak orang akan menerima kesembuhan di hati dan jiwa mereka dari luka-luka pada masa lalu mereka. Aku akan membawa harapan kepada mereka yang berputus asa.” (Oleh Maurice Sklar, diterjemahkan oleh Hadi Kristadi untuk http://pentas-kesaksian.blogspot.com - mohon keterangan ini tidak dihapus ketika anda memforwardnya atau mempostingnya di website/blog anda. Terima kasih)

Ditulis/diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

I Have a Dream

Pada tanggal 28 Agustus 1963, di Lincoln Memorial, Washington D.C., Dr. Martin Luther King, Jr. membacakan pidato yang sangat terkenal "I Have a Dream". Pada malam ini WIB, 20 Januari 2009, Presiden Barack Obama membuktikan bahwa mimpi Dr. King telah menjadi kenyataan, meskipun hal itu membutuhkan waktu sekitar 45 tahun dan 145 hari. Oleh karena itu, beranilah bermimpi!


I Have a Dream
And so even though we face the difficulties of today and tomorrow, I still have a dream. It is a dream deeply rooted in the American dream.

I have a dream that one day this nation will rise up and live out the true meaning of its creed: "We hold these truths to be self-evident, that all men are created equal."

I have a dream that one day on the red hills of Georgia, the sons of former slaves and the sons of former slave owners will be able to sit down together at the table of brotherhood.

I have a dream that one day even the state of Mississippi, a state sweltering with the heat of injustice, sweltering with the heat of oppression, will be transformed into an oasis of freedom and justice.

I have a dream that my four little children will one day live in a nation where they will not be judged by the color of their skin but by the content of their character.

I have a dream today!

I have a dream that one day, down in Alabama, with its vicious racists, with its governor having his lips dripping with the words of "interposition" and "nullification" -- one day right there in Alabama little black boys and black girls will be able to join hands with little white boys and white girls as sisters and brothers.

I have a dream today!

I have a dream that one day every valley shall be exalted, and every hill and mountain shall be made low, the rough places will be made plain, and the crooked places will be made straight; "and the glory of the Lord shall be revealed and all flesh shall see it together."

Ditulis/diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Tuesday, January 20, 2009

Loving at the Right Time

Mengasihi Di Saat yang Tepat
Robertson MC Quilkin mengundurkan diri dari kedudukannya sebagai Rektor di Universitas Internasional Columbia dengan alasan ingin merawat istrinya, Muriel, yang sakit Alzheimer, yaitu gangguan fungsi otak.

Muriel sudah seperti bayi, tidak bisa berbuat apa-apa, bahkan untuk makan, mandi dan buang air pun ia harus dibantu. Robertson memutuskan untuk merawat istrinya dengan tangannya sendiri, karena Muriel adalah wanita yang sangat istimewa baginya.

Namun pernah suatu kali ketika Robertson membersihkan lantai bekas ompol Muriel dan di luar kesadaran Muriel malah menyerakkan air seninya sendiri, maka Robertson tiba-tiba kehilangan kendali emosinya. Ia menepis tangan Muriel dan memukul betisnya, guna menghentikannya.

Setelah itu Robertson menyesal dan berkata dalam hatinya, "Apa gunanya saya memukulnya, walaupun tidak keras, tetapi itu cukup mengejutkannya. Selama 44 tahun kami menikah, saya belum pernah memukulnya karena marah, namun kini di saat ia sangat membutuhkan saya, saya memperlakukannya demikian. Ampuni saya, ya Tuhan,"

Lalu tanpa peduli apakah Muriel mengerti atau tidak, Robertson meminta maaf atas hal yang telah dilakukannya.

Pada tanggal 14 Februari 1995, Robertson dan Muriel, memasuki hari istimewa karena pada tanggal itu di tahun 1948, Robertson melamar Muriel. Dan pada hari istimewa itu Robertson memandikan Muriel, lalu menyiapkan makan malam dengan menu kesukaan Muriel dan pada malam harinya menjelang tidur ia mencium dan menggenggam tangan Muriel lalu berdoa, "Tuhan Yesus yang baik, Engkau mengasihi Muriel lebih dari aku mengasihinya, karena itu jagalah kekasih hatiku ini sepanjang malam dan biarlah ia mendengar nyanyian malaikat-Mu. Amin!"

