Search This Blog

Loading...

Thursday, August 30, 2007

Walking with God: A Story of A Top Executive (2)

Sadar bahwa di ruang hotel ini banyak penghuni makhluk halusnya, ia mempersiapkan diri untuk melakukan peperangan rohani. Tanpa menyalakan lampu kamar, ia langsung bertelut di kakinya dan mulai memuji dan menyembah Tuhan. Anehnya, waktu itu sepertinya kuasa kegelapan memblokir pikirannya dengan suara-suara aneh, sehingga banyak syair-syair lagu yang ia lupa. Tak kalah akal, ia nyanyikan lagu pujian penyembahan itu dengan kata-kata baru. Ia naikkan pujian: "Oleh Darah Anak Domba",
"Sgala Puji Syukur" dll. Ketika pujian dan penyembahannya naik ke langit, ia merasakan bahwa ada sinar kemuliaan yang seperti sinar laser dari langit turun menyerang kuasa kegelapan itu. Jendela kaca di ruangan ini bergetar hebat, bbbbrrrrrrr rrrrrrrrr, bunyinya terdengar keras. Suhu ruangan itu panas bukan hanya karena AC tidak dihidupkan, tetapi karena peperangan rohani ini hebat. Dalam beberapa menit tiba-tiba bunyi kaca bergetar berhenti dengan sendirinya dan terasa ada kepergian para makhluk halus dari kamar itu. Sekarang atmosfir di ruangan itu bersih, plong, dan penuh damai sejahtera. Puji Tuhan! Ketika Tuhan bertahta di atas puji-pujian orang-orang yang takut akan Tuhan, ada kuasa dilepaskan dari Sorga untuk menghancurkan pekerjaan iblis di muka bumi ini. Karena pujian dan penyembahan telah menjadi gaya hidupnya, tanpa sadar suara-suara yang sering mengganggu selama tiga bulan itu lenyap dengan sendirinya.

Penyertaan Tuhan kepadanya terbukti lagi ketika ia bersama-sama teman-teman para eksekutif puncak yang sama-sama hobby menyelam. Kejadiannya di sekitar perairan Timor. Mereka tahu bahwa arus bawah di perairan ini sangat kuat. Namun karena pemandangan bawah laut di situ sangat indah, mereka menyelam juga. Ketika mereka mulai turun perlahan-lahan, karena jika tubuh ini menerima tekanan udara yang tiba-tiba meningkat, maka pembuluh darah bisa pada pecah dengan tiba-tiba pula. Sambil menikmati gugusan karang beraneka warna dan ikan-ikan serta makhluk bawah laut yang beraneka keindahannya, mereka tiba-tiba dikejutkan dengan tarikan arus ke bawah yang dahsyat. Ia segera melihat di pergelangan tangannya alat untuk memonitor kedalaman laut dan tekanan udara. Dalam hitungan detik ia turun dengan drastis. Menurut perhitungan normal, saat itu ia dan kawan-kawannya pasti celaka bahkan meninggal karena tubuh dan pembuluh darah menerima tekanan udara yang meningkat dengan seketika. Mereka semua mencari-cari pegangan ke arah dinding curam di bawah laut. Beruntunglah ia bisa menggapai tonjolan dinding karang dan bertahan sebentar sebelum pelan-pelan naik ke atas. Ia kaget dan takjub sekali. Ia tahu, seharusnya dalam keadaan wajar, ia dan teman-temannya pasti mati. Kalau bukan karena pertolongan dan perlindungan Tuhan, mereka tidak bakal selamat melalui tarikan arus bawah laut yang dahsyat itu. Kekagumannya akan Tuhan makin mendalam sejak saat itu. Betapa Tuhan tidak pernah lepas pandangan-Nya dari anak-anak-Nya yang takut dan hormat akan Dia.

Kini ia banyak berkiprah di Market Place dan dunia pendidikan dan bisnis. Melalui kerinduannya untuk menjadi garam dan terang dunia, ia selalu ingin mewarnai dunia melalui perilaku Kristus. Ia banyak berinteraksi dengan para cendekiawan dan mahasiswa muslim. Ia dapat diterima dan bergaul dengan para cendekiawan Paramadina atau IAIN. Melalui program radio The Waves ia memperkenalkan nilai-nilai kristiani tanpa menyebut ayat-ayat Alkitab untuk memajukan pemikiran masyarakat. Saya pernah ditunjukkan SMS dari seorang mahasiswa IAIN (Institut Agama Islam Negeri) yang menyebut dirinya: "ayah". Ia berhasil 'membapaki' banyak mahasiswa yang terbuka pada pemikiran dan ide-idenya yang tulus untuk membawa kemajuan bangsa ini. (Tamat)
Posted by Hadi Kristadi for http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Wednesday, August 29, 2007

Walking with God: A Story of A Top Executive (1)

Saya selalu mengucap syukur kepada Tuhan, karena Tuhan membuka jalan untuk saya bertemu dengan orang-orang yang kesaksiannya dapat dimuat di dalam blog ini. Tadi malam saya bertemu dengan mantan Presiden Direktur PT. Compaq Indonesia yang sekarang telah berwiraswasta. Tiba-tiba ia bercerita kepada saya tentang kisah kehidupan yang dialaminya.

Dahulu ia adalah seorang eksekutif puncak yang berhasil di bidangnya dan sekarang menjadi seorang pengusaha yang melayani di Market Place. Pada pertengahan tahun 1980-an ia dinobatkan sebagai "CEO of The Year" dan diberi kesempatan berbicara dalam sebuah forum ASEAN Business Meeting, dimana pembicaranya adalah : PM Singapura Lee Kuan Yew, PM Malaysia DR. Mahathir Mohamad, Presiden Filipina Ferdinand Marcos, PM Thailand, dan satu-satunya pembicara dari kalangan bisnis adalah dirinya sebagai CEO of The Year. Keesokan harinya berbagai ucapan selamat muncul melalui telpon dan email dari rekan-rekan sejawat dan dari kalangan bisnis yang kagum atas terpilihnya sebagai CEO of The Year dan atas kesempatan sebagai pembicara utama dalam pertemuan bisnis tingkat ASEAN tersebut. "Bangga!" itulah yang saya rasakan pada waktu itu katanya mengaku. Saya merasa menjadi orang "super".

Ketika ia membalas telpon dan email dari rekan-rekan yang memberi selamat itu, dengan perasaan yang sangat "excited" tiba-tiba terdengar bisikan di hatinya, "Jangan merasa bangga begitu. Kalau bukan karena Aku, kamu ini tidak ada artinya apa-apa! Apa yang ada padamu, itu semua dari-Ku. Apa sih yang ada padamu yang tidak berasal dari-Ku?" Mendapat tegoran keras di hatinya, ia sangat kaget dan tersadar. "Betul, ya? Saya ini tidak ada apa-apanya. Semua karena anugerah-Nya!" Ia menangis tersedu-sedu di muka komputer itu. Padahal sebagai seorang Presdir, pantang bagi seorang lelaki menangis. Ketika itulah jamahan kasih Tuhan sangat kuat menguasai hatinya.

Sejak saat itu ia tidak mengeraskan hatinya apabila diajak isterinya ke Gereja. Telah bertahun-tahun isterinya berdoa baginya agar mau percaya kepada Tuhan. Namun karena ia memiliki otak yang cemerlang, dan selalu mengandalkan logika, maka semua hal tentang kekristenan yang diceritakan isterinya bagaikan bualan dongeng dan tahayul saja. Apa yang tidak bisa dicerna oleh daya analisisnya yang tajam, takkan diterima begitu saja atas dasar : percaya atau iman. Namun sejak hatinya dijamah Tuhan, ia mulai menyelidiki perkara-perkara rohani.

Pada suatu hari isterinya mengajaknya ke Doa Malam. Pada waktu itu ia masih merokok dan bergaya bak pria metroseksual: Ia datangi rumah doa dengan sepatu boot yang keren dan masih merokok! Ia lepaskan sepatu boot itu karena acara doa malam diadakan sambil duduk di lantai. Ia tak melihat sepatu "sekeren" sepatunya diantara deretan sepatu yang terkumpul di muka pintu gedung itu.

Ketika pujian dan penyembahan mulai dinaikkan, hatinya mulai menangkap sesuatu getaran rohani yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya. Rasanya ada damai dan sejahtera serta sukacita yang menyelimuti hatinya yang selama ini selalu dingin terhadap perkara-perkara rohani. Namun ia mulai diganggu dengan suara-suara asing yang menjadi 'distraction' dan ingin mengajaknya kembali pada kehidupan yang lama. Selama kurang lebih tiga bulan ia diganggu suara-suara itu, sehingga isterinya mengajak dirinya untuk dilayani "pelepasan" oleh Pdt. John Ng. Isterinya memaksa ia datang ke tempat John Ng melayani pada jam 11 malam. Meskipun tadinya ia segan, ia kemudian ingin tahu apa sih yang dapat dilakukan oleh pendeta ini. Mereka mulai memuji dan menyembah Tuhan, ia kembali merasa damai sejahtera yang melampaui segala akal. Kemudian John Ng menumpangkan tangannya dan mendoakan dirinya.
"Tidak ada kelainan apa-apa!" kata John Ng "Kalau bapak mau belajar kepada saya, bapak akan menjadi seperti saya atau bahkan lebih hebat. Mau?"
"Tidak, ah!" katanya tidak mengerti tentang ajakan John Ng ini.

Sejak kasih dan hadirat Tuhan menjamah kehidupannya, ia mulai bersemangat memberikan kesaksian kepada para direktur, teman-teman di PT. Compaq Indonesia (kini telah merger dengan Hewlett Packard). Pada waktu itu para anak buahnya selalu bertanya, "Apakah ceritanya sudah selesai, pak?" sambil menguap ngantuk. Tetapi ia sungguh bersyukur sekarang, dari semua kolega para Direktur yang Kristen, semuanya aktif melayani sekarang. Bahkan salah seorang rekan Direkturnya, seorang Ibu, kini sangat giat dan berapi-api melayani di ladang Tuhan.

Suatu saat ia bertugas ke Singapura dan menginap di suatu hotel. Ketika ia mulai membuka pintu hotel itu, ia yang sangat peka atas kehadiran para makhluk halus, mulai waspada. Ia masuk, namun tidak menaruh kartu kunci kamar hotel di tempatnya agar aliran listrik tetap tidak menyala. Ia masuk dan merasakan pekatnya kehadiran roh jahat di ruang itu. Apa yang harus ia lakukan? Minta ganti kamar? Kalau ganti kamar, berarti ia dikalahkan para roh-roh jahat itu. Mengadakan peperangan rohani? (Bersambung)
Posted by Hadi Kristadi for http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Tuesday, August 28, 2007

The Partner of Lucifer

Terbukanya Celah Kegelapan
Pada suatu hari, seorang paranormal, datang berkunjung ke rumah Pak Bambang Prasetyo, ayah Lala. Paranormal yang adalah tetangga Lala itu mengatakan bahwa ada sesuatu yang khusus pada Lala, kesaktian supranatural dari Kakek Lala akan turun kepada Lala, anak ke-2 dari 2 bersaudara itu. "Ketika Paranormal itu meminta Lala untuk berpuasa, saya pikir itu bukanlah sesuatu yang berbahaya buat anak saya," ujar Pak Bambang, yang sebelum menikah dengan Ibu Annie memeluk agama Islam. Lala pun mulai berpuasa. Ia menerima anjuran itu. Sang paranormal berkata bahwa ilmu yang Lala miliki bisa digunakan untuk kebaikan dan menolong banyak orang. Salah satunya menyembuhkan orang sakit. Meskipun masih ragu, namun Lala menurutinya. Paranormal itu menasihatkan Lala untuk hidup jujur, jangan curang dan berbuat tidak benar, sehingga Lala semakin tertarik. Bahkan ia menyampaikan pesan Kakek Lala supaya Lala rajin belajar. Lala juga percaya bahwa itu benar.

Kejadian Supranatural
Satu hari setelah berpuasa dan mengikuti ritual yang disarankan, Lala bisa melihat dan berbicara dengan arwah yang sudah mati. Arwah-arwah itu berwujud manusia dan sering mendatangi Lala sambil menitipkan pesan untuk keluarga yang mereka tinggalkan. Salah satu arwah berpesan kepada anak-anaknya supaya mereka segera berkunjung ke kuburannya. Kemudian Lala menyampaikannya.

Suatu ketika, Lala menyadari bahwa ia memiliki kemampuan untuk memindahkan barang apa pun tanpa menyentuhnya. Cukup dengan berkonsentrasi maka barang tersebut akan bergerak ke mana pun Lala kehendaki. Bahkan orang sakit dapat Lala sembuhkan.

Memasuki tahun 2001, Lala bertemu dengan Sunan Gunung Jati dan Sunan Kali Jaga. Ia bisa pindah ke satu tempat ke tempat lain, muncul pada saat orang lain tidak melihatnya. Setiap kali mengisi bensin di sebuah pom bensin, kasirnya selalu berkata bahwa Lala sudah membayarnya. Padahal Lala tidak mengeluarkan uang sepeser pun. Kejadian-kejadian itu membuat Lala semakin disanjung oleh teman-temannya. Namun teman-teman Lala yang beragama Kristen tidak menunjukkan kekaguman kepada Lala, sehingga Lala merasakan suatu kejanggalan.

Tamu Misterius Datang Ke Dalam Kamar
Suatu hari, sepulangnya Lala dari kampus, ia melihat seorang laki-laki berwajah tampan sedang duduk di atas tempat tidurnya. Mukanya telihat halus dan licin. Lala hendak memarahinya karena ia lancang masuk ke dalam kamar, namun mulut Lala tidak dapat mengeluarkan suara. Laki-laki itu menatap Lala dengan tatapan tajam lalu berkata, "Kamu adalah pilihanku, dan kamu akan kujadikan permaisuri. Akan kuberikan semua fasilitas yang kamu butuhkan, rumah, uang, mobil dan harta yang melimpah, sehingga kamu tidak merepotkan orang tuamu lagi." Lala sempat terbuai dengan tawaran itu. "Jika kamu menjadi permaisuriku maka kita berdua akan membuat Bandung berdarah," ucap laki-laki itu lagi. Lala mulai ketakutan dan sadar bahwa laki-laki ini bukan manusia. Mulutnya yang sempat terkunci tiba-tiba bisa berbicara kembali. "Saya tidak mau," jawab Lala. Wajah laki-laki misterius itu berubah menjadi tidak bersahabat, seperti penuh dengan amarah. Dalam sekejap mata tiba-tiba ia menghilang dari kamar Lala. Dan seiring kepergiannya, terasa guncangan hebat dalam kamar Lala sehingga membuat seisi kamarnya berantakan. Bahkan orang tua Lala yang sedang berada di lantai atas ikut merasakan guncangan tersebut. Perasaan Lala mulai tidak karuan. Ia mulai merasa khawatir dan bertanya dalam hati, apa yang sekiranya akan terjadi dalam hidupnya setelah kejadian ini.

