Search This Blog

Loading...

Sunday, September 28, 2008

A Story of A Shoe Salesman

Dwight L. Moody adalah seorang salesman sepatu yang berpendidikan rendah dan tidak pernah ditahbiskan gereja manapun, namun ia merasakan panggilan Bapa untuk mengabarkan Injil. Pada suatu pagi hari ia dan beberapa orang teman-temannya berkumpul di ladang untuk doa, pengakuan, dan pengabdian. Temannya, Henry Varley, berkata, “Dunia ini harus melihat apa yang Bapa dapat lakukan bersama seseorang, bagi seseorang, melalui seseorang, dan dalam diri seseorang, yang sepenuhnya dan seutuhnya dipersembahkan bagi Dia.” Moody sangat tersentuh oleh perkataan itu. Kemudian ia menghadiri sebuah pertemuan dimana Charles Spurgeon berkhotbah. Dalam pertemuan itu Moody mengingat kembali perkataan temannya, “Dunia harus melihat! …bersama seseorang dan bagi seseorang dan melalui seseorang dan di dalam seseorang! Seseorang!” Varley hanya menyebutkan seseorang! Varley tidak mengadakan bahwa orang itu harus berpendidikan tinggi, atau orang yang sangat cerdas, atau apapun. Hanya seseorang! Nah, oleh Roh Kudus yang ada di dalam dirinya, ia akan menjadi salah satu daripada orang-orang itu. Tiba-tiba, dari atas balkon itu, ia melihat sesuatu yang ia tidak pernah sadari sebelumnya. Itu bukan pekerjaan Spurgeon, itu karya Bapa. Dan apabila bapa dapat memakai Spurgeon, mengapa Ia tidak memakai kita juga, dan mengapa kita tidak menyerahkan diri kita saja di kaki Tuhan kita dan berkata kepada-Nya, “Utuslah aku! Pakailah aku!”

D.L Moody adalah orang biasa yang berusaha menyerahkan diri sepenuhnya dan seutuhnya kepada Kristus. Bapa melakukan perkara-perkara luar biasa melalui orang biasa ini. Moody menjadi salah seorang penginjil terbesar di zaman moderen ini. Ia mendirikan Sekolah Alkitab, Moody Bible Institute di Chicago, yang mengutus para pria dan wanita yang telah dilatih untuk melayani Bapa. Apakah anda orang bisa yang mau melakukan perkara-perkara luar biasa yang dikerjakan Bapa? Bapa menghendaki hal itu dari setiap anak-anak-Nya. Berdoalah agar Bapa melakukan perkara-perkara luar biasa dalam hidup anda. Berdoalah mulai sekarang agar anda mempercayai-Nya untuk mencapai perkara-perkara luar biasa bagi Kerajaan-Nya melalui anda. (Diterjemahkan oleh Hadi Kristadi untuk http://pentas-kesaksian.blogspot.com, sumber: TGIF)

*****

Dwight L. Moody was a poorly educated, unordained, shoe salesman who felt God's call to preach the gospel. Early one morning he and some friends gathered in a hay field for a season of prayer, confession, and consecration. His friend Henry Varley said, "The world has yet to see what God can do with and for and through and in a man who is fully and wholly consecrated to Him." Moody was deeply moved by these words. He later went to a meeting where Charles Spurgeon was speaking. In that meeting Moody recalled the words spoken by his friend, "The world had yet to see!...with and for and through and in!...A man!" Varley meant any man! Varley didn't say he had to be educated, or brilliant, or anything else. Just a man! Well, by the Holy Spirit in him, he'd be one of those men. Then suddenly, in that high gallery, he saw something he'd never realized before. It was not Mr. Spurgeon, after all, who was doing that work; it was God. And if God could use Mr. Spurgeon, why should He not use the rest of us, and why should we not all just lay ourselves at the Master's feet and say to Him, "Send me! Use me!"

D.L. Moody was an ordinary man who sought to be fully and wholly committed to Christ. God did extraordinary things through this ordinary man. Moody became one of the great evangelists of modern times. He founded a Bible college, Moody Bible Institute in Chicago, which sends out men and women trained in service for God. Are you an ordinary man or woman in whom God wants to do extraordinary things? God desires that for every child of His. Ask God to do extraordinary things in your life. Begin today to trust Him to accomplish great things for His Kingdom through you.

Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Saturday, September 27, 2008

The Blessing of the Lord

Seorang pemilik bank yang kisahnya pernah saya tulis beberapa hari yang lalu mengisahkan betapa Tuhan itu tidak pernah berutang kepada kita. Pembangunan Sentul City Convention Center memerlukan dana lebih dari Rp. 210 milyar. Jemaat dan para pengerja gereja diajak untuk ikut menyumbang dana pada pembangunan itu. Salah satunya, sang bankir itu menyumbang dana yang cukup besar. Itu dari uang pribadi lho!

Beberapa waktu kemudian ada seorang nasabah yang jarang ketemu beliau, mengajukan proposal bisnis: Nasabahnya yang pengusaha di bidang property ini telah membebaskan tanah sekian hektar, tetapi kekurangan dana untuk menutup sekian hektar lagi sehingga tanah itu bisa lengkap, tidak bolong-bolong karena ada bagian yang belum dibebaskan. Sang nasabah menawarkan kepada bankir ini untuk ikut serta membebaskan tanah. Yang dibawa sang nasabah hanya peta tanah dan diceritakan bahwa tanah itu akan dijual kepada sebuah perusahaan asing. Hanya berdasarkan peta tanah itu saja, sang bankir berdoa kepada Tuhan, apakah bagus dan menguntungkan ikut dalam pembebasan tanah itu. Setelah berdoa dan mendapat jawaban dari Tuhan, esok harinya sang bankir menelpon pengusaha property tadi dan mentransfer dana yang dibutuhkan. Tidak ada jaminan apa-apa, tetapi hati sang bankir merasa damai sejahtera.

Beberapa minggu kemudian pengusaha property itu melaporkan bahwa seluruh tanah itu telah terjual dan bagian keuntungan sang bankir adalah jumlah yang cukup besar. Karena merasa bahwa keuntungan itu datang berkat penawaran sang pengusaha, maka sang bankir ingin memberikan "tanda terima kasih" kepada pengusaha itu.
"Pak, saya akan kirim kembali uang sejumlah sekian sebagai tanda terima kasih saya, ya!"
"Oh, jangan pak! Itu semua buat bapak. Bagian keuntungan saya sudah cukup banyak, Pak. Terima kasih."

Amsal 10:22 dalam terjemahan bahasa Inggeris berbunyi: "The blessing of the LORD, it maketh rich, and he addeth no sorrow with it." Berkat Tuhanlah yang menjadikan seseorang kaya, dan Ia tidak menambahkan kesusahan pada kekayaan itu."

Ditulis oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Friday, September 26, 2008

If only I touch His clothes, I will get well

Kalau Saja Kujamah Jubah-Nya
Pembantu di rumah adik saya menderita sakit pendarahan selama tiga bulan. Ketika saya mengetahui hal itu, saya anjurkan agar adik dan mama saya mendoakan sang pembantu. Kira-kira seminggu yang lalu saya mendapat kabar bahwa setelah didoakan, sakit pendarahan itu berhenti total. Bukan itu saja, sang pembantu ingin menerima Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat pribadi, dan ingin menerima Sakramen Baptisan Air. Puji Tuhan!

*****

Inilah salah satu kesaksian dari seorang Ibu yang baru saja membaca buku "Mukjizat Kehidupan" (24 Maret 2008):
"Pak, saya sudah selesai membaca buku ini, tapi saya mau baca ulang karena saya benar-benar diberkati dengan cerita Ibu Lidya karena saat ini saya ditegur dan mau belajar untuk tunduk kepada suami, apapun alasannya. Praise the Lord! Thanks buat bukunya. Saya mau pesan 5 buku lagi untuk dibagikan kepada teman-teman.

*****

Ditulis oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Tuesday, September 23, 2008

Prophecy of Dr. Sharon Stone

Banyak diantara anda mungkin mengenal Dr. Sharon Stone (bukan bintang film) dari Christian International Europe. Ia merupakan salah seorang nabiah yang mengherankan. Karunia yang diperolehnya cukup luar biasa. Di bawah ini adalah sebuah email yang ia kirimkan bersama perkataan nubuatan yang pernah ia sampaikan mengenai sistem perekonomian.

Peristiwa-peristiwa yang ia lihat telah terjadi persis seperti apa yang ia telah katakan. Bacalah rinciannya. Bapa sedang membawa umat-Nya ke dalam keserasian dengan sorga di bidang keuangan dan sedang membereskan persoalan-persoalan ketidak-adilan di dunia ini. Kemuliaan-Nya akan menyerbu bumi dan itu termasuk dunia keuangan dan bagaimana kekayaan harus dipakai dan dibagikan. Standard baru di bidang pengelolaan yang kreatif sedang keluar dari gereja. Bapa sedang menggunakan goncangan-goncangan di bidang perekonomian untuk membawa kita semua pada tujuan hidup kita apabila kita menanggapi dengan tepat. Saya percaya akan ada gelombang-gelombang yang akan datang di pertengahan dekade ini dengan dampak-dampak yang lebih besar. Ini adalah saat tak menentu bagi banyak orang, namun bagi gereja hal ini akan membawa kemuliaan. Inilah perkataan-perkataan penting itu…

“BULAN SEPTEMBER AKAN MEYAKINKAN ANDA BAHWA ANDA HARUS TERHUBUNG DENGAN SISTEM PEREKONOMIAN-NYA.”

Baru beberapa jam lalu kami menerima email ini dari seorang wanita yang menghadiri pertemuan dimana saya berkhotbah pada musim panas ini. Peristiwa-peristiwa dramatis telah terungkap minggu ini di Amerika Serikat dan dalam tempo 24 jam terakhir di sini di Inggris mengumandangkan kebenaran Bapa yang diperkatakan dalam nubuatan ini. Saya ingin membagikan hal ini dengan anda untuk menguatkan anda bahwa Tuhan itu setia terhadap firman-Nya dan Ia telah menyediakan jalan dan perbekalan.

Berkat dalam Kristus,

Dr. Sharon Stone


12/September/2008 15:03:43 GMT Standard Time



Dear Sharon and Greg,
Saya pikir anda akan tertarik melihat bahwa nubuatan yang anda berikan di Glasgow pada musim panas ini. Sementara saya berdoa pagi ini Bapa mengingatkan saya bahwa saya telah menuliskan hal ini pada hari Minggu pagi ketika anda bersama kami. Saya tidak tahu apakah anda mengikuti berita-berita dunia mutakhir namun ada kebakaran kereta barang di Chunnel saat ini. Dan pada tanggal 29 Agustus Sarah Palin diperkenalkan sebagai calon wakil presiden dari Alaska untuk pasangan John McCain. Juga maskapai penerbangan XL baru saja menghentikan penerbangannya karena tidak mendapatkan kreditur sehingga orang-orang yang sedang liburan terbengkelai. Minggu lalu pemerintah Inggris menunda pengenaan pajak untuk pembelian rumah di bawah 200.0000 pound selama setahun. Bukankah Bapa itu ajaib?

Your Sister in Christ,
Lisa Gibbs

Nubuatan yang diberikan Dr. Sharon Stone di Glasgow pada musim panas 2008.
“Bulan September adalah saat titik bali dan merupakan tanda zaman. Semua orang yang telah menyerasikan dengan Tuhan pada musim ini akan diberkati dengan pewahyuan dan informasi di tengah-tengah krisis dunia.

Saya melihat banyak bank akan menderita: sebuah bank kelas dunia di Amerika Serikat akan kesulitan – saya melihat pemerintah Amerika Serikat membeli utang-utang raksasa dan pemerintah di Inggris memotong pajak perumahan karena krisis perumahaan, namun tanpa hasil. Saya melihat sebuah maskapai penerbangan di Eropa bangkrut tanpa pemberitahuan sebelumnya. Saya melihat mata dunia sedang melihat, “Siapa orang ini yang muncul dari Alaska?” Dan saya melihat kepulan asap keluar dari Chunnel.

“Ketika saya melihat hal-hal itu saya mendengar dorongan semangat dari Bapa kepada para Ishak di bumi ini yang menabur di musim kering dan menuai 100 kali lipat di tahun yang sama. Saya bukanlah pengkhotbah kemakmuran, saya mendapat karunia kenabian. Dan Bapa mengatakan bahwa bulan September akan meyakinkan anda bahwa anda harus terhubung dengan sistem perekonomian-Nya. Selalu ada sedikit orang yang sangat diberkati ketika kebanyakan orang tergoncang, terancam dan ketakutan.

“Bapa katakan, ‘Apakah engkau telah menempatkan dirimu sendiri bagi HAL YANG BARU?’ Gudang perbendaharaanmu bukanlah di bank di duniaini. Diamlah dan Aku akan menebus engkau dari masalah utang-utangmu. Bukankah Aku lebih hebat bagimu dibandingkan pemerintahan manapun? Aku tidak akan membiarkan engkau terbengkalai di tanah asing, dan Aku akan menggendong engkau di atas segala keadaan, lebih baik dari pesawat atau jet apapun. Dan pengharapanmu bukanlah penyelamat dari Alaska, tetapi Aku.’ Saya tahu hal ini kedengaran aneh, demikian juga bagi saya.

Inggris, kepulan asap yang saya lihat keluar dari Chunnel adalah peringatan bagi para pendoa syafaat untuk bangkit dan memotong rancangan musuh untuk menyabotase dan mengepung keunggulan Inggris dalam bidang perdagangan. Siapa bertelinga biarlah mendengar.

Bapa, lepaskan urapan Ishak ke atas kami saat ini.”

*****
Prophet Sharon Stone - signs and the economy
Justin Abraham
Sep 13, 2008


Many of you will know Sharon from Christian International Europe- she is an amazing one of a kind prophet. Her gifting is exceptional. Below is an email she's just sent out including a word she gave regarding the economic system. The events she saw have come to pass exactly like she said. Read below for the full details. God is bringing His people into alignment with heaven in the area of money and addressing issues of injustice in the world. His glory will invade the earth and that includes the realm of finances and how wealth is used and distributed. A new standard of creative management is going to come from the church. God is using these waves in the economy to bring us into destiny if we respond correctly. I believe there are stronger waves to come towards the middle of the next decade with even greater impacts. These ae uncertain times for many, but for the church it will be glorious. Here's the word...

"SEPTEMBER WILL CONVINCE YOU
THAT YOU MUST CONNECT TO HIS ECONOMIC SYSTEM"

Just hours ago we received this e-mail from a lady who attended a meeting at which I spoke this summer. The dramatic events that have unfolded this week in the US and within the past 24 hours here in the UK resonate with the truth God spoke through this word. I want to share this with you in light of these events as an encouragement that the Lord is faithful to His Word and He has made both provision and a way.

Blessings in Christ,
Dr. Sharon Stone

12/09/2008 15:03:43 GMT Standard Time

Dear Sharon and Greg,

I thought you might be interested in seeing this prophesy you gave in Glasgow this summer. While I was in prayer this morning God reminded me that I scribed this on the Sunday morning you were with us. I don't know how much you keep up on world news but there is a freight train fire in the Chunnel right now. And on the 29th of August Sarah Palin was introduced as John McCain's vice presidential running mate from Alaska. Also XL Airlines has just halted its flights because it could not find a lender and people on holiday are stranded all over. Last week the UK government cancelled council taxes for the purchase of homes under 200,000 pounds for a year. Isn't God amazing!

Your Sister in Christ,
Lisa Gibbs

Prophecy given by Dr. Sharon Stone, Glasgow, Summer, 2008

"September is a turning point and a sign of the times. It is all about those who have made Godly alignments in this season being blessed with revelation and information in the midst of world crisis.

