Search This Blog

Loading...

Saturday, March 31, 2007

Doa Yang Membawa Ledakan Rohani (2)

Doa Yang Membawa Ledakan Rohani (Bagian 2)

Jika seseorang berdoa dengan “reasons” yang benar, menyadari ”resources” yang dimiliki dan mengetahui “results” yang pasti, maka doa-doanya sangat efektif, membawa ledakan rohani. Sebelum 3 R itu dijelaskan lebih lanjut, biarlah kisah ini membakar hati kita untuk melihat doa yang membawa ledakan rohani.

Pada musim semi 1911 sebuah Pekan Kebangunan Rohani sedang berlangsung di kota Shrewsburry, Inggris. Namun tampaknya acara KKR ini sedang menghadapi kegagalan besar. Gereja-gereja di sana telah mengundang dua orang pembicara terkenal dari Amerika Serikat, Wilbur Chapman dan Charles Alexander, akan tetapi tanggapan terhadap pelayanan mereka sangat sedikit dan orang-orang tidak bergairah sama sekali. Chapman sangat kecewa dan memanggil panitia yang terlibat untuk bersama-sama melihat apa yang dapat dilakukan untuk memperbaiki keadaan. Tak ada satupun pesan yang disampaikan Chapman dapat membangkitkan panitia. Mereka bersikap masa bodoh. Chapman sangat kecewa. Pekan Kebangunan Rohani tetap dilanjutkan dengan kehadiran jemaat yang sangat sedikit dan hampir-hampir tidak ada hasilnya.

Seorang hamba Tuhan dari Wales memberi kabar kepada Chapman bahwa ada seorang pendoa akan datang ke Shrewsburry, khusus untuk berdoa agar Pekan Kebangunan Rohani itu berlangsung sukses. Wilbur Chapman adalah seorang misionaris yang dekat Tuhan dan memiliki kepekaan rohani.

Ketika pendoa itu tiba, malam itu juga Chapman meminta sang pendoa misterius untuk berdoa bersamanya. Orang itu masuk ke kamar Chapman, mengunci pintu dan kemudian berlutut untuk berdoa bersama Chapman. Lima menit berlalu tanpa kata-kata, tetapi Chapman menyadari hatinya berdebar semakin kuat. Terasa ada atmosfir sorgawi dalam ruangan itu dan Chapman menyadari dirinya sedang menangis. Bapa Sorgawi hadir di situ. Ketika ia menunggu sang pendoa mengucapkan kata-kata, ”Oh, Tuhan . . .”, Chapman dengan berlinangan air mata dapat melihat air mata juga mengalir menuruni wajah sang pendoa. Suatu periode tanpa kata-kata kembali berlalu. Kemudian Chapman merasakan tangan sang pendoa menjamah pundaknya dan sang pendoa mulai berdoa.. Doa-doa mulai naik dari dalam hati sang pendoa dalam bentuk dan suasana yang tidak pernah dirasakan dan dialami oleh Chapman. Dia sadar bahwa sang pendoa sedang menjamah tahta Bapa yang Mahakuasa. Ketika ia selesai berdoa, Wilbur Chapman baru menyadari apa arti doa yang membawa ledakan rohani.

Sejak doa-doa dinaikkan oleh sang pendoa, John Hyde, akibatnya Pekan Kebangunan Rohani itu berubah drastis. Gereja-gereja mengalami kegerakan rohani, panitia yang apatis diubahkan dan diberkati. Banyak orang datang kepada Kristus. Chapman dan Alexander menyadari betul bahwa semua ledakan rohani ini terjadi oleh doa dari satu orang. Apa sih rahasia doa yang membawa ledakan rohani itu? (Bersambung)
Posted by Hadi Kristadi for http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Monday, March 26, 2007

Doa yang Membawa Ledakan Rohani (1)

Kemarin saya menyaksikan khotbah seorang hamba Tuhan, Robert Ferguson di gereja Hillsongs – Sydney. Dia membuka khotbahnya dengan cerita tentang George Whitefield, seorang pengkhotbah besar di abad ke-18. Dia biasa berkhotbah di hadapan puluhan ribu orang tanpa mikrofon. Jemaat yang berkumpul di lapangan besar seringkali menaiki pohon untuk dapat melihat lebih jelas. Dalam beberapa kesempatan Whitefield mengingatkan jemaat yang di atas pohon untuk turun karena sebentar lagi Roh Kudus akan melawat. Pada saat Roh Kudus datang dan menjamah orang banyak, jemaat yang di atas pohon bisa jatuh kebawah, dan itu berbahaya, sehingga Whitefield lebih dulu mengingatkan mereka untuk turun. Lawatan seperti itulah yang kita butuhkan saat ini.

