Dimanakah Engkau, Tuhan? (2)
Saya merasa bahwa perempuan ini telah menyampaikan pertanyaan itu sebelumnya dan bahwa ia telah berkali-kali merasa kecewa karena tidak mendapatkan jawaban yang memuaskan. Sekarang ia duduk menunggu, mengharapkan saya untuk menyampaikan sesuatu yang menjelaskan kasusnya dan menolong untuk memulihkan kehidupannya.
Saya mengatakan kepadanya bahwa pertanyaan “Mengapa?” adalah pertanyaan favorit dari setan. Tidak ada seorangpun yang dapat menjawabnya kecuali Bapa Sorgawi. Oleh karena itu saya menyarankan pertanyaan lain: “Untuk apa?”
Dengan bertanya “Untuk apa?”, ia akan mencari kehendak Bapa agar dipenuhi dalam kehidupannya di masa mendatang, bukan bertanya apa kesalahannya sehingga ia mendapatkan perlakuan seperti itu. Seorang perempuan yang menderita sakit gigi yang hebat pada jam 2 dini hari tidaklah sama dengan seorang perempuan yang akan melahirkan pada dini hari yang sama. Meskipun perempuan yang akan melahirkan itu mengalami rasa sakit yang hebat, namun ia menantikan rasa sakit itu bertambah hebat agar ia segera melahirkan bayinya.
Perempuan pada konferensi itu yang berbicara dengan saya bertanya, "Bagaimana mungkin ada berkat dalam penderitaan semacam itu?" Saya menjelaskan kepadanya bahwa 4 dari 10 perempuan menderita beberapa bentuk kekerasan seksual atau penganiayaan di dalam rumah tangga. Jika ia ingin mencari solusi, maka ia dapat membantu mereka. Ketika para korban lain ditolongnya, mereka akan melihat dua hal: bahwa ia mengetahui dan sudah mengalami apa yang mereka alami sehingga ia dapat diterima, dan bahwa ia telah mendapatkan jalan keluar sehingga dapat memberi harapan kepada para korban lain.
“Di mana Allah berada ketika saya dianiaya?” desaknya.
Saya mengatakan kepadanya bahwa saya tidak tahu jawabannya, tetapi karena itu adalah pertanyaan yang wajar, maka kita harus mencoba menemukannya. Kemudian saya membimbingnya untuk mengunjungi kenangannya yang paling awal.
Kami mengunjungi kembali saat dimana ibunya tidak mempercayai ceritanya dan ia berlari ke arah sungai yang deras. Saya bertanya kepadanya, “Mengapa anda tidak menerjunkan diri ke sungai?”
“Tidak tahu!”
Saya mendesaknya untuk berpikir.
“Saya tidak bisa!”
Saya terus mendesak dan ia menangis.
“Saya tidak ingin melakukannya!”
Dengan lembut tetapi tegas, saya terus mendorongnya untuk melanjutkan. Ketika ia mencobanya, wajahnya mulai mengejang, tubuhnya bergetar hebat dan air matanya membanjir keluar. Saya dapat melihat bahwa ia mencoba untuk menerobos tembok emosinya yang tertindas bersama dengan rasa sakit dan kepahitan. Ini berlangsung selama beberapa waktu. Kemudian ketika saya mulai memperhatikan apa yang mungkin tidak dapat ia tahan lagi, ia mulai tersenyum dengan cerah.
Ia membuka matanya yang penuh cahaya kegembiraan saat ia mengatakan, “Saya melihat Dia! Saya melihat Dia!”
Saya menanyakan siapa yang ia lihat. Ia berkata, “Tuhan Yesus! Ia berada di sana, di pinggir sungai. Ia memeluk saya dan menghibur saya. Itulah sebabnya saya tidak jadi melompat ke dalam sungai!”
Kami maju ke memori berikutnya menuju saat dimana ia hendak mengiris nadinya. Pengalaman yang sama terjadi lagi. Rasa sakit pada awalnya dan akhirnya digantikan dengan sukacita yang besar. “Saya melihat-Nya! Saya melihat-Nya. Seorang malaikat datang dan melingkupi saya dengan sayapnya.”
Saya mengatakan kepadanya, “Karena Allah telah begitu dekat dengan anda, ada sebuah alasan untuk mempercayai bahwa hasil akhirnya akan menjadi positif.”
“Apakah anda yakin?” tanyanya, “Bagaimana dengan kepribadian ganda saya? Anda tidak mengetahui betapa mengerikannya hidup saya. Saya tidak pernah merasa menjadi manusia seutuhnya, dan saya tidak mengetahui kapan kepribadian saya yang jahat akan mengambil alih diri saya.” (Bersambung)
Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com
kesaksian hidup - #inspiring story - #kisah nyata - #mukjizat kehidupan - #sign and wonders - #miracles - inspirational christian story - nice story - true story - inspirational touching story - an amazing story: kisah orang biasa dengan pengalaman luar biasa - ordinary people living the extra-ordinary lives
Search This Blog
Wednesday, August 27, 2008
God Can Use You
The next time you feel like GOD can't use you, just remember...
Noah was a drunk
Abraham was too old
Isaac was a daydreamer
Jacob was a liar
Leah was ugly
Joseph was abused
Moses had a stuttering problem
Gideon was afraid
Samson had long hair and was a womanizer
Rahab was a prostitute
Jeremiah and Timothy were too young
David had an affair and was a murderer
Elijah was suicidal
Isaiah preached naked
Jonah ran from God
Naomi was a widow
Job went bankrupt
Peter denied Christ
The Disciples fell asleep while praying
Martha worried about everything
The Samaritan woman was divorced, more than once
Zaccheus was too small
Paul was too religious
Timothy had an ulcer..AND
Lazarus was dead!
Now! No more excuses!
God can use you to your full potential.
Besides you aren't the message, you are just the messenger.
1. God wants spiritual fruit, not religious nuts.
2. Dear God, I have a problem, it's Me.
3. Growing old is inevitable .. growing UP is optional.
4. There is no key to happiness. The door is always open.
5. Silence is often misinterpreted but never misquoted.
6. Do the math .. count your blessings.
7. Faith is the ability not to panic.
8. Laugh every day, it's like inner jogging.
9. If you worry, you didn't pray . If you pray, don't worry!
10. As a child of God, prayer is kind of like calling home everyday.
11. Blessed are the flexible for they shall not be bent out of shape.
12. The most important things in your house are the people.
13. When we get tangled up in our problems, be still!
God wants us to be still so He can untangle the knot.
14. A grudge is a heavy thing to carry.
15. He who dies with the most toys is still dead.
Have a blessed day!!! The SON is shining and He can certainly use you!
Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com
Noah was a drunk
Abraham was too old
Isaac was a daydreamer
Jacob was a liar
Leah was ugly
Joseph was abused
Moses had a stuttering problem
Gideon was afraid
Samson had long hair and was a womanizer
Rahab was a prostitute
Jeremiah and Timothy were too young
David had an affair and was a murderer
Elijah was suicidal
Isaiah preached naked
Jonah ran from God
Naomi was a widow
Job went bankrupt
Peter denied Christ
The Disciples fell asleep while praying
Martha worried about everything
The Samaritan woman was divorced, more than once
Zaccheus was too small
Paul was too religious
Timothy had an ulcer..AND
Lazarus was dead!
Now! No more excuses!
God can use you to your full potential.
Besides you aren't the message, you are just the messenger.
1. God wants spiritual fruit, not religious nuts.
2. Dear God, I have a problem, it's Me.
3. Growing old is inevitable .. growing UP is optional.
4. There is no key to happiness. The door is always open.
5. Silence is often misinterpreted but never misquoted.
6. Do the math .. count your blessings.
7. Faith is the ability not to panic.
8. Laugh every day, it's like inner jogging.
9. If you worry, you didn't pray . If you pray, don't worry!
10. As a child of God, prayer is kind of like calling home everyday.
11. Blessed are the flexible for they shall not be bent out of shape.
12. The most important things in your house are the people.
13. When we get tangled up in our problems, be still!
God wants us to be still so He can untangle the knot.
14. A grudge is a heavy thing to carry.
15. He who dies with the most toys is still dead.
Have a blessed day!!! The SON is shining and He can certainly use you!
Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com
Tuesday, August 26, 2008
God, Where Were You? (1)
Dimana Engkau, Tuhan? (1)
Malam itu adalah malam yang pertama dari konferensi tiga hari dimana saya menjadi pembicara utama. Saya sudah mempersiapkan diri dengan berdoa. Ketika pendeta tuan rumah memperkenalkan diri saya, saya telah siap untuk melayani pemberitaan firman Tuhan. Ketika saya berjalan mendekati mimbar, Bapa Sorgawi mempercayakan kepada saya dengan cara paling tidak biasa tentang fakta yang sangat rahasia tentang seseorang dalam konferensi ini.
Mata saya tertuju kepada seorang perempuan yang duduk di deretan depan, seseorang yang belum pernah saya temui sebelumnya. Usianya sekitar lima puluhan tahun, tubuhnya mungil dan berambut pendek warna cokelat. Yang menjadi perhatian saya bukanlah penampilannya, melainkan informasi yang saya dapatkan dari Bapa Sorgawi dalam hati saya mengenai dirinya. Tuhan mengungkapkan kepada saya bahwa perempuan itu adalah korban inses, dan yang lebih buruk lagi, ayahnyalah yang memperkosa dia. Bapa Sorgawi juga menunjukkan kepada saya bahwa ia memiliki kepribadian yang terbagi-bagi, da ia telah mencoba untuk membunuh orang-orang di dekatnya, bukan hanya sekali, melainkan dua kali.
Informasi seperti itu bukanlah untuk disebarluaskan kepada seluruh jemaat dalam konferensi itu. Oleh karena itu saya bertanya kepada Bapa, apa yang harus saya lakukan, dan saya merasakan bahwa Ia meminta saya untuk menunggu. Dua hari berikutnya saya tetap berkhotbah seperti yang dijadwalkan. Pada hari yang terakhir, sementara pendeta tuan rumah dan saya sedang makan siang di ruang belajarnya, ia berkata, “Pak Ed, bisakan anda membantu kami dalam sebuah kasus yang paling sulit?”
Tanpa menunggu lagi saya menjawab, “Apakah ini tentang seorang perempuan yang berusia lima puluh tahunan, mungkil, dan berambut cokelat pendek?” Ia mengangguk dan saya melanjutkan, “Bukankah ia telah menjadi korban inses, dan yang menjadi pelakunya adalah ayahnya sendiri?” Mulut pendeta itu ternganga dengan heran ketika saya menyimpulkan, “Apakah ia memiliki kepribadian terbagi-bagi, dan bukankah ia telah mencoba untuk membunuh orang-orang sebanyak dua kali?”
Dengan heran pendeta tuan rumah itu bertanya, “Bagaimana anda tahu? Siapa yang telah mengatakannya kepada anda?”
Saya menjawab, “Bapa Sorgawi!” Pendeta itu bangkit dari kursinya dan pergi mencari perempuan itu. Ketika ia memasuki ruangan bersama dengan pendeta itu, ia menceritakan kisah yang paling memilukan yang pernah saya dengar.
Ayahnya telah memperkosanya sejak ia mulai belajar berjalan. Tidak ada satu minggu berlalu tanpa perkosaan terhadap putrinya sendiri. Perempuan itu menceritakan kepada saya bagaimana ia mengumpulkan semua keberaniannya ketika ia berusia tujuh tahun untuk menceritakan kebiadaban ayahnya kepada ibunya. Bukannya membela dan melindunginya, ibunya malah menuduhnya mengarang cerita itu. Ibunya dengan kejam memukulinya dan membuat semuanya menjadi lebih buruk lagi dengan melarangnya untuk mengunjungi neneknya. Hal ini bahkan lebih terasa menyiksa daripada pemukulan fisik, karena mengunjunjungi neneknya merupakan satu-satunya cara untuk beristirahat dari pelecehan seksual ayahnya. Hari itu ia memutuskan untuk bunuh diri dan berlari menuju sungai yang alirannya deras untuk melompat ke dalamnya. Untunglah ia dapat diselamatkan pada saat-saat terakhir, tetapi pelecehan seksual itu terus berlanjut.
Ketika berada di sekolah menengah, perempuan ini mencoba untuk mengiris urat nadi di pergelangan tangannya, tetapi dapat diselamatkan. Ketika ia berusia remaja, setelah ayahnya memperkosa dia, perempuan ini menendang ayahnya dan meninggalkan kamar dengan rasa marah. Ia bersumpah, bahwa segera sesudah ia memiliki cukup uang untuk membeli sebuah senjata api, ia akan membunuh ayahnya. Meskipun ia gagal menggenapi sumpahnya, hidup di bawah penyiksaan seperti ini membuat hidupnya sangat menderita.
Saya dapat merasakan kepedihan hatinya. Gelombang rasa sakit mengalir dari dalam dirinya dan memenuhi ruangan dimana kami mendengarkan kisahnya bersama pendeta tuan rumah. Ia melanjutkan dan berkata bahwa sebeluam ia menjadi orang Kristen, ia memiliki lima kepribadian. Ketika ia mulai percaya kepada Tuhan Yesus, dua dari lima kepribadian itu pergi, tetapi satu dari tiga yang tertinggal sangatlah berbahaya, membuatnya kehilangan kontrol. Dua kali sudah ia hampir membunuh keluarga dekatnya. Pertama kali ia mencoba menabrak suaminya dengan mobil. Yang kedua, ketika ia sedang memasak, ia hampir saja membunuh salah seorang anaknya dengan pisau dapur karena anak itu merengek terus.
Ia memandang saya dengan pandangan yang terluka dan bertanya, “Mengapa? Mengapa hal ini terjadi pada saya?” Tatapan matanya menggambarkan sebuah sumur yang gelap dan penuh penderitaan. Ia telah jatuh sampai ke dasarnya, dan sekarang ia remuk dan tak berdaya di atas lumpur penderitaan. Kekerasan seksual seperti yang dialami oleh perempuan ini terjadi dalam konteks kekerasan yang sangat kejam. Tak dapat diragukan lagi bahwa iblis membawa kekerasan seperti itu dan itu dapat terjadi kapanpun dan dialami oleh siapapun. (Bersambung)
Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com
Malam itu adalah malam yang pertama dari konferensi tiga hari dimana saya menjadi pembicara utama. Saya sudah mempersiapkan diri dengan berdoa. Ketika pendeta tuan rumah memperkenalkan diri saya, saya telah siap untuk melayani pemberitaan firman Tuhan. Ketika saya berjalan mendekati mimbar, Bapa Sorgawi mempercayakan kepada saya dengan cara paling tidak biasa tentang fakta yang sangat rahasia tentang seseorang dalam konferensi ini.
Mata saya tertuju kepada seorang perempuan yang duduk di deretan depan, seseorang yang belum pernah saya temui sebelumnya. Usianya sekitar lima puluhan tahun, tubuhnya mungil dan berambut pendek warna cokelat. Yang menjadi perhatian saya bukanlah penampilannya, melainkan informasi yang saya dapatkan dari Bapa Sorgawi dalam hati saya mengenai dirinya. Tuhan mengungkapkan kepada saya bahwa perempuan itu adalah korban inses, dan yang lebih buruk lagi, ayahnyalah yang memperkosa dia. Bapa Sorgawi juga menunjukkan kepada saya bahwa ia memiliki kepribadian yang terbagi-bagi, da ia telah mencoba untuk membunuh orang-orang di dekatnya, bukan hanya sekali, melainkan dua kali.
Informasi seperti itu bukanlah untuk disebarluaskan kepada seluruh jemaat dalam konferensi itu. Oleh karena itu saya bertanya kepada Bapa, apa yang harus saya lakukan, dan saya merasakan bahwa Ia meminta saya untuk menunggu. Dua hari berikutnya saya tetap berkhotbah seperti yang dijadwalkan. Pada hari yang terakhir, sementara pendeta tuan rumah dan saya sedang makan siang di ruang belajarnya, ia berkata, “Pak Ed, bisakan anda membantu kami dalam sebuah kasus yang paling sulit?”
Tanpa menunggu lagi saya menjawab, “Apakah ini tentang seorang perempuan yang berusia lima puluh tahunan, mungkil, dan berambut cokelat pendek?” Ia mengangguk dan saya melanjutkan, “Bukankah ia telah menjadi korban inses, dan yang menjadi pelakunya adalah ayahnya sendiri?” Mulut pendeta itu ternganga dengan heran ketika saya menyimpulkan, “Apakah ia memiliki kepribadian terbagi-bagi, dan bukankah ia telah mencoba untuk membunuh orang-orang sebanyak dua kali?”
Dengan heran pendeta tuan rumah itu bertanya, “Bagaimana anda tahu? Siapa yang telah mengatakannya kepada anda?”
Saya menjawab, “Bapa Sorgawi!” Pendeta itu bangkit dari kursinya dan pergi mencari perempuan itu. Ketika ia memasuki ruangan bersama dengan pendeta itu, ia menceritakan kisah yang paling memilukan yang pernah saya dengar.
Ayahnya telah memperkosanya sejak ia mulai belajar berjalan. Tidak ada satu minggu berlalu tanpa perkosaan terhadap putrinya sendiri. Perempuan itu menceritakan kepada saya bagaimana ia mengumpulkan semua keberaniannya ketika ia berusia tujuh tahun untuk menceritakan kebiadaban ayahnya kepada ibunya. Bukannya membela dan melindunginya, ibunya malah menuduhnya mengarang cerita itu. Ibunya dengan kejam memukulinya dan membuat semuanya menjadi lebih buruk lagi dengan melarangnya untuk mengunjungi neneknya. Hal ini bahkan lebih terasa menyiksa daripada pemukulan fisik, karena mengunjunjungi neneknya merupakan satu-satunya cara untuk beristirahat dari pelecehan seksual ayahnya. Hari itu ia memutuskan untuk bunuh diri dan berlari menuju sungai yang alirannya deras untuk melompat ke dalamnya. Untunglah ia dapat diselamatkan pada saat-saat terakhir, tetapi pelecehan seksual itu terus berlanjut.
Ketika berada di sekolah menengah, perempuan ini mencoba untuk mengiris urat nadi di pergelangan tangannya, tetapi dapat diselamatkan. Ketika ia berusia remaja, setelah ayahnya memperkosa dia, perempuan ini menendang ayahnya dan meninggalkan kamar dengan rasa marah. Ia bersumpah, bahwa segera sesudah ia memiliki cukup uang untuk membeli sebuah senjata api, ia akan membunuh ayahnya. Meskipun ia gagal menggenapi sumpahnya, hidup di bawah penyiksaan seperti ini membuat hidupnya sangat menderita.
Saya dapat merasakan kepedihan hatinya. Gelombang rasa sakit mengalir dari dalam dirinya dan memenuhi ruangan dimana kami mendengarkan kisahnya bersama pendeta tuan rumah. Ia melanjutkan dan berkata bahwa sebeluam ia menjadi orang Kristen, ia memiliki lima kepribadian. Ketika ia mulai percaya kepada Tuhan Yesus, dua dari lima kepribadian itu pergi, tetapi satu dari tiga yang tertinggal sangatlah berbahaya, membuatnya kehilangan kontrol. Dua kali sudah ia hampir membunuh keluarga dekatnya. Pertama kali ia mencoba menabrak suaminya dengan mobil. Yang kedua, ketika ia sedang memasak, ia hampir saja membunuh salah seorang anaknya dengan pisau dapur karena anak itu merengek terus.
Ia memandang saya dengan pandangan yang terluka dan bertanya, “Mengapa? Mengapa hal ini terjadi pada saya?” Tatapan matanya menggambarkan sebuah sumur yang gelap dan penuh penderitaan. Ia telah jatuh sampai ke dasarnya, dan sekarang ia remuk dan tak berdaya di atas lumpur penderitaan. Kekerasan seksual seperti yang dialami oleh perempuan ini terjadi dalam konteks kekerasan yang sangat kejam. Tak dapat diragukan lagi bahwa iblis membawa kekerasan seperti itu dan itu dapat terjadi kapanpun dan dialami oleh siapapun. (Bersambung)
Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com
Friday, August 22, 2008
Because of His Grace
Sepuluh tahun yang lalu kami datang ke Australia bukan karena kami mau migrasi ke sana, tetapi karena kerusuhan 5 Mei 1998 yang mengakibatkan ruko kami di Harco Mangga Dua terbakar habis. Juga pabrik kami di Bekasi habis dijarah. Yah, begitulah hasil usaha kami selama 35 tahun lenyap dalam sehari.
Waktu itu kami berada di atas ruko yang sedang terbakar. Saya berdoa berserah pada Tuhan. Kalau usaha titipan-Nya akan Tuhan ambil kembali, saya rela melepaskannya. Hanya itu doa saya. Sayapun tak berdoa untuk dilepaskan dari kebakaran itu. Kalau Tuhan mau panggil saya suami istri, sayapun rela. Kami berdua hanya diam membisu tanpa kata-kata dan tanpa air mata menantikan apa yang akan terjadi. Di bawah terdengar teriakan-teriakan tak henti-henti: “Bunuh Cina! Cincang Cina!” dan lain lain.
Tiba-tiba ada teriakan dari seberang bangunan ruko, “Cepat turun! Rukonya sudah terbakar, akan sampai ke atas!” Kamipun secara reflek berlari turun, padahal waktu itu kompleks kami sudah dikepung oleh warga sekitar yang sangat beringas. Pada saat kami sampai di bawah, ada seseorang yang tidak kami kenal membawa kami ke tempatnya untuk menyelamatkan kami. Puji Tuhan! Itulah mukjizat pertama yang kami alami. Kami masih diberi kesempatan untuk tetap hidup.
Akibat kerusuhan itu, dalam sehari kami menjadi orang yang tak punya apa-apa. Hanya baju yang melekat di badan. Itupun sudah kotor. Sepatu atau sandalpun kami tak punya. Tetapi suka cita dan damai sejahtera itu menyertai kami. Akhirnya kami tinggal di rumah seorang teman.
Waktu bertemu dengan pendeta kami, beliau menganjurkan kami untuk pergi ke Australia karena anaknya ada yang tinggal di sana. Tetapi ketika kami mendatangi kedutaan Australia untuk meminta visa, kedutaan sudah ditutup karena terlalu banyak orang antri minta visa. Setelah itu kamipun berserah menunggu apa kehendak Tuhan.
Karena kami sudah tidak punya beban, tempat usaha sudah diserahkan kembali pada Tuhan, hidup kami menjadi santai. Kami pulang ke Surabaya ditemani saudara karena isteri saya berasal dari sana. Sesampai di Surabaya orang-orang tidak percaya kalau bisnis kami sudah habis, karena kami masih bisa bersuka cita, ngobrol, tertawa dan jalan-jalan. Ke mana mana teman-teman yang membiayai kehidupan kami. Damai sejahtera ada di dalam kami.
Akhirnya kami pergi ke Pulau Bali. Di situlah mukjizat kedua terjadi. Kami diberi tahu di Bali ada kantor konsulat Australia. Waktu kami kesana meminta visa, kami disuruh menunggu. Tidak sampai satu jam kami sudah mendapatkan visa itu. Puji Tuhan!
Sesampainya di Australia kami mendaftarkan diri sebagai refugee (pengungsi). Setelah berjuang selama delapan tahun, di mana saya sempat masuk tahanan Villa Wood, akhirnya permohonan kamipun dikabulkan untuk mendapat PR (Permanent Resident),
walaupun warga Indonesia seharusnya tidak termasuk daftar yang dapat menerima status refugee. Itulah mukjizat ketiga.
Betapa kami mengucap syukur untuk kebaikan Tuhan! Siapakah kami ini, sehingga Tuhan sayang kepada kami? Dan apakah yang dapat kami buat untuk Tuhan, selain melaksanakan Amanat Agung-Nya?
Pada suatu hari ketika saya membuka internet, saya belum mengetik apa-apa, tetapi tiba-tiba keluar suatu website. Di situ saya disuruh Tuhan meng-copy DVD dan traktat kesaksian. Dan setelah bergumul beberapa hari, akhirnya perintah itu saya laksanakan. Mulailah saya membeli peralatan dan mulai meng-copy dan membagikan DVD dan traktat kesaksian itu ke gereja-gereja di Sydney yang jumlahnya ada 46 gereja secara gratis. Saya memulainya satu tahun yang lalu dan masih saya laksanakan sampai hari ini. Sekarang banyak permintaan datang dari Indonesia atas DVD dan traktat itu dan saya penuhi juga.
