Search This Blog

Loading...

Wednesday, April 30, 2008

The Love Affair of A Musician

Bertobat Setelah 29 Tahun Selingkuh
Ayahanda artis terkenal, Tessa Kaunang, ini blak-blakan mengakui bahwa dirinya pernah berselingkuh. Sebagai kepala rumah tangga yang kebetulan juga seorang artis ngetop sebagai salah seorang personil band God Bless, Arthur Kaunang mengaku telah meninggalkan tugas dan panggilannya.

Hidup dalam dunia glamour telah menjadi kebiasaannya sebagai musisi yang pada era tahun 80-an berada di atas angin. Arthur mengaku, kebiasaan tersebut sudah menjadi gaya hidupnya jauh sebelum ia meminang Julie Astuty, isteri yang tetap setia, meskipun telah disia-siakan selama bertahun-tahun.

“Saya akui sejak muda hidup saya memang sudah hancur-hancuran. Hidup saya hanya untuk bersenang-senang. Pindah dari satu wanita ke wanita lain sudah biasa. Bahkan pada saat saya menikah sekalipun. Saya tidak peduli anak dan isteri, karena yang saya kejar hanyalah kesenangan pribadi. Saya sadar saya telah gagal menjadi ayah. Tetapi dosa telah membutakan mata rohani saya, sehingga dengan mudah saya meninggalkan tugas dan tanggung jawab. Dari tahun ke tahun hidup saya semakin hancur.” demikian kenang musisi yang turut andil mengorbitkan Anggun C. Sasmi, yang kini telah ’go international’ ini.

”Saya menjadi orang yang sangat egois, kejam dan tidak punya perasaan. Saya telah dibutakan oleh kenikmatan dosa.” tandasnya.

Pengakuan Arthur diaminkan oleh Julie, isterinya yang mendampingi pada acara launching albumnya. Julie menuturkan betapa pahitnya hidup diduakan. Banyak yang menyarankannya untuk bercerai, namun ia menolak.

Katanya, ia yakin bahwa pada suatu hari kelak suaminya akan bertobat, sehingga meskipun Arthur sudah menelantarkan dirinya dan ketiga anaknya, Julie tetap memberi kesempatan dan pintu maafnya selalu terbuka lebar.

Berkali-kali Arthur pulang dan minta ampun. Berkali-kali juga ia mengampuni perbuatan suaminya. Lain halnya dengan ketiga anaknya. Karena kecewa dengan perbuatan sang papa, merekapun pernah menolak kepulangan Arthur ke rumah.

Syukurlah, Julie adalah seorang ibu bijak yang selalu memberi pengertian yang baik kepada anak-anak tentang papa mereka. Meskipun beberapa kali ia harus menelan sendiri pil pahit yang diberikan suaminya. Yang terpahit adalah ketika ia menerima telpon dari seorang wanita yang mengaku sebagai kekasih suaminya.

”Bayangkan, wanita mana yang bisa tahan dengan telpon tersebut? Telpon seperti itu bukan hanya sekali dua kali saja, tetapi sering. Sudah 29 tahun suami saya berselingkuh. Puji Tuhan, Tuhan Yesuslah yang telah memberi kekuatan kepada saya. Setiap ada telpon mencari suami saya, dengan hati yang lapang saya menerima telpon tersebut. Dan sedikitpun saya tidak mempermasalahkan siapapun, baik Arthur maupun wanita yang menjadi teman selingkuhannya itu.” tutur Julie.

Julie sadar hal tersebut sudah menjadi risikonya sebagai isteri seorang artis ngetop. Apalagi sejak mudanya dulu, sebelum menikah, Arthur memang digandrungi banyak perempuan. Bahkan menurut Julie, karena latar belakang Arthur itulah pernikahannya ditentang oleh kedua orangtua dan sahabatnya.

”Selain artis, Arthur juga tidak seagama dengan saya. Namun karena cinta, saya menerima pinangannya. Itu berarti saya harus mempertanggung-jawabkan keputusan tersebut. Lantaran itulah saya tidak mau menceritakan keburukan suami saya kepada keluarga saya. Saya tahu, mereka pasti akan mengecam Arthur dan menyarankan berpisah. Jadi, yang dapat saya lakukan adalah menangis sendiri di kaki Yesus. Di saat itulah saya menumpahkan jeritan hati ini.” jelas Julie yang merasa bahagia jika sekarang ini Tuhan sudah menjawab doa-doanya.

Arthur menambahkan, sejak ia bergumul dengan segala dosa-dosanya, Tuhan sudah menegurnya beberapa kali. Sayangnya, teguran itu selalu diabaikan. Pada suatu hari ia mengalami masalah yang cukup serius. Anaknya yang kedua – Genesy terlibat dengan narkoba dan harus masuk penjara.

”Tuhan menegur saya dengan keras. Saat itu saya baru merasakan betapa pedihnya melihat anak saya tersiksa karena obat terlarang dan harus dipenjara. Perasaan saya sudah tidak karu-karuan, apalagi isteri saya. Dialah orang yang paling menderita. Namun, puji Tuhan, justru dia sangat tabah sekali.” tutur pria kelahiran Surabaya, 9 Juli 1951 ini. Setelah anaknya lepas dari bui, Arthur dan isteri sepakat untuk memasukkannya ke tempat rehabilitasi. Bagi Arthur dan Julie, hal itu sudah kesekian kalinya mereka coba. Namun hasilnya tetap saja, Genesy kembali lagi pada ketergantungannya pada narkoba setelah keluar dari tempat rehab.

Meski demikian, Arthur dan Julie tetap mencoba memasukkan putranya ke Rumah Damai, tempat rehabilitasi yang berada di Semarang. Di tempat itulah Genesy dipulihkan.

Bukan hanya putranya, tetapi Arthur juga telah dituntun ke jalan pertobatan. Ia mengakui segala dosa-dosanya dan minta pengampunan dari Tuhan Yesus, serta dari isteri yang puluhan tahun dikhianati.

”Dulu hidup saya selalu dikejar-kejar ketakutan dan tidak ada damai. Sekarang saya merasa tenang dan damai, tinggal bersama dengan keluarga. Keluarga adalah pelabuhan terakhir buat saya. Apalagi Tuhan Yesus sebagai kepala rumah tangga kami.” jelas Arthur yang mengajak kedua puteranya (Genesy dan Meco) dalam merilis album rohani. Album tersebut lahir sebagai ungkapan syukur Arthur atas kemurahan Tuhan dalam keluarganya.

Ya, dengan tiang awan dan tiang api, biduk rumah tangganya yang nyaris hancur ketika melewati padang gurun, kini telah diselamatkan Tuhan.

”Hari ini ada itu semua karena kemurahan Tuhan,” tandasnya. (Sumber: Tabloid Keluarga edisi 22/2008)

Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Friday, April 25, 2008

Deep Worship

Anak saya diminta mengiringi 'deep worship' seorang gembala beserta isterinya, dengan memainkan keyboard. Penyembahan itu diberi judul: "Worship The King" dan direkam dalam sebuah CD yang dibagikan gratis.

Beberapa orang yang telah mendengarkan CD itu ada yang mengalami kesembuhan ilahi, ada yang melihat sorga, sehingga seorang keluarga pengusaha hotel meminta izin agar CD itu dapat diputar di hotelnya. Juga ada permintaan dari sebuah hotel di bilangan Thamrin yang meminta izin agar CD itu diputar di lobby hotelnya.

Dari antara orang-orang yang telah diberkati CD itu, ada seorang pengusaha yang memberi hadiah sebuah mobil baru, Toyota Rush, kepada gembala itu.

Ditulis oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Thursday, April 24, 2008

The Prophetic Message From Chuck Pierce

Pada bulan April ini menurut penanggalan Ibrani kita sedang memasuki bulan Nisan, bulan pertama dalam kalender Ibrani. Suku Ibrani yang dipilih Tuhan untuk menjadi yang pertama adalah Yehuda. Yehuda artinya memuji. Kata ’memuji’ berasal dari ’nilai/value’ dan ’harga/price’. Oleh karena itu dalam bulan ini pujian atau memuji harus mendominasi kehidupan kita. Kalender Ibrani memiliki waktu-waktu tertentu ketika berkat-berkat tertentu diperkatakan ke permukaan bumi.

Setiap bulan dirancang Tuhan untuk melepaskan suatu berkat ke dalam kehidupan kita. Ia ingin sekali agar kita bergerak dari berkat pada berkat sepanjang tahun ini. Selama bulan pertama ini ada beberapa hal yang harus kita kerjakan terlebih dahulu. Tuhan berfirman kepada Musa dan Harun dan berkata, ”Bulan inilah akan menjadi permulaan segala bulan bagimu; itu akan menjadi bulan pertama bagimu tiap-tiap tahun.” (Keluaran 12:2) Bulan ini menandai permulaan gerakan orang-orang Ibrani keluar dari Mesir dan masuk ke dalam perjanjian-Nya. Meskipun gereja telah bergerak merayakan konsep Paskah gaya Babel, kita masih memperingati penebusan darah dengan mengakui kebangkitan Tuhan Yesus Kristus.

Pada bulan ini kita harus menyadari bahwa musim ini bukanlah saatnya bagi tubuh Kristus untuk berdiam diri. Pada bulan seperti ini bangsa Israel melakukan apa yang disebut ’pujian gila-gilaan’ atau ’violent praise’. Ada banyak contoh orang-orang Israel melakukan pujian gila-gilaan. Musa dan Miryam keduanya bernyanyi dan berdansa ketika mereka keluar dari Mesir. Miryam pada waktu itu sudah berusia 90 tahun ketika dia memimpin umat Tuhan berdansa di hadirat Tuhan. Orang-orang Israel juga mengekspresikan pujian gila-gilaan di depan tembok Yeriko. Gideon melakukan pujian gila-gilaan di hadapan orang-orang Midian. Paulus dan Silas juga melakukan pujian gila-gilaan sehabis mereka dianiaya yang melepaskan mereka keluar dari penjara. Apa yang harus dikatakan selama pujian gila-gilaan? Jangan khawatir apa yang harus dikatakan, hanya biarkan hati anda meresponi Allah bahwa Dia layak dipuji dan disembah! Mazmur 81:11, ”Akulah TUHAN, Allahmu, yang menuntun engkau keluar dari tanah Mesir: bukalah mulutmu lebar-lebar, maka Aku akan membuatnya penuh.”
Pemulihan Pondok Daud berlangsung di bumi pada generasi ini. Anda harus membaca Amos 9 dan juga Kisah Para Rasul 15, dan kemudian kitab Wahyu. Yang satu menyatakan secara profetik, yang kedua menyatakan sejarahnya, yang ketiga menyatakan peperangan yang sekarang terjadi di alam sorgawi. Apabila anda membaca dengan teliti, anda akan melihat bagaimana kita sebagai balatentara Allah di bumi akan bekerjasama dengan Pencipta Langit dan Bumi untuk melimpahkan kuasa Roh Kudus yang melanda semua bangsa-bangsa di bumi. Hal ini akan membuka penuaian global. Pujian gila-gilaan yang kita lakukan sedang menyiapkan lumbung-lumbung bagi penuaian di dalam Kerajaan-Nya.

Bulan Nisan adalah bulan melewati atau passover. Inilah waktunya kita menyeberang ke dalam bagian warisan yang telah dijanjikan bagi kita. Bacalah Yosua 3:14-17. Saya percaya kita sedang bergerak dalam waktu-Nya Allah yang sempurna. Timing itu begitu penting. Sebab di dalam Dia kita hidup, kita bergerak, kita ada (KPR 17:28). Saya berdoa agar anda ada di dalam waktu-Nya Allah yang sempurna.

****

We have now entered the month of Nisan, the first of months. The tribe that the Lord chose to be first was Judah. Judah means praise. The word praise originates from value and price. So in this month, praise should be preeminent. The Hebraic calendar has certain times when certain blessings can be spoken into the earth.
Each month is designed by the Lord to release a blessing into our life. His desire is for us to move from blessing to blessing all year. In this first of months there are certain things which must be done first. The Lord spoke to Moses and Aaron and said "This month shall be your beginning of months; it shall be the first month of the year to you" (Ex. 12:2 NKJV). This month marks the beginning of the Hebrews' movement out of Egypt and into His covenant. Even as the church became secularized and moved in the Babylonian concept of Easter, we still operate in the observance of deliverance by the Blood by recognizing the Resurrection.

This is Not a Season for the Body of Christ to be Passive
There are many wonderful examples where the Israelites expressed violent praise. Moses and Miriam both sang and danced when they passed out of Egypt. Miriam was actually 90 years old when she led the congregation in dancing. The Israelites also expressed violent praise at Jericho. Gideon expressed violent praise over the Midianites. Paul and Silas expressed violent praise that shook them out of prison. Don't worry about what to say to praise violently - just let your heart respond to God for He IS worthy! Psalm 81:10 says, I am the LORD your God, who brought you out of the land of Egypt; open your mouth wide, and I will fill it.

The restoration of David's Tabernacle is advancing in the earth realm in this generation. You should read Amos 9 as well as Acts 15, and then the book of Revelation. One expresses prophetically, another expresses historically, and the latter reveals the present expression of the war in the heavens. When you read more closely, you can see how we, as God's army in the earth, will co-labor with the Host of Heaven to express a Holy God's overcoming power throughout the nations of the earth. This will unlock a global harvest. Your violent praise is preparing a storehouse for Kingdom harvest.

As you praise violently you are also releasing the Roar of the Lord that has been held captive in God's people. Let me explain the Roar of the Lord. God's sound permeates from heaven and orders much of what goes on in the earthly realm. When He is ready to bring restoration to Earth, He releases His sound. Judah goes first! Judah roars! The roar of God is within us. Judah means Praise Yahweh. Do not resist the major shift that is re-creating the way we worship and corporate acknowledgment of God. Yahweh signifies the God of covenant. This is a month when our praise and worship is important to the LORD. This is also a time when we begin to value the covenant that He has allowed us to enter into with Him. What a price He paid to give us access to the Throne Room. Our worship will take on great covenant significance at this time, and release great blessings into the earthly realm.