Dalam inti khotbahnya Ferguson membahas doa yang membawa ledakan. Dalam kitab Wahyu 8 : 3-5 disebutkan : ”Maka datanglah seorang malaikat lain, dan ia pergi berdiri dekat mezbah dengan sebuah pedupaan emas. Dan kepadanya diberikan banyak kemenyan untuk dipersembahkannya bersama-sama dengan doa semua orang kudus di atas mezbah emas di hadapan takhta itu. Maka naiklah asap kemenyan bersama-sama dengan doa orang-orang kudus itu dari tangan malaikat itu ke hadapan Allah. Lalu malaikat itu mengambil pedupaan itu, mengisinya dengan api dari mezbah, dan melemparkannya ke bumi. Maka meledaklah bunyi guruh, disertai halilintar dan gempa bumi.” Doa orang-orang kudus ternyata bisa menghasilkan ledakan, guruh, halilintar dan gempa rohani! Ketika rasul Paulus mempraktekkan doa, pujian, dan penyembahan yang sejati, maka terjadilah gempa di penjara Filipi, sehingga kepala penjara datang berkata, ”Tuan-tuan, apakah yang harus aku perbuat, supaya aku selamat?"

Suatu hari Ferguson diajak temannya yang menjadi gembala di suatu gereja untuk berdoa dari jam 12 malam sampai jam 2 pagi, mendoakan seorang tetangga yang belum percaya Tuhan. Setelah mereka berdoa dua jam lamanya, mereka mendengar ketukan di pintu gereja. Ketika pintu dibuka, mereka melihat siapa yang datang : orang yang mereka doakan! Orang itu berkata, ”Saya tidak tahu apa yang kalian kerjakan di sini, tetapi tiba-tiba aku terbangun dan hatiku diliputi kekosongan dan penyesalan akan dosa-dosaku. Aku tergerak untuk datang ke tempat ini. Apa yang harus aku perbuat?”

Kita membutuhkan doa yang membawa ledakan rohani. Rasul Paulus mengajarkan doa semacam itu dalam Surat Efesus 1 : 15 – 23. Doa yang membawa ledakan rohani mengandung 3 hal yang penting :
1.The Reason To Pray.
2.The Resources To Prayer.
3.The Results of A Prayer.

Apabila kita tahu dengan pasti alasan kita berdoa, kita tidak salah meminta. Kita tidak minta diberkati lagi karena dalam Kristus Bapa Sorgawi telah mengaruniakan kepada kita segala berkat rohani di dalam sorga (Ef 1 : 3). Oleh karena itu kita tidak lagi berdoa untuk hal-hal yang dicari bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah.(Bersambung)
Posted by Hadi Kristadi for : http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Wednesday, March 21, 2007

Menjual Ginjal untuk Beli Tiket KA

Ini adalah kisah nyata dari negeri Cina. Meskipun kemajuan ekonomi dinikmati kota-kota di belahan Selatan Cina, sehingga ada penduduk yang berpenghasilan US $ 1 juta per hari, namun banyak orang di pedalaman Cina masih hidup dalam kemiskinan. Diantara orang-orang yang miskin ini banyak merupakan anggota gereja-gereja rumah. Oleh karena itu untuk melayani jemaat-jemaat, para pendeta harus membiayai diri sendiri untuk pelayanan mereka. Diantara orang-orang yang hatinya berkobar-kobar mengabarkan berita keselamatan itu, ada orang-orang muda yang sehat rela menjual ginjalnya bagi orang-orang asing yang membutuhkan ginjal untuk dicangkok. Mereka memakai uang hasil penjualan ginjal itu untuk membeli tiket kereta api dan bekal makanan seadanya agar mereka dapat melayani orang-orang di daerah pedalaman. Bagi para hamba Tuhan wanita, mereka sengaja memanjangkan rambutnya, dan setelah panjangnya cukup, mereka gunting dan jual karena banyak permintaan rambut asli untuk 'wig'. Demikianlah banyak pengorbanan untuk bekerja di ladangnya Tuhan.

Setiap dana yang ditaburkan di ladang yang subur ini jelas sekali menghasilkan jiwa-jiwa yang bertobat. Oleh karena melihat keadaan seperti itu ada hamba-hamba Tuhan dari Indonesia yang lebih suka menyumbang untuk kegiatan pelayanan di Cina, karena setiap rupiah yang disumbangkan jelas akan menghasilkan berapa banyak jiwa manusia yang percaya.