Pagi harinya, ketika Robetson berolah-raga dengan menggunakan sepeda statisnya, Muriel terbangun dari tidurnya. Ia berusaha untuk mengambil posisi yang nyaman, kemudian melempar senyum manis kepada Robertson. Untuk pertama kalinya setelah selama berbulan-bulan Muriel yang tidak pernah berbicara memanggil Robertson dengan suara yang lembut dan bening, "Sayangku…. sayangku…", Robertson melompat dari sepedanya dan segera memeluk wanita yang sangat dikasihinya itu.
"Sayangku, kau benar-benar mencintaiku bukan?" tanya Muriel.

Setelah melihat anggukan dan senyum di wajah Robetson, Muriel berbisik, "Aku bahagia!" Dan ternyata itulah kata-kata terakhir yang diucapkan Muriel kepada Robertson.

Memelihara dan membahagiakan orang-orang yang sudah memberi arti dalam hidup kita adalah suatu ibadah di hadapan Tuhan. Mengurus suami atau istri yang sudah tak berdaya adalah suatu perbuatan yang mulia. Mengurus ayah/ibu atau mertua adalah tugas seorang anak ataupun menantu. Mengurus kakek atau nenek yang sudah renta dan pikun juga adalah tanggung jawab para cucu. Jangan abaikan mereka yang telah renta, apalagi ketika mereka sudah tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Peliharalah mereka dengan kesabaran dan penuh kasih. (MS - Email kiriman Ibu Suharti)

Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Living in Abundance

Ketika Beni Prananto, seorang pengusaha, bertobat dan lahir baru pada tahun 1990, ia mulai menjalankan bisnis penyewaan 36 kapal dengan cara-cara Alkitabiah. Jika sebelumnya ia menjalin bisnis dengan BUMN seperti yang biasa dilakukan para pengusaha lainnya, sejak itu ia tidak melakukannya lagi. Apa akibatnya? Tiga puluh enam kapal itu tidak diperpanjang lagi kontrak penyewaannya. Lingkungan di sekitarnya mencela cara bisnis Beni. “Mana mungkin menjalankan bisnis sesuai Alkitab? Kalau mau hidup suci, nanti saja pada waktu sudah tua, sekarang jalankan bisnis dengan cara yang lazim di Indonesia!” begitulah nasihat orang-orang di sekitarnya. Namun hatinya tetap teguh ingin mengikuti prinsip-prinsip Alkitabiah.

Akhirnya 36 kapal menganggur selama lebih dari enam bulan, dan Tuhan gantikan dengan sebuah proyek pengadaan kapal supertanker FSO (Floating Storage and Offloading – kapal supertanker untuk penyimpanan minyak yang mengambang di tempat tertentu) yang disewa oleh sebuah perusahaan minyak terbesar di dunia sampai kini. Kapal itu menghasilkan pendapatan jauh lebih besar dibandingkan dengan 36 kapal terdahulu. Ketika Beni ingin menjual kapal tanker itu karena sudah tua dan sebagai besi tua harganya cukup tinggi, namun dari tahun ke tahun pihak penyewa selalu menolak. Berkat itu mengalir terus ke perbendaharaan Beni Prananto.

Ditulis/diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Walking Under His Plan

Seorang profesional yang berhasil di bidangnya ternyata harus mengalami kebangkrutan pada era tahun 1998 yang lalu.5) Investasinya di suatu bisnis ternyata berantakan, sehingga rumah yang ditinggali mereka harus diserahkan kepada pihak bank, karena rumah itu dipakai sebagai agunan bagi kredit usahanya. Sejak itu keluarganya hidup susah. “Pernah pada suatu hari anak kami sakit. Untuk berobat ke dokter saja, kami tidak mampu, sehingga anak itu hanya didoakan saja. Sungguh menyedihkan memang, namun melalui doa itu anak kami disembuhkan. Pernah teman-teman isteri saya berkata, ‘Hei Christine (bukan nama sebenarnya), gua liat lu naik angkot, apa bener itu elu?’”

