Search This Blog

Friday, October 31, 2008

A Blessed Youth Pastor To Bless Young Generation

Kemarin siang isteri saya mengikuti Persekutuan Doa di sebuah rumah sangat mewah di bilangan Pondok Indah. Pemiliknya adalah seorang usahawan di bidang entertainment yang mendatangkan artis, group band dari mancanegara. Pembicara di PD itu adalah Pdt. Nala Widya. Menurut isteri saya khotbah pendeta muda itu cukup hidup.

Dalam PD itu Pdt. Nala Widya menceritakan betapa kasih karunia Tuhan melimpah ketika mereka membeli dan membangun gedung gereja di Bandung. Ia digerakkan Tuhan untuk membeli 4 unit ruko, sementara kebanyakan jemaatnya adalah anak-anak muda, anak-anak sekolah, anak-anak kampus. Tentu dana besar untuk pembelian dan pembangunan gereja tidak dapat terlalu diharapkan dari mereka. Namun Pdt. Nala Widya tetap percaya bahwa pertolongan Tuhan akan datang tepat pada waktunya.

Akhirnya waktu untuk melunasi pembayaran keempat unit ruko itu sudah hampir jatuh tempo, namun uang kas gereja sama sekali tidak memadai. Yang luar biasa, akhirnya Tuhan menggerakkan Angelique Wijaya, petenis wanita, yang memenangkan suatu pertandingan tenis untuk menyumbangkan sebagian (50%) hadiah yang didapatnya bagi pelunasan ruko itu. Pas pada hari H untuk pembayaran ruko itu, Pdt. Nala Widya mendatangi pemilik ruko dengan uang cash dari Angelique. Sang pemilik bertanya-tanya dari mana uang itu. "Dari Tuhan!" jawab Pdt. Nala dengan mantap.

Berikut ini saya turunkan kisah lebih lengkap tentang pendeta muda itu yang saya peroleh dari GPdI Beth Eden:

KISAH TENTANG NALA WIDYA
Masih muda, bahkan di usia yang baru 25 tahun Nala Widya sudah dipilih untuk menggembalakan GBI El Shaddai di Bandung. Hamba Tuhan muda ini dekat dengan anak-anak muda. Gaya khotbahnya boleh santai, tapi melalui hidupnya Tuhan memakai Nala Widya untuk memenangkan generasi muda yang bobrok. Remaja berlatar belakang apapun dengan segala tingkah laku dan penampilan yang luar biasa, dibawanya mengenal Kristus. Mantan atlet balap sepeda ini kini hidup dengan istrinya, Lydia, di Bandung.

Masa kanak-kanak Anda bagaimana?
Papa saya adalah seorang tentara di rumah maupun di kantor. Papa saya dinas di Pangkalan TNI AU Husein Sastranegara, Bandung. Orang tua saya menikah tanpa persetujuan Opa karena papa seorang tentara. Latar belakang mama saya adalah anak orang kaya yang dibuang karena kawin dengan papa saya. Sejak kecil saya tinggal bersama Opa di Jakarta karena mama masih kuliah di ITB, Bandung. Hal ini membuat saya merasa seperti dibuang.

Pada tahun 1972 saya pindah ke Bandung dan menemukan adik yang lahir tahun 1971. Ada perasaan dibuang dan disingkirkan. Buat anak kecil itu sangat sensitif sekali. Makanya saya sangat keras mengajar keluarga muda, jangan sampai waktu masih bayi, tidak ada mother touch terhadap anak-anak mereka. Soalnya saya sudah mengalaminya. Kalau dulunya di Jakarta saya hidup kayak anak raja, alias semua yang saya mau itu ada, setelah pindah ke Bandung hidup kami susah. Mama saya bekerja sebagai tukang keriting rambut keliling. Kami kenyang dengan yang namanya penolakan demi penolakan. Itu menimbulkan kepahitan yang mendalam.

Dulu papa saya adalah tipe bapak yang pembapaannya berat sebelah, sangat otoriter, tidak ada penghargaan. Anak dinilai berdasarkan prestasi. Itu yang membentuk karakter saya. Dia cuma bisa memukul dan marah. Tidak bisa memberi pengarahan.

Seperti apa dulunya?
Saya jadi tertutup, senang menyendiri, eksplosif dan ekstrovert. Kalau sedang marah saya bisa membanting barang-barang dan itu membentuk karakter kolerik kuat bagi saya, makanya karakter saya kolerik berat plus ada melankolisnya. Sifat seperti itu membuat saya sulit bisa bergaul dengan orang-orang lain, dan parahnya, sampai SMP kelas 2 pun saya masih ngompol. Sebetulnya tanpa sadar ini adalah bentuk pemberontakan.

Saat itu orang tua saya hanya berusaha bagaimana mencari uang lebih banyak agar hidup bisa lebih layak.

Rapor sekolah saya suka jelek. Saya harus les terus supaya naik kelas dan memang saya pernah tidak naik kelas. Sampai waktu tes IQ, dikira orang saya ini bodoh, padahal itu adalah bagian dari sikap pemberontakan saya, dan karena rasa ditolak, dan gambar diri saya yang rusak.

Untuk menutupi semuanya itu saya menjadi atlet balap sepeda. Saya berusaha keras supaya berhasil di bidang olahraga karena sekolah saya gagal. Istilahnya, mati-hidup saya ada di dunia balap sepeda. Terakhir saya ikut kejuaraan ASEAN di Malaysia, dan menjelang Pelatda untuk PON saya jatuh dan pipi saya robek, dijahit 11 jahitan.

Bagaimana kisah pertobatan Anda?
Saya bertobat di KKR atlet karena kesaksian Rudi Hartono. Terus sempat ada panggilan untuk melayani atlet, makanya saya mulai menginjili teman-teman di balap sepeda. Tahun 1988 saya ikut Olimpiade di Seoul. Jadi saya sempat pelayanan untuk atlet, juga ada konferensi pelayanan atlet sedunia di sana. Saya melihat bahwa pelayanan bukan hanya sekedar gereja, mimbar, khotbah, tapi di manapun Injil bisa diberitakan dan masing-masing orang bisa dipakai menurut track-nya.

Kenangan paling berkesan dengan papa?
Saya cuma bisa ingat waktu umur tujuh tahun, ulangan berhitung saya dapat 8, lalu oleh papa saya dibelikan jus alpukat. Saya tidak pernah bisa melupakan waktu dia menaruh tangannya di bahu saya. Tapi itu cuma terjadi sekali saja sampai saya berumur 33 tahun. Jadi kenangan itu benar benar dalam, impresif, dan seumur hidup membayang. Saya merasa saat itu papa bangga punya anak laki yang ulangannya dapat 8. Saya merasa sebagai anak saya berdaya guna. Dan itu sangat berharga. Kapan sih orang bikin salah lalu dirangkul? Tidak ada selain dalam Lukas 15, ketika anak hilang datang mengaku dosa, papanya merangkul dia.

Pemulihan dengan papa Anda bagaimana ceritanya?
Setelah bertobat terima Yesus tahun 1984, pada Natal 1985, Tuhan mau saya meminta maaf kepada orang tua saya karena saya sangat membenci mereka. Tapi saya lakukan walaupun sebetulnya luka hati terhadap papa tidak berhenti. Karena memang harus dua arah, dimana hati bapa berbalik kepada anak dan anak kepada bapa sesuai dengan nubuatan akhir jaman di Maleakhi 4.

Tapi dalam Lukas 1:17 hanya ditulis tentang hati bapa yang berbalik kepada anaknya. Makanya orang tua juga perlu datang kepada anaknya. Pada tahun 1989 hubungan saya pulih total dengan mama. Tahun 1992 saya tinggalkan kuliah di ITB padahal saat itu saya mendapat 2 kali beasiswa, yaitu ke Jepang dan Stuttgard. Saya tahu papa berharap banget saya ambil beasiswa itu, tetapi saya sengaja tidak mau memenuhi harapannya karena tanpa sadar penyebabnya luka batin saya terhadap papa. Saya lari ke pelayanan yang saya akui itu salah! Jangan dicontoh dan tidak boleh terulang lagi di generasi sekarang. Ketika menikah tahun 1995, papa memutuskan hubungan dengan saya, bahkan dengan mama pun saya tidak boleh ketemu. Puji Tuhan 1997 hubungan saya dengan papa dipulihkan Tuhan secara total. Jadi saya baru punya seorang 'ayah baru' tiga tahun lalu.

Karena itu pelayanan Anda fokusnya ke hati Bapa?
Ya, karena saya tahu apa arti Bapa. Pelayanan saya banyak kali gagal karena saya tidak punya hati Bapa. Dalam awal pelayanan, saya masih punya banyak sekali barisan sakit hati dan orang-orang terluka hati karena tindakan dan kata-kata saya sangat tidak membapaki. Itu melukai orang dan saya sadar saya jadi begitu karena saya sendiri tidak pernah dibapaki. Sampai Tuhan menolong saya lewat hamba-hamba Tuhan yang kira-kira tiga tahun lalu mulai mengalirkan kasih. Kalau saya bikin kesalahan, mereka tetap meng-cover dan memeluk saya. Itu yang menyembuhkan. Cara pandang saya berubah apabila melihat orang bikin salah. Tidak lagi dihakimi tapi ditemani dan dirangkul.

Apa yang Anda ingin lakukan setiap bangun tidur?
Jangan sampai sedetikpun terlewat tanpa kamu lakukan hal yang berdampak, prinsip saya maksimalkan waktu dan gunakan sebaik-baiknya. Saya memaksimalkan hidup agar jangan banyak waktu terbuang percuma.

Kapan Anda merasa sangat dekat dengan Tuhan?
Saat saya bikin salah dan saat merasa dihakimi, ditinggalkan orang habis-habisan. Tuhan tidak pernah membuang saya. Dan itu waktu yang sangat berharga buat saya. Kondisi dimana saya tidak menjadi kecewa dan saya tidak boleh kecewa. Saya memang punya kelemahan dan kalau kelemahan itu disorot dan dibantai orang, maka saya harus melihat ada satu figure yang tidak pernah membantai saya tapi justru memeluk saya. Dan kalau memang saya salah, Ia selalu men-support saya untuk bangkit lagi, yaitu Bapa di Sorga. Pernah saya mengalami satu keterpurukan yang parah akibat dihakimi terlalu dalam, sehingga gambar diri saya hampir berantakan lagi. Tapi detik-detik itu Tuhan banyak berbicara. Pemulihan bukan dari manusia, tapi Tuhan sendiri yang memulihkan saya.

Apa yang Anda lakukan saat dalam pergumulan berat?
Beberapa waktu lalu saya mengalaminya dan rekan-rekan suruh saya ambil off dulu untuk membiarkan Tuhan bicara sesuatu mengenai sisi-sisi yang saya tidak ketahui. Saya pergi ke Salatiga selama 1 bulan. Ini baru saya lakukan sekali dalam hidup. Dalam masa berdiam diri, saya baru tahu bahwa saya masih seorang pemberontak. Tuhan membukakan tentang kepemimpinan saya yang salah, keputusan-keputusan yang salah, dll.

Dari sini juga Tuhan berbicara bahwa ada masa dimana kita perlu retret. Tapi retret yang bukan diprogram, tapi benar-benar hanya waktu kita dengan Tuhan. Saya enjoy sekali punya waktu sendirian. Pagi-pagi saya bangun untuk lari pagi, merenung sendiri dan mendengar Tuhan bicara banyak hal tentang hidup saya. Saya mengerti kalau saya ditekan banyak hal, saya justru punya banyak waktu dengan Tuhan. Jadi setiap tekanan yang diijinkan itu ada maksud Tuhan, bukan karena Tuhan jahat.

Siapa bapak rohani yang berpengaruh dalam kehidupan rohani Anda?
Dulu saya suka khotbah memakai jeans dan semua orang mengkritik dan menolak saya. Tapi ada seseorang yang perhatian dan mau membimbing saya, namanya Daniel Alexander. Dia tidak pernah menolak saya kalau saya pakai jeans. Dia menerima saya apa adanya. Tapi tidak jarang saya juga dimarahinya dari mimbar, tapi saya tahu motivasinya tulus dan mengasihi, tidak ada yang lain. Dia banyak sekali memberi arahan, termasuk ketika saya mulai melangkah hidup berjemaat, apa yang harus dibuat.

Yang kedua, saya belajar apa arti memberi diri bagi Tuhan itu dari Samiton Pangelah.

Ketiga, saya belajar mengerti prinsip-prinsip dasar dalam karakter, kehidupan, dan kekudusan dari Pdt. Simamora. Saya harus mengakui bahwa ketiga orang ini berdampak besar bagi hidup saya, meletakkan dasar-dasarnya. Ya, tidak lupa, yang membentuk saya juga dengan nilai-nilai yang seperti sekarang dan menjadi pribadi seperti dia, yaitu papa saya sendiri.

Apa kerinduan Anda saat ini?
Saya ingin bisa menjadi rasul bagi generasi ini dimana hidup saya benar-benar memberi dampak. Saya rindu untuk bisa menjadi satu pribadi yang boleh memulai sesuatu bagi generasi ini. Kalaupun saya dikenal, biarlah mereka kenal saya sebagai orang yang memulai satu pelayanan bagi generasi. Karena saya rindu melihat youth church (gereja anak muda, red) di Indonesia mulai berdampak dalam youth church di Asia. Saya melihat gereja-gereja baru yang bangkit dengan warna dan model yang berbeda. Saya ingin mempunyai Youth Training Center yang betul-betul bisa melatih, berfungsi secara profetik dan apostolik untuk youth church tadi.

