Search This Blog

Wednesday, December 31, 2008

Focus on 2009

"There are two primary choices in life: to accept conditions as they exist, or accept the responsibility for changing them."

Denis Waitley said that and it may mean more right now than at any other moment in our lifetime.

There's no doubt about it...

Things are tough for some people right now, and they may be getting even tougher.

But that's EXACTLY why today, more than ever, you need a little something extra. You need an edge... you need an advantage unlike anything you've ever had before.

Those who give in to fear and anxiety...those who are cowed and paralyzed by uncertainty and confusion...those who pull back and withdraw and wait...are guaranteed to see their worst fears realized. Waiting for things to change is a losing proposition. Holding on to see what happens suck you down the drain so fast you won't know what happened. Making things change for you is the only way to win. That's not "pollyanna." That's fact.

It's also fact that "what you focus on expands."

So what would you like to focus on in 2009?

Maybe it's:

* Paying off your credit card bills?

* Rebuilding your financial portfolio?

* Buying or selling a house?

* Growing or starting a business?

* Getting away from it all and taking a vacation?

* Reaching your perfect weight?

* Preparing for retirement?

* Taking that exotic vacation you've been dreaming of?

Only you can decide which goals you want to achieve. Only you
can accept the responsibility for making it happen.

But, you will not achieve those goals without God as your leader, partner, and councellor. Good luck!

Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

An Amazing Story of Jessica Cox: The First Woman Without Arms To Earn a Pilot License


WANITA PERTAMA TANPA LENGAN MERAIH LISENSI PILOT PESAWAT

Jessica Cox, 25 tahun, mendapatkan izin menerbangkan pesawat pada tanggal 10 Oktober 2008 yang lalu. Jessica juga memiliki dua sabuk hitam di bidang seni beladiri Tae Kwon Do, mendapat gelar S1 di bidang Psikologi, dan menapaki karier sebagai seorang pembicara motivasi. Apa yang tak dimiliki Jessica Cox? Kedua lengan.

Cacat tanpa kedua lengan tidak menghentikan Nona Cox untuk mencapai dan melampaui tujuan-tujuan hidupnya. Sejak lahir, kedua kakinya berfungsi juga sebagai lengannya. Ia dapat mengemudikan mobil, mengetik dengan kecepatan 25 kata per menit, dan menerbangkan pesawat udara sungguhan dengan menggunakan kedua kakinya tanpa kesulitan. Ia merupakan wanita tanpa lengan pertama yang mendapatkan izin menerbangkan pesawat.

"Aku sangat mendorong orang-orang cacat untuk berlatih menerbangkan pesawat," ujar Cox. "Hal itu menolong untuk menjungkir-balikkan pendapat banyak orang bahwa orang-orang cacat itu tak berdaya, sehingga mereka yakin bahwa orang-orang yang cacat juga memiliki daya dan kemampuan untuk menetapkan sasaran-sasaran yang tinggi dan mencapainya.

Jessica meraih izin Sport Pilot-nya dari "Able Flight", sebuah perusahaan pelatihan terbang di North Carolina yang membantu orang-orang cacat untuk belajar menerbangkan pesawat. Selain itu Nona Cox juga mendapatkan bea siswa dari "Able Flight"

Video wawancara antara Jessica Cox dengan Fox TV dapat dilihat di: http://www.foxnews.com/video-search/m/21713338/inspirational_story.htm?pageid=23000

Sumber: http://www.disaboom.com/Blogs/saydrah/archive/2008/11/10/jessica-cox-has-one-pilot-s-license-two-black-belts-and-zero-arms.aspx

Naskah ini diterjemahkan oleh Hadi Kristadi untuk http://pentas-kesaksian.blogspot.com - mohon keterangan ini jangan dihapus ketika anda memforwardnya atau mempostingnya di website/blog anda - terima kasih.

*****

Jessica Cox, 25, earned a license to fly airplanes on October 10, 2008. Jessica also has two black belts in Tae Kwan-Do, a college degree in Psychology, and a thriving career as a motivational speaker. What doesn't Jessica Cox have? Arms.

A bilateral congenital limb deficiency doesn't stop Ms. Cox from achieving and surpassing her goals. From birth on, her feet became her hands. She can drive a car, type 25 words per minute, and fly an airplane using her feet, without any special adaptations. She is the first woman without arms to earn a license to fly.

"I highly encourage people with disabilities to consider flying," Cox said. "It helps reverse the stereotype that people with disabilities are powerless into the belief that they are powerful and capable of setting high goals and achieving them."

Jessica earned her Sport Pilot certificate after training with Able Flight, a North Carolina flight training company that specializes in helping people with disabilities learn to fly. Ms. Cox won an Able Flight scholarship.

Sumber:
http://www.disaboom.com/Blogs/saydrah/archive/2008/11/10/jessica-cox-has-one-pilot-s-license-two-black-belts-and-zero-arms.aspx
Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Tuesday, December 30, 2008

Farther than the Eyes Can See: An Amazing Story of Erik Weihenmayer

LEBIH JAUH DARI PADA YANG DAPAT DILIHAT MATA
Meskipun orang-orang mengatakan bahwa ia tidak akan pernah mampu melakukan hal-hal seperti yang dilakukan oleh orang-orang lain, Erik Weihenmayer tidak memercayai vonis itu dan menolak hidup dengan keterbatasan-keterbatasan. Setelah bertarung dengan kebutaannya selama bertahun-tahun, Erik belajar untuk menerima hal itu dan membuatnya sebagai bagian dari kehidupannya. Ia berjuang untuk mengubah masalah menjadi berkat.

Pertama-tama ia bergabung dengan regu gulat di SMU, pernah menjadi kapten dan juara gulat kedua di negara bagiannya. Berikutnya Weihenmayer mengambil tantangan mendaki gunung, sebuah hobi yang cukup sulit bagi orang-orang yang penglihatannya sempurna.

Pada tanggal 25 Mei 2001, Erik Weihenmayer menjadi satu-satunya orang tunanetra dalam sejarah yang dapat mencapai puncak gunung tertinggi di dunia – Puncak Everest. Pada tanggal 20 Agustus 2008, ketika ia berdiri di puncak gunung Carstenz Pyramid di Papua, puncak gunung tertinggi di belahan Austral-Asia, Weihenmayer menyelesaikan perjuangannya mendaki tujuh puncak gunung tertinggi di tujuh benua. Erik hanya diikuti oleh kurang dari 100 orang pendaki yang berhasil mencapai prestasi hebat ini. Tambahan pula, ia telah mendaki El Capitan, gunung batu monolit granit yang curam setinggi 3300 kaki di Yosemite, dan juga Lhosar, tebing air terjun dengan bekuan es setinggi 3000 kaki di daerah Himalaya, dan tebing batu curam yang paling sulit dan jarang didaki setinggi 17.000 kaki di Kenya.

Dalam bulan September 2003, Erik bergabung dengan 320 bintang atlit dari 17 negara untuk berlomba di Primal Quest, petualangan dalam berbagai jenis olahraga yang paling keras: 457 mil melalui Sierra Nevada, sembilan hari, 60.000 kaki di antaranya melewati daerah pegunungan, dan tidak ada waktu jeda. Dengan tidur hanya rata-rata dua jam perhari, Erik dan timnya menerobos masuk garis finis di Danau Tahoe, yang menjadi salah satu dari 42 tim yang mencapai garis finish dari 80 tim yang mengikuti start.

Setelah mencapai puncak Everest, sekolah "Braille Without Borders" bagi para tunanetra di Tibet mengundangnya untuk mengajar para murid untuk mendaki gunung dan tebing. Pengalamannya dalam banyak pendakian mendorong semangat para murid tunanetra itu untuk mencapai keunggulan di bidang yang jarang dimanfaatkan oleh para tunanetra. Erik dan enam orang anggota tim Everest-nya pergi ke Tibet di bulan Mei 2004 untuk melatih para murid di sekolah itu, kemudian di bulan Oktober di tahun yang sama mengajak dan memimpin mereka untuk mendaki Rombuk Glacier di bagian utara Puncak Everest. Meskipun mereka tadinya termasuk orang Paria, para remaja tunanetra itu akhirnya berdiri bersama di ketinggian 21.500 kaki, lebih tinggi dari tim tunanetra manapun dalam sejarah. Steven Haft, produser film Dead Poet’s Society dan film berkelas lainnya, mengabadikan pendakian para tunanetra itu dalam film dokumenter dan mengundang tepuk tangan kehormatan (standing ovation) dalam berbagai festival film di Toronto, LA dan London. Film itu telah diputar di bioskop pada tahun 2007 yang lalu.

Sebagai mantan guru SMU dan pelatih gulat, Erik merupakan salah satu atlet paling menakjubkan dan terkenal di dunia. Meskipun ia kehilangan penglihatannya di usia 13, Erik telah menjadi pendaki gunung, pemain paraglider, dan pemain ski, yang tidak pernah membiarkan kebutaannya menghalangi semangatnya untuk mencapai kehidupan yang luar biasa dan memuaskan. Prestasi pendakian gunung Erik telah menganugerahinya dengan penghargaan ESPY, penghargaan dari Majalah Time bagi seorang atlit terbaik di tahun 2001. Selain itu ia mendapatkan kehormatan ketika namanya diabadikan di "National Wrestling Hall of Fame", dan mendapatkan penghargaan ARETE untuk prestasi atlit luar biasa di tahun itu, juga meraih penghargaan "Helen Keller Lifetime Achievement", dan penghargaan Casey Martin dari Nike, dan penghargaan "Freedom Foundation’s Free Spirit". Ia juga diberi kehormatan untuk membawa obor Olimpiade musim panas dan musim dingin.

Selain menjadi atlit kelas dunia, Erik juga menjadi penulis buku “Touch the Top of the World”, yang diedarkan di sepuluh negara dalam enam bahasa. Menurut Publisher’s Weekly, buku kenangan Erik itu sangat menyentuh hati dan penuh petualangan yang luar biasa dan Erik mengisahkan kisah luar biasa itu dengan penuh humor, kejujuran dan rincian yang hidup, sehingga buku itu sangat memberi inspirasi dan dorongan semangat dan kekuatan. Buku itu difilmkan dan ditayangkan di bulan Juni 2006.

Buku Erik yang kedua, “The Adversity Advantage: Turning Everyday Struggles Into Everyday Greatness” yang ditulis bersama penulis laris dan guru di bidang bisnis, Dr. Paul Stoltz, telah diedarkan di bulan Januari 2007 dan diterjemahkan dalam bahasa Indonesia oleh Penerbit Gramedia. Melalui keahlian Paul di bidang ilmu Pengetahuan dan pengalaman Erik, buku itu membagikan tujuh “puncak” bagi peningkatan daya tahan menghadapi kesulitan dan membalikkan kesulitan menjadi bahan bakar yang tak pernah habis untuk bertumbuh dan mencapai inovasi. Steven Covey, penulis buku terkenal, menulis Kata Pengantar di buku tersebut. Kisah Erik juga ditulis dalam majalah Time, Forbes, dan Reader’s Digest.

Film Erik yang mendapatkan penghargaan, “Farther Than the Eyes Can See”, diberi peringkat “Duapuluh Paling Top”/Top Twenty dalam jajaran film petualangan sepanjang masa oleh Men’s Journal. Dengan meraih hadiah pertama di antara 19 film dan dinominasikan untuk mendapatkan penghargaan Emmy, film itu dengan indah menangkap perasaan, humor, dan drama dalam kisah pendakian Erik yang bersejarah, selain meraih tiga gelar serba pertama oleh timnya: tim pertama yang terdiri dari ayah anak yang sampai di puncak tertinggi, orang paling tua pertama yang sampai di puncak tertinggi, dan tim pertama dengan anggota paling banyak yang sampai di puncak tertinggi. Melalui film ini telah terkumpul dan dibagikan dana sebanyak $ 600.000,- bagi organisasi-organisasi sosial.

Prestasi Erik yang sangat luar biasa telah membuatnya diundang dalam acara-acara TV NBC Today’s Show dan Nightly News, Oprah, Good Morning America, Nightline, dan Tonight Show, untuk menyebutkan beberapa di antaranya. Wajahnya juga telah menghiasi halaman sampul depan di majalah Time, Outside, dan Climbing Magazine.

Pada tahun 1999 Erik bergabung dengan Mark Wellman – orang lumpuh pertama yang mendaki gunung El Capitan setinggi 3000 kaki, dan bersama Hugh Herr, seorang cacat yang kedua kakinya diamputasi dan merupakan seorang ilmuwan di Harvard Prosthetics Laboratory, mendaki tebing setinggi 800 kaki di Moab, Utah. Sebagai akibat keberhasilan mereka bersama, ketiganya membentuk organisasi nirlaba “No Barrier” yang bertujuan mempromosikan gagasan-gagasan dan pendekatan inovatif, serta teknologi yang membantu orang-orang cacat untuk mencapai kehidupan yang luar biasa dengan menyingkirkan segala penghalang dan batas dari kehidupan mereka. Erik juga melayani di National Braille Literacy Champion atas nama American Foundation for the Blind.