Memang selama kesulitan, isterinya tidak bepergian dengan Benz lagi seperti dahulu. Ia harus tabah menggunakan jasa angkot ke mana-mana. Gaya hidup mereka berubah drastis, lebih tepat dikatakan turun drastis. Mereka harus meninggalkan zona kenyamanan yang selama bertahun-tahun telah mereka nikmati.

Setelah mengalami lahir baru, sang profesional dengan roh yang berkobar-kobar melayani orang-orang miskin dan para pemulung. Kebanyakan hamba Tuhan lebih suka melayani orang-orang dari golongan menengah ke atas ketika mereka membuka gereja atau persekutuan. Hamba Tuhan yang berasal dari profesional yang bangkrut ini radikal dalam pelayanannya. Dengan dana seadanya ia melayani orang-orang yang terpinggirkan, orang-orang yang tak diperhitungkan, dan orang-orang yang susah dan bermasalah, seperti Daud beserta orang-orang bermasalah di Gua Adulam. Lihat 1 Samuel 22:1 - 2.

Namun kasih karunia Tuhan itu luar biasa. Ketika mantan profesional ini bertemu dengan seorang teman lamanya yang bekerja di sebuah perusahaan BUMN, temannya menawarkan suatu proyek. Dari proyek itu dia memperoleh pendapatan yang lumayan besar. Melalui berkat Tuhan ini sekarang kehidupan mereka dibuat berlimpah-limpah.

Ditulis oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Enriching Others

Kehidupan Ev. Daniel Alexander membuktikan bahwa pernikahan tanpa anakpun dapat membahagiakan. Hamba Tuhan ini berkarya di Nabire, Papua, bersama isterinya, Louise. Mereka melayani orang-orang Papua di bidang pendidikan dan pelayanan rohani. Meskipun mereka tidak “kaya”, artinya mereka tidak menumpuk kekayaan untuk diri mereka sendiri, namun kehidupan mereka memperkaya banyak orang. Daniel Alexander bersama isterinya, Louise, menjadi ayah dan ibu bagi lebih dari 400 orang anak rohani, dan kakek nenek bagi lebih dari 200 cucu rohani.

Setiap bulan mereka mengirimkan uang kepada anak-anak rohani yang masih bersekolah untuk biaya sekolah atau kuliah, dan biaya hidup mereka. Berkat itu datang, mampir sebentar, lalu mengalir ke tempat lain. Sekarang banyak di antara anak-anak rohani mereka yang sudah lulus Sarjana dan sudah bekerja sehingga dapat membiayai diri mereka sendiri. Sumber: Buku Pernikahan Bahagia oleh Ir. Jarot Wijanarko.

Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Amazing Favor of God

Perusahaan publik, PT. Mitra Rajasa Tbk, semula hanyalah perusahaan yang bergerak di bidang transportasi darat. Dengan armada sebanyak 1.000 buah truk, perusahaan ini melayani pengiriman semen dari Jawa Barat ke wilayah Jawa Timur. Beni Prananto, sebagai pemegang saham utama, ingin mengembangkan perusahaan ini. Berbagai upaya telah dilakukan, namun belum ada hasilnya. Ketika berkat Tuhan itu datang, seseorang menemui dia mengajak kerjasama. Orang ini memiliki suatu bisnis yang bagus, yaitu kontrak jasa dengan perusahaan minyak. Ia membutuhkan suatu perusahaan publik yang siap untuk mewadahi usahanya. Semula Beni tidak memandang potensi bisnisnya. Namun setelah dua tiga kali pertemuan dengan orang ini, ia mengaku bahwa peluang bisnisnya jauh lebih menarik daripada yang pernah ia harapkan.

Mulailah kerjasama dilakukan. Dan kerjasama ini terus berkembang hingga Beni Prananto dengan dua mitra bisnisnya (bertiga masing-masing memegang kepemilikan 20% atas PT. Mitra Rajasa Tbk), merencanakan untuk mengambil alih suatu perusahaan jasa di bidang perminyakan. Untuk mengambil alih perusahaan yang besar itu, PT. Mitra Rajasa Tbk perlu dana dari kreditor sebesar US$ 550 juta. Dengan modal yang ada di perusahaan sekitar US$ 12 juta, nampaknya mustahil mendapatkan kredit yang demikian besar. Namun selalu ada jalan di dalam Tuhan.