"I see more banks will suffer: a USA world bank's shares are in trouble - I see government in the USA bailing out mortgage giants and the government in England cutting house purchase taxes for the sagging housing crisis, to no avail. I see a European airline failing with no notice. I see the eyes of the world looking to see, 'who is this coming out of Alaska?' And I see smoke coming from the Chunnel.

"As I see these things I hear the encouragement of God to His Isaacs in the earth who sow in the times of famine and reap 100 fold in the year. I'm not a prosperity preacher, I'm a prophet. And God is saying that September will convince you that you must connect to His economic system. There are always the few that are greatly blessed when the majority are shaken, threatened and fearful.

"God says, 'Have you positioned yourself for THE NEW? Your storehouse is not an earthly bank. Hold on and I will bail you out of your mortgage issues. Am I not better to you than any government? I will not leave you stranded on foreign soil, and I will carry you above the circumstances better than any plane or jet. And your hope is not an Alaskan saviour, but Me.' I know that sounds strange, it does to me also.

"England, the smoke I saw coming out of the Chunnel is a warning for your intercessors to arise and cut off the enemy's plan to sabotage and siege England's favour in trade. Let him who has ears hear.

"God I release an Isaac anointing upon us now!"

Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Monday, September 22, 2008

Behind the Scene

Tadi malam saya berkesempatan makan malam bersama, hanya kami berempat, dengan salah seorang pemilik bank. Baru-baru ini beliau, pemilik bank tersebut, selesai menjalankan tugas pelayanan sebagai ketua panitia KKR Healing Movement di Istora Senayan.

Ketika KKR pada hari Jumat, 19 September 2008, yang lalu, acara itu bersamaan dengan KKR Pdt. Stephen Tong di Gelora Bung Karno dan satu acara lain di kompleks Senayan itu. Yang dia khawatirkan adalah soal kemacetan lalu lintas di lingkungan itu sehingga akan menghalangi jemaat yang akan datang ke KKR. Jam 18.30 tempat duduk di Istora itu baru terisi sekitar 20%. Anggota panitia lain mulai menunjukkan kegelisahan.
"Bagaimana ini, pak?"
"Tenang saja. Sabar."
"Di luaran macet ya?"
"Ya,"

Beliau kembali berdoa secara pribadi. "Tuhan, ini adalah acara-Mu. Saya mohon agar Engkau memakai acara ini untuk menyembuhkan orang-orang yang memerlukan kesembuhan. Engkau sajalah yang dipermuliakan dalam acara ini."

Dalam waktu sekitar 20 menit, jemaat datang berbondong-bondong memasuki Istora dan memenuhi hampir semua kursi-kursi yang tersedia. Yang mengharukan, banyak mukjizat kesembuhan terjadi.

Baru selesai tugas itu, datang lagi penugasan baru dari Gembala Sidang, "Pak, nanti jadi ketua panitia konser saya lagi ya?" Demikianlah Bapak Pdt. DR. Ir. Niko Njotorahardjo memilih beliau kembali untuk mengkoordinir konser pujian penyembahan album nyanyian rohani ke-7 pada tanggal 15 November 2008 nanti di Istora juga. Memang, apabila beliau memimpin acara-acara semacam ini, segalanya menjadi beres bersama Tuhan. Banyak dukungan dari berbagai pihak untuk menyukseskan pelayanan demi kemuliaan nama Tuhan Yesus!

Ditulis oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Thursday, September 18, 2008

Forgiveness Healed Cancer

DISEMBUHKAN KARENA MENGAMPUNI

Saya adalah seorang biarawati dari tarekat CB yang berkarya di Kupang NTB, nama saya Suster Marietha CB (umur 37 tahun). Tiga tahun yang lalu saya divonis oleh dokter di RS Panti Rapih Jogja bahwa saya menderita kanker payudara stadium 1B. Selama satu tahun lebih saya berusaha minum obat-obatan tradisional dan teh hijau. Setelah satu tahun saya check kembali ke dokter di Panti Rapih, stadium bertambah menjadi 2B. Kemudian oleh seorang ibu di Semarang, saya dianjurkan untuk menemui Romo Yohanes Indrakusuma, O. Carm di Cikanyere, Puncak, Jawa Barat untuk didoakan.

Pada waktu tangan Romo Yohanes menumpangkan tangan di atas kepala saya, beliau berkata: "Suster pasti menyimpan dendam yang sudah lama kepada seseorang di hati suster."

Mendengar itu saya menangis tersedu-sedu dan saya katakan kepada Romo, "Benar, Romo, saya memang membenci ayah saya sejak saya di SMP, karena ayah saya telah nengkhianati ibu, dua kakak saya dan saya. Kami diusir dari rumah kami, kemudian ayah dan seorang wanita menempati rumah yang sudah bertahun-tahun yang kami tempati itu. Sejak saat itu ibu saya sakit-sakitan dan akhirnya meninggalkan kami selama-lamanya. Dan sejak itu saya memendam kebencian terhadap ayah."

Setelah mendengarkan cerita saya, Romo Yohanes berkata: "Ya, itulah BIANG dari penyakit suster. Selama suster tidak mau mengampuni ayah, obat apapun tidak akan menyembuhkan suster. Dan mengampuni bukan hanya dengan kata-kata, tetapi harus dibuktikan dengan perbuatan."

Setelah itu saya minta ijin cuti selam enam bulan pada suster provincial CB untuk menengok dan merawat ayah, karena saya dengar dari saudara ayah kalau ayah terkena stroke. Selama enam bulan itu saya merawat ayah dengan cinta kasih yang tulus. Selama bersama ayah saya tidak minum obat apapun.

Setelah selesai masa cuti, sebelum kembali ke Kupang, saya ke RS Panti Rapih di Jogja untuk check up, dokter yang merawat saya sangat heran dan bertanya, "Suster minum obat apa selama ini?" Saya jawab, "Tidak minum apa-apa," dan saya balik bertanya, "Ada apa dokter?"

Dokter menjawab dari hasil pemeriksaan, baik darah maupun USG semuanya NEGATIVE. Langsung saya jawab, "Obatnya PENGAMPUNAN". Dokter itu heran dan bertanya, "Apa maksud suster?" Saya ceritakan semuanya. Kemudian dokter berkata, "Wah kalau begitu kepada pasien-pasien saya yang menderita kanker, saya akan bertanya, 'Apakah anda punya perasaan dendam atau benci terhadap seseorang?' Kalau jawabannya "ya", saya akan suruh dia berdamai dan memberikan pengampunan seperti suster." Sambil tertawa-tawa si dokter menepuk pundak saya.

Demikianlah pengalaman yang saya alami bisa dibagikan kepada saudara-saudara semua, bahwa PENGAMPUNAN itu sangat besar faedahnya, tidak hanya untuk jasmani tapi juga rohani kita.

Salam dalam Yesus Kristus,
Sr. Marietha, CB

Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Wednesday, September 17, 2008

Under the Direction of Holy Spirit

DI BAWAH TUNTUNAN ROH KUDUS
Ini adalah kesaksian yang diberikan oleh Bapak Pdt. Daniel Ulaan pada hari Minggu yang lalu. Pada suatu hari dia mendapatkan undangan pelayanan ke Amerika Serikat, Kanada, dan Perancis. Untuk itu permohonan visa sudah diurus dan tanpa banyak kesulitan, karena ada pihak yang menjadi sponsor, maka urusan visa akhirnya beres. Sementara menunggu kepergian ke luar negeri, ada seorang muda dengan santai berkata, "Daniel, ayo dong pelayanan ke Pulau Nias!" "Anak muda ini seenaknya saja memanggil nama "Daniel" dan mengajak ke Pulau Nias," demikian di pikiran Pendeta yang sudah agak berumur ini. Namun sebagai basa-basi ia berkata, "Begini saja, kamu berdoa dulu, dan saya juga akan berdoa. Kalau Tuhan mau saya ke Nias, Ia akan memberi konfirmasi kepada anda dan kepada saya."

Ketika Pdt. Daniel berdoa, ternyata jawaban dari Tuhan, "Kamu harus pergi ke Nias!" Lha? Bagaimana dengan biaya-biaya untuk pelayanan ini? Padahal pelayanan ke Amerika Serikat, Kanada dan Perancis sudah terjamin, ada pihak yang mensponsori kepergiannya.

Meskipun dengan berat hati ia harus membatalkan kepergiannya ke luar negeri, karena jadwalnya pada hari-hari yang sama, Pdt. Daniel Ulaan mau taat kepada perintah Roh Kudus, dan memutuskan untuk pelayanan ke Nias saja. Sebenarnya untuk mencapai Nias dapat dijalani melalui Padang yang lebih dekat dan lebih murah atau melalui Medan yang lebih jauh dan lebih mahal.
"Pergi ke Nias dari mana Tuhan?"
"Dari Medan saja!"
"Dari mana biayanya, Tuhan?"
"Nanti Aku yang sediakan. Temui seseorang yang tinggi kurus di Medan."

Dengan uang yang seadanya Pdt. Daniel berangkat ke Medan bersama seorang teman. Ia tidak ada kenalan di kota ini. Ketika berjalan-jalan di Jl. Gatot Subroto, Roh Kudus mendorong Pdt. Daniel untuk menuju rumah dengan nomor tertentu. Ketika sudah sampai di rumah yang dimaksud ternyata di ruko itu ada tulisan "Immanuel".
"Wah, puji Tuhan, ternyata rumah yang dimaksud adalah milik anak Tuhan!" pikir Pdt. Daniel senang. Ia mengetuk ruko itu karena sudah agak malam.
Tok tok tok.

Seorang Tapanuli yang kekar membuka pintu. "Mau ketemu siapa?"
Pendeta Daniel bingung. Siapa ya yang harus ia temui? Ia tidak tahu siapa namanya.
"Tidak tahu...."
"Kalau tidak tahu, jangan ganggu dong!"
Pintu ruko ditutup. Baru beberapa langkah Pdt. Daniel berlalu, Roh Kudus memerintahkannya agar kembali ke ruko itu dan mengetuk pintu. Tok tok tok!

Pintu dibuka lagi, orang Batak yang sama membuka pintu lagi, sekarang dengan muka tidak senang karena Pdt. Daniel lagi yang ada di muka ruko.
"Mau ketemu siapa?" Dengan wajah yang mulai angker ia bertanya.
"Eh, gimana ya? Saya tidak tahu..."
"Gimana sih kamu ini, tidak tahu siapa yang mau ditemui, kenapa ketuk pintu ruko ini?" Tanpa menunggu lebih lama lagi, pintu langsung ditutup kembali.

Pdt. Daniel bersama temannya kali ini berjalan menyeberang jalan. Sesampai di seberang, ia mendengar dengan jelas bisikan Roh Kudus, "Kembali lagi ke ruko itu dan ketuklah pintunya." Gimana sih, Tuhan?
"Pak Pendeta," kata temannya, "Saya menunggu di sini saja ya? Bapak sendirian saja mengetuk pintu ruko itu."

Dengan ragu Pdt. Daniel kembali ke ruko yang tadi, ia mengetuk pintu lagi. Tok tok tok!

"Mau apa lagi?" tanya orang Batak itu dengan emosi.
"Saya mau ketemu seseorang di ruko ini. Saya adalah hamba Tuhan dari Jakarta."
"Pendeta?"
"Ya."
"Tunggu sebentar, Pak Pendeta." Orang itu langsung pergi menuju ke dalam. Sikapnya berubah mendengar kata "Pendeta" dari tamu yang tak dikenalnya.

Beberapa saat kemudian ia kembali lagi dengan seseorang yang agak berumur, tinggi kurus!

"Bapak dari Jakarta?" tanya orang tinggi kurus itu.
"Ya, Pak! Saya disuruh Tuhan ketemu Bapak."

Dengan kaget orang tinggi kurus itu menyambut Pdt. Daniel Ulaan. Setelah dipersilakan masuk dan duduk di dalam, tuan rumah yang tinggi kurus itu menjelaskan. "Begini, Pak Pendeta. Saya ini ada masalah di bisnis dan pelayanan. Nampaknya saya ada di persimpangan jalan. Saya berdoa kepada Tuhan dan meminta petunjuk-Nya. Saya katakan kepada Tuhan, 'Kalau Tuhan menjawab, kirimkanlah hamba-Mu yang tidak aku kenal dan dia juga tidak kenal aku.' Dan Tuhan ternyata mengirim Bapak ke sini."

Setelah mereka berbicara, Pdt. Daniel akhirnya melayani orang kaya ini selama hampir dua minggu dan dengan sponsor keuangan dari orang Medan ini akhirnya Pdt. Daniel dapat melayani beberapa hari di Pulau Nias.

Tuntunan Roh Kudus memang sering tidak dapat dimengerti kita, namun ujungnya pasti mendatangkan kebaikan, asalkan kita taat mengikuti suara-Nya. Puji Tuhan! (Apabila anda memforward kisah ini, jangan lupa menyebutkan http://pentas-kesaksian.blogspot.com sebagai sumbernya - terima kasih.)

Ditulis oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Personal Note

Personal Note:
Bagi Pak Jimmy yang sudah memesan buku "Mukjizat Kehidupan", harap menyebutkan alamat lengkap termasuk RT/RW dan kode pos agar buku segera dikirim. Hubungi via HP saya 08129716102. Terima kasih.

*****

Saya tidak akan melayani permintaan sumbangan karena kita tidak diajarkan untuk meminta-minta kepada manusia. Berdoalah kepada Tuhan!

*****

Ditulis oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Sunday, September 14, 2008

Changed Lives

Penginjil besar H.A Ironside pada suatu saat disela oleh teriakan dari seorang ateis. Orang itu berteriak, "Tidak ada Allah! Yesus hanya mitos!", dan akhirnya orang itu berkata, "aku menantang engkau untuk berdebat!"

Ironside menanggapi, "Saya menerima tantangan anda, Pak! Tetapi dengan satu syarat. Ketika anda datang nanti, bawalah kemari sepuluh orang pria atau wanita yang hidupnya telah diubah menjadi lebih baik karena prinsip ateisme. Bawalah bekas pelacur dan para kriminal yang hidupnya telah diubah, yang kini telah menjadi individu-individu yang bermoral dan bertanggung-jawab. Bawalah para orang buangan yang semula tanpa harapan dan suruhlah mereka untuk mengatakan kepada kami bahwa ateisme telah mengangkat hidup mereka dari kubangan lumpur."

Akhirnya Ironside menutup dengan perkataan ini, "seandainya anda dapat membawa sepuluh orang semacam itu, saya mau berdebat dengan anda. Dan dengan senang hati saya akan membawa serta dua ratus orang dari kota ini yang hidupnya telah ditransformasi oleh kuasa dan Injil Yesus Kristus!"

Ironside mengetahui bahwa ateisme tidak mengubah kehidupan. Tuhan Yesuslah yang mengubah kehidupan. Jika anda adalah orang Kristen, kesaksian anda sangat berharga di hadapan Tuhan. Kisah bagaimana anda datang kepada Kristus, bagaimana Ia menghapuskan dosa-dosa anda, dan bagaimana anda mendapatkan jaminan dari-Nya bahwa anda akan hidup kekal bersama Dia merupakan kesaksian yang luar biasa bagi orang-orang di sekitar anda. Mungkin anda pikir anda bukanlah seorang penginjil hebat. Mungkin anda tidak merasa bahwa ada banyak hal di dalam hidup anda yang diinginkan orang lain. Namun kenyataannya adalah bahwa ketika orang lain melihat kehidupan anda berubah, orang lain dapat terdorong untuk percaya kepada Kristus juga. (Diterjemahkan oleh Hadi Kristadi untuk http://pentas-kesaksian.blogspot.com - mohon bagian ini tidak dihapus ketika anda memforwardnya)

*****

The great evangelist H.A. Ironside was interrupted one time by the shouts of an atheist. The atheist yelled, “There is no God! Jesus is a myth!” and finally, “I challenge you to a debate!”

