Search This Blog

Sunday, November 30, 2008

David and The Public Phone

Kisah yang menarik dimana tetap mempertahankan prinsip menjadi orang baik dan harapan. David kuliah di fakultas perdagangan Arlington USA. Kehidupan kampusnya, terutama mengandalkan kiriman dana bulanan secukupnya dari orang tuanya. Entah bagaimana, sudah 2 bulan ini rumah tidak mengirimi uang ke David lagi. Di kantong David hanya tersisa 1 keping dollar saja. David dengan perut keroncongan berjalan ke bilik telepon umum, memasukkan seluruh dananya, yaitu satu keping uang logam itu, ke dalam telepon.

"Halo, apa kabar?" telpon telah tersambung, ibu David yang berada ribuan km jauhnya berbicara. David dengan nada agak terisak berkata: "Mama, saya tidak punya uang lagi, sekarang lagi bingung karena kelaparan." Ibu David berkata: "Anakku tersayang, mama tahu."

"Sudah tahu, kenapa masih tidak mengirim uang?" David baru saja hendak melontarkan dengan penuh kekesalan pertanyaan tersebut kepada sang ibu, mendadak merasakan perkataan ibunya mengandung sebuah kesedihan yang mendalam. Firasat David mengatakan ada yang tidak beres, ia cepat-cepat bertanya, "Mama, apa yang telah terjadi di rumah?"

Ibu David berkata, "Anakku, papamu terkena penyakit berat, sudah lima bulan ini, tidak saja telah meludeskan seluruh tabungan, bahkan karena sakit telah kehilangan tempat kerjanya, sumber penghasilan satu-satunya di rumah telah terputus. Oleh karena itu, sudah 2 bulan ini tidak mengirimimu uang lagi, Mama sebenarnya tidak ingin mengatakannya kepadamu, tetapi kamu sudah dewasa, sudah saatnya mencari nafkah sendiri."

Ibu David berbicara sampai disitu, tiba-tiba menangis tersedu sedan. Di ujung telepon lainnya, air mata David juga "tes", "tes" tak hentinya menetes, dan ia berpikir Kelihatannya saya harus drop out dan pulang kampung." David berkata kepada ibunya, "Mama, jangan bersedih, saya sekarang juga akan mencari pekerjaan, pasti akan menghidupi kalian."

Kenyataan yang pahit telah membuat David terpukul hingga pusing tujuh keliling. Masih 1 bulan lagi, semester kali ini akan selesai, jikalau memiliki uang, barang 8 atau 10 dollar saja, maka David mampu bertahan hingga liburan tiba, kemudian menggunakan 2 bulan masa liburan untuk bekerja menghasilkan uang. Akan tetapi sekarang 1 sen pun tak punya, mau tak mau harus drop out.

Pada detik ketika David mengatakan "Sampai jumpa" kepada ibunya dan meletakkan gagang telpon itu, sungguh luar biasa menyakitkan, karena prestasi kuliahnya sangat bagus, selain itu ia juga menyukai kehidupan di kampus fakultas perdagangan Arlington tersebut. Sesudah meletakkan gagang telpon, pesawat telpon umum tersebut mengeluarkan bunyi gaduh, David dengan terkejut dan terbelalak menyaksikan banyak keping dollar menggerojok keluar dari alat itu.

David berjingkrak kegirangan, segera menjulurkan tangannya menerima uang-uang tersebut. Sekarang, terhadap uang-uang itu, bagaimana menyikapinya? Hati David masih merasa sangsi, diambil untuk diri sendiri, 100% boleh, pertama: karena tidak ada yang tahu, ke dua: dirinya sendiri betul-betul sedang membutuhkan. Namun setelah bolak-balik dipertimbangkan, David merasa tidak patut memilikinya. Setelah melalui sebuah pertarungan konflik batin yang hebat, David memasukkan salah satu keping dolar itu ke dalam telepon dan menghubungi bagian pelayanan umum perusahaan telepon. Mendengar penuturan David, nona petugas pelayanan umum berkata, "Uang itu milik perusahaan telepon, maka itu harus segera dikembalikan (ke dalam mesin telepon)."

Setelah menutup telepon, David hendak memasukkan kembali keping logam uang itu, tetapi sekali demi sekali uang dimasukkan, pesawat otomat itu terus menerus memuntahkannya kembali. Sekali lagi David menelepon, dan petugas pelayanan umum yang berkata, "Saya juga tak tahu harus bagaimana, sebaiknya saya sekarang minta petunjuk atasan." Nada bicara David yang sendirian dan tiada yang menolong memancarkan getaran kesepian dan kuyu, nona petugas pelayanan umum sangat dapat merasakannya, menilik perkataan dari ujung telepon dia merasakan seorang asing yang bermoral baik sedang perlu dibantu.

Tak lama kemudian, nona petugas pelayanan umum menelepon ulang pesawat otomat yang sedang bermasalah itu. Dia berkata kepada David, "Saya telah memperoleh ijin dari atasan yang berkata uang tersebut untuk anda, karena perusahaan kami saat ini tidak mempunyai cukup tenaga, tak ingin demi beberapa dollar khusus mengirim petugas ke sana."

"Hore!", David meloncat saking gembiranya. Sekarang, uang logam itu secara sah menjadi miliknya. David membungkukkan badannya dan dengan seksama nenghitungnya, total berjumlah 9 dollar 50 sen. Uang sejumlah ini cukup buat David bertahan hingga bekerja memperoleh upah pertamanya pada saat liburan nanti. Dalam perjalanan ke kampus, David tersenyum terus sepanjang jalan. Ia memutuskan membeli makanan dengan menggunakan uang itu lantas mencari pekerjaan.

Dalam sekejap liburan telah tiba, David telah memperoleh pekerjaan sebagai pengelola gudang supermarket. Pada hari tersebut, David menjumpai boss perusahaan supermarket, menceritakan kepadanya tentang kejadian di telepon umum dan keinginannya untuk mencari pekerjaan. Si boss supermarket memberitahu David boleh datang bekerja setiap saat, tidak hanya pada liburan saja, sewaktu kuliah dan tidak terlalu sibuk juga boleh bergabung, karena boss supermarket merasa David adalah orang yang tulus dan jujur, terutama adalah orang yang seksama, membenahi gudang mutlak bisa dipercaya. David bekerja dengan sangat giat, boss sangat mengapresiasinya dan juga merasa kasihan. Si boss memberinya upah dobel.

Sesudah menerima gaji, David mengirimkan keseluruhan gajinya kepada sang ibu, karena pada saat itu David sudah mendapatkan info bahwa ia berhasil memperoleh bea siswa untuk satu semester berikutnya. Sesudah 1 bulan, uang dikirim balik ke David. Sang ibu menulis di dalam suratnya: "Penyakit ayahmu sudah agak sembuh, saya juga telah mendapatkan pekerjaan, bisa mempertahankan hidup. Kamu harus belajar dengan baik, jangan sampai kelaparan." Sesudah membaca surat itu, David menangis lagi. David tahu, meski orang tuanya menahan lapar, juga tidak bakal meminta uang kepada David yang sedang perlu dibantu. Setiap kali memikirkan hal ini, David berlinang bersimbah air mata, sulit menenangkan gejolak hatinya.

Setahun kemudian, David dengan lancar menyelesaikan kuliahnya. Setelah lulus, David membuka sebuah perusahaan, tahun pertama, David sudah mengantongi laba US $ 100.000. Ia senantiasa tak bisa melupakan kejadian di telepon umum. Ia menulis surat kepada perusahaan telepon tersebut: "Hal yang tak bisa saya lupakan untuk selamanya ialah, perusahaan anda secara tak terduga telah membantu dana US $ 9,50 kepada saya. Perbuatan amal ini, telah membuat saya batal menjadi pemuda drop out dan menuju kondisi miskin, bersamaan itu juga telah memberi saya energi tak terhingga, mendorong saya setiap saat tidak melupakan untuk berjuang. Kini saya mempunyai uang, saya ingin menyumbang balik sebanyak US $ 10.000 kepada perusahaan anda, sebagai rasa terima kasih saya."

Boss perusahaan telpon bernama Bill membalasnya dengan surat yang dipenuhi antusiasme: "Selamat atas kesuksesan kuliah anda dan usaha yang telah berkembang. Kami kira, uang tersebut adalah uang yang paling patut kami keluarkan. Ini bukannya merujuk pada $9,50 yang dikembalikan dengan $10.000, melainkan uang itu telah membuat seseorang memahami sebuah petuah tentang prinsip tertinggi kehidupan."

So, di saat-saat paling sulit, Pertama : Jangan melupakan harapan sudah ada di depan mata. Kedua: Jangan lupa menjaga moralitas.

Setelah 20 tahun telah berlalu, bagaimana dengan David? Di kota Chicago, Amerika, terdapat sebuah gedung mewah, yang tampak luarnya menyerupai sebuah bilik telepon umum, itu adalah gedung perusahaan ADDC. Pendiri perusahaan ADDC, Presiden Direktur nya ialah David, selain itu juga David adalah salah satu penyumbang terbesar untuk badan amal. (Sumber: Email dari Ibu Shirley K. - dari Milis KompaGunsa80 - diposting oleh Hadi Kristadi untuk http://pentas-kesaksian.blogspot.com - mohon keterangan ini jangan dihilangkan apabila anda memforwardnya atau mempostingnya di web/blog anda - terima kasih)

Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Friday, November 28, 2008

Happiness

Sebuah Kebahagiaan
Dari jam mahal ditangannya sudah menunjukkan pukul 07.30 pagi, sementara sudah hampir 10 menit mobil sama sekali tidak bergerak dan di depannya antrean mobil sedemikian panjang. Dari mobil mewah seri terbarunya Pak Hartawan, seorang yang sangat kaya nampak gelisah. Sesekali badannya ditegakkan dan melongok ke depan. Sopir pribadinya pun mengamati dari spion tengah tentang kegelisahan sang Majikan. Dari sudut kanan depan tiba-tiba datang seorang wanita dengan pakaian sangat kumal. Wanita itu tidak memiliki tangan, sementara di pundaknya digantungkan sebuah tas untuk tempat recehan sedekah dari pengendara mobil. "Jangan dikasih Man, nanti kebiasaan!" perintah Pak Hartawan kepada Pardiman sopirnya.

Sopirnyapun pura-pura cuek dan sibuk mengetuk-ngetuk setir, sambil sesekali melirik dari sudut matanya. Tiga menit berlalu namun pengemis wanita itu tetap berdiri disamping mobil seakan-akan memang sangat berhasrat untuk mendapatkan sedekah. "Ah dasar pemalas, ya udah Man kasih aja recehan, biar cepet pergi!" sekali lagi Pak Hartawan memberikan perintah sambil memainkan gadget terbarunya.

"Nggak ada recehan, Pak," jawab Pardiman. "Ya sudah, kasih aja uang pecahan yang paling kecil," jawab Pak Hartawan. Akhirnya Pardiman mengambil satu lembar lima puluh ribuan yang merupakan pecahan terkecil di kotak uang dibawah tombol AC. Mendapatkan sedekah lima puluh ribu rupiah, pengemis wanita ini kegirangan, bukan main bahagianya, bahkan saking senangnya sampai lupa berterima kasih.

"Lihat tuh Man, dasar orang tak tahu diri, sudah dikasih malah nggak bilang terima kasih. Bagaimana bisa menjadi orang bahagia kalau nggak pernah menghargai pemberian orang lain?"

Jalanan masih saja macet dan sudah lebih dari satu jam. Di samping kanan badan jalan, Pak Hartawan melihat pengemis wanita tadi sedang makan dengan lahap bersama 4 orang anak kecil. Wajahnya menampakkan gurat kebahagiaan yang tiada tara, sesekali dia melempar senyum senang sambil menatapi mobil yang sedang macet. Pak Hartawan melihat dengan mata nanar.

"Betapa bahagianya pengemis itu, hanya dengan lima puluh ribu rupiah dia bisa makan dan mungkin mentraktir 4 orang anaknya sambil tertawa dengan bahagia." Pak Hartawan melihat wajahnya sendiri di kaca spion tengah mobilnya. "Apa kurangnya aku ini, aku berada dalam mobil mewah, tidak kepanasan. Di dompetku ada uang, ada ATM dengan saldo milyaran. Aku punya harta yang berlimpah ruah. Tapi sudah satu jam ini aku gelisah luar biasa, tidak ada satu hal kebahagiaanpun yang aku nikmati." katanya dalam hati.

Dilihatnya Pardiman yang sudah mulai terkantuk-kantuk namun tetap bersiul-siul kecil menyenandungkan lagu dangdut kesukaannya. "Betapa mudah mereka untuk bahagia". Dari sudut di ruang hatinya terdengar bisikan: "Ternyata bahagia tidak ada kaitannya dengan kepemilikan. Mungkin bahagia adalah bagaimana kita memandang sesuatu dan belajar mensyukuri terhadap apa yang kita dapatkan dan menikmatinya."

Pak Hartawan tersenyum seakan menemukan sebuah kebahagiaan yang sederhana. Dibukanya pintu kaca mobil dan berteriak memanggil si pengemis wanita. Setelah pengemis itu dekat dengan pintu mobil, Pak Hartawan mengambil dompet dan mengambil 5 lembar ratusan ribu, dia ingin melihat kebahagiaan yang lebih besar. Diulurkan uang 5 lembar kepada sang pengemis.

Pengemis itu justru mundur satu langkah dan berkata, "Maaf Pak, kami sudah kenyang!"

Selesai berujar pengemis itu pergi dan tidak menerima pemberian Pak Hartawan, dan dia melanjutkan kembali bercanda di seberang jalan dengan 4 orang anaknya. Membiarkan Pak Hartawan terbengong-bengong menyaksikan kesederhanaan sebuah kebahagiaan. (Email kiriman Oom Basye - Canisius College 1976 - dari Milis Sebelah)

Hati yang gembira membuat muka berseri-seri, tetapi kepedihan hati mematahkan semangat. Hati yang gembira adalah obat yang manjur, tetapi semangat yang patah mengeringkan tulang. (Amsal 15:13; 17:22)

Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Use Food as Medicine, and Don't Use Medicine as your Food!

Kamis siang kemarin isteri saya menghadiri seminar tentang pola hidup sehat. Dalam seminar itu pembicaranya adalah Ibu Liong Pit Lin, yang pernah mengalami sakit kanker stadium lanjut. Selama tiga tahun ibu ini menderita kanker ganas yang bermula dari payudaranya hingga sel kanker menyebar ke bagian tubuh lainnya.

Ketika para dokter sudah tidak sanggup lagi mengobati ibu ini, ia mempelajari pola hidup dan pola makan dan minum yang sehat. Tadinya ia sudah terbaring saja di ranjang, tanpa daya. Setelah satu bulan mengubah pola hidup dan pola makanan, yang dimulai dengan detoksifikasi menggunakan makanan (buah-buahan, biji-bijian dan sayur-sayuran), ia mulai bisa bangun dari tempat tidur. Akhirnya dalam 3 tahun, setelah menjalani pola hidup dan pola makan yang sesuai Alkitab, ia dipulihkan sepenuhnya dan sekarang ia membagikan pengetahuannya kemana-mana, termasuk siaran di radio Heartline FM.

Saya sendiri akan mencoba resep detox yang dapat dikerjakan sendiri dan dengan membeli bahan makanan sendiri (buah-buahan, biji-bijian, sayur-sayuran) selama 21 hari ke depan. Kenapa kita perlu detox? Nanti saya ceritakan deh. Yang pasti, gunakan makanan sebagai obat, dan jangan gunakan obat sebagai makanan! God bless you!

Ditulis oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Send Me To The Remote Area!

Pada suatu pelayanan di Jakarta, Herlin Pirena, penyanyi lagu-lagu rohani, mendengarkan kesaksian satu keluarga muda, suami isteri dan seorang anak kecil, yang menceritakan bahwa mereka akan tinggal di Tajikistan dalam rangka pelayanan misi.

Republik Tajikistan adalah negara di Asia Tengah yang bergunung-gunung. Di sebelah selatan berbatasan dengan Afganistan, di barat dengan Uzbekistan, di utara dengan Kirgiztan, dan di timur dengan RRC. Tajikistan juga berbatasan dengan Pakistan, yang dipisahkan oleh Wakhan Corridor. Penduduk Tajikistan merupakan suku Tajik yang memiliki sejarah dan budaya sama dengan rakyat Iran dan juga berbahasa Parsi. Tajikitan pernah menjadi bagian dari negara Uni Sovyet dan setelah merdeka, mereka mengalami perang saudara antara tahun 1992 sampai 1997.