Posted by Hadi Kristadi for: http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Tuesday, March 20, 2007

Lebih Pintar Monyet

Kisah ini dialami oleh Bpk. Pdt. Dr. Danny Tumiwa SH. Pada waktu beliau mendapat beasiswa dari Yamaha untuk belajar gitar di Spanyol ada pengalaman yang menggelikan. Karena dana beasiswa sangat terbatas, maka beliau harus menghemat uang sehingga menu yang sering dimakan adalah sup, misalnya sup tali gitar (sup dengan isi spageti) dan coca cola saja. Bahkan kadang-kadang harus menyantap sup yang lebih murah, yaitu sup aneka rasa. Ternyata sup ini dibeli restoran murah meriah dari restoran-restoran lain pada malam sebelumnya, semua sup itu dicampur jadi satu di dalam tong besar. Sup ini dihidangkan dengan roti yang keras banget. Para pelanggan duduk di meja panjang dan harus hati-hati menjaga roti dan sup itu, karena para tamu di sebelah kiri kanan tega menyikat sup atau roti yang tak dijaga. Pada waktu pertama menyantap roti keras itu, Pak Danny Tumiwa langsung saja menggigit roti itu. Dicoba-coba roti itu tidak tergigit sehingga temannya tertawa kegelian. "Bukan begitu caranya makan roti ini! Celupkan dulu ke dalam sup, baru dimakan," kata temannya menjelaskan.

Setelah itu Pak Danny jalan-jalan ke kebun binatang. Ia bawa roti keras itu untuk mengerjai monyet. Ia lemparkan roti itu ke arah monyet yang segera menangkap roti dengan sigap. "Rasain lu!" kata Pak Danny dalam hati, ingin melihat monyet yang akan dikerjainya. Yang mengagetkan, sang monyet membawa lari roti itu, mencari tempat air, lalu mencelupkan roti itu terlebih dulu, baru memakan roti itu. Pak Danny terhenyak, "Koq monyet itu lebih 'lihai' dari pada diriku?" Ia jadi malu sendiri. Binatang itu seringkali menunjukkan kecerdikannya.

Ngomong-ngomong soal hikmat binatang, kita harus banyak belajar dari mereka. Kalau dipikir-pikir, siapa yang mengajari monyet itu untuk mencelupkan roti lebih dulu ke air? Siapa yang mengajar semut-semut untuk bergotong-royong membawa makanan ke sarang? Siapa yang mengajar lebah untuk mencari madu? Siapa yang mengajar rayap untuk membangun sarangnya sehingga orang modern meniru tata bangunan sarang rayap yang ventilasinya begitu mengagumkan sehingga sarang itu memiliki suhu ruangan yang stabil?

Ada kisah-kisah lain tentang binatang yang menunjukkan kebodohan mereka. Diantaranya adalah tentang ulat. Ada seorang peneliti yang membuat percobaan begini. Di dalam suatu wadah bundar diletakkan ulat-ulat yang berjalan melingkar. Ulat yang satu diletakkan tepat di belakang ulat di depannya, sehingga rangkaian ulat itu berjalan mengitari wadah bundar itu. Ulat-ulat itu berjalan mengikuti ulat-ulat di depannya. Karena melingkar, ulat-ulat itu saling membuntuti. Apa yang terjadi kemudian? Tanpa henti ulat-ulat saling mengikuti sama lain. Jam demi jam mereka berjalan berputar-putar. Sementara itu di tengah wadah itu diletakkan makanan bagi ulat itu. Karena konsentrasi ulat hanyalah berjalan membuntuti ulat di depannya, makanan di tengah wadah ini tak dilirik sama sekali. Ulat-ulat itu terus berjalan tak henti, terus dan terus, sampai mereka mati satu satu. Alangkah bodohnya ulat-ulat ini! Apakah ada diantara kita yang seperti ulat itu? Ikut-ikutan saja?
Posted by Hadi Kristadi for: http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Tuesday, March 13, 2007

Kesaksian Pdt. Bambang Yonan

Selama 24 tahun hidup saya jauh dari Tuhan. Kegagalan dan kesulitan ekonomi adalah sahabat setia yang selalu menemani saya pada waktu itu. Apa saja yang saya lakukan selalu jauh dari keberhasilan dan keberuntungan, sampai suatu saat dimana waktu Tuhan tiba atas kehidupan saya melalui kehadiran saya dalam suatu persekutuan doa rumah tangga di Surabaya. Tuhan menjamah dan mengubah hidup saya dengan cara yang khusus, yakni melalui pelayanan pujian dan penyembahan. Saat itu saya merasakan hadirat Tuhan yang sangat kuat, seakan-akan Tuhan sendiri hadir dan Ia memeluk saya dalam kasih-Nya dan setelah itu hidup saya dipenuhi dengan "kehausan dan kelaparan akan Tuhan". Puji Tuhan, ternyata rasa "haus dan lapar" tersebut masih ada sampai dengan hari ini.

