Tahun 2006 yang lalu seorang Hamba Tuhan yang menjadi Gembala Rayon sebuah GBI di Medan bertekad membuka gereja-gereja baru lebih cepat lagi. Biasanya setiap 45 hari dibuka pos pelayanan baru, kemudian ia mengajak rekan-rekan pengerja di lingkungan gerejanya untuk membangun lebih cepat lagi, setiap bulan. Ketika sedang sibuk-sibuknya membangun Kerajaan Allah seperti itu, rupanya ada pihak-pihak yang tidak senang kepadanya. Ia difitnah menggelapkan keuangan gereja. Perkaranya sampai ditangani kepolisian. Berkali-kali ia dimintai keterangan oleh polisi. Sementara kasusnya belum jelas, ia terang-terangan diekspos di koran-koran dan di radio-radio sekitar Medan. Terjadi pembunuhan karakter terhadapnya. Namanya jelas-jelas disebutkan dalam pemberitaan negatif itu, bukan hanya inisial nama saja.
Banyak anggota jemaat dari kalangan TNI dan organisasi kepemudaan yang menyarankan agar ia bertindak.
"Biar pak, kami saja yang menangani para preman yang mau memeras bapak!"
"Ah, tidak usah!"
Ia tetap diam, karena Tuhan sudah memerintahkan agar ia tutup mulut saja. Untuk sementara ia tidak dijadwalkan melayani pemberitaan Firman Tuhan pada waktu itu. Kenapa orang yang giat melayani di ladang Tuhan di-grounded begitu gara-gara sebuah fitnahan?
Setelah awal tahun 2007 ternyata kasusnya tidak terbukti. Itu hanya fitnah belaka. Di sinilah letak keadilan Tuhan. Apabila kita lulus ujian, ada hadiah yang menanti kita. Sebagai hadiahnya, GBI yang dilayaninya mendapat izin untuk membuka siaran radio swasta, padahal izin radio swasta itu sulitnya minta ampun. Sebagai hadiahnya, GBI di Medan itu akan melayani di sebuah siaran TV swasta di Sumatera Utara dalam waktu dekat ini. Sebagai hadiahnya, ia yang selama 14 tahun lebih ini hanya mengontrak rumah, mendapat kado sebuah rumah. Tadinya ia hanya berharap rumah kecil dengan sebuah kebun atau taman di dalamnya, namun yang diberikan Tuhan adalah sebuah rumah besar dengan 9 kamar, ditambah taman yang luas. Ketika difitnah dan ia diam saja, tetap mengandalkan Roh Kudus sebagai pembelanya, ia lulus dari pembentukan Tuhan, naik ke dimensi pelayanan yang lebih tinggi lagi.
Setelah ia merenungkan kembali perkara itu, ia melihat bahwa Tuhan mengizinkan ia bebas tugas pelayanan selama hampir setahun, karena itu tahun Sabat bagi pelayanannya setelah tiga belas tahun melayani (2 x 7 tahun). Tuhan tahu bahwa hamba-Nya perlu masa Sabat. Meskipun cara Sabatnya tidak seperti yang sering kita bayangkan, Tuhan memberikan tahun Sabat bagi kita, untuk berhenti, merenung, "mengasah pisau gergaji", menggali keintiman yang lebih dalam lagi.
Ditulis oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com
kesaksian hidup - #inspiring story - #kisah nyata - #mukjizat kehidupan - #sign and wonders - #miracles - inspirational christian story - nice story - true story - inspirational touching story - an amazing story: kisah orang biasa dengan pengalaman luar biasa - ordinary people living the extra-ordinary lives
Search This Blog
Thursday, January 31, 2008
Wednesday, January 30, 2008
God's Judgement Day
Tadi malam saya mendengar kabar buruk lagi. Ada seorang hamba Tuhan yang melakukan pelecehan seksual kepada seorang gadis yang datang konseling kepadanya. Gadis ini dan mamanya mencurahkan kepedihan hati mereka kepada teman isteri saya. Nama hamba Tuhan itu pasti anda kenal, berkarunia kenabian, sering menyampaikan Firman Tuhan di gereja-gereja dan Persekutuan Doa.
Apabila kasus ini diungkapkan ke media massa, bagaimana perasaan gadis ini? Apakah anda dapat membayangkan adik perempuan anda diperlakukan tidak senonoh oleh seorang hamba Tuhan dan anda melaporkannya kepada polisi? Gadis ini ingin melindungi masa depannya, tentu saja.
Di sini saya sengaja tidak menyebut nama, karena tidak ada maksud untuk mendiskreditkan atau mempermalukan seseorang. Anda mungkin masih penasaran, ingin tahu siapa hamba Tuhan itu. Tidak perlu! Yang penting, kita menjaga diri kita masing-masing, menjaga hati dengan segala kewaspadaan, jangan sampai kita tergelincir ke dalam dosa yang sama. Yang penting, kita pahami moral dari posting ini. Yang penting, hati-hati dalam berkonseling, jangan berdua-duaan di kamar tertutup, bahaya.
Meskipun kita hidup dalam zaman anugerah, kita perlu takut dan gentar akan Hari Penghakiman Tuhan, kita perlu menjaga kekudusan hidup kita. Berikut ini saya sampaikan pengalaman Chrisye sebagai pembanding, dalam pengalaman batinnya mengenai Hari Penghakiman itu. Mengapa dia bisa sensitif dan banyak orang lain tidak?
Penyair Taufiq Ismail menulis sebuah artikel tentang Krismansyah Rahadi (1949-2007) alias Chrisye di Majalah Sastra HORISON: "Krismansyah Rahadi (1949-2007): KETIKA MULUT TAK LAGI BERKATA"
Di tahun 1997 saya bertemu Chrisye sehabis sebuah acara, dan dia berkata, "Bang, saya punya sebuah lagu. Saya sudah coba menuliskan kata-katanya, tapi saya tidak puas. Bisakah Abang tolong tuliskan liriknya?" Karena saya suka lagu-lagu Chrisye, saya katakan: "bisa". Saya tanyakan kapan mesti selesai. Dia bilang sebulan. Menilik kegiatan saya yang lain, deadline sebulan itu bolehlah. Kaset lagu itu dikirimkannya, berikut keterangan berapa baris lirik diperlukan, dan untuk setiap larik berapa jumlah ketukannya, yang akan diisi dengan suku kata. Chrisye menginginkan puisi relijius.
Kemudian saya dengarkan lagu itu. Indah sekali. Saya suka betul. Sesudah seminggu, tidak ada ide. Dua minggu begitu juga. Minggu ketiga inspirasi masih tertutup. Saya mulai gelisah. Di ujung minggu keempat tetap buntu. Saya heran. Padahal lagu itu cantik jelita. Tapi kalau ide memang macet, apa mau dikatakan? Tampaknya saya akan telepon Chrisye keesokan harinya dan saya mau bilang, "Chris, maaf ya, macet. Sori." Saya akan kembalikan pita rekaman itu. Saya punya kebiasaan rutin baca Surah Yasin.
Malam itu, ketika sampai ayat 65 yang berbunyi, "A'udzubillahi minasy syaithonirrojim. Alyauma nakhtimu 'alaa afwahihim, wa tukallimuna aidhihim, wa tasyhadu arjuluhum bimaa kaanu yaksibuun", saya berhenti. Maknanya, "Pada hari ini Kami akan menutup mulut mereka, dan tangan mereka akan berkata kepada Kami, dan kaki mereka akan bersaksi tentang apa yang telah mereka lakukan." Saya tergugah. Makna ayat tentang Hari Pengadilan Akhir ini luar biasa!
Saya hidupkan lagi pita rekaman dan saya bergegas memindahkan makna itu ke larik-larik lagu tersebut. Pada mulanya saya ragu apakah makna yang sangat berbobot itu akan bisa masuk pas ke dalamnya. Bismillah. Keragu-raguan teratasi dan alhamdulillah penulisan lirik itu selesai. Lagu itu saya beri judul ”Ketika Tangan dan Kaki Berkata”.
Keesokannya dengan lega saya berkata di telepon,"Chris, alhamdulillah, selesai". Chrisye sangat gembira. Saya belum beritahu padanya asal-usul inspirasi lirik tersebut. Berikutnya hal tidak biasa terjadilah. Ketika berlatih di kamar menyanyikannya baru dua baris Chrisye menangis, menyanyi lagi, menangis lagi, berkali-kali.
Di dalam memoarnya yang dituliskan Alberthiene Endah, ”Chrisye: Sebuah Memoar Musikal”, 2007 (halaman 308-309), bertutur Chrisye:
”Lirik yang dibuat Taufiq Ismail adalah satu-satunya lirik dahsyat sepanjang karier, yang menggetarkan sekujur tubuh saya. Ada kekuatan misterius yang tersimpan dalam lirik itu. Liriknya benar-benar mencekam dan menggetarkan. Dibungkus melodi yang begitu menyayat, lagu itu bertambah susah saya nyanyikan! Di kamar, saya berkali-kali menyanyikan lagu itu. Baru dua baris, air mata saya membanjir. Saya coba lagi. Menangis lagi. Yanti sampai syok! Dia kaget melihat respons saya yang tidak biasa terhadap sebuah lagu. Taufiq memberi judul pada lagu itu sederhana sekali, ”Ketika Tangan dan Kaki Berkata”.
Lirik itu begitu merasuk dan membuat saya dihadapkan pada kenyataan, betapa tak berdayanya manusia ketika hari akhir tiba. Sepanjang malam saya gelisah. Saya akhirnya menelepon Taufiq dan menceritakan kesulitan saya. "Saya mendapatkan ilham lirik itu dari Surat Yasin ayat 65..." kata Taufiq. Ia menyarankan saya untuk tenang saat menyanyikannya. Karena sebagaimana bunyi ayatnya, orang memang sering kali tergetar membaca isinya. Walau sudah ditenangkan Yanti dan Taufiq, tetap saja saya menemukan kesulitan saat mencoba merekam di studio. Gagal, dan gagal lagi. Berkali-kali saya menangis dan duduk dengan lemas. Gila! Seumur-umur, sepanjang sejarah karir saya, belum pernah saya merasakan hal seperti ini. Dilumpuhkan oleh lagu sendiri!
Butuh kekuatan untuk bisa menyanyikan lagu itu. Erwin Gutawa yang sudah senewen menunggu lagu terakhir yang belum direkam itu, langsung mengingatkan saya, bahwa keberangkatan ke Australia sudah tak bisa ditunda lagi. Hari terakhir menjelang ke Australia, saya lalu mengajak Yanti ke studio, menemani saya rekaman. Yanti sholat khusus untuk mendoakan saya. Dengan susah payah, akhirnya saya bisa menyanyikan lagu itu hingga selesai. Dan tidak ada take ulang! Tidak mungkin. Karena saya sudah menangis dan tak sanggup menyanyikannya lagi. Jadi jika sekarang Anda mendengarkan lagu itu, itulah suara saya dengan getaran yang paling autentik, dan tak terulang! Jangankan menyanyikannya lagi, bila saya mendengarkan lagu itu saja, rasanya ingin berlari!
Lagu itu menjadi salah satu lagu paling penting dalam deretan lagu yang pernah saya nyanyikan. Kekuatan spiritual di dalamnya benar-benar meluluhkan perasaan. Itulah pengalaman batin saya yang paling dalam selama menyanyi.”
Penuturan Chrisye dalam memoarnya itu mengejutkan saya. Penghayatannya terhadap Pengadilan Hari Akhir sedemikian sensitif dan luarbiasanya, dengan saksi tetesan air matanya. Bukan main. Saya tidak menyangka sedemikian mendalam penghayatannya terhadap makna Pengadilan Hari Akhir di hari kiamat kelak.
* * *
Setelah rekaman "Ketika Tangan dan Kaki Berkata" selesai, dalam peluncuran album yang saya hadiri, Chrisye meneruskan titipan honorarium dari produser untuk lagu tersebut. Saya enggan menerimanya. Chrisye terkejut. "Kenapa, Bang, kurang?" Saya jelaskan bahwa saya tidak orisinil menuliskan lirik lagu ”Ketika Tangan dan Kaki Berkata” itu. Saya cuma jadi tempat lewat, jadi saluran saja. Jadi saya tak berhak menerimanya. Bukankah itu dari Surah Yasin ayat 65, firman Tuhan? Saya akan bersalah menerima sesuatu yang bukan hak saya.
Kami jadi berdebat. Chrisye mengatakan bahwa dia menghargai pendirian saya, tetapi itu merepotkan administrasi. Akhirnya Chrisye menemukan jalan keluar. "Begini saja Bang, Abang tetap terima fee ini, agar administrasi rapi. Kalau Abang merasa bersalah, atau berdosa, nah, mohonlah ampun kepada Allah. Tuhan Maha Pengampun 'kan?"
Saya pikir jalan yang ditawarkan Chrisye betul juga. Kalau saya berkeras menolak, akan kelihatan kaku, dan bisa ditafsirkan berlebihan. Akhirnya solusi Chrisye saya terima. Chrisye senang, saya pun senang.
* * *
Pada subuh hari Jum'at, 30 Maret 2007, pukul 04.08, penyanyi legendaris Chrisye wafat dalam usia 58 tahun, setelah tiga tahun lebih keluar masuk rumah sakit, termasuk berobat di Singapura. Diagnosis yang mengejutkan adalah kanker paru-paru stadium empat. Dia meninggalkan isteri, Yanti, dan empat anak, Risty, Nissa, Pasha dan Masha, 9 album proyek, 4 album sountrack, 20 album solo dan 2 filem. Semoga penyanyi yang lembut hati dan pengunjung masjid setia ini, tangan dan kakinya kelak akan bersaksi tentang amal salehnya serta menuntunnya memasuki Gerbang Hari Akhir yang semoga terbuka lebar baginya. Amin.
Ketika Tangan dan Kaki Berkata
Lirik : Taufiq Ismail
Lagu : Chrisye
Akan datang hari mulut dikunci
Kata tak ada lagi
Akan tiba masa tak ada suara
Dari mulut kita
Berkata tangan kita
Tentang apa yang dilakukannya
Berkata kaki kita
Kemana saja dia melangkahnya
Tidak tahu kita bila harinya
Tanggung jawab tiba
Rabbana
Tangan kami
Kaki kami
Mulut kami
Mata hati kami
Luruskanlah
Kukuhkanlah
Di jalan cahaya.... sempurna
Mohon karunia
Kepada kami
Hamba-Mu yang hina
1997
Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com
Apabila kasus ini diungkapkan ke media massa, bagaimana perasaan gadis ini? Apakah anda dapat membayangkan adik perempuan anda diperlakukan tidak senonoh oleh seorang hamba Tuhan dan anda melaporkannya kepada polisi? Gadis ini ingin melindungi masa depannya, tentu saja.
Di sini saya sengaja tidak menyebut nama, karena tidak ada maksud untuk mendiskreditkan atau mempermalukan seseorang. Anda mungkin masih penasaran, ingin tahu siapa hamba Tuhan itu. Tidak perlu! Yang penting, kita menjaga diri kita masing-masing, menjaga hati dengan segala kewaspadaan, jangan sampai kita tergelincir ke dalam dosa yang sama. Yang penting, kita pahami moral dari posting ini. Yang penting, hati-hati dalam berkonseling, jangan berdua-duaan di kamar tertutup, bahaya.
Meskipun kita hidup dalam zaman anugerah, kita perlu takut dan gentar akan Hari Penghakiman Tuhan, kita perlu menjaga kekudusan hidup kita. Berikut ini saya sampaikan pengalaman Chrisye sebagai pembanding, dalam pengalaman batinnya mengenai Hari Penghakiman itu. Mengapa dia bisa sensitif dan banyak orang lain tidak?
Penyair Taufiq Ismail menulis sebuah artikel tentang Krismansyah Rahadi (1949-2007) alias Chrisye di Majalah Sastra HORISON: "Krismansyah Rahadi (1949-2007): KETIKA MULUT TAK LAGI BERKATA"
Di tahun 1997 saya bertemu Chrisye sehabis sebuah acara, dan dia berkata, "Bang, saya punya sebuah lagu. Saya sudah coba menuliskan kata-katanya, tapi saya tidak puas. Bisakah Abang tolong tuliskan liriknya?" Karena saya suka lagu-lagu Chrisye, saya katakan: "bisa". Saya tanyakan kapan mesti selesai. Dia bilang sebulan. Menilik kegiatan saya yang lain, deadline sebulan itu bolehlah. Kaset lagu itu dikirimkannya, berikut keterangan berapa baris lirik diperlukan, dan untuk setiap larik berapa jumlah ketukannya, yang akan diisi dengan suku kata. Chrisye menginginkan puisi relijius.
Kemudian saya dengarkan lagu itu. Indah sekali. Saya suka betul. Sesudah seminggu, tidak ada ide. Dua minggu begitu juga. Minggu ketiga inspirasi masih tertutup. Saya mulai gelisah. Di ujung minggu keempat tetap buntu. Saya heran. Padahal lagu itu cantik jelita. Tapi kalau ide memang macet, apa mau dikatakan? Tampaknya saya akan telepon Chrisye keesokan harinya dan saya mau bilang, "Chris, maaf ya, macet. Sori." Saya akan kembalikan pita rekaman itu. Saya punya kebiasaan rutin baca Surah Yasin.
Malam itu, ketika sampai ayat 65 yang berbunyi, "A'udzubillahi minasy syaithonirrojim. Alyauma nakhtimu 'alaa afwahihim, wa tukallimuna aidhihim, wa tasyhadu arjuluhum bimaa kaanu yaksibuun", saya berhenti. Maknanya, "Pada hari ini Kami akan menutup mulut mereka, dan tangan mereka akan berkata kepada Kami, dan kaki mereka akan bersaksi tentang apa yang telah mereka lakukan." Saya tergugah. Makna ayat tentang Hari Pengadilan Akhir ini luar biasa!
Saya hidupkan lagi pita rekaman dan saya bergegas memindahkan makna itu ke larik-larik lagu tersebut. Pada mulanya saya ragu apakah makna yang sangat berbobot itu akan bisa masuk pas ke dalamnya. Bismillah. Keragu-raguan teratasi dan alhamdulillah penulisan lirik itu selesai. Lagu itu saya beri judul ”Ketika Tangan dan Kaki Berkata”.
Keesokannya dengan lega saya berkata di telepon,"Chris, alhamdulillah, selesai". Chrisye sangat gembira. Saya belum beritahu padanya asal-usul inspirasi lirik tersebut. Berikutnya hal tidak biasa terjadilah. Ketika berlatih di kamar menyanyikannya baru dua baris Chrisye menangis, menyanyi lagi, menangis lagi, berkali-kali.
Di dalam memoarnya yang dituliskan Alberthiene Endah, ”Chrisye: Sebuah Memoar Musikal”, 2007 (halaman 308-309), bertutur Chrisye:
”Lirik yang dibuat Taufiq Ismail adalah satu-satunya lirik dahsyat sepanjang karier, yang menggetarkan sekujur tubuh saya. Ada kekuatan misterius yang tersimpan dalam lirik itu. Liriknya benar-benar mencekam dan menggetarkan. Dibungkus melodi yang begitu menyayat, lagu itu bertambah susah saya nyanyikan! Di kamar, saya berkali-kali menyanyikan lagu itu. Baru dua baris, air mata saya membanjir. Saya coba lagi. Menangis lagi. Yanti sampai syok! Dia kaget melihat respons saya yang tidak biasa terhadap sebuah lagu. Taufiq memberi judul pada lagu itu sederhana sekali, ”Ketika Tangan dan Kaki Berkata”.
Lirik itu begitu merasuk dan membuat saya dihadapkan pada kenyataan, betapa tak berdayanya manusia ketika hari akhir tiba. Sepanjang malam saya gelisah. Saya akhirnya menelepon Taufiq dan menceritakan kesulitan saya. "Saya mendapatkan ilham lirik itu dari Surat Yasin ayat 65..." kata Taufiq. Ia menyarankan saya untuk tenang saat menyanyikannya. Karena sebagaimana bunyi ayatnya, orang memang sering kali tergetar membaca isinya. Walau sudah ditenangkan Yanti dan Taufiq, tetap saja saya menemukan kesulitan saat mencoba merekam di studio. Gagal, dan gagal lagi. Berkali-kali saya menangis dan duduk dengan lemas. Gila! Seumur-umur, sepanjang sejarah karir saya, belum pernah saya merasakan hal seperti ini. Dilumpuhkan oleh lagu sendiri!
Butuh kekuatan untuk bisa menyanyikan lagu itu. Erwin Gutawa yang sudah senewen menunggu lagu terakhir yang belum direkam itu, langsung mengingatkan saya, bahwa keberangkatan ke Australia sudah tak bisa ditunda lagi. Hari terakhir menjelang ke Australia, saya lalu mengajak Yanti ke studio, menemani saya rekaman. Yanti sholat khusus untuk mendoakan saya. Dengan susah payah, akhirnya saya bisa menyanyikan lagu itu hingga selesai. Dan tidak ada take ulang! Tidak mungkin. Karena saya sudah menangis dan tak sanggup menyanyikannya lagi. Jadi jika sekarang Anda mendengarkan lagu itu, itulah suara saya dengan getaran yang paling autentik, dan tak terulang! Jangankan menyanyikannya lagi, bila saya mendengarkan lagu itu saja, rasanya ingin berlari!
Lagu itu menjadi salah satu lagu paling penting dalam deretan lagu yang pernah saya nyanyikan. Kekuatan spiritual di dalamnya benar-benar meluluhkan perasaan. Itulah pengalaman batin saya yang paling dalam selama menyanyi.”
Penuturan Chrisye dalam memoarnya itu mengejutkan saya. Penghayatannya terhadap Pengadilan Hari Akhir sedemikian sensitif dan luarbiasanya, dengan saksi tetesan air matanya. Bukan main. Saya tidak menyangka sedemikian mendalam penghayatannya terhadap makna Pengadilan Hari Akhir di hari kiamat kelak.
* * *
Setelah rekaman "Ketika Tangan dan Kaki Berkata" selesai, dalam peluncuran album yang saya hadiri, Chrisye meneruskan titipan honorarium dari produser untuk lagu tersebut. Saya enggan menerimanya. Chrisye terkejut. "Kenapa, Bang, kurang?" Saya jelaskan bahwa saya tidak orisinil menuliskan lirik lagu ”Ketika Tangan dan Kaki Berkata” itu. Saya cuma jadi tempat lewat, jadi saluran saja. Jadi saya tak berhak menerimanya. Bukankah itu dari Surah Yasin ayat 65, firman Tuhan? Saya akan bersalah menerima sesuatu yang bukan hak saya.
Kami jadi berdebat. Chrisye mengatakan bahwa dia menghargai pendirian saya, tetapi itu merepotkan administrasi. Akhirnya Chrisye menemukan jalan keluar. "Begini saja Bang, Abang tetap terima fee ini, agar administrasi rapi. Kalau Abang merasa bersalah, atau berdosa, nah, mohonlah ampun kepada Allah. Tuhan Maha Pengampun 'kan?"
Saya pikir jalan yang ditawarkan Chrisye betul juga. Kalau saya berkeras menolak, akan kelihatan kaku, dan bisa ditafsirkan berlebihan. Akhirnya solusi Chrisye saya terima. Chrisye senang, saya pun senang.
* * *
Pada subuh hari Jum'at, 30 Maret 2007, pukul 04.08, penyanyi legendaris Chrisye wafat dalam usia 58 tahun, setelah tiga tahun lebih keluar masuk rumah sakit, termasuk berobat di Singapura. Diagnosis yang mengejutkan adalah kanker paru-paru stadium empat. Dia meninggalkan isteri, Yanti, dan empat anak, Risty, Nissa, Pasha dan Masha, 9 album proyek, 4 album sountrack, 20 album solo dan 2 filem. Semoga penyanyi yang lembut hati dan pengunjung masjid setia ini, tangan dan kakinya kelak akan bersaksi tentang amal salehnya serta menuntunnya memasuki Gerbang Hari Akhir yang semoga terbuka lebar baginya. Amin.
Ketika Tangan dan Kaki Berkata
Lirik : Taufiq Ismail
Lagu : Chrisye
Akan datang hari mulut dikunci
Kata tak ada lagi
Akan tiba masa tak ada suara
Dari mulut kita
Berkata tangan kita
Tentang apa yang dilakukannya
Berkata kaki kita
Kemana saja dia melangkahnya
Tidak tahu kita bila harinya
Tanggung jawab tiba
Rabbana
Tangan kami
Kaki kami
Mulut kami
Mata hati kami
Luruskanlah
Kukuhkanlah
Di jalan cahaya.... sempurna
Mohon karunia
Kepada kami
Hamba-Mu yang hina
1997
Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com
Tuesday, January 29, 2008
A Friend of God
Kisah ini pernah saya baca bertahun-tahun yang lalu. Ketika saya membacanya lagi, kisah ini tetap menyentuh hati. Mari kita simak lagi.
Ada seorang bocah kelas 4 SD di suatu daerah di Milaor Camarine Sur (Filipina) yang setiap hari mengambil rute melintasi daerah tanah berbatuan dan menyeberangi jalan raya yang berbahaya dimana banyak kendaraan yang melaju kencang dan tidak beraturan.
Setiap kali berhasil menyeberangi jalan raya tersebut, bocah ini mampir sebentar ke gereja setiap pagi hanya untuk menyapa Tuhan. Tindakannya selama ini diamati oleh seorang Pendeta yang merasa terharu menjumpai sikap bocah yang lugu dan beriman tersebut.
"Bagaimana kabarmu, Andy? Apakah kamu akan ke sekolah?"
"Ya, Bapa Pendeta!" balas Andy dengan senyumnya yang menyentuh hati Pendeta tersebut.
Dia begitu memperhatikan keselamatan Andy sehingga suatu hari dia berkata kepada bocah tersebut, "Jangan menyeberang jalan raya sendirian, setiap kali pulang sekolah kamu boleh mampir ke gereja dan saya akan menemani kamu ke seberang jalan. Jadi dengan cara tersebut saya bisa memastikan kamu pulang ke rumah dengan selamat."
"Terima kasih, Bapa Pendeta."
"Kenapa kamu tidak pulang sekarang? Apakah kamu tinggal di gereja setelah´pulang sekolah?"
"Aku hanya ingin menyapa kepada Tuhan... sahabatku."
Dan Pendeta itu segera meninggalkan Andy untuk melewatkan waktunya didepan´altar berbicara sendiri. Tapi kemudian Pendeta tersebut bersembunyi di balik altar untuk mendengarkan apa yang dibicarakan Andy kepada Bapa di Surga.
"Engkau tahu Tuhan, ujian matematikaku hari ini sangat buruk, tetapi aku tidak mencontek walaupun teman-temanku melakukannya. Aku makan satu kue dan minum airku. Ayahku mengalami musim paceklik dan yang bisa kumakan hanyalah kue ini. Terima kasih buat kue ini, Tuhan!
Aku tadi melihat anak kucing malang yang kelaparan dan aku memberikan kueku yang terakhir buatnya. Lucunya, aku tidak begitu lapar. Lihat, ini sepatuku yang terakhir. Aku mungkin harus berjalan tanpa sepatu minggu depan. Engkau tahu sepatu ini akan rusak, tapi tidak apa-apa... Paling tidak aku tetap dapat pergi ke sekolah.
Orang-orang berbicara bahwa kami akan mengalami musim panen yang susah bulan ini, bahkan beberapa temanku sudah berhenti sekolah. Tolong bantu mereka supaya bisa sekolah lagi, tolong Tuhan!
Oh ya, Engkau tahu Ibu memukulku lagi. Ini memang menyakitkan, tapi aku tahu sakit ini akan hilang, paling tidak aku masih punya seorang Ibu, Tuhan. Engkau mau lihat lukaku? Aku tahu Engkau mampu menyembuhkannya, disini .. disini... Aku rasa Engkau tahu yang ini 'kan? Tolong jangan marahi ibuku ya? Dia hanya sedang lelah dan kuatir akan kebutuhan makanan dan biaya sekolahku. Itulah mengapa dia memukul kami.
Oh Tuhan, aku rasa aku sedang jatuh cinta saat ini. Ada seorang gadis yang cantik di kelasku, namanya Anita. Menurut-Mu, apakah dia akan menyukaiku? Bagaimanapun juga paling tidak aku tahu Engkau tetap menyukaiku karena aku tidak usah menjadi siapapun hanya untuk menyenangkan-Mu. Engkau adalah sahabatku.