Pesan untuk anak muda?
Jangan memandang kekurangan atau kelemahan orang tua kalian, tapi mulai sadar bahwa kita punya Bapa di Sorga yang melebihi apa yang bisa kita harapkan dari orang tua kita. Ketika saya belajar menerima orang tua apa adanya, maka mata saya mulai terbuka bahwa betapa banyak nilai yang sebenarnya papa berikan kepada saya. Saya melihat dia dengan seragamnya dan betapa saya bangga terhadap dia. Saya baru sadar bahwa cara saya mengambil keputusan, cara saya berpikir dan bagaimana saya terbentuk jadi pria yang tangguh, itu semua saya dapatkan dari papa. Papa saya adalah orang yang tidak menyerah terhadap kesulitan yang dia hadapi. (Sumber: GPdI Beth Eden dan telah diedit seperlunya supaya enak dibaca)

Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Thursday, October 30, 2008

Going Up The Mountains

Pada suatu hari seorang pria ditinggal mati isterinya yang telah menderita sakit lama.

Karena sangat depresi dan tak bersemangat hidup lagi tanpa isteri di sisinya, duda itu mengambil keputusan untuk mengakhiri hidupnya. Pada suatu pagi, ia meninggalkan catatan bunuh diri, lalu mendaki gunung. Ia berencana membuat dirinya kelaparan sampai mati. Ia hanya akan mengizinkan dirinya minum air dari aliran sungai pegunungan, tak ada yang lain.

Setelah beberapa minggu, pria itu melihat suatu perbedaan. Meskipun ia telah kehilangan berat badan, tidaklah ia mati kelaparan. Sebaliknya, ia tak pernah merasa lebih sehat dan lebih kuat dari sekarang ini. Banyak penyakit yang telah ia derita bertahun-tahun hilang begitu saja.

Setelah sebulan, pria ini "turun gunung" lagi dan wajahnya tampak bertahun-tahun lebih muda. Akhirnya ia menikah lagi dan memulai keluarga baru.

Teman-teman, berpuasa memiliki manfaat yang besar bagi kesehatan tubuh. Namun lebih besar lagi adalah manfaat bagi kerohanian kita dan kisah di atas memberikan analogi tentang apa yang terjadi pada jiwa kita.

Pada saat anda puasa, anda mendaki gunung doa dan minum hanya dari aliran-aliran air hidup. Jika anda melakukan puasa, anda membersihkan jiwa anda dari pada racun-racun yang berupa hal-hal negatif yang masuk lewat mata dan telinga anda, sehingga sesungguhnya anda akan menjadi lebih sehat dan lebih kuat. Dan anda akan "turun gunung" dengan kondisi yang diperbarui dan dipermuda. Cobalah!

*****

One day, a man lost his wife from a lingering disease.

Totally depressed and unwilling to live without his wife by his side, the widower decided to end it all. One morning, he left a suicide note, and went up the mountains. His plan was to starve to death. He would only allow himself to drink from the mountain streams, nothing else.

After a couple of weeks, the man noticed something. Though he had lost weight, he was not dying. On the contrary, he never felt healthier and stronger. Many ailments he suffered for years simply disappeared.

After a month, the man went down the mountain looking years younger. He eventually got married again and started a new family.

Friends, fasting has incredible physical benefits. But it has even greater spiritual benefits and the story above is a great analogy of what happens to our souls.

When you fast, you also go up the “mountain of prayer” and drink only from the “streams of living water.” When you do that, you cleanse your soul of toxins and actually become stronger. And you’ll go down that mountain spiritually rejuvenated. Let’s give it a try! (Bo Sanchez)

Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

****
Terima kasih atas pesanan buku "Mukjizat Kehidupan" dan buku "Berkat dan Kuasa IKAT JANJI" oleh Bpk. Simamora di Jakarta Timur. Buku-buku pesanan sudah dikirim dengan pos express tadi pagi. Mungkin besok sudah sampai. All the best...

Wednesday, October 29, 2008

The Evil of Unforgiveness

Saya teringat pada kisah lain yang diceritakan mas Jarot Wijanarko tentang jahatnya sikap tidak mau mengampuni. Ada seorang pria, katakanlah namanya Jack, dipenjara untuk jangka waktu 25 tahun di penjara terkenal, Alcatraz, Amerika Serikat. Ketika ia sudah menjalani masa tahanan selama 24,5 tahun, pengadilan akhirnya menemukan bahwa ternyata si Jack bukanlah pelaku pembunuhan yang sesungguhnya. Ia hanya menjadi korban gara-gara fitnahan seseorang.

Ketika ia dibebaskan dari Alcatraz saat itu juga, apa yang ada di kepalanya adalah membalas dendam kepada orang yang telah menyengsarakan hidupnya. Ia menyelidiki dan memburu pemfitnah itu dengan telaten. Ia menelusuri dari alamat ke alamat, dari negara bagian yang satu ke negara bagian yang lain. Akhirnya ia menemukan orang itu. Pikirnya, kalau ia membunuh orang ini, maka ia puas dan lega, walaupun dipenjara lagi. Toh, ia cuma akan menjalani hukuman 25 tahun untuk pembunuhan itu dan akan dipotong masa tahanan yang telah keliru dijalaninya selama 24,5 tahun. Pendek kata, ia tinggal menjalani tambahan hukuman cuma enam bulan saja.

Ketika pistol itu diledakkan di muka korbannya, Jack memandang korbannya dengan sangat puas. "Inilah orang yang membuatku tinggal di Alcatraz dengan sia-sia selama 24,5 tahun!" pikir Jack puas.

Ketika polisi menangkap Jack, pria itu tenang-tenang saja menyerahkan diri. Dan proses pengadilan menghukum Jack dengan ganjaran 50 tahun atas tuduhan pembunuhan berencana, dipotong masa tahanan 24,5 tahun, ia akan masih mendekam di Alcatraz selama 25,5 tahun lagi!

Mengapa banyak orang tidak melihat dan memilih pengampunan, alih-alih membalas dendam? Jika engkau tidak mau mengampuni, Bapa di Sorga juga tidak akan mengampuni engkau....

****
Terima kasih atas pesanan 2 (dua) buku "Mukjizat Kehidupan" dari Seorang Ibu di Sydney. I hope you'll get a blessed inspirations from the books. God bless you!


Ditulis oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Tuesday, October 28, 2008

One thousand Saturdays

Kisah 1000 Hari Sabtu

Makin tua, aku makin menikmati Sabtu pagi. Mungkin karena adanya keheningan sunyi senyap sebab aku yang pertama bangun pagi, atau mungkin juga karena tak terkira gembiraku sebab tak usah masuk kerja. Apapun alasannya, beberapa jam pertama Sabtu pagi amat menyenangkan.

Beberapa minggu yang lalu, aku agak memaksa diriku ke dapur dengan membawa secangkir kopi hangat di satu tangan dan koran pagi itu di tangan lainnya. Apa yang biasa saya lakukan di Sabtu pagi, berubah menjadi saat yang tak terlupakan dalam hidup ini.

Begini kisahnya:
Aku keraskan suara radioku untuk mendengarkan suatu acara “Bincang-Bincang Sabtu Pagi”. Aku mendengar seseorang agak tua dengan suara emasnya. Ia sedang berbicara mengenai seribu kelereng kepada seseorang di telpon yang dipanggil "Tom". Aku tergelitik dan duduk ingin mendengarkan apa obrolannya.

"Dengar Tom, kedengarannya kau memang sibuk dengan pekerjaanmu. Aku yakin mereka menggajimu cukup banyak, tapi 'kan sangat sayang sekali kau harus meninggalkan rumah dan keluargamu terlalu sering. Sulit kupercaya kok ada anak muda yang mau bekerja 60 atau 70 jam seminggunya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Untuk menonton pertunjukan tarian putrimu pun kau tak sempat."

Ia melanjutkan, "Biar kuceritakan ini, Tom, sesuatu yang membantuku mengatur dan menjaga prioritas apa yang yang harus kulakukan dalam hidupku."

Lalu mulailah ia menerangkan teori "seribu kelereng" nya. "Begini Tom, suatu hari aku duduk-duduk dan mulai menghitung-hitung. Bukankah umumnya orang rata-rata hidup 75 tahun? Ya aku tahu, ada yang lebih dan ada yang kurang, tapi secara rata-rata umumnya 'kan sekitar 75 tahun. Lalu, aku kalikan 75 ini dengan 52 dan mendapatkan angka 3900 yang merupakan jumlah semua hari Sabtu yang rata-rata dimiliki seseorang selama hidupnya. Sekarang perhatikan benar-benar Tom, aku mau beranjak ke hal yang lebih penting."

"Tahu tidak, setelah aku berumur 55 tahun baru terpikir olehku semua detail ini," sambungnya, "dan pada saat itu aku 'kan sudah melewatkan 2800 hari Sabtu. Aku terbiasa memikirkan, andaikata aku bisa hidup sampai 75 tahun, maka buatku cuma tersisa sekitar 1000 hari Sabtu yang masih bisa kunikmati."

"Lalu aku pergi ke toko mainan dan membeli tiap butir kelereng yang ada. Aku butuh mengunjungi tiga toko, baru bisa mendapatkan 1000 kelereng itu. Kubawa pulang, kumasukkan dalam sebuah kotak plastik bening besar yang kuletakkan di tempat kerjaku, di samping radio. Setiap Sabtu sejak itu, aku selalu mengambil sebutir kelereng dan membuangnya."

"Aku alami, bahwa dengan mengawasi kelereng-kelereng itu menghilang, aku lebih memfokuskan diri pada hal-hal yang betul-betul penting dalam hidupku. Sungguh, tak ada yang lebih berharga daripada mengamati waktumu di dunia ini menghilang dan berkurang, untuk menolongmu membenahi dan meluruskan segala prioritas hidupmu."

"Sekarang aku ingin memberikan pesan terakhir sebelum kuputuskan teleponmu dan mengajak keluar istriku tersayang untuk sarapan pagi. Pagi ini, kelereng terakhirku telah kuambil, kukeluarkan dari kotaknya. Aku befikir, kalau aku sampai bertahan hingga Sabtu yang akan datang, maka Allah telah memberiku dengan sedikit waktu tambahan ekstra untuk kuhabiskan dengan orang-orang yang kusayangi."

"Senang sekali bisa berbicara denganmu, Tom. Aku harap kau bisa melewatkan lebih banyak waktu dengan orang-orang yang kau kasihi, dan aku berharap suatu saat bisa berjumpa denganmu. Selamat pagi!"

Saat dia berhenti, begitu sunyi hening, jatuhnya satu jarumpun bisa terdengar! Untuk sejenak, bahkan moderator acara itupun membisu. Mungkin ia mau memberi para pendengarnya, kesempatan untuk memikirkan segalanya. Sebenarnya aku sudah merencanakan akan bekerja pagi itu, tetapi aku ganti acara, aku naik ke atas dan membangunkan istriku dengan sebuah kecupan.

"Ayo sayang, kuajak kau dan anak-anak ke luar, pergi sarapan,” kataku, "Lho, ada apa ini...?" tanyanya tersenyum. "Ah, tak ada apa-apa, tidak ada yang spesial," jawabku, "Kan sudah cukup lama kita tidak melewatkan hari Sabtu dengan anak-anak? Oh ya, nanti kita berhenti juga di toko mainan ya? Aku butuh beli kelereng."

Pesan dari cerita ini :
SPEND YOUR WEEKEND WISELY AND MAY ALL SATURDAYS BE SPECIAL AND MAY YOU HAVE MANY HAPPY YEARS AFTER YOU LOSE ALL YOUR MARBLES.

(Shared by Fr. Rick of Kingston, NY - taken from milist Ida and Friends)

Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Kindness

Saya teringat cerita yang disampaikan mas Jarot Wijanarko pada hari Minggu yang lalu tentang kebaikan yang tak pernah sia-sia. Seorang teman baik Napoleon Bonaparte, Charney, menyatakan pendapat dan nasihatnya kepada Jenderal Perancis yang hebat itu. Nasihat itu merupakan kritikan pedas yang disampaikan dengan maksud baik. Namun Bonaparte memandangnya sebagai bentuk pemberontakan, sehingga teman baiknya ini dimasukkan ke dalam penjara, karena dikhawatirkan akan membuat makar atau kudeta.

Sahabatnya tidak dendam, tidak marah atas perlakuan tak adil itu. Dia menikmati keberadaannya di penjara untuk merenungkan hal-hal yang indah. Di ruang tahanan yang pengap dan lembab itu ada lantai yang terbongkar dan ada tanaman kecil sedang mulai tumbuh. Tanaman itu dirawat Charney dengan sangat telaten. Semakin hari ternyata tanaman bunga itu tumbuh subur dan berbunga sangat indah.

Kepala penjara yang melihat bunga itu sangat takjub akan keindahannya, sehingga ia menceritakannya kepada atasannya. Atasannya menceritakan hal itu kepada orang lain lagi, sampai pada suatu hari urusan bunga di ruang tahanan itu sampai ke telinga isteri Bonaparte. Setelah isterinya mendatangi ruang penjara untuk melihat seberapa indah bunga itu, ia langsung mengadu kepada suaminya.

"Ada bunga indah di ruang tahanan Charney. Saya tidak percaya bunga itu dirawat oleh orang jahat. Pikirkanlah sekali lagi apakah seseorang yang dengan penuh cinta kasih merawat tanaman bunga itu dapat melakukan kejahatan kepadamu sebagai sahabatnya?"

Napoleon Bonaparte terhenyak mendengar kata-kata isterinya yang penuh kebenaran. Ia memeriksa ulang perkara Charney dan ternyata tidak terdapat kesalahan yang setimpal untuk dihukum penjara. Ia segera membebaskan sahabat baiknya. Kebaikan kepada tanaman saja tidak sia-sia, apalagi kebaikan kepada orang lain!

Apakah pernah anda berpikir bahwa kebaikan anda sia-sia? Jangan cepat-cepat berpikir seperti itu! Saya seringkali bertanya-tanya apakah blog ini ada gunanya bagi orang lain. Namun pada suatu hari seorang Yuni Sucipto asal Surabaya yang sekarang tinggal di States (L.A) yang sedang searching Google menemukan nama sahabat lamanya sewaktu jaman SMA di blog saya. AlberD Tanoni, musisi dan produser rekaman, dapat Yuni hubungi lagi setelah bertahun-tahun tak ada kontak.