Karier Erik sebagai pembicara motivasi telah membawanya keliling dunia, mulai dari Hongkong ke Swiss, dari Thailand sampai pertemuan puncak APEC di Chille, selain di seluruh Amerika Serikat. Ia berbicara kepada banyak orang tentang bagaimana meningkatkan daya juang melawan kesulitan (Adversity Quotient), pentingnya tim yang saling terjalin erat, dan bagaimana menghadapi kesulitan sehari-hari untuk mengejar impian anda. Semua pencapaian dan prestasi Erik membuktikan kepada kita semua bahwa orang tidak perlu punya penglihatan yang sempurna untuk mendapatkan visi yang luar biasa.

“Kebutaan tidak akan mencegah saya untuk bersenang-senang,” kata Erik penuh keyakinan. Ia menghadapi “kemalangannya”, yakni kebutaannya, dan mengubahnya untuk menjadi kekuatan dengan memanfaatkan panca indera yang lain untuk menjadi lebih peka. Ia telah berhasil mengatasi kesulitan-kesulitan dan tantangan-tantangan yang hanya bisa dilakukan oleh sedikit orang saja. (Sumber: Website Erik Weihenmayer dan Tabloid Keluarga edisi 40/Desember 2008, diterjemahkan oleh Hadi Kristadi untuk http://pentas-kesaksian.blogspot.com - mohon keterangan ini jangan dihilangkan ketika anda memforward/memposting di website/blog anda - terima kasih banyak)

*******


On May 25, 2001, Erik Weihenmayer became the onlyblind man in history to reach the summit of the world's highest peak - Mount Everest. On August 20, 2008, when he stood on top of Carstenz Pyramid, the tallest peak in Austral-Asia, Weihenmayer completed his quest to climb the Seven Summits- the highest mountains on each of the seven continents. Erik is joined by fewer than 100mountaineers who have accomplished this feat. Additionally, he has scaled El Capitan, a 3300-foot overhanging granite monolith in Yosemite; Lhosar, a 3000-foot ice waterfalling the Himalayas; and a difficult and rarely climbed rock face on 17,000-foot Mt. Kenya.

In September, 2003, Erik joined 320 stellar athletes from 17 countries to compete in the Primal Quest, the richest and toughest multi-sport adventure race in the world: 457 miles through the Sierra Nevada's, nine days, sixty thousand feet of elevation gain, and no time-outs. Averaging only two hours of sleep a night, Erik and his team surged past the finish line on Lake Tahoe, becoming one of the 42 teams to cross the finish line out of the 80 teams that began.

After Erik's Mt. Everest ascent, Braille Without Borders, a school for the blind in Tibet, invited him to teach its students mountaineering and rock climbing. His many climbs gave the teenagers the courage to excel in a culture which affords few opportunities for the blind. Erik and six Everest team members went to Tibet in May 2004 to train the students, then in October led them on a climb to the Rombuk Glacier on the north side of Mt. Everest. Once seen as pariahs, the teenagers ultimately stood together at 21,500-feet., higher than any team of blind people in history. Steven Haft, producer of such blockbusters as Dead Poets' Society, made a documentary on the ascent which opened to standing ovations at the Toronto, L.A., and London Film Festivals. The film will be released theatrically in spring of 2007.

A former middle school teacher and wrestling coach, Erik is one of the most exciting and well-known athletes in the world. Despite losing his vision at the age of 13, Erik has become an accomplished mountain climber, paraglider, and skier, who has never let his blindness interfere with his passion for an exhilarating and fulfilling life. Erik's feats have earned him an ESPY award, recognition by Time Magazine for one of the greatest sporting achievements of 2001, induction into the National Wrestling Hall of Fame, an ARETE Award for the superlative athletic performance of the year, the Helen Keller Lifetime Achievement award, Nike's Casey Martin Award, and the Freedom Foundation's Free Spirit Award. He has also carried the Olympic Torch for both the Summer and Winter Games.

In addition to being a world-class athlete, Erik is also the author of the book, Touch the Top of the World, published in ten countries and six languages. According to Publisher's Weekly, Erik's memoir is "moving and adventure packed, Weihenmayer tells his extraordinary story with humor, honesty and vivid detail, and his fortitude and enthusiasm are deeply inspiring." The book was made into a feature film which aired on A&E in June, 2006.
Erik's second book, The Adversity Advantage: Turning Everyday Struggles Into Everyday Greatness, co-authored with business guru and best selling author, Dr. Paul Stoltz, was released by Simon and Schuster in January, 2007. Through Paul's science and Erik's experience, The book shares seven "summits" for harnessing the power of adversity and turning it into the never-ending fuel to growth and innovation. Steven Covey, author of the best selling business book of all time, wrote the Foreword. Erik has also been published in Time, Forbes, and Reader's Digest.

Erik's award winning film, Farther Than the Eye Can See, shot in the same stunning quality HDTV format as the 'Star Wars' prequels, was ranked in the top twenty adventure films of all time by Men's Journal. Bringing home first prize at 19 film festivals and nominated for two Emmy's, the film beautifully captures the emotion, humor and drama of Erik's historic ascent as well as his team's three other remarkable 'firsts': the first American father/son team to summit, the oldest man to summit, and the most people from one team to reach the top of Everest in a single day. Through screenings, the film has raised over $600,000 for charitable organizations.

Erik's extraordinary accomplishments have gained him abundant press coverage including repeated visits to NBC's Today Show and Nightly News, Oprah, Good Morning America, Nightline, and the Tonight Show to name a few. He has also been featured on the cover of Time, Outside, and Climbing Magazine.

In 1999, Erik joined Mark Wellman - the first paraplegic to climb the 3000-foot face of El Capitan, and Hugh Herr - a double-leg-amputee and scientist at Harvard's prestigious prosthetics Laboratory, to climb an 800-foot rock tower in Moab, Utah. As a result of their successful climb together, the three formed No Barriers, a non-profit organization with a goal of promoting innovative ideas, approaches, and assistive technologies which help people with disabilities push through their own personal barriers to live full and active lives. Erik also serves as a National Braille Literacy Champion on behalf of the American Foundation for the Blind.

Erik's speaking career has taken him around the world, from Hong Kong to Switzerland, from Thailand to the 2005 APEC Summit in Chile. He speaks to audiences on harnessing the power of adversity, the importance of a "rope team," and the daily struggle to pursue your dreams. Clearly, Erik's accomplishments show that one does not have to have perfect eyesight to have extraordinary vision.

Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Monday, December 29, 2008

Chain of Kindness

Rantai Kebaikan
Pada suatu hari seorang pria melihat seorang wanita lanjut usia sedang berdiri kebingungan di pinggir jalan. Meskipun hari agak gelap, pria itu dapat melihat bahwa sang nyonya sedang membutuhkan pertolongan. Maka pria itu menghentikan mobilnya di depan mobil Benz wanita itu dan keluar menghampirinya. Mobil Pontiac-nya masih menyala ketika pria itu mendekati sang nyonya.

Meskipun pria itu tersenyum, wanita itu masih ketakutan. Tak ada seorangpun berhenti menolongnya selama beberapa jam ini. Apakah pria ini akan melukainya? Pria itu kelihatan tak baik. Ia kelihatan miskin dan kelaparan.

Sang pria dapat melihat bahwa wanita itu ketakutan, sementara berdiri di sana kedinginan. Ia mengetahui bagaimana perasaan wanita itu. Ketakutan itu membuat sang nyonya tambah kedinginan.

Kata pria itu, “Saya di sini untuk menolong anda, Nyonya. Masuk ke dalam mobil saja supaya anda merasa hangat! Ngomong-ngomong, nama saya Bryan Anderson.”

Wah, sebenarnya ia hanya mengalami ban kempes, namun bagi wanita lanjut seperti dia, kejadian itu cukup buruk. Bryan merangkak ke bawah bagian sedan, mencari tempat untuk memasang dongkrak. Selama mendongkrak itu beberapa kali jari-jarinya membentur tanah. Segera ia dapat mengganti ban itu. Namun akibatnya ia jadi kotor dan tangannya terluka.

Ketika pria itu mengencangkan baut-baut roda ban, wanita itu menurunkan kaca mobilnya dan mencoba ngobrol dengan pria itu. Ia mengatakan kepada pria itu bahwa ia berasal dari St. Louis dan hanya sedang lewat di jalan ini. Ia sangat berutang budi atas pertolongan pria itu.

Bryan hanya tersenyum ketika ia menutup bagasi mobil wanita itu. Sang nyonya menanyakan berapa yang harus ia bayar sebagai ungkapan terima kasihnya. Berapapun jumlahnya tidak menjadi masalah bagi wanita kaya itu. Ia sudah membayangkan semua hal mengerikan yang mungkin terjadi seandainya pria itu tak menolongnya.

Bryan tak pernah berpikir untuk mendapat bayaran. Ia menolong orang lain tanpa pamrih. Ia biasa menolong orang yang dalam kesulitan, dan Tuhan mengetahui bahwa banyak orang telah menolong dirinya pada waktu yang lalu. Ia biasa menjalani kehidupan seperti itu, dan tidak pernah ia berbuat hal sebaliknya.

Pria itu mengatakan kepada sang nyonya bahwa seandainya ia ingin membalas kebaikannya, pada waktu berikutnya wanita itu melihat seseorang yang memerlukan bantuan, ia dapat memberikan bantuan yang dibutuhkan kepada orang itu, dan Bryan menambahkan, “Dan ingatlah kepada saya.”

Bryan menunggu sampai wanita itu menyalakan mobilnya dan berlalu. Hari itu dingin dan membuat orang depresi, namun pria itu merasa nyaman ketika ia pulang ke rumah, menembus kegelapan senja.

Beberapa kilometer dari tempat itu sang nyonya melihat sebuah kafe kecil. Ia turun dari mobilnya untuk sekedar mencari makanan kecil, dan menghangatkan badan sebelum pulang ke rumah. Restoran itu nampak agak kotor. Di luar kafe itu ada dua pompa bensin yang sudah tua. Pemandangan di sekitar tempat itu sangat asing baginya.

Sang pelayan mendatangi wanita itu dan membawakan handuk bersih untuk mengelap rambut wanita itu yang basah. Pelayan itu tersenyum manis meskipun ia tak dapat menyembunyikan kelelahannya berdiri sepanjang hari. Sang nyonya melihat bahwa pelayan wanita itu sedang hamil hampir delapan bulan, namun pelayan itu tak membiarkan keadaan dirinya mempengaruhi sikap pelayanannya kepada para pelanggan restoran. Wanita lanjut itu heran bagaimana pelayan yang tidak punya apa-apa ini dapat memberikan suatu pelayanan yang baik kepada orang asing seperti dirinya. Dan wanita lanjut itu ingat kepada Bryan.

Setelah wanita itu menyelesaikan makanannya, ia membayar dengan uang kertas $ 100. Pelayan wanita itu dengan cepat pergi untuk memberi uang kembalian kepada wanita itu. Ketika kembali ke mejanya, sayang sekali wanita itu sudah pergi. Pelayan itu bingung kemana perginya wanita itu. Kemudian ia melihat sesuatu tertulis pada lap di meja itu.

Ada butiran air mata ketika pelayan itu membaca apa yang ditulis wanita itu: “Engkau tidak berutang apa-apa kepada saya. Saya juga pernah ditolong orang. Seseorang yang telah menolong saya, berbuat hal yang sama seperti yang saya lakukan. Jika engkau ingin membalas kebaikan saya, inilah yang harus engkau lakukan: ‘Jangan biarkan rantai kasih ini berhenti padamu.’”

Di bawah lap itu terdapat empat lembar uang kertas $ 100 lagi.

Wah, masih ada meja-meja yang harus dibersihkan, toples gula yang harus diisi, dan orang-orang yang harus dilayani, namun pelayan itu memutuskan untuk melakukannya esok hari saja. Malam itu ketika ia pulang ke rumah dan setelah semuanya beres ia naik ke ranjang. Ia memikirkan tentang uang itu dan apa yang telah ditulis oleh wanita itu. Bagaimana wanita baik hati itu tahu tentang berapa jumlah uang yang ia dan suaminya butuhkan? Dengan kelahiran bayinya bulan depan, sangat sulit mendapatkan uang yang cukup.

Ia tahu betapa suaminya kuatir tentang keadaan mereka, dan ketika suaminya sudah tertidur di sampingnya, pelayan wanita itu memberikan ciuman lembut dan berbisik lembut dan pelan, “Segalanya akan beres. Aku mengasihimu, Bryan Anderson!”