Apabila ada di antara anda yang ingin mendapatkan DVD atau traktat kesaksian secara gratis, silakan hubungi: facetofacewithlord@gmail.com
Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com
Waktu itu kami berada di atas ruko yang sedang terbakar. Saya berdoa berserah pada Tuhan. Kalau usaha titipan-Nya akan Tuhan ambil kembali, saya rela melepaskannya. Hanya itu doa saya. Sayapun tak berdoa untuk dilepaskan dari kebakaran itu. Kalau Tuhan mau panggil saya suami istri, sayapun rela. Kami berdua hanya diam membisu tanpa kata-kata dan tanpa air mata menantikan apa yang akan terjadi. Di bawah terdengar teriakan-teriakan tak henti-henti: “Bunuh Cina! Cincang Cina!” dan lain lain.
Tiba-tiba ada teriakan dari seberang bangunan ruko, “Cepat turun! Rukonya sudah terbakar, akan sampai ke atas!” Kamipun secara reflek berlari turun, padahal waktu itu kompleks kami sudah dikepung oleh warga sekitar yang sangat beringas. Pada saat kami sampai di bawah, ada seseorang yang tidak kami kenal membawa kami ke tempatnya untuk menyelamatkan kami. Puji Tuhan! Itulah mukjizat pertama yang kami alami. Kami masih diberi kesempatan untuk tetap hidup.
Akibat kerusuhan itu, dalam sehari kami menjadi orang yang tak punya apa-apa. Hanya baju yang melekat di badan. Itupun sudah kotor. Sepatu atau sandalpun kami tak punya. Tetapi suka cita dan damai sejahtera itu menyertai kami. Akhirnya kami tinggal di rumah seorang teman.
Waktu bertemu dengan pendeta kami, beliau menganjurkan kami untuk pergi ke Australia karena anaknya ada yang tinggal di sana. Tetapi ketika kami mendatangi kedutaan Australia untuk meminta visa, kedutaan sudah ditutup karena terlalu banyak orang antri minta visa. Setelah itu kamipun berserah menunggu apa kehendak Tuhan.
Karena kami sudah tidak punya beban, tempat usaha sudah diserahkan kembali pada Tuhan, hidup kami menjadi santai. Kami pulang ke Surabaya ditemani saudara karena isteri saya berasal dari sana. Sesampai di Surabaya orang-orang tidak percaya kalau bisnis kami sudah habis, karena kami masih bisa bersuka cita, ngobrol, tertawa dan jalan-jalan. Ke mana mana teman-teman yang membiayai kehidupan kami. Damai sejahtera ada di dalam kami.
Akhirnya kami pergi ke Pulau Bali. Di situlah mukjizat kedua terjadi. Kami diberi tahu di Bali ada kantor konsulat Australia. Waktu kami kesana meminta visa, kami disuruh menunggu. Tidak sampai satu jam kami sudah mendapatkan visa itu. Puji Tuhan!
Sesampainya di Australia kami mendaftarkan diri sebagai refugee (pengungsi). Setelah berjuang selama delapan tahun, di mana saya sempat masuk tahanan Villa Wood, akhirnya permohonan kamipun dikabulkan untuk mendapat PR (Permanent Resident),
walaupun warga Indonesia seharusnya tidak termasuk daftar yang dapat menerima status refugee. Itulah mukjizat ketiga.
Betapa kami mengucap syukur untuk kebaikan Tuhan! Siapakah kami ini, sehingga Tuhan sayang kepada kami? Dan apakah yang dapat kami buat untuk Tuhan, selain melaksanakan Amanat Agung-Nya?
Pada suatu hari ketika saya membuka internet, saya belum mengetik apa-apa, tetapi tiba-tiba keluar suatu website. Di situ saya disuruh Tuhan meng-copy DVD dan traktat kesaksian. Dan setelah bergumul beberapa hari, akhirnya perintah itu saya laksanakan. Mulailah saya membeli peralatan dan mulai meng-copy dan membagikan DVD dan traktat kesaksian itu ke gereja-gereja di Sydney yang jumlahnya ada 46 gereja secara gratis. Saya memulainya satu tahun yang lalu dan masih saya laksanakan sampai hari ini. Sekarang banyak permintaan datang dari Indonesia atas DVD dan traktat itu dan saya penuhi juga.
Apabila ada di antara anda yang ingin mendapatkan DVD atau traktat kesaksian secara gratis, silakan hubungi: facetofacewithlord@gmail.com
Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com
Thursday, August 21, 2008
Stuart Hamblin: The Story Behind the Song: "Tak Tersembunyi Kuasa Allah"
Stuart Hamblin
Dahulu di tahun 1950-an ada seorang penyiar radio, pelawak, dan penulis lagu di Hollywood, yang bernama Stuart Hamblin. Ia dikenal karena peminum, suka gonta-ganti wanita, suka pesta pora, dan lain-lain. Salah satu lagu hits-nya pada waktu itu adalah "Aku Tidak Mau Pergi Berburu Denganmu Jake, Tapi Aku Pergi Berburu Cewek".
Pada suatu hari seorang pengkhotbah muda mengadakan Kebaktian Kebangunan Rohani (KKR) di tenda. Hamblin mengajaknya ikut siaran di acara radionya untuk mengolok-olok dia. Untuk mengumpulkan informasi lebih banyak untuk acaranya, Hamblin menghadiri salah satu acara KKR itu.
Pada awal acara ibadah itu sang pengkhotbah mengumumkan, “Di sini ada seorang pria yang hidupnya penuh kepalsuan.” Mungkin saja ada orang-orang lain yang merasa hal yang sama, namun Hamblin merasa yakin bahwa dirinyalah yang dimaksud pengkhotbah itu (beberapa orang menganggapnya ia tertempelak), namun ia tak bertobat.
Perkataan itu terus menghantuinya sampai beberapa malam kemudian, sehingga ia muncul di depan pintu kamar hotel pengkhotbah itu dalam keadaan mabuk pada sekitar jam 2 pagi, meminta agar pengkhotbah itu berdoa baginya. Namun pengkhotbah itu menolak, sambil berkata, “Ini adalah urusan anda dengan Tuhan dan saya tidak ingin mencampuri.” Meskipun demikian pengkhotbah ini mempersilakan Hamblin masuk ke kamar hotelnya dan mereka berbicara sampai jam 5 pagi, hingga Stuart bertekuk lutut di hadapan Tuhan dan menangis, berseru kepada Allah.
Itu bukanlah akhir kisahnya. Sejak saat itu Stuart berhenti meminum minuman keras, berhenti mengejar-ngejar wanita, berhenti melakukan segala hal yang “fun”. Segera ia mulai tidak disukai oleh lingkungan Hollywood.
Akhirnya ia dipecat dari stasiun radio itu ketika ia menolak perusahaan bir menjadi sponsor. Ia mengalami masa yang sukar. Ia mencoba menulis beberapa lagu “Kristen”, namun yang meraih sukses hanya lagu “This Old House”, yang digubah untuk temannya, Rosemary Clooney.
Sementara ia terus bergumul, seorang sahabat lamanya, John, menemuinya dan berkata kepadanya, “Semua kesulitan ini dimulai ketika engkau menemukan “agama”. Apakah hal itu layak untuk ditukarkan dengan semuanya?” Stuart berkata sejujurnya, “Ya.”
Kemudian sahabatnya ini bertanya, ”Dahulu engkau sangat menyukai minuman keras, apakah tidak pernah kepingin lagi?” Dan jawaban Stuart, “Tidak!” Lalu John berkata lagi, “Aku tidak mengerti bagaimana engkau bisa berhenti minum dengan mudah.”
Dan jawaban Stuart adalah, “Itu bukan rahasia besar. Segalanya mungkin bersama Allah.” Atas jawaban ini John berkata, “Nah, itu adalah perkataan yang menarik. Engkau harus menulis sebuah lagu tentang hal itu.”
Dan seperti orang bilang, “Selebihnya kemudian menjadi sebuah sejarah.” Lagu yang digubah Stuart adalah “It Is No Secret” yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, “Tak Tersembunyi Kuasa Allah.” Lagu ini telah menjadi berkat bagi banyak orang.
"Tak tersembunyi, kuasa Allah
Yang lain ditolong, saya juga
Tangan-Nya terbuka, menunggulah
Tak tersembunyi, kuasa Allah."
Ngomong-ngomong, sahabat Stuart itu adalah John Wayne. Dan pengkhotbah muda yang menolak mendoakan Stuart Hamblin? Dialah …Billy Graham! (Diterjemahkan oleh Hadi Kristadi untuk http://pentas-kesaksian.blogspot.com. Mohon agar bagian ini jangan dihapus/didelete ketika anda memforwardnya)
*****
STUART HAMBLIN
Back in the 1950's there was a well known radio host/comedian/song writer in Hollywood named Stuart Hamblin who was noted for his drinking, womanizing, partying, etc. One of his bigger hits at the time was "I won't go hunting with you Jake, but I'll go chasing women."
One day, along came a young preacher holding a tent revival. Hamblin had him on his radio show presumably to poke fun at him. In order to gather more material for his show, Hamblin showed up at one of the revival meetings.
Early in the service the preacher announced, "There is one man in this audience who is a big fake." There were probably others who thought the same thing, but Hamblin was convinced that he was the one the preacher was talking about (some would call that conviction) but he was having none of that.
Still the words continued to haunt him until a couple of nights later he showed up drunk at the preacher's hotel door around 2AM demanding that the preacher pray for him!
But the preacher refused, saying, "This is between you and God and I'm not going to get in the middle of it." But he did invite Stuart in and they talked until about 5 AM at which point Stuart dropped to his knees and with tears, cried out to God.
But that is not the end of the story. Stuart quit drinking, quit chasing women, quit everything that was 'fun.' Soon he began to lose favor with the Hollywood crowd. He was ultimately fired by the radio station when he refused to accept a beer company as a sponsor. Hard times were upon him. He tried writing a couple of "Christian" songs but the only one that had much success was "This Old House", written for his friend Rosemary Clooney.
As he continued to struggle, a long time friend named John took him aside and told him, "All your troubles started when you 'got religion,' Was it worth it all?" Stuart answered simply, "Yes." Then his friend asked, "You liked your booze so much, don't you ever miss it?" And his answer was, "No." John then said, "I don't understand how you could give it up so easily." And Stuart's response was, "It's no big secret. All things are possible with God." To this John said, "That's a catchy phrase. You should write a song about it."
And as they say, "The rest is history." The song Stuart wrote was "It Is No Secret." The song has blessed many people since then.
"It is no secret what God can do.
What He's done for others, He'll do for you.
With arms wide open, He'll welcome you.
It is no secret, what God can do ..."
By the way ... the friend was John Wayne. And the young preacher who refused to pray for Stuart Hamblin? ... That was Billy Graham.
Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com
Dahulu di tahun 1950-an ada seorang penyiar radio, pelawak, dan penulis lagu di Hollywood, yang bernama Stuart Hamblin. Ia dikenal karena peminum, suka gonta-ganti wanita, suka pesta pora, dan lain-lain. Salah satu lagu hits-nya pada waktu itu adalah "Aku Tidak Mau Pergi Berburu Denganmu Jake, Tapi Aku Pergi Berburu Cewek".
Pada suatu hari seorang pengkhotbah muda mengadakan Kebaktian Kebangunan Rohani (KKR) di tenda. Hamblin mengajaknya ikut siaran di acara radionya untuk mengolok-olok dia. Untuk mengumpulkan informasi lebih banyak untuk acaranya, Hamblin menghadiri salah satu acara KKR itu.
Pada awal acara ibadah itu sang pengkhotbah mengumumkan, “Di sini ada seorang pria yang hidupnya penuh kepalsuan.” Mungkin saja ada orang-orang lain yang merasa hal yang sama, namun Hamblin merasa yakin bahwa dirinyalah yang dimaksud pengkhotbah itu (beberapa orang menganggapnya ia tertempelak), namun ia tak bertobat.
Perkataan itu terus menghantuinya sampai beberapa malam kemudian, sehingga ia muncul di depan pintu kamar hotel pengkhotbah itu dalam keadaan mabuk pada sekitar jam 2 pagi, meminta agar pengkhotbah itu berdoa baginya. Namun pengkhotbah itu menolak, sambil berkata, “Ini adalah urusan anda dengan Tuhan dan saya tidak ingin mencampuri.” Meskipun demikian pengkhotbah ini mempersilakan Hamblin masuk ke kamar hotelnya dan mereka berbicara sampai jam 5 pagi, hingga Stuart bertekuk lutut di hadapan Tuhan dan menangis, berseru kepada Allah.
Itu bukanlah akhir kisahnya. Sejak saat itu Stuart berhenti meminum minuman keras, berhenti mengejar-ngejar wanita, berhenti melakukan segala hal yang “fun”. Segera ia mulai tidak disukai oleh lingkungan Hollywood.
Akhirnya ia dipecat dari stasiun radio itu ketika ia menolak perusahaan bir menjadi sponsor. Ia mengalami masa yang sukar. Ia mencoba menulis beberapa lagu “Kristen”, namun yang meraih sukses hanya lagu “This Old House”, yang digubah untuk temannya, Rosemary Clooney.
Sementara ia terus bergumul, seorang sahabat lamanya, John, menemuinya dan berkata kepadanya, “Semua kesulitan ini dimulai ketika engkau menemukan “agama”. Apakah hal itu layak untuk ditukarkan dengan semuanya?” Stuart berkata sejujurnya, “Ya.”
Kemudian sahabatnya ini bertanya, ”Dahulu engkau sangat menyukai minuman keras, apakah tidak pernah kepingin lagi?” Dan jawaban Stuart, “Tidak!” Lalu John berkata lagi, “Aku tidak mengerti bagaimana engkau bisa berhenti minum dengan mudah.”
Dan jawaban Stuart adalah, “Itu bukan rahasia besar. Segalanya mungkin bersama Allah.” Atas jawaban ini John berkata, “Nah, itu adalah perkataan yang menarik. Engkau harus menulis sebuah lagu tentang hal itu.”
Dan seperti orang bilang, “Selebihnya kemudian menjadi sebuah sejarah.” Lagu yang digubah Stuart adalah “It Is No Secret” yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, “Tak Tersembunyi Kuasa Allah.” Lagu ini telah menjadi berkat bagi banyak orang.
"Tak tersembunyi, kuasa Allah
Yang lain ditolong, saya juga
Tangan-Nya terbuka, menunggulah
Tak tersembunyi, kuasa Allah."
Ngomong-ngomong, sahabat Stuart itu adalah John Wayne. Dan pengkhotbah muda yang menolak mendoakan Stuart Hamblin? Dialah …Billy Graham! (Diterjemahkan oleh Hadi Kristadi untuk http://pentas-kesaksian.blogspot.com. Mohon agar bagian ini jangan dihapus/didelete ketika anda memforwardnya)
*****
STUART HAMBLIN
Back in the 1950's there was a well known radio host/comedian/song writer in Hollywood named Stuart Hamblin who was noted for his drinking, womanizing, partying, etc. One of his bigger hits at the time was "I won't go hunting with you Jake, but I'll go chasing women."
One day, along came a young preacher holding a tent revival. Hamblin had him on his radio show presumably to poke fun at him. In order to gather more material for his show, Hamblin showed up at one of the revival meetings.
Early in the service the preacher announced, "There is one man in this audience who is a big fake." There were probably others who thought the same thing, but Hamblin was convinced that he was the one the preacher was talking about (some would call that conviction) but he was having none of that.
Still the words continued to haunt him until a couple of nights later he showed up drunk at the preacher's hotel door around 2AM demanding that the preacher pray for him!
But the preacher refused, saying, "This is between you and God and I'm not going to get in the middle of it." But he did invite Stuart in and they talked until about 5 AM at which point Stuart dropped to his knees and with tears, cried out to God.
But that is not the end of the story. Stuart quit drinking, quit chasing women, quit everything that was 'fun.' Soon he began to lose favor with the Hollywood crowd. He was ultimately fired by the radio station when he refused to accept a beer company as a sponsor. Hard times were upon him. He tried writing a couple of "Christian" songs but the only one that had much success was "This Old House", written for his friend Rosemary Clooney.
As he continued to struggle, a long time friend named John took him aside and told him, "All your troubles started when you 'got religion,' Was it worth it all?" Stuart answered simply, "Yes." Then his friend asked, "You liked your booze so much, don't you ever miss it?" And his answer was, "No." John then said, "I don't understand how you could give it up so easily." And Stuart's response was, "It's no big secret. All things are possible with God." To this John said, "That's a catchy phrase. You should write a song about it."
And as they say, "The rest is history." The song Stuart wrote was "It Is No Secret." The song has blessed many people since then.
"It is no secret what God can do.
What He's done for others, He'll do for you.
With arms wide open, He'll welcome you.
It is no secret, what God can do ..."
By the way ... the friend was John Wayne. And the young preacher who refused to pray for Stuart Hamblin? ... That was Billy Graham.
Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com
Wednesday, August 20, 2008
My Child
The words you are about to experience are true.
They will change your life if you let them.
For they come from the very heart of God... He loves you...
and He is the Father you have been looking for all your life.
This is His love letter to you...
My Child…
You may not know Me, but I know everything about you…
Psalm 139:1
I know when you sit down and when you rise up
…Psalm 139:2
I am familiar with all your ways …
Psalm 139:3
Even the very hairs on your head are numbered…
Matthew 10:29-31
For you were made in My image …
Genesis 1:27
In Me you live and move and have your being …
Acts 17:28
For you are My offspring
…Acts 17:28
I knew you even before you were conceived …
Jeremiah 1:4-5
I chose you when I planned creation
…Ephesians 1:11-12
You were not a mistake, for all your days are written in My book…
Psalm 139:15-16
I determined the exact time of your birth and where you would live …
Acts 17:26
You are fearfully and wonderfully made …
Psalm 139:14
I knit you together in your mother's womb …
Psalm 139:13
And brought you forth on the day you were born …
Psalm 71:6
I have been misrepresented by those who don't know Me …
John 8:41-44
I am not distant and angry, but am the complete expression of love…
1 John 4:16
And it is My desire to lavish My love on you …
1 John 3:1
Simply because you are My child and I am your Daddy
…1 John 3:1
I offer you more than your earthly father ever could …
Matthew 7:11
For I am the perfect Daddy
…Matthew 5:48
Every good gift that you receive comes from My hand…
James 1:17
For I am your Provider and I meet all your needs …
Matthew 6:31-33
My plan for your future has always been filled with hope …
Jeremiah 29:11
Because I love you with an everlasting love
…Jeremiah 31:3
My thoughts towards you are countless as the sand on the seashore
...Psalms 139:17-18
And I rejoice over you with singing
…Zephaniah 3:17
I will never stop doing good to you …
Jeremiah 32:40
For you are My treasured possession …Exodus 19:5
I desire to establish you with all My heart and all My soul
…Jeremiah 32:41
And I want to show you great and marvelous things …
Jeremiah 33:3
If you seek Me with all your heart, you will find Me
…Deuteronomy 4:29
Delight in Me and I will give you the desires of your heart
…Psalm 37:4
For it is I who gave you those desires
…Philippians 2:13
I am able to do more for you than you could possibly imagine
…Ephesians 3:20
For I am your greatest encourager
…2 Thessalonians 2:16-17
I am also the Father who comforts you in all your troubles
…2 Corinthians 1:3-4
When you are brokenhearted, I am close to you
…Psalm 34:18
As a shepherd carries a lamb, I have carried you close to My heart
…Isaiah 40:11
One day I will wipe away every tear from your eyes …Revelation 21:3-4
And I'll take away all the pain you have suffered on this earth
…Revelation 21:3-4
I am your Daddy, and I love you even as I love My son, Jesus
…John 17:23
For in Jesus, My love for you is revealed
…John 17:26
He is the exact representation of My being
…Hebrews 1:3
He came to demonstrate that I am for you, not against you
…Romans 8:31
And to tell you that I am not counting your sins
…2 Corinthians 5:18-19
Jesus died so that you and I could be reconciled
…2 Corinthians 5:18-19
His death was the ultimate expression of My love for you…
1 John 4:10
I gave up everything I loved that I might gain your love …
Romans 8:31-32
If you receive the gift of my son Jesus, you receive Me …
1 John 2:23
And nothing will ever separate you from My love again
…Romans 8:38-39
Come home and I'll show the biggest party heaven has ever seen
…Luke 15:7
I have always been Daddy, and will always be Daddy
…Ephesians 3:14-15
My question is…Will you be My child?
…John 1:12-13
I am waiting for you …
Luke 15:11-32
Love, Your Dad... Almighty God (Written by Barry Adams - editted by Hadi)
Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com
They will change your life if you let them.
For they come from the very heart of God... He loves you...
and He is the Father you have been looking for all your life.
This is His love letter to you...
My Child…
You may not know Me, but I know everything about you…
Psalm 139:1
I know when you sit down and when you rise up
…Psalm 139:2
I am familiar with all your ways …
Psalm 139:3
Even the very hairs on your head are numbered…
Matthew 10:29-31
For you were made in My image …
Genesis 1:27
In Me you live and move and have your being …
Acts 17:28
For you are My offspring
…Acts 17:28
I knew you even before you were conceived …
Jeremiah 1:4-5
I chose you when I planned creation
…Ephesians 1:11-12
You were not a mistake, for all your days are written in My book…
Psalm 139:15-16
I determined the exact time of your birth and where you would live …
Acts 17:26
You are fearfully and wonderfully made …
Psalm 139:14
I knit you together in your mother's womb …
Psalm 139:13
And brought you forth on the day you were born …
Psalm 71:6
I have been misrepresented by those who don't know Me …
John 8:41-44
I am not distant and angry, but am the complete expression of love…
1 John 4:16
And it is My desire to lavish My love on you …
1 John 3:1
Simply because you are My child and I am your Daddy
…1 John 3:1
I offer you more than your earthly father ever could …
Matthew 7:11
For I am the perfect Daddy
…Matthew 5:48
Every good gift that you receive comes from My hand…
James 1:17
For I am your Provider and I meet all your needs …
Matthew 6:31-33
My plan for your future has always been filled with hope …
Jeremiah 29:11
Because I love you with an everlasting love
…Jeremiah 31:3
My thoughts towards you are countless as the sand on the seashore
...Psalms 139:17-18
And I rejoice over you with singing
…Zephaniah 3:17
I will never stop doing good to you …
Jeremiah 32:40
For you are My treasured possession …Exodus 19:5
I desire to establish you with all My heart and all My soul
…Jeremiah 32:41
And I want to show you great and marvelous things …
Jeremiah 33:3
If you seek Me with all your heart, you will find Me
…Deuteronomy 4:29
Delight in Me and I will give you the desires of your heart
…Psalm 37:4
For it is I who gave you those desires
…Philippians 2:13
I am able to do more for you than you could possibly imagine
…Ephesians 3:20
For I am your greatest encourager
…2 Thessalonians 2:16-17
I am also the Father who comforts you in all your troubles
…2 Corinthians 1:3-4
When you are brokenhearted, I am close to you
…Psalm 34:18
As a shepherd carries a lamb, I have carried you close to My heart
…Isaiah 40:11
One day I will wipe away every tear from your eyes …Revelation 21:3-4
And I'll take away all the pain you have suffered on this earth
…Revelation 21:3-4
I am your Daddy, and I love you even as I love My son, Jesus
…John 17:23
For in Jesus, My love for you is revealed
…John 17:26
He is the exact representation of My being
…Hebrews 1:3
He came to demonstrate that I am for you, not against you
…Romans 8:31
And to tell you that I am not counting your sins
…2 Corinthians 5:18-19
Jesus died so that you and I could be reconciled
…2 Corinthians 5:18-19
His death was the ultimate expression of My love for you…
1 John 4:10
I gave up everything I loved that I might gain your love …
Romans 8:31-32
If you receive the gift of my son Jesus, you receive Me …
1 John 2:23
And nothing will ever separate you from My love again
…Romans 8:38-39
Come home and I'll show the biggest party heaven has ever seen
…Luke 15:7
I have always been Daddy, and will always be Daddy
…Ephesians 3:14-15
My question is…Will you be My child?