Ironside responded, “I accept your challenge, sir! But on one condition. When you come, bring with you ten men and women whose lives have been changed for the better by the message of atheism. Bring former prostitutes and criminals whose lives have been changed, who are now moral and responsible individuals. Bring outcasts who had no hope and have them tell us how becoming atheists has lifted them out of the pit!

“And sir,” he concluded, “if you can find ten such men and woman, I will be happy to debate you. And when I come, I will gladly bring with me two hundred men and women from this very city whose lives have been transformed in just those ways by the power of the gospel of Jesus Christ.”

Ironside knew that atheism doesn’t change lives. Jesus changes lives.

If you’re a Christian, your testimony is like gold to God. The story of how you came to Christ, how He forgave you of your sins and how He gave you the assurance that you will live with Him forever will speak volumes to those around you.

You may not consider yourself a great evangelist. You may not feel like there’s much in your life that others would want to emulate. But the truth is that when others see your changed life, it can lead them to put their faith in Christ, too.
(Sumber naskah dalam bahasa Inggris ditulis oleh Eric Elder)

Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Blind

Buta
Ada seorang gadis buta yang membenci dirinya sendiri karena ia buta. Ia membenci siapapun, kecuali kekasihnya tercinta. Kekasihnya ini selalu ada baginya. Ia mengatakan kepada kekasihnya, "Kalau saja aku dapat melihat, aku akan menikah denganmu."

Pada suatu hari seseorang menyumbangkan sepasang mata kepada gadis ini. Ketika perban dibuka, ia dapat melihat segalanya, termasuk kekasihnya. Kekasihnya bertanya, "Sekarang engkau telah dapat melihat, maukah engkau menikah denganku?"

Gadis ini melihat kepada kekasihnya dan mendapati bahwa pria ini buta. Pemandangan kelopak mata yang tertutup telah mengejutkan gadis ini. Ia tidak menduga hal itu. Pikiran bahwa ia akan harus melihat kebutaan itu seumur hidupnya menyebabkan ia menolak untuk menikahinya.

Kekasihnya meninggalkan gadis itu dengan deraian airmata dan beberapa hari kemudian ia menuliskan sepucuk surat kepadanya, yang mengatakan: "Peliharalah matamu, kekasihku, karena sebelum mata itu menjadi milikmu, sepasang mata itu tadinya adalah milikku." (Diterjemahkan oleh Hadi Kristadi untuk http://pentas-kesaksian.blogspot.com - mohon bagian ini jangan dihapus ketika anda memforwardnya)

****

There was a blind girl who hated herself because she was blind. She hated everyone, except her loving boyfriend. He was always there for
her. She told her boyfriend, 'If I could only see the world, I will marry you.'

One day, someone donated a pair of eyes to her. When the bandages came off, she was able to see everything, including her boyfriend. He asked her, 'Now that you can see the world, will you marry me?'

The girl looked at her boyfriend and saw that he was blind. The sight of his closed eyelids shocked her. She hadn't expected that. The
thought of looking at them the rest of her life led her to refuse to marry him.

Her boyfriend left in tears and days later wrote a note to her saying: 'Take good care of your eyes, my love, for before they were yours, they were mine.'

Ditulis oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Friday, September 12, 2008

Do You Want Me To Pray For You?

Di bawah ini merupakan kesaksian dari pendeta yang kemarin berkotbah di tempat saya. Nama pendetanya Bp Wisnu. Berikut penuturan beliau:

Beberapa waktu yang lalu saya ada pelayanan untuk Youth di daerah Tangerang. Saya naik bis jurusan Tangerang pada siang harinya untuk menuju rumah kakak saya terlebih dulu karena pelayanan tersebut akan berlangsung sore hari. Di dalam bis yang penuh sesak tersebut, masuk pula seorang pengamen cilik usia sekitar 7-8 tahun dengan berbekal kecrekan sederhana (mungkin dari tutup botol) Berbekal alat musik sederhana tersebut, dia nyanyikan lagu "Yesus ajaib, Tuhanku ajaib...." (salah satu lagu Pdt. Ir. Niko Njotorahardjo) Dan kata-kata tersebut diulang terus menerus. Hampir seluruh penumpang bis memarahi anak tersebut, "Diam kamu! Jangan nyanyi lagu itu lagi. Kalau kamu nggak diam, nanti saya pukul kamu!" Tapi ternyata anak tersebut tidak menanggapi kemarahan mereka dan dengan berani terus menyanyikan lagu tersebut. Saya dalam hati berkata, "Tuhan, anak ini luar biasa. Kalau saya, belum tentu saya bisa dan berani melakukan hal tersebut."

Karena bis akan melanjutkan perjalanan menuju tol berikutnya, di pintu tol menuju Serpong (kalau tidak salah), hampir 3/4 penumpang turun dari bis tersebut. Termasuk saya dan pengamen cilik tersebut. Anak kecil itu didorong hingga akhirnya jatuh. Kemudian dia bangkit lagi. Tapi dia didorong oleh massa hingga terjatuh lagi. Semua penumpang bis mengerumuni anak itu. Saya masih ada di situ dengan tujuan jika kemudian anak tersebut akan ditempeleng atau dihajar, saya akan berusaha untuk menariknya lari menjauhi mereka.

Seluruh kerumunan itu baik pria maupun wanita menjadi marah, "Sudah dibilang jangan nyanyi masih nyanyi terus! Kamu mau saya pukul?" dst, dst. Anak kecil itu hanya terdiam. Setelah amarah mereka mulai mereda, anak kecil itu baru berbicara, "Bapak-bapak, Ibu-Ibu jika mau pukul saya, pukul saja. Kalau mau bunuh, bunuh saja. Tapi yang Bapak dan Ibu perlu tahu, walaupun saya dipukul atau dibunuh saya tetap akan menyanyikan lagu tersebut." Seluruh kerumunan menjadi terdiam sepertinya mulut mereka terkunci. Kemudian dia melanjutkan, "Sudahlah... . Bapak, Ibu tidak perlu marah-marah lagi. Sini.. saya doakan saja Bapak-Ibu."

Dan apa yang terjadi, seluruh kerumunan itu didoakan satu per satu oleh anak ini. Banyak yang tiba-tiba menangis dan akhirnya mau menerima Tuhan. Saya yang sedari tadi menyaksikan hal tersebut, kemudian pergi meninggalkan kerumunan tsb. Saya melanjutkan naik mikrolet. Jalanan macet krn kejadian tersebut hingga mikrolet melaju dengan sangat lambat.. Sopir mikroletnya bertanya, " Ada apa sih Pak? Koq banyak kerumunan?" Saya jawab "O.... Itu ada banyak orang didoakan oleh anak kecil."

Di saat mikrolet melaju dengan sangat pelan, tiba-tiba anak kecil pengamen itu naik mikrolet yang sama dengan saya. Saya kemudian bertanya, "Dik, kamu nggak takut dengan orang-orang itu?"

Jawabnya, "Buat apa saya takut? Roh yang ada dalam diri saya lebih besar dari roh apapun di dunia ini", tuturnya mengutip ayat F irman Tuhan. Lanjutnya, "Bapak mau saya doakan?"

Saya terperanjat, "Kamu mau doakan saya?"

Jawabnya, "Ya kalau Bapak mau."

Saya menjawab, "Baiklah. Kamu boleh doakan saya."

Doanya, "Tuhan berkati Bapak ini. Berkati dan urapi Bapak ini jika sore nanti dia akan ada pelayanan Youth."

Sampai di situ, saya tidak bisa menahan air mata yang deras mengalir. Saya tidak peduli lagi dengan penumpang lain yang mungkin menonton kejadian tersebut. Yang saya tahu bahwa Tuhan sendiri yang berbicara pada anak ini, dari mana dia tahu saya akan ada pelayanan Youth sore ini.

Kesaksian ditutup sampai di situ dan dengan satu kesimpulan, jika kita mau, Tuhan bisa pakai kita lebih lagi. Bukan kemampuan tapi kemauan yang Tuhan kehendaki.
~ Kesaksian oleh Pdt. Wisnu, email dikirim oleh Anna. (Diposting oleh Hadi Kristadi untuk http://pentas-kesaksian.blogspot.com)

Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Elizabeth dan Perlindungan Malaikat

Elizabeth yang berumur tiga tahun menyelesaikan doanya dan merangkak ke ranjang ketika saya menyelimuti tubuhnya dengan selimut dan seprei. “Bolehkah kita bermain di salju besok, mami?” tanyanya, sambil mengamati butiran salju yang turun di seberang jendela. “Kita lihat nanti,” kata saya. Saya memandang ke luar jendela juga. Pohon-pohon yang tinggi yang mengelilingi rumah kami sedang digoyang oleh angin kencang, cabang-cabangnya melorot karena beban berat salju. Saya menciumnya dan menutup pintu kamarnya. Angin berhembus kencang, dan ketika saya turun tangga saya dapat mendengar bunyi pohon cemara dan oaks berderit-derit dan mengeluh.

Sejak kami membeli rumah ini saya selalu khawatir akan pepohonan. Sore itu tetangga kami telah kehilangan pohon cemaranya yang sudah tua. Saya khawatir angin badai akan menumbangkan lebih banyak pohon lagi. Sebelum suami saya pergi ke luar rumah untuk menonton pertandingan bola basket di rumah seorang teman, saya memintanya untuk berdoa bersama saya tentang pepohonan itu. “Tuhan melindungi kita malam ini.”

Di ruang keluarga saya mulai memunguti boneka-boneka dan mainan-mainan dan tiba-tiba saya mendengar suara dentuman keras di atas saya. Seluruh bangunan rumah bergetar. Bahkan lantai di bawah kaki saya bergetar. Saya menjatuhkan mainan-mainan itu dan bergegas naik ke loteng.

Oh, Tuhan, jangan biarkan salah satu pohon-pohon itu tumbang. Elizabeth! Pohon cemara yang menjulang di seberang jendelanya! Bagaimana kalau oleh karena beban berat salju… Detak jantungku bertalu-talu. Saya membuka pintu kamarnya lebar-lebar. Sergapan angin dingin menempelak saya. Jendela di dekat ranjangnya telah lenyap. Bagian puncak pohon cemara telah menghajar jendela itu, membuat cabang-cabang dan salju memenuhi kamar itu. Saya merasakan pecahan-pecahan kaca di kaki saya yang memakai sandal. Oh, Tuhanku, Elizabeth pasti ketakutan. Saya menyalakan lampu dan bergegas ke samping tempat tidurnya untuk mengangkatnya dari bahaya. Namun yang sangat mengherankan saya, ia masih tidur dengan lelap. Tak ada pecahan kaca di selimut atau piyamanya.

Kemudian saya melihat sesuatu menyelimuti anak saya. Berlapis-lapis sayap membentuk tudung bulu di atas tubuhnya yang sedang tertidur. Para malaikat yang berkilauan itu menundukkan muka-muka mereka dan melebarkan sayap-sayap mereka, melindunginya dari bahaya. Anak itu meringkuk di tengah kepompong sorgawi, yang membuat perlindungan terhadap Elizabeth sehingga ia tetap hangat dan aman. Pada saat saya berdiri di sana, cahaya berkilauan itu tiba-tiba lenyap. Saya meraih Elizabeth ke dalam tangan saya, mendengarnya menggumamkan sesuatu, dan membawanya keluar dari kamar yang dingin dan berantakan itu.

Keesokan paginya saya dan Elizabeth meninjau lagi ke kamarnya. Sambil menggenggam tangannya, saya dengan hati-hati melangkah ke arah pintu kamarnya. Suami saya memasang kain di jendela yang rusak itu. Dengan berlinangan air mata, suami saya berkata, “Sayang, lihat!” Bersama-sama kami berjalan ke arah ranjang. Ribuan pecahan kaca berserakan di lantai, yang memantulkan kilauan sinar mentari pagi. Pecahan kaca yang tajam memenuhi keempat sisi tempat tidur Elizabeth. Suami saya membuka selimut, seprei dan bantal-bantal. Tak ada sebutir pecahan kaca ada di ranjang Elizabeth.

“Tadi malam ketika mami masuk ke kamar tidurmu,” kata saya kepada Elizabeth, “mami melihat berlapis-lapis sayap membungkus sekeliling kamu, melindungi kamu dan…” “Oh, mami,” anak itu menyela, ”saya tahu tentang malaikat-malaikat itu. Salah satu dari antara mereka mencolek kepala saya sebelum dia pergi.” (Diterjemahkan oleh Hadi Kristadi untuk http://pentas-kesaksian.blogspot.com - mohon bagian ini jangan dihilangkan ketika anda memforwardnya)

PS: Email dalam bahasa Inggeris telah diterima dari Ibu Suharti Ali.

*****

Elizabeth's Celestial Canopy (A True Story)
Three year old Elizabeth finished her prayers and crawled into bed as I tucked her smooth sheets and blanket snugly around her. "Can we play in the snow tomorrow, Mommy?" she asked, watching the fat, white flakes fly by the window. "We'll see," I said. I looked out the window too. The tall trees surrounding our house were being buffeted by the storm, their branches sagging under the weight of the snow. I kissed her good night and closed the door. The wind whistled, and as I went downstairs I could hear the pines and oaks creak and groan.

Ever since we bought the house I'd been anxious about the trees. That afternoon our neighbor had lost an ancient pine. I worried the storm would knock more down. Before my husband left to watch a basketball game at a friends house, I asked him to say a prayer with me about the trees. "God keep us safe tonight."

In the family room I started picking up dolls and toys and just then I heard a loud crash above me. The whole house trembled. Even the floorboards beneath my feet shook. I dropped the toys and ran upstairs.

Dear God, don't let it be one of the trees. Elizabeth! that towering pine outside her window! What if under the weight of the heavy snow.... Heart Hammering, I flung her door wide open. A blast of cold air hit me. The window near her bed was gone. The upper part of the pine tree had knocked it out, leaving behind branches and snow. I felt glass crunch beneath my slippered feet. Oh my God, Elizabeth must be scared to death. I turned on the lights and rushed to her bedside to lift her from danger. But to my amazement she was still sleeping peacefully. There wasn't any glass on her coverlet or pajamas.

Then I saw them surrounding her. Layer upon layer of wings forming a feathery canopy above her sleeping form. Luminescent angels bowed their heads, spreading their wings over her, shielding Elizabeth from harm. She was nestled in the center of this celestial cocoon, warm and safe.

As I stood there, the shimmering glow suddenly vanished. I scooped Elizabeth into my arms, hearing her mumble sleepily, and rushed her out of the damaged, cold room. The next morning Elizabeth and I ventured back to her bedroom. Holding her hand, I gingerly stepped over the threshold. My husband was tacking a tarp over the broken window. His eyes filling with tears, he said, "Honey, look." Together we walked over to the bed. Thousands of pieces of broken glass lay on the floor, sparkling in the morning sun. Needle-sharp shards were scattered on all 4 sides of her bed. My husband ran his hands over the blankets, sheets and pillows. Not a single splinter of glass was on Elizabeth's bed.

"Last night when I came into your room," I said to Elizabeth, "I saw layer upon layer of wings wrapped around you, protecting you and ........"
"Oh Mommy," she interrupted, "I know about the angels. One of them patted me on the head before it left!"

Sumber naskah dalam bahasa Inggeris:http://www.jesusone.com

Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Monday, September 8, 2008

Migraine Gone

Sakit Kepala Migrain Disembuhkan
Ada sebuah konser Kristen yang saya pernah hadiri. Penyanyi utama yang populer itu menderita sakit kepala migren dan pihak panitia hampir membatalkan pertunjukannya. Saya tiba-tiba merasa ada dorongan kuat di hati ini dan saya melangkah menuju belakang panggung, dan saya menemui penyanyi itu. Saya mendatanginya dan bertanya kepadanya apakah ia ingin agar Tuhan Yesus menyembuhkannya. Tanpa keraguan ia berkata “Ya”.