Keluarga muda ini harus belajar bahasa Parsi dan adat istiadat Tajikistan yang akan mereka layani sepenuh waktu. Bayangkan di negeri yang mayoritasnya beragama lain, keluarga ini harus menjalankan misinya demi Kerajaan Allah.

Mendengar kesaksian seperti itu, Herlin terharu dan makin semangat dalam pelayanannya. Kalau sebelumnya ia sempat menunda-nunda pelayanan ke Papua karena dianggap sangat jauh, mendengar ada keluarga yang mau melayani sampai Tajikistan, ia merasa tidak ada apa-apanya. Ternyata masih ada orang yang mau ditempatkan Tuhan di negeri yang tidak diminati hamba-hamba Tuhan lain. Sejak itu Herlin tidak pernah segan ataupun merasa berat apabila ada undangan dari tempat-tempat terpencil, asalkan itu semua mempermuliakan nama Tuhan.

Ditulis oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Thursday, November 27, 2008

Yu Yuan

Kisah ini tentang seorang gadis kecil yang cantik yang memiliki sepasang bola mata yang indah dan hati yang lugu polos. Dia adalah seorang yatim piatu dan hanya sempat hidup di dunia ini selama delapan tahun. Satu kalimat terakhir yang ia tinggalkan di batu nisannya adalah: "Saya pernah datang dan saya sangat penurut". Anak ini rela melepaskan pengobatan, padahal sebelumnya dia telah memiliki dana pengobatan sebanyak 540.000 dolar yang didapat dari perkumpulan orang Chinese seluruh dunia. Dia membagi dana tersebut menjadi tujuh bagian, yang dibagikan kepada tujuh anak kecil yang juga sedang berjuang menghadapi kematian. Dan dia rela melepaskan pengobatannya.

Begitu lahir dia sudah tidak mengetahui siapa orang tua kandungnya. Dia hanya memiliki seorang papa yang mengadopsinya. Papanya berumur 30 tahun yang bertempat tinggal di provinsi She Cuan kecamatan Suang Liu, kota Sang Xin Zhen Yun Ya Chun Er Cu. Karena miskin, maka selama ini ia tidak menemukan pasangan hidupnya. Kalau masih harus mengadopsi anak kecil ini, mungkin tidak ada lagi orang yang mau dilamar olehnya.

Pada tanggal 30 November 1996, tgl 20 bln 10 Imlek, adalah saat dimana papanya menemukan anak kecil tersebut diatas hamparan rumput, disanalah papanya menemukan seorang bayi kecil yang sedang kedinginan. Pada saat menemukan anak ini, di dadanya terdapat selembar kartu kecil tertulis, 20 November jam 12.

Melihat anak kecil ini menangis dengan suara tangisannya sudah mulai melemah. Papanya berpikir kalau tidak ada orang yang memperhatikannya, maka kapan saja bayi ini bisa meninggal. Dengan berat hati papanya memeluk bayi tersebut, dengan menghela nafas dan berkata, “Saya makan apa, maka kamu juga ikut apa yang saya makan.” Kemudian, papanya memberikan dia nama Yu Yan.

Ini adalah kisah seorang pemuda yang belum menikah yang membesarkan seorang anak, tidak ada ASI dan juga tidak mampu membeli susu bubuk, hanya mampu memberi makan bayi tersebut dengan air tajin (air beras). Maka dari kecil anak ini tumbuh menjadi lemah dan sakit-sakitan. Tetapi anak ini sangat penurut dan sangat patuh. Musim silih berganti, Yu Yuan pun tumbuh dan bertambah besar serta memiliki kepintaran yang luar biasa. Para tetangga sering memuji Yu Yuan sangat pintar, walaupun dari kecil sering sakit-sakitan dan mereka sangat menyukai Yu Yuan. Ditengah ketakutan dan kecemasan papanya, Yu Yuan pelan-pelan tumbuh dewasa.

Yu Yuan yang hidup dalam kesusahan memang luar biasa, mulai dari umur lima tahun, dia sudah membantu papanya mengerjakan pekerjaan rumah. Mencuci baju, memasak nasi dan memotong rumput. Setiap hal dia kerjakan dengan baik. Dia sadar dia berbeda dengan anak-anak lain. Anak-anak lain memiliki sepasang orang tua, sedangkan dia hanya memiliki seorang papa. Keluarga ini hanya mengandalkan dia dan papa yang saling menopang. Dia harus menjadi seorang anak yang penurut dan tidak boleh membuat papa menjadi sedih dan marah.

Pada saat dia masuk sekolah dasar, dia sendiri sudah sangat mengerti, harus giat belajar dan menjadi juara di sekolah. Inilah yang bisa membuat papanya yang tidak berpendidikan menjadi bangga di desanya. Dia tidak pernah mengecewakan papanya, dia pun bernyanyi untuk papanya. Setiap hal yang lucu yang terjadi di sekolahnya di ceritakan kepada papanya. Kadang-kadang dia bisa nakal dengan mengeluarkan soal-soal yang susah untuk menguji papanya.

Setiap kali melihat senyuman papanya, dia merasa puas dan bahagia. Walaupun tidak seperti anak-anak lain yang memiliki mama, tetapi bisa hidup bahagia dengan papa, ia sudah sangat berbahagia. Mulai dari bulan Mei 2005 Yu Yuan mulai mengalami mimisan. Pada suatu pagi saat Yu Yuan sedang mencuci muka, ia menyadari bahwa air cuci mukanya sudah penuh dengan darah yang ternyata berasal dari hidungnya. Dengan berbagai cara tidak bisa menghentikan pendarahan tersebut, sehingga papanya membawa Yu Yuan ke sebuah Puskesmas desa untuk disuntik. Tetapi sayangnya dari bekas suntikan itu juga mengeluarkan darah dan tidak mau berhenti. Di pahanya mulai bermunculan bintik-bintik merah. Dokter tersebut menyarankan papanya untuk membawa Yu Yuan ke rumah sakit untuk diperiksa.

Begitu tiba di rumah sakit, Yu Yuan tidak mendapatkan nomor karena antrian sudah panjang. Yu Yuan hanya bisa duduk sendiri di kursi yang panjang untuk menutupi hidungnya. Darah yang keluar dari hidungnya bagaikan air yang terus mengalir dan memerahi lantai. Karena papanya merasa tidak enak kemudian mengambil sebuah baskom kecil untuk menampung darah yang keluar dari hidung Yu Yuan. Tidak sampai sepuluh menit, baskom yang kecil tersebut sudah penuh berisi darah yang keluar dari hidung Yu Yuan.

Dokter yang melihat keadaaan ini cepat-cepat membawa Yu Yuan untuk diperiksa. Setelah diperiksa, dokter menyatakan bahwa Yu Yuan terkena Leukimia ganas. Pengobatan penyakit tersebut sangat mahal yang memerlukan biaya sebesar $300.000. Papanya mulai cemas melihat anaknya yang terbaring lemah di ranjang. Papanya hanya memiliki satu niat yaitu menyelamatkan anaknya. Dengan berbagai cara meminjam uang ke sanak saudara dan teman dan ternyata, uang yang terkumpul sangatlah sedikit. Papanya akhirnya mengambil keputusan untuk menjual rumahnya yang merupakan harta satu satunya. Tapi karena rumahnya terlalu kumuh, dalam waktu yang singkat tidak bisa menemukan seorang pembeli.

Melihat mata papanya yang sedih dan pipi yang kian hari kian kurus. Dalam hati Yu Yuan merasa sedih. Pada suatu hari Yu Yuan menarik tangan papanya, air mata pun mengalir di kala kata-kata belum sempat terlontar. “Papa, saya ingin mati”.

Papanya dengan pandangan yang kaget melihat Yu Yuan, “Kamu baru berumur 8 tahun, kenapa mau mati?”. “Saya adalah anak yang dipungut, semua orang berkata nyawa saya tak berharga, tidaklah cocok dengan penyakit ini, biarlah saya keluar dari rumah sakit ini.”

Pada tanggal 18 Juni, Yu Yuan mewakili papanya yang tidak mengenal huruf, menandatangani surat keterangan pelepasan perawatan. Anak yang berumur delapan tahun itu pun mengatur segala sesuatu yang berhubungan dengan pemakamannya sendiri.

Hari itu juga setelah pulang kerumah, Yu Yuan yang sejak kecil tidak pernah memiliki permintaan, hari itu meminta dua permohonan kepada papanya. Dia ingin memakai baju baru dan berfoto. Yu Yuan berkata kepada papanya: “Setelah saya tidak ada, kalau papa merindukan saya, lihatlah foto ini”. Hari kedua, papanya menyuruh bibi menemani Yu Yuan pergi ke kota dan membeli baju baru. Yu Yuan sendirilah yang memilih baju yang dibelinya. Bibinya memilihkan satu rok yang berwarna putih dengan corak bintik-bintik merah. Begitu mencoba dan tidak rela melepaskannya. Kemudian mereka bertiga tiba di sebuah studio foto. Yu Yuan kemudia memakai baju barunya dengan pose secantik mungkin berjuang untuk tersenyum. Bagaimanapun ia berusaha tersenyum, pada akhirnya juga tidak bisa menahan air matanya yang mengalir keluar. Kalau bukan karena seorang wartawan Chuan Yuan yang bekerja di surat kabar Cheng Du Wan Bao, Yu Yuan akan seperti selembar daun yang lepas dari pohon dan hilang ditiup angin.

Setelah mengetahui keadaan Yu Yuan dari rumah sakit, Chuan Yuan kemudian menuliskan sebuah laporan, menceritakan kisah Yu Yuan secara detail. Cerita tentang anak yang berumur 8 tahun mengatur pemakamannya sendiri dan akhirnya menyebar ke seluruh kota Rong Cheng. Banyak orang-orang yang tergugah oleh seorang anak kecil yang sakit ini, dari ibu kota sampai satu negara bahkan sampai ke seluruh dunia. Mereka mengirim email ke seluruh dunia untuk menggalang dana bagi anak ini. Dunia yang damai ini menjadi suara panggilan yang sangat kuat bagi setiap orang.

Hanya dalam waktu sepuluh hari, dari perkumpulan orang Chinese di dunia saja telah terkumpul 560.000 dollar. Biaya operasi pun telah tercukupi. Titik kehidupan Yu Yuan sekali lagi dihidupkan oleh cinta kasih semua orang.

Setelah itu, pengumuman penggalangan dana dihentikan, tetapi dana terus mengalir dari seluruh dunia. Dana pun telah tersedia dan para dokter sudah ada untuk mengobati Yu Yuan. Satu demi satu gerbang kesulitan pengobatan juga telah dilewati.. Semua orang menunggu hari suksesnya Yu Yuan. Ada seorang teman di-email bahkan menulis: “Yu Yuan, anakku yang tercinta, aku mengharapkan kesembuhanmu dan keluar dari rumah sakit. Aku mendoakanmu cepat kembali ke sekolah. Aku mendambakanmu bisa tumbuh besar dan sehat. Yu Yuan, anakku tercinta.”

Pada tanggal 21 Juni, Yu Yuan yang telah melepaskan pengobatan dan menunggu kematian akhirnya dibawa kembali ke ibu kota. Dana yang sudah terkumpul, membuat jiwa yang lemah ini memiliki harapan dan alasan untuk terus bertahan hidup. Yu Yuan akhirnya menerima pengobatan dan dia sangat menderita di dalam sebuah pintu kaca tempat dia berobat. Yu Yuan kemudian berbaring di ranjang untuk diinfus. Ketegaran anak kecil ini membuat semua orang kagum padanya. Dokter yang menangani dia, Shii Min berkata, dalam perjalanan proses terapi akan mendatangkan mual yang sangat hebat. Pada permulaan terapi Yu Yuan sering sekali muntah. Tetapi Yu Yuan tidak pernah mengeluh. Pada saat pertama kali melakukan pemeriksaan sumsum tulang belakang, jarum suntik ditusukkan dari depan dadanya, tetapi Yu Yuan tidak menangis dan juga tidak berteriak, bahkan tidak meneteskan air mata. Yu Yuan yang dari dari lahir sampai maut menjemput tidak pernah mendapat kasih sayang seorang ibu. Pada saat dokter Shii Min menawarkan Yu Yuan untuk menjadi anak perempuannya. Air mata Yu Yuan pun mengalir tak terbendung.

Hari kedua saat dokter Shii Min datang, Yu Yuan dengan malu-malu memanggil dengan sebutan Shii Mama. Pertama kalinya mendengar suara itu, Shii Min kaget, dan kemudian dengan tersenyum dan menjawab, “Anak yang baik”. Semua orang mendambakan sebuah keajaiban dan menunggu momen dimana Yu Yuan hidup dan sembuh kembali. Banyak masyarakat datang untuk menjenguk Yu Yuan dan banyak orang menanyakan kabar Yu Yuan dari email. Selama dua bulan Yu Yuan melakukan terapi dan telah berjuang menerobos sembilan pintu maut. Ia pernah mengalami pendarahan di pencernaan dan selalu selamat dari bencana. Sampai akhirnya darah putih dari tubuh Yu Yuan sudah bisa terkontrol. Semua orang-orang pun menunggu kabar baik dari kesembuhan Yu Yuan.

Tetapi efek samping yang dikeluarkan oleh obat-obat terapi sangatlah menakutkan, apalagi dibandingkan dengan anak-anak leukemia yang lain. Fisik Yu Yuan jauh sangat lemah. Setelah melewati operasi tersebut fisik Yu Yuan semakin lemah.

Pada tanggal 20 Agustus, Yu Yuan bertanya kepada wartawan Fu Yuan: "Tante, kenapa mereka mau menyumbang dana untuk saya?" tanya Yu Yuan kepada wartawan tersebut. Wartawan tersebut menjawab, “Karena mereka semua adalah orang yang baik hati.” Yu Yuan kemudian berkata : “Tante, saya juga mau menjadi orang yang baik hati.” Wartawan itupun menjawab, “Kamu memang orang yang baik... Orang baik harus saling membantu agar bisa berubah menjadi semakin baik.” Dari bawah bantal tidurnya Yu Yuan mengambil sebuah buku, dan diberikan kepada ke Fu Yuan. “Tante, ini adalah surat wasiat saya.”

Fu Yuan kaget, sekali membuka dan melihat surat tersebut ternyata Yu Yuan telah mengatur tentang pengaturan pemakamannya sendiri. Ini adalah seorang anak yang berumur delapan tahun yang sedang menghadapi sebuah kematian dan di atas ranjang menulis tiga halaman surat wasiat dan dibagi menjadi enam bagian, dengan pembukaan, tante Fu Yuan, dan diakhiri dengan selamat tinggal tante Fu Yuan.

Dalam satu artikel itu nama Fu Yuan muncul tujuh kali dan masih ada sembilan sebutan singkat tante wartawan. Dibelakang ada enam belas sebutan dan ini adalah kata setelah Yu Yuan meninggal. Dan dia juga ingin menyatakan terima kasih serta selamat tinggal kepada orang-orang yang selama ini telah memperhatikan dia lewat surat kabar. “Sampai jumpa tante, kita berjumpa lagi dalam mimpi. Tolong jaga papa saya. Dan sedikit dari dana pengobatan ini bisa dibagikan kepada sekolah saya. Dan katakan ini juga pada pemimpin palang merah. Setelah saya meninggal, biaya pengobatan itu dibagikan kepada orang-orang yang sakit seperti saya. Biar mereka lekas sembuh.” Surat wasiat ini membuat Fu Yuan tidak bisa menahan tangis yang membasahi pipinya.

”Saya pernah datang, saya sangat patuh,” demikianlah kata-kata yang keluar dari bibir Yu Yuan. Pada tanggal 22 Agustus, karena pendarahan di pencernaan hampir satu bulan, Yu Yuan tidak bisa makan dan hanya bisa mengandalkan infus untuk bertahan hidup. Karena berusaha mencari makanan, Yu Yuan mengambil mie instan dan memakannya. Hal ini membuat pendarahan di pencernaan Yu Yuan semakin parah. Dokter dan perawat pun secepatnya memberikan pertolongan darurat dan memberi infus dan transfer darah setelah melihat pendarahan Yu Yuan yang sangat hebat. Dokter dan para perawat pun ikut menangis.

