Search This Blog

Thursday, February 28, 2008

Healing Movement

Seorang gadis puteri seorang Pendeta menderita sakit sinusitis yang akut. Dokter Spesialis telah melakukan CT Scan terhadap bagian kepala dan otaknya dan ternyata bagian otaknya sudah terkena cairan dari saluran sinus itu, sehingga dokter menyarankan operasi segera karena keadaan itu membahayakan keselamatan gadis itu. Itu kejadian pada hari Jumat. Sang pendeta tentu saja tidak bisa mengambil keputusan tentang operasi tadi. Selain biaya operasi itu mahal, pendeta ini masih percaya adanya mukjizat kesembuhan dari Tuhan. Ia terus berdoa memohon Tuhan Yesus untuk turun tangan menyembuhkan penyakit anaknya.

Pada hari Minggu berikutnya di gereja itu pelayan firman adalah Pendeta Danny Tumiwa SH. Setelah khotbah beliau memainkan gitar sembari menyembah Tuhan. Suara gitar itu memang enak didengar, maklumlah dulu beliau adalah seorang pemain gitar jagoan.
Apa yang terjadi setelah petikan gitar melantun dengan suara bening? Di tengah-tengah penyembahan kepada Tuhan melalui petikan gitarnya, jemaat mengalami macam-macam. Ada yang berteriak keras karena dilepaskan dari kuasa setan, ada yang dijamah sakit penyakitnya.

Gadis yang sakit sinusitis yang biasa melayani di gereja sebagai singer itu hadir di dalam ibadah raya itu. Pada saat petikan gitar mengalun, tiba-tiba ia merasakan ada jamahan kuasa Tuhan turun ke atas kepalanya, mengalir ke dalam, lalu ia merasa tersedak karena ada sesuatu di lehernya yang ingin keluar. Cepat-cepat ia berlari ke dalam toilet. Di sana ia tak tahan lagi ingin muntah. Dari lehernya keluar melalui mulutnya gumpalan daging berbalut darah dan nanah, menjijikkan sekali. Seketika itu juga ia merasakan kelegaan. Sinusitisnya sembuh, bahkan sakit radang amandelnya juga sembuh. Bagian kepalanya terasa enteng. Ia baru saja mengalami mukjizat dari Tuhan.

Untuk meyakinkan bahwa penyakitnya disembuhkan, gadis ini diantar ayahnya yang pendeta memeriksakan diri lagi ke dokter. Gadis ini di-CT Scan lagi. Ketika membandingkan dua hasil foto CT-Scan itu dokter hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. Foto yang satu menunjukkan bagian kepalanya dipenuhi cairan dari sinusitis, foto yang kedua bersih sama sekali, tidak ada kelainan apa-apa. "Selama puluhan tahun saya berpraktek dokter, tidak pernah melihat kejadian aneh seperti ini. Benar-benar mukjizat yang terjadi pada anak bapak!" kata sang dokter takjub.
(Sumber Kesaksian: Pendeta Resa Solihin)

Ditulis oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

What should I do to marry a rich guy?

Berikut ini ada kisah lucu yang diposting seorang gadis muda dan cantik di sebuah forum:

Judul: Apa yang Harus Aku Lakukan Untuk Menikah Dengan Seorang Pemuda Kaya?

Aku ingin jujur saja tentang apa yang akan aku katakan di sini. Aku berusia 25 tahun sekarang. Aku sangat cantik, bergaya dan punya selera yang baik. Aku ingin menikah dengan seorang pemuda dengan gaji tahunan $ 500 ribu atau lebih. Anda boleh bilang aku ini mata duitan, tetapi gaji tahunan sebesar $ 1 juta dianggap cuma termasuk golongan menengah di kota New York.

Persyaratanku tidaklah muluk-muluk amat. Apakah di forum ini ada pemuda yang memiliki pendapatan tahunan $ 500 ribu?

Aku ingin bertanya: apa yang harus aku lakukan untuk menikah dengan orang kaya seperti anda? Diantara pemuda yang pernah pacaran denganku, yang paling kaya adalah dengan gaji tahunan $ 250 ribu, dan itu nampaknya merupakan batas yang paling mentok bagiku. Kalau anda ingin pindah ke daerah hunian dengan biaya tinggi di bagian barat New York City Garden, maka gaji tahunan sebesar $ 250 ribu tidaklah memadai.

Dengan rendah hati aku ingin mengajukan pertanyaan-pertanyaan ini:
1) Dimana pemuda-pemuda kaya biasa berkumpul? (Mohon sebutkan nama dan alamat bar, restoran, atau gym)?
2) Kelompok umur berapa yang harus menjadi targetku?
3) Mengapa kebanyakan isteri-isteri orang kaya berwajah biasa saja? Aku pernah berjumpa dengan isteri-isteri seperti itu yang wajahnya tidak cantik dan menarik, namun mereka bisa menikah dengan pria-pria kaya.
4) Bagaimana anda memutuskan siapa yang pantas untuk diajak kencan saja, dan siapa yang dapat diajak menikah? (Targetku sekarang adalah menikah).

Tertanda,
Nona Cantik
---------------


Inilah sebuah jawaban yang datang dari seorang Spesialis Keuangan di Wall Street:

Nona Cantik,
Aku sudah membaca posting anda dengan penuh perhatian. Tentulah di luar sana banyak gadis seperti kamu dengan pertanyaan yang mirip.

Izinkan aku menganalisis situasimu sebagai seorang ahli investasi yang profesional.

Gaji tahunanku sekarang lebih dari $ 500 ribu, yang pasti memenuhi persyaratanmu, sehingga aku berharap setiap orang akan percaya bahwa aku tidak main-main di sini.

Dari sudut pandang seorang usahawan, menikahi kamu merupakan keputusan yang buruk. Jawabannya sangat sederhana, maka biarlah aku jelaskan.

Kalau mengabaikan hal-hal lain, apa yang kamu coba lakukan adalah sebuah barter antara ”kecantikan” dengan ”uang”: Gadis A menyediakan kecantikan, dan Pemuda B membayar kecantikan itu, adil dan seimbang. Namun ada masalah yang gawat di sini, kecantikanmu akan pudar, namun uangku tidak akan habis tanpa alasan yang kuat.

Kenyataannya, pendapatanku akan meningkat dari tahun ke tahun, namun kamu tidak akan lebih cantik tahun demi tahun.

Oleh karena itu dari sudut pandang perekonomian, aku adalah harta yang makin meningkat, sedangkan kamu adalah harta yang makin menyusut. Penyusutannya bukan yang biasa, tetapi penyusutan dengan berlipat ganda. Seandainya kecantikan adalah satu-satunya hartamu, nilai dirimu akan sangat mengkhawatirkan 10 tahun kemudian.

Dengan istilah yang kami gunakan di Wall Street, setiap ”jual beli” memiliki posisi, dan berkencan dengan kamu merupakan posisi jual beli. Jika nilai jual beli itu merosot, maka kami siap menjualnya karena tidaklah bijaksana mempertahankan posisi seperti itu untuk jangka panjang. Hal yang sama berlaku untuk pernikahan yang kamu harapkan.

Mungkin terdengar kejam kalau aku katakan begini, namun untuk mengambil keputusan yang bijak, setiap harta yang nilainya makin merosot akan harus dijual atau disewakan.

Setiap orang yang memiliki gaji tahunan $ 500 ribu bukanlah orang bodoh. Kami hanya mau berkencan denganmu, tetapi tak mau menikah denganmu.

Aku ingin menasihatkan kamu agar melupakan saja ide untuk menikah dengan pemuda kaya. Dan ngomong-ngomong, kamu dapat membuat dirimu menjadi orang kaya dengan gaji tahunan $ 500 ribu. Hal ini pasti meningkatkan kesempatanmu menemukan pria kaya yang bodoh.

Semoga jawaban ini menolong. Jika kamu tertarik memberikan jasa ”persewaan” dirimu, silakan hubungi aku.

Tertanda,
J.P Morgan.
(Diterjemahkan oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com)

*****

A young and pretty lady posted this on a popular forum:

Title: What should I do to marry a rich guy?

I'm going to be honest of what I'm going to say here.
I'm 25 this year. I'm very pretty, have style and good taste.
I wish to marry a guy with $500k annual salary or above.
You might say that I'm greedy, but an annual salary of $1M is considered only as middle class in New York.

My requirement is not high. Is there anyone in this forum who has an income of $500k annual salary?

I wanted to ask: what should I do to marry rich persons like you?
Among those I've dated, the richest is $250k annual income, and it seems that this is my upper limit.
If someone is going to move into high cost residential area on the west of New York City Garden (?), $250k annual income is not enough.

I'm here humbly to ask a few questions:
1) Where do most rich bachelors hang out? (Please list down the names and addresses of bars, restaurant, gym)
2) Which age group should I target?
3) Why most wives of the riches is only average-looking? I've met a few girls who doesn't have looks and are not interesting, but they are able to marry rich guys
4) How do you decide who can be your wife, and who can only be your girlfriend? (my target now is to get married)

Ms. Pretty
----------

Here's a reply from a Wall Street Finance Specialist:

Dear Ms. Pretty,
I have read your post with great interest. Guess there are lots of girls out there who have similar questions like yours.

Please allow me to analyze your situation as a professional investor.

My annual income is more than 500k, which meets your requirement, so I hope everyone believes that I am not wasting time here.

From the standpoint of a business person, it is a bad decision to marry you. The answer is very simple, so let me explain.

Put the details aside, what you're trying to do is an exchange of "beauty" and "money": Person A provides beauty, and Person B pays for it, fair and square. However, there's a deadly problem here, your beauty will fade, but my money will not be gone without any good reason. The fact is, my income might increase from year to year, but you can't be prettier year after year

Hence from the viewpoint of economics, I am an appreciation asset, and you are a depreciation asset. It's not just a normal depreciation, but an exponential depreciation. If that is your only asset, your value will be much worried 10 years later.

By the terms we use in Wall Street, every trading has a position, dating with you is also a "trading position". If the trade value drop we will sell it and it is not a good idea to keep it for a long term. Same goes with the marriage that you wanted.

It might be cruel to say this, but in order to make a wiser decision, any assets with great depreciation value will be sold or "leased".

Anyone with over $500k annual income is not a fool; we would only date you, but will not marry you. I would advice that you forget looking for any clues to marry a rich guy. And by the way, you could make yourself to become a rich person with $500k annual income. This has better chance than finding a rich fool.

Hope this reply helps. If you are interested in "leasing" services, do contact me.

Signed,

J.P. Morgan

Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Wednesday, February 27, 2008

The Window

Jendela
Dua orang pria, keduanya sakit parah, menempati kamar perawatan yang sama di sebuah Rumah Sakit. Pria yang satu diijinkan duduk di tempat tidurnya selama satu jam sehari untuk menurunkan cairan di paru-parunya. Tempat tidur pria ini bersebelahan dengan jendela satu-satunya di kamar itu. Pria yang lainnya harus tidur berbaring sepanjang hari.

Kedua pria itu sering ngobrol berjam-jam. Mereka berbicara tentang isteri mereka, keluarga mereka, rumah mereka, pekerjaan mereka, dinas mereka di ketentaraan, dimana mereka sedang cuti. Dan setiap sore hari ketika pria yang tempat tidurnya bersebelahan dengan jendela itu bangkit duduk, ia tidak melewatkan untuk menceritakan teman sekamarnya di Rumah Sakit itu segala hal yang ia dapat lihat di luar jendela sana.

Pria di tempat tidur seberang sana akan bersemangat sekali selama satu jam ketika dunianya diperluas dan dihidupkan oleh segala aktivitas dan warna warni di dunia luar sana. Jendela itu menghadap sebuah taman dekat sebuah danau yang sangat indah, kata pria di dekat jendela itu. Ada bebek dan angsa bermain di air, sementara anak-anak berlayar dengan perahu. Banyak pasangan kekasih berjalan bergandengan tangan diantara bunga-bunga dengan warna-warni seindah pelangi. Pepohonan yang tinggi dan tua menambah keanggunan taman itu, dan pemandangan yang indah dan jelas ke arah kota dengan gedung-gedung pencakar langit terlihat dari jendela itu di kejauhan. Sementara pria di sebelah jendela itu menerangkan semua hal itu dengan terinci dan sangat hidup, pria di seberang sana akan menutup matanya dan membayangkan pemandangan yang digambarkan itu.

Pada suatu sore yang hangat pria di sebelah jendela itu menjelaskan sebuah parade yang sedang melintas di kejauhan sana. Meskipun pria di seberang tempat tidurnya tidak dapat mendengarkan bunyi-bunyian dari band yang sedang lewat, ia dapat membayangkan di pikirannya ketika pria di sebelah jendela itu menggambarkan dengan kata-kata yang panjang lebar. Tiba-tiba, pikiran yang aneh mendatangi otaknya: Mengapa teman yang satu ini boleh menikmati segala pemandangan aneh lewat jendela itu sementara aku tidak pernah dapat melihat apa-apa? Nampaknya itu tidak adil. Begitu pikiran itu mengendap di kepalanya, pria ini merasa malu pada mulanya. Namun begitu hari-hari berlalu dan ia kehilangan kesempatan untuk melihat banyak pemandangan, iri hatinya berubah menjadi kekecewaan dan akhirnya menjadi kepahitan. Ia mulai uring-uringan dan sulit tidur. Ia seharusnya berada dekat jendela itu – dan pikiran itu sekarang merasuki kehidupannya.

Pada suatu malam yang telah larut, ketika ia berbaring memandangi langit-langit di kamarnya, pria di sebelah jendela itu mulai batuk-batuk. Ia tersedak oleh cairan di paru-parunya. Pria di seberang jendela itu melihat dalam cahaya temaram ketika pria dekat jendela itu berjuang untuk memencet tombol pertolongan. Meskipun ia melihat semua itu, ia tidak bergerak, tidak memencet tombolnya yang seharusnya dapat memanggil perawat segera datang ke kamar mereka. Dalam waktu kurang dari lima menit, suara batuk dan tersedak itu berhenti, demikian juga suara tarikan napas dari pria di dekat jendela itu. Kini, semuanya sunyi – kesunyian yang mencekam dan menebarkan aroma kematian.