Nisan is the Passover month. This is a time to CROSSOVER into the inheritance that has been promised you. Joshua 3:15-17 says, And those who bore the ark came to the Jordan, and the feet of the priests who bore the ark dipped in the edge of the water (for the Jordan overflows all its banks during the time of harvest)...and the people crossed over completely to the other side of the Jordan. I believe we are moving in God's perfect time. Timing is so important. In Him, we move and have our being(Acts 17:24-26, Col. 1:19, 2:9). I am praying for you to be in God's perfect timing. On April 20, we are hosting a special PASSOVER service. I hope many of you will be able to join us for that time (details below).

Violence means vehement, forcible, or destructive action, often involving infringement, outrage, or assault. Matthew 11:12-13 says, And from the days of John the Baptist until now the kingdom of heaven suffers violence, and the violent take it by force. In the phrase, "the kingdom of heaven suffers violence," a share in the heavenly kingdom is sought for with the most ardent zeal and the most intense exertion. The NIV reads, "The kingdom of heaven has been forcefully advancing, and forceful men lay hold of it." To give praise to God is to proclaim His merit or worth in every situation that we find ourselves encountering. You can shout Glory! You can release blessing! Your heart can express thanksgiving. Praise includes offering of sacrifices (Lev. 7:13), physical movement (2 Sam. 6:14), silence and meditation (Ps. 77:11-12), testimony (Ps. 66:16), prayer (Phil. 4:6), and a holy life (1 Pet. 1:3-9). Praise is linked to music, both instrumental (Ps. 150:3-5) and vocal. Praise includes spontaneous outbursts of thanksgiving for some redemptive act of God (Ex. 15; Judg. 5; 1 Sam. 2; Luke 1:46-55, 67-79). Praise also includes formal psalms and hymns adapted for corporate worship (2 Chron. 29:30) and church (Col. 3:16). Praise should be a heart expression and not an outward show (Matt. 15:8).

The Sound of the Throne Room
God is pursuing His people. The Spirit of the Lord is calling us to worship. God is releasing a sound from Heaven that is being embraced by people all over the world. The call causes us to draw near to Him and to each other. The sound causes us to go to war. We must manifest on Earth what God says in Heaven. God's sound permeates from Heaven and orders much of what goes on in the earthly realm. When He is ready to bring restoration to Earth, He releases His sound.

A physical sound has always led the armies of God forth. I always visualize it this way: God is on His Throne, and Jesus is seated next to Him. Jesus is the door that we have into the Father's Throne. The Word of God tells us in James 5 to submit ourselves to God, draw near to Him and then resist the devil. I believe that as we worship and submit ourselves to a holy God, we can come into intimate contact with Him. Even though we walk here on the earth in our worshipful submission, we ascend into Heaven. As we individually seek God and ascend into the Throne Room, we can hear the sound in Heaven in our spirit man on Earth. We also find this all the way through the book of Revelation. The book of Revelation is just an incredible, elaborate pageant that is interpreted to us by heavenly, celestial singers along with creatures and elders. John saw a door standing open in Heaven, and the voice he heard was like a trumpet speaking and saying, Come up here and I will show you things that must take place after this (see Rev. 1:10). The Lord's voice, many times, sounds like a trumpet calling us forth. The trumpet, or shofar, in the Word of God had a distinct sound to assemble and call God's people to war.

Nisan is the Passover month. This is a time to CROSSOVER into the inheritance that has been promised you. Joshua 3:15-17 says, And those who bore the ark came to the Jordan, and the feet of the priests who bore the ark dipped in the edge of the water (for the Jordan overflows all its banks during the time of harvest)...and the people crossed over completely to the other side of the Jordan. I believe we are moving in God's perfect time. Timing is so important. In Him, we move and have our being(Acts 17:24-26, Col. 1:19, 2:9). I am praying for you to be in God's perfect timing.

Ditulis oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Wednesday, April 23, 2008

What Happens In Heaven

WHAT HAPPENS IN HEAVEN
This is one of the nicest e-mails I have seen and is so true:

I dreamt that I went to Heaven and an angel was showing me around. We walked side-by-side inside a large workroom filled with angels.

My angel guide stopped in front of the first section and said, 'This is the Receiving Section. Here, all petitions to God said in prayer are Received.'

I looked around in this area, and it was terribly busy with so many angels sorting out petitions written on voluminous paper sheets and scraps from people all over the world.

Then we moved on down a long corridor until we reached the second section.

The angel then said to me, 'This is the Packaging and Delivery Section. Here, the graces and blessings the people asked for are processed and delivered to the living persons who asked for them.'

I noticed again how busy it was there. There were many angels working hard at that station, since so many blessings had been requested and were being packaged for delivery to Earth.

Finally at the farthest end of the long corridor we stopped at the Door of a very small station To my great surprise, only one angel was Seated there, idly doing nothing. 'This is the Acknowledgment Section,' My angel friend quietly admitted to me. He seemed embarrassed. 'How Is it that there is no work going on here?' I asked.

'So sad,' the angel sighed. 'After people receive the blessings that they asked For, very few send back acknowledgments.'

'How does one acknowledge God's blessings?' I asked.

'Simple,' the angel answered. Just say, 'Thank you, Lord.'

'What blessings should they acknowledge?' I asked.

'If you have food in the refrigerator, clothes on your back, a roof overhead and a place to sleep you are richer than 75% of this world. If you have money in the bank, in your wallet, and spare change in a dish, you are among the top 8% of the world's wealthy.'

'And if you get this on your own computer, you are part of the 1% in the world who has that opportunity.'

Also...

'If you woke up this morning with more health than illness ... You are more blessed than the many who will not even survive this day.'

'If you have never experienced the fear in battle, the loneliness of imprisonment, the agony of torture, or the pangs of starvation .. You are ahead of 700 million people in the world.'

'If you can attend a church without the fear of harassment, arrest, torture or death you are envied by, and more blessed than, three billion people In the world.'

'If your parents are still alive and still married ...you are very rare.'

'If you can hold your head up and smile, you are not the norm, you're unique to all those in doubt and despair.'

OK, what now? How can I start?

If you can read this message, you just received a double blessing in that someone was thinking of you as very special and you are more blessed than over two billion people in the world who cannot read at all.

Have a good day, count your blessings, and if you want, pass this along to remind everyone else how blessed we all are.

ATTENTION:
Acknowledge Dept.: 'Thank you Lord, for giving me the ability to share this message and for giving me so many wonderful people to share it with.'

Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

The Story of The Actor of "The Passion of Jesus Christ"

THE PASSION OF JIM CAVIEZEL

Jim Caviezel adalah aktor Hollywood yang memerankan Tuhan Yesus dalam Film “The Passion Of Jesus Christ”. Inilah kesaksiannya. . .

JIM CAVIEZEL ADALAH SEORANG AKTOR BIASA DENGAN PERAN-PERAN KECIL DALAM FILM-FILM YANG JUGA TIDAK BESAR. PERAN TERBAIK YANG PERNAH DIMILIKINYA SEBELUM "THE PASSION" ADALAH SEBUAH FILM PERANG YANG BERJUDUL “THE THIN RED LINE”. ITUPUN HANYA SALAH SATU PERAN DARI BEGITU BANYAK AKTOR BESAR YANG BERPERAN DALAM FILM KOLOSAL ITU.

Dalam "The Thin Red Line", Jim berperan sebagai prajurit yang berkorban demi menolong teman-temannya yang terluka dan terkepung musuh, ia berlari memancing musuh kearah yang lain walaupun ia tahu ia akan mati, dan akhirnya musuhpun mengepung dan membunuhnya. Kharisma kebaikan, keramahan, dan rela berkorbannya ini menarik perhatian Mel Gibson, yang sedang mencari aktor yang tepat untuk memerankan konsep film yang sudah lama disimpannya, menunggu orang yang tepat untuk memerankannya.

“Saya terkejut pada suatu hari dikirimkan naskah sebagai peran utama dalam sebuah film besar. Belum pernah saya bermain dalam film besar apalagi sebagai peran utama. Tapi yang membuat saya lebih terkejut lagi adalah ketika tahu peran yang harus saya mainkan. Ayolah, Dia ini Tuhan, siapa yang bisa mengetahui apa yang ada dalam pikiran Tuhan dan memerankannya? Mereka pasti bercanda.

Besok paginya saya mendapat sebuah telepon, “Hallo ini, Mel”. Kata suara dari telpon tersebut. “Mel siapa?” tanya saya bingung. Saya tidak menyangka kalau itu Mel Gibson, salah satu aktor dan sutradara Hollywood yang terbesar. Mel kemudian meminta kami bertemu, dan saya menyanggupinya.

Saat kami bertemu, Mel kemudian menjelaskan panjang lebar tentang film yang akan dibuatnya. Film tentang Tuhan Yesus yang berbeda dari film-film lain yang pernah dibuat tentang Dia. Mel juga menyatakan bahwa akan sangat sulit dalam memerankan film ini, salah satunya saya harus belajar bahasa dan dialek Aramik, bahasa yang digunakan pada masa itu.

Dan Mel kemudian menatap tajam saya, dan mengatakan sebuah risiko terbesar yang mungkin akan saya hadapi. Katanya bila saya memerankan film ini, mungkin akan menjadi akhir dari karir saya sebagai aktor di Hollywood.

Sebagai manusia biasa saya menjadi gentar dengan risiko tersebut. Memang biasanya aktor pemeran Yesus di Hollywood, tidak akan dipakai lagi dalam film-film lain. Ditambah kemungkinan film ini akan dibenci oleh sekelompok orang Yahudi yang berpengaruh besar dalam bisnis pertunjukan di Hollywood. Sehingga habislah seluruh karir saya dalam dunia perfilman.

Dalam kesenyapan menanti keputusan saya apakah jadi bermain dalam film itu, saya katakan padanya. “Mel apakah engkau memilihku karena inisial namaku juga sama dengan Jesus Christ (Jim Caviezel), dan umurku sekarang 33 tahun, sama dengan umur Yesus Kristus saat Ia disalibkan?”

Mel menggeleng setengah terperangah, terkejut, menurutnya ini menjadi agak menakutkan. Dia tidak tahu akan hal itu, ataupun terluput dari perhatiannya. Dia memilih saya murni karena peran saya di “Thin Red Line”.

"Baiklah, Mel, aku rasa itu bukan sebuah kebetulan, ini tanda panggilanku, semua orang harus memikul salibnya. Bila ia tidak mau memikulnya maka ia akan hancur tertindih salib itu. Aku tanggung risikonya, mari kita buat film ini!"

Maka saya pun ikut terjun dalam proyek film tersebut. Dalam persiapan karakter selama berbulan-bulan saya terus bertanya-tanya, "Dapatkah saya melakukannya?" Keraguan meliputi saya sepanjang waktu. Apa yang seorang Anak Tuhan pikirkan, rasakan, dan lakukan? Pertanyaan-pertanyaan tersebut membingungkan saya, karena begitu banyak referensi mengenai Dia dari sudut pandang berbeda-beda.

Akhirnya hanya satu yang bisa saya lakukan, seperti yang Yesus banyak lakukan yaitu lebih banyak berdoa. Memohon tuntunan-Nya melakukan semua ini.

Karena siapalah saya ini memerankan Dia yang begitu besar. Masa lalu saya bukan seseorang yang dalam hubungan intim dengan-Nya. Saya memang lahir dari keluarga Katolik yang taat, kebiasaan-kebiasaan baik dalam keluarga memang terus mengikuti dan menjadi dasar yang baik dalam diri saya.

Saya hanyalah seorang pemuda yang bermain bola basket dalam liga SMA dan kampus, yang bermimpi menjadi seorang pemain NBA yang besar. Namun cedera engkel menghentikan karir saya sebagai atlit bola basket. Saya sempat kecewa pada Tuhan, karena cedera itu, seperti hancur seluruh hidup saya.

Saya kemudian mencoba peruntungan dalam casting-casting, sebuah peran sangat kecil membawa saya pada sebuah harapan bahwa seni peran mungkin menjadi jalan hidup saya. Kemudian saya mendalami seni peran dengan masuk dalam akademi seni peran, sambil sehari-hari saya terus mengejar casting.

Dan kini saya telah berada di puncak peran saya. Benar Tuhan, Engkau yang telah merencanakan semuanya, dan membawaku sampai disini. Engkau yang mengalihkanku dari karir di bola basket, menuntunku menjadi aktor, dan membuatku sampai pada titik ini. Karena Engkau yang telah memilihku, maka apapun yang akan terjadi, terjadilah sesuai kehendak-Mu.

Saya tidak membayangkan tantangan film ini jauh lebih sulit dari pada bayangan saya.

Di make-up selama 8 jam setiap hari tanpa boleh bergerak dan tetap berdiri, saya adalah orang satu-satunya di lokasi syuting yang hampir tidak pernah duduk. Sungguh tersiksa menyaksikan kru yang lain duduk-duduk santai sambil minum kopi. Kostum kasar yang sangat tidak nyaman, menyebabkan gatal-gatal sepanjang hari syuting dan membuat saya sangat tertekan.

Salib yang digunakan, diusahakan seasli mungkin seperti yang dipikul oleh Yesus saat itu. Saat mereka meletakkan salib itu di pundak saya, saya kaget dan berteriak kesakitan, mereka mengira itu akting yang sangat baik, padahal saya sungguh-sungguh terkejut. Salib itu terlalu berat, tidak mungkin orang biasa memikulnya, namun saya mencobanya dengan sekuat tenaga.

Yang terjadi kemudian setelah dicoba berjalan, bahu saya copot, dan tubuh saya tertimpa salib yang sangat berat itu. Dan sayapun melolong kesakitan, minta pertolongan. Para kru mengira itu akting yang luar biasa, mereka tidak tahu kalau saya dalam kecelakaan sebenarnya. Saat saya memulai memaki, menyumpah dan hampir pingsan karena tidak tahan dengan sakitnya, maka merekapun terkejut, sadar apa yang sesungguhnya terjadi dan segera memberikan saya perawatan medis.

