Berkat Kejujuran
Banyak hamba-hamba Tuhan menyampaikan pesan khusus untuk Tahun 2008 ini tentang perpindahan kekayaan bangsa-bangsa, kelimpahan dari seberang laut, perpindahan kekayaan orang fasik kepada Rumah Tuhan. Salah satu pengertian Rumah Tuhan atau Bait Tuhan adalah diri kita.
Hagai 2:7-8 "Sebab beginilah firman TUHAN semesta alam: 'Sedikit waktu lagi maka Aku akan menggoncangkan langit dan bumi, laut dan darat; Aku akan menggoncangkan segala bangsa, sehingga barang yang indah-indah kepunyaan segala bangsa datang mengalir, maka Aku akan memenuhi Rumah ini dengan kemegahan,' firman TUHAN semesta alam."
Pertanyaan yang sering diajukan adalah kapan? Kapan itu terjadi? Namun kalau dipelajari, bukan kapan Tuhan akan melakukannya, tapi kapan kita memenuhi syarat untuk menerima berkat itu. Di dalam kitab Hagai diulang-ulang pesan: "Perhatikanlah keadaanmu!" Mana mungkin Tuhan akan memberikan kelimpahan itu kalau keadaan kita ibarat orang yang mempunyai pundi-pundi berlobang. Berkat Tuhan seberapa besarpun tidak akan bertahan, lewat saja, keluar lagi dari pundi-pundi kita, kalau kita belum siap diberkati.
Supaya siap menerima kelimpahan dari seberang laut itu, firman Tuhan dalam kitab Hagai mengingatkan kita agar membangun Rumah Tuhan. Diri ini sebagai Rumah Tuhan harus dibangun. Apanya yang dibangun? Tentu saja hati kita. Kitab Yesaya ingatkan: lapangkan tanah yang bergelombang, ratakan tanah yang berlobang, luruskan tanah yang berkelok-kelok. Intinya: hati kita jangan kepahitan (berlobang), jangan tinggi hati (bergelombang), dan luruskan hati yang berbelit-belit dengan kebohongan, kelicikan dan ingkar janji. Di sinilah Tuhan bertanya kepada kita: "Kapan engkau siap? Kapan hatimu selesai dibangun? Kapan?"
Seorang karyawan di bagian Treasury yang sudah bekerja bertahun-tahun di suatu perusahaan biasa menyetor dan mengambil uang ratusan juta dari bank. Pada suatu hari dia mengambil uang dan ketika diperiksa di ruangannya, uang yang diterima dari teller bank itu kelebihan Rp. 70 juta. Mula-mula ia merasa senang menerima uang ini. Rp. 70 juta bisa membeli mobil. Ia bertanya-tanya kepada Tuhan, "Apakah uang ini sebagai jawaban doa dari Tuhan?" Berhari-hari ia bimbang hati: apakah harus dikembalikan kepada teller bank itu, dibelikan mobil yang dibutuhkannya? Ketika ia tidak tahan lagi, ia bertanya kepada Ketua Komunitas Sel-nya.
"Gimana ya, pak? Apakah saya harus mengembalikan uang Rp. 70 juta ini?"
"Ya, tentu! Itu 'kan bukan hak bapak?"
"Ya, ya, ya" kata karyawan ini masih agak ragu.
Akhirnya ia membawa kembali uang sejumlah Rp. 70 juta ini ke bank. Ia mencari teller yang melayaninya beberapa hari lalu. Teller ini sedang menghadapi masalah berat. Ia akan dipecat kalau tidak dapat menemukan uang sejumlah Rp. 70 juta yang hilang itu. Sang teller benar-benar teler, stres, ketakutan, dan panik. Dari mana ia akan mengganti uang Rp. 70 juta itu? Ia sudah menghubungi semua orang yang ia ingat yang telah mengambil uang di bank pada hari itu, tetapi semuanya tidak ada yang mengaku.
"Dik, ini saya bawa uang kelebihan dari bank ini."
"Pak! Berapa?"
"Tujuh puluh juta!"
"Wah, terima kasih, pak! Masih ada orang yang jujur seperti bapak. Terima kasih." Teller itu segera menerima dan menghitung kembali uang itu. Pas.
Rasanya lega sekali karyawan itu telah berlaku jujur, meskipun tadinya ada sedikit kebimbangan. Ia segera melupakan kejadian itu. Beberapa minggu kemudian ia dipanggil direksi. "Pak, bapak 'kan telah bekerja di sini bertahun-tahun. Kami menghargai prestasi bapak dan kejujuran bapak selama ini. Sekarang kami setuju untuk memberi kepada bapak mobil Kijang Innova yang baru. Ayo, silakan lihat di Showroom Mobil dan pilih warna kesukaan bapak." Ia yang tadinya berharap memiliki mobil bekas seharga Rp. 70 juta, karena ketulusan hatinya ia menerima mobil yang jauh lebih baik, Innova baru! Itulah kelimpahan berkat.
Ditulis oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com