Ada pepatah lama yang berkata, “Berilah maka engkau diberi.” Hari ini saya mengirimkan kisah menyentuh ini dan saya harapkan anda meneruskannya. Biarkan terang kehidupan kita bersinar. Jangan hapus kisah ini, jangan biarkan saja! Kirimkan kepada teman-teman anda! Teman baik itu seperti bintang-bintang di langit. Anda tidak selalu dapat melihatnya, namun anda tahu mereka selalu ada. Tuhan memberkati anda! (Kisah ini diterjemahkan oleh Hadi Kristadi untuk http://pentas-kesaksian.blogspot.com. Mohon anda jangan hapus keterangan anda ketika anda memforwardnya atau mempostingnya di website/blog anda. Terima kasih.



******

One day a man saw an old lady, stranded on the side of the road, but even in the dim light of day, he could see she needed help. So he pulled up in front of her Mercedes and got out. His Pontiac was still sputtering when he approached her.

Even with the smile on his face, she was worried. No one had stopped to help for the last hour or so. Was he going to hurt her? He didn't look safe; he looked poor and hungry. He could see that she was frightened, standing out there in the cold. He knew how she felt. It was that chill which only fear can put in you.

He said, “I'm here to help you, ma'am. Why don't you wait in the car where it's warm? By the way, my name is Bryan Anderson.”

Well, all she had was a flat tire but for an old lady, that was bad enough. Bryan crawled under the car looking for a place to put the jack, skinning his knuckles a time or two. Soon he was able to change the tire. But he had to get dirty and his hands hurt.

As he was tightening up the lug nuts, she rolled down the window and began to talk to him. She told him that she was from St. Louis and was only just passing through. She couldn't thank him enough for coming to her aid.

Bryan just smiled as he closed her trunk. The lady asked how much she owed him. Any amount would have been all right with her. She already imagined all the awful things that could have happened had he not stopped.

Bryan never thought twice about being paid. This was not a job to him. This was helping someone in need, and God knows there were plenty, who had given him a hand in the past. He had lived his whole life that way, and it never occurred to him to act any other way.

He told her that if she really wanted to pay him back, the next time she saw someone who needed help, she could give that person the assistance they needed, and Bryan added, “And think of me.”

He waited until she started her car and drove off. It had been a cold and depressing day, but he felt good as he headed for home, disappearing into the twilight.

A few miles down the road the lady saw a small cafe. She went in to grab a bite to eat, and take the chill off before she made the last leg of her trip home. It was a dingy looking restaurant. Outside were two old gas pumps. The whole scene was unfamiliar to her. The waitress came over and brought a clean towel to wipe her wet hair. She had a sweet smile, one that even being on her feet for the whole day couldn't erase. The lady noticed the waitress was nearly eight months pregnant, but she never let the strain and aches change her attitude. The old lady wondered how someone who had so little could be so giving to a stranger. Then she remembered Bryan.

After the lady finished her meal, she paid with a hundred dollar bill. The waitress quickly went to get change for her hundred dollar bill, but the old lady had slipped right out the door. She was gone by the time the waitress came back. The waitress wondered where the lady could be. Then she noticed something written on the napkin.

There were tears in her eyes when she read what the lady wrote: “You don't owe me anything. I have been there too. Somebody once helped me out, the way I'm helping you. If you really want to pay me back, here is what you do: Do not let this chain of love end with you.”

Under the napkin were four more $100 bills.

Well, there were tables to clear, sugar bowls to fill, and people to serve, but the waitress made it through another day. That night when she got home from work and climbed into bed, she was thinking about the money and what the lady had written. How could the lady have known how much she and her husband needed it? With the baby due next month, it was going to be hard....

She knew how worried her husband was, and as he lay sleeping next to her, she gave him a soft kiss and whispered soft and low, “Everything' s going to be all right. I love you, Bryan Anderson.”

There is an old saying “What goes around comes around.” Today I sent you this story and I'm asking you to pass it on. Let this light shine.

Don't delete it, don't return it. Simply, pass this on to a friend.

Good friends are like stars....You don't always see them, but you know they are always there. GOD BLESS YOU ALL! Source: http://www.interestingmails.com/nice-one.php

Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Sunday, December 28, 2008

Echo

Gema Kehidupan
Seorang anak laki-laki dan ayahnya sedang berjalan di daerah pegunungan dengan dinding-dinding bebatuan yang tinggi. Tiba-tiba anak itu jatuh, terluka, dan berteriak: “Aaaaahhhhhhhhhh!” Dengan terkejut, ia mendengar suara yang berulang-ulang di suatu tempat di gunung-gunung itu: “Aaaahhhhhhhh!” Karena ingin tahu, ia berteriak lagi: “Siapa kamu?” Ia mendapat jawaban: “Siapa kamu?” Dan kemudian ia berteriak lagi ke arah gunung-gunung itu: “Saya mengagumi kamu!” Suara itu membalas: “Saya mengagumi kamu.” Karena jengkel atas jawaban itu, ia berteriak: “Pengecut!” Ia mendapat balasan dari suara itu: “Pengecut!”

Anak itu menoleh ke arah ayahnya dan bertanya: “Ayah, apa yang terjadi?” Ayahnya tersenyum dan berkata: “Anakku, perhatikanlah.” Kembali, pria itu berteriak: “Kamu adalah seorang juara!” Suara itu membalas: “Kamu adalah seorang juara!” Anak itu heran, namun tak percaya. Kemudian ayahnya menerangkan: “Orang-orang menyebut hal ini GEMA, tetapi sesungguhnya itulah KEHIDUPAN. Kehidupan ini membalas segala sesuatu yang engkau katakan atau lakukan. Kehidupan kita hanyalah pantulan dari tindakan-tindakan kita. Jika engkau ingin lebih banyak kasih di dunia, ciptakanlah kasih di hatimu lebih dahulu. Seandainya engkau ingin kompetensi dalam tim, tingkatkan dulu kompetensimu. Hubungan ini berlaku untuk segala hal di dalam seluruh aspek kehidupan kita. Kehidupan akan membalas kembali apa yang telah engkau berikan kepadanya. Kehidupanmu bukanlah perkara kebetulan. Kehidupan merupakan pantulan dirimu.”

Nah, menjelang akhir tahun ini, saya meminta anda untuk berhenti, berdiam diri dan berpikir sejenak. Apakah engkau mendengar dan memperhatikan GEMA anda? Dari balasan gema suara kehidupan terhadap anda, apa yang sudah anda katakan pada kehidupan? Selamat Tahun Baru ya! (Ditulis oleh Dr. Alex Pattakos, diterjemahkan oleh Hadi Kristadi untuk http://pentas-kehidupan.blogspot.com – mohon keterangan ini jangan dihilangkan ketika anda memforwardnya atau memuatnya dalam website/blog anda – terima kasih)




ECHO

A son and his father are walking in the mountains. Suddenly, the son falls, hurts himself, and screams: “AAAhhhhhhhhhhh!!!” To his surprise, he hears a voice repeating, somewhere in the mountains: “AAAhhhhhhhhhhh!!!” Curious, he yells out: “Who are you?” He receives the answer: “Who are you?” And then he screams to the mountain: “I admire you!” The voice answers: “I admire you!” Angered at the response, he screams: “Coward!” He receives the answer: “Coward!”

He looks to his father and asks: “What's going on?” The father smiles and says: “My son, pay attention.” Again, the man screams: “You are a champion!” The voice answers: “You are a champion!” The boy is surprised, but does not understand. Then the father explains: “People call this ECHO, but really this is LIFE. It gives you back everything you say or do. Our life is simply a reflection of our actions. If you want more love in the world, create more love in your heart. If you want more competency in your team, improve your own competency. This relationship applies to everything, in all aspects of life. Life will give you back everything you have given to it. Your life is not a coincidence. It's a reflection of you.”

Now, during this new year, I ask you to stop and think for a moment. Are you paying attention and listening to YOUR Echo? From what life seems to be calling out to you, what are you calling out to life? Happy New Year! (Dr. Alex Pattakos)

Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Saturday, December 27, 2008

Stand Up


BERDIRI
Pendeta di sebuah gereja lokal sedang dipenuhi dengan pikiran tentang bagaimana ia akan meminta jemaatnya untuk menyumbangkan lebih banyak uang yang akan dipakai untuk memperbaiki gedung gereja. Ia tambah jengkel ketika mengetahui bahwa pemain organ yang biasa bertugas sedang sakit. Akhirnya ia mendapatkan pemain organ pengganti pada saat-saat terakhir. Pemain organ pengganti itu ingin mengetahui lagu-lagu apa saja yang harus dimainkan di dalam kebaktian.

“Ini adalah salinan daftar acara kebaktian,” kata Pendeta tak sabar, "tetapi kamu harus memilikirkan satu lagu yang harus dimainkan setelah saya mengumumkan soal dana pembangunan gereja."

Dalam ibadah itu kemudian Pendeta berkata, “Saudara-saudari yang dikasihi Tuhan Yesus, kita sedang dalam kesulitan. Perbaikan atap gedung ini perlu dana dua kali lebih besar daripada yang kita perhitungkan dan kita perlu dana Rp. 4 juta lebih. Siapa yang ingin menyumbang Rp. 100.000,- per orang, silakan berdiri!”

Pada saat itu juga pemain organ pengganti memainkan lagu: “Indonesia Raya”. Seluruh jemaat terpaksa berdiri....

Demikianlah pemain organ pengganti menjadi pemain organ utama di gereja itu. (Diterjemahkan oleh Hadi Kristadi untuk http://pentas-kesaksian.blogspot.com - mohon keterangan ini jangan dihilangkan)

*******

The minister was preoccupied with thoughts of how he was going to ask the congregation to come up with more money than they were expecting for repairs to the church building. Therefore, he was annoyed to find that the regular organist was sick and a substitute had been brought in at the last minute. The substitute wanted to know what to play.

"Here's a copy of the service," he said impatiently. "But, you'll have to think of something to play after I make the announcement about the finances."

During the service, the minister paused and said, "Brothers and Sisters, we are in great difficulty; the roof repairs cost twice as much as we expected and we need $4,000 more. Any of you who can pledge $100 or more, please stand up."

At that moment, the substitute organist played, "The Star Spangled Banner."

And that is how the substitute became the regular organist! Source: http://www.thoughts-about-god.com/fun/laughs1.htm

Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Friday, December 26, 2008

A Sacrifice on The Christmas Eve

Pengorbanan Di Malam Natal
Pada malam Natal yang dingin di tahun 1952, ketika Korea berada dalam keadaan perang saudara, seorang gadis muda berjalan dengan susah payah di sepanjang jalan sebuah desa, untuk segera melahirkan bayi. Ia meminta tolong kepada para pejalan kaki yang lewat. “Tolong saya, tolong bayi saya.”

Tak ada seorangpun yang memedulikan dia. Sepasang suami isteri yang sudah lanjut usia berjalan melewatinya. Sang nyonya mendorong gadis muda itu sambil mencibir, “Dimana ayahnya? Dimana pria Amerika itu sekarang?” Pasangan itu tertawa dan berlalu.

Gadis muda itu makin kesakitan karena kontraksi di perutnya meningkat ketika memperhatikan mereka berlalu. “Tolong…” ia memohon.

Ia mendengar bahwa seorang misionaris tinggal di sekitar tempat itu yang mungkin mau menolong dia. Dengan bergegas, ia mula berjalan ke arah desa itu. Semoga misionaris itu mau menolong bayinya. Dengan gemetar dan kesakitan, ia berjuang melawan cuaca yang membeku di pedesaan itu. Malam itu sangat dingin. Salju mulai turun. Karena ia menyadari waktunya semakin dekat untuk melahirkan, maka ia berteduh di bawah sebuah jembatan.

Di sana, sendirian, ia melahirkan bayinya di malam Natal. Karena kuatir akan keselamatan bayinya, ia menanggalkan pakaiannya, menyelimuti pakaian itu di sekeliling bayinya dan ia memeluk erat-erat bayi di tangannya.

Keesokan harinya, misionaris itu menembus salju untuk mengantarkan hadiah Natal. Ketika ia berjalan, ia mendengar tangisan seorang bayi. Ia mengikuti suara itu sampai ke bawah jembatan. Di bawah jembatan itu ia menemukan seorang gadis muda yang sudah mati membeku kedinginan, masih memegang erat bayi di pelukannya. Misionaris itu dengan pelan-pelan mengangkat bayi itu lepas dari pelukannya.

Ketika bayi itu menjadi besar dan berusia 10 tahun, misionaris ayah angkatnya itu menceritakan kisah kematian ibunya di malam Natal. Anak muda itu menangis ketika menyadari pengorbanan ibunya.

Keesokan harinya sang misionaris bangun pagi-pagi namun tidak menemukan anaknya. Karena ia melihat jejak kaki yang baru keluar rumah, ia segera mengikuti jejak itu. Rupanya jejak itu menuju ke sebuah jembatan.

