Search This Blog

Tuesday, May 27, 2008

It's more Wonderful to Be with the Lord (2)

Bersama Tuhan Lebih Enak (2)
Aku sangat terguncang, bahkan tidak tahu kemana harus kubawa hidupku ini. Isteriku dan anakku yang bungsu histeris. Mereka membentur-benturkan kepala mereka ke tembok, sehingga kurangkul paksa mereka supaya mereka tenang dan kami mulai berdoa.

Aku berkata, "Tuhan Yesus, Engkau sungguh baik, karena di saat badai seperti ini Engkau memiliki maksud dan rencana yang indah bagi kami dan kami percaya Engkau tidak akan meninggalkan anak-anak-Mu pada waktu menderita."

Saat itu aku merasa ada yang aneh. Secara jujur aku tidak kuat menghadapi semua itu, tetapi di hatiku tidak ada sedikitpun perasaan yang menyalahkan Tuhan. Yang ada hanya rasa syukur. Kami bersyukur karena kasih Tuhan yang luar biasa itu melingkupi kami.

Saat Nathan dimasukkan ke dalam es untuk diawetkan, pada pagi hari jam 8 ada SMS masuk dari Amerika yang menyampaikan bahwa: "AKU sangat mengasihi anakmu." Bukan itu saja, Dia kirimkan dua orang hamba Tuhan yang tidak kukenal dan juga mereka menyampaikan pesan yang sama: "Aku telah mengirimkan para malaikat-Ku untuk menjemput anakmu. Sekarang anakmu menjadi bagian dari para penyembah-Ku dan bersukacita bersama-Ku."

Aku pegang semua itu, meskipun aku tidak tahu apa maksudnya. Aku mulai berpuasa selama 40 hari dan Tuhan menjawab melalui firman-Nya yang terdapat di dalam Wahyu 14:2-5 yang berbunyi: "Dan aku mendengar suatu suara dari langit bagaikan desau air bah dan bagaikan deru guruh yang dahsyat. Dan suara yang kudengar itu seperti bunyi pemain-pemain kecapi yang memetik kecapinya. Mereka menyanyikan suatu nyanyian baru di hadapan takhta dan di depan keempat makhluk dan tua-tua itu, dan tidak seorang pun yang dapat mempelajari nyanyian itu selain dari pada seratus empat puluh empat ribu orang yang telah ditebus dari bumi itu. Mereka adalah orang-orang yang tidak mencemarkan dirinya dengan perempuan-perempuan, karena mereka murni sama seperti perawan. Mereka adalah orang-orang yang mengikuti Anak Domba itu ke mana saja Ia pergi. Mereka ditebus dari antara manusia sebagai korban-korban sulung bagi Allah dan bagi Anak Domba itu. Dan di dalam mulut mereka tidak terdapat dusta; mereka tidak bercela." Ayat-ayat itu membuatku menangis pada malam itu. Dan ayat-ayat itu terus terngiang-ngiang di dalam pikiranku selama seminggu.
Lalu pada tanggal 21 Juni 2006 pukul 4 pagi ada dorongan roh yang kuat agar aku berdoa. Dan aku taat. Dalam keadaan sadar 100% kurasakan rohku keluar dari tubuhku dan Tuhan menaruh aku di suatu tempat dimana kulihat Tuhan Yesus duduk memangku seseorang dalam kemuliaan-Nya.

Meskipun aku tidak dapat melihat dengan jelas, tetapi kurasakan damai sejahtera dan sukacita yang luar biasa. Dan sinar kemuliaan Tuhan yang putih bening seperti kristal itu memancar penuh kemilau. Oh, betapa indahnya dan tak dapat kugambarkan dengan kata-kata!

Dalam sinar kemuliaan itu Dia berkata, "Waktu-Ku tidak lama." Setelah itu kulihat Nathan turun dari pangkuan-Nya dan berjalan tiga langkah ke arahku. Nathan memelukku dan aku memeluknya dengan erat dan menciuminya.

Aku mengajukan tiga pertanyaan kepadanya. Pertama, apakah kamu mau hidup lagi di dunia, Nathan? Ia menggelengkan kepalanya. Kedua, apakah kamu sudah menjadi bagian dari tim pujian dan penyembahannya Tuhan seperti tertulis dalam Wahyu 14:2-5? Dia menganggukkan kepalanya. Ketiga, apakah kamu sudah bersukacita di sini? Dia kembali menganggukkan kepalanya.