Pada pagi hari berikutnya, perawat datang membawa air untuk memandikan mereka. Ketika perawat menemukan jasad pria di dekat jendela itu, ia sangat sedih dan memanggil perawat lain untuk membawa keluar jenasah itu, tanpa kata dan tanpa keributan. Ketika waktunya dirasakan tepat, pria yang masih tinggal di kamar itu meminta agar ia dipindahkan ke dekat jendela itu. Perawat senang saja memenuhi permintaan itu dan setelah memastikan pria itu telah nyaman di tempat tidurnya yang baru, sang perawat meninggalkan pria itu sendirian.

Pelan-pelan, dengan kesakitan, ia memaksakan dirinya untuk bangkit dan melihat ke luar jendela. Akhirnya, ia akan melihat pemandangan yang indah itu langsung. Ia menegakkan kepalanya dan berusaha melihat ke seberang jendela di sebelah tempat tidurnya. Jendela itu ternyata menghadap ke dinding pagar yang putih polos.

Moral Cerita:
Mengejar kebahagiaan itu hanya soal pilihan. Kalau pilihan kita itu berupa sikap positif yang selalu kita pilih untuk dinyatakan, kita akan selalu mendapat kebahagiaan tak peduli kenyataan di depan kita. Kebahagiaan itu bukanlah kado yang selalu diantar setiap pagi di depan pintu rumah kita, bukan pula kado yang dikirim melewati jendela kita. Dan saya yakin bahwa keadaan sekitar kita hanyalah bagian kecil yang membuat kita bersuka cita. Seandainya kita terus menanti keadaan sekitar untuk menjadi baik, kita tidak akan pernah menemukan sukacita yang bertahan lama.

Mengejar kebahagiaan merupakan perjalanan di dalam batin. Pikiran kita ibarat program, yang menantikan kode yang akan menentukan perilaku kita, seperti ruang penyimpanan berpintu besi di bank yang menanti simpanan kita. Seandainya kita mendepositokan pikiran positif yang memberi semangat dan membangun, seandainya kita selalu menggigit bibir kita sebelum kita mengomel dan mengeluh, seandainya kita akan mengenyahkan pikiran negatif sebelum pikiran negatif itu beranak pinak, kita akan menemukan bahwa di sana banyak yang dapat kita syukuri dan kita rayakan dengan penuh sukacita. (Diterjemahkan oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com)

***

Two men, both seriously ill, occupied the same hospital room. One man was allowed to sit up in his bed for an hour a day to drain the fluids from his lungs. His bed was next to the room's only window. The other man had to spend all his time flat on his back.

The men talked for hours on end. They spoke of their wives and families, their homes, their jobs, their involvement in the military service, where they had been on vacation. And every afternoon when the man in the bed next to the window could sit up, he would pass the time by describing to his roommate all the things he could see outside the window.

The man in the other bed would live for those one-hour periods where his world would be broadened and enlivened by all the activity and color of the outside world. The window overlooked a park with a lovely lake, the man had said. Ducks and swans played on the water while children sailed their model boats. Lovers walked arm in arm amid flowers of every color of the rainbow. Grand old trees graced the landscape, and a fine view of the city skyline could be seen in the distance. As the man by the window described all this in exquisite detail, the man on the other side of the room would close his eyes and imagine the picturesque scene.

One warm afternoon the man by the window described a parade passing by. Although the other man could not hear the band, he could see it in his mind's eye as the gentleman by the window portrayed it with descriptive words. Unexpectedly, an alien thought entered his head: Why should he have all the pleasure of seeing everything while I never get to see anything? It didn't seem fair. As the thought fermented, the man felt ashamed at first. But as the days passed and he missed seeing more sights, his envy eroded into resentment and soon turned him sour. He began to brood and found himself unable to sleep. He should be by that window - and that thought now controlled his life.

Late one night, as he lay staring at the ceiling, the man by the window began to cough. He was choking on the fluid in his lungs. The other man watched in the dimly lit room as the struggling man by the window groped for the button to call for help. Listening from across the room, he never moved, never pushed his own button which would have brought the nurse running. In less than five minutes, the coughing and choking stopped, along with the sound of breathing. Now, there was only silence--deathly silence.

The following morning, the day nurse arrived to bring water for their baths. When she found the lifeless body of the man by the window, she was saddened and called the hospital attendant to take it away--no words, no fuss. As soon as it seemed appropriate, the man asked if he could be moved next to the window. The nurse was happy to make the switch and after making sure he was comfortable, she left him alone.

Slowly, painfully, he propped himself up on one elbow to take his first look. Finally, he would have the joy of seeing it all himself. He strained to slowly turn to look out the window beside the bed. It faced a blank wall.

Moral of the story:
The pursuit of happiness is a matter of choice...it is a positive attitude we consciously choose to express. It is not a gift that gets delivered to our doorstep each morning, nor does it come through the window. And I am certain that our circumstances are just a small part of what makes us joyful. If we wait for them to get just right, we will never find lasting joy.

The pursuit of happiness is an inward journey. Our minds are like programs, awaiting the code that will determine behaviors; like bank vaults awaiting our deposits. If we regularly deposit positive, encouraging, and uplifting thoughts, if we continue to bite our lips just before we begin to grumble and complain, if we shoot down that seemingly harmless negative thought as it germinates, we will find that there is much to rejoice about.

Diterjemahkan oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Tuesday, February 26, 2008

The Toilet

Seorang pengusaha selalu memberi tip Rp. 100.000,- kepada penjaga toilet, dimanapun itu. Lho, kenapa? Pengusaha ini bercerita kepada Yosia Abdisaputera, seorang Pendeta, bahwa kehidupannya berubah di sebuah toilet. Saat krisis moneter dulu, ia harus menanggung utang yang besar. Kalau dihitung-hitung ia harus mencicil utangnya selama sepuluh tahun. Wah lama benar?

Hidupnya tampak suram, tanpa masa depan. Namun semua itu berubah ketika ia masuk ke sebuah toilet dan bertemu dengan seorang teman lamanya. Dari pembicaraan ringan di toilet itu teman lamanya menawarkan bantuan keuangan dengan bunga yang ringan. Singkat cerita, masalah bisnisnya kemudian dapat diselesaikan gara-gara pertemuan di toilet itu.

Sejak saat itu kalau ia ingat kejadian di toilet tadi ia selalu bersyukur dipertemukan Tuhan dengan teman lamanya di sebuah toilet. Sebagai ungkapan syukurnya, salah satunya, ia selalu memberi tip Rp. 100.000,- kepada penjaga toilet yang terbengong-bengong dibuatnya.

Ditulis oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Monday, February 25, 2008

Columbine Love Story

Rachel Scott adalah murid SMA pertama yang dibunuh di SMA Columbine, Amerika Serikat, pada bulan tanggal 20 April 1999, bersama 11 siswa SMA lainnya dan seorang guru SMA oleh seorang penembak yang kalap. Namun terutama kematian Rachel berdampak luas. Jika sebelumnya banyak orang mempertanyakan dimanakah Tuhan yang penuh kasih pada hari pembantaian di SMA itu, dengan kesaksian orangtua Rachel, banyak orang dikuatkan dan diperkenalkan pada keselamatan dalam Kristus. Kalau sebelumnya orang mempertanyakan: kalau Tuhan itu penuh kasih, mengapa pembunuhan itu dibiarkan terjadi, mengapa Rachel dan kawan-kawan tidak diselamatkan dari penembakan itu, sekarang mereka tahu bahwa Allah tetap memegang kendali dan bahwa Allah turut bekerja dalam segala perkara untuk mendatangkan kebaikan bagi orang-orang yang mengasihi Dia.

Kebaikan hati dan kasih sayangnya kepada orang-orang lain beserta dengan enam buku hariannya telah menjadi dasar bagi bangkitnya suatu gerakan di sekolah-sekolah Amerika Serikat yang banyak mengubah kehidupan : Rachel’s Challenge.

Inilah beberapa kesaksian tentang Rachel:
1. ”Rachel memiliki gaya unik memiringkan kepalanya ketika ia sedang berpikir dengan serius. Dan saya ingat akan senyumannya yang indah. Ia mempunyai dorongan kuat untuk mencapai sebanyak mungkin. Manakala ia merasakan suatu ketidak-adilan yang menimpa seseorang, tidak peduli urusannya kecil atau nampak tidak begitu penting, dorongan kuat dari dalam dirinya akan bangkit dan ia akan siap berdiri membela siapapun yang ia rasa diperlakukan tidak semestinya.” (Darrell Scott – ayah Rachel)

2. ”Orang-orang sering bertanya kepada saya,’Seperti apa sih Rachel sebagai adik?’ Saya selalu mengatakan, Ia adalah gadis normal seperti halnya adik-adik perempuan saya yang lain. Ia riang, baik, dramatis... Kadang-kadang kami cocok satu sama lain, kadang-kadang tidak. Rachel itu orang yang mudah dicintai. Meskipun Rachel itu adik perempuan saya yang paling bungsu, namun saya menghormatinya.” (Bethannee Scott – kakak Rachel)

3. ”Rachel itu satu-satunya gadis yang datang ke Pesta Sekolah memakai gaun hitam. Setiap siswa-siswi lainnya memakai pakaian atau gaun yang cerah atau warna pastel, tetapi ia satu-satunya yang memakai gaun hitam. Tidak ada yang mengalahkan keanggunan Rachel, dan tak ada gaun yang lebih cocok selain gaun hitam itu bagi Rachel. Ia datang bagai bintang film yang memasuki pentas Oscars. Ia tidak melakukan itu supaya tampak berbeda atau tidak mau memakai apa yang dipakai kebanyakan orang. Ia memakai gaun hitam itu karena itulah gaun yang paling cocok baginya.” (Nick Baumgart – teman dan pacar Rachel)

4. ”Saya ingat pada suatu malam Halloween. Saya memakai kostum Zorro ke sekolah, dan saya sangat kesal memakai kostum yang Ibu buat itu karena membuat saya tampak jelek. Dan Rachel datang kepada saya dan berkata, ’Apa yang salah dengan kostum kamu, Serge? Aku suka Zorro. Aku ingin menjadi seperti dia. Apa kamu mau bertukar kostum dengan saya?’ Sejak saat itu kami jadi berteman baik. ” (Sergio Gonzales – teman Rachel)

5. ”Rachel adalah orang yang paling hebat dan paling penuh kasih yang saya pernah jumpai dalam hidup ini. Sebelum ia meninggal ia mengambil buku diary saya, dan menuliskan kata-kata ini: ’Sarah, jangan biarkan karaktermu berubah warna sesuai dengan lingkunganmu. Temukan siapa dirimu dan biarkan jati dirimu tinggal dengan warna sejatinya.'” (Sarah Scott – saudari sepupu Rachel)

6. ”Rachel menjalani kehidupan yang dipenuhi dengan kebaikan dan belas kasih, dan karena itu ia mempengaruhi dunia.” (Craig Scott – kakak Rachel)

Ayah Rachel menunjukkan gambar jari-jari tangan Rachel yang dibuat ketika berusia 13 tahun di atas tripleks. Tulisan di gambar itu berbunyi: ”Inilah tangan Rachel Jones Scott dan tangan ini suatu hari akan menjamah hati banyak orang.”

Pada hari kematiannya Rachel menggambar di buku hariannya. Gambar itu berupa sepasang mata dengan tiga belas titik air mata menetes ke arah sekuntum bunga mawar yang sedang merekah. Tiga belas titik air mata itu merupakan pengorbanan tiga belas orang yang mati ditembak pada hari itu di SMA Columbine. Ada seorang pendeta yang bermimpi, bahwa ia melihat titik air mata menetes dari mata Rachel dan jatuh ke bumi. Setelah itu tetesan air mata Rachel menumbuhkan bunga yang indah. Orang lain lagi mengingatkan ayat firman Tuhan dari Yeremia 31:15 ”Beginilah firman TUHAN: Dengar! Di Rama terdengar ratapan, tangisan yang pahit pedih: Rahel menangisi anak-anaknya, ia tidak mau dihibur karena anak-anaknya, sebab mereka tidak ada lagi.”

Dengan kematian Rachel, orang-orang tahu apa artinya pengampunan, karena orang tua dan saudara-saudara Rachel mengampuni penembak biadab yang gila itu. Mereka menyatakan kasih dan pengampunan Kristus melalui peristiwa yang tragis itu. Sekarang orang tidak lagi mempertanyakan apakah Allah masih mengasihi, masih memegang kendali atas peristiwa-peristiwa. Ya, semuanya itu terjadi untuk mendatangkan kebaikan bagi orang-orang yang mengasihi Dia.

Ditulis oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Friday, February 22, 2008

The Lizard

Kadal

Ini sebuah kisah nyata yang terjadi di Jepang.
Ketika sedang merenovasi sebuah rumah, seseorang mencoba merontokan tembok. Rumah di Jepang biasanya memiliki ruang kosong di antara tembok yang terbuat dari kayu. Ketika tembok mulai rontok, dia menemukan seekor kadal terperangkap di antara kiruang kosong itu karena kakinya melekat pada sebuah paku. Dia merasa kasihan sekaligus penasaran.

Lalu ketika dia mengecek paku itu, ternyata paku tersebut telah ada di situ 10 tahun lalu ketika rumah itu pertama kali dibangun. Apa yang terjadi? Bagaimana kadal itu dapat bertahan dengan kondisi terperangkap selama 10 tahun? Dalam keadaan gelap selama 10 tahun, tanpa bergerak sedikitpun, itu adalah sesuatu yang mustahil dan tidak masuk akal. Orang itu lalu berpikir, bagaimana kadal itu dapat bertahan hidup selama 10 tahun tanpa berpindah dari tempatnya sejak kakinya melekat pada paku itu!