Ketika misionaris itu sampai di bawah jembatan, ia berhenti, tertegun. Ia melihat anak angkatnya sedang berlutut di atas salju, telanjang dan gemetar hebat. Bajunya ditaruh di sampingnya. Ia mendengar anak itu berkata melalui gigi yang gemeretuk, “Ibu, apakah engkau dulu kedinginan seperti ini dan berkorban bagiku?”

Ingat Natal, ingatlah pengorbanan Kristus bagi kita sekalian! Dia mati bagi kita agar kita hidup kekal. Dia rela mengorbankan diri-Nya karena Dia sangat mengasihi kita. (Naskah asli ditulis oleh Bill Bright, diterjemahkan oleh Hadi Kristadi untuk http://pentas-kesaksian.blogspot.com - mohon keterangan ini jangan dihapus ketika anda memforwardnya atau mempostingnya di website/blog anda - terima kasih banyak)

**********

On a cold Christmas Eve in 1952, when Korea was in the throes of civil war, one young woman struggled along a village street, obviously soon to deliver a child. She pleaded with passersby,
"Help me! Please. My baby."

No one paid any attention to her. A middle-aged couple walked by. The wife pushed away the young mother and sneered, "Where's the father? Where's your American man now?" The couple laughed and went on.

The young woman almost doubled up from a contraction as she watched them go.
"Please . . ." she begged.

She had heard of a missionary living nearby who might help her. Hurriedly, she began walking to that village. If only he would help her baby. Shivering and in pain, she struggled over the frozen countryside. But the night was so cold. Snow began to fall. Realizing that the time was near to deliver her baby, she took shelter under a bridge. There, alone, her baby was born on Christmas Eve.

Worried about her newborn son, she took off her own clothes, wrapped them around the baby and held him close in the warm circle of her arms.

The next day, the missionary braved the new snow to deliver Christmas packages. As he walked along, he heard the cry of a baby. He followed the sound to a bridge. Under it, he found a young mother frozen to death, still clutching her crying new born son. The missionary tenderly lifted the baby out of her arms.

When the baby was 10 years old, his now adoptive father told him the story of his mother's death on Christmas Eve. The young boy cried, realizing the sacrifice his mother had made for him.

The next morning, the missionary rose early to find the boy's bed empty. Seeing a fresh set of small footprints in the snow outside, he bundled up warmly in a winter coat and followed the trail. It led back to the bridge where the young mother had died.

As the missionary approached the bridge, he stopped, stunned. Kneeling in the snow was his son, naked and shivering uncontrollably. His clothes lay beside him in a small pile. Moving closer, he heard the boy say through chattering teeth:
"Mother, were you this cold for me?"

That story reminds me of another mother and Son who sacrificed so much. One winter night, Jesus left his home, His glory and the warmth of heaven to be born in a stable to an unwelcome world. Just before He was born, Mary, His mother, was not welcome in any of the cozy inns in Bethlehem. Instead, she delivered her baby in the darkness of a cold stable. Th e Creator of the Universe, the Perfect Judge who could destroy the world with a single word, was willing to endure this inauspicious beginning for you and me. That is unconditional love!

We who have experienced God's unconditional love are commanded to share that love with others. John writes in 1 John 4:11,

"Dear friends, since God loved us that much, we surely ought to love each other" (New Living Translation).

God wants us to express His supernatural love to others. We become examples of God's love to the world as we love our neighbors through the enabling of His Holy Spirit.
My prayer for you is the same as Paul's prayer for the believers in Ephesians 3:17,18:

"May your roots go down deep in to the soil of God's marvelous love. And may you have the power to understand, as all God's people should, how wide, how long, how high, and how deep His love really is" (NLT ) .

You may confess, "I don't have that kind of love to share with anyone." To experience God's supernatural love, claim it by faith. We have the potential to love anyone God puts in our path. One of the greatest lessons I have learned in my Christian life is "how to love by faith."

When we by faith invite God's unconditional love to flow through us, we will discover a rekindled love that is alive and well. That is true for an "unlovable" spouse, boss, employee, or anyone.

Nothing breaks the hardened ground of unforgiveness and bitterness like sincere acts and words of love. Sometimes you and I, by faith, must take the first step of restoration. A positive response may not be immediate, but keep on loving and reaching out. There is no power on earth stronger than God's supernatural love. (Bill Bright) http://www.thoughts-about-god.com/christmas/marv_love.htm

Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Thursday, December 25, 2008

White Envelope: A Christmas Story

(Keterangan Foto: Priscilla Natasha Kristadi di samping pohon Natal)

Kisah Natal: Amplop Putih
Itu hanya satu amplop putih kecil yang ditempelkan di antara cabang-cabang pohon Natal kami. Tanpa nama, tanpa identitas, tanpa tanda tangan. Amplop itu sudah menyembul melalui batang-batang pohon Natal selama 10 tahun atau lebih.

Semuanya dimulai karena suami saya, Mike, membenci perayaan Natal – oh, bukan membenci arti Natal sebenarnya – namun yang ia benci adalah aspek komersial dalam perayaan Natal – belanja yang boros – lari kesana kemari mencari dasi yang cocok pada saat-saat terakhir untuk Paman Harry atau bedak pewangi karpet buat Oma – semuanya adalah kado yang diberikan setelah kita putus asa mencari kado yang cocok bagi mereka.

Karena saya tahu ia merasa begitu terhadap Natal, maka saya memutuskan pada suatu kali perayaan Natal untuk berhenti memberikan kado umum seperti kemeja, sweater, dasi atau sejenisnya. Saya ingin memberikan sesuatu yang istimewa buat Mike. Inspirasinya datang secara kebetulan.

Anak kami, Kevin, yang berusia 12 pada waktu itu, biasa latihan gulat di SMP-nya, dan tepat sebelum hari Natal, ada pertandingan non-liga melawan tim lain yang disponsori oleh sebuah gereja yang jemaatnya kebanyakan orang kulit hitam.

Anak-anak muda dari gereja itu memakai sepatu butut yang masih bisa dipakai karena tali sepatunya masih baik. Sebaliknya, anak-anak kami memakai seragam biru dan warna emas yang keren, dan sepatu gulat yang kinclong.

Pada waktu pertandingan dimulai, saya terkejut melihat bahwa tim lawan bergulat tanpa memakai pelindung kepala, semacam helm kecil yang dirancang untuk melindungi telinga para pegulat.

Bagi tim kurang mampu itu, untuk membeli pelindung telinga rupanya merupakan suatu kemewahan. Well, tim kami akhirnya mengalahkan mereka dengan telak. Tim kami memenangkan semua kelas dalam pertandingan gulat itu. Dan ketika setiap anak dari tim lawan bangun dari lantai pertandingan, anak itu akan berparade dengan gagah berani, semacam kesombongan anak-anak jalanan yang tidak mau mengakui kekalahan mereka.

Mike, suami saya, yang duduk di sebelah saya menggelengkan kepalanya dengan sedih, “Saya kira seharusnya salah seorang dari anak-anak hitam itu dapat memenangkan pertandingan,” katanya. “Mereka memiliki bakat yang bagus, namun kekalahan seperti ini dapat mematahkan semangat mereka.”

Mike menyukai anak-anak - semua anak-anak – dan ia mengenal mereka, karena ia pernah menjadi pelatih kesebelasan anak-anak, baseball dan permainan Lacrosse. Itulah saat ketika saya mendapat ide untuk memberikan hadiah Natal yang istimewa itu.

Pada sore hari itu saya pergi ke toko alat-alat olahraga setempat dan membeli sejumlah pelindung kepala dan sepatu bagi para pegulat dan mengirimkannya secara anonim kepada gereja orang-orang kulit hitam itu.

Pada malam Natal, saya menempatkan satu amplop putih di pohon Natal, catatan di dalamnya memberi tahu Mike apa yang telah saya lakukan dan hal itu merupakan kado saya bagi Mike.

Senyuman Mike merupakan hal terindah selama hari Natal pada tahun itu dan pada tahun-tahun berikutnya.

Pada setiap hari Natal, saya mengikuti tradisi baru itu – pada suatu hari Natal saya mengajak sekelompok anak-anak muda yang cacat mental ke sebuah pertandingan hockey, pada hari Natal tahun berikutnya saya mengirimkan sebuah cheque kepada sepasang kakak beradik yang telah lanjut usia yang rumahnya terbakar habis sebelum hari Natal, dan sebagainya.

Amplop putih itu menjadi pusat perhatian pada hari Natal kami. Amplop itu selalu dibuka paling akhir pada pagi hari Natal, dan anak-anak kami, yang melupakan mainan baru mereka, akan berdiri dengan mata berbinar-binar saat ayah mereka membuka catatan dalam amplop putih itu.

Pada saat anak-anak kami semakin dewasa, kado mainan berubah menjadi hadiah lain yang lebih praktis, namun amplop putih itu tidak pernah kehilangan daya tariknya. Kisah ini tidak berakhir di situ.

Anda tahu, kami kehilangan Mike tahun lalu karena sakit kanker yang ganas. Ketika Natal bergulir terus, saya masih diliputi kesedihan sehingga rasanya tak mampu memasang pohon Natal. Namun pada malam Natal saya akan selalu menaruh amplop putih di pohon itu, dan pada pagi harinya, amplop itu ditemani tiga amplop atau lebih dari anak-anak saya. Setiap anak-anak saya, tanpa diketahui oleh saudaranya yang lain, telah menaruh sebuah amplop di pohon Natal bagi ayah mereka yang telah tiada.

Tradisi ini telah berkembang dan pada suatu hari nanti akan meluas bahkan semakin besar ketika cucu kami berdiri di sekitar pohon Natal dengan mata berbinar-binar menantikan ayah mereka membuka amplop putih itu. Semangat Mike, seperti halnya semangat Natal, akan senantiasa beserta dengan kami.

Semoga kita semua mengingat satu sama lain, dan mengingat alasan sesungguhnya mengapa kita merayakan Natal, dan mengingat semangat Natal yang sejati pada hari Natal ini dan selalu. Tuhan memberkati! Teruskan pesan Natal ini kepada teman-teman dan orang-orang yang anda kasihi.

Catatan dari Kevin Gavin:
Kisah ini pertama kali muncul dalam Majalah Woman’s Day pada tahun 1982. Ibu saya mengirimkan kisah ini sebagai bagian dari perlombaan menulis dimana akhirnya tulisan ibu saya memenangkan hadiah pertama. Sayangnya, ia telah meninggal karena sakit kanker dua tahun setelah tulisannya dipublikasikan. Keluarga kami masih memegang tradisi yang dimulai oleh ibu dan ayah saya, dan kami meneruskan tradisi ini kepada anak-anak kami. Anda boleh menyebarluaskan kisah ini. Hal itu memberi saya dan saudari-saudari saya sukacita yang besar karena melihat tradisi itu berlangsung terus dan telah memberi inspirasi kepada orang-orang untuk menjangkau banyak orang lain, sehingga kita semua benar-benar menghormati arti Natal yang sesungguhnya – Kevin Gavin. (Diterjemahkan oleh Hadi Kristadi untuk http://pentas-kesaksian.blogspot.com – mohon keterangan ini tidak dihilangkan ketika anda memforwardnya atau mempostingnya di blog anda – terima kasih banyak.



***********************


A Christmas Story
It's just a small, white envelope stuck among the branches of our Christmas tree. No name, no identification, no inscription. It has peeked through the branches of our tree for the past 10 years or so.

It all began because my husband Mike hated Christmas---oh, not the true meaning of Christmas, but the commercial aspects of it-overspending...the frantic running around at the last minute to get a tie for Uncle Harry and the dusting powder for Grandma---the gifts given in desperation because you couldn't think of anything else.

Knowing he felt this way, I decided one year to bypass the usual shirts, sweaters, ties and so forth. I reached for something special just for Mike. The inspiration came in an unusual way.

Our son Kevin, who was 12 that year, was wrestling at the junior level at the school he attended; and shortly before Christmas, there was a non-league match against a team sponsored by an inner-city church, mostly black.

These youngsters, dressed in sneakers so ragged that shoestrings seemed to be the only thing holding them together, presented a sharp contrast to our boys in their spiffy blue and gold uniforms and sparkling new wrestling shoes.

As the match began, I was alarmed to see that the other team was wrestling without headgear, a kind of light helmet designed to protect a wrestler's ears.
It was a luxury the ragtag team obviously could not afford. Well, we ended up walloping them. We took every weight class. And as each of their boys got up from the mat, he swaggered around in his tatters with false bravado, a kind of street pride that couldn't acknowledge defeat.

Mike, seated beside me, shook his head sadly, "I wish just one of them could have won," he said. "They have a lot of potential, but losing like this could take the heart right out of them."

Mike loved kids-all kids-and he knew them, having coached little league football, baseball and lacrosse. That's when the idea for his present came.

That afternoon, I went to a local sporting goods store and bought an assortment of wrestling headgear and shoes and sent them anonymously to the inner-city church. On Christmas Eve, I placed the envelope on the tree, the note inside telling Mike what I had done and that this was his gift from me.