Setelah itu aku berkata, "Selamat jalan, Nathan! Kita akan bertemu lagi kelak!" Kulihat Nathan berjalan mundur dengan melambaikan tangannya kepadaku dan menghilang.

Ketika rohku kembali, tubuhku terasa bergoncang. Bahkan sempat aku serasa mau rebah. Dunia ini sangat mengerikan. Bumi gelap gulita, bahkan untuk melihat tanganku pun tidak bisa.

Setelah itu aku baru bisa menangis. Padahal waktu bertemu dengan anakku, tidak ada rasa haru, tidak ada dukacita, tetapi yang ada hanyalah damai sejahtera dan sukacita yang luar biasa. Dan jika waktu itu Tuhan menawariku untuk tinggal dan tidak kembali lagi ke dunia, aku pasti mau, karena bersama dengan Tuhan itu jauh lebih enak.

Setelah kejadian demi kejadian kualami, sekarang hubunganku dengan Tuhan bertambah intim dan mesra. Suatu hubungan yang tak dapat diutarakan dengan kata-kata.

Sumber kesaksian: Handoko W & Christiani Hartono SH seperti yang dimuat dalam Tabloid Keluarga edisi 20/2008.

Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Friday, May 23, 2008

I Always Love You

Ketika para penolong menemukan dia, ibu ini sudah meninggal, tergencet rumahnya yang runtuh akibat gempa di China. Melalui semua reruntuhan, orang-orang dapat melihat postur tubuhnya: kedua lututnya di bawah, tubuh atasnya ke depan dengan kedua tangannya menahan tubuhnya, seperti sedang berdoa sujud ke atas langit. Tim penolong menjulurkan tangannya ke dalam melalui reruntuhan untuk memastikan kematiannya. Ia berteriak lagi dan ia mengetukkan bata-bata yang lepas dengan peralatannya, tak ada tanggapan dari dalam

Tim penolong bergerak menuju bangunan berikutnya yang runtuh. Namun pemimpin tim itu pasti merasakan keanehan dalam postur wanita yang telah tewas itu. Ia berjalan kembali, memeriksa kembali dan berteriak kepada anggota timnya: "Kembalilah, ada seorang bayi yang masih hidup di bawah ibu ini!"

Setelah mencoba dengan susah payah, mereka dengan hati-hati menyingkirkan reruntuhan di sekeliling jenazah wanita itu. Di sana terbaring di bawah tubuh wanita itu seorang bayi yang dibungkus dengan rapi, sekitar empat atau lima bulan usianya. Karena perlindungan ibunya, bayi itu tidak terluka sedikitpun. Bayi itu masih tidur ketika ia dikeluarkan. Wajah bayi yang penuh kedamaian itu sungguh menenteramkan orang-orang yang memandangnya. Dokter dipanggil untuk mengadakan pemeriksaan rutin terhadap bayi itu dan menemukan sebuah telpon seluler di bawah selimutnya. Dokter melihat layar HP itu dan terlihat sebuah pesan yang berbunyi: "Bayiku yang tercinta, apabila engkau dapat bertahan hidup, ingatlah Aku selalu mengasihimu!" Bahkan dokter itu yang telah terbiasa melihat kehidupan dan kematian tanpa sadar menitikkan air matanya. HP itu diperlihatkan kepada orang-orang di sekitar itu dan mereka yang membacanya menangis. Betapa luar biasanya kasih seorang ibu. Di tengah-tengah badai goncangan gempa ia tidak memikirkan dirinya lagi, bahkan mengorbankan dirinya agar bayinya selamat...

*****

When the rescuers found her, she was already dead, crushed by the collapsed house. Through all the debris, people can see her posture: both knees down, upper body forward with hands holding her body, like praying to the heaven. The rescuer pushed his hand in through the crevices to confirm her death. He again shouted and knocked the loose bricks with his tool, no response from inside.

The rescue team moved on to the next collapsed building. The team leader must feel the strange posture of the dead lady. He went back, checked again and shouted to his team: "come back, there is a baby alive under her body!"