Teror Akibat Dendam Amarah Lucifer
Lima hari berlalu dari kejadian itu, ternyata belum terjadi apa-apa dalam kehidupan Lala. Ia pergi ke kampus seperti biasanya. Ketika pulang kuliah, ia melihat keadaan di dalam mobilnya berantakan. Tiba-tiba saat ia hendak masuk ke dalam mobil, pintu mobil Lala tertutup sendiri dan terbanting keras sehingga menjepit tangan Lala. Lala menjerit kesakitan namun tidak ada satu orang pun yang mendengarnya. Setelah cukup lama menahan sakit, barulah pintu itu terbuka kembali dan Lala dilarikan oleh satpam kampusnya ke rumah sakit Bandung.

Keesokan harinya, di saat Lala sedang jalan-jalan dengan teman-temannya, sesuatu yang keras seperti memukul kepalanya. Teman-teman Lala tidak melihat apa-apa, bahkan menganggap Lala hanya bergurau. Sampai tiba-tiba wajah Lala lebam dan terluka dengan sendirinya. Hanya Lala sendiri yang merasakan pukulan-pukulan itu. Seperti ada roh halus yang sedang menghajarnya.

Di dalam kelas, ketika Lala sedang mengikuti pelajaran salah satu mata kuliahnya, tiba-tiba tubuh Lala terlihat seperti ada yang menarik, dan kursi yang Lala duduki melayang ke atas udara. Seisi kelas merinding ketakutan dan bingung dibuatnya. Teman-teman Lala mulai panik melihat kejadian itu. Dan untuk mengantisipasi kejadian serupa terulang kembali, mulai di hari selanjutnya mereka mengadakan doa bersama sebelum kuliah dimulai. "Kehidupan saya tidak tenang karena ‘mereka' selalu mengganggu saya," ujar Lala.

Gangguan belum berakhir. Sewaktu makan, Lala tidak bisa memasukkan makanan yang ada di sendok ke dalam mulutnya. Ketika ia mencoba dengan garpu, garpu itu melesak ke dalam mulutnya dan menusuk ke lidah. Teman-temannya berusaha membantu Lala menarik garpu itu, namun tidak berhasil. Darah mulai mengalir dari dalam mulut Lala. Akibat dari kejadian itu Lala tidak bisa makan selama satu minggu, badannya mulai terlihat kurus sehingga ia harus dilarikan ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan khusus.

Sesampainya di rumah sakit, jarum infus yang hendak dimasukkan ke pembuluh darah Lala sulit untuk dimasukkan. Dokter yang bertugas semakin dibuat heran ketika muncul tanda seperti simbol ‘X' berwarna merah di dahi Lala. Simbol itu seperti luka yang kering. Bahkan beberapa waktu kemudian muncul tulisan ‘SATAN' di tubuh Lala. "Saya dipermalukan sekali oleh Lucifer," ujar Lala.

Teror demi teror terus berdatangan. Semakin hari semakin aneh dan mengerikan. Tiba pada puncaknya ketika Lala sedang masuk ke dalam kamar mandi, ia menghilang seketika. Teman-temannya sempat terbelalak ketika mereka melihat kamar mandi dalam keadaan kosong. Karena sebelumnya mereka sempat melihat dengan jelas Lala masuk ke dalam situ. Akhirnya disebarkan berita kalau Lala hilang. Seorang petugas polisi menemukan Lala sedang berdiri di pinggir jalan. Kejadian itu terulang kembali pada hari berikutnya. Lala menghilang dan ia tiba-tiba sudah berada di pegunungan Ciwidey.

Suatu hari Lala melihat sosok iblis keluar masuk dalam tubuhnya. Perlahan penglihatannya mulai memudar dan semua yang dilihat Lala seperti buram. Pada akhirnya Lala tidak dapat melihat sama sekali. Semua serba gelap. Beberapa menit kemudian sebuah tangan yang besar terasa seperti mencekik leher Lala. Dan Lala menjadi bisu seketika itu juga. Di saat yang bersamaan, kaki Lala juga lumpuh. Kejadian itu terjadi pada bulan April 2002. Tidak sampai di situ saja. Iblis juga menyumbat pikiran Lala sehingga Lala menjadi amnesia dan tidak mengenali satu orang pun yang ada di dekatnya. Stres yang hebat mulai Lala alami. Ia merasa tidak memiliki pengharapan. Nilai-nilai ujiannya hancur dan teman-temannya satu per satu mulai pergi menjauhi dirinya.

Pencobaan Bunuh Diri
Lima hari sudah Lala lewati dalam keadaan buta, bisu, lumpuh dan tidak mengenali suara-suara yang ia dengar. Pilihan yang terlintas dalam pikiran Lala hanya ada 2; menyerahkan diri kepada iblis atau bunuh diri. Karena sudah tidak kuat menahan penderitaan tersebut, Lala memutuskan untuk bunuh diri. Ia mencoba meraba-raba seisi kamarnya untuk mencari barang yang tajam supaya dapat menikam lehernya sendiri dan menghabisi nyawanya. Tetapi niat itu batal ketika seseorang masuk ke dalam kamarnya dan menggenggam tangan Lala. Orang itu menuliskan sesuatu di atas tangan Lala, "Ini mama." Dan lagi ia menuliskan sebuah kalimat, "Segala sesuatu indah pada waktu-Nya. Yesus sayang sama Lala." Hingga akhirnya Lala menemukan pilihan yang ke-3, yaitu menerima Yesus.

Mukjizat Kesembuhan Terjadi Saat Pelepasan
Sementara itu, selain kedua orang tua Lala, ada banyak orang berdoa untuk Lala. Karyawan Maranatha di bagian pembukuan juga ikut berpuasa untuk Lala, bahkan mereka berdoa selama berjam-jam. Mereka berdoa agar Tuhan segera menolong dan mengasihani Lala. "Saya melihat suatu keindahan yang Tuhan perlihatkan. Rumah kami menjadi rumah doa," ucap Pak Bambang dengan wajah berseri-seri ketika memberikan kesaksian. Kebahagiaan terpancar dari mimik wajahnya yang tenang ketika ia mengingat kembali kejadian itu. Akhirnya mukjizat kesembuhan terjadi. Doa orang benar besar kuasanya. Lala bisa mendengar dan berbicara lagi, meskipun ia belum bisa melihat.

Lala mulai ikut bernyanyi memuji dan menyembah Tuhan bersama teman-temannya. Dan secara ajaib perlahan-lahan warna hitam yang menutupi penglihatannya mulai berubah menjadi warna-warni. Lala bisa melihat kembali. "Saya mulai mengamati bahwa pujian dan penyembahan ada kuasanya. Tuhan bertahta di atas puji-pujian," ujar Lala.

Kejadian Aneh Muncul Kembali
Beberapa hari kemudian, ketika sedang berada di dalam mobil bersama kedua orang tua dan pamannya, Lala tiba-tiba menghilang. Kejadian itu membuat mereka menjadi ngeri dan panik, karena Lala tidak lagi berada bersama mereka. Sedangkan Lala sendiri tiba-tiba sudah berada di dalam sebuah rumah besar yang aneh. Beberapa anak muda menyapa kehadiran Lala. Lala tidak dapat menggerakkan anggota tubuhnya. Kuasa iblis seperti sedang menguasainya. Lalu datang seseorang memasuki ruangan, seorang laki-laki yang dahulu pernah berada di dalam kamar Lala. "Mungkin kamu lupa kepadaku, tapi hari ini kamu akan kujadikan permaisuriku," ucap laki-laki itu. Dalam keadaan tidak berdaya, iblis membawa Lala ke pelaminannya. Anak-anak muda yang berada di dalam ruangan tersebut membaca sebuah mantera sambil mengiringi perjalanan Lala.

Lala dibawa oleh laki-laki itu dan diposisikan di sebelah dia sambil dirangkulnya. Semua orang yang ada di depan Lala memakai baju hitam, dan mereka terlihat sedang memakan daging mentah. Darah segar muncrat dari mulut mereka - mengotori lantai ruangan. Mulut mereka berlumuran darah. Lalu setelah itu anak-anak muda yang berada di dalam ruangan saling berhubungan seks.

Laki-laki misterius yang membawa Lala mulai berusaha menjamah tubuh Lala. Kemudian Lala melihat wajahnya berubah menjadi panjang. Tiba-tiba terbesit dalam pikiran Lala sebuah ajakan untuk menyebut nama Yesus. Lala pun berusaha berkata dalam hati, "Yesus tolong saya, walau saya lupa tentang Engkau tapi saya tahu Engkau mau menolong saya, Yesus tolong saya."

Akhirnya ketika mata Lala berkedip, ia sudah berada di tempat lain lagi. Terlihat banyak angkot-angkot lewat. Lala sedang berada di pinggir jalan. Ia tidak tahu mau pulang ke mana. Walaupun dalam keadaan bingung, namun Lala bersukacita. Ia meneriakkan nama Yesus sehingga orang-orang memperhatikannya.

Lala masih tidak tahu harus pulang ke mana. Ia kembali berseru kepada Yesus. Untuk pertama kali dalam hidupnya, Lala mendengar suara Tuhan yang lembut, "Anak-Ku, orang tuamu sekarang ada di Gereja Sidang Jemaat Allah, di Jalan Sudirman. Ketahuilah Aku senantiasa menyertai kamu."

Tuhan Yesus Mendatangi Lala
Setibanya di gereja itu, Lala bertemu kembali dengan pamannya. Mereka naik ke atas gedung gereja dan melihat kedua orang tua Lala sedang berdoa. Ibu Annie Prasetyo, ibu Lala, segera memeluk Lala sambil mengucapkan syukur dan terima kasih kepada Yesus.

Lalu mereka semua turun ke bawah. Saat itu Lala merasa sudah sangat putus asa, dan berkata kepada ibunya bahwa ia mau mati saja. Ibu Annie mencoba menenangkan Lala. Dalam keadaan letih yang luar biasa tiba-tiba Lala melihat Yesus hadir di hadapannya. Mata Lala menatap lurus ke suatu titik. Orang-orang di sekeliling Lala mulai menengking-nengking, karena mereka berpikir Lala kembali didatangi oleh roh jahat. Namun Lala tetap tenang. Yesus mendekati Lala dan berkata, "Anak-Ku, Aku mengasihi engkau." Dia lalu membuka tangan-Nya dan mengajak Lala untuk berdoa, "Bapa Kami yang di sorga..." Lala mengikutinya dan semua orang menangis.

Tak lama kemudian perut Lala dipelintir oleh iblis dan dipukul. Lala menjerit kesakitan. Tangan kiri Lala tetap dipegang oleh Tuhan. Suasana menjadi gaduh, namun Lala sempat mendengar suara Yesus, "Percayakah engkau kepadaku?" Lala menjawab, "Saya mau percaya asalkan saya sembuh dulu!" Akhirnya Lala tidak sadarkan diri. Lalu ia dibawa ke ruang doa. Peristiwa yang menggemparkan terjadi. Dalam keadaan tidak sadarkan diri, keluar suara lemah dari mulut Lala, "Ya Yesus, Engkau Anak Allah Yang Maha Tinggi. Engkau adalah Mesias yang sudah mengalahkanku 2000 tahun yang lalu. Ampuni kami, Tuhan." Setelah terbatuk keras, Lala mulai sadar. Tuhan Yesus kembali bertanya kepada Lala pertanyaan yang sama, dan Lala segera menjawabnya, "Saya percaya Tuhan!" Tangan Tuhan menjamah wajah Lala dan seketika itu ingatan Lala mulai pulih. Ia dapat mengenali semua orang yang ada di ruangan tersebut. "Maukah Engkau memikul salib bersama-Ku?" tanya Yesus lagi. "Ya, saya mau!" jawab Lala dengan tegas. "Sampai maranatha," ucap Yesus sebelum Ia pergi berlalu.

Kehidupan Lala dipulihkan dan diubah menjadi baru. Pak Bambang dan Ibu Annie kini mulai terlibat aktif dalam pelayanan. Mereka percaya, bahwa segala sesuatu terjadi untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Tuhan. (Kisah ini telah ditayangkan 23 Juli 2007 dalam acara Solusi di SCTV).

Sumber Kesaksian :
Melanie Prasetyo
Posted by Hadi Kristadi for http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Monday, August 27, 2007

A Changed Life: A Story of Theological Student

Ini kisah yang saya dengar ketika saya mengajar pelajaran Alkitab di sebuah gereja GPdI di bilangan Tanjung Priok yang disubsidi oleh sebuah GBI yang sangat diberkati. Gembala GPdI itu, Yopi, ternyata saudaranya Oom Rorong, gembala GPdI tempat saya ikut Sekolah Minggu waktu kecil dulu. Sang gembala di Priok ini adalah orang Manado, berani menghadapi dan melayani para preman di lingkungannya. Ketika kerusuhan Tanjung Priok dulu meletus, ia berkeliling daerah konflik dengan aman.

Ketika ia mengikuti Sekolah Alkitab di Beji, di asrama itu ia satu kamar dengan seorang mantan preman, Frans (nama samaran) yang hidupnya berantakan sekali. Pada bulan-bulan pertama Frans masih didatangi teman-temannya yang bandar narkoba, tukang pukul dll. Namun pimpinan Sekolah Alkitab dengan tegas melarang Frans berhubungan dengan para teman-teman lamanya lagi. Kepada Frans Yopi ini sesumbar bahwa dirinya berasal dari desa di Minahasa yang paling gila ilmu santetnya. "Kalau gua mau ambil usus, tinggal cabut aja. Gampang!" kata Yopi agar Frans gentar kepadanya.

Suatu saat Pdt. J.E Awondatu yang mengajar di Sekolah Alkitab di Beji itu menegur kelakuan Frans. Karena pada waktu itu temperamen Frans masih liar, ia tidak terima ditegur seniornya. Ia tidak menunjukkan gelagat melawan atau marah pada saat ditegor itu. Ia rupanya merencanakan sesuatu yang jahat terhadap Pdt. Awondatu tersebut.