Hei, ulang tahun-Mu tinggal dua hari lagi, apakah Engkau gembira? Tunggu saja sampai Engkau lihat, aku punya hadiah untuk-Mu tapi ini kejutan bagi-Mu. Aku berharap Engkau akan menyukainya. Ooops, aku harus pergi sekarang."
Kemudian Andy segera berdiri dan memanggil Pendeta itu, "Bapa Pendeta, Bapa Pendeta! Aku sudah selesai bicara dengan sahabatku, anda bisa menemaniku menyeberang jalan sekarang!"
Kegiatan tersebut berlangsung setiap hari, Andy tidak pernah absen sekalipun. Pendeta Agaton berbagi cerita ini kepada jemaat di Gerejanya setiap hari Minggu karena dia belum pernah melihat suatu iman dan kepercayaan yang murni kepada Tuhan, suatu pandangan positif dalam situasi yang negatif.
Pada hari Natal, Pendeta Agaton jatuh sakit sehingga dia tidak bisa memimpin gereja dan dirawat di rumah sakit. Gereja diserahkan pengelolaannya kepada 4 wanita tua yang tidak pernah tersenyum dan selalu menyalahkan segala sesuatu yang orang lain perbuat. Mereka juga sering mengutuki orang yang menyinggung mereka.
Mereka sedang berlutut. Ketika Andy tiba dari pesta natal di sekolahnya, dan menyapa "Halo Tuhan, Aku..."
"Kurang ajar kamu bocah !!! Tidakkah kamu lihat kami sedang berdoa ??!!! Keluar!!!"
Andy begitu terkejut, "Dimana Bapa Pendeta Agaton? Dia seharusnya membantuku menyeberangi jalan raya. Dia selalu menyuruhku mampir lewat pintu belakang Gereja. Tidak hanya itu, aku juga harus menyapa Tuhan Yesus ini hari ulang tahun-Nya, aku punya hadiah untuk-Nya...."
Ketika Andy mau mengambil hadiah tersebut dari dalam bajunya, seorang dari keempat wanita itu menarik kerah bajunya dan mendorongnya keluar gereja. Sambil membuat tanda salib ia berkata, "Keluarlah bocah! Kamu akan mendapatkannya!"
Oleh karena itu Andy tidak punya pilihan lain kecuali sendirian menyeberangi jalan raya yang berbahaya tersebut di depan Gereja. Dia mulai menyeberang ketika tiba-tiba sebuah bus datang melaju dengan kencang. Disitu ada tikungan yang tidak terlihat pandangan. Andy melindungi hadiah tersebut di dalam saku bajunya, sehingga dia tidak melihat datangnya bus tersebut. Waktunya hanya sedikit untuk menghindar dan Andy tewas seketika. Orang-orang di sekitarnya berlarian dan mengelilingi tubuh bocah malang tersebut yang sudah tak bernyawa.
Tiba-tiba, entah muncul darimana ada seorang pria berjubah putih dengan wajah yang halus dan lembut namun penuh dengan air mata datang dan memeluk tubuh bocah malang tersebut. Dia menangis. Orang-orang penasaran dengan dirinya dan bertanya, "Maaf, Tuan, apakah anda keluarga bocah malang ini? Apakah anda mengenalnya?"
Pria tersebut dengan hati yang berduka karena penderitaan yang begitu dalam segera berdiri dan berkata, "Dia adalah sahabatku." Hanya itulah yang dia katakan. Dia mengambil bungkusan hadiah dari dalam baju bocah malang tersebut dan menaruhnya di dadanya. Dia lalu berdiri dan membawa pergi tubuh bocah malang tersebut dan keduanya kemudian menghilang. Kerumunan orang tersebut semakin penasaran...
Di malam Natal, Pendeta Agaton menerima berita yang sungguh mengejutkan. Dia berkunjung ke rumah Andy untuk memastikan pria misterius berjubah putih tersebut. Pendeta itu bertemu dan bercakap-cakap dengan kedua orang tua Andy.
"Bagaimana anda mengetahui putera anda meninggal?"
"Seorang pria berjubah putih yang membawanya kemari," ucap ibu Andy terisak.
"Apa katanya?"
Ayah Andy berkata, "Dia tidak mengucapkan sepatah katapun. Dia sangat berduka. Kami tidak mengenalnya namun dia terlihat sangat kesepian atas meninggalnya Andy sepertinya Dia begitu mengenal Andy dengan baik. Tapi ada suatu kedamaian yang sulit untuk dijelaskan mengenai Dirinya. Dia menyerahkan anak kami dan tersenyum lembut. Dia menyibakkan rambut Andy darinya dan memberikan kecupan di keningnya kemudian Dia membisikkan sesuatu..."
"Apa yang dia katakan?"
"Dia berkata kepada puteraku," ujar sang ayah, "terima kasih buat kadonya. Aku akan segera berjumpa denganmu. Engkau akan bersamaku."
Dan sang Ayah melanjutkan, "Anda tahu kemudian. Semuanya itu terasa begitu indah. Aku menangis tetapi tidak tahu mengapa bisa demikian. Yang aku tahu, aku menangis karena bahagia. Aku tidak dapat menjelaskannya, Bapa Pendeta, tetapi ketika Dia meninggalkan kami ada suatu kedamaian yang memenuhi hati kami. Aku merasakan kasihnya yang begitu dalam di hatiku. Aku tidak dapat melukiskan sukacita di dalam hatiku. Aku tahu puteraku sudah berada di Surga sekarang. Tapi tolong katakan padaku, Bapa Pendeta, siapakah pria ini yang selalu bicara dengan puteraku setiap hari di gerejamu? Anda seharusnya mengetahui karena anda selalu berada disana setiap hari, kecuali pada waktu puteraku meninggal."
Pendeta Agaton tiba-tiba merasa air matanya menetes dipipinya. Dengan lutut gemetar dia berbisik, "Dia tidak berbicara dengan siapa-siapa, kecuali dengan Tuhan."
Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com
Ada seorang bocah kelas 4 SD di suatu daerah di Milaor Camarine Sur (Filipina) yang setiap hari mengambil rute melintasi daerah tanah berbatuan dan menyeberangi jalan raya yang berbahaya dimana banyak kendaraan yang melaju kencang dan tidak beraturan.
Setiap kali berhasil menyeberangi jalan raya tersebut, bocah ini mampir sebentar ke gereja setiap pagi hanya untuk menyapa Tuhan. Tindakannya selama ini diamati oleh seorang Pendeta yang merasa terharu menjumpai sikap bocah yang lugu dan beriman tersebut.
"Bagaimana kabarmu, Andy? Apakah kamu akan ke sekolah?"
"Ya, Bapa Pendeta!" balas Andy dengan senyumnya yang menyentuh hati Pendeta tersebut.
Dia begitu memperhatikan keselamatan Andy sehingga suatu hari dia berkata kepada bocah tersebut, "Jangan menyeberang jalan raya sendirian, setiap kali pulang sekolah kamu boleh mampir ke gereja dan saya akan menemani kamu ke seberang jalan. Jadi dengan cara tersebut saya bisa memastikan kamu pulang ke rumah dengan selamat."
"Terima kasih, Bapa Pendeta."
"Kenapa kamu tidak pulang sekarang? Apakah kamu tinggal di gereja setelah´pulang sekolah?"
"Aku hanya ingin menyapa kepada Tuhan... sahabatku."
Dan Pendeta itu segera meninggalkan Andy untuk melewatkan waktunya didepan´altar berbicara sendiri. Tapi kemudian Pendeta tersebut bersembunyi di balik altar untuk mendengarkan apa yang dibicarakan Andy kepada Bapa di Surga.
"Engkau tahu Tuhan, ujian matematikaku hari ini sangat buruk, tetapi aku tidak mencontek walaupun teman-temanku melakukannya. Aku makan satu kue dan minum airku. Ayahku mengalami musim paceklik dan yang bisa kumakan hanyalah kue ini. Terima kasih buat kue ini, Tuhan!
Aku tadi melihat anak kucing malang yang kelaparan dan aku memberikan kueku yang terakhir buatnya. Lucunya, aku tidak begitu lapar. Lihat, ini sepatuku yang terakhir. Aku mungkin harus berjalan tanpa sepatu minggu depan. Engkau tahu sepatu ini akan rusak, tapi tidak apa-apa... Paling tidak aku tetap dapat pergi ke sekolah.
Orang-orang berbicara bahwa kami akan mengalami musim panen yang susah bulan ini, bahkan beberapa temanku sudah berhenti sekolah. Tolong bantu mereka supaya bisa sekolah lagi, tolong Tuhan!
Oh ya, Engkau tahu Ibu memukulku lagi. Ini memang menyakitkan, tapi aku tahu sakit ini akan hilang, paling tidak aku masih punya seorang Ibu, Tuhan. Engkau mau lihat lukaku? Aku tahu Engkau mampu menyembuhkannya, disini .. disini... Aku rasa Engkau tahu yang ini 'kan? Tolong jangan marahi ibuku ya? Dia hanya sedang lelah dan kuatir akan kebutuhan makanan dan biaya sekolahku. Itulah mengapa dia memukul kami.
Oh Tuhan, aku rasa aku sedang jatuh cinta saat ini. Ada seorang gadis yang cantik di kelasku, namanya Anita. Menurut-Mu, apakah dia akan menyukaiku? Bagaimanapun juga paling tidak aku tahu Engkau tetap menyukaiku karena aku tidak usah menjadi siapapun hanya untuk menyenangkan-Mu. Engkau adalah sahabatku.
Hei, ulang tahun-Mu tinggal dua hari lagi, apakah Engkau gembira? Tunggu saja sampai Engkau lihat, aku punya hadiah untuk-Mu tapi ini kejutan bagi-Mu. Aku berharap Engkau akan menyukainya. Ooops, aku harus pergi sekarang."
Kemudian Andy segera berdiri dan memanggil Pendeta itu, "Bapa Pendeta, Bapa Pendeta! Aku sudah selesai bicara dengan sahabatku, anda bisa menemaniku menyeberang jalan sekarang!"
Kegiatan tersebut berlangsung setiap hari, Andy tidak pernah absen sekalipun. Pendeta Agaton berbagi cerita ini kepada jemaat di Gerejanya setiap hari Minggu karena dia belum pernah melihat suatu iman dan kepercayaan yang murni kepada Tuhan, suatu pandangan positif dalam situasi yang negatif.
Pada hari Natal, Pendeta Agaton jatuh sakit sehingga dia tidak bisa memimpin gereja dan dirawat di rumah sakit. Gereja diserahkan pengelolaannya kepada 4 wanita tua yang tidak pernah tersenyum dan selalu menyalahkan segala sesuatu yang orang lain perbuat. Mereka juga sering mengutuki orang yang menyinggung mereka.
Mereka sedang berlutut. Ketika Andy tiba dari pesta natal di sekolahnya, dan menyapa "Halo Tuhan, Aku..."
"Kurang ajar kamu bocah !!! Tidakkah kamu lihat kami sedang berdoa ??!!! Keluar!!!"
Andy begitu terkejut, "Dimana Bapa Pendeta Agaton? Dia seharusnya membantuku menyeberangi jalan raya. Dia selalu menyuruhku mampir lewat pintu belakang Gereja. Tidak hanya itu, aku juga harus menyapa Tuhan Yesus ini hari ulang tahun-Nya, aku punya hadiah untuk-Nya...."
Ketika Andy mau mengambil hadiah tersebut dari dalam bajunya, seorang dari keempat wanita itu menarik kerah bajunya dan mendorongnya keluar gereja. Sambil membuat tanda salib ia berkata, "Keluarlah bocah! Kamu akan mendapatkannya!"
Oleh karena itu Andy tidak punya pilihan lain kecuali sendirian menyeberangi jalan raya yang berbahaya tersebut di depan Gereja. Dia mulai menyeberang ketika tiba-tiba sebuah bus datang melaju dengan kencang. Disitu ada tikungan yang tidak terlihat pandangan. Andy melindungi hadiah tersebut di dalam saku bajunya, sehingga dia tidak melihat datangnya bus tersebut. Waktunya hanya sedikit untuk menghindar dan Andy tewas seketika. Orang-orang di sekitarnya berlarian dan mengelilingi tubuh bocah malang tersebut yang sudah tak bernyawa.
Tiba-tiba, entah muncul darimana ada seorang pria berjubah putih dengan wajah yang halus dan lembut namun penuh dengan air mata datang dan memeluk tubuh bocah malang tersebut. Dia menangis. Orang-orang penasaran dengan dirinya dan bertanya, "Maaf, Tuan, apakah anda keluarga bocah malang ini? Apakah anda mengenalnya?"
Pria tersebut dengan hati yang berduka karena penderitaan yang begitu dalam segera berdiri dan berkata, "Dia adalah sahabatku." Hanya itulah yang dia katakan. Dia mengambil bungkusan hadiah dari dalam baju bocah malang tersebut dan menaruhnya di dadanya. Dia lalu berdiri dan membawa pergi tubuh bocah malang tersebut dan keduanya kemudian menghilang. Kerumunan orang tersebut semakin penasaran...
Di malam Natal, Pendeta Agaton menerima berita yang sungguh mengejutkan. Dia berkunjung ke rumah Andy untuk memastikan pria misterius berjubah putih tersebut. Pendeta itu bertemu dan bercakap-cakap dengan kedua orang tua Andy.
"Bagaimana anda mengetahui putera anda meninggal?"
"Seorang pria berjubah putih yang membawanya kemari," ucap ibu Andy terisak.
"Apa katanya?"
Ayah Andy berkata, "Dia tidak mengucapkan sepatah katapun. Dia sangat berduka. Kami tidak mengenalnya namun dia terlihat sangat kesepian atas meninggalnya Andy sepertinya Dia begitu mengenal Andy dengan baik. Tapi ada suatu kedamaian yang sulit untuk dijelaskan mengenai Dirinya. Dia menyerahkan anak kami dan tersenyum lembut. Dia menyibakkan rambut Andy darinya dan memberikan kecupan di keningnya kemudian Dia membisikkan sesuatu..."
"Apa yang dia katakan?"
"Dia berkata kepada puteraku," ujar sang ayah, "terima kasih buat kadonya. Aku akan segera berjumpa denganmu. Engkau akan bersamaku."
Dan sang Ayah melanjutkan, "Anda tahu kemudian. Semuanya itu terasa begitu indah. Aku menangis tetapi tidak tahu mengapa bisa demikian. Yang aku tahu, aku menangis karena bahagia. Aku tidak dapat menjelaskannya, Bapa Pendeta, tetapi ketika Dia meninggalkan kami ada suatu kedamaian yang memenuhi hati kami. Aku merasakan kasihnya yang begitu dalam di hatiku. Aku tidak dapat melukiskan sukacita di dalam hatiku. Aku tahu puteraku sudah berada di Surga sekarang. Tapi tolong katakan padaku, Bapa Pendeta, siapakah pria ini yang selalu bicara dengan puteraku setiap hari di gerejamu? Anda seharusnya mengetahui karena anda selalu berada disana setiap hari, kecuali pada waktu puteraku meninggal."
Pendeta Agaton tiba-tiba merasa air matanya menetes dipipinya. Dengan lutut gemetar dia berbisik, "Dia tidak berbicara dengan siapa-siapa, kecuali dengan Tuhan."
Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com
One Paragraph That Explains Life!
Arthur Ashe, the legendary Wimbledon player was dying of AIDS which he got due to infected blood he received during a heart surgery in 1983.
From world over, he received letters from his fans, one of which conveyed: "Why does God have to select you for such a bad disease"?
To this Arthur Ashe replied:
"The world over -- 50 million children start playing tennis, 5 million learn to play tennis, 500,000 learn professional tennis, 50,000 come to the circuit, 5000 reach the grand slam, 50 reach Wimbledon, 4 to semi final, 2 to the finals, when I was holding a cup I never asked God, 'Why me?' And today in pain I should not be asking God, 'Why me?' "
Happiness keeps you sweet,
Trials keep you strong,
Sorrow keeps you human,
Failure keeps you humble
and Success keeps you glowing,
but only Faith & Attitude keeps you going...
Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com
From world over, he received letters from his fans, one of which conveyed: "Why does God have to select you for such a bad disease"?
To this Arthur Ashe replied:
"The world over -- 50 million children start playing tennis, 5 million learn to play tennis, 500,000 learn professional tennis, 50,000 come to the circuit, 5000 reach the grand slam, 50 reach Wimbledon, 4 to semi final, 2 to the finals, when I was holding a cup I never asked God, 'Why me?' And today in pain I should not be asking God, 'Why me?' "
Happiness keeps you sweet,
Trials keep you strong,
Sorrow keeps you human,
Failure keeps you humble
and Success keeps you glowing,
but only Faith & Attitude keeps you going...
Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com
Friday, January 25, 2008
The Wounded Heart
Penganiayaan itu kuterima dari papaku sendiri. Orang tua yang seharusnya memberikan aku kasih sayang yang aku rindukan. Sakit hati, dendam yang mendalam, semua itu tertanam dan membekas di dalam hidupku sampai akhirnya . . .
Namaku Batsemira Lorita. Teman-teman memanggilku Rita. Aku lahir dan dibesarkan di dalam keluarga yang sederhana. Dari sejak kecil orang-tuaku sudah memperkenalkan kami kepada Kristus. Hingga aku beranjak dewasa aku selalu ingat apa yang orang-tuaku ajarkan mengenai Kristus serta kehidupan yang seharusnya dijalankan oleh setiap orang percaya. Pengajaran itu ternyata hanya sebatas di bibir saja. Sikap dan perlakuan yang diperlihatkan orang-tuaku, terutama papaku, tidaklah sesuai dengan apa yang mereka ajarkan.
Papa memiliki harapan yang cukup besar terhadap anak-anaknya. Kami enam bersaudara dan aku adalah anak bungsu. Untuk mencapai apa yang ia cita-citakan, ia mendidik kami dengan sangat keras. Semasa kami sekolah, belajar adalah nomor satu, tidak ada waktu untuk main-main. Tak jarang ketika kami melakukan kesalahan, papa memarahi disertai kekerasan fisik. Makian, pukulan dengan rotan biasa ia lakukan. Bahkan kakakku yang ketiga pernah digantung ketika dia tidak mau belajar. Semua perlakukan kasar ini begitu membekas dalam hidupku. Sampai akhirnya aku tidak tahan lagi dan kebencian itu berubah menjadi dendam yang mendalam di hati.
Peristiwa kelam itu terjadi ketika aku duduk di bangku SMP kelas tiga. Suatu hari karena sudah lama belajar, aku memutuskan untuk pergi bermain-main dengan teman-teman di sekitar kompleks rumah. Rupanya hal itu membuat papa marah karena yang ia inginkan adalah agar aku belajar terus. Ia lalu datang menghampiriku. Di depan umum ia langsung menghantam dan menendang tulang ekorku. Tidak hanya sampai di situ. Sambil terus memukul, ia menyeretku pulang. Tiba di rumah penganiayaan itu tidak berhenti. Terus dan terus ia memukul, seolah-olah tidak ada habis-habis tenaganya untuk melakukannya, sampai rotan yang digunakan untuk memukuliku patah. Biar bagaimanapun aku hanyalah seorang wanita, tidak sepantasnya menerima perlakuan yang demikian kejamnya.
Aku menahan rasa sakit yang menjalar di seluruh tubuh pada waktu itu. Akan tetapi rasa sakit yang jauh lebih perih dan tidak tertahankan adalah sakit di hatiku. Akibat kejadian itu aku merasa, untuk apa aku hidup kalau hanya untuk dianiaya? Untuk apa aku hidup kalau hanya menjadi batu sandungan bagi papa? Aku ingin bunuh diri, itulah yang ingin aku lakukan saat itu. Kejadian itu menimbulkan dendam di hatiku dan ketika itu aku sudah menganggap papa sebagai musuh dalam hidupku.
Setelah peristiwa itu aku tetap menjalani kehidupan sebagaimana biasanya. Sebagai seorang anak aku tetap menunjukkan sikap yang baik, penurut di depan orang tua. Namun di belakang mereka aku benar-benar membenci dan menaruh dendam terhadap mereka, terutama kepada papa.
Dalam kegiatan kerohanian aku tetap melayani sebagai seorang Worship Leader pada saat itu dan juga mengajar di Sekolah Minggu. Aku tetap beribadah, bertemu dengan teman-teman seiman, dan sharing tentang berbagai hal. Hal itu merupakan hal rutin yang aku lakukan. Tetapi aku tidak pernah mau menceritakan hal buruk yang telah aku terima, karena bagiku itu tidak penting. Aku menyimpan hal itu sendiri. Menurutku masalah tidak akan pernah selesai dan aku tidak mau menyelesaikannya sebelum aku memberikan pelajaran kepada papaku.
Tuhan mengetahui semua niat buruk dan dendam yang tersimpan. Dia sungguh menginginkan aku berubah dan dilepaskan dari semua perasaan ini. Apa yang sudah aku rencanakan tidak pernah terwujud karena Tuhan tidak mau menunda waktu pemulihan itu terjadi dalam hidupku.
Suatu ketika aku menghadiri ibadah perayaan natal. Ibadah berlangsung seperti biasanya hingga tiba pada penyampaian firman Tuhan yang ketika itu berbicara mengenai "Hati Bapa". Aku terkejut dan takjub akan firman tersebut. Pesan yang disampaikan adalah: "Bapa di dunia bisa mengecewakan, tetapi Bapa di sorga tidak pernah mengecewakan".
Saat itu Roh Kudus berbicara kepadaku bahwa Dia ingin membalut luka-luka batin yang selama ini aku alami. Aku merenungkan kembali dan ternyata aku mendapati di sana memang ada luka yang begitu mendalam dan telah berakar. Tuhan ingin aku memaafkan dan melupakan apa yang telah dilakukan oleh papa agar luka itu dapat diobati dan aku dapat menjadi sembuh. Aku menangis dan menyesali niat buruk yang selama ini telah disiapkan untuk membalas perbuatan papa. Aku menyembah Tuhan, meminta ampun, dan tenggelam dalam kasih dan pengampunan-Nya.
Aku telah mengambil komitmen untuk meminta maaf. Setiba di rumah aku langsung menghampiri papa dan berkata, "Papa, maafkan saya, karena selama ini saya telah membenci dan menaruh dentam atas semua perlakuan kasar yang telah perbuat terhadap saya." Saat itu Tuhan bekerja secara luar biasa. Dia menjamah hati papa dan memulihkan hubungan antara seorang ayah dengan anaknya. Sejak saat itu beliau berubah total. Dia mendukung setiap keputusan yang aku ambil, termasuk keputusan untuk menikah.
Kini di hatiku sudah tidak ada dendam lagi. Justru yang ingin aku lakukan adalah membahagiakan kedua orang-tuaku di usia mereka yang telah lanjut dengan apa yang terbaik. Kebahagiaanku telah Tuhan lengkapi dengan memberikan pendamping yang begitu mengasihi, baik kepadaku maupun kepada keluargaku. Pada diri suamiku aku menemukan pribadi yang takut akan Tuhan. Kebahagiaanku ditambah lagi dengan keberadaan seorang putera. Lengkaplah sudah kebahagiaanku.
Luka-luka batin bukannya tidak dapat disembuhkan. Itu hanya bisa disembuhkan di dalam Yesus Kristus. Jangan membiarkan diri kita untuk cepat terluka dan menyimpan setiap kejadian yang tidak menyenangkan di dalam hati. Anggaplah setiap peristiwa yang terjadi di dalam hidup kita sebagai ujian dari Tuhan agar karakter kita semakin serupa dengan karakter Kristus yang lemah lembut dan suka mengampuni. (Sumber: Majalah New Life, edisi 01/2006, terbitan CWS Jakarta)
Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com
Namaku Batsemira Lorita. Teman-teman memanggilku Rita. Aku lahir dan dibesarkan di dalam keluarga yang sederhana. Dari sejak kecil orang-tuaku sudah memperkenalkan kami kepada Kristus. Hingga aku beranjak dewasa aku selalu ingat apa yang orang-tuaku ajarkan mengenai Kristus serta kehidupan yang seharusnya dijalankan oleh setiap orang percaya. Pengajaran itu ternyata hanya sebatas di bibir saja. Sikap dan perlakuan yang diperlihatkan orang-tuaku, terutama papaku, tidaklah sesuai dengan apa yang mereka ajarkan.
Papa memiliki harapan yang cukup besar terhadap anak-anaknya. Kami enam bersaudara dan aku adalah anak bungsu. Untuk mencapai apa yang ia cita-citakan, ia mendidik kami dengan sangat keras. Semasa kami sekolah, belajar adalah nomor satu, tidak ada waktu untuk main-main. Tak jarang ketika kami melakukan kesalahan, papa memarahi disertai kekerasan fisik. Makian, pukulan dengan rotan biasa ia lakukan. Bahkan kakakku yang ketiga pernah digantung ketika dia tidak mau belajar. Semua perlakukan kasar ini begitu membekas dalam hidupku. Sampai akhirnya aku tidak tahan lagi dan kebencian itu berubah menjadi dendam yang mendalam di hati.
Peristiwa kelam itu terjadi ketika aku duduk di bangku SMP kelas tiga. Suatu hari karena sudah lama belajar, aku memutuskan untuk pergi bermain-main dengan teman-teman di sekitar kompleks rumah. Rupanya hal itu membuat papa marah karena yang ia inginkan adalah agar aku belajar terus. Ia lalu datang menghampiriku. Di depan umum ia langsung menghantam dan menendang tulang ekorku. Tidak hanya sampai di situ. Sambil terus memukul, ia menyeretku pulang. Tiba di rumah penganiayaan itu tidak berhenti. Terus dan terus ia memukul, seolah-olah tidak ada habis-habis tenaganya untuk melakukannya, sampai rotan yang digunakan untuk memukuliku patah. Biar bagaimanapun aku hanyalah seorang wanita, tidak sepantasnya menerima perlakuan yang demikian kejamnya.
Aku menahan rasa sakit yang menjalar di seluruh tubuh pada waktu itu. Akan tetapi rasa sakit yang jauh lebih perih dan tidak tertahankan adalah sakit di hatiku. Akibat kejadian itu aku merasa, untuk apa aku hidup kalau hanya untuk dianiaya? Untuk apa aku hidup kalau hanya menjadi batu sandungan bagi papa? Aku ingin bunuh diri, itulah yang ingin aku lakukan saat itu. Kejadian itu menimbulkan dendam di hatiku dan ketika itu aku sudah menganggap papa sebagai musuh dalam hidupku.
Setelah peristiwa itu aku tetap menjalani kehidupan sebagaimana biasanya. Sebagai seorang anak aku tetap menunjukkan sikap yang baik, penurut di depan orang tua. Namun di belakang mereka aku benar-benar membenci dan menaruh dendam terhadap mereka, terutama kepada papa.
Dalam kegiatan kerohanian aku tetap melayani sebagai seorang Worship Leader pada saat itu dan juga mengajar di Sekolah Minggu. Aku tetap beribadah, bertemu dengan teman-teman seiman, dan sharing tentang berbagai hal. Hal itu merupakan hal rutin yang aku lakukan. Tetapi aku tidak pernah mau menceritakan hal buruk yang telah aku terima, karena bagiku itu tidak penting. Aku menyimpan hal itu sendiri. Menurutku masalah tidak akan pernah selesai dan aku tidak mau menyelesaikannya sebelum aku memberikan pelajaran kepada papaku.
Tuhan mengetahui semua niat buruk dan dendam yang tersimpan. Dia sungguh menginginkan aku berubah dan dilepaskan dari semua perasaan ini. Apa yang sudah aku rencanakan tidak pernah terwujud karena Tuhan tidak mau menunda waktu pemulihan itu terjadi dalam hidupku.
Suatu ketika aku menghadiri ibadah perayaan natal. Ibadah berlangsung seperti biasanya hingga tiba pada penyampaian firman Tuhan yang ketika itu berbicara mengenai "Hati Bapa". Aku terkejut dan takjub akan firman tersebut. Pesan yang disampaikan adalah: "Bapa di dunia bisa mengecewakan, tetapi Bapa di sorga tidak pernah mengecewakan".