Orang itu lalu menghentikan pekerjaannya dan memperhatikan kadal itu, apa yang dilakukan dan apa yang dimakannya hingga dapat bertahan. Kemudian, tidak tahu darimana datangnya, seekor kadal lain muncul dengan makanan di mulutnya....AHHHH! Orang itu merasa terharu melihat hal itu. Ternyata ada seekor kadal lain yang selalu memperhatikan kadal yang terperangkap itu selama 10 tahun.

Sungguh ini sebuah cinta...cinta yang indah. Cinta dapat terjadi bahkan pada hewan yang kecil seperti dua ekor kadal itu. Apa yang dapat dilakukan oleh cinta? Tentu saja sebuah keajaiban. Bayangkan, kadal itu tidak pernah menyerah dan tidak pernah berhenti memperhatikan pasangannya selama 10 tahun. Bayangkan bagaimana hewan yang kecil itu dapat memiliki karunia yang begitu mengagumkan.

Saya tersentuh ketika mendengar cerita ini. Lalu saya mulai berpikir tentang hubungan yang terjalin antara keluarga, teman, kekasih, saudara lelaki, saudara perempuan. Berusahalah semampumu untuk tetap dekat dengan orang-orang yang kita kasihi. JANGAN PERNAH MENGABAIKAN ORANG YANG ANDA KASIHI! (Sumber: Internet)

Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Thursday, February 21, 2008

The Sport Car

Seorang anak muda sedang bersiap untuk diwisuda dari suatu perguruan tinggi. Selama beberapa bulan ia telah mengidam-idamkan mobil sport yang sangat indah di sebuah dealer mobil, dan karena ia tahu ayahnya mampu membelikan mobil seperti itu, maka ia menyampaikan kepada ayahnya keinginan hatinya.

Ketika hari wisuda makin mendekat, anak muda itu menanti-nanti tanda dari ayahnya bahwa ia telah membelikan mobil sport itu. Akhirnya pada pagi hari di hari wisuda itu ayahnya memanggil anaknya ke ruang kerja pribadi di rumahnya. Ayahnya memberitahukan pemuda itu betapa ia bangga memiliki anak seperti dia, dan memberitahu anaknya betapa ia sangat mengasihinya. Ia menyerahkan kepada anaknya sebuah kotak kado yang dibungkus dengan sangat indah.

Dengan sangat ingin tahu, namun agak kecewa anak muda itu membuka kotak kado dan menemukan sebuah Alkitab yang bersampul kulit. Dengan marah, ia berkata dengan suara keras kepada ayahnya, ”Dengan semua kekayaan ayah, ayah hanya memberi saya Alkitab ini saja?” dan ia bergegas keluar dari rumahnya serta meninggalkan kitab suci itu.

Tahun demi tahun berlalu dan anak muda itu telah berhasil dalam bisnisnya. Ia memiliki rumah yang indah dan keluarga yang bahagia, tetapi kini ia menyadari ayahnya telah sangat tua, dan ia berpikir untuk mengunjunginya. Ia tidak pernah bertemu ayahnya sejak hari wisuda itu. Sebelum ia mengadakan persiapan apa-apa, ia menerima sebuah telegram yang mengabarkan bahwa ayahnya telah tiada, dan mewariskan semua kekayaan ayahnya itu kepadanya. Ia perlu segera datang ke rumah ayahnya dan membereskan segala sesuatunya.

Ketika ia sampai di rumah ayahnya, tiba-tiba ia merasa sedih dan menyesal. Ia mulai mencari kertas atau dokumen penting milik ayahnya. Dan ia melihat Alkitab yang masih baru itu, tepat seperti yang ia tinggalkan bertahun-tahun lalu. Dengan bercucuran air mata ia membuka Alkitab itu dan membalik-balik halamannya. Ketika ia membaca Alkitab dan membalik ke bagian akhir Alkitab, sebuah anak kunci mobil jatuh keluar dari amplop di bagian sampul belakang Alkitab itu. Di gantungan kunci itu tertera nama dealer mobilnya, dealer mobil yang menjual mobil sport yang dulu ia idam-idamkan. Pada gantungan kunci itu tertera tanggal wisudanya, dan kata-kata: TELAH DIBAYAR LUNAS.

Berapa banyak kita telah kehilangan berkat Allah karena berkat-berkat itu dibungkus dengan cara yang tidak kita duga? (Sumber: Internet. Diterjemahkan oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN http://pentas-kesaksian.blogspot.com)

***

The Sport Car

A young man was getting ready to graduate college. For many months he had admired a beautiful sports car in a dealer's showroom, and knowing his father could well afford it, he told him that was all he wanted.

As Graduation Day approached, the young man awaited signs that his father had purchased the car. Finally, on the morning of his graduation his father called him into his private study. His father told him how proud he was to have such a fine
son, and told him how much he loved him. He handed his son a beautiful wrapped gift box.

Curious, but somewhat disappointed the young man opened the box and found a lovely, leather-bound Bible. Angrily, he raised his voice at his father and said, "With all your money you give me a Bible?" and stormed out of the house, leaving the holy
book.

Many years passed and the young man was very successful in business. He had a beautiful home and wonderful family, but realized his father was very old, and thought perhaps he should go to him. He had not seen him since that graduation day. Before he could make arrangements, he received a telegram telling him his father had passed away, and willed all of his possessions to his son. He needed to come home immediately and take care things. When he arrived at his father's house, sudden sadness and regret filled his heart.

He began to search his father's important papers and saw the still new Bible, just as he had left it years ago. With tears, he opened the Bible and began to turn the pages. As he read those words, a car key dropped from an envelope taped behind the Bible. It had a tag with the dealer's name, the same dealer who had the sports car he had desired. On the tag was the date of his graduation, and the words...PAID IN FULL.

How many times do we miss God's blessings because they are not packaged as we expected?

Diterjemahkan oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Unconditional Love

Kisah ini dulu pernah saya baca dan sekarang masih memberikan inspirasi. Kisahnya tentang seorang serdadu Amerika Serikat yang akhirnya akan pulang ke rumah setelah berperang di Vietnam. Ia menelpon orangtuanya dari San Fransisko.

”Ayah dan Ibu, saya mau pulang ke rumah, tetapi ada satu permintaan saya. Saya punya seorang sahabat yang saya akan ajak pulang ke rumah bersama saya.”

”Tentu saja boleh,” kata mereka, ”kami pasti senang bertemu dengannya.”

”Ada sesuatu yang harus kalian ketahui,” anaknya melanjutkan, ”ia terluka cukup parah dalam peperangan. Ia menginjak ranjau darat dan kehilangan sebuah lengan dan kakinya. Ia tidak punya tempat tinggal dimanapun, dan saya ingin ia tinggal bersama kita.”

”Saya sedih mendengarnya, anakku. Mungkin kita dapat menolongnya mencari tempat tinggal lain.”

”Jangan, Ayah dan Ibu, saya ingin ia tinggal bersama kita.”

”Anakku, kata ayahnya, ”kamu tidak tahu apa yang kamu minta. Seseorang dengan cacat seperti itu akan menjadi beban yang sangat memberatkan bagi kita. Kita masih harus meneruskan kehidupan kita, dan kita tidak akan biarkan kesusahan seperti itu mengacaukan kehidupan kita. Saya pikir kamu pulang saja dan lupakan pemuda cacat itu. Ia akan menemukan jalan hidupnya sendiri.”

Pada saat itu juga sang anak menaruh gagang telpon. Kedua orangtua itu tidak mendengar apa-apa lagi dari anaknya. Namun beberapa hari kemudian mereka menerima telpon dari kantor polisi San Fransisko. Anak mereka meninggal setelah jatuh dari atas suatu bangunan, begitu kata mereka. Polisi percaya bahwa pemuda itu telah bunuh diri. Kedua orangtua yang sangat kaget dan sedih itu terbang ke San Fransisko dan dibawa ke kamar jenazah untuk mengenali jenazah anaknya. Mereka mengenali pemuda itu sebagai anaknya, namun yang sangat mengejutkan, mereka mendapati tubuh anaknya tanpa satu lengan dan satu kaki. Dialah pemuda cacat yang mereka tolak sendiri.

Kedua orangtua itu mengingatkan tentang diri kita yang lebih mengasihi orang yang tampan atau cantik, atau menyenangkan untuk hidup bersama. Kita lebih suka menjauhkan diri kita dari orang cacat, orang sakit, orang sengsara. Untungnya, kita memiliki Seseorang yang mengasihi kita tanpa syarat: tidak peduli apakah kita tampan atau tidak, orang cacat atau tidak, orang benar atau tidak. Semua dikasihi tanpa syarat, oleh Tuhan Yesus Kristus. Puji Tuhan! (Diterjemahkan oleh Hadi Kristadi untuk http://pentas-kesaksian.blogspot.com)

***

A story is told about a soldier who was finally coming home after having fought in Vietnam. He called his parents from San Francisco.

"Mom and Dad, I'm coming home, but I've a favor to ask. I have a friend I'd like to bring home with me."

"Sure," they replied, "we'd love to meet him."

"There's something you should know”, the son continued, "he was hurt pretty badly in the fighting. He stepped on a land mine and lost an arm and a leg. He has nowhere else to go, and I want him to come live with us."

"I'm sorry to hear that, son. Maybe we can help him find somewhere to live."

"No, Mom and Dad, I want him to live with us."

"Son," said the father, "you don't know what you're asking. Someone with such a handicap would be a terrible burden on us. We have our own lives to live, and we can't let something like this interfere with our lives. I think you should just come home and forget about this guy. He'll find a way to live on his own."

At that point, the son hung up the phone. The parents heard nothing more from him. A few days later, however, they received a call from the San Francisco police. Their son had died after falling from a building, they were told. The police believed it was suicide. The grief-stricken parents flew to San Francisco and were taken to the city morgue to identify the body of their son. They recognized him, but to their horror they also discovered something they didn't know, their son had only one arm and one leg.

The parents in this story are like many of us. We find it easy to love those who are good-looking or fun to have around, but we don't like people who inconvenience us or make us feel uncomfortable. We would rather stay away from people who aren't as healthy, beautiful, or smart as we are. Thankfully, there's someone who won't treat us that way. Someone who loves us with an unconditional love that welcomes us into the forever family, regardless of how messed up we are.

Diterjemahkan oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Wednesday, February 20, 2008

The Guardian And The Sculpture

Berikut ini adalah kisah yang sudah lama saya dengar, namun masih patut kita renungkan:

Penjaga & Patung Yesus

Di salah satu gereja di Eropa Utara, ada sebuah patung Yesus Kristus yang disalib, ukurannya tidak jauh berbeda dengan manusia pada umumnya. Karena yakin segala permohonan pasti bisa dikabulkan-Nya, maka orang berbondong-bondong datang secara khusus kesana untuk berdoa, berlutut dan menyembah, hampir dapat dikatakan halaman gereja penuh sesak seperti pasar.

Di dalam gereja itu ada seorang penjaga pintu, melihat Yesus yang setiap hari berada di atas kayu salib, harus menghadapi begitu banyak permintaan orang, ia pun merasa iba dan di dalam hati ia berharap bisa ikut memikul beban penderitaan Yesus Kristus. Pada suatu hari, sang penjaga pintu pun berdoa menyatakan harapannya itu kepada Yesus.

Di luar dugaan, ia mendengar sebuah suara yang mengatakan, "Baiklah! Aku akan turun menggantikan kamu sebagai penjaga pintu, dan kamu yang naik di atas salib itu, namun apapun yang kau dengar, janganlah mengucapkan sepatah kata pun." Si penjaga pintu merasa permintaan itu sangat mudah.

Lalu, Yesus turun, dan penjaga itu naik ke atas, menjulurkan sepasang lengannya seperti Yesus yang dipaku diatas kayu salib. Karena itu orang-orang yang datang bersujud, tidak menaruh curiga sedikit pun. Si penjaga pintu itu berperan sesuai perjanjian sebelumnya, yaitu diam saja tidak boleh berbicara sambil mendengarkan isi hati orang-orang yang datang.

Orang yang datang tiada habisnya, permintaan mereka pun ada yang rasional dan ada juga yang tidak rasional, banyak sekali permintaan yang aneh-aneh. Namun, demikian, si penjaga pintu itu tetap bertahan untuk tidak bicara, karena harus menepati janji sebelumnya.

Pada suatu hari datanglah seorang saudagar kaya, setelah saudagar itu selesai berdoa, ternyata kantung uangnya tertinggal. Ia melihatnya dan ingin sekali memanggil saudagar itu kembali, namun terpaksa menahan diri untuk tidak berbicara. Selanjutnya datanglah seorang miskin yang sudah tiga hari tidak makan, ia berdoa kepada Yesus agar dapat menolongnya melewati kesulitan hidup ini. Ketika hendak pulang ia menemukan kantung uang yang ditinggalkan oleh saudagar tadi, dan begitu dibuka, ternyata isinya uang dalam jumlah besar. Orang miskin itu pun kegirangan bukan main, "Yesus benar-benar baik, semua permintaanku dikabulkan!" Dengan amat bersyukur ia lalu pergi.

Di atas kayu salib, "Yesus" ingin sekali memberitahunya, bahwa itu bukan miliknya. Namun karena sudah ada perjanjian, maka ia tetap menahan diri untuk tidak berbicara. Berikutnya, datanglah seorang pemuda yang akan berlayar ke tempat yang jauh. Ia datang memohon agar Yesus memberkati keselamatannya. Saat hendak meninggalkan gereja, saudagar kaya itu menerjang masuk dan langsung mencengkram kerah baju si pemuda, dan memaksa si pemuda itu mengembalikan uangnya. Si pemuda itu tidak mengerti keadaan yang sebenarnya, lalu keduanya saling bertengkar.