Semua orang ingin membantu meringankan pederitaannya. Tetapi tetap tidak bisa membantunya. Yu Yuan yang telah menderita karena penyakit tersebut akhirnya meninggal dengan tenang. Semua orang tidak bisa menerima kenyataan ini melihat malaikat kecil yang cantik yang suci bagaikan air sungguh telah pergi ke dunia lain.

Di kecamatan She Chuan, sebuah email pun dipenuhi tangisan menghantar kepergian Yu Yuan. Banyak yang mengirimkan ucapan turut berduka cita dengan karangan bunga yang ditumpuk setinggi gunung. Ada seorang pemuda berkata dengan pelan “Anak kecil, kamu sebenarnya adalah malaikat kecil di atas langit, kepakkanlah kedua sayapmu. Terbanglah……………” demikian kata-kata dari seorang pemuda tersebut.

Pada tanggal 26 Agustus, pemakaman Yu Yuan dilaksanakan saat hujan gerimis. Didepan rumah duka, banyak orang-orang berdiri dan menangis mengantar kepergian Yu Yuan. Mereka adalah papa-mama Yu Yuan yang tidak dikenal oleh Yu Yuan semasa hidupnya. Demi Yu Yuan yang menderita karena leukemia dan melepaskan pengobatan demi orang lain, maka datanglah papa mama dari berbagai daerah yang diam-diam mengantarkan kepergian Yu Yuan.

Di depan kuburannya terdapat selembar foto Yu Yuan yang sedang tertawa. Diatas batu nisannya tertulis, “Aku pernah datang dan aku sangat patuh” (30 Nov 1996- 22 Agustus 2005). Dan di belakangnya terukir perjalanan singkat riwayat hidup Yu Yuan. Dua kalimat terakhir adalah di saat dia masih hidup telah menerima kehangatan dari dunia.

Sesuai pesan dari Yu Yuan, sisa dana 540.000 dolar tersebut disumbangkan kepada anak-anak penderita leukimia lainnya. Tujuh anak yang menerima bantuan dana Yu Yuan itu adalah : Shii Li, Huang Zhi Qiang, Liu Ling Lu, Zhang Yu Jie, Gao Jian, Wang Jie. Tujuh anak kecil yang kasihan ini semua berasal dari keluarga tidak mampu. Mereka adalah anak-anak miskin yang berjuang melawan kematian.

Pada tanggal 24 September, anak pertama yang menerima bantuan dari Yu Yuan di rumah sakit Hua Xi berhasil melakukan operasi. Senyuman yang mengambang pun terlukis di raut wajah anak tersebut. “Saya telah menerima bantuan dari kehidupan Anda, terima kasih adik Yu Yuan, kamu pasti sedang melihat kami di atas sana. Jangan risau, kelak di batu nisan, kami juga akan mengukirnya dengan kata-kata: “Aku pernah datang dan aku sangat patuh”.

Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Wednesday, November 26, 2008

Give Thanks to God

Cerita klasik sederhana tentang kebijakan dan kesuksesan yang luar biasa. Alkisah, di sebuah kerajaan, sang raja memiliki kegemaran berburu. Suatu hari, ditemani penasehat dan pengawalnya, sang raja pergi berburu ke hutan. Karena kurang hati-hati, terjadilah kecelakaan, jari kelingking raja terpotong oleh pisau yang sangat tajam. Raja bersedih dan meminta pendapat dari seorang penasihatnya. Sang penasehat mencoba menghibur dengan kata-kata manis, tapi raja tetap sedih.

Karena tidak tahu lagi apa yang mesti diucapkan untuk menghibur raja, akhirnya penasehat itu berkata: "Baginda, FAN SHI GAN JI. Apa pun yang terjadi patut disyukuri". Mendengar ucapan penasehatnya itu sang raja langsung marah besar. "Kurang ajar! Aku kena musibah, bukan dihibur, tapi malah disuruh bersyukur... !" Lalu raja memerintahkan pengawalnya untuk menghukum penasehat tadi dengan hukuman tiga tahun penjara.

Hari terus berganti. Hilangnya jari kelingking ternyata tidak membuat raja menghentikannya berburu. Suatu hari, raja bersama penasehatnya yang baru dan rombongan, berburu ke hutan yang jauh dari istana. Tidak terduga, saat berada di tengah hutan, raja dan penasehatnya tersesat dan terpisah dari rombongan. Tiba-tiba, mereka dihadang oleh orang-orang suku primitif. Keduanya lalu ditangkap dan diarak untuk dijadikan korban persembahan kepada para dewa.

Sebelum dijadikan persembahan kepada para dewa, raja dan penasehatnya dimandikan. Saat giliran raja yang dimandikan, ketahuan kalau salah satu jari kelingkingnya terpotong, yang diartikan sebagai tubuh yang cacat sehingga dianggap tidak layak untuk dijadikan persembahan kepada para dewa. Akhirnya, raja ditendang dan dibebaskan begitu saja oleh orang-orang primitif itu. Dan penasehat barulah yang dijadikan persembahan kepada para dewa.

Dengan susah payah akhirnya raja berhasil keluar dari hutan dan kembali keistana. Setibanya diistana, raja langsung memerintahkan supaya penasehat yang dulu dijatuhinya hukuman penjara segera dibebaskan. "Penasehat ku, aku berterimakasih kepada mu. Nasehatmu ternyata benar, apa pun yang terjadi kita patut bersyukur. Karena jari kelingkingku yang terpotong waktu itu, hari ini aku bisa pulang dengan selamat. . . . " Kemudian raja menceritakan kisah perburuannya waktu itu secara lengkap.

Setelah mendengar cerita sang raja, buru-buru si penasehat berlutut sambil berkata: "Terima kasih, Baginda. Saya juga bersyukur baginda telah memenjarakan saya waktu itu. Karena jika tidak, mungkin sekarang ini, sayalah yang menjadi korban dipersembahkan kepada dewa oleh orang-orang primitif."

Cerita di atas mengajarkan suatu nilai yang sangat mendasar, yaitu FAN SHI GAN JI apa pun yang terjadi, selalu bersyukur, saat kita dalam kondisi maju dan sukses, kita patut bersyukur, saat musibah datang pun kita tetap bersyukur. Dalam proses kehidupan ini, memang tidak selalu bisa berjalan mulus seperti yang kita harapkan. Kadang kita di hadapkan pada kenyataan hidup berupa kekhilafan, kegagalan, penipuan, fitnahan, penyakit, musibah, kebakaran, bencana alam, dan lain sebagainya.

Manusia dengan segala kemajuan berpikir, teknologi, dan kemampuan antisipasinya, senantiasa berusaha mengantisipasi adanya potensi-potensi kegagalan, bahaya, atau musibah. Namun kenyataannya, tidak semua aspek bisa kita kuasai. Ada wilayah 'X' yang keberadaan dan keberlangsungannya sama sekali di luar kendali manusia. Inilah wilayah Tuhan Yang Maha kuasa dengan segala misterinya. Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu! Maka saya sangat setuju sekali dengan kata bijak yang mengatakan: KEBAHAGIAAN DAN KEKAYAAN SEJATI ADA DI RASA BERSYUKUR. . . . (Karya: ANDRIE WONGSO - telah diedit seperlunya dan diposting di http://pentas-kesaksian.blogspot.com - mohon keterangan ini tidak dihilangkan ketika anda memforwardnya kepada orang-orang yang anda pedulikan - xie xie)

Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

*****

Notes: Terima kasih atas pesanan buku "Mukjizat Kehidupan" oleh Ibu Lily di Mid Plaza, buku sudah dikirim dengan Pos Kilat Khusus hari ini, Rabu 26 Desember 2008. Tuhan memberkati!

Three Yellow Roses

Tiga Mawar Kuning
Aku berjalan memasuki toko bahan makanan, tanpa tujuan khusus untuk membeli bahan makanan. Aku tidaklah lapar. Kesedihan karena kehilangan suamiku yang berusia 37 tahun masih membayang. Dan toko bahan makanan ini menyimpan banyak kenangan manis.

Rudy, suamiku, seringkali datang bersamaku dan hampir setiap waktu ia akan berpura-pura pergi untuk mencari sesuatu yang spesial. Aku selalu mengawasinya berjalan di antara rak barang dan dia akan kembali membawa tiga kuntum mawar kuning di tangannya.
Rudy tahu bahwa aku menyukai mawar kuning.

Dengan hati yang penuh duka, aku hanya ingin membeli beberapa barang dan pergi, namun berbelanja bahan makanan ini menjadi berbeda sejak kepergian Rudy. Berbelanja sendirian membutuhkan waktu dan pikiran lebih banyak dibandingkan dengan berbelanja bersama Rudy. Ketika aku berdiri di muka tempat daging, aku mencari-cari daging steak kecil yang paling sesuai dan aku masih ingat betapa Rudy menyukai daging steak.

Tiba-tiba seorang wanita datang di sampingku. Ia berambut pirang, ramping dan cantik memakai celana panjang hijau muda. Aku mengawasinya ketika ia mengambil satu pak T-bone yang besar, menaruhnya di troly-nya, lalu bimbang ingin mengembalikannya, dan akhirnya menaruh lagi di keranjangnya. Ia berbalik pergi dan sekali lagi meraih bungkusan daging steak. Ia melihat ke arahku yang memandanginya dan ia tersenyum. “Suamiku suka sekali T-bones, tetapi jujur saja, dengan harga yang demikian mahal, aku tidak tahu.”

Aku berusaha menahan perasaanku dan memandang matanya yang biru muda. “Suamiku meninggal delapan hari lalu,” kataku kepadanya. Sambil menoleh ke arah bungkusan di tangan wanita itu, aku berjuang untuk menahan getaran suaraku. “Belikan saja daging steak itu. Dan nikmati setiap waktu yang kalian miliki bersama.”

Ia menggelengkan kepala dan aku melihat emosi di matanya ketika ia menaruh bungkusan daging steak ini ke dalam troly-nya dan berlalu. Aku berbalik dan mendorong kereta belanjaanku sepanjang gang menuju bagian produk susu. Di sana aku berdiri, mencoba memutuskan berapa ukuran susu yang aku harus beli. Satu kuart, akhirnya aku memutuskan dan berpindah ke bagian es krim dekat bagian depan toko itu.

Kalau tidak ada apa-apa, aku selalu langsung memakan es krim dalam cone itu. Aku menaruh es krim itu ke dalam kereta belanjaan dan memandang ke depan menuju ke depan toko. Aku melihat mula-mula celana panjang hijau mudanya, kemudian menyadari bahwa wanita cantik itu menuju ke arahku.

Di tangannya ia membawa bungkusan. Di wajahnya ada senyum yang paling cerah yang pernah aku lihat. Aku bayangkan ada lingkaran cahaya halo yang lembut mengelilingi rambutnya yang pirang ketika ia terus berjalan ke arahku, sementara matanya terus terpaku ke arahku. Ketika ia sampai di dekatku, aku melihat apa yang ia bawa dan airmata mulai bergayut di mataku.

“Ini buat anda!” katanya dan meletakkan tiga kuntum bunga mawar kuning yang indah di tanganku. “Kalau anda melewati kasir, mereka akan tahu bahwa mawar ini sudah dibayar.”

Ia mendekatiku dan memberi ciuman lembut di pipiku, kemudian tersenyum kembali. Aku ingin memberitahu kepadanya apa yang ia telah lakukan, apa arti mawar kuning itu bagiku, namun kata-kataku tercekat di tenggorokanku. Aku hanya dapat memandanginya berlalu sementara airmata menutupi pandanganku.

Aku memandangi mawar kuning itu yang dibungkus dengan bungkus hijau dan aku hampir tak mempercayai bahwa itu adalah sesuatu yang nyata. Bagaimana wanita itu tahu kesukaanku?

Tiba-tiba jawaban itu nampaknya begitu jelas. Aku tidak sendirian. “Oh, Rudy, engkau tidak melupakanku, bukan?” kataku berbisik dengan berlinangan airmata. Rudy masih peduli kepadaku dan wanita itu adalah malaikat yang dikirim Rudy untuk memberikan mawar kuning ini.

Bersyukurlah setiap hari atas apa yang engkau miliki dan atas dirimu! Masuklah melalui pintu gerbang-Nya dengan nyanyian syukur, ke dalam pelataran-Nya dengan puji-pujian, bersyukurlah kepada-Nya dan pujilah nama-Nya! Sebab TUHAN itu baik, kasih setia-Nya untuk selama-lamanya, dan kesetiaan-Nya tetap turun-temurun.
(Sumber: Inspirational Nursing - diterjemahkan oleh Hadi Kristadi untuk http://pentas-kesaksian.blogspot.com - mohon keterangan ini jangan dihilangkan ketika anda memforwardnya untuk memberkati orang-orang yang anda pedulikan - terima kasih banyak)


*****

The Three Yellow Roses
I walked into the grocery store not particularly interested in buying groceries. I wasn't hungry. The pain of losing my husband of 37 years was still too raw. And this grocery store held so many sweet memories.

Rudy often came with me and almost every time he'd pretend to go off and look for something special. I knew what he was up to. I'd always spot him walking down the aisle with the three yellow roses in his hands.

Rudy knew I loved yellow roses.

With a heart filled with grief, I only wanted to buy my few items and leave, but even grocery shopping was different since Rudy had passed on.
Shopping for one took time, a little more thought than it had for two. Standing by the meat, I searched for the perfect small steak and remembered how Rudy had loved his steak.

Suddenly a woman came beside me. She was blond, slim and lovely in a soft green pantsuit. I watched as she picked up a large pack of T-bones, dropped them in her basket, hesitated, and then put them back. She turned to go and once again reached for the pack of steaks. She saw me watching her and she smiled. "My husband loves T-bones, but honestly, at these prices, I don't know."

I swallowed the emotion down my throat and met her pale blue eyes. "My husband passed away eight days ago," I told her. Glancing at the package in her hands, I fought to control the tremble in my voice. "Buy him the steaks. And cherish every moment you have together."

She shook her head and I saw the emotion in her eyes as she placed the package in her basket and wheeled away. I turned and pushed my cart across the length of the store to the dairy products. There I stood, trying to decide which size milk I should buy. A quart, I finally decided and moved on to the ice cream section near the front of the store.

If nothing else, I could always fix myself an ice cream cone. I placed the ice cream in my cart and looked down the aisle toward the front. I saw first the green suit, then recognized the pretty lady coming towards me.

In her arms she carried a package. On her face was the brightest smile I had ever seen. I would swear a soft halo encircled her blond hair as she kept walking toward me, her eyes holding mine. As she came closer, I saw what she held and tears began misting in my yes.

"These are for you," she said and placed three beautiful long stemmed yellow roses in my arms. "When you go through the line, they will know these are paid for."
She leaned over and placed a gentle kiss on my cheek, then smiled again. I wanted to tell her what she'd done, what the roses meant, but still unable to speak, I watched as she walked away as tears clouded my vision.

I looked down at the beautiful roses nestled in the green tissue wrapping and found it almost unreal. How did she know?

Suddenly the answer seemed so clear. I wasn't alone. "Oh, Rudy, you haven't forgotten me, have you?" I whispered, with tears in my eyes. He was still with me, and she was his angel.

Everyday be thankful for what you have and who you are.

Ditulis oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Cure for Sorrow

Obat Duka
Ada sebuah dongeng kuno dari negeri Cina tentang seorang wanita yang anak tunggalnya meninggal. Dalam kesedihannya, ia pergi mengunjungi seorang pria bijak dan berkata, “Doa apa atau resep ajaib apa yang dapat Bapak berikan untuk membangkitkan anak saya yang telah mati?”

Ketimbang menyuruhnya pulang atau berdebat dengan wanita ini, sang pria bijak berkata kepadanya, “Ambilkan aku satu biji sesawi dari dalam rumah orang yang tidak pernah mengenal kesedihan.” Wanita itu segera pergi untuk mencari biji sesawi ajaib itu.

Mula-mula ia mendatangi sebuah rumah mewah, mengetuk pintunya, dan berkata, “Saya sedang mencari rumah yang tidak pernah mengenal kesedihan. Apakah di sini tempatnya? Hal ini sangat penting bagi saya.”

Mereka memberitahu perempuan itu, “Engkau mendatangi rumah yang keliru,” dan mereka mulai bercerita tentang segala hal tragis yang belakangan menimpa penghuni rumah tersebut.