Saya menumpangkan tangan di kepalanya dan memperkatakan doa yang disertai iman. Segera setelah saya selesai berdoa, ia dengan bahagia mengatakan bahwa sakit kepalanya tiba-tiba hilang. Ia sangat senang sekali! Pertunjukannya diteruskan sesuai jadwal dan para penonton diberkati.

****

There was a Christian concert I once attended. The popular, featured singer developed a migraine headache and they were about to cancel her. I suddenly felt a surge of boldness and I made my way backstage, and found her. I came right out and asked if she would like for Jesus to heal her, and without hesitation she said yes.

I laid my hand on her head and prayed the prayer of faith. As soon as my prayer was finished, she happily announced that her headache had suddenly disappeared. She was ecstatic! Her act went on as scheduled and the large crowd was blessed. (Jim Bramlett)

Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Sunday, September 7, 2008

A Holy Spirit Revival @ The Store

KKR di Toko

Sore ini saya sedang menonton Daystar Christian TV Channel dan mendengarkan wawancara yang menarik dengan Pendeta Che Ahn dari Harvest Rock Church di Pasadena, California.

Pendeta Che Ahn sedang menceritakan tentang kebangunan rohani di kalangan orang muda di berbagai gereja, dengan banyak anak muda yang dipenuhi Roh Kudus dan disertai manifestasi tanda-tanda dan mukjizat-mukjizat dalam kesaksian mereka. Ia memberi beberapa contoh yang dialami anak muda berusia 22 tahun yang ia kenal dan sedang mengantri di depan kasir. Anak muda ini memperhatikan seorang ibu yang berdiri di depannya yang memakai alat bantu pendengaran. Ia dengan berani bertanya kepada wanita ini, “Apakah saya boleh mendoakan anda sehingga Tuhan akan memulihkan pendengaran anda?”

Ia berkata, “Ya”, dengan anggapan bahwa anak muda ini akan mendoakan kemudian. Namun, anak muda ini ingin berdoa pada saat itu dan di tempat itu juga, dan wanita itu menyetujuinya. Ia berdoa, lantas meminta wanita itu melepaskan alat bantu pendengarannya. Ketika alat itu dilepaskan dan anak muda itu mengecek apakah pendengarannya sudah oke, wanita itu kemudian mengetahui bahwa pendengarannya sempurna! Ia begitu senang dan keheranan. Kasir yang melihat kejadian itu sampai meneteskan air matanya, karena mengetahui bahwa wanita itu baru saja mengalami jamahan Tuhan.

Anak muda itu kemudian meminjam mikrofon di depan kasir itu dan mengumumkan kepada seluruh pengunjung toko itu, “Perhatian, para pelanggan! Tuhan sedang menyembuhkan di gang nomor 4. Ayo, datang ke sini dan dapatkan kesembuhan bagi anda sendiri.” Banyak pelanggan datang, dan ia menyampaikan firman Tuhan sebentar, dan banyak orang diselamatkan, juga disembuhkan. Ada kebangunan rohani yang dikerjakan oleh Roh Kudus di toko itu. (Diterjemahkan oleh Hadi Kristadi untuk http://pentas-kesaksian.blogspot.com pada tanggal 7 September 2008 – mohon informasi ini jangan dihilangkan pada saat anda memforward-nya.)

PS: Terima kasih kepada Ibu Suharti Ali yang telah mengirimkan naskah asli dalam bahasa Inggeris-nya. Gbu.

****

This afternoon I was watching the Daystar Christian TV channel on Direct TV and heard a riveting interview with a most fascinating Korean pastor, Che Ahn, of the Harvest Rock Church in Pasadena, California.

Pastor Che Ahn was sharing about a great youth revival going on in many churches, with many young people getting filled with the Spirit and manifesting signs and wonders in their witness. He gave some examples. He gave one example of a 22-year-old young man he knows who was recently standing in line at the cash register and noticed the lady in front of him wearing hearing aids. He boldly asked her, "Would you like for me to pray for you so that God will heal your hearing?"

She said yes, assuming that he meant to pray for her later. Instead, he wanted to pray for her right then and there, and she agreed. He did, then asked the lady to remove her hearing aids. She did and with some testing from the young man found out that her hearing was perfect! The lady was so excited. The cashier was in tears, knowing that she had just experienced an act of God.

The young man then asked to use her microphone. He got on the microphone and announced to the whole store, "Attention, shoppers! God is healing on aisle 4. Come on down and get yours." Many came, he preached a short sermon, and many were saved. I suspect many got healed. There was a Holy Ghost revival right there in that store. (Jim Bramlett)

Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Friday, September 5, 2008

The Miracle of a Brother's Song

The Miracle of a Brother's Song
Like any good mother, when Karen found out that another baby was on the way, she did what she could to help her 3-year-old son, Michael prepare for a new sibling. They found out that the new baby was going to be a girl, and day after day, night after night, Michael sang to his sister in Mommy's tummy. He was building a bond of love with his little sister before he even met her.

The pregnancy progressed normally for Karen, an active member of the Panther Creek United Methodist Church in Morristown, Tennessee. In time, the labor pains came. Soon it was every five minutes ... every three....every minute. But serious complications arose during delivery and Karen found herself in hours of labor. Would a C-section be required? Finally, after a long struggle, Michael's little sister was born. But she was in very serious condition. With a siren howling in the night, the ambulance rushed the infant to the neonatal intensive care unit at St. Mary's Hospital, Knoxville, Tennessee.

The days inched by. The little girl got worse. The pediatric specialist regretfully had to tell the parents, "There is very little hope. Be prepared for the worst." Karen and her husband contacted a local cemetery about a burial plot. They had fixed up a special room in their home for the new baby-but now they found themselves having to plan for a funeral. Michael, however, kept begging his parents to let him see his sister. "I want to sing to her," he kept saying.

Week two in intensive care looked as if a funeral would come before the week was over. Michael kept nagging about singing to his sister, but kids are never allowed in Intensive Care. Karen made up her mind, though. She would take Michael whether they liked it or not! If he didn't see his sister right then, he may never see her alive. She dressed him in an oversized scrub suit and marched him into ICU. He looked like a walking laundry basket. But the head nurse recognized him as a child and bellowed, "Get that kid out of here now! None are allowed."

The mother rose up strong in Karen, and the usually mild-mannered lady glared steel-eyed right into the head nurse's face, her lips a firm line. "He is not leaving until he sings to his sister!" Karen towed Michael to his sister's bedside. He gazed at the tiny infant losing the battle, a moment, then began to sing.

In the pure-hearted voice of a 3-year-old, Michael sang: "You are my sunshine, my only sunshine, you make me happy when skies are gray ---" Instantly the baby girl seemed to respond. The pulse rate began to calm down and become steady. "Keep on singing, Michael," encouraged Karen with tears in her eyes. "You never know, dear, how much I love you, Please don't take my sunshine away-..."

As Michael sang to his sister, the baby's ragged, strained breathing became as smooth as a kitten's purr. "Keep on singing, sweetheart!!!" "The other night, dear, as I lay sleeping, I dreamed I held you in my arms...," Michael's little sister began to relax as rest, healing rest, seemed to sweep over her.

"Keep on singing, Michael." Tears had now conquered the face of the bossy head nurse. Karen glowed. "You are my sunshine, my only sunshine. Please don't, take my sunshine away..." The next, day...the very next day...the little girl was well enough to go home!

Woman's Day Magazine called it "The Miracle of a Brother's Song." The medical staff just called it a miracle. The Bible defines a miracle not in terms of what natural healing and time can accomplish but in the "spontaneous and instantaneous touch of God's hand"

NEVER GIVE UP ON THE PEOPLE YOU LOVE. LOVE IS SO INCREDIBLY POWERFUL "When you were born, you cried and the world rejoiced. Live your life so that when you die, the orld cries and you rejoice."
Submitted by Tom Stryker, http://bibleprobe.com

Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Thursday, September 4, 2008

Get Married After Reading Bible Completely

Seorang pengusaha wanita bercerita kepada saya Rabu malam yang lalu, bahwa ada seorang pemuda lajang mendapat pesan dari Tuhan, “Kalau kamu sudah selesai membaca Alkitab, kamu akan mendapatkan gadis jodohmu.”

Merasa bahwa pesan itu sungguh-sungguh dari Tuhan di dalam hatinya, ia segera mulai membaca Alkitab dari kitab Kejadian berurut sampai kitab Wahyu. Ia selesai membacanya dalam tempo tiga bulan. Apa yang kemudian terjadi?

Pada suatu hari ia diperkenalkan dengan seorang gadis manis dan akhirnya mereka menikah. Dan mereka hidup berbahagia sampai saat ini. Namun resep ini belum tentu dapat berhasil bagi para lajang atau jomblo yang lain lho!

Ditulis oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

I Am Here To Finish the Race

Sebuah peristiwa di Mexico City pada tahun 1968 menjadi menarik karena setelah kejuaraan maraton di Olimpiade yang diselenggarakan di kota ini telah berakhir, dan pemenangnya telah diumumkan satu jam sebelumnya, namun ada kehebohan karena John Stephen Akhwari.

Akhwari memasuki stadion dengan beberapa orang penonton tersisa. Mereka bersorak-sorak padahal ia adalah pelari terakhir yang mencapai garis finish. John Stephen Akhwari, pelari asal Tanzania, mengakhiri kompetisi maraton dengan urutan terakhir, dan bahkan jauh tertinggal dari peserta lainnya.

Dalam pertandingan maraton tersebut ia terjatuh di jalan dan lututnya mengalami cedera parah. Sambil tertatih-tatih dan dengan perjuangan berat melawan kesakitannya, ia tetap melanjutkan perlombaan itu sampai garis finish.

Setelah melewati garis finish, beberapa penonton bertepuk tangan dan memberikan apresiasi untuk John Stephen Akhwari. Salah seorang wartawan bertanya, "Mengapa anda tidak meninggalkan pertandingan itu karena alasan cedera?"

Walaupun ia sempat bingung dengan pertanyaan itu, ia menjawab, "Negaraku tidak mengirim aku ke Mexico City ini untuk memulai pertandingan. Mereka mengirim aku untuk menyelesaikan pertandingan." (Fendy)

"Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik, aku telah mencapai garis finish dan aku telah memelihara iman." (Paulus)

Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Wednesday, September 3, 2008

Caught by GPS

Chicago - Selain mampu menunjukkan arah bagi pengemudi kendaraan, ternyata sistem perangkat Global Positioning System alias GPS bisa juga jadi barang bukti pembunuhan. Bagaimana kisahnya?

Seperti halnya jutaan pengendara mobil lainnya di Amerika Serikat, Eric Hanson memakai unit GPS di mobil Chevrolet-nya sebagai pemandu jalan. Namun, tentu ia tak pernah berharap GPS itu bakal dijadikan barang bukti pengadilan ketika Hanson membunuh keluarganya sendiri.

Kejaksaan Chicago menganalisis data dari perangkat Garmin GPS yang dipakai Hanson untuk mengetahui di mana ia berada pada hari ayah dan saudaranya terbunuh. Lewat penelisikan lokasi lewat GPS tersebut, Hanson akhirnya terbukti bersalah sebagai pelaku pembunuhan dan kemudian dihukum mati.

Proses pengadilan tersebut hanyalah salah satu kasus di mana otoritas memakai perangkat GPS untuk menentukan keberadaan terdakwa saat kejadian berlangsung. Para ahli memaparkan bahwa pemanfaatan GPS dalam proses hukum ini bakal makin umum seiring kian banyaknya pemakaian GPS.

"Tidak ada keraguan. Sistem GPS ini berfungsi mengikuti perangkat teknologi lainnya yang punya informasi forensik," demikian kata Alan Brill, ahli komputer forensik FBI, yang dikutip detikINET dari Celluler News, Rabu (3/9/2008).

Pemanfaatan teknologi untuk mengetahui lokasi seseorang memang bukan barang baru, misalnya dengan menganalisis sinyal ponsel. Namun dengan makin jamaknya pemakaian sistem GPS di berbagai perangkat, polisi tampaknya punya senjata tambahan memerangi kejahatan.

Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Saved by the Cross

Selamat Berkat Bayang Salib
Pada tahun 1967 di sebuah kelas fotografi di Universitas Cincinnati, seorang pemuda bernama Charles Murray, sedang dilatih untuk persiapan Olimpiade tahun 1968, sebagai seorang pelompat indah dari papan kolam renang. Charles dikenal sebagai seorang yang sabar.

Charles tidak dibesarkan dalam keluarga Kristen, namun keingin-tahuannya tentang Yesus sangatlah besar. Ia mulai mengajukan pertanyaan-pertanyaan tentang pengampunan dosa dan hal-hal lain. Ketika akhirnya Charles ditantang untuk menerima Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat pribadinya, ia masih menolak.

Setelah kejadian itu Charles tampak gusar dan ia penasaran dimana ia dapat mempelajari tentang keselamatan. Melalui referensi beberapa bagian Alkitab yang didengarnya, ia bergumul dengan dirinya dan ia menjadi sangat gelisah.

Oleh karena Charles sedang berlatih untuk pertandingan Olimpiade, maka ia memperoleh fasilitas khusus di kolam renang Universitas Cincinnati. Pada suatu malam antara pukul 10.30 - 11.00, Charles memutuskan untuk berenang dan melakukan sedikit latihan lompat indah. Malam itu di bulan Oktober sangat cerah dan bulan purnama tampak cemerlang. Kolam renang di Universitas itu berada di bawah langit-langit kaca sehingga cahaya bulan purnama dapat menembus langit-langit.

Charles mendaki papan lompat yang paling atas untuk melakukan lompatannya yang pertama. Pada saat itu Roh Allah mulai menempelak hatinya akan dosa-dosanya. Semua ayat-ayat firman Tuhan yang telah dibacanya bersaksi tentang Kristus dan memenuhi benaknya.

Ia berdiri di atas papan dengan membelakangi kolam renang untuk melakukan lompatan indahnya, merentangkan kedua belah lengannya untuk keseimbangan, memandang ke atas dinding dan melihat bayang-bayangnya sendiri yang disebabkan oleh cahaya rembulan.

Bayang-bayangnya berbentuk sebuah salib. Ia tak dapat menahan beban dosanya lebih lama lagi. Hatinya hancur dan ia duduk di atas papan lompat itu serta meminta Allah mengampuninya dan menyelamatkannya. Ia percaya kepada Tuhan Yesus Kristus di ketinggian lebih dari dua puluh kaki di atas tanah.

Tiba-tiba lampu-lampu di areal kolam renang itu menyala terang benderang. Petugasnya masuk untuk mengadakan pemeriksaan kolam renang. Ketika Charles menengok ke bawah dari atas papannya, ia melihat bahwa kolam renang itu tak berair, tengah dikeringkan untuk beberapa perbaikan. Ia kaget sekali. Hampir saja ia menerjunkan dirinya ke bawah menuju kematian, namun Salib telah menghentikannya dari bencana tersebut.
(Sumber: Tabloid Keluarga no. 33/2008)

Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

From the Street To the Stage

Ajeng Astiani: Dari Pengamen Jalanan Menuju Ajang Mamamia Show

Perjalanan hidup manusia memang tidak bisa ditebak. Begitu pula perjalanan hidup Ajeng Astiani. Jika dulunya ia biasa mentas di atas bis kota dengan mengamen, kini jutaan pemirsa layar kaca menjadi saksi bahwa Ajeng memiliki bakat menyanyi yang lumayan.

Kehadiran Ajeng, seorang pengamen jalanan dalam ajang pencarian bakat tingkat nasional "Mamamia Show" memang memberikan warna tersendiri. Ajeng menjadi pendobrak keberanian di kalangan pengamen untuk tampil berkompetisi di depan publik.