Di saat demikian, tiba-tiba dari atas kayu salib "Yesus" akhirnya angkat bicara. Setelah semua masalahnya jelas, saudagar kaya itu pun kemudian pergi mencari orang miskin itu, dan si pemuda yang akan berlayar pun bergegas pergi, karena khawatir akan ketinggalan kapal.

Yesus yang asli kemudian muncul, menunjuk ke arah kayu salib itu sambil berkata, "Turunlah kamu! Kamu tidak layak berada di sana." Penjaga itu berkata, "Aku telah mengatakan yang sebenarnya, dan menjernihkan persoalan serta memberikan keadilan, apakah salahku?"

"Kamu itu tahu apa?", kata Yesus. "Saudagar kaya itu sama sekali tidak kekurangan uang, uang di dalam kantung bermaksud untuk dihambur- hamburkannya. Namun bagi orang miskin, uang itu dapat memecahkan masalah dalam kehidupannya sekeluarga. Yang paling kasihan adalah pemuda itu. Jika saudagar itu terus bertengkar dengan si pemuda sampai ia ketinggalan kapal, maka si pemuda itu mungkin tidak akan kehilangan nyawanya. Tapi sekarang kapal yang ditumpanginya sedang tenggelam di tengah laut."

Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Tuesday, February 19, 2008

From Bandit To Film Star

Ketika masih muda Sellen Fernandez dikenal sebagai jagoan di kota Medan, Sumatera Utara. Di kota yang pernah dikenal sebagai pangkalan preman ini, Sellen seakan kehabisan lahan untuk melebarkan kekuasaannya. Tampil seorang diri, semua lahan bandit dijadikan sarana untuk bertarung, untuk membuktikan bahwa dirinya lebih pantas dijadikan simbol kekuatan dan kekuasaan. ”Pokoknya saya siap ’membeli’ jika ada yang ’jual’. Kalau ada yang menantang, saya akan lawan dia.” katanya pada waktu itu.

Meskipun postur badannya kurus, namun dia tidak punya rasa takut terhadap siapapun. Selama puluhan tahun berkiprah di dunia preman, jagoan preman ini nyaris diangkat sebagai kepala bandit dari suku Tamil di Medan. Kakeknya memang berasal dari Tamil, India.

Sejak SD memang ia hobby berkelahi. Sellen kerap menghantam rekan sesama murid SD yang dia tidak sukai. Boleh dikatakan selama sekolah, energinya banyak terkuras untuk adu jotos, bukan untuk belajar. Bahkan beberapa orang guru dan kepala sekolah turut menjadi korban bogem mentahnya. Akibat ulahnya itu, Sellen berulang kali diskors dan tidak naik kelas. ”Untuk sampai di kelas tiga SD saja, saya harus menghabiskan waktu enam tahun,” katanya.

Kelakuannya yang tidak lazim ini menjadi perhatian serius pihak sekolah maupun keluarganya. Beragam upaya, termasuk ritual keagamaan, telah dilakukan keluarga untuk memulihkan kelakuan Sellen dari aksi brutalnya, namun usaha mereka tidak membuahkan hasil.

Sellen adalah anak ketiga dari empat bersaudara yang dilahirkan dari keluarga Hindu yang sangat fanatik. Dari empat bersaudara, hanya Sellen yang berkelakuan buruk dan menjadi aib bagi keluarga. Bahkan sang bunda semakin sedih dan miris mendengar anaknya berikrar, ”Saya ingin menjadi kepala bandit!”

Pria kelahiran Medan 45 tahun silam ini sebenarnya sadar, selain tidak memiliki masa depan, ”profesi” tersebut akan berisiko tinggi terhadap keselamatan jiwanya. Dengan segala konsekuensi itu, Sellen malah tidak gentar dan terus berjuang meraih cita-citanya tersebut.

Selama malang melintang di dunia kriminal dan piawai menjatuhkan lawan, Sellen berkali-kali mengalami musibah yang nyaris merenggut nyawanya. Salah satunya, ia pernah digebuki puluhan oknum aparat negara. ”Karena salah paham, saya jadi bulan-bulanan mereka. Untung saja mereka tidak menggunakan sangkur untuk membunuh saya,” kata Sellen.

Bertobat
Sepak terjang Sellen kerap menggelisahkan masyarakat setempat maupun gerombolan-gerombolan bandit lainnya di Medan. Namun tak seorang pemuka agamapun yang berhasil meluruskan jalan kehidupan Sellen. Tradisi kekerasan telah mengikat dirinya sejak masa kecil, dan sangat sulit dikembalikan menjadi baik kalau bukan karena kuasa Tuhan. Apa yang mustahil bagi manusia, itu sangat mungkin bagi orang-orang yang sungguh beriman dan percaya kepada Tuhan.

Keperkasaannya yang sangat dibanggakan selama ini langsung rontok ketika salah seorang mantan bandit yang lebih dahulu bertobat merangkulnya dan membisikkan sesuatu tentang Tuhan Yesus ke telinganya. ”Sellen, Yesus itulah Tuhan. Maukah kamu didoakan?” kata Sellen menirukan ucapan sahabatnya itu. Usai mendengar kalimat itu, dia merasakan suatu roh masuk ke dalam dirinya dan Sellen mengangguk menerima tawaran itu.

Sebelumnya pria yang fasih berbahasa Batak dan bermacam bahasa lain ini melihat sesuatu yang aneh pada sosok temannya itu. Beberapa waktu kemudian setelah dia bertobat, Sellen baru sadar bahwa temannya itu dilingkupi oleh Roh Kudus. Kemudian mereka berdua mengucapkan Doa Bapa Kami. ”Ternyata Doa Bapa Kami itu sangat dahsyat!” ujarnya.

Awalnya Sellen mewartakan Injil kepada keluarga dan kawanan preman di Medan. Semula sang ibu menentang keras keputusan anaknya pindah agama karena petuah turun menurun tidak boleh dilanggar: ”Lahir sebagai Hindu harus mati sebagai Hindu”, demikian ikrar mereka yang perlahan redup setelah satu per satu anggota keluarganya menyerahkan hidup mereka kepada Kristus. Sesuai firman Tuhan: ”satu orang diselamatkan, maka seisi rumahnya akan diselamatkan”. Itulah yang terjadi pada keluarga Fernandez, nama yang sering dipakainya setelah bertobat.

Perubahan radikal yang ditunjukkan Sellen jelas mengundang kebingungan kawan maupun lawannya selama ini. Sejak dipakai Tuhan sebagai hamba-Nya, banyak kawanan bandit di Medan putar haluan, dari ”pendekar” menjadi ”pendeta”. Puluhan seniornya dari multi-etnis yang belum percaya kepada Kristus menawarkan kepada Fernandez uang puluhan juta rupiah dan fasilitas mewah agar Fernandez menyangkali imannya dan kembali ke kepercayaan lamanya, namun itu semua ditolaknya. ”Walaupun ditodong pistol, itu tidak akan menggoyahkan iman saya,” kata pria yang sekarang ini rajin beribadah di Gereja Tiberias di Jakarta ini.

Kota Medan yang kala itu rawan dengan pertikaian antar preman, sekraang berangsur tenang setelah Fernandez turun ke jalan dan aktif mendamaikan gang-gang yang berseteru. Berdasarakan pedoman Injil dia mengajarkan kasih dan nilai-nilai kekristenan dan berhasil melunakkan ketegaran hati mereka. Bahkan nyawanya pernah dipertaruhkan ketika kedua kelompok berseteru dan siap baku tembak. Bagi Fernandez, hanya kuasa Tuhan Yesus yang sanggup memulihkan tabiat mereka.

Sejak mengarungi kehidupan bersama Tuhan Yesus, mukjizat demi mukjizat tidak pernah berhenti menghampiri Fernandez, termasuk memperistri seorang gadis yang telah diidamkan selama belasan tahun. Mereka akhirnya dipersatukan Tuhan meski sebelumnya gadis itu tinggal di India. ”Kalau dipikir-pikir, rasanya mustahil kami bisa bersatu dan menjadi suami isteri seperti sekarang. Begitu ajaib Tuhan Yesus itu!” kata pria yang sudah dikaruniai lima orang anak itu.

Hijrah Ke Jakarta
Kesuksesan Fernandez meredam konflik dan mendamaikan berbagai pihak yang bermusuhan di Medan, terendus oleh berbagai kelompok di Jakarta. Diapun diundang untuk mendamaikan kelompok-kelompok preman yang cenderung mudah tersulut perang gara-gara rebutan lahan bisnis. Karena aktivitasnya dalam merangkul preman di Jakarta, Fernandez sering bertemu dengan Hercules. Hercules menyapa Fernandez sebagai ”pendeta”, Fernandez menyapa Hercules sebagai ”veteran”. “Sedangkan Yorris Raweyai itu sahabat lama saya,” katanya.

Lewat kiprahnya menjembatani perbedaan yang kerap muncul di kalangan preman, dia ditawari pekerjaan sebagai ‘debt collector’. Tidak lama kemudian diapun berkiprah di dunia akting. Dia pernah bermain pada beberapa sinetron, seperti : Bellavista, Mutiara Onta, Selalu Untuk Selamanya, Zig Zag, Suami Isteri Dan Dia, Selma Dan Ular Siluman. Suksesnya di dunia sinetron mengantar Fernandez bermain film di beberapa negara. Saat ini dia juga bermain dalam film layar lebar terbaru, berjudul “Ayat-Ayat Cinta”. (Sumber : Reformata edisi 76 – Februari 2008)

Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Monday, February 18, 2008

Walking With The Snail

Berjalan Bersama Keong
Tuhan memberiku sebuah tugas, yaitu membawa keong jalan-jalan. Aku tak dapat jalan terlalu cepat, keong sudah berusaha keras merangkak. Setiap kali hanya beralih sedemikian sedikit. Aku mendesak, menghardik, memarahinya. Keong memandangku dengan pandangan meminta-maaf, serasa berkata : "Aku sudah berusaha dengan segenap tenaga!"

Aku menariknya, menyeret, bahkan menendangnya, keong terluka. Ia mengucurkan keringat, nafas tersengal-sengal, merangkak ke depan. Sungguh aneh, mengapa Tuhan memintaku mengajak seekor keong berjalan-jalan?

Ya, Tuhan! Mengapa? Langit sunyi-senyap. Biarkan saja keong merangkak di depan, aku kesal di belakang. Pelankan langkah, tenangkan hati....

Oh? Tiba-tiba tercium aroma bunga, ternyata ini adalah sebuah taman bunga. Aku rasakan hembusan sepoi angin, ternyata angin malam demikian lembut. Ada lagi! Aku dengar suara kicau burung, suara dengung serangga. Aku lihat langit penuh bintang cemerlang. Wow! Mengapa dulu tidak rasakan semua ini?

Barulah aku teringat, mungkin aku telah salah menduga! Ternyata Tuhan meminta keong menuntunku jalan-jalan sehingga aku dapat mamahami dan merasakan keindahan taman ini yang tak pernah kualami kalau aku berjalan sendiri dengan cepatnya. "He's here and with me for a reason."

***

Saat bertemu dengan orang yang benar-benar engkau kasihi haruslah berusaha memperoleh kesempatan untuk bersamanya seumur hidupmu. Karena ketika dia telah pergi, segalanya telah terlambat.

Saat bertemu teman yang dapat dipercaya, rukunlah bersamanya. Karena seumur hidup manusia, teman sejati tak mudah ditemukan.

Saat bertemu penolongmu, ingatlah untuk bersyukur kepadanya. Karena dialah yang mengubah hidupmu.

Saat bertemu orang yang pernah kaucintai, ingatlah dia dengan tersenyum untuk berterima-kasih. Karena dialah orang yang membuatmu lebih mengerti tentang kasih.

Saat bertemu orang yang pernah kaubenci, sapalah dia dengan tersenyum. Karena dia membuatmu semakin teguh dan kuat.

Saat bertemu orang yang pernah mengkhianatimu, baik-baiklah dan berbincanglah dengannya. Karena jika bukan karena dia, hari ini engkau tak memahami dunia ini.

Saat bertemu orang yang pernah diam-diam kau cintai, berkatilah dia. Karena saat kau mencintainya, bukankah berharap dia bahagia?

Saat bertemu orang yang tergesa-gesa meninggalkanmu, berterima-kasihlah bahwa dia pernah ada dalam hidupmu. Karena dia adalah bagian dari nostalgiamu.

Saat bertemu orang yang pernah salah-paham kepadamu, gunakan saat tersebut untuk menjelaskannya. Karena engkau mungkin hanya punya satu kesempatan itu saja untuk menjelaskan.

Saat bertemu orang yang saat ini menemanimu seumur hidup, berterima-kasihlah sepenuhnya bahwa dia mencintaimu. Karena saat ini kalian mendapatkan kebahagiaan dan cinta sejati. (Dari Milis Sebelah)

Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

The Boys of Good Character

Posting ini berasal dari Milis Sebelah, bagus untuk kita renungkan:

Siang ini February 6, 2008, tanpa sengaja, saya bertemu dua manusia super. Mereka makhluk makhluk kecil, kurus, kumal berbasuh keringat. Tepatnya di atas jembatan penyeberangan Setia Budi, dua sosok kecil berumur kira kira delapan tahun menjajakan tissue dengan wadah kantong plastik hitam.

Saat menyeberang untuk makan siang mereka menawari saya tissue di ujung jembatan, dengan keangkuhan khas penduduk Jakarta saya hanya mengangkat tangan lebar-lebar tanpa tersenyum yang dibalas dengan sopannya oleh mereka dengan ucapan, "Terima kasih, Om!" Saya masih tak menyadari kemuliaan mereka dan cuma mulai membuka sedikit senyum seraya mengangguk ke arah mereka.