Sore itu di ruang kelas itu Yopi sedang duduk siap-siap akan keluar setelah kuliah selesai. Di belakangnya duduk Frans. Dari sudut matanya ia merasa Frans mengangkat batang besi. Saat itu Pdt. Awondatu melintas di pintu kelas. Frans siap mengayunkan batang besi, seperti linggis besar. Secepat kilat Rudy mendorong Pdt. Awondatu dan ayunan batang besi Frans menghujam ke tanah. Pdt. Awondatu diluputkan dari serangan maut itu. Frans kemudian diamankan oleh Rudy. Di hadapan Rudy Frans tidak berkutik karena takut. Lalu teman-teman kuliah yang lainpun mengamankan Frans.

Pimpinan Sekolah Teologi itu memberi pilihan kepada Frans: ia harus keluar dari Sekolah apabila tidak mau mengikuti Tata Tertib atau tetap tinggal dengan syarat ia harus sungguh-sungguh bertobat. Frans bilang, "Kalau saya keluar, hidup saya akan makin bejat. Saya memilih tinggal dan belajar di Sekolah Alkitab saja." Pimpinan bilang dengan tegas, "Boleh, tapi kamu harus bersujud selama tujuh jam di sini!" Hukuman itu memang berat, namun ampuh untuk menguji kesungguhan seseorang.

Frans yang tadinya masih hidup setengah-setengah, setengah taat, setengah liar, rupanya menyadari, dengan sungguh-sungguh bertobat, ia akan mengalami perubahan kehidupan. Hari itu juga ia menguatkan tekadnya, ia bertelut di ruang kelas itu selama tujuh jam. Dengan susah payah ia harus menunjukkan bahwa ia ingin berubah, ia mau bertobat. Sejak saat itu hidup Frans berubah. Dengan pertolongan Tuhan Yesus ia mengalami kelahiran kembali. Ia menjadi ciptaan baru, kehidupan yang lama sudah berlalu dan kehidupan yang baru sudah datang. Menurut kabar dari Yopi, sekarang Frans melayani di sebuah GPdI di Bekasi dan menjadi berkat bagi banyak orang. Puji Tuhan! Posted by Hadi Kristadi for http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Friday, August 24, 2007

AIDS

Tadi siang kami mendoakan seorang ibu yang minggu lalu divonis terkena virus HIV. Wanita ini baru berusia 41 tahun, tampak kurus dan lemah dengan gejala batuk dan buang-buang air. Sampai saat kami mendoakan, dia belum diberitahu penyakit apa yang sesungguhnya dideritanya. Ketika tadi kami melayani, saya mengajak wanita ini untuk meminta dibaptis Roh Kudus. Setelah diberi penjelasan sedikit tentang baptisan Roh Kudus, di tempat pembaringannya Bapa Sorgawi mencurahkan Roh-Nya dengan dahsyat. Wanita ini dipenuhi dengan kekuatan baru, kasih, damai sejahtera, dan sukacita oleh Roh Kudus.

Suami wanita ini dulunya adalah seorang pelaut yang suka judi dan main perempuan. Delapan tahun yang lalu suaminya pergi meninggalkan dirinya dan satu orang anak wanita berusia tiga tahun. Suaminya bukan pergi meninggalkan keluarganya begitu saja, namun juga meninggalkan utang banyak karena suaminya ini menipu para TKW yang sudah membayar banyak dan berharap akan dikirim ke mancanegara, namun uangnya dihabiskan di meja judi. Isterinya sangat kesulitan dikejar-kejar penagih utang. Sekarang ternyata suaminya bukan hanya meninggalkan utang, namun meninggalkan benih virus HIV. Memang suaminya telah meninggal di Batam dan menurut keterangan dia meninggal karena virus HIV AIDS.

Tanpa keahlian yang memadai, sepeninggal suaminya ia hanya dapat bekerja sebagai penjahit. Ia bekerja menjahit di tempat usaha saudaranya. Setiap minggu ia hanya membawa pulang Rp. 200 ribu. Apabila satu hari tidak masuk kerja, karena sakit umpamanya, upahnya dipotong Rp. 40 ribu. Dengan uang begitu kecil, ia harus membayar sewa satu unit rumah di Rumah Susun Klender, dan membesarkan seorang anak perempuan yang kini berusia 11 tahun dan menanggung ayahnya yang juga ikut dirinya untuk menjagai anak perempuannya, keluarga ini sangat kesulitan keuangan. Namun yang luar biasa, wanita Manado ini tidak pernah mengeluh, tidak pernah meminta-minta uang atau meminjam uang. Seringkali dirinya harus puasa atau anaknya hanya makan nasi yang ditaburi garam dan minyak jelantah supaya ada aroma bekas gorengan.

Minggu lalu wanita ini diperiksa di RS Persahabatan dan dokter di sana mengadakan pemeriksaan darah secara khusus, ia terbukti positif terkena virus HIV/AIDS. Karena keluarga ini kesulitan keuangan, maka ia hanya berobat jalan. Gereja dimana ia biasa beribadah tidak dapat memberi bantuan keuangan karena pengurus gereja ini mengaku bahwa mereka adalah gereja kecil dan tidak memiliki dana diakonia. Oleh karena itu, selain mendoakan wanita itu, kami juga menyampaikan bantuan dana dan makanan dari gereja.
Posted by Hadi Kristadi for http://pentas-kesaksian.blogspot.com

God in the Hard Times (2)

Setelah mobil itu berhenti dan terguling di sisi jalan dan ketika para orang tua menoleh ke belakang, ke arah anak-anak yang duduk di kursi paling belakang, kursi belakang patah jadi dua dan melesak ke kursi tengah. Yang aneh, bagian belakang Kijang itu rusak berat tepat di tengahnya, memisahkan dua orang anak di sisi kiri dan dua orang anak di sisi kanan, namun semuanya selamat tanpa luka yang serius. Kijang baru itu rusak parah, namun mereka melihat kebaikan Tuhan. Mereka tidak terlalu dirugikan karena mobil baru ini telah diasuransikan, sehingga mereka mendapat penggantian.

Kebaikan Tuhan dinyatakan dalam urusan cicilan rumah mereka. Kakak isterinya, seorang dokter bujangan yang tinggal di Surabaya menolong dengan meminjamkan uang kepada mereka agar cicilan rumah dapat terbayar. Kiriman uang dari dokter baik hati ini senantiasa datang tepat pada waktunya sampai rumah itu lunas terbayar.

Pada suatu hari keluarga ini mengundang dokter, kakak isterinya yang tinggal di Surabaya itu, untuk datang ke Jakarta ikut mengadakan syukuran atas rumah mereka yang telah lunas. Undangan sudah disampaikan kepada kakaknya dan pada hari syukuran itu diadakan datang telpon dari Surabaya. Itu adalah kabar buruk. Sang dokter ditemukan tewas dibunuh orang di tempat prakteknya. Sampai detik ini polisi tidak dapat menemukan siapa pelaku pembunuhan sadistis itu. Dokter yang baik hati itu pulang ke Rumah Bapa dengan cara yang mengenaskan. Itu merupakan pukulan berat bagi keluarga yang sudah banyak dibantu. Pada waktu itu suami isteri ini sempat kecewa, ”Mengapa Tuhan tidak melindungi kakak isterinya yang baik hati itu? Mengapa ia meninggal secara tragis?” Namun iman isterinya kemudian bangkit. Isterinya percaya bahwa Tuhan tidak pernah merancangkan kejahatan dan pembunuhan. Tuhan tidak merancangkan yang jahat dan yang menghancurkan. Hanya mereka belum mengerti maksud Tuhan dan mengapa kakaknya meninggal seperti itu. Isterinya percaya bahwa dalam setiap keadaan dan dalanm kesulitan seperti itupun Tuhan ingin mereka mengandalkan Tuhan dan percaya bahwa Ia selalu baik dan sangat baik.

Sejak saat itu berkat Tuhan mengalir dengan berlimpah. Orang ini kini menjadi pengusaha. Ketika ia bersama isterinya berkisah di atas pesawat dalam perjalanan dari Singapura ke Jakarta, Pdt. Edward Supit yang mendengarkan kesaksiannya bertanya, ”Bapak ke Singapura dalam rangka apa nih?” ”Oh, kami baru saja melihat-lihat property di Singapura untuk kedua anak kami yang akan studi di sana, sementara anak ketiga bersekolah di Gandhi International School. Hari Minggu kemarin kami ikut kebaktian di Bethany Church Singapore dimana Bapak berkhotbah di Ibadah Raya yang kedua. ”

Dimulai dari kehidupan dengan gaji total Rp. 650 ribu, kini usahanya telah berkembang pesat, bisa menyekolahkan anak di luar negeri dan membeli apartemen di Singapura. ”Kalau saya melihat ke belakang, waktu itu nampaknya mustahil kami akan sampai pada kehidupan seperti sekarang ini. Untunglah saya dikaruniai Tuhan seorang isteri yang memiliki iman yang tangguh dan dia merupakan seorang pendoa yang tekun.
Isteri saya selalu yakin bahwa Tuhan selalu dapat diandalkan dalam masa-masa sulit.

Semua ini berkat doa-doa isteri saya, sehingga kami ada sebagaimana kami ada saat ini dan sayapun sekarang telah percaya kepada Tuhan. Semua ini karena anugerah Tuhan semata-mata. Apa yang tidak pernah kami lihat dengan mata kami, apa yang tidak pernah kami dengar dengan telinga kami, dan apa yang tidak pernah timbul di dalam hati kami, itulah yang Tuhan sediakan bagi kita yang mengasihi Dia.” (Tamat)
Posted by Hadi Kristadi for http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Thursday, August 23, 2007

God in the Hard Times (1)

Kesaksian ini didengar Pdt. Edward Supit ketika ia sedang naik pesawat dalam perjalanan pulang dari pelayanan di Bethany Church Singapore, dikisahkan oleh seorang pengusaha bersama isterinya.

Demikianlah kisahnya:
Ketika ia baru merantau ke Jakarta, ia pertama kali bekerja mendapat gaji Rp. 350 ribu. Kemudian ia bertemu dengan seorang wanita yang akhirnya menjadi isterinya. Pada waktu itu isterinya bekerja dengan gaji Rp. 300 ribu. Ketika mereka menikah, dengan penghasilan bersama Rp. 650 ribu, sudah termasuk uang transport dari perusahaan, mereka hidup pas-pasan, bahkan sebenarnya kekurangan. Suaminya setia bekerja di suatu perusahaan sampai 10 tahun. Untunglah isterinya merupakan seorang pendoa yang tangguh. Dalam kesulitan apapun isterinya senantiasa mengandalkan Tuhan dalam doa-doanya.

Pada suatu ketika setelah 10 tahun bekerja, ia mengambil suatu keagenan dari luar negeri. Walaupun tidak memiliki modal besar, suaminya bertekad berbisnis sampingan untuk menunjang keuangan keluarga. Isterinya mendukung dan berseru, ”Bagi Allah tiada yang mustahil!”

Setelah uang tabungan dirasa cukup, akhirnya ia mengimport suatu barang dari Amerika Serikat. Sementara itu ia belum berani meninggalkan pekerjaannya. Bisnis itu ia lakukan sebagai sambilan saja. Ketika barang itu datang ke Jakarta, di bulan Juli1997, pas terjadi krisis moneter. Semua kegiatan perekonomian lumpuh. Tak ada satupun pengusaha yang ingin investasi membeli barang yang diimportnya. Barang itu teronggok di gudang. Kesulitan keuangan muncul karena mereka sedang mencicil rumah tinggal mereka dan saat itu bunga deposito dan bunga pinjaman melambung sangat tinggi. Mereka sangat kesulitan membayar cicilan sementara gaji orang ini tidak naik. Lalu, kesulitan berikut adalah isterinya saat itu sedang hamil anak yang ketiga.

Kesulitan demi kesulitan menerpa orang ini. Pada suatu pagi isterinya telah menyiapkan makan siang untuk suaminya sementara mobil di parkir di depan rumah. Malang sekali hari itu, ketika akan pergi ke kantor dan membawa bekal makan siang itu mobil Kijang satu-satunya milik mereka hilang dicuri orang pada pagi itu. Ia sudah mengalami kerugian karena barang importnya tidak terjual, kesulitan mencicil rumah mereka, isteri sedang hamil anak ketiga, mobil Kijang dicuri pula. Tetapi isterinya terus berdoa dan tetap percaya bahwa pertolongan Tuhan tidak pernah terlambat. Tuhan akan datang tepat pada waktu-Nya.

Secara manusia ia tidak tahu bagaimana Tuhan akan menolong. Isterinya tetap percaya bahwa mereka mempunyai Tuhan yang kreatif, Tuhan yang tidak pernah kehabisan akal.
Mereka berjuang dalam doa dengan Tuhan. ”Sebenarnya saya ini sudah hampir menyerah menghadapi kesulitan kami,” kata sang suami yang dulunya merupakan orang yang skeptis terhadap kekristenan bahkan dapat disebut sebagai seorang atheis. Memang ia memiliki otak yang cemerlang. Segala hal ditimbang dan dianalisa dengan otaknya saja. Kalau masuk akal, oke. Kalau tidak, ia tidak akan percaya apa yang dikatakan Alkitab. Orang ini sangat mengandalkan intelektual dan pertimbangannya sendiri. Namun isterinya percaya bahwa suatu saat Tuhan akan menjamah kekerasan hati suaminya yang tidak mau percaya dan mengandalkan Tuhan.

Tuhan memulihkan perekonomian keluarga ini pelan tapi pasti. Mobil Kijang yang hilang itu diasuransikan dengan nilai Rp. 30 juta. Ketika hasil claim diperoleh, dengan uang Rp. 30 juta itu ia tidak dapat membeli mobil karena harga-harga mobil meningkat sekitar dua kali lipat. Harga mobil Kijang baru saat itu di atas Rp. 100 juta. Harga mobil bekaspun ikut-ikutan naik.

Tuhan itu baik, bahkan sangat baik. Bisnis sampingannya kemudian bisa berjalan, dan dalam suatu transaksi ia mendapat keuntungan yang cukup lumayan, sehingga akhirnya terkumpul uang untuk membeli mobil Kijang baru senilai Rp. 110 juta.

Kesulitan terus membuntuti keluarga ini. Pada suatu hari teman isterinya ingin pergi bersama ke Bandung naik Kijang baru ini. Suami isteri duduk di kursi depan, teman isterinya sepasang suami isteri duduk di kursi tengah, tiga anaknya dan satu anak teman isterinya duduk di kursi paling belakang. Di jalan tol Jakarta Cikampek menuju Bandung tiba-tiba mobil baru itu ditabrak truk gandengan. Kijang itu mental berguling-guling dan nyungsep di sisi kiri jalan tol. Isterinya berteriak, ”Tuhan Yesus, tolooooooooooooong!” (Bersambung)

Posted by Hadi Kristadi for http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Wednesday, August 22, 2007

Blessed from the Royalty of Ring Back Tones

Saat ini bukan saja group-group band terkenal yang semakin kaya menuai rezeki dari industri musik dan telekomunikasi melalui Ring Back Tones (RBT). Namun seorang penggubah lagu yang tanpa sengaja menggubah lagu "Janji-Mu S'perti Fajar" mendapat penghasilan dari RBT lagu tersebut tak kurang dari Rp. 30 juta setiap bulan. Padahal ketika itu Afen Hardiyanto sedang dalam keadaan banyak masalah, dan kehidupan ini seperti tanpa harapan. Untunglah pada saat itu ia mengandalkan Tuhan, tempat jawabannya.