…John 1:12-13
I am waiting for you …
Luke 15:11-32
Love, Your Dad... Almighty God (Written by Barry Adams - editted by Hadi)
Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com
Tuesday, August 19, 2008
Angel
Angel -- Author Unknown
I just had one of the most amazing experiences of my life, and wanted to share it with my family and dearest friends. Here it is:
I was driving home from a meeting this evening about 5, stuck in traffic on Colorado Blvd., and my car started to choke and sputter and died.
I barely managed to coast, cruising, into a gas station, glad only that I would not be blocking traffic and would have a somewhat warm spot to wait for the tow truck. It wouldn't even turn over. Before I could make the call, I saw a woman walking out of the "quickie mart" building, and it looked like she slipped on some ice and fell into a gas pump! So I got out to see if she was okay. When I got there, it looked more like she had been overcome by sobs than that she had fallen. She was a young woman who looked really haggard with dark circles under her eyes. She dropped something as I helped her up, and I picked it up to give it to her. It was a nickel.
At that moment, everything came into focus for me: the crying woman, the ancient Suburban crammed full of stuff with 3 kids in the back (1 in a car seat), and the gas pump reading $4.95. I asked her if she was okay and if she needed help, and she just kept saying "I don't want my kids to see me crying," so we stood on the other side of the pump from her car. She said she was driving to California and that things were very hard for her right now.
So, I asked, "And you were praying?" That made her back away from me a little, but I assured her I was not a crazy person and said, "He heard you, and He sent me."
I took out my card and swiped it through the card reader on the pump so she could fill up her car completely, and while it was fueling walked to the next door McDonald's and bought 2 big bags of food, some gift certificates for more, and a big cup of coffee. She gave the food to the kids in the car who attacked it like wolves, and we stood by the pump eating fries and talking a little.
She told me her name, and that she lived in Kansas City. Her boyfriend left 2 months ago and she had not been able to make ends meet. She knew she wouldn't have money to pay the rent January 1st, and finally, in desperation, had called her parents, with whom she had not spoken in about 5 years. They lived in
California and said she could come live with them and try to get on her feet there.
So. she packed up everything she owned in the car. She told the kids they were going to California for Christmas, but not that they were going to live there.
I gave her my gloves, a little hug and said a quick prayer with her for safety on the road. As I was walking over to my car, she said, "So, are you like an angel or something?"
This definitely made me cry. I said, "Sweetie, at this time of year angels are really busy, so sometimes God uses regular people."
It was so incredible to be a part of someone else's miracle. And of course, you guessed it, when I got in my car it started right away and got me home with no problem. I'll put it in the shop tomorrow for a check, but I suspect the mechanic won't find anything wrong.
Sometimes the angels fly close enough to you that you can hear the flutter of their wings.
"Cast thy burden upon the Lord, and He shall sustain thee. He shall never suffer the righteous to be moved." -- Psalms 55:22
Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com
I just had one of the most amazing experiences of my life, and wanted to share it with my family and dearest friends. Here it is:
I was driving home from a meeting this evening about 5, stuck in traffic on Colorado Blvd., and my car started to choke and sputter and died.
I barely managed to coast, cruising, into a gas station, glad only that I would not be blocking traffic and would have a somewhat warm spot to wait for the tow truck. It wouldn't even turn over. Before I could make the call, I saw a woman walking out of the "quickie mart" building, and it looked like she slipped on some ice and fell into a gas pump! So I got out to see if she was okay. When I got there, it looked more like she had been overcome by sobs than that she had fallen. She was a young woman who looked really haggard with dark circles under her eyes. She dropped something as I helped her up, and I picked it up to give it to her. It was a nickel.
At that moment, everything came into focus for me: the crying woman, the ancient Suburban crammed full of stuff with 3 kids in the back (1 in a car seat), and the gas pump reading $4.95. I asked her if she was okay and if she needed help, and she just kept saying "I don't want my kids to see me crying," so we stood on the other side of the pump from her car. She said she was driving to California and that things were very hard for her right now.
So, I asked, "And you were praying?" That made her back away from me a little, but I assured her I was not a crazy person and said, "He heard you, and He sent me."
I took out my card and swiped it through the card reader on the pump so she could fill up her car completely, and while it was fueling walked to the next door McDonald's and bought 2 big bags of food, some gift certificates for more, and a big cup of coffee. She gave the food to the kids in the car who attacked it like wolves, and we stood by the pump eating fries and talking a little.
She told me her name, and that she lived in Kansas City. Her boyfriend left 2 months ago and she had not been able to make ends meet. She knew she wouldn't have money to pay the rent January 1st, and finally, in desperation, had called her parents, with whom she had not spoken in about 5 years. They lived in
California and said she could come live with them and try to get on her feet there.
So. she packed up everything she owned in the car. She told the kids they were going to California for Christmas, but not that they were going to live there.
I gave her my gloves, a little hug and said a quick prayer with her for safety on the road. As I was walking over to my car, she said, "So, are you like an angel or something?"
This definitely made me cry. I said, "Sweetie, at this time of year angels are really busy, so sometimes God uses regular people."
It was so incredible to be a part of someone else's miracle. And of course, you guessed it, when I got in my car it started right away and got me home with no problem. I'll put it in the shop tomorrow for a check, but I suspect the mechanic won't find anything wrong.
Sometimes the angels fly close enough to you that you can hear the flutter of their wings.
"Cast thy burden upon the Lord, and He shall sustain thee. He shall never suffer the righteous to be moved." -- Psalms 55:22
Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com
Friday, August 15, 2008
The President
Annie Schisler dari Argentina mendapatkan suatu penglihatan ketika ia sedang berdoa di Belanda pada tahun 2001. Dalam salah satu penglihatan itu ia melihat bahwa pada suatu saat akan muncul presiden baru di Amerika Serikat yang sangat bermusuhan terhadap Injil dan menganggap bahwa pembelaan Amerika Serikat terhadap Israel merupakan penyebab krisis di negeri itu. Pada waktu itu Amerika Serikat tidak akan menjadi kekuatan nomor satu di dunia lagi. Tempatnya digantikan Eropa.
Nampaknya apa yang dilihat Annie akan segera terwujud pada tahun 2009 ketika Barrack Obama masuk ke Gedung Putih sebagai presiden pertama yang bukan orang kulit putih. Dan apa yang dilihat Annie lainnya, seperti peperangan besar, kelaparan besar, dan munculnya Antikris sudah dekat sekali.
Ditulis oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com
Nampaknya apa yang dilihat Annie akan segera terwujud pada tahun 2009 ketika Barrack Obama masuk ke Gedung Putih sebagai presiden pertama yang bukan orang kulit putih. Dan apa yang dilihat Annie lainnya, seperti peperangan besar, kelaparan besar, dan munculnya Antikris sudah dekat sekali.
Ditulis oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com
Thursday, August 14, 2008
Tragic Behaviour
Sebuah berita di Kompas.Com, Kamis, 24 Juli 2008 | 09:29 WIB
"JAKARTA, KAMIS-Istri seorang dokter spesialis anak, Renata Tan (49), tega menyiksa Septiana Maulina alias Lina, gadis yang bekerja di rumahnya, secara keji hingga tewas. Renata secara membabi buta memukuli, menjambak, dan membenturkan kepala Lina ke lantai.
Peristiwa tragis itu terjadi di rumah Renata di perumahan elit Kedoya Garden, Kedoya Selatan, Kebonjeruk, Jakarta Barat, Selasa (22/7) pagi. Tanpa alasan yang jelas, ibu tiga anak tersebut menyiksa Septiana Maulina alias Lina (l6), satu dari tiga wanita pembantu rumah tangga (PRT) yang bekerja di rumahnya.
Peristiwa yang menimpa Lina merupakan aksi ketiga Renata. Pada tahun 1991 dan 1996, Renata juga menyiksa hingga tewas dua wanita pembantunya. Renata diajukan ke sidang namun hakim membebaskan wanita itu dari segala tuntutan karena Renata dianggap berkepribadian ganda atau tidak bisa dimintai tanggung jawab atas perbuatannya."
Berita itu sungguh memilukan, karena keluarga Renata dilingkupi dengan hamba-hamba Tuhan. Adik iparnya adalah seorang dokter spesialis terkenal yang juga gembala dari beberapa gereja di Jakarta. Bagaimana kekristenan dapat menyembuhkan perilaku yang menyimpang seperti itu? Marilah kita mengasihi bukan dengan perkataan, tetapi dengan perbuatan! Pembantu juga manusia, mereka sudah sangat berjasa kepada kita.
Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com
"JAKARTA, KAMIS-Istri seorang dokter spesialis anak, Renata Tan (49), tega menyiksa Septiana Maulina alias Lina, gadis yang bekerja di rumahnya, secara keji hingga tewas. Renata secara membabi buta memukuli, menjambak, dan membenturkan kepala Lina ke lantai.
Peristiwa tragis itu terjadi di rumah Renata di perumahan elit Kedoya Garden, Kedoya Selatan, Kebonjeruk, Jakarta Barat, Selasa (22/7) pagi. Tanpa alasan yang jelas, ibu tiga anak tersebut menyiksa Septiana Maulina alias Lina (l6), satu dari tiga wanita pembantu rumah tangga (PRT) yang bekerja di rumahnya.
Peristiwa yang menimpa Lina merupakan aksi ketiga Renata. Pada tahun 1991 dan 1996, Renata juga menyiksa hingga tewas dua wanita pembantunya. Renata diajukan ke sidang namun hakim membebaskan wanita itu dari segala tuntutan karena Renata dianggap berkepribadian ganda atau tidak bisa dimintai tanggung jawab atas perbuatannya."
Berita itu sungguh memilukan, karena keluarga Renata dilingkupi dengan hamba-hamba Tuhan. Adik iparnya adalah seorang dokter spesialis terkenal yang juga gembala dari beberapa gereja di Jakarta. Bagaimana kekristenan dapat menyembuhkan perilaku yang menyimpang seperti itu? Marilah kita mengasihi bukan dengan perkataan, tetapi dengan perbuatan! Pembantu juga manusia, mereka sudah sangat berjasa kepada kita.
Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com
Wednesday, August 13, 2008
The Power of Prayer
The Power of Prayer-- Author Unknown
Seorang misionaris yang sedang cuti menceritakan kisah nyata ini sementara ia mengunjungi gerejanya di Michigan…
Sementara saya melayani di Rumah Sakit kecil di Afrika, setiap dua minggu saya bepergian naik sepeda melewati hutan ke kota terdekat untuk membeli perlengkapan medis. Tentu saja saya selalu berdoa meminta perlindungan Tuhan pada setiap waktu.
Perjalanan ini memakan waktu dua hari dan mengharuskan saya berkemah semalam di tengah perjalanan. Pada salah satu perjalanan itu, saya tiba di kota dengan rencana mengambil uang di bank, membeli obat-obatan dan perlengkapan lain, dan kemudian saya akan kembali dalam perjalanan dua hari menuju Rumah Sakit di pedalaman.
Sesampai saya di kota itu, saya melihat dua orang pria sedang berkelahi, salah satunya terluka dengan serius. Saya mengobati luka-lukanya, dan pada saat yang sama saya menceritakan kepadanya tentang Tuhan Yesus. Kemudian saya memulai perjalanan pulang selama dua hari, berkemah semalam, dan pulang ke rumah dengan selamat.
Dua minggu kemudian saya mengulangi perjalanan saya. Sesampai di kota itu, saya didekati pemuda yang pernah saya tolong. Ia mengatakan kepada saya bahwa waktu itu ia mengetahui bahwa saya membawa uang dan obat-obatan. Ia berkata, “Beberapa teman dan saya mengikuti anda sampai ke hutan, dan mengetahui bahwa anda akan berkemah semalam. Kami berencana membunuh anda dan merampas uang dan obat-obatan itu. Namun tepat pada saat kami akan bergerak memasuki kemah anda, kami melihat bahwa anda dikelililingi oleh dua puluh enam pengawal bersenjata.”
Mendengar hal ini, saya tertawa dan berkata bahwa saya sungguh-sungguh sendirian di hutan pada malam itu. Meskipun demikian, anak muda itu tetap ngotot dan berkata, “Tidak, Pak, saya bukanlah satu-satunya orang yang melihat para pengawal bersenjata itu. Lima teman saya juga melihat mereka, dan kami semua menghitung jumlah para pengawal itu. Karena para penjaga itulah kami menjadi takut dan meninggalkan anda.” (Diterjemahkan oleh Hadi Kristadi untuk http://pentas-kesaksian.blogspot.com. Mohon agar bagian ini tidak dihapus/didelete apabila anda memforwardnya kepada pihak lain. Terima kasih)
****
The Power of Prayer
A missionary on furlough told this true story while visiting his home church in Michigan...
"While serving at a small field hospital in Africa, every two weeks I traveled by bicycle through the jungle to a nearby city for supplies.
This was a journey of two days and required camping overnight at the halfway point. On one of these journeys, I arrived in the city where I planned to collect money from a bank, purchase medicine and supplies, and then begin my two-day journey back to the field hospital.
Upon arrival in the city, I observed two men fighting, one of whom had been seriously injured. I treated him for his injuries and at the same time talked to him about the Lord. I then traveled two days, camping overnight, and arrived home without incident.
Two weeks later I repeated my journey. Upon arriving in the city, I was approached by the young man I had treated. He told me that he had known I carried money and medicines. He said, 'Some friends and I followed you into the jungle, knowing you would camp overnight.
We planned to kill you and take your money and drugs. But just as we were about to move into your camp, we saw that you were surrounded by 26 armed guards. At this, I laughed and said that I was certainly all alone in that jungle campsite. The young man pressed the point, however, and said, 'No sir, I was not the only person to see the guards. My five friends also saw them, and we all counted them. It was because of those guards that we were afraid and left you alone.
Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com
****
Personal Notes:
Dijual Tanah Di Bali: Di Jl. Sari Dewi, Seminyak, kurang lebih 4600 m2, SHM, Ukuran: Lebar Muka 23m, Lebar Belakang 25m, Ngantong, Panjang 190m. Dekat Cafe Kudeta dan Di Depan The Elysian Resort Villas. Harga Rp. 4,5 juta/meter. Hubungi Hadi 08129716102.
BALI - Land for Sale: At Seminyak Exclusive Area, Jl. Sari Dewi, 4,600 square metres, front wide 23 metres, rear wide 25 metres, 190 metres long, Near Cafe Kudeta, in front of The Elysian Resort Villas. Offering Price: Rp. 4.5 million/square metre. Contact : Hadi +628129716102. No broker please.
****
Dijual Vila Eksklusif di Ubud, Luas 2000 m2, empat bungalow, satu ruang serbaguna, kolam renang. Pemandangan menakjubkan ke arah lembah Sungai Ayung. Tidak jauh dari Four Seasons Ubud.
Wonderful Villa For Sale at Ubud - Bali, 2,000 metres, four bungalows, one main building, swimming pool. Breathe taking view to the valley of Ayung River. Near Four Seasons Villas at Ubud. Contact: Hadi +628129716102
(No broker please)
Seorang misionaris yang sedang cuti menceritakan kisah nyata ini sementara ia mengunjungi gerejanya di Michigan…
Sementara saya melayani di Rumah Sakit kecil di Afrika, setiap dua minggu saya bepergian naik sepeda melewati hutan ke kota terdekat untuk membeli perlengkapan medis. Tentu saja saya selalu berdoa meminta perlindungan Tuhan pada setiap waktu.
Perjalanan ini memakan waktu dua hari dan mengharuskan saya berkemah semalam di tengah perjalanan. Pada salah satu perjalanan itu, saya tiba di kota dengan rencana mengambil uang di bank, membeli obat-obatan dan perlengkapan lain, dan kemudian saya akan kembali dalam perjalanan dua hari menuju Rumah Sakit di pedalaman.
Sesampai saya di kota itu, saya melihat dua orang pria sedang berkelahi, salah satunya terluka dengan serius. Saya mengobati luka-lukanya, dan pada saat yang sama saya menceritakan kepadanya tentang Tuhan Yesus. Kemudian saya memulai perjalanan pulang selama dua hari, berkemah semalam, dan pulang ke rumah dengan selamat.
Dua minggu kemudian saya mengulangi perjalanan saya. Sesampai di kota itu, saya didekati pemuda yang pernah saya tolong. Ia mengatakan kepada saya bahwa waktu itu ia mengetahui bahwa saya membawa uang dan obat-obatan. Ia berkata, “Beberapa teman dan saya mengikuti anda sampai ke hutan, dan mengetahui bahwa anda akan berkemah semalam. Kami berencana membunuh anda dan merampas uang dan obat-obatan itu. Namun tepat pada saat kami akan bergerak memasuki kemah anda, kami melihat bahwa anda dikelililingi oleh dua puluh enam pengawal bersenjata.”
Mendengar hal ini, saya tertawa dan berkata bahwa saya sungguh-sungguh sendirian di hutan pada malam itu. Meskipun demikian, anak muda itu tetap ngotot dan berkata, “Tidak, Pak, saya bukanlah satu-satunya orang yang melihat para pengawal bersenjata itu. Lima teman saya juga melihat mereka, dan kami semua menghitung jumlah para pengawal itu. Karena para penjaga itulah kami menjadi takut dan meninggalkan anda.” (Diterjemahkan oleh Hadi Kristadi untuk http://pentas-kesaksian.blogspot.com. Mohon agar bagian ini tidak dihapus/didelete apabila anda memforwardnya kepada pihak lain. Terima kasih)
****
The Power of Prayer
A missionary on furlough told this true story while visiting his home church in Michigan...
"While serving at a small field hospital in Africa, every two weeks I traveled by bicycle through the jungle to a nearby city for supplies.
This was a journey of two days and required camping overnight at the halfway point. On one of these journeys, I arrived in the city where I planned to collect money from a bank, purchase medicine and supplies, and then begin my two-day journey back to the field hospital.
Upon arrival in the city, I observed two men fighting, one of whom had been seriously injured. I treated him for his injuries and at the same time talked to him about the Lord. I then traveled two days, camping overnight, and arrived home without incident.
Two weeks later I repeated my journey. Upon arriving in the city, I was approached by the young man I had treated. He told me that he had known I carried money and medicines. He said, 'Some friends and I followed you into the jungle, knowing you would camp overnight.
We planned to kill you and take your money and drugs. But just as we were about to move into your camp, we saw that you were surrounded by 26 armed guards. At this, I laughed and said that I was certainly all alone in that jungle campsite. The young man pressed the point, however, and said, 'No sir, I was not the only person to see the guards. My five friends also saw them, and we all counted them. It was because of those guards that we were afraid and left you alone.
Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com
****
Personal Notes:
Dijual Tanah Di Bali: Di Jl. Sari Dewi, Seminyak, kurang lebih 4600 m2, SHM, Ukuran: Lebar Muka 23m, Lebar Belakang 25m, Ngantong, Panjang 190m. Dekat Cafe Kudeta dan Di Depan The Elysian Resort Villas. Harga Rp. 4,5 juta/meter. Hubungi Hadi 08129716102.
BALI - Land for Sale: At Seminyak Exclusive Area, Jl. Sari Dewi, 4,600 square metres, front wide 23 metres, rear wide 25 metres, 190 metres long, Near Cafe Kudeta, in front of The Elysian Resort Villas. Offering Price: Rp. 4.5 million/square metre. Contact : Hadi +628129716102. No broker please.
****
Dijual Vila Eksklusif di Ubud, Luas 2000 m2, empat bungalow, satu ruang serbaguna, kolam renang. Pemandangan menakjubkan ke arah lembah Sungai Ayung. Tidak jauh dari Four Seasons Ubud.
Wonderful Villa For Sale at Ubud - Bali, 2,000 metres, four bungalows, one main building, swimming pool. Breathe taking view to the valley of Ayung River. Near Four Seasons Villas at Ubud. Contact: Hadi +628129716102
(No broker please)
Tuesday, August 12, 2008
Prayer Warriors to Vietnam
Teman saya, Penatua Sumarno Kosasih dari Abbalove Ministry, bersama team mengadakan perjalanan doa syafaat ke Vietnam. Berikut ini adalah laporan yang mereka buat.
Sejak tahun lalu team doa kami telah melakukan perjalanan doa keliling di beberapa kota di Indonesia. Tahun ini Tuhan memberikan pernyataan bahwa kami diberi kehormatan untuk melanjutkan perjalanan doa keliling itu ke negara-negara di Asia Tenggara. Fokus doa kami kemudian diarahkan ke tiga negara, yaitu Vietnam, Kamboja, dan Myanmar.
Pada tanggal 15-17 Februari 2008 yang lalu dimulailah perjalanan doa ke Vietnam. Team doa kami terdiri dari 14 orang. Sebelum perjalanan doa keliling ini kami telah mengirim "contact person" kami yang melakukan survai dan mengatur perjalanan menuju sebuah Pagoda yang terletak di sebuah gunung di utara kota Hanoi.
Pada tanggal 15 Februari 2008 team kami memberikan training tentang peperangan rohani kepada sekitar 40 orang anggota jemaat dari gereja lokal di Hanoi. Selama tiga sesi team kami memberikan pengajaran serta menjelaskan mengapa kami datang berdoa syafaat. Kami juga menyampaikan pesan-pesan Tuhan untuk Vietnam yang didapat ketika team berdoa di Speed Plaza, Jakarta. Selesai training, ada 15 orang Vietnam yang bersedia ikut berdoa syafaat bersama kami ke Pagoda.
Cuaca di Hanoi saat itu sedang musim dingin, dengan suhu udara sekitar 10 derajat Celsius. Hari itu hujan turun terus menerus, disertai angin kencang dan kabut. Semua perlengkapan telah disiapkan dengan matang untuk pergi ke lokasi doa yang terletak di sebuah puncak gunung dengan ketinggian 1800 meter di atas permukaan laut.
Menuju lokasi tersebut team kami harus menginap semalam di kota Halong City yang dapat ditempuh sekitar tiga jam dari Hanoi. Keesokan harinya jam 8 pagi semua anggota team telah bersiap-siap untuk naik bis menuju lokasi doa. Pada hari kami tiba adalah hari raya ziarah umat agama lain di Vietnam. Kami mendaki gunung bersama-sama dengan ribuan orang yang berbondong-bondong untuk melaksanakan ibadah di atas gunung itu.
Pendakian dimulai dengan berjalan kaki dan menggunakan dua kali Cable Car. Sampai di lokasi Cable Car yang kedua, team kami bersama team Vietnam sempat beristirahat sejenak karena kami masih harus menempuh pendakian terakhir menuju puncak dengan berjalan kaki. Pendakian ini cukup berat karena medan yang terjal dan banyak bebatuan.
Akhirnya pada jam 6 malam, seluruh anggota team tiba di puncak gunung. Pagoda itu sangat besar, dengan banyak patung-patung, lonceng, api pedupaan dan api pembakaran korban penyembahan yang dibawa para peziarah. Hujan rintik-rintik dan angin kencang menyambut kedatangan team kami. Oleh karena itu kami harus mencari tempat perlindungan. Untunglah ada sebuah bangunan yang kosong, sehingga kami memasukinya dan berteduh di sana sambil menahan kedinginan karena suhu udara pada malam itu di puncak gunung sekitar 0 derajat Celsius.
Waktu doa yang Tuhan perintahkan kepada team kami adalah jam 12 malam. Sementara menunggu, salah salah seorang anggota team terdorong untuk melayani team Vietnam yang ikut bersama kami. Anggota team Vietnam itu didoakan dan kami menyampaikan nubuatan-nubuatan yang kami terima dari Tuhan kepada setiap anggota team Vietnam. Sementara itu anggota team kami yang lain sempat berkenalan dengan pemimpin Pagoda itu dan sempat dijamu dengan teh hangat yang memang sangat dibutuhkan.