Kaki-kaki kecil mereka menjelajah lajur lain diatas jembatan, menyapa seorang laki laki lain dengan tetap berpolah seorang anak kecil yang penuh keceriaan, laki laki itupun menolak dengan gaya yang sama dengan saya, lagi lagi sayup-sayup saya mendengar ucapan terima kasih dari mulut kecil mereka. Kantong hitam tempat stok tissue dagangan mereka tetap teronggok disudut jembatan tertabrak derai angin Jakarta. Saya melewatinya dengan lirikan ke arah dalam kantong itu, dua pertiga terisi-tissue putih berbalut plastik transparan.

Setengah jam kemudian saya melewati tempat yang sama dan mendapati mereka tengah mendapatkan pembeli seorang wanita, senyum diwajah mereka terlihat berkembang seolah memecah mendung yang sedang manggayut langit Jakarta.

"Terima kasih ya, mbak! Semuanya dua ribu lima ratus rupiah!" tukas mereka. Tak lama si wanita merogoh tasnya dan mengeluarkan selembar uang sepuluh ribu rupiah.

"Maaf, nggak ada kembaliannya. Ada uang pas nggak, mbak?" Mereka menyodorkan kembali uang tersebut. Si wanita menggeleng, lalu dengan sigapnya anak yang bertubuh lebih kecil menghampiri saya yang tengah mengamati mereka bertiga pada jarak empat meter.

"Om, boleh tukar uang nggak, receh 10 uang ribuan?" suaranya mengingatkan kepada anak lelaki saya yang seusia mereka. Sedikit terhenyak saya merogoh saku celana dan hanya menemukan uang sisa kembalian dari Food Court sebesar empat ribu rupiah.

"Nggak punya!" tukas saya. Lalu tak lama si wanita berkata, "Ambil saja kembaliannya, dik!" sambil berbalik badan dan meneruskan langkahnya ke arah ujung sebelah timur.

Anak ini terkesiap, ia menyambar uang empat ribuan saya dan menukarnya dengan uang sepuluh ribuan tersebut dan meletakkannya ke genggaman saya yang masih tetap berhenti, lalu ia mengejar wanita tersebut untuk memberikan uang empat ribu rupiah tadi.

Si wanita kaget, setengah berteriak ia bilang, "Sudah buat kamu saja, nggak apa-apa ambil saja!" Namun mereka berkeras mengembalikan uang tersebut. "Maaf mbak, cuma ada empat ribu. Nanti kalau lewat sini lagi saya kembalikan!" Akhirnya uang itu diterima si wanita karena si kecil pergi meninggalkannya.

Tinggallah episode saya dan mereka. Uang sepuluh ribu di genggaman saya tentu bukan sepenuhnya milik saya. Mereka menghampiri saya dan berujar, "Om, bisa tunggu ya? Saya ke bawah dulu untuk tukar uang ke tukang ojek!"
"Eeh ..nggak usah ..nggak usah ..biar aja ..nih !" saya kasih uang itu ke si kecil, ia menerimanya tapi terus berlari ke bawah jembatan menuruni tangga yang cukup curam menuju ke kumpulan tukang ojek.

Saya hendak meneruskan langkah tapi dihentikan oleh anak yang satunya, "Nanti dulu Om , biar ditukar dulu ...sebentar"

"Nggak apa-apa, itu buat kalian," lanjut saya.

"Jangan ..jangan Om. Itu uang om sama mbak yang tadi juga," anak itu bersikeras.

"Sudah .. saya ikhlas. Mbak tadi juga pasti ikhlas!" saya berusaha mem-bargain, namun ia menghalangi saya sejenak dan berlari ke ujung jembatan berteriak memanggil temannya untuk segera cepat. Secepat kilat juga ia meraih kantong plastik hitamnya dan berlari ke arah saya.

"Ini deh Om, kalau kelamaan, maaf." Ia memberi saya delapan pack tissue.

"Buat apa?" saya terbengong.

"Habis teman saya lama sih, Om. Maaf, tukar pakai tissue aja dulu," walau dikembalikan ia tetap menolak.

Saya tatap wajahnya, perasaan bersalah muncul pada rona mukanya. Saya kalah set. Ia tetap kukuh menutup rapat tas plastik hitam tissuenya. Beberapa saat saya mematung di sana, sampai si kecil telah kembali dengan genggaman uang receh sepuluh ribu, dan mengambil tissue dari tangan saya serta memberikan uang empat ribu rupiah.

"Terima kasih, Om!" Mereka kembali keujung jembatan sambil sayup sayup terdengar percakapan, "Duit mbak tadi gimana?" Suara kecil yang lain menyahut, "Lu hafal 'kan orangnya? Kali aja ketemu lagi ntar kita kasihin..." Percakapan itu sayup sayup menghilang. Saya terhenyak dan kembali ke kantor dengan seribu perasaan.

Tuhan, hari ini saya belajar dari dua manusia super. Kekuatan kepribadian mereka menaklukkan Jakarta, membuat saya trenyuh. Mereka berbalut baju lusuh tapi hati dan kemuliaannya sehalus sutra. Mereka tahu hak mereka dan hak orang lain. Mereka berusaha tak meminta minta dengan berdagang tissue. Dua anak kecil yang bahkan belum akil balig, memiliki kemuliaan di umur mereka yang begitu belia. (Nur Aulia)

Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Friday, February 15, 2008

Do You Want To Buy This Home-made Cake?

Setelah menyetir terlalu lama sepulang dari kampung, saya singgah sebentar di sebuah restoran. Begitu memesan makanan, seorang anak lelaki berusia lebih kurang 12 tahun muncul di depan saya.

"Abang mau beli kue?" Katanya sambil tersenyum. Tangannya segera menyelak daun pisang yang menjadi penutup bakul kue jajanannya.

"Tidak Dik, Abang sudah pesan makanan," jawab saya ringkas dan akhirnya dia berlalu.

Pesanan tiba, saya langsung menikmatinya. Tidak sampai 20 menit kemudian saya melihat anak tadi menghampiri calon pembeli lain. Saya lihat dia menghampiri sepasang suami istri. Mereka juga menolak tawaran anak itu, dan dia berlalu begitu saja.

”Abang sudah makan, tak mau beli kue saya?" tanyanya tenang ketika menghampiri meja saya lagi. "Abang baru selesai makan Dik, masih kenyang nih," kata saya sambil menepuk-nepuk perut. Dia pun pergi, tapi cuma di sekitar restoran. Sampai di situ dia meletakkan bakulnya yang masih penuh. Setiap yang lalu dia tanya, "mau beli kue saya Bang, Pak... Kakak,... Ibu.." Halus budi bahasanya, pikir saya.

Sambil memperhatikan, terbersit rasa kagum dan kasihan di hati saya melihat betapa gigihnya dia berusaha. Tidak nampak keluh kesah atau tanda-tanda putus asa dalam dirinya sekalipun orang yang ditemuinya enggan membeli kuenya.

Setelah membayar harga makanan dan minuman, saya terus pergi ke mobil. Saya buka pintu, membetulkan letak duduk dan menutup pintu. Namun belum sempat saya menghidupkan mesin, anak tadi sudah berdiri di samping mobil. Dia tersenyum kepada saya. Saya turunkan kaca jendela dan membalas senyumannya.

"Abang sudah kenyang, tapi mungkin Abang perlu bawa kue saya buat oleh-oleh untuk adik- adik, Ibu atau Ayah abang," katanya sopan sekali, sambil tersenyum. Sekali lagi dia memamerkan kue dalam bakul dengan menyelak daun pisang penutupnya.

Saya tatap wajahnya, bersih dan bersahaja. Terpantul perasaan kasihan di hati. Lantas saya buka dompet, dan mengulurkan selembar uang Rp 20.000,- kepadanya. "Ambil ini Dik! Abang sedekah... tak usah Abang beli kue itu." Saya berkata ikhlas karena perasaan kasihan yang meningkat mendadak. Anak itu menerima uang tersebut, lantas mengucapkan terima kasih terus berjalan kembali ke kaki lima restoran. Saya gembira dapat membantunya.

Setelah mesin mobil saya hidupkan, saya memundurkannya. Alangkah kagetnya saya melihat anak itu mengulurkan Rp 20.000,- pemberian saya itu kepada seorang pengemis buta. Saya terkejut, saya menghentikan mobil, dan memanggil anak itu.

"Kenapa, Bang? Mau beli kue, ya?" tanyanya.
"Kenapa Adik berikan duit Abang tadi pada pengemis itu? Duit itu Abang berikan kepada Adik!" kata saya tanpa menjawab pertanyaannya.

"Bang, saya tak bisa ambil duit itu. Emak akan marah kalau dia tahu saya mengemis. Kata emak kita mesti bekerja mencari nafkah karena Allah. Kalau dia tahu saya bawa duit sebanyak itu pulang, sedangkan jualan masih banyak Emak pasti marah. Kata Emak mengemis adalah kerjaan orang yang tak berupaya, sedangkan saya masih kuat kerja, Bang!" katanya begitu lancar. Saya heran sekaligus kagum dengan pegangan hidup anak itu.

Tanpa banyak soal saya terus bertanya berapa harga semua kue dalam bakul itu. "Abang mau beli semua?" dia bertanya dan saya cuma mengangguk. Lidah saya kelu mau berkata. "Rp 25.000,- saja Bang...." Dengan gembira dia memasukkan satu persatu kuenya ke dalam plastik, saya ulurkan Rp 25.000,-. Dia mengucapkan terima kasih dan berlalu dari pandangan saya.

Ya Tuhan! Saya hanya bisa bertanya-tanya di dalam hati, siapakah wanita berhati mulia yang melahirkan dan mendidik anak itu? Sesungguhnya saya kagum dengan sikapnya. Dia menyadarkan saya, siapa kita sebenarnya. Sumber: Milis Sebelah.

Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Thursday, February 14, 2008

Delivered from The Bondage of Evil Spirits

Setelah rumah tangga yang dijalin Morina Evelin (35 tahun) dengan seorang pria Taiwan bubar, barulah ia menyadari bahwa menikah dengan pasangan yang tidak seiman adalah suatu kekeliruan. Semula memang Morin menolak keras ketika sang nenek yang memiliki saudara di Taiwan menjodohkannya dengan pria Taiwan. Salah satu alasannya, karena pria yang berdomisili di Taiwan itu tidak seiman dengannya.

Namun karena yakin bahwa pasangan hidup itu berasal dari Tuhan, Morin pun akhirnya menerima pinangan itu. Mereka menikah di Jakarta tahun 1992 dengan tata cara Kong Hu Cu. Setelah itu keduanya berangkat ke Taiwan dan berdomisili di negara pulau itu.

”Dulu banyak orang kaya dari Taiwan mencari jodoh ke Indonesia. Keluarga saya mendesak saya agar menerima tawaran nenek kami supaya dengan pernikahan itu bisa mengubah nasib keluarga,” kenang perempuan bernama Tionghoa Akiang itu. Sebelum memutuskan menerima tawaran itu Morin sempat meronta dalam batin. Namun, upaya keras pihak keluarga menyatkan keduanya membuatnya tidak berdaya. ”Semuanya berjalan sangat cepat,” tuturnya.

Morin mengakui bahwa kekhilafan itu juga dipengaruhi latar belakang keluarganya yang bukan penganut Kristen. Morin mengenal kekristenan ketika ia duduk di bangku Sekolah Dasar (SD) hingga SMA Kristen. Sampai saat ini orang tuanya masih menganut kepercayaan nenek moyang mereka secara teguh.

Meskipun pernah aktif pada kegiatan-kegiatan gereja di sekolah, namun dapat dikatakan kadar spiritualitas Morin masih tipis. Kondisi itu membuat lulusan D3 Akuntansi dari salah satu perguruan tinggi swasta terkenal di Jakarta itu sulit menangkis tawaran yang ia sadari salah kaprah.

Di Taiwan mereka kembali dinikahkan menurut tradisi kepercayaan suami, lalu tinggal di wilayah Ilan, daerah wisata di pinggiran ibukota. Semenjak acara pernikahan itu Morin kerap menyaksikan beragam ritual mistis atas rumah baru yang mereka tempati. ”Baju-baju saya disembahyangi dan diberi cap berdasarkan kepercayaan mereka,” katanya. Kejanggalan lain, Morit sulit tidur di rumah tersebut dan hal ini berlangsung hingga ia melahirkan dua orang anak.

Masalah ini mengundang perhatian pihak keluarga suami, yang kemudian membawa Morin ke seorang dukun terkenal. Sang dukun memerintahkan Morin untuk menanggalkan kepercayaannya kepada Tuhan Yesus. Selain itu juga Morin diminta meminum segelas air yang telah diberi mantera. Sejak minum air itu Morin mengalami sesuatu yang sangat aneh. Dia merasakan penolakan terhadap dirinya sendiri dan kedua anaknya. ”Timbul rasa takut yang luar biasa di dalam diri saya. Sepertinya saya kembali menjadi kanak-kanak Saya sulit mengambil keputusan dan takut keluar rumah. Saya menolak diri sendiri dan anak-anak. Kondisinya seperti depresi.” ungkap perempuan kelahiran Bagan Siapi-api, Riau, 18 Desember 1972 ini.

Akibat perilakunya yang paranoid itu ia sering diolok-olok sebagai sakit jiwa oleh keluarga. Tapi Morin membantah kalau dirinya sakit jiwa dan berusaha meyakinkan mereka bahwa dirinya sedang dihinggapi sesuatu yang diluar kesadarannya. Hal lain yang lebih mengerikan adalah ia sering didatangi roh-roh orang mati dan mencekik lehernya setiap kali tidur siang atau malam.

