Kuliah Terakhir
Pada tanggal 18 September 2007 seorang profesor ilmu komputer Randy Pausch melangkah masuk ke hadapan sekitar 400 hadirin di Universitas Carnegie Mellon untuk menyampaikan kuliah terakhirnya yang berjudul “Sungguh-sungguh Mencapai Impian Di masa Kanak-kanakmu” Dengan slide-slide hasil CT Scan dari tubuhnya ditayangkan ke hadapan para hadirin, Randy mengatakan kepada para hadirin tentang kanker yang menggerogoti pankreasnya dan tentang perkiraan dokter bahwa umurnya hanya dapat dihitung dalam beberapa bulan saja. Di depan mimbar itu Randy nampak masih muda, energetik, tampan, seringkali sumringah, agak lucu. Ia nampak tak terkalahkan penyakitnya. Namun itu adalah waktu yang singkat, seperti diakuinya sendiri. Ternyata Dr. Randy Pausch telah meninggal dunia pada tanggal 25 Juli 2008 minggu lalu.
Kuliah terakhir Randy telah menjadi fenomena yang luar biasa, yang menyemangati kita tentang impian-impian yang masih mesti kita raih. Dan kisah tentang kuliah terakhir itu sudah dibukukan dan dapat dilihat di YouTube: www.youtube.com/watch?v=ji5_MqicxSo
Sebagai seorang profesor komputer sains di Universitas Carnegie Mellon, Dr. Randy F. Pausch tentu berharap para mahasiswanya memperhatikan kuliah yang ia berikan, dan ia sama sekali tidak berharap seluruh dunia akan mendengarkannya. Tetapi kini lebih dari 10 juta orang telah mendengarkan “Kuliah Terakhir” (The Last Lecture) yang dibawakan oleh Pausch tentang keanehan Captain Kirk, gravitasi nol di bumi dan menggapai mimpi masa kecil.
Bahkan kini “The Last Lecture” buku karangan Randy Pausch bersama seorang rekannya Jeff Zaslow, yang mengisahkan cerita di balik “Kuliah Terakhir” itu telah diterbitkan.
“Semua ini sangat ajaib,” kata Pausch saat makan siang di sebuah rumah makan, “itu hanyalah sebuah kuliah. Saya telah memberikan kuliah sepanjang hidup saya.” Tetapi tentu saja kuliah terakhir itu bukanlah kuliah biasa. “Jangan lupa untuk dicatat, apabila saya memberikan kuliah tanpa menderita sakit, kuliah tersebut tidak akan ada daya tariknya. Konteks yang menyertai kuliah terakhir itu adalah segala-galanya.”
Pausch, 47 tahun, menderita kanker pankreas, penyakit yang membunuh 95% para penderitanya, biasanya hanya dalam beberapa bulan setelah pasien terdiagnosis. Tetapi Pausch berbeda. Selain botol pil di atas meja kerjanya, tak ada tanda lain yang menonjol yang menunjukkan bahwa ia sedang menderita sakit kanker ganas. Ia terlihat santai dan ceria.
Musim gugur yang lalu setelah para dokter ahli memprediksi bahwa ia hanya akan bertahan hidup selama sekitar 6 bulan lagi, Pausch mengundurkan diri dari tugas akademis dan tinggal lebih dekat dengan keluarganya. Tetapi ia memutuskan untuk memberikan “kuliah terakhir” kepada para mahasiswa dan anggota senat fakultas di Universitas Carnegie Mellon.
Kuliah tersebut bukan tentang kanker, melainkan upaya seorang ayah untuk memberikan nasihat seumur hidup bagi anak-anaknya dalam satu sesi perkuliahan. Anak-anak Pausch: Dylan berusia 6 tahun, Logan 4 tahun, dan Chloe 2 tahun.
Meskipun ia bisa saja membuat rekaman video di rumahnya, ia ingin suatu hari anak-anaknya bisa menonton “kuliah terakhir” dan melihat ayah mereka sedang bekerja. “Saya hanya berbicara untuk mereka, saya tidak bermaksud mengajar kepada dunia bagaimana cara kita hidup,” katanya.
Setelah Zaslow, seorang alumnus Carnegie Mellon yang juga bekerja sebagai penulis di The Wall Street Journal, menulis tentang kuliah terakhir itu, rekaman itu segera menjadi sensasi di internet.
Dengan kejernihan pemikiran yang hanya dimiliki oleh orang-orang yang sedang menghadapi kematian, Pausch, dalam perkuliahan dan bukunya, meringkas resepnya untuk mencapai kehidupan yang bahagia dan bagaimana ia mengejar impian-impiannya. Ia berbicara tentang mencapai impian masa kecilnya, tentang merasakan gravitasi nol, tentang menulis artikel di World Book Encyclopedia, tentang memenangkan hadiah boneka raksasa di taman bermain, dan tentang menjadi seorang ahli “imajinasi” di Disney.
Kebanyakan isi kuliah terakhir itu tentang keuletannya dan bagaimana ia berhasil mengatasi rintangan yang menghalangi dirinya untuk mencapai impian-impiannya. Pelajaran-pelajaran lain meliputi pelajaran yang ingin diajarkan semua orang tua kepada anak-anaknya, yaitu tentang rasa terima kasih, kejujuran dan sebagainya. Ia juga mendesak para orang tua untuk mengizinkan anak-anak mereka untuk mencoret-coret dinding kamar tidur, dimana Randy kecil dulu menggambari dinding kamarnya dengan persamaan kuadrat, gambar roket, gambar elevator, gambar kotak pandora, yaitu benda ajaib dari salah satu cerita favoritnya.
Karena Randy Pausch berhasil melewati prediksi masa hidupnya, beberapa penulis blog mulai berspekulasi bahwa ia tidak sungguh-sungguh sedang sekarat. Tetapi para dokter di MD Anderson Cancer Center di Houston dan University of Pittsburg telah mengkonfirmasikan diagnosis dan pengobatan Pausch.
Pausch mengatakan bahwa ia mencoba menggunakan ketenaran yang tidak terduga ini untuk menarik perhatian orang pada kurangnya penelitian terhadap kanker pankreas. Ia bersaksi di depan Kongres Amerika Serikat atas nama Pancreatic Cancer Action, ia menunjukkan foto keluarganya. “Ini adalah isteri saya yang sebentar lagi akan menjadi janda,” katanya sambil menunjukkan foto isterinya.
Robbee Kosak, Wakil Rektor Universitas Carnegie Mellon, mengatakan, “Kita tidak perlu sinis terhadap cara Randy menjalani beberapa bulan terakhirnya. Ia sangat bersemangat. Ia selalu bersikap pragmatis. Ia tahu apa yang menjadi prioritasnya. Orang-orang seperti Randy sangat jarang. Kita harus gembira karena banyak di antara kita yang berkesempatan melihat bahwa hidup dengan penuh semangat di tengah penderitaan sakit yang mematikan itu dapat dilakukan.”
Meskipun Pausch menerima tawaran untuk mengisi acara 1 jam special di TV ABC mengenai perkuliahan terakhir dan kanker, namun ia menolak tawaran bermain film dan pembuatan film dokumenter.
Pausch mengatakan bahwa isterinya menganjurkan dirinya untuk menulis buku, tetapi ia khawatir kegiatan itu akan memakan terlalu banyak waktu yang seharusnya dihabiskan bersama anak-anaknya. Ia naik sepeda setiap hari untuk mempertahankan stamina yang dimilikinya. Selama bersepeda ia berbicara melalui telpon mengenai isi bukunya dengan Zaslow, rekan penulis bukunya.
Kebijaksanaan Pausch sebenarnya adalah ia mencoba menikmati setiap hari yang tersisa baginya bersama keluarganya, sementara pada saat yang bersamaan, ia berusaha mempersiapkan mereka untuk hidup tanpa dirinya. Ia merekam video pada saat ia meluangkan waktu dengan Dylan, Logan, dan Chloe, dan mengenang apa yang ia rasakan terhadap mereka. Selamat jalan Dr. Randy Pausch! (Sumber: Majalah Media Kawasan dan Internet - diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com - mohon jangan dihapus/didelete ketika anda memforwardnya)
kesaksian hidup - #inspiring story - #kisah nyata - #mukjizat kehidupan - #sign and wonders - #miracles - inspirational christian story - nice story - true story - inspirational touching story - an amazing story: kisah orang biasa dengan pengalaman luar biasa - ordinary people living the extra-ordinary lives
Search This Blog
Monday, July 28, 2008
The Vision of A Little Girl
Kesaksian Jannet Balderas Canela (8 Tahun)
Saya ingin menceritakan kepada anda pengalaman saya bersama Tuhan Yesus pada tanggal 5 September, 1999. Kami berada di gereja dan kuasa Allah memenuhi kami. Saya terjatuh ke lantai dan merasakan kehadiran Allah di dalam saya. Dan mulailah suatu penglihatan nampak kepada saya.
Dalam penglihatan, saya melihat ada dua jalan. Jalan yang satu sangat lebar, dan banyak orang berjalan di jalan itu, tetapi mereka berjalan menuju pada kehancuran mereka. Jalan yang kedua sangat sempit. Saya melihat banyak orang yang berjalan di jalan itu, memuji dan memuliakan Tuhan.
Sementara saya berada di lantai saya melihat seorang penunggang kuda datang. Tuhan mendekati tempat dimana saya berada. Diulurkan tangan-Nya, dan saya merasakan roh saya keluar dari tubuh saya dan saya didekap-Nya. Kami mulai menunggang kuda, menanjak dan berhenti di tempat yang tidak tinggi ataupun rendah. Dia berkata kepada saya, "Lihat anak-Ku, telah Kukatakan bahwa Aku datang membawamu, dan itulah yang Kulakukan sekarang, sebab apa yang keluar dari mulut-Ku, Aku menggenapinya. Apa yang kukatakan, itu yang Kuperbuat. Itulah sebabnya Aku membawamu ke tempat ini. Pertama-tama akan Kutunjukkan kepadamu luka-luka-Ku, agar engkau dapat menghargainya dan tak pernah melupakan apa yang telah Kuperbuat bagi kamu sekalian."
Kami tiba di Takhta Allah dan Tuhan menunjukkan kepada saya dimana paku-paku itu terletak dan bagian tubuh-Nya yang tertikam. Dia menangis. Kulihat bekas-bekas luka dan bilur-bilur yang telah ditanggung-Nya bagi kita semua. Dia berkata, "Lihat anak-Ku, banyak diantaramu yang tidak menghargai semua yang telah Kuperbuat bagi kalian, banyak diantaramu lupa bahwa Aku telah mati disalibkan bagimu. Kurasakan sakit, anak-Ku. Rasa sakit yang sangat saat Umat-Ku menyangkal-Ku, seperti membuka luka-luka itu kembali, sangat menyakiti-Ku. Seolah-olah mereka menyalibkan-Ku kembali." Saya melihat Tuhan menangis, sakit saat kita mengecewakan-Nya.
Tuhan berkata, "Anak, akan Kutunjukkan saatnya, bagaimana kedatangan-Ku akan terjadi." Saya berkata, "Tuhan telah banyak yang telah saya lihat, mengapa Tuhan menunjukkan kepada saya yang lebih?" Kami tiba di Takhta Allah, saya melihat ribuan malaikat berkumpul. Kami mulai turun, dan berhenti pada awan-awan putih yang indah. Tuhan katakan, "Anak-Ku, perhatikan baik-baik, beginilah saatnya Aku datang kembali, inilah kedatangan-Ku."
Saya melihat orang-orang terangkat di keempat penjuru bumi, memuji dan menyembah nama Tuhan, dipenuhi kuasa Allah, berpakaian putih dan terangkat. Mereka menyanyikan lagu indah, "Kudus,Kudus, Kuduslah, ya Tuhan! Terima kasih, Bapa! Sebab Engkau telah mengangkat kami! Terima kasih, Tuhan, sebab Engkau telah mengangkat kami!"
Saya melihat berbagai jenis orang, tinggi, pendek, hitam, putih. Semua orang, dan semua malaikat terangkat bersama-sama ke arah dimana kami berada. Semuanya penuh ucapan syukur bagi Tuhan, mereka semua berkata, "Kudus! Kudus! Kuduslah Tuhan!" Sangat luar biasa! Saya melihat banyak orang dan berpikir saya mengenal mereka. Mereka semua dipenuhi kemuliaan Allah.
Setelah itu kami tiba pada Takhta Allah, Tuhan berkata, "Anak-Ku, marilah." Kami keluar dari ruangan Takhta dan tiba di suatu tempat berjendela kecil. Tuhan berkata, "Anak-Ku, pandanglah ke bawah." Saya melihat pemandangan yang buruk, pemandangan yang dahsyat; seluruh bumi penuh kesulitan dan penderitaan. Tuhan berkata, "Lihat Anak-Ku, inilah yang akan terjadi setelah Kujemput Umat-Ku dari bumi. Kejadian ini setelah kedatangan-Ku, kejadian ini setelah Gereja-Ku berada disini bersama-Ku." Kulihat pemandangan yang sangat dahsyat.
Saya melihat orang merayakan sesuatu sejenak, lalu saya melihat seorang ayah mencari anak lelakinya, seorang ibu mencari anak-anak perempuannya, namun tak menemukan, karena Allah yang Mahakuasa telah membawa mereka. Keluarga mencari keluarganya namun tak menemukannya. Orang-orang mencari tetangganya namun tak menemukannya, sebab Tuhan telah mengangkat mereka bersama-sama dengan Dia.
Sesuatu yang dahsyat telah terjadi di seluruh bumi. Saya melihat pendeta berlari dari satu tempat ke tempat lain. Saya bertanya, "Tuhan, mengapa orang itu berlari kian kemari?" Tuhan menjawab, "Anak-Ku, orang ini seorang pendeta, namun karena dia mengira Aku akan datang berlambat-lambat, maka diapun tertinggal. Dia tak mengira Aku datang sekarang, dia mengira saat kedatangan-Ku masih sangat lama. Itu sebabnya dia tertinggal." Pendeta itu berlari kian kemari dan berkata, "Tuhan, mengapa saya tertinggal di belakang? Jika saya seorang Pendeta, jika saya mempunyai posisi dalam gereja, dan gereja telah pergi, saya tertinggal? Mengapa?" Tuhan menjawab, "Anak, Aku tak dapat berbuat sesuatu sekarang, dia mengira kedatangan-Ku akan diperlambat, sebab itu, dia tertinggal."
Saya melihat orang itu disiksa. Dia berkata, "Saya mau diangkat bersama Yesus! Saya mau ikut Tuhan sebab saya tak mau disini dan menderita dalam kesusahan yang besar ini!" Dia terus berlari kian kemari dan bertanya kepada dirinya, "Mengapa saya tertinggal? Bawalah saya dengan-Mu, Tuhan! Saya tak mau disini dan menderita!" Tuhan berkata, "Anak-Ku, tak ada yang dapat Kuperbuat sekarang, sekian lama Aku telah berbicara dengannya dan berkata bahwa Aku datang segera, namun dia tidak mempercayai-Ku. Nah, sekarang dia tertinggal."
Saya melihat orang-orang berlari kian kemari. Sangat banyak, putus asa, mencoba mencari damai, namun tak menemukan. Mereka berteriak, "Kami inginkan Firman Hidup! Kami haus Firman Allah!" Namun sudah terlambat, sebab Tuhan telah membawa gereja bersama-Nya. Saya melihat anak-anak muda perempuan dan lelaki berlari di hutan, dan gunung-gunung mencoba mencari damai. Namun tidak menemukannya. Tuhan berkata, “Anak-Ku, Aku telah membawa gereja-Ku, sekarang setanlah yang mengontrol.” Setan mengontrol dan kesusahan sedang terjadi dibumi! Orang-orang berlari dari satu tempat ke tempat lain. Mereka mau memakan sesamanya hidup-hidup, dan tarik menarik rambut, menyalahkan satu sama lain dan saling menyakiti, sebab mereka ingin kedamaian, namun tak menemukannya! Keadaan di bumi sangat sulit sebab Tuhan telah membawa Gereja-Nya.
Masa sukar di bumi, saya melihat banyak hal buruk. Banyak orang menyakiti satu sama lain, mengatakan, "Kami inginkan kasih! Kami inginkan damai!" Namun terlambat! Tuhan berkata, "Lihat Anak-Ku, Aku telah berbicara kepada mereka, Aku telah mengetok pada pintu hati orang-orang ini, namun mereka tak mau menemui-Ku. Nah, sekarang mereka tertinggal, dan tak ada yang dapat Kulakukan bagi mereka sekarang. Mengapa? Sebab Aku telah membawa Gereja-Ku bersama-Ku. Sementara umat-Ku berada di sorga dengan-Ku menikmati perjamuan kawin anak Domba, sementara orang-orang ini dalam penderitaan, akan ada tangisan dan kertak gigi. Sebab mereka tidak menuruti Firman-Ku, mereka lebih suka mengejek dan mengkritik Firman-Ku."
(Sumber: Email kiriman dari Sdr. Paul Santoso - Sydney, bahan telah diringkas)
Note: Apabila anda memerlukan traktat kesaksian/CD/DVD Kesaksian, anda akan memperolehnya secara gratis dari Sdr. Paul Santoso, dengan email address: facetofacewithlord@gmail.com
Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com
Saya ingin menceritakan kepada anda pengalaman saya bersama Tuhan Yesus pada tanggal 5 September, 1999. Kami berada di gereja dan kuasa Allah memenuhi kami. Saya terjatuh ke lantai dan merasakan kehadiran Allah di dalam saya. Dan mulailah suatu penglihatan nampak kepada saya.
Dalam penglihatan, saya melihat ada dua jalan. Jalan yang satu sangat lebar, dan banyak orang berjalan di jalan itu, tetapi mereka berjalan menuju pada kehancuran mereka. Jalan yang kedua sangat sempit. Saya melihat banyak orang yang berjalan di jalan itu, memuji dan memuliakan Tuhan.
Sementara saya berada di lantai saya melihat seorang penunggang kuda datang. Tuhan mendekati tempat dimana saya berada. Diulurkan tangan-Nya, dan saya merasakan roh saya keluar dari tubuh saya dan saya didekap-Nya. Kami mulai menunggang kuda, menanjak dan berhenti di tempat yang tidak tinggi ataupun rendah. Dia berkata kepada saya, "Lihat anak-Ku, telah Kukatakan bahwa Aku datang membawamu, dan itulah yang Kulakukan sekarang, sebab apa yang keluar dari mulut-Ku, Aku menggenapinya. Apa yang kukatakan, itu yang Kuperbuat. Itulah sebabnya Aku membawamu ke tempat ini. Pertama-tama akan Kutunjukkan kepadamu luka-luka-Ku, agar engkau dapat menghargainya dan tak pernah melupakan apa yang telah Kuperbuat bagi kamu sekalian."
Kami tiba di Takhta Allah dan Tuhan menunjukkan kepada saya dimana paku-paku itu terletak dan bagian tubuh-Nya yang tertikam. Dia menangis. Kulihat bekas-bekas luka dan bilur-bilur yang telah ditanggung-Nya bagi kita semua. Dia berkata, "Lihat anak-Ku, banyak diantaramu yang tidak menghargai semua yang telah Kuperbuat bagi kalian, banyak diantaramu lupa bahwa Aku telah mati disalibkan bagimu. Kurasakan sakit, anak-Ku. Rasa sakit yang sangat saat Umat-Ku menyangkal-Ku, seperti membuka luka-luka itu kembali, sangat menyakiti-Ku. Seolah-olah mereka menyalibkan-Ku kembali." Saya melihat Tuhan menangis, sakit saat kita mengecewakan-Nya.
Tuhan berkata, "Anak, akan Kutunjukkan saatnya, bagaimana kedatangan-Ku akan terjadi." Saya berkata, "Tuhan telah banyak yang telah saya lihat, mengapa Tuhan menunjukkan kepada saya yang lebih?" Kami tiba di Takhta Allah, saya melihat ribuan malaikat berkumpul. Kami mulai turun, dan berhenti pada awan-awan putih yang indah. Tuhan katakan, "Anak-Ku, perhatikan baik-baik, beginilah saatnya Aku datang kembali, inilah kedatangan-Ku."
Saya melihat orang-orang terangkat di keempat penjuru bumi, memuji dan menyembah nama Tuhan, dipenuhi kuasa Allah, berpakaian putih dan terangkat. Mereka menyanyikan lagu indah, "Kudus,Kudus, Kuduslah, ya Tuhan! Terima kasih, Bapa! Sebab Engkau telah mengangkat kami! Terima kasih, Tuhan, sebab Engkau telah mengangkat kami!"
Saya melihat berbagai jenis orang, tinggi, pendek, hitam, putih. Semua orang, dan semua malaikat terangkat bersama-sama ke arah dimana kami berada. Semuanya penuh ucapan syukur bagi Tuhan, mereka semua berkata, "Kudus! Kudus! Kuduslah Tuhan!" Sangat luar biasa! Saya melihat banyak orang dan berpikir saya mengenal mereka. Mereka semua dipenuhi kemuliaan Allah.
Setelah itu kami tiba pada Takhta Allah, Tuhan berkata, "Anak-Ku, marilah." Kami keluar dari ruangan Takhta dan tiba di suatu tempat berjendela kecil. Tuhan berkata, "Anak-Ku, pandanglah ke bawah." Saya melihat pemandangan yang buruk, pemandangan yang dahsyat; seluruh bumi penuh kesulitan dan penderitaan. Tuhan berkata, "Lihat Anak-Ku, inilah yang akan terjadi setelah Kujemput Umat-Ku dari bumi. Kejadian ini setelah kedatangan-Ku, kejadian ini setelah Gereja-Ku berada disini bersama-Ku." Kulihat pemandangan yang sangat dahsyat.
Saya melihat orang merayakan sesuatu sejenak, lalu saya melihat seorang ayah mencari anak lelakinya, seorang ibu mencari anak-anak perempuannya, namun tak menemukan, karena Allah yang Mahakuasa telah membawa mereka. Keluarga mencari keluarganya namun tak menemukannya. Orang-orang mencari tetangganya namun tak menemukannya, sebab Tuhan telah mengangkat mereka bersama-sama dengan Dia.
Sesuatu yang dahsyat telah terjadi di seluruh bumi. Saya melihat pendeta berlari dari satu tempat ke tempat lain. Saya bertanya, "Tuhan, mengapa orang itu berlari kian kemari?" Tuhan menjawab, "Anak-Ku, orang ini seorang pendeta, namun karena dia mengira Aku akan datang berlambat-lambat, maka diapun tertinggal. Dia tak mengira Aku datang sekarang, dia mengira saat kedatangan-Ku masih sangat lama. Itu sebabnya dia tertinggal." Pendeta itu berlari kian kemari dan berkata, "Tuhan, mengapa saya tertinggal di belakang? Jika saya seorang Pendeta, jika saya mempunyai posisi dalam gereja, dan gereja telah pergi, saya tertinggal? Mengapa?" Tuhan menjawab, "Anak, Aku tak dapat berbuat sesuatu sekarang, dia mengira kedatangan-Ku akan diperlambat, sebab itu, dia tertinggal."
Saya melihat orang itu disiksa. Dia berkata, "Saya mau diangkat bersama Yesus! Saya mau ikut Tuhan sebab saya tak mau disini dan menderita dalam kesusahan yang besar ini!" Dia terus berlari kian kemari dan bertanya kepada dirinya, "Mengapa saya tertinggal? Bawalah saya dengan-Mu, Tuhan! Saya tak mau disini dan menderita!" Tuhan berkata, "Anak-Ku, tak ada yang dapat Kuperbuat sekarang, sekian lama Aku telah berbicara dengannya dan berkata bahwa Aku datang segera, namun dia tidak mempercayai-Ku. Nah, sekarang dia tertinggal."
Saya melihat orang-orang berlari kian kemari. Sangat banyak, putus asa, mencoba mencari damai, namun tak menemukan. Mereka berteriak, "Kami inginkan Firman Hidup! Kami haus Firman Allah!" Namun sudah terlambat, sebab Tuhan telah membawa gereja bersama-Nya. Saya melihat anak-anak muda perempuan dan lelaki berlari di hutan, dan gunung-gunung mencoba mencari damai. Namun tidak menemukannya. Tuhan berkata, “Anak-Ku, Aku telah membawa gereja-Ku, sekarang setanlah yang mengontrol.” Setan mengontrol dan kesusahan sedang terjadi dibumi! Orang-orang berlari dari satu tempat ke tempat lain. Mereka mau memakan sesamanya hidup-hidup, dan tarik menarik rambut, menyalahkan satu sama lain dan saling menyakiti, sebab mereka ingin kedamaian, namun tak menemukannya! Keadaan di bumi sangat sulit sebab Tuhan telah membawa Gereja-Nya.
Masa sukar di bumi, saya melihat banyak hal buruk. Banyak orang menyakiti satu sama lain, mengatakan, "Kami inginkan kasih! Kami inginkan damai!" Namun terlambat! Tuhan berkata, "Lihat Anak-Ku, Aku telah berbicara kepada mereka, Aku telah mengetok pada pintu hati orang-orang ini, namun mereka tak mau menemui-Ku. Nah, sekarang mereka tertinggal, dan tak ada yang dapat Kulakukan bagi mereka sekarang. Mengapa? Sebab Aku telah membawa Gereja-Ku bersama-Ku. Sementara umat-Ku berada di sorga dengan-Ku menikmati perjamuan kawin anak Domba, sementara orang-orang ini dalam penderitaan, akan ada tangisan dan kertak gigi. Sebab mereka tidak menuruti Firman-Ku, mereka lebih suka mengejek dan mengkritik Firman-Ku."
(Sumber: Email kiriman dari Sdr. Paul Santoso - Sydney, bahan telah diringkas)
Note: Apabila anda memerlukan traktat kesaksian/CD/DVD Kesaksian, anda akan memperolehnya secara gratis dari Sdr. Paul Santoso, dengan email address: facetofacewithlord@gmail.com
Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com
Friday, July 25, 2008
Heroism From The Heart : Bob Butler Story
Bob Butler kehilangan kedua kakinya dalam sebuah ledakan ranjau pada tahun 1965 di Vietnam. Ia pulang ke rumah sebagai seorang pahlawan. Dua puluh tahun kemudian, ia membuktikan dirinya kembali bahwa kepahlawanan datangnya dari dalam hati.
Butler saat itu sedang bekerja di garasinya di sebuah kota kecil di Arizona pada suatu hari di musim panas ketika ia mendengar jeritan seorang wanita dari rumah di dekatnya. Ia mulai menggelindingkan kursi rodanya ke arah rumah itu, namun semak-semak yang padat tidak memungkinkan kursi roda itu lewat menuju ke pintu belakang. Maka ia keluar dari kursi rodanya, melewati kubangan dan semak-semak dengan kedua tangannya.
"Saya harus segera sampai ke sana," katanya. "Tidak peduli apakah itu akan menyakitkan."
