Wednesday, March 12, 2008

Mas Adi Prasodjo SH

Hari Senin lalu kami ngobrol-ngobrol dengan mas Adi Prasodjo, pemain perkusi di GMB dan TrueWorshipper (TW). Meskipun kini mas Adi tidak diajak lagi bermain di TW, tak nampak sedikitpun rasa kecewa atau kepahitan di wajahnya. Ia tidak memusingkan lagi apakah ia masih mendapat royalty dari rekaman-rekaman TW yang lalu. Ia orang yang sangat legowo.

Sambil makan belimbing muda (masih hijau) yang pasti sangat asam, ia cerita ngalor ngidul. Diantaranya ia bercerita tentang seorang anggota Kopassus yang mau menghabisi sebuah keluarga. Ketika bertemu dengan orang ini di sekitar rumahnya, orang ini sangat berangasan. Dia berteriak-teriak mau membunuh sebuah keluarga. Ia membawa sebuah tas plastik yang ternyata belakangan diketahui isinya adalah Senapan Mesin M 16. Dengan sabar mas Adi mengajak orang ini agar menenangkan diri dulu dan ia mengajak dia ke Starbucks. Ketika akan memasuki kedai Starbucks di Plaza Indonesia, penjaga pintu memeriksa bungkusan plastik itu dan diketahui ada M 16. Buru-buru laki-laki itu mengeluarkan kartu anggota Kopassusnya.

Mas Adi memancing segala unek-unek orang ini. Dengan emosi pria ini menceritakan latar belakang mengapa ia mengamuk dan mau membunuh satu keluarga. Intinya, orang ini merasa tertolak. Ia sangat sakit hati dan kepahitan. Dengan penuh kasih akhirnya mas Adi mengajak orang itu menginap di rumahnya, padahal orang ini belum dikenalnya. Orang itu menangis terharu karena masih ada orang yang mau menerimanya.

Ketika mereka kembali di rumah mas Adi, orang-orang di rumah itu berkomentar: "Mas Adi, gimana laki-laki ngamuk tadi?" Mas Adi memberikan kode dengan gerakan wajahnya agar mereka diam karena yang bersangkutan ada di sebelahnya. Tapi dasar pembantu, orang-orang itu tidak mengerti.
"Iya, mas, masa ada orang serem begitu sih!"
Pria yang sedang diomongi mereka ini hanya senyam senyum saja.
"Sudahlah, dia ini orangnya yang tadi. 'Kan gak serem lagi ya?" kata mas Adi harus menjelaskan kepada mereka.

Mas Adi dikenal sebagai orang yang murah hati, gampang memberi tumpangan kepada orang baru. Seorang tukang bakmie ditampung di rumahnya berbulan-bulan, tinggal tanpa bayar, dan menggunakan rumah itu untuk memasak dan mempersiapkan dagangannya. Tukang bakmie ini berdagang di dekat rumah mas Adi. Sekarang tukang bakmie ini sudah pergi, karena ia telah mengumpulkan cukup uang untuk biaya sekolah anaknya di desa.

Banyak orang telah ditolong mas Adi. Macam-macam saja persoalannya. Pernah ia menasihatkan seorang pelacur kelas atas agar meninggalkan profesinya. Wanita cantik ini menantang, "Kalau benar Tuhan itu ada, coba sekarang saya minta uang dari Tuhan!" Mas Adi langsung memberi segepok uang, bukan untuk transaksi seks. Jumlahnya cukup lumayan. Wanita itu menangis tersedu-sedu, betapa ada orang yang tidak dikenal, mau memberi dia uang tanpa pamrih harus melayaninya di tempat tidur.

Mas Adi memang banyak temannya. Ia banyak menolong orang yang kesusahan, padahal ia sendiri banyak persoalan. Ia berkhotbah dengan tindakan nyata. Ia menjabarkan Kabar Baik melalui perilaku dan perbuatannya.

Ditulis oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com