Mengetahui horor yang menimpa Morin, orang tuanya dari Jakarta mengirim jimat, namun hal itu tak membantu. Horor demi horor terus mengganggunya. ”Saya sangat ketakutan, karena setiap tidur dicekik. Dulu saya tidak percaya dengan hal-hal begitu, tapi sekarang saya baru tahu,” ujarnya mengenang masa-masa mengerikan di Taiwan. Bahkan saking tidak tahannya menghadapi peristiwa menakutkan itu, Morin pernah berusaha bunuh diri dengan memotong urat nadi dan minum obat-obat keras. Yang lebih aneh dan menyeramkan lagi, Morin bisa berkomunikasi dengan makhluk-makhluk gaib itu. ”Saya sudah tidak punya pengharapan lagi. Karena sering diganggu, saya putus asa dan memberanikan diri menanyakan nama roh gaib tersebut,” ujarnya. Makhluk tanpa wujud itupun merespons, ”Nama saya Ahai”. Menurut Morin sebenarnya wujud kawanan roh gaib bisa terlihat setiap kali ia bermimpi. ”Bentuk mereka seperti orang-orang biasa saja,” tambahnya. Ketika ibu dan adiknya mengunjunginya, merekapun tidak luput dari gangguan makhluk halus tersebut.

Berdasarkan pengamatan Morin, masyarakat setempat sangat mendewakan roh orang mati. ”Di sana rohpun minta dikawini. Roh orang amti sangat didewakan sehingga roh itu terlihat hidup,” katanya.

Karena tidak tahan dengan gangguan makhluk-makhluk halus tersebut, tahun 2003 Morin mengajukan cerai, lalu pulang ke Indonesia tanpa kedua anaknya. ”Saya akan menjemput anak-anak nanti setelah ekonomi saya meningkat.” tekadnya.

Di Jakarta gangguan masih berlangsung meski frekwensinya menurun. Morin memburu buku-buku kesaksian tentang dunia gaib. Morinpun mengerti bahwa kejadian-kejadian yang menimpanya itu merupakan santet tingkat tinggi. Kondisi mental Morin yang belum pulih, ditambah keterpisahannya dengan kedua anaknya, kian memperkeruh suasana batinnya. Guna menghilangkan kegalauan hati, ia kerap keluar dari rumah tanpa tujuan jelas.

Suatu hari di pusat perbelanjaan Daan Mogot, Jakarta Barat, ia melihat sekumpulan orang memasuki ruangan yang digunakan untuk ibadah. Entah kenapa hati Morin tergerak ikut ibadah di situ. Di sana dilangsungkan ibadah pemulihan dari gangguan kuasa kegelapan. Usai didoakan, kuasa kegelapan yang menguasai Morin selama delapan tahun berhasil diusir oleh kuasa Tuhan Yesus.

Sejak itu Morin bisa bernafas lega menjalani hidup secara normal dan mengambil keputusan untuk melayani Tuhan di gereja. ”Sekarang saya sudah mengerti bagaimana melawan roh jahat, ”kata jemaat GBI di Jakarta Utara ini. Sumber: Tabloid Reformata edisi 75 - Januari 2008.

Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Wednesday, February 13, 2008

Forgiveness

Tekanan ekonomi dan kehadiran wanita lain membuat ayah Levie pergi dari rumah. Levie saat itu masih bayi dan belum mengerti apa-apa. Semenjak saat itu Levie bertumbuh tanpa kehadiran seorang ayah di dalam hidupnya. Di masa kecilnya, saat Levie sudah mulai mengenal lingkungan di sekitarnya, pertanyaan seputar keberadaan ayahnya pun menjadi topik tetap yang selalu ditanyakannya kepada Marsih, ibunya. Namun Marsih selalu mengatakan kalau ayahnya sudah meninggal dan tidak akan kembali lagi.

"Mama dulu memang pernah bilang kalau papa itu dimakan buaya, tinggal di suatu pulau lain dan banyak kebohongan-kebohongan lain mengenai keberadaan papa," ujar Levie memulai kesaksiannya.

Figur seorang ayah tidak pernah ada dalam benak Levie. Keluarga baginya hanyalah kakak dan Marsih, ibunya. Sampai suatu hari, Levie harus menerima kenyataan yang begitu melukai hatinya. Saat Marsih merasa usia Levie sudah cukup untuk mengerti masalah yang pernah terjadi antara Marsih dengan ayah Levie, Marsih pun membuka kebenaran itu kepada Levie. Kemarahan menguasai hati Levie saat itu juga karena Levie merasa demi wanita lain ayahnya tega meninggalkan ibu dan dirinya terlunta-lunta selama puluhan tahun.

Apa yang ditakuti Marsih menjadi kenyataan. Levie menjadi seorang pemabuk, pemakai ganja bahkan menjadi seorang penjual VCD porno. Di mata Levie, ayahnya adalah seorang yang tidak bertanggung jawab dan kurang ajar. Rasa pahit timbul sangat dalam di hati Levie sehingga Levie pun bertekad untuk membunuh ayahnya.

Rasa sayang Levie terhadap Marsih, ibunya tidak dapat membendung rasa benci yang dirasakannya. Sampai suatu ketika Marsih menerima kabar melalui telepon kalau ayah Levie saat ini sedang dirawat di RSUP Cipto Mangunkusumo. Marsih dan kakak ipar Levie segera pergi bermaksud mengunjungi ayahnya. Levie yang mendengar berita itu dari dalam kamar, segera berniat untuk menjalankan rencananya. Terbersit dalam benak Levie, inilah saat yang tepat untuk pembalasan dendam yang telah tersimpan selama 20 tahun.

Di rumah sakit, Levie seperti melihat kembali gambaran tentang ayahnya di masa lalu sebagai seorang ayah yang tidak bertanggung jawab, yang telah meninggalkan Levie, ibu dan saudara-saudaranya demi wanita lain. Di saat yang sama, Levie teringat pada sebuah Camp Pria yang diikutinya beberapa bulan yang lalu. Levie teringat bagaimana perasaannya saat ia secara pribadi merasakan kehadiran Yesus di dalam hatinya. Bagaimana Yesus sangat mengasihinya dan tidak akan pernah meninggalkanya. Di saat genting itu, detik-detik terakhir menjelang pertemuan Levie dengan ayahnya untuk pertama kalinya, Levie memutuskan untuk mengampuni ayahnya.

Akhirnya Levie pun bertemu ayahnya untuk pertama kalinya. Kasih yang begitu besar melingkupi hatinya. Levie telah mengalami kasih yang luar biasa itu sehingga ketika Levie melihat ayahnya yang terbaring di tempat tidur, tidak ada perasaan benci sama sekali yang pernah berakar di hatinya sampai menimbulkan keinginan untuk membunuh ayahnya. Yang ada malahan perasaan kasih yang semakin besar di dalam hati Levie untuk ayahnya. Awalnya yang menurut Levie bukan waktu yang tepat untuk bertemu ayahnya, ternyata merupakan waktu yang paling tepat dalam pertemuan pertama mereka.

Sejak Levie mengampuni ayahnya, Levie merasakan kemerdekaan dalam hatinya. Saat ini Levie telah memiliki hubungan yang baik dengan ayahnya, bahkan dengan adik tirinya. Buat Levie, Tuhan Yesus adalah pribadi yang luar biasa dan Ia telah menjadi ayah yang luar biasa bagi Levie.

"Saya merasakan sejuk, damai sejahtera dan sukacita. Yang tadinya bingung, kuatir, tapi saya selalu berusaha untuk tidak pernah mengeluh dan tidak menyalahkan suami saya," ujar Marsih, ibunda Levie mengenai pemulihan atas keluarganya.

"Saya yang tadinya berpikir kalau Tuhan itu jahat, Tapi semenjak saya mendengar suara itu yang mengatakan kalau Ia mengasihi saya, hati saya itu menjadi hati yang tenang, jiwa saya pun tenang. Tuhan Yesus adalah pribadi yang luar biasa dan Dia yang menguatkan saya selalu setiap hari," ujar Levie menutup kesaksiannya. (Kesaksian ini sudah ditayangkan 4 Februari 2008 dalam acara Solusi di SCTV).
Sumber Kesaksian :
Levie Marimda/Jawaban.com

Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Tuesday, February 12, 2008

Healing Miracle

Seorang Oma sampai sekarang masih berdagang kacang kedele ke daerah Subang. Setiap Sabtu dia pergi kanvas ke desa-desa di sekitar Sukamandi. Dia menjual kedele itu kepada para pembuat tahu dan tempe.

Salah seorang pembuat tahu itu sakit keras, yaitu ginjalnya sudah tidak berfungsi, seharusnya dicuci darah. Namun karena ketiadaan biaya, maka orang itu pasrah saja dirawat di rumahnya. Badannya bengkak karena kadar ureum dan kreatinin-nya tinggi sekali.

Melihat penderitaan pembuat tahu itu sang Oma bertanya apakah dia boleh berdoa dengan cara orang Kristen. Karena sudah tidak mempunyai pengharapan lagi, orang itu mau didoakan. Oma itu mulai menyanyikan lagu: "Allah Kuasa Melakukan Segala Perkara" Dia bernyanyi sendirian karena orang-orang yang ada di situ adalah orang-orang dari agama lain. Ia kemudian berdoa dan mendeklarasikan kesembuhan bagi orang itu, "Dalam nama Tuhan Yesus, ginjal sembuh, jadi normal! Oleh bilur-bilur-Nya bapak sudah disembuhkan!"

Sabtu berikutnya ketika si Oma datang menawarkan kedele lagi, orang tua yang terbaring sakit itu kini sudah bangkit dari tempat tidurnya, sudah beraktivitas normal lagi. "Nyonya, terima kasih ya! Kawula sudah sembuh. Kalau mau ke gereja ke mana ya? Kawula percaya Tuhan Yesus sekarang..."

Ditulis oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Monday, February 11, 2008

Because of Good Relationships

Teman saya, seorang pengusaha, memiliki jaringan pertemanan yang luas. Beliau sering berhubungan dan bergaul dengan banyak orang dari kalangan manapun. Pernah satu kali beliau mengundang ulama, ketua partai muslim, datang ke rumahnya. Para tetamu heran sekali karena di rumahnya tidak ada satupun atribut-atribut kekristenan, sehingga ada tamu yang nyeletuk: "Koq, rumah orang Kristen seperti rumah kita saja ya?"
"Emangnya, kenapa, pak?" tanya tuan rumah.
"Gak ada gambar salib atau gambar Yesus!"
"Kan Tuhan kita itu satu!" jelas tuan rumah.

Kali lain ketika pengusaha ini diundang berbicara di gereja Katholik, ia masuk ke gereja Katholik dan mengambil air suci, lalu membuat tanda salib, padahal ia seorang Kristen Karismatik. "Emangnya salah membuat tanda salib bagi orang Kristen?" tanyanya.

Karena ia selalu membangun jembatan, mengerti adat istiadat pihak-pihak lain, ia dapat diterima segala kalangan. Bahkan beberapa mahasiswa di IAIN (Intitut Agama Islam Negeri) memanggilnya: ayah! Ia menjadi bapa bagi mahasiswa-mahasiswa yang pernah dimentorinya. Mereka respek kepada pengusaha ini karena ia membagikan nilai-nilai kehidupan yang universal.

Suatu saat temannya dari kalangan muslim yang fundamental memberi informasi penting kepadanya.
"Pak, apakah betul Full Gospel mau bikin acara di The Peak Bandung?"
"Oh, mungkin juga ya!"
"Begini, pak. Teman-teman di sini sudah siap. Kalau mereka jadi bikin acara itu, pintu keluar satu-satunya akan kami tutup, dan teman-teman akan menyerbu ke dalam, mungkin membakar semua orang yang di dalam!"
"Memangnya kenapa?"
"Dari internet kami tahu rencana mereka, pak!. Mereka akan mengadakan acara di luar (outdoor), selain di dalam gedung, dengan tata suara yang keras. Di sekitar The Peak itu adalah pemukiman muslim fundamental. Acara itu jelas-jelas menantang teman-teman kami dan mengajak perang!" Rupanya mereka mengetahui segala aktivitas orang Kristen di internet, dari email, dari milis. Ada ahli Teknologi Informasi di kalangan mereka yang bisa membuka dan masuk ke jalur komunikasi orang-orang Kristen.

"OK, coba nanti saya hubungi teman-teman Full Gospel deh!"
"Saya kasih tahu bapak karena bapak adalah teman kami."

Secepatnya pengusaha ini menghubungi temannya di Full Gospel yang menjadi ketua panitia acara di The Peak itu.
"Masa sih begitu?" kata sang ketua panitia.
"Ya, ini serius lho. Batalkan saja deh acara itu." kata pengusaha ini. Tapi sarannya tidak digubris.
"Kami sudah dapat izin koq dari pihak berwenang. Kami akan jalan terus."

Beberapa hari kemudian sang pengusaha bertemu dengan Bapak Mantiri, Ketua Full Gospel Businessmen Fellowship itu.
"Koq, tidak ada yang memberi tahu saya tentang informasi dari kalangan seberang sih?"
"Ya, pak Mantiri, ini serius."

Lalu Bapak Mantiri, purnawirawan perwira tinggi ini mengontak bekas anak buahnya di kalangan intelijen, dan memang benar ada rencana untuk menyerbu pertemuan di The Peak itu. Dengan tegas Ketua Full Gospel memerintahkan agar acara di The Peak itu dibatalkan segera, karena sangat menyinggung perasaan pihak lain.

Kehidupan pengusaha ini sangat inklusif, ia membangun banyak jembatan pertemanan. Ketika menjelang lebaran, ia membagi-bagikan zakat fitrah dan membagi-bagikan sembako di sekitar rumahnya. Ketika hari raya Idul Adha, ia juga menyumbang sapi sebagai korban untuk disembelih. Para tetangga sangat dekat dengan pengusaha ini, sehingga ketika di rumahnya ada Persekutuan Doa, tidak ada tetangga yang keberatan. Dia menjadi garam dunia bagi orang-orang yang mengenalnya. Garam itu tidak kelihatan, namun dapat dirasakan kehadirannya.