Ketika mereka menghubungi beberapa investment banking, mereka semua menolak rencana pengambil-alihan suatu perusahaan melalui pinjaman yang besar atau disebut “Leveraged Buy Out” (LBO) tersebut. Namun akhirnya ada sebuah investment banking dari luar negeri yang bersedia mendanai transaksi tersebut, yang terjadi pada sekitar bulan September – Oktober 2008. Sebenarnya banyak pihak yang berusaha menggagalkan transaksi ini, tetapi jika Tuhan yang membuka pintu, tidak ada seorangpun yang dapat menutupnya.

Tiga hari setelah transaksi dilakukan, ada berita menghebohkan dari Amerika Serikat, bahwa Lehman Brothers mengajukan permohonan pailit sesuai Chapter Eleven. Sejak itu mulailah gelombang krisis keuangan melanda Amerika Serikat, Eropa, Asia dan Australia.

Lihat, berkat itu tidak lari ke mana-mana. Berkatlah yang mendatangi Beni Prananto, dia tidak perlu mengejar berkat. Ketika diadakan public expose kepada para pemegang saham publik, mereka heran apa yang terjadi dengan perusahaan. Saham yang dimiliki Beni Prananto di PT. Mitra Rajasa naik berkali-kali lipat, perusahaan memperoleh pendapatan berkali-kali lipat, dan harta perusahaan naik berkali-kali lipat, seperti apa yang dialami Ishak ketika dia menabur pada masa kelaparan.

Bayangkan, pada bulan September tahun 2007 perusahaan hanya memiliki asset sekitar Rp. 86 milyar, pada awal tahun 2008 assetnya sudah berkembang pesat menjadi Rp. 2 trilyun, dan pada akhir 2008 memiliki asset sebesar Rp. 10,7 trilyun, berapa kali pelipat-gandaannya? Hal itu hanya mungkin terjadi karena berkat Tuhan, karena anugerah dan perkenanan-Nya.

Ditulis oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Medical Care

Baru-baru ini seorang ibu menyesali keputusannya untuk merawat ayah tercintanya di sebuah Rumah Sakit terkenal di bilangan Jakarta Barat. Ayahnya masih dalam keadaan segar bugar ketika masuk rumah sakit, namun didiagnosa awal terkena Demam Berdarah. Saudara-saudaranya menyarankan dia memasukkan ayahnya di RS itu karena ada dokter terkenal di RS itu yang juga menjadi gembala di beberapa gereja. Namun apa yang terjadi?

Setelah dirawat di RS itu, kondisi ayahnya semakin memburuk, sehingga perlu dirawat di ICU selama berhari-hari. Karena tidak jelas kemungkinan kesembuhannya, ketika ayahnya agak baikan, ibu ini memaksa untuk mengeluarkan ayahnya dari RS itu dan dipindahkan ke RS Husada. Namun karena kondisi kesehatannya sudah parah, dokter di RS Husada juga tak dapat menolong banyak. Minggu lalu ayahnya meninggal.

Ia sangat menyesal telah mengambil keputusan yang salah dengan merawat ayahnya di RS Jakarta Barat itu.
"Masa gara-gara DB saja ayah saya meninggal?"

Dia juga kecewa atas pelayanan dokter terkenal itu karena sulit ditemui, sehingga tidak jelas apa penyakitnya. Katanya, jantung ayahnya membengkak. Ketika masuk RS ayahnya masih bisa berjalan, keluar dari rumah sakit itu malah harus memakai ambulans.

Hal lain terjadi sebaliknya. Ibu Lydia yang kesaksiannya saya muat di dalam buku "Mukjizat Kehidupan" harus membawa ibunya yang berusia 75 tahun ke Singapura. Selama dirawat di Jakarta dokter tidak menemukan penyakit mamanya. Ketika diperiksa di RS Singapura, dokter dengan kaget menemukan bahwa usus buntu mamanya telah pecah dan terkena infeksi. Dokter harus mengoperasi dua kali luka akibat pecahnya appendix atau usus buntu ini.