Ajeng telah membuktikan bahwa pengamen jalananpun memiliki bakat yang tak kalah bagus dibandingkan dengan mereka yang hidup berkecukupan. Dan lewat ajang pencarian bakat itulah kini dara kelahiran tahun 1994 ini berhasil mengangkat status ekonomi keluarga. Ajeng, yang dulunya naik turun bis kota untuk mengais rejeki, kini sudah memiliki mobil sendiri. Bahkan ia juga memiliki rumah singgah untuk anak-anak jalanan.

Sayang Orang Tua
Di mata orangtuanya, Ajeng merupakan anak yang menyenangkan dan membanggakan. Ia dikenal sebagai anak yang riang, tak pernah mengeluh. Apalagi sejak kecil ia sudah mengalami pahit getirnya kehidupan. Herry, papanya, tak bisa bekerja karena sakit keras. Terpaksa mama Cindy berjualan dengan modal seadanya. Sayang sekali usaha itu bangkrut.

Ketika duduk di kelas 3 SD orangtuanya diusir dari rumah kontrakan lantaran tak mampu membayar. Dan hampir setiap hari ada saja penagih utang yang dengan kasar meneror orangtuanya.

Beratnya beban ekonomi keluarga inilah yang membuat Ajeng bertekad untuk mencari uang sendiri dengan cara mengamen.

Setiap pagi Ajeng keluar rumah untuk “ngamen” bersama mamanya. Ngamennya di dalam bis kota. Sehari ia bisa mengamen di dalam 40 bis, lumayan hasilnya, bisa untuk makan sekeluarga. Dalam sehari Ajeng bisa mendapatkan uang sekitar Rp. 50 ribu sampai Rp. 100.000,-.

Seiring dengan rutinitas ngamennya ini, bangku sekolah mulai ditinggalkan Ajeng. Selama empat tahun dirinya berhenti bersekolah dan praktis hari-harinya diisi dengan kegiatan mencari nafkah. Karena sering pulang malam, sebagai seorang ibu, Cindy tidak tega membiarkan Ajeng. Apalagi putrinya mulai beranjak remaja. Takut kalau-kalau ada hal buruk yang akan menimpa Ajeng, maka Cindy pun memutuskan untuk menemani Ajeng mengamen.

“Mama sudah tidak tahu lagi mau usaha apa, karena itu mama mengijinkan Ajeng mengamen. Kalau mama yang mengamen, adik-adik Ajeng tidak ada yang jaga,” tutur Cindy.

Rutinitas tersebut dijalani Ajeng dengan senang hati. Ia tidak berkeluh kesah, hingga pada suatu hari Tuhan membuka jalan yang tak pernah mereka pikirkan.

“Pada suatu hari ketika Ajeng mengamen, ada seorang ibu, penumpang bis jurusan Grogol Kampung Rambutan, memberikan formulir pendaftaran Mamamia Show di Stasiun TV Indosiar. Semula Ajeng enggan, karena ia merasa minder bersaing dengan orang-orang yang hidupnya berkecukupan. Namun ibu yang baik hati itu terus mendesaknya, sehingga Ajeng mengisi formulir itu.

Memulihkan Keluarga
Penampilan Ajeng dalam kompetisi Mamamia memberikan keberuntungan tersendiri bagi keluarga. Banyak pihak mulai menawarkan kerjasama, terutama menjadi sponsor. “Beberapa orang yang tak dikenal kini mulai menawarkan bantuan. Ada orang yang datang membawa uang, ada yang langsung membawa barang, dan dan ada pula yang membawa uang sambil menjanjikan akan membawa uang lagi kalau masih diperlukan.” demikian pengakuan Cindy.

Selain mendapatkan perlakuan istimewa, keluarga Ajeng juga mendapatkan keberuntungan yang lain. Icha, kakak sulung Ajeng yang selama ini meninggalkan mereka, kini kembali ke dalam keluarga.

"Icha, anak sulung kami datang bersama dengan seorang cucu. Hati saya yang semula keras dan penuh dendam, dalam sekejap mencair. Masalah lama seperti terlupakan,” ungkap Cindy yang kini menjadi manajer Ajeng. Ternyata Ajeng tidak hanya memperbaiki ekonomi keluarga, tetapi ia juga berhasil memulihkan keluarganya. Bersatunya kembali sebuah keluarga yang sudah lama terpisah merupakan berkat Tuhan.

“Saya merasakan bahwa doa saya selama ini sudah terkabul. Anak sulung kami yang menghilang selama tiga tahun, akhirnya kembali. Dan Tuhan melalui Ajeng telah membuka jalan ke arah kehidupan yang lebih baik, tidak seperti kedua orangtuanya,” papar Cindy.

Selain Icha dan Ajeng, Herry dan Cindy masih memiliki empat orang anak lagi: Julio 8 tahun, Bagus 5 tahun, Aji 2,5 tahun, dan Cantika 1 tahun. Cantika kini diasuh oleh ibu angkatnya.

Peduli Anak Jalanan
Ajeng, sang biduanita jalanan, kini sudah menjadi artis ibukota. Dara kelahiran November 1994 ini mengatakan bahwa meskipun ia kini sudah menjadi artis penyanyi, ia tidak akan melupakan komunitas pengamen jalanan. Sebagai bukti, ia menggelar acara jumpa fans yang mengundang anak-anak jalanan pada pertengahan bulan Juni lalu. Ia memberikan suatu motivasi kepada para pengamen itu untuk mengikuti jejaknya, berprestasi di ajang musik Indonesia.

“Saya melakukan semua ini demi tanda cinta kasih sayangku kepada teman-teman pengamen. Mereka masih bergumul sebagai pengamen dengan kerasnya kehidupan ibukota,” tegas Ajeng.

Dengan didampingi papa dan mamanya, Ajeng mendirikan “Tenda Ajeng Mamamia” di perempatan Cempaka Putih, di seberang ITC Cempaka Mas. “Setiap Kamis siang dan Jumat sore aku dan keluargaku melakukan pelayanan kepada 168 teman-teman pengamen,” ucap Ajeng.

Penggemar “3 Diva” dan Beyonce ini menambahkan bahwa saat ini ia dan manajemennya sedang membangun sebuah rumah singgah untuk anak-anak jalanan, sedangkan dana untuk pembangunan rumah itu berasal dari hasil menyanyi.

“Yang jelas, aku mau menjadi berkat bagi para pengamen yang adalah saudara-saudaraku. Aku bersyukur bahwa Tuhan Yesus sudah menjawab doa-doaku,” ujar dara berwajah hitam manis ini.

Untuk ke depan, Ajeng ingin mengasah bakat nyanyinya. Ia ingin menjadi penyanyi profesional, dan ia telah meluncurkan album rohani pertama, yang berjudul "My Story".

Ajeng juga ingin melanjutkan sekolahnya. “Aku sekarang berumur 14 tahun dan seharusnya sudah duduk di bangku SMA. Tetapi karena aku dulu sempat berhenti sekolah, jadi sekarang aku baru lulus SD. Bagi Ajeng tidak ada kata “terlambat” untuk sekolah,” tuturnya dengan senyum tersungging. Puji Tuhan!
(Pertama kali naskah ini diposting oleh Hadi Kristadi untuk http://pentas-kesaksian.blogspot.com pada tanggal 3 September 2008, dengan sumber dari Tabloid Keluarga edisi 33 tahun 2008 - mohon agar keterangan ini tidak dihapus ketika anda memforwardnya.)

Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Tuesday, September 2, 2008

You Have To Feed Them

Kamu Harus Memberi Mereka Makan

Senin malam, 1 September 2008 yang lalu, saya diundang menghadiri perayaan Ulang Tahun seorang teman untuk yang ke-54. Dia lahir tahun 1954 dan Senin malam itu perayaan yang ke-54, sehingga dia merayakan hari istimewa itu. Dia ternyata masih segar bugar, sehat, fit, selalu ceria, dan awet muda untuk usia 54 tahun itu.

Diantara salah satu kesaksiannya yang menarik adalah tentang memberi makan. Dia biasa diundang untuk berkhotbah di suatu perusahaan di bilangan Gajah Mada Jakarta, sebulan sekali pada hari Jumat siang jam 12.00 - 13.00 WIB. Yang menarik, dia tidak hanya memberikan berkat rohani. Untuk itu dia pernah bertanya kepada pemilik perusahan itu, "Pak, berapa jumlah anggota persekutuan yang akan ikut?"
Untuk sejenak pemilik perusahaan itu diam, apa maksudnya nih?
"Maaf, pak, bukan apa-apa, saya ingin tahu jumlah orang yang akan hadir karena isteri saya akan membuatkan nasi box bagi seluruh peserta persekutuan doa itu."
"Oh, sekitar tiga puluhan, Pak!"
"Baiklah, pak! Saya akan buatkan lebih, supaya semua kebagian, kalau ada tambahan peserta."

Begitulah uniknya pelayanan teman yang bergerak di bidang jasa EMKL ini. Ia selalu terpanggil untuk memberikan berkat rohani dan berkat jasmani. Pernah ada orang yang menantang, "Bagaimana kalau jumlah orang yang ikut Persekutuan itu lima ratus orang? Apakah anda akan commit membawa nasi box sejumlah lima ratus?"
"Ya, tentu dong!"
"Bagaimana kalau yang datang tiga ribu orang?"
"Kalau Tuhan percayakan saya untuk mengadakan KKR di depan tiga ribu orang, pasti Dia akan cukupkan berkat-Nya kepada kami sehingga kami bisa membawa lima ribu lebih nasi box buat seluruh peserta KKR, ditambah anggota panitianya. Kami tentu commit!"

Itulah salah satu kisah menarik dari teman saya, yang saat ini menjadi Anggota Majelis Jemaat di sebuah Gereja Kristen Indonesia di bilangan Gunung Sahari.

Ditulis oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

How To Kill A Tree

Bagaimana Membunuh Pohon?

Kali ini, saya ingin bercerita tentang salah satu kebiasaan yang ditemui pada penduduk yang tinggal di sekitar kepulauan Solomon, yang letaknya di Pasifik Selatan. Nah, penduduk primitif yang tinggal di sana punya sebuah kebiasaan yang menarik yakni meneriaki pohon. Untuk apa ? Kebisaan ini ternyata mereka lakukan apabila terdapat pohon dengan akar-akar yang sangat kuat dan sulit untuk dipotong dengan kapak.

Inilah yang mereka lalukan, jadi tujuannya supaya pohon itu mati. Caranya adalah, beberapa penduduk yang lebih kuat dan berani akan memanjat hingga ke atas pohon itu.

Lalu, ketika sampai di atas pohon itu bersama dengan penduduk yang ada di bawah pohon, mereka akan berteriak sekuat-kuatnya kepada pohon itu. Mereka lakukan teriakan berjam-jam, selama kurang lebih empat puluh hari. Dan, apa yang terjadi sungguh menakjubkan. Pohon yang diteriaki itu perlahan-lahan daunnya mulai mengering. Setelah itu dahan-dahannya juga mulai rontok dan perlahan-lahan pohon itu akan mati dan mudah ditumbangkan.

Kalau kita perhatikan apa yang dilakukan oleh penduduk primitif ini sungguhlah aneh. Namun kita bisa belajar satu hal dari mereka. Mereka telah membuktikan bahwa teriakan-teriakan yang dilakukan terhadap mahkluk hidup tertentu seperti pohon akan menyebabkan benda tersebut kehilangan rohnya.

Akibatnya, dalam waktu panjang, makhluk hidup itu akan mati. Nah, sekarang, apakah yang bisa kita pelajari dari kebiasaan penduduk primitif di kepulauan Solomon ini? Ooow, sangat berharga sekali! Yang jelas, ingatlah baik-baik bahwa setiap kali Anda berteriak kepada mahkluk hidup tertentu maka berarti Anda sedang mematikan rohnya.

Pernahkah Anda berteriak pada anak Anda ?
Ayo cepat!
Dasar lelet!
Bego banget sih! Begitu aja nggak bisa dikerjakan?
Jangan main-main disini!
Berisik !

Atau, mungkin Anda pun berteriak balik kepada pasangan hidup Anda karena Anda merasa sakit hati? Saya nyesal kawin dengan orang seperti kamu tahu gak! Bodoh banget jadi laki/bini gak bisa apa-apa! Aduuuuh, perempuan kampungan banget sih!?

Atau, bisa seorang guru berteriak pada anak didiknya:
Stupid, soal mudah begitu aja nggak bisa! Kapan kamu jadi pinter?!

Atau seorang atasan berteriak pada bawahannya saat merasa kesal, Eh tahu nggak?! Karyawan kayak kamu tuh kalo pergi aku kagak bakal nyesel!
Ada banyak yang bisa gantiin kamu!
Kerja gini gak becus? Ngapain gue gaji lu?

Ingatlah! Setiap kali Anda berteriak pada seseorang karena merasa jengkel, marah, terhina, terluka ingatlah dengan apa yang diajarkan oleh penduduk kepulauan Solomon ini. Mereka mengajari kita bahwa setiap kali kita mulai berteriak, kita mulai matikan roh pada orang yang kita cintai. Kita juga mematikan roh yang mempertautkan hubungan kita. Teriakan-teriakan, yang kita keluarkan karena emosi-emosi kita perlahan-lahan, pada akhirnya akan membunuh roh yang telah melekatkan hubungan kita.

Jadi, ketika masih ada kesempatan untuk berbicara baik-baik, cobalah untuk mendiskusikan mengenai apa yang Anda harapkan. Coba kita perhatikan dalam kehidupan kita sehari-hari. Teriakan, hanya kita berikan tatkala kita bicara dengan orang yang jauh jaraknya, bukan? Nah, tahukah Anda mengapa orang yang marah dan emosional, mengunakan teriakan-teriakan padahal jarak mereka hanya beberapa belas centimeter. Mudah menjelaskannya. Pada realitanya, meskipun secara fisik mereka dekat tapi sebenarnya hati mereka begitu jauh. Itulah sebabnya mereka harus saling berteriak!

Selain itu, dengan berteriak, tanpa sadar mereka pun mulai berusaha melukai serta mematikan roh orang yang dimarahi kerena perasaan-perasaan dendam,benci atau kemarahan yang dimiliki. Kita berteriak karena kita ingin melukai, kita ingin membalas.

Jadi mulai sekarang ingatlah selalu. Jika kita tetap ingin roh pada orang yang kita sayangi tetap tumbuh, berkembang dan tidak mati, janganlah menggunakan teriakan-teriakan. Tapi, sebaliknya apabila Anda ingin segera membunuh roh orang lain ataupun roh hubungan Anda, selalulah berteriak. Hanya ada dua kemungkinan balasan yang Anda akan terima. Anda akan semakin dijauhi. Ataupun Anda akan mendapatkan teriakan balik, sebagai balasannya.

Saatnya sekarang, kita coba ciptakan kehidupan yang damai, tanpa harus berteriak-teriak untuk mencapai tujuan kita. (Sumber: Email dari seorang sahabat)

Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

He Made Me Feel Worthy

Tuhan Yesus Menjadi Pengantara dan Pembela Valvita

Persiapan Berangkat Ke Sorga
Tiga bulan setelah operasi caesar, saya memasuki Kansas University Medical Center karena saya mendapatkan infeksi serius di kandungan saya. Tepat sebelum saya meninggalkan Rumah Sakit itu, saya mulai berpikir bahwa saya akan meninggal, meskipun tidak ada ketakutan karena hal itu.

Ketika saya memandangi saudara-saudara saya, suatu perasaan yang aneh melanda saya, sepertinya saya akan melihat mereka untuk terakhir kalinya. Sementara di RS, para dokter mencoba antibiotik selama beberapa hari untuk melihat apakah mereka dapat menghindarkan pembedahan besar, namun ternyata mereka tidak berhasil. Peranakan saya akhirnya diangkat dan semuanya nampak beres.