Saat itu Roh Kudus berbicara kepadaku bahwa Dia ingin membalut luka-luka batin yang selama ini aku alami. Aku merenungkan kembali dan ternyata aku mendapati di sana memang ada luka yang begitu mendalam dan telah berakar. Tuhan ingin aku memaafkan dan melupakan apa yang telah dilakukan oleh papa agar luka itu dapat diobati dan aku dapat menjadi sembuh. Aku menangis dan menyesali niat buruk yang selama ini telah disiapkan untuk membalas perbuatan papa. Aku menyembah Tuhan, meminta ampun, dan tenggelam dalam kasih dan pengampunan-Nya.
Aku telah mengambil komitmen untuk meminta maaf. Setiba di rumah aku langsung menghampiri papa dan berkata, "Papa, maafkan saya, karena selama ini saya telah membenci dan menaruh dentam atas semua perlakuan kasar yang telah perbuat terhadap saya." Saat itu Tuhan bekerja secara luar biasa. Dia menjamah hati papa dan memulihkan hubungan antara seorang ayah dengan anaknya. Sejak saat itu beliau berubah total. Dia mendukung setiap keputusan yang aku ambil, termasuk keputusan untuk menikah.
Kini di hatiku sudah tidak ada dendam lagi. Justru yang ingin aku lakukan adalah membahagiakan kedua orang-tuaku di usia mereka yang telah lanjut dengan apa yang terbaik. Kebahagiaanku telah Tuhan lengkapi dengan memberikan pendamping yang begitu mengasihi, baik kepadaku maupun kepada keluargaku. Pada diri suamiku aku menemukan pribadi yang takut akan Tuhan. Kebahagiaanku ditambah lagi dengan keberadaan seorang putera. Lengkaplah sudah kebahagiaanku.
Luka-luka batin bukannya tidak dapat disembuhkan. Itu hanya bisa disembuhkan di dalam Yesus Kristus. Jangan membiarkan diri kita untuk cepat terluka dan menyimpan setiap kejadian yang tidak menyenangkan di dalam hati. Anggaplah setiap peristiwa yang terjadi di dalam hidup kita sebagai ujian dari Tuhan agar karakter kita semakin serupa dengan karakter Kristus yang lemah lembut dan suka mengampuni. (Sumber: Majalah New Life, edisi 01/2006, terbitan CWS Jakarta)
Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com
Thursday, January 24, 2008
Saving Each Other's Life
Aku mencoba menjadi seorang ayah yang baik. Mengajak anak-anakku bermain-main. Bekerja lembur agar bisa membayari pulsa untuk sms mereka. Membawa mereka ke tempat foto dengan baju renang. Tetapi dibandingkan dengan apa yang dilakukan oleh Dick Hoyt, aku kalah.
Delapan puluh lima kali ia telah mendorong anaknya yang lumpuh, Rick, di atas kursi roda masing-masing sejauh 26,2 mil dalam perlombaan marathon. Delapan kali ia tidak saja mendorong anaknya 26,2 mil di atas kursi rodanya tetapi juga menyeretnya sepanjang 2,4 mil dalam sebuah perahu karet sambil berenang dan memboncengkan anaknya di atas kursi yang diletakkan di atas stang sepeda sejauh 112 mil – semuanya dilakukan pada hari yang sama.
Dick juga telah menarik anaknya yang lumpuh itu dalam perlombaan ski cross country, kemudian menggendongnya mendaki gunung dan sekali melintasi Amerika Serikat dari Timur ke Barat naik sepeda. Hal-hal itu membuat kita yang mengajak anak kita main bowling menjadi tampak payah, ya?
Dan apakah yang telah Rick lakukan bagi ayahnya? Tidak banyak – hanya menyelamatkan jiwanya. Kisah kasih ini mulai di Winchester, Massachussets, 43 tahun lalu, ketika Rick terlilit tali ari selama persalinan, sehingga membuat otaknya rusak dan tidak dapat menggerak-gerakkan anggota badannya.
”Ia akan menjadi seperti sayuran sepanjang hidupnya,” kata Dick menirukan perkataan para dokter kepadanya dan isterinya, Judy, ketika Rick berumur sembilan bulan. ”Taruh saja dia di Lembaga Rehabilitasi Cacat.”
Namun keluarga Hoyt tidak menerima usul itu. Mereka perhatikan bahwa mata Rick selalu mengikuti mereka berkeliling ruangan. Ketika Rick berusia 11 tahun mereka membawanya ke Departemen Teknik di Universitas Tufts dan menanyakan kepada mereka apakah ada alat yang dapat dibuat agar anak itu dapat berkomunikasi. ”Tidak bisa,” kata mereka. ”Tidak ada apa-apa di otaknya.” ”Coba katakan lelucon,” kata Dick menantang. Mereka melawak. Rick tertawa. Itu membuktikan bahwa otak anak itu hidup.
Dilengkapi dengan sebuah komputer yang memungkinkan ia bisa mengendalikan kursor dengan menyentuh tombol di samping kepalanya, Rick akhirnya dapat berkomunikasi dengan orang-orang. Perkataan apa yang pertama kali ditulis oleh Rick? “Ayo, Bruins!” Orang-orang pada ketawa menanggapi selera humor Rick. Dan setelah seorang teman SMA lumpuh akibat suatu kecelakaan dan sekolah mengadakan perlombaan lari untuk mengumpulkan sumbangan baginya, Rick merengek, “Ayah, aku mau ikut lomba lari itu!”
Yah, betul juga. Bagaimana Dick, yang menyebut dirinya ”si lamban” yang tidak pernah lari lebih dari satu mil mau mendorong kursi roda anaknya sambil berlari lima mil? Meskipun demikian, ia mencoba. ”Akibatnya aku yang lumpuh,” kata Dick, ”aku kesakitan dan pegal-pegal selama dua minggu berikutnya.”
Hari itu mengubah hidup Rick. ”Ayah,” kata Rick dengan mengetik,”ketika kita berlari, rasanya aku bukan orang cacat lagi!” Dan perkataan itu mengubah hidup Dick. Ia menjadi terobsesi untuk selalu memberi Rick perasaan seperti itu sesering yang ia dapat lakukan. Ia melatih tubuh dan otot-ototnya sehingga ia dan Rick akan dapat siap menghadapi perlombaan marathon Boston pada tahun 1979.
“Tidak bisa,” kata para ofisial perlombaan itu. Pasangan Hoyt itu bukan pelari tunggal dan tidak ada pesaing yang juga menggunakan kursi roda. Selama beberapa tahun Dick dan Rick hanya ikut-ikutan lari saja, sampai mereka diterima secara resmi sebagai peserta marathon. Pada tahun 1983 mereka mengikuti perlombaan marathon lainnya begitu cepat sehingga mereka mendapatkan waktu yang memenuhi syarat untuk ikut marathon Boston pada tahun berikutnya.
Kemudian seseorang berkata, “Hei, Dick, kenapa tidak coba triatlon saja?” Bagaimana seseorang yang tidak pernah bisa berenang dan tidak pernah naik sepeda sejak usia 6 tahun akan menarik anaknya dengan berat 55 kg dalam sebuah perlombaan triatlon? Namun demikian, Dick mencoba juga.
Hingga kini mereka telah mengikuti 212 kali triatlon, termasuk empat kali mengikuti triatlon Ironmans yang berlangsung 15 jam di Hawaii. Pasti sangat berat sekali bagi seorang pemuda 25 tahun ditarik oleh orang tua yang berenang sambil menarik perahu karet yang dimuati anaknya, ya tidak?
Hei, Dick, kenapa tidak kamu berlomba sendirian saja? “Tak mau,” katanya. Dick melakukan itu semata-mata untuk ”perasaan luar biasa” yang ia peroleh ketika melihat Rick tersenyum selama mereka berlari, berenang dan naik sepeda bersama.
Tahun ini, pada usia 65 tahun dan 43 tahun, Dick dan Rick telah menyelesaikan perlombaan marathon Boston sebanyak 24 kali, menempatkan mereka di nomor urut 5083 dari 20.000 peserta. Waktu terbaik mereka? Dua jam empat puluh menit pada tahun 1992, hanya 35 menit di bawah rekor dunia marathon oleh seorang pemuda yang tidak perlu mendorong kursi roda orang lain. “Tidak salah lagi,” kata Rick dengan mengetik, ”Ayahku adalah Ayah Terhebat Di Abad ini.”
Dan Dick menemukan sesuatu yan lain dari semuanya ini. Dua tahun yang lalu ia terkena serangan jantung ringan selama ia mengikuti perlombaan. Para dokter menemukan bahwa salah satu pembuluh darahnya tersumbat 95%. ”Kalau anda tidak dalam kondisi prima,” salah satu dokter itu berkata, ”pastilah anda sudah meninggal 15 tahun lalu.” Jadi, dengan cara tertentu, Dick dan Rick saling menyelamatkan jiwa masing-masing.
Rick, yang sekarang memiliki apartemen sendiri (ia tinggal di sebuah rumah perawatan) bekerja di Boston. Dick, pensiunan militer tinggal di Holland, Massachusetts, selalu berusaha untuk selalu bersama. Mereka memberi ceramah di seluruh Amerika dan ikut perlombaan berat setiap akhir pekan, termasuk pada Hari Ayah tahun ini.
Pada malam itu Rick akan mentraktir makan malam, tetapi sesungguhnya yang dia inginkan adalah memberi kado yang tak dapat dibeli ayahnya. ”Suatu hal yang paling aku inginkan,” kata Rick dengan mengetik, ”adalah membiarkan ayah duduk di kursi roda dan saya mendorongnya sekali saja.” Saksikan saja aksi mereka dalam video berikut ini: http://www.youtube.com/watch?v=f4B-r8KJhlE
Diterjemahkan oleh Hadi Kristadi untuk Pentas Kesaksian (http://pentas-kesaksian.blogspot.com)
*****
I try to be a good father. Give my kids mulligans. Work nights to pay for their text messaging. Take them to swimsuit shoots. But compared with Dick Hoyt, I suck.
Eighty-five times he's pushed his disabled son, Rick, 26.2 miles in Marathons. Eight times he's not only pushed him 26.2 miles in a wheelchair but also towed him 2.4 miles in a dinghy while swimming and pedaled him 112 miles in a seat on the handlebars--all in the same day. Dick's also pulled him cross-country skiing, taken him on his back mountain climbing and once hauled him across the U.S. on a bike. Makes taking your son bowling look a little lame, right?
And what has Rick done for his father? Not much--except save his life. This love story began in Winchester, Mass., 43 years ago, when Rick was strangled by the umbilical cord during birth, leaving him brain-damaged and unable to control his limbs.
"He'll be a vegetable the rest of his life," Dick says doctors told him and his wife, Judy, when Rick was nine months old. "Put him in an institution." But the Hoyts weren't buying it. They noticed the way Rick's eyes followed them around the room.
When Rick was 11 they took him to the Engineering Department at Tufts University and asked if there was anything to help the boy communicate. "No way," Dick says he was told. "There's nothing going on in his brain." "Tell him a joke," Dick countered. They did. Rick laughed. Turns out a lot was going on in his brain. Rigged up with a computer that allowed him to control the cursor by touching a switch with the side of his head, Rick was finally able to communicate. First words? "Go Bruins!"
And after a high school classmate was paralyzed in an accident and the school organized a charity run for him, Rick pecked out, "Dad, I want to do that." Yeah, right. How was Dick, a self-described "porker" who never ran more than a mile at a time, going to push his son five miles? Still, he tried. "Then it was me who was handicapped," Dick says. "I was sore for two weeks."
That day changed Rick's life. "Dad," he typed, "when we were running, It felt like I wasn't disabled anymore!" And that sentence changed Dick's life. He became obsessed with giving Rick that feeling as often as he could.
He got into such hard-belly shape that he and Rick were ready to try the 1979 Boston Marathon. "No way," Dick was told by a race official. The Hoyts weren't quite a single runner, and they weren't quite a wheelchair competitor. For a few years Dick and Rick just joined the massive field and ran anyway, then they found a way to get into the race officially: In 1983 they ran another marathon so fast they made the qualifying time for Boston the following year.
Then somebody said, "Hey, Dick, why not a triathlon?" How's a guy who never learned to swim and hadn't ridden a bike since he was six going to haul his 110-pound kid through a triathlon? Still, Dick tried.
Now they've done 212 triathlons, including four grueling 15-hour Ironmans in Hawaii. It must be a buzzkill to be a 25-year-old stud getting passed by an old guy towing a grown man in a dinghy, don't you think?
Hey, Dick, why not see how you'd do on your own? "No way," he says. Dick does it purely for "the awesome feeling" he gets seeing Rick with A cantaloupe smile as they run, swim and ride together.
This year, at ages 65 and 43, Dick and Rick finished their 24th Boston Marathon, in 5,083rd place out of more than 20,000 starters. Their best time? Two hours, 40 minutes in 1992--only 35 minutes off the World Record, which, in case you don't keep track of these things, happens to be held by a guy who was not pushing another man in a wheelchair at the time.
"No question about it," Rick types. "My dad is the Father of the Century."
And Dick got something else out of all this too. Two years ago he had a mild heart attack during a race. Doctors found that one of his arteries was 95% clogged. "If you hadn't been in such great shape," one doctor told him, "you probably would've died 15 years ago." So, in a way, Dick and Rick saved each other's life.
Rick, who has his own apartment (he gets home care) and works in Boston, and Dick, retired from the military and living in Holland, Mass., always find ways to be together. They give speeches around the country and compete in some backbreaking race every weekend, including this Father's Day.
That night, Rick will buy his dad dinner, but the thing he really wants to give him is a gift he can never buy. "The thing I'd most like," Rick types, "is that my dad sit in the chair and I push him once."
And let's watch the video below....
http://www.youtube.com/watch?v=f4B-r8KJhlE
Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com
Delapan puluh lima kali ia telah mendorong anaknya yang lumpuh, Rick, di atas kursi roda masing-masing sejauh 26,2 mil dalam perlombaan marathon. Delapan kali ia tidak saja mendorong anaknya 26,2 mil di atas kursi rodanya tetapi juga menyeretnya sepanjang 2,4 mil dalam sebuah perahu karet sambil berenang dan memboncengkan anaknya di atas kursi yang diletakkan di atas stang sepeda sejauh 112 mil – semuanya dilakukan pada hari yang sama.
Dick juga telah menarik anaknya yang lumpuh itu dalam perlombaan ski cross country, kemudian menggendongnya mendaki gunung dan sekali melintasi Amerika Serikat dari Timur ke Barat naik sepeda. Hal-hal itu membuat kita yang mengajak anak kita main bowling menjadi tampak payah, ya?
Dan apakah yang telah Rick lakukan bagi ayahnya? Tidak banyak – hanya menyelamatkan jiwanya. Kisah kasih ini mulai di Winchester, Massachussets, 43 tahun lalu, ketika Rick terlilit tali ari selama persalinan, sehingga membuat otaknya rusak dan tidak dapat menggerak-gerakkan anggota badannya.
”Ia akan menjadi seperti sayuran sepanjang hidupnya,” kata Dick menirukan perkataan para dokter kepadanya dan isterinya, Judy, ketika Rick berumur sembilan bulan. ”Taruh saja dia di Lembaga Rehabilitasi Cacat.”
Namun keluarga Hoyt tidak menerima usul itu. Mereka perhatikan bahwa mata Rick selalu mengikuti mereka berkeliling ruangan. Ketika Rick berusia 11 tahun mereka membawanya ke Departemen Teknik di Universitas Tufts dan menanyakan kepada mereka apakah ada alat yang dapat dibuat agar anak itu dapat berkomunikasi. ”Tidak bisa,” kata mereka. ”Tidak ada apa-apa di otaknya.” ”Coba katakan lelucon,” kata Dick menantang. Mereka melawak. Rick tertawa. Itu membuktikan bahwa otak anak itu hidup.
Dilengkapi dengan sebuah komputer yang memungkinkan ia bisa mengendalikan kursor dengan menyentuh tombol di samping kepalanya, Rick akhirnya dapat berkomunikasi dengan orang-orang. Perkataan apa yang pertama kali ditulis oleh Rick? “Ayo, Bruins!” Orang-orang pada ketawa menanggapi selera humor Rick. Dan setelah seorang teman SMA lumpuh akibat suatu kecelakaan dan sekolah mengadakan perlombaan lari untuk mengumpulkan sumbangan baginya, Rick merengek, “Ayah, aku mau ikut lomba lari itu!”
Yah, betul juga. Bagaimana Dick, yang menyebut dirinya ”si lamban” yang tidak pernah lari lebih dari satu mil mau mendorong kursi roda anaknya sambil berlari lima mil? Meskipun demikian, ia mencoba. ”Akibatnya aku yang lumpuh,” kata Dick, ”aku kesakitan dan pegal-pegal selama dua minggu berikutnya.”
Hari itu mengubah hidup Rick. ”Ayah,” kata Rick dengan mengetik,”ketika kita berlari, rasanya aku bukan orang cacat lagi!” Dan perkataan itu mengubah hidup Dick. Ia menjadi terobsesi untuk selalu memberi Rick perasaan seperti itu sesering yang ia dapat lakukan. Ia melatih tubuh dan otot-ototnya sehingga ia dan Rick akan dapat siap menghadapi perlombaan marathon Boston pada tahun 1979.
“Tidak bisa,” kata para ofisial perlombaan itu. Pasangan Hoyt itu bukan pelari tunggal dan tidak ada pesaing yang juga menggunakan kursi roda. Selama beberapa tahun Dick dan Rick hanya ikut-ikutan lari saja, sampai mereka diterima secara resmi sebagai peserta marathon. Pada tahun 1983 mereka mengikuti perlombaan marathon lainnya begitu cepat sehingga mereka mendapatkan waktu yang memenuhi syarat untuk ikut marathon Boston pada tahun berikutnya.
Kemudian seseorang berkata, “Hei, Dick, kenapa tidak coba triatlon saja?” Bagaimana seseorang yang tidak pernah bisa berenang dan tidak pernah naik sepeda sejak usia 6 tahun akan menarik anaknya dengan berat 55 kg dalam sebuah perlombaan triatlon? Namun demikian, Dick mencoba juga.
Hingga kini mereka telah mengikuti 212 kali triatlon, termasuk empat kali mengikuti triatlon Ironmans yang berlangsung 15 jam di Hawaii. Pasti sangat berat sekali bagi seorang pemuda 25 tahun ditarik oleh orang tua yang berenang sambil menarik perahu karet yang dimuati anaknya, ya tidak?
Hei, Dick, kenapa tidak kamu berlomba sendirian saja? “Tak mau,” katanya. Dick melakukan itu semata-mata untuk ”perasaan luar biasa” yang ia peroleh ketika melihat Rick tersenyum selama mereka berlari, berenang dan naik sepeda bersama.
Tahun ini, pada usia 65 tahun dan 43 tahun, Dick dan Rick telah menyelesaikan perlombaan marathon Boston sebanyak 24 kali, menempatkan mereka di nomor urut 5083 dari 20.000 peserta. Waktu terbaik mereka? Dua jam empat puluh menit pada tahun 1992, hanya 35 menit di bawah rekor dunia marathon oleh seorang pemuda yang tidak perlu mendorong kursi roda orang lain. “Tidak salah lagi,” kata Rick dengan mengetik, ”Ayahku adalah Ayah Terhebat Di Abad ini.”
Dan Dick menemukan sesuatu yan lain dari semuanya ini. Dua tahun yang lalu ia terkena serangan jantung ringan selama ia mengikuti perlombaan. Para dokter menemukan bahwa salah satu pembuluh darahnya tersumbat 95%. ”Kalau anda tidak dalam kondisi prima,” salah satu dokter itu berkata, ”pastilah anda sudah meninggal 15 tahun lalu.” Jadi, dengan cara tertentu, Dick dan Rick saling menyelamatkan jiwa masing-masing.
Rick, yang sekarang memiliki apartemen sendiri (ia tinggal di sebuah rumah perawatan) bekerja di Boston. Dick, pensiunan militer tinggal di Holland, Massachusetts, selalu berusaha untuk selalu bersama. Mereka memberi ceramah di seluruh Amerika dan ikut perlombaan berat setiap akhir pekan, termasuk pada Hari Ayah tahun ini.
Pada malam itu Rick akan mentraktir makan malam, tetapi sesungguhnya yang dia inginkan adalah memberi kado yang tak dapat dibeli ayahnya. ”Suatu hal yang paling aku inginkan,” kata Rick dengan mengetik, ”adalah membiarkan ayah duduk di kursi roda dan saya mendorongnya sekali saja.” Saksikan saja aksi mereka dalam video berikut ini: http://www.youtube.com/watch?v=f4B-r8KJhlE
Diterjemahkan oleh Hadi Kristadi untuk Pentas Kesaksian (http://pentas-kesaksian.blogspot.com)
*****
I try to be a good father. Give my kids mulligans. Work nights to pay for their text messaging. Take them to swimsuit shoots. But compared with Dick Hoyt, I suck.
Eighty-five times he's pushed his disabled son, Rick, 26.2 miles in Marathons. Eight times he's not only pushed him 26.2 miles in a wheelchair but also towed him 2.4 miles in a dinghy while swimming and pedaled him 112 miles in a seat on the handlebars--all in the same day. Dick's also pulled him cross-country skiing, taken him on his back mountain climbing and once hauled him across the U.S. on a bike. Makes taking your son bowling look a little lame, right?
And what has Rick done for his father? Not much--except save his life. This love story began in Winchester, Mass., 43 years ago, when Rick was strangled by the umbilical cord during birth, leaving him brain-damaged and unable to control his limbs.
"He'll be a vegetable the rest of his life," Dick says doctors told him and his wife, Judy, when Rick was nine months old. "Put him in an institution." But the Hoyts weren't buying it. They noticed the way Rick's eyes followed them around the room.
When Rick was 11 they took him to the Engineering Department at Tufts University and asked if there was anything to help the boy communicate. "No way," Dick says he was told. "There's nothing going on in his brain." "Tell him a joke," Dick countered. They did. Rick laughed. Turns out a lot was going on in his brain. Rigged up with a computer that allowed him to control the cursor by touching a switch with the side of his head, Rick was finally able to communicate. First words? "Go Bruins!"
And after a high school classmate was paralyzed in an accident and the school organized a charity run for him, Rick pecked out, "Dad, I want to do that." Yeah, right. How was Dick, a self-described "porker" who never ran more than a mile at a time, going to push his son five miles? Still, he tried. "Then it was me who was handicapped," Dick says. "I was sore for two weeks."
That day changed Rick's life. "Dad," he typed, "when we were running, It felt like I wasn't disabled anymore!" And that sentence changed Dick's life. He became obsessed with giving Rick that feeling as often as he could.
He got into such hard-belly shape that he and Rick were ready to try the 1979 Boston Marathon. "No way," Dick was told by a race official. The Hoyts weren't quite a single runner, and they weren't quite a wheelchair competitor. For a few years Dick and Rick just joined the massive field and ran anyway, then they found a way to get into the race officially: In 1983 they ran another marathon so fast they made the qualifying time for Boston the following year.
Then somebody said, "Hey, Dick, why not a triathlon?" How's a guy who never learned to swim and hadn't ridden a bike since he was six going to haul his 110-pound kid through a triathlon? Still, Dick tried.
Now they've done 212 triathlons, including four grueling 15-hour Ironmans in Hawaii. It must be a buzzkill to be a 25-year-old stud getting passed by an old guy towing a grown man in a dinghy, don't you think?
Hey, Dick, why not see how you'd do on your own? "No way," he says. Dick does it purely for "the awesome feeling" he gets seeing Rick with A cantaloupe smile as they run, swim and ride together.
This year, at ages 65 and 43, Dick and Rick finished their 24th Boston Marathon, in 5,083rd place out of more than 20,000 starters. Their best time? Two hours, 40 minutes in 1992--only 35 minutes off the World Record, which, in case you don't keep track of these things, happens to be held by a guy who was not pushing another man in a wheelchair at the time.
"No question about it," Rick types. "My dad is the Father of the Century."
And Dick got something else out of all this too. Two years ago he had a mild heart attack during a race. Doctors found that one of his arteries was 95% clogged. "If you hadn't been in such great shape," one doctor told him, "you probably would've died 15 years ago." So, in a way, Dick and Rick saved each other's life.
Rick, who has his own apartment (he gets home care) and works in Boston, and Dick, retired from the military and living in Holland, Mass., always find ways to be together. They give speeches around the country and compete in some backbreaking race every weekend, including this Father's Day.
That night, Rick will buy his dad dinner, but the thing he really wants to give him is a gift he can never buy. "The thing I'd most like," Rick types, "is that my dad sit in the chair and I push him once."
And let's watch the video below....
http://www.youtube.com/watch?v=f4B-r8KJhlE
Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com
Wednesday, January 23, 2008
The Hidden Treasures
Harta Karun Tersembunyi
Note: Berikut ini adalah tulisan yang sangat inspiratif, kiriman dari seorang teman. Mari kita simak baik-baik.
Hari ini kiriman buku yang saya pesan dari Amazon.com datang. Ada satu buku yang langsung saya sambar dan baca seketika. Judulnya: "Stuff: The Secret Lives of Everyday Things". Buku itu tipis, hanya 86 halaman, tapi informasi di dalamnya bercerita tentang perjalanan ribuan mil dari mana barang-barang kita berasal dan ke mana barang-barang kita berakhir.
Dimulai sejak SD, saat saya pertama kali tahu bahwa plastik memakan waktu ratusan tahun untuk musnah, saya sering merenung: orang gila mana yang mencipta sesuatu yang tak musnah ratusan tahun tapi masa penggunaannya hanya dalam skala jam-bahkan detik? Bungkus permen yang hanya bertahan sepuluh detik di tangan, lalu masuk tong sampah, ditimbun di tanah dan baru hancur setelah si pemakan permen menjadi fosil.
Sukar membayangkan apa jadinya hidup ini tanpa plastik, tanpa cat, tanpa deterjen, tanpa karet, tanpa mesin, tanpa bensin, tanpa fashion. Dan sebagai konsumen dalam sistem perdagangan modern, sejak kita lahir rantai pengetahuan tentang awal dan akhir dari segala sesuatu yang kita konsumsi telah diputus. Kita tidak tahu dan tidak dilatih untuk mau tahu ke mana kemasan styrofoam yang membungkus nasi rames kita pergi, berapa banyak pohon yang ditebang untuk koran yang kita baca setengah jam saja, beban polutan yang diemban baju-baju semusim yang kita beli membabi-buta.
Untuk aktivitas harian yang kita lewatkan tanpa berpikir, yang terasa wajar-wajar saja, pernahkah kita berhitung bahwa untuk hidup 24 jam kita bisa menghabiskan sumber daya Bumi ini berkali-kali lipat berat tubuh kita sendiri?
Untuk menyiram 200 cc air kencing, kita memakai 3 liter air. Untuk mencuci secangkir kopi, kita butuh air sebaskom. Untuk memproduksi satu lapis daging burger yang mengenyangkan perut setengah hari dibutuhkan sekitar 2,400 liter air. Produksi satu set PC seberat 24 kg yang parkir di atas meja kerja kita menghasilkan 62 kg limbah, memakai 27,594 liter air, dan mengonsumsi listrik 2,300 kwh. Bagaimana dengan chip kecil yang bekerja di dalamnya? Limbah yang dihasilkan untuk memproduksinya 4,500 kali lipat lebih berat daripada berat chip itu sendiri.
Mengetahui mata rantai tersembunyi ini bisa menimbulkan berbagai reaksi. Kita bisa frustrasi karena terjepit dalam ketergantungan gaya hidup yang tak bisa dikompromi, kita bisa juga semakin apatis karena tidak mau pusing. Yang jelas, sesungguhnya ini adalah pengetahuan yang sudah saatnya dibuka. Pelajaran Ilmu Alam, selain belajar penampang daun dan membedah jantung katak, dapat dibuat lebih empiris dengan mempelajari hulu dan hilir dari benda-benda yang kita konsumsi, sehingga tanggung jawab akan alam ini telah disosialisasikan sejak kecil. Pernahkah kita merenung, saat kita memasuki gedung FO (Factory Outlet) empat lantai di Pasar Baru, atau berjalan-jalan ke Gasibu pada hari Minggu di mana ada lautan PKL: tidakkah semua baju dan barang-barang itu mampu memenuhi kecukupan penduduk satu kota? Tapi kenapa barang-barang ini tidak ada habisnya diproduksi? Setiap hari selalu ada jubelan pakaian baru yang menggelontori pasar. Pernahkah kita merenung, saat kita memasuki hypermarket dan melihat ratusan macam biskuit, ratusan varian mie instan, dan ratusan merk sabun: haruskah kita memiliki pilihan sebanyak itu?