Beberapa minggu ibu Lydia harus menunggui ibunya yang kondisi kesehatannya cukup kritis. Bahkan hari Minggu malam, tanggal 11 Januari 2009 yang lalu, mama ibu Lydia sangat kritis, paru-parunya dipenuhi cairan, dan sudah dirawat di ICU. Yang luar biasa, para dokter seperti dibimbing Tuhan untuk melakukan tindakan medis yang diperlukan untuk mengatasi kondisi kritis akibat infeksi yang telah menyebar itu. Akhirnya pada hari Selasa tanggal 13 Januari 2009 lalu, mama ibu Lydia secara ajaib dapat dipulihkan, dan hari Sabtu 17 Januari 2009 lalu mamanya dapat kembali ke rumah dalam keadaan sehat. Puji Tuhan!

Mama ibu Lydia adalah seorang pendoa syafaat. Meskipun sudah berusia lanjut, ia masih aktif melayani Tuhan. Ia senang sekali mengurus wisma retreat milik anaknya yang terletak di daerah Ciputat. Di wisma yang dijadikan rumah doa itu seringkali dipakai untuk kegiatan-kegiatan gereja, di antaranya oleh Abbalove Ministry.

Ditulis oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

A Good Guy

Friday night. It was getting to be my least favorite night of the week. At least on weeknights it wasn’t a crime for a 24-year-old single woman to stay home. But on a Friday evening if I plopped down in the den with Mom after dinner she’d say, “You won’t find the man of your dreams by sitting home with me.”

I knew that was true, but there wasn’t a single man who interested me at the fish, meat and poultry warehouse where I worked. And I wasn’t crazy about meeting guys at bars or clubs. In fact, maybe I’d just given up. That Friday night I sat in my room, depressed. I’d looked everywhere for the man of my dreams. I knew my mom was praying for me, but I said a prayer for myself, too: God, if you don’t want me to be single the rest of my life, you will need to bring the man to me, because I can’t find him!

The phone rang. It was my friend Jodi. “Get dressed. We’re going out,” she said. “There’s a party.”

“Forget it,” I told her. “I’d rather stay in and rent a movie.”

Jodi nagged and nagged until she finally gave up. “Okay, swing by and get me,” she said, “and we’ll pick out a good romantic movie and cry our eyes out together.”

It was cold and wet. We checked out four video stores before we could agree on a movie. Something funny and sweet where the guy and the girl end up together. If only real life could work out that way. It’s not like I wanted some Hollywood hunk for a boyfriend. I just wanted someone who was polite and thoughtful and actually listened to me instead of talking about himself the whole time. A good guy. Was that too much to ask?

We were driving home when all of a sudden I heard the wail of a siren behind us and saw red lights flashing in my rearview mirror. “Oh, no,” I groaned. A ticket. That’s all I needed.

I pulled over. An unmarked SUV parked behind me. I rolled down the window and waited. The cop bent down to the window. “Miss,” he asked, “do you realize you were going 56 miles per hour in a 40-mile-an-hour zone?” At least he had a nice deep voice.

“No, officer, I didn’t,” I said, hoping he’d let me off the hook.

He asked for my license and registration and headed back to his car. It took him a while to return. “Sorry for the delay,” he said, “but I had to write up two citations. Your inspection sticker has expired.” Then he handed me the citations to sign. “You can request a hearing if you want to, or just send it in. Thank you and have a nice evening.” He turned and walked away.

“Can you believe that?” I asked Jodi, who slumped down in the front seat as if she didn’t want to be seen with a lawbreaker. “He couldn’t have given me just one ticket?” I moaned.

I was so sick to my stomach I could barely concentrate on the movie that night. Ask for a hearing. I cringed at the thought, but I knew I had to do it. No way in the world could I afford to pay all those fines. I’d just bought the car. Was it my fault that the previous owners hadn’t had it inspected?

I showed up at the hearing, my head spinning, my stomach in knots. What had I gotten myself into? I looked for the officer in his uniform—admittedly, he wasn’t bad looking, but then it was dark that night. To my surprise he strolled into the magistrate’s office in civilian clothes: a crisp white shirt, pale pink tie, black pants and a long camel-hair overcoat. What a sharp dresser. He gave me a pleasant smile and nod. I glanced at his ring finger. Bare.