Sungguh saya merasa seperti setan karena memaki dan menyumpah seperti itu, namun saya hanya manusia biasa yang tidak biasa menahannya. Saat dalam pemulihan dan penyembuhan, Mel datang pada saya. Ia bertanya apakah saya ingin melanjutkan film ini, ia berkata ia sangat mengerti kalau saya menolak untuk melanjutkan film itu.

Saya berkata pada Mel, "Saya tidak tahu kalau salib yang dipikul Tuhan Yesus seberat dan semenyakitkan seperti itu. Tapi kalau Tuhan Yesus mau memikul salib itu bagi saya, maka saya akan sangat malu kalau tidak memikulnya walau sebagian kecil saja. Mari kita teruskan film ini."

Maka mereka mengganti salib itu dengan ukuran yang lebih kecil dan dengan bahan yang lebih ringan, agar bahu saya tidak terlepas lagi, dan mengulang seluruh adegan pemikulan salib itu. Jadi yang penonton lihat di dalam film itu merupakan salib yang lebih kecil dari aslinya.

Bagian syuting selanjutnya adalah bagian yang mungkin paling mengerikan, baik bagi penonton dan juga bagi saya, yaitu syuting penyambukan Yesus. Saya gemetar menghadapi adegan itu, karena cambuk yang digunakan itu sungguhan. Sementara punggung saya hanya dilindungi papan setebal 3 cm.

Suatu waktu para pemeran prajurit Roma itu mencambuk dan mengenai bagian sisi tubuh saya yang tidak terlindungi papan. Saya tersengat, berteriak kesakitan, bergulingan di tanah sambil memaki orang yang mencambuk saya. Semua kru kaget dan segera mengerubungi saya untuk memberi pertolongan. Tapi bagian paling sulit, bahkan hampir gagal dibuat yaitu pada bagian penyaliban. Lokasi syuting di Italia sangat dingin, sedingin musim salju, para kru dan figuran harus manggunakan mantel yang sangat tebal untuk menahan dingin. Sementara saya harus telanjang dan tergantung di atas kayu salib, di atas bukit yang tertinggi disitu. Angin dari bukit itu bertiup seperti ribuan pisau menghujam tubuh saya. Saya terkena hypothermia (penyakit kedinginan yang biasa mematikan), seluruh tubuh saya lumpuh tak bisa bergerak, mulut saya gemetar bergoncang tak terkendalikan. Mereka harus menghentikan syuting, karena nyawa saya jadi taruhannya.

Semua tekanan, tantangan, kecelakaan dan penyakit membawa saya sungguh depresi. Adegan-adegan tersebut telah membawa saya kepada batas kemanusiaan saya. Dari adegan-keadegan lain semua kru hanya menonton dan menunggu saya sampai pada batas kemanusiaan saya, saat saya tidak mampu lagi baru mereka menghentikan adegan itu. Ini semua membawa saya pada batas-batas fisik dan jiwa saya sebagai manusia. Saya sungguh hampir gila dan tidak tahan dengan semua itu, sehingga seringkali saya harus lari jauh dari tempat syuting untuk berdoa. Hanya untuk berdoa, berseru kepada Tuhan kalau saya tidak mampu lagi, memohon Dia agar memberi kekuatan bagi saya untuk melanjutkan semuanya ini. Saya tidak bisa, masih tidak bisa membayangkan bagaimana Yesus sendiri melalui semua itu, bagaimana menderitanya Dia. Dia bukan sekedar mati, tetapi mengalami penderitaan luar biasa yang panjang dan sangat menyakitkan, bagi fisik maupun jiwa-Nya.

Dan peristiwa terakhir yang merupakan mukjizat dalam pembuatan film itu adalah saat saya ada di atas kayu salib. Saat itu tempat syuting mendung gelap karena badai akan datang, kilat sambung menyambung diatas kami. Tapi Mel tidak menghentikan pengambilan gambar, karena memang cuaca saat itu sedang ideal sama seperti yang seharusnya terjadi seperti yang diceritakan. Saya ketakutan tergantung di atas kayu salib itu, disamping kami ada di bukit yang tinggi, saya adalah objek yang paling tinggi, untuk dapat dihantam oleh halilintar. Baru saja saya berpikir ingin segera turun karena takut pada petir, sebuah sakit yang luar biasa menghantam saya beserta cahaya silau dan suara menggelegar sangat kencang. Dan sayapun tidak sadarkan diri.

Yang saya tahu kemudian banyak orang yang memanggil-manggil meneriakkan nama saya, saat saya membuka mata semua kru telah berkumpul di sekeliling saya, sambil berteriak-teriak, “Dia sadar! Dia sadar!”.

“Apa yang telah terjadi?” tanya saya. Mereka bercerita bahwa sebuah halilintar telah menghantam saya di atas salib itu, sehingga mereka segera menurunkan saya dari situ. Tubuh saya menghitam karena hangus, dan rambut saya berasap, berubah menjadi model Don King. Sungguh sebuah mukjizat kalau saya selamat dari peristiwa itu.

Melihat dan merenungkan semua itu seringkali saya bertanya, “Tuhan, apakah Engkau menginginkan film ini dibuat? Mengapa semua kesulitan ini terjadi? Apakah Engkau menginginkan film ini untuk dihentikan?” Namun saya terus berjalan, kita harus melakukan apa yang harus kita lakukan. Selama itu benar, kita harus terus melangkah. Semuanya itu adalah ujian terhadap iman kita, agar kita tetap dekat kepada-Nya, supaya iman kita tetap kuat dalam ujian.

Orang-orang bertanya bagaimana perasaan saya saat ditempat syuting itu memerankan Yesus. Oh… itu sangat luar biasa… mengagumkan… tidak dapat saya ungkapkan dengan kata-kata. Selama syuting film itu ada sebuah hadirat Tuhan yang kuat melingkupi kami semua, seakan-akan Tuhan sendiri berada di situ, menjadi sutradara atau merasuki saya memerankan diri-Nya sendiri.

Itu adalah pengalaman yang tak terkatakan. Semua yang ikut terlibat dalam film itu mengalami lawatan Tuhan dan perubahan dalam hidupnya, tidak ada yang terkecuali. Pemeran salah satu prajurit Roma yang mencambuki saya itu adalah seorang muslim, setelah adegan tersebut, ia menangis dan menerima Yesus sebagai Tuhannya. Adegan itu begitu menyentuhnya. Itu sungguh luar biasa. Padahal awalnya mereka datang hanya karena untuk panggilan profesi dan pekerjaan saja, demi uang. Namun pengalaman dalam film itu mengubahkan kami semua, pengalaman yang tidak akan terlupakan.

Dan Tuhan sungguh baik, walaupun memang film itu menjadi kontroversi. Tapi ternyata ramalan bahwa karir saya berhenti tidak terbukti. Berkat Tuhan tetap mengalir dalam pekerjaan saya sebagai aktor. Walaupun saya harus memilah-milah dan membatasi tawaran peran sejak saya memerankan film ini.

Saya harap mereka yang menonton "The Passion Of Jesus Christ", tidak melihat saya sebagai aktornya. Saya hanyalah manusia biasa yang bekerja sebagai aktor, jangan kemudian melihat saya dalam sebuah film lain kemudian mengaitkannya dengan peran saya dalam The Passion dan menjadi kecewa.

Tetap pandang hanya kepada Yesus saja, dan jangan lihat yang lain. Sejak banyak bergumul dalam doa selama pembuatan film itu, berdoa menjadi kebiasaan yang tak terpisahkan dalam hidup saya. Film itu telah menyentuh dan mengubah hidup saya, saya berharap juga hal yang sama terjadi pada hidup anda. Amin. (Sumber: Internet- kiriman Sdri. Debbie)

Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Tuesday, April 22, 2008

Growing Out Of The Problem

Bertumbuh Dari Masalah
Itulah ungkapan yang dilontarkan oleh Mohammad Risa Solihin, mengilustrasikan bagaimana kasih karunia Tuhan yang begitu besar baginya. Meski dirinya terbilang sebagai orang yang sangat jauh dari Tuhan dan kekristenan, Tuhan memanggilnya sebagai hamba Tuhan dan mempercayakan banyak hal yang sangat berharga.

Dilahirkan dan dibesarkan sebagai pria di tengah keluarga non-Kristen, Risa, demikian ia akrab disapa oleh kerabatnya, tumbuh dan hidup tanpa adanya pegangan iman yang sejati. Kehidupan bebas dan kecanduan narkoba akhirnya menjadi puncak perjalanannya yang semakin menjauh dari Tuhan.

'Grand design' kehidupan yang Tuhan rencanakan baginya boleh dibilang sangatlah tidak mudah untuk dilalui. Bertubi-tubi cobaan dan penolakan serta cercaan harus dihadapinya demi keputusannya yang kokoh untuk menerima Tuhan Yesus sebagai Juruselamatnya. Kenyataan pahit harus diterimanya kala dirinya memutuskan untuk menjadi seorang Kristen. Ia ditolak dan diusir dari kehidupan keluarga besarnya. Orangtua dan saudara-saudaranya tidak mau mengakuinya lagi.

Lika-Liku Pertobatan
Pada tahun 1989 saat dirinya masih aktif bekerja di dunia sekuler, di sanalah ia dipertemukan dengan sang pujaan hati, Elsa. Saat itu Risa masih tercatat sebagai seorang non-Kristen dengan kehidupan yang dihiasi dengan kehidupan malam dan narkoba. Hal yang tak jauh berbeda juga dilakukan oleh Elsa yang saat itu juga masih belum hidup sungguh-sungguh di dalam Kristus. Bahkan sejak pertemuan itu, mereka hidup bersama selama kurang lebih dua tahun, hidup dalam kedagingan. Namun mereka bersyukur, benih pertobatan itu semakin hari semakin ditumbuhkan oleh Roh Kudus melalui Elsa. Lambat laun atas dorongan Elsa Risa sang kekasih pergi beribadah ke gereja. Dan berkat bimbingan hamba Tuhan Pdt. DR. Ir. Niko Njotorahardjo, setiap minggunya mereka didoakan dan dilayani secara pribadi. Hasilnya, merekapun boleh dimenangkan oleh Kristus. Lalu mereka memutuskan untuk hidup bersama secara sah dalam tali pernikahan pada 9 Juni 1991.

Dalam pernikahannyapun pergumulan luar biasa masih menyelimuti hari-hari mereka. Ditolak oleh orangtua adalah hal yang dirasa paling menyedihkan. Saat menikah, Elsa berstatus sebagai seorang janda dengan seorang anak berusia lima tahun, bernama Belle Natalia, dari buah pernikahannya yang pertama. Dengan kehidupan Risa yang masih bergantung pada narkoba, iman kekristenan yang belum kuat, belum lagi ditambah kondisi keuangan yang lemah, membuat kehidupan pernikahan mereka sangat kacau. Apalagi beban moral yang harus diterima Risa sebagai seorang ayah tiri, baginya dibutuhkan suatu adaptasi yang luar biasa karena waktu itu usianya masih relatif muda, 24 tahun.

Pernikahan Risa dan Elsa bukan diawali dengan sesuatu yang baik. Satu rumah kosong yang tidak berisi, hanya ditemani dengan satu kantong plastik serta dua pasang pakaian, tidak punya pekerjaan tetap membuat semakin lengkaplah penderitaan yang harus ditanggungnya bersama keluarga barunya. Namun, tidak lama kemudian Risapun mendapat pekerjaannya. Di awal-awal kehidupan bersamanya itu, hubungan antara Risa dengan ’anaknya’ tidaklah terlalu baik, sebab antara Risa dengan Elsa sendiri membutuhkan proses adaptasi yang tidak mudah akibat latar belakang yang berbeda.

Dua tahun setelah menikah, Elsa hamil, padahal kondisi mereka saat itu belumlah kokoh. Pertengkaran, adu mulut, seringkali menghiasi hari-hari mereka. Bahkan pernah suatu saat ketika marah dan emosi, Risa menginjak kandungan isterinya itu. Untungnya, hal itu tidak membuat kandungannya mengalami masalah. Anak pertama itupun terlahir dan dinamai Ezra, namun rencana Tuhan berkata lain, anak yang baru berusia satu hari itu meninggal. ”Dari peristiwa itu saya menyadari bahwa Tuhan belum mempercayakan keturunan dari darah daging saya sendiri, karena untuk merawat Belle sendiri saya belum layak. Saat saya kesal kepada isteri saya, saya melampiaskannya kepada Belle. Walaupun ia belum mengerti apa-apa.” kenang pria kelahiran 24 Februari 1967 ini dengan sedih kalau mengingat peristiwa itu.

Pada Nopember 1993 saya dan keluarga berada pada kondisi yang sangat buruk. Bahkan orangtua membujuk untuk meninggalkan Tuhan Yesus dan kembali ke agama saya yang lama. Namun ajakan itu tidak saya indahkan. Melalui sebuah pujian Pdt. DR. Ir. Niko Njotorahardjo yang syairnya berbunyi, ”Siapakah aku ini Tuhan, jadi biji mata-Mu?..” hati Risa diluluhkan dan membuatnya memaksakan diri untuk ikut sebuah persekutuan doa. ”Saat itu saya tidak bisa berdoa ataupun melayani, tetapi saya mulai bergabung dalam Sekolah Orientasi Melayani, meski pengaruh narkoba masih belum sepenuhnya saya lepaskan. Dan puji Tuhan, pada tahun 2000 saya baru bisa bebas dari narkotika.” kata Risa.

Makin Dipulihkan
Keinginannya yang keras untuk hidup sepenuhnya di bawah pimpinan Tuhan, membuat hubungan di dalam rumah-tangganya semakin dipulihkan, meski tantangan dan pergumulan tidak hilang begitu saja. Pergumulan yang luar biasa adalah saat adanya kerinduan untuk bisa mendapatkan anak lagi. Saat kelahiran Ezra, rahim Elsa pecah, sehingga kemungkinan untuk melahirkan lagi adalah 1:10.000 karena rahim sudah tidak ada. Namun dengan keajaiban Tuhan, mereka dianugerahi seorang anak bernama Kezia Hanny, meskipun setelah dilahirkan dia sempat dirawat akibat paru-parunya kemasukan cairan. Berkat pertolongan Tuhan, anak itu sehat sampai saat ini dan berusia 10 tahun.