Pada jam 11 malam, ketika para peziarah lokal sudah meninggalkan Pagoda, kami mulai menyanyikan pujian-pujian kepada Tuhan dan melakukan peperangan rohani. Sangat terasa atmosfir konfrontasi berlangsung di gunung itu. Tepat jam 12 malam team doa kami melangkah keluar dari tempat perteduhan dan menuju ke depan Pagoda tersebut. Pada saat menghadap ke arah wilayah Vietnam kami mendeklarasikan dan bernubuat bagi Vietnam agar dilawat Tuhan, agar keselamatan yang dari Tuhan sampai kepada orang-orang Vietnam. Kami berdoa menangisi jiwa-jiwa yang masih terikat dosa dan terikat kuasa kegelapan. Kami berdoa memohon belas kasihan Bapa dicurahkan di Vietnam. Kami berdoa agar Vietnam dipenuhi dengan pengenalan akan kasih Kristus.
Malam itu juga kami kembali turun gunung, tanpa Cable Car yang sudah berhenti beroperasi. Meskipun berat dan dililit kedinginan, hati kami bersukacita karena kami tahu Tuhan pasti telah menjawab doa-doa kami dan kami akan melihat banyak orang Vietnam menerima Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat pribadi. Puji Tuhan! Sumber: AbbaNews.
Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com
Sejak tahun lalu team doa kami telah melakukan perjalanan doa keliling di beberapa kota di Indonesia. Tahun ini Tuhan memberikan pernyataan bahwa kami diberi kehormatan untuk melanjutkan perjalanan doa keliling itu ke negara-negara di Asia Tenggara. Fokus doa kami kemudian diarahkan ke tiga negara, yaitu Vietnam, Kamboja, dan Myanmar.
Pada tanggal 15-17 Februari 2008 yang lalu dimulailah perjalanan doa ke Vietnam. Team doa kami terdiri dari 14 orang. Sebelum perjalanan doa keliling ini kami telah mengirim "contact person" kami yang melakukan survai dan mengatur perjalanan menuju sebuah Pagoda yang terletak di sebuah gunung di utara kota Hanoi.
Pada tanggal 15 Februari 2008 team kami memberikan training tentang peperangan rohani kepada sekitar 40 orang anggota jemaat dari gereja lokal di Hanoi. Selama tiga sesi team kami memberikan pengajaran serta menjelaskan mengapa kami datang berdoa syafaat. Kami juga menyampaikan pesan-pesan Tuhan untuk Vietnam yang didapat ketika team berdoa di Speed Plaza, Jakarta. Selesai training, ada 15 orang Vietnam yang bersedia ikut berdoa syafaat bersama kami ke Pagoda.
Cuaca di Hanoi saat itu sedang musim dingin, dengan suhu udara sekitar 10 derajat Celsius. Hari itu hujan turun terus menerus, disertai angin kencang dan kabut. Semua perlengkapan telah disiapkan dengan matang untuk pergi ke lokasi doa yang terletak di sebuah puncak gunung dengan ketinggian 1800 meter di atas permukaan laut.
Menuju lokasi tersebut team kami harus menginap semalam di kota Halong City yang dapat ditempuh sekitar tiga jam dari Hanoi. Keesokan harinya jam 8 pagi semua anggota team telah bersiap-siap untuk naik bis menuju lokasi doa. Pada hari kami tiba adalah hari raya ziarah umat agama lain di Vietnam. Kami mendaki gunung bersama-sama dengan ribuan orang yang berbondong-bondong untuk melaksanakan ibadah di atas gunung itu.
Pendakian dimulai dengan berjalan kaki dan menggunakan dua kali Cable Car. Sampai di lokasi Cable Car yang kedua, team kami bersama team Vietnam sempat beristirahat sejenak karena kami masih harus menempuh pendakian terakhir menuju puncak dengan berjalan kaki. Pendakian ini cukup berat karena medan yang terjal dan banyak bebatuan.
Akhirnya pada jam 6 malam, seluruh anggota team tiba di puncak gunung. Pagoda itu sangat besar, dengan banyak patung-patung, lonceng, api pedupaan dan api pembakaran korban penyembahan yang dibawa para peziarah. Hujan rintik-rintik dan angin kencang menyambut kedatangan team kami. Oleh karena itu kami harus mencari tempat perlindungan. Untunglah ada sebuah bangunan yang kosong, sehingga kami memasukinya dan berteduh di sana sambil menahan kedinginan karena suhu udara pada malam itu di puncak gunung sekitar 0 derajat Celsius.
Waktu doa yang Tuhan perintahkan kepada team kami adalah jam 12 malam. Sementara menunggu, salah salah seorang anggota team terdorong untuk melayani team Vietnam yang ikut bersama kami. Anggota team Vietnam itu didoakan dan kami menyampaikan nubuatan-nubuatan yang kami terima dari Tuhan kepada setiap anggota team Vietnam. Sementara itu anggota team kami yang lain sempat berkenalan dengan pemimpin Pagoda itu dan sempat dijamu dengan teh hangat yang memang sangat dibutuhkan.
Pada jam 11 malam, ketika para peziarah lokal sudah meninggalkan Pagoda, kami mulai menyanyikan pujian-pujian kepada Tuhan dan melakukan peperangan rohani. Sangat terasa atmosfir konfrontasi berlangsung di gunung itu. Tepat jam 12 malam team doa kami melangkah keluar dari tempat perteduhan dan menuju ke depan Pagoda tersebut. Pada saat menghadap ke arah wilayah Vietnam kami mendeklarasikan dan bernubuat bagi Vietnam agar dilawat Tuhan, agar keselamatan yang dari Tuhan sampai kepada orang-orang Vietnam. Kami berdoa menangisi jiwa-jiwa yang masih terikat dosa dan terikat kuasa kegelapan. Kami berdoa memohon belas kasihan Bapa dicurahkan di Vietnam. Kami berdoa agar Vietnam dipenuhi dengan pengenalan akan kasih Kristus.
Malam itu juga kami kembali turun gunung, tanpa Cable Car yang sudah berhenti beroperasi. Meskipun berat dan dililit kedinginan, hati kami bersukacita karena kami tahu Tuhan pasti telah menjawab doa-doa kami dan kami akan melihat banyak orang Vietnam menerima Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat pribadi. Puji Tuhan! Sumber: AbbaNews.
Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com
Monday, August 11, 2008
The Storm
Badai
Setelah beberapa nyanyian pujian sebagaimana biasanya di Ibadah Minggu, gembala gereja itu pelan-pelan bangkit berdiri, berjalan ke arah mimbar, dan sebelum ia menyampaikan khotbahnya, dengan singkat ia memperkenalkan seorang pendeta tamu yang datang pada ibadah sore itu. Dalam kata-kata perkenalannya, gembala itu menceritakan kepada jemaat bahwa pendeta tamu itu adalah teman masa kanak-kanaknya, dan ia ingin agar pendeta tamu itu dapat membagikan apa yang ia rasakan perlu untuk disampaikan pada kebaktian itu. Dengan perkataan itu, seorang pria berumur melangkah ke arah mimbar dan mulai berbicara.
“Seorang ayah, dan puteranya, dan seorang teman puteranya berlayar di pantai Pasifik,” ia memulai, “ketika badai yang sangat cepat menghalangi setiap upaya mereka untuk mendekati pantai. Ombaknya begitu tinggi, sehingga meskipun ayahnya seorang nelayan yang sudah berpengalaman, ia tidak dapat mempertahankan perahu itu dan mereka bertiga dihempaskan ke dalam samudera ketika perahu itu terbalik.”
Pengkhotbah tua itu ragu-ragu sejenak, mulai bertatapan dengan dua remaja yang, untuk pertama kalinya sejak ibadah itu dimulai, nampak agak tertarik dengan kisahnya. Pendeta tua itu melanjutkan kisahnya…
“Dengan menggenggam tali penolong, sang ayah harus mengambil keputusan yang sangat penting dalam kehidupannya: ke arah anak laki-laki yang mana ia harus melontarkan ujung tali itu? Ia hanya memiliki beberapa detik untuk mengambil keputusan itu. Sang ayah mengetahui bahwa puteranya adalah seorang Kristen dan ia juga mengetahua bahwa teman puteranya bukanlah orang percaya. Kegalauannya dalam mengambil keputusan tak dapat diimbangi dengan arus gelombang itu. Ketika sang ayah berteriak, “Ayah sayang kepadamu, Nak!”, ia melemparkan tali kehidupan itu ke arah teman puteranya. Sementara ayahnya menarik teman puteranya ke arah perahu yang telah terbalik, puteranya telah lenyap ditelan gelombang yang dahsyat dalam gelap gulitanya malam. Jenazah puteranya tak pernah dapat ditemukan lagi,” kata pengkhotbah tua itu dengan sedih.
Pada saat itu juga, kedua remaja yang sedang duduk di bangku gereja, dengan gelisah menunggu kata-kata berikut yang keluar dari mulut pendeta tua itu.
“Sang ayah,” ia melanjutkan, “mengetahui bahwa puteranya akan melangkah ke dalam kekekalan bersama Tuhan Yesus dan ia tak dapat membayangkan teman puteranya memasuki kekekalan tanpa Tuhan Yesus. Oleh karena itu, ia mengorbankan puteranya untuk menyelamatkan teman puteranya. Betapa besar kasih Allah sehingga Ia harus melakukan hal yang sama bagi kita! Papa Sorgawi kita mengorbankan Anak-Nya yang tunggal agar kita dapat diselamatkan. Saya mendesak kalian untuk menerima tawaran-Nya untuk menyelamatkan kalian dan menerima tali penyelamat yang Ia lemparkan kepada kalian di dalam kebaktian ini.”
Dengan perkataan terakhir itu sang Pendeta tua berbalik dan duduk kembali di kursinya sementara keheningan memenuhi ruangan ibadah itu. Gembala gereja itu kembali berjalan pelan-pelan ke arah mimbar dan menyampaikan khotbah yang sangat singkat dengan undangan untuk menerima Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat pribadi pada akhir khotbahnya. Meskipun demikian, tak ada tanggapan atas tawarannya. Tetapi, dalam beberapa saat setelah kebaktian usai, kedua anak remaja itu sudah ada di sebelah Pendeta tua itu.
“Kisah yang Bapak sampaikan tadi benar-benar menarik,” kata salah seorang anak laki-laki itu dengan sopan, “tetapi bagi saya tak masuk akal seorang ayah harus menyerahkan puteranya yang tunggal dengan harapan bahwa orang lain akan menjadi orang Kristen.”
“Nah, kamu mengerti suatu hal,” jawab orang tua itu, melirik Alkitabnya yang usang. Pada saat senyum lebar menghiasi wajahnya yang kecil, ia memandang kembali ke arah dua anak remaja itu dan berkata, “Memang hal itu tidak masuk akal, bukan? Tetapi, saya di sini hari ini menceritakan kisah ini kepada kalian mengibaratkan bagaimana rasanya Bapa menyerahkan Putera-Nya yang tunggal bagi saya. Ketahuilah, … akulah sang ayah dalam kisah itu, dan gembalamu itu adalah teman puteraku.” (Diterjemahkan oleh Hadi Kristadi untuk http://pentas-kesaksian.blogspot.com - Mohon agar bagian ini tidak dihapus/di-delete ketika anda memforwardnya.)
****
THE STORM
After a few of the usual Sunday evening hymns, the church's Pastor slowly stood up, walked over to the pulpit and, before he gave his sermon for the evening, briefly introduced a guest Minister who was in the service that evening. In the introduction, the Pastor told the congregation that the guest Minister was one of his dearest childhood friends and that he wanted him to have a few moments to greet the church and share whatever he felt would be appropriate for the service. With that, the elderly gentleman stepped up to the pulpit and began to speak.
"A father, and his son, and a friend of his son were sailing off the Pacific coast," he began... "when a fast storm blocked any attempt to get back to the shore. The waves were so high, even though the father was an experienced sailor, he could not keep the boat upright and the three were swept into the ocean as the boat capsized."
The old man hesitated for a moment, making eye contact with two teenagers who were, for the first time since the service began, looking somewhat interested in his story. The aged minister continued with his story...
"Grabbing a rescue line, the father had to make the most excruciating decision of his life: to which boy would he throw the end of the life line? He had only seconds to make the decision. The father knew that his son was a Christian and he also knew that his son's friend was not. The agony of his decision could not be matched by the torrent of waves.
As the father yelled out 'I Love You, Son!' he threw out the life line to his son's friend. By the time the father had pulled the friend back to the capsized boat his son had disappeared beneath the raging swells into the black night. His body was never recovered," the old man said sadly.
By this time, the two teenagers were sitting up straight in the pew, anxiously waiting for the next words to come out of the old Minister's mouth.
"The father," he continued, "knew his son would step into eternity with Jesus and he could not bear the thought of his son's friend stepping into an eternity without Jesus. Therefore, he sacrificed is son to save the son's friend. How great is the love of God that he should do the same for us? Our Heavenly Father sacrificed His only begotten Son so that we could be saved. I urge you to accept His offer to rescue you and take hold of the life line He is throwing out to you in this service."
With that, the old man turned and sat back down in his chair as silence filled the room. The Pastor again walked slowly to the pulpit and delivered a brief sermon with an invitation at the end. However, no one responded to the appeal. But, within moments after the service ended, the two boys were at the old man's side.
"That was a nice story," politely stated one of the boys, "but, I don't think it was very realistic for a father to give up his only son's life in hopes that the other would become a Christian."
"Well, you've got a point there," the old man replied, glancing down at his worn Bible. As a big smile broadened his narrow face, he looked up again at the boys and said, "It sure isn't very realistic, is it? But, I'm here today to tell you this story gives me a glimpse of what it must have been like for God to give up His only Son for me. You see... I was that father, and your Pastor is my son's friend."
Ditulis oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com
Setelah beberapa nyanyian pujian sebagaimana biasanya di Ibadah Minggu, gembala gereja itu pelan-pelan bangkit berdiri, berjalan ke arah mimbar, dan sebelum ia menyampaikan khotbahnya, dengan singkat ia memperkenalkan seorang pendeta tamu yang datang pada ibadah sore itu. Dalam kata-kata perkenalannya, gembala itu menceritakan kepada jemaat bahwa pendeta tamu itu adalah teman masa kanak-kanaknya, dan ia ingin agar pendeta tamu itu dapat membagikan apa yang ia rasakan perlu untuk disampaikan pada kebaktian itu. Dengan perkataan itu, seorang pria berumur melangkah ke arah mimbar dan mulai berbicara.
“Seorang ayah, dan puteranya, dan seorang teman puteranya berlayar di pantai Pasifik,” ia memulai, “ketika badai yang sangat cepat menghalangi setiap upaya mereka untuk mendekati pantai. Ombaknya begitu tinggi, sehingga meskipun ayahnya seorang nelayan yang sudah berpengalaman, ia tidak dapat mempertahankan perahu itu dan mereka bertiga dihempaskan ke dalam samudera ketika perahu itu terbalik.”
Pengkhotbah tua itu ragu-ragu sejenak, mulai bertatapan dengan dua remaja yang, untuk pertama kalinya sejak ibadah itu dimulai, nampak agak tertarik dengan kisahnya. Pendeta tua itu melanjutkan kisahnya…
“Dengan menggenggam tali penolong, sang ayah harus mengambil keputusan yang sangat penting dalam kehidupannya: ke arah anak laki-laki yang mana ia harus melontarkan ujung tali itu? Ia hanya memiliki beberapa detik untuk mengambil keputusan itu. Sang ayah mengetahui bahwa puteranya adalah seorang Kristen dan ia juga mengetahua bahwa teman puteranya bukanlah orang percaya. Kegalauannya dalam mengambil keputusan tak dapat diimbangi dengan arus gelombang itu. Ketika sang ayah berteriak, “Ayah sayang kepadamu, Nak!”, ia melemparkan tali kehidupan itu ke arah teman puteranya. Sementara ayahnya menarik teman puteranya ke arah perahu yang telah terbalik, puteranya telah lenyap ditelan gelombang yang dahsyat dalam gelap gulitanya malam. Jenazah puteranya tak pernah dapat ditemukan lagi,” kata pengkhotbah tua itu dengan sedih.
Pada saat itu juga, kedua remaja yang sedang duduk di bangku gereja, dengan gelisah menunggu kata-kata berikut yang keluar dari mulut pendeta tua itu.
“Sang ayah,” ia melanjutkan, “mengetahui bahwa puteranya akan melangkah ke dalam kekekalan bersama Tuhan Yesus dan ia tak dapat membayangkan teman puteranya memasuki kekekalan tanpa Tuhan Yesus. Oleh karena itu, ia mengorbankan puteranya untuk menyelamatkan teman puteranya. Betapa besar kasih Allah sehingga Ia harus melakukan hal yang sama bagi kita! Papa Sorgawi kita mengorbankan Anak-Nya yang tunggal agar kita dapat diselamatkan. Saya mendesak kalian untuk menerima tawaran-Nya untuk menyelamatkan kalian dan menerima tali penyelamat yang Ia lemparkan kepada kalian di dalam kebaktian ini.”
Dengan perkataan terakhir itu sang Pendeta tua berbalik dan duduk kembali di kursinya sementara keheningan memenuhi ruangan ibadah itu. Gembala gereja itu kembali berjalan pelan-pelan ke arah mimbar dan menyampaikan khotbah yang sangat singkat dengan undangan untuk menerima Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat pribadi pada akhir khotbahnya. Meskipun demikian, tak ada tanggapan atas tawarannya. Tetapi, dalam beberapa saat setelah kebaktian usai, kedua anak remaja itu sudah ada di sebelah Pendeta tua itu.
“Kisah yang Bapak sampaikan tadi benar-benar menarik,” kata salah seorang anak laki-laki itu dengan sopan, “tetapi bagi saya tak masuk akal seorang ayah harus menyerahkan puteranya yang tunggal dengan harapan bahwa orang lain akan menjadi orang Kristen.”
“Nah, kamu mengerti suatu hal,” jawab orang tua itu, melirik Alkitabnya yang usang. Pada saat senyum lebar menghiasi wajahnya yang kecil, ia memandang kembali ke arah dua anak remaja itu dan berkata, “Memang hal itu tidak masuk akal, bukan? Tetapi, saya di sini hari ini menceritakan kisah ini kepada kalian mengibaratkan bagaimana rasanya Bapa menyerahkan Putera-Nya yang tunggal bagi saya. Ketahuilah, … akulah sang ayah dalam kisah itu, dan gembalamu itu adalah teman puteraku.” (Diterjemahkan oleh Hadi Kristadi untuk http://pentas-kesaksian.blogspot.com - Mohon agar bagian ini tidak dihapus/di-delete ketika anda memforwardnya.)
****
THE STORM
After a few of the usual Sunday evening hymns, the church's Pastor slowly stood up, walked over to the pulpit and, before he gave his sermon for the evening, briefly introduced a guest Minister who was in the service that evening. In the introduction, the Pastor told the congregation that the guest Minister was one of his dearest childhood friends and that he wanted him to have a few moments to greet the church and share whatever he felt would be appropriate for the service. With that, the elderly gentleman stepped up to the pulpit and began to speak.
"A father, and his son, and a friend of his son were sailing off the Pacific coast," he began... "when a fast storm blocked any attempt to get back to the shore. The waves were so high, even though the father was an experienced sailor, he could not keep the boat upright and the three were swept into the ocean as the boat capsized."
The old man hesitated for a moment, making eye contact with two teenagers who were, for the first time since the service began, looking somewhat interested in his story. The aged minister continued with his story...
"Grabbing a rescue line, the father had to make the most excruciating decision of his life: to which boy would he throw the end of the life line? He had only seconds to make the decision. The father knew that his son was a Christian and he also knew that his son's friend was not. The agony of his decision could not be matched by the torrent of waves.
As the father yelled out 'I Love You, Son!' he threw out the life line to his son's friend. By the time the father had pulled the friend back to the capsized boat his son had disappeared beneath the raging swells into the black night. His body was never recovered," the old man said sadly.
By this time, the two teenagers were sitting up straight in the pew, anxiously waiting for the next words to come out of the old Minister's mouth.
"The father," he continued, "knew his son would step into eternity with Jesus and he could not bear the thought of his son's friend stepping into an eternity without Jesus. Therefore, he sacrificed is son to save the son's friend. How great is the love of God that he should do the same for us? Our Heavenly Father sacrificed His only begotten Son so that we could be saved. I urge you to accept His offer to rescue you and take hold of the life line He is throwing out to you in this service."
With that, the old man turned and sat back down in his chair as silence filled the room. The Pastor again walked slowly to the pulpit and delivered a brief sermon with an invitation at the end. However, no one responded to the appeal. But, within moments after the service ended, the two boys were at the old man's side.
"That was a nice story," politely stated one of the boys, "but, I don't think it was very realistic for a father to give up his only son's life in hopes that the other would become a Christian."
"Well, you've got a point there," the old man replied, glancing down at his worn Bible. As a big smile broadened his narrow face, he looked up again at the boys and said, "It sure isn't very realistic, is it? But, I'm here today to tell you this story gives me a glimpse of what it must have been like for God to give up His only Son for me. You see... I was that father, and your Pastor is my son's friend."
Ditulis oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com
Don't Worry !
JANGAN KHAWATIR!
Bertahun-tahun yang lain, saya terpesona ketika saya mendengarkan khotbah seorang Pendeta yang selama bertahun-tahun telah setia melayani di gereja. Tugas dan tanggung jawabnya telah membawa dia bepergian ke seluruh negeri. Pada saat ia mengakhiri khotbahnya, ia menceritakan pengalaman-pengalaman kehidupannya yang paling menakutkan dan paling mengganggu pikiran.
Pada suatu saat ia berada dalam penerbangan panjang dari suatu tempat ke tempat lain. Peringatan pertama yang berasal dari masalah-masalah yang mendekat datang ketika tanda di pesawat itu menyala: “Kencangkan sabuk pengaman anda!”. Sejenak kemudian terdengar suara: “Kami tidak akan menyajikan minuman pada saat ini karena kita menghadapi sedikit badai. Pastikan sabuk pengaman anda terpasang.”
Ketika ia memandang ke sekeliling, jelaslah bahwa kebanyakan penumpang pesawat menjadi tegang. Kemudian suara pengumuman terdengar lagi, “Kami menyesal karena kami belum dapat menyajikan makanan sekarang. Badai ini masih ada di depan kita.”
Kemudian badai itu dimulai. Suara halilintar yang keras terdengar mengatasi deru suara mesin. Cahaya petir menyala di kegelapan langit, dan dalam beberapa saat pesawat besar itu seperti gabus yang diombang-ambingkan di lautan luas. Pada suatu saat pesawat itu melambung, pada kali lain pesawat itu merosot seperti hampir jatuh.
Pendeta itu mengaku bahwa ia merasakan ketidak-nyamanan dan ketakutan di antara mereka yang ada di sekelilingnya. Ia berkata, “Pada waktu saya memandang berkeliling, saya dapat melihat bahwa hampir semua penumpang gelisah dan ketakutan. Beberapa orang berdoa. Masa depan nampak tidak jelas dan banyak orang meragukan apakah mereka dapat melewati badai itu. Kemudian, tiba-tiba saya melihat seorang gadis kecil. Nampaknya badai itu tidak berarti apa-apa baginya. Ia duduk melipat kakinya; ia sedang membaca sebuah buku dan segala hal di dalam dunianya yang kecil begitu tenang dan tenteram. Kadang-kadang ia memejamkan matanya, kemudian ia akan membaca lagi; kemudian ia meluruskan kakinya, namun tak ada kekhawatiran dan ketakutan sedikitpun di dalam dirinya. Ketika pesawat itu diombang-ambingkan oleh badai yang mengerikan, ketika pesawat itu bergoyang ke sana kemari, ketika pesawat itu naik dan turun dengan hebat, ketika semua orang dewasa hampir mati ketakutan, gadis kecil yang luar biasa itu sungguh tenang dan tanpa ketakutan.” Pendeta ini hampir tidak memercayai penglihatannya.
Oleh karena itu tidak mengherankan, ketika pesawat itu akhirnya mencapai tujuan dan semua penumpang bergegas keluar pesawat, pendeta kita ini sangat ingin berbicara dengan gadis yang ia telah amati sepanjang perjalanan. Setelah mengomentari badai dan gerakan pesawat, ia bertanya mengapa gadis itu tidak takut. Anak kecil itu menjawab, “Karena papa saya adalah pilotnya, dan dia pasti membawa saya pulang dengan selamat.”