After a hard try, they carefully cleared the debris around the dead woman. Lied under her body was her well-wrapped baby, about three or four month old. Because of her mother's protection, he was not hurt at all. He was still sleeping when he was taken out. His quiet sleeping face really calmed people nearby. The doctor came over to perform the routine check and found out a cell phone tucked under his blanket. He took a look of the screen, an already written message is there: "my loving baby, if you can survive, please remember I always love you." Even the Doctor, who is so used to seeing life and death, cried. The cell phone was passed along, and everybody cried.


Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Thursday, May 22, 2008

It's more Wonderful to Be with the Lord (1)

Bersama Tuhan Lebih Enak (1)

Pada usia empat tahun anak laki-laki sulung saya, Nathan, tidak dapat berbicara. Ada sekitar enam dokter spesialis THT yang menyatakan bahwa dia mengalami telat berbicara. Lalu saya bawa dia berobat ke Jakarta. Setelah dua minggu menjalani pemeriksaan, anak saya dinyatakan cacat permanen dan tidak ada obat atau terapi untuk membuatnya dapat berbicara. Karena tidak puas dengan semuanya, maka saya bawa dia berobat ke Australia, dan di sana juga dokter menyatakan bahwa anak saya cacat permanen karena terkena virus anjing.

Tetapi saya ingat bahwa Tuhan yang kita sembah adalah Allah yang hidup. Saya cuma kembalikan sepenuhnya anak saya kepada Tuhan dan berharap untuk mendapatkan suatu mukjizat. Sejak saat itu saya selalu berusaha ikut berbagai KKR agar anak saya bisa mengalami kesembuhan ilahi. Dimana ada KKR, di sana pasti ada anak saya, Nathan. Tetapi mukjizat belum juga terjadi. Rupanya Tuhan mempunyai rencana yang lain bagi anak saya.

Pada suatu hari Tuhan menjawab pergumulan saya. Dia berkata, ”Kalau rohanimu bertumbuh 5% saja, maka anakmu juga akan sembuh 5%, demikianlah seterusnya.” Ketika Tuhan berbicara tentang pertumbuhan rohani, saya bingung karena pada waktu itu saya sudah melayani Tuhan. Tetapi ternyata di hadapan Tuhan saya ini nol karena hati dan perbuatan saya tidak sesuai dengan firman Tuhan. Setelah saya mengerti, saya mulai melangkah dan memperbaiki hidup saya. Yang dulunya saya suka menonton blue film, menipu, berbuat jahat kepada orang lain dan banyak lagi segi kehidupan saya yang kotor, semuanya itu saya buang.

Mukjizat terjadi pada saat anak saya berusia tujuh tahun. Dia mulai bisa berbicara. Saat dia memanggil saya, ”Papa!”, itu bukan kebahagiaan yang biasa saja, tetapi amat sangat luar biasa karena saya melihat dengan sungguh-sungguh bahwa itu adalah mukjizat dari Tuhan. Menurut perhitungan dan pengetahuan dokter anak saya tidak akan dapat dan tidak akan pernah dapat berbicara. Tetapi bukan demikian kata Tuhan. Karena Tuhan semakin menunjukkan kuasa-Nya saya semakin memperbaiki hidup saya dengan sungguh-sungguh. Dan puji Tuhan, karena karakter saya menjadi semakin baik dan semakin baik, maka anak saya menjadi semakin sembuh.

Pada saat dia lulus dari Sekolah Luar Biasa (SLB), saya kemudian menyekolahkan Nathan di sekolah normal. Dia mengalami kesulitan karena pelajaran di sekolah normal jauh lebih tinggi dibandingkan dengan di SLB. Setiap kali menghadapi ulangan harian, dia kedodoran. Bisa mendapatkan nilai 3 saja kami sudah sangat bangga. Tetapi pada suatu ketika saat dia mau menghadapi ulangan umum dia menanyakan apa yang harus dia lakukan dan saya bilang, ”Tuhan Yesus pasti tolong kamu. Tuhan Yesus pasti tolong kamu. Tuhan Yesus pasti tolong kamu. Sekarang tugasmu adalah belajar sebisamu.” Pada pagi harinya saat saya antar ke sekolah dia meminta saya menumpangkan tangan, berdoa baginya dan saya juga meminta dia untuk berdoa dahulu sebelum mengerjakan soal-soal.