Wanita itu mengatakan kepada dirinya sendiri, “Siapakah yang lebih sanggup menolong orang-orang malang dan kurang beruntung ini selain saya yang telah mengalami ketidak-beruntungan saya sendiri?” Akhirnya wanita itu tinggal bersama mereka untuk menghibur mereka, kemudian setelah itu pergi lagi untuk mencari sebuah rumah yang tidak pernah mengenal kesedihan. Namun kemanapun ia pergi, di rumah gubuk, rumah mewah, atau tempat lain, ia menemukan kisah sedih dan kekurang-beruntungan. Ia begitu terlibat dalam pelayanan kepada orang-orang yang sedang bersedih sehingga akhirnya ia melupakan pencariannya terhadap biji sesawi ajaib itu, tanpa menyadari bahwa hal itu telah mengusir kesedihan keluar dari kehidupannya.

"Terpujilah Bapa yang penuh belas kasihan dan Bapa sumber segala penghiburan, yang menghibur kami dalam segala penderitaan kami, sehingga kami sanggup menghibur mereka, yang berada dalam bermacam-macam penderitaan dengan penghiburan yang kami terima sendiri dari Bapa. Sebab sama seperti kami mendapat bagian berlimpah-limpah dalam kesengsaraan Kristus, demikian pula oleh Kristus kami menerima penghiburan berlimpah-limpah. Jika kami menderita, hal itu menjadi penghiburan dan keselamatan kamu; jika kami dihibur, maka hal itu adalah untuk penghiburan kamu, sehingga kamu beroleh kekuatan untuk dengan sabar menderita kesengsaraan yang sama seperti yang kami derita juga."

(Naskah asli dalam bahasa Inggeris ditulis oleh Brian Cavanaugh, diterjemahkan oleh Hadi Kristadi untuk http://pentas-kesaksian.blogspot.com - mohon keterangan ini tak dihilangkan ketika anda memforwardnya kepada orang-orang yang anda ingin berkati - terima kasih)

*****

Cure for Sorrow
There is an old Chinese tale about a woman whose only son died. In her grief, she went to the holy man and said, "What prayers, what magical incantations do you have to bring my son back to life?"

Instead of sending her away or reasoning with her, he said to her, "Fetch me a mustard seed from a home that has never known sorrow. We will use it to drive the sorrow out of your life." The woman went off at once in search of that magical mustard seed.

She came first to a splendid mansion, knocked at the door, and said, "I am looking for a home that has never known sorrow. Is this such a place? It is very important to me."

They told her, "You've certainly come to the wrong place," and began to describe all the tragic things that recently had befallen them.

The woman said to herself, "Who is better able to help these poor, unfortunate people that I, who have had misfortune of my my own?" She stayed to comfort them, then went on in search of a home that had never known sorrow. But wherever she turned, in hovels and in other places, she found one tale after another of sadness and misfortune. She became so involved in ministering to other people's grief that ultimately she forgot about her quest for the magical mustard seed, never realizing that it had, in fact, driven the sorrow out of her life. (Brian Cavanaugh, T.O.R., The Sower's Seeds)

Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

*****
Note: Terima kasih atas pesanan buku "Mukjizat Kehidupan" oleh Bapak Tjong di Lippo Cikarang, dan juga kepada Ibu Mila di Jakarta yang telah memesan lima eksemplar buku tersebut. Buku segera dikirim hari Rabu pagi (26/11/08). Kiranya Tuhan memberkati Bapak & Ibu sekalian!

The Beautitude of the Marriage

BLESSED are the husband and wife who continue to be affectionate and considerate, loving after the wedding bells have ceased ringing.

BLESSED are the husband and wife who are as polite and courteous to one another as they are to their friends.

BLESSED are they who have a sense of humor, for this attribute will be a handy shock absorber.

BLESSED are they who love their mates more than any other person in the world and who joyfully fulfill their marriage vows of lifetime of fidelity and mutual helpfulness to one another.

BLESSED are they who attain parenthood, for children are a heritage of the Lord.

BLESSED are they who remember to thank God for their food before they partake of it, and who set apart some time each day for the reading of the Bible and for prayer.

BLESSED are those mates who never speak loudly to one another and who make their home a place where "seldom is heard a discouraging word."

BLESSED are the husband and wife who faithfully attend the worship service of the church and who work together in the church for the advancement of Christ's Kingdom.

BLESSED are the husband and wife who can work out problems of adjustments without interference from relatives.

BLESSED is the couple who has a complete understanding about financial matters and who has worked out a perfect partnership with all money under the control of both.

BLESSED are the husband and wife who humbly dedicate their lives and their home to Christ and who practice the teachings of Christ in the home by being unselfish, loyal, and loving.
Author unknown

Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Tuesday, November 25, 2008

Personal Note

I Love Pentas Kesaksian Blogspot

Nama saya Treshia, biasa dipanggil eCha. Salam kenal..^^
saya sangat menyukai website http://pentas-kesaksian.blogspot.com/ & selalu mengunjunginya secara berkala..(hahaha..ngomongnya formal banget..=p yah tapi itu intinya)

eCha juga sering copy artikel dari web Kak Hadi di blog eCha http://3cha.wordpress.com tapi tetep ada state sumbernya koq..^^

anyway..keep posting ya..biar eCha bisa keep dapat info yg menghangatkan hati.. hehehe....GBU! (eCha)

Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

The Sentence of Power

Kalimat yang Menguatkan
Pernahkah anda mengalami apa yang saya alami, dimana ketika saya merasa sangat lemah dihimpit oleh beban hidup, tiba-tiba hati saya menangkap sepotong kalimat yang membangkitkan iman dan pengharapan saya? Kalimat yang saya sebut sebagai “kalimat yang menguatkan” itu bisa didapatkan ketika membaca firman Tuhan ataupun ketika mendengar sharing dari seseorang. "Kalimat yang menguatkan" adalah suatu kalimat yang tegas dan lugas, yang menumbuhkan pengharapan di dalam hati kita akan suatu perubahan, dari keadaan buruk ke arah keadaan yang lebih baik.

Seorang dokter jantung takjub melihat perkembangan pesat yang dialami oleh seorang pasiennya. Terakhir kali ia melihat wanita itu terbaring parah dengan masker oksigen yang diperkirakan akan dilepas ketika ia sudah tak bernyawa lagi. Rasa penasaran membuatnya bertanya, apa rahasianya sehingga wanita itu sekarang sangat sehat. “Saat itu saya yakin bahwa waktu saya sudah dekat. Saya melihat bahwa anda dan staf anda sudah angkat tangan. Namun pada hari Kamis pagi ketika anda dan staf anda masuk, saya menangkap sesuatu yang mengubah pola pikir saya. Setelah anda mendengarkan jantung saya, saya mendengar anda berkata kepada semua orang yang mengelilingi tempat tidur saya bahwa jantung saya memiliki "derap yang bertenaga". Ketika saya mendengar bahwa jantung saya memiliki "derap yang bertenaga", saya mengerti kalau saya masih memiliki banyak tenaga di jantung saya, artinya saya tidak sedang sekarat. Saat itulah semangat saya untuk pertama kalinya bangkit. Saya memutuskan untuk berharap kepada Tuhan dan berjuang demi hidup,” katanya menjelaskan.

Dokter ahli jantung itu manggut-manggut sambil tersenyum. Hatinya kagum akan kekuatan iman dan pengharapan yang membawa mukjizat dalam kehidupan wanita itu. Dokter itu tersenyum sendiri karena ia tidak pernah menjelaskan bahwa dalam ilmu kedokteran, yang dimaksud dengan “derap yang bertenaga” adalah suatu tanda buruk yang menandakan otot jantung sedang tegang dan biasanya denyutnya segera akan berakhir. Istilah negatif yang disampaikan dokter tersebut telah ditangkap wanita itu secara positif, sehingga menjadi “kalimat yang menguatkan”, yang membuatnya bangkit dan sembuh.

Apabila anda sedang terhimpit masalah dan membutuhkan kalimat yang menguatkan, bacalah firman Tuhan karena iman timbul dari pendengaran akan firman Tuhan. Ketika anda merenungkan firman itu, maka hati dan pikiran anda akan menangkap, paling tidak satu “kalimat yang menguatkan”, yang akan membuat pengharapan anda bangkit. (Sumber: Renungan Harian Manna Sorgawi edisi Oktober 2008)

Note: Renungan Harian Manna Sorgawi dirintis dan diterbitkan oleh teman saya, Bapak Erich Unarto S.E (FEUI 1977), yang saat ini oplaagnya mencapai hampir 100.000 exemplar setiap bulan. Beliau juga turut memeriksa draft akhir buku "Mukjizat Kehidupan" yang saya terbitkan.

Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Monday, November 24, 2008

The Faith of A Child

Beberapa tahun yang lalu, di antara banyak e-mails yang saya terima melalui sebuah milis kristiani di Indonesia, saya membaca sebuah ceritera fiksi yang sangat menggelitik hati mengenai iman seorang anak kecil bernama Rio. Saya tidak bisa melupakan isi ceriteranya yang dengan jitu sekali mengilustrasikan pernyataan Yesus kepada murid-murid-Nya di ketiga Injil itu mengenai iman seorang anak kecil, tetapi … dalam bentuk humor.

Kisah tersebut dimulai dengan hasrat Rio yang amat besar untuk bisa melanjutkan sekolahnya. Tetapi orang tuanya tidak mampu untuk membiayai keinginannya. Selain itu ibunya yang sedang sakit membutuhkan banyak biaya untuk pengobatannya.

Setelah mempertimbangkan cukup lama, dengan iman Rio memutuskan diri untuk menulis surat kepada Tuhan:

Kepada Yang Terhormat
Tuhan di Sorga

Tuhan, namaku Rio. Aku ingin meneruskan sekolahku, tetapi orang tuaku tidak mempunyai uang. Ibuku juga sakit, sehingga biaya keperluan rumah tangga kami menjadi semakin meningkat.

Tuhan, aku membutuhkan uang Rp 200.000 untuk membeli obat ibuku, Rp 200.000 untuk membayar uang sekolahku, Rp 100.000 untuk membayar seragamku, sedangkan Rp 100.000 untuk membayar harga buku-bukuku. Jadi jumlah uang yang aku butuhkan dari-Mu saat ini hanya Rp 600.000 saja.

Terima kasih, Tuhan. Aku akan menantikan uang kiriman-Mu dengan sabar.
Dari Rio


Rio segera pergi ke kantor pos untuk mengirimkan suratnya. Membaca alamat yang tertulis di sampulnya, petugas kantor pos merasa iba sekali, sehingga ia tidak tega untuk mengembalikan surat itu kepada Rio. Bingung menentukan apa yang harus ia lakukan, akhirnya petugas kantor pos tersebut menyerahkan suratnya ke kantor polisi di seberang jalan.

Membuka dan membaca isi surat tulisan Rio, komandan polisi pun menjadi terharu sekali. Ia menceritakannya kepada seluruh anak buahnya. Lalu bersama-sama mereka mengambil keputusan untuk mengumpulkan uang bagi Rio. Setelah dihitung, ternyata dana yang berhasil mereka kumpulkan hanya berjumlah Rp 540.000 saja.

Sang Komandan menyelipkan uang itu ke dalam sebuah amplop, dan menulis di sampulnya: “Untuk Rio, dari Tuhan di sorga”. Lalu ia memerintahkan bawahannya untuk mengantar dan menyerahkan bingkisan kecil tersebut secara pribadi kepada Rio.

Ketika menerima dan menghitung jumlah uang yang diterima olehnya, di samping merasa senang karena permintaannya telah dikabulkan oleh Tuhan, Rio merasa sangat tidak puas. Ia mengambil secarik kertas, lalu menulis surat lagi kepada Tuhan:

“Tuhan, lain kali kalau Engkau mengirimkan uang kepadaku, jangan lewat polisi dong. Karena uang kiriman-Mu sudah dipotong 10 persen oleh mereka. Rio”

RIO REALLY ROCKS! (Ditulis oleh John Adisubrata, November 2008, diterima dari Milis Sahabat Kristen.)

Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

A Love Story in the Wallet

Kisah Cinta Dalam Sebuah Dompet

Ketika aku berjalan kaki pulang ke rumah di suatu hari yang dingin, kakiku tersandung sebuah dompet yang tampaknya terjatuh tanpa sepengetahuan pemiliknya. Aku memungut dan melihat isi dompet itu kalau-kalau aku bisa menghubungi pemiliknya. Tapi, dompet itu hanya berisi uang sejumlah tiga Dollar dan selembar surat kusut yang sepertinya sudah bertahun-tahun tersimpan di dalamnya.

Satu-satunya yang tertera pada amplop surat itu adalah alamat si pengirim. Aku membuka isinya sambil berharap bisa menemukan petunjuk. Lalu aku baca tahun "1924". Ternyata surat itu ditulis lebih dari 60 tahun yang lalu. Surat itu ditulis dengan tulisan tangan yang anggun di atas kertas biru lembut yang berhiaskan bunga-bunga kecil di sudut kirinya. Tertulis di sana, "Sayangku Michael", yang menunjukkan kepada siapa surat itu ditulis yang ternyata bernama Michael. Penulis surat itu menyatakan bahwa ia tidak bisa bertemu dengan Michael lagi karena ibunya telah melarangnya. Tapi, meski begitu ia masih tetap mencintainya. Surat itu ditanda tangani oleh Hannah.

Surat itu begitu indah. Tetapi tetap saja aku tidak bisa menemukan siapa nama pemilik dompet itu. Mungkin bila aku menelepon bagian penerangan, mereka bisa memberitahu nomor telepon alamat yang ada pada amplop itu.

"Operator," kataku pada bagian penerangan, "Saya mempunyai permintaan yang agak tidak biasa. Saya sedang berusaha mencari tahu pemilik dompet yang saya temukan di jalan. Barangkali anda bisa membantu saya memberikan nomor telepon atas alamat yang ada pada surat yang saya temukan dalam dompet tersebut?" Operator itu menyarankan agar aku berbicara dengan atasannya, yang tampaknya tidak begitu suka dengan pekerjaan tambahan ini.

Kemudian ia berkata, "Kami mempunyai nomor telepon alamat tersebut, namun kami tidak bisa memberitahukannya kepada anda." Demi kesopanan, katanya, ia akan menghubungi nomor tersebut, menjelaskan apa yang saya temukan dan menanyakan apakah mereka berkenan untuk berbicara denganku. Aku menunggu beberapa menit. Tak berapa lama ia menghubungiku, katanya, " Ada orang yang ingin berbicara dengan anda." Lalu aku tanyakan pada wanita yang ada di ujung telepon sana, apakah ia mengetahui seseorang bernama Hannah. Ia menarik nafas, "Oh, kami membeli rumah ini dari keluarga yang memiliki anak perempuan bernama Hannah. Tapi, itu 30 tahun yang lalu !"

"Apakah anda tahu dimana keluarga itu berada sekarang?" tanyaku. "Yang aku ingat, Hannah telah menitipkan ibunya di sebuah panti jompo beberapa tahun lalu," kata wanita itu. "Mungkin, bila anda menghubunginya mereka bisa mencari tahu dimana Hannah, berada."

Lalu ia memberiku nama panti jompo tersebut. Ketika aku menelepon ke sana, mereka mengatakan bahwa wanita tua itu, ibu Hannah, yang aku maksud sudah lama meninggal dunia. Tapi mereka masih menyimpan nomor telepon rumah dimana anak wanita itu tinggal.

Aku mengucapkan terima kasih dan menelepon nomor yang mereka berikan. Kemudian, di ujung telepon sana, seorang wanita mengatakan bahwa Hannah sekarang tinggal di sebuah panti jompo. "Semua ini tampaknya konyol," kataku pada diriku sendiri. Mengapa pula aku mau repot-repot menemukan pemilik dompet yang hanya berisi tiga Dollar dan surat yang ditulis lebih dari 60 tahun yang lalu? Tapi, bagaimanapun aku menelepon panti jompo tempat Hannah sekarang berada. Seorang pria yang menerima teleponku mengatakan, "Ya, Hannah memang tinggal bersama kami." Meski waktu itu sudah menunjukkan pukul 10 malam, aku meminta agar bisa menemui Hannah.