“Serahkanlah segala kekuatiranmu kepada-Nya, sebab Ia yang memelihara kamu.” (1 Petrus 5:7). Our Daddy God is in charge, don’t worry!
(Diterjemahkan oleh Hadi Kristadi untuk http://pentas-kesaksian.blogspot.com – mohon jangan dihapus/didelete ketika anda memforward naskah ini).
***
Don't Worry!
-- Author Unknown
Years ago, I was enthralled as I listened to a pastor who for several years had faithfully served the church. His executive responsibilities had taken him all over this country. As he concluded his message, he told of one of the most frightening, yet thought-provoking, experiences of his life.
He had been on a long flight from one place to another. The first warning of the approaching problems came when the sign on the airplane flashed on: Fasten your seat belts. Then, after a while, a calm voice said, "We shall not be serving the beverages at this time as we are expecting a little turbulence. Please be sure your seat belt is fastened."
As he looked around the aircraft, it became obvious that many of the passengers were becoming apprehensive. Later, the voice of the announcer said, "We are so sorry that we are unable to serve the meal at this time. The turbulence is still ahead of us."
Then the storm broke. The ominous cracks of thunder could be heard even above the roar of the engines. Lightening lit up the darkening skies, and within moments that great plane was like a cork tossed around on a celestial ocean. One moment the airplane was lifted on terrific currents of air; the next, it dropped as if it were about to crash.
The pastor confessed that he shared the discomfort and fear of those around him. He said, "As I looked around the plane, I could see that nearly all the passengers were upset and alarmed. Some were praying. The future seemed ominous and many were wondering if they would make it through the storm.
Then, I suddenly saw a little girl. Apparently the storm meant nothing to her. She had tucked her feet beneath her as she sat on her seat; she was reading a book and every thing within her small world was calm and orderly. Sometimes she closed her eyes, then she would read again; then she would straighten her legs, but worry and fear were not in her world. When the plane was being buffeted by the terrible storm when it lurched this way and that, as it rose and fell with frightening severity,when all the adults were scared half to death, that marvelous child was completely composed and unafraid." The minister could hardly believe his eyes.
It was not surprising therefore, that when the plane finally reached its destination and all the passengers were hurrying to disembark,our pastor lingered to speak to the girl whom he had watched for such a long time. Having commented about the storm and behavior of the plane, he asked why she had not been afraid.
The child replied, "'Cause my Daddy's the pilot, and he's taking me home."
"Leave all your worries with him, because Your Daddy God cares for you." (1 Petrus 5:7) (Author Unknown - Posted by Hadi Kristadi for http://pentas-kesaksian.blogspot.com)
Ditulis oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com
Bertahun-tahun yang lain, saya terpesona ketika saya mendengarkan khotbah seorang Pendeta yang selama bertahun-tahun telah setia melayani di gereja. Tugas dan tanggung jawabnya telah membawa dia bepergian ke seluruh negeri. Pada saat ia mengakhiri khotbahnya, ia menceritakan pengalaman-pengalaman kehidupannya yang paling menakutkan dan paling mengganggu pikiran.
Pada suatu saat ia berada dalam penerbangan panjang dari suatu tempat ke tempat lain. Peringatan pertama yang berasal dari masalah-masalah yang mendekat datang ketika tanda di pesawat itu menyala: “Kencangkan sabuk pengaman anda!”. Sejenak kemudian terdengar suara: “Kami tidak akan menyajikan minuman pada saat ini karena kita menghadapi sedikit badai. Pastikan sabuk pengaman anda terpasang.”
Ketika ia memandang ke sekeliling, jelaslah bahwa kebanyakan penumpang pesawat menjadi tegang. Kemudian suara pengumuman terdengar lagi, “Kami menyesal karena kami belum dapat menyajikan makanan sekarang. Badai ini masih ada di depan kita.”
Kemudian badai itu dimulai. Suara halilintar yang keras terdengar mengatasi deru suara mesin. Cahaya petir menyala di kegelapan langit, dan dalam beberapa saat pesawat besar itu seperti gabus yang diombang-ambingkan di lautan luas. Pada suatu saat pesawat itu melambung, pada kali lain pesawat itu merosot seperti hampir jatuh.
Pendeta itu mengaku bahwa ia merasakan ketidak-nyamanan dan ketakutan di antara mereka yang ada di sekelilingnya. Ia berkata, “Pada waktu saya memandang berkeliling, saya dapat melihat bahwa hampir semua penumpang gelisah dan ketakutan. Beberapa orang berdoa. Masa depan nampak tidak jelas dan banyak orang meragukan apakah mereka dapat melewati badai itu. Kemudian, tiba-tiba saya melihat seorang gadis kecil. Nampaknya badai itu tidak berarti apa-apa baginya. Ia duduk melipat kakinya; ia sedang membaca sebuah buku dan segala hal di dalam dunianya yang kecil begitu tenang dan tenteram. Kadang-kadang ia memejamkan matanya, kemudian ia akan membaca lagi; kemudian ia meluruskan kakinya, namun tak ada kekhawatiran dan ketakutan sedikitpun di dalam dirinya. Ketika pesawat itu diombang-ambingkan oleh badai yang mengerikan, ketika pesawat itu bergoyang ke sana kemari, ketika pesawat itu naik dan turun dengan hebat, ketika semua orang dewasa hampir mati ketakutan, gadis kecil yang luar biasa itu sungguh tenang dan tanpa ketakutan.” Pendeta ini hampir tidak memercayai penglihatannya.
Oleh karena itu tidak mengherankan, ketika pesawat itu akhirnya mencapai tujuan dan semua penumpang bergegas keluar pesawat, pendeta kita ini sangat ingin berbicara dengan gadis yang ia telah amati sepanjang perjalanan. Setelah mengomentari badai dan gerakan pesawat, ia bertanya mengapa gadis itu tidak takut. Anak kecil itu menjawab, “Karena papa saya adalah pilotnya, dan dia pasti membawa saya pulang dengan selamat.”
“Serahkanlah segala kekuatiranmu kepada-Nya, sebab Ia yang memelihara kamu.” (1 Petrus 5:7). Our Daddy God is in charge, don’t worry!
(Diterjemahkan oleh Hadi Kristadi untuk http://pentas-kesaksian.blogspot.com – mohon jangan dihapus/didelete ketika anda memforward naskah ini).
***
Don't Worry!
-- Author Unknown
Years ago, I was enthralled as I listened to a pastor who for several years had faithfully served the church. His executive responsibilities had taken him all over this country. As he concluded his message, he told of one of the most frightening, yet thought-provoking, experiences of his life.
He had been on a long flight from one place to another. The first warning of the approaching problems came when the sign on the airplane flashed on: Fasten your seat belts. Then, after a while, a calm voice said, "We shall not be serving the beverages at this time as we are expecting a little turbulence. Please be sure your seat belt is fastened."
As he looked around the aircraft, it became obvious that many of the passengers were becoming apprehensive. Later, the voice of the announcer said, "We are so sorry that we are unable to serve the meal at this time. The turbulence is still ahead of us."
Then the storm broke. The ominous cracks of thunder could be heard even above the roar of the engines. Lightening lit up the darkening skies, and within moments that great plane was like a cork tossed around on a celestial ocean. One moment the airplane was lifted on terrific currents of air; the next, it dropped as if it were about to crash.
The pastor confessed that he shared the discomfort and fear of those around him. He said, "As I looked around the plane, I could see that nearly all the passengers were upset and alarmed. Some were praying. The future seemed ominous and many were wondering if they would make it through the storm.
Then, I suddenly saw a little girl. Apparently the storm meant nothing to her. She had tucked her feet beneath her as she sat on her seat; she was reading a book and every thing within her small world was calm and orderly. Sometimes she closed her eyes, then she would read again; then she would straighten her legs, but worry and fear were not in her world. When the plane was being buffeted by the terrible storm when it lurched this way and that, as it rose and fell with frightening severity,when all the adults were scared half to death, that marvelous child was completely composed and unafraid." The minister could hardly believe his eyes.
It was not surprising therefore, that when the plane finally reached its destination and all the passengers were hurrying to disembark,our pastor lingered to speak to the girl whom he had watched for such a long time. Having commented about the storm and behavior of the plane, he asked why she had not been afraid.
The child replied, "'Cause my Daddy's the pilot, and he's taking me home."
"Leave all your worries with him, because Your Daddy God cares for you." (1 Petrus 5:7) (Author Unknown - Posted by Hadi Kristadi for http://pentas-kesaksian.blogspot.com)
Ditulis oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com
Friday, August 8, 2008
R.I.P: A Small Story of Alfred Nobel
Apakah anda pernah berpikir, ketika anda meninggal dunia, "berita dukacita"nya seperti apa?
Saya pernah mendengar kisah tentang Alfred Nobel, pelopor Hadiah Nobel. Ketika kakaknya meninggal, Alfred membaca berita dukacita menyangkut kakaknya di surat kabar. Ia terkejut ketika menemukan kekeliruan yang mengerikan. Surat kabar itu keliru menyangka Alfred-lah yang meninggal dan bukan kakaknya.
Ketika masih muda, Alfred Nobel memang terlibat dalam penemuan dinamit. Dalam berita dukacita yang menyangkut dirinya, surat kabar itu secara keliru merinci kematian serta kehancuran yang diakibatkan oleh dinamit temuannya itu. Alfred Nobel sungguh hancur hatinya. Ia ingin dikenal sebagai pencinta damai. Ia segera sadar bahwa jika ia ingin berita dukacita menyangkut dirinya itu diubah, ia sendirilah yang harus melakukannya dengan mengubah hidupnya. Maka Alfred Nobel pun mengubah hidupnya. Sampai sekarang ini Alfred Nobel lebih dikenal karena kontribusinya terhadap perdamaian dan ilmu pengetahuan, ketimbang apapun yang pernah dilakukan dalam hidupnya. Sumber: Ken Blanchard, "The Heart of A Leader", Interaksara.
Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com
****
Personal Note:
Ada permintaan Iron Ore (biji besi) sebanyak 50.000 ton per bulan untuk diekspor. Apakah ada supplier yang berminat? Hubungi : Hadi 08129716102
Saya pernah mendengar kisah tentang Alfred Nobel, pelopor Hadiah Nobel. Ketika kakaknya meninggal, Alfred membaca berita dukacita menyangkut kakaknya di surat kabar. Ia terkejut ketika menemukan kekeliruan yang mengerikan. Surat kabar itu keliru menyangka Alfred-lah yang meninggal dan bukan kakaknya.
Ketika masih muda, Alfred Nobel memang terlibat dalam penemuan dinamit. Dalam berita dukacita yang menyangkut dirinya, surat kabar itu secara keliru merinci kematian serta kehancuran yang diakibatkan oleh dinamit temuannya itu. Alfred Nobel sungguh hancur hatinya. Ia ingin dikenal sebagai pencinta damai. Ia segera sadar bahwa jika ia ingin berita dukacita menyangkut dirinya itu diubah, ia sendirilah yang harus melakukannya dengan mengubah hidupnya. Maka Alfred Nobel pun mengubah hidupnya. Sampai sekarang ini Alfred Nobel lebih dikenal karena kontribusinya terhadap perdamaian dan ilmu pengetahuan, ketimbang apapun yang pernah dilakukan dalam hidupnya. Sumber: Ken Blanchard, "The Heart of A Leader", Interaksara.
Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com
****
Personal Note:
Ada permintaan Iron Ore (biji besi) sebanyak 50.000 ton per bulan untuk diekspor. Apakah ada supplier yang berminat? Hubungi : Hadi 08129716102
Thursday, August 7, 2008
A Life Full of Impact: A Success Story of Dean Kamen
Ketika Dean Kamen berusia lima tahun, ia suka membangunkan ayahnya, seorang ilustrator profesional, di tengah malam untuk menggambar ide-ide yang diperolehnya. Kamen tidak pernah kekurangan ide. Di usia 15 ia memutuskan untuk menjadikan salah satu konsepnya untuk diwujudkan dalam bentuk konkrit. Dengan menggunakan beberapa ratus dollar untuk membeli beberapa komponen elektronik, ia membuat sebuah "Control Board" atau Papan Kendali yang dipakai untuk mengatur lampu dan suara dalam setiap pertunjukan.
"Itulah papan otomatis pertama yang menggantikan kerja selusin pekerja yang mengatur tombol dan tuas di dalam auditorium," kata Kamen. Ia menjual produk itu beberapa ribu dollar kepada Hayden Planetarium di New York City. Di tahun berikutnya Kamen berhenti bekerja dari pekerjaan sambilan di musim panas untuk membuat papan kendali temuannya, dan berhasil menjual lusinan. Itu memberinya banyak uang, padahal ia masih di SMA. Ia menggunakan sebagian besar uang itu untuk memperbesar bengkel kerjanya untuk mendukung penemuan-penemuannya.
Sekarang ini di usia awal lima puluhan, Kamen sudah menjadi seorang multi jutawan. Dan berkat penemuannya baru-baru ini, yaitu Segway, sarana transportasi pribadi beroda dua yang bisa seimbang sendiri, bebas dari polusi, ia menjadi semakin terkenal. Kamen disebut "penemu terbesar yang masih hidup di Amerika Serikat" dan disebut "Pied Piper of Technology". Ia memegang lebih dari 150 hak paten, telah menerima berbagai gelar doktor kehormatan, dan telah dianugerahi berbagai penghargaan, termasuk "National Medal of Technology" dari Presiden Amerika Serikat. Tidak banyak orang yang dapat mengklaim sukses lebih besar dari Kamen.
Bukan sukses yang dikejar Kamen, tetapi kehidupan bermakna yang penuh dampak bagi banyak orang. Itulah sebabnya ia juga menemukan alat-alat bantuan medis, seperti AutoSyringe, suatu alat yang dapat menginjeksikan obat dalam dosis yang tepat, dalam waktu tertentu secara teratur dan dapat dibawa kemana-mana. Hal ini membebaskan banyak orang agar tidak terikat di rumah atau ke RS ketika harus teratur diinjeksi insulin bagi penderita diabetes, misalnya. Ia juga menemukan mesin cuci darah yang dapat dibawa kemana-mana, sangat portabel. Juga ia menemukan kursi roda yang dapat naik dan turun melewati tangga serta membuat penggunanya dapat berada pada posisi sama tinggi dengan lawan bicaranya.
Temuan-temuan Kamen terus memberi dampak positif yang sangat besar bagi sesamanya. Itulah yang Tuhan mau dalam kehidupan kita. A life full of impact to others...
Sumber: John C. Maxwell, "The Journey From Success To Significance", 2004, Terbitan Dalam Bahasa Indonesia oleh Interaksara.
****
Baru Terbit!!!
Buku "5 Pilar Kepemimpinan"
Penulis: Paul J. Meyer dan Randy Slechta
Penerjemah: Hadi Kristadi
Penerbit: Nafiri Gabriel / Adonai
Edisi: Juli 2008
Isi: 222 halaman, ukuran 15,3 x 23 cm
Harga Rp. 55.000,- (sesuai harga eceran di Toko Buku) ditambah ongkos kirim.
Untuk pemesanan buku ini, hubungi via SMS 08129716102 (Hadi Kristadi), dengan menyebutkan nama dan alamat lengkap, disertai RT & RW dan KODE POS. Pembayaran dengan transfer ke BCA a/n HADI a/c 4980036931. Ongkos kirim akan ditentukan setelah ada konfirmasi jumlah buku yang dipesan. Buku akan dikirim setelah ada transfer dana.
Komentar Dr. John C. Maxwell:
"Pada usia 25 tahun, Paul J. Meyer dan SMI (Success Motivation Institute) telah memberikan suatu dampak penting bagi perkembangan kepemimpinan yang saya miliki. Buku ini akan menjembatani kesenjangan kepemimpinan bagi anda."
Komentar Kenneth H. Cooper:
"Buku ini wajib dibaca setiap orang yang ada dalam posisi kepemimpinan, tanpa memandang tingkatan tanggung jawabnya. Bila anda ingin mencapai kesuksesan dan pencapaian yang maksimum dalam hidup, buku ini bisa menolong."
Komentar Paul R. Brown (Presiden dan CEO Leadership Dynamics Inc.):
"Paul J. Meyer memiliki kejeniusan untuk menyederhanakan teori-teori yang rumit menjadi langkah-langkah tindakan yang jelas dan mudah dimengerti serta praktis. Buku ini menyediakan jalan bagi kepemimpinan, kesuksesan, dan pencapaian yang lebih besar dalam kehidupan ini."
Buku ini akan meningkatkan efektivitas kepemimpinan anda secara mendasar dan menghasilkan kehidupan yang seimbang dalam Keluarga, Keuangan, Mental, Fisik, Sosial dan Spiritual.
TENTANG PAUL J. MEYER:
Ia telah menulis 24 program besar di bidang penjualan, motivasi, penyusunan sasaran, manajemen, dan pengembangan kepemimpinan, dengan total penjualan gabungan di 60 negara dan dalam 20 bahasa sebesar lebih dari US$ 2 milyar, lebih banyak dibandingkan dengan penulis-penulis lain di sepanjang sejarah. Ia mendirikan Success Motivation Institute (SMI) pada tahun 1960 dan dipandang oleh banyak orang sebagai pelopor industri pengembangan diri.
Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com
"Itulah papan otomatis pertama yang menggantikan kerja selusin pekerja yang mengatur tombol dan tuas di dalam auditorium," kata Kamen. Ia menjual produk itu beberapa ribu dollar kepada Hayden Planetarium di New York City. Di tahun berikutnya Kamen berhenti bekerja dari pekerjaan sambilan di musim panas untuk membuat papan kendali temuannya, dan berhasil menjual lusinan. Itu memberinya banyak uang, padahal ia masih di SMA. Ia menggunakan sebagian besar uang itu untuk memperbesar bengkel kerjanya untuk mendukung penemuan-penemuannya.
Sekarang ini di usia awal lima puluhan, Kamen sudah menjadi seorang multi jutawan. Dan berkat penemuannya baru-baru ini, yaitu Segway, sarana transportasi pribadi beroda dua yang bisa seimbang sendiri, bebas dari polusi, ia menjadi semakin terkenal. Kamen disebut "penemu terbesar yang masih hidup di Amerika Serikat" dan disebut "Pied Piper of Technology". Ia memegang lebih dari 150 hak paten, telah menerima berbagai gelar doktor kehormatan, dan telah dianugerahi berbagai penghargaan, termasuk "National Medal of Technology" dari Presiden Amerika Serikat. Tidak banyak orang yang dapat mengklaim sukses lebih besar dari Kamen.
Bukan sukses yang dikejar Kamen, tetapi kehidupan bermakna yang penuh dampak bagi banyak orang. Itulah sebabnya ia juga menemukan alat-alat bantuan medis, seperti AutoSyringe, suatu alat yang dapat menginjeksikan obat dalam dosis yang tepat, dalam waktu tertentu secara teratur dan dapat dibawa kemana-mana. Hal ini membebaskan banyak orang agar tidak terikat di rumah atau ke RS ketika harus teratur diinjeksi insulin bagi penderita diabetes, misalnya. Ia juga menemukan mesin cuci darah yang dapat dibawa kemana-mana, sangat portabel. Juga ia menemukan kursi roda yang dapat naik dan turun melewati tangga serta membuat penggunanya dapat berada pada posisi sama tinggi dengan lawan bicaranya.
Temuan-temuan Kamen terus memberi dampak positif yang sangat besar bagi sesamanya. Itulah yang Tuhan mau dalam kehidupan kita. A life full of impact to others...
Sumber: John C. Maxwell, "The Journey From Success To Significance", 2004, Terbitan Dalam Bahasa Indonesia oleh Interaksara.
****
Baru Terbit!!!
Buku "5 Pilar Kepemimpinan"
Penulis: Paul J. Meyer dan Randy Slechta
Penerjemah: Hadi Kristadi
Penerbit: Nafiri Gabriel / Adonai
Edisi: Juli 2008
Isi: 222 halaman, ukuran 15,3 x 23 cm
Harga Rp. 55.000,- (sesuai harga eceran di Toko Buku) ditambah ongkos kirim.
Untuk pemesanan buku ini, hubungi via SMS 08129716102 (Hadi Kristadi), dengan menyebutkan nama dan alamat lengkap, disertai RT & RW dan KODE POS. Pembayaran dengan transfer ke BCA a/n HADI a/c 4980036931. Ongkos kirim akan ditentukan setelah ada konfirmasi jumlah buku yang dipesan. Buku akan dikirim setelah ada transfer dana.
Komentar Dr. John C. Maxwell:
"Pada usia 25 tahun, Paul J. Meyer dan SMI (Success Motivation Institute) telah memberikan suatu dampak penting bagi perkembangan kepemimpinan yang saya miliki. Buku ini akan menjembatani kesenjangan kepemimpinan bagi anda."
Komentar Kenneth H. Cooper:
"Buku ini wajib dibaca setiap orang yang ada dalam posisi kepemimpinan, tanpa memandang tingkatan tanggung jawabnya. Bila anda ingin mencapai kesuksesan dan pencapaian yang maksimum dalam hidup, buku ini bisa menolong."
Komentar Paul R. Brown (Presiden dan CEO Leadership Dynamics Inc.):
"Paul J. Meyer memiliki kejeniusan untuk menyederhanakan teori-teori yang rumit menjadi langkah-langkah tindakan yang jelas dan mudah dimengerti serta praktis. Buku ini menyediakan jalan bagi kepemimpinan, kesuksesan, dan pencapaian yang lebih besar dalam kehidupan ini."
Buku ini akan meningkatkan efektivitas kepemimpinan anda secara mendasar dan menghasilkan kehidupan yang seimbang dalam Keluarga, Keuangan, Mental, Fisik, Sosial dan Spiritual.
TENTANG PAUL J. MEYER:
Ia telah menulis 24 program besar di bidang penjualan, motivasi, penyusunan sasaran, manajemen, dan pengembangan kepemimpinan, dengan total penjualan gabungan di 60 negara dan dalam 20 bahasa sebesar lebih dari US$ 2 milyar, lebih banyak dibandingkan dengan penulis-penulis lain di sepanjang sejarah. Ia mendirikan Success Motivation Institute (SMI) pada tahun 1960 dan dipandang oleh banyak orang sebagai pelopor industri pengembangan diri.
Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com
Wednesday, August 6, 2008
The Story Behind "Janji-Mu Seperti Fajar"
Kesaksian Penggubah Lagu “Janji-Mu Seperti Fajar”
Nama saya Afen Hardianto. Saya tinggal di Malang bersama dengan istri dan dua anak saya, yang perempuan 6 tahun dan yang laki-laki 4 tahun. Saya berpacaran dengan istri saya sejak duduk di bangku SMA. Pada masa kami masih pacaran hubungan kami ditentang oleh keluarga istri saya. Tetapi kami tetap berpacaran sampai akhirnya kami mendapatkan restu untuk menikah. Tanpa saya sadari ternyata saya menyimpan kepahitan dari akibat hubungan kami yang dulunya ditentang.
Dan kepahitan itu saya simpan dan pupuk dan saya bawa di pernikahan sampai menyebabkan hubungan saya dengan istri menjadi kurang harmonis di tahun-tahun awal pernikahan kami. Kemudian masuklah pihak ketiga yang semakin memperkeruh keadaan rumah tangga kami. Dan rumah tangga saya semakin amburadul. Saya menolak dan menganggap istri saya sebagai penghalang kebahagiaan saya, sehingga saya membenci istri saya. Rasa cinta terhadap istri sudah tidak ada lagi, yang ada adalah kebencian yang menumpuk. Saya selalu menyakiti hati istri saya. Semakin istri saya tidak membalas, semakin saya menyakitinya.
Saya juga tidak mempedulikan anak saya, dan saya pun sibuk dengan keegoisan saya sendiri. Yang dilakukan istri saya hanya berdoa dan berpuasa, bahkan saat ia mengandung anak kami yang kedua, ia berpuasa Ester untuk saya. Istri saya menutupi segala keadaan yang terjadi dalam rumah tangga kami dari keluarganya. Ia berpegang pada firman Tuhan di Amsal 21:1 : “Jika hati raja-raja ada didalam genggaman tangan Tuhan, apalagi hati seorang Afen.”