Unmarried. What if? I thought. I stopped myself. I mean, the man was about to testify against me! He’d thrown the book at me!

The hearing didn’t last long. “Guilty,” the magistrate said. I was ushered into another office and asked to sign some papers. I reached into my purse for a pen. All at once I burst into tears. I felt like such a loser! My shoulders started shaking. Lord, don’t let me fall apart. But I couldn’t stop myself.

Then I heard that soothing baritone voice. I turned and there he was. “Dawn,” he said, “are you all right?” His face was kind and caring. His name was Carl and we talked for a while—until I felt better—then he walked me to my car. We shook hands and said goodbye.

The minute I walked in the door at home Mom asked me what had happened. “I lost,” I said, smiling. “They threw the book at me!”

“So, why are you smiling?” Mom hesitated then with a sparkle in her eye, added, “You know, God does have a wonderful sense of humor.”

All that week I thought of Carl. A little upset still, but I couldn’t help recalling how kind he was, how good-looking. I knew it was silly of me. After all, I only knew him from the night he pulled me over and from our meeting in the magistrate’s office. I’d seen him for all of 45 minutes max. But there was something about the way he’d squeezed my hand when we said goodbye, the comforting look in his eyes when he saw me crying. Was it possible that he was the man who was meant for me? If only I could see him again, if only we could get to know each other a little bit better.

One evening my friend and I returned to the video store. I was checking out the rack of romantic comedies when I heard a voice—a voice I had been hearing inside my head for weeks. “Hi, Dawn.” I turned. It was Carl. In uniform. Still good-looking. Real good-looking.

“Carl,” I said, nearly dropping the videos. We chatted for a little longer—Oh, God, I prayed, why doesn’t he ask me out?—then he said goodbye and headed outside. My friend and I paid for our videos and rushed outside too. In the parking lot I looked over at his SUV. The window rolled down.

“Dawn, can you come here for a minute?” Carl asked. I walked over. “I still feel bad about giving you those tickets. Can I take you out to dinner?”

That date we went to Eat ’n Park for dinner—my favorite—and then to a movie. Afterward, we drove to the Mt. Washington district, which overlooks all of downtown Pittsburgh.

Carl turned out to be just what I thought he was—a good guy. Friday nights I wasn’t a homebody anymore. Mom called him my answer to prayer. Today, I call him my husband. And if you ask me how I met him, I would tell you that you would never believe it. By Dawn Kuzel, first published in Guideposts Magazine.

Ditulis/diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Monday, January 19, 2009

Kaka could soon be earning Rp. 8 billion a week


Gaji Kaka 95 kali gaji Presiden Amerika Serikat
LONDON, England (CNN) -- Twenty-six year old Brazilian footballer Kaka is at the subject of negotiations about a salary that could see him earn nearly 95 times more than what Barack Obama will be paid when he enters the White House.

Reports circulated Wednesday that the AC Milan midfielder is being offered a £500,000or $726,000 or Rp. 8 billion per WEEK salary by English Premier League club Manchester City.

A statement on Italy's Mediaset Web site appeared to suggest he will turn down the offer, however Manchester City officials insist the talks are ongoing.

Even if he declines the move, the offer is far beyond the pay for many other high-profile jobs.

For example, the U.S. President receives about $7690 per week, while British Prime Minister Gordon Brown receives around $5233.

A comparison of a variety of salaries shows just how highly footballers, and professional sportsmen and women are paid in relation to other jobs. Even current football salaries dwarf the pay for most executive positions and public offices.

WEEKLY INCOME (approximate)

U.S. President: $7690

British PM Gordon Brown: $5233

Band 5 nurse in Britain: $567

Director-General of BBC: $22,800

Average U.S. teacher: $915

Cristiano Ronaldo: $177,345

Lewis Hamilton: $391,593

Kaka's reported offer: $726,881 or Rp. 8,000,000,000.-

If Kaka's deal does proceed, he will earn more than triple the Premier League's current highest-paid player, Robinho. The Brazilian, also with Manchester City, earns approximately $232,580 per week.

Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Reunion

Hari Minggu kemarin saya bertemu dengan seorang Ibu yang mempunyai kesaksian yang luar biasa. Dia menikah dan dikaruniai dua orang putera. Suaminya mengalami stres sehingga diambil paksa oleh orang tuanya untuk tinggal dan dirawat mereka, karena isterinya disangka tidak merawat dengan baik. Pada suatu hari suaminya melarikan diri dari rumah orang tuanya dan menemui isterinya. Tetapi kemudian sang suami diambil paksa lagi oleh orang tuanya. Beberapa bulan kemudian ada seorang kenalan yang melaporkan kepada sang isteri bahwa suaminya telah tewas bunuh diri dan diberitakan di Pos Kota, tiga hari setelah suaminya bertemu dengan dirinya terakhir kali.

Suaminya dikubur tanpa sepengetahuan sang isteri, kuburnyapun tidak diketahui di mana. Baru satu tahun kemudian ia dapat menemukan kuburan suaminya di Pondok Rangon. Bukan itu saja derita sang isteri oleh karena perlakuan mertuanya. Putera pertamanya sejak usia lima tahun diambil paksa oleh mertuanya dan ternyata anak ini dititipkan di suatu Panti Asuhan.

Selama bertahun-tahun sang isteri meminta kepada mertuanya untuk bertemu putera pertamanya, tetapi tidak dihiraukan. Selama bertahun-tahun ia tidak mengetahui dimana putera pertamanya berada. Hal ini terjadi sampai kedua mertuanya meninggal. Ia hampir putus asa mencari anaknya.

Sementara itu sang isteri melayani di Sekolah Minggu. Ia selalu berdoa kepada Tuhan untuk dipertemukan dengan putera pertamanya. Pada suatu hari gereja di mana melayani mengundang para penghuni suatu Panti Asuhan untuk perayaan Natal. Ia mendatangi suatu Panti Asuhan di Pamulang. Ketika sang isteri berkenalan dengan semua penghuni Panti Asuhan, ia tidak menemukan puteranya ada di antara mereka. Namun kasih Tuhan sungguh luar biasa. Ketika ia keluar dari ruang pertemuan di Panti Asuhan untuk ke toilet, ia menemukan seorang anak.

"Gabriel?"
"Mama?"
Akhirnya anak dan ibunya berpelukan. Anak ini selama bertahun-tahun diberi tahu oleh mertuanya bahwa ibunya jahat, ibunya sakit jiwa, ibunya tidak bertanggung-jawab. Demikian juga pengurus Panti Asuhan dipesan mertuanya agar anak Gabriel jangan sampai bertemu dengan ibunya, karena kata mertuanya ibu Gabriel bukan seorang ibu yang baik. Oleh karena itu tidaklah heran apabila pengurus Panti Asuhan menghalangi Gabriel bertemu dengan ibunya.

Selama sembilan tahun sang ibu berpisah dengan putera pertamanya, Gabriel. Dengan kasih Tuhan mereka berdua dipertemukan lagi. Hari Minggu kemarin Gabriel menerima pelayanan sakramen baptisan air. Yang membanggakan ibunya, selama di Panti Asuhan Gabriel juga ikut aktif dalam pelayanan kerohanian. Ibunya berkata, "Mungkin itulah buah pelayanan kami, Tuhan mempertemukan kami kembali melalui pelayanan."

Gabriel juga telah menerima pelayanan pelepasan dari kutuk-kutuk. Karena dalam keluarga ayahnya ada beberapa orang yang meninggal dengan bunuh diri. Sekarang anak ini hidup bahagia dengan ibunya. Puji Tuhan!

Ditulis/diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Kesaksian Pembaca Buku "Mukjizat Kehidupan"

Pada tanggal 28 Oktober 2009 datang SMS dari seorang Ibu di NTT, bunyinya:
"Terpujilah Tuhan karena buku "Mukjizat Kehidupan", saya belajar untuk bisa mengampuni, sabar, dan punya waktu di hadirat Tuhan, dan akhirnya Rumah Tangga saya dipulihkan, suami saya sudah mau berdoa. Buku ini telah jadi berkat buat teman-teman di Pasir Panjang, Kupang, NTT. Kami belajar mengasihi, mengampuni, dan selalu punya waktu berdoa."