”Meskipun masih jatuh bangun dalam usaha saya untuk bebas dari narkotika, saya bersyukur kepada hamba Tuhan, Pdt. Suwito Njotorahardjo, almarhum ayahanda Pdt. Niko, yang mau memberi kepercayaan luar biasa kepada saya. Meskipun dia tahu kondisi saya, namun kepercayaan demi kepercayaan beliau berikan, itu semua karena Tuhan,” ungkap Risa.

Berkat didikan dan kepercayaan itulah membuat Risa memiliki bukan saja seorang gembala, tetapi juga seorang mentor, orangtua, kakek, juga sahabat yang baik. Akhirnya pada tahun 1999 Risa meninggalkan pekerjaan sekulernya, meskipun ia memiliki posisi yang cukup baik saat itu, dan kemudian memutuskan untuk melayani Tuhan sepenuh waktu. Baginya pelayanan itu tidak dibatasi oleh paruh waktu ataupun penuh waktu, pelayanan adalah anugerah. Hidup ini adalah kesempatan untuk memberi.

Sepeninggal Pdt. Suwito Njotorahardjo pada tahun lalu, Pdt. DR. Ir. Niko Njotorahardjo mempercayakan gereja yang telah digembalakan ayahnya sejak 14 tahun yang lalu kepada Risa. Saat ini gereja itu beranggotakan hampir 7000 jiwa, dan ada 14 gereja yang harus Risa gembalakan. Baginya itu adalah suatu tantangan yang luar biasa. Disamping doa dan puasa serta dukungan dari isteri tercinta, kasih Belle yang bisa menerima Risa apa adanya merupakan hal yang paling mengharukan.

Saat Belle berusia 17 tahun, ayah kandungnya menghubunginya untuk meminta dia kembali. Dan pada peristiwa itu Belle mengatakan kepada ayah kandungnya bahwa dia tidak bisa menerimanya kembali. ”Bagi saya itu adalah sesuatu yang luar biasa. Sekarang kalau Belle ditanya dia akan menjawab bahwa dia bangga dengan saya saat ini.” kata Risa penuh bahagia.

Untuk mencapai kebahagiaan saat ini Risa harus rela mengalami banyak cobaan dan kehilangan orang yang dicintai, termasuk kehilangan anak ketiganya dua tahun yang lalu, Trifosa Shalom dalam usia dua minggu.

Kedua hamba Tuhan itu mengaku bahwa hari-hari ini mereka belajar bahwa Tuhan mengasihi kita apa adanya, meskipun kita sering menyakiti hati-Nya. ”Saya belajar hal itu dari Elsa dan Belle, saya bangga memiliki mereka.” ungkap Pdm. Risa sembari memeluk Elsa, isteri tercintanya. Sumber : Tabloid Keluarga Edisi 22/2008.

Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Monday, April 21, 2008

No Arm, No Leg, No Worries

Aku lahir pada tanggal 4 Desember 1982 di Sunnybank, Brisbane, Australia. Aku lahir tanpa dua lengan, hanya memiliki satu kaki yang berukuran sangat kecil. Secara medis dokter tidak dapat menjelaskan mengapa hal ini terjadi. Para dokterpun sangat terkejut melihat kondisi fisikku, karena saudara laki-laki dan perempuanku lahir dengan kondisi fisik yang normal.

Orangtuaku adalah seorang gembala sidang. Kehadiranku merupakan ujian iman mereka. Jemaatpun turut berduka saat mengetahui kondisiku. Mereka ikut bertanya-tanya mengapa Tuhan mengizinkan hal seburuk ini terjadi pada orangtuaku yang setia melayani Tuhan?

Pergumulan Hati
Sejak kecil ada satu pertanyaan yang muncul di hatiku, "Jika Tuhan mengasihi kedua orangtuaku, mengapa Dia mengizinkan hal yang sangat buruk ini terjadi? Mengapa? Apakah hal baik yang mungkin didapat dari tragedi ini?"

Hidupku dan kedua orangtuaku menjadi sangat sulit. Jika lapar, aku berteriak. Aku bahkan tidak dapat mengambil segelas air jika aku haus. Sangat memalukan jika seorang anak berumur 11 atau 12 tahun masih harus diceboki oleh orangtuanya. Semuanya sangat berat, tetapi aku tidak punya pilihan. Aku pernah bertanya kepada ibu, "Siapa yang akan merawatku apabila mama dan papa sudah meninggal dunia?" Masa depanku terlihat begitu gelap dan suram.

Nyaris Bunuh Diri
Saat berusia 10 tahun karena putus asa, aku berpikir lebih baik aku mengakhiri hidupku. Sungguh menyakitkan bagiku saat melihat sepasang sejoli berjalan di tepi pantai. Aku kerapkali berpikir bahwa aku tidak akan pernah bisa menggandeng tangan isteri atau merangkul anak-anakku. Hal-hal kecil memang, namun itu sangat berarti bagiku.

Di Sekolah Minggu aku diajarkan bahwa Tuhan mengasihiku. Aku berpikir, "Jika demikian, mengapa Dia menciptakanku seperti ini? Kalau Tuhan memiliki kendali penuh atas kelahiranku, mengapa hal ini terjadi?" Aku menjerit, "Tuhan, buktikanlah bahwa Engkau yang menciptakan aku mengasihi aku!"

Dibentuk Di Sekolah
Saat hendak bersekolah, aku ditolak karena sekolah itu untuk orang-orang normal, tetapi ibuku berjuang agar peraturan itu diubah, dan akhirnya memang diubah. Aku menjadi pelopor sehingga para penyandang cacat dapat bersekolah di sekolah orang normal. Di sekolah aku belajar menulis dengan kaki. Aku suka menulis dan menggambar. Aku belajar mengetik di komputer lebih dari 43 kata per menit, yaitu dengan menggunakan kaki mungilku. Kini aku punya banyak daftar hal-hal yang dapat kulakukan, walaupun tidak memiliki lengan dan kaki.

Di sekolah aku mengalami penolakan yang begitu hebat. Aku sering dicemooh. Berat rasanya untuk berangkat ke sekolah, namun berkat dukungan orangtuaku, aku mulai menyadari bahwa memang fisikku berbeda, tetapi di dalam aku sama dengan mereka. Aku belajar untuk tidak mempedulikan omongan negatif. Pada satu kesempatan aku mulai memberanikan diri untuk berbicara dan berteman dengan beberapa orang anak. Akhirnya merekapun menyadari bahwa aku sama dengan mereka. Tuhan memberkatiku dengan teman-teman yang baru.

Percayalah Kepada Tuhan
Aku menyerahkan seluruh hidupku kepada Tuhan Yesus saat aku berusia 15 tahun, yaitu setelah membaca Yohanes 9. Saat itu aku sangat percaya bahwa Tuhan akan menyembuhkanku, seperti yang Dia lakukan kepada orang buta itu. Aku berpikir bahwa Tuhan akan memberikanku lengan dan kaki yang sempurna. Karena itu aku berdoa, menjerit meminta Tuhan menjawab doaku. Jika Tuhan mengabulkan, tentulah nama-Nya dipermuliakan. Namun ternyata Tuhan tetap diam sampai akhirnya aku menyadari bahwa Tuhan tidak membebaskanku dari kekuranganku, tetapi Dia memberikan kepadaku kekuatan untuk menanggung kekuranganku. Sekarang aku melihat bahwa Tuhan memakaiku untuk melayani-Nya dengan kondisi fisikku yang tak normal.

Setelah menang atas pergumulan emosional, Tuhan mengajarkanku menjadi berkat dengan menguatkan orang-orang lain. Aku mendorong orang lain untuk hidup di dalam potensi maksimumnya dan tidak membiarkan apapun menghalanginya untuk mengejar impiannya. Aku percaya bahwa tidak ada yang kebetulan. Tuhan mempunyai alasan mengapa Dia belum menjawab doa-doa kita. Karena Dia sedang menguatkan hati kita, karena Dia sedang menyiapkan sesuatu yang lebih indah. Percayalah kepada Tuhan dengan segenap hatimu dan jangan bersandar kepada pengertianmu sendiri!

Pada usia 21 tahun aku menyelesaikan kuliahku. Aku lulus sarjanan Akuntansi dan Keuangan sekaligus. Aku juga sudah menyelesaikan training untuk menjadi seorang pembicara profesional di perusahaan-perusahaan. Aku bebas dari masalah keuangan di usia muda. Aku memiliki rumah sendiri dan Tuhan meberkati investasiku. Aku percaya bahwa aku akan menjadi seorang motivator internasional yang terkenal. Aku banyak berbicara di sekolah-sekolah. Dengan motto, "Percaya diri, bermimpi besar, dan jangan pernah menyerah!", aku ingin menulis buku-buku best seller di dunia. Bukuku yang pertama berjudul, "No Arm, No Leg, No worries!" Janganlah berfokus pada kemampuan kita, tetapi pada kesediaan kita. Tuhan akan bekerja melalui kita, jika kita bersedia dipakai-Nya!" (Nick Vujicic)

Sumber: Buletin Be COOL edisi 18/2008

Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Thursday, April 17, 2008

Unconditional Love of A Mother

"Kasih ibu kepada beta tak terhingga sepanjang masa, hanya memberi tak harap kembali ..." Sepenggal syair lagu itu benar-benar mengena pada sosok ibu asal AS ini. Wanita berusia 80 tahun itu selama berpuluh-puluh tahun merawat putrinya yang mengalami koma. Sampai akhirnya ibu penuh kasih itu meninggal, mendahului putrinya yang hingga saat ini masih terbaring dalam koma berkepanjangan.

Kaye O'Bara menutup mata untuk selamanya di rumahnya di Miami Gardens, Florida, di sebuah kamar yang selama ini ditempatinya bersama putrinya, Edwarda sejak 1970 silam. Kaye meninggal dalam tidurnya. Dia telah bertahun-tahun menderita penyakit jantung.

Semasa hidupnya Kaye pernah berjanji tak akan pernah meninggalkan Edwarda yang ketika itu masih remaja. Janji itu dimulai sejak Edwarda jatuh koma akibat penyakit diabetesnya 38 tahun yang lampau.

"Kami kira dia akan hidup melampaui kami semua. Wanita itu begitu kuat," kata keponakan Kaye, Pamela Burdgick seperti dilansir harian News.com.au, Sabtu
(8/3/2008).

Selama kurun waktu 38 tahun, kisah pengabdian Kaye kepada putrinya, Edwarda menarik simpati banyak orang. Para pengunjung yang jumlahnya tak terhitung lagi mendatangi rumah Kaye. Bahkan ada pula sebagian orang yang datang dari Jepang untuk ikut merayakan ulang tahun Edwarda.

Kisah Kaye telah dituangkan dalam buku laris karya Dr. Wayne Dyer yang berjudul "A Promise Is A Promise: An Almost Unbelievable Story of a Mother's Unconditional Love and What It Can Teach Us"

Edwarda, penderita diabetes, mengalami flu sebelum Natal 1969. Beberapa hari kemudian kondisinya memburuk dan orangtuanya, Kaye dan suaminya, Joe, membawanya ke rumah sakit.

Beberapa saat sebelum Edwarda kehilangan kesadarannya, remaja putri itu sempat bertanya kepada ibunya: "Berjanjilah, ibu tak akan meninggalkan saya, janji ya?" Kaye pun berjanji tidak akan pernah meninggalkan anak perempuannya itu.

Itulah kata-kata terakhir yang disampaikan Kaye sebelum anaknya koma berkepanjangan. Dan Kaye menepati janjinya.

Kaye dengan teratur membalik tubuh putrinya tiap dua jam supaya tidak mengalami nyeri akibat berbaring terlalu lama. Kaye memberinya makan berupa campuran makanan bayi dan susu bubuk melalui tube, menyuntikkan insulin, memutar alunan musik, membacakan buku untuk Edwarda dan tak lelah berdoa di samping tempat tidur Edwarda supaya suatu hari nanti putrinya itu akan sadar kembali.

Bagi Kaye, mengurus putrinya itu bukanlah beban, melainkan berkat. Kaye sangat yakin, Edwarda akan terbangun. "Bagi saya, dia hampir sadar. Kadang-kadang saya merasa mendengar dia bicara: "Ibu, saya baik-baik saja," kata Kaye kepada media AS, Miami Herald beberapa waktu lalu.

Namun kini Kaye telah pergi untuk selamanya. Dia meninggalkan Edwarda yang masih terbaring koma entah sampai kapan. Adik Edwarda, Colleen O'Bara mengatakan, keluarga akan terus merawat Edwarda di rumah mereka. Sama seperti Kaye, Colleen juga yakin kakaknya itu akan sadar suatu hari nanti.

Suami Kaye, Joe mengalami serangan jantung pada tahun 1972 dan meninggal dunia empat tahun kemudian. Sejak itu, Kaye mengurus Edwarda dengan menggunakan tunjangan sosial dari pemerintah dan dana pensiun suaminya, ditambah lagi dengan sumbangan dari orang-orang.

Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Life Squad

Selasa petang yang lalu saya menyaksikan tayangan Life Squad di Family Channel yang menarik, sebagai bagian dari acara Solusi Life dari CBN Indonesia. Acara reality show yang baru pertama kali ditayangkan itu dipandu oleh Jesse Lantang, mantan pemain sinetron dan seorang hamba Tuhan. Jesse sebagai komandan Life Squad menantang tiga kelompok anak-anak muda dari berbagai kampus dan profesi untuk menolong mengubah kehidupan sang Target. Saksikan dalam tayangan Solusi Life jam 19.30 Senin-Jumat, apa yang akan dilakukan Life Squad terhadap Target masing-masing!