Pada saat dia menghadapi ulangan umum, saya berpuasa untuknya. Ketika pulang sekolah dia menceritakan bahwa sesungguhnya dia tidak mampu mengerjakan soal-soal ulangan, tetapi malaikat Tuhan menolong dia. Tangannya terus menulis jawaban dan dia tidak bisa menghentikannya. Dia rasakan bahwa Tuhan telah menjamah tangannya. Ternyata benar apa yang dia katakan. Dia mendapatkan ranking 2 di kelasnya. Sontak sekolahnya sempat gempar. Bahkan Kepala Sekolah mencurigai bahwa Wali Kelasnya menjual jawaban soal kepada anak saya, karena mereka semua tahu bahwa anak saya tidak cerdas.

Karena kuasa Tuhanlah, anak saya dari yang tidak mampu dijadikannya menjadi mampu. Anak saya semakin tumbuh dalam hal rohani karena dia juga melihat mukjizat demi mukjizat terjadi dalam hidupnya. Bahkan Tuhan angkat dia masuk ke Universitas melalui jalur prestasi dan mendapatkan beasiswa.

Pada suatu hari setelah dia menyelesaikan ujian SMA-nya, isteri saya yang menjemput dia pulang sekolah. Dalam perjalanan, dia berkata, ”I love you, mom!” Saya mengasihi mama dan saya sangat mencintai mama.

Sesampai di rumah dia merapikan dirinya, kemudian makan dan sempat bergurau dengan mamanya. Sekitar jam 13.30 dia pamit untuk tidur. Dan pada jam 14.00 siang itu anak saya dipanggil Tuhan pulang ke rumah Bapa di Sorga. Hal itu baru diketahui isteri saya sekitar jam 16.30 sore. Isteri saya menemukan Nathan sudah meninggal ketika dia bermaksud membangunkannya. Dia meninggal dengan keadaan yang sangat tenang. Dapat dilihat dari tempat tidur yang masih tertata sangat rapi. (Bersambung)

Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Wednesday, May 14, 2008

A Vibrant Life After 40

Hidup yang Lebih Hidup Setelah 40
Ada seorang wanita yang ingin sekali menjadi penari balet, tetapi oleh orangtuanya tidak diizinkan, bahkan dipaksa menjadi seorang akuntan. Dia memang kuliah akuntansi dan lulus dengan baik.

Pada usia 40 tahun, belum menikah, dia bertemu dengan seseorang yang berkata, ”Temukan impianmu, temukan panggilanmu, temukan di mana hatimu berada. Kalau kamu tidak menemukan hatimu, kamu tidak akan pernah dapat mencapai yang terbaik, hanya orang biasa-biasa saja. Tetapi kalau kamu menemukan panggilanmu, hatimu, impianmu, kamu akan menjadi orang yang luar biasa.” Wanita itu menjawab, ”Impian saya adalah menjadi penari balet. Tetapi di usia saya yang sudah 40 tahun ini, apakah saya harus belajar menari balet? Bukankah sudah terlambat?” Tetapi orang bijak itu berkata, ”Mengapa tidak?”

Wanita itu sudah rutin ke kantor untuk bekerja, bahkan tidak pernah pacaran, sehingga sampai saat itu belum menikah. Ia masih lajang, bukan karena kurang cantik, tetapi karena hatinya sudah beku. Sejak orangtuanya berkata, ”Lakukan ini, jadilah akuntan!” Dia hanya dapat berkata, ”Baik, akan saya lakukan.” Ia melakukan semuanya tanpa hati, tanpa perasaan, tanpa gairah, tanpa semangat. Tanpa sadar hatinya telah menjadi beku.

Hidupnya telah begitu monoton, walaupun semuanya kelihatan baik-baik saja. Wanita itu berkata kepada dirinya, ”Kamu sekarang sudah mempunyai rumah sendiri dan penghasilan sendiri. Mengapa kamu tidak pernah berani mengambil suatu langkah yang berani dalam hidupmu? Coba, kamu berhenti bekerja setahun, les balet dan lakukan apa saja yang kamu suka. Setidaknya kamu keluar dari kebekuan yang ada dalam hidupmu. Kamu hidup sendiri, orangtuamu sudah tidak membiayaimu lagi, mereka ada di luar kota dan kamu mempunyai apartemen sendiri.”