Pernahkah kita merenung, apa yang kita inginkan sesungguhnya jauh melebihi apa yang kita butuhkan? Atas nama kecukupan, satu manusia bisa hidup dengan lima pasang baju dalam setahun, bahkan lebih. Atas nama fashion, jumlah itu menjadi tidak berbatas. Atas nama kebutuhan, satu manusia bisa hidup dengan beberapa pilihan panganan dalam sehari. Atas nama selera dan nafsu, seisi Bumi tidak akan sanggup memenuhi keinginan satu manusia.
Permasalahan ini memang bisa dilihat dari berbagai kaca mata. Seorang ekonom mungkin akan menyalahkan sistem kapitalisme dan globalisasi. Seorang sosialis akan mengatakan ini masalah distribusi dan pemerataan. Tapi jika kita runut, satu demi satu, bahwa Bumi adalah kumpulan negara, negara adalah kumpulan kelompok, dan kelompok adalah kumpulan individu, permasalahan ini akan kembali ke pangkuan kita. Dan kesadaran serta kemauan kitalah yang pada akhirnya akan memungkinkan sebuah perubahan sejati.
Belum pernah dalam sejarah kemanusiaan keputusan harian kita menjadi sangat menentukan. Tidak perlu menunggu Amerika menyepakati Protocol Kyoto, tidak perlu juga menunggu penjarah hutan tertangkap, setiap langkah kita-memilih merk, kuantitas, tempat, gaya hidup - adalah pilihan politis dan ekologis yang menentukan masa depan seisi Bumi.
Saya belum bisa mengorbankan komputer karena itulah instrumen saya bekerja, tapi saya bisa lebih awas dengan jam penggunaan dan mematikannya jika tidak perlu. Saya belum bisa mengorbankan kebutuhan akan informasi, tapi saya bisa memilih membaca berita lewat internet atau membaca koran di tempat publik ketimbang berlangganan langsung.
Bagaimana dengan fashion? Di dunia citra ini, dengan profesi yang mengharuskan banyak tampil di muka publik, saya pun belum bisa mengorbankan keperluan fashion (baca: membeli busana lebih sering dari yang dibutuhkan), tapi saya bisa membuat komitmen dengan lemari pakaian, yakni baju yang saya miliki tidak boleh melebihi kapasitas lemari saya. Jika lebih, maka harus ada yang keluar. Dan setiap beberapa bulan saya dihadapkan pada kenyataan bahwa ada baju yang tidak saya pakai setahun lebih atau baju yang cuma sekali dipakai dan tak pernah lagi. Bukan cuma baju, ada juga buku, pernik rumah, alat dapur, bahkan sabun dan sampo yang utuh tak disentuh. Alhasil, dalam rumah saya ada semacam peti-peti 'harta karun', yang berisikan barang-barang yang harus keluar dari peredaran, karena jika dipertahankan hanya menjadi kelebihan tanpa lagi unsur manfaat. Harta karun ini lantas harus dicarikan lagi outlet untuk penyaluran.
Pada waktu perayaan 17 Agustus, di kompleks saya diselenggarakan bazaar. Para warga menyewa stand untuk berjualan. Saya ikut berpartisipasi, dan sayalah satu-satunya penjual barang bekas di antara penjual barang-baru baru. Karena bukan demi cari untung, barang-barang itu saya lepas dengan harga sangat murah. Yang membeli bukan cuma warga kompleks, tapi juga dari kampung sekitar. Hari pertama, saya sudah kehabisan dagangan. Terpaksa saya mengontak saudara-saudara saya yang barangkali juga punya barang bekas untuk disalurkan. Sama dengan saya, mereka pun punya timbunan harta karun yang entah harus diapakan. Stand saya menjadi salah satu stand paling laris selama bazaar berlangsung. Dan kakak saya terkaget-kaget dengan penghasilan yang ia dapat dari tumpukan barang yang sudah dianggap sampah.
Berjualan di bazaar tentu bukan satu-satunya jalan, ada aneka cara kreatif lain untuk memanfaatkan harta karun kita, termasuk juga disumbangkan. Namun yang lebih sukar adalah memulai membuat komitmen-komitmen pembatasan diri. Berkomitmen dengan rak buku, dengan lemari pakaian, dengan rak kamar mandi, dengan laci dapur, dan pada intinya... dengan diri sendiri. Siapkah kita menentukan batasan dan berjalan dalam koridor itu?
Dan, yang lebih susah lagi, adalah pengendalian diri dari awal bersua aneka pilihan yang membombardir kita setiap hari, lalu sadar dan mawas akan rantai sebab-akibat yang menyertai pilihan kita. Membuka diri untuk pembekalan yang baik. Walaupun sekilas tampak merepotkan dan bikin frustrasi, tapi kantong kresek yang kita buang tadi pagi tidak akan hilang oleh sihir, dan hamburger yang kita makan tidak dipetik dari pohon. Rantai yang menyertai barang-barang itu tidak akan hilang hanya karena kita menolak tahu.
Banyak orang yang berkomentar pada saya, "Aduh, Wi. Kamu bikin hidup tambah susah saja." Dan mereka benar. Hidup ini tak mudah. Untuk itu kita justru harus belajar menghargai setiap jengkalnya. Memilih hidup yang lebih sederhana, hidup dengan tempo yang lebih pelan, hidup dengan pengasahan kesadaran, tak hanya membantu kita lebih eling dan terkendali, tapi juga membantu Bumi ini dan jutaan manusia yang dijadikan alas kaki oleh industri demi pemenuhan nafsu konsumsi kita sendiri.
Lingkaran setan? Ya. Tapi tidak berarti kita tak sanggup berubah. Selama ini kita adalah pembeli yang berlari. Dalam kecepatan tinggi kita bertransaksi, sabet sana sabet sini, tanpa tahu lagi apa yang sesungguhnya kita cari. Berhentilah sejenak. Marilah kita berjalan. (Dewi Lestari)
Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com
Note: Berikut ini adalah tulisan yang sangat inspiratif, kiriman dari seorang teman. Mari kita simak baik-baik.
Hari ini kiriman buku yang saya pesan dari Amazon.com datang. Ada satu buku yang langsung saya sambar dan baca seketika. Judulnya: "Stuff: The Secret Lives of Everyday Things". Buku itu tipis, hanya 86 halaman, tapi informasi di dalamnya bercerita tentang perjalanan ribuan mil dari mana barang-barang kita berasal dan ke mana barang-barang kita berakhir.
Dimulai sejak SD, saat saya pertama kali tahu bahwa plastik memakan waktu ratusan tahun untuk musnah, saya sering merenung: orang gila mana yang mencipta sesuatu yang tak musnah ratusan tahun tapi masa penggunaannya hanya dalam skala jam-bahkan detik? Bungkus permen yang hanya bertahan sepuluh detik di tangan, lalu masuk tong sampah, ditimbun di tanah dan baru hancur setelah si pemakan permen menjadi fosil.
Sukar membayangkan apa jadinya hidup ini tanpa plastik, tanpa cat, tanpa deterjen, tanpa karet, tanpa mesin, tanpa bensin, tanpa fashion. Dan sebagai konsumen dalam sistem perdagangan modern, sejak kita lahir rantai pengetahuan tentang awal dan akhir dari segala sesuatu yang kita konsumsi telah diputus. Kita tidak tahu dan tidak dilatih untuk mau tahu ke mana kemasan styrofoam yang membungkus nasi rames kita pergi, berapa banyak pohon yang ditebang untuk koran yang kita baca setengah jam saja, beban polutan yang diemban baju-baju semusim yang kita beli membabi-buta.
Untuk aktivitas harian yang kita lewatkan tanpa berpikir, yang terasa wajar-wajar saja, pernahkah kita berhitung bahwa untuk hidup 24 jam kita bisa menghabiskan sumber daya Bumi ini berkali-kali lipat berat tubuh kita sendiri?
Untuk menyiram 200 cc air kencing, kita memakai 3 liter air. Untuk mencuci secangkir kopi, kita butuh air sebaskom. Untuk memproduksi satu lapis daging burger yang mengenyangkan perut setengah hari dibutuhkan sekitar 2,400 liter air. Produksi satu set PC seberat 24 kg yang parkir di atas meja kerja kita menghasilkan 62 kg limbah, memakai 27,594 liter air, dan mengonsumsi listrik 2,300 kwh. Bagaimana dengan chip kecil yang bekerja di dalamnya? Limbah yang dihasilkan untuk memproduksinya 4,500 kali lipat lebih berat daripada berat chip itu sendiri.
Mengetahui mata rantai tersembunyi ini bisa menimbulkan berbagai reaksi. Kita bisa frustrasi karena terjepit dalam ketergantungan gaya hidup yang tak bisa dikompromi, kita bisa juga semakin apatis karena tidak mau pusing. Yang jelas, sesungguhnya ini adalah pengetahuan yang sudah saatnya dibuka. Pelajaran Ilmu Alam, selain belajar penampang daun dan membedah jantung katak, dapat dibuat lebih empiris dengan mempelajari hulu dan hilir dari benda-benda yang kita konsumsi, sehingga tanggung jawab akan alam ini telah disosialisasikan sejak kecil. Pernahkah kita merenung, saat kita memasuki gedung FO (Factory Outlet) empat lantai di Pasar Baru, atau berjalan-jalan ke Gasibu pada hari Minggu di mana ada lautan PKL: tidakkah semua baju dan barang-barang itu mampu memenuhi kecukupan penduduk satu kota? Tapi kenapa barang-barang ini tidak ada habisnya diproduksi? Setiap hari selalu ada jubelan pakaian baru yang menggelontori pasar. Pernahkah kita merenung, saat kita memasuki hypermarket dan melihat ratusan macam biskuit, ratusan varian mie instan, dan ratusan merk sabun: haruskah kita memiliki pilihan sebanyak itu?
Pernahkah kita merenung, apa yang kita inginkan sesungguhnya jauh melebihi apa yang kita butuhkan? Atas nama kecukupan, satu manusia bisa hidup dengan lima pasang baju dalam setahun, bahkan lebih. Atas nama fashion, jumlah itu menjadi tidak berbatas. Atas nama kebutuhan, satu manusia bisa hidup dengan beberapa pilihan panganan dalam sehari. Atas nama selera dan nafsu, seisi Bumi tidak akan sanggup memenuhi keinginan satu manusia.
Permasalahan ini memang bisa dilihat dari berbagai kaca mata. Seorang ekonom mungkin akan menyalahkan sistem kapitalisme dan globalisasi. Seorang sosialis akan mengatakan ini masalah distribusi dan pemerataan. Tapi jika kita runut, satu demi satu, bahwa Bumi adalah kumpulan negara, negara adalah kumpulan kelompok, dan kelompok adalah kumpulan individu, permasalahan ini akan kembali ke pangkuan kita. Dan kesadaran serta kemauan kitalah yang pada akhirnya akan memungkinkan sebuah perubahan sejati.
Belum pernah dalam sejarah kemanusiaan keputusan harian kita menjadi sangat menentukan. Tidak perlu menunggu Amerika menyepakati Protocol Kyoto, tidak perlu juga menunggu penjarah hutan tertangkap, setiap langkah kita-memilih merk, kuantitas, tempat, gaya hidup - adalah pilihan politis dan ekologis yang menentukan masa depan seisi Bumi.
Saya belum bisa mengorbankan komputer karena itulah instrumen saya bekerja, tapi saya bisa lebih awas dengan jam penggunaan dan mematikannya jika tidak perlu. Saya belum bisa mengorbankan kebutuhan akan informasi, tapi saya bisa memilih membaca berita lewat internet atau membaca koran di tempat publik ketimbang berlangganan langsung.
Bagaimana dengan fashion? Di dunia citra ini, dengan profesi yang mengharuskan banyak tampil di muka publik, saya pun belum bisa mengorbankan keperluan fashion (baca: membeli busana lebih sering dari yang dibutuhkan), tapi saya bisa membuat komitmen dengan lemari pakaian, yakni baju yang saya miliki tidak boleh melebihi kapasitas lemari saya. Jika lebih, maka harus ada yang keluar. Dan setiap beberapa bulan saya dihadapkan pada kenyataan bahwa ada baju yang tidak saya pakai setahun lebih atau baju yang cuma sekali dipakai dan tak pernah lagi. Bukan cuma baju, ada juga buku, pernik rumah, alat dapur, bahkan sabun dan sampo yang utuh tak disentuh. Alhasil, dalam rumah saya ada semacam peti-peti 'harta karun', yang berisikan barang-barang yang harus keluar dari peredaran, karena jika dipertahankan hanya menjadi kelebihan tanpa lagi unsur manfaat. Harta karun ini lantas harus dicarikan lagi outlet untuk penyaluran.
Pada waktu perayaan 17 Agustus, di kompleks saya diselenggarakan bazaar. Para warga menyewa stand untuk berjualan. Saya ikut berpartisipasi, dan sayalah satu-satunya penjual barang bekas di antara penjual barang-baru baru. Karena bukan demi cari untung, barang-barang itu saya lepas dengan harga sangat murah. Yang membeli bukan cuma warga kompleks, tapi juga dari kampung sekitar. Hari pertama, saya sudah kehabisan dagangan. Terpaksa saya mengontak saudara-saudara saya yang barangkali juga punya barang bekas untuk disalurkan. Sama dengan saya, mereka pun punya timbunan harta karun yang entah harus diapakan. Stand saya menjadi salah satu stand paling laris selama bazaar berlangsung. Dan kakak saya terkaget-kaget dengan penghasilan yang ia dapat dari tumpukan barang yang sudah dianggap sampah.
Berjualan di bazaar tentu bukan satu-satunya jalan, ada aneka cara kreatif lain untuk memanfaatkan harta karun kita, termasuk juga disumbangkan. Namun yang lebih sukar adalah memulai membuat komitmen-komitmen pembatasan diri. Berkomitmen dengan rak buku, dengan lemari pakaian, dengan rak kamar mandi, dengan laci dapur, dan pada intinya... dengan diri sendiri. Siapkah kita menentukan batasan dan berjalan dalam koridor itu?
Dan, yang lebih susah lagi, adalah pengendalian diri dari awal bersua aneka pilihan yang membombardir kita setiap hari, lalu sadar dan mawas akan rantai sebab-akibat yang menyertai pilihan kita. Membuka diri untuk pembekalan yang baik. Walaupun sekilas tampak merepotkan dan bikin frustrasi, tapi kantong kresek yang kita buang tadi pagi tidak akan hilang oleh sihir, dan hamburger yang kita makan tidak dipetik dari pohon. Rantai yang menyertai barang-barang itu tidak akan hilang hanya karena kita menolak tahu.
Banyak orang yang berkomentar pada saya, "Aduh, Wi. Kamu bikin hidup tambah susah saja." Dan mereka benar. Hidup ini tak mudah. Untuk itu kita justru harus belajar menghargai setiap jengkalnya. Memilih hidup yang lebih sederhana, hidup dengan tempo yang lebih pelan, hidup dengan pengasahan kesadaran, tak hanya membantu kita lebih eling dan terkendali, tapi juga membantu Bumi ini dan jutaan manusia yang dijadikan alas kaki oleh industri demi pemenuhan nafsu konsumsi kita sendiri.
Lingkaran setan? Ya. Tapi tidak berarti kita tak sanggup berubah. Selama ini kita adalah pembeli yang berlari. Dalam kecepatan tinggi kita bertransaksi, sabet sana sabet sini, tanpa tahu lagi apa yang sesungguhnya kita cari. Berhentilah sejenak. Marilah kita berjalan. (Dewi Lestari)
Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com
Tuesday, January 22, 2008
The Man Behind 'How Great Is Our God'
Chris Tomlin
The Man Behind 'How Great Is Our God'
Christopher Dwayne Tomlin atau lebih dikenal dengan nama Chris Tomlin lahir pada tanggal 4 Mei 1972. Sebagai bocah yang dilahirkan dan dibesarkan di Texas Timur, ia terbiasa mendengarkan musik country. Chris tumbuh dengan kecintaan pada musik, keahliannya bermain gitar didapatkannya dari sang ayah sehingga di usia muda 14 tahun ia sudah mulai menulis lagu. Dibesarkan dalam keluarga yang cinta akan Tuhan membuat Chris menyadari bahwa Tuhan memiliki rencana yang spesifik bagi hidupnya sejak usia dini.
Chris mengambil bidang Psikologi saat kuliah di A&M Texas University dan tetap meneruskan kegiatan menulis dan bermain music. Di saat yang bersamaan Chris bertemu dengan Louie Giglio yang menawarkan dia untuk bergabung dalam Passion Conference, yaitu sebuah konferensi bagi para mahasiswa-mahasiswa Kristen di Amerika dengan jumlah mencapai 20,000 setiap tahunnya Album solo pertama Chris Tomlin yang dirilis di seluruh Amerika adalah "The Noise We Make" pada tahun 2001. Namun yang membuat nama Chris Tomlin menjadi begitu terkenal di dunia industri musik rohani adalah album "Arriving" yang dirilis pada tahun 2004. Di album inilah Chris merilis lagunya "How Great is Our God" yang kemudian menjadi lagu paling disukai hampir di setiap gereja termasuk di Indonesia.
Albumnya yang terbaru yaitu "See the Morning" telah dinominasikan dua Grammy Awards dan memenangkan 6 Dove Awards pada tahun 2007, termasuk di antaranya "Artist of the Year" dan "Praise & Worship Album of The Year." Berdasarkan survey yang dibuat oleh Christian Copyright Licensing International pada bulan February 2007, 5 lagu Chris Tomlin berada di chart 25 lagu worship terbaik di Amerika Serikat. Kelima lagu tersebut adalah "How Great Is Our God (#1)" "Forever" (#9), "Holy is the Lord" (#10), "We Fall Down" (#13) dan "The Wonderful Cross" (#24). Album 'See The Morning: Special Edition' terinspirasi dari `fajar pagi' di Alkitab membawakan pesan bahwa Tuhan mencintai pagi hari dan bersamaan dengannya selalu ada kasih karunia dan harapan yang baru. Dengan lirik lagu yang sederhana namun kuat dan melodi gitar yang khas Chris Tomlin, album ini berhasil memenangkan 6 Dove Awards.
Saat ini karya-karya Chris telah menjadi standar dari banyak pemusik Kristen kontemporer Album ini berisikan 15 lagu baru yang di antaranya adalah 3 lagu dengan versi akustik dan 1 lagu original demo. Album dengan Enhanced CD ini juga memberikan bonus yaitu 1 Video Feature of The Making of the Special Album dari Chris Tomlin dan Sang Produser Ed Cash. Album ini akan mulai tersedia di toko buku dan kaset rohani di Indonesia pada Januari 2008. Chris melaksanakan tour pertamanya bersama dengan grup Delirious?, kemudian ia juga pernah mendampingi Steven Curtis Chapman di tour "All Things New." Tour skala besar Chris seperti `Indescribable' tour dan `How Great is Our God' Tour ia bekerjasama dengan Matt Redman dan Louie Giglio. Tournya yang paling baru adalah 'See The Morning' Tour dari album terbarunya "See The Morning" (TrueworshipperIndonesia)
Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com
The Man Behind 'How Great Is Our God'
Christopher Dwayne Tomlin atau lebih dikenal dengan nama Chris Tomlin lahir pada tanggal 4 Mei 1972. Sebagai bocah yang dilahirkan dan dibesarkan di Texas Timur, ia terbiasa mendengarkan musik country. Chris tumbuh dengan kecintaan pada musik, keahliannya bermain gitar didapatkannya dari sang ayah sehingga di usia muda 14 tahun ia sudah mulai menulis lagu. Dibesarkan dalam keluarga yang cinta akan Tuhan membuat Chris menyadari bahwa Tuhan memiliki rencana yang spesifik bagi hidupnya sejak usia dini.
Chris mengambil bidang Psikologi saat kuliah di A&M Texas University dan tetap meneruskan kegiatan menulis dan bermain music. Di saat yang bersamaan Chris bertemu dengan Louie Giglio yang menawarkan dia untuk bergabung dalam Passion Conference, yaitu sebuah konferensi bagi para mahasiswa-mahasiswa Kristen di Amerika dengan jumlah mencapai 20,000 setiap tahunnya Album solo pertama Chris Tomlin yang dirilis di seluruh Amerika adalah "The Noise We Make" pada tahun 2001. Namun yang membuat nama Chris Tomlin menjadi begitu terkenal di dunia industri musik rohani adalah album "Arriving" yang dirilis pada tahun 2004. Di album inilah Chris merilis lagunya "How Great is Our God" yang kemudian menjadi lagu paling disukai hampir di setiap gereja termasuk di Indonesia.
Albumnya yang terbaru yaitu "See the Morning" telah dinominasikan dua Grammy Awards dan memenangkan 6 Dove Awards pada tahun 2007, termasuk di antaranya "Artist of the Year" dan "Praise & Worship Album of The Year." Berdasarkan survey yang dibuat oleh Christian Copyright Licensing International pada bulan February 2007, 5 lagu Chris Tomlin berada di chart 25 lagu worship terbaik di Amerika Serikat. Kelima lagu tersebut adalah "How Great Is Our God (#1)" "Forever" (#9), "Holy is the Lord" (#10), "We Fall Down" (#13) dan "The Wonderful Cross" (#24). Album 'See The Morning: Special Edition' terinspirasi dari `fajar pagi' di Alkitab membawakan pesan bahwa Tuhan mencintai pagi hari dan bersamaan dengannya selalu ada kasih karunia dan harapan yang baru. Dengan lirik lagu yang sederhana namun kuat dan melodi gitar yang khas Chris Tomlin, album ini berhasil memenangkan 6 Dove Awards.
Saat ini karya-karya Chris telah menjadi standar dari banyak pemusik Kristen kontemporer Album ini berisikan 15 lagu baru yang di antaranya adalah 3 lagu dengan versi akustik dan 1 lagu original demo. Album dengan Enhanced CD ini juga memberikan bonus yaitu 1 Video Feature of The Making of the Special Album dari Chris Tomlin dan Sang Produser Ed Cash. Album ini akan mulai tersedia di toko buku dan kaset rohani di Indonesia pada Januari 2008. Chris melaksanakan tour pertamanya bersama dengan grup Delirious?, kemudian ia juga pernah mendampingi Steven Curtis Chapman di tour "All Things New." Tour skala besar Chris seperti `Indescribable' tour dan `How Great is Our God' Tour ia bekerjasama dengan Matt Redman dan Louie Giglio. Tournya yang paling baru adalah 'See The Morning' Tour dari album terbarunya "See The Morning" (TrueworshipperIndonesia)
Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com
Her Tongue Needn't Be Cut Off
Lidah Tak Jadi Dipotong Karena Mukjizat
Ruth Susan Goniarsari (40 tahun), adalah salah seorang jemaat yang memperoleh mukjizat. Warga Serpong, Tangerang, ini mengaku pernah menderita penyakit kanker ganas di lidah pada bulan Juli 2005. Beberapa dokter ahli telah dia datangi, namun solusi yang ditawarkan hanya: "lidah Anda mesti dipotong". Berbagai macam obat telah dia makan. Dan semua upaya mencari kesembuhan itu telah memakan biaya yang tidak sedikit. Beruntung, Susan memiliki suami yang giat berjuang menerobos kebuntuan atas penyakit istrinya dan mengambil langkah tepat dengan menyerahkan total persoalan lidah istrinya itu kepada Tuhan. Mukjizat itupun terjadi. Bagaimana kisahnya?
Penyakitnya bermula dari luka kecil di sisi kiri lidahnya yang semula diduga sariawan. "Saya merasa tidak enak di lidah. Dugaan saya waktu itu sariawan. Awalnya saya tidak perhatikan, tapi kok tidak sembuh sampai berbulan-bulan," kenangnya. Meski demikian, Susan tidak terlalu panik menanggapinya dan berusaha mengobati penyakit itu dengan mengonsumsi obat-obatan tradisional China berbentuk bubuk dan obat kumur sariawan. "Bagi saya, sariawan itu hal biasa," katanya.
Namun, usaha tersebut tetap tidak membuahkan hasil. Puncaknya, Januari 2006, rasa cemas akhirnya menghinggapi batin Susan ketika di bagian luka itu timbul benjolan sebesar kancing baju. Suaminya, Aris Hartono (42 tahun), segera membawanya ke dokter spesialis Telinga Hidung dan Tenggorokan (THT). Dokter menganggap itu hanya penyakit biasa dan memberikan obat antibiotik dan obat kumur. Hingga obatnya habis, penyakitnya tidak kunjung sembuh.
Lalu Susan mencoba mencari tahu sumber penyakitnya ke dokter gigi, jawaban dan obat yang diterima hampir sama dengan dokter semula dan tidak juga mendapatkan perubahan positif. Teman-teman mengajurkan Susan ke dokter kulit. Lalu dokter kulit itu merujuk ke Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) bagian bedah tumor. "Jika memang ketahuan lidah kamu terjangkit kanker, lidah kamu harus dipotong. Selain itu, kelenjar di lehermu juga harus dipotong," ungkap Susan menirukan ucapan dokter yang memeriksanya. Mendengar perkataan dokter tersebut, perempuan yang menjabat sebagai staff accounting di perusahaan komputer itu terperanjat kaget dan ketakutan.
Untuk mengkaji atau menyempurnakan diagnosis RSCM, mereka periksa ke RS Dharmais, Jakarta Barat, yang khusus menangani kanker. "Hasilnya juga sama, harus dioperasi," ujar sang suami menambahkan penjelasan Susan. Karena tidak mau dioperasi, mereka mendatangi beberapa tempat pengobatan alternatif yang mengaku mampu mengobati penyakit kanker. Namun hasilnya nihil hingga membuat sang suami gusar. "Ternyata omong kosong semua, tidak ada kesembuhan. Memang kondisi pertama kelihatan baik, ternyata itu hanya imono-modulator. Artinya, mempertinggi daya tahan tubuh tetapi tidak mematikan sel kanker. Akibatnya, ketika obat itu berhenti, sel kanker berkembang lebih cepat lagi," tutur Aris.
Kondisi Susan yang semakin memprihatinkan membuat Aris putus asa. Lidahnya semakin membengkak seperti telor puyuh dan memutar sampai 90 derajat. Susan tidak bisa berbicara dan makan apapun. Beberapa teman mengajurkan mereka pergi ke orang pintar atau dukun di daerah Bandung, namun ditolak dengan alasan bahwa cara yang tidak bersumber dari Tuhan Yesus adalah tidak benar. Akhirnya mereka kembali berobat ke RSCM dan melakukan terapi dan juga kemoterapi, namun kesimpulannya tetap saja lidah Susan harus di"amputasi".
Karena tidak mau menempuh operasi, langkah berani akhirnya diputuskan Aris yakni, "Susan harus sembuh dengan karunia Tuhan sendiri. Tidak ada proses operasi. Biar Tuhan yang menyembuhkan sendiri". Keputusan itu ditentang keras keluarga kedua belah pihak. Padahal, uang telah disiapkan oleh kedua keluarga untuk berobat ke Singapura, namun Aris tak bergeming. "Susan harus sembuh tanpa operasi," tegas Aris di hadapan keluarga. Hari demi hari, dengan sabar keduanya menanti lawatan kuasa Tuhan atas penyakit Susan.
Aris sendiri tidak tega melihat penderitaan Susan setiap kali menjelang malam. "Saya selalu ketakutan dan tidak tahan melihat istri saya menjerit kesakitan setiap malam. Kalau bisa dari sore langsung pagi saja," ujar Aris. Maret 2007, suara Tuhan mengiang di hati Aris agar mendatangi salah seorang hamba Tuhan di persekutuan doa yang konon memiliki karunia kesembuhan. Didampingi para pendoa lainnya, Susan didoakan secara intensif selama beberapa hari sambil dirinya diminta beriman bahwa Tuhan sanggup menyembuhkan penyakitnya. Ajaib, perubahan demi perubahan terjadi.