Setelah saya menjalani masa pemulihan di RS selama tiga hari, saya mulai merasa sangat aneh. Sesuatu ada yang salah sekali, sehingga saya memanggil seorang perawat. Para dokter menemukan bahwa saya menderita radang paru-paru, penggumpalan darah, pendarahan dalam tubuh, dan gagal ginjal.


Berjuang untuk Hidup
Para dokter membawa saya ke ruang rontgent, dan selama saya diperiksa saya kadang-kadang kehilangan kesadaran. Pada suatu saat saya mendengar dokter itu memerintahkan perawat dengan suara keras untuk memeriksa tekanan darah saya. Saya mendengar jawaban perawat, “Nol. Nihil.” Saya menyadari bahwa mereka sedang berjuang mempertahankan nyawa saya. Melewati semua trauma fisik ini, saya berkata kepada Tuhan, “Mengapa saya? Mengapa sekarang?” Saya tidak ingin mati. Saya bertanya kepada Tuhan, “Mengapa?” Saya tidak pernah berpikir untuk menanyakan hal seperti itu sebelumnya, namun saya menemukan diri saya mempertanyakan situasi saya, khususnya sejak sesuatu yang ajaib terjadi selama saya ada di RS. Anda tahu, kami hampir saja mengangkat seorang anak lelaki yang baru saja dilahirkan. Bayi itu dan saya ada di RS yang sama.

Perjuangan batin saya untuk hidup itu menguras seluruh tenaga saya. Saya mencoba untuk bertahan hidup bagi orang-orang yang saya kasihi : anak perempuan saya dan suami saya, Walter. Gambar-gambar melintas tentang suami saya yang akan datang ke RS dan menemukan saya telah meninggal. Saya berdoa banyak, memohon pertolongan Tuhan.

Akhirnya saya menyadari apa yang saya sedang lakukan – mencoba mempertahankan kendali atas hidup saya. Namun seandainya saya ini anak Tuhan dan seandainya sudah waktunya bagi saya untuk meninggalkan dunia ini, saya harus menyerahkan diri saya. Saya meminta kepada Tuhan untuk mengampuni saya karena saya suka mengeluh, dan saya mendapatkan damai sejahtera.

Kemudian saya merasa sangat sadar akan nafas saya. Nafas ini menjadi makin lambat dan semakin lambat – semakin panjang antara tarikan yang satu dengan yang berikutnya. Dan setiap tarikan nafas menjadi semakin dalam dan dalam. Saya tidak pernah bernafas sedemikian dalam selama hidup saya. Saya mulai menghitung “satu, dua” dan tarikan nafas ketiga merupakan tarikan yang paling dalam, seolah-olah tarikan nafas itu datang dari kaki ke atas. Kemudian seolah-olah saya bersatu dengan tarikan nafas ketiga itu. Meskipun itu adalah tarikan nafas, saya masih mengetahui bahwa saya adalah pribadi yang utuh.


Ditemui Tuhan Yesus
Saya merasa demikian damai dan bebas. Saya mulai bergerak ke atas. Saya menyadari tubuh saya ada di bawah saya, dan samar-samar saya mengingat segala upaya yang dilakukan oleh para tim medis untuk menghidupkan kembali tubuh saya. Perhatian utama saya adalah bahwa saya ada di atas ruangan itu. Saya tidak di dalam ruangan itu namun ada di langit pertama. Saya katakan langit pertama karena saya melihat ada tiga langit yang saya lewati.

Di langit pertama saya bertemu dengan Seseorang. Atau lebih tepatnya saya ditemui Dia. Saya mengenalnya sebagai Tuhan Yesus Kristus, dan Ia menuntun saya melewati tiga langit itu. Pada saat saya memikirkan tentang kehadiran fisik Tuhan Yesus, bentuk fisiknya hampir lenyap, karena sosok utama tentang diri-Nya adalah kasih sepenuh-penuhnya. Ketika saya mengingatnya lagi, Ia memiliki rambut coklat tua bergelombang dan kulit wajah berwarna zaitun. Saya memandang mata-Nya. Mata itu demikian tajam namun penuh belas kasih, sebening dan sebiru air jernih. Anda hampir bisa melihat bayangan diri anda di mata-Nya seperti cermin saja. Ketika Ia memandang anda, Ia memandang tajam terhadap anda dan ke dalam anda. Dengan segera anda akan menyadari bahwa Ia mengetahui segala hal yang perlu Ia ketahui tentang anda.

Nampaknya ada cahaya sorgawi yang menyebabkan rambut-Nya berwarna merah dan mata-Nya kebiru-biruan, hampir transparan, dan kulit-Nya berwarna keemasan yang terang. Tak ada cara yang tepat untuk menggambarkan warna-warni penampilan-Nya. Di sini warna-warnanya berasal dari dunia lain. Itulah kemuliaan Bapa, cahaya kemilau keemasan memancar melalui Dia. Dalam tubuh kebangkitan-Nya, warna penampilan-Nya berbeda sekali dengan yang ada di bumi ini.


Di Hadapan Yang Mahatinggi
Saya akan menceritakan kepada anda apa yang terjadi di langit ketiga. Langit pertama itu berwarna biru muda, namun terang, begitu berbeda dari segala sesuatu yang pernah saya lihat yang dapat saya terangkan dengan jelas. Langit itu terbuka, terbelah dua di tengahnya, seperti layar yang menggulung ke samping dari tengah. Hal ini terjadi sekejap seperti menjentikkan jari-jari saya saja. Kami pergi melewati dua langit lagi, yang juga membuka dari bagian tengahnya.

Dalam beberapa detik saya menemukan diri saya ada di hadapan Yang Mahatinggi. Yang Mahatinggi adalah istilah yang saya pakai karena saya mengenali kehadiran Allah Bapa. Pada saat saya memandang-Nya, saya tidak dapat sungguh-sungguh melihat-Nya, namun ada kemuliaan yang sangat luar biasa, suatu hadirat yang sangat luar biasa. Anda dapat merasakan hal itu dimana-mana di sorga ketiga ini, dan saya menyadari bahwa Ia ada di tahta. Ketika saya mencoba melihat seperti apa tahta itu, saya mendapati bahwa tahta itu tak terlihat. Saya tahu bahwa tahta itu ada di sana; saya tidak dapat melihatnya! Tahta itu demikian besar sehingga sampai ke bumi; bumi adalah bagian dari tahta itu.

Terpesona dengan semua itu, saya merasa sangat begitu kecil seperti seekor semut, begitu tak berarti. Dengan gemetar saya jatuh tersungkur. Sementara saya tergeletak di sana dengan muka ke lantai, Ia berbicara kepada saya. Pembicaraan ini bukan seperti pembicaraan mental antara Kristus dengan saya, karena suara Bapa itu seperti deru air bah yang besar. Saya tergeletak di sana dalam waktu yang lama, dengan Allah Bapa berbicara kepada roh saya. Perkataan-perkataan yang Ia katakan kepada saya tak dapat saya ingat, namun perkataan-perkataan itu tentang saya dan kehidupan saya.

Sementara saya tergeletak di sana saya menghidupi kembali setiap keberadaan saya, setiap perasaan dan pikiran saya. Saya melihat mengapa saya ada sebagaimana ada; saya mengalami kembali bagaimana caranya saya berhubungan dengan orang-orang dan mereka dengan saya. Saya melihat hal-hal yang seharusnya saya dapat berbuat lebih baik. Saya merasakan perasaan-perasaan malu akan sesuatu, namun saya juga menyadari ada hal-hal baik yang saya lakukan dan merasa nyaman atas hal itu. Selagi kita melihat pemandangan-pemandangan yang berbeda-beda, saya akan menjawab, “Ya, saya tahu bahwa saya seharusnya melakukan dengan lebih baik lagi atau dengan cara yang lebih baik.” Saya membayangkan apakah ada orang yang merasa layak berada di hadirat-Nya. Saya tidak merasa tertuduh, namun saya merasa tidak layak. Agak sukar untuk menjelaskannya. Semuanya terus berlangsung, untuk berapa lama saya tidak tahu, saya terus memuji Tuhan.

Setelah berakhir tinjauan atas kehidupan saya, saya merasa sungguh-sungguh tak layak berada di sana di hadapan Terang yang Luar Biasa; tak layak dibandingkan dengan semua keberadaan yang agung di tempat ini. Semuanya nampak demikian indah, dan siapakah saya? Saya mengatakan hal ini kepada Bapa. Kemudian tangan Tuhan Yesus menyentuh saya, dan saya dapat berdiri di atas kaki saya lagi karena saya sebelumnya tidak mempunyai tenaga. Dengan menggandeng tangan saya, Ia menuntun saya ke samping arena. Ia memandang mata saya, ke dalam jiwa saya, dan saya tahu Ia mengenal dan mengerti segala yang saya rasakan. Ketika Tuhan Yesus memandang saya, hal itu dilakukannya dengan kasih yang lebih besar dari pada yang dapat saya pikir orang akan mengetahuinya. Ia tersenyum, dengan pandangan yang membuat saya mengerti bahwa segala sesuatunya akan baik-baik saja.


Jembatan
Dengan pandangan yang meyakinkan saya, Tuhan Yesus menuntun saya ke satu sisi. Ia melangkah pergi dari saya dan sendirian Ia menuju Terang. Kapan terang Kristus itu hilang dan terang Bapa itu mulai tampak, saya tidak tahu. Mereka berdua saling memberi terang dan terang mereka sama! Saya tidak akan pernah melupakan hal ini seumur hidup saya. Ketika Kristus melangkah pergi dari saya, Ia berbalik ke samping dan mengulurkan tangan-Nya seperti jembatan. Satu tangan terulur kepada saya dan satu kepada Bapa. Tangan-Nya terulur seolah-olah membentuk sebuah salib dan jembatan untuk menghubungkan saya dengan Bapa. Hal ini seperti menggambarkan apa yang tertulis di Alkitab: “Karena Allah itu esa dan esa pula Dia yang menjadi pengantara antara Allah dan manusia, yaitu manusia Kristus Yesus, yang telah menyerahkan diri-Nya sebagai tebusan bagi semua manusia: itu kesaksian pada waktu yang ditentukan.” (1 Timotius 2:5-6) Allah di satu sisi, dan semua orang di sisi yang lain. Tuhan Yesus sendiri ada di antara manusia dan Bapa-Nya untuk membawa umat-Nya. Kristus membuat hal ini mungkin dengan menyerahkan nyawa-Nya bagi semua orang. Segala hal yang saya tahu dari Alkitab melintas di pikiran saya.

Kemudian saya mendengar Bapa dan Anak berbicara tentang perkara saya. Tuhan Yesus berkata, “Darah-Ku itu cukup. Perempuan ini adalah milik-Ku!” Ketika Ia mengatakan hal ini, semua keraguan saya tentang ketidak-layakan saya lenyap. Saya melompat-lompat, bersorak sorak dan bersukacita. Saya tidak pernah merasa sedemikian berbahagia seumur hidup saya! Jenis kasih yang saya rasakan itu melampaui apa yang dapat saya ceritakan. Saya terus menerus berkata, “Oh, Allahku. Oh, Allahku. Dia adalah Pengantara saya. Dia adalah Pembela saya.” Tepat seperti apa yang saya baca di dalam Alkitab.

Tuhan Yesus datang kembali ke tempat dimana saya berada dan memandang saya dengan kasih yang memberi penghiburan. Kami bersukacita bersama. Ia melanjutkan dengan mengajar saya dan banyak berbicara kepada saya, tetapi saya tidak dapat mengingat perinciannya. Sekarang dengan begitu bebas dan begitu dicintai, saya tidak pernah ingin meninggalkan diri-Nya. Saya mengatakan demikian kepada-Nya, namun pandangan di mata-Nya menyuruh saya untuk kembali ke bumi. Saya bertanya, “Apakah saya sungguh-sungguh harus kembali ke bumi?” Ia memandang saya dengan kelembutan dan berkata, “Ya, karena banyak pekerjaan-Ku yang harus kau lakukan di sana.”

Ketika saya kembali ke tubuh saya di ICU, hal itu terjadi secepat saya pergi meninggalkan tubuh saya. Nampaknya saya pergi dan kembali dengan kecepatan cahaya. Kristus membawa saya kembali. Saya memandang wajah-Nya yang indah untuk terakhir kalinya, suatu wajah yang seharusnya saya dapat pandangi selama-lamanya. Hal berikutnya yang saya tahu, saya sedang memandangi wajah seorang wanita yang datang ke ICU dan mengaku sebagai adik perempuan saya. Saya tidak menyadari saya ada di mana. Ketika saya melihat wajah adik saya, saya terkejut karena Tuhan Yesus telah hilang dengan cepat. Mencari wajah Tuhan Yesus namun menemukan wajah adik perempuan saya, membuat saya kecewa. Adik perempuan saya memberi tahu saya di kemudian hari bahwa ada pandangan di wajah saya yang ia tidak pernah jumpai sebelumnya. Ia sangat bingung dan sedikit sakit hati oleh karena tanggapan saya terhadap kehadirannya. Setelah saya menjelaskan hal yang sebenarnya di kemudian hari, adik saya akhirnya mengerti bahwa saya sebenarnya senang bertemu dengannya.

Hidup yang Berubah
Setelah saya mengalami pemulihan, saya mengambil pelajaran seni tentang lukisan dengan minyak. Saya terus menerus berusaha menangkap warna-warni Tuhan Yesus di atas kain kanvas. Itulah semua yang dapat saya lukiskan. Saya melukis Diri-Nya dengan semua warna, semua gaya, namun tak mungkin menangkap warna-warni itu. Para murid lain menggoda saya dengan mengatakan bahwa saya adalah “gadis-Nya Tuhan Yesus”.

Namun obsesi saya untuk melukis Tuhan Yesus hanyalah perubahan kecil dibandingkan dengan bidang kehidupan saya yang lain. Mungkin perubahan yang paling besar adalah cara pandang saya. Sebelum pengalaman hampir mati saya, saya biasanya selalu ribut dan rewel terhadap Walter tentang ha-hal yang remeh. Saya dulunya menuntut banyak hal bagi kepentingan diri saya saja. Ketika saya kembali dari perjalanan ke sorga itu, saya memiliki penghargaan yang makin besar terhadap hubungan antar sesama. Orang-orang lain itu demikian penting. Kebanyakan apa yang kita anggap penting itu sebenarnya tidaklah penting.

Pada tahun 1986 saya merasa Tuhan berkata kepada saya, “Gembalakanlah domba-domba-Ku.” Hal ini terjadi pada saat Walter dan saya mulai menampung para tunawisma. Kami dipanggil untuk pekerjaan itu selama beberapa tahun. Saya kira ada cara lain yang dapat kami lakukan untuk menggembalakan domba-domba-Nya. Penggembalaan anak-anak adalah cara lainnya, dan sekarang ini saya adalah seorang orangtua asuh. Kami menampung lima anak-anak di rumah kami. Setelah mengalami pengalaman hampir mati yang fantastis, saya pikir saya harus melakukan sesuatu proyek yang besar dan luar biasa bagi Allah. Ia telah menunjukkan kepada saya bahwa kehidupan ini bukanlah tentang melakukan hal-hal besar, namun melakukan apapun yang saya lakukan bagi-Nya. Selama saya di sorga, Allah tidak memberikan saya perintah khusus, namun yang paling saya rasakan dengan kuat adalah bahwa tujuan hidup saya adalah mengasihi. (Naskah ini diterjemahkan oleh Hadi Kristadi untuk http://pentas-kesaksian.blogspot.com – mohon agar keterangan ini jangan dihapus ketika anda membagikannya kepada orang-orang lain)

PS: Terima kasih, bu Suharti Ali, atas naskah asli dalam bahasa Inggeris yang dikirimkan kepada saya bersama naskah-naskah lain yang belum sempat saya terjemahkan. God bless you!