"Ok," kata pria itu agak bersungut-sungut,

"Bila anda mau, mungkin ia sekarang sedang menonton TV di ruang tengah." Aku mengucapkan terima kasih dan segera berkendaraan ke panti jompo tersebut. Gedung panti jompo itu sangat besar. Penjaga dan perawat yang berdinas malam menyambutku di pintu. Lalu, kami naik ke lantai tiga. Di ruang tengah, perawat itu memperkenalkan aku dengan Hannah. Ia tampak manis, rambut ubannya keperak-perakan, senyumnya hangat dan matanya bersinar-sinar.

Aku menceritakan padanya mengenai dompet yang aku temukan. Aku pun menunjukkan padanya surat yang ditulisnya. Ketika ia melihat amplop surat berwarna biru lembut dengan bunga-bunga kecil di sudut kiri, ia menarik nafas dalam-dalam dan berkata, "Anak muda, surat ini adalah hubunganku yang terakhir dengan Michael." Matanya memandang jauh, merenung dalam-dalam. Katanya dengan lembut, "Aku amat-amat mencintainya. Saat itu aku baru berusia 16 tahun, dan ibuku menganggap aku masih terlalu kecil. Oh, ia sangat tampan. Ia seperti Sean Connery, si aktor itu."

"Ya," lanjutnya.. "Michael Goldstein adalah pria yang luar biasa. Bila kau bertemu dengannya, katakan bahwa aku selalu memikirkannya, dan ...," Ia ragu untuk melanjutkan, sambil menggigit bibir ia berkata, "Katakan, aku masih mencintainya. Tahukah kau, anak muda," katanya sambil tersenyum. Kini air matanya mengalir, "Aku tidak pernah menikah selama ini. Aku pikir, tak ada seorang pun yang bisa menyamai Michael."

Aku berterima kasih pada Hannah dan mengucapkan selamat tinggal. Aku menuruni tangga ke lantai bawah. Ketika melangkah keluar pintu, penjaga di sana menyapa, "Apakah wanita tua itu bisa membantu anda?" Aku sampaikan bahwa Hannah hanya memberikan sebuah petunjuk, "Aku hanya mendapatkan nama belakang pemilik dompet ini. Aku pikir, aku biarkan sajalah dompet ini untuk sejenak. Aku sudah menghabiskan hampir seluruh hariku untuk menemukan pemilik dompet ini."

Aku keluarkan dompet itu, dompet kulit dengan benang merah di sisi-sisinya. Ketika penjaga itu melihatnya, ia berseru, "Hei, tunggu dulu! Itu adalah dompet Pak Goldstein! Aku tahu persis dompet dengan benang merah terang itu. Ia selalu kehilangan dompet itu. Aku sendiri pernah menemukan dompet itu tiga kali di dalam gedung ini." "Siapakah Pak Goldstein itu?" tanyaku. Tanganku mulai gemetar. "Ia adalah penghuni lama gedung ini. Ia tinggal di lantai delapan. Aku tahu pasti, itu adalah dompet Mike Goldstein. Ia pasti menjatuhkannya ketika sedang berjalan-jalan di luar."

Aku berterima kasih pada penjaga itu dan segera lari ke kantor perawat. Aku ceritakan pada perawat di sana apa yang telah dikatakan oleh si penjaga. Lalu, kami kembali ke tangga dan bergegas ke lantai delapan. Aku berharap Pak Goldstein masih belum tertidur. Ketika sampai di lantai delapan, perawat berkata, "Aku pikir ia masih berada di ruang tengah. Ia suka membaca di malam hari. Ia adalah pak tua yang menyenangkan. "

Kami menuju ke satu-satunya ruangan yang lampunya masih menyala. Di sana duduklah seorang pria membaca buku. Perawat mendekati pria itu dan menanyakan apakah ia telah kehilangan dompet. Pak Goldstein memandang dengan terkejut. Ia lalu meraba saku belakangnya dan berkata, "Oh ya, dompetku hilang!" Perawat itu berkata, "Tuan muda yang baik ini telah menemukan sebuah dompet. Mungkin dompet anda?"

Aku menyerahkan dompet itu pada Pak Goldstein. Ia tersenyum gembira. Katanya, "Ya, ini dompetku! Pasti terjatuh tadi sore. Aku akan memberimu hadiah." "Ah tak usah," kataku. "Tapi aku harus menceritakan sesuatu pada anda. Aku telah membaca surat yang ada di dalam dompet itu dengan harap aku mengetahui siapakah pemilik dompet ini." Senyumnya langsung menghilang. "Kamu membaca surat ini?" "Bukan hanya membaca, aku kira aku tahu dimana Hannah sekarang."

Wajahnya tiba-tiba pucat. "Hannah? Kau tahu dimana ia sekarang? Bagaimana kabarnya? Apakah ia masih secantik dulu? Katakan, katakan padaku," ia memohon. "Ia baik-baik saja, dan masih tetap secantik seperti saat anda mengenalnya," kataku lembut. Lelaki tua itu tersenyum dan meminta, "Maukah anda mengatakan padaku dimana ia sekarang? Aku akan meneleponnya esok." Ia menggenggam tanganku, "Tahukah kau anak muda, aku masih mencintainya. Dan saat surat itu datang, hidupku terasa berhenti. Aku belum pernah menikah, aku selalu mencintainya." "Michael," kataku, "Ayo ikuti aku."

Lalu kami menuruni tangga ke lantai tiga. Lorong-lorong gedung itu sudah gelap. Hanya satu atau dua lampu kecil menyala menerangi jalan kami menuju ruang tengah di mana Hannah masih duduk sendiri menonton TV. Perawat mendekatinya perlahan. "Hannah," kata perawat itu lembut. Ia menunjuk ke arah Michael yang sedang berdiri di sampingku di pintu masuk. "Apakah anda tahu pria ini?" Hannah membetulkan kacamatanya, melihat sejenak, dan terdiam tidak mengucapkan sepatah katapun. Michael berkata pelan, hampir-hampir berbisik, "Hannah, ini aku, Michael. Apakah kau masih ingat padaku?" Hannah gemetar, "Michael! Aku tak percaya. Michael! Kau! Michaelku!" Michael berjalan perlahan ke arah Hannah. Mereka lalu berpelukan. Perawat dan aku meninggalkan mereka dengan air mata menitik di wajah kami.

"Lihatlah," kataku. "Lihatlah, bagaimana Tuhan berkehendak. Bila Ia berkehendak, maka jadilah." Sekitar tiga minggu kemudian, di kantor aku mendapat telepon dari rumah panti jompo itu. "Apakah anda berkenan untuk hadir di sebuah pesta pernikahan di hari Minggu mendatang? Michael dan Hannah akan menikah!" Dan pernikahan itu, pernikahan yang indah. Semua orang di panti jompo itu mengenakan pakaian terbaik mereka untuk ikut merayakan pesta. Hannah mengenakan pakaian abu-abu terang dan tampak cantik. Sedangkan Michael mengenakan jas hitam dan berdiri tegak. Mereka menjadikan aku sebagai wali mereka.

Rumah panti jompo memberi hadiah kamar bagi mereka. Dan bila anda ingin melihat bagaimana sepasang pengantin berusia 76 dan 79 tahun bertingkah seperti anak remaja, anda harus melihat pernikahan pasangan ini. Akhir yang sempurna dari sebuah hubungan cinta yang tak pernah padam selama 69 tahun. (Sumber: Milis Idaarimurti)

Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

The Intelligent Woman (Humour)

Wanita Cerdik - Humor
Sebelas orang sedang bergantung di tali penyelamat di bawah helikopter, sepuluh pria dan seorang wanita. Tali itu tidak cukup kuat untuk membawa mereka semua. Maka mereka memutuskan bahwa salah seorang di antara mereka harus melepaskan pegangannya dari tali itu, kalau tidak, semuanya akan jatuh.

Mereka tidak sanggup menentukan siapa orang itu, sampai wanita itu memberikan pidato yang sangat menyentuh hati. Ia berkata bahwa ia akan dengan sukarela menjatuhkan diri dari tali itu, karena sebagai seorang wanita, ia telah terbiasa memberikan segalanya bagi suami dan anak-anaknya, atau bagi kaum pria secara umum, dan bahwa ia telah terbiasa berkorban tanpa pamrih.

Segera setelah wanita itu berhenti pidato, semua pria yang bergelantungan di tali itu pada bertepuk tangan.... dan jatuhlah para pria idiot itu!

PS: Sampaikan email ini kepada para wanita yang cerdik agar mereka mendapat alasan untuk tersenyum hari ini! (diterjemahkan oleh Hadi Kristadi untuk http://pentas-kesaksian.blogspot.com - mohon jangan hilangkan bagian ini ketika anda memforwardnya - terima kasih)

****

11 People on a Rope
Eleven people were hanging on a rope under a helicopter, ten men and one woman. The rope was not strong enough to carry them all. So they decided that one had to leave, because otherwise they were all going to fall.

They weren't able to name that person, until the woman gave a very touching speech. She said that she would voluntarily let go off the rope, because, as a woman, she was used to giving up everything for her husband and kids, or for men in general, and was used to always making sacrifices with little in return.

As soon as she finished her speech, all the men started clapping their hands, then . . . . . . .

PLEASE SEND THIS MAIL TO AN INTELLIGENT WOMAN, SO THAT SHE HAS SOMETHING TO SMILE ABOUT TODAY!

Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

The Greener Grass Syndrome

Nancy Anderson mengatakan bahwa ia pernah menjadi suam-suam kuku dalam imannya dan oleh karena itu ia mempercayai dusta dunia: “Aku berhak untuk merasa bahagia.” Hal ini mengarahkannya pada perselingkuhan yang hampir mengakhiri pernikahannya. Ia menulis buku “Menghindari Sindrom Rumput Tetangga yang Lebih Hijau” agar kisah ketidak-setiaannya tidak menjadi kisah orang lain.

Di dalam bukunya Nancy mengajukan enam tindakan yang dapat membangun pagar untuk melindungi pernikahan anda dan untuk membantu membuat pernikahan anda menjadi luar biasa:

Dengarkan – berikan telinga yang mendengar terhadap pasangan anda.
Doronglah – bangunlah pasangan anda dengan memusatkan pada segi-segi positifnya.
Kencan – rayakan pernikahan anda dengan bemain dan tertawa bersama.
Lindungi – buatlah pelindung dengan menentukan batas-batas yang jelas.
Pelajari – kenalilah pasangan anda sampai anda sungguh-sungguh memahaminya.
Puaskan – penuhi kebutuhan satu sama lain.

Rumput di rumah tetangga mungkin nampak lebih hijau, tetapi hanya kesetiaan anda terhadap Bapa Sorgawi dan komitmen anda terhadap pasangan anda yang akan membawa damai dan kepuasan batin anda.

Ketika anda menghindari sindrom "rumput tetangga yang lebih hijau" dengan mengasihi dan menghormati pasangan anda, maka pernikahan anda akan mencerminkan gambaran pernikahan Kristus dengan gereja-Nya bagi orang-orang di sekitar anda (Efesus 5:31-32) – ditulis oleh Anne Cetas di "Our Daily Bread Agustus 2006", diterjemahkan oleh Hadi Kristadi untuk http://pentas-kesaksian.blogspot.com.

*****

Nancy Anderson says she grew lukewarm in her faith and thus believed the world’s lie: “I deserve to be happy.” This led to an extramarital affair that nearly ended her marriage. She wrote her book Avoiding The Greener Grass Syndrome to help keep her painful story of infidelity from “becoming someone else’s story.”

In her book, Nancy offers six action suggestions on how to build “hedges” to protect your marriage and to help make “a good marriage great”:

Hear—give a listening ear to your spouse.
Encourage—build up your spouse by focusing on positive qualities.
Date—celebrate your marriage by playing and laughing together.
Guard—establish safeguards by setting clear boundaries.
Educate—study your mate to truly understand him or her.
Satisfy—meet each other’s needs.

The grass on the other side of the fence may look greener, but faithfulness to God and commitment to your spouse alone bring peace of mind and satisfaction.

When you avoid the greener-grass syndrome by loving and respecting your spouse, your marriage will be a picture of Christ and His church to those around you (Ephesians 5:31-32). — Anne Cetas

When you look at someone else’s life,
Thinking that it’s better than your own,
Just remember what God’s given you
Was designed for you alone. —Hess


Jesus Christ is the only third party in a marriage who can make it work.

Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Friday, November 21, 2008

The Magnet of Blessings

Saya tidak tahu harus bersikap bagaimana. Saya membaca pesan pada HP saya. "Ms. Chiqui Lara, jam 7:30 pagi, Hotel Intercontinental." Saya akan makan pagi bersama Presiden dan CEO sebuah perusahaan multi-nasional yang berbasis di London. Saya mulai berandai-andai. Saya membayangkan wanita yang menduduki jabatan Presiden ini pastilah seorang yang berpostur tinggi, impresif, wanita hebat dalam balutan setelan berwarna gelap, bersepatu tumit tinggi, lengkap dengan tas kantor dari kulit.

Saya sangat kaget ketika berjalan masuk seorang wanita yang usianya terlihat tidak lebih dari kepala 5 (menurut saya), mengenakan blus putih polos, celana panjang hitam, dan sebuah senyuman yang lembut. Tanpa make-up. Tanpa perhiasan. Tanpa tas kantor. Ia menghampiri saya dan mengulurkan tangannya, juga tidak bercat kuku. Segera, saya merasakan sesuatu yang spesial dari wanita ini. Apakah itu kedamaian batin? Saya baru tahu mengapa setelahnya.

Dua tahun lalu, Chiqui didiagnosa terkena kanker. "Persisnya dua kanker utama," katanya. Artinya dua tumor ganas tumbuh dalam ovarium dan rahimnya pada saat yang bersamaan. Semua orang mengira akan melihat seorang wanita yang hancur. Namun sebaliknya, justru pada masa pencobaan itu orang-orang melihat betapa luar biasa positifnya Chiqui.

Mata saya mulai basah (yang saya seka ketika ia tidak melihat) mendengarkan ia menuturkan bagaimana keluarga dan para sahabatnya mengasihinya di saat ia membutuhkannya. "Bo, saya dikelilingi oleh kasih yang luar biasa!" Hari ini, kankernya tidak ada lagi.

Saya bertanya padanya, "Chiqui, apa yang membuat Anda menjadi seorang yang begitu positif?" "Keluarga saya," ia tersenyum. "Saya menerima cinta yang melimpah dari mereka." Ia memberi sebuah contoh yang sangat luar biasa tentang kasih yang ia alami.

"Natal bertahun-tahun yang lalu, sebuah panti asuhan mengadakan suatu program yang disebut Share-A-Home (Berbagi Sebuah Rumah). Hanya selama liburan Natal, orang tua saya sepakat untuk menerima dua anak yatim piatu, kembar laki-laki, berusia satu setengah tahun. Tapi setelah satu minggu berlalu, ibu saya tidak mengembalikan mereka ke panti asuhan. Kedua anak kembar itu harusnya tinggal bersama kami selama satu minggu, mereka telah tinggal bersama kami selama 25 tahun."

Ia juga menceritakan pada saya kisah lain yang menyentuh. "Ayah saya meninggal dalam usia 72. Pada hari terakhir pemakaman, keluarganya yang lain muncul. Seorang wanita dan tiga anak..."

"Oh, tidak...," kata saya.

"Ya. Kami sangat terkejut."

"Tak seorangpun mengetahuinya?" tanya saya.

"Tak seorangpun tahu. Ayah saya selalu pulang ke rumah setiap hari. Jadi ketika keluarganya yang lain muncul, saya ingat kalau saya berbicara pada ibu saya dan bertanya, "Apa yang harus kita lakukan?" Ibu saya menjawab singkat, "Saya sudah memaafkannya."

Saya melongo.

"Ya," kata Chiqui, "Itulah tipe ibu yang saya miliki. Ia memiliki kasih yang melimpah untuk diberikan. Sekarang Anda tahu mengapa saya seperti ini."

"Ya."

"Saya sangat diberkati, Bo. Saya sungguh diberkati."

Dalam usia 32, ia sudah menjadi seorang Presiden dari sebuah perusahaan periklanan raksasa, dan kemudian, sebagai Vice Chairman. Sekarang, ia adalah Presiden dan CEO dari sebuah perusahaan fantastis, Y&R Philippines, bagian dari perusahaan multi-nasional yang sudah berumur 60 tahun.