His smile was the brightest thing about Christmas that year and in succeeding years. For each Christmas, I followed the tradition---one year sending a group of mentally handicapped youngsters to a hockey game, another year a check to a pair of elderly brothers whose home had burned to the ground the week before Christmas, and on and on.

The envelope became the highlight of our Christmas. It was always the last thing opened on Christmas morning and our children, ignoring their new toys, would stand with wide-eyed anticipation as their dad lifted the envelope from the tree to reveal it's contents.

As the children grew, the toys gave way to more practical presents, but the envelope never lost its allure. The story doesn't end there.

You see, we lost Mike last year due to dreaded cancer. When Christmas rolled around, I was still so wrapped in grief that I barely got the tree up. But Christmas Eve found me placing an envelope on the tree, and in the morning, it was joined by three more. Each of our children, unbeknownst to the others, had placed an envelope on the tree for their dad.

The tradition has grown and someday will expand even further with our grandchildren standing around the tree with wide-eyed anticipation watching as their fathers take down the envelope. Mike's spirit, like the Christmas spirit, will always be with us. May we all remember each other, and the Real reason for the season, and His true spirit this year and always. God bless---pass this along to your friends and loved ones.

Note:
The story first appeared in Woman's Day magazine in 1982. My mom had sent the story in as a contest entry in which she subsequently won first place. Unfortunately, she passed away from cancer two years after the story was published. Our family still keeps the tradition started by her and my father and we have passed it on to our children. Feel free to use the story. It gives me and my sisters great joy to know that it lives on and has hopefully inspired others to reach out in a way that truly honors the spirit of Christmas. --- Kevin Gavin

--- Copyright © 1982 Nancy W. Gavin
--- Submitted by Edwin G. Whitin

Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Wednesday, December 24, 2008

Woman Buried For 3 Days Under The Snow Found Alive

Tak ada seorangpun yang mengira bahwa Donna Molnar akan ditemukan dalam keadaan hidup setelah terkubur di dalam badai salju selama tiga hari. Panas tubuh Donna Molnar adalah 30 derajat Faherenheit atau -1,11 derajat Celsius ketika regu penyelamat menemukan dia pada hari Senin, 22 Desember 2008 lalu.

Salah seorang dari anggota regu penyelamat telah menyisir bagian pedesaan yang mengerikan di daerah Ontario untuk mencari seorang ibu rumah tangga dari kota Hamilton, yang telah meninggalkan rumahnya tiga hari sebelumnya di tengah badai salju menuju toko bahan makanan.

Selama pencarian bersama anjing Ace, anggota tim SAR Ray Lau pada hari Senin itu menginjak lapisan es tebal yang menutupi ladang seorang petani, tidak jauh dari tempat dimana mobil van Molnar ditemukan sehari sebelumnya.

Ia terus berpikir: “Tak ada – 20 kali putaran? Ini adalah pencarian sesosok jenazah. “Kemudian, oh, tiba-tiba saja, Ace menyalak,” kata Lau. “Anjing itu membungkuk dan melihat ke bawah salju dan hanya menggonggong, menggonggong, dan menggonggong.”

Lau bergegas ke samping anjing gembala Belandanya.

“Di sana ia berada, di sana ada Donna, wajahnya hampir semuanya tertutup salju kecuali satu biji matanya memandang saya!” kata Lau. “Ya, itulah dia, wow!” Di sana ribuan pikiran melintas di kepala saya. Seperti di atas puncak gunung saja.”

Dengan satu tangan yang tidak memakai sarung tangan berada di dekat lehernya, Molnar, usia 55, menggumam dan berusaha berteriak pada saat Lau memanggil anggota regu penyelamat lainnya. Molnar yang memakai jas kulit, sweater, celana panjang, dan sepatu boot musim dingin, dengan hati-hati dikeluarkan dari tumpukan salju sedalam hampir satu meter yang nampak telah membantu melindunginya.

Kemudian para penyelamat menemukan kejutan kedua.

“Donna masih sadar, dan berkata, ‘Wow. Saya sudah menunggu kalian lama sekali!’ dan kemudian ia meminta maaf dan berkata, ‘Saya hanya ingin berjalan-jalan, saya menyesal telah menyusahkan kalian,’” kata Staf Sersan Mark Cox dari Kantor Polisi Hamilton, salah seorang pemimpin dalam misi penyelamatan itu. “Dan kami semua berpikir bahwa hal ini sungguh luar biasa, sesuatu yang ajaib.”

“Saya sudah bekerja di tim SAR ini selama tujuh tahun, dan ini adalah kasus yang sangat aneh dalam menemukan orang yang masih hidup di bawah es selama tiga hari,” katanya.

Donna segera dilarikan ke sebuah Rumah Sakit dan segera diberi obat bius untuk memulai perawatan hipotermia (tubuh beku karena kedinginan luar biasa) yang menyakitkan. “Saya kira salju itu pasti telah mengurung panas tubuhnya, dan itulah yang membuat ia selamat,” kata Cox. “Ini salah satu kemungkinannya.”

David Molnar menyebut daya tahan isterinya sehingga masih hidup sebagai suatu keajaiban Natal. Ia tidak dapat segera berbicara dengan isterinya setelah isterinya dibawa ke Rumah Sakit. Tetapi selama isterinya dibius, ia mendekatkan diri pada telinga isterinya dan berkata, “Selamat pulang kembali, saya mengasihimu.”

Isteri saya, asal tahu saja, tidak berolahraga. Ia kuat secara fisik dan rohani,” kata David. “Ketika orang-orang meminta saya menjelaskan bagaimana isteri saya tetap hidup, saya katakan saya percaya Tuhan telah turun dan menyelimuti dia sampai para penyelamat menemukan dia, karena tidak ada lagi penjelasan yang masuk akal.”

Selain menderita hipotermia, Donna Molnar juga sedang dirawat untuk menyelamatkan dirinya dari kebekuan anggota tubuh akibat salju, dan pemulihannya memerlukan waktu berbulan-bulan.

Namun kondisi tubuh isterinya membaik pada hari Selasa, dari keadaan kritis menjadi serius. “Hal itu kedengarannya tidak terlalu bagus bagi orang lain, namun bagi kami, itu adalah berita paling baik yang mungkin dapat kami peroleh pada malam Natal ini,” kata David Molnar.

Sementara itu bagi Ace, sang anjing, ia masih menunggu hadiah: sebuah steak T-Bone. Itu adalah hadiah paling sedikit bagi seekor anjing yang telah dengan caranya sendiri layak mendapatkannya.

“Beberapa waktu yang lalu, Ace diselamatkan dari sebuah rumah yang bukan tempatnya, dan sekarang ia harus menolong seseorang. Saya tidak dapat menerangkan seberapa besar penyelamatan itu sangat berarti bagi saya,” kata Lau. “Anjing itu pasti mendapatkan steak-nya. Saya sedang belanja di toko bahan makanan sekarang,” Sumber: CNN – 24 Desember 2008. Diterjemahkan oleh Hadi Kristadi untuk http://pentas-kesaksian.blogspot.com – mohon keterangan ini jangan dihapus ketika anda memforwardnya atau mempostingnya di website / blog anda. Terima kasih.
*******************************************

Woman Buried For 3 Days Under The Snow Found Alive

No one expected to find Donna Molnar alive. Donna Molnar's body temperature was 30 degrees Fahrenheit when rescuers found her Monday.

One of two searchers had combed the brutal backcountry of rural Ontario for the housewife from the city of Hamilton, who had left her home three days earlier in the middle of a blizzard to grocery shop.

Alongside his search-and-rescue dog Ace, Ray Lau on Monday tramped through the thick, ice-covered brush of a farmer's field, not far from where Molnar's van had been found a day earlier.

He kept thinking: Negative-20 winds? This is a search for a body.

"Then, oh, all of a sudden, Ace bolted off," said Lau. "He stooped and looked down at the snow and just barked, barked, barked."

Lau rushed to his Dutch shepherd's side.

"There she was, there was Donna, her face was almost totally covered except for one eye staring back at me!" he said. "That was, 'Wow!' There was a thousand thoughts going through my head. It was over the top."

With one ungloved hand near her neck, Molnar, 55, mumbled and tried to scream as Lau yelled to other rescuers. Dressed in a leather coat, sweater, slacks and winter boots, Molnar was carefully extracted from a 3-foot-deep mound of snow that had apparently helped to insulate her.

Then, rescuers got their second shock.

"She was lucid, and said, 'Wow. I've been here a long time!' and then she apologized and said, 'I just wanted to talk a walk, I'm sorry to have caused you any trouble,' " said Staff Sgt. Mark Cox of the Hamilton Police Department, one of the leaders in the hunt. "And we're all thinking this is incredible, this is really something."

"I've been doing search and rescue for seven years, and this is the wildest case I've had in finding someone alive," he said.

She was rushed to a hospital and immediately sedated to begin the agonizing steps of hypothermia treatment.

"I think the snow must have worked to trap her body heat, and that's what really saved her," Cox said. "This really speaks to what's possible."

David Molnar is calling his wife's survival his "Christmas miracle."

He wasn't able to speak with her immediately after she was taken to the hospital. But while she was under sedation, he leaned over her and whispered in her ear, "Welcome back, I love you."

"My wife, you know, doesn't pump iron. She is strong physically and spiritually," he said. "When people say to me how do I explain how she survived, I said I believe God reached down and cradled her until the rescuers could find her, because there's no rational explanation."

In addition to hypothermia, Donna Molnar is being treated for severe frostbite, and her recovery will take months.

But his wife's condition was upgraded Wednesday from critical to serious. "That may not sound like a great thing to everyone, but to us, that is the best news we could possibly get on Christmas Eve," David Molnar said.

As for Ace, he's still awaiting his reward: a T-bone steak. It's the least that can be done for a dog who, in his own way, paid it forward.

"A while ago, Ace was rescued from a home where he didn't belong, and now he got to rescue someone. I can't describe the magnitude of that, what that means to me," Lau said.

"He's definitely getting his steak. I'm grocery shopping right now. Source: CNN- December 24, 2008.

Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Merry Christmas and Happy New Year from Hadi Kristadi



As we pause to think of Christmas and what it means to each of us, take time to reflect about Christ and what He means to you. This is a wonderful time of the year when the world celebrates the One whom we call Lord. But for those who do not know Him, their celebration is self-centered, only focused upon the giving of gifts, Christmas parties, and holiday music, not having the awareness of the “reason for the season.”

We as Christians have a tremendous reason to celebrate. The Reedemer of the Ages came to earth as a child. Amazing!
- Dutch Sheets

Selamat Hari Natal dan Tahun Baru!
Merry Christmas and Happy New Year!

Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

The Story of Christmas from Rusia


Pada tahun 1994, dua orang misionaris Amerika mendapat undangan dari Departemen Pendidikan Rusia untuk mengajar Moral dan Etika berdasarkan prinsip-prinsip Alkitab. Mereka mengajar di penjara-penjara, kantor-kantor, departemen kepolisian, pemadam kebakaran dan di panti asuhan.

Panti Asuhan yang mereka kunjungi cukup besar dengan sekitar seratus anak laki-laki dan perempuan yatim piatu penghuninya. Mereka adalah anak-anak yang dibuang, ditinggalkan dan sekarang dirawat dalam program pemerintah.

Inilah kisah para misionaris tersebut:

"Waktu itu menjelang Natal 1994, saatnya anak-anak yatim piatu kita - untuk pertama kalinya - mendengarkan kisah Natal. Kami bercerita tentang Maria dan Yusuf, bagaimana setibanya di Bethlehem, mereka tidak mendapatkan penginapan hingga mereka akhirnya menginap di sebuah kandang hewan. Di kandang hewan itulah akhirnya Bayi Yesus lahir dan dibaringkan bunda-Nya dalam sebuah palungan.

Sepanjang kisah itu, anak-anak maupun pengurus panti asuhan begitu tegang; mereka terpukau dan takjub mendengarkan Kisah Natal. Beberapa anak bahkan duduk di tepi depan kursi seakan agar bisa lebih menangkap setiap kata. Selesai bercerita, setiap anak kami beri tiga potong kertas karton untuk membuat palungan. Mereka juga mendapat sehelai kertas persegi, sobekan dari kertas napkin kuning yang kami bawa. Anak-anak amat senang menerimanya karena di kota itu belum ada kertas berwarna.

Sesuai petunjuk, anak-anak mulai menggunting kertasnya dengan hati-hati lalu kemudian menyusun guntingan-guntingan kertas kuning sebagai jerami dipalungan. Potongan-potongan kecil kain flannel, yang digunting dari gaun malam seorang ibu Amerika yang telah meninggalkan Rusia, dipakai sebagai selimut bayi. Bayi kecil mirip boneka pun digunting dari lembaran felt yang kami bawa dari Amerika.

