Bebas Dari Maut
Kejadiannya sudah lama, sekitar tahun 2003, di Amerika Serikat, tepatnya di kota Greenvile, South Carolina. Sebelumnya saya tinggal di Philadelpia, menjadi jemaat keliling (pindah-pindah gereja), sebab saya sendiri maunya hanya mendengar firman saja. Tapi karena masalah finansial, akhirnya saya pindah ke kota Greenvile. Di tempat inilah saya mendapat pekerjaan yang lumayan. Tujuan hidup saya hanya cari uang dan waktu libur saya pergunakan untuk jalan-jalan.
Suatu ketika di pagi hari seperti biasa saya pergi bekerja ikut dengan teman, Dewanto namanya. Ia yang mengemudikan mobil dan seharusnya saya duduk di kursi depan tetapi karena hari itu ia membawa baju seragam dan ditaruh di jok depan, akhirnya saya disuruh duduk di belakang. Hari masih gelap sekitar jam 06.00 pagi dan cuaca hujan ketika kami berangkat.
Biasanya kurang lebih 10 menit kami sampai ke tempat kerja. Wiper kaca mobil ternyata rusak, hujan semakin deras. Terpaksa mobil menepi dan kami berusaha memperbaiki wiper dahulu. Tetapi baru berjalan sekitar dua menit, wiper rusak kembali dan tinggal satu wiper yang aktif. Kami berusaha berhati-hati dengan mengurangi kecepatan mobil.
Tak disangka tiba-tiba kendaraan kami menabrak sesuatu dengan sangat keras dan dada saya terbentur jok depan. Rasanya sangat sakit dan membuat saya sampai muntah. Kami tidak tahu apa terjadi. Saya melihat teman saya tidak sadarkan diri, sedangkan saya tidak bisa bergerak. Ketika hujan mulai berhenti dan langit telah menjadi terang kami dibantu oleh mobil di belakang kami yang melapor ke 911.
Akhirnya kami dikeluarkan dari mobil untuk dipindahkan ke mobil ambulance. Saya dibawa ke unit emergency bersama kawan saya. Semua anggota tubuh saya diperiksa dengan ronsen: apakah ada yang patah atau tidak. Sesampai di ruang rumah sakit saya berkata, “Tuhan apa yang terjadi pada diri saya?” Dada saya sakit, kepala pusing selama 8 jam. Setelah saya diperisa dokter lagi akhirnya saya diperbolehkan pulang untuk rawat jalan.
Syukurlah ada teman yang menjemput saya dari Rumah Sakit dan ada juga teman yang datang menengok ke apartemen. Salah satunya adalah Pdt. Grifin, orang Amerika, yang bisa berbahasa Indonesia. Ia mendokan saya. Ia pernah melayani di gereja Indonesia selama 37 tahun dan saya berterima kasih masih ada Pendeta yang ingat kepada saya dan mengunjungi saya.
Seminggu kemudian saya bisa berjalan, walaupun dada masih sakit. Akhirnya saya bisa sembuh total seminggu kemudian. Sementara itu teman saya diopname selama 3 minggu di rumah sakit dan akhirnya diizinkan pulang. Menurut laporan dari kepolisian Greenville South Carolina, mobil teman saya ringsek di bagian depan dan airbag tidak berfungsi.
Teman-teman kami orang Indonesia dan Amerika sampai heran, “Kok kalian bisa selamat dengan kondisi mobil seperti itu?” Mereka berkata bahwa Tuhan masih mengijinkan kami berdua selamat. Melalui peristiwa itu saya sebagai orang Kristen dapat membagikan Firman Tuhan buat kita semua, “Janganlah kita menjauhkan diri dari pertemuan-pertemuan ibadah kita, seperti dibiasakan oleh beberapa orang, tetapi marilah kita saling menasihati, dan semakin giat melakukannya menjelang hari Tuhan yang mendekat.” (Ibrani 10:25). Firman Tuhan itu yang menegur saya.
Itulah kisah kesaksian saya yang mungkin bisa menjadi berkat untuk kita semua. Marilah lebih mendahulukan Tuhan dari pada berkatnya! Dan hendaknya kita mengisi firman yang didapat dari gereja maupun dari pembacaan Firman Tuhan sehari-hari untuk mempraktekannya di dalam kehidupan bermasyarakat. Halleluyah, Praise The Lord! (Sumber Kesaksian: Tono - kesaksian telah diedit seperlunya agar enak dibaca)
Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com