Sebenarnya ia takut kepada orangtuanya, walaupun wanita itu sudah mandiri. Tetapi akhirnya ia bilang, Okelah, saya les balet, daripada saya tidak mempunyai kehidupan.” Dia memanggil guru balet ke apartemennya. Wanita itu dengan terus terang berkata, ”Saya mau les balet, tetapi usia saya sudah 40 tahun.” Guru lesnya berkata,”Tidak masalah, mari kita mulai saja.” Dalam waktu enam bulan ia belajar balet. Semua kehidupannya jadi hidup. Tiba-tiba ia mempunyai banyak ide, salah satunya ia tidak mau impian orang-orang miskin yang ingin belajar menari tenggelam karena kemiskinan. Jadi ia segera memulai sekolah balet, khusus bagi orang miskin, gratis.

Apapun yang ia pelajari ia ajarkan kepada anak-anak tersebut. Dalam waktu satu tahun ia sudah membuka empat sekolah balet bagi anak-anak tidak mampu. Dalam waktu satu tahun kemudian sembari ia masih les balet, ia mengadakan pertunjukan dan anak-anak itu yang main. Hasil dari pertunjukan itu dipergunakan bagi uang saku mereka.

Banyak lagi hal-hal yang ia lakukan. Sejak saat itu ia tidak pernah kembali menjadi akuntan. Semua sisi kehidupannya benar-benar hidup. Semua kreativitasnya muncul. Ia belajar menjahit, membuat kostum. Akhirnya ia memiliki 30 sekolah tari. Penghasilannya sekarang bahkan dua kali lebih besar dibandingkan penghasilannya sebagai akuntan. Dan yang lebih aneh, setelah ia berusia 40 tahun itu ia jatuh cinta dan menikah. Hidupnya sangat bahagia sejak itu, karena ia kini mencintai kehidupan sepenuhnya. Sumber: Iin Tjipto dalam buku "Ilmu Hati Raja-Raja"

Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Tuesday, May 13, 2008

Nindy Ellese

Nindy Ellese
Wanita kelahiran tahun 1967 di Ambon ini sudah hijrah ke Jakarta sejak usia 3 bulan. Ada pengalaman pahit yang diderita sejak usia 12 tahun ketika perceraian datang sekejap pada kedua orangtua Nindy. Pada awalnya kondisi itu tidak terlalu terasa, namun lama kelamaan ada kepincangan dalam berbagai aspek kehidupan yang disebabkan oleh tekanan dari perceraian itu sendiri.

Tidak itu saja. Kemiskinanpun melanda keluarga mereka, sehingga Nindy harus dititipkan kepada pamannya. Nindy yang periang berubah menjadi penyendiri. Waktunya banyak dihabiskan di dalam kamar untuk membaca buku.

Apalagi setelah ibunya menikah lagi, tekanan di dalam dirinya semakin menjadi-jadi. Nindy hanya keluar kamar kalau perlu makan atau mandi saja.

Pada suatu hari Nindy mengikuti tes menyanyi yang diadakan oleh sebuah stasiun TV. Ia berhasil dan langsung dikontrak oleh sebuah perusahaan rekaman untuk lima album sekaligus. Uang yang diperoleh dari kontrak itu dipakainya untuk mengontrak rumah dan memboyong ibu dan kedua adiknya ke rumah itu, termasuk ayah tirinya.

Ayah tirinya ternyata sangat kejam, sering memukuli ibunya bila ia sedang mabuk. Pada suatu kali pria itu sedang mabuk berat dan berjalan sempoyongan menghampiri ibunya. Mereka berdua berbincang serius yang dilanjutkan dengan pertengkaran, sampai akhirnya terjadi pemukulan.

Nindy yang mendengar hal itu dan segera menegur ayah tirinya. Hasilnya, pria itu menghantam kepala Nindy dengan kursi. Nindy mengalami luka yang serius, sehingga harus dibawa ke dokter. Sekalipun luka di kepalanya dapat diobati, namun luka hatinya sulit terobati karena begitu dalam menusuk. Sejak saat itu Nindy sangat membenci ayah tirinya.

Hari-harinya kemudian diisi dengan kebencian dan dendam. Segala kesibukannya ternyata tak dapat mengisi kekosongan jiwanya. Kemanapun ia pergi, apapun yang ia lakukan, kekosongan itu terus mengejarnya.