Saat Butler sampai di kolam renang, disana ada seorang anak perempuan berumur tiga tahun, Stephanie Hanes, yang tergeletak di dasar kolam. Anak itu lahir dengan tidak memiliki kedua lengan, jatuh ke kolam renang dan tidak bisa berenang.
Ibunya berdiri di tepi kolam sambil berteriak histeris. Butler segera menyelam ke dasar kolam renang dan membawa Stephanie keluar. Wajahnya telah kebiruan, tidak ada detak jantung dan tidak bernafas.
Butler segera memberi nafas buatan saat ibu Stephanie menelpon departemen pemadam kebakaran. Dia bilang semua petugas pemadam kebakaran sedang bertugas keluar, dan tidak ada petugas di kantor. Dengan tanpa harapan, dia menangis dan memeluk bahu Butler.
Sambil meneruskan memberi nafas buatan, Butler menenangkan ibunya Stephanie. "Jangan kuatir," katanya. "Saya sudah menjadi tangannya untuk membawanya keluar dari kolam. Dia akan baik-baik saja. Sekarang saya sedang menjadi paru-parunya. Bersama kita akan bisa melewatinya."
Dua menit kemudian gadis kecil itu batuk-batuk, siuman kembali dan mulai menangis. Ketika mereka berpelukan dan bersyukur, ibunya Stephanie bertanya bagaimana Butler bisa tahu bahwa semua akan OK.
"Saat kedua kaki saya meledak di perang Vietnam, saya seorang diri di tengah lapangan," Butler bercerita. "Tidak ada seorang pun yang mau datang untuk menolong, kecuali seorang anak perempuan Vietnam. Dengan susah payah dia menyeret tubuh saya ke desa, dan dia berbisik dengan bahasa Inggrisnya yang terpatah-patah, 'Semuanya OK. Anda bisa hidup. Saya menjadi kakimu. Bersama kita bisa melewati semuanya.' "
"Perkataan yang penuh kebaikan dari anak perempuan Vietnam itu membawa harapan ke dalam jiwa saya, dan saya ingin melakukan hal yang sama kepada Stephanie."
****
Heroism From The Heart
Bob Butler lost his legs in a 1965 land mine explosion in Vietnam. He returned home a war hero. Twenty years later, he proved once again that heroism comes from the heart.
Butler was working in his garage in a small town in Arizona on a hot summer day when he heard a woman’s screams coming from a nearby house. He began rolling his wheelchair toward the house but the dense shrubbery wouldn’t allow him access to the back door. So he got out of his chair and started to crawl through the dirt and bushes.
“I had to get there,” he said. “It didn’t matter how much it hurt.” When Butler arrived at the pool there was a three-year-old girl named Stephanie Hanes lying at the bottom. She had been born without arms and had fallen in the water and couldn’t swim. Her mother stood over her baby screaming frantically. Butler dove to the bottom of the pool and brought little Stephanie up to the deck. Her face was blue, she had no pulse and was not breathing.
Butler immediately went to work performing CPR to revive her while Stephanie’s mother telephoned the fire department. She was told the paramedics were already out on a call.
Helplessly, she sobbed and hugged Butler’s shoulder.
As Butler continued CPR, he calmly reassured her. Don’t worry, he said. “I was her arms to get out of the pool. It’ll be okay. I am now her lungs. Together we can make it.”
Seconds later the little girl coughed, regaining consciousness, and began to cry. As they hugged and rejoiced together, the mother asked Butler how he knew it would be okay.
“The truth is I didn’t know,” he told her. “But when my legs were blown off in the war, I was all alone in a field. No one was there to help except a little Vietnamese girl. As she struggled to drag me into her village, she whispered in broken English, ‘It okay. You can live. I be your legs. Together we make it.’ Her kind words brought hope to my soul, and I wanted to do the same for Stephanie.”
(Sumber: Dari Internet dan Milis Terangdunia)
Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com
Butler saat itu sedang bekerja di garasinya di sebuah kota kecil di Arizona pada suatu hari di musim panas ketika ia mendengar jeritan seorang wanita dari rumah di dekatnya. Ia mulai menggelindingkan kursi rodanya ke arah rumah itu, namun semak-semak yang padat tidak memungkinkan kursi roda itu lewat menuju ke pintu belakang. Maka ia keluar dari kursi rodanya, melewati kubangan dan semak-semak dengan kedua tangannya.
"Saya harus segera sampai ke sana," katanya. "Tidak peduli apakah itu akan menyakitkan."
Saat Butler sampai di kolam renang, disana ada seorang anak perempuan berumur tiga tahun, Stephanie Hanes, yang tergeletak di dasar kolam. Anak itu lahir dengan tidak memiliki kedua lengan, jatuh ke kolam renang dan tidak bisa berenang.
Ibunya berdiri di tepi kolam sambil berteriak histeris. Butler segera menyelam ke dasar kolam renang dan membawa Stephanie keluar. Wajahnya telah kebiruan, tidak ada detak jantung dan tidak bernafas.
Butler segera memberi nafas buatan saat ibu Stephanie menelpon departemen pemadam kebakaran. Dia bilang semua petugas pemadam kebakaran sedang bertugas keluar, dan tidak ada petugas di kantor. Dengan tanpa harapan, dia menangis dan memeluk bahu Butler.
Sambil meneruskan memberi nafas buatan, Butler menenangkan ibunya Stephanie. "Jangan kuatir," katanya. "Saya sudah menjadi tangannya untuk membawanya keluar dari kolam. Dia akan baik-baik saja. Sekarang saya sedang menjadi paru-parunya. Bersama kita akan bisa melewatinya."
Dua menit kemudian gadis kecil itu batuk-batuk, siuman kembali dan mulai menangis. Ketika mereka berpelukan dan bersyukur, ibunya Stephanie bertanya bagaimana Butler bisa tahu bahwa semua akan OK.
"Saat kedua kaki saya meledak di perang Vietnam, saya seorang diri di tengah lapangan," Butler bercerita. "Tidak ada seorang pun yang mau datang untuk menolong, kecuali seorang anak perempuan Vietnam. Dengan susah payah dia menyeret tubuh saya ke desa, dan dia berbisik dengan bahasa Inggrisnya yang terpatah-patah, 'Semuanya OK. Anda bisa hidup. Saya menjadi kakimu. Bersama kita bisa melewati semuanya.' "
"Perkataan yang penuh kebaikan dari anak perempuan Vietnam itu membawa harapan ke dalam jiwa saya, dan saya ingin melakukan hal yang sama kepada Stephanie."
****
Heroism From The Heart
Bob Butler lost his legs in a 1965 land mine explosion in Vietnam. He returned home a war hero. Twenty years later, he proved once again that heroism comes from the heart.
Butler was working in his garage in a small town in Arizona on a hot summer day when he heard a woman’s screams coming from a nearby house. He began rolling his wheelchair toward the house but the dense shrubbery wouldn’t allow him access to the back door. So he got out of his chair and started to crawl through the dirt and bushes.
“I had to get there,” he said. “It didn’t matter how much it hurt.” When Butler arrived at the pool there was a three-year-old girl named Stephanie Hanes lying at the bottom. She had been born without arms and had fallen in the water and couldn’t swim. Her mother stood over her baby screaming frantically. Butler dove to the bottom of the pool and brought little Stephanie up to the deck. Her face was blue, she had no pulse and was not breathing.
Butler immediately went to work performing CPR to revive her while Stephanie’s mother telephoned the fire department. She was told the paramedics were already out on a call.
Helplessly, she sobbed and hugged Butler’s shoulder.
As Butler continued CPR, he calmly reassured her. Don’t worry, he said. “I was her arms to get out of the pool. It’ll be okay. I am now her lungs. Together we can make it.”
Seconds later the little girl coughed, regaining consciousness, and began to cry. As they hugged and rejoiced together, the mother asked Butler how he knew it would be okay.
“The truth is I didn’t know,” he told her. “But when my legs were blown off in the war, I was all alone in a field. No one was there to help except a little Vietnamese girl. As she struggled to drag me into her village, she whispered in broken English, ‘It okay. You can live. I be your legs. Together we make it.’ Her kind words brought hope to my soul, and I wanted to do the same for Stephanie.”
(Sumber: Dari Internet dan Milis Terangdunia)
Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com
Wednesday, July 23, 2008
A Junction Boy
Proyek Alkitab Oleh Seorang Anak Enam Tahun dari Kota Junction
Terinspirasi oleh mimpi ilahi, seorang anak dari kota Junction mengirimkan Alkitab-Alkitab kepada para korban Topan Katrina – Oleh Herb Brock – Penulis di kota Junction.
Para pengungsi akibat kunjungan topan Katrina yang melanda Gulf Coast telah menerima berton-ton makanan dan bergalon-galon air minum dari pemerintah dan organisasi-organisasi sosial. Namun beberapa ratus dari antara mereka telah menerima kiriman makanan rohani juga. Dan makanan rohani itu datangnya dari sumber yang unik: seorang anak laki-laki berusia 6 tahun dari kota Junction yang bertindak berdasarkan ilham dari mimpi ilahi. “Tuhan mengatakan kepada saya dalam suatu mimpi untuk menolong (para pengungsi),” kata Tyler Mattingly.
Ibunya, Jody Mattingly, menjelaskan lebih lanjut. “Tyler bangun pada suatu pagi hari dan menceritakan bahwa Tuhan telah berkata kepadanya dalam suatu mimpi,” katanya. “Tyler berkata bahwa Tuhan mengatakan kepadanya bahwa topan itu seperti seorang kaya yang telah mengambil semua harta benda orang miskin. Tuhan berkata bahwa Tyler perlu menjadi seperti seekor anjing dan menjilati luka-luka orang miskin itu. Tetapi Tuhan memiliki misi di dalam pikiran-Nya bagi Tyler yang melampaui sekedar menjilati luka-luka, atau bahkan membagi-bagikan makanan dan minuman bagi para pengungsi,” kata Nyonya Mattingly. “Tyler berkata bahwa Tuhan mengatakan kepadanya bahwa Tyler harus menyediakan sesuatu yang lebih dari pada makanan dan minuman. Ia ingin agar Tyler menyediakan Firman-Nya kepada para pengungsi itu,” kata Nyonya Mattingly lebih lanjut.
Dengan nasihat dari ibunya dan ayahnya, Robbie Mattingly, Tyler dengan segera mulai bekerja untuk mewujudkan impian itu menjadi kenyataan, mengubah perintah Tuhan dalam mimpinya menjadi tindakan nyata. “Tyler bertanya kepada Opanya, Jim Cutter, dari kota Junction, apakah gerejanya, Pleasant Run Baptist, dapat menyumbang Alkitab-Alkitab,” kata Jody Mattingly. “Ia kemudian mengontak pendeta kami (Pendeta David Fralix dari New Hop Baptist Church), apakah ia mau menyumbang hal yang sama.”
Alkitab-Alkitab mulai berdatangan begitu perkataan misi Tyler mendatangi gereja demi gereja, komunitas demi komunitas dan dari tetangga ke tetangga. Alkitab-Alkitab datang sebanyak 800 buah dalam tempo beberapa minggu saja. Dan Alkitab-Alkitab itu bukan saja datang dari gembala gereja atau anggota gereja saja, namun juga dari individu-individu yang bukan anggota gereja.
“Pada suatu hari seorang pria dengan sepeda motor datang ke rumah kami dan bertanya, ‘Apakah di sini tempat tinggal Tyler?’” kata Jody. “Ia membawa dua kotak penuh berisi Alkitab. Dan seorang tetangga yang tidak suka pergi ke gereja membeli lima Alkitab baru dan membawanya kepada Tyler,” katanya lagi. Selain itu, para guru dan murid-murid di sekolah Tyler, Danville Christian Academy, juga telah menyumbangkan banyak Alkitab. Suatu kotak khusus telah disediakan di gang menuju aula sekolah itu tempat menyimpan Alkitab yang disumbangkan. “Alkitab-Alkitab itu masih datang, dan kami telah membagikannya pada beberapa minggu terakhir ini,” kata Mattingly. Alkitab-Alkitab itu telah dikirim ke dua tempat, sebuah gereja di daerah Gulf Coast di selatan Alabama dan sebuah sekolah di Houston, Texas, dimana banyak tinggal pengungsi dari daerah Gulf Coast di Lousiana. “Untuk memberikan gambaran kepada anda tentang besarnya proyek ini, dalam salah satu pengiriman, Pendeta David Fralix dan Robbie membawa 327 Alkitab ke gereja di Alabama itu.” kata Jody.
Tuhan telah memberi mereka karunia-karunia yang unik. Jody berkata bahwa ia dan suaminya percaya bahwa Tyler dan dua puteranya yang lain, Jesse (12 tahun) dan Jake (6 bulan), masing-masing memiliki karunia-karunia yang istimewa yang diberikan kepada mereka dari Tuhan. Ia berkata bahwa karunia yang dimiliki Tyler nampaknya “kepekaan” dan “kerohanian” yang merupakan karunia yang tak lumrah bagi seorang anak seusianya, karunia-karunia yang telah diperlihatkan melalui proyek Alkitab ini.
Tyler itu seperti anak-anak laki-laki seumurnya. Ia suka main “flag football” (semacam permainan rugby bagi anak-anak) dan T-Ball (semacam permainan baseball) dan ia suka main video games, dan seperti kebanyakan anak-anak laki-laki, ia juga bisa nakal,” kata Jody. “Tetapi ia juga merupakan seorang anak yang sensitif, selalu,” katanya. “Ia banyak memikirkan tentang setiap orang dan setiap hal. Ketika kami melewati daerah bencana, ia mengkhawatirkan orang-orang yang terkena bencana dan berdoa bagi mereka,” katanya. “Memang, topan Katrina telah menyebabkan kerusakan yang besar, dan anak saya, Tyler, telah berdoa bagi orang-orang di daerah Gulf Coast itu. Tetapi ia memutuskan untuk melakukan sesuatu yang lebih besar dari hanya berdoa saja. Ia memutuskan, oh bukan, Tuhan memutuskan baginya untuk membagikan firman Tuhan kepada para korban topan Katrina itu. Proyek ini telah menggerakkan seluruh keluarga kami. Sangat mengagumkan melihat bagaimana Tuhan telah bekerja melalui Tyler.”
Tetapi proyek Alkitab ini bukanlah pertama kalinya Tyler memperlihatkan kepekaan dan kerohaniannya serta menggerakkan seluruh keluarga. “Alasan mengapa kami pergi ke gereja beberapa tahun yang lalu juga karena Tyler,” kata Jody. “Dulu ia mulai bertanya soal-soal kerohanian, tentang Tuhan dan malaikat dan kehidupan dan hal-hal semacam itu. Robbie dan saya tidak dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan itu. Lalu kami memutuskan bahwa gereja adalah tempat yang dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan Tyler. Tetapi dalam proyek Alkitab ini, Tyler menjadi orang yang membawa jawaban – jawaban terhadap sebuah impian, suatu tanggapan terhadap misi khusus yang ia dan ibunya percaya datangnya langsung dari Tuhan. (Diterjemahkan oleh Hadi Kristadi untuk http://pentas-kesaksian.blogspot.com. Sumber asli dalam Bahasa Inggeris: Kiriman Email dari Ibu Suharti Ali)
****
Inspired by divine dream, a Junction boy sends Bibles to Katrina victims
By HERB BROCK Staff Writer JUNCTION CITY –
Evacuees from last month’s devastating visit to the Gulf Coast by hurricane Katrina have received tons of food and gallons of water from government and charitable organizations. But several hundred of them also have received some spiritual nourishment as well. And that spiritual nourishment has come from unique source - a 6-year-old Junction City boy acting on a divinely-inspired dream. “God told me in a dream to help (the evacuees),” said Tyler Mattingly.
His mother, Jody Mattingly, elaborates. “Tyler woke up one morning and said God had talked to him in a dream,” she said. “Tyler said God told him that the hurricane was like a rich person who had taken away all the poor man’s things. God said that Tyler needed to be like a dog and lick the poor man’s wounds. But God had a mission in mind for Tyler that would transcend licking wounds, or even providing food and water to the evacuees,” Mattingly said. “Tyler said God told him that Tyler should provide something more than food and water. He wanted Tyler to provide His word to the evacuees,” she said. With advice from his mother and father, Robbie Mattingly, Tyler immediately began to work on turning his dream into reality, transforming the words he said God had told him into action. “Tyler asked his Paw (grandfather, Jim Cutter of Junction City) if his church, Pleasant Run Baptist, could donate Bibles,” said Jody Mattingly. “He then contacted our minister (the Rev. David Fralix of New Hope Baptist Church, if he could do the same.” Bibles started pouring in as word of Tyler’s mission spread from church to church, community to community and neighbor to neighbor. The Bibles started pouring in - more than 800 in a matter of just a few weeks. And they have come not just from church pastors and parishioners but also from individuals, including some people who aren’t churchgoers.
“One day a man on a motorcycle pulled up to our house and asked, ‘Is this where Tyler lives?’” said Mattingly. “He had brought two cases of Bibles.” “And a neighbor who doesn’t go to church bought five brand new Bibles and brought them to Tyler,” she said. In addition, the teachers and students at Tyler’s school, Danville Christian Academy, also have contributed scores of Bibles. A special bin has been set up in a hallway where the Bibles are deposited. “The Bibles are still coming in, and we’ve been distributing them the last couple of weeks,” said Mattingly. The Bibles have been going to two places - a church in the Gulf Coast region of south Alabama and a school in Houston, Texas, where many evacuees from the Gulf Coast region of Louisiana have located.
“To give you an idea of the size of this project, in one of our shipments, Brother David (Fralix) and Robbie took 327 Bibles to the church in Alabama,” Mattingly said. God has given them unique gifts. Mattingly said she and her husband believe Tyler and their other two sons - Jesse, 12, and Jake, 6 months - each are special and have unique gifts given to them by God. She said Tyler’s gifts seem to be “sensitivity” and a “spirituality” unusual for someone his age,” gifts that have been on full display through his Bible project.
“Tyler’s like most boys his age. He loves to play flag football and T-ball and he loves to play video games, and, like most boys, he can be bad,” Mattingly said. “But he also is a very sensitive boy, always has been,” she said. “He worries about everyone and everything. “When we drive by a wreck scene, he worries about the people in the wreck and prays for them,” she said. “In a way, Katrina caused a massive wreck, and he’s been praying for those people on the Gulf. But he decided to do more than pray for them. He decided - no, God decided for him - to give them the word of God.
“This project has taken over the whole family. It’s amazing to see how God has been working through Tyler.” But the Bible project isn’t the first time Tyler’s sensitivity and spirituality have shown themselves and taken over the whole family. “The reason we started going to church a couple of years ago was because of Tyler,” said Mattingly. “He started asking questions of a spiritual nature, about God and angels and life and things like that. Robbie and I didn’t feel like we could answer those questions. We decided church was where we could all find the answers to Tyler’s questions.” But in the Bible project, Tyler has been the one providing the answer - an answer to a dream, a response to a special mission he and his mother believe came directly from God.
Ditulis oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com
Terinspirasi oleh mimpi ilahi, seorang anak dari kota Junction mengirimkan Alkitab-Alkitab kepada para korban Topan Katrina – Oleh Herb Brock – Penulis di kota Junction.
Para pengungsi akibat kunjungan topan Katrina yang melanda Gulf Coast telah menerima berton-ton makanan dan bergalon-galon air minum dari pemerintah dan organisasi-organisasi sosial. Namun beberapa ratus dari antara mereka telah menerima kiriman makanan rohani juga. Dan makanan rohani itu datangnya dari sumber yang unik: seorang anak laki-laki berusia 6 tahun dari kota Junction yang bertindak berdasarkan ilham dari mimpi ilahi. “Tuhan mengatakan kepada saya dalam suatu mimpi untuk menolong (para pengungsi),” kata Tyler Mattingly.
Ibunya, Jody Mattingly, menjelaskan lebih lanjut. “Tyler bangun pada suatu pagi hari dan menceritakan bahwa Tuhan telah berkata kepadanya dalam suatu mimpi,” katanya. “Tyler berkata bahwa Tuhan mengatakan kepadanya bahwa topan itu seperti seorang kaya yang telah mengambil semua harta benda orang miskin. Tuhan berkata bahwa Tyler perlu menjadi seperti seekor anjing dan menjilati luka-luka orang miskin itu. Tetapi Tuhan memiliki misi di dalam pikiran-Nya bagi Tyler yang melampaui sekedar menjilati luka-luka, atau bahkan membagi-bagikan makanan dan minuman bagi para pengungsi,” kata Nyonya Mattingly. “Tyler berkata bahwa Tuhan mengatakan kepadanya bahwa Tyler harus menyediakan sesuatu yang lebih dari pada makanan dan minuman. Ia ingin agar Tyler menyediakan Firman-Nya kepada para pengungsi itu,” kata Nyonya Mattingly lebih lanjut.
Dengan nasihat dari ibunya dan ayahnya, Robbie Mattingly, Tyler dengan segera mulai bekerja untuk mewujudkan impian itu menjadi kenyataan, mengubah perintah Tuhan dalam mimpinya menjadi tindakan nyata. “Tyler bertanya kepada Opanya, Jim Cutter, dari kota Junction, apakah gerejanya, Pleasant Run Baptist, dapat menyumbang Alkitab-Alkitab,” kata Jody Mattingly. “Ia kemudian mengontak pendeta kami (Pendeta David Fralix dari New Hop Baptist Church), apakah ia mau menyumbang hal yang sama.”
Alkitab-Alkitab mulai berdatangan begitu perkataan misi Tyler mendatangi gereja demi gereja, komunitas demi komunitas dan dari tetangga ke tetangga. Alkitab-Alkitab datang sebanyak 800 buah dalam tempo beberapa minggu saja. Dan Alkitab-Alkitab itu bukan saja datang dari gembala gereja atau anggota gereja saja, namun juga dari individu-individu yang bukan anggota gereja.
“Pada suatu hari seorang pria dengan sepeda motor datang ke rumah kami dan bertanya, ‘Apakah di sini tempat tinggal Tyler?’” kata Jody. “Ia membawa dua kotak penuh berisi Alkitab. Dan seorang tetangga yang tidak suka pergi ke gereja membeli lima Alkitab baru dan membawanya kepada Tyler,” katanya lagi. Selain itu, para guru dan murid-murid di sekolah Tyler, Danville Christian Academy, juga telah menyumbangkan banyak Alkitab. Suatu kotak khusus telah disediakan di gang menuju aula sekolah itu tempat menyimpan Alkitab yang disumbangkan. “Alkitab-Alkitab itu masih datang, dan kami telah membagikannya pada beberapa minggu terakhir ini,” kata Mattingly. Alkitab-Alkitab itu telah dikirim ke dua tempat, sebuah gereja di daerah Gulf Coast di selatan Alabama dan sebuah sekolah di Houston, Texas, dimana banyak tinggal pengungsi dari daerah Gulf Coast di Lousiana. “Untuk memberikan gambaran kepada anda tentang besarnya proyek ini, dalam salah satu pengiriman, Pendeta David Fralix dan Robbie membawa 327 Alkitab ke gereja di Alabama itu.” kata Jody.
Tuhan telah memberi mereka karunia-karunia yang unik. Jody berkata bahwa ia dan suaminya percaya bahwa Tyler dan dua puteranya yang lain, Jesse (12 tahun) dan Jake (6 bulan), masing-masing memiliki karunia-karunia yang istimewa yang diberikan kepada mereka dari Tuhan. Ia berkata bahwa karunia yang dimiliki Tyler nampaknya “kepekaan” dan “kerohanian” yang merupakan karunia yang tak lumrah bagi seorang anak seusianya, karunia-karunia yang telah diperlihatkan melalui proyek Alkitab ini.
Tyler itu seperti anak-anak laki-laki seumurnya. Ia suka main “flag football” (semacam permainan rugby bagi anak-anak) dan T-Ball (semacam permainan baseball) dan ia suka main video games, dan seperti kebanyakan anak-anak laki-laki, ia juga bisa nakal,” kata Jody. “Tetapi ia juga merupakan seorang anak yang sensitif, selalu,” katanya. “Ia banyak memikirkan tentang setiap orang dan setiap hal. Ketika kami melewati daerah bencana, ia mengkhawatirkan orang-orang yang terkena bencana dan berdoa bagi mereka,” katanya. “Memang, topan Katrina telah menyebabkan kerusakan yang besar, dan anak saya, Tyler, telah berdoa bagi orang-orang di daerah Gulf Coast itu. Tetapi ia memutuskan untuk melakukan sesuatu yang lebih besar dari hanya berdoa saja. Ia memutuskan, oh bukan, Tuhan memutuskan baginya untuk membagikan firman Tuhan kepada para korban topan Katrina itu. Proyek ini telah menggerakkan seluruh keluarga kami. Sangat mengagumkan melihat bagaimana Tuhan telah bekerja melalui Tyler.”
Tetapi proyek Alkitab ini bukanlah pertama kalinya Tyler memperlihatkan kepekaan dan kerohaniannya serta menggerakkan seluruh keluarga. “Alasan mengapa kami pergi ke gereja beberapa tahun yang lalu juga karena Tyler,” kata Jody. “Dulu ia mulai bertanya soal-soal kerohanian, tentang Tuhan dan malaikat dan kehidupan dan hal-hal semacam itu. Robbie dan saya tidak dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan itu. Lalu kami memutuskan bahwa gereja adalah tempat yang dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan Tyler. Tetapi dalam proyek Alkitab ini, Tyler menjadi orang yang membawa jawaban – jawaban terhadap sebuah impian, suatu tanggapan terhadap misi khusus yang ia dan ibunya percaya datangnya langsung dari Tuhan. (Diterjemahkan oleh Hadi Kristadi untuk http://pentas-kesaksian.blogspot.com. Sumber asli dalam Bahasa Inggeris: Kiriman Email dari Ibu Suharti Ali)
****
Inspired by divine dream, a Junction boy sends Bibles to Katrina victims
By HERB BROCK Staff Writer JUNCTION CITY –
Evacuees from last month’s devastating visit to the Gulf Coast by hurricane Katrina have received tons of food and gallons of water from government and charitable organizations. But several hundred of them also have received some spiritual nourishment as well. And that spiritual nourishment has come from unique source - a 6-year-old Junction City boy acting on a divinely-inspired dream. “God told me in a dream to help (the evacuees),” said Tyler Mattingly.