Sejak saat itu saya ikut serta dalam gerakan "Pemulihan Pondok Daud" yang dimotori oleh Bapak Pdt. Dr. Ir. Niko Njotorahardjo yang sekarang melayani Tuhan sebagai Gembala Sidang GBI Jl. Gatot Subroto - Jakarta. Saya melayani Tuhan dalam gerakan pemulihan Pondok Daud mulai dari pelayanan sebagai operator overhead projector, dimana saya harus menyiapkan lagu-lagu yang akan digunakan di dalam kebaktian. Pada tahun 1991 saya mulai dipercaya sebagai pemimpin pujian. Memasuki tahun 1993 Tuhan mempercayakan saya untuk menggembalakan sebuah jemaat di kota Medan, yaitu GBI Kemah Daud - Medan. Pada awalnya jemaat kami hanya berjumlah 119 jiwa. Melalui gereja inilah saya mulai mengembangkan pelayanan pujian dan penyembahan. Puji Tuhan, saya melihat firman-Nya digenapi, yaitu apabila Tuhan Yesus ditinggikan, maka Ia akan menarik semua orang untuk datang kepada-Nya. Saat ini GBI Kemah Daud Medan telah berganti nama menjadi GBI Medan Plaza dan jemaat kami merupakan salah satu jemaat lokal yang mengalami perkembangan yang sangat pesat. Puluhan ribu jemaat datang untuk beribadah, memuji dan menyembah Tuhan setiap minggunya.

Banyak kesaksian luar biasa yang kami alami di dalam kehidupan berjemaat. Mukjizat dan kesembuhan banyak dialami jemaat kami. Salah satu hal menarik yang saya alami adalah ketika saya yang suka menanam pohon buah-buahan di rumah saya yang lama. Bermacam-macam buah saya tanam dan buah-buahan itu menjadi berkat bagi tetangga- tetangga saya juga. Ketika kami pindah rumah dan rumah dengan pohon buah-buahan itu kami tinggal dan dibeli oleh orang yang memuja berhala-berhala, maka tetangga saya
bilang, "Pak Bambang, koq aneh ya, pohon buah-buahan di bekas rumah bapak tidak berbuah lagi sejak bapak pindah?" Kehadiran orang percaya ternyata berpengaruh pada tanah dan bumi yang kita diami. Tanah itu diberkati oleh karena kita sebagai anak-anak tebusan Tuhan mendatangkan pemulihan atas tanah yang telah dikutuk. Apakah tanah dan bumi yang anda diami menjadi berkat atau masih menghasilkan semak duri dan rumput duri yang merupakan kutuk, gangguan, dan kesulitan?
Posted by Hadi Kristadi for: http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Sunday, March 11, 2007

Pelayanan Jim Yost di Papua

"Saya hanya mau melayani ke tempat di mana orang lain tidak mau melayani dan masuk ke tempat di mana orang lain belum pernah dan tidak mau masuk," kata Jim Yost.

Jim Yost berumur 13 tahun ketika ayahnya dipanggil pulang ke rumah Bapa di Sorga. Ibunya adalah seorang Kristen yang taat. Memasuki usia remaja tanpa figur seorang ayah membuatnya terombang-ambing oleh lingkungan, sehingga akhirnya ia terjerumus ke lembah kelam : narkotika. Hari-hari dilaluinya tanpa kedamaian.
Dunia obat bius begitu menjeratnya sampai ia harus meringkuk dalam penjara. Namun Allah dengan kasih-Nya yang begitu besar menjamah Jim, sehingga ia masuk ke dalam rencana-Nya. Allah membawa Jim pada suatu rencana agung yang belum pernah terpikirkan sebelumnya. Tidak pernah terlintas dalam benaknya bahwa ia akan menjadi seorang misionaris, apalagi ke tempat yang begitu jauh, yang sering disebut sebagai ujung bumi: Papua !

Perjalanan misinya dimulai ketika ia menjadi mahasiswa di sebuah seminari di California, USA, setelah pertobatannya. Sebenarnya Jim hanya ingin belajar satu tahun, tetapi entah karena apa setelah satu tahun dilewati di seminari itu ia meneruskan lagi sampai empat tahun.

Jim mengatakan bahwa selain rektornya adalah mantan misionaris di Jamaika, sehingga pelajaran misi selalu ditekankan di semua kurikulum, juga banyak misionaris yang datang ke sekolahnya untuk mengajar. Ia tadinya tidak berpikir akan menjadi seorang misionaris karena ia hanya mau belajar Alkitab dan menjadi seorang gembala jemaat di California.

Pada tahun ketiga ia belajar, ada sebuah jemaat di Oregon, USA, yang gembalanya baru kembali sebagai misionaris selama 30 tahun di Thailand. Jim bekerja sama dengan misionaris itu selama 2 bulan. Dalam waktu yang singkat itulah Tuhan menaruh visi untuk pelayanan misi sedunia ke dalam hati Jim.

