Lebih dari sepuluh tahun, ia hidup sebagai bandar narkoba. Jaringan yang dibangun cukup luas, bahkan hingga ke luar negeri. Karena kelihaiannya dalam bertransaksi narkoba, pria yang populer dengan panggilan Tikung ini, jarang tertangkap aparat kepolisian. Apalagi dengan triknya memberi uang 'diam' kepada mereka, bisnisnya lancar-lancar saja.
Pernah ia tertangkap, namun dalam hitungan hari, Tikung bisa lolos dan kembali beroperasi. Namun ketika 'ditangkap' Tuhan, ia pun tak dapat berkutik lagi. Malah dengan sendirinya meninggalkan bisnis haramnya itu. Mengapa? Mungkin karena Tuhan tidak mau diberi uang 'diam'. Demikian penuturan Yohanes Tikung.
Tahun 1978 Tikung pergi ke Jakarta dengan harapan mendapat pekerjaan. Tahun 1979 ia bekerja. Karena kebiasaan main kasino dan hidup di dunia gemerlap, ia kenal dengan narkoba. Dan karena tergiur dengan besarnya penghasilan dalam berbisnis barang haram tersebut, ia tinggalkan pekerjaan. Waktu itu ekstasi masih langka. Dalam waktu singkat ia berhasil dalam bisnis tersebut. Bahkan sampai transaksi ke luar negeri. Uang dengan mudah ia dapat, namun herannya juga dengan mudah ia membuang uangnya. Pernah dalam dua minggu ia untung dua miliar. Uang tersebut habis untuk hura-hura. Dari tahun ke tahun bisnis ekstasi dan shabu-shabunya kian berkembang.
Pada masa itu Undang Undang Psikoterapika belum ada, jadi susah menangkap para bandar seperti dia. Ia menjual barang-barang tersebut tidak eceran melainkan dalam partai besar. Wilayah operasinya: Jakarta, Bali, Batam, Singapura bahkan hingga ke Belanda. Karena keberanian dan lihainya menyimpan barang, berulang kali ia lewat bandara selalu lolos dari screening. Ia tidak pernah takut tertangkap karena ia mempunyai trik yang jitu. Salah satunya, datang lebih awal, paling tidak dua jam sebelum transaksi dimulai. Untuk apa? Untuk memantau apakah keadaan aman dan bersih. Selain itu, ia selalu mengerjakan transaksi sendiri. Ia tidak suka memakai orang lain, karena itu lebih berbahaya.
Tahun 2000 ia menikah dan dikaruniai seorang anak. Sayangnya, pernikahan tersebut tidak bertahan lama. Setelah bercerai ia pindah ke Bali. Di Bali kehidupan bisnis narkobanya semakin maju. Dan seiring kemajuan tersebut, jiwanya justru hancur. Pernah ia dihantui ketakutan dan kengerian, namun dengan cepat rasa itu pun sirna, ketika ia menelan pil ekstasi dan hidup dalam kenyamanan bisnis tersebut.
Akhir tahun 2003, ia pindah ke Jakarta untuk transaksi narkobanya. Ketika itu ia bertemu mantan pacar. Lalu ia ajak perempuan itu ke tempat kami biasa dugem. Ia heran, kok mantan pacarnya itu tidak mau? Sang mantan pacar malah mengajaknya ke gereja. Yah, karena ingin menyenangkan hatinya, ia pun mau diajak ke gereja. Tiga kali ia ikut ke gereja hanya ingin menyenangkan mantan pacarnya. Namun, pada kali keempat Tuhan melawat dan menjamahnya. Ia jatuh tersungkur dan menangis di kaki Tuhan. Ia merasa hancur hati dan bersalah dengan bisnis yang ia geluti. Berapa orang yang telah menjadi korban bisnis haram tersebut?
Usai kebaktian, ia bertekad menyudahi statusnya sebagai bandar narkoba. Bersama mantan pacar yang kini telah menjadi pendamping hidup, ia belajar firman Tuhan. Tiap hari ia merenungkan firman-Nya. Ia bersyukur, Tuhan masih memberi kesempatan untuk bertobat. Kini ia ikut melayani dan dibimbing di Full Gospel Ministry. Ajaibnya, setelah ia bertobat, Tuhan pun membuka jalan sehingga ia bekerja di tempat yang bersih.
Sekarang ia menyadari bahwa hidup itu berarti dan nikmat, jika bisa menjadi berkat. Waktu ia bekerja di dunia gelap, hidupnya berlimpah harta, namun tidak pernah ada damai. Dulu tiap hari selalu saja ia was-was. Kalau jalan, selalu merasa ada yang mengikuti. Ia sadar, orang yang bekerja seprofesi dengannya dulu, hidupnya berada di atas penderitaan orang-orang lain yang keluarganya terjerat narkoba. Perasaan tidak nyaman itu mungkin karena ada orang yang mendoakan bahkan menyumpahi agar orang-orang seperti dia ini tertangkap dan dijatuhi hukuman seberat-beratnya.
Dulu ia tidak peduli hal ini, tapi sekarang, ia tahu betapa kotor dan merugikannya bisnis tersebut. Ia bersyukur jika saat ini pemerintah dan aparat menindak tegas para pengguna dan pengedar narkoba. Menurutnya, berkembangnya peredaran narkoba disebabkan lemahnya hukum. Sekarang, hukuman bagi para pengguna dan pengedar sangat jelas dan berat. Keuntungan dan risikonya tidak sebanding dengan hukuman. Karena itu, ia menghimbau untuk para pengguna dan pengedar, "Bertobatlah! Tuhan pasti buka jalan." Sumber : Tabloid Rohani Keluarga Edisi 16/2007.
Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com