Sampai suatu waktu saat Nindy menghadiri sebuah pertemuan doa di suatu gedung di Jakarta, sepanjang ibadah berlangsung Nindy hanya bisa menangis. Ia merasakan kekosongan dalam hatinya yang dialaminya selama bertahun-tahun seolah-olah mulai terisi dan terpenuhi oleh kasih Tuhan. Saat itu ia mendengar bahwa Tuhan sudah mengampuni segala dosanya.

Mulai hari itu kasih Tuhan terus berkarya dalam kehidupan Nindy. Kasih Tuhan memampukannya untuk mengampuni ayah tirinya, ibunya dan semua orang-orang yang pernah menyakiti hatinya. Sampai akhirnya ia dapat merasakan damai yang sejati dari Tuhan. Kekosongan dalam jiwanyapun sirna sampai saat ini, karena kuasa pengampunan yang ia terima.

Setahun kemudian Tuhan memberikan pasangan yang sepadan bagi Nindy, Willem F. Laoh yang bekerja sebagai salah satu pimpinan di CBN Indonesia. Saat ini keluarga Nindy telah dikarunia seorang putra bernama Jeremy T. Laoh, dan hidup dalam kebahagian yang dari Tuhan. Sumber: Tabloid Keluarga edisi 25 / 2008.

Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Monday, May 12, 2008

A Mahogany Red Piano

Piano Merah Mahoni
Bertahun-tahun yang lalu ketika aku masih berusia dua puluhan, aku bekerja sebagai seorang salesman untuk perusahaan piano St. Louis. Kami menjual piano ke seluruh negara bagian dengan cara mengiklankan di koran-koran setempat. Jika kami sudah mendapatkan banyak pesanan, maka kami akan mengirimkan piano-piano dengan truk.

Setiap kali kami memasang iklan di daerah perkebunan kapas di Missouri tenggara, maka kami akan menerima tanggapan di atas kartu pos dari seorang wanita tua yang menulis, "Tolong kirimkan sebuah piano baru untuk cucu perempuanku. Warnanya harus merah mahoni. Aku sanggup membayar sepuluh dollar per bulan dari hasil penjualan telur."

Tentu saja kami tidak dapat menjual sebuah piano baru dengan cicilan sepuluh dollar setiap bulan. Tidak ada bank yang mau menangani pembayaran cicilan sekecil itu, jadi kami abaikan saja kartu pos itu.

Pada suatu hari aku kebetulan berada di daerah itu untuk memenuhi permintaan beberapa pembeli, dan karena keingin-tahuanku, maka aku memutuskan untuk mengunjungi wanita tua penulis kartu pos itu. Aku sudah membayangkan apa yang akan aku temui. Wanita tua itu tinggal di sebuah gubug kecil sebagaimana lazimnya petani yang berbagi hasil di tengah perkebunan kapas. Gubugnya berlantai tanah dan banyak ayam berkeliaran di dalam gubuk itu. Tentu saja ia tidak memiliki mobil, telpon, atau pekerjaan tetap. Ia tidak memiliki apa-apa kecuali atap di atas kepalanya. Atapnyapun tidak begitu baik karena aku dapat melihat langit biru dari dalam. Cucu perempuannya kira-kira berusia sepuluh tahun, bertelanjang kaki dan memakai baju dari bekas karung terigu.

Aku menerangkan kepada wanita tua ini bahwa perusahaan kami tidak dapat menjual piano dengan cicilan sepuluh dollar sebulan dan aku mohon kepadanya untuk tidak mengirimkan kartu pos sebagai tanggapan atas iklan kami. Aku meninggalkan gubuk mereka dengan hati yang hancur.

Keteranganku tidak ada gunanya karena ia tetap saja menulis kartu pos permintaannya. Kartu pos dengan permintaan yang sama datang setiap enam minggu. Permintaannyapun sama, sebuah permohonan memelas untuk sebuah piano merah mahoni disertai janji dan sumpah bahwa ia tidak akan membayar terlambat cicilannya. Memang amat menyedihkan.

Beberapa tahun kemudian aku akhirnya memiliki perusahaan piano sendiri dan ketika aku memasang iklan di daerah itu, kartu pos dengan isi yang sama mulai berdatangan. Berbulan-bulan lamanya aku abaikan. Apa yang dapat aku lakukan?