Coba renungkan, lagu ini dicipta dari kenyataan hidup penggubahnya. Rasakan betapa sulitnya memilih jalan yang harus dipilih. Ia tak mampu, ia tak sanggup. Namun, satu hal, ia memiliki Tuhan, tempat jawabannya. Pada saat-saat yang sulit ia merasakan bahwa ia tak pernah sendirian. Bahkan Allah menggendong, membelai dan memuaskan dengan cinta kasih-Nya. Itulah pertolongan Tuhan yang tidak pernah terlambat datangnya, sepasti datangnya fajar di setiap pagi hari.

JANJI-MU S'PERTI FAJAR
Afen Hardiyanto

KETIKA KUHADAPI KEHIDUPAN INI
JALAN MANA YANG HARUS KUPILIH
KU TAHU KU TAK MAMPU
KU TAHU KU TAK SANGGUP
HANYA KAU TUHAN TEMPAT JAWABANKU

AKU PUN TAHU KU TAK PERNAH SENDIRI
S'BAB KAU ALLAH YANG MENGGENDONGKU
TANGAN-MU MEMBELAIKU
CINTA-MU MEMUASKANKU
KAU MENGANGKATKU KE TEMPAT YANG TINGGI

REFF:
JANJI-MU SEPERTI FAJAR PAGI HARI
DAN TIADA PERNAH TERLAMBAT BERSINAR
CINTA-MU SEPERTI SUNGAI YANG MENGALIR
DAN KU TAHU BETAPA DALAM KASIH-MU

Posted by Hadi Kristadi for http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Tuesday, August 21, 2007

Before Sickness Changes Your Life Priority

Pada tahun 1971 di Plano, Texas, USA, seorang wanita bernama Linda melahirkan seorang anak laki-laki yang diberi nama Lance. Wanita ini melakukan apa yang banyak dilakukan ibu-ibu terhadap anak laki-lakinya. Ia membentuk temperamen anak itu dengan melibatkannya dalam berbagai jenis olah raga. Lance segera menunjukkan kemahirannya sebagai seorang atlit dan pada usia 13 tahun keahlian anak itu makin nyata ketika ia memenangi Lomba Triatlon Iron Kids, sebuah perlombaan yang merupakan kombinasi dari berenang, bersepeda dan berlari. Tiga tahun kemudian pada usia belia 16 tahun ia telah menjadi atlit triatlon yang profesional. Ketika semua anak-anak lain sedang berjuang di SMU dan mengikuti kompetisi olahraga amatir, Lance mendapat banyak uang sebagai seorang atlit.

Lance bekerja keras dan kadang-kadang latihannya membawanya ke ujung negara bagian, di perbatasan Oklahoma. Pada saat seperti itu ia akan menelpon ibunya, minta dijemput karena hari sudah sore. Ibunya akan mengemudikan mobil di bawah langit Texas yang lembayung untuk menjemput anak kesayangannya. Kini sudah jelas bahwa Lance tidak akan lagi menjadi atlit triatlon karena dalam salah satu cabang dari tiga cabang olahraga triatlon itu ia sangat menguasai, jauh lebih hebat dari atlit yang usianya dua kali lipat dari dirinya. Pada usia 18 tahun Lance bahkan diikutsertakan dalam latihan bersama team Olimpiade USA di Colorado Springs. Kesibukan olah raganya hampir mengorbankan sekolahnya. Untunglah sekolah pribadi diatur sehingga ia dapat lulus SMU. Ia terus gilang gemilang dalam olah raga pilihannya sehingga membuat ia terkenal ke seluruh dunia.

Pada tahun 1996 di tengah suatu perlombaan, Lance mengalami nyeri yang luar biasa sekali sehingga ia meninggalkan gelanggang perlombaan. Pemeriksaan kesehatan selanjutnya menemukan kanker stadium lanjut yang sudah bekembang ke paru-paru dan otaknya. Anak muda yang bertubuh atletis dan ceria itu harus melewati tiga kali operasi dan pengobatan lanjutan yang intensif dengan kemoterapi. Karier olah raganya tidak dipusingkan lagi. Para dokter mengatakan kemungkinan hidupnya hanya 50/50 dan kanker itu membuatnya ketakutan secara jasmani dan emosi. Lance mengaku bahwa sakit penyakitnya sangat mengubah kehidupan dan prioritas-prioritasnya.

Beberapa bulan lalu saya kaget bertemu dengan kenalan lama yang pernah saya kenal di Abbalove. Ketika bertemu kembali ia sudah terkena stroke, padahal usianya saat ini baru 40 tahunan. Walaupun ia sudah bisa berjalan dengan tertatih-tatih, namun aktivitasnya menjadi sangat terbatas. Kemana-mana ia harus ditemani isterinya. Gerakan dan vitalitas kehidupannya sangat jauh berkurang, padahal dulu dia adalah seorang profesional dan pengusaha muda yang sangat bersemangat.

Mari kita menata kehidupan yang penuh arti, kehidupan yang menjadi berkat bagi orang lain dan bagi kemuliaan nama Tuhan. Itu adalah investasi kehidupan yang pasti tidak mengecewakan. Mari kita tinggalkan ’legacy’ atau warisan yang tidak hanya berbentuk harta benda bagi anak cucu, namun yang lebih bernilai adalah membagikan hidup pada banyak orang.

Contoh dari kisah Perjanjian Lama membuktikan betapa pentingnya kita membagikan kehidupan yang menghasilkan generasi penerus yang handal. Elisa memiliki urapan dua kali lipat Elia. Namun Elisa gagal memuridkan Gehazi yang rakus dan mata duitan. Elia berhasil mendidik dan memuridkan Elisa. Elia membangun penerus yang lebih hebat daripada dirinya. Elisa, meskipun nabi yang urapannya lebih hebat dari gurunya, gagal membangun kader yang lebih hebat dari pada dirinya.

Apakah prioritas kehidupan anda saat ini? Sakit penyakit yang serius mengubah kehidupan banyak orang. Jangan sampai hal ini terjadi pada anda. Ubahlah kehidupan dan prioritas kehidupan kita tanpa dipaksa sakit penyakit.
Posted by Hadi Kristadi for http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Monday, August 20, 2007

God's Favor Upon A Businessman

Ini kisah seorang pengusaha yang masa lalunya sangat menderita ketika pada umur enam tahun ditinggal pergi oleh papanya yang seorang guru karena papanya menikah lagi dengan muridnya sendiri, yang usianya lebih muda dari adik perempuannya. Dengan susah payah mamanya membesarkan dirinya dan adik-adiknya dengan menjahit pakaian. Pekerjaan ini sangat berat bagi ibunya sehingga pada usia 12 tahun ia dan adik-adiknya ditinggal mati ibu mereka yang menderita sakit asma.

Mulailah kehidupan yang lebih menderita lagi bagi kakak beradik itu. Mereka tinggal di rumah paman, adik ibu mereka. Untuk mencari uang ia mengantri di tempat praktek dokter yang laris dan "menjual" nomor antrian itu kepada pasien yang membutuhkan. Pekerjaan apapun ia lakukan untuk menyambung hidup dan bersekolah.

Pada suatu hari kakak beradik ini berselisih dengan anak sang paman. Memang selama ini saudara sepupu ini sudah iri dan dengki kepada mereka. Seringkali mereka harus menahan kepedihan hati karena sering diejek dan dihina saudara sepupu. Semuanya ini mereka tahan dan bersabar saja karena mereka tahu diri menumpang pada sang paman. Kali ini saudara sepupu mereka mengadu kepada sang paman dan meminta papanya untuk mengusir kakak beradik ini. Mereka akhirnya harus meninggalkan rumah itu dan mencari tempat kontrakan yang sangat sederhana. Pergumulan mencari penghidupan bagi kakak beradik ini. Dalam kesulitan seperti ini mereka tidak pernah sampai kelaparan. Kakak mereka bekerja sambil sekolah untuk menghidupi ketiga adik-adiknya. Keuletan dalam berbisnis sudah diasah sejak kecil dan makin lama ia makin berhasil dalam usahanya.

Kini ia telah sukses sebagai pengusaha, importir lampu dan perlengkapan elektronik lainnya. Suatu saat ia berkesempatan datang ke Taiwan, tempat ayahnya sekarang tinggal. Ketika berjumpa dengan ayahnya, ia sudah dapat mengampuni ayah yang tak bertanggung jawab itu. Padahal ibunya melarang dia bertemu dengan ayah yang tak setia dan tak punya hati terhadap keluarganya. Ayahnya ternyata hidup susah di Taiwan. Ia meminta banyak uang dari dirinya, bahkan minta diizinkan tinggal di rumah anaknya ini di Jakarta. Karena desakan adik-adiknya, ia menolak keinginan ayahnya dan tetap mengirimkan uang seperlunya kepada ayahnya. Ia sudah mengampuni dosa-dosa ayahnya karena ia sudah lahir baru. Melihat ke belakang, ia bisa melihat bahwa dalam segala perkara Allah turut bekerja untuk mendatangkan kebaikan bagi orang yang mengasihi Dia.
Posted by Hadi Kristadi for http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Thursday, August 16, 2007

Intimate Relationship with the Heavenly Father

Sebuah pengalaman dari Ari, seorang Managing Director sebuah perusahaan konsultan manajemen yang sering memberi training kepada karyawan perbankan dan perusahaan lain, cukup memberi inspirasi tentang hubungan kita dengan Bapa Sorgawi. Pada suatu ketika Ari Kiswanto beserta ketiga anak-anak perempuannya berlibur ke Singapura. Sebagaimana biasanya anak-anak ABG ini diajak berdoa dulu, mengucap syukur karena mereka telah tiba di Singapura dengan selamat dan berdoa dengan pokok-pokok doa pribadi yang lain. Meskipun anak-anak ini mulanya ogah-ogahan berdoa, namun mereka akhirnya taat juga.

Setelah berdoa, Ari membagikan tiga amplop. Ketiga ABG itu semangat dan senang sekali ketika melihat di dalamnya ada beberapa lembaran uang dollar Singapura. "That's for you, guys!" kata Ari yang terbiasa berbicara bahasa Inggris dengan mereka. "It's time for shopping now! Who's gonna go with me?" Anak yang pertama diajak pergi shopping dengan ayahnya ogah, "Wah, boring deh jalan-jalan ama Daddy!" Begitu juga ABG yang kedua. Lalu ABG yang ketiga mau ikut dengan Ari.

Kedua ABG pertama dan kedua selama tiga hari piknik dan berbelanja itu memisahkan diri dari Ari. Mereka lebih asyik jalan sendiri-sendiri. Anak yang ketiga, mungkin karena masih kecil, lebih suka bepergian dan berbelanja dengan ayahnya. Ketika Ari melihat sepatu dipajang di toko tertentu dan nampaknya cocok, ia akan berkata kepada anak ketiganya, "Let's try the shoes for you!" Anaknya mencoba.
"Do you like these shoes, darling?"
"Well, it's OK for me!"
"Who's gonna pay for that?"
"It's you, Daddy!"

Begitu juga kalau ada gaun, kalau ada T-Shirt, atau boneka, Ari akan mengajak anak ketiganya mencoba barang-barang yang mungkin disukai anaknya ini.
"Do you like it, darling?"
"Sure!"
"Who's gonna pay for it?"
"Of course, it's you, Daddy!"

Berkali-kali anaknya belanja bagi keperluan dirinya dan berkali-kali anaknya selalu bilang, "You pay for that, Daddy!" Ari senang sekali membelikan barang ini dan itu yang disukai anak ketiga yang menyertainya ini. Alih-alih uangnya habis, uang yang diberikan Ari kepada anak ketiganya ini masih utuh.

Pada hari terakhir ketika mereka sudah berada di Airport Changi, ketiga ABG ini kerepotan membawa barang-barang belanjaan mereka. Ketiga anak itu hampir sama banyaknya membawa tentengan barang-barang kesukaan yang mereka beli. Bedanya, anak pertama dan kedua telah kehabisan uang sakunya untuk belanja. Anak ketiga sekarang baru belanja di "Mall" Changi Airport, sementara kedua kakaknya melongo. Anak ketiganya puas berbelanja sendirian. Karena ia dekat dengan daddy-nya, ia selalu dibayari daddy dalam berbelanja, sekarang dia bisa memuaskan diri setelah selama ini menyenangkan hati daddy-nya.

Demikian juga anak-anak Tuhan yang selalu intim dengan Tuhan, yang selalu ingin menyenangkan hati Bapa Sorgawi, maka jangan heran kalau Bapa Sorgawi akan mencurahkan kasih karunia-Nya yang berlimpah-limpah. Ia sangat senang kepada anak Tuhan yang mencari hati-Nya, bukan tangan-Nya untuk mencari berkat. Ia sangat senang kepada anak Tuhan yang mengasihi diri-Nya, bukan mengasihi berkat-berkat-Nya saja. Ia sangat senang kepada anak Tuhan yang mau melekat kepada-Nya seperti Daud.
Posted by Hadi Kristadi for http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Wednesday, August 15, 2007

Kasih Karunia

Di Yayasan Mahanaim (Bekasi) mantan pemulung dan penodong diberi makan dan uang beberapa ribu rupiah per hari. Pada suatu hari seorang mantan penodong berkata kepada Iin Tjipto Wenas sebagai pembimbing rohaninya: "Bu, jika saya diberi uang sebanyak itu, tidak cukup. Dulu waktu masih jadi penodong biasanya saya mendapat Rp. 100.000,00 per hari.

"Saya tidak dapat memberi kamu uang sejumlah itu," kata Iin.
"Kalau begitu, saya minta ijin satu kali ini saja untuk menodong."
"Coba saja, tetapi kamu bertanya dulu kepada Roh Kudus. Boleh tidak?"

Dia lalu berdoa, dan katanya lagi kepada Iin, "Oleh Tuhan dibolehkan pergi." "Ya, pergilah," jawab Iin. Kemudian dia pergi ke tempat pertemuan gangnya.