Dalam terminologi saya, Chiqui adalah sebuah "Magnet Berkat". Mengapa? Karena ia menarik banyak berkat dengan caranya berpikir, merasa, percaya, dan bertindak.


Berikut adalah 6 cara bagaimana Anda dapat menjadi sebuah magnet-berkat, dan menjadi positif dalam sebuah dunia yang negatif:

1. Rasakan cinta. Terima cinta dari orang-orang di sekeliling Anda, tidak perduli betapa kecil dan tidak sempurnanya cinta itu. Rayakan setiap isyarat cinta yang Anda terima. Jadikan itu sebagai suatu hal besar! Dan Anda akan menemukan bahwa Anda akan menerima cinta yang lebih dan lebih lagi.

2. Bersyukur. Bersyukurlah untuk setiap berkat kecil yang Anda terima. Sebelum tidur, hitunglah paling tidak 5 berkat yang Anda terima pada hari itu. Bahkan bersyukurlah untuk hal-hal buruk, karena pasti ada berkat di dalamnya. Rasa syukur menarik leibh banyak berkatuntuk menghampiri Anda.

3. Percaya. Ya, lakukan semua yang dapat Anda lakukan! Tapi pada akhirnya, berhentilah merasa kuatir. Sebaliknya, bersandar dan percayalah pada Tuhan. Percaya bahwa yang terbaik akan datang.

4. Miliki sebuah visi. Saat Anda mempunyai sebuah visi yang terperinci, tergambar, mengobarkan semangat dalam hati Anda, Anda pasti akan menjadi positif. Dan ini adalah pengalaman hidup saya yang sangat nyata: Visi yang sangat kuat dalam bayangan Anda akan menarik semua berkat yang Anda butuhkan untuk memenuhi visi tersebut. Anda akan terkejut. Berkat-berkat itu akan datang begitu saja, bergulir ke kaki Anda, memohon Anda untuk menerimanya.

5. Cintai diri Anda. Bersungguh-sungguh dalam mencintai diri Anda. Hormati diri Anda. Jangan meremehkan diri Anda, jangan membatasi diri Anda, dan jangan menghina diri Anda. Penuhi kebutuhan Anda. Perhatikan diri Anda dengan seksama. Jika Anda lakukan itu, orang lain akan menghormati Anda, mencintai Anda, dan memenuhi kebutuhan Anda juga.

6. Cintai orang lain. Apapun kasih yang Anda beri, Anda akan menerimanya kembali berlipat-ganda. Karena itu bangunlah setiap pagi karena Anda ingin mencintai. Jadikan cinta sebagai tujuan hidup Anda. Ketika Anda menjadikan cinta sebagai alasan untuk segala sesuatu yang Anda lakukan, sekalipun jika badai gelap menyelimuti Anda, matahari akan selalu bersinar dalam hati Anda.

Semoga mimpi Anda menjadi kenyataan. (Bo Sanchez - Email dikirim oleh Basye)

Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

My Boat of Salvation

Berikut ini ada naskah lama yang masih dapat memberkati kita:

Aku duduk sambil menikmati senja dalam perahu keselamatanku yang sedang berlabuh. Aku melihat Tuhan Yesus di ruang kemudi, menatapku dan berkata, "Lepaskanlah tambatan perahumu dan biarkan Aku membawamu ke seberang. Bukanlah rencana-Ku agar engkau tetap berlabuh di sini." Dengan takut, gelisah dan kuatir aku menjawab-Nya, "Tuhan, bukankah lebih baik aku tetap di sini? Di sini aku tak melihat topan, badai dan angin ribut. Dan aku dapat kembali ke darat kapanpun aku mau."

Dengan lembut Tuhan Yesus memegang tanganku, menatapku, dan berkata, "Memang di sini engkau tidak akan mengalami topan, badai, dan angin ribut. Tetapi engkau juga tidak akan pernah melihat Aku mengatasi semuanya itu. Engkau tidak akan melihat Aku berkuasa atas semuanya itu karena Akulah Tuhan." Di dalam pergumulan berat aku melihat ada rasa kuatir akan keuangan, pekerjaan, pasangan hidup, dan banyak kekuatiran lainnya. Di dalam hati aku bertanya, "Tahukah Ia mengenai apa yang aku inginkan?" Tuhan Yesus memelukku dan berbisik lembut, "Memang tidak semuanya akan sesuai dengan apa yang engkau inginkan dan rindukan. Bahkan mungkin engkau mendapatkan sebaliknya. Tetapi maukah engkau percaya bahwa rancangan-Ku adalah rancangan damai sejahtera? Masa depanmu akan menjadi masa depan yang penuh harapan."

Ia memelukku dan menangis bersamaku. Dengan berat hati aku melepaskan tali perahuku. Aku melepaskan semua rasa kuatir tersebut dari hatiku. Aku meletakkan masa depanku di tangan-Nya. Sambil menangis aku menatap-Nya dan berkata, "Jadilah Nakhoda dalam perahuku dan marilah kita berlayar!" (Sumber: Renungan Populer Sepanjang Masa)

Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Thursday, November 20, 2008

Begging

Pada suatu kesempatan bertemu dengan seorang pengusaha wanita tiga hari yang lalu, dia bercerita tentang pengalaman rohaninya, selain berbicara tentang bisnis dengan saya. Salah satu hal yang menarik adalah ketika dia mengaku sering diganggu oleh orang-orang yang meminta uang atau meminjam uang. Dia paling benci dengan orang yang meminta-minta bantuan keuangan.

"Kalau kamu perlu uang, jangan cari manusia! Jangan minta kepada manusia! Karena firman Tuhan katakan, 'Terkutuklah orang yang mengandalkan manusia!' Kalau perlu uang, cari Tuhan, minta kepada Tuhan! Nanti Tuhan yang akan mengatur siapa yang harus Ia perintahkan untuk memberkati kamu." kata sang pengusaha wanita kepada seorang ibu yang tak tahu malu meminta-minta uang.

"Sudah bu! Kata Tuhan, saya harus meminta kepada Ibu!"
"Wah, kalau begitu, Tuhan kamu sama Tuhan saya lain. Tuhan tidak pernah perintahkan saya untuk membantu kamu koq!"

Pengalaman ibu pengusaha itu mengingatkan saya akan seseorang yang mengejar-ngejar saya dengan meminta sumbangan via SMS kepada saya. Saya tidak akan pernah meladeni permintaan seperti itu karena orang yang mengaku Pendeta ini tidak memahami cara kerja Tuhan untuk memberkati dirinya. Kalau orang ini sungguh-sungguh berdoa kepada Tuhan, maka saya ataupun orang lain akan digerakkan Tuhan untuk membantu orang itu. Di Kerajaaan Allah tidak ada pengemis, itu merendahkan Tuhan sebagai Raja di atas segala raja. Dia bukanlah Raja Pengemis seperti di dunia persilatan Kay Pang.

Ditulis oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Wednesday, November 19, 2008

A Great Missing

Pada suatu hari Jumat kelabu di bulan Januari 2007, selama jam sibuk di pagi hari dengan orang-orang yang bepergian dengan terburu-buru, seorang anak muda yang rendah hati dan bersahaja memasuki stasiun kereta api L’Enfant Plaza di Washington D.C.

Di tengah-tengah kerumunan orang banyak yang berlalu lalang, pria muda ini menemukan sebuah tempat untuk berdiri di luar jalur jalan kaki orang banyak itu. Ia membuka kotak biola yang ia bawa. Ia melemparkan ke dalam kotak biola yang terbuka itu beberapa koin dan uang receh untuk “memprakarsai pemberian”. Dan kemudian ia mulai memainkan biolanya.

Sebenarnya pria ini bukanlah pemain biola biasa. Pemain biola tak dikenal di stasiun kereta api itu adalah Joshua Bell, seorang musisi genius dan yang sangat ahli, seorang bintang di dunia simfoni. Hanya tiga hari sebelumnya para penonton harus mengeluarkan uang sejumlah $100 sampai $200 guna membeli selembar tiket untuk menyaksikan dia main di Balai Simfoni Boston. Sekarang, ketika ia berdiri hanya beberapa meter dari orang-orang yang berlalu lalang dengan bergegas ke tempat kerja mereka, dengan segenap hati Bell memainkan biola Stradivarius buatan tahun 1713 yang berharga jutaan dollar.

Bell mulai memainkan lagu “Chaconne” dari Partita No. 2 dalam D Minor gubahan Bach. Bell menyebut lagu ini sebagai “karya agung yang kuat secara perasaan dan rohani, karya yang strukturnya sempurna.” Ngomong-ngomong, lagu “Chaconne” juga dianggap sebagai lagu paling sulit yang pernah digubah untuk dimainkan oleh seorang pemain biola tunggal.

Tahu apa yang terjadi?

Apakah para pejalan kaki itu tiba-tiba berhenti di perjalanan mereka, terpesona oleh pemain biola ini, dan tersihir oleh musik yang dimainkannya?

Tidak juga. Selama tiga menit pertama dalam “konser” Bell, tak ada seorangpun pejalan kaki yang mengenali sesuatu. Tidak musiknya. Tidak juga musisinya. Tak ada apa-apa. Setiap orang terburu-buru dengan kepala tertunduk, terpaku pada tujuan mereka selanjutnya.

Pada menit keempat seorang wanita dengan cepat-cepat melemparkan uang satu dolar ke dalam kotak biola Bell yang dibiarkan terbuka. Akhirnya, setelah enam menit, seorang pejalan kaki berhenti, menyandarkan diri pada dinding, dan mendengarkan dengan serius persembahan musik yang diperdengarkan di stasiun kereta api itu.

Joshua Bell bermain biola selama 43 menit. Ia mendapatkan total uang $ 32 dari 27 sedekah. “Lebih baik sedikit dari upah harian minimum,” kata Bell di kemudian hari. Dua orang berhenti mendengarkan sungguh-sungguh. 1070 orang lainnya berlalu begitu saja di depannya, tak peduli, terpaku pada agenda mereka sendiri. Kisah ini dapat anda baca selengkapnya di sebuah artikel dalam Washington Post dengan judul “Pearls Before Breakfast”.

John Lake, seorang penulis buku “Keindahan Abadi: Di dunia Seni dan Kehidupan Sehari-hari” (2003) dengan ringkas menyimpulkan apa yang terungkap dari momen yang terlewatkan oleh para orang yang berlalu lalang dan oleh kita semua:

Seandainya kita tidak dapat mengambil waktu dari kehidupan kita untuk berhenti sejenak dan mendengarkan salah seorang musisi terbaik di dunia ini yang memainkan musik terbaik yang pernah digubah; seandainya gemuruh kehidupan modern begitu menguasai kita sehingga kita tuli dan buta terhadap hal seperti itu, betapa ruginya melewatkan hal itu.

Seandainya kita tidak dapat mengambil waktu untuk bersekutu dengan Tuhan, menyatakan “I love You, Daddy God!”, mendengar suaranya, dan menyatakan isi hati kita kepadanya, betapa ruginya melewatkan hal itu.

Seandainya kita tidak dapat mengambil waktu untuk menyimak perkataan abadi penuh kuasa yang terdapat di Alkitab, yang mampu menjadi terang bagi jalan kita, dan memberi kehidupan kepada kita, betapa ruginya melewatkan hal itu.

Musik sorgawi diperdengarkan di alam ini, disampaikan di hati ini, dan ditulis dalam Alkitab, betapa ruginya melewatkan hal itu…

(Diterjemahkan oleh Hadi Kristadi untuk http://pentas-kesaksian.blogspot.com – mohon keterangan ini tidak dihilangkan apabila anda memforwardnya atau mempostingnya di website anda – terima kasih.)

****

On a grey Friday in January 2007, during the peak of the early morning commuter rush, an unassuming young man entered the L’Enfant Plaza train station in Washington D.C.

As the crowds rushed by, the man found a place to stand out of the way of the foot traffic. He opened the violin case he carried. He threw into the case a few coins and dollar bills to “prime the pump.” And then he proceeded to begin playing.

But this was no ordinary street musician. The anonymous violinist in the train station was Joshua Bell, renowned virtuoso, star of the symphony circuit. Only three days earlier audiences had shelled out between 100.00 to 200.00 bucks for a ticket to watch him play at Boston ’s Symphony Hall. Now, as he stood just a few feet from clueless commuters hurrying to work, Bell played his heart out on his multi-million dollar 1713 Stradivarius violin.

Bell began with “Chaconne,” from Bach’s Partita No. 2 in D Minor. Bell calls this a “spiritually powerful piece, emotionally powerful, structurally perfect.” By the way, “Chaconne” is also considered one of the most difficult violin solos ever written.

Can you guess what happened?

Did busy commuters suddenly stop in their tracks, mesmerized by this master violinist, and drift towards the magical music?

Not so much. For the first three minutes of Bell ’s “concert” no one passing by acknowledged anything. Not the music. Not the musician. Nothing. Nada. Everyone hurried by, head down, fixated on their next destination.

At four minutes one woman hurriedly tossed a dollar into Bell ’s open violin case. Finally, after six minutes, one commuter stopped, leaned against a wall, and listened to the gift that was being poured out into that train station air.

Bell played for 43 minutes. He made a grand total of $32.00 off of 27 donations. (“Better than minimum wage,” Bell noted later). Two people stopped to listen. The other 1,070 people who passed in front of him simply skittered by, oblivious, obsessed by their own agendas. (You can find this story, along with some video clips you can use, by Googling the Washington Post article “Pearls Before Breakfast”).

John Lake, author of "Timeless Beauty: In The Arts and Everyday Life" (2003), succinctly summed up what this missed moment revealed about all those busy commuters, and about us:

If we can’t take the time out of our lives to stay a moment and listen to one of the best musicians on Earth play some of the best music ever written; if the surge of modern life so overpowers us that we are deaf and blind to something like that, then what else are we missing? … (Sumber: Sermon Resources)

Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Tuesday, November 18, 2008

The Dreams of Hotma Sitompul SH (2)

Mimpi-Mimpi Hotma Sitompul SH (2)

Selain berkomunikasi lewat doa, Hotma juga menuturkan bahwa Tuhan sering berbicara lewat mimpi. Misalnya saja ia pernah bermimpi sedang dielu-elukan besama rombongan mantan Presiden Soeharto. “Saat itu saya melihat banyak orang yang memberi tepuk tangan bagi saya. Ketika saya akan masuk ke Cendana, saya disuruh turun, diantar sampai jatuh terguling tepat di depan seorang pengemis. Semua orang menghina saya dalam mimpi itu.” kenang Hotma yang usai bermimpi langsung bertanya kepada Tuhan, apa arti mimpinya.

“Ternyata keesokan harinya saya benar-benar mengalami hal tersebut. Ada pengacara senior, dia mau pergi ke luar negeri. Lalu dia menitipkan tujuh sertifikat tanah asli dari kliennya. Katanya, ia tak percaya kepada siapapun, oleh karena itu ia memilih saya untuk menyimpannya. Karena termasuk barang berharga, saya menyimpan dokumen penting itu ke brandkas. Tetapi anehnya, ketika ia kembali, sertifikat itu tak ditemukan,” katanya.

Hotma menjelaskan, sebelum kejadian itu, kantor yang dikelolanya tidak pernah mau menerima dokumen asli. Tetapi kali itu ia mau menerima dan menyimpan sertifikat asli. “Wah, saya sempat takut juga. Kalau sampai dokumen-dokumen itu hilang, rusaklah nama dan kepercayaan orang terhadap saya,” imbuh Hotma yang kemudian memerintahkan semua pegawainya untuk mencari sertifikat-sertifikat itu.

“Saya ingat-ingat akan mimpi itu. Biasanya kalau saya bermimpi baik, malah kejadian sebenarnya tidak baik. Demikian sebaliknya. Dalam mimpi tersebut semula semua orang mengelu-elukan saya, tetapi akhirnya saya dilempar sampai jatuh di depan pengemis. Karena itulah saya yakin, pasti akhir dari peristiwa itu akan baik. Karenanya saya menyuruh para karyawan untuk mencari sertifikat itu. Saya yakin pasti dokumen itu akan ditemukan.”

Benar saja, keyakinan Hotma akhirnya menjadi kenyataan. Setelah semua karyawan menelusuri semua ruangan kantornya dan tidak seorangpun menemukan dokumen itu, akhirnya Hotma berkata, “Pokoknya cari sampai ketemu, dan siapa yang menemukannya akan saya beri hadiah.” Ternyata, berkat kejelian salah seorang karyawannya, dokumen itu akhirnya ditemukan.