Tetapi pada suatu hari ketika aku berada di daerah itu, ada sesuatu yang menggerakkan hatiku. Aku membawa sebuah piano merah mahoni di atas truk. Meskipun tahu bahwa aku akan membuat keputusan bisnis yang keliru, aku mengantar piano tersebut ke gubuk wanita tua itu. Aku tidak mengikut-sertakan bank. Aku sendiri yang menanda-tangani kontrak senilai sepuluh dollar sebulan tanpa bunga dan itu berarti lima puluh dua kali pembayaran.

Aku menurunkan piano dan memasukkannya ke dalam gubuk dan memilih tempat yang kelihatannya tidak akan kebocoran. Aku mengingatkan nenek serta cucunya agar tidak membiarkan ayam bermain dekat piano. Ketika beranjak pergi, aku merasa yakin telah membuang sebuah piano baru.

Tetapi memang pembayaran datang tepat waktu, lima puluh dua bulan, tepat seperti yang ia janjikan. Kadang-kadang ia membayar dengan uang logam yang ditempel pada sebuah karton tebal di dalam amplop. Menakjubkan memang. Aku telah melupakan hal itu selama dua puluh tahun.

Pada suatu hari aku berada di Memphis dalam rangka bisnis dan sesudah makan malam di sebuah hotel mewah, aku duduk di sofa sambil minum. Di kejauhan aku mendengar alunan suara piano yang amat indah. Aku mencari-cari dan terlihat seorang wanita muda yang cantik sedang bermain di sebuah grand piano. Karena aku juga seorang pemain piano, aku dapat mengenali permainan seseorang yang amat mahir. Aku pindah mendekati si pemain piano agar bisa mendengar dan melihat. Ia tersenyum kepadaku dan bertanya adakah lagu yang aku ingin ia mainkan?

Ketika beristirahat ia menghampiriku dan duduk di mejaku.
"Apakah anda pria yang menjual piano kepada nenekku bertahun-tahun yang lalu?"
Aku tidak menyadari kata-katanya, jadi aku memintanya menerangkan apa yang ia maksudkan. Ia mulai bercerita dan aku tiba-tiba ingat. Oh! Ia adalah gadis yang tidak beralas kaki serta memakai baju dari bekas karung terigu itu.

Ia mengatakan bahwa namanya Elise dan karena dulu neneknya tidak mampu membayar seorang guru piano, maka ia belajar bermain piano dengan cara mendengarkan radio. Ia juga mengatakan bahwa mula-mula ia bermain untuk gereja yang harus mereka capai dengan berjalan kaki sejauh tiga kilometer. Kemudian ia bermain di sekolah dan memenangkan banyak perlombaan bermain piano, dan kemudian menerima beasiswa. Ia juga bercerita bahwa ia sudah menikah dengan seorang pengacara yang telah membelikannya sebuah grand piano yang sangat indah.

Kemudian aku bertanya, "Elise, apa warna piano itu?"
"Merah mahoni," jawabnya.

Apakah ia tahu pentingnya warna merah mahoni itu? Keberanian dan ketekunan dari neneknya untuk mengharapkan sebuah piano berwarna merah mahoni ketika tidak ada orang yang mau menjual piano kepadanya. Juga keberhasilan yang bukan main dari gadis kecil yang tidak beralas kaki dan hanya memakai baju dari bekas karung terigu.

Mungkin Elise tidak tahu semuanya ini, namun aku amat tahu. Ini semua hanya dapat terjadi karena kasih seorang nenek terhadap cucunya...

Sumber: Dari Koran Lansia GKI Muara Karang yang mengambil bahan dari Chicken Soup for the Grandparent's Soul, Joe Edwards.

Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Kesaksian Pembaca Buku "Mukjizat Kehidupan"

Pada tanggal 28 Oktober 2009 datang SMS dari seorang Ibu di NTT, bunyinya:
"Terpujilah Tuhan karena buku "Mukjizat Kehidupan", saya belajar untuk bisa mengampuni, sabar, dan punya waktu di hadirat Tuhan, dan akhirnya Rumah Tangga saya dipulihkan, suami saya sudah mau berdoa. Buku ini telah jadi berkat buat teman-teman di Pasir Panjang, Kupang, NTT. Kami belajar mengasihi, mengampuni, dan selalu punya waktu berdoa."