Hasrat hatinya adalah untuk memberi nilai tambah bagi orang lain, sehingga ia tidak segan-segan membagikan kiat-kiat sukses kepada orang lain. Ia pernah menjadi host suatu siaran radio yang setiap minggu membagikan nilai-nilai dan etika bisnis di radio Pass FM. Begitulah seharusnya seorang saksi Kristus, dengan karakter yang baik ia disukai banyak orang.

Ditulis oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Friday, February 8, 2008

Just On Time

Di bawah ini adalah kesaksian dari Dr. Calvin Palmer (Terjemahan bebas oleh Sammy Lee)

"Ada seorang wanita muda di kursi mobilku, dan saya rasa dia sudah mati." Pada hari Jumat pagi itu, saya adalah satu-satunya dokter yang bertugas pada sebuah rumah sakit yang bernama Warburton Sanitarium and Hospital, di Warburton, Australia. Pengumuman yang mengejutkan dari pemuda itu menyebabkan saya tersentak dengan melongo.

"Apa yang sudah terjadi?" saya bertanya.
"Saya tidak tahu," jawabnya.
"Tetangga kami - mereka baru saja menikah belum lama. Pagi ini suaminya pergi kerja seperti biasanya, dan isteri saya, yang selalu suka bertindak sebagai tetangga yang baik, pergi melihat bagaimana keadaan isterinya dan menjumpai dia dalam keadaan terbaring pingsan di lantai. Ini adalah rumah sakit yang terdekat, sebab itu saya telah meletakkan dia di kursi belakang mobil saya dan telah mengadakan perjalanan sejauh 110 km melalui jalan setapak yang berliku-liku melalui rimba belantara untuk mencapai tempat ini."

Kami tidak membuang waktu, segera berlari menuju ke mobilnya. Disana terjerembab di kursi belakang mobil, terdapat tubuh kaku dari seorang wanita muda. Kulitnya terasa dingin dan pucat. Saya tidak dapat merasakan denyut nadi pada pergelangannya, saya hanya dapat merasakan debaran jantungnya yang sangat lemah. Dia masih hidup, tapi sudah dalam keadaan sangat sekarat.

Kami segera mengangkat tubuhnya keatas tandu dan membawanya ke dalam rumah sakit. Saya menghadapi seorang pasien yang mengalami shock berat, sedang sekarat, tapi tidak mempunyai informasi sedikitpun mengenai apa yang menyebabkan kondisinya itu.

Dimana Kami Harus Mulai?
Setelah memeriksa wanita itu lebih lanjut, saya berkata kepada suster kepala, Matron Mitchell, "Perutnya menggelembung dengan cairan. Saya rasa itu adalah darah. Saya rasa kita sedang menghadapi kasus ectopic (pendarahan akibat bagian organ tubuh pecah atau pindah tempat)."

Keadaan seperti ini yaitu pecahnya pembuluh nadi pada bagian tulang selangka atau pinggul memerlukan pembedahan dengan segera. Kami melakukan terapi infus (intravenous), kemudian menilpon Melbourne, meminta pengiriman darah dengan segera menggunakan taksi. Staff kami mempersiapkan kamar operasi untuk pembedahan darurat. Yang menjadi masalah kami sekarang adalah anastetik. Saya adalah satu-satunya dokter di rumah sakit itu, dan berhubung keadaan wanita itu yang sangat kritis, kami sangat membutuhkan seorang ahli anestesia. Pada zaman itu dimana ether digunakan sekitar 30 tahun yang lalu kebanyakan anestesia itu dilakukan oleh dokter umum.

Hanya terdapat sedikit sekali ahli anestesia, dan saya tidak ingat nama dari seorang pun. Matron Mitchell, sang suster kepala, mempunyai sedikit pengalaman memberikan anestetik, jadi berhubung tidak ada dokter lain, saya berpaling kepadanya dan berkata: "Saya harus meminta anda mengadakan anestetik." "Kita harus mengadakan operasi terhadap dia karena kalau tidak maka itu akan terlambat. Kalau sampai dia meninggal, anda akan dipanggil ke pengadilan, tapi saya akan pergi bersama anda."

Sementara staf kami sedang mempersiapkan pasien dan ruang operasi, saya masuk ke kantor saya dan berdoa. "Tuhan, saya dalam keadaan darurat. Nyawa seorang wanita menjadi taruhan. Saya benar-benar sangat membutuhkan seorang ahli anastesi. Saya katakan kepada Matron Mitchell, "Saya akan memulai memberikan anestetik itu. Kemudian setelah itu saya akan serahkan kepada Anda sementara saya mengadakan pembersihan dan pembedahan."

Pada saat saya sedang bersiap-siap melaksanakan anestetik itu, pintu kamar operasi tiba-tiba terbuka. Seorang asing menjengukkan kepalanya dan berkata, "Saya Dr. Smith. Apakah saya bisa menolong anda?"

Saya harus mengetahui apakah dia ini seorang Ph.D, doktor dalam ilmu musik, ahli penyakit kulit, ataukah ahli ilmu jiwa. Jadi saya bertanya kepadanya, "Apakah bidang pekerjaan anda?" "Saya seorang ahli anestesia"

Saya menjelaskan situasinya kepadanya, dan dia mengambil alih pekerjaan anestetik itu. Seluruh keahliannya dia tumpahkan untuk menjaga supaya wanita itu tetap hidup sementara saya melakukan pembedahan. Saya membedah perutnya dan mendapati bahwa itu penuh sekali dengan darah. Saya tidak pernah melihat baik sebelumnya maupun sesudahnya pendarahan yang demikian hebatnya. Pompa pengisap listrik yang kami gunakan tidak mampu untuk menangani begitu banyak darah. Saya menggunakan kedua tangan saya untuk mengeluarkan darah dari perutnya sama seperti menimba air keluar dari perahu orang-orang di Kepulauan Solomon. Saya dapati urat nadi yang robek masing memuntahkan darah. Waktu saya mengikat urat nadi itu, saya pun yakin bahwa
wanita itu akan hidup.

Ketika wanita itu sudah dipindahkan ke zal, saya berpaling kepada Dr. Smith. "Bagaimana caranya sampai anda bisa muncul didepan pintu kamar operasi kami pada saat yang begitu tepat?"

"Saya tidak dapat menjelaskannya," dia berkata, "Tapi saya akan ceritakan apa yang telah terjadi."

Suatu Penugasan Ilahi
Dia mulai ceritanya: "Sebagaimana anda tahu, ada sedikit sekali ahli anestesiologi, dan saya sudah bekerja terlalu lama. Pagi ini saya muncul di rumah sakit kami untuk menyelesaikan beberapa kasus, tapi mendapat informasi, tanpa ada penjelasan, bahwa daftar kasus-kasus itu telah dibatalkan. Saya pikir, alangkah bagusnya! Saya akan segera meninggalkan kota Melbourne untuk berakhir pekan. Saya akan pergi ke suatu tempat dimana tidak ada seorang pun mengenal saya, dimana tidak ada rumah sakit, tidak ada kamar operasi, dan tidak ada anestetik."

Kemudian dia berkata, "Saya merasa terdorong untuk pergi ke Warburton. Saya pergi kesana. Saya tidak pernah ke Warburton sebelumnya tapi saya tahu ada beberapa penginapan dimana saya bisa tinggal selama akhir pekan ini. Ketika saya tiba di Warburton, saya melihat sebuah bangunan yang besar terletak di atas bukit. Itu kelihatannya seperti sebuah penginapan, saya berpikir. Jadi saya mengemudikan mobil saya kedalam halaman ini, tapi ternyata bahwa ini adalah sebuah rumah sakit. Pada saat saya baru saja hendak memutarkan mobil saya untuk pergi, seorang wanita muncul di dekat pintu gerbang. 'Nama saya adalah Dr. Smith,' saya berkata kepadanya, 'Dan saya sedang mencari sebuah penginapan untuk ditempati akhir pekan ini.'

Dia menjambret tangan saya dan berkata, 'anda diperlukan di kamar operasi sekarang juga,' dia mengatakan kepada saya. 'Saya telah datang ke Warburton untuk menghindarkan diri dari kamar operasi,' saya menjawab.

'Tapi ini adalah keadaan darurat,' dia mendesak. Nah, begitulah caranya mengapa sampai saya berada disini." Dr. Smith melanjutkan.

Membandingkan Catatan
"Dapatkah anda mengatakan kepada saya" saya bertanya kepadanya, "Jam berapakah itu waktu anda merasakan dorongan untuk datang ke Warburton?"
"Pagi ini pada jam 8 lewat sepuluh menit."

Urutan peristiwa yang telah terjadi mulai terbeber dalam otak saya. Pada jam 8 tepat wanita itu telah jatuh pingsan di Matlock, 110 km jaraknya dari Warburton. Pada jam 8:10, Tuhan menanamkan dalam benak ahli anestetik itu, di tempat yang letaknya 80 km sebelah barat, bahwa dia harus pergi ke Warburton. Sekitar jam 10:30 saya memohon kepada Tuhan untuk pertolongan-Nya, tetapi Dia sudah menjawab doa saya lebih dari dua jam sebelum itu. Permasalahan yang kami hadapi datangnya dari sebelah timur, dan solusinya datang dari sebelah barat, tapi saya tidak tahu apa-apa sama sekali mengenai hal itu.

Saya telah mendapat suatu pelajaran besar mengenai pemenuhan keperluan kita oleh Tuhan dari pengalaman itu. Dan ini telah memberikan kepada saya penghargaan yang lebih besar terhadap janjinya "Sebelum mereka berseru, Aku akan menjawab" (Yesaya 65:24)

Catatan Akhir

Sebelum masa pensiunnya Dr. Calvin Palmer, M.D. melayani di rumah sakit kusta yang ada di Kepulauan Solomon, dan kemudian sebagai ahli bedah di Warburton Hospital, dan setelah itu sebagai dokter ahli bedah di Rumah Sakit Sydney Adventist Hospital. Saya kenal benar dengan Dr. Palmer karena saya dulu bekerja selama dua tahun di rumah sakit Sydney Adventist Hospital, selama mengikuti kuliah di Macquarie University, dan dialah juga yang menangani pembedahan hernia saya di tahun 1979. Semoga kisah ini dapat menguatkan iman anda sekalian bahwa kita mempunyai Tuhan yang telinganya terbuka lebar mendengar doa kita dan menjawabnya sebelum kita berseru kepada-Nya.

Dalam bahasa Mandarin nama Yesus adalah "Ye Su", yang terdiri dari huruf "Ye" terdiri dari gambar "dua telinga" berdampingan, dan "Su" terdiri dari gambar "ikan" dan "padi" yang berdampingan, dengan kata lain: "Tuhan Yesus telinganya dua-dua selalu terbuka untuk mendengarkan seruan doa kita, dan Dia selalu menyediakan makanan kita merupakan nasi atau gandum (roti) serta lauk pauknya untuk kebutuhan kita sehari-hari!" What a wonderful God we have! (Sumber: Milis Tetangga)

Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Wednesday, February 6, 2008

Escaping from Death

Pendeta Refina tidak menyangka kalau hari itu, 2 Juni 2007, merupakan hari yang naas baginya. Padahal sejak pagi hingga sore segalanya berjalan dengan baik-baik saja. Saat itu hari sudah menjelang malam. Sebagaimana biasa ia bergegas masuk ke dalam rumah untuk beristirahat setelah lelah beraktivitas seharian.

Tiba-tiba saja datang seorang pria yang sepertinya ia kenal. Tanpa menaruh curiga sedikitpun, ia segera membuka pintu. Naas baginya, karena tanpa bicara apa-apa orang itu langsung menyiramkan getah karet ke tubuhnya dan memukuli kepalanya dengan kunci Inggris. Ia berusaha mati-matian untuk menghindari serangan-serangan itu dan melindungi kepala dengan kedua tangannya. Serangan itu tidak berlangsung begitu lama karena pelaku khawatir warga akan berdatangan dan menangkapnya. Ia langsung kabur dan meninggalkan Pdt. Refina yang sudah bersimbah darah.

Beruntung warga langsung datang ke lokasi kejadian. Mereka langsung memberikan pertolongan pertama dan membawanya ke Rumah Sakit. "Puji Tuhan, saya lolos dari maut. Saya kira riwayat saya sudah berakhir di sini. Tapi nyatanya tidak!" ujar wanita yang sudah tujuh tahun melayani ini.

Pdt. Refina akhirnya harus menerima kenyataan kalau kepalanya mengalami keretakan dan patah pada jari-jari tangannya. Bukan itu saja. Kulitnyapun terlihat seperti habis terbakar akibat siraman getah karet. Sebenarnya melalui hasil pemeriksaan ia seharusnya dirawat intensif di Rumah Sakit. Lantaran ketiadaan dana, Pdt. Refina akhirnya mengambil keputusan untuk tidak dirawat. "Kalau Tuhan ijinkan saya hidup, ya biarlah hidup. Tetapi kalau tidak, sayapun sudah siap." katanya lirih.

Waktu terus berjalan. Sambil setiap hari menahan sakit di kepala, ia tidak tahu apa yang harus dilakukannya lagi. Di tengah-tengah kesendiriannya ia tiba-tiba saja teringat akan MissionCARE yang pernah membantu memberikan subsidi baginya. Saat itu juga ia mengambil secarik kertas dan menuliskan isi hatinya di dalam surat itu. "Saya pikir, saya tidak punya siapa-siapa lagi kecuali MissionCARE yang telah menjadi keluarga bagi saya." kata wanita berdarah Batak ini.