Tetapi saya tetap tidak memperdulikannya sampai pada akhirnya saya menyuruh istri saya untuk pergi dan saya antarkan istri dan anak saya pulang ke rumah orang tua istri saya. Dan orang tua istri saya pun menerima mereka dan juga menghendaki perpisahan ini dan megharapkan akan berujung pada perceraian. Saat itu istri saya berkata kepada saya, ini bukan akhir dari segalanya.
Setelah saya meninggalkan istri dan anak saya, saya berpikir saya akan menjalani hidup saya yang baru. Tetapi pada suatu malam pada saat saya sendiri Tuhan mengingatkan saya pada anak saya yang pertama, saya tiba-tiba merasakan rindu dan kangen sekali pada anak saya itu. Waktu itu anak saya masih berusia 1,5 tahun. Hati saya hancur dan saya menangis.
Saya berkata kepada Tuhan :
“Tuhan, apakah akhir dari hidupku akan seperti ini? Saya yang dari dulu (SMP) sudah melayani Tuhan sebagai pemain musik tetapi apakah rumah tanggaku akan berakhir dengan perceraian?”
Tiba-tiba Tuhan memberikan melodi kepada saya lagu : "Janji-Mu Seperti Fajar", dimana rencana saya lagu ini akan saya simpan untuk saya pribadi. Tetapi pada saat pendeta saya mau rekaman, pendeta saya kekurangan 1 lagu dan ia bertanya kepada saya, apakah saya mempunyai lagu.
Dengan malu-malu saya tunjukkan lagu “Janji-Mu Seperti Fajar” kepadanya.
Saya benar-benar tidak menyangka lagu tersebut ternyata menjadi berkat bagi banyak orang, termasuk saya dan keluarga.
Dan singkat cerita Tuhan memulihkan keluarga saya. Istri, dan anak-anak saya juga sudah kembali bersatu dengan saya. Bahkan anak kedua saya yang dulu saya tolak dan lahir secara prematur tanpa saya dampingi juga lahir dalam keadaan yang normal dan sehat. Dan setelah keluarga saya kembali bersatu, saya juga baru mengetahui bahwa pada saat keluarga saya berantakan setiap hari istri saya menuliskan kata-kata iman di sebuah buku.
Di dalam tulisannya tersebut istri saya mengatakan: “Suamiku Afen pasti dikembalikan Tuhan padaku, keadaan ini adalah baik bagiku karena pasti ada anugerah besar bagiku,
suamiku Afen adalah suami yang takut akan Tuhan, suamiku Afen adalah suami yang mengasihiku, semua ini mendatangkan kebaikan bagiku karena Tuhan pembelaku ada di pihakku.”
Dan sekarang saya benar-benar merasakan pemulihan yang Tuhan kerjakan di dalam hidup saya. Bahkan saya juga tidak menyangka bahwa lagu “Janji-Mu Seperti Fajar” menjadi lagu terbaik Indonesian Gospel Music Award 2006, menjadi theme song sebuah sinetron dengan judul yang sama, dan Tuhan memelihara hidup kami sekeluarga juga melalui lagu tersebut. Terima kasih Tuhan Yesus Memberkati!
(Sumber Kesaksian: Afen Hardianto – dari Milis Sahabat Kristen)
Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com
Nama saya Afen Hardianto. Saya tinggal di Malang bersama dengan istri dan dua anak saya, yang perempuan 6 tahun dan yang laki-laki 4 tahun. Saya berpacaran dengan istri saya sejak duduk di bangku SMA. Pada masa kami masih pacaran hubungan kami ditentang oleh keluarga istri saya. Tetapi kami tetap berpacaran sampai akhirnya kami mendapatkan restu untuk menikah. Tanpa saya sadari ternyata saya menyimpan kepahitan dari akibat hubungan kami yang dulunya ditentang.
Dan kepahitan itu saya simpan dan pupuk dan saya bawa di pernikahan sampai menyebabkan hubungan saya dengan istri menjadi kurang harmonis di tahun-tahun awal pernikahan kami. Kemudian masuklah pihak ketiga yang semakin memperkeruh keadaan rumah tangga kami. Dan rumah tangga saya semakin amburadul. Saya menolak dan menganggap istri saya sebagai penghalang kebahagiaan saya, sehingga saya membenci istri saya. Rasa cinta terhadap istri sudah tidak ada lagi, yang ada adalah kebencian yang menumpuk. Saya selalu menyakiti hati istri saya. Semakin istri saya tidak membalas, semakin saya menyakitinya.
Saya juga tidak mempedulikan anak saya, dan saya pun sibuk dengan keegoisan saya sendiri. Yang dilakukan istri saya hanya berdoa dan berpuasa, bahkan saat ia mengandung anak kami yang kedua, ia berpuasa Ester untuk saya. Istri saya menutupi segala keadaan yang terjadi dalam rumah tangga kami dari keluarganya. Ia berpegang pada firman Tuhan di Amsal 21:1 : “Jika hati raja-raja ada didalam genggaman tangan Tuhan, apalagi hati seorang Afen.”
Tetapi saya tetap tidak memperdulikannya sampai pada akhirnya saya menyuruh istri saya untuk pergi dan saya antarkan istri dan anak saya pulang ke rumah orang tua istri saya. Dan orang tua istri saya pun menerima mereka dan juga menghendaki perpisahan ini dan megharapkan akan berujung pada perceraian. Saat itu istri saya berkata kepada saya, ini bukan akhir dari segalanya.
Setelah saya meninggalkan istri dan anak saya, saya berpikir saya akan menjalani hidup saya yang baru. Tetapi pada suatu malam pada saat saya sendiri Tuhan mengingatkan saya pada anak saya yang pertama, saya tiba-tiba merasakan rindu dan kangen sekali pada anak saya itu. Waktu itu anak saya masih berusia 1,5 tahun. Hati saya hancur dan saya menangis.
Saya berkata kepada Tuhan :
“Tuhan, apakah akhir dari hidupku akan seperti ini? Saya yang dari dulu (SMP) sudah melayani Tuhan sebagai pemain musik tetapi apakah rumah tanggaku akan berakhir dengan perceraian?”
Tiba-tiba Tuhan memberikan melodi kepada saya lagu : "Janji-Mu Seperti Fajar", dimana rencana saya lagu ini akan saya simpan untuk saya pribadi. Tetapi pada saat pendeta saya mau rekaman, pendeta saya kekurangan 1 lagu dan ia bertanya kepada saya, apakah saya mempunyai lagu.
Dengan malu-malu saya tunjukkan lagu “Janji-Mu Seperti Fajar” kepadanya.
Saya benar-benar tidak menyangka lagu tersebut ternyata menjadi berkat bagi banyak orang, termasuk saya dan keluarga.
Dan singkat cerita Tuhan memulihkan keluarga saya. Istri, dan anak-anak saya juga sudah kembali bersatu dengan saya. Bahkan anak kedua saya yang dulu saya tolak dan lahir secara prematur tanpa saya dampingi juga lahir dalam keadaan yang normal dan sehat. Dan setelah keluarga saya kembali bersatu, saya juga baru mengetahui bahwa pada saat keluarga saya berantakan setiap hari istri saya menuliskan kata-kata iman di sebuah buku.
Di dalam tulisannya tersebut istri saya mengatakan: “Suamiku Afen pasti dikembalikan Tuhan padaku, keadaan ini adalah baik bagiku karena pasti ada anugerah besar bagiku,
suamiku Afen adalah suami yang takut akan Tuhan, suamiku Afen adalah suami yang mengasihiku, semua ini mendatangkan kebaikan bagiku karena Tuhan pembelaku ada di pihakku.”
Dan sekarang saya benar-benar merasakan pemulihan yang Tuhan kerjakan di dalam hidup saya. Bahkan saya juga tidak menyangka bahwa lagu “Janji-Mu Seperti Fajar” menjadi lagu terbaik Indonesian Gospel Music Award 2006, menjadi theme song sebuah sinetron dengan judul yang sama, dan Tuhan memelihara hidup kami sekeluarga juga melalui lagu tersebut. Terima kasih Tuhan Yesus Memberkati!
(Sumber Kesaksian: Afen Hardianto – dari Milis Sahabat Kristen)
Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com
Escape From Death
Bebas Dari Maut
Kejadiannya sudah lama, sekitar tahun 2003, di Amerika Serikat, tepatnya di kota Greenvile, South Carolina. Sebelumnya saya tinggal di Philadelpia, menjadi jemaat keliling (pindah-pindah gereja), sebab saya sendiri maunya hanya mendengar firman saja. Tapi karena masalah finansial, akhirnya saya pindah ke kota Greenvile. Di tempat inilah saya mendapat pekerjaan yang lumayan. Tujuan hidup saya hanya cari uang dan waktu libur saya pergunakan untuk jalan-jalan.
Suatu ketika di pagi hari seperti biasa saya pergi bekerja ikut dengan teman, Dewanto namanya. Ia yang mengemudikan mobil dan seharusnya saya duduk di kursi depan tetapi karena hari itu ia membawa baju seragam dan ditaruh di jok depan, akhirnya saya disuruh duduk di belakang. Hari masih gelap sekitar jam 06.00 pagi dan cuaca hujan ketika kami berangkat.
Biasanya kurang lebih 10 menit kami sampai ke tempat kerja. Wiper kaca mobil ternyata rusak, hujan semakin deras. Terpaksa mobil menepi dan kami berusaha memperbaiki wiper dahulu. Tetapi baru berjalan sekitar dua menit, wiper rusak kembali dan tinggal satu wiper yang aktif. Kami berusaha berhati-hati dengan mengurangi kecepatan mobil.
Tak disangka tiba-tiba kendaraan kami menabrak sesuatu dengan sangat keras dan dada saya terbentur jok depan. Rasanya sangat sakit dan membuat saya sampai muntah. Kami tidak tahu apa terjadi. Saya melihat teman saya tidak sadarkan diri, sedangkan saya tidak bisa bergerak. Ketika hujan mulai berhenti dan langit telah menjadi terang kami dibantu oleh mobil di belakang kami yang melapor ke 911.
Akhirnya kami dikeluarkan dari mobil untuk dipindahkan ke mobil ambulance. Saya dibawa ke unit emergency bersama kawan saya. Semua anggota tubuh saya diperiksa dengan ronsen: apakah ada yang patah atau tidak. Sesampai di ruang rumah sakit saya berkata, “Tuhan apa yang terjadi pada diri saya?” Dada saya sakit, kepala pusing selama 8 jam. Setelah saya diperisa dokter lagi akhirnya saya diperbolehkan pulang untuk rawat jalan.
Syukurlah ada teman yang menjemput saya dari Rumah Sakit dan ada juga teman yang datang menengok ke apartemen. Salah satunya adalah Pdt. Grifin, orang Amerika, yang bisa berbahasa Indonesia. Ia mendokan saya. Ia pernah melayani di gereja Indonesia selama 37 tahun dan saya berterima kasih masih ada Pendeta yang ingat kepada saya dan mengunjungi saya.
Seminggu kemudian saya bisa berjalan, walaupun dada masih sakit. Akhirnya saya bisa sembuh total seminggu kemudian. Sementara itu teman saya diopname selama 3 minggu di rumah sakit dan akhirnya diizinkan pulang. Menurut laporan dari kepolisian Greenville South Carolina, mobil teman saya ringsek di bagian depan dan airbag tidak berfungsi.
Teman-teman kami orang Indonesia dan Amerika sampai heran, “Kok kalian bisa selamat dengan kondisi mobil seperti itu?” Mereka berkata bahwa Tuhan masih mengijinkan kami berdua selamat. Melalui peristiwa itu saya sebagai orang Kristen dapat membagikan Firman Tuhan buat kita semua, “Janganlah kita menjauhkan diri dari pertemuan-pertemuan ibadah kita, seperti dibiasakan oleh beberapa orang, tetapi marilah kita saling menasihati, dan semakin giat melakukannya menjelang hari Tuhan yang mendekat.” (Ibrani 10:25). Firman Tuhan itu yang menegur saya.
Itulah kisah kesaksian saya yang mungkin bisa menjadi berkat untuk kita semua. Marilah lebih mendahulukan Tuhan dari pada berkatnya! Dan hendaknya kita mengisi firman yang didapat dari gereja maupun dari pembacaan Firman Tuhan sehari-hari untuk mempraktekannya di dalam kehidupan bermasyarakat. Halleluyah, Praise The Lord! (Sumber Kesaksian: Tono - kesaksian telah diedit seperlunya agar enak dibaca)
Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com
Kejadiannya sudah lama, sekitar tahun 2003, di Amerika Serikat, tepatnya di kota Greenvile, South Carolina. Sebelumnya saya tinggal di Philadelpia, menjadi jemaat keliling (pindah-pindah gereja), sebab saya sendiri maunya hanya mendengar firman saja. Tapi karena masalah finansial, akhirnya saya pindah ke kota Greenvile. Di tempat inilah saya mendapat pekerjaan yang lumayan. Tujuan hidup saya hanya cari uang dan waktu libur saya pergunakan untuk jalan-jalan.
Suatu ketika di pagi hari seperti biasa saya pergi bekerja ikut dengan teman, Dewanto namanya. Ia yang mengemudikan mobil dan seharusnya saya duduk di kursi depan tetapi karena hari itu ia membawa baju seragam dan ditaruh di jok depan, akhirnya saya disuruh duduk di belakang. Hari masih gelap sekitar jam 06.00 pagi dan cuaca hujan ketika kami berangkat.
Biasanya kurang lebih 10 menit kami sampai ke tempat kerja. Wiper kaca mobil ternyata rusak, hujan semakin deras. Terpaksa mobil menepi dan kami berusaha memperbaiki wiper dahulu. Tetapi baru berjalan sekitar dua menit, wiper rusak kembali dan tinggal satu wiper yang aktif. Kami berusaha berhati-hati dengan mengurangi kecepatan mobil.
Tak disangka tiba-tiba kendaraan kami menabrak sesuatu dengan sangat keras dan dada saya terbentur jok depan. Rasanya sangat sakit dan membuat saya sampai muntah. Kami tidak tahu apa terjadi. Saya melihat teman saya tidak sadarkan diri, sedangkan saya tidak bisa bergerak. Ketika hujan mulai berhenti dan langit telah menjadi terang kami dibantu oleh mobil di belakang kami yang melapor ke 911.
Akhirnya kami dikeluarkan dari mobil untuk dipindahkan ke mobil ambulance. Saya dibawa ke unit emergency bersama kawan saya. Semua anggota tubuh saya diperiksa dengan ronsen: apakah ada yang patah atau tidak. Sesampai di ruang rumah sakit saya berkata, “Tuhan apa yang terjadi pada diri saya?” Dada saya sakit, kepala pusing selama 8 jam. Setelah saya diperisa dokter lagi akhirnya saya diperbolehkan pulang untuk rawat jalan.
Syukurlah ada teman yang menjemput saya dari Rumah Sakit dan ada juga teman yang datang menengok ke apartemen. Salah satunya adalah Pdt. Grifin, orang Amerika, yang bisa berbahasa Indonesia. Ia mendokan saya. Ia pernah melayani di gereja Indonesia selama 37 tahun dan saya berterima kasih masih ada Pendeta yang ingat kepada saya dan mengunjungi saya.
Seminggu kemudian saya bisa berjalan, walaupun dada masih sakit. Akhirnya saya bisa sembuh total seminggu kemudian. Sementara itu teman saya diopname selama 3 minggu di rumah sakit dan akhirnya diizinkan pulang. Menurut laporan dari kepolisian Greenville South Carolina, mobil teman saya ringsek di bagian depan dan airbag tidak berfungsi.
Teman-teman kami orang Indonesia dan Amerika sampai heran, “Kok kalian bisa selamat dengan kondisi mobil seperti itu?” Mereka berkata bahwa Tuhan masih mengijinkan kami berdua selamat. Melalui peristiwa itu saya sebagai orang Kristen dapat membagikan Firman Tuhan buat kita semua, “Janganlah kita menjauhkan diri dari pertemuan-pertemuan ibadah kita, seperti dibiasakan oleh beberapa orang, tetapi marilah kita saling menasihati, dan semakin giat melakukannya menjelang hari Tuhan yang mendekat.” (Ibrani 10:25). Firman Tuhan itu yang menegur saya.
Itulah kisah kesaksian saya yang mungkin bisa menjadi berkat untuk kita semua. Marilah lebih mendahulukan Tuhan dari pada berkatnya! Dan hendaknya kita mengisi firman yang didapat dari gereja maupun dari pembacaan Firman Tuhan sehari-hari untuk mempraktekannya di dalam kehidupan bermasyarakat. Halleluyah, Praise The Lord! (Sumber Kesaksian: Tono - kesaksian telah diedit seperlunya agar enak dibaca)
Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com
Tuesday, August 5, 2008
Encountering The Lord
Bertemu Tuhan Yesus
Bagi orang yang tidak percaya, cerita berikut pasti menjadi sesuatu yang tidak mungkin. Tapi satu hal yang saya imani adalah bahwa hal ini benar-benar terjadi dalam hidup saya.
Tanggal 1-6 Juli 2008 boleh jadi menjadi hari-hari yang sebenarnya tidak pernah menjadi waktu yang begitu saya nanti-nantikan sebelumnya. Bayangkan, bahkan dua hari tepat sebelum saya mengikuti retreat di Lembah Karmel ini, saya sempat bertengkar hebat dengan mama saya. Ya, bisa dibilang, kami sering sekali bertengkar. Kami berdua memiliki luka batin yang akhirnya menyebabkan kami sering berbeda pendapat dan salah paham.
Pada hari pertama, jujur saja, saya sudah tidak memiliki semangat sedikit pun untuk mengikuti retreat. Saya pikir, untuk apa, apa tujuan saya mengikuti retreat ini?
Sejak awal tahun lalu, saya benar-benar mencari seorang sosok Yesus dalam hidup saya. Dalam batin, saya ingin sekali untuk bertemu Yesus, berbicara dengan Yesus secara pribadi. Saya ingin merasakan bagaimana rasanya berada dalam pelukan Yesus.
Sekitar awal tahun 2007 lalu, saya mengikuti adorasi yang diadakan oleh Romo Yohanes Indrakusuma, O.Charm, di Hotel Mulya Jakarta. Hingga sampai adorasi itu selesai, saya seperti sama sekali tidak mendapatkan apa-apa. Saya sama sekali tidak merasakan adanya hadirat Tuhan saat itu. Kecewa, pasti. Tapi saya tidak lantas berhenti untuk terus mencari Tuhan.
Retreat sekolah pada Agustus 2007 ternyata sama saja. Tidak ada yang berubah. Saya tetap menjadi saya biasanya.
Oktober 2007, saya mengikuti acara KRK Imago Dei. Dan lagi-lagi, Tuhan sama sekali seperti tidak memberikan apapun kepada saya. Jujur saja, saat itu saya menjadi sangat kecewa terhadap Tuhan dan bersumpah untuk tidak lagi mencari Tuhan dalam hidup saya. Semalam-malaman itu saya terus menangis. Ke mana Tuhan yang selama ini saya damba-dambakan untuk membuktikan bahwa Ia sungguh ada dan hadir dalam hidup saya?
Sejak saat itu, akhirnya saya hanya berdoa biasa saja (tidak khusuk). Saya pikir, untuk apa saya berdoa dengan keras, sementara itu Tuhan tidak pernah menunjukkan bahwa diri-Nya benar-benar ada bagi saya? Toh, sepertinya Tuhan juga tidak akan membiarkan diri-Nya untuk datang kepada saya secara khusus dan berbicara layaknya ayah dan anak.
Tapi entah bagaimana, sejak bulan lalu, selalu ada suara hati saya yang meyakinkan saya bahwa saya harus mengikuti retreat ini. Saya tidak tahu bagaimana hal ini dapat terjadi, tapi ternyata sampailah saya pada acara tersebut!
Hari Pertama
Bosan, iya. Tidak punya teman, iya. Bingung, pasti!
Saya merasa retreat ini hanya akan membuang waktu saya. ”Tidak ada yang akan saya dapat dari sini”, kata saya membatin. Malam itu, diadakan sebuah misa pembukaan retreat. Pada saat itu, saya berdoa, ”Tuhan, tunjukkan bahwa Engkau sungguh ada. Buktikan bahwa retreat ini sungguh mendatangkan sesuatu untuk Grace, Tuhan. Tapi kalau sampai retreat ini selesai dan Grace tidak merasakan apapun, maaf Tuhan, tapi Grace akan meninggalkan Tuhan.”
Setelah berkata demikian, tiba-tiba dalam bayangan saya, saya melihat Tuhan Yesus menangis dan berkata, ”Grace, Tuhan sayang sama Grace tanpa syarat.” Jujur, waktu itu hati saya langsung hancur dan saya langsung menangis mendengar perkataan Tuhan yang begitu singkat tapi mendalam. Tapi saya tidak berani berkata macam-macam kepada Tuhan, saya hanya berkata, ”Baik, Tuhan. Tolong buktikan saja.”
”Iya, Grace. Tapi tolong buka hati Grace benar-benar buat Tuhan selama 6 hari ini”, jawab Tuhan lagi.
Hari itu juga, tiba-tiba saya dipilih untuk menjadi ketua kelompok retreat, dengan anggota sekitar 20 orang. Saya tidak mengerti apa rencana Tuhan. Ini adalah pertama kalinya saya mengikuti retreat penyembuhan luka batin seperti ini, dan saya masih belum mengetahui apa-apa. Tapi sesuai janji saya kepada Tuhan, saya kemudian menganggap bahwa ini adalah bagian dari rencana Tuhan.
Hari Kedua
Saya mengikuti acara adorasi. Saya benar-benar membuka diri sepenuhnya untuk Tuhan. Saya bernyanyi dengan hati, saya berdoa khusyuk. Saya benar-benar membuka hati untuk Tuhan, tanpa memikirkan apa yang akan Tuhan beri bagi saya selama 6 hari itu.
Setelah mendengar para frater dan suster berkata-kata dalam bahasa roh, dalam keadaan duduk bersila, tiba-tiba seluruh badan saya keram. Saat itu, saya benar-benar merasa yakin, bahwa Roh Kudus sungguh sedang menguasai tubuh saya. Tak lama kemudian, seorang frater mendatangi saya dengan membawa tabernakel, tempat tubuh Yesus (hosti) disimpan.
“Tuhan Yesus ingin menyapamu. Apakah kamu dapat berdiri?”, tanyanya. Tubuh saya sungguh lemah, tapi demi menjawab sapaan Tuhan Yesus, saya berusaha sekuat tenaga untuk bangkit berdiri.
“Ya, saya mau, Frater. Tapi tolong bantu saya berdiri.”
Tidak sampai 1 menit kemudian, tubuh saya langsung terhempas lagi ke belakang, terbaring dan mulai kaku pada seluruh tubuh. Frater itu pun kemudian berjalan meninggalkan saya menuju peserta lain.
“Yesus, Yesus, Yesus...”, saya terus membatin seperti itu dalam hati saya. Tapi yang keluar dari mulut saya hanyalah kata-kata, “Sess…sesss..sesss..”. Itu adalah pertama kalinya saya mendapat karunia bahasa Roh. Saya tidak dapat mengucapkan kata-kata secara ’indonesiawi’. Semua kata yang keluar seperti sudah ada translator-nya.
Dalam keadaan seperti itu, tiba-tiba lengan saya terangkat sendiri oleh tangan kuat yang kemudian menopang pinggang kiri saya juga.
”Grace, Tuhan akan menjelaskan semuanya.”
Ada suara Tuhan Yesus yang dengan sangat jelas terdengar pada telinga saya. Kemudian, Tuhan Yesus menjelaskan kepada saya mengenai segala hal yang terjadi dalam hidup saya, tentang apa maksud Tuhan untuk tidak mengangkat habis seluruh luka batin saya, tentang setiap masalah yang saya miliki, dan yang terpenting tentang mengapa baru saat ini, di saat saya tidak terlalu mengharapkan adanya pelukan Tuhan, Ia malah baru datang dan menyapa saya.