Setelah menyelesaikan tahun keempat ada praktek pelayanan ke luar negeri. Jim dikirim ke Korea Selatan dan Jepang. Tujuan praktek pelayanan ini adalah mencari peneguhan sehingga para mahasiswa tahu pasti kemana mereka harus melayani. Jim berada di Korea selama satu bulan dan di Jepang selama satu bulan. Selama di Korea, Jim merasa senang melihat gereja yang berkembang pesat. Namun panggilan Tuhan belum datang ketika ia berada di Korea. Saat berada di Kyoto, yang merupakan pusat penyembahan berhala di Jepang, pada suatu malam Jim berdoa semalam suntuk.
Ia berkata kepada Tuhan, "Tuhan, saya tidak suka tinggal di negeri asing. Saya tidak suka makan makanan yang aneh. Saya tidak bisa berkomunikasi karena bahasa mereka lain. Saya tidak mampu. Saya tidak akan bisa menjadi seorang misionaris."

Dan Tuhan menjawabnya dengan tegas, "Jim, engkau tidak bisa menjadi misionaris, tetapi Aku bisa menjadikan engkau seorang misionaris."

Mulai saat itu Jim yang fasih berbahasa Indonesia ini sadar dan tidak mau bergantung pada kemampuan dan keinginannya sendiri. Ia hanya ingin bergantung kepada kemampuan dan kehendak Allahnya. Ia merasa punya kepastian bahwa akan datang harinya dimana Tuhan akan membawanya keluar dari Amerika dan melayani di luar negeri. Ia tahu pintu akan dibukakan dan itu pasti terjadi.

Sekembalinya dari Jepang, Jim bersama istrinya kembali ke bangku kuliah untuk belajar Linguistik (Ilmu Bahasa) dan Misiologi selama satu tahun di Fuller Seminary, L.A. Ini adalah persiapan yang akan dipakai untuk menerjemahkan Alkitab ke dalam bahasa suku terasing di Papua.

"Saya mau melakukan pelayanan di mana orang lain tidak mau melakukannya. Di mana ada ladang pelayanan yang tidak diinginkan orang lain atau tidak bisa dilaksanakan orang lain, saya akan masuk ke sana." kata Jim.

Sebab itu Jim dan istrinya bertanya kepada teman-temannya di mana ada suku yang belum diinjili dan belum ada kontak dengan dunia luar. Akhirnya ia memutuskan untuk pergi ke suku Sawi di pedalaman Papua. Suku Sawi terbagi menjadi dua bagian, yaitu bagian utara dan bagian selatan. Pelayanan misi di bagian selatan telah dirintis oleh Don Richardson, sementara kontak dengan bagian utara sangat kurang. Di suku Sawi utara inilah Jim dan istrinya masuk sebagai misionaris pertama sampai hari ini.

Meninggalkan budaya hidup Amerika merupakan pergumulan sendiri bagi Jim Yost. Menurut dia situasi di Amerika atau Jakarta sangat berbeda dengan Papua. Pelayanan di Jakarta itu terlalu enak, terlalu mudah untuk bergantung pada orang lain. Sementara itu pelayanan di hutan belantara Papua, tinggal seorang diri beserta keluarga, terpencil, kepada siapa akan bergantung, selain kepada Tuhan saja ? Itulah sebabnya sejak semula Jim sudah menyiapkan mentalnya. Sekali berangkat ke Papua, ia memutuskan dan "membakar" semua jembatan yang mengantarnya kembali ke Amerika.

"Ada orang mau menjadi misionaris untuk jangka waktu satu atau dua tahun, ada juga yang sampai empat tahun. Saya perhatikan, di tempat tugas yang terpencil itu mereka selalu rindu kembali ke tempat asal, selalu berpikir kapan kembali ke keluarga dan teman-teman ? Saya yakin untuk menjadi misionaris seseorang harus putus hubungan dengan kampung halamannya, seperti membakar jembatan dan kapal-kapal sehingga tidak bisa kembali pulang. Kalau ada kesempatan untuk kembali, itu semata-mata dari Tuhan, tetapi kita harus siap untuk pergi dan pergi terus tanpa berpikir untuk kembali," kata Jim yang sudah 20 tahun hidup di antara suku Sawi.

"Saya banyak mendengar tentang kegiatan misi dalam jangka pendek, yang mereka sebut sebagai misi kunjungan. Itu baik dan dapat sedikit menolong. Tetapi untuk menghasilkan pekerjaan yang besar dan bertahan lama harus ada orang yang bertahan hidup lama di suatu wilayah dan tinggal terus menerus, menyatu dengan masyarakat setempat. Itulah yang saya lakukan untuk menghilangkan identitas Amerika saya. Saya menyatu dengan suku Sawi untuk mengambil nilai-nilai hidup mereka, untuk saya jadikan nilai-nilai hidup saya sendiri," ungkap Jim yang wajahnya mirip Mc Gyver ini.

Jim mengaku banyak membaca buku-buku tentang Papua sebelumnya, tetapi pada waktu terjun ke medan pelayanan, ternyata keadaannya banyak berbeda, dan lebih berat daripada apa yang ditulis orang.