Target yang akan ditolong itu ada tiga keluarga:

Target Pertama:
Pak Mangandar dan Ibu Marida Simanjuntak merintis usaha tambal ban sejak tahun 90-an awal. Awalnya Pak Mangandar bekerja sebagai karyawan di sebuah bengkel kecil milik temannya. Selama beberapa tahun bekerja di bengkel, Pak Mangandar mengumpulkan uang sedikit demi sedikit dan juga meminta pinjaman dari pemilik bengkel untuk memulai usaha tambal ban sendiri.

Pak Mangandar akhirnya membuka usaha tersebut di pinggir jalan Cacing (cakung-cilincing). Usaha ini awalnya berawal baik karena posisi (letak) bengkelnya di sisi jalan yang tepat. Namun karena penggusuran, Pak Mangandar harus memindahkan bengkel (gubuk) tambal bannya itu ke seberang jalan yang kurang strategis. Namun di sisi jalan yang sekarang pun, Pak Simanjuntak tetap tidak luput dari rasa khawatir dari penggusuran. Suatu saat penggusuran dapat terjadi lagi. Bahkan dalam waktu dekat, sangat besar kemungkinan gubuknya beserta ratusan gubuk tambal ban lainnya di sepanjang jalur Cacing akan kena penggusuran karena akan dibuatnya jalur Busway.

Selain ketakutan akan penggusuran, Pak Mangandar juga ada ketakutan akan rampok (maling) gubuk. Dia harus menjaga gubuknya selama 24 jam 7 hari seminggu. Tanpa pengawasan, gubuknya bisa saja dimalingin orang, seperti yang pernah terjadi padanya pada tahun 1997, di mana ketika dia pergi sebentar untuk mengurus isterinya yang baru melahirkan anak kedua mereka, seluruh gubuknya telah lenyap diambil orang. Peristiwa ini merupakan kejadian yang sangat menyedihkan dan cukup berbekas di hati mereka. Jika mengingat kejadian tersebut, masih terkenang kemarahan di wajahnya.

Kondisi Sekarang Ini:
Pak Mangandar dan isteri memiliki 3 orang anak : Ayu (Kelas VI), Betty (Kelas V) dan Joy (3,5 tahun). Ayu dan Betty adalah murid SD Tugu (Yayasan GPIB) dan mereka adalah anak asuh Obor Berkat Indonesia. Biaya sekolah, seragam dan alat tulis mereka ditanggung oleh OBI.

Gubuk tambal ban adalah tempat tinggal mereka semua (bapak-ibu-3 anak). Gubuk itu tidak memiliki listrik dan sumber air untuk mandi, cuci dan kakus. Sebelumnya mereka menggunakan sumber air dari tanah kosong milik sebuah perusahaan yang terletak di samping gubuk mereka, namun per hari Kamis (20/09/07), tanah tersebut ditutup sehingga mereka tidak dapat lagi menggunakan air keran di tanah tersebut.

Karena tidak ada sumber listrik, anak-anaknya harus belajar dan mengerjakan PR sebelum hari gelap. Namun mereka adalah anak-anak yang rajin belajar di tengah-tengah segala keterbatasan fasilitas. Dalam kondisi tidak mandi dan tidak sikat gigi, mereka tetap ceria berangkat ke sekolah.

***

Target Kedua:
Oma Emy lahir di kota Makasar pada tahun 1941. Papanya adalah seorang tentara Belanda (KNIL), sehingga mereka sering berpindah-pindah kota. Dia memiliki 9 saudara perempuan dan 3 saudara lelaki. Tahun 1951 mereka sekeluarga pindah ke Jawa tepatnya di kota Sukabumi. Namun tidak tinggal begitu lama di kota tersebut. Karena Papanya pensiun, mereka pindah ke Cimahi.

Menikah, Namun Ditinggalkan Suami:
Di kota inilah Oma Emy bertemu dengan seorang pria Sangir yang akhirnya menjadi suaminya. Mereka menikah di Jakarta sebab pria tersebut tinggal di Jakarta. Suaminya merupakan seorang tentara, sama seperti Papanya. Saat itu, bisa dikatakan bahwa hidup Oma Emy serba berkecukupan dan bahagia. Sebagai seorang tentara angkatan laut, suami Oma Emy sering berlayar. Ternyata Oma Emy harus menghadapi kenyataan bahwa suaminya bertemu dengan wanita lain saat sedang berlayar dan pergi meninggalkan dia bersama ketujuh anaknya yang masih kecil-kecil pada tahun 1972.

Perjuangan Sebagai Single Parent:
Pada tahun 1987, salah seorang anaknya meninggal karena sakit. Kehidupan Jakarta yang begitu keras dengan 6 orang anak yang harus dirawat bukanlah suatu hal yang mudah untuk dijalani seorang Oma Emy. Dia hanya bisa berserah pada Tuhan. Apa saja dilakukan olehnya, dari berjualan ke pasar, membuat dan menjual kue dilakukan oleh Oma Emy demi menghidupi anak-anaknya. Puji Tuhan, meskipun mereka hidup miskin, namun semua anak-anaknya mengecap jenjang pendidikan sampai SMEA. Mereka mendapat sponsor dari Texas, America untuk biaya pendidikan.

Diusir Dari Rumah Peninggalan Papanya:
Dulunya mereka tinggal di sebuah rumah yang masih layak, merupakan peninggalan dari Papa Oma Emy. Namun sewaktu Papanya meninggal, saudara-saudara lelakinya menuntut agar rumah tersebut dijual. Sebenarnya mereka sempat bertahan, namun akhirnya menyerah sebab adik-adik lelakinya melempari rumah bahkan memukuli saudara-saudara perempuan dalam keluarga tersebut ketika rumah tersebut belum dijual. Pada tahun 1992 rumah tersebut terjual dan Oma Emy hanya diberi uang sebesar 1 juta rupiah. Dia membawa anak-anaknya pindah ke daerah Kalibaru. Mereka mengontrak sebuah rumah di sana dan dibiayai oleh salah seorang anaknya yang menjadi tulang punggung keluarga mereka saat itu, bernama Aris.

Aris, Tulang Punggung Keluarga Mengalami Kecelakaan:
Aris bekerja sebagai kuli angkat di Pelabuhan. Meskipun hanya sebagai kuli, dia mampu menghidupi keluarga. Namun, pada tahun 2000 Aris menikah sehingga Oma Emy tidak bisa tinggal lagi bersama mereka. Sejak saat itulah Oma Emy tinggal di pemukiman kumuh bersama seorang anak lelakinya yang menderita penyakit polio. Pada 13Februari 2002, musibah terjadi. Aris mengalami kecelakaan saat bekerja. Aris jatuh dari kapal dengan ketinggian 20 meter saat sedang mengangkat barang. Akibat kejadian tersebut, ada saraf pada pinggulnya yang mati dan mengakibatkan tubuh bagian pinggang ke bawah menjadi mati rasa. Penderitaan Aris ditambah lagi dengan kepergian istrinya meninggalkan seorang anaknya yang masih sangat kecil. Sejak kejadian tersebut, otomatis Aris tidak bisa lagi bekerja sehingga Oma Emy membawa mereka tinggal di rumahnya dan mengurus Aris dan anaknya yang masih bayi. Selama seminggu Aris berteriak-teriak kesakitan di rumah. Oma Emy tidak membawanya ke RS karena dia tidak mempunyai uang sama sekali. Hanya Tuhanlah tempatnya mengadu.

Dibebaskan Dari Semua Biaya RS:
Ternyata Tuhan menjawab doanya. Ada seseorang yang dengan baik hati memberikan uang 50 ribu dan langsung digunakan oleh Oma Emy sebagai ongkos Taksi untuk membawa Aris ke RS Cipto. Saat itu dia tidak memikirkan biaya pengobatan di RS. Dia percaya bahwa Tuhan pasti bukakan jalan. Selama 3 bulan Aris dirawat di RS Cipto. RS Cipto berdekatan dengan Gereja Tiberias Menteng Prada, sehingga setiap minggu Oma Emy mengikuti Ibadah dan mengambil anggur perjamuan dan minyak urapan untuk Aris. Oma Emy senantiasa berdoa pada Tuhan agar Aris diberi kesembuhan, umur yang panjang serta pertolongan bagi mereka dalam pembayaran biaya RS. Aris menjalani operasi pada kakinya yang meghabiskan biaya sekitar 15 juta. Kalau dipikir dengan akal sehat, Oma Emy tidak akan sanggup membayar biaya tersebut, namun Tuhan sangat baik sehingga RS membebaskan Oma Emy dari semua biaya. Aris diperbolehkan pulang ke rumah tanpa membayar biaya sepeserpun. Mereka tidak mengerti apakah ada orang yang berbaik hati untuk membayar, namun mereka percaya bahwa itu semua adalah campur tangan Tuhan. Bahkan mereka pulang ke rumah diantarkan Ambulance tanpa harus membayar (saat itu biaya ambulance adalah sekitar 25 ribu rupiah). Sekarang, Aris hanya bisa duduk dan tidur seharian di tempat tidurnya selama 6 tahun. Karena bagian tubuh pinggang ke bawah sudah mati rasa, Aris harus senantiasa memakai kateter sebab Aris tidak dapat merasakan apabila dia mau buang air kecil ataupun buang air besar. Aris tidak marah pada Tuhan dengan segala kondisi hidupnya. Baginya ini adalah cara Tuhan untuk membawanya kembali pada Tuhan setelah sekian lama dia meninggalkan Tuhan dan hidup dalam keduniawian.

Hidup Di Rumah Kumuh Yang Sangat Tidak Layak:
Saat ini Oma Emy menumpang di sebuah rumah yang kondisinya sangat memprihatinkan. Rumah yang berada di rawa-rawa tersebut hanya terdiri dari satu ruangan saja. Di rumah yang kecil dan tidak layak tersebut, Oma bersama 2 anak dan 3 cucunya menjalani aktifitas mereka sehari-hari, bekerja, memasak, makan, tidur, dll. Setiap hari sepanjang tahun, rumah tersebut digenangi oleh air sekitar sejengkal tangan. Jika sedang tidak hujan, air di rumah Oma akan mencapai sejengkal. Namun jika hujan, akan mencapai lutut. Bahkan saat banjir 5 tahunan, mencapai leher orang dewasa. Banyak sekali nyamuk beterbangan baik siang maupun malam. Puji Tuhan mereka masih baik-baik saja sampai saat ini karena sebenarnya lingkungan tersebut sangat rawan akan penyakit. Ada tiga buah tempat tidur kayu di setiap pojok ruangan. Oma tidur bersama cucunya yang bernama Fernando (Cucu dari anak pertama, kelas 5 SD). Aris tidur bersama anak perempuannya yang sekarang sudah kelas 5 SD juga. Demikian juga dengan Nelson, tidur bersama anak laki-lakinya yang bernama Nike.

Oma Bekerja Sebagai Pemulung:
Untuk kehidupan sehari-hari, Oma bekerja sebagai pemulung. Setiap hari Oma berangkat pukul 6 pagi dan selesai memulung kira-kira pukul 12 siang. Hasil pulungan itu dijual, lalu uangnya dipakai membeli beras untuk makanan mereka hari itu. Uang yang dikumpulkan oleh Oma dan Nelson sehari-hari adalah sekitar 15-20 ribu. Oma juga memulung sayuran, cabai dan bawang dari sampah Carefour untuk dimasak di rumah. Untungnya meski makan dari sampah, mereka sehat-sehat saja sampai sekarang.

Air Bersih dan Listrik:
Air bersih yang mereka gunakan sehari-hari berasal dari tetangga, yang mereka beli seharga 7 ribu per drum. Mereka mengirit penggunaannya hanya untuk memasak dan diminum. Untuk mandi, mereka menggunakan air sumur yang disaring. Listrik yang mereka gunakan juga dipinjam dari tetangga dan mereka harus membayar 40 ribu setiap bulannya.

Nelson, Meski Cacat Tetap Optimis:
Untungnya, Nelson dengan keterbatasan kakinya yang cacat, tidak menyerah pada kenyataan. Ketrampilan menjahit yang pernah diperolehnya di lembaga pelatihan Depnaker digunakannya untuk membuat celana, baju dan keterampilan lainnya seperti tas, dll. Oma memiliki sebuah mesin jahit tua dan sebuah gereja pernah memberikan sebuah mesin obras ketika mereka meminta Nelson untuk membuat beberapa seragam anak-anak TK. Dengan modal mesin jahit tua dan mesin obras inilah Nelson berkreasi dan menghasilkan sedikit uang untuk biaya kehidupan mereka sehari-hari. Hasilnya dijual pada masyarakat sekitar dan dijual door to door. Sebuah celana anak-anak dijual seharga 15 ribu rupiah. Namun ada juga hari-hari dimana mereka tidak mendapat uang samasekali. Nelson cacat karena mengalami polio saat duduk di bangku kelas 3 SD, yang menyebabkan salah satu kakinya tidak bertumbuh.

Bagi Nelson, tentu saja dia pernah kecewa dengan Tuhan. Kehidupan mewah di rumah gedung di daerah Matraman masih senantiasa terbayang di benaknya. Baru 2 tahun belakangan ini dia kembali pada Tuhan dan kembali rajin beribadah. Dulunya Nelson tidak percaya pada Tuhan sebab menurutnya Tuhan tidak peduli pada kehidupan keluarganya yang sangat memprihatinkan. Untungnya Nelson sempat mengecap bangku SMEA dan mengikuti pelatihan di BLK (Balai Latihan Kerja) dari Depnaker. Keterampilan menjahit dan memasak itulah yang menjadi modalnya untuk bertahan hidup. Saat ini, ketrampilan menjahit itulah yang digunakannya untuk membuat celana, baju dan tas dari bahan bekas yang dipulung dari pembuangan sampah sebuah pabrik kain di daerah Tanjung Priuk. Masa paling sakit dalam kehidupannya adalah saat dia menjadi pemulung di KBN. Nelson kerap mendapat cemooha dan hinaan dari orang-orang. Setiap hari mengorek-ngorek sampah agar mendapatkan sesuatu yang bisa dijual. Istrinya meninggalkannya segera setelah dia melahirkan anaknya yang saat itu berbobot hanya 1 kg saja. Sampai saat ini, dia tidak tahu istrinya ada di mana.