Semua anak sibuk menyusun palungannya masing-masing. Saya berjalan di antara mereka untuk melihat kalau-kalau ada yang membutuhkan bantuan. Semuanya tampak lancar dan baik-baik saja, hingga saya tiba di meja si kecil Misha. Misha adalah seorang anak laki-laki berusia sekitar enam tahun. Ia telah selesai mengerjakan proyeknya.

Ketika saya mengamati palungan bocah kecil ini, saya merasa terkejut bercampur heran. Ada dua bayi dalam palungan Misha. Cepat-cepat saya memanggil seorang penerjemah untuk menanyakan hal ini kepada Misha. Dengan melipat kedua tangannya di meja, dan sambil memandangi karyanya itu, Misha mulai mengulang Kisah Natal dengan amat serius.

Bagi anak sekecil dia, yang baru sekali saja mendengarkan Kisah Natal, ia menceritakan semua rangkaian kejadian dengan amat cermat dan teliti, hingga ia tiba pada bagian di mana Maria membaringkan Bayinya dalam palungan. Mulailah Misha bergaya. Ia membuat sendiri penutup akhir Kisah Natalnya. Katanya:

"Dan ketika Maria membaringkan Bayinya dipalungan, Bayi Yesus melihat aku. Ia bertanya apakah aku punya tempat tinggal. Aku katakan kepada-Nya bahwa aku tidak punya mama dan juga tidak punya papa, jadi aku tidak punya tempat tinggal. Kemudian Bayi Yesus mengatakan bahwa aku boleh tinggal bersama Dia. Tetapi aku katakan bahwa aku tidak bisa. Bukankah aku tidak punya apa-apa yang bisa kuberikan sebagai hadiah kepada-Nya seperti yang dihadiahkan orang-orang dalam kisah itu?

Tetapi aku begitu ingin tinggal bersama-Nya, jadi aku berpikir-pikir, 'Apa ya, yang aku punya yang bisa dijadikan hadiah untuk-Nya.' Aku pikir, barangkali kalau aku membantu membuat-Nya merasa hangat, itu bisa jadi hadiah yang bagus.

Jadi aku bertanya kepada Yesus, 'Kalau aku menghangatkan-Mu, apakah itu bisa dianggap sebagai hadiah?' Dan Yesus menjawab, 'Kalau kamu menjaga dan menghangatkan Aku, itu akan menjadi hadiah terindah yang pernah diberikan siapapun pada-Ku.'

Demikianlah, aku menyusup masuk dalam palungan itu. Yesus memandangku dan berkata bahwa aku boleh kok tinggal bersama-Nya untuk selamanya."

Saat si kecil Misha selesai bercerita, kedua matanya telah penuh air mata yang kemudian meleleh membasahi pipinya yang mungil. Wajahnya ia tutupi dengan kedua tangannya, kepalanya ia jatuhkan ke atas meja. Seluruh tubuh dan pundaknya berguncang hebat saat ia menangis dan menangis.

Yatim piatu yang kecil ini telah menemukan seseorang yang tak akan pernah melupakan serta meninggalkannya, yaitu seseorang yang akan tinggal bersamanya dan menemaninya - untuk selamanya." Sumber: Milis Sahabat Kristen yang mengambil bahan dari: yesaya.indocell.net.

Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Tuesday, December 23, 2008

A Bowl of Rice : A Touching True Story

Semangkuk Nasi Putih
Pada sebuah senja dua puluh tahun yang lalu ada seorang pemuda yang kelihatannya seperti seorang mahasiswa berjalan mondar mandir di depan sebuah rumah makan cepat saji di kota metropolitan, menunggu sampai tamu di restoran sudah agak sepi. Dengan sifat yang segan dan malu-malu dia masuk ke dalam restoran tersebut.

"Tolong sajikan saya semangkuk nasi putih." Dengan kepala menunduk pemuda ini berkata kepada pemilik rumah makan. Sepasang suami istri muda pemilik rumah makan, memperhatikan pemuda ini hanya meminta semangkuk nasi putih dan tidak memesan lauk apapun, lalu menghidangkan semangkuk penuh nasi putih untuknya.

Ketika pemuda ini menerima nasi putih dan sedang membayar berkata dengan pelan, "Dapatkah Ibu menyiram sedikit kuah sayur di atas nasi saya?"

Istri pemilik rumah berkata sambil tersenyum, "Ambil saja apa yang engkau suka, tidak perlu bayar!"

Sebelum habis makan, pemuda ini berpikir: "Kuah sayur gratis." Lalu ia memesan semangkuk lagi nasi putih. "Semangkuk tidak cukup anak muda? Kali ini saya akan berikan lebih banyak lagi nasinya." Dengan tersenyum ramah pemilik rumah makan berkata kepada pemuda ini.

"Bukan, saya akan membawanya pulang. Besok saya akan membawa nasi itu ke kampus sebagai makan siang saya!"

Mendengar perkataan pemuda ini, pemilik rumah makan berpikir pemuda ini tentu dari keluarga miskin di luar kota. Demi menuntut ilmu ia datang ke kota dan mencari uang sendiri untuk kuliah. Kesulitan dalam keuangan, itu sudah pasti ia alami.

Berpikir sampai di situ pemilik rumah makan lalu menaruh sepotong daging dan sebutir telur disembunyikan di bawah nasi. Kemudian ia membungkus nasi tersebut, sepintas terlihat hanya sebungkus nasi putih saja, dan memberikannya kepada pemuda ini.

Melihat perbuatannya, istrinya mengetahui suaminya sedang membantu pemuda ini. Hanya dia tidak mengerti, kenapa daging dan telur disembunyikan di bawah nasi? Suaminya kemudian berbisik kepadanya, "Jika pemuda ini melihat kita menaruh lauk di nasinya dia tentu akan merasa bahwa kita bersedekah kepadanya. Harga dirinya pasti akan tersinggung. Lain kali dia tidak akan datang lagi. Jika dia makan ke tempat lain dan hanya membeli semangkuk nasi putih, mana ada gizi untuk bersekolah?"

"Engkau sungguh baik hati. Sudah menolong orang, masih juga engkau menjaga harga dirinya."
"Jika saya tidak baik, apakah engkau akan menjadi istriku?"

Sepasang suami istri muda ini merasa gembira dapat membantu orang lain.
"Terima kasih, saya sudah selesai makan." Pemuda ini pamit kepada mereka. Ketika dia mengambil bungkusan nasinya, dia membalikkan badan, melihat dengan pandangan mata berterima kasih kepada mereka.

"Besok singgah lagi ya! Engkau harus tetap bersemangat!" kata sang suami sambil melambaikan tangan. Dengan perkataannya itu ia bermaksud mengundang pemuda ini agar jangan segan-segan datang lagi besok.

Sepasang mata pemuda ini berkaca-kaca terharu. Mulai saat itu setiap sore pemuda ini singgah ke rumah makan mereka. Sama seperti biasa setiap hari ia hanya memesan semangkuk nasi putih dan membawa pulang sebungkus untuk bekal keesokan hari.

Sudah pasti nasi yang dibawa pulang setiap hari terdapat lauk berbeda yang tersembunyi setiap hari sampai pemuda ini tamat kuliah. Selama 20 tahun pemuda ini tidak pernah muncul lagi.

Pada suatu hari, ketika suami isteri ini sudah berumur 50 tahun lebih, pemerintah melayangkan sebuah pengumuman bahwa rumah makan mereka harus digusur. Tiba-tiba mereka akan kehilangan mata pencaharian. Dan mengingat anak mereka yang disekolahkan di luar negeri yang perlu biaya setiap bulan membuat suami istri ini berpelukan menangis dengan panik.

Pada saat ini masuklah seorang pemuda yang memakai pakaian bermerek, kelihatannya seperti seorang Direktur dari kantor bonafide.

"Apa kabar? Saya adalah Wakil Direktur dari sebuah perusahaan. Saya diperintah oleh direktur kami mengundang kalian membuka kantin di perusahaan kami. Perusahaan kami telah menyediakan semuanya. Kalian hanya perlu membawa koki dan keahlian kalian ke sana. Keuntungannya akan dibagi dua dengan perusahaan."

"Siapakah direktur di perusahaan kamu? Mengapa begitu baik terhadap kami? Saya tidak ingat mengenal seorang yang begitu mulia!" sepasang suami istri ini berkata dengan terheran-heran.

"Kalian adalah penolong dan kawan baik Direktur kami. Direktur kami paling suka makan telur dan dendeng buatan kalian. Hanya itu yang saya tahu, yang lain dapat kalian ketahui setelah kalian bertemu dengannya."

Akhirnya, pemuda yang biasa memakan semangkuk nasi putih ini muncul. Setelah bersusah payah selama 20 tahun akhirnya pemuda ini dapat membangun kerajaaan bisnisnya dan sekarang menjadi seorang Presiden Direktur yang sukses. Dia merasa kesuksesan pada saat ini adalah berkat bantuan sepasang suami istri ini. Jika mereka tidak membantunya, dia tidak mungkin akan dapat menyelesaikan kuliahnya dan menjadi sesukses sekarang.

Setelah berbincang-bincang, suami istri ini pamit hendak meninggalkan kantornya. Pemuda ini berdiri dari kursi Direkturnya dan dengan membungkuk dalam-dalam ia berkata kepada mereka, "Bersemangat ya! Di kemudian hari perusahaan tergantung kepada kalian. Sampai bertemu besok!"

Kebaikan hati dan balas budi selamanya dalam kehidupan manusia adalah suatu perbuatan indah dan yang paling mengharukan. Terharu? Ayo, jangan sungkan untuk berbuat baik hari ini... You never know what will happen tommorow.

"Karena itu, selama masih ada kesempatan bagi kita, marilah kita berbuat baik kepada semua orang." (Galatia 6:10) (Sumber: Milis Idaarimurti)

Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

*****************

Note:
Buku "Mukjizat Kehidupan" dapat dibeli di Toko Buku Gramedia di Grand Indonesia - Jakarta, yang baru diresmikan oleh Bapak Presiden SBY - Lantai 2 East Mall, di counter Buku Kristen - Kesaksian. Dapat discount 30% lho!

Monday, December 22, 2008

The Wisdom of Princess Qara

Putri Qara
Diceritakan bahwa Putri Qara adalah istri saudagar kaya Amenhotep, berasal dari keluarga sederhana, tapi pintar, bijaksana dan berbudi pekerti yang baik. Karena ia berasal dari keluarga yang lebih miskin dibanding dengan suaminya, ia sering diperlakukan dengan tidak selayaknya, sampai suatu hari ia dan suaminya pergi ke desa nelayan dan melihat ada seorang nelayan yang miskin dan istrinya. Nelayan tersebut sangat miskin dan bahkan untuk membeli jala yang baru untuk mengganti jalanya yang robek pun ia tidak mampu. Istri nelayan tersebut adalah orang yang pemboros, malas dan suka berjudi. Seluruh penghasilan suaminya digunakannya untuk berfoya-foya.

Melihat kenyataan seperti itu, Putri Qara berkata kepada suaminya, bahwa seharusnya istri nelayan tersebut membantu memperbaiki jala suaminya. Amenhotep, menentang pendapat istrinya, mereka berdebat, sehingga Amenhotep marah dan kemudian memanggil nelayan miskin tersebut. Amenhotep menukarkan Putri Qara dengan istri nelayan tersebut.

Putri Qara sedih karena terhina, suaminya memperlakukan seolah-olah dia adalah barang yang bisa dipertukarkan semaunya. Sang nelayan tertegun dan tidak berani membantah, karena Amenhotep terkenal kejam dan sadis karena kekayaannya.

Putri Qara rajin membantu suaminya yang baru dalam bekerja. Karena kepandaian dan kebijaksanaan Putri Qara, lambat laun sang nelayan menjadi kaya. Sampai suatu ketika ada seorang tua dengan baju compang-camping dan tidak terurus datang ke rumah Putri Qara, pelayan di rumah tersebut mengenalinya sebagai Amenhotep. Amenhotep kemudian melepas terompahnya dan meletakkan di meja kecil di sudut rumah Putri Qara. Oleh pelayan, terompah tersebut diberikan pada Putri Qara dan menceritakan kondisi pemiliknya, sang Putri mengenali terompah tersebut dan memerintahkan pelayannya untuk memberikan pada Amenhotep baju baru, terompah baru dan 3 keping uang emas ditambah pesan: "Aku tidak diwarisi kekayaan tetapi budi pekerti, kebijaksanaan dan kemauan untuk bekerja."

Amenhotep menerima pemberian itu dengan penyesalan akan tindakannya di masa lalu, karena egonya dia menukar istrinya yang baik dan bijaksana dengan seorang wanita yang hanya bisa menghamburkan harta suaminya.

Cerita tersebut sederhana, tapi menyentuh karena ternyata begitu besar pengaruh seorang istri untuk suaminya.