Kalau nama anda disearch di Google, apakah ada sahabat yang menemukan anda? Saya sudah lama ingin menemukan teman kuliah saya, Ina Mulia. Setiap kali saya melewati rumah keluarganya yang dibiarkan kosong dan dijarah saya jadi sedih. Saya pernah beberapa kali mengunjungi rumah megah itu dulu sekitar tahun 1977. Dulu rumah itu penuh tawa dan kebahagiaan. Rumah indah di jalan Rempoa Raya itu sekarang gelap pada waktu malam dan tampak berantakan di waktu siang. Pintu gerbangnya dibiarkan terbuka lebar. Orang-orang kampung di sekitar rumah itu sudah menjarah apa saja yang dapat diambil dari bangunan besar tak berpenghuni itu. Dulu di sana tinggal seorang Ina Mulia, dia adalah salah seorang penghuni cantik di rumah itu. Ina, where are you?

Ditulis oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Monday, October 27, 2008

Visitation to The Throne Room of God

VISITATION TO THE THRONE ROOM OF GOD

In 1986 when the Lord Jesus Christ appeared to me, I was then sitting on a sofa chair. He stood in front of me on my left. I thought He had come to answer one of my prayers - which was to visit heaven. So I put out my hand and told the Lord, "I am ready to go." The Lord smiled at me and said it was not time for me to go yet. He began to talk about other things like the anointing of the Holy Spirit.

In early 1994 when we announced that that year would be the year of visitation, I knew in my spirit that my prayers would be answered. I did not know when but I knew it would be that year.

Sometime in early April of that year 1994, my spirit was caught up in the heavenly places. It was so fast and quick. I did not have time to see anything on the journey, neither did I see the other parts of heaven. I did not even see the pearly gates - I was caught right up in to the Throne Room of God.

Somehow God knows the desires of our heart and He knew that entering the Throne Room of God would satisfy my innermost longings. There was a consciousness in me that the saints in heaven knew that I was there. It seems the people in heaven know what happens to us spiritually. They know if you are walking with the Lord or not. They could sense your spiritual development and growth. When anything spiritual is about to happen in your life, they also seem to know it. Some of my friends and loved ones who were in heaven knew I was there. That was the first awareness of this realization I had when I was there. The awareness of them is as if you are very close to them even if you may be very far from them. There is no distance in heaven.

The first thing I did in the Throne Room was to fall before God and began weeping because I felt the love and the mercy of God. In the midst of the awesome presence of God I realized He had fulfilled every promise and every word He had spoken over my life. Everything that you desire if you pray constantly and believe God's word and do not let doubt and fear steal it from you, God will answer. Sometimes it takes time for the answer to come but it will come.

In His presence there was an awareness that the most important thing about visitations of God is the timing. It is not just in preparations alone, which is important for we need to have a right heart before God. It is not how holy you are, or spiritual or how much good works you have done for God but it is the fullness of the timing of God that determines the visitation of God upon your life. God has a place and time for it.

The reason God waited until 1994 to manifest Himself to me was because there was some spiritual knowledge He wanted me to be built up first before He could reveal the Throne Room. It was to make the visitation more permanent in my life. I believe if God had done it earlier, I would not have been spiritually ready. That is what I mean about proper timing. We cannot afford to be anxious about the visitations of God upon our life in any way. We need to tell Him, “Lord, it doesn't matter how you manifest or when you do it, we just want to be in the perfect will of God to receive the right things at the right time.” If it is not God's time for your visitation and if it happens (which would not) the impact and the effect of that visitation would not be permanent.

Then, the understanding came that God the Father, the Lord Jesus and Holy Spirit does not have a mansion or a place to stay unlike the saints in heaven who have mansions to live in. I was struck by the fact that the Throne Room was God's house. This was where He lived. God's Throne Room was His house. We know all of heaven is His habitation, but the Throne Room was where He lived. In John 14: 1, Jesus said in my Father's house are many mansions. Heaven is God's house.

You never read anywhere in the Bible where it says that Jesus has a mansion or the Father has a special place where He goes in to retire from time to time or do whatever things He wants. The Throne Room was where He resided. It was His living room, bedroom and working place, where He permanently dwelt.

The next awareness I had was God was the source of all light in the whole heavens. The Bible says there are no suns in heaven for the glory of God lights up all of heaven. We read in the Word that angels radiate light and their presence have a shininess about them. In heaven, angels have different degrees of brightness of the glory of God, but the awareness was that all those brightness and shininess of all the creations of God in the heavens - angels, saints and others was only a reflection. The awareness of this fact was very strong.

All the heavenly garments were made from substances of the spirit realm like righteousness, praise etc. All these were living substances. When we worship God, these are the substances that go from our spirit to God. Jesus told the rich young man in Luke 18: 22 to sell off all he had and to give it to the poor, and he would receive rewards in heaven.

The most important thing about giving and doing any good works is not the works itself or what we do. It is the attitude of your heart that determines the reward. When we do it, led by the Spirit, and the heart attitude is right, there is some spiritual force and substance that goes to God from our spirit.

In Philippians 4: 18, Paul says to the Philippians that the offerings that they gave to him were a sweet smelling fragrance unto God. They had tangible spiritual substances. When Noah offered an animal sacrifice offering to God after he came out of the Ark, it was the right attitude of Noah's heart that God smelled as a sweet aroma - it was not the smell of the burnt animal sacrifice (which probably did not smell nice at all) that God was referring to. Noah's right heart attitudes gave rise to spiritual substances that went towards God.

In Revelation 14, it says that the white robe garments in heaven are the righteous works of the saints. This means that whatever good works that you do for God, will be your spiritual deposit in heaven. We read in Isaiah 61 about the garments of praise. In Revelation, it mentions about the prayers of the saints going up in heaven. These right attitudes of hearts of the saints as they carry out spiritual works on earth produce substances that make the heavenly mansions, heavenly rewards, heavenly crowns and garments, etc.

It is very important that anything you do for God, your attitude of heart must be right when you do it and the intention is out of love for God and the people - then the 'freeness' and the 'fullness' of the spiritual substances from your heart will go to God to make up your heavenly rewards. These heavenly garments are not able to produce light itself. They are like the moon to the sun. The brightness and the shininess of the moon is dependent upon the sun. In the same way the brightness of the angels and heavenly garments of the saints are a reflection of the glory of God. I was fully aware that if God were to somehow stop that light that came from the Throne, every angel, plant and heavenly garment would turn black. There would be none of that brightness anymore then.

There was an acute awareness as I looked into the glory of God that who I am, what I am, what I wear, whatever saints are wearing in heaven and all the brightness of the mansions surrounding the Throne were only a reflection. Literally you could say His life is in us. It is because of the constant pulsating river of life that keeps flowing out from the throne of God that lights up every life in heaven. Glory and life are one in heaven. To have life is to have glory. To have glory is to have life.

Another thing I was aware was that the garments were constantly changing for different purpose.. We don't have the same clothing for 10,000 years times 10,000 years in heaven. There are different types of clothing that we wear and they are a reflection of God and what He is doing. On this earth, some people wear clothes that indicate their work and rank. In heaven, the garments are the same with an exception. On this earth, many uniforms are uncomfortable and most prefer to wear casual informal clothes. In heaven all the garments feel casual. They are not uncomfortable at all. In heaven, the two are one. All the clothings are an expression of the different rankings and work of the angels for the different type of work they do. I was really astounded as I saw what was happening. I did not know that angels changed clothes. They do not have a wardrobe in a sense like we have on earth. What I saw was when angels came to the Throne Room on an assignment, they would take away different things with them. Sometimes they took with them swords, sometimes a vase, or different things to send to the people on the earth.

And each of these things are powerful impartation of gifts or substances. It is literal in the spirit world although it is only a tangible feeling in your spirit when you receive it. When you receive a gift from God, say a ring, it is God literally giving it to you although in your natural body you may just feel only a heavy impartation of the anointing.

In the spirit realm, there are many, many types of gifts God sends to His peoples and the angels are commissioned to send them. As the angels came near the Throne Room to receive the commands of God, their garments are changed instantly and they march out of God's Throne with their commission.

After weeping before the Throne Room for sometime, Jesus stepped out from His Throne and invited me to sit on it. I replied, "Lord, I…" A sense of awe filled me not of an unwillingness to disobey Him but it was like saying this is more than I could take. I knew that Word of God says in Ephesians 2: 4-7, ' we are seated in the heavenly places in Christ Jesus' but this is heaven and you do not simply sit on God's Throne. But He held my hand and placed me on His Throne.

This was what it was like to sit on the Throne of God. The past, present and the future disappear. It was like a position you entered into where everything in the past and everything in the future is just like the present. There is no time. You do not feel it. And everything that God has spoken from the Throne through the prophets that spoke and what Jesus said while He was on the earth will come to pass. There was an awareness that Jesus and the Father need not to lift one finger to make the word of God come to pass. The power and impact of the spoken Word of God even if it was spoken ages ago was so powerful.

You could feel the awesome power of it in heaven and on the Throne seat of Jesus. You know the spoken Word of God has come to pass or would come to pass. There was an awareness that it was done, completed and finished. The consciousness of that power that emanated on the Throne of Jesus that could cause the fulfilment of the spoken Word of God was acute.

The power of the Word that was issued forth like a royal command was such that all Jesus had to do was to sit on the Throne and reign and it would come to pass. Hebrews 1:5-8. There is an authority that flows out from the Throne, a power that seems to compel everything, to conform to its reign.

The only reason God uses angels and the saints is not because He does not have enough power in Himself to do it but to give us an opportunity to experience what it is like from His point of view to do His things. Before there were any angels, God had an ability to call into being anything. This same ability is still there. There was such an intense power issuing out from the Throne of Jesus to put pressure upon every man, woman and child and everything on earth to conform to the will of God.

God has His angels to do His job. But God's power was such that He could do it without His angels. It was like a person with such power that all he needs is to say it and it is done. We know that took place in Genesis 1, where God said it and it was.

In 1 Corinthians 15: 25-27, 'For He must reign till He has put all enemies under His feet and the last enemy that will be destroyed is death.' For 'He has put all things under His feet.' But when He says 'all things are put under Him,' it is evident that He who put all things under Him is excepted. His being on the Throne puts an intense pressure on all things to come under His feet.

Jesus said in Mark 11: 23-24, that if you have faith in your words and do not doubt in your heart, the mountain will be removed when you speak to it. This verse is talking about believing in what you say and when you speak to the mountain and believe it, it will put pressure upon the mountain to be removed. That is what it was like in the Throne Room. The intense and awesome power of Jesus reigning upon the God made me unable to stand it for long.

There is another aspect of the Throne. We tend to think that all the things surround the Throne of God. And there is a glassy sea like crystal before the Throne. It is not quite like that. You could not see what was behind the Throne of God. If I take a chair and sit on it, you could see what is behind the chair and around it. It was like some sort of glory or life flowing out from it. It was like the Throne was connected in infinity. Behind the Throne is infinity. You could see as far as you wanted to see, further than the natural. Yet there was no limit to the life that issued forth from the Throne.

It was like looking into infinity. You cannot see the end. I believe there is possibly some other universe that Almighty God has created in His greatness and we are only one small tiny part of the universe.

It is like infinity times infinity of the worlds God has created. It was awesome to know how powerful and great our Almighty God is like I was aware that the manifestation of the Throne Room is to different degrees. I could hardly comprehend it. It was like if there was another universe somewhere with a different world, then the Throne Room of God which is linked up to infinity would also be linked to this universe and to many, many other universes. And God is conscious of what is here and what is further out there even to the furthest reaches of the entire universe.

Seeing infinity is like putting two mirrors opposite each other and you can see as far as you want to see and there is no end to it. And there are many manifestations of the Throne of God to every universe connected to it in infinity.

Then within heaven itself, it was like there were different planes in heaven. Within each place was a manifestation of God. It is not like having different planes or degrees of glory and there is a throne of God for each plane.

There is only one plane where the throne of God is but if you were on the lower plane and you approached God from that lower plane, you would still see God's Throne but the Throne of God you would see and experience would be from that lower plane. It is the same Throne but reflected through, for example, seven degrees of glory and you see the Throne of God differently from the way I see it. I was intensely aware that believers could reach to the Throne of God and see different parts of the Throne from what I saw.

That was what really astonished me. It is like if we have many layers of glass in different degrees of transparency. Suppose I put a light bulb in front of the different glasses. You could see the light bulb in different degrees according to the different degree of transparency of the glasses. If you were on the lower plane you could still see the light bulb but it is not just a reflection but it is like seeing it in a hologram. In the earth you would see it like a reflection. But in heaven if you approached the Throne on the lower plane, it is like seeing the light is there but you know it is not but from a different plane.

Because it has passed the different degrees of glory and you are seeing it from the lowest plane you will see the Throne of God differently. People could approach the Throne at these different levels or planes. When you are at the highest plane, you can begin to understand seeing the Throne from other different planes.

So in the Children's paradise, they will also have the manifestation of God's Throne Room too, only at a different level.

The Throne Room of God is not static. It does not stay the same where you imagine you see only the glory of God and the shininess of it all the time. Different things take place at the Throne at different times. After the experience of sitting with Jesus, I was allowed to stand and watch all those things.

When Elijah said, "I stand in the presence of God" I began to understand what he meant. It meant standing in the presence of God and being able just to watch all the activities taking place in heaven. Heaven is a bee-hive of activities. Different things were coming to the Throne of God and things were also being issued forth. Whenever people on earth worshipped God and sing how great is our God and Jesus our King and Commander in Chief, there is a type of glory that reflects His kingship, His authority and power in the kingly sense, and each with its different shades. And if people are singing about the God of love, the Fatherhood of God, then the Throne Room would have a different light that shines out and you could see the soft warm love flowing out from the Throne. God is who we say He is. And what God manifest to us at the Throne is what we see and say of Him on earth.