****

Jesus Mediates with God the Father for Valvita!
From Rita Bennett's Book--"To Heaven & Back".

Setting the Stage
Three months after a cesarean section, I entered Kansas University Medical Center because I had a serious infection in my reproductive organs. Just before leaving for the hospital, I began thinking I was going to die, though there wasn't any fear connected with it.

As I looked at my relatives, a strange feeling came over me, as though I were seeing them for the last time. While at the hospital, doctors tried antibiotics for several days to see if they could avoid major surgery, but they could not. I underwent a hysterectomy and all seemed well.

Recuperating in the hospital three days later, I began feeling strange. Something was very wrong, so I called a nurse. Doctors discovered that I had double pneumonia, a blood clot, internal bleeding, and kidney failure.

Fighting for Life
Doctors rushed me to X ray, and during the test I drifted in and out of consciousness. At one point I heard the doctor in a loud voice asking the nurse to check my blood pressure. I heard the nurse answer, "Zero. Zilch." I realized they were fighting for my life.

Through all this physical trauma, I was talking to God and saying, "Why me? Why now?" I didn't want to die. I was asking God, "Why?" I never thought I'd say that, but I found myself questioning my situation, especially since something wonderful had happened while I was in the hospital. You see, we were about to adopt a son who had just been born. He and I were lying in the very same hospital.

My inner fight to live was taking every ounce of energy. I was trying to hold on to life for the people I loved-my daughter, and my husband, Walter. Pictures reeled through my mind of him coming to the hospital and finding me gone. I was praying a lot, asking for God's help.

Finally I realized what I was doing-trying to maintain control of my life. But if I was God's child and if it was my time to go, I should surrender myself. I asked Him to forgive me for complaining, and I was at peace. I then became extremely conscious of my breathing. It became slower and slower-a longer time between each breath. And each breath became deeper and deeper. I had never breathed so deeply in all my life. I started counting "one, two," and the third breath was the deepest, as if it came from my feet up. Then it was as if I became that third breath. Though I was that breath, I still knew I was a whole person.

Met by Jesus
Feeling so peaceful and free, I started moving upward. I realized my body was below me, and I vaguely remember observing efforts by the medical team to revive it. My main interest was that I was above the room. I was not even in the room but in the first sky. I say first sky in the heavens, because it seemed as though there were three heavens that I passed through.

At the first heaven I met a Being. Or I should say He met me. I recognized Him as Jesus Christ, and he led me through the three heavens. When I think about Jesus' physical presence, it almost fades away, because the predominant feature is that He is love through and through. As I recall, He had dark brown wavy hair and an olive complexion. I looked into His eyes. They were piercing but loving, and as clear as blue water. You could almost see yourself mirrored in His eyes. When He looked at you, He looked straight through you and into you. You realized immediately that He knew all there was to know about you.

There now seemed to be a heavenly illumination that caused His hair to be light red and His eyes bluish, almost transparent, and His skin a light golden color. There is no way to fully describe His coloring. It is like another world's color. It's Shekinah glory, iridescent golden light glowing through Him. In His resurrection body, His coloring is uniquely different from anything on earth.

Before the Most High
I'll tell you what happened in the three heavens. The first heaven was light blue in color but brilliant, and so unlike anything I've seen that I can't fully describe it. It opened up, split down the middle as though along a seam, and both sides rolled back like paper scrolls. This happened as fast as a snap of my fingers. We went through two more skylike heavens, which also rolled back one after the other.

In a matter of seconds I found myself before the Most High. The Most High is the term I use because I recognized the presence of God the Father. In looking at Him, I couldn't really see Him, but there was an awesome glory, an awesome presence. You could feel it everywhere, and I realized that He was on the throne. When I tried to see what the throne was like, I discovered it was invisible. I knew it was there; I just could not see it! It was so big that it extended all the way to earth; earth is part of that throne. This was an incredible awareness. Stunned by it all, I felt as small as a little ant, so insignificant. Trembling, I found myself prostrate.

While I was lying there on my face, He spoke to me. It was unlike the mental speech between Christ and me, because the Father sounded like many waters rushing. I lay there a very long time, with God speaking to my soul. The words He spoke to me can't be recalled, but they were about me and my life.

As I lay there I relived every instance of my existence, every emotion and thought. I saw why I was the way I was; I reexperienced the way I had dealt with people and they with me. I saw where I could have done better. I felt emotions I was ashamed of, yet I realized there were things I had done well and felt good about. As we looked at different scenes, I would respond, "Yes, I see how I could have done it another way, a better way." I wondered how anyone could feel worthy in God's presence. I wasn't condemned, but I didn't feel worthy. It's hard to explain. The whole time that was going on, for how long I don't know, I kept praising God.

With the ending of my life review, I felt absolutely unworthy of being there in the presence of this magnificent Light; unworthy in comparison to the grand scheme of things. It is all so beautiful, and what am I? I said this to God. Then Jesus' hand touched me, and I was able to get back on my feet because I had previously had no strength. Taking me by the hand, He led me to the side of a main arena. He looked into my eyes, into my soul, and I knew He knew and understood everything I felt. When Jesus looked into me, it was with more love than I ever thought possible for anyone to know. He smiled, one look letting me know everything would be all right.


The Bridge
With this reassuring look He (Jesus) led me to one side. He stepped away from me and
went alone into the Light. Where Christ's light ended and God the Father's began, I cannot say. They both gave off light and their light was the same light! I will never forget this as long as I live. When Christ stepped away from me, He turned sideways and stretched out His arms as a bridge. One arm extended to me and one to the Father. His arms were extended as if they were making a cross and a bridge to cross over.

It was like a visual representation of the Scripture: "For there is one God and one mediator between God and men, the man Christ Jesus, who gave Himself as a ransom for all" (1 Tim 2:5-6). God is on one side, and all the people are on the other side. Jesus Himself is between human beings and His Father to bring them to Him. Christ made this possible by giving His life for all people. Everything I knew from Scripture was flashing into my mind.

Then I heard the Father and Son communing about my case. Jesus said, "My blood is sufficient. She's mine!" When He said that, all the doubts about my unworthiness
disappeared. I jumped up and down, shouting and rejoicing. I have never been so happy in all my life! The kind of love I felt is beyond explanation. I kept saying, "Oh my God. Oh, my God. This is my Mediator. This is my Advocate." Just as I read in the Bible.

Jesus came back to where I was and looked at me again with comforting love. We rejoiced together. He went on teaching me and talking to me a lot, but I don't recall the details. Now being so free and so loved, I never wanted to leave His side. I told Him so, but a look in His eyes said I had to return. I asked, "Must I really leave?" He looked at me with tenderness and said, "Yes, because there is work I have for you to do."

Coming back into my body in intensive care was as quick as my journey out had been. It seemed like the speed of light. Christ brought me back. I looked at His sweet face for the last time, a face I could have looked at forever. Next thing I knew, I was looking into the face of a friend who had gotten into intensive care by saying she was my sister. I didn't realize where I was. When I saw her face, I was shocked because Jesus was gone so fast. Looking for His face but seeing her face, I was disappointed. She told me later there was a look on my face that she had never seen before. She was confused-and a little hurt-by my response to her. After a full explanation later, she realized that I truly had been happy to see her.

Changed Life
Following my recovery, I took an art class in oil painting. I kept trying to capture the "colors of Jesus" on canvas. That's all I could paint. I painted Him in all colors, all styles, but it is impossible to capture that color. The students lovingly teased me, saying I was a "Jesus girl."

But my obsession with painting Jesus was a mild change compared to other areas of my life. Perhaps the biggest turnabout was my point of view. Before my NDE I used to fuss and bicker with Walter about petty concerns. I had wanted many things for myself. When I came back, I had a different appreciation for human relationships. They are so important. Much of what we think of as important isn't important at all.

In 1986 I felt the Lord telling me, "Feed my sheep." This was at a time when Walter and I began a shelter for the homeless. We were called to that work for several years. I guess there are different ways we can feed His sheep or His lambs. Care of children is another way, and currently I'm a foster parent. We care for five children in our home.

After having this fantastic near-death experience, I thought I should be doing big, wonderful projects for God. He has shown me that life is not about doing big things, but about doing whatever I do for Him. While I was in heaven, God did not give me a specific commission that I know of, but my strongest sense is that my purpose is to love.

Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Monday, September 1, 2008

The Girl With The Apple

Gadis Pembawa Apel

Kisah Herman Rosenblat, Miami Beach, Florida.
Bulan Agustus 1942, di Piotrkow, Polandia. Langit mendung pagi itu ketika kami menunggu dengan gelisah. Semua pria, wanita dan anak-anak dari perkampungan Yahudi Piotrokow telah digiring ke arah sebuah lapangan. Menurut kabar yang terdengar, kami akan dipindahkan. Ayahku baru saja meninggal karena penyakit tifus, yang berjangkit dengan ganas di perkampungan yang padat ini. Ketakutanku yang paling besar adalah apabila keluarga kami dipisahkan. “Apapun yang kamu lakukan,” Isidore, kakakku yang tertua, berbisik, “jangan sebutkan umurmu yang sebenarnya. Katakan saja kamu enam belas tahun!” Aku termasuk anak lelaki yang tinggi untuk umur 11 tahun, sehingga aku dapat menuakan diri. Mungkin dengan cara ini aku dianggap menjadi pekerja yang berguna.

Seorang serdadu Nazi menghampiriku, derap sepatu boot-nya menghentak di bebatuan. Ia memandangku dari atas ke bawah, kemudian menanyakan umurku. “Enam belas,” jawabku. Ia menyuruhku ke sisi kiri, dimana tiga kakakku dan para pria lain yang sehat sudah berbaris.

Ibuku dikumpulkan di sebelah kanan bersama para wanita lain, anak-anak, orang-orang sakit dan orang-orang tua. Aku berbisik kepada Isidore, “Kenapa?” tanyaku. Ia tidak menjawab. Aku berlari ke arah mama dan berkata bahwa aku ingin ikut dengannya. “Jangan!” katanya dengan tegas. “Pergilah. Jangan mengganggu. Pergilah bersama kakak-kakakmu.” Ibu tak pernah berkata dengan keras seperti itu sebelumnya. Tetapi aku mengerti. Ia sedang melindungiku. Ia mengasihiku sedemikian besar, sehingga kali ini ia berpura-pura sebaliknya. Itulah kali terakhir aku melihat ibu.

Kakak-kakakku dan aku sendiri dipindahkan dalam truk ternak ke Jerman. Kami tiba di Kamp Konsentrasi Buchenwald pada malam hari seminggu kemudian dan kami digiring ke sebuah barak yang sesak. Hari berikutnya, kami diberi pakaian seragam dan nomor pengenal. “Jangan panggil aku Herman lagi.” kataku kepada kakak-kakakku. “Panggil saja si 94983”. Aku ditugaskan untuk bekerja di bagian krematorium di kamp itu, mengangkut jenazah ke dalam elevator yang digerakkan tangan. Aku juga merasa sudah mati. Hatiku beku, aku telah menjadi sebuah angka belaka.

Segera aku dan kakak-kakakku dikirim ke Schlieben, salah satu cabang kamp Buchenwald, dekat Berlin.

Pada suatu pagi aku pikir aku mendengar suara ibuku. “Nak,” katanya dengan lembut namun jelas, “aku mengirimkan kepadamu seorang malaikat.” Kemudian aku bangun. Cuma mimpi. Mimpi yang indah. Namun di tempat seperti ini mana ada malaikat? Yang ada hanya bekerja. Dan kelaparan. Dan ketakutan.

Beberapa hari kemudian, aku sedang berjalan-jalan keliling kamp, di belakang barak-barak, dekat pagar yang beraliran listrik dimana para penjaga tidak mudah melihat. Aku sendirian. Di seberang pagar itu, aku melihat seseorang: seorang gadis muda dengan rambut ikal yang berkilauan. Ia setengah bersembunyi di belakang pohon murad. Aku melihat ke sekeliling untuk memastikan tidak ada orang lain yang melihatku.

Aku memanggilnya pelan-pelan dalam bahasa Jerman. “Apakah kamu punya makanan?” Ia tidak mengerti. Aku bergeser sedikit ke arah pagar dan mengulangi pertanyaan tadi dalam bahasa Polandia. Ia melangkah maju. Aku kurus kering, dengan kain rombeng menutup sekeliling kakiku, namun gadis itu nampak tidak ketakutan. Di matanya kulihat kehidupan. Ia mengambil sebutir apel dari jaket wolnya dan melemparkannya ke arah pagar. Aku menangkap buah itu, dan begitu aku akan berlari menjauh, aku mendengar perkataannya yang lemah, “Aku akan ketemu kamu lagi besok.”

Aku kembali lagi ke tempat yang sama dekat pagar itu pada waktu yang sama setiap hari. Ia selalu ada di sana dengan makanan buatku: sepotong roti atau, lebih bagus lagi, sebutir apel. Kami tidak berani ngobrol atau berlama-lama. Kalau kami tertangkap, kami bisa mati. Aku tidak mengenal gadis itu, ia cuma gadis desa, kecuali bahwa ia mengerti bahasa Polandia. Siapa namanya? Mengapa ia mempertaruhkan nyawanya bagiku? Aku selalu berharap akan pemberian makanannya yang dilemparkan gadis ini dari seberang pagar, sebagai makanan yang menyehatkan dalam bentuk roti dan apel.

Hampir tujuh bulan kemudian, kakak-kakakku dan aku dimuat ke dalam sebuah kereta batu bara dan dikapalkan ke kamp Theresienstadt di Cekoslovakia. “Jangan datang lagi,” kataku kepada gadis itu. “Kami akan pergi besok.” Aku berbalik menuju barak-barak dan tak menoleh ke belakang lagi, bahkan aku juga tidak mengatakan selamat tinggal kepada gadis yang aku tak tahu namanya, gadis pembawa apel itu.

Kami berada di Theresienstadt selama tiga bulan. Perang mulai mereda dan pasukan Sekutu mulai mendekat, namun nasibku rupanya sudah ditentukan. Pada tanggal 10 Mei, 1945, aku sudah dijadwalkan untuk mati di kamar gas pada jam 10 pagi. Di dalam ketenangan fajar pagi hari, aku berusaha mempersiapkan diriku. Begitu sering kematian nampaknya sudah siap menjemputku, namun agaknya aku selalu selamat. Kini, semuanya sudah selesai. Aku memikirkan orangtuaku. Paling tidak, aku pikir kami akan dipertemukan di akhirat.

Pada jam 8 pagi ada keributan. Aku mendengar teriakan, dan melihat orang-orang berlarian ke segala arah ke luar kamp. Aku pergi bersama kakak-kakakku. Pasukan Rusia telah membebaskan kamp ini! Pintu kamp terbuka lebar. Setiap orang berlarian, begitu juga aku.

Secara mengherankan, semua kakak-kakakku selamat. Aku tidak tahu bagaimana caranya. Namun aku tahu bahwa gadis pemberi apel itu telah menjadi kunci bagi kelangsungan hidupku. Di tempat yang nampaknya kejahatan merajalela, kebaikan seseorang telah menyelamatkan hidupku, telah memberiku harapan di tempat dimana tidak ada harapan. Ibuku telah berjanji mengirimkan seorang malaikat, dan malaikat itu telah datang.

Akhirnya aku mencapai Inggeris dimana aku disponsori oleh sebuah yayasan Yahudi, diinapkan di sebuah hostel dengan para pemuda lain yang telah selamat dari Pembantaian Massal dan dilatih di bidang elektronika. Kemudian aku pergi ke Amerika, dimana kakakku Sam telah lebih dahulu pindah. Aku masuk dinas ketentaraan Amerika Serikat selama Perang Korea, dan kembali ke Kota New York setelah dua tahun. Pada bulan Agustus 1957 aku membuka toko servis elektronika milikku sendiri. Aku mulai hidup menetap.

