Seorang anak muda pernah menulis sebuah naskah drama Natal berjudul "Palungan Yang Hilang". Drama itu menceritakan tentang persiapan perayaan Natal yang sangat meriah. Pernak-pernik Natal terlihat menghiasi kota. Pita serta lampu warna warni semakin menyemarakkan perayaan Natal yang akan dilangsungkan.
Semua orang bersukacita, tetapi tiba-tiba keceriaan mereka berubah menjadi kepanikan. Apa gerangan yang terjadi? Ternyata palungan yang dianggap sebagai simbol kehadiran Tuhan Yesus raib dari tempatnya. Panitia kalang kabut. Bagaimana mungkin merayakan Natal tanpa palungan? Mulailah mereka mencari-cari palungan itu. Siapa gerangan yang telah mengambilnya? Semua wargapun ikut larut dalam kepanikan dan akhirnya merekapun turun tangan membantu menemukan palungan yang hilang tersebut.
Tak lama kemudian mereka menemukan palungan itu. Kali ini mereka terkejut untuk kedua kalinya. Ternyata palungan itu ditemukan di rumah seorang janda miskin. Ia tak dapat membeli peti mati untuk anaknya yang meninggal, sehingga ia meletakkan mayat anaknya di dalam palungan.
Kejadian yang ada di depan mata para penduduk itu merombak secara total konsep mereka tentang perayaan Natal. Kekesalan karena palungan diambil oleh janda itu serta merta lenyap dari antara mereka. Semua anggota panitia perayaan Natal akhirnya memutuskan untuk merayakan Natal di rumah sang janda, bukan dalam kemewahan dan gemerlapnya lampu-lampu serta pernak-pernik Natal, tetapi dalam ketiadaan. Mereka akhirnya mengerti bahwa Natal sesungguhnya adalah bagaimana kita merasakan kehadiran Sang Juruselamat yang datang membawa pengorbanan diri-Nya. (Sumber: Manna Sorgawi edisi Desember 2008, diposting oleh Hadi Kristadi untuk http://pentas-kesaksian.blogspot.com)
Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com
******
Note:
Terima kasih atas pesanan buku "Mukjizat Kehidupan" oleh Bpk. Suheryanto T. dari Jakarta.