Oleh karenanya, hai wanita dampingi dan dukunglah pria dengan bijaksana, dan hai pria perlakukanlah wanita dengan penuh kasih, karena pada setiap pria yang sukses pasti terdapat seorang wanita yang mendukungnya dengan bijaksana. Sumber: Mutiarahati. Sumber: Milis Tetangga

Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

To Be a Blessing to the Nations

Pada 11 April 2008 yang lalu saya memposting kisah seorang hamba Tuhan dari Bontang yang menderita Stevan Johnson Syndrom:

Sembuh Dari Sakit Stevan Johnson Syndrome
Tadi siang saya mendengarkan kesaksian yang luar biasa tentang seorang hamba Tuhan yang diselamatkan dari sebuah penyakit yang dikenal dengan "Stevan Johnson Syndrome". Pada suatu hari Samuel menderita sakit perut dan mata. Dia menelan pil untuk sakit perutnya dan ketika ke dokter mata diberi obat lagi. Setelah minum obat itu ternyata fatal akibatnya. Matanya buta, kulit di seluruh tubuhnya melepuh dan mengelupas semua. Mulut, gusi, bibirnya juga melepuh. Ia dibawa ke Surabaya. Di rumah sakit ia hanya terbaring tak berdaya. Selama tiga bulan itu dia tidak bisa gosok gigi juga. Harapan sangat tipis bagi kesembuhan dari penyakit ini.

Menurut pengakuannya ia menderita penyakit ini karena telah melarikan diri dari pelayanan. Ia pernah mengucapkan nazar untuk melayani Tuhan sepenuh waktu, namun karena ingin menikah dengan seorang perempuan, ia meninggalkan pelayanan dan mencari uang sebanyak-banyaknya untuk membahagiakan calon isterinya. Ketika ia bertobat dan memperbarui komitmennya untuk melayani, ia disembuhkan secara ajaib. Setelah tiga bulan tidak dapat gosok gigi, akibatnya salah satu giginya berlubang. Untuk mencabut gigi itu, dokter gigi tidak berani memberikan anestesi karena khawatir membahayakan kesehatannya. Jadinya Samuel dicabut gigi tanpa pembiusan. Karena kasih karunia Tuhan, proses cabut gigi itu dapat berlangsung lancar.

Namun sejak itu matanya tidak memiliki air mata dan penglihatannya kabur. Setiap 15 menit ia harus ditetesi obat mata karena matanya kering dan merah apabila tidak diberi tetes mata itu. Selama 10 tahun ini ia telah mengeluarkan dana sekitar Rp. 1,3 milyar untuk biaya obat tetes mata seharga US$ 24 per botol yang hanya bisa dibeli di Singapura atau di USA. Airmata buatan dalam botol itu akan habis dalam waktu 3 hari.


Hari Minggu kemarin saya berkesempatan ngobrol-ngobrol dengan Pdt. Samuel Irwan. Banyak kesaksian yang luar biasa telah dialami hamba Tuhan ini.

Menjadi Berkat Bagi Bangsa-Bangsa
Penyakit Stevan Johnson Syndrome ternyata banyak melanda orang Kenya. Semua orang yang terkena penyakit ini dipastikan akan meninggal karena sampai saat ini tidak ada obat yang dapat menyembuhkan penyakit aneh ini. Dengan mukjizat kesembuhan yang dialaminya, orang-orang yang menderita sakit ini memiliki harapan kesembuhan dari Tuhan.

Pada suatu hari ia akan check in penerbangan di Changi Airport, Singapura. Karena antrian panjang, ia menggunakan teropong untuk melihat papan pengumuman yang jaraknya jauh, untuk memastikan apakah ia berada di antrian yang benar. Ketika meneropong itulah, seorang petugas keamanan bandara menegurnya.
"Hei, kenapa kamu menggunakan kamera di sini? Dilarang, tahu!" katanya kasar.
"Maaf, tuan, ini bukan kamera tapi binocular"
"Kenapa pake binocular?" kata petugas keturunan India yang nampaknya masih marah.
"Saya tidak bisa melihat dengan jelas. Penglihatan saya kabur. Mata kanan saya hanya melihat 20% saja, mata kanan 60%. Setiap 15 menit saya harus meneteskan airmata buatan ini, kalau tidak mata saya akan lengket dan tak dapat dibuka."

"Oh, begitu. Kenapa sih anda mengalami hal itu?" kata petugas itu mulai melunak.
"Saya pernah hampir mati karena Stevan Johnson Syndrome. Lihat foto-foto saya nih," kata Pdt. Samuel sambil menyorongkan HP yang berisi foto-foto semasa seluruh tubuhnya melepuh dari ujung kepala sampai ujung kaki, seperti orang terbakar.

Petugas keturunan India itu mengamati foto-foto yang mengerikan itu dengan heran. "Koq, orang yang hampir mati seperti itu, sekarang bisa ada di depannya?" katanya di dalam hati.

"Bagaimana anda bisa selamat dari penyakit ini?"

Mulailah Samuel menceritakan kisahnya yang luar biasa kepada petugas ini. Setelah diceritakan, petugas itu bertanya,
"Apakah saya juga bisa ditolong Tuhan, seperti halnya anda?"
"Memangnya kenapa?"
"Tahu tidak, tadi malam saya dan isteri saya bertengkar hebat. Kami punya masalah besar dalam keluarga."
"Oh, pantas saja tadi anda marah-marah kepada saya."
"Ya, maafkan saya."

Setelah petugas sekuriti bandara Changi ini dilayani konseling dan didoakan, orang India berbadan tinggi besar ini menangis. "Terima kasih, ya. Sekarang saya merasa ada damai di hati saya. Saya tidak takut lagi menghadapi masalah di dalam keluarga saya, karena Tuhan Yesus sudah tolong saya. Mari saya bantu anda untuk check in."

Petugas itu dengan sigap membawa tas jinjing Pdt. Samuel dan bersama-sama maju ke depan konter check in.
"Permisi, ada tamu khusus mau check in." katanya kepada petugas penerbangan.

Pdt. Samuel tidak usah lama-lama antri, karena ada orang yang diutus Tuhan untuk membereskan urusan check in. Petugas sekuriti itu tadinya beragama lain, namun setelah mendengar kesaksian Pdt. Samuel, ia boleh mengenal Tuhan Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat pribadinya. (Bersambung) - Ditulis oleh Hadi Kristadi untuk http://pentas-kesaksian.blogspot.com - mohon keterangan ini jangan dihilangkan ketika anda memforward atau mempostingnya dalam website/blog anda - terima kasih.

Ditulis oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Friday, December 19, 2008

"Mukjizat Kehidupan"

Buku Mukjizat Kehidupan
Kemarin sore masuk SMS dari seseorang yang memesan buku "Mukjizat Kehidupan" kepada saya. Karena alamat rumahnya dekat dari rumah, maka saya bermaksud mengirimkan buku pesanan itu ke rumahnya.

Karena saya kurang paham letak jalannya dimana, saya menghubungi Bapak Suheryanto pagi tadi. Ternyata ia sedang berada di RS Pondok Indah untuk medical check up. Akhirnya kami janjian ketemu di sana pagi tadi. Kami lalu ngobrol di kantin RS tersebut.

Ia bercerita bahwa seseorang mengirimkan email kepadanya tentang buku "Mukjizat Kehidupan" dan entah bagaimana SMS untuk pesanan buku itu belum dikirimkan. Ketika kemarin ia melihat di Blackberrynya tentang pemesanan buku itu, ia segera memforwardnya kepada saya.

Dari ceritanya ia telah melayani di GKI Pondok Indah selama hampir 15 tahun, khususnya di bidang pembinaan pernikahan. Melalui retreat semacam "Marriage Encounter" ia melihat banyak pasangan suami isteri yang sudah suam-suam kuku dalam hal hubungan suami isteri, akhirnya diperkuat kembali komitmennya dan digairahkan kembali kehidupan pernikahannya.

General Manager di sebuah perusahaan telekomunikasi raksasa di negeri ini, dan salah seorang anggota pengurus Yayasan Sekolah Kristen di bilangan Pondok Indah ini juga menceritakan bagaimana para pengurus Yayasan meningkatkan mutu sekolah dengan kurikulum Nasional Plus, sehingga di awal tahun pelajaran di SMP itu para pelajar boleh mengikuti les peningkatan kemampuan berbahasa Inggeris secara gratis selama tiga bulan.

Eksekutif lulusan Sekolah Tinggi Teknik di Jerman ini juga menceritakan bahwa di sekolah itu bebas dari "bullying", atau pemerasan/penindasan dari sesama murid terhadap murid lainnya. Caranya? Ketika ada pelajar yang merupakan putera seorang pengurus Yayasan melakukan "bullying", pihak sekolah dengan tegas memecat anak tersebut. Memang masalah "bullying" ini banyak menghantui para pelajar di sekolah-sekolah tertentu yang tidak tegas mengatasi masalah itu.

Yah, dari soal buku "Mukjizat Kehidupan" saya boleh banyak berkenalan dengan orang-orang baru. Puji Tuhan!

Ditulis oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

A Bowl of Hot Noodle

Semangkuk Bakmi Panas
Pada malam itu Ana bertengkar dengan ibunya. Karena sangat marah, Ana segera meninggalkan rumah tanpa membawa apapun. Saat berada di jalan, ia baru menyadari bahwa ia sama sekali tidak membawa uang.

Saat menyusuri sebuah jalan, ia melewati sebuah kedai bakmi dan ia mencium harumnya aroma masakan. Ia ingin sekali memesan semangkuk bakmi, tetapi ia tidak mempunyai uang. Pemilik kedai melihat Ana berdiri cukup lama di depan kedainya, lalu berkata,
"Nona, apakah engkau ingin memesan semangkuk bakmi?"
"Ya, tetapi, aku tidak membawa uang," jawab Ana dengan malu-malu.
"Tidak apa-apa, aku akan mentraktirmu," jawab si pemilik kedai.
"Silahkan duduk, aku akan memasakkan bakmi untukmu."
Tidak lama kemudian, pemilik kedai itu mengantarkan semangkuk bakmi. Ana segera makan beberapa suap, kemudian air matanya mulai berlinang."

“Ada apa nona?" tanya si pemilik kedai.
"Tidak apa-apa. Aku hanya terharu,” jawab Ana sambil mengeringkan air matanya. Bahkan, seorang yang baru kukenal pun memberi aku semangkuk bakmi, tetapi ibuku sendiri, setelah bertengkar denganku, mengusirku dari rumah dan mengatakan kepadaku agar jangan kembali lagi ke rumah.

"Kau, seorang yang baru kukenal, tetapi begitu peduli denganku dibandingkan dengan ibu kandungku sendiri," katanya kepada pemilik kedai. Setelah pemilik kedai itu mendengar perkataan Ana, ia menarik nafas panjang dan berkata, "Nona, mengapa kau berpikir seperti itu? Renungkanlah hal ini, aku hanya memberimu semangkuk bakmi dan kau begitu terharu. Ibumu telah memasak makanan untukmu sejak kau kecil sampai saat ini, mengapa kau tidak berterima kasih kepadanya? Dan kau malah bertengkar dengannya."

Ana terhenyak mendengar hal tersebut. "Mengapa aku tidak berpikir tentang hal tersebut sebelumnya? Untuk semangkuk bakmi dari orang yang baru kukenal, aku begitu berterima kasih, tetapi kepada ibuku yang memasak untukku selama bertahun-tahun, aku bahkan tidak memperlihatkan kepedulianku kepadanya. Dan hanya karena persoalan sepele, aku bertengkar dengannya. Ana segera menghabiskan bakminya, lalu mengucapkan banyak terima kasih kepada pemilik kedai itu. Ia menguatkan dirinya untuk segera pulang ke rumahnya.

Saat berjalan ke rumah, ia memikirkan kata-kata yang harus diucapkan kepada ibunya. Begitu sampai di ambang pintu rumah, ia melihat ibunya dengan wajah letih dan cemas. Ketika bertemu dengan Ana, kalimat pertama yang keluar dari mulut ibunya adalah: "Ana, kau sudah pulang? Cepat masuklah, aku telah menyiapkan makan malam dan makanlah dahulu sebelum kau tidur. Makanan akan menjadi dingin jika kau tidak memakannya sekarang." Pada saat itu Ana tidak dapat menahan tangisnya dan ia menangis di hadapan ibunya.

Sekali waktu kita mungkin akan sangat berterima kasih kepada orang lain di sekitar kita untuk suatu pertolongan kecil yang diberikan kepada kita. Tetapi kepada orang yang sangat dekat dengan kita, khususnya orang tua kita, kita harus ingat bahwa kita berterima kasih kepada mereka seumur hidup kita. (Sumber: Milis Sahabat Kristen)

Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Thursday, December 18, 2008

The Lost Manger

Seorang anak muda pernah menulis sebuah naskah drama Natal berjudul "Palungan Yang Hilang". Drama itu menceritakan tentang persiapan perayaan Natal yang sangat meriah. Pernak-pernik Natal terlihat menghiasi kota. Pita serta lampu warna warni semakin menyemarakkan perayaan Natal yang akan dilangsungkan.