Temannya bertanya, "Sudah tiga bulan kamu tidak kelihatan, ke mana saja?" "Aku sudah bertobat tiga bulan ini, tetapi sekarang ini aku tidak kuat, ingin menodong lagi." Lalu temannya berkata, "Kamu ini sudah bertobat ingin kembali lagi, sedangkan aku ingin bertobat, tidak bisa. Sudah, jangan menodong lagi, ini aku beri kamu uang. Kamu butuh berapa? Kamu bertobat saja." Temannya ini dipakai Tuhan supaya dia tidak melakukan dosa lagi, karena sebelumnya dia sudah berdoa.

Dengan hati terbuka kita perhatikan dengan seksama bahwa, cara Tuhan itu bukan cara kita. Yang dapat mengubah adalah Tuhan Yesus dengan pertolongan Roh Kudus. Itulah sebabnya, selalu berkomunikasi dengan Roh Kudus, menjadi pelajaran penting. Kita mungkin juga seperti penodong itu dalam hal dosa-dosa.

Ini pengalaman Drg. Yusak Tjipto sendiri. Pada suatu hari dosa mata keranjangnya kambuh lagi dan ia berkata kepada Tuhan, "Tuhan, mata keranjang saya kambuh lagi." Lalu Tuhan berkata, "Aku tidak suka!" Ia berkata, "Yang tidak suka itu Engkau, tetapi aku suka. Jika kambuh begini, bagaimana? Tolong saya, Tuhan!" Tuhan tidak menjawab, dan ia anggap Tuhan setuju. Lalu ia berencana untuk datang ke rumah perempuan yang ditaksirnya itu, padahal Yusak Tjipto sudah beristri. Saat siap-siap untuk berangkat, ketika ia masih di dalam kamar, entah mengapa, seperti ada yang menariknya untuk menengok ke tembok. Dan di situ, ia melihat mata Tuhan.

Yusak Tjipto terkejut lalu berkata kepada Tuhan, "Tuhan, kenapa mata-Mu ada di tembok?" Tuhan berkata, "Kamu diberitahu tidak taat, dicegah tidak bisa, jadi caranya Aku langsung lihat saja." Ia berkata, "Tuhan, aku akan berbuat dosa kenapa Engkau lihat?" Akibatnya ia tidak jadi berbuat dosa, karena mata Tuhan terus memandanginya.

Itulah cara Tuhan. Belajarlah jujur di hadapan-Nya, bersikap apa adanya, maka Tuhan pasti akan menolong dan mengarahkan kita. Namun kita jangan menantang seperti kedua orang di atas. Tidak selalu Tuhan mencurahkan kasih karunia-Nya kepada setiap orang sehingga pada saat-saat akhir sebelum berbuat dosa kita ditolong-Nya. Kalau kita dibiarkan berbuat dosa karena kita tetap membandel, bagaimana? Rugi sendiri.
(Dari buku "Garis Akhir", ditulis oleh Drg. Yusak Tjipto, diedit seperlunya supaya enak dibaca)
Posted by Hadi Kristadi for http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Tuesday, August 14, 2007

Mau Naik Bajaj

Kalau saya teringat kesaksian dari Levi Supit, saya sungguh terharu atas apa yang terjadi dalam perjalanan kehidupannya. Setelah suaminya, Edward Supit, terpanggil untuk mendirikan jemaat dan membangun gedung gereja. Mereka sepakat menjual rumah yang mereka miliki, menjual mobil-mobil yang mereka miliki untuk membeli tanah dan membangun gedung gereja. Sejak itu mereka tinggal di rumah kontrakan. Dan sejak itu Edward kemana-mana menggunakan kendaraan umum.

Bahkan suatu saat ketika kehidupan mereka sulit sekali, Levi Supit harus rela menjual cincin perhiasan yang disukainya untuk kehidupan sehari-hari. Edward mengantar isterinya menjual cincin itu, namun ia tidak ikut sampai ke toko emas itu. Ia berdiri agak jauh dari sana. Malu juga rupanya kalau ketahuan orang lain, bahwa mereka sampai menjual milik pribadi.

Bukan itu saja pengorbanan pasangan ini. Levi Supit akhirnya juga keluar dari pekerjaannya di group Astra dengan posisi yang lumayan. Ia tinggalkan semua fasilitas kantor, termasuk mobilnya. Sejak itu kemana-mana Levi naik kendaraan umum, dan pernah juga naik Bajaj untuk pelayanan.

Bayangkan, Levi yang terbiasa naik sedan kemana-mana, ia rela naik Bajaj. Semuanya ia lakukan karena mengasihi Tuhan dan jemaat. Mereka berdua hidup prihatin waktu itu. Namun sekarang mereka sungguh diberkati Tuhan. Dulu mereka menabur dengan air mata, sekarang mereka menuai jiwa-jiwa dengan sorak sorai. Apa yang mereka perbuat bagi Tuhan, itu tidak pernah sia-sia.
Posted by Hadi Kristadi for http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Darlene Zschech

Darlene Zschech (baca: [dali:n tʃεk]) adalah Worship Pastor di Gereja Hillsong, Sydney, Australia. Darlene kebanyakan memimpin acara pujian dan penyembahan bagi Program TV Hillsong setiap minggu. Ia lahir 8 September 1965 di Brisbane, Australia.

Ia seorang Worship Leader, penyanyi, penggubah lagu, penulis buku, dan pembicara seminar. Lagu yang paling terkenal adalah “Shout To The Lord” yang diperkirakan dinyanyikan setiap minggu oleh 25 – 30 juta orang di seluruh dunia. Ia telah menulis tiga buku: Worship (1996), Extravagant Worship (2001) and The Kiss of Heaven(2003). Ia telah meluncurkan album solo "Kiss of Heaven" (2003) dan "Change Your World" (2005), selain banyak album bersama Hillsong Music Australia. Pada tahun 2000 Darlene menerima Dove Award sebagai “Songwriter of the Year” dan juga menerima penghargaan internasional dari Gospel Music Association.

Selain itu bersama suaminya Mark Zschech, ia melayani sebagai Direktur di Mercy Ministries, sebuah lembaga sosial yang membantu kehidupan para wanita di Australia yang mengalami gangguan makan, kehamilan yang tak diharapkan, dan persoalan lain yang menyangkut urusan keluarga. Diantara pelayanannya ke luar negeri, bersama suaminya ia mengadakan Mission Trip ke Afrika Tengah dan melakukan proyek ”Hope:Rwanda”. Itu adalah proyek internasional yang dirancang untuk membawa pengharapan bagi negeri yang pernah mengalami pembantaian massal pada tahun 1994. Proyek 100 Hari Hope dilakukan pada 6 April sampai 15 Juli 2006 untuk menebus 100 Hari Pembantaian Jutaan Orang Rwanda.

Meskipun ia banyak bepergian untuk pelayanan (minggu depan akan melayani di Bethany Surabaya bersama Joyce Meyer), Darlene yang dikaruniai 3 putri : Amy, Chloe dan Zoe, sangat menghargai perannya sebagai isteri dan ibu. Ia senang tinggal di rumah sebenarnya dan melayani di gereja lokalnya. Seperti yang ia katakan, ”Saya ini pertama-tama dan terutama adalah seorang penyembah, maka penyembahan akan muncul dalam setiap perkara yang saya lakukan.”

Dalam sebuah artikel yang ditulisnya bagi Christian Today, Darlene mengakui bahwa ia percaya setiap pemimpin harus bersentuhan secara fisik dengan masalah, bukan hanya membicarakan atau mengeluarkan uang untuk membereskan masalahnya saja. Hal itu memang oke, namun setiap pemimpin harus bersentuhan dengan masalah sampai hatinya tersentuh masalah. Hidupilah kehidupan yang mengandung risiko. Hidupilah kehidupan iman yang besar. Cara lain untuk berurusan dengan risiko adalah iman. Dengan iman kita mengatasi masalah yang mengandung risiko.

Sebagai manusia, kita cenderung menghindari risiko dari kehidupan kita. Meskipun kita termasuk orang Kristen yang dewasa, kita dapat berlaku seperti itu. Namun, ingatlah Tuhan Yesus, Ia hidup dalam kehidupan yang penuh risiko, bersentuhan dengan kebutuhan orang-orang banyak dan membiarkan masalah-masalah itu menyentuh hati-Nya, setiap masalah dunia ini sangat dekat dengan-Nya. Sangat disayangkan kalau kita menjaga jarak dengan tantangan-tantangan dunia yang ada di depan kita. Darlene menantang kita semua untuk menarik masalah kemiskinan dan masalah sosial agar menyentuh hati kita, dekat di hati kita, sehingga kita tergerak untuk berbuat sesuatu. Darlene ingin menjadi generasi yang dapat berkata: ”Jangan biarkan masalah itu. Semua masalah harus berubah di dalam kita. Mari kita ubah dunia ini!”
Posted by Hadi Kristadi for http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Monday, August 13, 2007

Anak Anak Kita

Jumat malam yang lalu (10/8/07) anak-anak Sekolah Minggu diundang untuk menghadiri khotbah dari Pdt. Suryadi Sunarko tentang "Pengaruh Buruk Film, Games, dan Komik". Banyak anak-anak hadir ke rumah seorang pengusaha yang murah hati menyediakan rumahnya di bilangan Pondok Indah untuk pertemuan itu. Banyak anak-anak yang baru tahu bahaya film Spiderman3, games Ragnarock, film Avatar, dan komik tertentu yang berpengaruh buruk pada perkembangan jiwa anak2, dan bahaya film lain, di luar sinetron tentang hantu dan sejenisnya.

Namun yang lebih indah anak-anak itu bukan hanya dilarang menonton film negatif, main games atau baca komik negatif, Kak Suryadi juga mengajarkan tentang Kasih Bapa yang menggantikan kekosongan di hati anak-anak itu. Yang penting, anak-anak itu harus dipuaskan dengan kasih Tuhan dan dengan firman Tuhan.

Bicara soal anak-anak, kemarin saya mendengar kisah seorang ibu yang sibuk berkarier di sebuah perusahaan asing. Memang gajinya menggiurkan: tidak kurang dari lima puluh juta rupiah per bulan. Namun karena ia mempercayakan anaknya diasuh babysitter, ia akhirnya menyesal karena satu dari dua anaknya terjatuh sampai gegar otak dan perkembangan jiwanya terganggu. Anak ini menjadi idiot. Ibunya sadar dan meninggalkan pekerjaan di perusahaan asing itu meskipun gajinya besar, dan berkonsentrasi mengasuh anaknya. Sayang, sampai saat ini anaknya masih terkebelakang.

Anak-anak itu ibarat anak panah di tangan pahlawan, di tangan orang tuanya. Anak panah itu akan meluncur kemana, bergantung pada orang tuanya. Kita perlu menginvestasikan waktu dan kasih sayang bagi mereka, sebelum terlambat, yaitu sebelum dunia luar mempengaruhi anak kita dan sudah tidak dapat diubah lagi.

Salah satu contoh, seorang ibu yang telah ditinggal mati suaminya masih menanggung kesedihan karena bukan hanya dia menjadi single parent, namun anak lelakinya terikat narkoba. Anak ini bukan hanya menghabiskan uang ibunya, namun juga mengiris hati ibunya. Bagaimana masa depan anak seperti itu?

Anak-anak kita perlu perhatian lebih karena saat ini lingkungan sekitar, multi media memberondong anak-anak kita dengan pengaruh negatif yang sangat tersamar. Nilai-nilai dunia dijejalkan kepada anak-anak melalui film, games dan bacaan negatif. Apakah kita mau mempercayakan anak-anak hanya dididik di sekolah atau di gereja saja? Anak-anak adalah tanggung jawab kita sebagai orang tua. Berbahagialah orang tua yang anak-anaknya mempermuliakan nama Tuhan, membanggakan kita, dan menjadi berkat bagi banyak orang.
Posted by Hadi Kristadi for http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Friday, August 10, 2007

Gitar Hilang Ditemukan Kembali

Pada suatu hari Minggu bang Idang pulang pelayanan dari Bapindo Plaza Lt. 9 Assembly Hall. Sambil menenteng gitar listriknya dan barang lain ia membuka pintu mobil di tempat parkir. Barang-barang lain sudah dimasukkan lalu ia masuk ke mobil, menstarternya dan keluar dari kompleks gedung.

Di tengah jalan ia baru ingat bahwa gitarnya belum dimasukkan ke mobil. Gitar itu cukup mahal, namun yang lebih bernilai, karena bang Idang suka dengan gitar yang satu itu. Ia telpon seorang pengerja gereja dan minta tolong dicheck apakah gitarnya ketinggalan di tempat parkir, sementara iapun berbalik lagi ke Bapindo Plaza.

Pengerja itu akhirnya bersama-sama bang Idang memeriksa tempat sekitar dimana tadinya ia memarkir mobil. Dicari-cari tidak ada. Bahkan petugas satpam juga ikut membantu mencari. Mereka mencari-cari, bahkan melongok ke dalam mobil-mobil yang ada di sekitar situ, barangkali ada orang yang telah menemukan dan mengamankannya. Mereka akan meninggalkan tempat itu, dengan berpesan kepada petugas sekuriti: "Kalau hari Senin besok ada yang mengembalikan gitar itu, harap hubungi nomor HP bang Idang."

Namun pengerja gereja itu kemudian berdoa sejenak minta petunjuk Tuhan, lalu ada suara di hatinya: "Coba, periksa lagi di dalam Panther itu." Lalu ia melongokkan lagi kepalanya ke dalam Panther yang cukup gelap karena kaca mobilnya dilapis film.

Ketika ia mengamati ke dalam Panther itu, terlihat ada gitar di dalam dan ketika bang Idang melihat gitar itu, ia mengenalinya sebagai gitar miliknya. Karena pemilik Panther itu tidak tahu sedang kemana, maka mereka pesan kepada petugas sekuriti untuk menghubungi bang Idang kalau pemilik Panther itu mengembalikan ke Management Gedung. Akhirnya memang bang Idang menerima kembali gitarnya. Puji Tuhan!
Posted by Hadi Kristadi for http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Thursday, August 9, 2007

Jalan Keluar Dari Tuhan

Seorang manager yang bekerja di Jakarta mendapatkan pengalaman luar biasa dengan Tuhan belakangan ini. Hari Rabu kemarin dia diajak kakaknya terbang ke luar kota untuk menagih pembayaran atas pembangunan sebuah rumah mewah yang dibangun perusahaan kontraktor milik kakaknya. Denny sebetulnya ogah pergi di hari libur kemarin, namun karena kakaknya terus mendesak ia akhirnya mau ikut juga. Di hati Denny timbul keinginan kecil, ”Ah enaknya kalau bisa terbang di kelas bisnis ya?” Sesampai di airport, tiket kelas ekonomi ternyata habis, dan yang masih tersedia adalah kelas bisnis. Kakaknya langsung membayar dua tiket kelas bisnis bagi mereka.