Selang beberapa hari kemudian surat itu tiba di kantor MissionCARE. Hisar, seorang staff, adalah orang pertama yang membaca surat itu dan tidak habis pikir dengan kejadian yang dialami Pdt. Refina. "Berulang kali saya membaca surat itu dan terus berpikir kenapa hal ini bisa terjadi?" katanya mengenang. Tanpa berpikir panjang ia mencoba agar pergumulan Pdt. Refina bisa disampaikan kepada banyak pihak melalui program siaran radio Voice of Mission (VOM). Melalui hasil diskusi dan penelusuran yang panjang, tim MissionCARE akhirnya berhasil mendapatkan nomor telpon Pdt. Refina dan berdialog cukup panjang dengannya. Hasil percakapan yang direkam itu kemudian dikemas menjadi satu bagian program acara VOM. "Saya ingin membuka mata para pendengar bahwa realita kehidupan pelayanan di pedalaman adalah seperti ini." kata Hisar. Selama program acara berlangsung, respon dari para pendengar ternyata di luar dugaan. Sejumlah dana berhasil dikumpulkan untuk bisa membantu Pdt. Refina melunasi utangnya di RS. Palembang, tempatnya dirawat. Bukan itu saja. Dari dana yang terkumpul akhirnya bisa memungkinkan Pdt. Refina berangkat ke Jakarta untuk diobati dengan lebih baik. Ada juga pendengar radio yang membantu memberi informasi mengenai dokter terbaik bagi pengobatannya. "Saya tidak menyangka kalau responnya sangat baik sekali, bahkan ada pendengar radio yang datang ke studio tempat kami siaran untuk memberi bantuan keuangan bagi Pdt. Refina," kata Hisar lagi. "Kami mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya atas setiap bantuan yang sudah diberikan bagi pengobatan Pdt. Refina." ujar Hisar.

Kini Pdt. Refina sudah kembali ke tempat pelayanannya di desa Margo Mulyo, yang berjarak lima kilometer dari Palembang. Kepalanya berangsung-angsur membaik. Walau masih menyisakan trauma, ia tetap memiliki semangat untuk melayani jiwa-jiwa di pedesaan. Itulan potret salah satu kehidupan pelayanan di pedesaan. Pdt. Refina adalah satu dari sekian banyak hamba Tuhan yang pernah mengalami pergumulan di dalam pelayanannya. Semoga kisah Pdt. Refina ini membuka mata kita dan membuat dunia kita tidak hanya terbatas pada kenyamanan dan kenikmatan hidup di kota-kota besar. (Sumber: Majalah Mission, edisi Desember 2007, terbitan Yayasan Mitra Misi Indonesia/MissionCARE)

Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Tuesday, February 5, 2008

A Flower Bouquet

Sudah bertahun-tahun ini ada seorang Ibu yang menyumbang karangan bunga indah untuk diletakkan di altar gereja kami. Setiap minggu Ibu ini mengirim bunga itu. Ketika teman saya menghubungi toko bunga untuk mengetahui siapa ibu tersebut, toko bunga itu bercerita bahwa ibu tersebut tidak ingin diketahui namanya dan setiap minggu ibu yang baik hati itu mengirimkan total 8 karangan bunga untuk delapan gereja. Harga satu karangan bunga itu Rp. 200.000,- Itu berarti setiap minggu ia mengeluarkan dana sebesar Rp. 1.600.000,- atau per bulan Rp. 6,4 juta dan per tahun Rp. 76,8 juta. Perbuatan kasih si ibu ini pasti diperhitungkan Tuhan.

Bicara soal karangan bunga, ada kisah lama yang sangat menyentuh hati:
Ada orang yang setiap hari Minggu menyumbang sekuntum kuncup mawar untuk dipasangkan di kerah jasku. Aku amat menghargai kiriman ini, namun karena dilakukan pada setiap hari Minggu, maka aku tidak begitu memikirkannya lagi, karena terkesan sudah amat rutin. Namun pada suatu hari Minggu sesuatu yang sudah aku anggap biasa itu menjadi sesuatu yang amat luar biasa.

Ketika hendak meninggalkan kebaktian Minggu, seorang anak lelaki menghampiriku. Ia menengadah sambil bertanya, "Pak Pendeta, apa yang akan Anda lakukan dengan bunga itu?" Mula-mula aku tak sadar akan apa yang ia maksudkan, tepi segera saja aku tahu. Aku berkata, "Apakah ini yang kau maksudkan?" sambil menunjuk pada kuntum mawar di kerah jasku. Anak lelaki itu berkata, "Ya, Pak. Aku menginginkannya, jika anda akan membuangnya." Aku segera tersenyum dan dengan senang hati mengatakan kepadanya bahwa ia boleh mengambilnya, serta sambil lalu menanyakan apa yang akan ia lakukan dengan bunga itu. Anak lelaki yang usianya kira-kira sepuluh tahun itu menjawab, "Pak, aku akan memberikannya kepada nenekku. Orang tuaku bercerai tahun lalu. Aku tinggal dengan ibuku, tetapi ketika ia menikah lagi, ia menyuruh aku tinggal dengan ayahku. Aku tinggal dengan ayah untuk beberapa waktu, tetapi ia katakan aku tidak dapat terlalu lama tinggal dengannya, jadi aku diminta tinggal dengan nenekku. Nenek begitu baik kepadaku. Ia masak dan merawatku. Ia begitu baik kepadaku sehingga aku ingin memberikan bunga indah itu kepadanya karena ia telah menyayangi aku."

Ketika anak kecil itu selesai berbicara aku sudah tidak mampu berkata-kata lagi. Air mata menggenang di pelupuk mataku dan aku tersentuh sampai ke lubuk hati yang paling dalam. Aku membuka jepit kuntum bunga itu. Dengan bunga di tangan, aku memandang anak itu sambil berkata, "Nak, itu hal yang paling indah yang pernah aku dengar, tapi bunga ini saja tidak cukup. Jika kau melihat meja di depan mimbar, maka kau akan melihat sebuah karangan bunga yang besar. Ambillah karangan bunga itu untuk nenekmu karena ia patut menerima yang terbaik."

Aku sudah begitu tersentuh dengan kejadian ini, namun anak lelaki itu masih menambahkan sesuatu yang tidak akan pernah terlupakan. Ia berkata, "Oh, hari ini sungguh istimewa! Aku minta sekuntum bunga namun menerima sebuah karangan bunga yang indah." (John. R. Ramsey)

Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Monday, February 4, 2008

A Merciful Heart

Seorang gembala dari Bandung bersaksi bahwa pada suatu hari ia ketemu seorang penjual buah. Penjual itu menawarkan tiga macam buah: jeruk, mangga, dan jambu. Ia tidak lagi memerlukan buah-buah itu karena masih punya persediaan di rumah. Namun ketika melihat orang tua yang menjual buah itu, ia tergerak oleh belas kasihan. Ia datangi penjual buah itu, bertanya berapa harga sekilo. Harganya semua sama, Rp. 7 ribu per kg. Harga cocok, lalu ia membeli buah itu semua, masing-masing empat kg. Ia menyodorkan uang Rp. 100 ribu, namun penjual itu bilang, "Maaf, tidak ada uang kembalian." "Ya, gak apa-apa, pak." kata pendeta itu rela, walaupun seharusnya ia menerima uang kembalian. Rp. 16 ribu.

Ketika akan berlalu orang tua itu berkata, "Nak, saya tahu engkau tidak perlu buah-buah ini, dan sebenarnya engkau tidak tertarik membelinya. Tapi karena belas kasihanmu, engkau membelinya, ya 'kan? Mari, saya mau berdoa buat kamu."

Lho, dia seorang pendeta, mau didoakan seorang tua yang tak dikenal ini? Namun ada sesuatu di mata orang tua itu yang membuat hatinya tenteram.

"Tuhan akan mencurahkan berkat dari langit kepadamu," kata orang tua itu sambil memegangi tangan pendeta itu. Ketika kedua tangannya dipegang, ia merasa ada aliran yang kuat, seperti aliran listrik, mengalir ke dalam tubuhnya. Ia tidak pernah merasakan aliran seperti ini ketika ia ditumpangi tangan oleh hamba-hamba Tuhan yang besar. Urapan dari orang tua ini begitu kuat.

"Tuhan akan memberkati engkau dengan berkat dari langit di atas, dengan berkat samudera raya yang letaknya di bawah, dengan berkat yang melebihi berkat gunung-gunung yang sejak dahulu, yakni yang paling sedap di bukit-bukit yang berabad-abad; semuanya itu akan turun ke atas kepalamu. Karena engkau mempunyai hati yang penuh belas kasih, maka sejak saat ini engkau tidak akan pernah mengalami kekurangan, tidak ada jalan buntu. Selalu ada jalan keluar dan pertolongan dari tempat mahatinggi terhadap masalahmu!"

Sementara didoakan, aliran roh itu deras menerpanya sehingga ia rebah ke pohon di dekat penjual buah itu. Ketika ia berlalu dan menengok ke belakang, ia tidak melihat penjual buah itu lagi. Menghilang. Mungkinkah itu malaikat utusan dari Bapa?

Marilah kita berbuat baik dan berbelas kasih, siapa tahu orang yang kita tolong adalah malaikat dari sorga yang diutus menemui kita.

Ditulis oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Kesaksian Pembaca Buku "Mukjizat Kehidupan"

Pada tanggal 28 Oktober 2009 datang SMS dari seorang Ibu di NTT, bunyinya:
"Terpujilah Tuhan karena buku "Mukjizat Kehidupan", saya belajar untuk bisa mengampuni, sabar, dan punya waktu di hadirat Tuhan, dan akhirnya Rumah Tangga saya dipulihkan, suami saya sudah mau berdoa. Buku ini telah jadi berkat buat teman-teman di Pasir Panjang, Kupang, NTT. Kami belajar mengasihi, mengampuni, dan selalu punya waktu berdoa."

Hall of Fame - Daftar Pembaca Yang Diberkati Buku Mukjizat Kehidupan

  • A. Rudy Hartono Kurniawan - Juara All England 8 x dan Asian Hero
  • B. Pdt. DR. Ir. Niko Njotorahardjo
  • C. Pdt. Ir. Djohan Handojo
  • D. Jeffry S. Tjandra - Worshipper
  • E. Pdt. Petrus Agung - Semarang
  • F. Bpk. Irsan
  • G. Ir. Ciputra - Jakarta
  • H. Pdt. Dr. Danny Tumiwa SH
  • I. Erich Unarto S.E - Pendiri dan Pemimpin "Manna Sorgawi"
  • J. Beni Prananto - Pengusaha
  • K. Aryanto Agus Mulyo - Partner Kantor Akuntan
  • L. Ir. Handaka Santosa - CEO Senayan City
  • M. Pdt. Drs. Budi Sastradiputra - Jakarta
  • N. Pdm. Lim Lim - Jakarta
  • O. Lisa Honoris - Kawai Music Shool Jakarta
  • P. Ny. Rachel Sudarmanto - Jakarta
  • Q. Ps. Levi Supit - Jakarta
  • R. Pdt. Samuel Gunawan - Jakarta
  • S. F.A Djaya - Tamara Jaya - By Pass Ngurah Rai - Jimbaran - Bali
  • T. Ps. Kong - City Blessing Church - Jakarta
  • U. dr. Yoyong Kohar - Jakarta
  • V. Haryanto - Gereja Katholik - Jakarta
  • W. Fanny Irwanto - Jakarta
  • X. dr. Sylvia/Yan Cen - Jakarta
  • Y. Ir. Junna - Jakarta
  • Z. Yudi - Raffles Hill - Cibubur
  • ZA. Budi Setiawan - GBI PRJ - Jakarta
  • ZB. Christine - Intercon - Jakarta
  • ZC. Budi Setiawan - CWS Kelapa Gading - Jakarta
  • ZD. Oshin - Menara BTN - Jakarta
  • ZE. Johan Sunarto - Tanah Pasir - Jakarta
  • ZF. Waney - Jl. Kesehatan - Jakarta
  • ZG. Lukas Kacaribu - Jakarta
  • ZH. Oma Lydia Abraham - Jakarta
  • ZI. Elida Malik - Kuningan Timur - Jakarta
  • ZJ. Luci - Sunter Paradise - Jakarta
  • ZK. Irene - Arlin Indah - Jakarta Timur
  • ZL. Ny. Hendri Suswardani - Depok
  • ZM. Marthin Tertius - Bank Artha Graha - Manado
  • ZN. Titin - PT. Tripolyta - Jakarta
  • ZO. Wiwiek - Menteng - Jakarta
  • ZP. Agatha - PT. STUD - Menara Batavia - Jakarta
  • ZR. Albertus - Gunung Sahari - Jakarta
  • ZS. Febryanti - Metro Permata - Jakarta
  • ZT. Susy - Metro Permata - Jakarta
  • ZU. Justanti - USAID - Makassar
  • ZV. Welian - Tangerang
  • ZW. Dwiyono - Karawaci
  • ZX. Essa Pujowati - Jakarta
  • ZY. Nelly - Pejaten Timur - Jakarta
  • ZZ. C. Nugraheni - Gramedia - Jakarta
  • ZZA. Myke - Wisma Presisi - Jakarta
  • ZZB. Wesley - Simpang Darmo Permai - Surabaya
  • ZZC. Ray Monoarfa - Kemang - Jakarta
  • ZZD. Pdt. Sunaryo Djaya - Bethany - Jakarta
  • ZZE. Max Boham - Sidoarjo - Jatim
  • ZZF. Julia Bing - Semarang
  • ZZG. Rika - Tanjung Karang
  • ZZH. Yusak Prasetyo - Batam
  • ZZI. Evi Anggraini - Jakarta
  • ZZJ. Kodden Manik - Cilegon
  • ZZZZ. ISI NAMA ANDA PADA KOLOM KOMENTAR UNTUK DIMASUKKAN DALAM DAFTAR INI