His mother, Jody Mattingly, elaborates. “Tyler woke up one morning and said God had talked to him in a dream,” she said. “Tyler said God told him that the hurricane was like a rich person who had taken away all the poor man’s things. God said that Tyler needed to be like a dog and lick the poor man’s wounds. But God had a mission in mind for Tyler that would transcend licking wounds, or even providing food and water to the evacuees,” Mattingly said. “Tyler said God told him that Tyler should provide something more than food and water. He wanted Tyler to provide His word to the evacuees,” she said. With advice from his mother and father, Robbie Mattingly, Tyler immediately began to work on turning his dream into reality, transforming the words he said God had told him into action. “Tyler asked his Paw (grandfather, Jim Cutter of Junction City) if his church, Pleasant Run Baptist, could donate Bibles,” said Jody Mattingly. “He then contacted our minister (the Rev. David Fralix of New Hope Baptist Church, if he could do the same.” Bibles started pouring in as word of Tyler’s mission spread from church to church, community to community and neighbor to neighbor. The Bibles started pouring in - more than 800 in a matter of just a few weeks. And they have come not just from church pastors and parishioners but also from individuals, including some people who aren’t churchgoers.
“One day a man on a motorcycle pulled up to our house and asked, ‘Is this where Tyler lives?’” said Mattingly. “He had brought two cases of Bibles.” “And a neighbor who doesn’t go to church bought five brand new Bibles and brought them to Tyler,” she said. In addition, the teachers and students at Tyler’s school, Danville Christian Academy, also have contributed scores of Bibles. A special bin has been set up in a hallway where the Bibles are deposited. “The Bibles are still coming in, and we’ve been distributing them the last couple of weeks,” said Mattingly. The Bibles have been going to two places - a church in the Gulf Coast region of south Alabama and a school in Houston, Texas, where many evacuees from the Gulf Coast region of Louisiana have located.
“To give you an idea of the size of this project, in one of our shipments, Brother David (Fralix) and Robbie took 327 Bibles to the church in Alabama,” Mattingly said. God has given them unique gifts. Mattingly said she and her husband believe Tyler and their other two sons - Jesse, 12, and Jake, 6 months - each are special and have unique gifts given to them by God. She said Tyler’s gifts seem to be “sensitivity” and a “spirituality” unusual for someone his age,” gifts that have been on full display through his Bible project.
“Tyler’s like most boys his age. He loves to play flag football and T-ball and he loves to play video games, and, like most boys, he can be bad,” Mattingly said. “But he also is a very sensitive boy, always has been,” she said. “He worries about everyone and everything. “When we drive by a wreck scene, he worries about the people in the wreck and prays for them,” she said. “In a way, Katrina caused a massive wreck, and he’s been praying for those people on the Gulf. But he decided to do more than pray for them. He decided - no, God decided for him - to give them the word of God.
“This project has taken over the whole family. It’s amazing to see how God has been working through Tyler.” But the Bible project isn’t the first time Tyler’s sensitivity and spirituality have shown themselves and taken over the whole family. “The reason we started going to church a couple of years ago was because of Tyler,” said Mattingly. “He started asking questions of a spiritual nature, about God and angels and life and things like that. Robbie and I didn’t feel like we could answer those questions. We decided church was where we could all find the answers to Tyler’s questions.” But in the Bible project, Tyler has been the one providing the answer - an answer to a dream, a response to a special mission he and his mother believe came directly from God.
Ditulis oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com
Tuesday, July 22, 2008
Not As Good As It Seems
Rumput Di Rumah Tetangga Tidak Selamanya Lebih Hijau
Saya teringat pada suatu kisah suami isteri yang mengalami prahara rumah tangga. Sang suami mulai melirik isteri orang lain, ibaratnya melirik rumput tetangga yang nampak lebih hijau. Ia berpikir bahwa wanita tetangganya jauh lebih OK dibandingkan isterinya. Diam-diam ia mulai memacari wanita itu.
Memang secara fisik wanita ini termasuk cantik sekali, dengan tubuh tinggi semampai. Banyak pria yang mengincar wanita ini. Waktu tersenyum kecantikan wanita ini semakin bertambah saja. Setelah beberapa bulan pria ini memacari wanita ini, mulailah ia melihat watak asli wanita selingkuhannya. Ternyata wanita itu 'matre' sekali, mau uangnya saja. Ketika uangnya mengalir lancar pada wanita itu, maka wanita itu ada dalam mood yang baik. Tetapi jika tidak ada uang, tidak ada hadiah, wanita itu judesnya minta ampun. Pertengkaran demi pertengkaran akhirnya menghiasi hubungan perselingkuhan itu karena pria ini mulai membatasi pengeluaran uangnya bagi sang wanita tetangga.
Suatu kali ketika ia habis bertengkar dengan wanita itu gara-gara sang wanita minta dibelikan perhiasan yang sangat mahal, pria itu pulang ke rumah menemui isterinya. Sang isteri menyambut dengan hangat seperti biasanya. Isterinya melihat ada kemurungan di wajah suaminya, sehingga ia bertanya, "Ada apa, mas?" Tentu saja sang suami tidak berterus terang mengenai masalah dengan selingkuhannya. Ia hanya berkata, "Ada masalah keuangan!"
"Apakah saya harus kembali bekerja?"
"Tidak perlu."
"Atau saya buka salon atau mengambil simpanan uang saya?"
"Tidak perlu juga."
Saat itu juga terbukalah mata suaminya betapa isterinya rela berkorban apa saja untuk mengatasi keuangan mereka. Saat itu juga terlihatlah betapa rumput di rumah tetangga tidak selalu lebih hijau. Saat itu juga sang suami merasa malu dan berdosa terhadap isterinya. Sekarang ia bisa melihat betapa berkat besar yang telah diberikan kepadanya melalui kehadiran isterinya. Di hadapannya ada seorang wanita yang ia miliki, yang tidak materialistis dan yang mendukung dirinya senantiasa. Betapa berdosanya ia menyia-nyiakan isteri yang terbaik yang ia miliki. Ternyata rumput di rumah tetangga tidak selalu lebih hijau. (Sumber: Ps. Edward Supit yang ditulis dalam Tabloid Keluarga Edisi 30/2008)
Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com
Saya teringat pada suatu kisah suami isteri yang mengalami prahara rumah tangga. Sang suami mulai melirik isteri orang lain, ibaratnya melirik rumput tetangga yang nampak lebih hijau. Ia berpikir bahwa wanita tetangganya jauh lebih OK dibandingkan isterinya. Diam-diam ia mulai memacari wanita itu.
Memang secara fisik wanita ini termasuk cantik sekali, dengan tubuh tinggi semampai. Banyak pria yang mengincar wanita ini. Waktu tersenyum kecantikan wanita ini semakin bertambah saja. Setelah beberapa bulan pria ini memacari wanita ini, mulailah ia melihat watak asli wanita selingkuhannya. Ternyata wanita itu 'matre' sekali, mau uangnya saja. Ketika uangnya mengalir lancar pada wanita itu, maka wanita itu ada dalam mood yang baik. Tetapi jika tidak ada uang, tidak ada hadiah, wanita itu judesnya minta ampun. Pertengkaran demi pertengkaran akhirnya menghiasi hubungan perselingkuhan itu karena pria ini mulai membatasi pengeluaran uangnya bagi sang wanita tetangga.
Suatu kali ketika ia habis bertengkar dengan wanita itu gara-gara sang wanita minta dibelikan perhiasan yang sangat mahal, pria itu pulang ke rumah menemui isterinya. Sang isteri menyambut dengan hangat seperti biasanya. Isterinya melihat ada kemurungan di wajah suaminya, sehingga ia bertanya, "Ada apa, mas?" Tentu saja sang suami tidak berterus terang mengenai masalah dengan selingkuhannya. Ia hanya berkata, "Ada masalah keuangan!"
"Apakah saya harus kembali bekerja?"
"Tidak perlu."
"Atau saya buka salon atau mengambil simpanan uang saya?"
"Tidak perlu juga."
Saat itu juga terbukalah mata suaminya betapa isterinya rela berkorban apa saja untuk mengatasi keuangan mereka. Saat itu juga terlihatlah betapa rumput di rumah tetangga tidak selalu lebih hijau. Saat itu juga sang suami merasa malu dan berdosa terhadap isterinya. Sekarang ia bisa melihat betapa berkat besar yang telah diberikan kepadanya melalui kehadiran isterinya. Di hadapannya ada seorang wanita yang ia miliki, yang tidak materialistis dan yang mendukung dirinya senantiasa. Betapa berdosanya ia menyia-nyiakan isteri yang terbaik yang ia miliki. Ternyata rumput di rumah tetangga tidak selalu lebih hijau. (Sumber: Ps. Edward Supit yang ditulis dalam Tabloid Keluarga Edisi 30/2008)
Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com
Monday, July 21, 2008
The Story of William Cutts
William Cutts
Tiba-tiba pintu rumah bersalin terbuka. Seorang dokter dengan pakaian khusus keluar. "Istri anda dalam keadaan baik, namun sayang keadaan bayinya membahayakan jiwa istri anda. Ada satu hal yang harus anda putuskan, keselamatan istri anda atau bayinya. Saya tahu hal ini sulit, namun kami telah berusaha sekuat mungkin. Akhirnya kami harus menemui anda, sebab keputusan anda amat menentukan. Jika anda sudah siap, silakan kami dihubungi dan menandatangi formulir ini." Setelah berkata demikian dokter tersebut memeluk bahu pria yang diajak bicara.
Sorot matanya dibalik kaca mata yang tebal memberi semangat pada pria yang tubuhnya gemetar. Pria yang sedari tadi gelisah, sekarang bertambah gemetar setelah menerima berita yang meluncur dari mulut dokter yang memeluknya. Wajahnya jadi pucat seperti mayat. Butiran keringat dingin sebesar kacang kedelai bermunculan di dahinya. Mulutnya menganga. Lidahnya kelu, matanya nanar. Setelah berusaha menelan ludahnya, ia berusaha mengeluarkan kata-kata.
"Dokter..mm, bberi kesempatan saaaaya untuk berdoa." Kepala dokter tsb mengangguk, tanda setuju. Ruangan tunggu kelahiran bayi malam itu sepi menggigit, sinar lampunya nampak pudar. Suasana saat itu bisa dingin menutupi tembok sekeliling ruangan itu. Pria itu kemudian tertunduk. Wajahnya ditenggelamkan di atas kedua telapak tangannya yang menopangnya. Suara tangis tertahan bercampur kepedihan dan rasa takut menimbulkan suara yang keluar dari mulutnya seperti suara bergumam, tidak jelas. Suasana kembali sunyi. Kemudian ia perlahan bangkit, berjalan menuju perawat yang berdiri menunggunya.
"Suster, katakan kepada dokter, istri saya perlu diselamatkan, sedapat-dapatnya selamatkan juga anak saya, saya telah melihat harapan."
Suster itu hanya mengangguk, kemudian menyodorkan sehelai lembaran formulir. Setelah ditandatangi, ia kembali menunggu. Persalinan berlangsung sulit. Dokter berupaya mengeluarkan bayi dari dalam rahim wanita yang sudah mulai kehabisan tenaga. Dengan alat khusus, dokter tersebut mengupayakan kepala sang bayi dapat keluar terlebih dahulu. Namun tiba-tiba, crot..darah segar muncrat disertai bola mata yang masih terikat ototnya keluar menggelantung, baru kemudian kepala bayi. Merasa berpacu dengan waktu, dokter makin berusaha keras untuk mengeluarkan seluruh tubuh bayi itu. Bunyi gemeretak tulang rawan bayi yang patah karena proses tersebut. Akhirnya tubuh bayi yang mirip seonggok daging tersebut utuh keluar dari dalam rahim. Persalinanpun berjalan sampai tuntas.
Dokter segera memerintahkan seorang perawat agar membersihkan tubuh bayi tersebut dan segera dimasukkan kantong mayat. Namun Tuhan yang mendengar doa bertindak lain. Tubuh bayi yang masih berlumuran darah dibersihkan terlebih dahulu oleh perawat. Saat tangan sang perawat membersihkan tubuh bayi di bagian dada sebelah kiri, nampak denyut jantung yang lemah. Tanda kehidupan. Rupanya denyut yang lemah terlihat oleh sang perawat tersebut. Segera bayi tersebut dikirim ke ruang khusus.
Empat tahun kemudian, bayi itu tumbuh menjadi seorang anak mirip monster hidup. Ia diberi nama William Cutts. Jika bayi normal, di usia sebelas tahun telah belajar berjalan. Tidak demikian dengan William Cutts. Ia baru belajar merangkak seperti anjing. Kepala bagian kanan agak besar, matanya yang kanan rusak berat, tidak mungkin bisa melihat. Bahunya miring. Menjelang remaja, jalannya miring seperti tiang hampir roboh. Dan kata dokter, otaknya tak akan sanggup berkembang alias tidak mungkin bisa belajar seperti manusia normal.
Sudut pandang dokter rupanya beda dengan kedua orang tuanya, mereka melihat harapan. Orang tuanya terus membesarkannya dengan penuh kasih sayang. "Kelak anakku akan dipakai Tuhan secara luar biasa, sebab aku yakin harapan itu ada," demikian doa kedua orangtuanya, setiap kali melihat William Cutts yang selalu kesulitan dengan menyelaraskan jalannya dengan bahunya.
Tuhanpun mewujudkan harapan anak-anak-Nya. Tepat pada waktu-Nya, William Cutts bersimpuh di kaki-Nya, satu ayat yang dipegangnya yang menjadi dasar panggilannya. "Justru di dalam kelemahan kuasa-Ku menjadi sempurna." (II Kor 12:9) Inilah sumber perharapan baginya. Tuhan tidak pernah menyia-nyiakan orang yang berharap kepada-Nya. Tuhanpun membuktikan janji-Nya. Apa yang tidak dipandang oleh dunia, dipakai Allah secara luar biasa. Dengan segala keterbatasannya, William Cutts maju untuk taat. Harapan demi harapan terkuak setelah ia taat melangkah.
Setelah menyelesaikan sarjananya di Sekolah Theologia, ia menjadi utusan misi ke Irian Jaya, Indonesia. Tuhan meneguhkan janji-Nya, dalam kelemahan, kuasa-Nya nyata. Tiap langkah pelayanan William Cutts, Tuhan meneguhkan dengan mujizat-Nya. Semua ini diawali dengan orang yang melihat harapan dan mempercayai harapan di dalam Yesus itu pasti ada dan tidak pernah sia-sia. William Cutts telah meyaksikan apa makna hidup di dalam pengharapan yang berlimpah di dalam Kristus. Sumber: http://artikel.sabda.org/william_cutts
Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com
Tiba-tiba pintu rumah bersalin terbuka. Seorang dokter dengan pakaian khusus keluar. "Istri anda dalam keadaan baik, namun sayang keadaan bayinya membahayakan jiwa istri anda. Ada satu hal yang harus anda putuskan, keselamatan istri anda atau bayinya. Saya tahu hal ini sulit, namun kami telah berusaha sekuat mungkin. Akhirnya kami harus menemui anda, sebab keputusan anda amat menentukan. Jika anda sudah siap, silakan kami dihubungi dan menandatangi formulir ini." Setelah berkata demikian dokter tersebut memeluk bahu pria yang diajak bicara.
Sorot matanya dibalik kaca mata yang tebal memberi semangat pada pria yang tubuhnya gemetar. Pria yang sedari tadi gelisah, sekarang bertambah gemetar setelah menerima berita yang meluncur dari mulut dokter yang memeluknya. Wajahnya jadi pucat seperti mayat. Butiran keringat dingin sebesar kacang kedelai bermunculan di dahinya. Mulutnya menganga. Lidahnya kelu, matanya nanar. Setelah berusaha menelan ludahnya, ia berusaha mengeluarkan kata-kata.
"Dokter..mm, bberi kesempatan saaaaya untuk berdoa." Kepala dokter tsb mengangguk, tanda setuju. Ruangan tunggu kelahiran bayi malam itu sepi menggigit, sinar lampunya nampak pudar. Suasana saat itu bisa dingin menutupi tembok sekeliling ruangan itu. Pria itu kemudian tertunduk. Wajahnya ditenggelamkan di atas kedua telapak tangannya yang menopangnya. Suara tangis tertahan bercampur kepedihan dan rasa takut menimbulkan suara yang keluar dari mulutnya seperti suara bergumam, tidak jelas. Suasana kembali sunyi. Kemudian ia perlahan bangkit, berjalan menuju perawat yang berdiri menunggunya.
"Suster, katakan kepada dokter, istri saya perlu diselamatkan, sedapat-dapatnya selamatkan juga anak saya, saya telah melihat harapan."
Suster itu hanya mengangguk, kemudian menyodorkan sehelai lembaran formulir. Setelah ditandatangi, ia kembali menunggu. Persalinan berlangsung sulit. Dokter berupaya mengeluarkan bayi dari dalam rahim wanita yang sudah mulai kehabisan tenaga. Dengan alat khusus, dokter tersebut mengupayakan kepala sang bayi dapat keluar terlebih dahulu. Namun tiba-tiba, crot..darah segar muncrat disertai bola mata yang masih terikat ototnya keluar menggelantung, baru kemudian kepala bayi. Merasa berpacu dengan waktu, dokter makin berusaha keras untuk mengeluarkan seluruh tubuh bayi itu. Bunyi gemeretak tulang rawan bayi yang patah karena proses tersebut. Akhirnya tubuh bayi yang mirip seonggok daging tersebut utuh keluar dari dalam rahim. Persalinanpun berjalan sampai tuntas.
Dokter segera memerintahkan seorang perawat agar membersihkan tubuh bayi tersebut dan segera dimasukkan kantong mayat. Namun Tuhan yang mendengar doa bertindak lain. Tubuh bayi yang masih berlumuran darah dibersihkan terlebih dahulu oleh perawat. Saat tangan sang perawat membersihkan tubuh bayi di bagian dada sebelah kiri, nampak denyut jantung yang lemah. Tanda kehidupan. Rupanya denyut yang lemah terlihat oleh sang perawat tersebut. Segera bayi tersebut dikirim ke ruang khusus.
Empat tahun kemudian, bayi itu tumbuh menjadi seorang anak mirip monster hidup. Ia diberi nama William Cutts. Jika bayi normal, di usia sebelas tahun telah belajar berjalan. Tidak demikian dengan William Cutts. Ia baru belajar merangkak seperti anjing. Kepala bagian kanan agak besar, matanya yang kanan rusak berat, tidak mungkin bisa melihat. Bahunya miring. Menjelang remaja, jalannya miring seperti tiang hampir roboh. Dan kata dokter, otaknya tak akan sanggup berkembang alias tidak mungkin bisa belajar seperti manusia normal.
Sudut pandang dokter rupanya beda dengan kedua orang tuanya, mereka melihat harapan. Orang tuanya terus membesarkannya dengan penuh kasih sayang. "Kelak anakku akan dipakai Tuhan secara luar biasa, sebab aku yakin harapan itu ada," demikian doa kedua orangtuanya, setiap kali melihat William Cutts yang selalu kesulitan dengan menyelaraskan jalannya dengan bahunya.
Tuhanpun mewujudkan harapan anak-anak-Nya. Tepat pada waktu-Nya, William Cutts bersimpuh di kaki-Nya, satu ayat yang dipegangnya yang menjadi dasar panggilannya. "Justru di dalam kelemahan kuasa-Ku menjadi sempurna." (II Kor 12:9) Inilah sumber perharapan baginya. Tuhan tidak pernah menyia-nyiakan orang yang berharap kepada-Nya. Tuhanpun membuktikan janji-Nya. Apa yang tidak dipandang oleh dunia, dipakai Allah secara luar biasa. Dengan segala keterbatasannya, William Cutts maju untuk taat. Harapan demi harapan terkuak setelah ia taat melangkah.
Setelah menyelesaikan sarjananya di Sekolah Theologia, ia menjadi utusan misi ke Irian Jaya, Indonesia. Tuhan meneguhkan janji-Nya, dalam kelemahan, kuasa-Nya nyata. Tiap langkah pelayanan William Cutts, Tuhan meneguhkan dengan mujizat-Nya. Semua ini diawali dengan orang yang melihat harapan dan mempercayai harapan di dalam Yesus itu pasti ada dan tidak pernah sia-sia. William Cutts telah meyaksikan apa makna hidup di dalam pengharapan yang berlimpah di dalam Kristus. Sumber: http://artikel.sabda.org/william_cutts
Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com
Thursday, July 17, 2008
Book Galery: "MANUSIA TERKINI"
Telah Terbit!!!
Buku "Manusia Terkini"
Penulis: Leonardo A. Sjiamsuri
Penyunting: Hadi Kristadi
Penerbit: Nafiri Gabriel
Edisi: Mei 2008
Isi: 134 halaman, ukuran 14 x 21 cm
Harga: Rp. 28.000,- / eksemplar (sesuai harga eceran di Toko Buku) ditambah ongkos kirim.
Untuk pemesanan buku ini, hubungi via SMS 08129716102 (Hadi Kristadi), dengan menyebutkan nama dan alamat lengkap, disertai RT & RW dan KODE POS. Pembayaran dengan transfer ke BCA a/n HADI a/c 4980036931. Ongkos kirim akan ditentukan setelah ada konfirmasi jumlah buku yang dipesan. Buku akan dikirim setelah ada transfer dana.
Hadiahkan buku ini kepada orang-orang yang anda kasihi! Pesanan buku anda turut mendukung pelayanan melalui Pentas Kesaksian.
Buku "MANUSIA TERKINI" mengupas dengan gamblang bagaimana orang Kristen dapat menjadi manusia yang senantiasa selaras dengan gerakan Allah terkini. Buku ini bukan hanya membahas tentang pengetahuan terbaru. Penulis membagikan rahasia bagaimana mengalami perububahan yang hakiki di dalam hubungan kita dengan Tuhan, baik di dalam kehidupan pribadi maupun di dalam pelayanan kita.
Buku ini memberikan penjelasan yang lengkap untuk membangun kehidupan seseorang yang senantiasa berkenan di hadapan Allah. Selain Anda dapat mengetahui karakteristik manusia masa lalu dan manusia terkini, buku ini juga MENYINGKAPKAN PEWAHYUAN TENTANG RAHASIA TULISAN YESUS DENGAN JARI-NYA DI ATAS TANAH KETIKA BERHADAPAN DENGAN ORANG-ORANG FARISI YANG AKAN MERAJAM PEREMPUAN YANG KEDAPATAN BERBUAT ZINA, SEBAGAI PERINGATAN BAGI MANUSIA MASA LALU.
Membaca buku ini akan membebaskan anda dari jebakan manusia masa lalu yang sering tidak disadari banyak orang. Buku ini wajib dibaca oleh setiap orang percaya yang tidak ingin menyesal di kemudian hari!
TENTANG LEONARDO A. SJIAMSURI:
Adalah pendiri dan pemimpin SMART Center dan penerbit buku rohani, Nafiri Gabriel. Di era 1979 - 1980 ia menjadi seorang pelopor dalam kegerakan Tuhan di kalangan mahasiswa. Sejak itu ia menekuni pelayanan di bidang pengajaran dan pelatihan di dalam dimensi profetik. Banyak buku pengajaran praktis telah ditulisnya, dan sampai sekarang ia menjadi pembicara di berbagai seminar dan lokakarya di dalam dan di luar negeri. Ia merindukan terbangunnya gereja-gereja rasuli yang kuat. Sebagai mantan bankir dengan posisi terakhir sebagai Direktur Pemasaran, ia rindu membangun komunitas pengusaha kerajaan yang mentransformasi bangsa.
Ditulis oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com
Buku "Manusia Terkini"
Penulis: Leonardo A. Sjiamsuri
Penyunting: Hadi Kristadi
Penerbit: Nafiri Gabriel
Edisi: Mei 2008
Isi: 134 halaman, ukuran 14 x 21 cm
Harga: Rp. 28.000,- / eksemplar (sesuai harga eceran di Toko Buku) ditambah ongkos kirim.
Untuk pemesanan buku ini, hubungi via SMS 08129716102 (Hadi Kristadi), dengan menyebutkan nama dan alamat lengkap, disertai RT & RW dan KODE POS. Pembayaran dengan transfer ke BCA a/n HADI a/c 4980036931. Ongkos kirim akan ditentukan setelah ada konfirmasi jumlah buku yang dipesan. Buku akan dikirim setelah ada transfer dana.
Hadiahkan buku ini kepada orang-orang yang anda kasihi! Pesanan buku anda turut mendukung pelayanan melalui Pentas Kesaksian.
Buku "MANUSIA TERKINI" mengupas dengan gamblang bagaimana orang Kristen dapat menjadi manusia yang senantiasa selaras dengan gerakan Allah terkini. Buku ini bukan hanya membahas tentang pengetahuan terbaru. Penulis membagikan rahasia bagaimana mengalami perububahan yang hakiki di dalam hubungan kita dengan Tuhan, baik di dalam kehidupan pribadi maupun di dalam pelayanan kita.
Buku ini memberikan penjelasan yang lengkap untuk membangun kehidupan seseorang yang senantiasa berkenan di hadapan Allah. Selain Anda dapat mengetahui karakteristik manusia masa lalu dan manusia terkini, buku ini juga MENYINGKAPKAN PEWAHYUAN TENTANG RAHASIA TULISAN YESUS DENGAN JARI-NYA DI ATAS TANAH KETIKA BERHADAPAN DENGAN ORANG-ORANG FARISI YANG AKAN MERAJAM PEREMPUAN YANG KEDAPATAN BERBUAT ZINA, SEBAGAI PERINGATAN BAGI MANUSIA MASA LALU.
Membaca buku ini akan membebaskan anda dari jebakan manusia masa lalu yang sering tidak disadari banyak orang. Buku ini wajib dibaca oleh setiap orang percaya yang tidak ingin menyesal di kemudian hari!
TENTANG LEONARDO A. SJIAMSURI:
Adalah pendiri dan pemimpin SMART Center dan penerbit buku rohani, Nafiri Gabriel. Di era 1979 - 1980 ia menjadi seorang pelopor dalam kegerakan Tuhan di kalangan mahasiswa. Sejak itu ia menekuni pelayanan di bidang pengajaran dan pelatihan di dalam dimensi profetik. Banyak buku pengajaran praktis telah ditulisnya, dan sampai sekarang ia menjadi pembicara di berbagai seminar dan lokakarya di dalam dan di luar negeri. Ia merindukan terbangunnya gereja-gereja rasuli yang kuat. Sebagai mantan bankir dengan posisi terakhir sebagai Direktur Pemasaran, ia rindu membangun komunitas pengusaha kerajaan yang mentransformasi bangsa.
Ditulis oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com
Book Gallery: "5 PILAR KEPEMIMPINAN"
Baru Terbit!!!
Buku "5 Pilar Kepemimpinan"
Penulis: Paul J. Meyer dan Randy Slechta
Penerjemah: Hadi Kristadi
Penerbit: Nafiri Gabriel / Adonai
Edisi: Juli 2008
Isi: 222 halaman, ukuran 15,3 x 23 cm
Harga Rp. 55.000,- (sesuai harga eceran di Toko Buku) ditambah ongkos kirim.
Untuk pemesanan buku ini, hubungi via SMS 08129716102 (Hadi Kristadi), dengan menyebutkan nama dan alamat lengkap, disertai RT & RW dan KODE POS. Pembayaran dengan transfer ke BCA a/n HADI a/c 4980036931. Ongkos kirim akan ditentukan setelah ada konfirmasi jumlah buku yang dipesan. Buku akan dikirim setelah ada transfer dana.