"Saat kami turun dari pesawat yang membawa kami, semua orang mengerumuni kami dengan keheran-heranan. Tubuh kami diraba-raba dan akhirnya kami dibawa ke perkampungan mereka. Rupanya mereka sudah menyiapkan sebuah pesta untuk menyambut kedatangan kami. Untuk menghormati kami sebagai tamu, mereka memberikan makanan khas, yaitu ulat sagu yang harus kami makan hidup-hidup !" katanya sambil memperagakan cara memasukkan ulat yang menjijikkan itu ke dalam mulutnya.

Lebih lanjut Jim menceritakan awal-awal pelayanannya di sana.
"Kami tahu di sana sering terjadi perang suku, tetapi tidak tahu kalau pada hari pertama kami datang ada perang sungguhan di depan mata kami. Kejadian itu sangat mengejutkan kami. Namun di saat yang amat genting itu Roh Allah memberikan keberanian kepada kami, sehingga kami tidak merasa takut sama sekali. Saya bergerak ke kanan, istri saya ke kiri. Kami berusaha sekuat tenaga untuk menghentikan perang tersebut dengan cara mematahkan panah, lembing, tombak, dan alat-alat perang lainnya semampu kami."

Ternyata Jim dan istrinya tidak satu kali saja menghadapi peperangan semacam itu.
Setiap minggu selama tahun-tahun pertama pelayanan mereka selalu terjadi perang suku. Tantangan lain datang bagi pasangan yang pada waktu itu baru menikah ini adalah saat Jim terserang malaria dan hampir mati. Tidak hanya sekali, tetapi berkali-kali, sehingga sampai ia lupa sudah berapa kali ia terserang penyakit berbahaya yang hampir merenggut nyawanya itu.

Bagi Jim Yost dan istri ketergantungan kepada Tuhan sangatlah mutlak sebab bila Tuhan yang membuka pelayanan yang baru yang tidak mampu dikerjakan manusia, maka Tuhan akan memperlengkapi dan memberi kemampuan.

Harga yang harus dibayar untuk memenangkan hati dan jiwa orang-orang Sawi itu cukup mahal dan Jim Yost beserta istri mempertaruhkan hidup mereka sekalipun tantangannya demikian berat. Suatu saat Jim mengalami kecelakaan karena pesawat yang ia tumpangi jatuh dan tengggelam ke sungai. Namun tangan Tuhan menyelamatkan hamba yang dikasihiNya ini, sehingga ia tidak mengalami cedera sedikitpun.

Ketika ditanya apakah pergumulan terberat yang dialami selama berada di Irian, Jim menjelaskan, "Sebenarnya ini adalah rahasia. Mungkin orang lain melihat misionaris itu orang yang kuat secara rohani. Itu tidak benar ! Ada pergumulan berat ketika iblis mencobai dengan perasaan ditinggalkan. Kami melayani di tengah-tengah hutan Irian dan tidak ada kontak dengan orang-orang luar. Orang-orang di gereja asal kami tidak tahu apa yang terjadi dengan kami. Orang-orang di Jakarta atau tempat-tempat lain akan melupakan kami, walaupun kami kirimkan pokok-pokok doa mengenai pelayanan kami dan mereka lupa berdoa bagi kami. Kami sendirian. Tuhan mengijinkan iblis mencobai dengan perasaan itu. Tidak ada orang atau organisasi yang memperhatikan kami. Sebab itu banyak misionaris yang pulang ke negerinya karena patah semangat."

"Jadi, yang terpenting adalah hubungan pribadi dengan Tuhan. Hubungan yang erat setiap hari dengan Tuhan. Hidup melayani di perkotaan banyak mendapat dukungan dari orang lain. Kalau anda sedang merasa "down", anda dapat datang ke gereja dan mendengarkan khotbah yang bagus dari gembala yang menguatkan. Atau bila anda sedang kecewa, anda dapat memutar kaset-kaset rohani dan anda dikuatkan. Tetapi hidup di hutan seperti kami, tidak memiliki hiburan apa-apa. Hanya diri sendiri bersama Tuhan," tambahnya.

Mengabarkan berita keselamatan kepada suku Sawi tidaklah mudah. Bertahun-tahun Jim dan istrinya mengajar mereka untuk percaya kepada Tuhan Yesus, tetapi tidak satupun yang mau percaya. Sementara itu istri Jim bekerja di poliklinik, menolong orang-orang yang sakit. Kebanyakan orang-orang Sawi itu sakit borok di kaki, sampai kelihatan tulangnya. Dengan penuh kasih mereka diobati atau disuntik dan didoakan. Ajaib, dalam waktu dua tiga hari penyakit itu sembuh.

Pada suatu saat ada seorang anak kecil jatuh dari sampan dan tenggelam di sungai yang sangat pekat warnanya karena banyak tumbuhan air. Setelah ditemukan, anak tersebut sudah tidak bernyawa dan perutnya kembung penuh dengan air. Semua orang menangis meraung-raung tanpa pengharapan. Saat itulah Jim berdoa, memohon belas kasihan Allah agar nyawa anak itu dikembalikan lagi. Mujizat terjadi, anak itu hidup lagi ! Akibatnya seluruh kampung percaya kepada Tuhan Yesus Kristus dan mereka mau dibaptis.