When you know Him as Jehovah Jireh and call Him Jehovah Jireh, He becomes Jehovah Jireh to you. When you call Him Jehovah Shammah, He becomes Jehovah Shammah to you, and you will have the nearness of His gentleness. When you call Him Jehovah Tsidkenu, the Righteousness of God begins to come forth. Whichever attribute you call God by, His manifestation changes accordingly. I was astounded by how much the Throne of God was going into the many different manifestations of glory according to the worship of His people. That is why He revealed His Name as I AM that I AM. When you begin to add whatever you perceive to the I AM, He begins to manifest accordingly because He is the Alpha and the Omega.

Whichever name you use to say and speak about God according to your revelation, that is what He is, because it contains all of the Alpha and the Omega you could understand of, even beyond what you can see and think. Revelation 4: 11, "You are worthy to receive glory and honour and power; for You have created all things, and for Your pleasure they are and were created."

The Lord Jesus appeared as a Lamb of God. This was the Throne Room. We know Jesus is in the form of a glorified Man. But look, He appears differently in Revelation 5:6,
"And I looked, and behold, in the midst of the throne and of the four living creatures, and in the midst of the elders, stood a Lamb as though it had been slain, having seven horns and seven eyes, which are the seven Spirits of God sent out into all the earth." Notice Jesus was representing something else. He was not just representing man seated on the right hand of God, but He was doing something different now for the destiny of nations and it was a full manifestation that was like a lamb.

In Revelation 5: 12, it describes the worship of the Lamb. Whatever we sing about, the heavens begin to manifest and the glory of the Lord begins to shine forth according the The Great I AM that I AM. Not that we change Him for He changes not, but what we receive from Him according to what you see and say of God. Do not say of God according to your limited mind. Say what the Word says He is and He will be all that He is unto you.

Sometimes the manifestation of the glory of God was so powerful in the Throne Room that I felt like I was in a furnace and I could not even see the face of God. The sun is constantly having solar flares all the time and according to scientists, there is an 11 year cycle where more sunspots take place in the sun during these cycles. This is only a small illustration of the fiery things that are constantly taking place at the Throne of God. Hallelujah!

Somehow what we do spiritually on the earth, does bring some manifestation from the Throne of God. In heaven, one of the busiest times is when there are various activities going on with the saints on earth. Sunday is not only a very busy day on earth whereby many believers all over the world worship God. It pleases God when there are spiritual activities that go on in the earth. I saw the things coming out from the earth to heaven. Those things were substances of our praises, prayers, sacrifices, giving, right attitudes of our hearts described earlier that go up to God in worship.

It was not just a one-way thing upward, but a two way traffic - the rays of light that come upwards to heaven and rays of light going downwards. These rays were substances going up to heaven creating an activity in heaven and the angels of God were bringing the substances of the saints and bringing them to God like real offerings before Him. Oh, the awesomeness of the things of God.

One of the most beautiful things that God shared with me on the Throne was He gave me a glimpse of what my work would be in heaven. It is already so wonderful if you discover what God's will for you on this earth. It was so glorious God doesn't just want us to visit His Throne. He wants the Throne Room to be our home. And I began to realize what He was saying - that we do not go to visit God in heaven once in a while and then we come back to earth to do our earthly duties and responsibilities. But Ephesians 2: 6 says the opposite, "we have been raised up and seated with Christ in the heavenly places."

The most wonderful message that God gave was that heaven is our home now. Ephesians 2 is in the past perfect tense. It is not, "we shall be", though our physical bodies are on this earth. Our spirits can actually remain there. God gave me the understanding that my spirit can remain there, while my body can be down here on earth. From time to time our spirits have to descend to this earth to fulfil our earthly responsibilities but we need to go back there.

We should not visit God in heaven once in a while. Instead, it should be the opposite. What God meant is that our spirits can be there. The authority that we have on this earth is proportional to our spirits in the heavenly places (Ephesians 1: 20-23). These principalities and powers are demon forces that have set themselves up in the atmosphere of the earth to block the glory of God from coming to us and to hinder us from reaching His glory.

Our spirits can be pulled down by our soul and by our body if we allow it. We can then never escape from the gravitational pull of the law of sin and death. However, our spirits can ascend high above it. The reason why God wants us to ascend high up is that when our spirits are up there, our spirits can wrestle with principalities, powers and wicked spirits. Then we can begin to affect the throne of satan. A lot of Christians are fighting the lower ranks. They are just having skirmishes with the enemy. But, God wants us to enter the war of victory to overcome him. Unless the strongman is bound, we cannot spoil the goods.. For example, when Jesus cast out the man with the legions, He only spoke to the main one. He did not speak to the other smaller demons.

A lot of Christians are wrestling with the smaller demons of the lower kind, and yet they are not having victory in their lives because they are not ascending to the Throne. The higher we go, the greater the authority (Eph. 6: 12-14). The only way we can overcome these powerful demons is to be in the heavenly places (Eph 3: 9-10). The only way we can shake the nations of the world is to shake the demon forces governing these nations. When we begin to ascend up, the demon powers begin to recognize our authority in God because we now come from the Throne Room of God. That is why the demons knew Paul well enough to scream his name out (Acts 19: 15)

Elijah had such an authority over the natural earth because he always said, "I stand in the presence of God." That is why he had such power over the weather and the natural elements because his spirit was not down on earth. His spirit had somehow ascended high up. The reason was he walked so close with God. Today, God does not want one Elijah. He wants many Elijahs. He wants His church to be in the heavenly places. We only receive the heavenly blessings when we are in the heavenly places. Then from the heavenly places, our spirit descends with the heavenly blessings and these blessings work out on this earth in our physical body.

It is not true to say that if you are so heavenly minded, you are of no earthly use. We can be so earthly minded that we are of no heavenly use. What God wants is not the dreaminess that the proverb is referring to. Unless you are in the heavenly places, you are a worm in this earth, making no real impact in it. (Peter Tan)

****

PS: Sorry,saya tidak sempat menerjemahkan email di atas. Terima kasih kepada Ibu Suharti Ali yang telah mengirim naskah di atas. Gbu

Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Sunday, October 26, 2008

Success Breeds Success

Hari Minggu tadi saya bertemu dengan mas Jarot Wijanarko. Setelah ngobrol ngalor ngidul, saya ceritakan bahwa saya mengedit buku-buku yang ditulis Bapak Leonardo Sjiamsuri MBA, sembari memberikan buku terbaru yang saya edit, berjudul "Berkat dan Kuasa IKAT JANJI". Sebagai gantinya, mas Jarot memberikan tiga buku kepada saya. Lalu beberapa saat setelah kami berpisah, melalui komunikasi SMS, beliau memberikan order kepada saya untuk menerjemahkan buku-buku beliau ke dalam bahasa Inggeris. Puji Tuhan!

Tulisan di bawah ini adalah tulisan Sdr. Ikhwan Sopa, seorang muslim, yang respek terhadap kiprah mas Jarot di dunia bisnis.


Biografi Sukses: Jarot Wijanarko

Anda belum pernah mendengar namanya? Ya, inilah satu lagi contoh sukses Anda. Jarot Wijanarko, adalah seorang nasrani. Orang yang berbeda keyakinan dari saya. Tapi percayalah, bahwa Anda memang layak belajar banyak darinya. Belajarlah dari kesuksesannya!

Pertahankan dan perteguhlah keyakinan Anda. Tapi tetaplah berpikiran terbuka dalam belajar dan menangguk kesuksesan. Belajarlah dari pengalaman seorang Jarot, belajarlah dari bisnisnya, belajarlah dari bukunya, dan belajarlah dari pemikirannya.

Jarot adalah seorang entrepreneur yang enerjik dan penuh semangat. Banyak bicara dan menurut pengakuannya, beliau adalah seorang sanguinis sejati. Tak bisa diam, inginnya bicara dan bertindak. Jarot dan bukunya, memang pantas menjadi tempat belajar untuk sukses Anda.

Mari kita pelajari sosok yang satu ini.

Jarot Wijanarko lulus dari Institut Pertanian Bogor tahun 1987. Ia memulai karir di PT Sugizindo sebagai advisor produksi. Tahun 1990 pindah ke Astra Export Company dan menjadi seorang merchandiser dan kemudian menjadi wakil Product Manager.

Tahun 1992, bersama dengan Tanu Sutomo, Jarot mendirikan usaha sendiri di bawah bendera PT Ifaria Gemilang, http://www.ifadahsyat.com. Semula, perusahaan ini adalah agen dan eksportir footwear. Kemudian, perusahaan ini bergeser menjadi sebuah perusahaan MLM yang unik dengan nama Ifa Dahsyat. Jarot menduduki posisi sebagai founder, pemilik, dan komisaris utama. Sementara sahabatnya Tanu, menjabat sebagai Direktur Utama.

Kesuksesannya meroket bersama perusahaan MLM ini. Anda mungkin belum pernah mendengar nama MLM ini. Akan tetapi, lihatlah pertumbuhannya. Dengan meng-MLM-kan berbagai produk seperti garmen, footwear, tas, kosmetik, makanan suplemen, aksesoris, alat rumah tangga, dan sebagainya, Ifa Dahsyat kini telah menaklukkan 150 kota di Indonesia, dengan jaringan member lebih dari 200.000 orang!

Tahun 2004, Jarot mendirikan PT Happy Holy Kids (HHK) yang bergerak dalam bidang Production House, event organizer, dan trading berbagai produk edukasi anak. Kini, ia bahkan mendirikan jaringan sekolah TK dengan nama yang sama. Pertumbuhannya, juga luar biasa.

Dalam sebuah acara di mana Jarot berbicara, informasi tentang latar belakang Jarot sebagai bahan introduksi, sudah diberitahukan kepada panitia sejak dua hari sebelumnya. Salah satu informasi itu, adalah tentang update terakhir dari franchise sekolah TK HHK yang sudah berjumlah 52 di seluruh Indonesia.

Saat informasi itu diumumkan, Jarot segera menyela, "Ibu, maaf itu adalah informasi dua hari yang lalu. Per hari ini, jumlahnya adalah 62!" Luar biasa bukan? Hanya dalam dua hari, Jarot telah berhasil mendapatkan 10 franchise baru untuk TK HHK-nya! Luar Biasa!

Segala kesuksesan seorang Jarot, kini dituangkan dalam sebuah buku yang akan dilaunching dalam waktu dekat. Buku itu berjudul "Hidup Maksimal, Menembus Batas, Prestasi Puncak". Buku ini layak Anda jadikan referensi sukses Anda. Ini bukan buku pertamanya, sebab Jarot telah menulis 28 judul buku. Tapi, buku ini memang istimewa. Sebab di dalam buku ini, seorang Jarot dengan total menceritakan segala kisah, suka dan dukanya mencapai sukses. Di dalam buku ini Jarot menceritakan semua rahasia kesuksesannya dengan "tanpa rahasia". Jarot dengan polos dan blak-blakan menceritakan segala pemikiran dan tindakannya, sebagai manusia luar biasa yang berjuang keras untuk menggapai kesuksesan.

Jarot juga memberitahukan berbagai tips praktis dalam menghadapi kondisi bisnis, menyelami diri pribadi, menghandle berbagai kegalauan perasaan, dan memahami berbagai keguncangan jiwa. Lebih dari itu, Jarot juga memberi tips tentang bagaimana mengelola fisik tubuh, agar selalu sehat, fit, dan penuh semangat, dengan tips-tips yang sangat mudah dilakukan.

Apa yang unik di dalam buku Jarot, adalah tentang bagaimana menembus berbagai keterbatasan yang selama ini sering mengganggu dan menjadi hambatan setiap orang, di antaranya adalah:

Batas Pikiran
Batas Suku
Batas Fisik
Batas Pendidikan
Batas Ekonomi
Batas Agama
Batas Temperamen
Batas Umur
Batas Zona Nyaman

Anda bayangkan saja, bila Anda telah berhasil menembus semua batas itu (tentu saja dengan tetap mempertahankan sistem tata nilai dan keyakinan Anda sendiri), apakah sukses tidak akan menjadi milik Anda? Ya tentu saja! Belajarlah dari seorang Jarot.

Pada intinya, apapun teori, konsep, dan tips dari berbagai pakar dan berbagai sumber handal yang selama ini Anda kenal, (Mestakung, The Secret, Sabar, Ikhlas, Bersyukur, Pantang Menyerah, Semangat, Positive Thinking, bahkan sampai berbagai hal yang teknis seperti keuangan, pemasaran, manajemen, kepemimpinan, relationship, dan networking) hampir seluruhnya telah dituangkan Jarot ke dalam buku ini.

Apakah kesuksesan Jarot adalah sesuatu yang datang begitu saja? Tentu tidak.

Jarot lahir dari sebuah keluarga miskin di sebuah desa dekat Karangpandan, Karanganyar, Solo, Jawa Tengah. Dengan hidup masa kecil dan remaja yang penuh gejolak, Jarot pantang menyerah.

Dalam bukunya, Jarot banyak memberikan contoh-contoh orang besar dan sukses di dunia, yang mau tidak mau, harus bekerja keras dan babak belur terlebih dahulu, sebelum sukses menjadi milik mereka.

Kegagalan adalah menu Jarot sehari-hari. Di masa-masa awal profesionalnya, Jarot sempat puluhan kali melamar pekerjaan. Tidak sedikit perusahaan menolaknya. Saat merantau ke Jakarta pun, Jarot sempat mengenyam rumah bedeng di kawasan Kuningan.

Jarot adalah pekerja super keras yang tidak pernah menyia-nyiakan waktunya. Di komputernya tidak ada game. Jam kerjanya di atas rata-rata. Istirahat dan leha-lehanya adalah bekerja. Semua ini, tidak lepas dari hidup yang mendidiknya sejak kecil.

Waktu kecil, ibu Jarot berjualan ubi goreng. Ia bangun pagi, mengupas singkong lalu menggorengnya. Jarotlah yang berkeliling mengantarkannya ke warung-warung. Siang sepulang sekolah, Jarot berjualan es lilin.

Ayah Jarot adalah seorang seniman dan sekaligus pekerja keras. Ayahnyalah yang mengajari Jarot ketrampilan bisnis "stroom accu". Ayahnya jugalah yang mengajarinya membuat kantong plastik sebagai sebuah bisnis tambahan. Mereka membeli gulungan plastik, kemudian dipotong-potong dan dijual sebagai kantong plastik.