Kata Tuhan demikian, ”Grace tahu, semua sudah Tuhan atur. Ini adalah saat yang tepat bagi Tuhan untuk memeluk dan menggendong Grace.”
Seluruh tubuh saya sungguh kaku, tidak mampu bergerak. Bukan lemas, bukan lemah, tapi kaku! Tangan-tangan dan kaki kiri saya terjulur ke atas, kaki kiri saya keram hebat, dan semua jari-jari saya saling menyimpul tidak beraturan dan tidak dapat digerakkan sama sekali, meskipun dibantu dengan bantuan orang lain. Semakin saya berusaha berteriak nama Yesus, semakin tubuh saya merasa sakit dan kaku. Tapi saat itu saya sungguh merasa yakin, bahwa itu adalah kuasa Tuhan yang menghampiri saya. Saya merasakan sungguh jari-jari Yesus, pelukan Yesus. Bahkan, saya merasakan bagaimana Yesus mulai menegakkan tubuh saya sendiri! Saya melihat dengan mata saya sendiri, bagaimana itu bentuk tangan Tuhan Yesus!
Tapi anehnya, dalam pertemuan saya dengan Tuhan itu, saya sama sekali tidak dapat mengingat apa saja yang menjadi harapan duniawi saya. Sepintas, saya seperti dibawa Tuhan untuk melihat keadaan di dalam kapel tersebut. Saya melihat bahwa hampir semua orang di sana berdoa dengan khusyuk kepada Tuhan, memohon agar Tuhan menjawab doa-doa mereka.
Saya melihat, bahwa tiap-tiap dari diri mereka kemudian seperti membuat sebuah saluran (pipa) berwarna abu-abu. Pipa-pipa tersebut itu lalu membentuk piramid hingga ke puncak kapel (menuju hadirat Tuhan). Masing-masing peserta menyumbangkan ’pipa-pipa’ mereka. Akan tetapi ada juga beberapa peserta yang tidak memiliki pipa yang dapat mencapai puncak kapel. Pada saat itu, satu hal yang saya lakukan adalah berdoa agar Tuhan membantu mereka untuk dapat memperpanjang pipa-pipa mereka hingga dapat mencapai langit-langit kapel itu juga.
Saya bukanlah orang yang sering mendoakan orang lain. Tapi pada saat itu, saya terus-menerus hanya dapat mendoakan orang-orang lain, baik yang saya kenal maupun yang tidak saya kenal sekali pun. Saya mendoakan agar Tuhan menurunkan berkat-Nya secara lebih lagi kepada tiap-tiap dari mereka.
Setelah sekitar 1 jam setelah itu, saya meminta Tuhan untuk benar-benar menggendong saya yang sedang terbaring di lantai. Dengan lembut Tuhan menyelipkan tangan-tanganNya pada pinggang saya. Pinggang kiri saya mulai terangkat. Tapi kemudian tiba-tiba saya merasa bahwa saya terlalu naif untuk mengakui bahwa Tuhan memang sungguh mencintai saya. Saya meminta Tuhan menggendong saya semata-mata hanya karena saya ingin Tuhan menunjukkan kasih-Nya terhadap saya.
Setelah acara adorasi selesai, saya masih dalam keadaan membujur kaku di atas lantai. Saya sungguh takut. Saya ingin membuka mata, tapi bahkan untuk melakukan hal itu saja saya tidak mampu! Beberapa suster dan teman akhirnya mulai mendoakan saya dan berusaha menggerak-gerakkan tubuh saya. Tapi percuma, tubuh saya begitu kaku. Akhirnya, tubuh saya diangkat menggunakan tandu.
Hari Ketiga
Sampai pukul 02.00 dini hari, sikut tangan saya masih kaku. Pukul 05.00, seluruh badan saya mulai dapat digerakkan kecuali kedua telapak tangan. Pukul 11.00, sikut saya sudah membaik, tapi paha kanan saya malah tidak dapat bergerak. Pukul 15.00, seluruh kaki kanan tidak dapat bergerak.
Malam itu (3 Juli 2008), diadakan pencurahan Roh Kudus. Setelah didoakan oleh seorang suster, tiba-tiba perut saya merasa sangat amat sakit. Menjalar dari perut bagian kiri hingga ke perut bagian kanan, kemudian menuju ke bagian tulang punggung. Rasanya seperti semua badan sudah mau rontok! Ditambah lagi tiba-tiba kedua kaki saya kembali kaku.
Akhirnya, untuk kedua kalinya, kaki saya tidak dapat bergerak. Kali ini, saya benar-benar tidak bisa berjalan.
Hari Keempat
Hingga keesokan harinya, saya masih tidak dapat berjalan. Saya harus dibantu oleh orang lain untuk dapat berjalan (dibopong). Saya berlatih berjalan sejak pukul 09.00-15.00. Setelah itu, saya terus-menerus dibantu oleh orang lain untuk mengikuti sesi-sesi selanjutnya.
Malam itu, diadakan acara Perayaan Bunda Maria. Karena jaraknya cukup jauh, akhirnya saya dibawa menggunakan mobil untuk mencapai bangunan gereja.
Saya terus-menerus berdoa supaya kaki saya segera dapat kembali berjalan.
Hari Kelima
Saya bangun lebih awal dari teman-teman yang lain, untuk berlatih berjalan (sebelum doa rosario tadi malam, ada seorang ibu yang menawarkan terapi jalan dengan menggunakan embun kepada saya). Tapi, seketika itu juga, tanpa saya sadari, ternyata saya sudah dapat mengontrol kedua kaki saya lagi! Saya langsung bangkit dari tempat tidur, dan dengan langkah kaki yang masih sedikit goyah, saya langsung kembali berjalan!
Hampir semua orang tidak mempercayai akan hal itu. Enam ratus peserta ret-ret, dan saya adalah satu-satunya orang yang benar-benar merasakan betapa Tuhan Yesus memeluk saya dengan begitu erat.
Sampai saat ini, saya masih sangat jelas mengingat bagaimana bentuk lekuk tangan Tuhan. Tangan-Nya begitu kuat, besar, begitu mampu menopang segala masalah dan rintangan dalam hidup kita.
Satu hal yang menjadi acuan bagi saya adalah, bahwa Tuhan sungguh-sungguh menyediakan hal terbaik dalam hidup kita. Begitu begitu banyak kekecewaan dan kesakitan, kesedihan yang kita alami dan rasakan dalam hidup. Ketika kita berteriak, ”Di mana, Tuhan? Di mana, Tuhan?”, mungkin rasanya dalam menunggu jamahan Tuhan adalah sesuatu yang begitu lama dan melelahkan. Tapi, ketika saat itu datang, saat yang sangat kita nanti-nantikan tiba, ketika akhirnya Tuhan menjelaskan segala hal yang terjadi dalam hidup kita, percayalah pada saya, Anda tidak akan dapat melakukan apa pun kecuali mensyukuri setiap berkat Tuhan dalam hidup Anda!
Sewaktu saya terbujur kaku di hari kedua, Tuhan menunjukkan kepada saya 3 lingkaran besar yang menjadi bagian dalam hidup saya. Lingkaran pertama, Tuhan menjelaskan setiap masalah yang saya alami. Lingkaran kedua, mengenai semua kekecewaan yang ada pada hati saya. Dan lingkaran ketiga, mengenai betapa besar kerinduan saya akan kehadiran Tuhan atas saya. Dan Tuhan menjelaskan itu satu per satu! Tuhan mampu menjelaskan semua itu!
Tuhan memperlihatkan kepada saya, seluruh yang terjadi pada saya sejak saya masih dalam kandungan! Tuhan memperlihatkan bagaimana ibu saya merasa sedih karena sikap ayah saya yang kasar ketika saya masih dalam kandungan, Tuhan menunjukkan bagaimana saya dapat lahir, bagaimana saya bertumbuh, terlebih bagaimana Tuhan mencurahkan seluruh berkat dan rahmat-Nya lewat setiap masalah yang Tuhan izinkan masuk dalam hidup saya! Tuhan seperti menunjukkan, ”Gini loh, grace, kalau dalam masalah itu tidak ada berkat Tuhan yang kamu terima!”. Tuhan menunjukkan bagaimana masalah itu dapat menjadi semakin rumit dan bagaimana masalah itu menjadi seperti yang saya telah alami di mana di dalamnya selalu ada berkat Tuhan, baik sekecil apapun itu kuasa Tuhan yang kita rasakan.
Mungkin kita merasa, di mana sih yang namanya kuasa, berkat Tuhan ketika setiap masalah datang?
Ketika kita sakit panas, pekerjaan kantor kita terbengkalai, dan sebagainya, syukurilah hal-hal positif yang masih Tuhan berikan. Bagaimana jika sakit panas itu kemudian mengakibatkan hal yang lebih buruk daripada itu, kematian misalnya? Bagaimana jika terbengkalainya pekerjaan kantor itu kemudian membuat kita kehilangan segala job kita? Semua pasti ada konsekuensinya, ada hal baik dan buruknya. Tapi Tuhan ternyata masih memberikan berkat-Nya kepada kita semua. Kita masih bisa bernafas bebas selagi ada orang-orang yang untuk bernafas saja harus membeli tabung oksigen. Kita masih bisa makan kenyang, di mana di belahan bumi lain masih banyak orang-orang kelaparan.
Mungkin sempat terlintas dalam benak kalian, apa yang saya minta pada Tuhan lewat perjumpaan singkat saya tersebut. Jawabannya adalah tidak ada. Tidak ada. Mengapa? Ketika Anda dijelaskan dengan sangat mendetail oleh guru Anda mengenai perkalian dan pembagian, apakah Anda masih dapat menawar-nawar bahwa 4x4=7? Hal itulah yang terjadi pada saya. Seketika itu juga tidak ada yang dapat saya proteskan pada Tuhan selain hanya bersyukur, bahwa saya masih memiliki Allah yang begitu luar biasa!
Jangan pernah mengharapkan bahwa masa depan Anda sepenuhnya berada dalam tangan Anda. Ketika saya berdoa, ”Tuhan, saya mau apa yang saya rencanakan, bahwa saya akan mendapat beasiswa S2, bahwa saya akan kuliah di Itali, dan sebagainya terjadi!”, Tuhan malah menjawab, ”Grace, Tuhan punya hal yang jauh lebih besar, jika Grace mau mengikuti rencana Tuhan.”
Apa yang bisa kita ambil dari sini? Hiduplah saat ini juga! Jangan mematok harga mati untuk masa depan Anda! Tuhan punya tawaran yang jauh lebih menggiurkan!
Lewat tulisan ini, saya sungguh berharap, agar Anda semua, dapat terus berharap dalam menunggu pemenuhan janji-janji Tuhan dalam hidup Anda! Saya sudah menunggu 2 tahun untuk merasakan tangan kuat-Nya menggendong saya. Dan saya pun akan terus menerus menunggu Tuhan lagi untuk merasakan bagaimana Tuhan Yesus kembali memeluk saya lagi, sampai kapan pun itu!
Hidup Anda akan terus berubah. Dan Anda tidak akan pernah dapat meramalkan apa yang akan terjadi selanjutnya.
Tuhan Yesus sungguh mencintai satu per satu dari Anda, betapa pun kotornya Anda, betapa pun dosa yang pernah Anda perbuat. Tunggulah. Semua ada waktunya.
Jakarta, 7 Juli 2008 Grace Silvanna Wiradjaja. Sumber: Milis Rohani dan rumahrenungan.com
Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com
Bagi orang yang tidak percaya, cerita berikut pasti menjadi sesuatu yang tidak mungkin. Tapi satu hal yang saya imani adalah bahwa hal ini benar-benar terjadi dalam hidup saya.
Tanggal 1-6 Juli 2008 boleh jadi menjadi hari-hari yang sebenarnya tidak pernah menjadi waktu yang begitu saya nanti-nantikan sebelumnya. Bayangkan, bahkan dua hari tepat sebelum saya mengikuti retreat di Lembah Karmel ini, saya sempat bertengkar hebat dengan mama saya. Ya, bisa dibilang, kami sering sekali bertengkar. Kami berdua memiliki luka batin yang akhirnya menyebabkan kami sering berbeda pendapat dan salah paham.
Pada hari pertama, jujur saja, saya sudah tidak memiliki semangat sedikit pun untuk mengikuti retreat. Saya pikir, untuk apa, apa tujuan saya mengikuti retreat ini?
Sejak awal tahun lalu, saya benar-benar mencari seorang sosok Yesus dalam hidup saya. Dalam batin, saya ingin sekali untuk bertemu Yesus, berbicara dengan Yesus secara pribadi. Saya ingin merasakan bagaimana rasanya berada dalam pelukan Yesus.
Sekitar awal tahun 2007 lalu, saya mengikuti adorasi yang diadakan oleh Romo Yohanes Indrakusuma, O.Charm, di Hotel Mulya Jakarta. Hingga sampai adorasi itu selesai, saya seperti sama sekali tidak mendapatkan apa-apa. Saya sama sekali tidak merasakan adanya hadirat Tuhan saat itu. Kecewa, pasti. Tapi saya tidak lantas berhenti untuk terus mencari Tuhan.
Retreat sekolah pada Agustus 2007 ternyata sama saja. Tidak ada yang berubah. Saya tetap menjadi saya biasanya.
Oktober 2007, saya mengikuti acara KRK Imago Dei. Dan lagi-lagi, Tuhan sama sekali seperti tidak memberikan apapun kepada saya. Jujur saja, saat itu saya menjadi sangat kecewa terhadap Tuhan dan bersumpah untuk tidak lagi mencari Tuhan dalam hidup saya. Semalam-malaman itu saya terus menangis. Ke mana Tuhan yang selama ini saya damba-dambakan untuk membuktikan bahwa Ia sungguh ada dan hadir dalam hidup saya?
Sejak saat itu, akhirnya saya hanya berdoa biasa saja (tidak khusuk). Saya pikir, untuk apa saya berdoa dengan keras, sementara itu Tuhan tidak pernah menunjukkan bahwa diri-Nya benar-benar ada bagi saya? Toh, sepertinya Tuhan juga tidak akan membiarkan diri-Nya untuk datang kepada saya secara khusus dan berbicara layaknya ayah dan anak.
Tapi entah bagaimana, sejak bulan lalu, selalu ada suara hati saya yang meyakinkan saya bahwa saya harus mengikuti retreat ini. Saya tidak tahu bagaimana hal ini dapat terjadi, tapi ternyata sampailah saya pada acara tersebut!
Hari Pertama
Bosan, iya. Tidak punya teman, iya. Bingung, pasti!
Saya merasa retreat ini hanya akan membuang waktu saya. ”Tidak ada yang akan saya dapat dari sini”, kata saya membatin. Malam itu, diadakan sebuah misa pembukaan retreat. Pada saat itu, saya berdoa, ”Tuhan, tunjukkan bahwa Engkau sungguh ada. Buktikan bahwa retreat ini sungguh mendatangkan sesuatu untuk Grace, Tuhan. Tapi kalau sampai retreat ini selesai dan Grace tidak merasakan apapun, maaf Tuhan, tapi Grace akan meninggalkan Tuhan.”
Setelah berkata demikian, tiba-tiba dalam bayangan saya, saya melihat Tuhan Yesus menangis dan berkata, ”Grace, Tuhan sayang sama Grace tanpa syarat.” Jujur, waktu itu hati saya langsung hancur dan saya langsung menangis mendengar perkataan Tuhan yang begitu singkat tapi mendalam. Tapi saya tidak berani berkata macam-macam kepada Tuhan, saya hanya berkata, ”Baik, Tuhan. Tolong buktikan saja.”
”Iya, Grace. Tapi tolong buka hati Grace benar-benar buat Tuhan selama 6 hari ini”, jawab Tuhan lagi.
Hari itu juga, tiba-tiba saya dipilih untuk menjadi ketua kelompok retreat, dengan anggota sekitar 20 orang. Saya tidak mengerti apa rencana Tuhan. Ini adalah pertama kalinya saya mengikuti retreat penyembuhan luka batin seperti ini, dan saya masih belum mengetahui apa-apa. Tapi sesuai janji saya kepada Tuhan, saya kemudian menganggap bahwa ini adalah bagian dari rencana Tuhan.
Hari Kedua
Saya mengikuti acara adorasi. Saya benar-benar membuka diri sepenuhnya untuk Tuhan. Saya bernyanyi dengan hati, saya berdoa khusyuk. Saya benar-benar membuka hati untuk Tuhan, tanpa memikirkan apa yang akan Tuhan beri bagi saya selama 6 hari itu.
Setelah mendengar para frater dan suster berkata-kata dalam bahasa roh, dalam keadaan duduk bersila, tiba-tiba seluruh badan saya keram. Saat itu, saya benar-benar merasa yakin, bahwa Roh Kudus sungguh sedang menguasai tubuh saya. Tak lama kemudian, seorang frater mendatangi saya dengan membawa tabernakel, tempat tubuh Yesus (hosti) disimpan.
“Tuhan Yesus ingin menyapamu. Apakah kamu dapat berdiri?”, tanyanya. Tubuh saya sungguh lemah, tapi demi menjawab sapaan Tuhan Yesus, saya berusaha sekuat tenaga untuk bangkit berdiri.
“Ya, saya mau, Frater. Tapi tolong bantu saya berdiri.”
Tidak sampai 1 menit kemudian, tubuh saya langsung terhempas lagi ke belakang, terbaring dan mulai kaku pada seluruh tubuh. Frater itu pun kemudian berjalan meninggalkan saya menuju peserta lain.
“Yesus, Yesus, Yesus...”, saya terus membatin seperti itu dalam hati saya. Tapi yang keluar dari mulut saya hanyalah kata-kata, “Sess…sesss..sesss..”. Itu adalah pertama kalinya saya mendapat karunia bahasa Roh. Saya tidak dapat mengucapkan kata-kata secara ’indonesiawi’. Semua kata yang keluar seperti sudah ada translator-nya.
Dalam keadaan seperti itu, tiba-tiba lengan saya terangkat sendiri oleh tangan kuat yang kemudian menopang pinggang kiri saya juga.
”Grace, Tuhan akan menjelaskan semuanya.”
Ada suara Tuhan Yesus yang dengan sangat jelas terdengar pada telinga saya. Kemudian, Tuhan Yesus menjelaskan kepada saya mengenai segala hal yang terjadi dalam hidup saya, tentang apa maksud Tuhan untuk tidak mengangkat habis seluruh luka batin saya, tentang setiap masalah yang saya miliki, dan yang terpenting tentang mengapa baru saat ini, di saat saya tidak terlalu mengharapkan adanya pelukan Tuhan, Ia malah baru datang dan menyapa saya.
Kata Tuhan demikian, ”Grace tahu, semua sudah Tuhan atur. Ini adalah saat yang tepat bagi Tuhan untuk memeluk dan menggendong Grace.”
Seluruh tubuh saya sungguh kaku, tidak mampu bergerak. Bukan lemas, bukan lemah, tapi kaku! Tangan-tangan dan kaki kiri saya terjulur ke atas, kaki kiri saya keram hebat, dan semua jari-jari saya saling menyimpul tidak beraturan dan tidak dapat digerakkan sama sekali, meskipun dibantu dengan bantuan orang lain. Semakin saya berusaha berteriak nama Yesus, semakin tubuh saya merasa sakit dan kaku. Tapi saat itu saya sungguh merasa yakin, bahwa itu adalah kuasa Tuhan yang menghampiri saya. Saya merasakan sungguh jari-jari Yesus, pelukan Yesus. Bahkan, saya merasakan bagaimana Yesus mulai menegakkan tubuh saya sendiri! Saya melihat dengan mata saya sendiri, bagaimana itu bentuk tangan Tuhan Yesus!
Tapi anehnya, dalam pertemuan saya dengan Tuhan itu, saya sama sekali tidak dapat mengingat apa saja yang menjadi harapan duniawi saya. Sepintas, saya seperti dibawa Tuhan untuk melihat keadaan di dalam kapel tersebut. Saya melihat bahwa hampir semua orang di sana berdoa dengan khusyuk kepada Tuhan, memohon agar Tuhan menjawab doa-doa mereka.
Saya melihat, bahwa tiap-tiap dari diri mereka kemudian seperti membuat sebuah saluran (pipa) berwarna abu-abu. Pipa-pipa tersebut itu lalu membentuk piramid hingga ke puncak kapel (menuju hadirat Tuhan). Masing-masing peserta menyumbangkan ’pipa-pipa’ mereka. Akan tetapi ada juga beberapa peserta yang tidak memiliki pipa yang dapat mencapai puncak kapel. Pada saat itu, satu hal yang saya lakukan adalah berdoa agar Tuhan membantu mereka untuk dapat memperpanjang pipa-pipa mereka hingga dapat mencapai langit-langit kapel itu juga.
Saya bukanlah orang yang sering mendoakan orang lain. Tapi pada saat itu, saya terus-menerus hanya dapat mendoakan orang-orang lain, baik yang saya kenal maupun yang tidak saya kenal sekali pun. Saya mendoakan agar Tuhan menurunkan berkat-Nya secara lebih lagi kepada tiap-tiap dari mereka.
Setelah sekitar 1 jam setelah itu, saya meminta Tuhan untuk benar-benar menggendong saya yang sedang terbaring di lantai. Dengan lembut Tuhan menyelipkan tangan-tanganNya pada pinggang saya. Pinggang kiri saya mulai terangkat. Tapi kemudian tiba-tiba saya merasa bahwa saya terlalu naif untuk mengakui bahwa Tuhan memang sungguh mencintai saya. Saya meminta Tuhan menggendong saya semata-mata hanya karena saya ingin Tuhan menunjukkan kasih-Nya terhadap saya.
Setelah acara adorasi selesai, saya masih dalam keadaan membujur kaku di atas lantai. Saya sungguh takut. Saya ingin membuka mata, tapi bahkan untuk melakukan hal itu saja saya tidak mampu! Beberapa suster dan teman akhirnya mulai mendoakan saya dan berusaha menggerak-gerakkan tubuh saya. Tapi percuma, tubuh saya begitu kaku. Akhirnya, tubuh saya diangkat menggunakan tandu.
Hari Ketiga
Sampai pukul 02.00 dini hari, sikut tangan saya masih kaku. Pukul 05.00, seluruh badan saya mulai dapat digerakkan kecuali kedua telapak tangan. Pukul 11.00, sikut saya sudah membaik, tapi paha kanan saya malah tidak dapat bergerak. Pukul 15.00, seluruh kaki kanan tidak dapat bergerak.
Malam itu (3 Juli 2008), diadakan pencurahan Roh Kudus. Setelah didoakan oleh seorang suster, tiba-tiba perut saya merasa sangat amat sakit. Menjalar dari perut bagian kiri hingga ke perut bagian kanan, kemudian menuju ke bagian tulang punggung. Rasanya seperti semua badan sudah mau rontok! Ditambah lagi tiba-tiba kedua kaki saya kembali kaku.
Akhirnya, untuk kedua kalinya, kaki saya tidak dapat bergerak. Kali ini, saya benar-benar tidak bisa berjalan.
Hari Keempat
Hingga keesokan harinya, saya masih tidak dapat berjalan. Saya harus dibantu oleh orang lain untuk dapat berjalan (dibopong). Saya berlatih berjalan sejak pukul 09.00-15.00. Setelah itu, saya terus-menerus dibantu oleh orang lain untuk mengikuti sesi-sesi selanjutnya.
Malam itu, diadakan acara Perayaan Bunda Maria. Karena jaraknya cukup jauh, akhirnya saya dibawa menggunakan mobil untuk mencapai bangunan gereja.
Saya terus-menerus berdoa supaya kaki saya segera dapat kembali berjalan.
Hari Kelima
Saya bangun lebih awal dari teman-teman yang lain, untuk berlatih berjalan (sebelum doa rosario tadi malam, ada seorang ibu yang menawarkan terapi jalan dengan menggunakan embun kepada saya). Tapi, seketika itu juga, tanpa saya sadari, ternyata saya sudah dapat mengontrol kedua kaki saya lagi! Saya langsung bangkit dari tempat tidur, dan dengan langkah kaki yang masih sedikit goyah, saya langsung kembali berjalan!