Hadiahkan buku ini kepada orang-orang yang anda kasihi! Hadiahkan buku ini kepada siapapun diri anda yang pada hakekatnya merupakan seorang pemimpin, paling tidak memimpin diri sendiri! Pesanan buku anda turut mendukung pelayanan melalui Pentas Kesaksian.
Komentar Dr. John C. Maxwell:
"Pada usia 25 tahun, Paul J. Meyer dan SMI (Success Motivation Institute) telah memberikan suatu dampak penting bagi perkembangan kepemimpinan yang saya miliki. Buku ini akan menjembatani kesenjangan kepemimpinan bagi anda."
Komentar Kenneth H. Cooper:
"Buku ini wajib dibaca setiap orang yang ada dalam posisi kepemimpinan, tanpa memandang tingkatan tanggung jawabnya. Bila anda ingin mencapai kesuksesan dan pencapaian yang maksimum dalam hidup, buku ini bisa menolong."
Komentar Paul R. Brown (Presiden dan CEO Leadership Dynamics Inc.):
"Paul J. Meyer memiliki kejeniusan untuk menyederhanakan teori-teori yang rumit menjadi langkah-langkah tindakan yang jelas dan mudah dimengerti serta praktis. Buku ini menyediakan jalan bagi kepemimpinan, kesuksesan, dan pencapaian yang lebih besar dalam kehidupan ini."
Buku ini akan meningkatkan efektivitas kepemimpinan anda secara mendasar dan menghasilkan kehidupan yang seimbang dalam Keluarga, Keuangan, Mental, Fisik, Sosial dan Spiritual.
TENTANG PAUL J. MEYER:
Ia telah menulis 24 program besar di bidang penjualan, motivasi, penyusunan sasaran, manajemen, dan pengembangan kepemimpinan, dengan total penjualan gabungan di 60 negara dan dalam 20 bahasa sebesar lebih dari US$ 2 milyar, lebih banyak dibandingkan dengan penulis-penulis lain di sepanjang sejarah. Ia mendirikan Success Motivation Institute (SMI) pada tahun 1960 dan dipandang oleh banyak orang sebagai pelopor industri pengembangan diri.
Ditulis oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com
Buku "5 Pilar Kepemimpinan"
Penulis: Paul J. Meyer dan Randy Slechta
Penerjemah: Hadi Kristadi
Penerbit: Nafiri Gabriel / Adonai
Edisi: Juli 2008
Isi: 222 halaman, ukuran 15,3 x 23 cm
Harga Rp. 55.000,- (sesuai harga eceran di Toko Buku) ditambah ongkos kirim.
Untuk pemesanan buku ini, hubungi via SMS 08129716102 (Hadi Kristadi), dengan menyebutkan nama dan alamat lengkap, disertai RT & RW dan KODE POS. Pembayaran dengan transfer ke BCA a/n HADI a/c 4980036931. Ongkos kirim akan ditentukan setelah ada konfirmasi jumlah buku yang dipesan. Buku akan dikirim setelah ada transfer dana.
Hadiahkan buku ini kepada orang-orang yang anda kasihi! Hadiahkan buku ini kepada siapapun diri anda yang pada hakekatnya merupakan seorang pemimpin, paling tidak memimpin diri sendiri! Pesanan buku anda turut mendukung pelayanan melalui Pentas Kesaksian.
Komentar Dr. John C. Maxwell:
"Pada usia 25 tahun, Paul J. Meyer dan SMI (Success Motivation Institute) telah memberikan suatu dampak penting bagi perkembangan kepemimpinan yang saya miliki. Buku ini akan menjembatani kesenjangan kepemimpinan bagi anda."
Komentar Kenneth H. Cooper:
"Buku ini wajib dibaca setiap orang yang ada dalam posisi kepemimpinan, tanpa memandang tingkatan tanggung jawabnya. Bila anda ingin mencapai kesuksesan dan pencapaian yang maksimum dalam hidup, buku ini bisa menolong."
Komentar Paul R. Brown (Presiden dan CEO Leadership Dynamics Inc.):
"Paul J. Meyer memiliki kejeniusan untuk menyederhanakan teori-teori yang rumit menjadi langkah-langkah tindakan yang jelas dan mudah dimengerti serta praktis. Buku ini menyediakan jalan bagi kepemimpinan, kesuksesan, dan pencapaian yang lebih besar dalam kehidupan ini."
Buku ini akan meningkatkan efektivitas kepemimpinan anda secara mendasar dan menghasilkan kehidupan yang seimbang dalam Keluarga, Keuangan, Mental, Fisik, Sosial dan Spiritual.
TENTANG PAUL J. MEYER:
Ia telah menulis 24 program besar di bidang penjualan, motivasi, penyusunan sasaran, manajemen, dan pengembangan kepemimpinan, dengan total penjualan gabungan di 60 negara dan dalam 20 bahasa sebesar lebih dari US$ 2 milyar, lebih banyak dibandingkan dengan penulis-penulis lain di sepanjang sejarah. Ia mendirikan Success Motivation Institute (SMI) pada tahun 1960 dan dipandang oleh banyak orang sebagai pelopor industri pengembangan diri.
Ditulis oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com
Book Gallery: "FROM MENTORING TO FATHERING"
Buku Bagus!!!
Buku "From Mentoring to Fathering - Dari Pementoran Ke Pembapaan"
Penulis: Dr. William Vun
Penerbit: Nafiri Gabriel
Edisi: Januari 2008
Isi: 136 halaman, ukuran 15,3 x 23 cm
Harga: Rp. 30.000,- (sesuai harga eceran di Toko Buku) ditambah ongkos kirim.
Untuk Pemesanan: Hubungi via SMS 08129716102 (Hadi Kristadi), dengan menyebutkan nama dan alamat lengkap, disertai RT & RW dan KODE POS. Pembayaran dengan transfer ke BCA a/n HADI a/c 4980036931. Ongkos kirim akan ditentukan setelah ada konfirmasi jumlah buku yang dipesan. Buku akan dikirim setelah ada transfer dana.
Komentar Dr. Kong Hee (Senior Pastor City Harvest Church):
"Pementoran dan pembapaan adalah kunci untuk membangun gereja yang kuat, sehat dan bertumbuh. Saya merekomendasikan buku ini untuk pendeta dan pemimpin yang ingin mendapatkan pemahaman yang lebih dalam tentang aspek pelayanan yang paling penting ini."
Seorang mentor bukanlah seorang bapa. Seorang mentor menjadikan murid-murid, tetapi seorang bapa membesarkan anak-anak. Banyak orang memandang pemimpin-pemimpin rohani sebagai mentor, tetapi hanya sedikit yang telah menemukan bapa. Mereka mempunyai rumah yang disebut sebagai gereja, tetapi tak ada orang yang dapat mereka panggil sebagai "bapa". Gereja tanpa seorang bapa di dalamnya adalah seperti rumah bagi orang-orang piatu secara rohani. Gereja yang kuat dan sehat harus mempunyai seorang bapa di dalamnya.
Ditulis oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com
Buku "From Mentoring to Fathering - Dari Pementoran Ke Pembapaan"
Penulis: Dr. William Vun
Penerbit: Nafiri Gabriel
Edisi: Januari 2008
Isi: 136 halaman, ukuran 15,3 x 23 cm
Harga: Rp. 30.000,- (sesuai harga eceran di Toko Buku) ditambah ongkos kirim.
Untuk Pemesanan: Hubungi via SMS 08129716102 (Hadi Kristadi), dengan menyebutkan nama dan alamat lengkap, disertai RT & RW dan KODE POS. Pembayaran dengan transfer ke BCA a/n HADI a/c 4980036931. Ongkos kirim akan ditentukan setelah ada konfirmasi jumlah buku yang dipesan. Buku akan dikirim setelah ada transfer dana.
Komentar Dr. Kong Hee (Senior Pastor City Harvest Church):
"Pementoran dan pembapaan adalah kunci untuk membangun gereja yang kuat, sehat dan bertumbuh. Saya merekomendasikan buku ini untuk pendeta dan pemimpin yang ingin mendapatkan pemahaman yang lebih dalam tentang aspek pelayanan yang paling penting ini."
Seorang mentor bukanlah seorang bapa. Seorang mentor menjadikan murid-murid, tetapi seorang bapa membesarkan anak-anak. Banyak orang memandang pemimpin-pemimpin rohani sebagai mentor, tetapi hanya sedikit yang telah menemukan bapa. Mereka mempunyai rumah yang disebut sebagai gereja, tetapi tak ada orang yang dapat mereka panggil sebagai "bapa". Gereja tanpa seorang bapa di dalamnya adalah seperti rumah bagi orang-orang piatu secara rohani. Gereja yang kuat dan sehat harus mempunyai seorang bapa di dalamnya.
Ditulis oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com
Book Gallery: "MENGAMPUNI... MUKJIZAT TERAKHIR"
Buku Bagus!!!
Buku "Mengampuni... Mukjizat Terakhir"
Penulis: Paul J. Meyer
Penerbit: Nafiri Gabriel
Edisi: Juni 2007
Isi: 184 halaman, ukuran 15,3 x 23 cm
Harga: Rp. 35.000,- (sesuai harga eceran di Toko Buku) ditambah ongkos kirim.
Untuk Pemesanan Buku: Hubungi via SMS 08129716102 (Hadi Kristadi), dengan menyebutkan nama dan alamat lengkap, disertai RT & RW dan KODE POS. Pembayaran dengan transfer ke BCA a/n HADI a/c 4980036931. Ongkos kirim akan ditentukan setelah ada konfirmasi jumlah buku yang dipesan. Buku akan dikirim setelah ada transfer dana.
Siapakah orang yang paling beruntung karena anda mengampuni? Anda sendiri!
Saya adalah orang yang ahli dalam mengampuni. Setelah saya dicurangi, ditipu, dan kecurian puluhan ribu dollar, saya memilih untuk mengampuni. Setelah saya dipukuli, dibohongi dan direndahkan, saya memilih untuk mengampuni. Karena saya mengampuni, maka saya selalu tampil di depan.
Buku ini tidak ditulis dari sudut pandang riset, akademis, maupun teologis, melainkan dari sudut pandang praktis dan pribadi demi satu tujuan, yaitu membebaskan anda!
Di dalam buku ini anda akan menemukan:
- Manfaat mengampuni;
- Apa yang merupakan pengampunan dan bukan pengampunan;
- Sepuluh langkah praktis untuk mengampuni;
- Bagaimana mengampuni orang lain, Tuhan, dan diri sendiri;
- Bagaimana pengampunan memengaruhi gambar diri anda;
- Bagaimana bisa menerima pengampunan sekali dan untuk selamanya;
- Mengapa pengampunan bisa membebaskan anda.
TENTANG PAUL J. MEYER:
Sebagai seorang yang telah menjadi milyuner pada usia 27 tahun, Paul J. Meyer mendirikan bisnis impiannya: Success Motivation Inc. yang didedikasikannya untuk memotivasi orang hingga mencapai potensi mereka yang sepenuhnya. Keluarga Meyer memiliki dan menjalankan lebih dari 40 buah perusahaan di seluruh dunia, dan Paul and Jane Meyer Family Foundation telah memberikan sumbangan kepada lebih dari 30 lembaga sosial dan pelayanan di seluruh dunia. Meskipun Meyer mengatakan bahwa ia telah pensiun secara resmi pada usia 70 tahun, ia tetap memelihara tujuan hidupnya, yaitu "melakukan segala yang baik yang bisa ia lakukan untuk sebanyak mungkin orang dengan sebanyak mungkin cara yang bisa dilakukannya untuk selama mungkin yang bisa dicapainya." Hasilnya, visi dan aktivitasnya yang berkaitan dengan masa depan terus meningkat.
Ditulis oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com
Buku "Mengampuni... Mukjizat Terakhir"
Penulis: Paul J. Meyer
Penerbit: Nafiri Gabriel
Edisi: Juni 2007
Isi: 184 halaman, ukuran 15,3 x 23 cm
Harga: Rp. 35.000,- (sesuai harga eceran di Toko Buku) ditambah ongkos kirim.
Untuk Pemesanan Buku: Hubungi via SMS 08129716102 (Hadi Kristadi), dengan menyebutkan nama dan alamat lengkap, disertai RT & RW dan KODE POS. Pembayaran dengan transfer ke BCA a/n HADI a/c 4980036931. Ongkos kirim akan ditentukan setelah ada konfirmasi jumlah buku yang dipesan. Buku akan dikirim setelah ada transfer dana.
Siapakah orang yang paling beruntung karena anda mengampuni? Anda sendiri!
Saya adalah orang yang ahli dalam mengampuni. Setelah saya dicurangi, ditipu, dan kecurian puluhan ribu dollar, saya memilih untuk mengampuni. Setelah saya dipukuli, dibohongi dan direndahkan, saya memilih untuk mengampuni. Karena saya mengampuni, maka saya selalu tampil di depan.
Buku ini tidak ditulis dari sudut pandang riset, akademis, maupun teologis, melainkan dari sudut pandang praktis dan pribadi demi satu tujuan, yaitu membebaskan anda!
Di dalam buku ini anda akan menemukan:
- Manfaat mengampuni;
- Apa yang merupakan pengampunan dan bukan pengampunan;
- Sepuluh langkah praktis untuk mengampuni;
- Bagaimana mengampuni orang lain, Tuhan, dan diri sendiri;
- Bagaimana pengampunan memengaruhi gambar diri anda;
- Bagaimana bisa menerima pengampunan sekali dan untuk selamanya;
- Mengapa pengampunan bisa membebaskan anda.
TENTANG PAUL J. MEYER:
Sebagai seorang yang telah menjadi milyuner pada usia 27 tahun, Paul J. Meyer mendirikan bisnis impiannya: Success Motivation Inc. yang didedikasikannya untuk memotivasi orang hingga mencapai potensi mereka yang sepenuhnya. Keluarga Meyer memiliki dan menjalankan lebih dari 40 buah perusahaan di seluruh dunia, dan Paul and Jane Meyer Family Foundation telah memberikan sumbangan kepada lebih dari 30 lembaga sosial dan pelayanan di seluruh dunia. Meskipun Meyer mengatakan bahwa ia telah pensiun secara resmi pada usia 70 tahun, ia tetap memelihara tujuan hidupnya, yaitu "melakukan segala yang baik yang bisa ia lakukan untuk sebanyak mungkin orang dengan sebanyak mungkin cara yang bisa dilakukannya untuk selama mungkin yang bisa dicapainya." Hasilnya, visi dan aktivitasnya yang berkaitan dengan masa depan terus meningkat.
Ditulis oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com
Book Gallery: "PERNIKAHAN YANG BERKENAN DI HATI ALLAH"
Buku Bagus!!!
Buku "Pernikahan yang Berkenan Di Hati Allah"
Penulis: David Clarke
Penerbit: Nafiri Gabriel
Edisi: Mei 2004
Isi: 246 hal, ukuran 15,3 x 23 cm
Harga: Rp. 35.000,- (sesuai harga eceran di Toko Buku) ditambah ongkos kirim.
Untuk pemesanan buku ini, hubungi via SMS 08129716102 (Hadi Kristadi), dengan menyebutkan nama dan alamat lengkap, disertai RT & RW dan KODE POS. Pembayaran dengan transfer ke BCA a/n HADI a/c 4980036931. Ongkos kirim akan ditentukan setelah ada konfirmasi jumlah buku yang dipesan. Buku akan dikirim setelah ada transfer dana.
Pernikahan yang Bahagia: Apakah Ini Impian yang Tak Mungkin?
Ide menyeluruh dari pernikahan adalah sesuatu yang gila. Tidak masuk akal. Pernikahan mengharapkan dua orang hidup bersama - dalam keharmonisan dan keintiman - dimana mereka berbeda secara radikal dalam hal-hal yang tak terhitung banyaknya: sang suami tidak suka berbicara, isterinya tidak dapat berhenti berbicara; sang suami menginginkan seks, isterinya ingin bermanja-manja; sang suami tidak dapat mengingat apapun yang terjadi lebih dari 10 menit yang lalu; isterinya mengingat segala sesuatu yang pernah terjadi padanya.
Jangan putus asa! Dr. David Clarke menunjukkan suatu tuntunan bagi pasangan suami isteri untuk membangun hubungan yang menggairahkan, menyenangkan, sangat intim, dan kudus. Temukan di dalam buku ini semua rahasia pernikahan yang belum dibahas di dalam buku lain, sehingga impian anda mengenai pernikahan menjadi kenyataan.
TENTANG DR. DAVID CLARKE:
Ia adalah seorang penceramah terkenal dan penulis buku "Men are Clams, Women are Crowbars" dan "Winning the Parenting War". Sebagai seorang psikolog Kristiani yang menjalankan praktik pribadi, ia memiliki gelar Master dalam bidang studi Alkitab dari Dallas Seminary dan gelar Ph.D dalam bidang psikologi klinis dari Western Seminary.
Hadiahkan buku ini kepada orang-orang yang anda kasihi, termasuk diri anda dan pasangan anda!
Ditulis oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com
Buku "Pernikahan yang Berkenan Di Hati Allah"
Penulis: David Clarke
Penerbit: Nafiri Gabriel
Edisi: Mei 2004
Isi: 246 hal, ukuran 15,3 x 23 cm
Harga: Rp. 35.000,- (sesuai harga eceran di Toko Buku) ditambah ongkos kirim.
Untuk pemesanan buku ini, hubungi via SMS 08129716102 (Hadi Kristadi), dengan menyebutkan nama dan alamat lengkap, disertai RT & RW dan KODE POS. Pembayaran dengan transfer ke BCA a/n HADI a/c 4980036931. Ongkos kirim akan ditentukan setelah ada konfirmasi jumlah buku yang dipesan. Buku akan dikirim setelah ada transfer dana.
Pernikahan yang Bahagia: Apakah Ini Impian yang Tak Mungkin?
Ide menyeluruh dari pernikahan adalah sesuatu yang gila. Tidak masuk akal. Pernikahan mengharapkan dua orang hidup bersama - dalam keharmonisan dan keintiman - dimana mereka berbeda secara radikal dalam hal-hal yang tak terhitung banyaknya: sang suami tidak suka berbicara, isterinya tidak dapat berhenti berbicara; sang suami menginginkan seks, isterinya ingin bermanja-manja; sang suami tidak dapat mengingat apapun yang terjadi lebih dari 10 menit yang lalu; isterinya mengingat segala sesuatu yang pernah terjadi padanya.
Jangan putus asa! Dr. David Clarke menunjukkan suatu tuntunan bagi pasangan suami isteri untuk membangun hubungan yang menggairahkan, menyenangkan, sangat intim, dan kudus. Temukan di dalam buku ini semua rahasia pernikahan yang belum dibahas di dalam buku lain, sehingga impian anda mengenai pernikahan menjadi kenyataan.
TENTANG DR. DAVID CLARKE:
Ia adalah seorang penceramah terkenal dan penulis buku "Men are Clams, Women are Crowbars" dan "Winning the Parenting War". Sebagai seorang psikolog Kristiani yang menjalankan praktik pribadi, ia memiliki gelar Master dalam bidang studi Alkitab dari Dallas Seminary dan gelar Ph.D dalam bidang psikologi klinis dari Western Seminary.
Hadiahkan buku ini kepada orang-orang yang anda kasihi, termasuk diri anda dan pasangan anda!
Ditulis oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com
Book Gallery: "KEHENDAK TUHAN ATAS UANG"
Buku Bagus!!!
Buku "Kehendak Tuhan Atas Uang"
Penulis: Agus dan Lilian Budiman
Penerbit: Nafiri Gabriel
Edisi: Desember 2006
Isi: 114 halaman, ukuran 15,3 x 23 cm
Kata Pengantar: Leonardo A. Sjiamsuri
Harga: Rp. 20.000,- (sesuai harga eceran di Toko Buku) ditambah ongkos kirim.
Untuk pemesanan buku ini, hubungi via SMS 08129716102 (Hadi Kristadi), dengan menyebutkan nama dan alamat lengkap, disertai RT & RW dan KODE POS. Pembayaran dengan transfer ke BCA a/n HADI a/c 4980036931. Ongkos kirim akan ditentukan setelah ada konfirmasi jumlah buku yang dipesan. Buku akan dikirim setelah ada transfer dana.
KOMENTAR DR. BAMBANG WIJAYA (Mantan Ketua Umum Persekutuan Injili Indonesia):
"Kehendak Tuhan Atas Uang" adalah sebuah buku yang tidak biasa. Buku ini bukan hanya menyajikan pandangan-pandangan yang solid dan sehat tentang keuangan dari sisi Allah, tetapi juga memberikan tuntunan praktis tentang cara menangani uang.
Apa yang membuat buku ini sangat menarik adalah karena buku ini ditulis oleh sepasang suami isteri yang telah membuktikan bahwa merka sendiri telah mempraktikkan prinsip-prinsip ini di dalam kehidupan anggota-anggota gereja dimana mereka menjadi pendetanya.
TENTANG PENULIS:
Agus Budiman adlah Pendeta Senior di Indonesian Praise Centre (IPC) di Melbourne, Australia yang berada di bawah naungan Churches of Christ, Australia. Pada tahun 1992, Pendeta Agus Budiman memegang kepemimpinan di IPC dan selama 5 tahun (1992-1997) jemaat ini bertumbuh dari 60 orang menjadi 420 orang.
Lilian Budiman adalah Pendeta Pembantu di Indonesian Praise Centre, Melbourne, Australia. Sejak tahun 1992 ia mendedikasikan hidupnya sebagai isteri Agus Budiman dalam melayani Tuhan melalui IPC. Lilian lahir di Semarang dan ia mendapatkan gelar di bidang kedokteran di Bochun, Jerman.
Ditulis oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com
Buku "Kehendak Tuhan Atas Uang"
Penulis: Agus dan Lilian Budiman
Penerbit: Nafiri Gabriel
Edisi: Desember 2006
Isi: 114 halaman, ukuran 15,3 x 23 cm
Kata Pengantar: Leonardo A. Sjiamsuri
Harga: Rp. 20.000,- (sesuai harga eceran di Toko Buku) ditambah ongkos kirim.
Untuk pemesanan buku ini, hubungi via SMS 08129716102 (Hadi Kristadi), dengan menyebutkan nama dan alamat lengkap, disertai RT & RW dan KODE POS. Pembayaran dengan transfer ke BCA a/n HADI a/c 4980036931. Ongkos kirim akan ditentukan setelah ada konfirmasi jumlah buku yang dipesan. Buku akan dikirim setelah ada transfer dana.
KOMENTAR DR. BAMBANG WIJAYA (Mantan Ketua Umum Persekutuan Injili Indonesia):
"Kehendak Tuhan Atas Uang" adalah sebuah buku yang tidak biasa. Buku ini bukan hanya menyajikan pandangan-pandangan yang solid dan sehat tentang keuangan dari sisi Allah, tetapi juga memberikan tuntunan praktis tentang cara menangani uang.
Apa yang membuat buku ini sangat menarik adalah karena buku ini ditulis oleh sepasang suami isteri yang telah membuktikan bahwa merka sendiri telah mempraktikkan prinsip-prinsip ini di dalam kehidupan anggota-anggota gereja dimana mereka menjadi pendetanya.
TENTANG PENULIS:
Agus Budiman adlah Pendeta Senior di Indonesian Praise Centre (IPC) di Melbourne, Australia yang berada di bawah naungan Churches of Christ, Australia. Pada tahun 1992, Pendeta Agus Budiman memegang kepemimpinan di IPC dan selama 5 tahun (1992-1997) jemaat ini bertumbuh dari 60 orang menjadi 420 orang.
Lilian Budiman adalah Pendeta Pembantu di Indonesian Praise Centre, Melbourne, Australia. Sejak tahun 1992 ia mendedikasikan hidupnya sebagai isteri Agus Budiman dalam melayani Tuhan melalui IPC. Lilian lahir di Semarang dan ia mendapatkan gelar di bidang kedokteran di Bochun, Jerman.
Ditulis oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com
The Son
Catatan: Saya pernah mendapatkan email di bawah ini dulu, namun tidak sebagus yang di dalam bahasa Inggeris seperti terlampir di bawah ini. Oleh karena itu saya terjemahkan naskah ini untuk menjadi berkat bagi kita semua.
Sang Putera
Seorang yang kaya raya dan puteranya suka mengoleksi benda-benda seni yang langka. Mereka telah memiliki segala macam dalam koleksi mereka, dari karya Picasso sampai Raphael. Mereka seringkali duduk bersama dan mengagumi karya-karya seni yang agung.
Ketika perang Vietnam pecah, puteranya pergi berperang. Ia sangat gagah berani dan gugur dalam pertempuran selagi menolong serdadu yang lain. Ayahnya diberi tahu dan menjadi sangat berduka karena kematian puteranya.
Sekitar sebulan kemudian, tepat sebelum hari Natal, ada ketukan di pintu rumah. Seorang anak muda berdiri di depan pintu dengan paket besar di tangannya. Ia berkata, “Pak, anda mungkin tidak mengenal saya, tetapi sayalah serdadu terakhir yang ditolong putera bapak sehingga ia kehilangan nyawanya. Ia menolong banyak jiwa pada hari itu, dan ia menggendong saya ke tempat yang aman saat sebutir peluru menembus tubuhnya dan mengenai jantungnya sehingga ia meninggal segera. Ia sering bercerita tentang Bapak, dan kecintaan Bapak terhadap barang-barang seni.”
Anak muda itu menyodorkan bawaannya. “Saya tahu benda ini tidak mahal. Saya bukanlah seorang seniman besar, namun saya pikir putera Bapak akan meminta Bapak untuk menyimpannya.”
Sang ayah membuka bungkusan itu. Di dalamnya terdapat sebuah lukisan puteranya, yang dilukis oleh anak muda itu. Ia memandangi lukisan itu dengan kekaguman atas ketepatan anak muda di depannya menggambarkan kepribadian puteranya dalam lukisan itu. Sang ayah begitu terpaku melihat mata puteranya sehingga matanya berkaca-kaca penuh airmata. Ia berterima kasih kepada anak muda itu dan menawarkan diri untuk membayar lukisan puteranya.
“Oh, jangan, Pak! Saya tidak akan pernah dapat membayar kembali apa yang telah diperbuat putera Bapak terhadap saya. Lukisan ini adalah hadiah dari saya untuk Bapak.”
Sang ayah menggantungkan lukisan itu di atas gantungan jasnya. Setiap tamu yang datang ke rumahnya akan diajak melihat lukisan puteranya sebelum ia menunjukkan kepada mereka karya-karya seni hebat yang ia telah koleksi. Bapak itu meninggal beberapa bulan kemudian. Karya-karya seninya akan dilelang. Banyak orang-orang kaya dan orang-orang berpengaruh berkumpul, terkagum-kagum melihat lukisan-lukisan agung itu dan mereka semua berharap untuk mendapatkan kesempatan membeli satu untuk koleksi mereka.