“Karyawan saya yang satu ini meneliti satu per satu file yang ada. Dan benar saja, ternyata file tersebut salah masuk ke dalam file yang lain. Tak heran jika saat dicari tak ketemu,” ujar Hotma merasa lega. “Itu adalah salah satu mimpi yang pernah Tuhan beri kepada saya. Setiap mimpi yang saya alami selalu mengingatkan atau meneguhkan pekerjaan ataupun pergumulan saya,” katanya. (Sumber: Tabloid Keluarga edisi Oktober 2008)

Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

The Story by Dr. Aruna Wirjolukito

Cerita dari Dr. Aruna Wirjolukito
Hari Minggu yang lalu saya berkesempatan ngobrol-ngobrol dengan Dr. Aruna Wirjolukito. Dia adalah doktor di bidang akuntansi yang meraih gelarnya paling muda sampai saat ini. Dalam usia 30 tahun, pada tahun 2003 yang lalu, ia meraih Doktor Akuntansi dari Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia.

Kami ngobrol ngalor ngidul. Karena latar belakang kami sama, saya juga seorang akuntan, maka obrolan kami juga menyangkut para akuntan. Dia bercerita bahwa banyak akuntan-akuntan senior yang menukarkan keluarganya dengan kariernya. Ada akuntan senior, guru kami, yang berhasil mendidik anak-anaknya sebagai akuntan, namun gagal mengarahkan anak-anaknya dalam kehidupan keluarganya. Sekarang anak cucunya tidak keruan. Ada cucunya yang terkena narkoba, ada anaknya yang “gila” mobil, kebanyakan anaknya kawin cerai, dan sebagainya. Ada juga akuntan terkenal, senior kami, yang kehidupan keluarganya tidak harmonis, ditandai dengan kawin cerai juga, padahal ia adalah selebritinya di dunia akuntansi.

“Kalau saya memilih profesi akuntansi hanya dari pertimbangan gengsi seorang akuntan, saya tidak akan memilih profesi ini. Karena saya tahu banyak akuntan yang sukses secara materi, tetapi kehidupan keluarganya berantakan,” kata Dr. Aruna.

Selain cerita soal dunia akuntan, Dr. Aruna juga berkisah tentang suatu pengalamannya yang unik. Pada suatu hari isterinya berkata, “Sayang, mobilku ini berbunyi aneh. Kedengaran ada bunyi, ‘sring ser ser, sring ser ser’. Aku mau kamu sendiri yang menangani ya!” Karena saking sayang kepada isterinya, Dr. Aruna mencoba memeriksa mobilnya. Setelah dilihat dan diperhatikan, ia yang bukan montir itu, akhirnya menyerah, tak dapat menemukan apa masalahnya.

Karena ia sudah berjanji untuk mengurus mobil isterinya, maka ia memutuskan untuk membawa sendiri mobil itu ke bengkel pada hari itu juga, padahal sorenya ia harus berbicara dalam suatu seminar. Ia bawa mobil isterinya ke bengkel terdekat di kawasan Cibubur, bengkel resmi tentunya. Setelah dua setengah jam diperiksa di bengkel ini, montirnya tak berhasil menemukan apa penyebab bunyi itu. Mobilnya masih berbunyi “sring ser ser”.

Setelah pulang ke rumah, Dr. Aruna berdoa kepada Tuhan. Ia mengambil gitar dan menyanyikan lagu, “I surrender all, I surrender all . . . Aku berserah, aku berserah ….”

Tiba-tiba Tuhan berkata, “Bawa mobilmu ke bengkel di Legenda Wisata.” Oh, Tuhan, koq harus ke bengkel yang jauh sih? Dari rumahnya ke daerah itu berjarak sekitar 16 km bolak balik. Kenapa tidak di bengkel yang dekat sini-sini saja ya? Tetapi Dr. Aruna tidak membantah karena ia khawatir Tuhan berubah pikiran dan menyuruh ia membawa mobil itu ke Bandung!

Ia segera membawa mobil itu ke arah Legenda Wisata. Mana bengkel yang dimaksud Tuhan ya? Tuhan itu tidak memberikan spesifikasi bengkelnya. Tidak disebutkan nama bengkel, atau ciri-ciri bengkel yang berwarna biru, atau kuning, atau putih. Ia taat saja kepada Tuhan, ia terus menjalankan mobil isterinya yang masih berbunyi ‘sring ser ser’.

Di dalam hati akhirnya Dr. Aruna bilang, “Tuhan, tunjukkan bengkel yang harus saya datangi. Beri tanda di hati saya untuk mengarahkan mobil ini ke bengkel yang Tuhan maksud.” Ia terus memacu mobilnya pelan-pelan, sambil larak lirik mencari bengkel yang dimaksud Tuhan. Pada suatu saat ia melihat sebuah bengkel dan ia merasa di hatinya bahwa itulah bengkel yang dimaksud. Memang bengkel ini ada di sekitar Legenda Wisata.

Sementara mobilnya diperiksa montir, Dr. Aruna menunggu sambil duduk dengan santai, agak rebahan karena ia harus menyimpan tenaga untuk sore harinya. Tiba-tiba ada seorang pria mendatanginya.
“Pak, mobilnya kenapa sih?”
“Gak tahu ya, itu mobil yang biasa dipakai isteri saya, koq ada bunyi aneh.”
Itu adalah pembukaan basa basi dari pemilik bengkel rupanya.
“Pak, boleh saya cerita kepada bapak?”
“Hmmm, boleh aja. Ada apa?” kata Dr. Aruna masih sambil memejamkan matanya.
“Begini, pak. Saya mendapat kesulitan. Beberapa waktu yang lalu ada seorang bapak yang memeriksakan mobilnya di bengkel ini.”
“Lalu kenapa?”
“Setelah kami perbaiki mobilnya, malahan ia marah-marah, dan menuntut ganti rugi Rp. 10 juta! Padahal kami sudah mengurus mobilnya sebaik-baiknya. Tidak ada masalah lagi. Ia mengaku aparat negara. Saya sampai tidak berani datang ke bengkel saya. Sudah sebulan ini saya tidak masuk kantor, baru hari ini saya memberanikan diri datang.”

Dr. Aruna mulai sadar. “Wah, inilah sebabnya saya harus datang ke bengkel ini! Rupanya Tuhan mau agar saya membantu kasus yang dihadapi orang ini,” kata Aruna dalam hati. Lalu Dr. Aruna dengan berapi-api mulai menerangkan betapa baiknya Tuhan. Ia mengutip dari Alkitab suatu ayat yang dikutip banyak orang, yang berbunyi: “Pencobaan-pencobaan yang kamu alami ialah pencobaan-pencobaan biasa, yang tidak melebihi kekuatan manusia. Sebab Allah setia dan karena itu Ia tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu. Pada waktu kamu dicobai Ia akan memberikan kepadamu jalan ke luar, sehingga kamu dapat menanggungnya.” Ketika perkataan Paulus itu disampaikan Dr. Aruna kepada pemilik bengkel yang berbeda agama, orang itu mulai tenang.

Dr. Aruna menerangkan banyak hal dengan gaya bercerita dan mendongeng, bukan berkhotbah, sehingga salah seorang karyawati di bengkel itu juga akhirnya tertarik mendengarkan Dr. Aruna.

Akhirnya Dr. Aruna bertanya, apakah pemilik bengkel ini bersedia didoakan? “Ya, saya mau, biarlah saya ditolong Tuhannya bapak!” Selesai berdoa, montir itu datang dengan kabar gembira.
“Pak, penyakit mobil ini sudah ketemu. Ada valve yang rusak! Tapi kami tidak punya persediaan”
“Coba telpon ke bengkel lain!” kata pemilik bengkel.
“Sudah, pak! Ke bengkel di Jakarta dan Bekasi, ada lima bengkel yang sudah kami telpon, tidak ada.”
“Ya, kita akan cari terus. Sementara itu mobil ditinggal dulu ya, Pak!”
“Oke, lah!”

Esok harinya ada kabar dari bengkel itu. “Pak, valvenya ada. Tapi bapak yang beli sendiri, di sebuah bengkel di Tebet.” Yah, Dr. Aruna terpaksa berangkat dari Cibubur ke Tebet, lalu diteruskan ke Legenda Wisata, cukup jauh.

Ketika ketemu dengan pemilik bengkel lagi, Dr. Aruna disambut dengan senang hati.
“Pak, ternyata doa Bapak manjur!”
“Lho, kenapa?”
“Tadi pagi datang keluarga dari orang yang memeras saya. Mereka minta agar saya tidak memperkarakan anak mereka yang sebenarnya baru keluar dari Rumah Sakit Jiwa. Persoalan dengan pria yang mengaku anggota TNI itu diminta ditutup saja. Sekarang saya bebas dari masalah itu, Pak! Terima kasih.”
“Syukurlah!”
“Pak, boleh tidak, saya cerita yang lain lagi?”
“Boleh saja, silakan…”

Kemudian pemilik bengkel itu menceritakan kisah kehidupannya, masa lalunya, pengalaman dengan ayahnya yang menyakitkan. Mulailah Dr. Aruna bercerita lagi tentang Tuhan sebagai seorang Bapak yang baik. Iblis memang berusaha merusak figur para ayah di bumi ini, supaya mereka tidak bisa mempercayai Tuhan sebagai Bapak. Dr. Aruna berkisah tentang Hati Bapak, tentang Citra Diri yang dirusak, tentang pemulihan hati, dan lain-lain.

Ketika Dr. Aruna mendoakan pemilik bengkel ini di halaman bengkel, tanpa malu-malu pemilik bengkel itu menangis sesenggukan. Dengan refleks, Dr. Aruna memeluk pria ini. Tanpa sadar di jalanan itu banyak orang lalu lalang. Bayangkan, ada dua pria saling berpelukan. Dr. Aruna sadar, jangan-jangan orang sangka mereka lagi berhomo ria. Ia melepaskan pelukannya dan tetap mendoakan orang ini. Akhinya pemilik bengkel ini dilepaskan dari beban beratnya karena sakit hati yang mendalam, diperlakukan tidak adil oleh ayahnya, pernah dihukum dengan kejam, sehingga orang ini sangat membenci ayahnya.

Gara-gara mobil rusak, Dr. Aruna telah dipakai Tuhan untuk menolong agar orang lain mengalami pertolongan dari tempat tinggi, pertolongan dari Tuhan. Ada dua orang, pemilik bengkel dan seorang karyawati, yang akhirnya percaya bahwa Tuhan telah turun ke bumi untuk menyelamatkan orang-orang yang tertindas, yang butuh kasih sorgawi, yang perlu keselamatan kekal. (Ditulis oleh Hadi Kristadi untuk http://pentas-kesaksian.blogspot.com - mohon bagian ini jangan dihilangkan ketika anda memforwardnya - terima kasih)

Ditulis oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Monday, November 17, 2008

Urgent Messages from Choo Thomas

Saudara-saudari Terkasih dalam Kristus,
Seperti yang kita dapat saksikan, akhir zaman sudah ada di sini. Ketika anda menerima pesan ini, silakan teruskan kepada setiap orang yang anda kenal. Ini adalah pesan paling penting bagi setiap orang sebelum terjadinya Pengangkatan Orang-orang Percaya dan sebelum tertinggal. Silakan cetak pesan ini dan bagikan kepada sebanyak mungkin orang yang dapat anda lakukan. Setiap orang yang menyebut dirinya orang Kristen dan tidak mempunyai keinginan untuk bersaksi kepada jiwa-jiwa akan mendukakan Tuhan kita karena Dia telah mati bagi keselamatan jiwa-jiwa kita, Puji Tuhan.

Choo Thomas - Penulis buku "Heaven Is So Real"

TANDA BINATANG (666) RFID

“Dan ia menyebabkan, sehingga kepada semua orang, kecil atau besar, kaya atau miskin, merdeka atau hamba, diberi tanda pada tangan kanannya atau pada dahinya, dan tidak seorang pun yang dapat membeli atau menjual selain dari pada mereka yang memakai tanda itu, yaitu nama binatang itu atau bilangan namanya. Yang penting di sini ialah hikmat: barangsiapa yang bijaksana, baiklah ia menghitung bilangan binatang itu, karena bilangan itu adalah bilangan seorang manusia, dan bilangannya ialah enam ratus enam puluh enam.” (Wahyu 13:16-18)

666 ADALAH SEBUAH SISTEM SATU PEMERINTAHAN DUNIA.
Pada saat ini, sistem pengidentifikasian biometrik yang dibantu oleh komputer sedang dikembangkan dengan sangat cepat dan telah siap untuk diterima oleh masyarakat kita. Chip komputer yang sangat kecil, menggunakan teknologi RFID (Radio Frequency Identification – Pengidentifikasian dengan Frekuensi Radio), telah dipasang ke dalam peralatan-peralatan elektronik, barang-barang eceran, ternak, dan manusia. Ini bukanlah fiksi ilmiah masa depan – hal ini sedang terjadi saat ini.

Di banyak belahan bumi ini, mikrochip RFID (VeriChip) yang dipasang ke dalam tubuh manusia keluaran Perusahaan Applied Digital Corporation, sudah digunakan untuk membantu mendiagnosis penyakit Alzheimer, sakit jiwa, diabetes, masalah jantung dan hal itu juga menolong untuk menghindarkan orang dari penculikan. Dalam waktu dekat, biochip jenis ini akan semakin luas diterima dan ditanamkan ke dalam tubuh manusia untuk pengidentifikasian pribadi, perlindungan, pengawasan, penelusuran, perdagangan, dan penggunaan-penggunaan lain yang belum dapat dibayangkan sekarang.

Sayangnya, dalam biochip semacam itu pengidentifikasian pribadi dan informasi yang diperoleh dari pemakaiannya akan disimpan dan dikelola dalam sebuah gudang data di komputer. Orang yang ditanam biochip itu merupakan harta benda bertanda yang diintai, diawasi dan semua perilakunya akan ditelusuri. Penanaman biochip itu di dalam tubuh manusia akan mengubah orang itu secara fisik, mental, dan akhirnya secara rohani. Masalah yang timbul karena penggunaan biochip dalam tubuh manusia bukanlah sekedar masalah keindahan, masalah medis, masalah politis, atau masalah hukum.

Iblis bekerja di dunia ini dan ia sedang mempersiapkan orang-orang dan masyarakat untuk mencapai tujuan-tujuannya. Disadari atau tidak, antikris akan memaksa orang-orang untuk mengikuti dan menaati suatu agenda yang nampaknya demi kepentingan masyarakat, namun hal itu mengikuti pola sejarah umat manusia dan pemberontakan manusia kepada Allah, dan hal itu akan membawa kesakitan dan penderitaan sampai Kristus datang kembali ke bumi ini. “…ia (Iblis) menyesatkan mereka yang diam di bumi dengan tanda-tanda, yang telah diberikan kepadanya untuk dilakukannya di depan mata binatang itu. Dan ia menyuruh mereka yang diam di bumi, supaya mereka mendirikan patung untuk menghormati binatang yang luka oleh pedang, namun yang tetap hidup itu. Dan kepadanya diberikan kuasa untuk memberikan nyawa kepada patung binatang itu, sehingga patung binatang itu berbicara juga, dan bertindak begitu rupa, sehingga semua orang, yang tidak menyembah patung binatang itu, dibunuh.” (Wahyu 13:14-15)

Suatu zaman sedang datang ketika masyarakat dan kehidupan akan diperintah oleh suatu sistem yang mandiri dimana umat manusia akan diawasi, dianalisis, diukur, dan dievaluasi oleh komputer. Pada zaman itu, setiap orang yang menolak untuk menerima sistem ini akan disiksa kemudian dibunuh.


PEMBENTUKAN MASYARAKAT YANG TANPA BATAS TEMPAT DAN WAKTU

Kita sedang bergerak ke arah suatu masyarakat tanpa batas tempat dan waktu dimana orang-orang dari segala tempat dapat mengakses segala sesuatu, di manapun dan kapanpun, tanpa batasan tempat dan waktu. Penerapan teknologi RFID di toko-toko eceran, misalnya. Diperkirakan bahwa sebagian terbesar barang-barang eceran akan menggunakan teknologi RFID dalam tempo 1 sampai 2 tahun ke depan, sejak tahun 2005 dan akan menggantikan sistem kode bar, yang telah dipakai selama 30 tahun terakhir.