Salah satu mimpi keluarga Jarot di masa Jarot kecil, adalah punya rumah yang lebih baik. Impian itu tidak tinggal hanya di kepala Jarot. Impian itu dengan polos dicobanya agar terealisir menjadi nyata. Ibunya bercerita, bahwa setiap pulang sekolah, jika Jarot menemukan sebuah batu bata di tengah jalan, batu bata itu dibawanya pulang. Dan itu, dilakukannya dengan konsisten tidak kurang dari enam tahun! Bayangkan, berapa banyak batu bata yang sudah dikumpulkannya!

Semua tantangan dan masalah hidupnya semasa kecil, membuat Jarot menjadi sosok yang tangguh dan penuh semangat. Dalam salah satu cerita di bukunya, Jarot menuturkan tentang bagaimana ia harus berkali-kali berpresentasi kepada pihak Matahari, sebelum produk-produk HHK-nya bisa mejeng di departement store terkenal itu.

Semua pengalaman keras di dalam hidupnya itu, menjadi bekal suksesnya hari ini. Apa yang menjadi anak kunci dari kesuksesan seorang Jarot, adalah menjalani hidup dengan bersenang hati, sekalipun hidup itu keras. Di dalamnya, ada rasa sabar dan syukur. Itulah, yang menjadi penyebab kesuksesan.

Kini, Jarot dengan segudang kerja keras dan tunggang langgangnya, telah menuai kesuksesan demi kesuksesan. Anda, pasti mau seperti Jarot. Belajarlah tentang kesuksesan dari seorang Jarot Wijanarko!

Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Friday, October 24, 2008

Free of Vertigo

Ada email menarik yang saya terima dari seorang teman:

Ini sekilas tentang penyakit Vertigo. Bagi orang yang belum pernah merasakannya sebaiknya DICEGAH, jangan sampai anda masuk dalam VERTIGO CLUB.

Ini pengalaman saya sendiri, mungkin saja tidak sama dengan penderita lainnya, tapi saya hanya ingin sharing kepada beberapa teman-teman saya yang juga terkena vertigo. Hanya orang yang pernah terkena vertigo bisa merasakan betapa tersiksanya kalau penyakit itu sedang kumat. Saya seperti berada di dalam sebuah round table lalu diputar berkeliling atau terkadang terasa seperti diayun ke segala arah yang tidak jelas, diangkat tinggi dan berputar semuanya!!!!! Saat diletakkan ke bantal, kepala sangat tidak nyaman, terus ingin berputar dan saya seakan mencari pegangan kemana-mana. Apalagi melihat atau menunduk ke bawah jelas tidak mungkin. Rasanya lebih baik tidur duduk saja. Confidence level saya turun karena saya tidak tahu kapan sang vertigo akan muncul. Dia akan muncul begitu saja. Biasanya dengan obat Merislon bisa hilang tapi tidak tuntas sembuhnya. Setiap tahun sekali penyakit itu kumat. Namun serangan vertigo yang terakhir menyebabkan saya tidak bisa tidur pada posisi kanan. Setiap mau balik ke kanan maka vertigonya kumat. Saya merasakan ada sesuatu yang salah namun tidak tahu apakah itu.

Akhirnya ketika Reuni Lebaran di Bali seorang teman memberikan reference untuk berobat ke seorang Profesor di Mt Elizabeth, Singapore, dimana dokter ini seorang neurolog dan ahli penyakit Stoke, baginya penyakit vertigo enteng . Maka untuk mencari kesembuhan aku menemuinya Jumat kemarin.

Mula-mula dokter melakukan Blood Circulation Scan, di mana segera diketahui apakah ada bagian pembuluh darah yang mampet atau alirannya kurang lancar. Sesudahnya dilakukan therapy di kursi sofa oleh seorang suster sebagai berikut:

Saya tidur telentang dengan kepala sebagian nongol keluar kursi tanpa bantal dan dipegang oleh suster. Kemudian saya disuruh menoleh ke kiri, adduuuuh langsung vertigo-nya kumat, dunia berputarrrrrr, sampai tangan saya menggapai-gapai mencari pegangan. Kemudian saya disuruh relaks. Sesudah vertigo hilang, maka saya harus menoleh ke kanan, kumat lagi, walau tidak separah yang kiri. Saya relaks lagi, lalu balik badan dan kepala melihat ke lantai, lalu saya bangun perlahan-lahan dengan mata melihat ke bahu, kemudian duduk kembali.

Hanya itu therapynya, tapi manjur! Lalu saya diharuskan tidur bolak balik, kanan - kiri – kanan - kiri dst ...dst. Total waktu therapy sekitar +/- 15 menit. Sesudah saya tanya kenapa bisa vertigo ternyata sangat sederhana. Apa itu? Vertigo terjadi karena kita salah posisi tidur, mungkin tanpa kita sadari kita selalu tidur pada satu posisi, misalnya kebanyakan kiri terus dan jarang kanan/kiri, sehingga ini akan memperparah vertigo, yang mengakibatkan adanya "chrystal" istilah mereka yang lepas dari telinga kita sehingga menyebabkan keseimbangan kita terganggu. Nah therapy itu untuk mengembalikan posisi "Chrystal" itu, that'all ... So Simple ya, ternyata tidak ada hubungannya dengan kolesterol atau lain sebagainya. Saya hanya diberikan 1 jenis obat yang hanya diminum 1 kali saja pada malam sesudah therapy, itupun kalau masih merasa berputar. Pada malam hari itu saya tidur dengan nyenyak dan mengikuti nasihatnya agar tidur dengan posisi kepala di kanan-kiri-kanan-kiri, dan memakai bantal 2 buah ditumpuk agar tinggi serta harus mengubah pola tidur saya yang salah. Itu saja cara pengobatannya.

Saya adalah penggemar pijat, maka saya sempat tanya ke dokter itu apakah masih boleh pijat kepala. Disarankan sebaiknya tidak pijat kepala, karena kuatir tukang pijatnya ‘kan tidak tahu jelas pembuluh mana yang kena pencet. Saya kini stop pijat dulu deh, karena ketika kena serangan yang baru lalu itu saya pas sedang dipijat bagian kepala, mungkin saja saat itu ada yang kurang pas.

Sayangnya selama ini saya belum pernah di-advise therapy begitu oleh para dokter yang pernah saya datangi. Kalau sedang vertigo maka akan dihubungkan dengan kolesterol/lipitor, istirahat, minum obat pengencer darah, dan lain sebagainya, sedangkan minum obat Merislon itu membuat kita lemas.

Sabtu pagi saya therapy sekali lagi sebelum kembali ke Jakarta. Sekarang saya merasa fit dan tidak vertigo lagi. Moga-moga ini akan selamanya dan saya tidak minum obat apapun. Nah moga-moga sharing saya di atas dapat bermanfaat bagi para teman yang kebetulan sudah masuk dalam Vertigo Club, ataupun mungkin bisa di sharing kepada keluarga yang terkena vertigo ataupun kepada yang belum pernah terkena vertigo.

Note:
Tidurlah dengan sikap yang baik, yaitu dengan posisi kepala bolak balik kiri kanan !!! Segeralah perhatikan dan ubah pola tidur anda bilamana anda mempunyai kecenderungan tidur pada satu posisi saja! Lakukan pola tidur ini mulai sekarang walaupun anda belum pernah terkena vertigo. Ingat, pencegahan itu lebih baik .

Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Blessed Corporately and Personally

Inilah kesaksian dari Bapak Pdt. Hanny Andries, Gembala GBI Batam, tentang perkembangan jemaat di sana, yang bersumber dari majalah HM3, edisi Oktober 2008. Dia melayani gereja itu sejak tahun 1996, menggantikan Pdt. Jimmy Mulya yang melayani di GBI Singapura. Pada waktu tahun 1996 itu jumlah jemaat masih terbilang dua ratus orang, lalu menjadi 2500 orang pada tahun 2000, dan pada tahun 2008 ini lebih dari 7500 orang, hanya di Batam saja, belum termasuk gereja-gereja lain yang dirintis di luar Batam, lebih dari 35 lokasi dengan 45 kali ibadah raya.

Pada tahun 1998, Bapak Pdt. Niko Njotorahardjo, sebagai gembala pembina, memberikan visi dan motivasi kepada jemaat Batam untuk membangun menara doa untuk mengawal kota Batam dalam doa, pujian, dan penyembahan kepada Tuhan selama 24 jam. Maka pada tahun 1998 itu juga Pdt. Hanny Andries memulai menara doa itu hanya berempat, dirinya dan isterinya dan dua pendoa syafaat lain. Kini setiap bulan tidak kurang dari 2000 jemaat ambil bagian dalam menara doa sepanjang 7 hari seminggu dan 24 jam sehari, secara bergantian.

Pada tahun 1998 beberapa pendoa syafaat dengan tuntunan Roh Kudus berdoa mengurapi tanah kosong yang masih berupa semak belukar di kawasan Batam Center. Pada bulan Agustus 1999, seorang pengembang properti dari Singapura menghibahkan tanah seluas 4.500 m2 tepat di lokasi yang pernah didoakan tersebut. Bagi mereka tanah itu sudah cukup luas, tetapi bagi Tuhan itu tidak cukup. Dua bulan kemudian Tuhan menggerakkan hati orang asing itu untuk mengubahnya menjadi 8.320 m2. Puji Tuhan!

Dalam mendapatkan IMB bagi bangunan gereja, ternyata campur tangan Tuhan sungguh luar biasa. Setelah menunggu berbulan-bulan melewati berbagai kesukaran, pada tanggal 6 Desember 2000 pihak gereja mendapat berita bahwa berkas-berkas permohonan IMB yang sudah mereka ajukan ternyata dinyatakan hilang dan mereka harus mengajukan ulang. Para pendoa syafaat kembali mengadakan peperangan rohani. Pada tanggal 20 Desember 2000 mereka kembali mengajukan berkas permohonan IMB gereja. Ajaib! Belum pernah terjadi dimanapun, dua hari kemudian, yaitu pada tanggal 22 Desember 2000, IMB mereka peroleh, ditambah bonus: Surat Balik Nama Tanah. Allah kita memang luar biasa!

Dua hari setelah IMB didapatkan, tepatnya pada tanggal 24 Desember 2000, di tengah ibadah raya Natal, jemaat mendapatkan 3 buah bom meledak, dua bom meledak di tengah-tengah jemaat. Puji Tuhan, ledakan bom yang menghancurkan dinding gedung, kursi, bahkan pakaian jemaat, namun tidak sanggup melukai seorangpun.

Tuhan mengubah rancangan iblis itu menjadi kemuliaan bagi Dia. Sejak peristiwa ledakan bom di malam Natal tersebut, pertumbuhan jemaat justru meningkat secara drastis, baik dalam kualitas maupun dalam kuantitas. Cara hidup jemaat berubah, mereka jadi semakin sungguh-sungguh dalam Tuhan. Ini terjadi karena Roh Allah yang bekerja.

Selain kasih karunia Tuhan dalam perkara-perkara di atas, Pdt. Hanny Andries juga mengakui betapa hanya Tuhan saja yang mencukupkan kebutuhan dana untuk pembangunan gedung gereja Tabgha yang megah itu. Dana milyaran rupiah yang diperlukan untuk pembangunan tidak pernah terpikirkan dapat terkumpul di jemaat Batam yang kebanyakan adalah para karyawan. Namun apa yang tidak pernah dilihat oleh mata dan tidak pernah didengar telinga, itulah yang disediakan Tuhan.

Yang menarik, beberapa minggu lalu saya mendengar kesaksian Pdt. Hanny Andries tentang berkat-berkat dalam kehidupan pribadinya. Selama ini dia telah mencurahkan segala daya dan upayanya untuk bekerja sama dengan Tuhan membangun jemaat GBI Batam yang kini memiliki gedung gereja Tabgha yang bentuknya diilhami Roh Kudus untuk meniru bentuk Bait Salomo, dan juga merintis gereja-gereja lain di luar Batam.

Selama itu dia tidak memikirkan untuk hidup "mewah" bagi hamba Tuhan yang sederhana dan rendah hati itu. Salah satu contoh, dia merasa oke saja memakai kendaraan sejenis Kijang atau Panther sebagai kendaraan pribadinya, yang sering dipakai juga untuk menjemput hamba-hamba Tuhan internasional yang sudah terkenal namanya. Dia merasa "rohani" ketika bisa hidup sederhana seperti itu. Namun pada suatu saat ada seorang hamba Tuhan yang "menegur" pola hidupnya. "Tahu tidak, dengan cara itu, anda menghina Tuhan yang adalah Raja di atas segala raja! Dia ingin anda mencerminkan kemuliaan dan kehormatan sebagai anak Raja!"

Sejak saat itu Pdt. Hanny mencari kehendak Tuhan, mencari konfirmasi, apakah dia layak mengingini mobil yang lebih baik dari sekedar Kijang lama atau Panther. Dia akhirnya memberanikan diri meminta mobil yang lebih baik. Dan ternyata Tuhan memberkati dia dengan mobil baru, sebuah Toyota Fortuner!

Ditulis oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

*****

Personal Note:
Buku "Mukjizat Kehidupan" pesanan Bpk. Sugi dari Jakarta Barat sudah dikirim dengan pos express pada hari Jumat ini. Terima kasih atas pesanannya. Gbu.

Thursday, October 23, 2008

Blessed by Giving (2)

Setelah itu ketika isteri saya yang sedang hamil tua merasa kelaparan (saya juga), saya hanya mengatakan kepada isteri saya bahwa manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman Tuhan. Dan kalau kita melakukan ini semua dengan menabur semua dana yang kami punya untuk proyek SCCC, karena kami sungguh-sungguh ingin melakukan firman Tuhan. Kami percaya bahwa kami pasti tetap hidup dan dipelihara Tuhan.