Hampir semua orang tidak mempercayai akan hal itu. Enam ratus peserta ret-ret, dan saya adalah satu-satunya orang yang benar-benar merasakan betapa Tuhan Yesus memeluk saya dengan begitu erat.
Sampai saat ini, saya masih sangat jelas mengingat bagaimana bentuk lekuk tangan Tuhan. Tangan-Nya begitu kuat, besar, begitu mampu menopang segala masalah dan rintangan dalam hidup kita.
Satu hal yang menjadi acuan bagi saya adalah, bahwa Tuhan sungguh-sungguh menyediakan hal terbaik dalam hidup kita. Begitu begitu banyak kekecewaan dan kesakitan, kesedihan yang kita alami dan rasakan dalam hidup. Ketika kita berteriak, ”Di mana, Tuhan? Di mana, Tuhan?”, mungkin rasanya dalam menunggu jamahan Tuhan adalah sesuatu yang begitu lama dan melelahkan. Tapi, ketika saat itu datang, saat yang sangat kita nanti-nantikan tiba, ketika akhirnya Tuhan menjelaskan segala hal yang terjadi dalam hidup kita, percayalah pada saya, Anda tidak akan dapat melakukan apa pun kecuali mensyukuri setiap berkat Tuhan dalam hidup Anda!
Sewaktu saya terbujur kaku di hari kedua, Tuhan menunjukkan kepada saya 3 lingkaran besar yang menjadi bagian dalam hidup saya. Lingkaran pertama, Tuhan menjelaskan setiap masalah yang saya alami. Lingkaran kedua, mengenai semua kekecewaan yang ada pada hati saya. Dan lingkaran ketiga, mengenai betapa besar kerinduan saya akan kehadiran Tuhan atas saya. Dan Tuhan menjelaskan itu satu per satu! Tuhan mampu menjelaskan semua itu!
Tuhan memperlihatkan kepada saya, seluruh yang terjadi pada saya sejak saya masih dalam kandungan! Tuhan memperlihatkan bagaimana ibu saya merasa sedih karena sikap ayah saya yang kasar ketika saya masih dalam kandungan, Tuhan menunjukkan bagaimana saya dapat lahir, bagaimana saya bertumbuh, terlebih bagaimana Tuhan mencurahkan seluruh berkat dan rahmat-Nya lewat setiap masalah yang Tuhan izinkan masuk dalam hidup saya! Tuhan seperti menunjukkan, ”Gini loh, grace, kalau dalam masalah itu tidak ada berkat Tuhan yang kamu terima!”. Tuhan menunjukkan bagaimana masalah itu dapat menjadi semakin rumit dan bagaimana masalah itu menjadi seperti yang saya telah alami di mana di dalamnya selalu ada berkat Tuhan, baik sekecil apapun itu kuasa Tuhan yang kita rasakan.
Mungkin kita merasa, di mana sih yang namanya kuasa, berkat Tuhan ketika setiap masalah datang?
Ketika kita sakit panas, pekerjaan kantor kita terbengkalai, dan sebagainya, syukurilah hal-hal positif yang masih Tuhan berikan. Bagaimana jika sakit panas itu kemudian mengakibatkan hal yang lebih buruk daripada itu, kematian misalnya? Bagaimana jika terbengkalainya pekerjaan kantor itu kemudian membuat kita kehilangan segala job kita? Semua pasti ada konsekuensinya, ada hal baik dan buruknya. Tapi Tuhan ternyata masih memberikan berkat-Nya kepada kita semua. Kita masih bisa bernafas bebas selagi ada orang-orang yang untuk bernafas saja harus membeli tabung oksigen. Kita masih bisa makan kenyang, di mana di belahan bumi lain masih banyak orang-orang kelaparan.
Mungkin sempat terlintas dalam benak kalian, apa yang saya minta pada Tuhan lewat perjumpaan singkat saya tersebut. Jawabannya adalah tidak ada. Tidak ada. Mengapa? Ketika Anda dijelaskan dengan sangat mendetail oleh guru Anda mengenai perkalian dan pembagian, apakah Anda masih dapat menawar-nawar bahwa 4x4=7? Hal itulah yang terjadi pada saya. Seketika itu juga tidak ada yang dapat saya proteskan pada Tuhan selain hanya bersyukur, bahwa saya masih memiliki Allah yang begitu luar biasa!
Jangan pernah mengharapkan bahwa masa depan Anda sepenuhnya berada dalam tangan Anda. Ketika saya berdoa, ”Tuhan, saya mau apa yang saya rencanakan, bahwa saya akan mendapat beasiswa S2, bahwa saya akan kuliah di Itali, dan sebagainya terjadi!”, Tuhan malah menjawab, ”Grace, Tuhan punya hal yang jauh lebih besar, jika Grace mau mengikuti rencana Tuhan.”
Apa yang bisa kita ambil dari sini? Hiduplah saat ini juga! Jangan mematok harga mati untuk masa depan Anda! Tuhan punya tawaran yang jauh lebih menggiurkan!
Lewat tulisan ini, saya sungguh berharap, agar Anda semua, dapat terus berharap dalam menunggu pemenuhan janji-janji Tuhan dalam hidup Anda! Saya sudah menunggu 2 tahun untuk merasakan tangan kuat-Nya menggendong saya. Dan saya pun akan terus menerus menunggu Tuhan lagi untuk merasakan bagaimana Tuhan Yesus kembali memeluk saya lagi, sampai kapan pun itu!
Hidup Anda akan terus berubah. Dan Anda tidak akan pernah dapat meramalkan apa yang akan terjadi selanjutnya.
Tuhan Yesus sungguh mencintai satu per satu dari Anda, betapa pun kotornya Anda, betapa pun dosa yang pernah Anda perbuat. Tunggulah. Semua ada waktunya.
Jakarta, 7 Juli 2008 Grace Silvanna Wiradjaja. Sumber: Milis Rohani dan rumahrenungan.com
Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com
Personal Notes
Teman saya, Bapak Paul Santoso Lee dari Sydney ingin membagikan CD/DVD kesaksian kristiani secara gratis. Beliau telah mengirim puluhan ribu CD/DVD agar menjadi berkat bagi banyak orang. Apabila anda berminat, mohon hubungi: facetofacewithlord@gmail.com
Anda juga akan dikirim via email kesaksian-kesaksian kristiani, diantaranya: More Than Dreams, To Hell And Back, Neraka itu Memang Ada, Sekelumit Tentang Sebuah Kekekalan, 23 Menit Di Neraka, Neraka Itu Nyata, dan masih banyak lagi.
Ditulis oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com
Anda juga akan dikirim via email kesaksian-kesaksian kristiani, diantaranya: More Than Dreams, To Hell And Back, Neraka itu Memang Ada, Sekelumit Tentang Sebuah Kekekalan, 23 Menit Di Neraka, Neraka Itu Nyata, dan masih banyak lagi.
Ditulis oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com
Ten Year Younger
Tadi pagi saya mendengar kesaksian dari almarhum Derek Prince. Dia pernah mendoakan seorang ibu yang pernah terkena stroke. Ada bagian-bagian tubuhnya yang tidak berfungsi normal sebagai akibatnya. Salah satu diantaranya adalah wanita ini sudah tidak bisa tersenyum lagi. Wajahnya nampak 10 tahun lebih tua dari usianya.
Bersama beberapa orang teman wanita itu, Derek Prince mendoakan agar Tuhan memulihkan dengan sempurna tubuh wanita ini, setelah wanita ini bersedia menerima Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat pribadinya. Ternyata keselamaatan datang bukan hanya untuk roh dan jiwanya saja, tubuhnya juga dipulihkan. Dalam waktu 10 menit, wanita ini pulih dan sembuh dari akibat serangan strokenya.
"Kamu ini sekarang lebih muda 10 tahun lho!" temannya berkata melihat perubahan itu.
"Really?"
"Ya, lihat kamu sudah bisa tersenyum lagi!"
Within 10 minutes the woman was completely whole. Dalam waktu 10 menit usianya menjadi lebih muda 10 tahun! Itulah kebaikan Tuhan! O, taste and see that the LORD is good! Tuhan mengembalikan apa yang dicuri iblis dari wanita itu selama 10 tahun dalam waktu 10 menit.
***
Telah Terbit!!!
Buku "Manusia Terkini"
Penulis: Leonardo A. Sjiamsuri
Penyunting: Hadi Kristadi
Penerbit: Nafiri Gabriel
Edisi: Mei 2008
Isi: 134 halaman, ukuran 14 x 21 cm
Harga: Rp. 28.000,- / eksemplar (sesuai harga eceran di Toko Buku) ditambah ongkos kirim.
Untuk pemesanan buku ini, hubungi via SMS 08129716102 (Hadi Kristadi), dengan menyebutkan nama dan alamat lengkap, disertai RT & RW dan KODE POS. Pembayaran dengan transfer ke BCA a/n HADI a/c 4980036931. Ongkos kirim akan ditentukan setelah ada konfirmasi jumlah buku yang dipesan. Buku akan dikirim setelah ada transfer dana.
Buku "MANUSIA TERKINI" mengupas dengan gamblang bagaimana orang Kristen dapat menjadi manusia yang senantiasa selaras dengan gerakan Allah terkini. Buku ini bukan hanya membahas tentang pengetahuan terbaru. Penulis membagikan rahasia bagaimana mengalami perububahan yang hakiki di dalam hubungan kita dengan Tuhan, baik di dalam kehidupan pribadi maupun di dalam pelayanan kita.
Buku ini memberikan penjelasan yang lengkap untuk membangun kehidupan seseorang yang senantiasa berkenan di hadapan Allah. Selain Anda dapat mengetahui karakteristik manusia masa lalu dan manusia terkini, buku ini juga MENYINGKAPKAN PEWAHYUAN TENTANG RAHASIA TULISAN YESUS DENGAN JARI-NYA DI ATAS TANAH KETIKA BERHADAPAN DENGAN ORANG-ORANG FARISI YANG AKAN MERAJAM PEREMPUAN YANG KEDAPATAN BERBUAT ZINA, SEBAGAI PERINGATAN BAGI MANUSIA MASA LALU.
Membaca buku ini akan membebaskan anda dari jebakan manusia masa lalu yang sering tidak disadari banyak orang. Buku ini wajib dibaca oleh setiap orang percaya yang tidak ingin menyesal di kemudian hari!
TENTANG LEONARDO A. SJIAMSURI:
Adalah pendiri dan pemimpin SMART Center dan penerbit buku rohani, Nafiri Gabriel. Di era 1979 - 1980 ia menjadi seorang pelopor dalam kegerakan Tuhan di kalangan mahasiswa. Sejak itu ia menekuni pelayanan di bidang pengajaran dan pelatihan di dalam dimensi profetik. Banyak buku pengajaran praktis telah ditulisnya, dan sampai sekarang ia menjadi pembicara di berbagai seminar dan lokakarya di dalam dan di luar negeri. Ia merindukan terbangunnya gereja-gereja rasuli yang kuat. Sebagai mantan bankir dengan posisi terakhir sebagai Direktur Pemasaran, ia rindu membangun komunitas pengusaha kerajaan yang mentransformasi
Ditulis oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com
Bersama beberapa orang teman wanita itu, Derek Prince mendoakan agar Tuhan memulihkan dengan sempurna tubuh wanita ini, setelah wanita ini bersedia menerima Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat pribadinya. Ternyata keselamaatan datang bukan hanya untuk roh dan jiwanya saja, tubuhnya juga dipulihkan. Dalam waktu 10 menit, wanita ini pulih dan sembuh dari akibat serangan strokenya.
"Kamu ini sekarang lebih muda 10 tahun lho!" temannya berkata melihat perubahan itu.
"Really?"
"Ya, lihat kamu sudah bisa tersenyum lagi!"
Within 10 minutes the woman was completely whole. Dalam waktu 10 menit usianya menjadi lebih muda 10 tahun! Itulah kebaikan Tuhan! O, taste and see that the LORD is good! Tuhan mengembalikan apa yang dicuri iblis dari wanita itu selama 10 tahun dalam waktu 10 menit.
***
Telah Terbit!!!
Buku "Manusia Terkini"
Penulis: Leonardo A. Sjiamsuri
Penyunting: Hadi Kristadi
Penerbit: Nafiri Gabriel
Edisi: Mei 2008
Isi: 134 halaman, ukuran 14 x 21 cm
Harga: Rp. 28.000,- / eksemplar (sesuai harga eceran di Toko Buku) ditambah ongkos kirim.
Untuk pemesanan buku ini, hubungi via SMS 08129716102 (Hadi Kristadi), dengan menyebutkan nama dan alamat lengkap, disertai RT & RW dan KODE POS. Pembayaran dengan transfer ke BCA a/n HADI a/c 4980036931. Ongkos kirim akan ditentukan setelah ada konfirmasi jumlah buku yang dipesan. Buku akan dikirim setelah ada transfer dana.
Buku "MANUSIA TERKINI" mengupas dengan gamblang bagaimana orang Kristen dapat menjadi manusia yang senantiasa selaras dengan gerakan Allah terkini. Buku ini bukan hanya membahas tentang pengetahuan terbaru. Penulis membagikan rahasia bagaimana mengalami perububahan yang hakiki di dalam hubungan kita dengan Tuhan, baik di dalam kehidupan pribadi maupun di dalam pelayanan kita.
Buku ini memberikan penjelasan yang lengkap untuk membangun kehidupan seseorang yang senantiasa berkenan di hadapan Allah. Selain Anda dapat mengetahui karakteristik manusia masa lalu dan manusia terkini, buku ini juga MENYINGKAPKAN PEWAHYUAN TENTANG RAHASIA TULISAN YESUS DENGAN JARI-NYA DI ATAS TANAH KETIKA BERHADAPAN DENGAN ORANG-ORANG FARISI YANG AKAN MERAJAM PEREMPUAN YANG KEDAPATAN BERBUAT ZINA, SEBAGAI PERINGATAN BAGI MANUSIA MASA LALU.
Membaca buku ini akan membebaskan anda dari jebakan manusia masa lalu yang sering tidak disadari banyak orang. Buku ini wajib dibaca oleh setiap orang percaya yang tidak ingin menyesal di kemudian hari!
TENTANG LEONARDO A. SJIAMSURI:
Adalah pendiri dan pemimpin SMART Center dan penerbit buku rohani, Nafiri Gabriel. Di era 1979 - 1980 ia menjadi seorang pelopor dalam kegerakan Tuhan di kalangan mahasiswa. Sejak itu ia menekuni pelayanan di bidang pengajaran dan pelatihan di dalam dimensi profetik. Banyak buku pengajaran praktis telah ditulisnya, dan sampai sekarang ia menjadi pembicara di berbagai seminar dan lokakarya di dalam dan di luar negeri. Ia merindukan terbangunnya gereja-gereja rasuli yang kuat. Sebagai mantan bankir dengan posisi terakhir sebagai Direktur Pemasaran, ia rindu membangun komunitas pengusaha kerajaan yang mentransformasi
Ditulis oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com
Cataplexy
London - Semua pasti iba melihat wanita muda ini. Dia akan terjatuh tiap kali merasa lelah, marah, takut, terkejut, tertawa bahkan malu.
Kondisi itu dialami Kay Underwood, seorang wanita Inggris. Wanita berusia 20 tahun itu mengidap penyakit yang disebut cataplexy. Kondisi medis yang langka itu menyebabkan hampir semua jenis emosi kuat akan memicu pelemahan dramatis otot-ototnya.
Akibatnya, Kay bisa mendadak ambruk di lokasi. Demikian seperti diberitakan harian Inggris, Daily Telegraph, Selasa (5/8/2008).
Para penderita penyakit ini kerap menjadi lumpuh selama beberapa menit. Kay yang tinggal di Kota Leicestershire, didiagnosa menderita penyakit itu lima tahun silam. Sekali waktu dia pernah jatuh lebih dari 40 kali dalam sehari.
"Orang-orang menganggap ini sangat aneh ketika terjadi. Dan tidak selalu mudah menghadapi reaksi orang-orang," kata Kay.
"Pernah ketika saya jatuh di tangga, seorang wanita berjalan buru-buru dan menabrak kepala saya. Dia bilang saya harusnya jatuh di tempat yang lebih nyaman," cerita Kay.
"Tapi saya telah belajar untuk menerimanya. Saya bisa tahu kapan akan terjadi dan sudah belajar untuk jatuh dalam posisi yang nyaman atau menemukan sesuatu untuk bersandar," papar wanita itu.
Seperti halnya penderita cataplexy, Kay juga mengidap penyakit narcolepsy, kondisi yang membuatnya bisa tiba-tiba tertidur pulas. Narcolepsy dialami sekitar 30 ribu orang di Inggris dan 70 persen dari mereka juga mengidap cataplexy.
Dr Andrew Hall mengatakan, saat ini belum diketahui penyebab pasti kedua kondisi itu. Hall adalah spesialis yang menangani sekitar 200 penderita narcolepsy di Inggris.
Biarlah kita selalu mensyukuri kesehatan tubuh kita. Masuklah melalui pintu gerbang-Nya dengan nyanyian syukur, ke dalam pelataran-Nya dengan puji-pujian, bersyukurlah kepada-Nya dan pujilah nama-Nya! Sebab TUHAN itu baik, kasih setia-Nya untuk selama-lamanya, dan kesetiaan-Nya tetap turun-temurun. (Mazmur 100:4-5)Sumber: detik.com (ita/iy)
Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com
Kondisi itu dialami Kay Underwood, seorang wanita Inggris. Wanita berusia 20 tahun itu mengidap penyakit yang disebut cataplexy. Kondisi medis yang langka itu menyebabkan hampir semua jenis emosi kuat akan memicu pelemahan dramatis otot-ototnya.
Akibatnya, Kay bisa mendadak ambruk di lokasi. Demikian seperti diberitakan harian Inggris, Daily Telegraph, Selasa (5/8/2008).
Para penderita penyakit ini kerap menjadi lumpuh selama beberapa menit. Kay yang tinggal di Kota Leicestershire, didiagnosa menderita penyakit itu lima tahun silam. Sekali waktu dia pernah jatuh lebih dari 40 kali dalam sehari.
"Orang-orang menganggap ini sangat aneh ketika terjadi. Dan tidak selalu mudah menghadapi reaksi orang-orang," kata Kay.
"Pernah ketika saya jatuh di tangga, seorang wanita berjalan buru-buru dan menabrak kepala saya. Dia bilang saya harusnya jatuh di tempat yang lebih nyaman," cerita Kay.
"Tapi saya telah belajar untuk menerimanya. Saya bisa tahu kapan akan terjadi dan sudah belajar untuk jatuh dalam posisi yang nyaman atau menemukan sesuatu untuk bersandar," papar wanita itu.
Seperti halnya penderita cataplexy, Kay juga mengidap penyakit narcolepsy, kondisi yang membuatnya bisa tiba-tiba tertidur pulas. Narcolepsy dialami sekitar 30 ribu orang di Inggris dan 70 persen dari mereka juga mengidap cataplexy.
Dr Andrew Hall mengatakan, saat ini belum diketahui penyebab pasti kedua kondisi itu. Hall adalah spesialis yang menangani sekitar 200 penderita narcolepsy di Inggris.
Biarlah kita selalu mensyukuri kesehatan tubuh kita. Masuklah melalui pintu gerbang-Nya dengan nyanyian syukur, ke dalam pelataran-Nya dengan puji-pujian, bersyukurlah kepada-Nya dan pujilah nama-Nya! Sebab TUHAN itu baik, kasih setia-Nya untuk selama-lamanya, dan kesetiaan-Nya tetap turun-temurun. (Mazmur 100:4-5)Sumber: detik.com (ita/iy)
Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com
Subscribe to:
Posts (Atom)
Kesaksian Pembaca Buku "Mukjizat Kehidupan"
Pada tanggal 28 Oktober 2009 datang SMS dari seorang Ibu di NTT, bunyinya:
"Terpujilah Tuhan karena buku "Mukjizat Kehidupan", saya belajar untuk bisa mengampuni, sabar, dan punya waktu di hadirat Tuhan, dan akhirnya Rumah Tangga saya dipulihkan, suami saya sudah mau berdoa. Buku ini telah jadi berkat buat teman-teman di Pasir Panjang, Kupang, NTT. Kami belajar mengasihi, mengampuni, dan selalu punya waktu berdoa."
Hall of Fame - Daftar Pembaca Yang Diberkati Buku Mukjizat Kehidupan
- A. Rudy Hartono Kurniawan - Juara All England 8 x dan Asian Hero
- B. Pdt. DR. Ir. Niko Njotorahardjo
- C. Pdt. Ir. Djohan Handojo
- D. Jeffry S. Tjandra - Worshipper
- E. Pdt. Petrus Agung - Semarang
- F. Bpk. Irsan
- G. Ir. Ciputra - Jakarta
- H. Pdt. Dr. Danny Tumiwa SH
- I. Erich Unarto S.E - Pendiri dan Pemimpin "Manna Sorgawi"
- J. Beni Prananto - Pengusaha
- K. Aryanto Agus Mulyo - Partner Kantor Akuntan
- L. Ir. Handaka Santosa - CEO Senayan City
- M. Pdt. Drs. Budi Sastradiputra - Jakarta
- N. Pdm. Lim Lim - Jakarta
- O. Lisa Honoris - Kawai Music Shool Jakarta
- P. Ny. Rachel Sudarmanto - Jakarta
- Q. Ps. Levi Supit - Jakarta
- R. Pdt. Samuel Gunawan - Jakarta
- S. F.A Djaya - Tamara Jaya - By Pass Ngurah Rai - Jimbaran - Bali
- T. Ps. Kong - City Blessing Church - Jakarta
- U. dr. Yoyong Kohar - Jakarta
- V. Haryanto - Gereja Katholik - Jakarta
- W. Fanny Irwanto - Jakarta
- X. dr. Sylvia/Yan Cen - Jakarta
- Y. Ir. Junna - Jakarta
- Z. Yudi - Raffles Hill - Cibubur
- ZA. Budi Setiawan - GBI PRJ - Jakarta
- ZB. Christine - Intercon - Jakarta
- ZC. Budi Setiawan - CWS Kelapa Gading - Jakarta
- ZD. Oshin - Menara BTN - Jakarta
- ZE. Johan Sunarto - Tanah Pasir - Jakarta
- ZF. Waney - Jl. Kesehatan - Jakarta
- ZG. Lukas Kacaribu - Jakarta
- ZH. Oma Lydia Abraham - Jakarta
- ZI. Elida Malik - Kuningan Timur - Jakarta
- ZJ. Luci - Sunter Paradise - Jakarta
- ZK. Irene - Arlin Indah - Jakarta Timur
- ZL. Ny. Hendri Suswardani - Depok
- ZM. Marthin Tertius - Bank Artha Graha - Manado
- ZN. Titin - PT. Tripolyta - Jakarta
- ZO. Wiwiek - Menteng - Jakarta
- ZP. Agatha - PT. STUD - Menara Batavia - Jakarta
- ZR. Albertus - Gunung Sahari - Jakarta
- ZS. Febryanti - Metro Permata - Jakarta
- ZT. Susy - Metro Permata - Jakarta
- ZU. Justanti - USAID - Makassar
- ZV. Welian - Tangerang
- ZW. Dwiyono - Karawaci
- ZX. Essa Pujowati - Jakarta
- ZY. Nelly - Pejaten Timur - Jakarta
- ZZ. C. Nugraheni - Gramedia - Jakarta
- ZZA. Myke - Wisma Presisi - Jakarta
- ZZB. Wesley - Simpang Darmo Permai - Surabaya
- ZZC. Ray Monoarfa - Kemang - Jakarta
- ZZD. Pdt. Sunaryo Djaya - Bethany - Jakarta
- ZZE. Max Boham - Sidoarjo - Jatim
- ZZF. Julia Bing - Semarang
- ZZG. Rika - Tanjung Karang
- ZZH. Yusak Prasetyo - Batam
- ZZI. Evi Anggraini - Jakarta
- ZZJ. Kodden Manik - Cilegon
- ZZZZ. ISI NAMA ANDA PADA KOLOM KOMENTAR UNTUK DIMASUKKAN DALAM DAFTAR INI