Sesampai di kota tujuan kakaknya bertanya, ”Den, gimana strategi kita menagih orang ini? Aku sudah memerintahkan anak buahku di kota ini untuk menanyakan perihal pembayaran itu tapi tanpa hasil.”
”Bang, aku teringat sebuah kisah pada waktu aku saat teduh beberapa waktu lalu. Ada seorang ayah yang kehilangan anak di sebuah mall. Ia gelisah mencari kesana dan kemari. Namun sebelum ia melaporkan kehilangan anaknya ke petugas sekuriti di hatinya timbul suara, ’Berdoalah kepada Tuhan!’ Ia segera berdoa di tempat yang sepi. Beberapa menit kemudian, muncullah anaknya yang sedang ketakutan dan gelisah mencari dirinya. Jadi, dalam hal ini kita tidak usah mendatangi pemilik rumah itu. Yuk, kita cari order pembangunan rumah yang lain di kota ini.”
”Masa gitu sih?”
”Ya, berdoa saja, nanti Tuhan yang bereskan urusan tagihan ini.”

Kakak Denny akhirnya setuju. Mereka mendatangi kenalan-kenalan di kota itu. Seharian mereka menemui orang-orang itu. Pada sore harinya ternyata benar saja, kakak Denny mendapat order pembangunan rumah baru. Kakaknya pikir hanya itulah berkat Tuhan yang diterima. Keesokan harinya ketika mereka sudah kembali ke Jakarta, ada telpon masuk dari pemilik rumah yang tidak jadi mereka datangi itu.

”Pak, minta maaf ya, saya belakangan ini sakit. Maaf saya belum telpon bapak untuk melunasi pembayaran pembangunan rumah saya. Segera saya akan transfer hari ini ya!”

Kakaknya Denny kaget sekali. Ia tidak mengontak pemilik ini, namun orang itu digerakkan Tuhan untuk melunasi tagihannya segera. Kakak Denny bukan hanya terima pembayaran tagihan, namun juga terima order baru.
Posted by Hadi Kristadi for http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Tuesday, August 7, 2007

Bankir yang Pendeta - Kisah Chuck Ripka

Chuck Ripka adalah seorang bankir, mantan Vice President Riverview Community Bank di Otsego, Minnesota, USA, dan ia bukanlah bankir biasa. Ia biasa meletakkan tangannya, menggandeng tangan nasabahnya dan berdoa, “Tuhan, saya berdoa agar Engkau akan membawa kepada Matt dan Jaimie pembeli rumah mereka dengan tawaran harga terbaik sehingga mereka dapat memiliki uang untuk membeli rumah mereka yang baru seperti yang mereka inginkan. Dan saya berdoa, Tuhan, agar Engkau memberikan kepada saya hikmat agar saya dapat memberikan mereka nasihat terbaik untuk memenuhi kebutuhan keuangan mereka.”

Bank itu dibuka 18 bulan yang lalu sebagai ”Lembaga Keuangan Kristen” dengan sebuah Alkitab dikubur di fondasi gedung dan kata-kata: ”In God We Trust” terukir di batu penjuru gedung. Dalam 18 bulan itu simpanan bank melonjak dari US $ 5 juta menjadi US $ 75 juta. Namun yang mengesankan, sejak bank itu dibuka sudah 125 orang percaya kepada Tuhan Yesus dan telah terjadi mukjizat kesembuhan melalui pelayanan Ripka di bank itu. Aneh ya? Orang-orang menerima Tuhan Yesus dan kesembuhan ilahi di bank, bukan di gereja. Diantara yang menerima Tuhan Yesus adalah para karyawan bank dan pasangannya, para waitres restoran yang bersebelahan dengan kantor bank, dan para wartawan yang datang meliput pelayanan Ripka. Kesembuhan ilahi yang terjadi meliputi kesembuhan di punggung, leher, kaki dan pinggang, serta kanker. Beberapa orang mengaku mereka merasakan aliran hangat di tubuh mereka ketika didoakan Ripka di bank itu.

Mendengar apa yang terjadi di bank itu, seorang ibu menelpon. ”Saya mendengar bank kristiani di sini,” katanya kepada Ripka. ”Saya ingin mendepositokan uang saya US $ 1,5 juta di bank anda.”

Ripka yang menjadi anggota gereja Alliance Community Church di Elk River berkata bahwa Tuhan memberitahu kepadanya beberapa tahun yang lalu bahwa ia akan berkhotbah kepada bangsa-bangsa, namun tidak menyangka bahwa para wartawan dikirim ke kantornya untuk mendengarkan pesan-pesan Tuhan melalui dirinya.

Sebuah laporan utama tentang bank itu di Majalah The New York Times pada bulan Oktober 2004 telah memberi kesempatan kepada Ripka untuk membagikan kepada orang lain bagaimana Allah bekerja di dalam bisnisnya. Wawancara tentang bank itu telah menghasilkan pertobatan orang-orang dari media itu dan menerima Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat pribadi mereka.

Dalam buku terbarunya, “God Out Of The Box” Ripka mengajak para pembaca untuk memperhatikan suara Tuhan, meskipun itu berarti kita harus keluar dari zona kenyamanan. Meskipun ia mengaku lulusan SMU, Ripka menyatakan bahwa ketaatannya kepada Tuhan merupakan rahasia keberhasilannya dalam pelayanan di dunia usaha (market place).

Ia berkata bahwa Allah memberitahu dirinya pada tahun 1998: ”Jika engkau mempercayakan diri kepada-Ku, maka keluarkan Aku dari kotak yang ke dalamnya engkau meletakkan Aku. Engkau telah membatasi Aku, membatasi apa yang ingin Aku lakukan dalam kehidupanmu.”

Chuck Ripka seringkali berkata keceplosan kepada orang-orang, ”Ayo datanglah ke gereja, maksud saya ke bank ini.” Ia bukan pendeta, namun ia menggembalakan banyak orang melalui banknya. Ia adalah seorang gembala dunia usaha. Kalau orang menganggap ke gereja hanya pada hari Minggu, maka dari hari Senin hingga Sabtu orang-orang di luaran sana digembalakan siapa? Tidaklah salah sekarang ini Tuhan membangkitkan orang-orang semacam Chuck Ripka untuk menjadi gembala di dunia usaha. Ripka bukan hanya menolong orang secara profesional melalui urusan perbankan, namun juga mengkonseling mereka, mendoakan mereka, memberi nasihat dan tuntunan sesuai pesan Tuhan, dan segala hal lain yang biasa dikerjakan oleh seorang pendeta di gereja.

Ripka, yang telah menikah dan dikaruniai lima orang anak, berkata bahwa Allah belakangan ini menuntun dia untuk meninggalkan bank itu untuk mendirikan Rivers International, yang akan ia rencanakan untuk membangun bank daerah di seluruh dunia. Sampai hari ini ia telah menerima tawaran dari para pemimpin pemerintahan dari Uganda, Rwanda, dan Liberia.

”Inilah saya, melalui jejak yang sama yang telah saya lewati selama bertahun-tahun. Tetapi yang saya kerjakan sekarang semakin besar dan jauh lebih besar.” katanya.
”Bagi saya, nampaknya proyek ini mustahil, tetapi...Allah nampaknya mengirimkan semua orang tepat untuk mendampingi saya. Saya hanya perlu taat kepada Allah untuk merealisasikan segala hal yang Ia telah perintahkan untuk saya lakukan, tidak lebih dan tidak kurang, dan Ia akan mengurus selebihnya.”
(Sumber : Charisma Magazine dan The New York Times Magazine)
Posted by Hadi Kristadi for http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Monday, August 6, 2007

Remaja Bunuh Diri

Minggu siang kemarin, 5 Agustus 2007, saya dikejutkan dengan sebuah berita bahwa anak rohani seorang hamba Tuhan meninggal bunuh diri. Siang itu saya dan isteri melihat seorang remaja seusia Rini (Indonesian Idol yang baru), lebih cantik dari Rini, terbujur kaku dalam gaun putih yang indah. Wajahnya tenang seperti sedang tidur, padahal paginya, jam 9.00 Selvy (nama samaran) baru saja menyongsong maut dengan mengiris urat nadi di tangan kiri dengan pecahan gelas, lalu menggantung diri di kamar mandi tempat ia tinggal di bilangan Kemang.

Selvy adalah gadis tertolak. Orang tuanya tinggal di Pondok Indah. Ia bersekolah di Amerika Serikat. Ia tidak betah tinggal di rumah orang tuanya karena ibunya sangat keras sikapnya terhadap Selvy. Oleh karena itu sejak satu setengah tahun yang lalu Selvy diangkat anak rohani oleh seorang hamba Tuhan dan tinggal sendirian bersama seorang pembantu laki-laki beserta isteri dan satu anaknya di Kemang.

Sudah tujuh kali Selvy bunuh diri dan sudah tujuh kali Selvy diselamatkan oleh papa rohaninya. Namun ketika rumah di Kemang itu habis masa kontraknya bulan September mendatang dan Selvy harus kembali ke rumah orang tuanya, Selvy putus asa. Remaja ini seorang anak yang lincah, pintar bergaul, namun sangat tertindas dalam hubungan dengan ibunya yang sangat otoriter.

Pagi kemarin Selvy tidak lagi kesakitan mengiris urat nadinya dan menggantung dirinya, karena lebih sakit menghadapi kemungkinan hidup bersama ibunya kembali. Oh, betapa menyedihkan! Pembantu laki-laki di rumah sempat memergoki luka di tangan kiri Selvy, namun gadis cantik ini bilang, "Tidak apa-apa, mas!"

Ketika Selvy masuk ke kamar mandi dan tidak keluar-keluar, mas Rudi cepat-cepat mendatangi rumah ibu Selvy di Pondok Indah. Ketika ibunya menggedor dan mendobrak pintu kamar mandi, mereka mendapati tubuh Selvy sudah terkulai lemas.

"Selvy, mama sayang kamu!" demikian jerit ibunya berulang-ulang. Namun itu sudah sangat terlambat. Selvy tidak pernah merasa disayang ibunya selama ini. Ia memilih pulang ke Rumah Bapa, mengadukan kepedihan hidupnya di bumi ini.

Saya jadi teringat kata-kata firman Tuhan, "Hai orang tua, jangan bangkitkan amarah anak-anakmu!" Selvy adalah salah satu remaja yang sangat kepahitan diperlakukan tidak adil oleh ibunya. Apakah remaja seperti Selvy harus berakhir tragis di tali gantungan? Ketika seorang ibu bertanya kepada mama Selvy, mamanya berkata, "Selvy itu anak pemberontak, tidak bisa diatur orang tua!" Ia masih menyalahkan anaknya. Seorang anak itu menjadi pemberontak atau tidak, karena kurang kasih sayang orang tuanya, khususnya kasih ayah sebagai figur Bapa di muka bumi ini. Kalau seorang anak mendapati ayahnya di bawah otoritas ibunya yang galak dan tidak mengasihi anaknya, sangat mungkin anak itu menjadi seorang pemberontak. Ia memberontak karena ada sesuatu yang salah di dalam struktur keluarga: ayah seharusnya menjadi bapa, pemimpin, pelindung, pengemong bagi anak-anaknya. Yang dihadapi Selvy terbalik-balik, ayahnya lemah dan di bawah perintah isterinya, dan tidak dapat melindungi Selvy dari intimidasi mamanya.

Dalam sebuah retret yang diikuti anak-anak Sekolah Minggu, banyak diantara anak-anak yang orang tuanya mengaku orang Kristen, bahkan pengerja gereja, mereka ada yang ingin bunuh diri, karena memiliki ayah yang cuek, galak, kejam atau lemah yang di bawah otoritas isterinya. Untunglah mereka mendapat pemulihan Hati Bapa, pemulihan gambar diri, dan pemulihan luka-luka batin. Bagaimana anak-anak yang tidak sempat tertolong? Bisa-bisa mereka putus asa. Ada ungkapan: Manusia bisa tahan tidak makan selama 40 hari, bisa tahan tidak minum selama 4 hari, bisa tahan tidak bernafas selama 4 menit, namun tidak bisa tahan tanpa harapan selama 4 detik. Itulah yang dialami Selvy, ia tidak melihat ada harapan lagi.
Posted by Hadi Kristadi for http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Tiga Tahun Lagi

Sejak pertama kali kami, beberapa hamba Tuhan disuruh mengadakan acara Bahtera, kami tidak pemah memikirkan sampai kepada hal-hal yang kecil-kecil, karena kalau dipikirkan, pasti kami tidak akan mampu. Apalagi, memperbandingkan dengan Bahtera Nuh, yang dicatat dalam kitab Perjanjian Lama. Pada waktu Bahtera Nuh dibangun orangnya masih sedikit. Sekarang ini, manusia di dunia ini semakin banyak. Sehingga pada waktu mulai mengadakan acara Bahtera yang disuruhkan kepada kami itu, kami berpikir dan bertanya: "Bahteranya sebesar apa?" Kemudian pikiran kami mulai jalan.

Padahal Tuhan memberikan penglihatan bahwa, "Bahteranya itu bukan seperti Bahtera biasa. Panjangnya luar biasa, lebih panjang dari pada dunia, tipis dan landp." Cara membawa orang masuk ke dalam Bahteranya pun, Tuhan tunjukkan. Ternyata setiap kita pribadi itu punya Bahtera hidup sendiri-sendiri. Gereja juga punya sendiri.
Tuhan bilang: "Aku tidak minta kamu masuk, tapi kamu melekat." Tiap-tiap Bahtera itu, baik yang kecil, maupun yang besar, dekat dan melekat kepada Bahtera Yesus. Setelah menempel maka tambah lama, tambah tebal, tambah besar, sehingga merupakan Bahtera yang lebih besar dari daratan.

Pertama kali acara Bahtera diadakan di Semarang. Kami hanya taat saja.
Waktu itu Holy Stadium (gedung gereja JKI Injil Kerajaan di jalan Arteri, Semarang) belum jadi 100%. Tapi kami mengalir saja. Biarpun kursi belum ada dan gedung belum selesai, masih berlubang, tapi sudah ada atapnya. Apa yang kita tidak pernah pikirkan, itu yang Tuhan mau. Jadinya luar biasa! Biaya milyaran rupiah bisa tersedia, dan itu karya Tuhan.

Setelah diadakan di Semarang, kami kemudian mengadakannya di Lampung, Kalimantan, Papua, Eropa dan Manado. Ketika kami telusuri, waktu diadakan di Kalimantan, saya tidak bisa hadir. Hanya suara saya yang sampai.