Ketika kami sudah semakin kebingungan untuk biaya makan, kami hanya bisa berdoa. Kemudian Tuhan memberikan hikmat kepada isteri saya bahwa kami ternyata masih mempunyai satu rekening bank lagi yang sudah kami tarik dananya tetapi belum kami tutup, yaitu rekening bank Permata dalam Dollar Singapura. Jika kami menutupnya, maka kami akan mendapatkan kembali dana saldo minimum sebesar SGD 200. Yes, puji Tuhan! Dialah Allah yang tidak pernah meninggalkan anak-anak-Nya yang senantiasa berharap kepada-Nya! Maka kami berdua dan anak yang sedang dikandung tetap dipelihara Tuhan sampai akhir bulan. Burung pipit di udara dipelihara Tuhan, kami berharga lebih dari banyak burung pipit di mata Tuhan, pasti dipelihara lebih lagi.

Sejak saat itu perusahaan kami mulai diberkati dengan order dari perusahaan-perusahaan PMA. Kami dipertemukan Tuhan dengan orang-orang yang tidak pernah kami kenal sebelumnya, baik itu customer maupun para supplier yang mau memberikan utang kepada kami. Bahkan mantan boss saya dari Singapura memanggil saya boss karena saya banyak memberikan order kepada perusahaannya. Dulu saya memanggil dia boss, sekarang Allah menjadikan saya kepala dan bukan ekor. Janji Tuhan itu pasti ya dan amin!

Akhirnya anak kami, Joel Army Mahargo, lahir pada bulan Maret 2007. Waktu itu kami masih tidak mempunyai kendaraan apapun. Tiga hari sebelum kelahirannya, saya mendapat kesan yang kuat bahwa Tuhan meminta saya berpuasa Ester (berpuasa tiga hari dua malam) karena Tuhan akan melakukan perkara yang besar pada hari ketiga di akhir puasa saya.

Pada hari yang ketiga, ketika saya sedang mengikuti doa puasa di gereja sejak pukul 10 sampai 12 siang, pada akhir acara Gembala kami, Bapak Pdt. Hanny Andries, berkata, "Kalau minta sesuatu kepada Tuhan, misalnya minta kendaraan untuk ke gereja, harus yang spesifik mintanya! Kalau tidak spesifik, maka bisa saja Tuhan memberikan uang Rp. 5.000,- untuk naik ojek ke gereja. Sekali-kali mintalah mobil Mercy untuk ke gereja!" Saya langsung tangkap nubuatan ini, saya imani dan saya perkatakan, "Tuhan Yesus, berikan aku mobil Mercy untuk bisa pergi ke gereja dan bekerja." Saya tidak melihat pada kenyataannya dimana kami tidak mempunyai uang untuk membeli mobil Mercedes Benz. Jangankan Mercy, sepeda motorpun kami tidak mampu beli.

Pada pukul dua siang setelah doa puasa tersebut, isteri saya merasa sudah mau melahirkan. Jadi kami segera pergi ke Rumah Bersalin. Pada pukul 8 malam anak kami lahir secara normal. Saya dengan bersukacita mengirimkan SMS kepada setiap saudara dan teman-teman untuk mengabarkan hal ini. Saya juga mengirimkan SMS kepada seorang teman yang tidak terlalu kami kenal karena baru kami kenal sebulan yang lalu. Ternyata teman kami tersebut sudah ada di Paris dan begitu dia menerima SMS saya, dia langsung menelpon saya. Ia mengatakan bahwa seminggu sebelum berangkat ke Paris, mobil Mercedes Benz C 200 Kompressor miliknya terserempet dan harus masuk ke bengkel. Saya diminta mengambilnya di bengkel, sedangkan biaya perbaikannya sudah dia bayar. Saya diperbolehkan memakai Mercedes Benz itu sampai dia kembali dari Paris, sekitar 8 sampai 12 bulan yang akan datang, dengan gratis! Sungguh, Allah kita dahsyat dan luar biasa! Rancangan-Nya selalu jauh melebihi apa yang bisa kita doakan!

Puji Tuhan, kami diberi kasih karunia oleh Tuhan Yesus untuk memiliki perusahaan sendiri pada bulan Mei 2007. Kami tidak lagi meminjam PT milik sahabat kami. Kami meminta Tuhan yang memberi nama, maka kami menamakannya PT. Covenant Engineering. Suatu ikat janji dengan Tuhan dan dengan Bapak Rohani/para pemimpin rohani kami, dimana Tuhan berjanji akan membawa kami masuk ke Tanah Perjanjian dan yang selalu memberikan kami kekuatan untuk memperoleh kekayaan. (Ulangan 8:18)

Tujuh bulan setelah kami mulai menabur di SCCC dan mempunyai perusahaan sendiri, total penjualan perusahaan kami meningkat drastis dan mencapai Rp. 3,8 milyar dalam tujuh bulan! Haleluya! Sungguh luar biasa! Allah kita sungguh dahsyat dan luar biasa. Apa yang tak pernah kami lihat, yang tak pernah kami dengar, dan yang tak pernah timbul di dalam hati kami, itu semua yang telah Tuhan berikan kepada kami.

Itu adalah sebuah usaha yang benar-benar tanpa modal uang sepeserpun. Nol rupiah modalnya! Hanya bisa berlangsung karena Tuhan mengaruniakan kepada kami supplier-supplier yang mau memberikan jangka waktu pembayaran setelah kami menerima pembayaran dari para customer.

Masih banyak lagi kesaksian tentang kebaikan Tuhan dan mukjizat-Nya yang tidak dapat kami tuliskan satu per satu, seperti bagaimana Tuhan menyediakan uang sebesar Rp. 250 juta dalam tiga hari hanya melalui doa saja. Juga bagaimana Tuhan membuat persediaan beras dan makanan untuk anjing kami tidak pernah habis selama berbulan-bulan.

Saat ini kami tidak lagi berkantor di kamar kami yang sempit. Kami sudah pindah ke sebuah workshop seluas hampir 4.000 m2. Kami sudah mempunyai belasan karyawan, memiliki mesin-mesin milling, bubut, grinding, welding, sampai mesin CNC. Bersama Tuhan Yesus saat ini kami juga mulai melakukan Research and Development untuk produk-produk elektronik. Kami percaya bahwa kami akan diberikan kasih karunia oleh Tuhan Yesus, Pencipta segalanya, untuk menciptakan suatu alat yang akan ada di tangan banyak manusia. Kami juga sedang mempersiapkan diri untuk mendapatkan sertifikat ISO 9001.

Kami selalu memperkatakan bahwa Tuhan sendirilah yang empunya perusahaan ini. Semua yang bekerja di perusahaan ini, termasuk kami berdua, hanyalah pekerja-pekerja-Nya. Kami akan menjadikan perusahaan ini sebagai perusahaan yang akan membawa dampak kasih Kristus di kota kami, bahkan di bangsa kami dan bangsa-bangsa di manapun Tuhan akan memperluas perusahaan ini, supaya setiap orang akan dapat merasakan betapa lebar dan panjangnya dan tingginya dan dalamnya kasih Kristus, sekalipun itu melampaui segala pengetahuan.

Kami percaya bahwa ikat janji (covenant) yang telah diikat oleh Gembala Pembina kami, Bapak Pdt. Niko Njotorahardjo dengan Tuhan Yesus, dan ikat janji yang telah diikat bapak rohani kami, Pdt. Hanny Andries, dengan bapak Pdt. Niko dan ikat janji yang telah kami ikat dengan Tuhan Yesus dan dengan para pemimpin kami akan menjadi jaminan berkat bagi kami dan anak-anak cucu kami sampai beratus-ratus keturunan di bawah kami. Tuhan Yesus memberkati. (Sumber: Majalah HM3 (Healing Movement Ministry Magazine) edisi Oktober 2008, terbitan GBI Jl. Gatot Subroto Jakarta)

****

Kesaksian di atas membuktikan bahwa Bapak Bayu Mahargo adalah orang yang menghargai dan hidup dalam Ikat Janji, serta mengalami berkat dan kuasa yang ada dalam sebuah Ikat Janji atau Covenant. Perkataan-perkataan yang disampaikan oleh Bapak Bayu Mahargo yang terakhir itu sesuai dengan pelajaran-pelajaran yang ada di dalam buku di bawah ini:

BARU TERBIT : BUKU "KUASA DAN BERKAT IKAT JANJI"
Penulis : Leonardo A. Sjiamsuri
Editor : Hadi Kristadi
Terbitan : Nafiri Gabriel
Harga Sama Dengan Toko Buku: Rp. 35.000.- Silakan pesan melalui 08129716102, harga belum termasuk ongkos kirim, sebutkan nama, alamat lengkap & kode pos. Pembayaran via BCA atas nama HADI no. 4980036931

Ikat janji atau covenant membuat perbedaan yang sangat besar dalam kehidupan anda dan keturunan anda. Ikat janji anda dengan Tuhan memberikan kepastian kehidupan, memberikan kasih setia dan kebenaran Tuhan, pertolongan dan perlindungan Tuhan. Ikat janji anda dengan pemimpin yang memiliki ikat janji dengan Tuhan menyediakan penudungan rohani dan mengalirkan berkat-berkat yang Tuhan berikan melalui pemimpin anda.

Jangan menyesal seperti Ham, anak Nuh, yang tidak menghormati ikat janji Tuhan, sehingga keturunannya menjadi orang-orang terkutuk, orang-orang yang jahat, orang-orang yang menyusahkan banyak orang. Jangan hidup biasa-biasa saja, tanpa arti dan tanpa kepuasan, di luar ikat janji!

Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Blessed by Giving (1)

Nama saya Bayu Christyo Mahargo (36) dan isteri saya Christine Natalie Losung (21). Kami menikah pada tahun 2006 dan sudah dikaruniai seorang anak laki-laki berusia 1,5 tahun yang kami beri nama Joel Army Mahargo. Saat ini Christine sedang mengandung anak kami yang kedua. Kami beribadah di GBI Gedung Tabgha di Batam yang digembalakan oleh Bapak Pdt. Hanny Andries.

Kesaksian ini diawali pada bulan September 2006 ketika gembala kami mencetuskan program "Tabgha Business Development Center" (TBDC) yang bertujuan untuk melahirkan pengusaha-pengusaha kristiani, dengan memindahkan anak-anak Tuhan dari kuadran karyawan ke dalam kuadran pengusaha-pengusaha baru. Kami sangat antusias mengikuti program ini dan kami percaya bahwa dengan program ini Allah akan memulihkan perekonomian kami. Tetapi apa yang terjadi selanjutnya sangat bertolak belakang dari apa yang kami bayangkan. Pada bulan Desember 2006 kami harus kehilangan pekerjaan dari sebuah perusahaan PMA (perusahaan Penanaman Modah Asing) milik orang Singapura dimana saya telah bekerja selama empat tahun terakhir, dan isteri saya hanyalah seorang ibu rumah tangga yang sedang mengandung.

Kami benar-benar tidak mempunyai pegangan apapun, bahkan ada tagihan KPR bulanan yang nilainya cukup besar bagi kami. Kami menjadi sangat takut dan khawatir akan kelangsungan hidup kami. Lalu kami memutuskan untuk sungguh-sungguh mencari Tuhan dan menyerahkan seluruh hidup kami seutuhnya kepada Tuhan.

Kami berdoa dan memutuskan untuk menjadikan gembala kami, Bapak Pdt. Hanny Andries, sebagai Musa yang akan menuntun kami seperti bangsa Israel mengaruhi padang gurun dan yang akan membawa kami ke Tanah Perjanjian. Sejak saat itu kami berikrar mengikat Perjanjian (Covenant) dengan Tuhan Yesus, bahwa mulai hari itu kami akan sungguh-sungguh melakukan segala kehendak Tuhan. Kami berusaha sungguh-sungguh untuk memperoleh perkenanan Tuhan untuk layak mengenal Dia dan kuasa kebangkitan-Nya. Kami mau dipulihkan secara jasmani maupun rohani sepenuhnya oleh Tuhan Yesus.

Setiap firman yang disampaikan gembala kami di hari Minggu kami kupas sekembalinya kami di rumah dan kami jadikan sebagai tuntunan Tuhan sepanjang minggu dan kami berdoa supaya kami dibawa Tuhan pada keadaan ketika gembala kami mendapatkan pewahyuan tersebut dari Tuhan. Hanya ini yang kami kerjakan setiap hari sebagai pengangguran.

Kami hanyalah anggota jemaat biasa dan bukan pengerja gereja, tetapi sejak saat itu kami berkomitmen untuk menjalankan setiap visi dan tuntunan dari minggu ke minggu yang disampaikan Tuhan melalui Bapak Pdt. Hanny Andries.

Tidak lama kemudian pada akhir Desember 2006, karena kasih karunia Tuhan, ada seorang sahabat yang bermurah hati untuk meminjamkan bendera perusahaannya untuk kami pakai merintis usaha baru, karena kami tidak mempunyai dana untuk mendirikan PT di Notaris. Sahabat kami tersebut juga meminjamkan kepada kami uang untuk membeli 1 set komputer, mesin fax dan printer. Saya memulai usaha ini di rumah, di kamar tidur saya, dan hanya berdua dengan isteri saya. Kami tidak mempunyai kendaraan apapun selain sebuah sepeda motor yang dipinjamkan oleh mertua saya. Kami berdua seringkali kepanasan dan kehujanan ketika kami kanvas (keliling menjadi salesman), mengantar barang atau meeting dengan customer kami. Tetapi kami selalu bersukacita dan tidak pernah mengeluh kepada siapapun. Kami merasa bahwa kami adalah pengendara sepeda motor yang paling berbahagia di Batam. Dan kami tidak pernah menceritakan keadaan kami kepada siapapun, termasuk kepada orang tua kami.

Kami selalu bersyukur bahwa Tuhan tidak pernah meninggalkan kami. Selama bulan Januari dan Februari 2007, kami harus makan dari catering hanya supaya kami bisa berutang dan baru membayarnya di akhir bulan setelah kami menerima pembayaran dari pelanggan kami.