Perjuangan Jim tidaklah sia-sia. Ia baru berumur 24 tahun bersama istri tercintanya ketika mereka masuk ke pedalaman hutan belantara Irian demi keselamatan "saudara-saudaranya", suku Sawi, di Irian bagian selatan. Apa yang ia tabur, kini sudah berbuah. Oleh pertolongan Tuhan saat ini berdiri tujuh sidang jemaat suku Sawi.

Jim Yost mengungkapkan bahwa setelah enam bulan ia baru bisa berkomunikasi dengan bahasa Sawi dan setelah satu tahun ia lebih lancar lagi, sehingga ia dapat menjelaskan hal-hal rohani. Setiap hari ia bersama laki-laki Sawi pergi berburu ke hutan dan istrinya juga masuk ke hutan bersama para wanita Sawi untuk mencari sagu. Dengan cara itu ia menjadi cepat menangkap bahasa Sawi sampai ia dapat menyelesaikan penerjemahan Alkitab Perjanjian Baru ke dalam bahasa Sawi.
Pada saat ini ia sedang menerjemahkan Alkitab Perjanjian Lama bersama-sama orang-orang Sawi dan Lembaga Alkitab Indonesia (LAI).

Anak pertamanya, Amy (16) lahir di Amerika ketika ia sedang cuti di sana.
Sementara itu Jennifer (13) dan Megan (9) lahir di Irian Jaya. Ketiganya sangat menyatu dengan budaya Sawi sekalipun mereka adalah orang Amerika. Dalam hal pendidikan anak-anaknya, istri Jim mengajar mereka di rumah dengan memakai buku-buku yang dibawa dari Amerika sampai sekarang.

"Kami tidak mau berpisah dengan anak-anak. Karena itu mereka tidak kami kirim ke luar untuk belajar, sehingga mereka melihat apa yang ada pada kami. Mereka melihat diri saya sebagai misionaris, bukan hanya orang tua. Contohnya, anak kami yang pertama, Amy, setiap hari membantu ibunya di poliklinik. Ia dapat menyuntik orang-orang sakit, dapat menjahit luka, dapat menolong ibu-ibu yang melahirkan dan lain-lain. Saya yakin dia nanti bisa jadi dokter. Setelah pendidikan selesai nanti Amy dapat kembali ke Irian Jaya." kata Jim.

"Kami tidak kuatir dengan pendidikan mereka sebab yang kami ajarkan sama dengan di sekolah-sekolah Amerika. Tentang pergaulan, memang mereka tidak bergaul dengan anak-anak Amereika sebayanya dan mereka mungkin sedikit rugi, tetapi mereka lebih kaya karena pergaulan dengan anak-anak pedalaman. Mereka tidak punya budaya sendiri, walaupun orang tua mereka berbudaya Amerika. Mereka memiliki supra budaya sehingga gampang menyesuaikan diri," tambah Jim.

Sebab itu, menurut Jim, misionaris yang paling efektif adalah anak-anak dari para misionaris karena mereka lebih menyesuaikan diri dengan lingkungan baru.

Sampai hari ini Jim Yost sudah 20 tahun tinggal di antara saudara-saudaranya, suku Sawi, bersama keluarganya. Mereka berkata bahwa Irian adalah tanah airnya dan menyatu dalam hidup dan budaya Sawi. Dalam pelayanannya, Jim berusaha menerapkan pelayanan terpadu, pelayanan secara utuh yang meliputi roh, jiwa dan tubuh. Ia tidak hanya mengajarkan hal-hal rohani, tetapi ia juga membuka sekolah untuk memberantas buta huruf, mengajarkan kursus peternakan, pelayanan kesehatan, proyek air bersih dll. Jim yakin apabila mereka menerima keselamatan maka hal itu akan mengubah semua kehidupan mereka.

Suku-suku terasing di pedalaman Irian seperti suku Sawi yang ditinggalkan dunia moderen, tetapi diperhatikan Allah. Ia telah mengirimkan hambaNya untuk menyelamatkan mereka. Ia yang telah menciptakan suku-suku bangsa, Ia pula yang akan menyelamatkan mereka dengan cara-Nya sendiri.

Ada kesaksian terbaru tentang Jim Yost ini yang saya dengar minggu ini. Isteri Jim
belakangan ini melayani para pelacur di kompleks lokalisasi PSK. Mereka diberitakan
Injil Kerajaan dan beberapa diantara mereka menerima keselamatan. Isteri Jim mengajarkan mereka yang sudah bertobat, namun masih membutuhkan keuangan untuk menopang kehidupan keluarga : orang tua, adik atau kakak di Surabaya atau Jawa Timur,
dengan cara mendorong mereka beralih ke profesi lain. Mereka belajar menjahit, memasak atau penata rambut. Namun apabila mereka belum dapat mencari nafkah dengan
profesi lain, isteri Jim Yost mengajarkan kiat-kiat tertentu bagi para pekerja seks itu.

