Nindy Ellese
Wanita kelahiran tahun 1967 di Ambon ini sudah hijrah ke Jakarta sejak usia 3 bulan. Ada pengalaman pahit yang diderita sejak usia 12 tahun ketika perceraian datang sekejap pada kedua orangtua Nindy. Pada awalnya kondisi itu tidak terlalu terasa, namun lama kelamaan ada kepincangan dalam berbagai aspek kehidupan yang disebabkan oleh tekanan dari perceraian itu sendiri.
Tidak itu saja. Kemiskinanpun melanda keluarga mereka, sehingga Nindy harus dititipkan kepada pamannya. Nindy yang periang berubah menjadi penyendiri. Waktunya banyak dihabiskan di dalam kamar untuk membaca buku.
Apalagi setelah ibunya menikah lagi, tekanan di dalam dirinya semakin menjadi-jadi. Nindy hanya keluar kamar kalau perlu makan atau mandi saja.
Pada suatu hari Nindy mengikuti tes menyanyi yang diadakan oleh sebuah stasiun TV. Ia berhasil dan langsung dikontrak oleh sebuah perusahaan rekaman untuk lima album sekaligus. Uang yang diperoleh dari kontrak itu dipakainya untuk mengontrak rumah dan memboyong ibu dan kedua adiknya ke rumah itu, termasuk ayah tirinya.
Ayah tirinya ternyata sangat kejam, sering memukuli ibunya bila ia sedang mabuk. Pada suatu kali pria itu sedang mabuk berat dan berjalan sempoyongan menghampiri ibunya. Mereka berdua berbincang serius yang dilanjutkan dengan pertengkaran, sampai akhirnya terjadi pemukulan.
Nindy yang mendengar hal itu dan segera menegur ayah tirinya. Hasilnya, pria itu menghantam kepala Nindy dengan kursi. Nindy mengalami luka yang serius, sehingga harus dibawa ke dokter. Sekalipun luka di kepalanya dapat diobati, namun luka hatinya sulit terobati karena begitu dalam menusuk. Sejak saat itu Nindy sangat membenci ayah tirinya.
Hari-harinya kemudian diisi dengan kebencian dan dendam. Segala kesibukannya ternyata tak dapat mengisi kekosongan jiwanya. Kemanapun ia pergi, apapun yang ia lakukan, kekosongan itu terus mengejarnya.
Sampai suatu waktu saat Nindy menghadiri sebuah pertemuan doa di suatu gedung di Jakarta, sepanjang ibadah berlangsung Nindy hanya bisa menangis. Ia merasakan kekosongan dalam hatinya yang dialaminya selama bertahun-tahun seolah-olah mulai terisi dan terpenuhi oleh kasih Tuhan. Saat itu ia mendengar bahwa Tuhan sudah mengampuni segala dosanya.
Mulai hari itu kasih Tuhan terus berkarya dalam kehidupan Nindy. Kasih Tuhan memampukannya untuk mengampuni ayah tirinya, ibunya dan semua orang-orang yang pernah menyakiti hatinya. Sampai akhirnya ia dapat merasakan damai yang sejati dari Tuhan. Kekosongan dalam jiwanyapun sirna sampai saat ini, karena kuasa pengampunan yang ia terima.
Setahun kemudian Tuhan memberikan pasangan yang sepadan bagi Nindy, Willem F. Laoh yang bekerja sebagai salah satu pimpinan di CBN Indonesia. Saat ini keluarga Nindy telah dikarunia seorang putra bernama Jeremy T. Laoh, dan hidup dalam kebahagian yang dari Tuhan. Sumber: Tabloid Keluarga edisi 25 / 2008.
Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com