Pada suatu hari, temanku Sid, yang aku kenal di Inggeris, menelponku. “Aku punya teman kencan. Gadis ini punya kenalan seorang Polandia. Yuk, kita ajak kencan mereka berdua.” Kencan buta? Tidak, bukan untukku. Namun Sid terus mendesakku, dan beberapa hari kemudian kami pergi menuju Bronx untuk menjemput teman kencannya dan temannya Roma. Aku harus mengakui bahwa, untuk kencan buta seperti ini tidaklah terlalu buruk. Roma adalah seorang perawat di RS Bronx. Ia gadis yang baik dan cerdas. Juga cantik dengan rambut ikal yang cokelat, dan dengan bola mata hijau seperti buah badam yang berkilauan dengan kehidupan.

Kami berempat pergi ke Pulau Coney. Roma adalah gadis yang mudah diajak berbicara, enak diajak bergaul. Ia juga ternyata bosan dengan kencan buta! Kami berdua hanya menolong para sahabat kami. Kami berjalan-jalan di sepanjang pantai, menikmati hembusan angin sepoi-sepoi yang bertiup dari Samudera Atlantik, dan kemudian makan malam di pantai. Aku tak dapat mengingat saat yang lebih indah lagi.

Kami semua bergegas menuju mobil Syd, aku dan Roma duduk di kursi belakang. Sebagai seorang Yahudi Eropa yang telah selamat dari perang, kami menyadari bahwa banyak hal yang belum kami bicarakan di antara kami. Ia memulai topik itu ketika ia bertanya, “Dimana kamu,” tanyanya lembut, “ketika perang?”
“Di kamp,” kataku, sambil mengingat kenangan mengerikan yang masih jelas terekam, kehilangan keluarga yang tak terpulihkan. Aku telah berjuang untuk melupakannya. Namun kita tak dapat melupakannya.

Ia mengangguk. “Keluargaku bersembunyi di sebuah peternakan di Jerman, tak jauh dari Berlin,” katanya kepadaku. “Ayahku mengenal seorang pendeta, dan ia memberikan kami dokumen-dokumen keturunan Jerman.”

Aku dapat membayangkan betapa ia harus menanggung penderitaan juga, ketakutan yang selalu menyertai. Dan sekarang di sinilah kami, berdua selamat, di dunia yang baru. “Di sana ada sebuah kamp di dekat peternakan itu.” Roma melanjutkan. “Aku melihat seorang anak laki-laki dan aku melemparkan apel kepadanya setiap hari.” Kebetulan yang sangat mengherankan kalau ia menolong anak lelaki lain. “Seperti apa rupa anak lelaki itu?” tanyaku. “Ia tinggi, kurus, kelaparan. Aku pasti menemuinya setiap hari selama enam bulan.” Hatiku berdetak kencang. Aku tak dapat mempercayainya! Mustahil. “Apakah ia mengatakan kepadamu pada suatu hari bahwa kamu tidak perlu menemuinya lagi karena ia harus meninggalkan Schlieben?” Roma menatapku dengan heran.
“Ya.”
“Dialah aku!” Aku meluap dengan sukacita dan keheranan, perasaanku berkecamuk hebat. Aku tak percaya. Malaikatku!

“Aku tak akan membiarkanmu pergi.” kataku kepada Roma. Dan di kursi belakang mobil itu dalam suasana kencan buta, aku melamar Roma. Aku tidak ingin menunggu lagi.
“Kamu gila ya!” katanya. Namun ia mengajakku menemui orangtuanya dalam suatu makan malam Sabat pada minggu berikutnya.

Banyak hal yang ingin kuketahui tentang Roma, namun hal yang paling penting aku ketahui: keteguhan hatinya, kebaikannya. Selama beberapa bulan, di dalam keadaan yang terburuk, ia selalu datang ke pagar dan memberikanku pengharapan. Sekarang aku telah menemukannya lagi, aku tidak akan pernah membiarkannya pergi. Pada hari itu, ia menyetujui lamaranku. Dan aku selalu setia pada janjiku. Setelah hampir lima puluh tahun perkawinan kami, dengan dua orang anak dan tiga cucu, aku tidak pernah membiarkannya pergi. (Sumber: Guideposts, diterjemahkan oleh Hadi Kristadi untuk http://pentas-kesaksian.blogspot.com - mohon bagian ini jangan dihapus apabila anda memforwardnya)

***


Herman Rosenblat, Miami Beach, Florida
August 1942. Piotrkow, Poland. The sky was gloomy that morning as we waited anxiously. All the men, women and children of Piotrkow's Jewish ghetto had been herded into a square. Word had gotten around that we were being moved. My father had only recently died from typhus, which had run rampant through the crowded ghetto. My greatest fear was that our family would be separated. "Whatever you do," Isidore, my eldest brother, whispered to me, "don't tell them your age. Say you're sixteen". I was tall for a boy of 11, so I could pull it off. That way I might be deemed valuable as a worker.

An SS man approached me, boots clicking against the cobblestones. He looked me up and down, then asked my age. "Sixteen," I said. He directed me to the left, where my three brothers and other healthy young men already stood.

My mother was motioned to the right with the other women, children, sick and elderly people. I whispered to Isidore, "Why?" He didn't answer. I ran to Mama's side and said I wanted to stay with her. "No," she said sternly. "Get away. Don't be a nuisance. Go with your brothers." She had never spoken so harshly before. But I understood: She was protecting me. She loved me so much that, just this once, she pretended not to. It was the last I ever saw of her.

My brothers and I were transported in a cattle car to Germany. We arrived at the Buchenwald concentration camp one night weeks later and were led into a crowded barrack. The next day, we were issued uniforms and identification numbers. "Don'tcall me Herman anymore." I said to my brothers. "Call me 94983." I was put to work in the camp's crematorium, loading the dead into a hand-cranked elevator. I, too, felt dead. Hardened, I had become a number.

Soon, my brothers and I were sent to Schlieben, one of Buchenwald's sub-camps near Berlin. One morning I thought I heard my mother's voice. “Son,” she said softly but clearly, “I am sending you an angel.” Then I woke up. Just a dream. A beautiful dream. But in this place there could be no angels. There was only work. And hunger. And fear.

A couple of days later, I was walking around the camp, behind the barracks, near the barbed-wire fence where the guards could not easily see. I was alone. On the other side of the fence, I spotted someone: a young girl with light, almost luminous curls. She was half-hidden behind a birch tree. I glanced around to make sure no one saw me.

I called to her softly in German. "Do you have something eat?" She didn't understand. I inched closer to the fence and repeated question in Polish. She stepped forward. I was thin and gaunt, with rags wrapped around my feet, but the girl looked unafraid. In her eyes, I saw life. She pulled an apple from her woolen jacket and threw it over the fence. I grabbed the fruit and, as I started to run away, I heard her say faintly, "I'll see you tomorrow."

I returned to the same spot by the fence at the same time every day. She was always there with something for me to eat; a hunk of bread or, better yet, an apple. We didn't dare speak or linger. To be caught would mean death for us both. I didn't know anything about her, "just a kind farm girl", except that she understood Polish. What was her name? Why was she risking her life for me? Hope was in such short supply, and this girl on the other side of the fence gave me some, as nourishing in its way as the bread and apples.

Nearly seven months later, my brothers and I were crammed into a coal car and shipped to Theresienstadt camp in Czechoslovakia. "Don't return," I told the girl that day. "We're leaving." I turned toward the barracks and didn't look back, didn't even say good-bye to the girl whose name I'd never learned, the girl with the apples.

We were in Theresienstadt for three months. The war was winding down and Allied forces were closing in, yet my fate seemed sealed. On May 10, 1945, I was scheduled to die in the gas chamber at 10:00 A.M. In the quiet of dawn, I tried to prepare myself.
So many times death seemed ready to claim me, but somehow I'd survived. Now, it was over. I thought of my parents. At least, I thought we will be reunited.

At 8 A. M. there was a commotion. I heard shouts, and saw people running every which way through camp. I caught up with my brothers. Russian troops had liberated the camp! The gates swung open. Everyone was running, so I did too.

Amazingly, all of my brothers had survived; I'm not sure how. But I knew that the girl with the apples had been the key to my survival. In a place where evil seemed triumphant, one person's goodness had saved my life, had given me hope in a place where there was none. My mother had promised to send me an angel, and the angel had come.

Eventually I made my way to England where I was sponsored by a Jewish charity, put up in a hostel with other boys who had survived the Holocaust and trained in electronics. Then I came to America, where my brother Sam had already moved. I served in the U. S. Army during the Korean War, and returned to New York City after two years.
By August 1957 I'd opened my own electronics repair shop. I was starting to settle in.

One day, my friend Sid, who I knew from England, called me. "I've got a date. She's got a Polish friend. Let's double date." A blind date? No, that wasn't for me. But Sid kept pestering me, and a few days later we headed up to the Bronx to pick up his date and her friend Roma. I had to admit, for a blind date this wasn't so bad. Roma was a nurse at a Bronx hospital. She was kind and smart. Beautiful, too, with swirling brown curls and green, almond-shaped eyes that sparkled with life.

The four of us drove out to Coney Island. Roma was easy to talk to, easy to be with. Turned out she was wary of blind dates too! We were both just doing our friends a favor. We took a stroll on the boardwalk, enjoying the salty Atlantic breeze, and then had dinner by the shore. I couldn't remember having a better time.

We piled back into Sid's car, Roma and I sharing the backseat. As European Jews who had survived the war, we were aware that much had been left unsaid between us. She broached the subject, "Where were you," she asked softly, "during the war?"
"The camps," I said, the terrible memories still vivid, the irreparable loss. I had tried to forget. But you can never forget.

She nodded. "My family was hiding on a farm in Germany, not far from Berlin," she told me. "My father knew a priest, and he got us Aryan papers."

I imagined how she must have suffered too, fear, a constant companion. And yet here we were, both survivors, in a new world. "There was a camp next to the farm." Roma continued. "I saw a boy there and I would throw him apples every day." What an amazing coincidence that she had helped some other boy. "What did he look like? I asked.
"He was tall. Skinny. Hungry. I must have seen him every day for six months." My heart was racing. I couldn't believe it! This couldn't be.
"Did he tell you one day not to come back because he was leaving Schlieben?"
Roma looked at me in amazement. "Yes."
"That was me! " I was ready to burst with joy and awe, flooded with emotions. I couldn't believe it. My angel.

"I'm not letting you go." I said to Roma. And in the back of the car on that blind date, I proposed to her. I didn't want to wait. "You're crazy!" she said. But she invited me to meet her parents for Shabbat dinner the following week.

There was so much I looked forward to learning about Roma, but the most important things I always knew: her steadfastness, her goodness. For many months, in the worst of circumstances, she had come to the fence and given me hope. Now that I'd found her again, I could never let her go. That day, she said yes. And I kept my word. After nearly 50 years of marriage, two children and three grandchildren I have never let her go. Sumber: Guidepost, Florida.

Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Kesaksian Pembaca Buku "Mukjizat Kehidupan"

Pada tanggal 28 Oktober 2009 datang SMS dari seorang Ibu di NTT, bunyinya:
"Terpujilah Tuhan karena buku "Mukjizat Kehidupan", saya belajar untuk bisa mengampuni, sabar, dan punya waktu di hadirat Tuhan, dan akhirnya Rumah Tangga saya dipulihkan, suami saya sudah mau berdoa. Buku ini telah jadi berkat buat teman-teman di Pasir Panjang, Kupang, NTT. Kami belajar mengasihi, mengampuni, dan selalu punya waktu berdoa."

Hall of Fame - Daftar Pembaca Yang Diberkati Buku Mukjizat Kehidupan

  • A. Rudy Hartono Kurniawan - Juara All England 8 x dan Asian Hero
  • B. Pdt. DR. Ir. Niko Njotorahardjo
  • C. Pdt. Ir. Djohan Handojo
  • D. Jeffry S. Tjandra - Worshipper
  • E. Pdt. Petrus Agung - Semarang
  • F. Bpk. Irsan
  • G. Ir. Ciputra - Jakarta
  • H. Pdt. Dr. Danny Tumiwa SH
  • I. Erich Unarto S.E - Pendiri dan Pemimpin "Manna Sorgawi"
  • J. Beni Prananto - Pengusaha
  • K. Aryanto Agus Mulyo - Partner Kantor Akuntan
  • L. Ir. Handaka Santosa - CEO Senayan City
  • M. Pdt. Drs. Budi Sastradiputra - Jakarta
  • N. Pdm. Lim Lim - Jakarta
  • O. Lisa Honoris - Kawai Music Shool Jakarta
  • P. Ny. Rachel Sudarmanto - Jakarta
  • Q. Ps. Levi Supit - Jakarta
  • R. Pdt. Samuel Gunawan - Jakarta
  • S. F.A Djaya - Tamara Jaya - By Pass Ngurah Rai - Jimbaran - Bali
  • T. Ps. Kong - City Blessing Church - Jakarta
  • U. dr. Yoyong Kohar - Jakarta
  • V. Haryanto - Gereja Katholik - Jakarta
  • W. Fanny Irwanto - Jakarta
  • X. dr. Sylvia/Yan Cen - Jakarta
  • Y. Ir. Junna - Jakarta
  • Z. Yudi - Raffles Hill - Cibubur
  • ZA. Budi Setiawan - GBI PRJ - Jakarta
  • ZB. Christine - Intercon - Jakarta
  • ZC. Budi Setiawan - CWS Kelapa Gading - Jakarta
  • ZD. Oshin - Menara BTN - Jakarta
  • ZE. Johan Sunarto - Tanah Pasir - Jakarta
  • ZF. Waney - Jl. Kesehatan - Jakarta
  • ZG. Lukas Kacaribu - Jakarta
  • ZH. Oma Lydia Abraham - Jakarta
  • ZI. Elida Malik - Kuningan Timur - Jakarta
  • ZJ. Luci - Sunter Paradise - Jakarta
  • ZK. Irene - Arlin Indah - Jakarta Timur
  • ZL. Ny. Hendri Suswardani - Depok
  • ZM. Marthin Tertius - Bank Artha Graha - Manado
  • ZN. Titin - PT. Tripolyta - Jakarta
  • ZO. Wiwiek - Menteng - Jakarta
  • ZP. Agatha - PT. STUD - Menara Batavia - Jakarta
  • ZR. Albertus - Gunung Sahari - Jakarta
  • ZS. Febryanti - Metro Permata - Jakarta
  • ZT. Susy - Metro Permata - Jakarta
  • ZU. Justanti - USAID - Makassar
  • ZV. Welian - Tangerang
  • ZW. Dwiyono - Karawaci
  • ZX. Essa Pujowati - Jakarta
  • ZY. Nelly - Pejaten Timur - Jakarta
  • ZZ. C. Nugraheni - Gramedia - Jakarta
  • ZZA. Myke - Wisma Presisi - Jakarta
  • ZZB. Wesley - Simpang Darmo Permai - Surabaya
  • ZZC. Ray Monoarfa - Kemang - Jakarta
  • ZZD. Pdt. Sunaryo Djaya - Bethany - Jakarta
  • ZZE. Max Boham - Sidoarjo - Jatim
  • ZZF. Julia Bing - Semarang
  • ZZG. Rika - Tanjung Karang
  • ZZH. Yusak Prasetyo - Batam
  • ZZI. Evi Anggraini - Jakarta
  • ZZJ. Kodden Manik - Cilegon
  • ZZZZ. ISI NAMA ANDA PADA KOLOM KOMENTAR UNTUK DIMASUKKAN DALAM DAFTAR INI