Nelson juga pintar memasak, bertukang kayu dan batu. Terkadang, ada juga tetangga yang memanggilnya untuk membuat WC atau membangun rumah. Sebelumnya Nelson sempat bekerja di katering cukup lama. Namun karena pemiliknya suka bermain togel, dia bangkrut sehingga Nelson pun kehilangan pekerjaan.

Oma Emy Tetap Mengucap Syukur Kepada Tuhan:
Terkadang Oma Emy kecewa pada Tuhan dan bertanya pada Tuhan mengapa hidupnya selalu penuh dengan penyakit dan kemiskinan. Namun, Oma senantiasa sadar bahwa ada maksud Tuhan untuk setiap kejadian di dalam hidupnya, sehingga dia pun kembali mampu untuk mengucap syukur atas pemeliharaan Tuhan dalam kehidupannya dan keluarganya. Semakin Oma mempelajari Firman Tuhan, semakin dia tahu bahwa Tuhan penuh kasih dan setia. Oma rajin doa puasa dan juga beribadah. Dalam keadaan serba kekurangan dan menyedihkan, mereka selalu memberi waktu untuk beribadah kepada Tuhan. Bahkan Aris yang lumpuh senantiasa dijemput dan digendong oleh pengerja gereja agar dapat beribadah setiap minggunya. Bahkan mereka ikut KKR setiap Kamis di gereja.

Oma Pernah Bercita-cita Menjadi Pilot:
Dulu sewaktu masih kecil, Mama dari Oma Emy selalu berkata, "You have to be a Pilot." Itu sebabnya jika ditanyakan soal cita-cita, Oma selalu berkata, "I want to be a Pilot." Tapi nasib berkata lain sebab setelah Papanya pensiun, Oma tidak dapat melanjutkan pendidikannya. Dulunya Oma sekolah di Regina Pacis, Bogor. Itu sebabnya Oma cukup fasih berbahasa Inggris, sebab bahasa Inggris adalah bahasa pengantar di sekolah.

Saat Paling Sedih Dalam Hidup Oma:
Saat paling sedih dalam kehidupan Oma adalah pada saat salah seorang anaknya meninggal karena TBC. Yang paling membuat Oma sedih adalah karena dia tidak mampu berbuat apa-apa sebab tidak mempunyai uang untuk biaya pengobatan sampai anaknya harus meninggal. Demikian juga saat salah satu cucunya dari anak pertama yang tinggal bersamanya menderita kanker kulit, dia tidak dapat berbuat apa-apa sehingga cucunya tersebut juga meninggal. Jangankan untuk ke RS, makan saja mereka kesusahan.

Saat Terindah Dalam Hidup Oma:
Saat terindah dalam kehidupan Oma adalah saat dia masih hidup bersama suaminya. Suaminya yang bekerja sebagai seorang tentara dan sering berlayar bahkan sampai ke luar negeri memiliki penghasilan yang cukup sehingga mereka bisa hidup mewah. Mereka bahkan sempat merasakan naik mobil mewah jika bepergian. Meskipun anak-anaknya masih kecil-kecil pada saat itu, namun mereka masih ingat kenangan hidup serba berkecukupan itu. Suami Oma baru meninggal pada tahun 2007. Suami Oma masih beberapa kali berkomunikasi dengan anak-anaknya.

Oma Hanya Pernah Liburan Sekali Seumur Hidup:
Semenjak ditinggal oleh suaminya, baru sekali Oma memiliki kesempatan untuk berjalan-jalan. Oma mendapat kesempatan jalan-jalan gratis ke Ciater dari gereja.

Tetap Optimis Menjalani Hidup:
Oma, Nelson dan Aris tetap optimis dalam menjalani hidup. Harapan mereka adalah agar cucu-cucu Oma menjadi orang yang sukses nantinya. Seperti Fernando yang suka pelajaran matematika. Mereka sungguh yakin akan pemeliharaan Tuhan, terbukti dengan uluran tangan dari orang-orang yang senantiasa ada seperti sumbangan rice cooker dan kompor gas yang sangat bermanfaat bagi mereka. Ibu Amir adalah seorang yang cukup berjasa dalam kehidupan Oma. Tahun 2007, Fernando harus dirawat di RS karena sakit hepatitis B. Ibu Amirlah yang dengan baik hati membayar semua biaya RS. Anak-anak Oma yang lain datang beberapa kali untuk memberi beras atau uang. Namun tidak seberapa sebab mereka juga hidup pas-pasan meski tidak seprihatin Oma.

Oma rajin merawat tanaman di depan rumah dan nantinya dijual seharga 5-15 ribu. Lumayan untuk menambah pemasukan sehari-hari. Ada kabar santer bahwa pertengahan tahun ini, lingkungan rumah Oma akan digusur untuk pembangunan jalan tol. Harapan Oma adalah agar mereka bisa hidup layak dan tidak harus menumpang di rumah orang lain serta tidak perlu mengorek-ngorek sampah untuk makan.

***

Target Ketiga:
Ibu Laura dan Keluarga. Tinggal di atas rawa serta menjadi seorang ibu dari tiga orang anak sekaligus ditambah lagi dirinya yang menjadi tulang punggung keluarga, bukanlah sebuah pilihan dari hidup yang ingin dijalaninya. Namun apa daya, semenjak suaminya yang sudah tua tidak diterima lagi bekerja sebagai supir taksi, Ibu Laura harus mengambil alih tanggung jawab sebagai pencari nafkah keluarga.

Ibu Laura yang saat ini berusia 39 tahun bekerja sebagai pedagang pakaian kredit keliling. Sehari-hari dia berkeliling dengan sepeda tuanya untuk menawarkan pakaian dan menagih kredit dari pintu ke pintu. Dengan tidak mengenal lelah Ibu Laura mengutip kredit pakaian yang hanya bernilai seribu rupiah per harinya. Bagi kita mungkin tampak tidak berarti, namun baginya jika pelanggan dengan setia membayarkan kredit, itu adalah kehidupan bagi keluarganya. Maksimal pedapatannya perhari adalah 30 ribu rupiah, namun tidak jarang dia tidak membawa pulang uang sama sekali akibat kredit macet dari para pelanggannya.

Masa-masa terberat adalah saat awal ketika suaminya sudah tidak bekerja lagi.Terkadang mereka harus makan tanpa lauk. Sangat lekat di pikirannya pada saat dia hanya memiliki uang 500 rupiah. Suaminya tidak ada di rumah, sedangkan dia dan anak-anaknya sudah kelaparan. Dia membeli sebutir telur, mendadarnya, lalu dibagikan kepada ketiga orang anaknya. Hanya nasi, sebutir telur dan garam untuk mereka berempat.

Kondisi perekonomian keluarga yang serba kekurangan tidak menyurutkan usahanya untuk memberikan pendidikan yang terbaik bagi ketiga buah hatinya.

Si sulung Laura, saat ini sudah duduk di bangku kelas 1 SMP. Tampak ketegaran di wajahnya. Dalam senyumannya, terlihat suatu rasa pahit yang tidak mampu ia sembunyikan. Namun dari cara ia bertutur, jelas sekali bahwa ia menjadi dewasa sebelum waktunya akibat tuntutan hidup. Dia bercita-cita ingin menjadi seorang dokter kelak. Walau tahu benar kondisi keluarganya seakan mustahil mencapai mimpi itu, namun ia tetap percaya bahwa Tuhan akan membukakan jalan bagi cita-citanya, asalkan ia tetap rajin belajar. Dia tidak minder atas kondisi keluarganya.

Sedangkan Elisabet yang saat ini duduk di bangku kelas 6 SD, tampak lebih rapuh. Meski raut wajahnya lebih ceria, ternyata dia sangat sensitif. Dia mengerti benar kondisi keluarganya. Elisabet tidak banyak menuntut dan patuh pada kedua orang tuanya.

Si bungsu Valentino saat ini masih berusia tiga tahun. Kekhawatiran muncul di wajah Ibu Laura setiap kali mengingat bahwa Valentino juga harus segera mengecap bangku pendidikan. Dia bersyukur atas pertumbuhan anaknya, namun dia bingung jika harus memikirkan pengeluaran yang semakin hari semakin bertambah.

Kerap kali Ibu Laura harus bolak-balik menghadap kepala sekolah untuk memberi penjelasan akan keterlambatan pembayaran uang sekolah, uang buku atau uang ujian anak-anaknya. Dia malu, namun dengan percaya diri Ibu Laura memaparkan kondisi keluarga mereka kepada pihak sekolah dan berjanji akan mengupayakan sebisanya untuk melunasi semua tunggakannya, secepatnya.

Laura menuturkan bahwa dia pernah marah kepada ibunya karena tidak mendapat uang jajan. Dia kecewa, mengapa kehidupan yang dia jalani tidak sama dengan kehidupan yang dijalani oleh teman-temannya.

Hanya dengan modal 500 rupiah, Laura dan Elisabet berangkat ke sekolah dengan berjalan kaki. Sangat kontras dengan teman-teman di sekolahnya yang berasal dari keluarga berkecukupan. Pernah Laura marah dan menuntut pada Ibunya, namun ia sadar bahwa tidak sepantasnya dia melakukan hal tersebut. Semua yang dia alami tidak sebanding dengan jerih payah Ibunya dalam menafkahi mereka sekeluarga.

Suami dari Ibu Laura yang sudah berusia 50-an tahun sudah tidak produktif lagi. Kegiatan sehari-hari adalah menggantikan Ibu Laura untuk menjaga Valentino. Awalnya Ibu Laura tidak bisa menerima kenyataan ini. Mereka sering bertengkar. Namun, Ibu Laura pun sadar bahwa kondisi ini tidak baik bagi anak-anaknya. Akhirnya dia memilih untuk berdamai dengan keadaan. Dia mengambil alih tanggung jawab sebagai tulang punggung keluarga, memperjuangkan kehidupan yang terbaik bagi anak-anaknya.

Sungguh mulia hatinya, ibu yang sangat dicintai dan dihormati oleh anak-anaknya. Kita pun layak menghormatinya.

****

Inilah Informasi Tentang Life Squad dari Jawaban.Com:
Kehidupan kota besar seperti Jakarta yang kompleks dengan segala macam pernak pernik kehidupan mulai mengarah kepada kehidupan individualis. Dibalik rimbunnya gedung pencakar langit dan kemewahan hidup di kota metropolitan, terselip sisi-sisi kehidupan yang sangat memprihatinkan. Namun ada sekelompok anak muda yang peduli akan penderitaan orang-orang yang hidup di bawah garis kemiskinan. Saat ini mereka bergabung di Life Squad dan berkomitmen untuk membawa mereka keluar dari garis kesengsaraan.

Kita tahu bahwa keberadaan kita di dunia ini bukanlah suatu kebetulan. Kita mempunyai kesempatan yang sama untuk bisa bergabung dan menolong orang lain. Dalam hal ini, membuat perubahan yang positif dalam hidup orang lain membutuhkan komitmen, kerja keras, dan strategi yang matang.

Life Squad, sesuai dengan namanya yang berbau ‘misi' adalah program reality show Solusi Life yang mengajak anda melalui kaum muda yang tergabung dalam 3 tim yang berkompetisi untuk menolong 3 target. Tiga target adalah orang-orang (keluarga) yang ‘membutuhkan' dalam arti berada dalam tingkat sosial ekonomi rendah. Mereka bukan orang-orang malas yang tidak berbuat apa-apa, mereka bekerja keras, hanya saja mereka tidak memiliki kesempatan.

Disinilah 3 tim Life Squad berkenalan dengan masing-masing 3 target (1 tim Life Squad = 1 target), mengenal dan memperhitungkan apa yang menjadi kebutuhan bagi mereka (researching) dan melakukan fund raising (dengan kompetisi yang seru!) bagi target mereka. Dan bukan uang semata yang didapatkan oleh 3 target, tetapi bantuan real yang dapat menjadi batu lompatan bagi target yaitu modal usaha dan tempat tinggal yang lebih layak.

Segmen reality LIFE SQUAD ini juga ingin menunjukkan adanya pengorbanan yang tulus dan keinginan baik yang kuat dari para peserta yang terlibat dalam kompetisi LIFE SQUAD ini, karena target bukanlah menjadi sasaran kompetisi semata, tetapi menjadi teman bagi 3 tim anak muda untuk dibantu kehidupannya. Life Squad dirancang tidak hanya untuk sebuah permainan, tetapi untuk sebuah kegerakan (movement). Sumber: Jawaban.com

Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Wednesday, April 16, 2008

A Taste of A Hero

Seorang teman mengirim kisah ini yang dulu pernah saya baca namun selalu membuat saya terharu ketika membacanya lagi.

Pada sebuah jamuan makan malam pengadaan dana untuk sekolah anak-anak cacat, ayah dari salah satu anak yang bersekolah disana menghantarkan satu pidato yang tidak mungkin dilupakan oleh mereka yang menghadiri acara itu. Setelah mengucapkan salam pembukaan, ayah tersebut mengangkat satu topik:

"Ketika tidak mengalami gangguan dari sebab-sebab eksternal, segala proses yang terjadi dalam alam ini berjalan secara sempurna dan alami. Namun tidak demikian halnya dengan anakku, Shay. Dia tidak dapat mempelajari hal-hal sebagaimana layaknya anak-anak yang lain. Nah, bagaimanakah proses alami ini berlangsung dalam diri anakku?" Para peserta terdiam menghadapi pertanyaan itu.

Sang Ayah tersebut melanjutkan, "Saya percaya bahwa, untuk seorang anak seperti Shay, yang mana dia mengalami gangguan mental dan fisik sedari lahir, satu-satunya kesempatan untuk dia mengenali alam ini adalah dari bagaimana orang-orang sekitarnya memperlakukan dia."
Kemudian sang ayah tersebut menceritakan kisah berikut:
"Shay dan aku sedang berjalan-jalan di sebuah taman ketika beberapa orang anak sedang bermain baseball. Shay bertanya padaku, "Apakah kau pikir mereka akan membiarkanku ikut bermain?" Aku tahu bahwa kebanyakan anak-anak itu tidak akan membiarkan orang-orang seperti Shay ikut dalam tim mereka, namun aku juga tahu bahwa bila saja Shay mendapat kesempatan untuk bermain dalam tim itu, hal itu akan memberinya semacam perasaan dibutuhkan dan kepercayaan untuk diterima oleh orang-orang lain, diluar kondisi fisiknya yang cacat.