Di atas mimbar ditampilkan lukisan anak pemilik benda-benda seni itu. Jurulelang mengetukkan palunya. “Kita akan memulai lelang ini dengan lukisan sang putera. Siapa yang ingin memberi tawaran bagi lukisan ini?” Ada kesenyapan di sana. Kemudian suatu suara terdengar dari bagian belakang ruangan itu, “Kami ingin melihat lukisan-lukisan terkenal. Lewatkan saja yang satu ini.” Namun sang jurulelang tetap ngotot dengan lukisan pertama itu. “Adakah seseorang yang ingin menawar lukisan ini? Siapa yang ingin memulai? $100, $200?” Suara lain terdengar berteriak dengan marah, “Kami ke sini bukan untuk melihat lukisan ini. Kami datang untuk melihat hasil karya Van Goghs, Rembrandts. Ayo teruskan saja dengan lelang utamanya!” Namun sang jurulelang masih ngotot untuk bertahan dengan lukisan sang putera. “Sang putera! Sang putera! Siapa yang mau mengambil sang putera?”
Akhirnya, suatu suara datang dari bagian paling belakang di ruangan itu. Itulah suara tukang kebun yang sudah lama bekerja bagi pemilik dan puteranya. “Saya akan memberikan $10 untuk lukisan itu.” Karena ia orang miskin, jumlah itulah yang dapat ia berikan. “Kita telah mendapatkan tawaran $10, siapa yang akan menawar $20?” “Berikan saja kepadanya dengan $10, lalu kita urus lukisan-lukisan dari para maestro.” Jurulelang menegaskan, “$10 adalah nilai lelang ini, tidak adakah orang lain yang mau menawar $20?”
Kerumunan orang-orang itu mulai menjadi marah. Mereka tidak inginkan lukisan sang putera. Mereka ingin investasi yang lebih berharga bagi koleksi mereka. Jurulelang itu mengetukkan kembali palunya. “Satu, dua, ya TERJUAL dengan harga $10!” Seorang pria yang duduk di baris kedua berteriak, “Sekarang kita teruskan dengan koleksi berharganya.”
Jurulelang itu meletakkan palunya.
“Maafkan saya, lelang ini sudah berakhir. Ketika saya diminta untuk mengadakan lelang ini, saya diberitahu tentang ketentuan rahasia yang ada di dalam surat wasiat pemilik benda-benda seni ini. Saya tidak diizinkan mengungkapkan ketentuan apapun sampai saat ini. Hanya lukisan sang putera yang akan dilelang. Siapapun yang membeli lukisan itu akan memiliki seluruh bangunan ini, termasuk lukisan-lukisannya. Pria yang telah membeli lukisan sang putera akan memiliki semua ini.”
Bapa telah memberikan putera-Nya 2000 tahun yang lalu untuk mati dengan cara yang sangat mengerikan di atas kayu salib. Sama seperti jurulelang itu, pesan-Nya hari ini, “Sang Putera, sang Putera, siapa yang mau menerima sang Putera?” (Diterjemahkan oleh Hadi Kristadi untuk http://pentas-kesaksian.blogspot.com - mohon agar bagian ini jangan dihapus/didelete ketika anda memforwardnya - Terima kasih)
****
The Son
Author Unknown
A wealthy man and his son loved to collect rare works of art. They had everything in their collection, from Picasso to Raphael. They would often sit together and admire the great works of art.
When the Vietnam conflict broke out, the son went to war. He was very courageous and died in battle while rescuing another soldier. The father was notified and grieved deeply for his only son.
About a month later, just before Christmas, there was a knock at the door. A young man stood at the door with a large package in his hands. He said, "Sir, you don't know me, but I am the soldier for whom your son gave his life. He saved many lives that day, and he was carrying me to safety when a bullet struck him in the heart and he died instantly. He often talked about you, and your love for art."
The young man held out his package.
"I know this isn't much. I'm not really a great artist, but I think your son would have wanted you to have this."
The father opened the package. It was a portrait of his son, painted by the young man. He stared in awe at the way the soldier had captured the personality of his son in the painting. The father was so drawn to the eyes that his own eyes welled up with tears. He thanked the young man and offered to pay him for the portrait.
"Oh, no sir, I could never repay what your son did for me. It's a gift."
The father hung the portrait over his mantle. Every time visitors came to his home he took them to see the portrait of his son before he showed them any of the other great works he had collected. The man died a few months later. There was to be a great auction of his paintings. Many influential people gathered, excited over seeing the great paintings and having an opportunity to purchase one for their collection. On the platform sat the painting of the son.
The auctioneer pounded his gavel. "We will start the bidding with this portrait of the son. Who will bid for this painting?" There was silence. Then a voice in the back of the room shouted. "We want to see the famous paintings. Skip this one." But the auctioneer persisted. "Will someone bid for this painting? Who will start the bidding? $100, $200?" Another voice shouted angrily. "We didn't come to see this painting. We came to see the Van Goghs, the Rembrandts. Get on with the real bids!" But still the auctioneer continued. "The son! The son! Who'll take the son?"
Finally, a voice came from the very back of the room. It was the long-time gardener of the man and his son. "I'll give $10 for the painting." Being a poor man, it was all he could afford. "We have $10, who will bid $20?" "Give it to him for $10. Let's see the masters." "$10 is the bid, won't someone bid $20?"
The crowd was becoming angry. They didn't want the painting of the son. They wanted the more worthy investments for their collections. The auctioneer pounded the gavel. "Going once, twice, SOLD for $10!" A man sitting on the second row shouted. "Now let's get on with the collection!"
The auctioneer laid down his gavel.
"I'm sorry, the auction is over. When I was called to conduct this auction, I was told of a secret stipulation in the will. I was not allowed to reveal that stipulation until this time. Only the painting of the son would be auctioned. Whoever bought that painting would inherit the entire estate, including the paintings. The man who took the son gets everything!"
God gave his son 2,000 years ago to die on a cruel cross. Much like the auctioneer, His message today is, "The son, the son, who'll take the son?"
Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com
Sang Putera
Seorang yang kaya raya dan puteranya suka mengoleksi benda-benda seni yang langka. Mereka telah memiliki segala macam dalam koleksi mereka, dari karya Picasso sampai Raphael. Mereka seringkali duduk bersama dan mengagumi karya-karya seni yang agung.
Ketika perang Vietnam pecah, puteranya pergi berperang. Ia sangat gagah berani dan gugur dalam pertempuran selagi menolong serdadu yang lain. Ayahnya diberi tahu dan menjadi sangat berduka karena kematian puteranya.
Sekitar sebulan kemudian, tepat sebelum hari Natal, ada ketukan di pintu rumah. Seorang anak muda berdiri di depan pintu dengan paket besar di tangannya. Ia berkata, “Pak, anda mungkin tidak mengenal saya, tetapi sayalah serdadu terakhir yang ditolong putera bapak sehingga ia kehilangan nyawanya. Ia menolong banyak jiwa pada hari itu, dan ia menggendong saya ke tempat yang aman saat sebutir peluru menembus tubuhnya dan mengenai jantungnya sehingga ia meninggal segera. Ia sering bercerita tentang Bapak, dan kecintaan Bapak terhadap barang-barang seni.”
Anak muda itu menyodorkan bawaannya. “Saya tahu benda ini tidak mahal. Saya bukanlah seorang seniman besar, namun saya pikir putera Bapak akan meminta Bapak untuk menyimpannya.”
Sang ayah membuka bungkusan itu. Di dalamnya terdapat sebuah lukisan puteranya, yang dilukis oleh anak muda itu. Ia memandangi lukisan itu dengan kekaguman atas ketepatan anak muda di depannya menggambarkan kepribadian puteranya dalam lukisan itu. Sang ayah begitu terpaku melihat mata puteranya sehingga matanya berkaca-kaca penuh airmata. Ia berterima kasih kepada anak muda itu dan menawarkan diri untuk membayar lukisan puteranya.
“Oh, jangan, Pak! Saya tidak akan pernah dapat membayar kembali apa yang telah diperbuat putera Bapak terhadap saya. Lukisan ini adalah hadiah dari saya untuk Bapak.”
Sang ayah menggantungkan lukisan itu di atas gantungan jasnya. Setiap tamu yang datang ke rumahnya akan diajak melihat lukisan puteranya sebelum ia menunjukkan kepada mereka karya-karya seni hebat yang ia telah koleksi. Bapak itu meninggal beberapa bulan kemudian. Karya-karya seninya akan dilelang. Banyak orang-orang kaya dan orang-orang berpengaruh berkumpul, terkagum-kagum melihat lukisan-lukisan agung itu dan mereka semua berharap untuk mendapatkan kesempatan membeli satu untuk koleksi mereka.
Di atas mimbar ditampilkan lukisan anak pemilik benda-benda seni itu. Jurulelang mengetukkan palunya. “Kita akan memulai lelang ini dengan lukisan sang putera. Siapa yang ingin memberi tawaran bagi lukisan ini?” Ada kesenyapan di sana. Kemudian suatu suara terdengar dari bagian belakang ruangan itu, “Kami ingin melihat lukisan-lukisan terkenal. Lewatkan saja yang satu ini.” Namun sang jurulelang tetap ngotot dengan lukisan pertama itu. “Adakah seseorang yang ingin menawar lukisan ini? Siapa yang ingin memulai? $100, $200?” Suara lain terdengar berteriak dengan marah, “Kami ke sini bukan untuk melihat lukisan ini. Kami datang untuk melihat hasil karya Van Goghs, Rembrandts. Ayo teruskan saja dengan lelang utamanya!” Namun sang jurulelang masih ngotot untuk bertahan dengan lukisan sang putera. “Sang putera! Sang putera! Siapa yang mau mengambil sang putera?”
Akhirnya, suatu suara datang dari bagian paling belakang di ruangan itu. Itulah suara tukang kebun yang sudah lama bekerja bagi pemilik dan puteranya. “Saya akan memberikan $10 untuk lukisan itu.” Karena ia orang miskin, jumlah itulah yang dapat ia berikan. “Kita telah mendapatkan tawaran $10, siapa yang akan menawar $20?” “Berikan saja kepadanya dengan $10, lalu kita urus lukisan-lukisan dari para maestro.” Jurulelang menegaskan, “$10 adalah nilai lelang ini, tidak adakah orang lain yang mau menawar $20?”
Kerumunan orang-orang itu mulai menjadi marah. Mereka tidak inginkan lukisan sang putera. Mereka ingin investasi yang lebih berharga bagi koleksi mereka. Jurulelang itu mengetukkan kembali palunya. “Satu, dua, ya TERJUAL dengan harga $10!” Seorang pria yang duduk di baris kedua berteriak, “Sekarang kita teruskan dengan koleksi berharganya.”
Jurulelang itu meletakkan palunya.
“Maafkan saya, lelang ini sudah berakhir. Ketika saya diminta untuk mengadakan lelang ini, saya diberitahu tentang ketentuan rahasia yang ada di dalam surat wasiat pemilik benda-benda seni ini. Saya tidak diizinkan mengungkapkan ketentuan apapun sampai saat ini. Hanya lukisan sang putera yang akan dilelang. Siapapun yang membeli lukisan itu akan memiliki seluruh bangunan ini, termasuk lukisan-lukisannya. Pria yang telah membeli lukisan sang putera akan memiliki semua ini.”
Bapa telah memberikan putera-Nya 2000 tahun yang lalu untuk mati dengan cara yang sangat mengerikan di atas kayu salib. Sama seperti jurulelang itu, pesan-Nya hari ini, “Sang Putera, sang Putera, siapa yang mau menerima sang Putera?” (Diterjemahkan oleh Hadi Kristadi untuk http://pentas-kesaksian.blogspot.com - mohon agar bagian ini jangan dihapus/didelete ketika anda memforwardnya - Terima kasih)
****
The Son
Author Unknown
A wealthy man and his son loved to collect rare works of art. They had everything in their collection, from Picasso to Raphael. They would often sit together and admire the great works of art.
When the Vietnam conflict broke out, the son went to war. He was very courageous and died in battle while rescuing another soldier. The father was notified and grieved deeply for his only son.
About a month later, just before Christmas, there was a knock at the door. A young man stood at the door with a large package in his hands. He said, "Sir, you don't know me, but I am the soldier for whom your son gave his life. He saved many lives that day, and he was carrying me to safety when a bullet struck him in the heart and he died instantly. He often talked about you, and your love for art."
The young man held out his package.
"I know this isn't much. I'm not really a great artist, but I think your son would have wanted you to have this."
The father opened the package. It was a portrait of his son, painted by the young man. He stared in awe at the way the soldier had captured the personality of his son in the painting. The father was so drawn to the eyes that his own eyes welled up with tears. He thanked the young man and offered to pay him for the portrait.
"Oh, no sir, I could never repay what your son did for me. It's a gift."
The father hung the portrait over his mantle. Every time visitors came to his home he took them to see the portrait of his son before he showed them any of the other great works he had collected. The man died a few months later. There was to be a great auction of his paintings. Many influential people gathered, excited over seeing the great paintings and having an opportunity to purchase one for their collection. On the platform sat the painting of the son.
The auctioneer pounded his gavel. "We will start the bidding with this portrait of the son. Who will bid for this painting?" There was silence. Then a voice in the back of the room shouted. "We want to see the famous paintings. Skip this one." But the auctioneer persisted. "Will someone bid for this painting? Who will start the bidding? $100, $200?" Another voice shouted angrily. "We didn't come to see this painting. We came to see the Van Goghs, the Rembrandts. Get on with the real bids!" But still the auctioneer continued. "The son! The son! Who'll take the son?"
Finally, a voice came from the very back of the room. It was the long-time gardener of the man and his son. "I'll give $10 for the painting." Being a poor man, it was all he could afford. "We have $10, who will bid $20?" "Give it to him for $10. Let's see the masters." "$10 is the bid, won't someone bid $20?"
The crowd was becoming angry. They didn't want the painting of the son. They wanted the more worthy investments for their collections. The auctioneer pounded the gavel. "Going once, twice, SOLD for $10!" A man sitting on the second row shouted. "Now let's get on with the collection!"
The auctioneer laid down his gavel.
"I'm sorry, the auction is over. When I was called to conduct this auction, I was told of a secret stipulation in the will. I was not allowed to reveal that stipulation until this time. Only the painting of the son would be auctioned. Whoever bought that painting would inherit the entire estate, including the paintings. The man who took the son gets everything!"
God gave his son 2,000 years ago to die on a cruel cross. Much like the auctioneer, His message today is, "The son, the son, who'll take the son?"
Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com
Book Gallery: "WANITA YANG MENINGGALKAN KARIER"
Buku Bagus!!!
Buku "Wanita Yang Meninggalkan Karier"
Penulis: Larry Burkett
Penerbit: Nafiri Gabriel
Edisi: Februari 2006
Isi: 346 halaman, ukuran 15,3 x 23 cm
Harga: Rp. 50.000,- (sesuai harga eceran di Toko Buku) ditambah ongkos kirim.
Untuk pemesanan buku ini, hubungi via SMS 08129716102 (Hadi Kristadi), dengan menyebutkan nama dan alamat lengkap, disertai RT & RW dan KODE POS. Pembayaran dengan transfer ke BCA a/n HADI a/c 4980036931. Ongkos kirim akan ditentukan setelah ada konfirmasi jumlah buku yang dipesan. Buku akan dikirim setelah ada transfer dana.
Para orangtua hanya memiliki satu kesempatan untuk membesarkan anak-anak mereka. Jika mereka menyia-nyiakan kesempatan itu, sebagian besar akan menyesalinya seumur hidup mereka. Sebagai seorang konselor keuangan, saya ingin menolong ibu-ibu bekerja yang mempunyai keinginan untuk tinggal di rumah, supaya mereka bisa melihat keputusan-keputusan yang akan mereka buat, dan mempersiapkan diri menghadapi perubahan-perubahan yang akan terjadi, serta mengantisipasi masalah-masalah yang mungkin timbul atas keputusan mereka.
Dengan mendalam Larry Burkett membahas topik-topik:
- Mempersiapkan diri untuk hidup dengan satu penghasilan;
- Mengatasi rasa rendah diri karena meninggalkan karier;
- Menghadapi pasangan yang tidak mendukung;
- Menciptakan penghasilan sambil berada di rumah;
- Mendidik anak dengan "home schooling";
- Memasuki dunia kerja lagi.
Jika anda ingin sekali menjadi seorang ibu yang tinggal di rumah tetapi takut menghadapi bencana keuangan (karena penghasilan dari pekerjaan anda hilang), buku ini akan menuntun anda ke arah yang benar.
Ditulis oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com
Buku "Wanita Yang Meninggalkan Karier"
Penulis: Larry Burkett
Penerbit: Nafiri Gabriel
Edisi: Februari 2006
Isi: 346 halaman, ukuran 15,3 x 23 cm
Harga: Rp. 50.000,- (sesuai harga eceran di Toko Buku) ditambah ongkos kirim.
Untuk pemesanan buku ini, hubungi via SMS 08129716102 (Hadi Kristadi), dengan menyebutkan nama dan alamat lengkap, disertai RT & RW dan KODE POS. Pembayaran dengan transfer ke BCA a/n HADI a/c 4980036931. Ongkos kirim akan ditentukan setelah ada konfirmasi jumlah buku yang dipesan. Buku akan dikirim setelah ada transfer dana.
Para orangtua hanya memiliki satu kesempatan untuk membesarkan anak-anak mereka. Jika mereka menyia-nyiakan kesempatan itu, sebagian besar akan menyesalinya seumur hidup mereka. Sebagai seorang konselor keuangan, saya ingin menolong ibu-ibu bekerja yang mempunyai keinginan untuk tinggal di rumah, supaya mereka bisa melihat keputusan-keputusan yang akan mereka buat, dan mempersiapkan diri menghadapi perubahan-perubahan yang akan terjadi, serta mengantisipasi masalah-masalah yang mungkin timbul atas keputusan mereka.
Dengan mendalam Larry Burkett membahas topik-topik:
- Mempersiapkan diri untuk hidup dengan satu penghasilan;
- Mengatasi rasa rendah diri karena meninggalkan karier;
- Menghadapi pasangan yang tidak mendukung;
- Menciptakan penghasilan sambil berada di rumah;
- Mendidik anak dengan "home schooling";
- Memasuki dunia kerja lagi.
Jika anda ingin sekali menjadi seorang ibu yang tinggal di rumah tetapi takut menghadapi bencana keuangan (karena penghasilan dari pekerjaan anda hilang), buku ini akan menuntun anda ke arah yang benar.
Ditulis oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com
Dancers in the Prison
Para Penari di Penjara
Byron F. Garcia (48 tahun) tidak pernah bermimpi menjadi konsultan penjara, apalagi bertanggungjawab untuk penjara di Cebu (CPDRC) yang terkenal dengan penjahat kelas kakap. Penjara itu dihuni lebih dari 1,500 orang terpidana berat, terkenal sebagai sarang narkoba, dengan para petugas yang korup dan selalu terjadi kekerasan di antara para napi. Inilah penjara terberat dan ditakuti di seluruh Filipina. Itu dulu…
Hanya dengan modal tekad kuat untuk membuat penjara 'heboh' ini menjadi lebih manusiawi, Byron melakukan beberapa pembenahan. Setelah memperbaiki dan memperketat sistem pengamanan, Byron mencari cara untuk memperlakukan para napi dengan lebih manusiawi yaitu dengan memberikan mereka musik dan melatih mereka menari. Gak salah? Memang orang Filipina suka menyanyi dan menari, kenapa tidak dicoba? Memangnya pembunuh, pemerkosa, pengedar narkoba ini tidak boleh menari? Maka Byron pun mencoba idenya sejak tahun 2007.
Dimulai dengan mengambil latihan 4 jam setiap hari dengan mengundang seorang koreografer, seluruh penjara perlahan tapi pasti berubah ke arah pembentukan sikap disiplin yang positif. Semua napi jadi bersemangat setiap berlatih menari, bahkan sampai tidur pun para napi pun terbayang-bayang dengan hitungan dan gerakannya. Hal ini dapat diketahui karena semua sudut penjara di monitor CCTV selama 24 jam.
Pendalaman iman diadakan setiap hari dan selalu penuh dihadiri para napi; mereka saling mendoakan dan memuji Tuhan. Akhirnya kekerasan yang menjadi keseharian para napi menjadi turun sampai nol, digantikan dengan semangat pertemanan dan sukacita di dalamnya. Acara makan yang sebelumnya adalah saat-saat menyeramkan karena sering terjadi baku hantam, menjadi saat yang menyenangkan layaknya keluarga besar makan bersama. Para napi yang semula bahasanya 'kekerasan' berubah menjadi lebih manusiawi, saling tolong menolong.
Akhirnya semenjak tarian "Thriller" di-upload ke YouTube oleh Byron Garcia, woala, sampai hari ini (17 Juli 2008) video ini mendapat lebih dari 16 juta hits dan menjadikan mereka terkenal bahkan mengharumkan nama negerinya. Gimana gak bangga tuh para napinya, bahkan Presiden Arroyo akan mampir sendiri mau nonton lho!
Kalau kita memiliki kehendak baik, apapun mungkin dan bisa dilakukan, apalagi kita menyertakan Tuhan di dalamnya. Byron belum selesai berkarya, ia bahkan memikirkan akan membangun pusat latihan tari di Manila bagi para 'alumni' penjaranya karena mereka sudah berubah menjadi 'orang baik' katanya. Well, keep up the good work! Semoga penjara-penjara lain bisa memperlakukan hal yang sama: memperlakukan napi selayaknya manusia dan menjadikan penjara sebagai tempat rehabilitasi dimana terjadi perubahan sikap mental.
Lihat karya Byron di http://www.youtube.com/user/byronfgarcia
PS: silahkan search "byronfgarcia" di YouTube maka anda akan menemukan banyak tarian sinkronisasi yang waah… Kita saja yang di luar penjara belum tentu bisa melakukannya. (Sumber: Email dari Shanti - Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN http://pentas-kesaksian.blogspot.com)
Byron F. Garcia (48 tahun) tidak pernah bermimpi menjadi konsultan penjara, apalagi bertanggungjawab untuk penjara di Cebu (CPDRC) yang terkenal dengan penjahat kelas kakap. Penjara itu dihuni lebih dari 1,500 orang terpidana berat, terkenal sebagai sarang narkoba, dengan para petugas yang korup dan selalu terjadi kekerasan di antara para napi. Inilah penjara terberat dan ditakuti di seluruh Filipina. Itu dulu…
Hanya dengan modal tekad kuat untuk membuat penjara 'heboh' ini menjadi lebih manusiawi, Byron melakukan beberapa pembenahan. Setelah memperbaiki dan memperketat sistem pengamanan, Byron mencari cara untuk memperlakukan para napi dengan lebih manusiawi yaitu dengan memberikan mereka musik dan melatih mereka menari. Gak salah? Memang orang Filipina suka menyanyi dan menari, kenapa tidak dicoba? Memangnya pembunuh, pemerkosa, pengedar narkoba ini tidak boleh menari? Maka Byron pun mencoba idenya sejak tahun 2007.
Dimulai dengan mengambil latihan 4 jam setiap hari dengan mengundang seorang koreografer, seluruh penjara perlahan tapi pasti berubah ke arah pembentukan sikap disiplin yang positif. Semua napi jadi bersemangat setiap berlatih menari, bahkan sampai tidur pun para napi pun terbayang-bayang dengan hitungan dan gerakannya. Hal ini dapat diketahui karena semua sudut penjara di monitor CCTV selama 24 jam.
Pendalaman iman diadakan setiap hari dan selalu penuh dihadiri para napi; mereka saling mendoakan dan memuji Tuhan. Akhirnya kekerasan yang menjadi keseharian para napi menjadi turun sampai nol, digantikan dengan semangat pertemanan dan sukacita di dalamnya. Acara makan yang sebelumnya adalah saat-saat menyeramkan karena sering terjadi baku hantam, menjadi saat yang menyenangkan layaknya keluarga besar makan bersama. Para napi yang semula bahasanya 'kekerasan' berubah menjadi lebih manusiawi, saling tolong menolong.
Akhirnya semenjak tarian "Thriller" di-upload ke YouTube oleh Byron Garcia, woala, sampai hari ini (17 Juli 2008) video ini mendapat lebih dari 16 juta hits dan menjadikan mereka terkenal bahkan mengharumkan nama negerinya. Gimana gak bangga tuh para napinya, bahkan Presiden Arroyo akan mampir sendiri mau nonton lho!
Kalau kita memiliki kehendak baik, apapun mungkin dan bisa dilakukan, apalagi kita menyertakan Tuhan di dalamnya. Byron belum selesai berkarya, ia bahkan memikirkan akan membangun pusat latihan tari di Manila bagi para 'alumni' penjaranya karena mereka sudah berubah menjadi 'orang baik' katanya. Well, keep up the good work! Semoga penjara-penjara lain bisa memperlakukan hal yang sama: memperlakukan napi selayaknya manusia dan menjadikan penjara sebagai tempat rehabilitasi dimana terjadi perubahan sikap mental.
Lihat karya Byron di http://www.youtube.com/user/byronfgarcia
PS: silahkan search "byronfgarcia" di YouTube maka anda akan menemukan banyak tarian sinkronisasi yang waah… Kita saja yang di luar penjara belum tentu bisa melakukannya. (Sumber: Email dari Shanti - Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN http://pentas-kesaksian.blogspot.com)
Wednesday, July 16, 2008
About Holiday Inn
Beberapa orang menggali yang terbaik dari diri anda dengan suatu cara yang mungkin tidak akan pernah anda sadari sendiri sepenuhnya. Ibu saya, Ruby Lloyd Wilson, adalah salah satu di antara orang-orang seperti itu.
Sebagian besar orang memanggil ibu saya Doll. Ayah saya meninggal ketika saya masih berusia sembilan bulan, sehingga membuat ibu saya menjadi orangtua tunggal dan seorang janda pada usia delapan belas tahun. Ketika saya sedang dalam masa pertumbuhan, ada saat-saat dimana kami mempunyai begitu sedikit uang sehingga kami harus hidup dengan beberapa pons selai kacang kering selama seminggu. Walaupun kami mengalami kelangkaan makanan, namun cinta kasih dan sayang ibu saya begitu melimpah. Setiap malam ia mendudukkan saya di pangkuannya dan mengucapkan kata-kata yang akan mengubah kehidupan saya, "Kemmons, kamu ditakdirkan untuk menjadi orang hebat dan kamu bisa melakukan apa saja dalam hidupmu jika kamu mau bekerja keras untuk mendapatkannya."