Pada jam kerja, yang kami lakukan di rumah adalah berdoa, memuji dan menyembah Tuhan. Kami hanya menumpangkan tangan kami pada layar monitor komputer sebelum membuat setiap penawaran harga yang kami kirimkan melalui email kepada para customer kami. Dan sebagian besar akan kembali dalam bentuk Purchase Order (PO) dari customer. Saya bersama isteri yang sedang hamil tua melakukan tindakan profetik dengan bersepeda motor sambil berdoa keliling di daerah kawasan industri untuk memberkati setiap PMA dan mendeklarasikan bahwa kami mengambil harta warisan yang sudah Allah sediakan bagi kami melalui setiap PMA tersebut.

Ketika kami mulai diberkati Tuhan dan berhasil terkumpul keuntungan belasan juta rupiah, pada suatu kebaktian hari Minggu, gembala kami Bapak Pdt. Hanny Andries, menyampaikan khotbah mengenai Matius 19:16-26 tentang seorang anak muda yang kaya yang bertanya kepada Tuhan Yesus, apakah yang harus anak muda itu perbuat untuk mengikuti Tuhan karena segala hukum Taurat sudah digenapinya. Ketika Tuhan Yesus meminta anak muda itu untuk menjual seluruh hartanya dan memberikannya kepada orang miskin, maka sedihlah hati anak muda tersebut karena hartanya sangat banyak. Di akhir khotbahnya, gembala kami memberikan dorongan supaya jemaat mau mengambil bagian untuk menabur di proyek pembangunan Sentul City Convention Center (SCCC), supaya diberkati Tuhan. Kami menangkap pesan ini dan dengan spontan saya mengambil buletin SCCC yang disediakan di counter gereja. Di dalam buletin itu saya membaca banyak kesaksian hamba-hamba Tuhan dan bahkan jemaat biasa yang hidupnya diberkati setelah menabur dana di proyek SCCC, salah satunya adalah kesaksian Bapak Welyar Kauntu yang diberkati dengan mobil Kijang Innova baru.

Pada hari Senin pagi, setelah berdiskusi dengan isteri saya, kami sepakat untuk mengosongkan rekening tabungan kami dan memberikannya kepada Tuhan melalui proyek SCCC (Sentul City Convention Center). Nilainya memang tidak seberapa, hanya belasan juta saja. Tetapi itulah seluruh keuntungan usaha yang baru kami rintis, itulah persembahan buah sulung kami. Kami tidak punya uang sesenpun lagi, untuk menyambung hidup kami sampai akhir bulan, dimana kami baru akan mendapat pembayaran dari customer. (Bersambung)

Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

****

Apabila anda ingin mengalami kehidupan berdasarkan ikat janji yang kuat dengan Tuhan dan dengan para pemimpin, seperti yang dialami saudara kita Bapak Bayu Mahargo dalam kisah kesaksian di atas, yang juga mengadakan ikat janji dengan Tuhan, bacalah buku baru di bawah ini:

BARU TERBIT : BUKU "KUASA DAN BERKAT IKAT JANJI"
Penulis : Leonardo A. Sjiamsuri
Editor : Hadi Kristadi
Terbitan : Nafiri Gabriel
Harga Sama Dengan Toko Buku: Rp. 35.000.- Silakan pesan melalui 08129716102, harga belum termasuk ongkos kirim, sebutkan nama, alamat lengkap & kode pos. Pembayaran via BCA atas nama HADI no. 4980036931

Ikat janji atau covenant membuat perbedaan yang sangat besar dalam kehidupan anda dan keturunan anda. Ikat janji anda dengan Tuhan memberikan kepastian kehidupan, memberikan kasih setia dan kebenaran Tuhan, pertolongan dan perlindungan Tuhan. Ikat janji anda dengan pemimpin yang memiliki ikat janji dengan Tuhan menyediakan penudungan rohani dan mengalirkan berkat-berkat yang Tuhan berikan melalui pemimpin anda.

Jangan menyesal seperti Ham, anak Nuh, yang tidak menghormati ikat janji Tuhan, sehingga keturunannya menjadi orang-orang terkutuk, orang-orang yang jahat, orang-orang yang menyusahkan banyak orang. Jangan hidup biasa-biasa saja, tanpa arti dan tanpa kepuasan, di luar ikat janji!

Buku ini menyajikan banyak pelajaran yang mengubah kehidupan anda!

Tuesday, October 21, 2008

Push Up

PUSH UP
Ada seorang Profesor mata kuliah Agama yang bernama Dr. Christianson yang mengajar di sebuah perguruan tinggi kecil di bagian barat Amerika Serikat. Dr. Christianson mengajar ke-Kristenan di perguruan tinggi ini dan setiap siswa semester pertama diwajibkan untuk mengikuti kelas ini. Sekalipun Dr. Christianson berusaha keras menyampaikan intisari Injil di kelasnya, ia menemukan bahwa kebanyakan siswanya memandang materi yang diajarnya sebagai suatu kegiatan yang membosankan. Meskipun ia sudah berusaha sebaik mungkin, kebanyakan siswa menolak untuk menanggapi Kekristenan secara serius.

Tahun ini, Dr. Christianson mempunyai seorang siswa yang spesial yang bernama, Steve. Steve belajar dengan tujuan untuk melanjutkan studinya ke seminari dan mau masuk ke dalam pelayanan. Steve seorang yang popular, ia disukai banyak orang, dan seorang atlet yang memiliki fisik yang prima dan ia merupakan siswa terbaik di kelas profesor itu.

Suatu hari, Dr Christanson meminta Steve untuk tidak langsung pulang setelah kuliah karena ia mau berbicara kepadanya. "Berapa push up yang bisa kamu lakukan?" Steve menjawab, "Saya melakukan sekitar 200 setiap malam." "200? Lumayan itu, Steve," Dr. Christianson melanjutkan. "Apakah kamu dapat melakukan 300?" Steve menjawab, "Saya tidak tahu. Saya tidak pernah melakukan 300 sekaligus." "Apakah kamu pikir kamu dapat melakukannya? " tanya Dr. Christianson. "Ok, saya bisa coba," jawab Steve.

"Saya mempunyai satu proyek di kelas dan saya memerlukan kamu untuk melakukan 10 push up setiap kali, tapi sebanyak 30 kali, jadi totalnya 300. Dapatkah kamu melakukannya? " tanya sang profesor. Steve menjawab, "Baiklah, saya pikir saya bisa. Ok, saya akan melakukannya." Dr. Christianson berkata, "Bagus sekali! Saya memerlukan Anda untuk melakukannya Jumat ini." Dr. Christianson menjelaskan kepada Steve apa yang ia rencanakan untuk kelas mereka pada Jumat itu.

Pada hari Jumat, Steve datang awal ke kelas dan duduk di bagian depan kelas. Saat kelas bermula, sang profesor mengeluarkan satu kotak besar donat. Bukan donat yang biasa tetapi yang besar dan dengan krim di tengah-tengah. Setiap orang sangat bersemangat karena kelas itu merupakan kelas terakhir pada hari itu dan mereka bisa menikmati akhir pekan mereka setelah pesta di kelas Dr Christianson.

Dr. Christianson pergi ke baris pertama dan bertanya, "Cynthia, apakah kamu mau salah satu dari donat ini?" Cynthia menjawab, "Ya". Dr. Christianson lalu berpaling kepada Steve, "Steve, apakah kamu mau melakukan 10 push up agar Cynthia bisa mendapatkan donat ini?" "Tentu saja!" Steve lalu melompat ke lantai dan dengan cepat melakukan 10 push up. Lalu Steve kembali ke tempat duduknya. Dr.Christianson meletakkan satu donat di meja Cynthia.

Dr. Christianson lalu pergi siswa selanjutnya, dan bertanya, "Joe, apakah kamu mau suatu donat?" Joe berkata, "Ya." Dr. Christianson bertanya, "Steve, maukah kamu melakukan 10 push up supaya Joe bisa mendapatkan donatnya?"

Steve melakukan 10 push up, dan Joe mendapatkan donatnya. Begitulah selanjutnya, di baris yang pertama. Steve melakukan 10 push up untuk setiap orang sebelum mereka mendapatkan donat mereka. Di baris yang kedua, Dr. Christianson berhadapan dengan Scott. Scott seorang pemain basket, dan fisiknya sekuat Steve. Ia juga seorang yang sangat popular dan punya banyak teman wanita.

Saat profesor bertanya, "Scott, apakah kamu mau donat?" Jawaban Scott adalah, "Baiklah, bisakah saya melakukan push up saya sendiri?" Dr. Christianson berkata, "Tidak, Steve harus melakukannya." Lalu Scott berkata, "Kalau begitu, saya tidak mau donatnya." Dr. Christianson mengangkat bahunya dan berpaling kepada Steve dan meminta, "Steve, apakah kamu mau melakukan 10 push up agar Scott bisa mendapatkan donat yang tidak ia kehendaki?" Dengan ketaatan yang sempurna Steven mulai melakukan 10 push up. Scott berteriak, "Hei! Saya sudah berkata, saya tidak menginginkannya!" Dr Christianson berkata, "Lihat di sini! Ini kelas saya dan semuanya ini donat saya. Biarkan saja di atas meja jika kamu tidak menginginkannya." Ia lalu menempatkan satu donat di atas meja Scott.

Di waktu ini, Steve sudah mulai melakukan push up dengan agak perlahan. Ia hanya duduk di lantai saja karena terlalu capek untuk kembali ke tempat duduknya. Ia mulai berkeringat. Dr. Christianson mulai di baris ketiga. Para siswa sudah mulai merasa marah. Dr. Christianson bertanya kepada Jenny, "Jenny, apakah kamu menginginkan donat ini?" Dengan tegas Jenny menjawab, "Tidak." Lalu Dr. Christianson bertanya Steve, "Steve, maukah kamu melakukan 10 push up lagi agar Jenny bisa mendapatkan donat yang tidak ia mau?"

Steve melakukan 10 push up dan Jenny mendapatkan satu donat. Ruang sudah mulai dipenuhi oleh rasa tidak nyaman. Para siswa sudah mulai berkata, "Tidak!" dan semua donat dibiarkan di atas meja tanpa ada yang memakannya. Steve sudah kelelahan dan harus berusaha keras untuk tetap terus melakukan push up untuk setiap donat itu. Lantai tempat ia melakukan push up sudah dibasahi keringatnya dan lengannya sudah mulai kemerahan. Dr. Christianson bertanya kepada Robert, seorang ateis yang paling lantang suaranya kalau berdebat di kelas, apakah ia mau membantu untuk memastikan bahwa Steve tidak curang dan tetap melakukan 10 push up untuk setiap donat karena dia sendiri sudah tidak sanggup melihat Steve melakukan push-upnya.

Dr. Christianson sudah sampai ke baris ke-empat sekarang. Dan beberapa siswa dari kelas yang lain yang sudah bergabung di kelas itu dan mereka duduk di tangga. Saat profesor menghitung kembali, ternyata ada 34 siswa sekarang di kelas. Ia mulai khawatir apakah Steve dapat melakukannya. Dr. Christianson melanjutkan dari satu siswa ke siswa yang selanjutnya sampai ke akhir baris itu. Dan Steve sudah mulai bergumul. Ia membutuhkan lebih banyak waktu untuk menyelesaikan push up-nya. Steve bertanya kepada Dr. Christianson, "Apakah hidung saya harus menyentuh lantai untuk setiap push up yang saya lakukan?" Dr.Christianson berpikir sejenak dan berkata, "Semuanya ini push up kamu. Kamu yang pegang kendali. Kamu bisa melakukan apa saja yang kamu mau." Dan Dr. Christianson melanjutkan ke siswa yang selanjutnya.

Beberapa saat kemudian, Jason, seorang siswa dari kelas lain dengan santai mau masuk ke kelas, dan sebelum ia melangkahi masuk, seluruh kelas berteriak serentak, "Jangan! Jangan masuk! Kamu berdiri di luar saja!" Jason kaget karena ia tidak tahu apa yang sedang terjadi di dalam. Steve mengangkat kepalanya dan berkata, "Tidak, biarkan dia masuk."

Professor Christianson berkata, "Kamu sadar bahwa jika Jason masuk, kamu harus melakukan 10 push up untuk dia?"

Steve berkata, "Ya, biarkan dia masuk. Berikan donat kepadanya." Dr.Christianson berkata, "Ok Steve. Jason, kamu mau donat?" Jason yang baru masuk ke kelas dan tidak tahu apa-apa menjawab, "Ya, tentu saja, berikan saya donat."

Steve melakukan 10 push up dengan sangat perlahan dan bersusah payah. Jason yang kebingungan diberikan satu donat. Dr. Christianson sudah selesai dengan baris ke-empat dan mulai ke tempat siswa-siswa dari kelas lain yang duduk di tangga.

Tangan Steve sudah mulai gemetaran dan ia harus bergumul untuk mengangkat dirinya melawan tarikan gravitas. Di waktu ini, keringatnya bercucuran, dan tidak kedengaran apa-apa kecuali bunyi nafasnya yang kencang. Mata setiap orang di kelas itu mulai basah. Dua siswa terakhir adalah dua siswa perempuan yang sangat popular, Linda dan Susan.

Dr. Christianson pergi ke Linda, "Linda, apakah kamu mau donat?" Linda dengan sedih berkata, "Tidak, terima kasih."

Professor Christianson dengan perlahan bertanya, "Steve, maukah kamu melakukan 10 push up supaya Linda bisa mendapatkan donat yang tidak ia mau?" Dengan pergumulan yang berat, Steve dengan perlahan melakukan push-up untuk Linda. Lalu Dr Christianson berpaling kepada siswa yang terakhir, Susan. "Susan, kamu mau donat ini?" Susan dengan air mata yang berlinangan di pipinya mulai menangis. "Dr. Christianson, mengapa saya tidak boleh membantunya?"