Aku mendekati salah satu anak laki-laki itu dan bertanya apakah Shay dapat ikut dalam tim mereka, dengan tidak berharap banyak. Anak itu melihat sekelilingnya dan berkata, "Kami telah kalah 6 putaran dan sekarang sudah babak kedelapan. Aku rasa dia dapat ikut dalam tim kami dan kami akan mencoba untuk memasukkan dia bertanding pada babak kesembilan nanti."

Shay berjuang untuk mendekat ke dalam tim itu dan mengenakan seragam tim dengan senyum lebar, dan aku menahan air mata di mataku dan kehangatan dalam hatiku. Anak-anak tim tersebut melihat kebahagiaan seorang ayah yang gembira karena anaknya diterima bermain dalam satu tim.

Pada akhir putaran kedelapan, tim Shay mencetak beberapa skor, namun masih ketinggalan angka. Pada putaran kesembilan, Shay mengenakan sarungnya dan bermain di sayap kanan. Walaupun tidak ada bola yang mengarah padanya, dia sangat antusias hanya karena turut serta dalam permainan tersebut dan berada dalam lapangan itu. Seringai lebar terpampang di wajahnya ketika aku melambai padanya dari kerumunan. Pada akhir putaran kesembilan, tim Shay mencetak beberapa skor lagi. Dan dengan dua angka out, kemungkinan untuk mencetak kemenangan ada di depan mata dan Shay yang terjadwal untuk menjadi pemukul berikutnya.

Pada kondisi yang seperti ini, apakah mungkin mereka akan mengabaikan kesempatan untuk menang dengan membiarkan Shay menjadi kunci kemenangan mereka? Yang mengejutkan adalah mereka memberikan kesempatan itu kepada Shay.

Semua yang hadir tahu bahwa satu pukulan adalah mustahil karena Shay bahkan tidak tahu bagaimana caranya memegang pemukul dengan benar, apalagi berhubungan dengan bola itu.

Yang terjadi adalah, ketika Shay melangkah maju ke dalam arena, sang pitcher, sadar bagaimana tim Shay telah mengesampingkan kemungkinan menang mereka untuk satu momen penting dalam hidup Shay, mengambil beberapa langkah maju ke depan dan melempar bola itu perlahan sehingga Shay paling tidak bisa mengadakan kontak dengan bola itu. Lemparan pertama meleset; Shay mengayun tongkatnya dengan ceroboh dan luput. Pitcher tersebut kembali mengambil beberapa langkah kedepan, dan melempar bola itu perlahan ke arah Shay. Ketika bola itu datang, Shay mengayun ke arah bola itu dan mengenai bola itu dengan satu pukulan perlahan kembali ke arah pitcher.

Permainan seharusnya berakhir saat itu juga, pitcher tersebut bisa saja dengan mudah melempar bola ke baseman pertama, Shay akan keluar, dan permainan akan berakhir.

Sebaliknya, pitcher itu melempar bola melewati baseman pertama, jauh dari jangkauan semua anggota tim. Penonton bersorak dan kedua tim mulai berteriak, "Shay, lari ke base satu! Lari ke base satu!". Tidak pernah dalam hidup Shay sebelumnya ia berlari sejauh itu, tapi dia berhasil melaju ke base pertama. Shay tertegun dan membelalakkan matanya.

Semua orang berteriak, "Lari ke base dua, lari ke base dua!"

Sambil menahan napasnya, Shay berlari dengan canggung ke base dua. Ia terlihat bersinar-sinar dan bersemangat dalam perjuangannya menuju base dua. Pada saat Shay menuju base dua, seorang pemain sayap kanan memegang bola itu di tangannya. Pemain itu merupakan anak terkecil dalam timnya, dan dia saat itu mempunyai kesempatan menjadi pahlawan kemenangan tim untuk pertama kali dalam hidupnya. Dia dapat dengan mudah melempar bola itu ke penjaga base dua. Namun pemain ini memahami maksud baik dari sang pitcher, sehingga diapun dengan tujuan yang sama melempar bola itu tinggi ke atas jauh melewati jangkauan penjaga base ketiga. Shay berlari menuju base ketiga.

Semua yang hadir berteriak, "Shay, Shay, Shay, teruskan perjuanganmu, Shay!" Shay mencapai base ketiga saat seorang pemain lawan berlari ke arahnya dan memberitahu Shay arah selanjutnya yang mesti ditempuh. Pada saat Shay menyelesaikan base ketiga, para pemain dari kedua tim dan para penonton yang berdiri mulai berteriak, "Shay, larilah ke home, lari ke home!". Shay berlari ke home, menginjak balok yg ada, dan dielu-elukan bak seorang hero yang memenangkan grand slam. Dia telah memenangkan game untuk timnya.

"Hari itu," kenang ayah tersebut dengan air mata yang berlinangan di wajahnya, "para pemain dari kedua tim telah menghadirkan sebuah cinta yang tulus dan nilai kemanusiaan ke dalam dunia." Shay tidak dapat bertahan hidup hingga musim panas berikut dan meninggal pada musim dingin itu. Sepanjang sisa hidupnya dia tidak pernah melupakan momen dimana dia telah menjadi seorang hero, bagaimana dia telah membuat ayahnya bahagia, dan bagaimana dia telah membuat ibunya menitikkan air mata bahagia akan sang pahlawan kecilnya.

Seorang bijak pernah berkata, sebuah masyarakat akan dinilai dari cara mereka memperlakukan seorang yang paling tidak beruntung di antara mereka.

Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Sorry, I Have Been Sick

Sorry, saya sakit dalam 4 hari terakhir ini.

Ditulis oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Friday, April 11, 2008

Healed From "Stevan Johnson Syndrome"

Sembuh Dari Sakit Stevan Johnson Syndrome
Tadi siang saya mendengarkan kesaksian yang luar biasa tentang seorang hamba Tuhan yang diselamatkan dari sebuah penyakit yang dikenal dengan "Stevan Johnson Syndrome". Pada suatu hari Samuel menderita sakit perut dan mata. Dia menelan pil untuk sakit perutnya dan ketika ke dokter mata diberi obat lagi. Setelah minum obat itu ternyata fatal akibatnya. Matanya buta, kulit di seluruh tubuhnya melepuh dan mengelupas semua. Ia dibawa ke Surabaya. Di rumah sakit ia hanya terbaring tak berdaya. Selama tiga bulan itu dia tidak bisa gosok gigi juga. Harapan sangat tipis bagi kesembuhan dari penyakit ini.

Menurut pengakuannya ia menderita penyakit ini karena telah melarikan diri dari pelayanan. Ketika ia bertobat dan memperbarui komitmennya untuk melayani, ia disembuhkan secara ajaib. Setelah tiga bulan tidak dapat gosok gigi, akibatnya salah satu giginya berlubang. Untuk mencabut gigi itu, dokter gigi tidak berani memberikan anestesi karena khawatir membahayakan kesehatannya. Jadinya Samuel dicabut gigi tanpa pembiusan. Karena kasih karunia Tuhan, proses cabut gigi itu dapat berlangsung lancar.

Namun sejak itu matanya tidak memiliki air mata dan penglihatannya kabur. Setiap 15 menit ia harus ditetesi obat mata karena matanya kering dan merah apabila tidak diberi tetes mata itu. Selama 10 tahun ini ia telah mengeluarkan dana sekitar Rp. 1,3 milyar untuk biaya obat tetes mata yang hanya bisa dibeli di Singapura atau di USA.

Jadi, kita sebenarnya harus bersyukur kalau masih bisa menangis. Harga airmata kita itu mahal. Apalagi tetesan airmata kita bagi Kerajaan Allah ditampung di kirbat-Nya. Sekarang ini Samuel menjadi gembala di Bontang dan telah memberikan kesaksian kemana-mana. Berikut di bawah ini adalah tulisan Pdt. Samuel sendiri, setelah saya edit tata-bahasa Inggrisnya agar lebih rapi.

****
Only by grace of Jesus I have had a new live through the healing that I have received from Lord Jesus. Thank You Jesus, You have recovered my health. I got the healing at the last week of January 1998. My healing surprized many nurses and doctors at the hospital. The doctor of Internist said that he didn't ever give me some antibiotics, he just gave me treatment with some tube and liquid only, also some vitamins. The others doctors also do the same thing, they just gave men the common medicines for treatment.

How could I get the healing from God?
Referring to 2 Chronicles 7:14, my mother, my aunt and my wife, all of them took time for fasting - prayer. I also humbled myself before God to ask His compassion eventhough with blind eyes, I surendered all of my life into His mighty hand. I got some bleeding at my nose, ears, throat, mammary gland, and also all of my twenty of my nails has loosened. I suffered a lot. I almost died because of the disease. But thanks to Jesus the Almighty God that He had great compassion and forgiven me.

After the healing, now I have a new life. Even though I don't have tears anymore and live with blurred sight but I always give thank to God. Since 1998 until right now I must use tears drop for my dry eyes. In every fifteen minutes I must put the tear drops into my both eyes. It costs very expensive. I must spend almost USD300 each month to buy the tear drops in Singapore, but God always provides all thing that I need miraculously. He never leaves me alone. I will bless the Lord with all my soul.

God also uses me to be His instrument like a vessel in His hand. It's a privilege that God chose me to be a pastor of His congregation at Bontang city. Many times He has sent me to other churches at many cities to be a testimony and speak about His Love in His miracle. I have gone to Surabaya, Solo, Jogjakarta, Bandung, Jakarta, Sumedang, Jember, Bondowoso, Situbondo, Manado,also to some nations. He used me to bring divine healing ministry to encourage and heal people. I still have many testimonies that I can not write down those at this website, someday if God desires I will share those personally. Everything is only By His Grace, to magnify His name.

Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Thursday, April 10, 2008

Demonic Possessed

Kesurupan
Selasa siang yang lalu datanglah ke kantor saya seorang gadis muda, katanya pegawai sebuah restoran Jepang di Mid Plaza. Narti, sebut saja begitu namanya, sejak Sabtu lalu kerasukan roh. Ketika itu Narti sedang bertengkar dengan pacarnya yang anggota ABRI. Sang pacar memukuli Narti dan mendorongnya dari loteng di tempat kost Narti. Ketika Narti hampir jatuh melayang, roh itu masuk. Narti tidak jadi jatuh, "terselamatkan" roh itu. Ternyata roh itu berlogat Batak dan mengaku Kristen. Nama roh itu "Amoy", mengaku disuruh Tuhan Yesus untuk melindungi dan menyelamatkan Narti.

Narti itu gadis manis, banyak yang iri kepadanya. Teman-teman wanitanya pada iri karena Narti banyak yang naksir. Teman-teman prianya banyak yang iri karena Narti sudah lengket dengan seorang anggota ABRI. Konon, anggota ABRI itu berhasil menggaet Narti dengan pelet atau guna-guna. Narti yang beragama seberang itu kemasukan roh yang mengaku orang Kristen dan disuruh Yesus melindunginya.

Roh Amoy mengaku dialah yang mengarahkan Narti untuk kost di bilangan Karet yang sekarang supaya Amoy dapat melindunginya, karena banyak orang yang berniat mencelakakan Narti. Dan memang Amoy tinggal di rumah kost Narti dari dahulu.

Saya melayani pelepasan itu ditemani teman-teman dan kakak Narti memegangi tubuh Narti yang suka ngamuk ketika kerasukan. Ketika Narti diajak percaya Tuhan Yesus selama pelayanan pelepasan itu, Narti menolak, karena ia takut terhadap pihak keluarganya. Ketika kami usir roh jahat itu, sebentar keluar, sebentar masuk lagi. Ketika kami naikkan pujian dan penyembahan, roh Amoy yang di dalam Narti tampak "menikmati" pujian dan penyembahan itu. Narti tenang, dan roh itu juga tenang diiringi pujian dan penyembahan kami.

Akhirnya kami usir roh itu. Saya katakan, "Kalau kamu sayang kepada Narti, tinggalkan dia sekarang, dia jadi kecapean gara-gara dimasuki kamu!"
"Gak mau! Saya disuruh Tuhan Yesus! Saya cinta Yesus. Saya masuk Narti untuk menolong dia supaya tidak celaka!"
"Jangan bohong!"
"Tidak!"
"Saya usir kamu kembali ke asalmu dalam Nama Tuhan Yesus!"
"Gak mau kembali ke asalku!"
"Ya, sudah, keluar aja!"
Roh Amoypun keluar. Lalu saya cepat-cepat berdoa agar Tuhan melindungi tubuh dan jiwanya supaya tidak kemasukan Amoy lagi.

Narti bilang, "Tuh, rohnya mau masuk dari kaki!" Cepat-cepat saya oleskan minyak urapan ke kakinya, dan berdoa kepada Tuhan untuk menutup segala celah. Akhirnya Narti tenang dan roh itu keluar.

Esoknya saya mendengar kabar bahwa ketika teman saya menginjili Narti, roh Amoy masuk lagi. Dia melarang teman saya menginjili Narti karena dia sudah percaya agamanya. Roh Amoy mengaku, dia sudah keluar lewat pelayanan pelepasan sebelumnya lalu masuk lagi, gara-gara Narti "terancam".

Ditulis oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Wednesday, April 9, 2008

Online Chatting with the Almighty (Imaginary)

TUHAN : Kamu memanggil-Ku ?

aku : Memanggilmu? Tidak.. Ini siapa ya?

TUHAN : Ini TUHAN. Aku mendengar doamu. Jadi Aku ingin berbincang-bincang denganmu.

aku : Ya, saya memang sering berdoa, hanya agar saya merasa lebih baik. Tapi sekarang saya sedang sibuk, sangat sibuk.