"Minggu lewat minggu berlalu dengan sukacita. Setiap pulang dari persekutuan doa, selalu ada perubahan," ungkap sang suami. Susan yang selama beberapa bulan terakhir tidak bisa makan, berangsur bisa makan seperti orang normal lainnya. Selama sakit, Susan begitu tersiksa jika berurusan soal makanan. "Yang saya konsumsi hanya susu. Sehari bisa tujuh kali minum susu," tutur Susan.
Setiap berkunjung ke dokter mereka pulang membawa resep obat, namun selama didoakan, mereka membawa pulang "resep" rohani yakni ayat di Mazmur 23: "Tuhan, gembala yang baik”, yang menurut Aris sangat menghibur dan menyembuhkan. Selain itu, kesibukan mereka setiap hari hanya memuji dan menyembah Tuhan, baik di persekutuan maupun di rumah.
Suaminya dengan sabar membimbing Susan untuk selalu mendekatkan diri kepada Yesus. Beberapa bulan kemudian, mulai banyak perubahan luar biasa terhadap kondisi penyakit Susan yang akhimya mengalami kesembuhan total tanpa operasi. "Ini karena minyak urapan, perjamuan kudus tubuh dan darah Tuhan Yesus serta doa-doa, penyembahan, pujian dan penyerahan diri," ungkap Aris dengan ekspresi sukacita.
Meski telah menghabiskan uang ratusan juta rupiah, mereka sulit menahan luapan kegembiraan jika pada akhirnya lidah Susan tetap utuh dan kembali normal. Seandainya, mereka mengikuti saja instruksi para dokter, keadaannya pasti tidak seperti sekarang ini. "Andai saja lidahnya dipotong, Susan bakal tidak bisa bicara, makan juga sulit, tidak bisa merasakan rasa makanan, dan kalau bicara harus memakai suara perut," tutur Aris. Untunglah mereka mengandalkan Tuhan Yesus. Puji Tuhan! Dikutip dari Tabloid "Reformata" Edisi 74/Januari 2008.
Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com
Ruth Susan Goniarsari (40 tahun), adalah salah seorang jemaat yang memperoleh mukjizat. Warga Serpong, Tangerang, ini mengaku pernah menderita penyakit kanker ganas di lidah pada bulan Juli 2005. Beberapa dokter ahli telah dia datangi, namun solusi yang ditawarkan hanya: "lidah Anda mesti dipotong". Berbagai macam obat telah dia makan. Dan semua upaya mencari kesembuhan itu telah memakan biaya yang tidak sedikit. Beruntung, Susan memiliki suami yang giat berjuang menerobos kebuntuan atas penyakit istrinya dan mengambil langkah tepat dengan menyerahkan total persoalan lidah istrinya itu kepada Tuhan. Mukjizat itupun terjadi. Bagaimana kisahnya?
Penyakitnya bermula dari luka kecil di sisi kiri lidahnya yang semula diduga sariawan. "Saya merasa tidak enak di lidah. Dugaan saya waktu itu sariawan. Awalnya saya tidak perhatikan, tapi kok tidak sembuh sampai berbulan-bulan," kenangnya. Meski demikian, Susan tidak terlalu panik menanggapinya dan berusaha mengobati penyakit itu dengan mengonsumsi obat-obatan tradisional China berbentuk bubuk dan obat kumur sariawan. "Bagi saya, sariawan itu hal biasa," katanya.
Namun, usaha tersebut tetap tidak membuahkan hasil. Puncaknya, Januari 2006, rasa cemas akhirnya menghinggapi batin Susan ketika di bagian luka itu timbul benjolan sebesar kancing baju. Suaminya, Aris Hartono (42 tahun), segera membawanya ke dokter spesialis Telinga Hidung dan Tenggorokan (THT). Dokter menganggap itu hanya penyakit biasa dan memberikan obat antibiotik dan obat kumur. Hingga obatnya habis, penyakitnya tidak kunjung sembuh.
Lalu Susan mencoba mencari tahu sumber penyakitnya ke dokter gigi, jawaban dan obat yang diterima hampir sama dengan dokter semula dan tidak juga mendapatkan perubahan positif. Teman-teman mengajurkan Susan ke dokter kulit. Lalu dokter kulit itu merujuk ke Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) bagian bedah tumor. "Jika memang ketahuan lidah kamu terjangkit kanker, lidah kamu harus dipotong. Selain itu, kelenjar di lehermu juga harus dipotong," ungkap Susan menirukan ucapan dokter yang memeriksanya. Mendengar perkataan dokter tersebut, perempuan yang menjabat sebagai staff accounting di perusahaan komputer itu terperanjat kaget dan ketakutan.
Untuk mengkaji atau menyempurnakan diagnosis RSCM, mereka periksa ke RS Dharmais, Jakarta Barat, yang khusus menangani kanker. "Hasilnya juga sama, harus dioperasi," ujar sang suami menambahkan penjelasan Susan. Karena tidak mau dioperasi, mereka mendatangi beberapa tempat pengobatan alternatif yang mengaku mampu mengobati penyakit kanker. Namun hasilnya nihil hingga membuat sang suami gusar. "Ternyata omong kosong semua, tidak ada kesembuhan. Memang kondisi pertama kelihatan baik, ternyata itu hanya imono-modulator. Artinya, mempertinggi daya tahan tubuh tetapi tidak mematikan sel kanker. Akibatnya, ketika obat itu berhenti, sel kanker berkembang lebih cepat lagi," tutur Aris.
Kondisi Susan yang semakin memprihatinkan membuat Aris putus asa. Lidahnya semakin membengkak seperti telor puyuh dan memutar sampai 90 derajat. Susan tidak bisa berbicara dan makan apapun. Beberapa teman mengajurkan mereka pergi ke orang pintar atau dukun di daerah Bandung, namun ditolak dengan alasan bahwa cara yang tidak bersumber dari Tuhan Yesus adalah tidak benar. Akhirnya mereka kembali berobat ke RSCM dan melakukan terapi dan juga kemoterapi, namun kesimpulannya tetap saja lidah Susan harus di"amputasi".
Karena tidak mau menempuh operasi, langkah berani akhirnya diputuskan Aris yakni, "Susan harus sembuh dengan karunia Tuhan sendiri. Tidak ada proses operasi. Biar Tuhan yang menyembuhkan sendiri". Keputusan itu ditentang keras keluarga kedua belah pihak. Padahal, uang telah disiapkan oleh kedua keluarga untuk berobat ke Singapura, namun Aris tak bergeming. "Susan harus sembuh tanpa operasi," tegas Aris di hadapan keluarga. Hari demi hari, dengan sabar keduanya menanti lawatan kuasa Tuhan atas penyakit Susan.
Aris sendiri tidak tega melihat penderitaan Susan setiap kali menjelang malam. "Saya selalu ketakutan dan tidak tahan melihat istri saya menjerit kesakitan setiap malam. Kalau bisa dari sore langsung pagi saja," ujar Aris. Maret 2007, suara Tuhan mengiang di hati Aris agar mendatangi salah seorang hamba Tuhan di persekutuan doa yang konon memiliki karunia kesembuhan. Didampingi para pendoa lainnya, Susan didoakan secara intensif selama beberapa hari sambil dirinya diminta beriman bahwa Tuhan sanggup menyembuhkan penyakitnya. Ajaib, perubahan demi perubahan terjadi.
"Minggu lewat minggu berlalu dengan sukacita. Setiap pulang dari persekutuan doa, selalu ada perubahan," ungkap sang suami. Susan yang selama beberapa bulan terakhir tidak bisa makan, berangsur bisa makan seperti orang normal lainnya. Selama sakit, Susan begitu tersiksa jika berurusan soal makanan. "Yang saya konsumsi hanya susu. Sehari bisa tujuh kali minum susu," tutur Susan.
Setiap berkunjung ke dokter mereka pulang membawa resep obat, namun selama didoakan, mereka membawa pulang "resep" rohani yakni ayat di Mazmur 23: "Tuhan, gembala yang baik”, yang menurut Aris sangat menghibur dan menyembuhkan. Selain itu, kesibukan mereka setiap hari hanya memuji dan menyembah Tuhan, baik di persekutuan maupun di rumah.
Suaminya dengan sabar membimbing Susan untuk selalu mendekatkan diri kepada Yesus. Beberapa bulan kemudian, mulai banyak perubahan luar biasa terhadap kondisi penyakit Susan yang akhimya mengalami kesembuhan total tanpa operasi. "Ini karena minyak urapan, perjamuan kudus tubuh dan darah Tuhan Yesus serta doa-doa, penyembahan, pujian dan penyerahan diri," ungkap Aris dengan ekspresi sukacita.
Meski telah menghabiskan uang ratusan juta rupiah, mereka sulit menahan luapan kegembiraan jika pada akhirnya lidah Susan tetap utuh dan kembali normal. Seandainya, mereka mengikuti saja instruksi para dokter, keadaannya pasti tidak seperti sekarang ini. "Andai saja lidahnya dipotong, Susan bakal tidak bisa bicara, makan juga sulit, tidak bisa merasakan rasa makanan, dan kalau bicara harus memakai suara perut," tutur Aris. Untunglah mereka mengandalkan Tuhan Yesus. Puji Tuhan! Dikutip dari Tabloid "Reformata" Edisi 74/Januari 2008.
Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com
Monday, January 21, 2008
Too Late
Ketika Semuanya Sudah Terlambat
Di masa kecilnya, Meida mengingat sosok ayahnya, Mulyadi, sebagai sosok bertanggung jawab, setia kepada keluarga dan tidak pernah mentelantarkan anak-anaknya. Dibandingkan adik-adiknya, Meidalah yang paling dekat dengan ayahnya. Kasih sayang Mulyadi bagi Meida begitu berlimpah. Hadiah-hadiah indah dan lucu seringkali diberikan ayahnya untuk Meida. Bagi Meida, Mulyadi adalah seorang ayah yang hebat.
Tapi sejalan dengan waktu, rasa sayang itu telah berubah menjadi kebencian yang mendalam di hati Meida. Mulyadi ternyata memiliki wanita idaman lain sampai akhirnya, saat Meida masih duduk di bangku Sekolah Dasar, Mulyadi meninggalkan keluarganya demi wanita itu. Selama bertahun-tahun, komunikasi dengan Mulyadi telah benar-benar terputus. Mulyadi tidak pernah pulang ke rumah. Nafkah pun tidak pernah diberikan Mulyadi bagi keluarganya sehingga Meida harus menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri bagaimana Ratnaningsih, ibunya, berusaha keras untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka sehari-hari dengan berjualan gorengan. Kerinduan Meida yang terdalam hanyalah ingin membahagiakan Ratnaningsih. Kesedihan yang tersimpan di dalam hati Meida semakin membuat kebenciannya terhadap ayahnya semakin mengental. Hati Meida dipenuhi dendam.
Peristiwa itu telah mengubah seluruh kehidupan Meida. Meida menjadi anak yang menutup diri terhadap lingkungannya sendiri. Meida susah bergaul karena pada dasarnya Meida merasa dirinya tidak bisa lagi mempercayai orang lain. Perbuatan ayahnya telah menghancurkan rasa percaya Meida kepada semua orang.
Hingga bertahun-tahun kemudian, Meida diperhadapkan kepada situasi yang selalu ia hindari. Ayahnya kembali pulang ke rumah. Api kebencian di dalam hati Meida yang sudah mengecil, kembali membara. Bagi Meida, ketidak-hadiran ayahnya di dalam kehidupannya bukanlah suatu masalah. Selama ini Meida sudah berusaha untuk bertahan dan memperjuangkan hidupnya sendiri.
Kepulangan ayahnya kembali ke rumah semakin memperburuk situasi. Suasana dingin senantiasa meliputi hubungan keluarga di antara mereka. Meida dan saudara-saudaranya merasa lebih baik seandainya ayah mereka tidak hadir daripada hanya menjadi seorang ayah yang mengecewakan.
Kekecewaan itu pernah Meida ungkapkan secara langsung kepada ayahnya. Bagaimana sakitnya perasaan Meida terhadap ayahnya. Namun ayahnya biasanya hanya menanggapinya dengan berdiam diri, tidak pernah memberikan komentar apapun. Kondisi itu pun akhirnya hanya menimbulkan sikap yang apatis bagi Meida karena Meida merasa berdebat dengan ayahnya pun tidak akan menghasilkan apa-apa.
Pada suatu hari, teman Meida mengajaknya untuk menghadiri sebuah KKR. Khotbah yang dibawakan pada malam itu membuka paradigma baru di dalam hati Meida. Bahwa sebenarnya Bapa yang di surga itu jauh lebih baik, lebih setia dan lebih mulia daripada bapa jasmani kita. Bapa surgawi adalah Pribadi yang sangat baik dan penuh pengampunan. Kebenaran itu tertancap dalam di hati Meida. Namun Meida menyadari, ia tidak sanggup mengampuni ayahnya. Tapi Meida tetap bertekad untuk mengampuni ayahnya. Paling tidak, Meida akan berusaha untuk merubah sikap dinginnya yang selalu ditunjukkannya kepada ayahnya.
Di saat Meida berusaha memperbaiki hubungannya dengan sang ayah, suatu peristiwa yang tidak disangka kembali terjadi. Peristiwa yang mengejutkan dan sangat menyakitkan kembali mengurungkan niat Meida. Tanpa disengaja, Meida membaca pesan yang dikirimkan wanita simpanan ayahnya di HP Ratnaningsih yang mengatakan kalau Meida itu bukan anak kandung ayahnya. Hati Meida sangat sakit, menyadari bahwa ayahnya sendiri yang telah mengatakan ketidak-benaran itu kepada selingkuhannya. Ayahnya pernah mencoba untuk meminta maaf kepada Meida atas peristiwa itu namun hati Meida telah benar-benar menjadi dingin. Meida tidak pernah lagi mencoba untuk menyayangi ayahnya.
Pada suatu hari, Meida bersama ayahnya pergi ke Bandung untuk memperingati 40 hari kematian neneknya. Kekakuan dan hubungan yang dingin di antara Meida dan ayahnya membuat Meida malas untuk ngobrol maupun berbasa-basi dengan ayahnya di sepanjang perjalanan. Ayahnya yang berusaha membuka percakapan dengan Meida pun tidak diindahkannya. Sepulangnya dari Bandung, kejadian yang tidak disangka-sangka itu terjadi. Supir yang mengantuk menyebabkan mobil yang mereka tumpangi mengalami kecelakaan di jalan tol.
Ratnaningsih yang diberitahu mengenai kecelakaan itu segera pergi ke rumah sakit tempat Meida dan Mulyadi dirawat. Sesampainya di sana, barulah Ratnaningsih diberitahu kalau Mulyadi sudah meninggal dunia. Meida sendiri mengalami luka yang parah dan harus segera dioperasi. Saat itu, Ratnanigsih berusaha setegar mungkin namun di dalam hatinya ia menyimpan duka yang tak terkatakan. Ratnaningsih hanya bisa berdoa, memohon kepada Tuhan untuk tidak mengambil nyawa Meida juga.
Kecelakaan tersebut telah merenggut nyawa Mulyadi dan Meida pun berada dalam keadaan koma. Namun Tuhan berbelas kasihan dan memulihkan kesehatan Meida perlahan-lahan. Meida yang tadinya lumpuh, mulai belajar berjalan kembali. Kondisi Meida yang memprihatinkan membuat Ratnaningsih tetap merahasiakan kematian Mulyadi kepada Meida. Setiap kali Meida menanyakan keberadaan ayahnya, Ratnaningsih selalu mengatakan kalau Mulyadi sedang tugas di luar kota. Ratnaningsih kuatir kalau sampai Meida shock, itu akan mempengaruhi kondisinya yang belum stabil.
Sebulan kemudian, kenyataan akan kematian Mulyadi tidak dapat ditutup-tutupi lagi. Tanpa sengaja Meida membaca pesan di HP Ratnaningsih yang mengungkapkan turut berdukacita atas kepergian Muyadi. Dengan berusaha setenang mungkin, Ratnaningsih pun akhirnya mencoba menjelaskan kenyataan yang sebenarnya bahwa Mulyadi sudah meninggal dunia akibat kecelakaan itu.
Kenyataan ini kembali menimbulkan kesedihan mendalam bagi Meida. Penyesalan memenuhi hatinya karena ia tidak dapat menemani saat-saat terakhir ayahnya. Meida sadar meskipun mulutnya selalu mengatakan kebencian kepada ayahnya, tapi sebenarnya jauh di dalam hatinya Meida sangat menyayangi ayahnya. Penyesalan yang paling menyesakkan hati Meida adalah kenangan saat ayahnya mencoba untuk meminta maaf kepadanya, Meida tetap mengeraskan hatinya dan tidak dapat memaafkan ayahnya sepenuhnya. Meida merasa, saat ayahnya masih ada, ia tidak dapat membahagiakan ayahnya.
Kebenaran akan statusnya sebagai anak kandung ayahnya atau bukan tidak lagi menjadi masalah bagi Meida. Saat ini Meida hanya menyadari bahwa ia tetap sayang kepada ayahnya dan sudah mengampuni ayahnya. Karena bagi Meida, tidak ada gunanya lagi ia menyimpan kepahitan di dalam hatinya karena ayahnya juga sudah tiada. Kepahitan itu disadari Meida hanya menyiksa dan menyakiti dirinya sendiri.
Bagi Meida, kebaikan Tuhan itu luar biasa dan merupakan mukjizat karena Tuhan sudah menyelamatkan dirinya dari kematian. Dan Meida sangat bersyukur memiliki keluarga yang benar-benar membantu dan mendorongnya untuk terus melihat masa depan. Meida tahu semuanya itu berasal dari Tuhan dan tidak ada kata-kata yang cukup untuk mengungkapkan kebaikan Tuhan bagi hidupnya. (Kisah ini sudah ditayangkan 7 Januari 2008 dalam acara Solusi di SCTV).
Sumber Kesaksian :
Meida Megawati - Jawaban.com
Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com
Di masa kecilnya, Meida mengingat sosok ayahnya, Mulyadi, sebagai sosok bertanggung jawab, setia kepada keluarga dan tidak pernah mentelantarkan anak-anaknya. Dibandingkan adik-adiknya, Meidalah yang paling dekat dengan ayahnya. Kasih sayang Mulyadi bagi Meida begitu berlimpah. Hadiah-hadiah indah dan lucu seringkali diberikan ayahnya untuk Meida. Bagi Meida, Mulyadi adalah seorang ayah yang hebat.
Tapi sejalan dengan waktu, rasa sayang itu telah berubah menjadi kebencian yang mendalam di hati Meida. Mulyadi ternyata memiliki wanita idaman lain sampai akhirnya, saat Meida masih duduk di bangku Sekolah Dasar, Mulyadi meninggalkan keluarganya demi wanita itu. Selama bertahun-tahun, komunikasi dengan Mulyadi telah benar-benar terputus. Mulyadi tidak pernah pulang ke rumah. Nafkah pun tidak pernah diberikan Mulyadi bagi keluarganya sehingga Meida harus menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri bagaimana Ratnaningsih, ibunya, berusaha keras untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka sehari-hari dengan berjualan gorengan. Kerinduan Meida yang terdalam hanyalah ingin membahagiakan Ratnaningsih. Kesedihan yang tersimpan di dalam hati Meida semakin membuat kebenciannya terhadap ayahnya semakin mengental. Hati Meida dipenuhi dendam.
Peristiwa itu telah mengubah seluruh kehidupan Meida. Meida menjadi anak yang menutup diri terhadap lingkungannya sendiri. Meida susah bergaul karena pada dasarnya Meida merasa dirinya tidak bisa lagi mempercayai orang lain. Perbuatan ayahnya telah menghancurkan rasa percaya Meida kepada semua orang.
Hingga bertahun-tahun kemudian, Meida diperhadapkan kepada situasi yang selalu ia hindari. Ayahnya kembali pulang ke rumah. Api kebencian di dalam hati Meida yang sudah mengecil, kembali membara. Bagi Meida, ketidak-hadiran ayahnya di dalam kehidupannya bukanlah suatu masalah. Selama ini Meida sudah berusaha untuk bertahan dan memperjuangkan hidupnya sendiri.
Kepulangan ayahnya kembali ke rumah semakin memperburuk situasi. Suasana dingin senantiasa meliputi hubungan keluarga di antara mereka. Meida dan saudara-saudaranya merasa lebih baik seandainya ayah mereka tidak hadir daripada hanya menjadi seorang ayah yang mengecewakan.
Kekecewaan itu pernah Meida ungkapkan secara langsung kepada ayahnya. Bagaimana sakitnya perasaan Meida terhadap ayahnya. Namun ayahnya biasanya hanya menanggapinya dengan berdiam diri, tidak pernah memberikan komentar apapun. Kondisi itu pun akhirnya hanya menimbulkan sikap yang apatis bagi Meida karena Meida merasa berdebat dengan ayahnya pun tidak akan menghasilkan apa-apa.
Pada suatu hari, teman Meida mengajaknya untuk menghadiri sebuah KKR. Khotbah yang dibawakan pada malam itu membuka paradigma baru di dalam hati Meida. Bahwa sebenarnya Bapa yang di surga itu jauh lebih baik, lebih setia dan lebih mulia daripada bapa jasmani kita. Bapa surgawi adalah Pribadi yang sangat baik dan penuh pengampunan. Kebenaran itu tertancap dalam di hati Meida. Namun Meida menyadari, ia tidak sanggup mengampuni ayahnya. Tapi Meida tetap bertekad untuk mengampuni ayahnya. Paling tidak, Meida akan berusaha untuk merubah sikap dinginnya yang selalu ditunjukkannya kepada ayahnya.
Di saat Meida berusaha memperbaiki hubungannya dengan sang ayah, suatu peristiwa yang tidak disangka kembali terjadi. Peristiwa yang mengejutkan dan sangat menyakitkan kembali mengurungkan niat Meida. Tanpa disengaja, Meida membaca pesan yang dikirimkan wanita simpanan ayahnya di HP Ratnaningsih yang mengatakan kalau Meida itu bukan anak kandung ayahnya. Hati Meida sangat sakit, menyadari bahwa ayahnya sendiri yang telah mengatakan ketidak-benaran itu kepada selingkuhannya. Ayahnya pernah mencoba untuk meminta maaf kepada Meida atas peristiwa itu namun hati Meida telah benar-benar menjadi dingin. Meida tidak pernah lagi mencoba untuk menyayangi ayahnya.
Pada suatu hari, Meida bersama ayahnya pergi ke Bandung untuk memperingati 40 hari kematian neneknya. Kekakuan dan hubungan yang dingin di antara Meida dan ayahnya membuat Meida malas untuk ngobrol maupun berbasa-basi dengan ayahnya di sepanjang perjalanan. Ayahnya yang berusaha membuka percakapan dengan Meida pun tidak diindahkannya. Sepulangnya dari Bandung, kejadian yang tidak disangka-sangka itu terjadi. Supir yang mengantuk menyebabkan mobil yang mereka tumpangi mengalami kecelakaan di jalan tol.
Ratnaningsih yang diberitahu mengenai kecelakaan itu segera pergi ke rumah sakit tempat Meida dan Mulyadi dirawat. Sesampainya di sana, barulah Ratnaningsih diberitahu kalau Mulyadi sudah meninggal dunia. Meida sendiri mengalami luka yang parah dan harus segera dioperasi. Saat itu, Ratnanigsih berusaha setegar mungkin namun di dalam hatinya ia menyimpan duka yang tak terkatakan. Ratnaningsih hanya bisa berdoa, memohon kepada Tuhan untuk tidak mengambil nyawa Meida juga.
Kecelakaan tersebut telah merenggut nyawa Mulyadi dan Meida pun berada dalam keadaan koma. Namun Tuhan berbelas kasihan dan memulihkan kesehatan Meida perlahan-lahan. Meida yang tadinya lumpuh, mulai belajar berjalan kembali. Kondisi Meida yang memprihatinkan membuat Ratnaningsih tetap merahasiakan kematian Mulyadi kepada Meida. Setiap kali Meida menanyakan keberadaan ayahnya, Ratnaningsih selalu mengatakan kalau Mulyadi sedang tugas di luar kota. Ratnaningsih kuatir kalau sampai Meida shock, itu akan mempengaruhi kondisinya yang belum stabil.
Sebulan kemudian, kenyataan akan kematian Mulyadi tidak dapat ditutup-tutupi lagi. Tanpa sengaja Meida membaca pesan di HP Ratnaningsih yang mengungkapkan turut berdukacita atas kepergian Muyadi. Dengan berusaha setenang mungkin, Ratnaningsih pun akhirnya mencoba menjelaskan kenyataan yang sebenarnya bahwa Mulyadi sudah meninggal dunia akibat kecelakaan itu.
Kenyataan ini kembali menimbulkan kesedihan mendalam bagi Meida. Penyesalan memenuhi hatinya karena ia tidak dapat menemani saat-saat terakhir ayahnya. Meida sadar meskipun mulutnya selalu mengatakan kebencian kepada ayahnya, tapi sebenarnya jauh di dalam hatinya Meida sangat menyayangi ayahnya. Penyesalan yang paling menyesakkan hati Meida adalah kenangan saat ayahnya mencoba untuk meminta maaf kepadanya, Meida tetap mengeraskan hatinya dan tidak dapat memaafkan ayahnya sepenuhnya. Meida merasa, saat ayahnya masih ada, ia tidak dapat membahagiakan ayahnya.
Kebenaran akan statusnya sebagai anak kandung ayahnya atau bukan tidak lagi menjadi masalah bagi Meida. Saat ini Meida hanya menyadari bahwa ia tetap sayang kepada ayahnya dan sudah mengampuni ayahnya. Karena bagi Meida, tidak ada gunanya lagi ia menyimpan kepahitan di dalam hatinya karena ayahnya juga sudah tiada. Kepahitan itu disadari Meida hanya menyiksa dan menyakiti dirinya sendiri.
Bagi Meida, kebaikan Tuhan itu luar biasa dan merupakan mukjizat karena Tuhan sudah menyelamatkan dirinya dari kematian. Dan Meida sangat bersyukur memiliki keluarga yang benar-benar membantu dan mendorongnya untuk terus melihat masa depan. Meida tahu semuanya itu berasal dari Tuhan dan tidak ada kata-kata yang cukup untuk mengungkapkan kebaikan Tuhan bagi hidupnya. (Kisah ini sudah ditayangkan 7 Januari 2008 dalam acara Solusi di SCTV).
Sumber Kesaksian :
Meida Megawati - Jawaban.com
Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com
Friday, January 18, 2008
Because of Honesty
Berkat Kejujuran
Banyak hamba-hamba Tuhan menyampaikan pesan khusus untuk Tahun 2008 ini tentang perpindahan kekayaan bangsa-bangsa, kelimpahan dari seberang laut, perpindahan kekayaan orang fasik kepada Rumah Tuhan. Salah satu pengertian Rumah Tuhan atau Bait Tuhan adalah diri kita.
Hagai 2:7-8 "Sebab beginilah firman TUHAN semesta alam: 'Sedikit waktu lagi maka Aku akan menggoncangkan langit dan bumi, laut dan darat; Aku akan menggoncangkan segala bangsa, sehingga barang yang indah-indah kepunyaan segala bangsa datang mengalir, maka Aku akan memenuhi Rumah ini dengan kemegahan,' firman TUHAN semesta alam."
Pertanyaan yang sering diajukan adalah kapan? Kapan itu terjadi? Namun kalau dipelajari, bukan kapan Tuhan akan melakukannya, tapi kapan kita memenuhi syarat untuk menerima berkat itu. Di dalam kitab Hagai diulang-ulang pesan: "Perhatikanlah keadaanmu!" Mana mungkin Tuhan akan memberikan kelimpahan itu kalau keadaan kita ibarat orang yang mempunyai pundi-pundi berlobang. Berkat Tuhan seberapa besarpun tidak akan bertahan, lewat saja, keluar lagi dari pundi-pundi kita, kalau kita belum siap diberkati.