Apa yang mendorong pengembangan hal itu adalah keyakinan bahwa kita akan hidup lebih aman, lebih mudah, lebih makmur dan lebih nikmat dengan menggunakan teknologi yang mengelola setiap aspek kehidupan sehari-hari. Di dalam suatu masyarakat yang sudah biasa menggunakan pengelolaan keuangan yang otomatis, komunikasi dan pengamanan yang instan, maka tidaklah lama lagi masyarakat itu dapat didorong untuk pemasangan biochip yang menggunakan teknologi RFID ke dalam tubuh manusia, dan akhirnya akan menggantikan sistem uang kertas yang mudah dicuri, hilang atau disembunyikan. Dalam waktu dekat:
1) Semua orang akan diharuskan memiliki sebuah biochip. Semua kegiatan ekonomi akan menggunakan chip ini, sehingga menggantikan sistem pertukaran uang kertas yang kini masih dipakai.
2) Akan ada penyerbuan terhadap kehidupan privasi dan kebebasan tidak akan ada lagi. Semua orang dimonitor, diawasi, dipengaruhi pikirannya, dan dikendalikan.
3) Seorang pemimpin karismatik, yang adalah seorang Antikris, akan memerintah seluruh dunia melalui suatu sistem yang saling terhubung dan saling bergantung satu sama lain.

TANDA BINATANG DI TUBUH MANUSIA, KITA HARUS MENOLAKNYA.
(Wahyu 14:9; Wahyu 14:11; Wahyu 16:2)
1) Menerima tanda binatang ini merupakan tindakan yang tak dapat diubah lagi untuk menjual jiwa anda kepada Iblis. Dosa ini tak dapat diampuni lagi dan tidak dapat diubah lagi dengan melucuti tanda ini dari tubuh seseorang. (Wahyu 14:9-11). Jiwa anda adalah milik Bapa. Oleh karena itu apabila anda menerima tanda binatang ini, maka anda akan menjadi milik Iblis.

2) Apabila anda menerima tanda binatang ini, maka anda dengan sengaja menaruh kepercayaan anda kepada manusia dan bukan kepada Bapa; secara aktif anda memilih untuk hidup tanpa Bapa yang mengasihi yang ingin menghabiskan seluruh keabadian bersama anda di Sorga. Bapa tidak ingin anda memilih jalan Neraka. Bapa mengetahui semua perkara ini sebelumnya, dan karena Ia mengasihi kita dan ingin agar kita mengakui hal ini, maka hal itu telah dinyatakan kepada kita melalui tulisan Rasul Yohanes pada sekitar tahun 100 Masehi, yaitu dalam Kitab Wahyu.

Apabila anda tidak terangkat ke sorga dan oleh karena itu anda tertinggal di bumi untuk menghadapi masa aniaya besar, anda tidak boleh menerima tanda binatang itu meskipun anda akan disiksa kemudian dibunuh karena anda tidak mau menerima sanksi dari pemerintahan yang berasal dari Iblis. Apabila anda tidak tahan menghadapi penganiayaan yang luar biasa, janganlah anda bunuh diri, karena orang yang bunuh diri akan dihukum di neraka yang kekal. Anda harus mengingat hal ini setiap waktu karena harapan anda masuk sorga masih terbuka sampai pada akhir zaman.

APAKAH ANDA SUDAH MENERIMA YESUS KRISTUS SEBAGAI TUHAN DAN JURUSELAMAT PRIBADI ANDA?

(Diterjemahkan oleh Hadi Kristadi untuk http://pentas-kesaksian.blogspot.com - mohon bagian ini jangan dihilangkan ketika anda memforwardnya - terima kasih)

*****

http://www.choothomas.com/urgentmessage.html

October 13, 2008
Dear Brothers and Sisters in Christ,
As we all can see the end time is already here. When you receive this message, please forward it to everyone you know; it is the most important message for everyone before the Rapture and those left behind. Please do print this message and share it with as many as you can. Anyone who calls themselves a Christian and has no desire to witness to souls, this is the saddest thing to our Lord because He died for our souls, PRAISE THE LORD.
Choo Thomas

MARK OF THE BEAST (666) RFID
"He required everyone - great and small, rich and poor, slave and free - to be given a mark on the right hand or on the forehead. And no one could buy or sell anything without that mark, which was either the name of the beast or the number representing his name. Wisdom is needed to understanding this. Let the one who has understanding solve the number of the beast, for it is the number of a man. His number is 666" (Rev. 13:16-18 New Living Translation).

666 IS A SYSTEM OF THE ONE WORLD GOVERNMENT
At the present time, computer-assisted biometric identification systems are being developed rapidly and have been readily accepted into our society. Miniature computer chips, using RFID (Radio Frequency Identification) technology, have already been embedded within electronic appliances, retail goods, livestock, and human beings. This is not tomorrow's science fiction - it is happening today.

In many parts of the world, Applied Digital Corporation's human implanted RFID microchip (VeriChip) is used to help diagnose Alzheimer's disease, mental illness, Diabetes, heart problems and it also helps to prevent kidnappings. In the near future, this type of biochip will be widely accepted and implanted for personal identification, protection, monitoring, tracking, commerce, and other uses not yet imagined.

Unfortunately, such biochips store personal identification and the information generated from its use will be stored and maintained in a computer database. Your body becomes a tagged asset that is monitored and whose behavior will be tracked. Implanting the microchip in the body alters a person's physically, mentally and ultimately - spiritually. The problem that arises from the use of biochip in humans is more than an aesthetic, medical, political, or legal issue.

Satan works in the world and he shapes people and society to achieve his goals. Knowingly or not, anti-christ will force people to follow and obey an agenda that appears to be in the best interest of its people but, in following the pattern of human history and man's rebellion to God, will bring about pain and suffering until Christ comes again.
"...he [satan's agent] deceived all the people who belong to this world. He ordered the people of the world to make a great statue of the first beast, who was fatally wounded and then came back to life. He was permitted to give life to this stature so that it could speak. Then the statue commanded that anyone refusing to worship it must die." (Rev 13:14-15 New Living Translation).

A time is coming when society and lives will be ruled by a self-imposed system where mankind is monitored, analyzed, measured, and evaluated by computers. In those times, anyone who refuses to accept this system will be tortured then killed.

FORMATION OF A UBIQUITOUS SOCIETY
We are moving towards a ubiquitous society where people from all walks of life can access anything, anywhere, and at anytime regardless of time and location. The implementations of RFID technology in retail stores is one example. It's estimated that the majority of retail merchandise will use RFID technology within 1 or 2 years (as of 2005) and will replace bar codes, which have been used for the past 30 years.

What drives such development is the belief that we will live safer, easier, richer and more enjoyable lives by using technology to manage everyday aspects of daily life. In a society that craves automated financial management, instant communication and security, it's not a far stretch for RFID enabled biochips to be implanted into the body, and eventually replacing currency that is easily stolen, lost, or hidden. In the near future:
1) All people will be required to have a biochip. All economic operations will use this chip thereby replacing today's unit of monetary exchange.
2) There will be privacy invasion and freedom will cease to exist.
3) A charismatic leader, who is the Anti-Christ, will rule the whole world through a system that is interconnected and interdependent.

MARK OF THE BEAST IN THE HUMAN BODY, WE MUST NOT RECEIVE IT. (REV 14:9, 14:11, 16:2)
1) Accepting this mark is the irreversible act of selling your soul to Satan. This sin is unforgivable and cannot be reversed by physically removing the mark (Rev. 14:9-11). Your soul belongs to God. Therefore if you receive this mark, you then will belong to Satan.

2) If you receive this mark, you willfully placing your faith in man and not in God. You are actively choosing to live without a loving God who desires to spend eternity with you in Heaven. God does not want you choosing Hell's path. God knew these things beforehand, and because He loves us and wants us to acknowledge this, it was revealed to us through the writing of the apostle John in Revelation around 100 AD.

If you are not taken up to heaven and are thereby left behind for the tribulation, you must not receive the mark of the beast even though you will be tortured then killed for not accepting the government's sanctioned acts of satan. You must remember this at all times because the hope of heaven still remains until the end comes.

HAVE YOU RECEIVED JESUS AS YOUR PERSONAL SAVIOR?
For all have sinned and fall short of the glory of God (Rom. 3:23). Money is not everything. A person cannot come to God by believing in any other gods, ethics, discipline, or by good deeds.

Only a personal relationship with Jesus Christ makes it possible to stand righteous before a holy God at end of human history. It was for this reason that Jesus Christ suffered on the cross, shed His blood, died, and came back to life. This was done to demonstrate God's willingness, ability, and glory in saving us from sin and death. I am the way and the truth and the life. No one comes to the Father excerpt through Me. (John 14:6)

That if you confess with your mouth, Jesus is Lord, and believe in your heart that God raised Him from the dead, you will be saved. For it is with your heart that you believe and are justified. And it is with your mouth that you confess and are saved. (Rom 10:9-10) You must believe in Jesus and that He died for your sins. Jesus loves you. For God so loved the world that He gave His one and only Son, that whoever believes in Him shall not perish but have eternal life. (John 3:16)
Realize that you are as sinner and you must pray in faith. You need to receive Jesus as your personal Savior. There is surely a Heaven and a Hell. Jesus Christ is the only way to Heaven.

JESUS IS COMING SOON, PREPARE FOR THE RAPTURE
Jesus, who redeemed us through the cross will prepare a place and will come back to be with us. He has promised us. (John 14:3) The rapture will take place before the Great Tribulation (Rev. 3:10). Jesus said, "you know to interpret how to interpret the appearance of the sky but you cannot interpret the signs of the times, (Matt. 16:3 Luke 12:56).

ALL BELOVED SAINTS IN JESUS CHRIST
The rapture is reserved for those saints who will be lifted into the sky upon God's trumpet call, saints that are to be raptured will be lifted into the sky to meet Jesus in the clouds (1 The 4:16-17). The rapture is reserved for those believers who wear spiritual white robes. Their physical body will be transformed into a glorious body and will be God's delight, (Rev. 19:7-8).

If you remain in lukewarm faith, Jesus will spew you out so you must not be like this type of believer (Rev. 3:16). Jesus' first coming was to bring salvation, but He is coming again to meet those who are Ready and Waiting in the clouds at the sound of the trumpets and this is call Rapture. Lord Jesus, will take His children with Him to Heaven for seven years. After the seven years tribulation on earth then He will return again on earth with those who were ratpured with Him into Heaven to the New Jerusalem this will be called His Second Coming.

For what is our hope, our joy, or the crown in which we will glory in the presence of our Lord Jesus when He comes? Is it not you? (1 Thess. 2:19) At Jesus' return, only raptured saints will be presented at the seat of glory (1 Cor. 15:49-55). Even if we do not know the day and time of His coming, the sons of light are not in darkness therefore that day will not come upon you like a thief (1 Thess. 5:4-5). Do not be lukewarm believers nor do not sleep but be awake and pray. (1 Thess. 5:1-4) Remember, therefore, what you have received and heard: obey it, and repent. But if you do not wake up, I will come like a thief, and you will not know at what time I will come to you, (Rev. 3:3). Those with lukewarm faith, those who are tied to the world, and those who do not know Jesus will be left behind for the Great Tribulation. The Great Tribulation will be the most devastating time in all of human history. Those who are left behind in the Great Tribulation must not receive the biochip (which bears satan's name) into their body (forehead or right hand; Rev 13vs16, 20vs4) even to the point of death. Christians who commit suicide will spend eternal life in hell. By refusing this chip, you will be tortured then killed but if you remain faithful, you will be able to enter into Heaven. All saints must realize this truth and wish Jesus to return. Be awake in the spirit and know that Jesus Christ's return is very near, Amen.

Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Kesaksian Pembaca Buku "Mukjizat Kehidupan"

Pada tanggal 28 Oktober 2009 datang SMS dari seorang Ibu di NTT, bunyinya:
"Terpujilah Tuhan karena buku "Mukjizat Kehidupan", saya belajar untuk bisa mengampuni, sabar, dan punya waktu di hadirat Tuhan, dan akhirnya Rumah Tangga saya dipulihkan, suami saya sudah mau berdoa. Buku ini telah jadi berkat buat teman-teman di Pasir Panjang, Kupang, NTT. Kami belajar mengasihi, mengampuni, dan selalu punya waktu berdoa."

Hall of Fame - Daftar Pembaca Yang Diberkati Buku Mukjizat Kehidupan

  • A. Rudy Hartono Kurniawan - Juara All England 8 x dan Asian Hero
  • B. Pdt. DR. Ir. Niko Njotorahardjo
  • C. Pdt. Ir. Djohan Handojo
  • D. Jeffry S. Tjandra - Worshipper
  • E. Pdt. Petrus Agung - Semarang
  • F. Bpk. Irsan
  • G. Ir. Ciputra - Jakarta
  • H. Pdt. Dr. Danny Tumiwa SH
  • I. Erich Unarto S.E - Pendiri dan Pemimpin "Manna Sorgawi"
  • J. Beni Prananto - Pengusaha
  • K. Aryanto Agus Mulyo - Partner Kantor Akuntan
  • L. Ir. Handaka Santosa - CEO Senayan City
  • M. Pdt. Drs. Budi Sastradiputra - Jakarta
  • N. Pdm. Lim Lim - Jakarta
  • O. Lisa Honoris - Kawai Music Shool Jakarta
  • P. Ny. Rachel Sudarmanto - Jakarta
  • Q. Ps. Levi Supit - Jakarta
  • R. Pdt. Samuel Gunawan - Jakarta
  • S. F.A Djaya - Tamara Jaya - By Pass Ngurah Rai - Jimbaran - Bali
  • T. Ps. Kong - City Blessing Church - Jakarta
  • U. dr. Yoyong Kohar - Jakarta
  • V. Haryanto - Gereja Katholik - Jakarta
  • W. Fanny Irwanto - Jakarta
  • X. dr. Sylvia/Yan Cen - Jakarta
  • Y. Ir. Junna - Jakarta
  • Z. Yudi - Raffles Hill - Cibubur
  • ZA. Budi Setiawan - GBI PRJ - Jakarta
  • ZB. Christine - Intercon - Jakarta
  • ZC. Budi Setiawan - CWS Kelapa Gading - Jakarta
  • ZD. Oshin - Menara BTN - Jakarta
  • ZE. Johan Sunarto - Tanah Pasir - Jakarta
  • ZF. Waney - Jl. Kesehatan - Jakarta
  • ZG. Lukas Kacaribu - Jakarta
  • ZH. Oma Lydia Abraham - Jakarta
  • ZI. Elida Malik - Kuningan Timur - Jakarta
  • ZJ. Luci - Sunter Paradise - Jakarta
  • ZK. Irene - Arlin Indah - Jakarta Timur
  • ZL. Ny. Hendri Suswardani - Depok
  • ZM. Marthin Tertius - Bank Artha Graha - Manado
  • ZN. Titin - PT. Tripolyta - Jakarta
  • ZO. Wiwiek - Menteng - Jakarta
  • ZP. Agatha - PT. STUD - Menara Batavia - Jakarta
  • ZR. Albertus - Gunung Sahari - Jakarta
  • ZS. Febryanti - Metro Permata - Jakarta
  • ZT. Susy - Metro Permata - Jakarta
  • ZU. Justanti - USAID - Makassar
  • ZV. Welian - Tangerang
  • ZW. Dwiyono - Karawaci
  • ZX. Essa Pujowati - Jakarta
  • ZY. Nelly - Pejaten Timur - Jakarta
  • ZZ. C. Nugraheni - Gramedia - Jakarta
  • ZZA. Myke - Wisma Presisi - Jakarta
  • ZZB. Wesley - Simpang Darmo Permai - Surabaya
  • ZZC. Ray Monoarfa - Kemang - Jakarta
  • ZZD. Pdt. Sunaryo Djaya - Bethany - Jakarta
  • ZZE. Max Boham - Sidoarjo - Jatim
  • ZZF. Julia Bing - Semarang
  • ZZG. Rika - Tanjung Karang
  • ZZH. Yusak Prasetyo - Batam
  • ZZI. Evi Anggraini - Jakarta
  • ZZJ. Kodden Manik - Cilegon
  • ZZZZ. ISI NAMA ANDA PADA KOLOM KOMENTAR UNTUK DIMASUKKAN DALAM DAFTAR INI