TUHAN : Sedang sibuk apa? Semut juga sibuk.

aku : Nggak tau ya. Yang pasti saya tidak punya waktu luang sedikitpun.
Hidup jadi seperti diburu-buru. Setiap waktu telah menjadi waktu sibuk.

TUHAN : Benar sekali. Aktivitas memberimu kesibukan. Tapi produktivitas memberimu hasil. Aktivitas memakan waktu, produktivitas membebaskan waktu.

aku : Saya mengerti itu. Tapi saya tetap tidak dapat menghindarinya. Sebenarnya, saya tidak mengharapkan Tuhan mengajakku chatting seperti ini.

TUHAN : Aku ingin memecahkan masalahmu dengan waktu, dengan memberimu beberapa petunjuk. Di era internet ini, Aku ingin menggunakan medium yang lebih nyaman untukmu daripada mimpi, misalnya.

aku : OKE, sekarang beritahu saya, mengapa hidup jadi begitu rumit?

TUHAN : Berhentilah menganalisa hidup. Jalani saja. Analisalah yang membuatnya jadi rumit.

aku : Kalau begitu mengapa kami manusia tidak pernah merasa senang?

TUHAN : Hari ini adalah hari esok yang kamu khawatirkan kemarin. Kamu merasa khawatir karena kamu menganalisa. Merasa khawatir menjadi kebiasaanmu.
Karena itulah kamu tidak pernah merasa senang.

aku : Tapi bagaimana mungkin kita tidak khawatir jika ada begitu banyak ketidak-pastian.

TUHAN : Ketidak-pastian itu tidak bisa dihindari. Tapi kekhawatiran adalah sebuah pilihan.

aku : Tapi, begitu banyak rasa sakit karena ketidak-pastian.

TUHAN : Rasa sakit tidak bisa dihindari, tetapi penderitaan adalah sebuah pilihan.

aku : Jika penderitaan itu pilihan, mengapa orang baik selalu menderita?

TUHAN : Intan tidak dapat diasah tanpa gesekan. Emas tidak dapat dimurnikan tanpa api. Orang baik melewati rintangan, tanpa menderita. Dengan pengalaman itu, hidup mereka menjadi lebih baik, bukan sebaliknya.

aku : Maksudnya pengalaman pahit itu berguna?

TUHAN : Ya. Dari segala sisi, pengalaman adalah guru yang keras. Guru pengalaman memberi ujian dulu, baru pemahamannya.

aku : Tetapi, mengapa kami harus melalui semua ujian itu? Mengapa kami tidak dapat hidup bebas dari masalah?

TUHAN : Masalah adalah rintangan yang ditujukan untuk meningkatkan kekuatan mental. Kekuatan dari dalam diri bisa keluar melalui perjuangan dan rintangan, bukan dari berleha-leha.

aku : Sejujurnya, di tengah segala persoalan ini, kami tidak tahu kemana harus melangkah...

TUHAN : Jika kamu melihat ke luar, maka kamu tidak akan tahu kemana kamu melangkah. Lihatlah ke dalam. Melihat ke luar, kamu bermimpi. Melihat ke dalam, kamu terjaga. Mata memberimu penglihatan. Hati memberimu arah.

aku : Kadang-kadang ketidakberhasilan membuatku menderita. Apa yang dapat saya lakukan?

TUHAN : Keberhasilan adalah ukuran yang dibuat oleh orang lain.
Kepuasan adalah ukuran yang dibuat olehmu sendiri. Mengetahui tujuan perjalanan akan terasa lebih memuaskan daripada mengetahui bahwa kau sedang berjalan. Bekerjalah dengan kompas, biarkan orang lain berkejaran dengan waktu.

aku : Di dalam saat-saat sulit, bagaimana saya bisa tetap termotivasi?

TUHAN : Selalulah melihat sudah berapa jauh saya berjalan, daripada masih berapa jauh saya harus berjalan. Selalu hitung yang harus kau syukuri, jangan hitung apa yang tidak kau peroleh.

aku : Apa yang menarik dari manusia?

TUHAN : Jika menderita, mereka bertanya "Mengapa harus aku?" Jika mereka bahagia, tidak ada yang pernah bertanya "Mengapa harus aku?"

aku : Kadangkala saya bertanya, siapa saya, mengapa saya di sini?

TUHAN : Jangan mencari siapa kamu, tapi tentukanlah ingin menjadi apa kamu. Berhentilah mencari mengapa saya di sini. Ciptakan tujuan itu. Hidup bukanlah proses pencarian, tapi sebuah proses penciptaan.

aku : Bagaimana saya bisa mendapatkan yang terbaik dalam hidup ini?

TUHAN : Hadapilah masa lalumu tanpa penyesalan. Peganglah saat ini dengan keyakinan. Siapkan masa depan tanpa rasa takut.

aku : Pertanyaan terakhir, Tuhan.
Seringkali saya merasa doa-doaku tidak dijawab.

TUHAN : Tidak ada doa yang tidak dijawab.
Seringkali jawabannya adalah TIDAK.

aku : Terima kasih Tuhan atas chatting yang indah ini.

TUHAN : Oke. Teguhlah dalam iman, dan buanglah rasa takut. Hidup adalah misteri untuk dipecahkan, bukan masalah untuk diselesaikan. Percayalah kepada-Ku. Hidup itu indah jika kamu tahu cara untuk hidup.

Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Life is Beautiful

Seorang anak laki-laki buta duduk di tangga sebuah bangunan dengan sebuah topi terbalik di kakinya untuk menampung sumbangan dari orang-orang lewat. Ia menaruh sebuah karton putih dengan tulisan: "Saya buta, tolonglah saya."

Di topi itu terlihat sedikit koin. Seseorang berjalan mendekat. Ia mengambil beberapa koin dari kantungnya dan menjatuhkannya di topi itu. Ia kemudian mengambil karton putih itu, membaliknya dan menuliskan beberapa kata. Ia menaruh kembali karton putih itu sehingga setiap orang yang berjalan melewati anak buta itu dapat membaca kata-kata barunya.

Dengan segera topi itu mulai dipenuhi koin. Banyak orang mau memberi uang kepada anak buta itu. Sore harinya lelaki yang telah mengganti perkataan di karton putih itu datang lagi untuk melihat bagaimana hasilnya. Anak laki-laki buta itu mengenali lelaki itu dari langkah-langkah kakinya, sehingga ia bertanya, "Apakah bapak adalah orang yang mengganti tulisan di karton putih tadi pagi? Apa sih yang bapak tulis?"

"Saya hanya menuliskan kebenaran. Saya menuliskan apa yang engkau tulis tapi dengan cara berbeda." Apa yang ia tulis adalah: "Hari ini hari yang indah, namun saya tak dapat melihatnya."

Apakah karton dengan tulisan pertama dan kedua sama? Tentu saja kedua tulisan itu mengatakan kepada orang-orang lewat bahwa anak itu buta. Karton dengan tulisan kedua mengatakan bahwa mereka sangat beruntung dapat melihat hari yang indah karena mereka tidak buta. Janganlah heran kalau karton kedua lebih efektif mengajak orang bersyukur dan mendorong orang-orang untuk memberi uang kepada anak buta itu.

Bersyukurlah atas setiap yang ada pada kita ataupun yang tidak ada pada kita.

Ayo, kita kreatif.

Ayo, kita inovatif.

Berpikirlah dengan cara lain dan dengan positif.

Ajaklah orang-orang untuk berbuat baik dengan cara bijaksana.

Jalanilah kehidupan tanpa berdalih dan kasihilah orang lain tanpa penyesalan. Andaikan kehidupan memberikan anda 100 alasan untuk menangis, tunjukkanlah dalam kehidupan bahwa anda memiliki 100 alasan untuk tersenyum.

Hadapilah masa lalu tanpa penyesalan.

Siapkan masa depan tanpa ketakutan.

Pertahankan iman dan buanglah ketakutan.

Jangan percayai keraguan anda dan jangan ragukan keyakinan anda.

Hidup ini indah seandainya anda tahu bagaimana menjalani kehidupan. Setiap hari itu istimewa sesuai dengan keinginan anda.... dan buatlah hari ini luar biasa!


***

A blind boy sat on the steps of a building with a hat by his feet. He held up a sign which said: "I am blind, please help."

There were only a few coins in the hat. A man was walking by. He took a few coins from his pocket and dropped them into the hat. He then took the sign, turned it around, and wrote some words. He put the sign back so that everyone who walked by would see the new words.

Soon the hat began to fill up. A lot more people were giving money to the blind boy. That afternoon the man who had changed the sign came to see how things were. The boy recognized his footsteps and asked, "Were you the one who changed my sign this morning? What did you write?"

The man said, "I only wrote the truth. I said what you said but in a different way."

What he had written was: "Today is a beautiful day & I cannot see it."

Do you think the first sign and the second sign were saying the same thing? Of course both signs told people the boy was blind. But the first sign simply said the boy was blind. The second sign told people they were so lucky that they were not blind. Should we be surprised that the second sign was more effective?

Be thankful for what you have and what you do not have.

Be creative.

Be innovative.

Think differently and positively.

Invite the people towards good with wisdom.

Live life with no excuse and love with no regrets. When life gives you a 100 reasons to cry, show life that you have 1000 reasons to smile.

Face your past without regret.

Handle your present with confidence.

Prepare for the future without fear.

Keep the faith and drop the fear.

Don't believe your doubts and doubt your beliefs.

Life is wonderful if you know how to live. Each day is as special as you want it to be………MAKE IT GREAT

Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Kesaksian Pembaca Buku "Mukjizat Kehidupan"

Pada tanggal 28 Oktober 2009 datang SMS dari seorang Ibu di NTT, bunyinya:
"Terpujilah Tuhan karena buku "Mukjizat Kehidupan", saya belajar untuk bisa mengampuni, sabar, dan punya waktu di hadirat Tuhan, dan akhirnya Rumah Tangga saya dipulihkan, suami saya sudah mau berdoa. Buku ini telah jadi berkat buat teman-teman di Pasir Panjang, Kupang, NTT. Kami belajar mengasihi, mengampuni, dan selalu punya waktu berdoa."

Hall of Fame - Daftar Pembaca Yang Diberkati Buku Mukjizat Kehidupan

  • A. Rudy Hartono Kurniawan - Juara All England 8 x dan Asian Hero
  • B. Pdt. DR. Ir. Niko Njotorahardjo
  • C. Pdt. Ir. Djohan Handojo
  • D. Jeffry S. Tjandra - Worshipper
  • E. Pdt. Petrus Agung - Semarang
  • F. Bpk. Irsan
  • G. Ir. Ciputra - Jakarta
  • H. Pdt. Dr. Danny Tumiwa SH
  • I. Erich Unarto S.E - Pendiri dan Pemimpin "Manna Sorgawi"
  • J. Beni Prananto - Pengusaha
  • K. Aryanto Agus Mulyo - Partner Kantor Akuntan
  • L. Ir. Handaka Santosa - CEO Senayan City
  • M. Pdt. Drs. Budi Sastradiputra - Jakarta
  • N. Pdm. Lim Lim - Jakarta
  • O. Lisa Honoris - Kawai Music Shool Jakarta
  • P. Ny. Rachel Sudarmanto - Jakarta
  • Q. Ps. Levi Supit - Jakarta
  • R. Pdt. Samuel Gunawan - Jakarta
  • S. F.A Djaya - Tamara Jaya - By Pass Ngurah Rai - Jimbaran - Bali
  • T. Ps. Kong - City Blessing Church - Jakarta
  • U. dr. Yoyong Kohar - Jakarta
  • V. Haryanto - Gereja Katholik - Jakarta
  • W. Fanny Irwanto - Jakarta
  • X. dr. Sylvia/Yan Cen - Jakarta
  • Y. Ir. Junna - Jakarta
  • Z. Yudi - Raffles Hill - Cibubur
  • ZA. Budi Setiawan - GBI PRJ - Jakarta
  • ZB. Christine - Intercon - Jakarta
  • ZC. Budi Setiawan - CWS Kelapa Gading - Jakarta
  • ZD. Oshin - Menara BTN - Jakarta
  • ZE. Johan Sunarto - Tanah Pasir - Jakarta
  • ZF. Waney - Jl. Kesehatan - Jakarta
  • ZG. Lukas Kacaribu - Jakarta
  • ZH. Oma Lydia Abraham - Jakarta
  • ZI. Elida Malik - Kuningan Timur - Jakarta
  • ZJ. Luci - Sunter Paradise - Jakarta
  • ZK. Irene - Arlin Indah - Jakarta Timur
  • ZL. Ny. Hendri Suswardani - Depok
  • ZM. Marthin Tertius - Bank Artha Graha - Manado
  • ZN. Titin - PT. Tripolyta - Jakarta
  • ZO. Wiwiek - Menteng - Jakarta
  • ZP. Agatha - PT. STUD - Menara Batavia - Jakarta
  • ZR. Albertus - Gunung Sahari - Jakarta
  • ZS. Febryanti - Metro Permata - Jakarta
  • ZT. Susy - Metro Permata - Jakarta
  • ZU. Justanti - USAID - Makassar
  • ZV. Welian - Tangerang
  • ZW. Dwiyono - Karawaci
  • ZX. Essa Pujowati - Jakarta
  • ZY. Nelly - Pejaten Timur - Jakarta
  • ZZ. C. Nugraheni - Gramedia - Jakarta
  • ZZA. Myke - Wisma Presisi - Jakarta
  • ZZB. Wesley - Simpang Darmo Permai - Surabaya
  • ZZC. Ray Monoarfa - Kemang - Jakarta
  • ZZD. Pdt. Sunaryo Djaya - Bethany - Jakarta
  • ZZE. Max Boham - Sidoarjo - Jatim
  • ZZF. Julia Bing - Semarang
  • ZZG. Rika - Tanjung Karang
  • ZZH. Yusak Prasetyo - Batam
  • ZZI. Evi Anggraini - Jakarta
  • ZZJ. Kodden Manik - Cilegon
  • ZZZZ. ISI NAMA ANDA PADA KOLOM KOMENTAR UNTUK DIMASUKKAN DALAM DAFTAR INI