Pada waktu Tuhan mengatakan kepada kami untuk mengadakan bahtera di Irian dan membuka Golden Gate di sana, Tuhan berkata: "Bukalah karena Aku akan masuk. Karena Injil harus diberitakan dari Yerusalem sampai ke ujung bumi dan sekarang Aku harus balik dari ujung dunia masuk ke Yerusalem." Setelah dari Papua, kami ke Israel. Setelah kami sampai di Israel, Tuhan memerintahkan supaya kami ke Golden Gate.

Untuk mendekati Golden Gate di kota Yerusalem itu susah sekali, karena itu merupakan daerah terlarang. Pada waktu melihat 'Golden Gate' Tuhan berbicara kepada adik saya, Nanny (Ibu Nanny, melayani di P.D. Ecclesia Cirebon).
Tuhan berkata: "Kamu harus mendekati Golden Gate, sedekat mungkin."
"Tidak boleh kan Tuhan?" jawab saya.
Tuhan berkata lagi: "Memang sulit, tetapi kamu bisa." Tuhan tidak memberitahukan, bagaimana caranya menuju ke sana. Tour Guide (pembimbing perjalanan) juga berkata, bahwa kami tidak boleh mendekat ke sana.

Kemudian kami lapor kepada Tuhan bahwa menurut guidenya tidak mungkin! Aneh. Tuhan justru berbicara kepada salah satu dari mereka, guide itu.
Ia kemudian bertanya kepada kami: "Berapa orang yang akan masuk ke sana?" Kami menjawab: "Hanya kami berenam." "Oh, hanya enam. Baiklah, saya antarkan!" Suatu keanehan terjadi. Sang guide tahu benar, bahwa itu adalah suatu larangan. Setelah dia mengantarkan kami, kami bertanya kepadanya, mengapa ia begitu berani melakukan hal tersebut? Ia menjawab: "Tidak tahu." Sebab itu Anda harus percaya, jika Tuhan yang perintahkan. Dia tahu karena Dia berbuat baik, meskipun hal itu kelihatan berbahaya dan tidak enak. Waktu kami tanya, dikatakan tidak mungkin boleh didekati karena dijaga oleh tentara. Tapi Tuhan memerintahkan kami harus pergi ke sana.
Secara logika, perintah ini melanggar aturan yang berlaku di sana. Kalau saya pakai pikiran sendiri, saya tidak mau mendekat. Sebab, tidak ada orang yang mau ditangkap, apalagi di negeri orang. Masalah besardan rumit sudah di depan mata. Lalu kami taat saja. Kami melakukan perintah Tuhan. Sampai di Golden Gate, ketika saya pegang, barulah kemudian Tuhan bicara, kalau kami disuruh berdoa.

Tuhan tidak memberitahukan kepada kami dari dulu, bahwa kami disuruh berdoa. Kalau diberi tahu dari dulu, saya bisa jawab, berdoa di mana saja, sama. Kenapa harus jauh jauh ke Golden Gate. Setelah sampai di sana baru Tuhan berkata: "Berdoa menghadap Bapa dalam nama-Ku, minta supaya kedatangan-Ku dipercepat!"

Kemudian kami juga ke Manado. Tiba di sana kami belum mengerti juga apa yang harus kami lakukan. Kemudian Tuhan berkata: "Kamu harus berdoa, minta supaya murka Iblis itu ditahan 3 tahun." Kami jalani semua yang Tuhan suruh. Kami berdoa dan merenung.

Kemudian, Tuhan gambarkan semua yang kami sudah jalani dalam pelaksanaan bahtera ini. Mulai dari Semarang, Lampung, Kalimantan, Papua, Eropa, Sulawesi.

Saya diingatkan kepada apa yang Tuhan sudah sampaikan kepada saya 20 tahun yang lalu, kalau Tuhan sudah pernah bicara. Sebab dalam dunia roh 20 tahun itu sekejap, tapi di dalam dunia pikiran dan daging kita, itu lama. Lalu Tuhan mengatakan: "Aku sudah bicara 20 tahun yang lalu. Kamu punya tugas untuk minta kepada-Ku supaya menahan kekuatan musuh selama 3 tahun."

Marilah kita pasang mata dan telinga rohani yang benar. Saya ajak Anda untuk melihat, mengevaluasi semua yang sudah kita lakukan, lalu berpikir sendiri dan berdoa. Jangan lalu berkata: "Sekarang, harus cepat-cepat selesaikan semua yang aku senangi. Terus yang anak-anak berkata: "Aku tidak mau sekolah lagi, malas belajar." Atau yang dewasa berkata: "Aku tidak mau kerja lagi, tapi mau cari Tuhan! Setiap hari mau doa dan puasa." Kalau kita menangkapnya begitu dan tindakan kita seperti itu, namanya tidak bijaksana, tapi maunya sendiri.

Dalam hal ini, saya mengalami dilema. Kalau Anda diberitahu tidak bisa menangkap, kemudian menerimanya secara dunia, tapi kalau tidak diberitahu, Anda tidak siap.
Makanya, pada peristiwa kelahiran Tuhan Yesus pun, tidak ada yang tahu. Karena, manusia tidak bisa menerima dengan akal sehatnya.

Cobalah kita lihat dan analisa lalu kita berdoa. Memang waktunya sudah sangat singkat. Kita harus berdoa karena setiap kita punya jatah dan tugas sendiri-sendiri. Kita selalu inginnya pengangkatan, nanti kalau pulang ke rumah Bapa, bisa bersama-sama. Padahal, kita punya tugas, tanggungjawab dan urusan masing-masing.

Tuhan memerintahkan saya untuk minta supaya kekuatan musuh itu ditahan, itu untuk negara kita Indonesia. Inilah saatnya kita bergerak bersama Tuhan untuk memenangkan Indonesia. Ketika kekuatan musuh ditahan selama tiga tahun ini, gunakan waktu yang ada dengan maksimal. Cari Tuhan secara pribadi dan jarah jiwa-jiwa untuk dibawa masuk ke dalam Kerajaan Sorga.
(Kesaksian Drg. Yusak Tjipto dalam buku ”Garis Akhir”)
Posted by Hadi Kristadi for http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Friday, August 3, 2007

Benci Sang Saka

Seorang pemuda Ambon sangat benci pada upacara Bendera (Merah Putih). Hatinya selalu tersayat pedih jika mengingat betapa kejam ayahnya ditembaki TNI gara-gara dituduh sebagai anggota gerakan RMS (Republik Maluku Selatan). Ia selalu terbayang-bayang ketika sendirian menunggui peti mati dengan jasad ayahnya terbujur kaku. Hatinya sangat membenci TNI dan membenci upacara pengibaran bendera di sekolah atau dimanapun.

Setelah hatinya mengalami pemulihan, menerima kasih Bapa, ia dibukakan mata rohaninya untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi pada waktu di depan peti mati ayahnya. Pendeta yang melayani pemulihan luka-luka batinnya bertanya, "Coba bayangkan ketika engkau sendirian di depan peti mati itu, apa yang engkau lihat?" "Saya sendirian, pak!" Kemudian pendeta itu berdoa, "Tuhan, bukakan apa yang sebenarnya terjadi saat itu." Ia bertanya lagi kepada pemuda itu, "Sekarang, apa yang engkau lihat?" Ketika ia melihat pada kejadian yang menyakitkan itu, ia kaget dan berkata, "Saya melihat Tuhan Yesus, pak. Tuhan memeluk saya. Tuhan mengasihi saya." Pendeta itu bilang, "Nah, memang itulah yang sebenarnya terjadi. Ia tidak pernah meninggalkan engkau sendirian. Ia ada di sana ketika engkau sedih sekali."

Pendeta itu kemudian melanjutkan pelayanan luka-luka batinnya dan meminta pemuda yang punya marga Manuhutu itu untuk mengampuni anggota TNI yang membunuh ayahnya. "Ampuni mereka karena mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat. Ampuni tentara itu karena engkau juga sudah diampuni Tuhan." Karena di hati pemuda ini ada damai yang melampaui segala akal, ia rela mengampuni para tentara itu. Ia terlepas dari beban berat yang selama ini terpendam di hatinya. Ia kini tidak membenci TNI lagi, tidak membenci upacara bendera lagi. Hatinya penuh pengampunan, hatinya penuh kasih karena mengalir dengan deras kasih dari Tuhan Yesus, kasih dari Sorga.
Posted by Hadi Kristadi for http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Thursday, August 2, 2007

Sebuah Janji

Dulu saya seorang salesman mobil lepas. Selama enam tahun bekerja door to door, dari toko ke toko, dan dari kantor ke kantor, hanya berbekal brosur dan kartu nama. Saya dicemooh, dipermainkan dan dihina banyak orang. Saya sempat ’down’ karena hal itu. Namun supervisor saya memberikan motivasi yang tidak saya lupakan sampai hari ini, katanya: ”Maju terus, sekali kita ’down’ maka selamanya kita akan ’down’.

Tuhan memberkati dan menyertai saya selama saya menjadi salesman. Saya selalu melampaui target yang ditetapkan. Jika dalam sebulan diberikan target empat unit mobil, saya berhasil menjual sepuluh unit. Prestasi saya tersebut membuat saya ditawari menjadi salesman tetap di perusahaan tersebut. Dari seorang salesman lepas, saya masuk sebagai karyawan tetap, dengan penghasilan tetap dan stabil, walau komisinya kecil.

Setelah beberapa bulan disitu saya berhasil menunjukkan prestasi saya lebih lagi sebagai salesman tetap. Saya tidak lagi menjual 10 mobil per bulan, tetapi sampai 30 mobil per bulan! Namun tidak lama kemudian entah kenapa, perusahaan dimana saya bekerja bangkrut. Divisi sales dibubarkan. Saya diberi pilihan, untuk masuk ke anak perusahaan lain yang bergerak dalam usaha keramik, atau dapat pesangon dan keluar. Karena keramik bukanlah bidang saya, maka sayapun memutuskan untuk keluar saja dari perusahaan itu. Perusahaan memberikan saya sebuah mobil, yaitu Honda Prestige.

Karena saya tidak tahu harus bekerja apa lagi, maka saya pun menjual mobil saya satu-satunya itu. Dan dari hasil penjualan mobil itu, terjunlah saya ke bisnis jual-beli mobil bekas. Tuhan kembali memberkati saya luar biasa, saya kini memiliki sebuah showroom sederhana dengan banyak mobil disitu, dan bisnis saya berkembang dengan pesat. Hal itu membuat kakak saya tertarik, dan bergabung dengan saya dalam bisnis ini dengan menggabungkan modal yang lebih besar.

Tidak lama kemudian tahun 1998 saat bisnis sedang berjalan bagus bagusnya, kakak saya terkena narkoba. Hal ini membuat bisnis kami menjadi berantakan dan modalpun turut ludes. Saya tidak punya pilihan, saya harus bekerja lagi pada orang lain, agar suatu waktu saya bisa membangun bisnis saya lagi dari nol.

Akhirnya saya bertemu seorang teman yang mempunyai modal cukup besar. Dia setuju saya mengelola usaha mobil bekas untuknya. Dua tahun bisnis itu berjalan, hasilnya sebenarnya cukup besar. Namun karena dia orang yang sangat kaya, bagi dia nilai itu tidak berarti apa-apa. Melihat itu ia berkata agar saya menghentikan usaha tersebut, dan ikut dia saja. Dua tahun saya ikut dengannya, dan benar-benar dimanja dengan segala kesenangan: Night Club, diskotik, pesta-pesta, hura-hura, jalan-jalan keluar negeri dan sebagainya. Karena saya sudah kenal Tuhan, saya benar-benar tidak merasa sejahtera dengan gaya hidup seperti itu. Hati saya berontak, ingin segera keluar dari sana. Namun kalau saya keluar dari perusahaannya, darimana saya harus menghidupi anak dan isteri saya? Maka sayapun mengambil puasa tiga hari tiga malam, bertanya pada Tuhan, apa yang harus saya lakukan?

Hari ketiga, saya membulatkan hati memutuskan untuk berhenti. Tuhan memberi saya kekuatan untuk mengatakan pada bos saya, "Pak, saya mau mengundurkan diri..." Dia sangat terkejut, dan mengira saya telah memiliki bos baru. Namun saya katakan tidak, saya hanya ingin berhenti. Setelah berhenti, saya menjadi kebingungan, saya hanya bisa menangis, "Tuhan penghasilan saya darimana, beri saya jalan..."

Kemudian ada sebuah suara berulang-ulang di kepala saya, yang saya percaya itu suara Tuhan. "Telpon pak Wiyung..." demikian kata suara itu. Sayapun menelpon pak Wiyung. Terakhir saya bertemu dengannya adalah empat tahun lalu. Dia adalah seorang kawan lama saya dalam bisnis mobil. Sebuah sambutan luar biasa yang tidak saya sangka-sangka saat saya menelpon beliau. "Ya sudah kamu ikut saya saja, kebetulan saya baru buka perusahaan, kamu bisa bantu mengurusnya." Sayapun bergabung dengan perusahaannya dan saya diberkati luar biasa disana selama dua tahun. Namun tahun ketiga bisnis menjadi sangat sepi, sehingga beliau memutuskan untuk menutup perusahaannya. Namun sebelum ia melakukan hal itu ia memanggil saya untuk berbicara empat mata. Demikian katanya, "Wan, kamu tahu perusahaan terus merugi. Jadi begini saja, saya tidak mau tahu hal ini lagi. Seluruh kepemilikan dan asset perusahaan saya hibahkan padamu, gratis. Kamu sekarang pemilik usaha ini!" Saya sangat terkejut akan keputusannya.

Walaupun begitu saya menjadi ragu, apakah ini sebuah berkat? Karena perusahaan sedang merugi, bisnis sangat sepi. Bagaimana saya bisa mengelola perusahaan ini, darimana penghasilannya di tengah keadaan yang sangat sepi seperti ini, darimana uang untuk biaya pengelolaannya?

Saya hanya bisa berdoa dan bergantung pada Tuhan di tengah kondisi yang rumit seperti itu. Saya berpegang kuat-kuat pada Firman Tuhan yang mengatakan, "Kalau Tuhan sudah buka jalan, maka tidak ada satupun yang sanggup menutupnya". Saya berdoa dan berpuasa bersama isteri saya, meminta tuntunan Tuhan, untuk apa yang harus saya lakukan. Kemudian sayapun membuat sebuah nazar, "Tuhan kalau bulan ini usaha saya berhasil, maka saya akan memberikan keseluruhan hasil pertama dari bisnis itu." demikian janji saya pada Tuhan.