Hall of Fame - Daftar Pembaca Yang Diberkati Buku Mukjizat Kehidupan

  • A. Rudy Hartono Kurniawan - Juara All England 8 x dan Asian Hero
  • B. Pdt. DR. Ir. Niko Njotorahardjo
  • C. Pdt. Ir. Djohan Handojo
  • D. Jeffry S. Tjandra - Worshipper
  • E. Pdt. Petrus Agung - Semarang
  • F. Bpk. Irsan
  • G. Ir. Ciputra - Jakarta
  • H. Pdt. Dr. Danny Tumiwa SH
  • I. Erich Unarto S.E - Pendiri dan Pemimpin "Manna Sorgawi"
  • J. Beni Prananto - Pengusaha
  • K. Aryanto Agus Mulyo - Partner Kantor Akuntan
  • L. Ir. Handaka Santosa - CEO Senayan City
  • M. Pdt. Drs. Budi Sastradiputra - Jakarta
  • N. Pdm. Lim Lim - Jakarta
  • O. Lisa Honoris - Kawai Music Shool Jakarta
  • P. Ny. Rachel Sudarmanto - Jakarta
  • Q. Ps. Levi Supit - Jakarta
  • R. Pdt. Samuel Gunawan - Jakarta
  • S. F.A Djaya - Tamara Jaya - By Pass Ngurah Rai - Jimbaran - Bali
  • T. Ps. Kong - City Blessing Church - Jakarta
  • U. dr. Yoyong Kohar - Jakarta
  • V. Haryanto - Gereja Katholik - Jakarta
  • W. Fanny Irwanto - Jakarta
  • X. dr. Sylvia/Yan Cen - Jakarta
  • Y. Ir. Junna - Jakarta
  • Z. Yudi - Raffles Hill - Cibubur
  • ZA. Budi Setiawan - GBI PRJ - Jakarta
  • ZB. Christine - Intercon - Jakarta
  • ZC. Budi Setiawan - CWS Kelapa Gading - Jakarta
  • ZD. Oshin - Menara BTN - Jakarta
  • ZE. Johan Sunarto - Tanah Pasir - Jakarta
  • ZF. Waney - Jl. Kesehatan - Jakarta
  • ZG. Lukas Kacaribu - Jakarta
  • ZH. Oma Lydia Abraham - Jakarta
  • ZI. Elida Malik - Kuningan Timur - Jakarta
  • ZJ. Luci - Sunter Paradise - Jakarta
  • ZK. Irene - Arlin Indah - Jakarta Timur
  • ZL. Ny. Hendri Suswardani - Depok
  • ZM. Marthin Tertius - Bank Artha Graha - Manado
  • ZN. Titin - PT. Tripolyta - Jakarta
  • ZO. Wiwiek - Menteng - Jakarta
  • ZP. Agatha - PT. STUD - Menara Batavia - Jakarta
  • ZR. Albertus - Gunung Sahari - Jakarta
  • ZS. Febryanti - Metro Permata - Jakarta
  • ZT. Susy - Metro Permata - Jakarta
  • ZU. Justanti - USAID - Makassar
  • ZV. Welian - Tangerang
  • ZW. Dwiyono - Karawaci
  • ZX. Essa Pujowati - Jakarta
  • ZY. Nelly - Pejaten Timur - Jakarta
  • ZZ. C. Nugraheni - Gramedia - Jakarta
  • ZZA. Myke - Wisma Presisi - Jakarta
  • ZZB. Wesley - Simpang Darmo Permai - Surabaya
  • ZZC. Ray Monoarfa - Kemang - Jakarta
  • ZZD. Pdt. Sunaryo Djaya - Bethany - Jakarta
  • ZZE. Max Boham - Sidoarjo - Jatim
  • ZZF. Julia Bing - Semarang
  • ZZG. Rika - Tanjung Karang
  • ZZH. Yusak Prasetyo - Batam
  • ZZI. Evi Anggraini - Jakarta
  • ZZJ. Kodden Manik - Cilegon
  • ZZZZ. ISI NAMA ANDA PADA KOLOM KOMENTAR UNTUK DIMASUKKAN DALAM DAFTAR INI