Pada usia empat belas tahun saya tertabrak mobil dan dokter berkata bahwa saya tidak akan pernah dapat berjalan lagi. Ibu saya mengambil cuti dari pekerjaannya di sebuah pabrik pengemasan daging dan pindah ke kamar saya di Rumah Sakit untuk merawat saya. Setiap hari ia berbicara kepada saya dengan suara yang lembut dan penuh kasih, meyakinkan saya kembali bahwa tidak peduli apa yang dikatakan oleh para dokter, saya bisa berjalan lagi jika saya mempunyai keinginan yang cukup keras. Ia menanamkan pesan itu begitu dalam di hati saya sehingga akhirnya saya mempercayainya. Setahun kemudian saya kembali ke sekolah, berjalan sendiri.
Ketika Depresi Besar melanda Amerika Serikat, ibu saya kehilangan pekerjaannya seperti jutaan orang lainnya. Saya berusia tujuh belas tahun, dan bertentangan dengan harapan ibu, saya meninggalkan sekolah untuk menopang kehidupan kami berdua. Pada waktu itu saya memiliki misi hidup untuk berhasil demi ibu saya, dan saya berjanji untuk tidak hidup miskin lagi.
Selama bertahun-tahun saya mengalami berbagai keberhasilan bisnis. Namun titik baliknya ternyata terjadi pada suatu liburan yang kami lakukan bersama isteri dan kelima anak saya pada tahun 1951. Saya merasa frustrasi dengan akomodasi kelas dua yang tersedia bagi para keluarga dan sangat marah karena mereka mengenakan sewa hotel ekstra sebesar US$ 20 untuk setiap anak. Itu terlalu mahal untuk rata-rata keluarga Amerika, dan saya bertekad untuk menawarkan alternatif kepada mereka. Saya berkata kepada isteri saya bahwa saya akan membuka sebuah hotel untuk keluarga dengan merek yang bisa dipercayai orang-orang dan tidak pernah mengenakan biaya ekstra untuk anak-anak. Saya membayangkan sekitar 400 hotel di seluruh Amerika Serikat, dan itu merupakan jumlah yang tepat sehingga setiap hotel akan terjangkau dalam perjalanan selama sehari sejauh 150 mil. Ada banyak yang ragu-ragu dan memperkirakan kegagalan, karena konsep seperti itu belum ada pada waktu itu.
Yang mengagumkan, ibu saya adalah salah seorang pendukung terkuat saya dan menjadi orang pertama yang turut merealisasikan impian saya. Ia bekerja di belakang meja dan bahkan mendesain dekorasi ruangan untuk seratus hotel pertama. Seperti dalam setiap bisnis, kami mengalami banyak tantangan. Selama bertahun-tahun kami membayarkan bonus Natal kepada seluruh karyawan kami menggunakan surat utang karena kami kekurangan dana. Namun dengan kata-kata ibu saya yang melekat begitu kuat dalam jiwa saya, saya tidak pernah ragu bahwa kami akan berhasil. Lima belas tahun kemudian kami mempunyai sistem jaringan hotel terbesar di dunia dengan merek yang terkenal.
Demikianlah pengakuan dalam kata-kata Kemmons Wilson.
Anda mungkin belum memulai kehidupan dalam lingkungan terbaik. Namun jika anda bisa menemukan sebuah misi dalam hidup ini yang layak diperjuangkan, tidak akan ada yang bisa menghentikan anda untuk mencapai kesuksesan.
Catatan: Kemmons Wilson mendirikan Holiday Inn pertama pada tahun 1951 dan membangunnya menjadi jaringan hotel terbesar di dunia. Ketika ia pensiun pada tahun 1971 perusahan itu memiliki 1759 hotel di lebih dari lima puluh negara dengan pendapatan tahunan lebih dari US$ 1 milyar. (Sumber: Buku "Unstoppable" oleh Cynthia Kersey)
Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com
Sebagian besar orang memanggil ibu saya Doll. Ayah saya meninggal ketika saya masih berusia sembilan bulan, sehingga membuat ibu saya menjadi orangtua tunggal dan seorang janda pada usia delapan belas tahun. Ketika saya sedang dalam masa pertumbuhan, ada saat-saat dimana kami mempunyai begitu sedikit uang sehingga kami harus hidup dengan beberapa pons selai kacang kering selama seminggu. Walaupun kami mengalami kelangkaan makanan, namun cinta kasih dan sayang ibu saya begitu melimpah. Setiap malam ia mendudukkan saya di pangkuannya dan mengucapkan kata-kata yang akan mengubah kehidupan saya, "Kemmons, kamu ditakdirkan untuk menjadi orang hebat dan kamu bisa melakukan apa saja dalam hidupmu jika kamu mau bekerja keras untuk mendapatkannya."
Pada usia empat belas tahun saya tertabrak mobil dan dokter berkata bahwa saya tidak akan pernah dapat berjalan lagi. Ibu saya mengambil cuti dari pekerjaannya di sebuah pabrik pengemasan daging dan pindah ke kamar saya di Rumah Sakit untuk merawat saya. Setiap hari ia berbicara kepada saya dengan suara yang lembut dan penuh kasih, meyakinkan saya kembali bahwa tidak peduli apa yang dikatakan oleh para dokter, saya bisa berjalan lagi jika saya mempunyai keinginan yang cukup keras. Ia menanamkan pesan itu begitu dalam di hati saya sehingga akhirnya saya mempercayainya. Setahun kemudian saya kembali ke sekolah, berjalan sendiri.
Ketika Depresi Besar melanda Amerika Serikat, ibu saya kehilangan pekerjaannya seperti jutaan orang lainnya. Saya berusia tujuh belas tahun, dan bertentangan dengan harapan ibu, saya meninggalkan sekolah untuk menopang kehidupan kami berdua. Pada waktu itu saya memiliki misi hidup untuk berhasil demi ibu saya, dan saya berjanji untuk tidak hidup miskin lagi.
Selama bertahun-tahun saya mengalami berbagai keberhasilan bisnis. Namun titik baliknya ternyata terjadi pada suatu liburan yang kami lakukan bersama isteri dan kelima anak saya pada tahun 1951. Saya merasa frustrasi dengan akomodasi kelas dua yang tersedia bagi para keluarga dan sangat marah karena mereka mengenakan sewa hotel ekstra sebesar US$ 20 untuk setiap anak. Itu terlalu mahal untuk rata-rata keluarga Amerika, dan saya bertekad untuk menawarkan alternatif kepada mereka. Saya berkata kepada isteri saya bahwa saya akan membuka sebuah hotel untuk keluarga dengan merek yang bisa dipercayai orang-orang dan tidak pernah mengenakan biaya ekstra untuk anak-anak. Saya membayangkan sekitar 400 hotel di seluruh Amerika Serikat, dan itu merupakan jumlah yang tepat sehingga setiap hotel akan terjangkau dalam perjalanan selama sehari sejauh 150 mil. Ada banyak yang ragu-ragu dan memperkirakan kegagalan, karena konsep seperti itu belum ada pada waktu itu.
Yang mengagumkan, ibu saya adalah salah seorang pendukung terkuat saya dan menjadi orang pertama yang turut merealisasikan impian saya. Ia bekerja di belakang meja dan bahkan mendesain dekorasi ruangan untuk seratus hotel pertama. Seperti dalam setiap bisnis, kami mengalami banyak tantangan. Selama bertahun-tahun kami membayarkan bonus Natal kepada seluruh karyawan kami menggunakan surat utang karena kami kekurangan dana. Namun dengan kata-kata ibu saya yang melekat begitu kuat dalam jiwa saya, saya tidak pernah ragu bahwa kami akan berhasil. Lima belas tahun kemudian kami mempunyai sistem jaringan hotel terbesar di dunia dengan merek yang terkenal.
Demikianlah pengakuan dalam kata-kata Kemmons Wilson.
Anda mungkin belum memulai kehidupan dalam lingkungan terbaik. Namun jika anda bisa menemukan sebuah misi dalam hidup ini yang layak diperjuangkan, tidak akan ada yang bisa menghentikan anda untuk mencapai kesuksesan.
Catatan: Kemmons Wilson mendirikan Holiday Inn pertama pada tahun 1951 dan membangunnya menjadi jaringan hotel terbesar di dunia. Ketika ia pensiun pada tahun 1971 perusahan itu memiliki 1759 hotel di lebih dari lima puluh negara dengan pendapatan tahunan lebih dari US$ 1 milyar. (Sumber: Buku "Unstoppable" oleh Cynthia Kersey)
Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com
Monday, July 14, 2008
The Best is Yet to Come
YANG TERBAIK AKAN DATANG
Saya ingin berbagi satu cerita yang indah dengan Anda. Saya bertemu Yane Pe Benito ketika saya memberi khotbah di perusahaannya. Yane adalah seorang wanita yang menyenangkan yang memiliki kisah yang mengagumkan untuk diceritakan, saya memutuskan untuk menceritakannya pada dunia.
Dua tahun lalu, suami Yane, Beni, tanpa peringatan, kehilangan pekerjaannya. Hal ini menyebabkan rasa sakit dua kali lipat karena pekerjaannya sebenarnya sangat menjanjikan. Selama 6 tahun, Beni sangat menikmati pekerjaannya di sebuah perusahaan distribusi multinasional untuk produk perawatan kulit. Namun karena perubahan struktur organisasi yang terjadi dalam perusahaan tersebut yang sering terjadi di banyak perusahaan belakangan ini, ia di-PHK.
Yane memutuskan untuk memberitahu berita menyedihkan itu pada kedua anaknya yang masih kecil, Gabriel (6 tahun) dan Marga (4 tahun). Ia memilih dengan hati-hati kata-kata yang akan dipakai untuk menjelaskan hal tersebut. "Anak-anak, kita harus menjaga lebih baik barang-barang kita…dan tidak memboroskan uang kita karena…ayah tidak punya pekerjaan lagi."
Gabriel kecil berkata, "Maksud ibu, ayah dipecat?" Yane terkejut mendengar kata-kata yang kasar tersebut. "Di mana kamu belajar tentang kata itu?" Puteranya menjawab tanpa berbelit-belit, "Dari Peter Parker – Spiderman."
Tapi ya, PHK hanya merupakan kata yang lebih baik dari "Keluar, kami tidak lagi membutuhkanmu di sini." Kehilangan pekerjaan adalah selalu menyakitkan, sekalipun jika dibarengi dengan "pesangon". Di satu sisi Yane bersyukur atas "rejeki nomplok" itu, tapi di sisi lain Yane kuatir, menebak-nebak berapa lama keluarga mereka akan hidup dengan bergantung pada pesangon itu.
Beberapa bulan pertama semua berjalan baik; Beni menerima rata-rata dua panggilan interview setiap minggu. Namun beberapa bulan menjadi setahun – dan terus berlanjut, panggilan interview semakin sedikit dan jarang.
Selama hampir dua tahun suaminya menganggur, Yane melalui kegelisahannya sendiri. Sebagai seorang ibu dari dua anak usia sekolah, ia melihat tabungan mereka yang semakin menipis. Untuk memperbaiki keadaan keuangan, ia pindah dari pekerjaan yang sudah ditekuninya selama 8 tahun, ke pekerjaan yang lebih tinggi bayarannya.
Tapi di samping dana yang semakin berkurang, ia juga kuatir akan harga diri Beni. Bukan karena Beni tidak mencoba, namun kelihatannya memang tidak banyak kesempatan kerja bagi pria berumur dengan latar belakang dan pengalaman seperti yang dimiliki Beni. Sebenarnya ada dua pekerjaan yang ia terima, tapi keduanya hanya bertahan sebentar. Sebut saja sebuah konflik kepribadian atau ketidak-cocokan, tapi Beni tidak dapat melihat dirinya bekerja lama di sana. Dengan marah, Beni akan keluar lagi.
Dan pernikahan mereka pun mengalami kesulitan, karena sekarang Yanelah yang memberi penghasilan bagi keluarga. "Akankah ego suami saya bertahan selama ini?" ia terus dan terus bertanya pada dirinya sendiri. Semakin waktu berlalu, ia semakin dan semakin kuatir akan Beni.
Yane mulai bertanya pada Tuhan, "Tuhan, saya tidak mengerti apa lagi yang Engkau sedang ajarkan pada kami! Bagaimana lagi kami harus berdoa? Apa lagi yang harus kami doakan?"
Itulah saat ketika Yane menyadari bahwa doa mereka harus lebih spesifik.
Maka ia mengumpulkan kedua anaknya dan berkata, "Mari berdoa bagi ayah, agar ia dapat menemukan suatu pekerjaan yang baik dengan seorang atasan yang baik – seseorang yang seperti atasannya di perusahaan yang dulu."
Dan itu menjadi doa spesifik keluarga tersebut. "Tuhan, tolong ayah untuk mendapatkan seorang atasan yang baik seperti atasannya dulu, dalam nama Yesus."
Suatu hari, sekitar setahun lalu dari hari ini, Yane pulang dari kerja dan melihat kedua anak dan suaminya sedang berdempetan sambil membungkuk. "Ada apa ini?" tanyanya.
Ia mendengar anak-anaknya berbisik dengan gembiranya, "Tunjukkan pada ibu sekarang!"
Beni menyodorkan sebuah amplop coklat padanya. Yane pikir itu adalah sesuatu dari sekolah anak-anak. Tapi bukan. Dengan perlahan ia menarik keluar secarik kertas dari amplop itu, ia membaca nama perusahaan…kemudian jabatan suaminya…dan gajinya… Sampai di sini, ia mengangguk puas. Namun ketika ia sampai ke bagian bawah kertas tersebut, ia kaget setengah mati. Karena ada sebuah tanda tangan. Tanda tangan milik atasan favorit Beni!
Diiringi tatapan heran anak-anaknya, Yane mulai menangis dan tertawa pada saat yang bersamaan. Ia sangat sulit untuk mempercayai ini! Seperti seorang anak, ia melompat-lompat kesenangan, dan disambut gembira oleh kedua anaknya yang ikut melompat dan tertawa bersamanya. Gabriel bertanya pada ibunya, "Ibu, mengapa engkau menangis dan tertawa pada saat yang bersamaan?" Yane melihat kesempatan bagus untuk menjelaskan, "Ibu menangis karena ibu begitu bahagia. Ingatkah bagaimana kamu berdoa untuk seorang atasan yang baik bagi ayah? Lihatlah nama ini," ia menunjuk kertas yang masih ia pegang. "Kita hanya meminta seorang atasan yang seperti atasan ayah yang dulu. Tapi, Tuhan memberi ayah seorang atasan yang persis sama! Ia menjawab doa-doa kita!"
Saat itulah Gabriel mulai menangis. "Mengapa kamu menangis?" tanya Yane. "Karena aku juga sangat bahagia," kata anak laki kecil itu, dan seluruh keluarga saling berpelukan.
Ketika Yane menceritakan kisah ini, saya tahu saya harus berbagi cerita ini dengan Anda. Karena semua kita melalui banyak kesulitan dan kehilangan. Kita kehilangan pekerjaan kita, kita kehilangan orang-orang yang kita kasihi, kita kehilangan uang kita, kita kehilangan sahabat-sahabat kita… Dan seringkali, kita menanti dan menanti agar rasa sakit ini hilang, agar rasa kehilangan ini menjadi sembuh. Kadang-kadang, kita menanti selama waktu yang panjang. Yane dan Beni harus menunggu selama dua tahun. Namun pada akhirnya, saya percaya kalau Tuhan telah menyiapkan berkat terbaik bagi Anda. Berimanlah! Percayalah, yang terbaik akan datang! (Bo Sanchez - kiriman ibu Suharti Ali)
Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com
Saya ingin berbagi satu cerita yang indah dengan Anda. Saya bertemu Yane Pe Benito ketika saya memberi khotbah di perusahaannya. Yane adalah seorang wanita yang menyenangkan yang memiliki kisah yang mengagumkan untuk diceritakan, saya memutuskan untuk menceritakannya pada dunia.
Dua tahun lalu, suami Yane, Beni, tanpa peringatan, kehilangan pekerjaannya. Hal ini menyebabkan rasa sakit dua kali lipat karena pekerjaannya sebenarnya sangat menjanjikan. Selama 6 tahun, Beni sangat menikmati pekerjaannya di sebuah perusahaan distribusi multinasional untuk produk perawatan kulit. Namun karena perubahan struktur organisasi yang terjadi dalam perusahaan tersebut yang sering terjadi di banyak perusahaan belakangan ini, ia di-PHK.
Yane memutuskan untuk memberitahu berita menyedihkan itu pada kedua anaknya yang masih kecil, Gabriel (6 tahun) dan Marga (4 tahun). Ia memilih dengan hati-hati kata-kata yang akan dipakai untuk menjelaskan hal tersebut. "Anak-anak, kita harus menjaga lebih baik barang-barang kita…dan tidak memboroskan uang kita karena…ayah tidak punya pekerjaan lagi."
Gabriel kecil berkata, "Maksud ibu, ayah dipecat?" Yane terkejut mendengar kata-kata yang kasar tersebut. "Di mana kamu belajar tentang kata itu?" Puteranya menjawab tanpa berbelit-belit, "Dari Peter Parker – Spiderman."
Tapi ya, PHK hanya merupakan kata yang lebih baik dari "Keluar, kami tidak lagi membutuhkanmu di sini." Kehilangan pekerjaan adalah selalu menyakitkan, sekalipun jika dibarengi dengan "pesangon". Di satu sisi Yane bersyukur atas "rejeki nomplok" itu, tapi di sisi lain Yane kuatir, menebak-nebak berapa lama keluarga mereka akan hidup dengan bergantung pada pesangon itu.
Beberapa bulan pertama semua berjalan baik; Beni menerima rata-rata dua panggilan interview setiap minggu. Namun beberapa bulan menjadi setahun – dan terus berlanjut, panggilan interview semakin sedikit dan jarang.
Selama hampir dua tahun suaminya menganggur, Yane melalui kegelisahannya sendiri. Sebagai seorang ibu dari dua anak usia sekolah, ia melihat tabungan mereka yang semakin menipis. Untuk memperbaiki keadaan keuangan, ia pindah dari pekerjaan yang sudah ditekuninya selama 8 tahun, ke pekerjaan yang lebih tinggi bayarannya.
Tapi di samping dana yang semakin berkurang, ia juga kuatir akan harga diri Beni. Bukan karena Beni tidak mencoba, namun kelihatannya memang tidak banyak kesempatan kerja bagi pria berumur dengan latar belakang dan pengalaman seperti yang dimiliki Beni. Sebenarnya ada dua pekerjaan yang ia terima, tapi keduanya hanya bertahan sebentar. Sebut saja sebuah konflik kepribadian atau ketidak-cocokan, tapi Beni tidak dapat melihat dirinya bekerja lama di sana. Dengan marah, Beni akan keluar lagi.
Dan pernikahan mereka pun mengalami kesulitan, karena sekarang Yanelah yang memberi penghasilan bagi keluarga. "Akankah ego suami saya bertahan selama ini?" ia terus dan terus bertanya pada dirinya sendiri. Semakin waktu berlalu, ia semakin dan semakin kuatir akan Beni.
Yane mulai bertanya pada Tuhan, "Tuhan, saya tidak mengerti apa lagi yang Engkau sedang ajarkan pada kami! Bagaimana lagi kami harus berdoa? Apa lagi yang harus kami doakan?"
Itulah saat ketika Yane menyadari bahwa doa mereka harus lebih spesifik.
Maka ia mengumpulkan kedua anaknya dan berkata, "Mari berdoa bagi ayah, agar ia dapat menemukan suatu pekerjaan yang baik dengan seorang atasan yang baik – seseorang yang seperti atasannya di perusahaan yang dulu."
Dan itu menjadi doa spesifik keluarga tersebut. "Tuhan, tolong ayah untuk mendapatkan seorang atasan yang baik seperti atasannya dulu, dalam nama Yesus."
Suatu hari, sekitar setahun lalu dari hari ini, Yane pulang dari kerja dan melihat kedua anak dan suaminya sedang berdempetan sambil membungkuk. "Ada apa ini?" tanyanya.
Ia mendengar anak-anaknya berbisik dengan gembiranya, "Tunjukkan pada ibu sekarang!"
Beni menyodorkan sebuah amplop coklat padanya. Yane pikir itu adalah sesuatu dari sekolah anak-anak. Tapi bukan. Dengan perlahan ia menarik keluar secarik kertas dari amplop itu, ia membaca nama perusahaan…kemudian jabatan suaminya…dan gajinya… Sampai di sini, ia mengangguk puas. Namun ketika ia sampai ke bagian bawah kertas tersebut, ia kaget setengah mati. Karena ada sebuah tanda tangan. Tanda tangan milik atasan favorit Beni!
Diiringi tatapan heran anak-anaknya, Yane mulai menangis dan tertawa pada saat yang bersamaan. Ia sangat sulit untuk mempercayai ini! Seperti seorang anak, ia melompat-lompat kesenangan, dan disambut gembira oleh kedua anaknya yang ikut melompat dan tertawa bersamanya. Gabriel bertanya pada ibunya, "Ibu, mengapa engkau menangis dan tertawa pada saat yang bersamaan?" Yane melihat kesempatan bagus untuk menjelaskan, "Ibu menangis karena ibu begitu bahagia. Ingatkah bagaimana kamu berdoa untuk seorang atasan yang baik bagi ayah? Lihatlah nama ini," ia menunjuk kertas yang masih ia pegang. "Kita hanya meminta seorang atasan yang seperti atasan ayah yang dulu. Tapi, Tuhan memberi ayah seorang atasan yang persis sama! Ia menjawab doa-doa kita!"
Saat itulah Gabriel mulai menangis. "Mengapa kamu menangis?" tanya Yane. "Karena aku juga sangat bahagia," kata anak laki kecil itu, dan seluruh keluarga saling berpelukan.
Ketika Yane menceritakan kisah ini, saya tahu saya harus berbagi cerita ini dengan Anda. Karena semua kita melalui banyak kesulitan dan kehilangan. Kita kehilangan pekerjaan kita, kita kehilangan orang-orang yang kita kasihi, kita kehilangan uang kita, kita kehilangan sahabat-sahabat kita… Dan seringkali, kita menanti dan menanti agar rasa sakit ini hilang, agar rasa kehilangan ini menjadi sembuh. Kadang-kadang, kita menanti selama waktu yang panjang. Yane dan Beni harus menunggu selama dua tahun. Namun pada akhirnya, saya percaya kalau Tuhan telah menyiapkan berkat terbaik bagi Anda. Berimanlah! Percayalah, yang terbaik akan datang! (Bo Sanchez - kiriman ibu Suharti Ali)
Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com
Thursday, July 10, 2008
A Stillborn Baby Raised
Bayi Mati Keguguran Dibangkitkan
Namaku Abby. Aku berumur 14. Aku tinggal di bagian barat North Carolina. Selama musim panas 2008, aku pergi pelayanan bersama-sama rekan lain ke Guatemala. Selama pelayanan itu, kami dibagi menjadi dua kelompok pelayanan yang terdiri dari 5 – 7 orang dan melayani desa-desa yang berbeda di San Pedro di daerah La Laguna. Kami bepergian dari desa ke desa untuk menceritakan kepada orang-orang Indian tentang Tuhan Yesus.
Pada suatu hari kami sedang mengunjungi rumah seorang wanita muda. Ia tinggal di desa kecil yang terdiri dari sekitar 14 atau 15 rumah. Kami mencoba membimbing wanita muda itu untuk menerima Kristus, namun nampaknya hal itu tidak berhasil. Setelah beberapa saat, kami memutuskan untuk meneruskan ke rumah yang lain. Sebelum meninggalkannya, kami menanyakan apakah wanita ini ingin didoakan sesuatu dalam kehidupannya. Ia memberitahu kami bahwa tepat sehari sebelumnya, ia telah melahirkan bayi yang mati di dalam kandungan dan ia mempersilakan kami untuk mendoakan hal itu.
Di dalam budaya Guatemala adalah suatu hal yang sangat memalukan dan terkutuk bagi ibu-ibu yang melahirkan anak cacat atau anak keguguran. Kami berdoa dengan sederhana agar segalanya akan berjalan baik dalam pemakaman bayi itu dan agar ibunya dilepaskan dari rasa malu dan terkutuk karena melahirkan bayi yang mati keguguran.
Ketika kami berdoa seperti itu, teman pelayananku, Julia (17 tahun), memberitahuku bahwa kami perlu berdoa di depan jenazah bayi itu. Aku pikir ia aneh sekali menganjurkan hal ini dan menurutku itu bukanlah gagasan yang bagus. Namun Julia berkeras akan usulnya. Ia mengatakan sekali lagi agar kami sungguh-sungguh perlu berdoa di depan jenazah bayi itu.
Julia memberitahuku agar menanyakan kepada ibu muda itu apakah ia masih menyimpan jenazah bayi itu. Setelah ditanyakan, ibu muda itu menjelaskan bahwa jenazah bayi itu masih dibungkus dengan kain di ruang belakang. Aku tanyakan kepadanya apakah kami boleh berdoa di depan jenazah bayi itu. Dengan enggan ibu itu mengatakan “ya”. Kami pergi ke ruang belakang dan melihat jenazah bayi itu terbungkus kain di atas tempat tidur. Julia melongokkan kepalanya dari ruang belakang dan bertanya kepada ibu muda itu apakah Julia dapat membuka bungkusan agar kepala bayinya terlihat. Ibunya kembali berkata “ya” asalkan kami membungkus jenasah bayi itu kembali.
Kepala bayi itu kecil dan pucat. Bayi itu mati keguguran dan telah mati di luar kandungan selama 27 jam. Kulit bayi itu pucat dan kebiruan. Seluruh anggota tim pelayanan kami, berlima, mulai menangis dan berdoa atas bayi itu. Kami berdoa selama 30 sampai 40 menit. Pada akhirnya Julia berteriak kepada Tuhan, mengingatkan Dia bahwa ia percaya dengan segenap hatinya bahwa bayi ini akan dibangkitkan dari kematiannya. Setelah Julia berteriak, kami semua terdiam. Kami dengan pelan berdoa dan bersyafaat. Dalam beberapa menit bayi itu mulai bergerak. Kemudian bayi itu batuk dan mulai menangis. Ibu muda itu datang bergegas masuk ke ruangan itu. Ia berteriak, “Apa yang terjadi?” Tak seorangpun dari kami yang mampu menjawabnya. Kami hanya memandangi bayi itu, yang bangkit ke dalam kehidupan.
Ibu muda itu kembali bertanya, “Apa yang terjadi?” Ia mulai menangis ketika ia melihat bayinya hidup. Ia keluar dari rumah itu dan mengetuk setiap pintu di desa itu, sambil menceritakan bahwa Tuhan itu nyata karena bayinya hidup. Dalam waktu sekitar 30 menit, warna kulit bayi itu dan gerakan-gerakannya menjadi normal sama sekali. Para penduduk desa itu berdatangan ke rumah itu untuk melihat mukjizat yang mengagumkan itu. Mereka bertanya kepada kami dewa Indian mana yang kami sembah agar mukjizat semacam itu terjadi. Kami menceritakan kepada mereka bahwa kami berdoa kepada Allah yang terbesar dan kami mulai menjelaskan tentang Tuhan Yesus. Segera kami menyadari bahwa kami tidak mungkin melayani keselamatan ini kepada setiap orang satu per satu. Maka kami mengumpulkan semua penduduk bersama-sama, menyalakan sound system yang kami bawa dan menjelaskan jalan keselamatan di dalam Kristus.