Supaya siap menerima kelimpahan dari seberang laut itu, firman Tuhan dalam kitab Hagai mengingatkan kita agar membangun Rumah Tuhan. Diri ini sebagai Rumah Tuhan harus dibangun. Apanya yang dibangun? Tentu saja hati kita. Kitab Yesaya ingatkan: lapangkan tanah yang bergelombang, ratakan tanah yang berlobang, luruskan tanah yang berkelok-kelok. Intinya: hati kita jangan kepahitan (berlobang), jangan tinggi hati (bergelombang), dan luruskan hati yang berbelit-belit dengan kebohongan, kelicikan dan ingkar janji. Di sinilah Tuhan bertanya kepada kita: "Kapan engkau siap? Kapan hatimu selesai dibangun? Kapan?"
Seorang karyawan di bagian Treasury yang sudah bekerja bertahun-tahun di suatu perusahaan biasa menyetor dan mengambil uang ratusan juta dari bank. Pada suatu hari dia mengambil uang dan ketika diperiksa di ruangannya, uang yang diterima dari teller bank itu kelebihan Rp. 70 juta. Mula-mula ia merasa senang menerima uang ini. Rp. 70 juta bisa membeli mobil. Ia bertanya-tanya kepada Tuhan, "Apakah uang ini sebagai jawaban doa dari Tuhan?" Berhari-hari ia bimbang hati: apakah harus dikembalikan kepada teller bank itu, dibelikan mobil yang dibutuhkannya? Ketika ia tidak tahan lagi, ia bertanya kepada Ketua Komunitas Sel-nya.
"Gimana ya, pak? Apakah saya harus mengembalikan uang Rp. 70 juta ini?"
"Ya, tentu! Itu 'kan bukan hak bapak?"
"Ya, ya, ya" kata karyawan ini masih agak ragu.
Akhirnya ia membawa kembali uang sejumlah Rp. 70 juta ini ke bank. Ia mencari teller yang melayaninya beberapa hari lalu. Teller ini sedang menghadapi masalah berat. Ia akan dipecat kalau tidak dapat menemukan uang sejumlah Rp. 70 juta yang hilang itu. Sang teller benar-benar teler, stres, ketakutan, dan panik. Dari mana ia akan mengganti uang Rp. 70 juta itu? Ia sudah menghubungi semua orang yang ia ingat yang telah mengambil uang di bank pada hari itu, tetapi semuanya tidak ada yang mengaku.
"Dik, ini saya bawa uang kelebihan dari bank ini."
"Pak! Berapa?"
"Tujuh puluh juta!"
"Wah, terima kasih, pak! Masih ada orang yang jujur seperti bapak. Terima kasih." Teller itu segera menerima dan menghitung kembali uang itu. Pas.
Rasanya lega sekali karyawan itu telah berlaku jujur, meskipun tadinya ada sedikit kebimbangan. Ia segera melupakan kejadian itu. Beberapa minggu kemudian ia dipanggil direksi. "Pak, bapak 'kan telah bekerja di sini bertahun-tahun. Kami menghargai prestasi bapak dan kejujuran bapak selama ini. Sekarang kami setuju untuk memberi kepada bapak mobil Kijang Innova yang baru. Ayo, silakan lihat di Showroom Mobil dan pilih warna kesukaan bapak." Ia yang tadinya berharap memiliki mobil bekas seharga Rp. 70 juta, karena ketulusan hatinya ia menerima mobil yang jauh lebih baik, Innova baru! Itulah kelimpahan berkat.
Ditulis oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com
Banyak hamba-hamba Tuhan menyampaikan pesan khusus untuk Tahun 2008 ini tentang perpindahan kekayaan bangsa-bangsa, kelimpahan dari seberang laut, perpindahan kekayaan orang fasik kepada Rumah Tuhan. Salah satu pengertian Rumah Tuhan atau Bait Tuhan adalah diri kita.
Hagai 2:7-8 "Sebab beginilah firman TUHAN semesta alam: 'Sedikit waktu lagi maka Aku akan menggoncangkan langit dan bumi, laut dan darat; Aku akan menggoncangkan segala bangsa, sehingga barang yang indah-indah kepunyaan segala bangsa datang mengalir, maka Aku akan memenuhi Rumah ini dengan kemegahan,' firman TUHAN semesta alam."
Pertanyaan yang sering diajukan adalah kapan? Kapan itu terjadi? Namun kalau dipelajari, bukan kapan Tuhan akan melakukannya, tapi kapan kita memenuhi syarat untuk menerima berkat itu. Di dalam kitab Hagai diulang-ulang pesan: "Perhatikanlah keadaanmu!" Mana mungkin Tuhan akan memberikan kelimpahan itu kalau keadaan kita ibarat orang yang mempunyai pundi-pundi berlobang. Berkat Tuhan seberapa besarpun tidak akan bertahan, lewat saja, keluar lagi dari pundi-pundi kita, kalau kita belum siap diberkati.
Supaya siap menerima kelimpahan dari seberang laut itu, firman Tuhan dalam kitab Hagai mengingatkan kita agar membangun Rumah Tuhan. Diri ini sebagai Rumah Tuhan harus dibangun. Apanya yang dibangun? Tentu saja hati kita. Kitab Yesaya ingatkan: lapangkan tanah yang bergelombang, ratakan tanah yang berlobang, luruskan tanah yang berkelok-kelok. Intinya: hati kita jangan kepahitan (berlobang), jangan tinggi hati (bergelombang), dan luruskan hati yang berbelit-belit dengan kebohongan, kelicikan dan ingkar janji. Di sinilah Tuhan bertanya kepada kita: "Kapan engkau siap? Kapan hatimu selesai dibangun? Kapan?"
Seorang karyawan di bagian Treasury yang sudah bekerja bertahun-tahun di suatu perusahaan biasa menyetor dan mengambil uang ratusan juta dari bank. Pada suatu hari dia mengambil uang dan ketika diperiksa di ruangannya, uang yang diterima dari teller bank itu kelebihan Rp. 70 juta. Mula-mula ia merasa senang menerima uang ini. Rp. 70 juta bisa membeli mobil. Ia bertanya-tanya kepada Tuhan, "Apakah uang ini sebagai jawaban doa dari Tuhan?" Berhari-hari ia bimbang hati: apakah harus dikembalikan kepada teller bank itu, dibelikan mobil yang dibutuhkannya? Ketika ia tidak tahan lagi, ia bertanya kepada Ketua Komunitas Sel-nya.
"Gimana ya, pak? Apakah saya harus mengembalikan uang Rp. 70 juta ini?"
"Ya, tentu! Itu 'kan bukan hak bapak?"
"Ya, ya, ya" kata karyawan ini masih agak ragu.
Akhirnya ia membawa kembali uang sejumlah Rp. 70 juta ini ke bank. Ia mencari teller yang melayaninya beberapa hari lalu. Teller ini sedang menghadapi masalah berat. Ia akan dipecat kalau tidak dapat menemukan uang sejumlah Rp. 70 juta yang hilang itu. Sang teller benar-benar teler, stres, ketakutan, dan panik. Dari mana ia akan mengganti uang Rp. 70 juta itu? Ia sudah menghubungi semua orang yang ia ingat yang telah mengambil uang di bank pada hari itu, tetapi semuanya tidak ada yang mengaku.
"Dik, ini saya bawa uang kelebihan dari bank ini."
"Pak! Berapa?"
"Tujuh puluh juta!"
"Wah, terima kasih, pak! Masih ada orang yang jujur seperti bapak. Terima kasih." Teller itu segera menerima dan menghitung kembali uang itu. Pas.
Rasanya lega sekali karyawan itu telah berlaku jujur, meskipun tadinya ada sedikit kebimbangan. Ia segera melupakan kejadian itu. Beberapa minggu kemudian ia dipanggil direksi. "Pak, bapak 'kan telah bekerja di sini bertahun-tahun. Kami menghargai prestasi bapak dan kejujuran bapak selama ini. Sekarang kami setuju untuk memberi kepada bapak mobil Kijang Innova yang baru. Ayo, silakan lihat di Showroom Mobil dan pilih warna kesukaan bapak." Ia yang tadinya berharap memiliki mobil bekas seharga Rp. 70 juta, karena ketulusan hatinya ia menerima mobil yang jauh lebih baik, Innova baru! Itulah kelimpahan berkat.
Ditulis oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com
Thursday, January 17, 2008
Dying of Liver Cancer
KANKER HATI
Seorang Oma bercerita pada hari Jumat lalu bahwa keponakan laki-lakinya, usia sekitar 40 tahunan, sudah dipanggil Tuhan karena kanker hati. "Hal yang paling mengharukan," kata sang Oma, "keponakan saya itu yang sudah kena kanker hati masih memaksakan diri untuk mengajak isteri dan anak-anaknya berlibur ke Jepang, hanya untuk melihat salju." Dalam keadaan lemah, sang keponakan ingin memberikan kesan terakhir yang manis bagi keluarganya. Selain itu ia menyiapkan simpanan uang yang cukup agar anak-anaknya dapat bersekolah sampai ke Perguruan Tinggi. Ia memang orang yang sangat teliti, bekerja sebagai interior designer yang mendisain toko, kantor, atau showroom. Rupanya ia sering tidur larut malam untuk mendapatkan inspirasi atau ide bagi disainnya. Sayang, akibatnya fatal. Ia mati muda. Berikut ini saya tambahkan informasi mengenai kanker hati ini, yang merupakan tulisan Dr. Budi.
Jangan Tidur Terlalu Malam
Selama ini hampir semua orang sangat bergantung pada hasil indeks pemeriksaan fungsi hati (Liver Function Index : SGOT/SGPT). Mereka menganggap bila pemeriksaan menunjukkan hasil indeks yang normal berarti semua OK. Kesalah-pahaman semacam ini ternyata juga dilakukan oleh banyak dokter spesialis. Benar-benar mengejutkan, para dokter yang seharusnya memberikan pengetahuan yang benar pada masyarakat umum, ternyata memiliki pengetahuan yang tidak benar. Pencegahan kanker hati harus dilakukan dengan cara yang benar. Tidak ada jalan lain kecuali mendeteksi dan mengobatinya sedini mungkin, demikian kata dokter Hsu Chin Ch'uan (salah satu dokter di Taiwan). Tetapi ironisnya, ternyata dokter yang menangani kanker hati juga bisa memiliki pandangan yang salah, bahkan menyesatkan masyarakat. Inilah penyebab terbesar kenapa kanker hati sulit untuk disembuhkan.
Saat ini ada seorang pasien dokter Hsu yang mengeluh bahwa selama satu bulan terakhir sering mengalami sakit perut dan berat badannya turun sangat banyak. Setelah dilakukan pemeriksaan supersound baru diketemukan adanya kanker hati yang sangat besar, hampir 80% dari livernya (hati) sudah termakan habis. Pasien ini sangat terperanjat, ”Bagaimana mungkin? Tahun lalu baru melakukan medical check-up dan hasilnya semua normal. Bagaimana mungkin hanya dalam waktu satu tahun yang relatif singkat bisa tumbuh kanker hati yang demikian besar?”
Ternyata check-up yang dilakukannya hanya memeriksa fungsi hati. Hasil pemeriksaan juga menunjukkan "normal”. Pemeriksaan fungsi hati adalah salah satu jenis pemeriksaan hati yang paling dikenal oleh masyarakat. Tetapi jenis ini pula yang paling disalah-pahami oleh masyarakat.
Pada umumnya orang beranggapan bahwa bila hasil indeks pemeriksaan fungsi hati menunjukkan angka normal berarti tidak ada masalah dengan hati. Tetapi pandangan ini mengakibatkan munculnya kisah-kisah sedih karena hilangnya kesempatan mendeteksi kanker sejak stadium awal.
Penyebab utama kerusakan hati adalah :
1. Tidur terlalu malam dan bangun terlalu siang
adalah penyebab paling utama.
2. Tidak buang air di pagi hari.
3. Pola makan yang terlalu berlebihan.
4. Tidak makan pagi.
5. Terlalu banyak mengkonsumsi obat-obatan.
6. Terlalu banyak mengkonsumsi bahan pengawet,
zat tambahan, zat pewarna, pemanis buatan.
7. Minyak goreng yang tidak sehat.
Sedapat mungkin kurangi penggunaan minyak goreng saat menggoreng makanan. Hal ini juga berlaku meski menggunakan minyak goreng terbaik sekalipun seperti olive oil. Jangan mengkonsumsi makanan yang digoreng bila kita dalam kondisi penat, kecuali dalam kondisi tubuh yang fit. Mengkonsumsi makanan atau sayuran mentah atau sangat matang juga menambah baban hati. Sayur yang digoreng harus dimakan habis saat itu juga, jangan disimpan.
Kita harus melakukan pencegahan tanpa mengeluarkan biaya tambahan. Cukup atur gaya hidup dan pola makanan sehari-hari. Perawatan dari pola makan dan pengaturan waktu sangat dlperlukan agar tubuh kita dapat melakukan penyerapan dan pembuangan zat-zat yang tidak berguna sesuai dengan ''jadwalnya" sebab:
Malam hari Pukul 09:00 - 11:00 :
Adalah pembuangan zat-zat tidak berguna / beracun (de-toxin) di bagian sistem antibodi (kelenjar getah bening). Selama durasi waktu ini seharusnya dilalui dengan suasana tenang atau mendengarkan musik. Bila saat itu seorang ibu rumah tangga masih dalam kondisi yang tidak santal seperti misalnya mencuci piring, atau mengawasi anak belajar, hal ini dapat berdampak negatif bagi kesehatan.
Malam hari Pukul 11:00 - Dini hari Pukul 01:00 :
Saat proses detoksinasi di bagian hati, harus berlangsung dalam kondisi tidur pulas.
Dini hari Pukul 01:00 - 03:00 :
Proses detoksinasi di bagian empedu, juga berlangsung dalam kondisi tidur.
Dini hari Pukul 03:00 - 05:00 :
Detoksinasi di bagian paru-paru. Sebab itu akan terjadi batuk yang hebat bagi penderita batuk selama durasi waktu ini. Karena proses pembersihan (detoksinasi) telah mencapai saluran pernafasan, maka tak perlu minum obat batuk agar supaya tidak merintangi proses pembuangan kotoran.
Pagi hari Pukul 05:00 - 07:00 :
Detoksinasi di bagian usus besar, anda harus buang air di kamar kecil.
Pagi hari Pukul 07:00 - 09:00 :
Waktu penyerapan gizi makanan bagi usus kecil, anda harus makan pagi. Bagi orang yang sakit sebaiknya makan lebih pagi, yaitu sebelum pukul 6:30. Makan pagi sebelum pukul 7:30 sangat baik bagi mereka yang ingin menjaga kesehatannya. Bagi mereka yang tidak makan pagi harap mengubah kebiasaan ini. Bahkan masih lebih baik terlambat makan pagi hingga pukul 9:00 - 10:00 daripada tidak makan sama sekali.
Tidur terlalu malam dan bangun terlalu siang akan mengacaukan proses pembuangan zat-zat tidak berguna. Selain itu, dari tengah malam hingga pukul 4 dini hari adalah waktu bagi sumsum tulang belakang untuk memproduksi darah. Sebab itu, tidurlah yang nyenyak dan jangan begadang.
Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com
Seorang Oma bercerita pada hari Jumat lalu bahwa keponakan laki-lakinya, usia sekitar 40 tahunan, sudah dipanggil Tuhan karena kanker hati. "Hal yang paling mengharukan," kata sang Oma, "keponakan saya itu yang sudah kena kanker hati masih memaksakan diri untuk mengajak isteri dan anak-anaknya berlibur ke Jepang, hanya untuk melihat salju." Dalam keadaan lemah, sang keponakan ingin memberikan kesan terakhir yang manis bagi keluarganya. Selain itu ia menyiapkan simpanan uang yang cukup agar anak-anaknya dapat bersekolah sampai ke Perguruan Tinggi. Ia memang orang yang sangat teliti, bekerja sebagai interior designer yang mendisain toko, kantor, atau showroom. Rupanya ia sering tidur larut malam untuk mendapatkan inspirasi atau ide bagi disainnya. Sayang, akibatnya fatal. Ia mati muda. Berikut ini saya tambahkan informasi mengenai kanker hati ini, yang merupakan tulisan Dr. Budi.
Jangan Tidur Terlalu Malam
Selama ini hampir semua orang sangat bergantung pada hasil indeks pemeriksaan fungsi hati (Liver Function Index : SGOT/SGPT). Mereka menganggap bila pemeriksaan menunjukkan hasil indeks yang normal berarti semua OK. Kesalah-pahaman semacam ini ternyata juga dilakukan oleh banyak dokter spesialis. Benar-benar mengejutkan, para dokter yang seharusnya memberikan pengetahuan yang benar pada masyarakat umum, ternyata memiliki pengetahuan yang tidak benar. Pencegahan kanker hati harus dilakukan dengan cara yang benar. Tidak ada jalan lain kecuali mendeteksi dan mengobatinya sedini mungkin, demikian kata dokter Hsu Chin Ch'uan (salah satu dokter di Taiwan). Tetapi ironisnya, ternyata dokter yang menangani kanker hati juga bisa memiliki pandangan yang salah, bahkan menyesatkan masyarakat. Inilah penyebab terbesar kenapa kanker hati sulit untuk disembuhkan.
Saat ini ada seorang pasien dokter Hsu yang mengeluh bahwa selama satu bulan terakhir sering mengalami sakit perut dan berat badannya turun sangat banyak. Setelah dilakukan pemeriksaan supersound baru diketemukan adanya kanker hati yang sangat besar, hampir 80% dari livernya (hati) sudah termakan habis. Pasien ini sangat terperanjat, ”Bagaimana mungkin? Tahun lalu baru melakukan medical check-up dan hasilnya semua normal. Bagaimana mungkin hanya dalam waktu satu tahun yang relatif singkat bisa tumbuh kanker hati yang demikian besar?”
Ternyata check-up yang dilakukannya hanya memeriksa fungsi hati. Hasil pemeriksaan juga menunjukkan "normal”. Pemeriksaan fungsi hati adalah salah satu jenis pemeriksaan hati yang paling dikenal oleh masyarakat. Tetapi jenis ini pula yang paling disalah-pahami oleh masyarakat.
Pada umumnya orang beranggapan bahwa bila hasil indeks pemeriksaan fungsi hati menunjukkan angka normal berarti tidak ada masalah dengan hati. Tetapi pandangan ini mengakibatkan munculnya kisah-kisah sedih karena hilangnya kesempatan mendeteksi kanker sejak stadium awal.
Penyebab utama kerusakan hati adalah :
1. Tidur terlalu malam dan bangun terlalu siang
adalah penyebab paling utama.
2. Tidak buang air di pagi hari.
3. Pola makan yang terlalu berlebihan.
4. Tidak makan pagi.
5. Terlalu banyak mengkonsumsi obat-obatan.
6. Terlalu banyak mengkonsumsi bahan pengawet,
zat tambahan, zat pewarna, pemanis buatan.
7. Minyak goreng yang tidak sehat.
Sedapat mungkin kurangi penggunaan minyak goreng saat menggoreng makanan. Hal ini juga berlaku meski menggunakan minyak goreng terbaik sekalipun seperti olive oil. Jangan mengkonsumsi makanan yang digoreng bila kita dalam kondisi penat, kecuali dalam kondisi tubuh yang fit. Mengkonsumsi makanan atau sayuran mentah atau sangat matang juga menambah baban hati. Sayur yang digoreng harus dimakan habis saat itu juga, jangan disimpan.
Kita harus melakukan pencegahan tanpa mengeluarkan biaya tambahan. Cukup atur gaya hidup dan pola makanan sehari-hari. Perawatan dari pola makan dan pengaturan waktu sangat dlperlukan agar tubuh kita dapat melakukan penyerapan dan pembuangan zat-zat yang tidak berguna sesuai dengan ''jadwalnya" sebab:
Malam hari Pukul 09:00 - 11:00 :
Adalah pembuangan zat-zat tidak berguna / beracun (de-toxin) di bagian sistem antibodi (kelenjar getah bening). Selama durasi waktu ini seharusnya dilalui dengan suasana tenang atau mendengarkan musik. Bila saat itu seorang ibu rumah tangga masih dalam kondisi yang tidak santal seperti misalnya mencuci piring, atau mengawasi anak belajar, hal ini dapat berdampak negatif bagi kesehatan.
Malam hari Pukul 11:00 - Dini hari Pukul 01:00 :
Saat proses detoksinasi di bagian hati, harus berlangsung dalam kondisi tidur pulas.
Dini hari Pukul 01:00 - 03:00 :
Proses detoksinasi di bagian empedu, juga berlangsung dalam kondisi tidur.
Dini hari Pukul 03:00 - 05:00 :
Detoksinasi di bagian paru-paru. Sebab itu akan terjadi batuk yang hebat bagi penderita batuk selama durasi waktu ini. Karena proses pembersihan (detoksinasi) telah mencapai saluran pernafasan, maka tak perlu minum obat batuk agar supaya tidak merintangi proses pembuangan kotoran.
Pagi hari Pukul 05:00 - 07:00 :
Detoksinasi di bagian usus besar, anda harus buang air di kamar kecil.
Pagi hari Pukul 07:00 - 09:00 :
Waktu penyerapan gizi makanan bagi usus kecil, anda harus makan pagi. Bagi orang yang sakit sebaiknya makan lebih pagi, yaitu sebelum pukul 6:30. Makan pagi sebelum pukul 7:30 sangat baik bagi mereka yang ingin menjaga kesehatannya. Bagi mereka yang tidak makan pagi harap mengubah kebiasaan ini. Bahkan masih lebih baik terlambat makan pagi hingga pukul 9:00 - 10:00 daripada tidak makan sama sekali.
Tidur terlalu malam dan bangun terlalu siang akan mengacaukan proses pembuangan zat-zat tidak berguna. Selain itu, dari tengah malam hingga pukul 4 dini hari adalah waktu bagi sumsum tulang belakang untuk memproduksi darah. Sebab itu, tidurlah yang nyenyak dan jangan begadang.
Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com
Wednesday, January 16, 2008
2008 - A New Beginning
We will enter gates with thanksgiving
And press on into the new.
For this is the year of new beginnings
Opening gates we will pass on through.
We embrace prophetic revelation
We claim deliverance, healing and joy.
As we open the gates in our lives
It's through worship new strategies employ.
We resist holding on to the old
For by grace we take hold of the new.
We embrace this new season of increase
Refreshed, fruitful and renewed.
Declare new witty inventions
Declare new revelations abound.
Declare new life and fruitfulness
Declare new levels of worship and sound.
Declare new times of refreshing
Declare new overcoming power.
Declare new and greater anointing
Declare new strength for the day and hour.
Declare new strategies for war
Declare new visions and dreams.
Declare new rest and restoration
Declare new living water and healing streams.
Declare! A Season of new beginnings!
© Bev Smith
Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com
And press on into the new.
For this is the year of new beginnings
Opening gates we will pass on through.
We embrace prophetic revelation
We claim deliverance, healing and joy.
As we open the gates in our lives
It's through worship new strategies employ.
We resist holding on to the old
For by grace we take hold of the new.
We embrace this new season of increase
Refreshed, fruitful and renewed.
Declare new witty inventions
Declare new revelations abound.
Declare new life and fruitfulness
Declare new levels of worship and sound.
Declare new times of refreshing
Declare new overcoming power.
Declare new and greater anointing
Declare new strength for the day and hour.
Declare new strategies for war
Declare new visions and dreams.
Declare new rest and restoration
Declare new living water and healing streams.
Declare! A Season of new beginnings!
© Bev Smith
Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com
Nafa Urbach : The Confession of An Artist
Sebelum saya memilih untuk bertobat dan percaya kepada Tuhan Yesus Kristus sebagai Juruselamat pribadi saya, banyak hal yang terjadi yang membangkitkan kesadaran saya akan kekecewaan yang pernah saya timbulkan di hati-Nya. Penyakit yang saya alami adalah salah satu cara yang Bapa gunakan untuk menyelamatkan saya dan mengembalikan saya ke dalam rangkulan kasih-Nya. Pertobatan yang saya alami sangat luar biasa, melalui penyakit yang saya alami saya berkenalan dengan seseorang yang sangat mempedulikan saya. Ia bukan hanya peduli tentang kehidupan saya di dunia, Ia terlebih peduli pada keselamatan saya di kehidupan berikutnya, kekekalan. Dia adalah seorang yang sangat baik. Dialah Yesus, Tuhan yang mampu menyembuhkan saya bahkan memberikan keselamatan kekal bagi saya. Dialah Juruselamat saya.
Layaknya ombak di laut, demikian pula pertobatan saya, mengalami pasang surut yang mengikuti apa yang dunia pernah tawarkan kepada saya. Pertobatan saya pada saat itu belum sepenuhnya, masih sangat dangkal. Kenikmatan yang ditawarkan dunia kembali menghiasi hari-hari kelam saya dan kembali membawa kekecewaan pada hati Bapa. Dunia gemerlap yang sarat dengan minuman keras, rokok, kembali menghiasi dan mewarnai keseharian yang seharusnya dipenuhi dengan pujian kepada Kristus Sang Penyembuh yang pernah menjamah saya. Duka kembali saya corengkan ke wajah-Nya.
Tepatnya pada tahun 2005 Tuhan tak bosan-bosannya memulihkan saya. Ia sekali lagi mengangkat saya dari lembah kelam dan menuntun saya pada jalan yang benar. Pada saat itu saya putuskan untuk mengikuti Tuhan dengan sungguh-sungguh dan tak ingin lagi terjebak dalam rayuan kenikmatan dunia. Allah tak pernah meninggalkan saya sendiri menata ulang kehidupan saya. Melalui Zack Lee dan keluarga saya melihat dan merasakan tangan kasih Yesus yang senantiasa merawat saya dan menjaga saya agar tak kembali tergelincir ke dalam lubang yang sama.
Dukungan yang mereka berikan dalam berbagai aspek, menjadi teman yang memampukan saya untuk menepati janji saya dalam mengikuti Allah sepenuhnya. Doa adalah faktor pendorong yang paling kuat. Melalui pengalaman pertobatannya, Zack Lee membimbing dan mengajarkan saya untuk lebih mengenal Tuhan Yesus. Apa yang dilakukannya telah menjadi jembatan bagi pengenalan saya yang lebih dalam akan kasih dan kuasa Yesus yang begitu dahsyat.
Komitmen saya diperkuat, kini kekristenan adalah gaya hidup saya, dan bukan hanya hiasan KTP semata. Ketika saya mengambil komitmen ini saya menyadari ada banyak hal yang siap menghadang saya di depan sana. Iman saya kepada Kristus harus tetap bertumbuh, dan harus membawa perubahan yang memberi dampak bagi saya secara pribadi maupun orang-orang yang ada di sekitar saya. Perspektif saya terhadap banyak hal harus berubah, tak ada lagi kebiasaan bergosip yang boleh menghiasi kata-kata saya. Belajar menjadi seperti Yesus, dan terus semakin disempurnakan agar menjadi seperti Dia adalah tujuan hidup saya.
Ketika saya mengambil keputusan untuk menyenangkan hati Bapa, ada hati lain yang tak menyukainya. Dunia keartisan dan pergaulan saya dulu tak menerima jalan yang saya tempuh kini. Tak pernah ada ungkapan bahwa mengikuti Kristus itu mudah. Teman-teman, sahabat mulai menjauh dan meninggalkan saya. Penolakan masyarakat, cemoohan, hingga dianggap rendah pun hadir mewarnai kehidupan baru saya. Tekanan demi tekanan saya terima, kesemuanya itu saya jadikan sebagai pendorong yang memampukan saya untuk terbang lebih tinggi bersama Kistus, dan berkat pun terus mengalir dari-Nya dalam kehidupan saya. Bukan sesuatu yang mudah untuk mundur dari dunia keartisan, tetapi inilah cara saya untuk membuktikan keseriusan dalam melayani Kristus. Kini saya melayani sebagai pemimpin pujian dan memberikan kesaksian di berbagai gereja.
Dari kesemuanya ini saya belajar bahwa ketika dunia menyangkal, Yesus menerima saya apa adanya tanpa memperhitungkan kekecewaan yang pernah saya corengkan di wajah-Nya. Semuanya membuktikan bahwa Ia ingin senantiasa memurnikan saya, dan proses inilah yang sedang saya jalani.