Dr. Christianson, dengan mata yang berkaca-kaca berkata, "Tidak, Steve harus melakukannya sendiri; saya telah memberinya tugas itu dan ia bertanggungjawab untuk memastikan setiap orang mempunyai kesempatan untuk mendapat donat itu, tidak peduli apakah mereka menginginkannya atau tidak. Hanya Steve seorang saja yang mempunyai nilai yang sempurna. Setiap orang telah gagal dalam ujian mereka, mereka entah bolos kelas atau memberikan saya tugas yang di bawah standar. Steve memberitahu saya di latihan football, saat seorang pemain buat salah, ia harus buat push up. Saya memberitahu Steve bahwa tidak seorang pun dari kalian yang boleh datang ke pesta saya melainkan ia membayar harga dengan melakukan push up bagi kalian. Steve dan saya telah membuat perjanjian demi kalian semua."

"Steve, maukah kamu membuat 10 push up supaya Susan bisa mendapatkan donat?" Steve dengan sangat perlahan melakukan 10 push up yang terakhirnya. Ia tahu ia sudah menyelesaikan semua yang harus dia lakukan. Secara total, Steve telah melakukan 350 push up, tangannya tidak tahan lagi dan ia jatuh tersungkur ke lantai. Dr. Christianson lalu berpaling ke kelas dan berkata, "Dan, demikianlah, Juru Selamat kita, Yesus Kristus, di atas kayu salib, ia telah melakukan semua yang dibutuhkan olehnya. Ia menyerahkan semuanya. Dan seperti mereka yang ada di ruangan ini, banyak di antara kita yang membiarkan hadiah itu begitu saja di atas meja, sama sekali tidak kita jamah."

Dua siswa mengangkat Steve dari lantai untuk duduk di kursi, walaupun sangat lelah secara fisik, Steve tersenyum bahagia. "Engkau sudah berbuat dengan baik, hambaku yang baik dan setia," kata professor dan ia menambahkan, "Tidak semua khotbah disampaikan dengan kata-kata." Berpaling kepada kelas, profesor berkata, "Harapan saya adalah kalian dapat memahami dan sepenuhnya mengerti akan semua kekayaan kasih karunia dan rahmat yang telah diberikan kepada kalian lewat pengorbanan Yesus Kristus. Allah tidak menyayangkan Putra satu-satu-Nya, tetapi menyerahkan Dia untuk kita semua. Apakah kita memilih untuk menerima menolak karunia-Nya, harganya sudah lunas dibayar."

"Apakah kita akan menjadi orang yang bodoh dan yang tidak bersyukur dengan meninggalkan hadiah itu di atas meja?" (F.NAOMI.HS - Milis Terang Dunia)

Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Bound to Unforgiveness

Tak Dapat Mengampuni

Penglihatan:
Dalam sebuah penglihatan pada suatu malam saya melihat seorang wanita sedang duduk di dalam dunia orang mati. Saya tahu bahwa ia adalah seorang Kristen, sehingga saya sangat sedih melihatnya berada di tempat penyiksaan itu. Ia duduk di sudut remang-remang dan nampak sangat sedih dan tersiksa. Sementara saya melihatnya lebih dekat, saya memandang sesosok bayangan yang sedang menunggu di kegelapan di sebelah kirinya. Perhatian saya tertarik ke arah pergelangan tangannya. Pada saat ia menarik tangannya ke depan, ia memandang saya dengan tatapan tanpa harapan. Saya dapat melihat bahwa ia dirantai pada sosok yang berbahaya itu. Dalam kehidupan ini pria itu adalah penyiksanya. Pria ini melecehkan, menyiksa, dan membuat hidup wanita ini sangat menderita. Karena wanita itu menolak perintah Tuhan yang berulang-ulang agar dia mengampuni pria itu, ia saat ini diborgol pada pria jahat itu selamanya.

Saya bangun dan Tuhan mengatakan bahwa pemandangan ini adalah suatu peringatan bagi mereka yang masih hidup dan tidak dapat mengampuni orang yang menyiksa, menyakitkan, dan melecehkan diri mereka.

Perkataan Tuhan:
Anak-Ku, Aku mengasihimu. Engkau adalah milik-Ku dan tak seorangpun dapat memisahkanmu dari pada Ku. Engkau diberi pilihan untuk hidup bersama-Ku atau tidak, tetapi tak ada seorangpun yang dapat merebutmu daripada-Ku. Sekali lagi Aku akan mengatakan kepadamu bahwa Aku mengasihimu. Engkau meragukan hal ini karena “hal-hal buruk” yang terjadi di dalam kehidupanmu, namun sebenarnya Aku ada di sana bersamamu dan melihat serta menangis bersamamu. Tak ada perkara buruk yang berlalu dari penglihatan-Ku dan tak ada perkara jahat yang tak akan dihukum. Berikanlah pengampunan sehingga hal itu akan membebaskanmu. Saat ini engkau terikat pada orang yang engkau benci, tetapi apabila engkau mengampuni dia, rantai-rantai yang memborgolmu akan lepas. Engkau akan menjadi seperti tiga orang di dapur perapian panas (Sadrakh, Mesakh, Abednego) yang akan keluar dari api itu dengan selamat dan hanya tali yang mengikat mereka yang akan terbakar. Engkau tidak akan terbakar dan rambut di kepalamupun tetap utuh. Lihatlah Daniel 3. Percayalah kepada-Ku, Kekasih, percayalah kepada-Ku. Ampuni dan dapatkan kebebasanmu.

[Tuhan memberi saya arahan-arahan yang sangat jelas tentang menyebarkan pesan ini kepada gereja. Saya percaya wanita ini melambangkan setiap orang percaya, tidak peduli jenis kelaminnya, yang masih belum dapat mengampuni. Karena ia tidak dapat mengampuni, maka ia terikat dalam rantai. Ini tidak berarti bahwa orang yang melecehkan dan menyiksanya dapat bebas dari penghukuman Tuhan, tetapi wanita itu terikat rantai karena ia tidak mengampuni. Ini adalah mengenai wanita itu dan bukan mengenai pria jahat itu. “Pembalasan adalah hak Tuhan” kata firman-Nya. Apabila ada orang yang tidak dapat anda ampuni, maka peringatan keras dari penglihatan ini dan perkataan Tuhan ini adalah bagi anda. Apabila anda telah berdoa dan bertanya kepada Tuhan mengapa anda merasa begitu jauh dari pada-Nya, maka Ia memberi tahu anda saat ini bahwa Ia mengasihi anda. Janganlah berpikir bahwa pesan ini untuk orang lain sementara ada orang yang anda tolak untuk diampuni atas apa yang ia perbuat kepada anda. Ayo baca perkataan-perkataan Tuhan yang sangat berharga dalam Matius 6:14-15, Matius 7: 21-27 dan Matius 18:21-35. Ada banyak contoh lagi, tetapi bacalah firman-Nya, dan berikan pengampunan maka anda akan hidup bebas dari rantai itu. Apa yang dimerdekakan oleh Anak Allah, maka ia sungguh-sungguh bebas.] Naskah asli ditulis oleh Judy Bauman, diterjemahkan oleh Hadi Kristadi untuk http://pentas-kesaksian.blogspot.com - mohon bagian ini jangan dihilangkan ketika anda memforwardnya.

Terima kasih kepada ibu Suharti Ali yang telah mengirim naskah di bawah ini dalam bahasa Inggerisnya.

Bound to Unforgiveness
Judy Bauman
A vision in the night followed by a word from the Lord: Bound to Unforgiveness Posted: June 17, 2008

Vision:
In a vision of the night I saw a woman sitting in Sheol. I knew she was a professing Christian, so I was greatly troubled to see her in hell. She sat in a gloomy corner looking dejected and tormented. As I looked closer, I saw a shadowy figure lurking in the darkness to her left. My attention was then drawn to her wrist. As she pulled her hand forward, she looked at me with hopeless eyes. I could see that she was hand-cuffed to the menacing figure. In life this man had been her abuser. Because she had refused the Lord's repeated promptings to forgive him, she was forever chained to him.

I awoke and the Lord said that this scene is a warning to those still living in unforgiveness to an abuser.

Words:
Child, I love you. You are Mine and no one can take you away from Me. You are given the choice to walk with Me or not, but no one can take you from Me. Again I will tell you I love you. You have doubted this because of the "dark thing" that happened, but I was there and saw and wept with you. It did not go unnoticed or unpunished. Release forgiveness as it will free you. Right now you are chained to that which you hate, but as you forgive the chains will drop off. You will be as the three men in the fiery furnace - you will come out with only the ropes that bound you burned. You will not smell like smoke and no hair on your head will be singed. (See Daniel 3) Trust Me, Beloved, trust Me. Forgive and gain your freedom.

[The Lord gave me very specific directions about releasing this word to the church. I believe this woman was symbolic of every believer, regardless of gender, that has withheld forgiveness. It was her act of unforgiveness that caused her bondage. This did not mean the abuser could not have been forgiven by God, but that she was in bondage to unforgiveness. This is about her and not him. "Vengeance is Mine," says the Lord.

If there is a person you will not forgive, then the warning of this vision and this word is for you. If you have been praying and asking the Lord why you have felt so far from Him, He is telling you right now. Do not think this is for someone else when you know there is someone you refuse to forgive for what they did to you. Please read the Lord's priceless words in Matthew 6:14-15; 7:21-27 and 18:21-35. There are many more examples, but read these Scriptures, then release forgiveness and walk away free! Jesus is praying for you right now. Read His words in Matthew and you will be set free. Whom the Son sets free is free indeed!]

****
Terima kasih untuk pesanan buku "Mukjizat Kehidupan" dari bapak Joel di Kupang, bapak Ricardo di Malang, bapak Budiarto di Lombok Tengah, ibu Linda di Manokwari, ibu Susan di Surabaya dan lain-lain.

Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Kesaksian Pembaca Buku "Mukjizat Kehidupan"

Pada tanggal 28 Oktober 2009 datang SMS dari seorang Ibu di NTT, bunyinya:
"Terpujilah Tuhan karena buku "Mukjizat Kehidupan", saya belajar untuk bisa mengampuni, sabar, dan punya waktu di hadirat Tuhan, dan akhirnya Rumah Tangga saya dipulihkan, suami saya sudah mau berdoa. Buku ini telah jadi berkat buat teman-teman di Pasir Panjang, Kupang, NTT. Kami belajar mengasihi, mengampuni, dan selalu punya waktu berdoa."

Hall of Fame - Daftar Pembaca Yang Diberkati Buku Mukjizat Kehidupan

  • A. Rudy Hartono Kurniawan - Juara All England 8 x dan Asian Hero
  • B. Pdt. DR. Ir. Niko Njotorahardjo
  • C. Pdt. Ir. Djohan Handojo
  • D. Jeffry S. Tjandra - Worshipper
  • E. Pdt. Petrus Agung - Semarang
  • F. Bpk. Irsan
  • G. Ir. Ciputra - Jakarta
  • H. Pdt. Dr. Danny Tumiwa SH
  • I. Erich Unarto S.E - Pendiri dan Pemimpin "Manna Sorgawi"
  • J. Beni Prananto - Pengusaha
  • K. Aryanto Agus Mulyo - Partner Kantor Akuntan
  • L. Ir. Handaka Santosa - CEO Senayan City
  • M. Pdt. Drs. Budi Sastradiputra - Jakarta
  • N. Pdm. Lim Lim - Jakarta
  • O. Lisa Honoris - Kawai Music Shool Jakarta
  • P. Ny. Rachel Sudarmanto - Jakarta
  • Q. Ps. Levi Supit - Jakarta
  • R. Pdt. Samuel Gunawan - Jakarta
  • S. F.A Djaya - Tamara Jaya - By Pass Ngurah Rai - Jimbaran - Bali
  • T. Ps. Kong - City Blessing Church - Jakarta
  • U. dr. Yoyong Kohar - Jakarta
  • V. Haryanto - Gereja Katholik - Jakarta
  • W. Fanny Irwanto - Jakarta
  • X. dr. Sylvia/Yan Cen - Jakarta
  • Y. Ir. Junna - Jakarta
  • Z. Yudi - Raffles Hill - Cibubur
  • ZA. Budi Setiawan - GBI PRJ - Jakarta
  • ZB. Christine - Intercon - Jakarta
  • ZC. Budi Setiawan - CWS Kelapa Gading - Jakarta
  • ZD. Oshin - Menara BTN - Jakarta
  • ZE. Johan Sunarto - Tanah Pasir - Jakarta
  • ZF. Waney - Jl. Kesehatan - Jakarta
  • ZG. Lukas Kacaribu - Jakarta
  • ZH. Oma Lydia Abraham - Jakarta
  • ZI. Elida Malik - Kuningan Timur - Jakarta
  • ZJ. Luci - Sunter Paradise - Jakarta
  • ZK. Irene - Arlin Indah - Jakarta Timur
  • ZL. Ny. Hendri Suswardani - Depok
  • ZM. Marthin Tertius - Bank Artha Graha - Manado
  • ZN. Titin - PT. Tripolyta - Jakarta
  • ZO. Wiwiek - Menteng - Jakarta
  • ZP. Agatha - PT. STUD - Menara Batavia - Jakarta
  • ZR. Albertus - Gunung Sahari - Jakarta
  • ZS. Febryanti - Metro Permata - Jakarta
  • ZT. Susy - Metro Permata - Jakarta
  • ZU. Justanti - USAID - Makassar
  • ZV. Welian - Tangerang
  • ZW. Dwiyono - Karawaci
  • ZX. Essa Pujowati - Jakarta
  • ZY. Nelly - Pejaten Timur - Jakarta
  • ZZ. C. Nugraheni - Gramedia - Jakarta
  • ZZA. Myke - Wisma Presisi - Jakarta
  • ZZB. Wesley - Simpang Darmo Permai - Surabaya
  • ZZC. Ray Monoarfa - Kemang - Jakarta
  • ZZD. Pdt. Sunaryo Djaya - Bethany - Jakarta
  • ZZE. Max Boham - Sidoarjo - Jatim
  • ZZF. Julia Bing - Semarang
  • ZZG. Rika - Tanjung Karang
  • ZZH. Yusak Prasetyo - Batam
  • ZZI. Evi Anggraini - Jakarta
  • ZZJ. Kodden Manik - Cilegon
  • ZZZZ. ISI NAMA ANDA PADA KOLOM KOMENTAR UNTUK DIMASUKKAN DALAM DAFTAR INI