Setiap orang di desa itu, sekitar 80 – 90 orang, berdoa menerima Tuhan Yesus. Setiap orang dibaptis Roh Kudus dan mulai berbahasa lidah. Banyak orang rebah ke tanah ketika jamahan Roh Kudus melawat mereka.
Lima hari kemudian kami kembali ke desa itu untuk mengunjungi ibu muda dan bayinya. Desa itu ternyata menyiapkan makan malam yang meriah menyambut team pelayanan kami. Kami menikmati persekutuan yang indah bersama. Bahkan setelah lima hari itu, ibu itu masih saja tergetar oleh dampak yang dari Tuhan atas kehidupannya melalui kebangkitan bayinya. Dua hari setelah kunjungan tindak lanjut kami sebelumnya, ibu muda itu membawa bayinya yang diberi nama Julia ke gereja. Sampai saat ini sang ibu muda masih tergetar oleh kuasa Allah atas hidupnya setelah mukjizat Tuhan yang mengagumkan ini. (Abby – kiriman ibu Suharti Ali - diterjemahkan oleh Hadi Kristadi untuk http://pentas-kesaksian.blogspot.com)
*****
My name is Abby. I am 14 years old. I live in western North Carolina. During the summer of 2008, I went on a ministry trip to Guatemala. During part of the trip, we divided up into small ministry teams (5 to 7 people) and visited different villages in the San Pedro La Laguna area. We traveled from village to village telling the Indian people about Jesus.
On one particular day, we were visiting in the home of young woman. She lived in a small village of about 14 or 15 houses. We were trying to lead the young lady to Christ, but it was not going very well. After awhile, we decided to move on. Before leaving, we asked the woman if we could pray with her about anything in her life. She told us that just the day before, she had given birth to a stillborn baby and that we could pray with her about that.
In Guatemalan culture there is great shame and condemnation on mothers who give birth to deformed or stillborn children. We prayed a simple prayer that everything would go well with the funeral and burial of the baby and that the mother would be spared the shame and condemnation associated with having given birth to a stillborn child. As we were praying this simple prayer, my friend and fellow ministry team member, Julia (age 17), told me that we needed to pray over the baby's body. I thought she was crazy to suggest this and that it was not a good idea. Julia was persistent. She said again that we really needed to pray over the baby's body.
She told me to ask the mother if she still had the baby's body. When I asked, the mother told us the baby's body was wrapped up in a burial cloth in the backroom. I asked her if we could pray over the body. The mother hesitantly said, yes. We went into the backroom and saw the baby's body wrapped up in a bundle on the bed. Julia poked her head out of the back room and asked if she could unwrap the baby's head. The mother said, yes, if we wrapped it back correctly when we were done. Julia picked up the body and unwrapped the head. The baby's head was tiny and pale. The baby was stillborn and had been dead outside the womb for 27 hours. Her skin had turned shades of purple. Our entire ministry team, five of us, began crying and praying over this baby. We prayed for thirty to forty minutes. At the end of that time, Julia screamed out to God, telling Him that she believed with all of her heart that this baby could be raised from the dead. After Julia screamed out, everyone was silent. We were quietly interceding and praying. Within a few minutes, the baby started moving. Then the baby coughed and began crying. The mother came rushing into the room. She was screaming, “What is going?” No one could answer her. We were just staring at the baby, who had come back to life.
The mother asked us again, “What is going on?” She began crying as she saw that her baby was alive. She ran out of the house and banged on every door in the village, telling all of the people that God is real because her baby was alive. Within about thirty minutes, the baby's skin tone and movements had become completely normal. The other villagers came to the house to see this amazing miracle. They asked us which of the Indian gods we had prayed to for such a miracle to happen. We told them we had prayed to the biggest God ever and we began to explain to them about Jesus. Soon, we realized we would not have time to minister salvation to each person individually. So, we gathered all the villagers together, turned on our little sound system and explained the way of salvation.
Everyone in the village, 80 to 90 people, prayed to receive Jesus. Each of them was baptized in the Holy Spirit and began speaking in tongues. Many would fall to the ground as the power of the Holy Spirit came on them. Five days later, we returned to the village to check in on the mother and the baby. The village had prepared a big dinner in honor of our team. We enjoyed a wonderful time of fellowship together. The baby, whom they named Julia, was perfectly healthy and had gained weight. Even after five days, the mother was still shaking from the impact of God on her life through the resurrection of her child. Two days after our follow-up visit, the mother brought baby Julia to church. The mother was still shaking from the power of God on her life following this astounding miracle. (Abby)
Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com
Namaku Abby. Aku berumur 14. Aku tinggal di bagian barat North Carolina. Selama musim panas 2008, aku pergi pelayanan bersama-sama rekan lain ke Guatemala. Selama pelayanan itu, kami dibagi menjadi dua kelompok pelayanan yang terdiri dari 5 – 7 orang dan melayani desa-desa yang berbeda di San Pedro di daerah La Laguna. Kami bepergian dari desa ke desa untuk menceritakan kepada orang-orang Indian tentang Tuhan Yesus.
Pada suatu hari kami sedang mengunjungi rumah seorang wanita muda. Ia tinggal di desa kecil yang terdiri dari sekitar 14 atau 15 rumah. Kami mencoba membimbing wanita muda itu untuk menerima Kristus, namun nampaknya hal itu tidak berhasil. Setelah beberapa saat, kami memutuskan untuk meneruskan ke rumah yang lain. Sebelum meninggalkannya, kami menanyakan apakah wanita ini ingin didoakan sesuatu dalam kehidupannya. Ia memberitahu kami bahwa tepat sehari sebelumnya, ia telah melahirkan bayi yang mati di dalam kandungan dan ia mempersilakan kami untuk mendoakan hal itu.
Di dalam budaya Guatemala adalah suatu hal yang sangat memalukan dan terkutuk bagi ibu-ibu yang melahirkan anak cacat atau anak keguguran. Kami berdoa dengan sederhana agar segalanya akan berjalan baik dalam pemakaman bayi itu dan agar ibunya dilepaskan dari rasa malu dan terkutuk karena melahirkan bayi yang mati keguguran.
Ketika kami berdoa seperti itu, teman pelayananku, Julia (17 tahun), memberitahuku bahwa kami perlu berdoa di depan jenazah bayi itu. Aku pikir ia aneh sekali menganjurkan hal ini dan menurutku itu bukanlah gagasan yang bagus. Namun Julia berkeras akan usulnya. Ia mengatakan sekali lagi agar kami sungguh-sungguh perlu berdoa di depan jenazah bayi itu.
Julia memberitahuku agar menanyakan kepada ibu muda itu apakah ia masih menyimpan jenazah bayi itu. Setelah ditanyakan, ibu muda itu menjelaskan bahwa jenazah bayi itu masih dibungkus dengan kain di ruang belakang. Aku tanyakan kepadanya apakah kami boleh berdoa di depan jenazah bayi itu. Dengan enggan ibu itu mengatakan “ya”. Kami pergi ke ruang belakang dan melihat jenazah bayi itu terbungkus kain di atas tempat tidur. Julia melongokkan kepalanya dari ruang belakang dan bertanya kepada ibu muda itu apakah Julia dapat membuka bungkusan agar kepala bayinya terlihat. Ibunya kembali berkata “ya” asalkan kami membungkus jenasah bayi itu kembali.
Kepala bayi itu kecil dan pucat. Bayi itu mati keguguran dan telah mati di luar kandungan selama 27 jam. Kulit bayi itu pucat dan kebiruan. Seluruh anggota tim pelayanan kami, berlima, mulai menangis dan berdoa atas bayi itu. Kami berdoa selama 30 sampai 40 menit. Pada akhirnya Julia berteriak kepada Tuhan, mengingatkan Dia bahwa ia percaya dengan segenap hatinya bahwa bayi ini akan dibangkitkan dari kematiannya. Setelah Julia berteriak, kami semua terdiam. Kami dengan pelan berdoa dan bersyafaat. Dalam beberapa menit bayi itu mulai bergerak. Kemudian bayi itu batuk dan mulai menangis. Ibu muda itu datang bergegas masuk ke ruangan itu. Ia berteriak, “Apa yang terjadi?” Tak seorangpun dari kami yang mampu menjawabnya. Kami hanya memandangi bayi itu, yang bangkit ke dalam kehidupan.
Ibu muda itu kembali bertanya, “Apa yang terjadi?” Ia mulai menangis ketika ia melihat bayinya hidup. Ia keluar dari rumah itu dan mengetuk setiap pintu di desa itu, sambil menceritakan bahwa Tuhan itu nyata karena bayinya hidup. Dalam waktu sekitar 30 menit, warna kulit bayi itu dan gerakan-gerakannya menjadi normal sama sekali. Para penduduk desa itu berdatangan ke rumah itu untuk melihat mukjizat yang mengagumkan itu. Mereka bertanya kepada kami dewa Indian mana yang kami sembah agar mukjizat semacam itu terjadi. Kami menceritakan kepada mereka bahwa kami berdoa kepada Allah yang terbesar dan kami mulai menjelaskan tentang Tuhan Yesus. Segera kami menyadari bahwa kami tidak mungkin melayani keselamatan ini kepada setiap orang satu per satu. Maka kami mengumpulkan semua penduduk bersama-sama, menyalakan sound system yang kami bawa dan menjelaskan jalan keselamatan di dalam Kristus.
Setiap orang di desa itu, sekitar 80 – 90 orang, berdoa menerima Tuhan Yesus. Setiap orang dibaptis Roh Kudus dan mulai berbahasa lidah. Banyak orang rebah ke tanah ketika jamahan Roh Kudus melawat mereka.
Lima hari kemudian kami kembali ke desa itu untuk mengunjungi ibu muda dan bayinya. Desa itu ternyata menyiapkan makan malam yang meriah menyambut team pelayanan kami. Kami menikmati persekutuan yang indah bersama. Bahkan setelah lima hari itu, ibu itu masih saja tergetar oleh dampak yang dari Tuhan atas kehidupannya melalui kebangkitan bayinya. Dua hari setelah kunjungan tindak lanjut kami sebelumnya, ibu muda itu membawa bayinya yang diberi nama Julia ke gereja. Sampai saat ini sang ibu muda masih tergetar oleh kuasa Allah atas hidupnya setelah mukjizat Tuhan yang mengagumkan ini. (Abby – kiriman ibu Suharti Ali - diterjemahkan oleh Hadi Kristadi untuk http://pentas-kesaksian.blogspot.com)
*****
My name is Abby. I am 14 years old. I live in western North Carolina. During the summer of 2008, I went on a ministry trip to Guatemala. During part of the trip, we divided up into small ministry teams (5 to 7 people) and visited different villages in the San Pedro La Laguna area. We traveled from village to village telling the Indian people about Jesus.
On one particular day, we were visiting in the home of young woman. She lived in a small village of about 14 or 15 houses. We were trying to lead the young lady to Christ, but it was not going very well. After awhile, we decided to move on. Before leaving, we asked the woman if we could pray with her about anything in her life. She told us that just the day before, she had given birth to a stillborn baby and that we could pray with her about that.
In Guatemalan culture there is great shame and condemnation on mothers who give birth to deformed or stillborn children. We prayed a simple prayer that everything would go well with the funeral and burial of the baby and that the mother would be spared the shame and condemnation associated with having given birth to a stillborn child. As we were praying this simple prayer, my friend and fellow ministry team member, Julia (age 17), told me that we needed to pray over the baby's body. I thought she was crazy to suggest this and that it was not a good idea. Julia was persistent. She said again that we really needed to pray over the baby's body.
She told me to ask the mother if she still had the baby's body. When I asked, the mother told us the baby's body was wrapped up in a burial cloth in the backroom. I asked her if we could pray over the body. The mother hesitantly said, yes. We went into the backroom and saw the baby's body wrapped up in a bundle on the bed. Julia poked her head out of the back room and asked if she could unwrap the baby's head. The mother said, yes, if we wrapped it back correctly when we were done. Julia picked up the body and unwrapped the head. The baby's head was tiny and pale. The baby was stillborn and had been dead outside the womb for 27 hours. Her skin had turned shades of purple. Our entire ministry team, five of us, began crying and praying over this baby. We prayed for thirty to forty minutes. At the end of that time, Julia screamed out to God, telling Him that she believed with all of her heart that this baby could be raised from the dead. After Julia screamed out, everyone was silent. We were quietly interceding and praying. Within a few minutes, the baby started moving. Then the baby coughed and began crying. The mother came rushing into the room. She was screaming, “What is going?” No one could answer her. We were just staring at the baby, who had come back to life.
The mother asked us again, “What is going on?” She began crying as she saw that her baby was alive. She ran out of the house and banged on every door in the village, telling all of the people that God is real because her baby was alive. Within about thirty minutes, the baby's skin tone and movements had become completely normal. The other villagers came to the house to see this amazing miracle. They asked us which of the Indian gods we had prayed to for such a miracle to happen. We told them we had prayed to the biggest God ever and we began to explain to them about Jesus. Soon, we realized we would not have time to minister salvation to each person individually. So, we gathered all the villagers together, turned on our little sound system and explained the way of salvation.
Everyone in the village, 80 to 90 people, prayed to receive Jesus. Each of them was baptized in the Holy Spirit and began speaking in tongues. Many would fall to the ground as the power of the Holy Spirit came on them. Five days later, we returned to the village to check in on the mother and the baby. The village had prepared a big dinner in honor of our team. We enjoyed a wonderful time of fellowship together. The baby, whom they named Julia, was perfectly healthy and had gained weight. Even after five days, the mother was still shaking from the impact of God on her life through the resurrection of her child. Two days after our follow-up visit, the mother brought baby Julia to church. The mother was still shaking from the power of God on her life following this astounding miracle. (Abby)
Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com
Personal Notes
Dear All,
* Terima kasih atas pemesanan buku "Mukjizat Kehidupan" yang telah membantu berlangsungnya blog ini.
* Brother Paul Lie, my younger brother has difficulties to hand in the books you ordered.
* Terima kasih untuk saudara-saudari seiman yang ikut menyumbang naskah inspiratif (kesaksian) untuk memberkati banyak orang melalui blog ini.
Ditulis oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com
* Terima kasih atas pemesanan buku "Mukjizat Kehidupan" yang telah membantu berlangsungnya blog ini.
* Brother Paul Lie, my younger brother has difficulties to hand in the books you ordered.
* Terima kasih untuk saudara-saudari seiman yang ikut menyumbang naskah inspiratif (kesaksian) untuk memberkati banyak orang melalui blog ini.
Ditulis oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com
Wednesday, July 9, 2008
Shoes That Change Life
Sepatu yang Mengubah Kehidupan
Aku baru saja bercerai, sendirian membesarkan anak-anakku: Morgan, Hannah, dan Christopher, semuanya balita. Aku memiliki penghasilan yang lumayan sebagai seorang penata rambut dan memiliki rumah yang bagus. Tetapi aku merasa bersalah akan perceraianku, sehingga aku memanjakan anak-anakku secara berlebihan. Aku membawa mereka berlibur ke tempat-tempat eksotis dan membelikan mereka sepatu-sepatu bermerek yang mahal, apapun yang mereka inginkan. Aku memberi mereka banyak kompensasi. Itu adalah caraku untuk menunjukkan kepada mereka hal yang kupikir adalah kasih sayang.
Pada musim semi tahun 1999 aku pergi ke Peten, Guatemala, untuk mengikuti lomba semi-maraton. Sewaktu berlari aku melihat sekelompok anak-anak sedang merendam kaki mereka ke dalam cairan hitam yang lengket.
“Apa itu?” tanyaku kepada pelari lain. “Mereka sedang melumuri telapak kaki mereka dengan tar (aspal) karena mereka tidak memiliki sepatu atau sandal,” jelasnya. “Apabila mereka bertelanjang kaki, kaki mereka akan rentan terhadap goresan dan bakteri. Mereka pikir tar akan melindungi kami mereka.”
Aku memandang ke bawah dan melihat sepatu lariku yang berharga US$ 100. Aku merasa tak nyaman. Anak-anak itu berjalan bermil-mil dengan kaki telanjang di sepanjang jalan yang berkerikil dan panas.
Selama penerbangan pulang aku tak dapat mengenyahkan pemandangan anak-anak berlumur tar di kakinya dari pikiranku. Bagaimana anak-anak itu dapat bermain seperti anak-anak lainnya? Aku memikirkan anak-anakku sendiri dan mensyukuri betapa banyak hal yang mereka miliki. Semua itu karena aku merasa bersalah sehingga anak-anakku mendapat kelimpahan harta benda, termasuk sepatu-sepatu mahal. Sekarang perasaan bersalah yang lain menusuk hatiku. Tuhan, prioritasku selama ini tidaklah benar. Berilah aku petunjuk bagaimana aku dapat membantu anak-anak itu.
Jawabannya datang secara mendadak, ternyata. Apa yang dilakukan teman-teman dan kerabatku dengan sepatu lama mereka? Membuangnya! Biasanya sepatu-sepatu yang dibuang itu masih dalam kondisi bagus. Dan anak-anakku? Mereka berganti sepatu dan pakaian hampir secepat aku dapat membelikan mereka barang-barang yang baru.
Aku tahu apa yang harus dilakukan: mengumpulkan sejumlah sepatu dan membawanya ke Guatemala. Aku menyampaikan gagasanku kepada teman-teman, tetangga, anak-anakku, dan semua orang yang bersedia mendengarnya. Ada yang memandangku dengan aneh dan ada juga yang memberikanku sepatu bekas mereka.
“Ini, Mom, sepatu ini sudah hampir tidak muat untukku,” ujar Hannah, anakku yang berumur 7 tahun, sembari menyerahkan sepatu Mary Jane berwarna hitam kesukaannya. Aku sangat bangga terhadapnya.
Tidak memakan waktu lama garasiku penuh dengan berbagai macam sepatu, hingga akhirnya tumpah ruah sampai ke halaman. Menjelang Natal aku mendatangi sebuah Panti Asuhan di pinggiran kota Guatemala City. Aku berjalan dengan susah payah menuju ke pintu masuknya dimana seorang biarawati berdiri di depan pintu gerbangnya.
“Aku membawa tiga boks penuh berisi sepatu-sepatu untuk disumbangkan,” kataku. “Silakan masuk!” jawabnya. Aku hampir tercekat melihat suasana di situ, karena begitu miskinnya. Dapatkah aku benar-benar membuat suatu perbedaan di sini? Dengan segera anak-anak mengerumuniku. Kebanyakan bertelanjang kaki. Ketika mereka melihat tumpukan sepatu kets dan sandal, mereka langsung bersemangat. Mereka tertawa senang sambil membuka-buka kotak sepatu satu persatu.
“Sepatu-sepatu ini adalah hadiah Natal satu-satunya bagi anak-anak ini,” ujar sang biarawati itu dengan suara menahan tangis. Kami memastikan setiap anak mendapat sepasang sepatu dan membiarkan sisanya untuk dibagikan lebih lanjut. Setelah semuanya beres, aku mengucapkan selamat tinggal dan beranjak keluar.
Kemudian aku mendengar suara biarawati lagi, “Tunggu!” teriaknya. Aku memutar kepalaku. “Kapan anda akan datang kembali lagi?”
Itu dia, pertanyaan yang mengguncang hingga dasar hati nuraniku. “Nona, ini adalah hal yang dilakukan satu kali saja,” batinku. “Kami memerlukan bantuan,” ujarnya. “Kami selalu memerlukan lebih banyak lagi…”
Lagi-lagi dalam penerbangan pulang aku tak dapat menghalau bayangan anak-anak tersebut dari pikiranku. Sepertinya Tuhan menaruh hal itu di mataku. Sewaktu kembali lagi ke rumah aku memberitahukan teman-temanku, “Kita harus tetap melakukan hal seperti ini lagi.”
Aku memprakarsai berdirinya organisasi “Share Your Soles” (Bagikan Sol Anda). Apapun boleh, mulai dari sepatu boot hingga sandal dan selop, bahkan roller blades dan sepatu bola, disumbangkan kepada kami. Proyek ini telah berkembang melebihi garasi rumahku. Perusahaan real estate setempat, yang mendengar tentang upaya kami, menyumbangkan sebuah gudang. Kami juga mendapatkan sukarelawan-sukarelawan lebih banyak dan menjadi terorganisir. Sepatu-sepatu kets itu dicuci, sepatu-sepatu pesta disemir. Sepatu-sepatu kasual diperbaiki.
Proyek “Share Your Soles” berkembang begitu pesat sehingga American Airlines menawarkan untuk menerbangkan kami ke tempat-tempat pendistribusian di seluruh dunia secara cuma-cuma. Kami dapat mengirim 13 ribu pasang sepatu kepada korban badai Katrina di New Orleans dan 15 ribu pasang sepatu kepada korban bencana Tsunami di Thailand dan Srilangka.
Aku sangat menyukai tugas mengantar sepatu-sepatu itu. Kadangkala aku membawa serta anak-anakku. Itu adalah cara baruku dalam memanjakan mereka – dengan menunjukkan betapa mereka diberkati dengan membantu orang lain. Entah dengan membawa sepatu-sepatu boot musim dingin kepada orang-orang Indian Amerika, sandal-sandal kepada orang-orang Afrika ataupun sepatu-sepatu kets ke Amerika Tengah, anak-anakku suka melihat ekspresi kebahagiaan yang terpancar di wajah anak-anak yang mendapatkan sepasang sepatu. Hal itu melebihi segala hal yang mampu kubeli untuk mereka.
Sepatu bekas dapat memiliki dampak besar terhadap kehidupan seorang anak: sepatu itu dapat menjadi sebuah sarana transportasi, menjadi sarana pendidikan karena ada anak-anak yang tidak diterima masuk sekolah apabila tidak bersepatu, dan juga memberikan kepercayaan diri. Sepasang sepatu dapat memberi makna yang besar. Sepatu dapat mengubah kehidupan seseorang!
Sampai saat ini “Share Your Soles” telah mendistribusikan lebih dari 350 ribu pasang sepatu. Semua orang, mulai dari anggota pramuka hingga anak-anak cacat dan semua orang dari latar belakang agama telah turut menjadi sukarelawan. Aku bertanya kepada mereka pertanyaan yang pernah ditanyakan kepadaku: “Kapan anda akan kembali lagi?” Aku sadar sekarang bahwa apabila kita memperhatikan sekitar kita, maka kita dapat mengubah hidup seseorang, bahkan hidup anda sendiri. (Ditulis oleh Mona Purdy - diambil dari Majalah Kawasan Edisi Juli 2008)
Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com
Aku baru saja bercerai, sendirian membesarkan anak-anakku: Morgan, Hannah, dan Christopher, semuanya balita. Aku memiliki penghasilan yang lumayan sebagai seorang penata rambut dan memiliki rumah yang bagus. Tetapi aku merasa bersalah akan perceraianku, sehingga aku memanjakan anak-anakku secara berlebihan. Aku membawa mereka berlibur ke tempat-tempat eksotis dan membelikan mereka sepatu-sepatu bermerek yang mahal, apapun yang mereka inginkan. Aku memberi mereka banyak kompensasi. Itu adalah caraku untuk menunjukkan kepada mereka hal yang kupikir adalah kasih sayang.
Pada musim semi tahun 1999 aku pergi ke Peten, Guatemala, untuk mengikuti lomba semi-maraton. Sewaktu berlari aku melihat sekelompok anak-anak sedang merendam kaki mereka ke dalam cairan hitam yang lengket.
“Apa itu?” tanyaku kepada pelari lain. “Mereka sedang melumuri telapak kaki mereka dengan tar (aspal) karena mereka tidak memiliki sepatu atau sandal,” jelasnya. “Apabila mereka bertelanjang kaki, kaki mereka akan rentan terhadap goresan dan bakteri. Mereka pikir tar akan melindungi kami mereka.”
Aku memandang ke bawah dan melihat sepatu lariku yang berharga US$ 100. Aku merasa tak nyaman. Anak-anak itu berjalan bermil-mil dengan kaki telanjang di sepanjang jalan yang berkerikil dan panas.
Selama penerbangan pulang aku tak dapat mengenyahkan pemandangan anak-anak berlumur tar di kakinya dari pikiranku. Bagaimana anak-anak itu dapat bermain seperti anak-anak lainnya? Aku memikirkan anak-anakku sendiri dan mensyukuri betapa banyak hal yang mereka miliki. Semua itu karena aku merasa bersalah sehingga anak-anakku mendapat kelimpahan harta benda, termasuk sepatu-sepatu mahal. Sekarang perasaan bersalah yang lain menusuk hatiku. Tuhan, prioritasku selama ini tidaklah benar. Berilah aku petunjuk bagaimana aku dapat membantu anak-anak itu.
Jawabannya datang secara mendadak, ternyata. Apa yang dilakukan teman-teman dan kerabatku dengan sepatu lama mereka? Membuangnya! Biasanya sepatu-sepatu yang dibuang itu masih dalam kondisi bagus. Dan anak-anakku? Mereka berganti sepatu dan pakaian hampir secepat aku dapat membelikan mereka barang-barang yang baru.
Aku tahu apa yang harus dilakukan: mengumpulkan sejumlah sepatu dan membawanya ke Guatemala. Aku menyampaikan gagasanku kepada teman-teman, tetangga, anak-anakku, dan semua orang yang bersedia mendengarnya. Ada yang memandangku dengan aneh dan ada juga yang memberikanku sepatu bekas mereka.
“Ini, Mom, sepatu ini sudah hampir tidak muat untukku,” ujar Hannah, anakku yang berumur 7 tahun, sembari menyerahkan sepatu Mary Jane berwarna hitam kesukaannya. Aku sangat bangga terhadapnya.
Tidak memakan waktu lama garasiku penuh dengan berbagai macam sepatu, hingga akhirnya tumpah ruah sampai ke halaman. Menjelang Natal aku mendatangi sebuah Panti Asuhan di pinggiran kota Guatemala City. Aku berjalan dengan susah payah menuju ke pintu masuknya dimana seorang biarawati berdiri di depan pintu gerbangnya.
“Aku membawa tiga boks penuh berisi sepatu-sepatu untuk disumbangkan,” kataku. “Silakan masuk!” jawabnya. Aku hampir tercekat melihat suasana di situ, karena begitu miskinnya. Dapatkah aku benar-benar membuat suatu perbedaan di sini? Dengan segera anak-anak mengerumuniku. Kebanyakan bertelanjang kaki. Ketika mereka melihat tumpukan sepatu kets dan sandal, mereka langsung bersemangat. Mereka tertawa senang sambil membuka-buka kotak sepatu satu persatu.