Memang tak pernah ada kata terlambat untuk mengikuti Kristus, tetapi jangan sampai kita tidak memiliki kesempatan untuk mengenal Dia, karena hari Tuhan semakin dekat. Tuhan Yesus lebih mementingkan pertumbuhan iman kita, dan bukan hanya sekedar percaya. Naiki terus anak tangga kedewasaan rohani, kejar terus apa yang harus kita kejar. Bagian kita adalah mengasihi Dia dengan melakukan seluruh kehendak-Nya, dan kita akan melihat berkat melimpah dari-Nya mengalir dalam kehidupan kita, inilah bagian-Nya. Dikutip dari Majalah "NewLife" terbitan CWS Jakarta Edisi 1/2006.
Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com
Layaknya ombak di laut, demikian pula pertobatan saya, mengalami pasang surut yang mengikuti apa yang dunia pernah tawarkan kepada saya. Pertobatan saya pada saat itu belum sepenuhnya, masih sangat dangkal. Kenikmatan yang ditawarkan dunia kembali menghiasi hari-hari kelam saya dan kembali membawa kekecewaan pada hati Bapa. Dunia gemerlap yang sarat dengan minuman keras, rokok, kembali menghiasi dan mewarnai keseharian yang seharusnya dipenuhi dengan pujian kepada Kristus Sang Penyembuh yang pernah menjamah saya. Duka kembali saya corengkan ke wajah-Nya.
Tepatnya pada tahun 2005 Tuhan tak bosan-bosannya memulihkan saya. Ia sekali lagi mengangkat saya dari lembah kelam dan menuntun saya pada jalan yang benar. Pada saat itu saya putuskan untuk mengikuti Tuhan dengan sungguh-sungguh dan tak ingin lagi terjebak dalam rayuan kenikmatan dunia. Allah tak pernah meninggalkan saya sendiri menata ulang kehidupan saya. Melalui Zack Lee dan keluarga saya melihat dan merasakan tangan kasih Yesus yang senantiasa merawat saya dan menjaga saya agar tak kembali tergelincir ke dalam lubang yang sama.
Dukungan yang mereka berikan dalam berbagai aspek, menjadi teman yang memampukan saya untuk menepati janji saya dalam mengikuti Allah sepenuhnya. Doa adalah faktor pendorong yang paling kuat. Melalui pengalaman pertobatannya, Zack Lee membimbing dan mengajarkan saya untuk lebih mengenal Tuhan Yesus. Apa yang dilakukannya telah menjadi jembatan bagi pengenalan saya yang lebih dalam akan kasih dan kuasa Yesus yang begitu dahsyat.
Komitmen saya diperkuat, kini kekristenan adalah gaya hidup saya, dan bukan hanya hiasan KTP semata. Ketika saya mengambil komitmen ini saya menyadari ada banyak hal yang siap menghadang saya di depan sana. Iman saya kepada Kristus harus tetap bertumbuh, dan harus membawa perubahan yang memberi dampak bagi saya secara pribadi maupun orang-orang yang ada di sekitar saya. Perspektif saya terhadap banyak hal harus berubah, tak ada lagi kebiasaan bergosip yang boleh menghiasi kata-kata saya. Belajar menjadi seperti Yesus, dan terus semakin disempurnakan agar menjadi seperti Dia adalah tujuan hidup saya.
Ketika saya mengambil keputusan untuk menyenangkan hati Bapa, ada hati lain yang tak menyukainya. Dunia keartisan dan pergaulan saya dulu tak menerima jalan yang saya tempuh kini. Tak pernah ada ungkapan bahwa mengikuti Kristus itu mudah. Teman-teman, sahabat mulai menjauh dan meninggalkan saya. Penolakan masyarakat, cemoohan, hingga dianggap rendah pun hadir mewarnai kehidupan baru saya. Tekanan demi tekanan saya terima, kesemuanya itu saya jadikan sebagai pendorong yang memampukan saya untuk terbang lebih tinggi bersama Kistus, dan berkat pun terus mengalir dari-Nya dalam kehidupan saya. Bukan sesuatu yang mudah untuk mundur dari dunia keartisan, tetapi inilah cara saya untuk membuktikan keseriusan dalam melayani Kristus. Kini saya melayani sebagai pemimpin pujian dan memberikan kesaksian di berbagai gereja.
Dari kesemuanya ini saya belajar bahwa ketika dunia menyangkal, Yesus menerima saya apa adanya tanpa memperhitungkan kekecewaan yang pernah saya corengkan di wajah-Nya. Semuanya membuktikan bahwa Ia ingin senantiasa memurnikan saya, dan proses inilah yang sedang saya jalani.
Memang tak pernah ada kata terlambat untuk mengikuti Kristus, tetapi jangan sampai kita tidak memiliki kesempatan untuk mengenal Dia, karena hari Tuhan semakin dekat. Tuhan Yesus lebih mementingkan pertumbuhan iman kita, dan bukan hanya sekedar percaya. Naiki terus anak tangga kedewasaan rohani, kejar terus apa yang harus kita kejar. Bagian kita adalah mengasihi Dia dengan melakukan seluruh kehendak-Nya, dan kita akan melihat berkat melimpah dari-Nya mengalir dalam kehidupan kita, inilah bagian-Nya. Dikutip dari Majalah "NewLife" terbitan CWS Jakarta Edisi 1/2006.
Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com
Tuesday, January 15, 2008
The Last Leaf
DAUN TERAKHIR
Di tahun 1967 New York adalah kota kumuh yang sangat memprihatinkan. Gedung-gedung tua berjejer. Apartemen yang sempit, tembok yang berjamur, dan orang-orang aneh menjadi ciri khas kota itu. Orang-orang aneh itu sebagian besar adalah para pelukis jalanan. Mereka mencari nafkah dengan melukis, baik itu melukis di kanvas maupun melukis di trotoar. Sebagai pelukis jalanan, mereka hanya mampu mencukupi makan tiap hari dan sewa apartemen yang murah.
Salah satu dari mereka adalah Marie. Dengan adiknya mereka berdua menyewa kamar yang sempit, yang sangat tidak layak untuk ditempati. Tempat tidur yang sudah busuk, dinding yang berjamur dan menyebarkan bau yang tidak enak, tapi apa boleh buat, uang yang mereka dapat tiap hari kadang untuk makan saja tidak cukup. Biarpun demikian, mereka pantang untuk melakukan sesuatu yang jelek atau melanggar hukum. Pernah ada yang menawari Marie dan adiknya, Joan, untuk memanfaatkan tubuh mereka demi uang, tapi mereka menolaknya mentah-mentah. Para pelukis di daerah itu memang memegang prinsip yang patut dibanggakan, mereka lebih memilih hidup miskin dan berkekurangan daripada berbuat sesuatu yang salah.
Para pelukis itu adalah orang Kristen. Setiap Minggu mereka selalu berkumpul untuk beribadah, meskipun tanpa Pendeta yang melayani, mereka memakai saat itu untuk saling bertukar cerita dan saling menguatkan. Jika ada yang kurang beruntung, mereka akan saling menopang dan saling berbagi.
Suatu saat, saat musim dingin menusuk kota New York, Joan jatuh sakit. Tubuhnya menjadi sangat lemah dan semakin parah. Untuk bangun dari tempat tidur saja dia tidak kuat. Dengan uang yang terkumpul dari para pelukis jalanan itu, Marie memanggil dokter, dan hasil pemeriksaan dokter sungguh mengejutkan. Joan menderita radang paru-paru, akibat dia selalu bekerja di luar menjual lukisan di trotoar, di tengah musim dingin, tanpa baju hangat yang layak. Untuk sembuh, Joan harus beristirahat total, makan yang cukup bergizi, dan yang terpenting adalah semangat hidup yang tinggi untuk melewati masa-masa kritis di tengah musim dingin. Ini menjadi masalah terbesar. Joan putus asa dan tidak mempunyai semangat hidup. Banyak teman datang untuk menguatkan dia, tapi percuma saja. Joan berpikir bahwa inilah akhir hidupnya. Dia tahu benar keadaannya. Dia tidak akan mendapatkan makanan yang bergizi, dia tidak akan mendapatkan kehangatan yang cukup untuk melewati musim dingin, dan tidak ada obat untuk membantu dia bertahan. Semakin hari dia semakin putus asa dan semakin lemah.
Marie sangat sedih akan hal ini.. Semua upaya sudah dilakukan untuk membesarkan hati Joan, tapi sia-sia. Joan tidak bergairah untuk makan, bahkan untuk berbicara dengan siapa pun. Dia hanya mengucapkan beberapa kata di pagi hari, yaitu ketika matahari terbit. Dia akan meminta Marie untuk membuka jendela kamar agar dapat melihat tanaman yang merambat di dinding tembok yang berhadapan dengan kamar mereka. Tanaman itu merupakan tanaman menjalar yang berdaun lebar, dan tanaman itu merupakan semangat hidup Joan satu-satunya. Setiap kali Marie membukajendela, Joan akan melihat tanaman itu dan sambil tersenyum lemah dia akan berkata, "Tanaman itu lucu sekali, dia tahu bahwa dia hanya tanaman kecil yang lemah, hanya dapat bergantung pada tembok yang kokoh itu. Tapi dia sombong sekali, mengira bahwa dengan bersandar pada tembok itu dia dapat melewati musim dingin yang ganas ini." Joan kemudian melanjutkan, "Suatu saat semua daunnya akan gugur dihantam angin musim dingin, saat itu, aku juga akan pergi bersama dia." Marie amat sedih jika mendengar Joan mengatakan ini.
Setiap pagi Joan selalu menghitung daun-daun itu. "Tujuh daun lagi," dan keesokan harinya, "Enam daun lagi", "Lima daun lagi", dan Joan semakin lemah dan lemah. Marie pun putus asa, tidak ada harapan sama sekali. Dia hanya dapat berdoa agar Joan tetap bertahan, dan setiap pagi dia akan membuka jendela dengan hati yang berdebar-debar, berharap masih ada daun di situ.
Suatu pagi, Marie tergoncang sekali ketika melihat hanya ada satu daun yang tersisa melekat di tembok itu. Joan tersenyum lemah, "Waktunya sudah dekat, malam ini angin dingin akan mengantar kami." Marie semakin pasrah, malam itu dia tidak tidur, seiring dengan terjadinya badai dia berdoa dan menangis. Angin mengguncang jendela-jendela dengan dahsyat. Marie tetap berlutut sambil berdoa dan menangis. Ia meminta suatu keajaiban, sesuatu yang dapat menahan kepergian Joan, karena dia amat mencintai adik satu-satunya ini. Akankah Joan pergi dan bergabung dengan segenap keluarga yang telah mendahului mereka? Ayah, Ibu dan adik-adiknya meninggal ketika terjadi kebakaran. Api menelan semua harta mereka. Setelah mereka bertahan hidup sekian tahun, akankah Joan meninggalkan dia juga?
Keesokan pagi adalah pagi yang menentukan. Dengan lemah Joan membuka mata dan meminta Marie membuka jendela agar dia dapat melihat tanaman itu. Dengan gemetar Marie membuka jendela, dan... ajaib! Daun itu masih melekat pada tembok. Mustahil! Padahal, semalam terjadi badai yang dahsyat, tetapi di pagi hari ini daun itu masih melekat pada tembok seakan-akan tidak terjadi apa-apa semalam. Joan tersenyum lagi dan berkata, "Aku masih mempunyai satu hari lagi!" Marie sangat senang, tapi dia tetap khawatir. Kemarin daun itu dapat bertahan, tapi hari.ini atau besok pasti diaakan gugur juga. Marie benar-benar sudah pasrah, dia cuma bersyukur bahwa dia masih boleh bersama Joan pada hari ini.
Besoknya, kembali dengan tangan gemetar Marie membuka jendela, dan... daun itu masih tetap di sana! Marie tidak dapat memercayai hal ini, tapi dia amat senang. Dia mengucap syukur dengan tidak henti-hentinya. Beberapa hari setelah itu, daun itu masih tetap bertahan. Pada hari berikutnya, Joan tersenyum dan berkata kepada Marie, "Daun itu menyadarkan aku. Kalau dia bisa sekuat itu, aku juga bisa. Tolong buatkan bubur, aku amat lapar."
Marie sangat gembira. Joan sudah mau makan dan semangat hidupnya tumbuh kembali. Hari demi hari Marie merawat Joan dan tiga minggu kemudian, Joan sudah berangsur-angsur pulih. Pada hari Minggu berikutnya, para pelukis berkumpul untuk kebaktian. Joan amat senang dapat berkumpul kembali dengan sahabat-sahabatnya itu. Tapi tiba-tiba dia merasa ada yang tidak hadir. "Adakah yang dapat mengatakan padaku di mana si tua Paul? Sewaktu aku terbaring sakit, dia sering datang membawakan kue kismis dan menghiburku. Waktu itu aku terlalu sakit untuk mempedulikannya, apakah ia kecewa dan oleh karena itu tidak pemah mengunjungiku lagi? Aku ingin minta maaf dan mengucapkan terima kasih padanya." Mendadak semuanya terdiam, dengan suara perlahan Marie menjawab, "Joan, bulan lalu pada pagi hari sesudah badai itu si tua Paul ditemukan meninggal di kamarnya. Ia meninggal kedinginan, di tangannya ia menggenggam sebuah kuas dan kaleng cat. Daun yang terakhir itu, merupakan karya terakhirnya. . . " (Dikutip dari "KORAN LANSIA" yang diterbitkan GKI Muara Karang, No. 47/Desember 2007)
Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com
Di tahun 1967 New York adalah kota kumuh yang sangat memprihatinkan. Gedung-gedung tua berjejer. Apartemen yang sempit, tembok yang berjamur, dan orang-orang aneh menjadi ciri khas kota itu. Orang-orang aneh itu sebagian besar adalah para pelukis jalanan. Mereka mencari nafkah dengan melukis, baik itu melukis di kanvas maupun melukis di trotoar. Sebagai pelukis jalanan, mereka hanya mampu mencukupi makan tiap hari dan sewa apartemen yang murah.
Salah satu dari mereka adalah Marie. Dengan adiknya mereka berdua menyewa kamar yang sempit, yang sangat tidak layak untuk ditempati. Tempat tidur yang sudah busuk, dinding yang berjamur dan menyebarkan bau yang tidak enak, tapi apa boleh buat, uang yang mereka dapat tiap hari kadang untuk makan saja tidak cukup. Biarpun demikian, mereka pantang untuk melakukan sesuatu yang jelek atau melanggar hukum. Pernah ada yang menawari Marie dan adiknya, Joan, untuk memanfaatkan tubuh mereka demi uang, tapi mereka menolaknya mentah-mentah. Para pelukis di daerah itu memang memegang prinsip yang patut dibanggakan, mereka lebih memilih hidup miskin dan berkekurangan daripada berbuat sesuatu yang salah.
Para pelukis itu adalah orang Kristen. Setiap Minggu mereka selalu berkumpul untuk beribadah, meskipun tanpa Pendeta yang melayani, mereka memakai saat itu untuk saling bertukar cerita dan saling menguatkan. Jika ada yang kurang beruntung, mereka akan saling menopang dan saling berbagi.
Suatu saat, saat musim dingin menusuk kota New York, Joan jatuh sakit. Tubuhnya menjadi sangat lemah dan semakin parah. Untuk bangun dari tempat tidur saja dia tidak kuat. Dengan uang yang terkumpul dari para pelukis jalanan itu, Marie memanggil dokter, dan hasil pemeriksaan dokter sungguh mengejutkan. Joan menderita radang paru-paru, akibat dia selalu bekerja di luar menjual lukisan di trotoar, di tengah musim dingin, tanpa baju hangat yang layak. Untuk sembuh, Joan harus beristirahat total, makan yang cukup bergizi, dan yang terpenting adalah semangat hidup yang tinggi untuk melewati masa-masa kritis di tengah musim dingin. Ini menjadi masalah terbesar. Joan putus asa dan tidak mempunyai semangat hidup. Banyak teman datang untuk menguatkan dia, tapi percuma saja. Joan berpikir bahwa inilah akhir hidupnya. Dia tahu benar keadaannya. Dia tidak akan mendapatkan makanan yang bergizi, dia tidak akan mendapatkan kehangatan yang cukup untuk melewati musim dingin, dan tidak ada obat untuk membantu dia bertahan. Semakin hari dia semakin putus asa dan semakin lemah.
Marie sangat sedih akan hal ini.. Semua upaya sudah dilakukan untuk membesarkan hati Joan, tapi sia-sia. Joan tidak bergairah untuk makan, bahkan untuk berbicara dengan siapa pun. Dia hanya mengucapkan beberapa kata di pagi hari, yaitu ketika matahari terbit. Dia akan meminta Marie untuk membuka jendela kamar agar dapat melihat tanaman yang merambat di dinding tembok yang berhadapan dengan kamar mereka. Tanaman itu merupakan tanaman menjalar yang berdaun lebar, dan tanaman itu merupakan semangat hidup Joan satu-satunya. Setiap kali Marie membukajendela, Joan akan melihat tanaman itu dan sambil tersenyum lemah dia akan berkata, "Tanaman itu lucu sekali, dia tahu bahwa dia hanya tanaman kecil yang lemah, hanya dapat bergantung pada tembok yang kokoh itu. Tapi dia sombong sekali, mengira bahwa dengan bersandar pada tembok itu dia dapat melewati musim dingin yang ganas ini." Joan kemudian melanjutkan, "Suatu saat semua daunnya akan gugur dihantam angin musim dingin, saat itu, aku juga akan pergi bersama dia." Marie amat sedih jika mendengar Joan mengatakan ini.
Setiap pagi Joan selalu menghitung daun-daun itu. "Tujuh daun lagi," dan keesokan harinya, "Enam daun lagi", "Lima daun lagi", dan Joan semakin lemah dan lemah. Marie pun putus asa, tidak ada harapan sama sekali. Dia hanya dapat berdoa agar Joan tetap bertahan, dan setiap pagi dia akan membuka jendela dengan hati yang berdebar-debar, berharap masih ada daun di situ.
Suatu pagi, Marie tergoncang sekali ketika melihat hanya ada satu daun yang tersisa melekat di tembok itu. Joan tersenyum lemah, "Waktunya sudah dekat, malam ini angin dingin akan mengantar kami." Marie semakin pasrah, malam itu dia tidak tidur, seiring dengan terjadinya badai dia berdoa dan menangis. Angin mengguncang jendela-jendela dengan dahsyat. Marie tetap berlutut sambil berdoa dan menangis. Ia meminta suatu keajaiban, sesuatu yang dapat menahan kepergian Joan, karena dia amat mencintai adik satu-satunya ini. Akankah Joan pergi dan bergabung dengan segenap keluarga yang telah mendahului mereka? Ayah, Ibu dan adik-adiknya meninggal ketika terjadi kebakaran. Api menelan semua harta mereka. Setelah mereka bertahan hidup sekian tahun, akankah Joan meninggalkan dia juga?
Keesokan pagi adalah pagi yang menentukan. Dengan lemah Joan membuka mata dan meminta Marie membuka jendela agar dia dapat melihat tanaman itu. Dengan gemetar Marie membuka jendela, dan... ajaib! Daun itu masih melekat pada tembok. Mustahil! Padahal, semalam terjadi badai yang dahsyat, tetapi di pagi hari ini daun itu masih melekat pada tembok seakan-akan tidak terjadi apa-apa semalam. Joan tersenyum lagi dan berkata, "Aku masih mempunyai satu hari lagi!" Marie sangat senang, tapi dia tetap khawatir. Kemarin daun itu dapat bertahan, tapi hari.ini atau besok pasti diaakan gugur juga. Marie benar-benar sudah pasrah, dia cuma bersyukur bahwa dia masih boleh bersama Joan pada hari ini.
Besoknya, kembali dengan tangan gemetar Marie membuka jendela, dan... daun itu masih tetap di sana! Marie tidak dapat memercayai hal ini, tapi dia amat senang. Dia mengucap syukur dengan tidak henti-hentinya. Beberapa hari setelah itu, daun itu masih tetap bertahan. Pada hari berikutnya, Joan tersenyum dan berkata kepada Marie, "Daun itu menyadarkan aku. Kalau dia bisa sekuat itu, aku juga bisa. Tolong buatkan bubur, aku amat lapar."
Marie sangat gembira. Joan sudah mau makan dan semangat hidupnya tumbuh kembali. Hari demi hari Marie merawat Joan dan tiga minggu kemudian, Joan sudah berangsur-angsur pulih. Pada hari Minggu berikutnya, para pelukis berkumpul untuk kebaktian. Joan amat senang dapat berkumpul kembali dengan sahabat-sahabatnya itu. Tapi tiba-tiba dia merasa ada yang tidak hadir. "Adakah yang dapat mengatakan padaku di mana si tua Paul? Sewaktu aku terbaring sakit, dia sering datang membawakan kue kismis dan menghiburku. Waktu itu aku terlalu sakit untuk mempedulikannya, apakah ia kecewa dan oleh karena itu tidak pemah mengunjungiku lagi? Aku ingin minta maaf dan mengucapkan terima kasih padanya." Mendadak semuanya terdiam, dengan suara perlahan Marie menjawab, "Joan, bulan lalu pada pagi hari sesudah badai itu si tua Paul ditemukan meninggal di kamarnya. Ia meninggal kedinginan, di tangannya ia menggenggam sebuah kuas dan kaleng cat. Daun yang terakhir itu, merupakan karya terakhirnya. . . " (Dikutip dari "KORAN LANSIA" yang diterbitkan GKI Muara Karang, No. 47/Desember 2007)
Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com
Monday, January 14, 2008
Angels on Assignment (2)
KUNJUNGAN MALAIKAT (2)
Masih ingatkah anda ketika Rahab menyelamatkan dua orang pengintai yang memasuki Yerikho? Dengan ilham Allah kedua pengintai itu mengatakan, "Rahab, kumpulkan seluruh keluargamu dalam rumah ini, mereka sekalian akan selamat." Allah bekerja melalui satu orang di rumah itu yang ada hubungan dengan Dia. Rahab membawa seluruh anggota keluarganya ke sana dan mereka semua selamat, karena Allah menyayangi segenap keluarga itu!
Rencana Allah mencakup seluruh keluarga. Semua ikatan rumah tangga dan keluarga adalah kekal, dan saudara akan memperoleh sukacita yang belum pernah saudara bayangkan ketika masuk dalam sorga. Berkali kali malaikat Gabriel berkata kepada saya tentang pentingnya keluarga bagi Allah, dan bahwa kita dapat mempercayai-Nya, meskipun kita tidak memahami hubungan keluarga di sorga. "Betapa tidak terpahami keputusan-keputusan dan cara-cara-Nya." (Roma 11:a.3... FAYH).
Iblis, musuh itu, ingin merusakkan rencana Allah dan menggunakan segala senjata-senjata untuk menyerang rumah tangga. Iblis menyebabkan suami kehilangan rasa kasih terhadap isterinya; menimbulkan kegelisahan; menyebabkan keadaan menjadi berantakan; menyebabkan anak anak dan orang tua saling membenci. Tetapi Allah berfirman bahwa Iblis tidak akan berhasil.
Salah satu hal yang paling mengesankan, yang diberitahukan malaikat kepada saya ialah, bahwa Allah selalu mempunyai rencana yang mendukung usaha-Nya. Allah mengatakan bahwa pekerjaan-Nya akan terlaksana, meskipun Dia harus memanggil seorang lain untuk melakukan-Nya - atau Dia akan melakukannya sendiri.
Hal ini diuraikan dengan indah sekali dalam kisah Ester, ketika Mordekhai mengunjunginya dan dengan ilham Allah mengatakan bahwa Allah menempatkannya di istana raja pada saat yang tepat untuk melaksanakan suatu tugas. Ester dapat memilih untuk melaksanakannya jika ia mau dan benar-benar diberkati Allah, tetapi ia bisa saja merasa yakin bahwa rencana kelepasan Allah tidak akan gagal seandainya ia memutuskan untuk tidak melakukan bagiannya (Ester 4:14). Rencana Allah akan tetap berjalan dan jika perlu Dia akan mendatangkan keselamatan dari sumber lain. Dia tidak akan gagal!
Allah memberitahukan kepada saya bahwa kejadian-kejadian yang telah diputuskan-Nya itu PASTI TERJADI! Apabila Dia berfirman, suatu kekuatan yang tak dapat diubah mulai bergerak dan tidak ada yang dapat menghentikannya. ITU HARUS JADI! Orang-orang yang telah diikut-sertakan dalam rencana-Nya yang sedang dinyatakan itu, mereka itu tidak terus-menerus terikat pada rencana itu kalau mereka tidak menghendakinya. Kejadian itu telah ditentukan lebih dahulu oleh Allah, tetapi orang-orangnya tidak. Ia berfirman, "Jika kamu mau bekerja sama dengan-Ku, maka kamu akan memperoleh kebahagiaan dan kesenangan. Aku telah MENETAPKAN KAMU LEBIH DAHULU menjadi teman sekerja-Ku dalam karya agung yang sedang Kulaksanakan ini, tetapi Aku tidak akan memaksamu melakukannya." Allah sedang bekerja! Iblis, musuh kita, sedang bekerja! Kedua kekuatan ini saling bertentangan, tetapi Allah telah berfirman bahwa Dialah yang menang.
Kemudian malaikat itu berkata, "Sekarang ini saya sedang memimpin sepasukan besar malaikat untuk melapangkan jalannya, mencerai-beraikan musuh, menyingkirkan halangan dan rintangan supaya manusia bisa mengetahui bahwa hati Allah penuh kasih terhadap mereka."
Malaikat itu menyampaikan banyak kebenaran yang indah dan pada kunjungan khusus ini ketika dia berbicara pada saya, saya menyadari bahwa malaikat inilah yang datang kepada Zakharia dengan berita yang sama, "Doamu telah dikabulkan!" {Lukas 1:131) Berita yang disampaikan Allah kepada saya melalui malaikat-Nya ini memberi sedikit gambaran dari hati Allah dan apa yang dilakukan-Nya sekarang. Malaikat itu mengatakan bahwa Allah ingin memulihkan rumah tangga menjadi kesatuan yang menyenangkan-Nya dan yang dapat diberkati-Nya. Malaikat Gabriel mengatakan bahwa Allah ingin memulihkan komunikasi antara anak-anak dengan orang tua mereka dan mematahkan rintangan kebencian, sehingga mereka dapat akrab dan mempunyai hubungan keluarga yang indah.
Allah menunjukkan perhatian-Nya yang besar terhadap keluarga dengan membentuk keluarga sebelum Dia menjadikan Jemaat. Dia menginginkan agar kesatuan yang indah dan pengenalan akan diri-Nya juga terdapat dalam rumah tangga, dan bukan di dalam gereja saja seperti yang dipikirkan beberapa orang.
Dia berfirman, "Aku ingin para ayah merasakan persoalan-persoalan keluarganya. Aku ingin anak-anak mengetahui bahwa apabila musuh menyerang, mereka dapat menemukan lengan yang kuat sebagai tempat bersandar di rumah. Aku ingin hati para ibu terbuka dan penuh perhatian terhadap anak-anaknya." Saya memang mengetahui bahwa Allah menaruh perhatian terhadap keluarga, tetapi ketika malaikat itu memberitahukannya, maka hal itu menjadi lebih nyata.
Malaikat itu mengatakan bahwa tujuan Allah, keinginan-Nya dan salah satu hal yang ingin dilaksanakan dalam semua pekerjaan-Nya ialah menjangkau anak-anak yang memberontak. Dia ingin memalingkan hati para ayah dan ibu kepada anak-anak mereka. Allah berfirman, "Aku ingin menjangkau anak-anak yang suka melawan, yang tidak patuh, dan memimpinnya sehingga mengetahui betapa sempurnanya pengampunan-Ku. Aku ingin agar mereka mengetahui bahwa apabila mereka menaati-Ku, dalam catatan sorga tentang hidup mereka tidak akan terdapat satu kesalahan dari masa lalu mereka. Apabila Aku mengampuni mereka, Aku melupakan kesalahan yang telah Kuampuni!"