Hall of Fame - Daftar Pembaca Yang Diberkati Buku Mukjizat Kehidupan

  • A. Rudy Hartono Kurniawan - Juara All England 8 x dan Asian Hero
  • B. Pdt. DR. Ir. Niko Njotorahardjo
  • C. Pdt. Ir. Djohan Handojo
  • D. Jeffry S. Tjandra - Worshipper
  • E. Pdt. Petrus Agung - Semarang
  • F. Bpk. Irsan
  • G. Ir. Ciputra - Jakarta
  • H. Pdt. Dr. Danny Tumiwa SH
  • I. Erich Unarto S.E - Pendiri dan Pemimpin "Manna Sorgawi"
  • J. Beni Prananto - Pengusaha
  • K. Aryanto Agus Mulyo - Partner Kantor Akuntan
  • L. Ir. Handaka Santosa - CEO Senayan City
  • M. Pdt. Drs. Budi Sastradiputra - Jakarta
  • N. Pdm. Lim Lim - Jakarta
  • O. Lisa Honoris - Kawai Music Shool Jakarta
  • P. Ny. Rachel Sudarmanto - Jakarta
  • Q. Ps. Levi Supit - Jakarta
  • R. Pdt. Samuel Gunawan - Jakarta
  • S. F.A Djaya - Tamara Jaya - By Pass Ngurah Rai - Jimbaran - Bali
  • T. Ps. Kong - City Blessing Church - Jakarta
  • U. dr. Yoyong Kohar - Jakarta
  • V. Haryanto - Gereja Katholik - Jakarta
  • W. Fanny Irwanto - Jakarta
  • X. dr. Sylvia/Yan Cen - Jakarta
  • Y. Ir. Junna - Jakarta
  • Z. Yudi - Raffles Hill - Cibubur
  • ZA. Budi Setiawan - GBI PRJ - Jakarta
  • ZB. Christine - Intercon - Jakarta
  • ZC. Budi Setiawan - CWS Kelapa Gading - Jakarta
  • ZD. Oshin - Menara BTN - Jakarta
  • ZE. Johan Sunarto - Tanah Pasir - Jakarta
  • ZF. Waney - Jl. Kesehatan - Jakarta
  • ZG. Lukas Kacaribu - Jakarta
  • ZH. Oma Lydia Abraham - Jakarta
  • ZI. Elida Malik - Kuningan Timur - Jakarta
  • ZJ. Luci - Sunter Paradise - Jakarta
  • ZK. Irene - Arlin Indah - Jakarta Timur
  • ZL. Ny. Hendri Suswardani - Depok
  • ZM. Marthin Tertius - Bank Artha Graha - Manado
  • ZN. Titin - PT. Tripolyta - Jakarta
  • ZO. Wiwiek - Menteng - Jakarta
  • ZP. Agatha - PT. STUD - Menara Batavia - Jakarta
  • ZR. Albertus - Gunung Sahari - Jakarta
  • ZS. Febryanti - Metro Permata - Jakarta
  • ZT. Susy - Metro Permata - Jakarta
  • ZU. Justanti - USAID - Makassar
  • ZV. Welian - Tangerang
  • ZW. Dwiyono - Karawaci
  • ZX. Essa Pujowati - Jakarta
  • ZY. Nelly - Pejaten Timur - Jakarta
  • ZZ. C. Nugraheni - Gramedia - Jakarta
  • ZZA. Myke - Wisma Presisi - Jakarta
  • ZZB. Wesley - Simpang Darmo Permai - Surabaya
  • ZZC. Ray Monoarfa - Kemang - Jakarta
  • ZZD. Pdt. Sunaryo Djaya - Bethany - Jakarta
  • ZZE. Max Boham - Sidoarjo - Jatim
  • ZZF. Julia Bing - Semarang
  • ZZG. Rika - Tanjung Karang
  • ZZH. Yusak Prasetyo - Batam
  • ZZI. Evi Anggraini - Jakarta
  • ZZJ. Kodden Manik - Cilegon
  • ZZZZ. ISI NAMA ANDA PADA KOLOM KOMENTAR UNTUK DIMASUKKAN DALAM DAFTAR INI