Semua orang bersukacita, tetapi tiba-tiba keceriaan mereka berubah menjadi kepanikan. Apa gerangan yang terjadi? Ternyata palungan yang dianggap sebagai simbol kehadiran Tuhan Yesus raib dari tempatnya. Panitia kalang kabut. Bagaimana mungkin merayakan Natal tanpa palungan? Mulailah mereka mencari-cari palungan itu. Siapa gerangan yang telah mengambilnya? Semua wargapun ikut larut dalam kepanikan dan akhirnya merekapun turun tangan membantu menemukan palungan yang hilang tersebut.

Tak lama kemudian mereka menemukan palungan itu. Kali ini mereka terkejut untuk kedua kalinya. Ternyata palungan itu ditemukan di rumah seorang janda miskin. Ia tak dapat membeli peti mati untuk anaknya yang meninggal, sehingga ia meletakkan mayat anaknya di dalam palungan.

Kejadian yang ada di depan mata para penduduk itu merombak secara total konsep mereka tentang perayaan Natal. Kekesalan karena palungan diambil oleh janda itu serta merta lenyap dari antara mereka. Semua anggota panitia perayaan Natal akhirnya memutuskan untuk merayakan Natal di rumah sang janda, bukan dalam kemewahan dan gemerlapnya lampu-lampu serta pernak-pernik Natal, tetapi dalam ketiadaan. Mereka akhirnya mengerti bahwa Natal sesungguhnya adalah bagaimana kita merasakan kehadiran Sang Juruselamat yang datang membawa pengorbanan diri-Nya. (Sumber: Manna Sorgawi edisi Desember 2008, diposting oleh Hadi Kristadi untuk http://pentas-kesaksian.blogspot.com)

Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

******

Note:
Terima kasih atas pesanan buku "Mukjizat Kehidupan" oleh Bpk. Suheryanto T. dari Jakarta.

Wednesday, December 17, 2008

A Miracle in Turkey

During one of the meetings, the son of Pastor Sasho fell down from the second floor of the church and became strangled by a electric cable. He was hanging there for several minutes. After hanging on the electric cable he fell down with his head down on a hard cement floor. All his bones broke in the back of his head. The women that noticed the incident first ran to Sasho´s wife and screamed: “Your son is dying. Your son is dying.” The usual reaction for a mother, in a situation like this, would be very tough, but Sasho´s wife answers peacefully and full with faith: "If it is mine it is mine, if it is God’s it is God´s. I will first finish my prayer and then I will go to see him."

They took their son, that was unconcious, to the doctor. The doctor’s first words was: “There is no hope, he will die any second. The X-rays shows that all the bones in the back of the head are totally broken. It is a miracle that he have not died still.” The doctor told them to come back again the following day and the church started to pray and fasted for him.

Then, on their way back to the doctor, the second day, Cem, the little boy, said, “Mother, I hear a voice.” She looked around, but saw no one around them and answered him wondering, “My son, there is no one here.” He heard him a second time, but he did not get the attention from his mother like the first time and as he wanted. Then at the third time, Cem´s mother answered, “Tell me, what is the voice saying to you?” He answered, “My son, My son, tomorrow you will be healed.”

When they arrived to the doctor, the doctors later told them to come back tomorrow for a final examination. And when they arrived, the doctors started the examination on the boy. He looked on Sasho´s wife, the mother of Cem, and said, “This can not be the same boy. You took the wrong boy.”

“No,” the mother said, “He is the same boy”.

“But we can't see any broken bones or damages in his head anymore. Who have done this? This can't happen! It is not possible.”

His mother answered with a smile on her face (because she remembered the voice that her son heard), “Jesus Christ must have done it.” All the doctors that whas involved in the examination repented and received Jesus Christ as their personal Savior. Sumber: Turkish Revival.

Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Tuesday, December 16, 2008

The Love of A Mother

Alkisah di sebuah desa, seorang ibu yang sudah tua hidup berdua dengan anak satu-satunya. Suaminya sudah lama meninggal karena sakit. Sang ibu sering kali merasa sedih memikirkan anak satu-satunya. Anaknya mempunyai tabiat yang sangat buruk, yaitu suka mencuri, berjudi, mengadu ayam dan banyak lagi.

Ibu itu sering menangis meratapi nasibnya yang malang. Ia sering berdoa, "Tuhan, tolong sadarkan anakku yang kusayangi, supaya tidak berbuat dosa lagi. Aku sudah tua dan ingin menyaksikan dia bertobat sebelum aku mati."

Namun semakin lama si anak semakin larut dengan perbuatan jahatnya, sudah sangat sering ia keluar masuk penjara karena kejahatan yang dilakukannya.

Pada suatu hari ia kembali mencuri, merampok, dan membunuh seseorang di desa itu. Namun malang dia tertangkap. Kemudian dia dibawa ke hadapan raja untuk diadili, dan akhirnya ia dijatuhi hukuman pancung. Pengumuman itu diumumkan ke seluruh desa, hukuman akan dilakukan keesokan hari di depan rakyat desa dan tepat pada saat lonceng berdentang menandakan pukul enam pagi.

Berita hukuman itu sampai ke telinga si ibu. Dia menangis meratapi anak yang dikasihinya dan berdoa berlutut kepada Tuhan, "Tuhan ampuni anak hamba, biarlah hamba yang sudah tua ini yang menanggung dosa nya." Dengan tertatih-tatih dia mendatangi raja dan memohon supaya anaknya dibebaskan, dan dirinya bersedia menggantikan anaknya untuk dihukum mati. Tapi keputusan sudah bulat, anaknya harus menjalani hukuman.

Dengan hati hancur, si ibu kembali ke rumah. Tak hentinya dia berdoa supaya anaknya diampuni, dan akhirnya dia tertidur karena kelelahan. Dan dalam mimpinya dia bertemu dengan Tuhan.

Keesokan harinya, ditempat yang sudah ditentukan, rakyat berbondong-bondong menyaksikan hukuman tersebut. Sang algojo sudah siap dengan pancungnya dan anak sudah pasrah dengan nasibnya. Terbayang di matanya wajah ibunya yang sudah tua, dan tanpa terasa ia menangis menyesali perbuatannya. Detik-detik yang dinantikan akhirnya tiba.

Sampai waktu yang ditentukan tiba, lonceng belum juga berdentang. sudah lewat lima menit dan suasana mulai berisik, akhirnya petugas yang bertugas membunyikan lonceng datang. Ia mengaku heran karena sudah sejak tadi dia menarik tali lonceng tapi suara dentangnya tidak ada. Saat mereka semua sedang bingung, tiba-tiba dari tali lonceng itu mengalir darah. Darah itu berasal dari atas tempat di mana lonceng itu diikat. Dengan jantung berdebar-debar seluruh rakyat menantikan saat beberapa orang naik ke atas menyelidiki sumber darah.

Tahukah anda apa yang terjadi? Ternyata di dalam lonceng besar itu ditemui tubuh si ibu tua dengan kepala berlumuran darah. Dia memeluk bandul di dalam lonceng yang menyebabkan lonceng tidak berbunyi, dan sebagai gantinya, kepalanya yang terbentur di dinding lonceng. Seluruh orang yang menyaksikan kejadian itu tertunduk dan meneteskan air mata.

Sementara si anak meraung raung memeluk tubuh ibunya yang sudah tewas diturunkan. Ia menyesali dirinya yang selalu menyusahkan ibunya. Ternyata malam sebelumnya si ibu dengan susah payah memanjat ke atas dan mengikat dirinya di lonceng. Memeluk besi dalam lonceng untuk menghindari hukuman pancung anaknya. Demikianlah sangat jelas kasih seorang ibu untuk anaknya. Betapapun jahat si anak, ia tetap mengasihi sepenuh hidupnya. Sumber: Milis Rohani.

Anak yang bijak mendatangkan sukacita kepada ayahnya, tetapi anak yang bebal adalah kedukaan bagi ibunya. (Amsal 10:1)

Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN http://pentas-kesaksian.blogspot.com. Silakan forward kepada orang-orang yang anda kasihi agar kita semua mengasihi orang tua kita.

Kesaksian Pembaca Buku "Mukjizat Kehidupan"

Pada tanggal 28 Oktober 2009 datang SMS dari seorang Ibu di NTT, bunyinya:
"Terpujilah Tuhan karena buku "Mukjizat Kehidupan", saya belajar untuk bisa mengampuni, sabar, dan punya waktu di hadirat Tuhan, dan akhirnya Rumah Tangga saya dipulihkan, suami saya sudah mau berdoa. Buku ini telah jadi berkat buat teman-teman di Pasir Panjang, Kupang, NTT. Kami belajar mengasihi, mengampuni, dan selalu punya waktu berdoa."

Hall of Fame - Daftar Pembaca Yang Diberkati Buku Mukjizat Kehidupan

  • A. Rudy Hartono Kurniawan - Juara All England 8 x dan Asian Hero
  • B. Pdt. DR. Ir. Niko Njotorahardjo
  • C. Pdt. Ir. Djohan Handojo
  • D. Jeffry S. Tjandra - Worshipper
  • E. Pdt. Petrus Agung - Semarang
  • F. Bpk. Irsan
  • G. Ir. Ciputra - Jakarta
  • H. Pdt. Dr. Danny Tumiwa SH
  • I. Erich Unarto S.E - Pendiri dan Pemimpin "Manna Sorgawi"
  • J. Beni Prananto - Pengusaha
  • K. Aryanto Agus Mulyo - Partner Kantor Akuntan
  • L. Ir. Handaka Santosa - CEO Senayan City
  • M. Pdt. Drs. Budi Sastradiputra - Jakarta
  • N. Pdm. Lim Lim - Jakarta
  • O. Lisa Honoris - Kawai Music Shool Jakarta
  • P. Ny. Rachel Sudarmanto - Jakarta
  • Q. Ps. Levi Supit - Jakarta
  • R. Pdt. Samuel Gunawan - Jakarta
  • S. F.A Djaya - Tamara Jaya - By Pass Ngurah Rai - Jimbaran - Bali
  • T. Ps. Kong - City Blessing Church - Jakarta
  • U. dr. Yoyong Kohar - Jakarta
  • V. Haryanto - Gereja Katholik - Jakarta
  • W. Fanny Irwanto - Jakarta
  • X. dr. Sylvia/Yan Cen - Jakarta
  • Y. Ir. Junna - Jakarta
  • Z. Yudi - Raffles Hill - Cibubur
  • ZA. Budi Setiawan - GBI PRJ - Jakarta
  • ZB. Christine - Intercon - Jakarta
  • ZC. Budi Setiawan - CWS Kelapa Gading - Jakarta
  • ZD. Oshin - Menara BTN - Jakarta
  • ZE. Johan Sunarto - Tanah Pasir - Jakarta
  • ZF. Waney - Jl. Kesehatan - Jakarta
  • ZG. Lukas Kacaribu - Jakarta
  • ZH. Oma Lydia Abraham - Jakarta
  • ZI. Elida Malik - Kuningan Timur - Jakarta
  • ZJ. Luci - Sunter Paradise - Jakarta
  • ZK. Irene - Arlin Indah - Jakarta Timur
  • ZL. Ny. Hendri Suswardani - Depok
  • ZM. Marthin Tertius - Bank Artha Graha - Manado
  • ZN. Titin - PT. Tripolyta - Jakarta
  • ZO. Wiwiek - Menteng - Jakarta
  • ZP. Agatha - PT. STUD - Menara Batavia - Jakarta
  • ZR. Albertus - Gunung Sahari - Jakarta
  • ZS. Febryanti - Metro Permata - Jakarta
  • ZT. Susy - Metro Permata - Jakarta
  • ZU. Justanti - USAID - Makassar
  • ZV. Welian - Tangerang
  • ZW. Dwiyono - Karawaci
  • ZX. Essa Pujowati - Jakarta
  • ZY. Nelly - Pejaten Timur - Jakarta
  • ZZ. C. Nugraheni - Gramedia - Jakarta
  • ZZA. Myke - Wisma Presisi - Jakarta
  • ZZB. Wesley - Simpang Darmo Permai - Surabaya
  • ZZC. Ray Monoarfa - Kemang - Jakarta
  • ZZD. Pdt. Sunaryo Djaya - Bethany - Jakarta
  • ZZE. Max Boham - Sidoarjo - Jatim
  • ZZF. Julia Bing - Semarang
  • ZZG. Rika - Tanjung Karang
  • ZZH. Yusak Prasetyo - Batam
  • ZZI. Evi Anggraini - Jakarta
  • ZZJ. Kodden Manik - Cilegon
  • ZZZZ. ISI NAMA ANDA PADA KOLOM KOMENTAR UNTUK DIMASUKKAN DALAM DAFTAR INI