Dan hasilnya sungguh mengejutkan. Pada akhir bulan penghasiIan bersih usaha itu adalah Rp. 107 juta. Itu adalah hasil yang luar biasa, hampir saya tidak percaya dengan hasil sebesar itu. Melihat nilai sebesar itu saya mulai diserang keraguan. Haruskah saya memberikan semuanya itu kepada Tuhan sesuai dengan janji saya? Padahal saya sendiri dalam keadaan ekonomi yang sulit, perusahaan juga butuh suntikan modal untuk membuat rodanya tetap berputar. Saya begitu tergoda untuk memberikan sebagian kecil saja dari hasil tersebut. Sayang sekali rasanya melihat uang sebesar itu hilang begitu saja.

Namun saya membulatkan hati, saya telah bernazar dan harus ditepati. Beberapa hamba Tuhan juga menguatkan saya untuk menepati nazar saya. Saya tahu ini semua titipan, Tuhan tidak melihat nilai uang itu, tapi dia melihat ketaatan hati. Maka untuk itu saya mau belajar taat, walaupun terasa sakit saya mau belajar taat dan setia. Maka sayapun memberikan semua uang itu untuk Tuhan.

Saya percaya kalau Tuhan sudah buka jalan maka tidak ada satupun yang dapat menutupnya, untuk itu saya belajar patuh padaNya mengikuti rencana-Nya. Saya percaya langkah ketaatan ini akan membawa saya diberkati oleh Tuhan lebih lagi di masa depan. Biarlah kita menjadi berkat bagi keluarga kita, bagi pelayanan, bagi jemaat Tuhan, dan bagi semua orang. Demikianlah kesaksian Iwan Tjahjadi dari Full Gospel Businessmen’s Fellowship – Automotive Chapter Jakarta, yang telah ditulis di Buletin Voice (telah diedit seperlunya agar lebih enak dibaca)
Posted by Hadi Kristadi for http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Wednesday, August 1, 2007

Kisah Hana Ananda

Inilah kisah yang luar biasa dari seorang wanita biasa yang dipakai Tuhan luar biasa. Sekitar sepuluh tahun yang lalu saya pernah mendengar kesaksian yang luar biasa dari seorang isteri pengusaha yang ditransformasikan Tuhan menjadi seorang wanita Allah yang menjadi terang di bangsa ini, Hana Ananda, saat ini 62 tahun, tinggal di Surabaya.

Dari kecil Hana memang sudah mengasihi Tuhan dan melayani di Sekolah Minggu. Namun hidupnya biasa-biasa saja. Meskipun Hana adalah isteri seorang pengusaha, Harry Ananda – importir kitchen equipment dan mesin laundry, namun kehidupan yang baik mereka di mata Tuhan masih belum maksimal.

Pada suatu hari Hana menderita sakit yang membuatnya lumpuh dan hampir meninggal. Sepertinya Tuhan berkata kepada dirinya, ”Ya, sudah pulang saja ke Rumah Bapa. Toh kehidupanmu biasa-biasa saja.” Saat itu Hana berkata, ”Tuhan, izinkan saya hidup lebih lama agar hidup saya memiliki arti bagi banyak orang dan saya memaksimalkan kehidupan saya sehingga mempermuliakan nama Tuhan!” Tuhan mengabulkan permintaannya dan Hana sembuh total.

Pada suatu hari seorang pengemis wanita duduk di depan pintu gereja yang mewah. Diaken yang melewati pengemis ini tidak memberikan apa-apa kepadanya, meskipun ia baru mendengar khotbah tentang : memberi, berkorban, dan mengasihi sesama. Tuhan berkata kepada Hana, ”Kepada siapa darah pengemis itu akan tertumpah apabila ia meninggal?” Oleh karena itu hati Hana terketuk untuk menolong pengemis wanita itu.

Setelah disetujui suaminya, Hana mengajak pengemis itu ke rumahnya. Keluarga ini menyuruh wanita hina ini mandi di kamar mandi mereka yang mewah, memberi pakaian baru dan memberi dia makan sepuasnya. Sejak saat itu pengemis ini menceritakan kepada teman-teman pengemis lainnya mengenai ibu yang telah menolongnya. Mulailah berdatangan orang-orang susah, pengamen, pemulung, pelacur dalam kehidupan Hana. Seorang pemulung mengaku, ”Tuhan Yesus adalah seorang pemulung. Dia telah memulung saya.”

Dikisahkan pula bahwa suatu hari Hana ingin membantu orang-orang susah yang hidup di tempat kumuh di kolong-kolong jembatan di Surabaya. Ketika Hana mendatangi suatu tempat kumuh dan menemui mereka, tiba-tiba muncul seorang preman yang mengacungkan clurit.

”Mau apa? Mau memanfaatkan orang-orang miskin untuk mengeruk sumbangan?” Rupanya preman ini pernah ditipu oleh seseorang yang berpura-pura bersimpati kepada masyarakat pra-sejahtera ini, membuat rekaman video, menjanjikan bantuan sosial dari luar negeri, namun setelah bantuan diterima, para gelandangan di tempat itu tidak menerima uang sepeserpun karena dana sosial itu ditilep penipu itu. Karena trauma dengan pengalaman itu, sang preman menyangka Hana adalah tipe orang semacam itu, sehingga ia marah. Namun dengan kerendahan hati, Hana mengatakan, ”Dalam nama Tuhan Yesus, stop!” Clurit di tangan itu tertahan di udara. Ada kuasa Allah yang menahan preman itu untuk berbuat brutal kepada hamba-Nya ini. Setelah Hana menjelaskan dengan baik-baik dan sabar kepada orang ini, mulailah Hana diterima di lingkungan ini.

Melalui Yayasan Pondok Kasih, Hana menerima bantuan dari Indonesian Relief Fund dari Amerika Serikat yang diorganisir oleh Paul Tan, dari Children’s Hunger Fund, dan bantuan lain dari Kanada, Inggris, Australia. Kini YPK menyalurkan bantuan lebih dari Rp. 5 milyar setiap tahun. Gudang YPK di Surabaya besarnya seperti gudang perkulakan, menerima puluhan kontainer bahan makanan, pakaian, dan lain-lain. Melalui pelayanannya yang tulus, pemerintah Republik Indonesia pernah menganugerahkan penghargaan Satya Lencana bagi Hana.

Berikut ini adalah penuturan Hana:
Tuhan mulai membuka hubungan dengan seorang Kyai, Haji Noehan dari Pondok Pesantren Annalhilyah kira-kira tahun 1996. Pada tahun-tahun berikutnya Indonesia mulai memasuki saat-saat yang paling gelap dalam sejarah karena adanya krisis demi krisis yang menimpa. Mulai dengan pembakaran gereja-gereja (1996), diikuti dengan krisis moneter (1997), krisis politik (1998), krisis antar etnis (1999 - hingga sekarang). Bangsa kita mulai terpuruk, dan jumlah kaum miskin bertambah sangat banyak. Tuhan telah berbicara pada saya tentang Yesaya 58,59,60 sejak tahun 1992.

Tuhan menyuruh kami untuk bangkit (Yesaya 60:1): "Bangkitlah, menjadi teranglah, sebab terangmu datangdan kemuliaan Tuhan terbit atasmu. (Yesaya 58:7-10) Supaya engkau memecahkan-mecahkan rotimu bagi orang yang lapar dan membawa ke rumahmu orang miskin yang tak punya rumah, dan apabila engkau melihat orang telanjang, supaya engkau memberi dia pakaian dan tidak menyembunyikan diri terhadap saudaramu sendiri!. Pada waktu itulah engkau akan memanggil dan Tuhan akan menjawab, engkau akan berteriak minta tolong dan ia akan berkata: Ini aku! Apabila engkau tidak lagi mengenakan kuk kepada sesamamu dan tidak lagi menunjuk-nunjuk orang dengan jari dan memfitnah, apabila engkau menyerahkan kepada orang lapar apa yang kau inginkan sendiri dan memuaskan hati orang yang tertindas maka terangmu akan terbit dalam gelap dan kegelapanmu akan seperti rembang tengah hari”.

Kami mulai memberi makan pada orang-orang miskin di komunitas-komunitas kumuh dengan menggerakkan saudara-saudari mereka yang tinggal di sana. Kami mulai mengadakan bakti sosial bersama-sama dengan saudara kita kaum muslim. Tahun 1999, ketika kami mengadakan khitanan massal dan bakti sosial bersama di Ponpes Kyai Noehan, Tuhan mempertemukan kami dengan Kyai-kyai dari Madura, dan mulailah kami mengadakan bakti sosial bersama-sama di desa-desa di Madura.

Permulaannya tidak mudah, banyak kecaman yang saya terima baik dari pihak Kristen maupun dari Muslim. Sungguh dibutuhkan keberanian dari kedua belah pihak, baik dari Muslim (mereka dikecam mengapa mereka mau bekerja sama dengan Kristen), dan dari Kristen (karena saya memasuki budaya mereka dengan berpakaian seperti mereka, sedangkan dari Islam, saya diancam karena isu dan tuduhan kristenisasi, bahkan saya juga pernah dilaporkan ke Pemerintah Pusat).

Hanya oleh karena anugerah-Nya, kekuatan-Nya melalui Firman Tuhan, dan keberanian oleh Roh Kudus saya dapat bertahan. Saat-saat itulah (tahun 1999) kami telah memulai ibadah setiap hari Rabu dengan saudara-saudari kaum papa dan jalanan, pada saat yang sama ancaman yang keras kami alami bukan saja di Ibadah kami yang waktu itu di Go Skate, tetapi juga kami alami di Panti Asuhan kami di Sedati yang dituntut untuk ditutup oleh kaum muslim yang menggunakan tangan pemerintah kota Sidoarjo untuk menutup dan para santri untuk menghancurkan jika kami tidak mau pindah. Ibu Sylviati yang tinggal di sana yang langsung mengalami “aniaya, teror” yang tidak ada hentinya sejak keberadaan Pondok Kasih di sana tahun 1991. Namun oleh cara-Nya yang ajaib, melalui pembelaan seorang preman, Tuhan telah menyelamatkan panti asuhan kami di Sedati. (Dari berbagai sumber di Internet)
Posted by Hadi Kristadi for http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Kesaksian Pembaca Buku "Mukjizat Kehidupan"

Pada tanggal 28 Oktober 2009 datang SMS dari seorang Ibu di NTT, bunyinya:
"Terpujilah Tuhan karena buku "Mukjizat Kehidupan", saya belajar untuk bisa mengampuni, sabar, dan punya waktu di hadirat Tuhan, dan akhirnya Rumah Tangga saya dipulihkan, suami saya sudah mau berdoa. Buku ini telah jadi berkat buat teman-teman di Pasir Panjang, Kupang, NTT. Kami belajar mengasihi, mengampuni, dan selalu punya waktu berdoa."

Hall of Fame - Daftar Pembaca Yang Diberkati Buku Mukjizat Kehidupan

  • A. Rudy Hartono Kurniawan - Juara All England 8 x dan Asian Hero
  • B. Pdt. DR. Ir. Niko Njotorahardjo
  • C. Pdt. Ir. Djohan Handojo
  • D. Jeffry S. Tjandra - Worshipper
  • E. Pdt. Petrus Agung - Semarang
  • F. Bpk. Irsan
  • G. Ir. Ciputra - Jakarta
  • H. Pdt. Dr. Danny Tumiwa SH
  • I. Erich Unarto S.E - Pendiri dan Pemimpin "Manna Sorgawi"
  • J. Beni Prananto - Pengusaha
  • K. Aryanto Agus Mulyo - Partner Kantor Akuntan
  • L. Ir. Handaka Santosa - CEO Senayan City
  • M. Pdt. Drs. Budi Sastradiputra - Jakarta
  • N. Pdm. Lim Lim - Jakarta
  • O. Lisa Honoris - Kawai Music Shool Jakarta
  • P. Ny. Rachel Sudarmanto - Jakarta
  • Q. Ps. Levi Supit - Jakarta
  • R. Pdt. Samuel Gunawan - Jakarta
  • S. F.A Djaya - Tamara Jaya - By Pass Ngurah Rai - Jimbaran - Bali
  • T. Ps. Kong - City Blessing Church - Jakarta
  • U. dr. Yoyong Kohar - Jakarta
  • V. Haryanto - Gereja Katholik - Jakarta
  • W. Fanny Irwanto - Jakarta
  • X. dr. Sylvia/Yan Cen - Jakarta
  • Y. Ir. Junna - Jakarta
  • Z. Yudi - Raffles Hill - Cibubur
  • ZA. Budi Setiawan - GBI PRJ - Jakarta
  • ZB. Christine - Intercon - Jakarta
  • ZC. Budi Setiawan - CWS Kelapa Gading - Jakarta
  • ZD. Oshin - Menara BTN - Jakarta
  • ZE. Johan Sunarto - Tanah Pasir - Jakarta
  • ZF. Waney - Jl. Kesehatan - Jakarta
  • ZG. Lukas Kacaribu - Jakarta
  • ZH. Oma Lydia Abraham - Jakarta
  • ZI. Elida Malik - Kuningan Timur - Jakarta
  • ZJ. Luci - Sunter Paradise - Jakarta
  • ZK. Irene - Arlin Indah - Jakarta Timur
  • ZL. Ny. Hendri Suswardani - Depok
  • ZM. Marthin Tertius - Bank Artha Graha - Manado
  • ZN. Titin - PT. Tripolyta - Jakarta
  • ZO. Wiwiek - Menteng - Jakarta
  • ZP. Agatha - PT. STUD - Menara Batavia - Jakarta
  • ZR. Albertus - Gunung Sahari - Jakarta
  • ZS. Febryanti - Metro Permata - Jakarta
  • ZT. Susy - Metro Permata - Jakarta
  • ZU. Justanti - USAID - Makassar
  • ZV. Welian - Tangerang
  • ZW. Dwiyono - Karawaci
  • ZX. Essa Pujowati - Jakarta
  • ZY. Nelly - Pejaten Timur - Jakarta
  • ZZ. C. Nugraheni - Gramedia - Jakarta
  • ZZA. Myke - Wisma Presisi - Jakarta
  • ZZB. Wesley - Simpang Darmo Permai - Surabaya
  • ZZC. Ray Monoarfa - Kemang - Jakarta
  • ZZD. Pdt. Sunaryo Djaya - Bethany - Jakarta
  • ZZE. Max Boham - Sidoarjo - Jatim
  • ZZF. Julia Bing - Semarang
  • ZZG. Rika - Tanjung Karang
  • ZZH. Yusak Prasetyo - Batam
  • ZZI. Evi Anggraini - Jakarta
  • ZZJ. Kodden Manik - Cilegon
  • ZZZZ. ISI NAMA ANDA PADA KOLOM KOMENTAR UNTUK DIMASUKKAN DALAM DAFTAR INI