“Sepatu-sepatu ini adalah hadiah Natal satu-satunya bagi anak-anak ini,” ujar sang biarawati itu dengan suara menahan tangis. Kami memastikan setiap anak mendapat sepasang sepatu dan membiarkan sisanya untuk dibagikan lebih lanjut. Setelah semuanya beres, aku mengucapkan selamat tinggal dan beranjak keluar.
Kemudian aku mendengar suara biarawati lagi, “Tunggu!” teriaknya. Aku memutar kepalaku. “Kapan anda akan datang kembali lagi?”
Itu dia, pertanyaan yang mengguncang hingga dasar hati nuraniku. “Nona, ini adalah hal yang dilakukan satu kali saja,” batinku. “Kami memerlukan bantuan,” ujarnya. “Kami selalu memerlukan lebih banyak lagi…”
Lagi-lagi dalam penerbangan pulang aku tak dapat menghalau bayangan anak-anak tersebut dari pikiranku. Sepertinya Tuhan menaruh hal itu di mataku. Sewaktu kembali lagi ke rumah aku memberitahukan teman-temanku, “Kita harus tetap melakukan hal seperti ini lagi.”
Aku memprakarsai berdirinya organisasi “Share Your Soles” (Bagikan Sol Anda). Apapun boleh, mulai dari sepatu boot hingga sandal dan selop, bahkan roller blades dan sepatu bola, disumbangkan kepada kami. Proyek ini telah berkembang melebihi garasi rumahku. Perusahaan real estate setempat, yang mendengar tentang upaya kami, menyumbangkan sebuah gudang. Kami juga mendapatkan sukarelawan-sukarelawan lebih banyak dan menjadi terorganisir. Sepatu-sepatu kets itu dicuci, sepatu-sepatu pesta disemir. Sepatu-sepatu kasual diperbaiki.
Proyek “Share Your Soles” berkembang begitu pesat sehingga American Airlines menawarkan untuk menerbangkan kami ke tempat-tempat pendistribusian di seluruh dunia secara cuma-cuma. Kami dapat mengirim 13 ribu pasang sepatu kepada korban badai Katrina di New Orleans dan 15 ribu pasang sepatu kepada korban bencana Tsunami di Thailand dan Srilangka.
Aku sangat menyukai tugas mengantar sepatu-sepatu itu. Kadangkala aku membawa serta anak-anakku. Itu adalah cara baruku dalam memanjakan mereka – dengan menunjukkan betapa mereka diberkati dengan membantu orang lain. Entah dengan membawa sepatu-sepatu boot musim dingin kepada orang-orang Indian Amerika, sandal-sandal kepada orang-orang Afrika ataupun sepatu-sepatu kets ke Amerika Tengah, anak-anakku suka melihat ekspresi kebahagiaan yang terpancar di wajah anak-anak yang mendapatkan sepasang sepatu. Hal itu melebihi segala hal yang mampu kubeli untuk mereka.
Sepatu bekas dapat memiliki dampak besar terhadap kehidupan seorang anak: sepatu itu dapat menjadi sebuah sarana transportasi, menjadi sarana pendidikan karena ada anak-anak yang tidak diterima masuk sekolah apabila tidak bersepatu, dan juga memberikan kepercayaan diri. Sepasang sepatu dapat memberi makna yang besar. Sepatu dapat mengubah kehidupan seseorang!
Sampai saat ini “Share Your Soles” telah mendistribusikan lebih dari 350 ribu pasang sepatu. Semua orang, mulai dari anggota pramuka hingga anak-anak cacat dan semua orang dari latar belakang agama telah turut menjadi sukarelawan. Aku bertanya kepada mereka pertanyaan yang pernah ditanyakan kepadaku: “Kapan anda akan kembali lagi?” Aku sadar sekarang bahwa apabila kita memperhatikan sekitar kita, maka kita dapat mengubah hidup seseorang, bahkan hidup anda sendiri. (Ditulis oleh Mona Purdy - diambil dari Majalah Kawasan Edisi Juli 2008)
Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com
Monday, July 7, 2008
A Warning of The Lord Through Sr. Bernada Fernandez
The text you are about to read, is the first part of the testimony of sister Bernarda Fernandez, who was privileged to be taken by Jesus Christ to visit the next world. THIS IS THE TESTIMONY OF MY FIRST JOURNEY
I was not feeling well that morning, my husband refused to leave me on my own and go to work. I told him that I was not alone. After he left, I felt that I was dying. So I decided to phone some of my friends, and my mother-in-law. My mother-in-law answered: "Bernarda, God will bless you today, do not be afraid". The same answer came from another brother in Christ that I phoned, but he added: "Bernarda, get up from your bed and praise the Lord, cry to Him and glorify Him". So, in spite of my lack of strength I cried to the Lord saying: "Lord, You are my strength, come and help me". I tried to stand up, but my strength left me. My voice could no longer be heard but in my soul I was crying to the Lord to help me since I was dying.
Suddenly my room was lit up of a light which looked like a fire. Immediately my fear
vanished and I saw angels descending and walking in my room. I could hear them clearly speaking to each other, and suddenly a marvelous being appeared, more marvelous than angels. He was dressed in White with a golden sash. On His chest was written in gold: "FAITHFUL AND TRUE". His face was showing gentleness and Love. Jesus the CHRIST was in front of me, the King of kings and the Lord of lords. Blessed be His name! Jesus approached me, touched my head and told me: "I am Jesus who died for you. Look at these marks in My hands, they are still there for you. I came down from My throne of glory to speak to you; there are many things in your life to put right. You are lazy and quick-tempered. Moreover, I do not want 25% Christian nor 95%, but 100%. If you want to go to heaven, you have to be holy as I Myself am holy; I came to take you for a journey".
I asked Him: "Lord, is it a missionary journey?" He answered, "No". Then He took me by my hands and lifted me up, and talked to me with simplicity and Love. He brought me as far as my windows, He looked at the city of New-York and I saw sadness on His face. He wept and said: "My Word is well preached, but people do not listen. The sin of this city has reached My Father". The city was full of homosexuals; among them were Politicians. The Lord told me: "It's another Sodom, but I am alive and the judgments of My Father will soon fall on this city". Then I knelt before the Lord while crying and He told me: "Do not be afraid. When judgment falls on this world, my Church will no longer be on earth". He then led me again towards my bed and asked me to phone a brother from my congregation. He gave me the name of the then brother. He then asked me to tell him that my spirit would come out of my body, and that they should not bring my corpse to the hospital or to any funeral ceremony.
Instead, they should tell my husband to trust the one who is the Resurrection and the Life (John 11: 25). The Lord told me again: "I who give life, I take your spirit but you will come back and tell the peoples to trust me fully. The one who believes in Me will never die" (John 11:26). He stretched His hands and I saw that another body came out of me. I was dressed in white and I was shining like the Lord, He told me: "Look! This is the body that Christians who obey My Word will soon have". I realized that I could go through the walls. The Lord who was holding me by my hand said: "Look"! When I turned, I saw my body without spirit. He explained to me that my physical body was worthless, it was nothing but dust, and that at death it will become dust again, as any physical body. He added that the new body I had was a glorious one which is the spirit He gave to man. I thought He would lead me straight to heaven, but it was not the case. We descended through a tunnel below the earth, and when approaching a certain place I could perceive an unbearable smell. I said: "Lord I do not want to go into that place". But we went in; that place was dark and not worth living.
I heard people suffering, weeping and screaming. When we got to the end of the tunnel, we sat on a rock and the Lord told me: "Look"! I saw people suffering. In hell, people spend their time crying, and no one cares about others.
Dear brothers and sisters, I just came to realize that HELL IS REAL. I wept and wept, and when I looked at the Lord, He told me: "Hold on to what you have seen, and do not forget it". I was looking at the hell, and people were screaming! It's forever! it's forever! Pain and hatred for ever and ever." I turned toward the Lord and asked Him: "Is there anyone from my family in this hell?" "Yes", said the Lord and I will allow you to see him. Suddenly I saw a young man coming from the depths of the hell: It was Alexander. I knew this young man at a crusade my husband and I attended in Dominica Republic. During that crusade, I heard a voice saying to me, "Get up, go and meet Alexander who is passing by. Tell him not to reject this message, for I'm giving him a last chance". This voice was the voice of the Lord even though I did not see Him. I told Alexander what the Lord told me. This is how he responded: "You Christians are all fools. You deceive people by telling them that Jesus Christ is coming, I, Alexander, do not believe this to be the truth". I told him: "Alexander, God gives life and takes it away when he wants; Alexander, you will soon die. He answered: "I am too young to die, I still have many good years of festivities on this earth." This chance was truly the last for Alexander. Dear reader, what do you know about yourself? Three weeks later, Alexander died while he was drunk. His destination was this place of torment where I saw him (hell). The Bible states clearly that drunkards will not inherit the kingdom of God (Galatians 5: 21).
When looking at people in hell, I could see Alexander attacked by two big worms. He was screaming!" He was tormented. He recognized me and told me: "I neglected my last chance. I am here today, suffering. Please, when you return to earth, go to my house and tell my family to believe in Jesus Christ and to obey His word, so that they will not come to this place of torment." Then the Lord showed me thousands of people who were suffering in hell, and He told me: "You see, some of these people knew Me when they were on earth. There are still a lot of people on earth who walk on the street without knowing where they go. Know that the way to heaven is very narrow, and it will be narrower again. There will be difficulties on earth, so that you will be as pure as gold, but fear not for I am ahead of you like a mighty warrior". I asked Him: "ARE THERE CHRISTIANS IN THIS HELL?", He answered: "Yes, do you know why? They believed in Me but they did not walk according to my Word. There are many, those Christians who only behave well when they are in the temple, in front of their pastors and their family. But they are greatly deceiving themselves. The eyes of my Father see everything and He understands every word, wherever you are. Tell my people that it's time they lived a holy life before my Father, before the devil and before the world. It's high time to seek holiness and consecration "(1 Peter 1: 14-16)
Then we went where there was a lake of fire. As we were approaching the lake, I perceived a very bad smell and the Lord told me: "What you see there is a lake of fire, which is ready for the devil, the false prophet, and the Antichrist. I did not prepare this place for men, but all those who do not believe in me as their Savior and those who do not live according to my word will go there (Revelation 20:14)"
At that moment I saw Jesus weeping and He told me again: "There are more lost than those who going to heaven". Then Jesus showed me the number of people who were dying in a minute and He told me: "Look! How many are lost! My Church is sleeping despite the fact that She has received my power; She has My word and the Holy Spirit, but She is sleeping. On earth there are people who preach that hell does not exist. Go and tell them that this place is real". I was very far from that place, but I could feel the heat. We left Hades and we went to heaven. We kept on going and went to the second heaven.
In that heaven the Lord showed me the sun and the stars and He told: "Look at these stars, I call each one by its name. Do you see this sun, it's by my power that it shines both on the righteous and the wicked. But there will come a day when the sun will no longer shine, everything will be darkness".
We went further and reached heaven where God lives. There, were beautiful houses. The walls of those houses were very high, of pure gold and of precious stones. There were twelve gates of pearls, with twelve angels at the gates. I thought I could not go in, but the Lord looked at me and said: "Do you want to go in?" "Oh yes Lord! I really want to." "Then get in, for I Myself am the door" (John 10:9).
At that moment I went in through a precious gate and I saw a garden of magnificent flowers. "Do you want to go in the garden? Then go in for I've prepared this for
you and my people". When I stepped in, I started to pick some flowers and to arrange
some bunches. I was running in the garden like a little girl. The flowers I picked had many colors with a very nice smell. After that, the Lord called someone. It was
an angel, strong and so beautiful that I could not describe. The Lord told
me: "Do you see this one, he is the Archangel Michael, he is the one who leads my army. Look again!" I saw a mighty army on horses and the Lord told me: "It's not a human army, but my Father's.
This army is at the disposal of Christians who are REALLY born again; do not fear, for it is more powerful than the one which is in the world". Then He showed me another angel. "This one is the messenger of Christians who obey my word". I was happy to hear that.
Jesus told me: "Be attentive! I am the God of Abraham, the God of Moses, the God of Elijah, the One who caused fire to fall from heaven; I have not changed. I am going to show you the condition in which My people live in these last days they've got left". The Lord told me: "Be very careful about the things I'm going to show you". I saw Christians who were weak and tired.
The Lord asked me this question: "Do you believe that I can take this Church away in its present state?" Then He told me, "Christians that I will take away with me will be glorious, triumphant, spotless, blameless. Among My people there are lies, lack of love, My people are divided. I showed you the condition of Christians in these last days; Now I'm going to show you how the early Church lived. Those brothers and sisters were filled with the glory of God. They constantly fasted and prayed; they preached my word without any fear. Whereas present Christians think that I've changed, they also think that the Holy Spirit has changed.
The big mistake of Christians today is the fact that they live a routine life, planned by human beings. Therefore they've forgotten that the messages are from the Holy Spirit and from above. Tell My servants, the pastors, that time has come to put behind those routine programs. If they do, you will see the power of God in your midst, the Holy Spirit who was manifest in the early Church. He will perform signs, miracles and wonders in great number, causing the dead to rise. The Holy Spirit is still the same, it's you who have changed". Philippians 3:20 says, "For our citizenship is in heaven, from whence we look or the Saviour, the Lord Jesus Christ." (Email ini kiriman Ibu Suharti Ali)
Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com
I was not feeling well that morning, my husband refused to leave me on my own and go to work. I told him that I was not alone. After he left, I felt that I was dying. So I decided to phone some of my friends, and my mother-in-law. My mother-in-law answered: "Bernarda, God will bless you today, do not be afraid". The same answer came from another brother in Christ that I phoned, but he added: "Bernarda, get up from your bed and praise the Lord, cry to Him and glorify Him". So, in spite of my lack of strength I cried to the Lord saying: "Lord, You are my strength, come and help me". I tried to stand up, but my strength left me. My voice could no longer be heard but in my soul I was crying to the Lord to help me since I was dying.
Suddenly my room was lit up of a light which looked like a fire. Immediately my fear
vanished and I saw angels descending and walking in my room. I could hear them clearly speaking to each other, and suddenly a marvelous being appeared, more marvelous than angels. He was dressed in White with a golden sash. On His chest was written in gold: "FAITHFUL AND TRUE". His face was showing gentleness and Love. Jesus the CHRIST was in front of me, the King of kings and the Lord of lords. Blessed be His name! Jesus approached me, touched my head and told me: "I am Jesus who died for you. Look at these marks in My hands, they are still there for you. I came down from My throne of glory to speak to you; there are many things in your life to put right. You are lazy and quick-tempered. Moreover, I do not want 25% Christian nor 95%, but 100%. If you want to go to heaven, you have to be holy as I Myself am holy; I came to take you for a journey".
I asked Him: "Lord, is it a missionary journey?" He answered, "No". Then He took me by my hands and lifted me up, and talked to me with simplicity and Love. He brought me as far as my windows, He looked at the city of New-York and I saw sadness on His face. He wept and said: "My Word is well preached, but people do not listen. The sin of this city has reached My Father". The city was full of homosexuals; among them were Politicians. The Lord told me: "It's another Sodom, but I am alive and the judgments of My Father will soon fall on this city". Then I knelt before the Lord while crying and He told me: "Do not be afraid. When judgment falls on this world, my Church will no longer be on earth". He then led me again towards my bed and asked me to phone a brother from my congregation. He gave me the name of the then brother. He then asked me to tell him that my spirit would come out of my body, and that they should not bring my corpse to the hospital or to any funeral ceremony.
Instead, they should tell my husband to trust the one who is the Resurrection and the Life (John 11: 25). The Lord told me again: "I who give life, I take your spirit but you will come back and tell the peoples to trust me fully. The one who believes in Me will never die" (John 11:26). He stretched His hands and I saw that another body came out of me. I was dressed in white and I was shining like the Lord, He told me: "Look! This is the body that Christians who obey My Word will soon have". I realized that I could go through the walls. The Lord who was holding me by my hand said: "Look"! When I turned, I saw my body without spirit. He explained to me that my physical body was worthless, it was nothing but dust, and that at death it will become dust again, as any physical body. He added that the new body I had was a glorious one which is the spirit He gave to man. I thought He would lead me straight to heaven, but it was not the case. We descended through a tunnel below the earth, and when approaching a certain place I could perceive an unbearable smell. I said: "Lord I do not want to go into that place". But we went in; that place was dark and not worth living.
I heard people suffering, weeping and screaming. When we got to the end of the tunnel, we sat on a rock and the Lord told me: "Look"! I saw people suffering. In hell, people spend their time crying, and no one cares about others.
Dear brothers and sisters, I just came to realize that HELL IS REAL. I wept and wept, and when I looked at the Lord, He told me: "Hold on to what you have seen, and do not forget it". I was looking at the hell, and people were screaming! It's forever! it's forever! Pain and hatred for ever and ever." I turned toward the Lord and asked Him: "Is there anyone from my family in this hell?" "Yes", said the Lord and I will allow you to see him. Suddenly I saw a young man coming from the depths of the hell: It was Alexander. I knew this young man at a crusade my husband and I attended in Dominica Republic. During that crusade, I heard a voice saying to me, "Get up, go and meet Alexander who is passing by. Tell him not to reject this message, for I'm giving him a last chance". This voice was the voice of the Lord even though I did not see Him. I told Alexander what the Lord told me. This is how he responded: "You Christians are all fools. You deceive people by telling them that Jesus Christ is coming, I, Alexander, do not believe this to be the truth". I told him: "Alexander, God gives life and takes it away when he wants; Alexander, you will soon die. He answered: "I am too young to die, I still have many good years of festivities on this earth." This chance was truly the last for Alexander. Dear reader, what do you know about yourself? Three weeks later, Alexander died while he was drunk. His destination was this place of torment where I saw him (hell). The Bible states clearly that drunkards will not inherit the kingdom of God (Galatians 5: 21).
When looking at people in hell, I could see Alexander attacked by two big worms. He was screaming!" He was tormented. He recognized me and told me: "I neglected my last chance. I am here today, suffering. Please, when you return to earth, go to my house and tell my family to believe in Jesus Christ and to obey His word, so that they will not come to this place of torment." Then the Lord showed me thousands of people who were suffering in hell, and He told me: "You see, some of these people knew Me when they were on earth. There are still a lot of people on earth who walk on the street without knowing where they go. Know that the way to heaven is very narrow, and it will be narrower again. There will be difficulties on earth, so that you will be as pure as gold, but fear not for I am ahead of you like a mighty warrior". I asked Him: "ARE THERE CHRISTIANS IN THIS HELL?", He answered: "Yes, do you know why? They believed in Me but they did not walk according to my Word. There are many, those Christians who only behave well when they are in the temple, in front of their pastors and their family. But they are greatly deceiving themselves. The eyes of my Father see everything and He understands every word, wherever you are. Tell my people that it's time they lived a holy life before my Father, before the devil and before the world. It's high time to seek holiness and consecration "(1 Peter 1: 14-16)
Then we went where there was a lake of fire. As we were approaching the lake, I perceived a very bad smell and the Lord told me: "What you see there is a lake of fire, which is ready for the devil, the false prophet, and the Antichrist. I did not prepare this place for men, but all those who do not believe in me as their Savior and those who do not live according to my word will go there (Revelation 20:14)"
At that moment I saw Jesus weeping and He told me again: "There are more lost than those who going to heaven". Then Jesus showed me the number of people who were dying in a minute and He told me: "Look! How many are lost! My Church is sleeping despite the fact that She has received my power; She has My word and the Holy Spirit, but She is sleeping. On earth there are people who preach that hell does not exist. Go and tell them that this place is real". I was very far from that place, but I could feel the heat. We left Hades and we went to heaven. We kept on going and went to the second heaven.
In that heaven the Lord showed me the sun and the stars and He told: "Look at these stars, I call each one by its name. Do you see this sun, it's by my power that it shines both on the righteous and the wicked. But there will come a day when the sun will no longer shine, everything will be darkness".
We went further and reached heaven where God lives. There, were beautiful houses. The walls of those houses were very high, of pure gold and of precious stones. There were twelve gates of pearls, with twelve angels at the gates. I thought I could not go in, but the Lord looked at me and said: "Do you want to go in?" "Oh yes Lord! I really want to." "Then get in, for I Myself am the door" (John 10:9).
At that moment I went in through a precious gate and I saw a garden of magnificent flowers. "Do you want to go in the garden? Then go in for I've prepared this for
you and my people". When I stepped in, I started to pick some flowers and to arrange
some bunches. I was running in the garden like a little girl. The flowers I picked had many colors with a very nice smell. After that, the Lord called someone. It was
an angel, strong and so beautiful that I could not describe. The Lord told
me: "Do you see this one, he is the Archangel Michael, he is the one who leads my army. Look again!" I saw a mighty army on horses and the Lord told me: "It's not a human army, but my Father's.
This army is at the disposal of Christians who are REALLY born again; do not fear, for it is more powerful than the one which is in the world". Then He showed me another angel. "This one is the messenger of Christians who obey my word". I was happy to hear that.
Jesus told me: "Be attentive! I am the God of Abraham, the God of Moses, the God of Elijah, the One who caused fire to fall from heaven; I have not changed. I am going to show you the condition in which My people live in these last days they've got left". The Lord told me: "Be very careful about the things I'm going to show you". I saw Christians who were weak and tired.
The Lord asked me this question: "Do you believe that I can take this Church away in its present state?" Then He told me, "Christians that I will take away with me will be glorious, triumphant, spotless, blameless. Among My people there are lies, lack of love, My people are divided. I showed you the condition of Christians in these last days; Now I'm going to show you how the early Church lived. Those brothers and sisters were filled with the glory of God. They constantly fasted and prayed; they preached my word without any fear. Whereas present Christians think that I've changed, they also think that the Holy Spirit has changed.
The big mistake of Christians today is the fact that they live a routine life, planned by human beings. Therefore they've forgotten that the messages are from the Holy Spirit and from above. Tell My servants, the pastors, that time has come to put behind those routine programs. If they do, you will see the power of God in your midst, the Holy Spirit who was manifest in the early Church. He will perform signs, miracles and wonders in great number, causing the dead to rise. The Holy Spirit is still the same, it's you who have changed". Philippians 3:20 says, "For our citizenship is in heaven, from whence we look or the Saviour, the Lord Jesus Christ." (Email ini kiriman Ibu Suharti Ali)
Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com
Subscribe to:
Posts (Atom)
Kesaksian Pembaca Buku "Mukjizat Kehidupan"
Pada tanggal 28 Oktober 2009 datang SMS dari seorang Ibu di NTT, bunyinya:
"Terpujilah Tuhan karena buku "Mukjizat Kehidupan", saya belajar untuk bisa mengampuni, sabar, dan punya waktu di hadirat Tuhan, dan akhirnya Rumah Tangga saya dipulihkan, suami saya sudah mau berdoa. Buku ini telah jadi berkat buat teman-teman di Pasir Panjang, Kupang, NTT. Kami belajar mengasihi, mengampuni, dan selalu punya waktu berdoa."
Hall of Fame - Daftar Pembaca Yang Diberkati Buku Mukjizat Kehidupan
- A. Rudy Hartono Kurniawan - Juara All England 8 x dan Asian Hero
- B. Pdt. DR. Ir. Niko Njotorahardjo
- C. Pdt. Ir. Djohan Handojo
- D. Jeffry S. Tjandra - Worshipper
- E. Pdt. Petrus Agung - Semarang
- F. Bpk. Irsan
- G. Ir. Ciputra - Jakarta
- H. Pdt. Dr. Danny Tumiwa SH
- I. Erich Unarto S.E - Pendiri dan Pemimpin "Manna Sorgawi"
- J. Beni Prananto - Pengusaha
- K. Aryanto Agus Mulyo - Partner Kantor Akuntan
- L. Ir. Handaka Santosa - CEO Senayan City
- M. Pdt. Drs. Budi Sastradiputra - Jakarta
- N. Pdm. Lim Lim - Jakarta
- O. Lisa Honoris - Kawai Music Shool Jakarta
- P. Ny. Rachel Sudarmanto - Jakarta
- Q. Ps. Levi Supit - Jakarta
- R. Pdt. Samuel Gunawan - Jakarta
- S. F.A Djaya - Tamara Jaya - By Pass Ngurah Rai - Jimbaran - Bali
- T. Ps. Kong - City Blessing Church - Jakarta
- U. dr. Yoyong Kohar - Jakarta
- V. Haryanto - Gereja Katholik - Jakarta
- W. Fanny Irwanto - Jakarta
- X. dr. Sylvia/Yan Cen - Jakarta
- Y. Ir. Junna - Jakarta
- Z. Yudi - Raffles Hill - Cibubur
- ZA. Budi Setiawan - GBI PRJ - Jakarta
- ZB. Christine - Intercon - Jakarta
- ZC. Budi Setiawan - CWS Kelapa Gading - Jakarta
- ZD. Oshin - Menara BTN - Jakarta
- ZE. Johan Sunarto - Tanah Pasir - Jakarta
- ZF. Waney - Jl. Kesehatan - Jakarta
- ZG. Lukas Kacaribu - Jakarta
- ZH. Oma Lydia Abraham - Jakarta
- ZI. Elida Malik - Kuningan Timur - Jakarta
- ZJ. Luci - Sunter Paradise - Jakarta
- ZK. Irene - Arlin Indah - Jakarta Timur
- ZL. Ny. Hendri Suswardani - Depok
- ZM. Marthin Tertius - Bank Artha Graha - Manado
- ZN. Titin - PT. Tripolyta - Jakarta
- ZO. Wiwiek - Menteng - Jakarta
- ZP. Agatha - PT. STUD - Menara Batavia - Jakarta
- ZR. Albertus - Gunung Sahari - Jakarta
- ZS. Febryanti - Metro Permata - Jakarta
- ZT. Susy - Metro Permata - Jakarta
- ZU. Justanti - USAID - Makassar
- ZV. Welian - Tangerang
- ZW. Dwiyono - Karawaci
- ZX. Essa Pujowati - Jakarta
- ZY. Nelly - Pejaten Timur - Jakarta
- ZZ. C. Nugraheni - Gramedia - Jakarta
- ZZA. Myke - Wisma Presisi - Jakarta
- ZZB. Wesley - Simpang Darmo Permai - Surabaya
- ZZC. Ray Monoarfa - Kemang - Jakarta
- ZZD. Pdt. Sunaryo Djaya - Bethany - Jakarta
- ZZE. Max Boham - Sidoarjo - Jatim
- ZZF. Julia Bing - Semarang
- ZZG. Rika - Tanjung Karang
- ZZH. Yusak Prasetyo - Batam
- ZZI. Evi Anggraini - Jakarta
- ZZJ. Kodden Manik - Cilegon
- ZZZZ. ISI NAMA ANDA PADA KOLOM KOMENTAR UNTUK DIMASUKKAN DALAM DAFTAR INI