Note : FAYH = Terjemahan Alkitab versi "Firman Allah Yang Hidup"
Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com
Masih ingatkah anda ketika Rahab menyelamatkan dua orang pengintai yang memasuki Yerikho? Dengan ilham Allah kedua pengintai itu mengatakan, "Rahab, kumpulkan seluruh keluargamu dalam rumah ini, mereka sekalian akan selamat." Allah bekerja melalui satu orang di rumah itu yang ada hubungan dengan Dia. Rahab membawa seluruh anggota keluarganya ke sana dan mereka semua selamat, karena Allah menyayangi segenap keluarga itu!
Rencana Allah mencakup seluruh keluarga. Semua ikatan rumah tangga dan keluarga adalah kekal, dan saudara akan memperoleh sukacita yang belum pernah saudara bayangkan ketika masuk dalam sorga. Berkali kali malaikat Gabriel berkata kepada saya tentang pentingnya keluarga bagi Allah, dan bahwa kita dapat mempercayai-Nya, meskipun kita tidak memahami hubungan keluarga di sorga. "Betapa tidak terpahami keputusan-keputusan dan cara-cara-Nya." (Roma 11:a.3... FAYH).
Iblis, musuh itu, ingin merusakkan rencana Allah dan menggunakan segala senjata-senjata untuk menyerang rumah tangga. Iblis menyebabkan suami kehilangan rasa kasih terhadap isterinya; menimbulkan kegelisahan; menyebabkan keadaan menjadi berantakan; menyebabkan anak anak dan orang tua saling membenci. Tetapi Allah berfirman bahwa Iblis tidak akan berhasil.
Salah satu hal yang paling mengesankan, yang diberitahukan malaikat kepada saya ialah, bahwa Allah selalu mempunyai rencana yang mendukung usaha-Nya. Allah mengatakan bahwa pekerjaan-Nya akan terlaksana, meskipun Dia harus memanggil seorang lain untuk melakukan-Nya - atau Dia akan melakukannya sendiri.
Hal ini diuraikan dengan indah sekali dalam kisah Ester, ketika Mordekhai mengunjunginya dan dengan ilham Allah mengatakan bahwa Allah menempatkannya di istana raja pada saat yang tepat untuk melaksanakan suatu tugas. Ester dapat memilih untuk melaksanakannya jika ia mau dan benar-benar diberkati Allah, tetapi ia bisa saja merasa yakin bahwa rencana kelepasan Allah tidak akan gagal seandainya ia memutuskan untuk tidak melakukan bagiannya (Ester 4:14). Rencana Allah akan tetap berjalan dan jika perlu Dia akan mendatangkan keselamatan dari sumber lain. Dia tidak akan gagal!
Allah memberitahukan kepada saya bahwa kejadian-kejadian yang telah diputuskan-Nya itu PASTI TERJADI! Apabila Dia berfirman, suatu kekuatan yang tak dapat diubah mulai bergerak dan tidak ada yang dapat menghentikannya. ITU HARUS JADI! Orang-orang yang telah diikut-sertakan dalam rencana-Nya yang sedang dinyatakan itu, mereka itu tidak terus-menerus terikat pada rencana itu kalau mereka tidak menghendakinya. Kejadian itu telah ditentukan lebih dahulu oleh Allah, tetapi orang-orangnya tidak. Ia berfirman, "Jika kamu mau bekerja sama dengan-Ku, maka kamu akan memperoleh kebahagiaan dan kesenangan. Aku telah MENETAPKAN KAMU LEBIH DAHULU menjadi teman sekerja-Ku dalam karya agung yang sedang Kulaksanakan ini, tetapi Aku tidak akan memaksamu melakukannya." Allah sedang bekerja! Iblis, musuh kita, sedang bekerja! Kedua kekuatan ini saling bertentangan, tetapi Allah telah berfirman bahwa Dialah yang menang.
Kemudian malaikat itu berkata, "Sekarang ini saya sedang memimpin sepasukan besar malaikat untuk melapangkan jalannya, mencerai-beraikan musuh, menyingkirkan halangan dan rintangan supaya manusia bisa mengetahui bahwa hati Allah penuh kasih terhadap mereka."
Malaikat itu menyampaikan banyak kebenaran yang indah dan pada kunjungan khusus ini ketika dia berbicara pada saya, saya menyadari bahwa malaikat inilah yang datang kepada Zakharia dengan berita yang sama, "Doamu telah dikabulkan!" {Lukas 1:131) Berita yang disampaikan Allah kepada saya melalui malaikat-Nya ini memberi sedikit gambaran dari hati Allah dan apa yang dilakukan-Nya sekarang. Malaikat itu mengatakan bahwa Allah ingin memulihkan rumah tangga menjadi kesatuan yang menyenangkan-Nya dan yang dapat diberkati-Nya. Malaikat Gabriel mengatakan bahwa Allah ingin memulihkan komunikasi antara anak-anak dengan orang tua mereka dan mematahkan rintangan kebencian, sehingga mereka dapat akrab dan mempunyai hubungan keluarga yang indah.
Allah menunjukkan perhatian-Nya yang besar terhadap keluarga dengan membentuk keluarga sebelum Dia menjadikan Jemaat. Dia menginginkan agar kesatuan yang indah dan pengenalan akan diri-Nya juga terdapat dalam rumah tangga, dan bukan di dalam gereja saja seperti yang dipikirkan beberapa orang.
Dia berfirman, "Aku ingin para ayah merasakan persoalan-persoalan keluarganya. Aku ingin anak-anak mengetahui bahwa apabila musuh menyerang, mereka dapat menemukan lengan yang kuat sebagai tempat bersandar di rumah. Aku ingin hati para ibu terbuka dan penuh perhatian terhadap anak-anaknya." Saya memang mengetahui bahwa Allah menaruh perhatian terhadap keluarga, tetapi ketika malaikat itu memberitahukannya, maka hal itu menjadi lebih nyata.
Malaikat itu mengatakan bahwa tujuan Allah, keinginan-Nya dan salah satu hal yang ingin dilaksanakan dalam semua pekerjaan-Nya ialah menjangkau anak-anak yang memberontak. Dia ingin memalingkan hati para ayah dan ibu kepada anak-anak mereka. Allah berfirman, "Aku ingin menjangkau anak-anak yang suka melawan, yang tidak patuh, dan memimpinnya sehingga mengetahui betapa sempurnanya pengampunan-Ku. Aku ingin agar mereka mengetahui bahwa apabila mereka menaati-Ku, dalam catatan sorga tentang hidup mereka tidak akan terdapat satu kesalahan dari masa lalu mereka. Apabila Aku mengampuni mereka, Aku melupakan kesalahan yang telah Kuampuni!"
Note : FAYH = Terjemahan Alkitab versi "Firman Allah Yang Hidup"
Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com
Friday, January 11, 2008
Angels On Assignment (1)
KUNJUNGAN MALAIKAT (1)
Catatan:
Hari Minggu yang lalu saya dipinjami sebuah buku berjudul "Kunjungan Utusan Sorgawi" yang ditulis oleh Charles dan Frances Hunter mengenai pengalaman luar biasa seorang Pendeta Roland Buck dari Boise, Idaho, USA, yang telah dikunjungi malaikat sebanyak lebih dari 16 kali. Buku itu diterbitkan pada tahun 1979, namun isinya saya perlu bagikan karena Bapa Sorgawi menggerakkan saya membagikan kesaksian yang luar biasa ini.
Kesaksian Roland Buck:
Pada malam tanggal 18 Juni 1978, saya tidur pada jam yang biasa tanpa mempunyai firasat bahwa akan terjadi sesuatu yang akan mengubah seluruh hidup saya. Kira-kira jam tiga pagi saya tiba-tiba dibangunkan, ketika seseorang memegang lengan saya dan mendudukkan saya di tempat tidur. Kamar kami gelap karena gorden tertutup, tetapi karena ada cukup penerangan dari luar dengan samar-samar saya dapat melihat bentuk seseorang yang tinggi besar.
Tentu saja saya takut, karena dia begitu kuat, sehingga saya tidak bisa melepaskan diri dari pegangannya. Namun demikian, ketakutan itu tidak lama karena dengan cepat saya menyadari adanya kehadiran makhluk sorgawi. Segera saya menyadari bahwa makhluk sorgawi ini adalah seorang malaikat Allah. Dia menguatkan hal ini, melepaskan bahu saya dan mengatakan bahwa saya tidak usah takut. Kemudian dia mengatakan bahwa Allah mengutusnya karena doa-doa umat Allah sudah didengar, dan dia harus menyampaikan pesan bahwa doa mereka tidak saja didengar tetapi juga dijawab. Haleluya!
Saya tidak bermimpi, itu bukan suatu penglihatan, itu sesuatu yang sungguh-sungguh nyata! Ketika kami melanjutkan percakapan kami, dia berbicara sedemikian kerasnya, sehingga saya merasa isteri saya yang tidur di samping saya akan terbangun. Padahal tidak, meskipun saya berharap isteri saya akan terbangun.
Anjing kami, Queenie, kadang-kadang bila kesepian, akan masuk kamar kami dan tidur di samping tempat tidur. Pada malam itu dia berada di situ dan menaruh perhatian terhadap semua perkataan malaikat itu. Anjing itu berada tepat di samping saya dan saya dapat merasakan kepalanya menyentuh kaki saya ketika bergerak kesana ke mari mengikuti percakapan malaikat ini dan saya. Suatu kunjungan yang luar biasa!
Kedengarannya sangat aneh, dan saya dapat membayangkan bahwa beberapa orang akan meragukan kehenaran perkataan saya. Itu tidak penting; yang penting ialah berita Allah, dan Dia ingin saya menyampaikannya kepada dunia!
Percakapan yang unik ini berlangsung selama dua jam. Malaikat itu menyampaikan kebenaran-kebenaran indah dari Alkitab kepada saya. Dia membicarakan rencana Allah yang terbentang bagi seluruh dunia dan menyadarkan saya tentang perhatian Allah terhadap umat manusia. Kasih-Nya kepada manusia itu demikian besarnya sehingga Dia lebih banyak memperhatikan mereka daripada cara yang digunakannya! DIA MENGASIHI MANUSIA!
Malaikat itu memberi bermacam-macam segi dari satu tema pokok yang ditekankan oleh Tuhan kepada saya. Pada mulanya saya tidak mengetahui bagaimana menyampaikan berita ini, hingga pada suatu malam, tiga minggu kemudian, malaikat itu kembali serta menyampaikan lebih banyak kebenaran yang indah dari Allah mengenai hal-hal yang sama. Saya ingin melihat bagaimana rupanya, tetapi sekali lagi saya hanya dapat melihat garis bentuk makhluk surgawi ini dalam kegelapan kamar tidur kami.
Keesokan harinya setelah kunjungan kedua ini, isteri saya bertanya apakah kami mendapat kunjungan lagi pada malam itu, karena meskipun dia tidak mendengar apa-apa, dia merasakan kehangatan kehadiran Allah yang memenuhi kamar itu.
Hal ini sangat mengagumkan, bahwa Allah mengirim utusan-utusan khusus ini dengan berita dari sorga, sehingga saya merasa tanggung jawab yang besar sekali untuk menyampaikannya. Kita sedang hidup dalam zaman yang indah, di mana terjadi kebangunan rohani di seluruh dunia. Bersama-sama dengan gerakan Roh Kudus yang besar, terdapat juga serangan-serangan Iblis yang dilancarkan kembali terhadap pekerjaan Allah.
Pada zaman kita ini sebuah babak baru yang indah sedang dibentangkan. Allah menyatakan perhatian-Nya terhadap keluarga-keluarga di dunia. Dia memberitahukan kepada mereka bahwa rencana keselamatan-Nya, suatu prinsip yang telah mulai dilaksanakan-Nya selama bertahun-tahun, bukan sekedar rencana untuk seseorang saja. Dia menyediakan tempat bagi seluruh keluarga, tetapi masing-masing anggota harus dilahirkan kembali.
Saya berpikir, "Itu suatu teologi yang aneh! Kedengarannya tidak benar." Namun saya menemukan bahwa Allah sendirilah yang memulainya. Prinsip ini terdapat dalam rencana-Nya yang indah itu, yang diberikan kepada Musa bagi pembangunan kemah sembahyang.
Malaikat itu memperingatkan saya akan kenyataan bahwa Allah menginginkan nama setiap kepala keluarga serta seluruh anggota keluarganya tercantum dalam pintu gerbang kemah sembahyang itu. Alas perak, yang menopang tirai kemah suci dibuat dari uang syikal penebusan mereka. Persembahan setengah syikal perak ini diminta dari setiap orang sebagai uang tebusan jiwanya di hadapan Tuhan. Rencana penebusan bagi seluruh keluarga itu demikian pentingnya bagi Allah, sehingga Dia meminta setiap keluarga memberikan persembahan setengah syikal perak setiap tahunnya sebagai peringatan, supaya mereka tidak akan melupakannya. Hal ini dibicarakan dalam Keluaran 30:12-16 dan Keluaran 38:25-28. (Bersambung)
Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com
Catatan:
Hari Minggu yang lalu saya dipinjami sebuah buku berjudul "Kunjungan Utusan Sorgawi" yang ditulis oleh Charles dan Frances Hunter mengenai pengalaman luar biasa seorang Pendeta Roland Buck dari Boise, Idaho, USA, yang telah dikunjungi malaikat sebanyak lebih dari 16 kali. Buku itu diterbitkan pada tahun 1979, namun isinya saya perlu bagikan karena Bapa Sorgawi menggerakkan saya membagikan kesaksian yang luar biasa ini.
Kesaksian Roland Buck:
Pada malam tanggal 18 Juni 1978, saya tidur pada jam yang biasa tanpa mempunyai firasat bahwa akan terjadi sesuatu yang akan mengubah seluruh hidup saya. Kira-kira jam tiga pagi saya tiba-tiba dibangunkan, ketika seseorang memegang lengan saya dan mendudukkan saya di tempat tidur. Kamar kami gelap karena gorden tertutup, tetapi karena ada cukup penerangan dari luar dengan samar-samar saya dapat melihat bentuk seseorang yang tinggi besar.
Tentu saja saya takut, karena dia begitu kuat, sehingga saya tidak bisa melepaskan diri dari pegangannya. Namun demikian, ketakutan itu tidak lama karena dengan cepat saya menyadari adanya kehadiran makhluk sorgawi. Segera saya menyadari bahwa makhluk sorgawi ini adalah seorang malaikat Allah. Dia menguatkan hal ini, melepaskan bahu saya dan mengatakan bahwa saya tidak usah takut. Kemudian dia mengatakan bahwa Allah mengutusnya karena doa-doa umat Allah sudah didengar, dan dia harus menyampaikan pesan bahwa doa mereka tidak saja didengar tetapi juga dijawab. Haleluya!
Saya tidak bermimpi, itu bukan suatu penglihatan, itu sesuatu yang sungguh-sungguh nyata! Ketika kami melanjutkan percakapan kami, dia berbicara sedemikian kerasnya, sehingga saya merasa isteri saya yang tidur di samping saya akan terbangun. Padahal tidak, meskipun saya berharap isteri saya akan terbangun.
Anjing kami, Queenie, kadang-kadang bila kesepian, akan masuk kamar kami dan tidur di samping tempat tidur. Pada malam itu dia berada di situ dan menaruh perhatian terhadap semua perkataan malaikat itu. Anjing itu berada tepat di samping saya dan saya dapat merasakan kepalanya menyentuh kaki saya ketika bergerak kesana ke mari mengikuti percakapan malaikat ini dan saya. Suatu kunjungan yang luar biasa!
Kedengarannya sangat aneh, dan saya dapat membayangkan bahwa beberapa orang akan meragukan kehenaran perkataan saya. Itu tidak penting; yang penting ialah berita Allah, dan Dia ingin saya menyampaikannya kepada dunia!
Percakapan yang unik ini berlangsung selama dua jam. Malaikat itu menyampaikan kebenaran-kebenaran indah dari Alkitab kepada saya. Dia membicarakan rencana Allah yang terbentang bagi seluruh dunia dan menyadarkan saya tentang perhatian Allah terhadap umat manusia. Kasih-Nya kepada manusia itu demikian besarnya sehingga Dia lebih banyak memperhatikan mereka daripada cara yang digunakannya! DIA MENGASIHI MANUSIA!
Malaikat itu memberi bermacam-macam segi dari satu tema pokok yang ditekankan oleh Tuhan kepada saya. Pada mulanya saya tidak mengetahui bagaimana menyampaikan berita ini, hingga pada suatu malam, tiga minggu kemudian, malaikat itu kembali serta menyampaikan lebih banyak kebenaran yang indah dari Allah mengenai hal-hal yang sama. Saya ingin melihat bagaimana rupanya, tetapi sekali lagi saya hanya dapat melihat garis bentuk makhluk surgawi ini dalam kegelapan kamar tidur kami.
Keesokan harinya setelah kunjungan kedua ini, isteri saya bertanya apakah kami mendapat kunjungan lagi pada malam itu, karena meskipun dia tidak mendengar apa-apa, dia merasakan kehangatan kehadiran Allah yang memenuhi kamar itu.
Hal ini sangat mengagumkan, bahwa Allah mengirim utusan-utusan khusus ini dengan berita dari sorga, sehingga saya merasa tanggung jawab yang besar sekali untuk menyampaikannya. Kita sedang hidup dalam zaman yang indah, di mana terjadi kebangunan rohani di seluruh dunia. Bersama-sama dengan gerakan Roh Kudus yang besar, terdapat juga serangan-serangan Iblis yang dilancarkan kembali terhadap pekerjaan Allah.
Pada zaman kita ini sebuah babak baru yang indah sedang dibentangkan. Allah menyatakan perhatian-Nya terhadap keluarga-keluarga di dunia. Dia memberitahukan kepada mereka bahwa rencana keselamatan-Nya, suatu prinsip yang telah mulai dilaksanakan-Nya selama bertahun-tahun, bukan sekedar rencana untuk seseorang saja. Dia menyediakan tempat bagi seluruh keluarga, tetapi masing-masing anggota harus dilahirkan kembali.
Saya berpikir, "Itu suatu teologi yang aneh! Kedengarannya tidak benar." Namun saya menemukan bahwa Allah sendirilah yang memulainya. Prinsip ini terdapat dalam rencana-Nya yang indah itu, yang diberikan kepada Musa bagi pembangunan kemah sembahyang.
Malaikat itu memperingatkan saya akan kenyataan bahwa Allah menginginkan nama setiap kepala keluarga serta seluruh anggota keluarganya tercantum dalam pintu gerbang kemah sembahyang itu. Alas perak, yang menopang tirai kemah suci dibuat dari uang syikal penebusan mereka. Persembahan setengah syikal perak ini diminta dari setiap orang sebagai uang tebusan jiwanya di hadapan Tuhan. Rencana penebusan bagi seluruh keluarga itu demikian pentingnya bagi Allah, sehingga Dia meminta setiap keluarga memberikan persembahan setengah syikal perak setiap tahunnya sebagai peringatan, supaya mereka tidak akan melupakannya. Hal ini dibicarakan dalam Keluaran 30:12-16 dan Keluaran 38:25-28. (Bersambung)
Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com
Wednesday, January 9, 2008
The Fence or The Ambulance?
Pagar atau Ambulans?
Di sebuah desa berbukit-bukit terdapat jalan raya yang cukup terjal. Pada suatu tikungan yang menurun, jalan itu membelok dengan tajam dan sering memakan korban kecelakaan. Banyak pengendara motor atau mobil yang terjun ke bawah lembah dan mengalami luka-luka parah bahkan ada korban jiwa pula.
Oleh karena itu di sekitar tikungan maut itu diberi tanda-tanda bahaya agar setiap kendaraan yang melewati jalan itu agar berhati-hati. Namun peringatan itu tidak terlalu membawa hasil. Tetap saja ada pengemudi sepeda motor atau mobil yang tiba-tiba kaget dan tidak sempat berbelok dengan sempurna, sehingga mereka meluncur ke bawah lembah.
Oleh karena itu orang-orang di desa itu mengusulkan kepada pemerintah daerah untuk menyediakan ambulans bagi desa mereka, sehingga apabila ada korban yang terperosok ke jurang itu mereka dengan cepat memakai ambulans membawa semua korban ke Rumah Sakit terdekat untuk mendapatkan pertolongan pertama. Setelah usul itu disetujui, ambulans itu banyak mengangkut para korban kecelakaan di tikungan maut itu. Orang-orang di desa kembali tidak merasa puas. Ternyata ambulans tidak menolong mereka untuk mencegah jatuhnya korban jiwa di tikungan itu.
Akhirnya seorang bijak di desa itu menawarkan suatu solusi, "Mengapa kalian tidak membangun tembok pagar saja yang cukup kuat agar tidak ada kendaraan yang terjun ke jurang di bawah sana?" "Ya, kenapa tidak?" kata orang-orang mengangguk setuju. "Bukankah mencegah lebih baik daripada mengobati?" "Bukankah lebih baik sedia payung sebelum hujan?"
Sayangnya, banyak orang lebih suka menyediakan ambulans. Mereka lebih suka terpojok dengan masalah dan menyelesaikannya. Mereka lebih suka mengobati penyakit daripada mencegah sedini mungkin. Banyak orang hidup seperti biasa, namun ingin hasil yang luar biasa. Banyak orang ingin hidup berkelimpahan, namun hidup seenaknya. Banyak orang ingin hasil yang berbeda, namun selalu melakukan hal yang sama. If you don't change your direction, you will end up where you're heading. Persiapkanlah kehidupan kita, jangan terpaksa membereskan hidup kita karena kita gagal merencanakan keberhasilan.
Ditulis oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com
Di sebuah desa berbukit-bukit terdapat jalan raya yang cukup terjal. Pada suatu tikungan yang menurun, jalan itu membelok dengan tajam dan sering memakan korban kecelakaan. Banyak pengendara motor atau mobil yang terjun ke bawah lembah dan mengalami luka-luka parah bahkan ada korban jiwa pula.
Oleh karena itu di sekitar tikungan maut itu diberi tanda-tanda bahaya agar setiap kendaraan yang melewati jalan itu agar berhati-hati. Namun peringatan itu tidak terlalu membawa hasil. Tetap saja ada pengemudi sepeda motor atau mobil yang tiba-tiba kaget dan tidak sempat berbelok dengan sempurna, sehingga mereka meluncur ke bawah lembah.
Oleh karena itu orang-orang di desa itu mengusulkan kepada pemerintah daerah untuk menyediakan ambulans bagi desa mereka, sehingga apabila ada korban yang terperosok ke jurang itu mereka dengan cepat memakai ambulans membawa semua korban ke Rumah Sakit terdekat untuk mendapatkan pertolongan pertama. Setelah usul itu disetujui, ambulans itu banyak mengangkut para korban kecelakaan di tikungan maut itu. Orang-orang di desa kembali tidak merasa puas. Ternyata ambulans tidak menolong mereka untuk mencegah jatuhnya korban jiwa di tikungan itu.
Akhirnya seorang bijak di desa itu menawarkan suatu solusi, "Mengapa kalian tidak membangun tembok pagar saja yang cukup kuat agar tidak ada kendaraan yang terjun ke jurang di bawah sana?" "Ya, kenapa tidak?" kata orang-orang mengangguk setuju. "Bukankah mencegah lebih baik daripada mengobati?" "Bukankah lebih baik sedia payung sebelum hujan?"
Sayangnya, banyak orang lebih suka menyediakan ambulans. Mereka lebih suka terpojok dengan masalah dan menyelesaikannya. Mereka lebih suka mengobati penyakit daripada mencegah sedini mungkin. Banyak orang hidup seperti biasa, namun ingin hasil yang luar biasa. Banyak orang ingin hidup berkelimpahan, namun hidup seenaknya. Banyak orang ingin hasil yang berbeda, namun selalu melakukan hal yang sama. If you don't change your direction, you will end up where you're heading. Persiapkanlah kehidupan kita, jangan terpaksa membereskan hidup kita karena kita gagal merencanakan keberhasilan.
Ditulis oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com
Subscribe to:
Posts (Atom)
Kesaksian Pembaca Buku "Mukjizat Kehidupan"
Pada tanggal 28 Oktober 2009 datang SMS dari seorang Ibu di NTT, bunyinya:
"Terpujilah Tuhan karena buku "Mukjizat Kehidupan", saya belajar untuk bisa mengampuni, sabar, dan punya waktu di hadirat Tuhan, dan akhirnya Rumah Tangga saya dipulihkan, suami saya sudah mau berdoa. Buku ini telah jadi berkat buat teman-teman di Pasir Panjang, Kupang, NTT. Kami belajar mengasihi, mengampuni, dan selalu punya waktu berdoa."
Hall of Fame - Daftar Pembaca Yang Diberkati Buku Mukjizat Kehidupan
- A. Rudy Hartono Kurniawan - Juara All England 8 x dan Asian Hero
- B. Pdt. DR. Ir. Niko Njotorahardjo
- C. Pdt. Ir. Djohan Handojo
- D. Jeffry S. Tjandra - Worshipper
- E. Pdt. Petrus Agung - Semarang
- F. Bpk. Irsan
- G. Ir. Ciputra - Jakarta
- H. Pdt. Dr. Danny Tumiwa SH
- I. Erich Unarto S.E - Pendiri dan Pemimpin "Manna Sorgawi"
- J. Beni Prananto - Pengusaha
- K. Aryanto Agus Mulyo - Partner Kantor Akuntan
- L. Ir. Handaka Santosa - CEO Senayan City
- M. Pdt. Drs. Budi Sastradiputra - Jakarta
- N. Pdm. Lim Lim - Jakarta
- O. Lisa Honoris - Kawai Music Shool Jakarta
- P. Ny. Rachel Sudarmanto - Jakarta
- Q. Ps. Levi Supit - Jakarta
- R. Pdt. Samuel Gunawan - Jakarta
- S. F.A Djaya - Tamara Jaya - By Pass Ngurah Rai - Jimbaran - Bali
- T. Ps. Kong - City Blessing Church - Jakarta
- U. dr. Yoyong Kohar - Jakarta
- V. Haryanto - Gereja Katholik - Jakarta
- W. Fanny Irwanto - Jakarta
- X. dr. Sylvia/Yan Cen - Jakarta
- Y. Ir. Junna - Jakarta
- Z. Yudi - Raffles Hill - Cibubur
- ZA. Budi Setiawan - GBI PRJ - Jakarta
- ZB. Christine - Intercon - Jakarta
- ZC. Budi Setiawan - CWS Kelapa Gading - Jakarta
- ZD. Oshin - Menara BTN - Jakarta
- ZE. Johan Sunarto - Tanah Pasir - Jakarta
- ZF. Waney - Jl. Kesehatan - Jakarta
- ZG. Lukas Kacaribu - Jakarta
- ZH. Oma Lydia Abraham - Jakarta
- ZI. Elida Malik - Kuningan Timur - Jakarta
- ZJ. Luci - Sunter Paradise - Jakarta
- ZK. Irene - Arlin Indah - Jakarta Timur
- ZL. Ny. Hendri Suswardani - Depok
- ZM. Marthin Tertius - Bank Artha Graha - Manado
- ZN. Titin - PT. Tripolyta - Jakarta
- ZO. Wiwiek - Menteng - Jakarta
- ZP. Agatha - PT. STUD - Menara Batavia - Jakarta
- ZR. Albertus - Gunung Sahari - Jakarta
- ZS. Febryanti - Metro Permata - Jakarta
- ZT. Susy - Metro Permata - Jakarta
- ZU. Justanti - USAID - Makassar
- ZV. Welian - Tangerang
- ZW. Dwiyono - Karawaci
- ZX. Essa Pujowati - Jakarta
- ZY. Nelly - Pejaten Timur - Jakarta
- ZZ. C. Nugraheni - Gramedia - Jakarta
- ZZA. Myke - Wisma Presisi - Jakarta
- ZZB. Wesley - Simpang Darmo Permai - Surabaya
- ZZC. Ray Monoarfa - Kemang - Jakarta
- ZZD. Pdt. Sunaryo Djaya - Bethany - Jakarta
- ZZE. Max Boham - Sidoarjo - Jatim
- ZZF. Julia Bing - Semarang
- ZZG. Rika - Tanjung Karang
- ZZH. Yusak Prasetyo - Batam
- ZZI. Evi Anggraini - Jakarta
- ZZJ. Kodden Manik - Cilegon
- ZZZZ. ISI NAMA ANDA PADA KOLOM KOMENTAR UNTUK DIMASUKKAN DALAM DAFTAR INI