Suatu saat Jim Yost datang melayani kaum PSK itu. Ia bertemu seseorang di sana, ia diterima sebagai seorang tamu. Ketika Jim bertemu dengan wanita itu, ia kaget karena perempuan yang sudah bertobat ini mengajaknya ngobrol ngalor ngidul, dengan gaya seorang konselor pernikahan.
"Apakah isteri Mister kurang cantik, sehingga perlu pelayanan saya?"
"Apakah ada masalah keluarga diantara kalian? Biasa 'kan suami isteri ada kalanya
mis-komunikasi, nanti juga baikan lagi." Demikianlah diantaranya pertanyaan sang
pelacur yang menyangka Jim Yost mau memakai jasa pelacur itu.
Tanya Jim, "Kenapa sih kamu mengajak saya ngobrol ngalor ngidul begini?"
"Oh, saya sudah dilatih oleh seorang ibu pendeta untuk melayani tamu saya dengan cara ini. Para tamu diajak ngobrol terus, syukur-syukur lupa dan batal ngajak saya
'make love', tapi saya tetap minta bayaran selama menemani tamu ini."
"Siapa yang mengajari kamu begini?"
"Isterinya pendeta Jim Yost!"

Diantara para pelacur itu ternyata kemudian ada yang bertobat dan berniat menikah.
Jim Yost-lah yang melayani pemberkatan nikah mereka.
"Pak Jim, boleh gak teman- teman saya di kompleks lokalisasi ini ikut ke gereja menghadiri pernikahan saya?"
"Oh, boleh, ajak mereka sebanyak mungkin datang ya?"
Maka pada waktu pemberkatan nikah itu, ada pemandangan unik. Banyak wanita dengan dandanan dan pakaian seronok datang pertama kali ke gereja, karena ada teman mereka yang menikah dengan seorang tukang ojek. Jim Yost mengadakan KKR diantara para perempuan yang membutuhkan keselamatan itu. Demikianlah sekelumit pelayanan Jim Yost bersama keluarganya di hutan-hutan belantara Papua. Dia melayani tuan-Nya, Raja di atas segala raja, yang telah mati menebus dosa seisi dunia ini.
Posted by Hadi Kristadi for: http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Friday, March 9, 2007

A Success Story of Sandwich Restaurant

Jika sering melewati jalan Pesanggrahan Raya menuju Puri Indah dari arah Kebon Jeruk, anda pasti melewati tempat jajan yang ramai dikunjungi mulai sore hari hingga tengah malam. Ya, disitulah Yuyung membuka kedai Sandwich Bakar yang kemudian banyak ditiru dimana-mana. Sebenarnya sandwich bakar Yuyung merupakan pengembangan roti bakar yang biasa dijajakan di pinggir-pinggir jalan pada malam hari. ”Kalau roti bakar biasanya rasanya manis saja, saya mengembangkan sandwich dengan isi crispy salad, smoked beef, smoked marlin, smoked gindara, chicken lada hitam, beef lada hitam, selain isi konvensional seperti kacang, coklat, srikaya, kornet, keju.” katanya.

Melihat keberhasilan Yuyung saat ini tentu orang tidak menyangka bahwa ia pernah mengalami kegagalan dalam bisnisnya. Menjadi pengusaha sebenarnya ia sudah lama. Mulai dari Bandung, ia berbisnis di bidang garmen. Namun pada waktu itu ia sangat mengandalkan pikirannya sendiri, mengandalkan kemampuannya sendiri, tidak melibatkan Tuhan dalam bisnisnya. Ia bahkan belum menjadi orang yang percaya dan beribadah kepada Tuhan. Karena terlalu ’pede’ ia jadi sombong. Suatu saat ia mengalami kebangkrutan dalam bisnisnya. Bukannya mencari Tuhan, ia mencari kompensasi dalam kehidupan dunia gemerlapan. Ia pulang malam dan pulang pagi. Kemudian ia dan keluarga pindah dari Bandung ke Jakarta. Di kota metropolitan inipun ia belum dapat terlepas dari belenggu kenikmatan duniawi. Ia masih pulang malam atau pulang pagi. Isterinya dan anak-anaknya terus mendoakan Yuyung. Mereka berserah kepada Tuhan.
Doanya cukup lama, sampai suatu saat Yuyung diajak mengikuti suatu Camp Pria Sejati dan menerima Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat pribadinya.

Sejak saat itu ia menerima keselamatan kekal, namanya tercatat dalam kitab Kehidupan. Ia merasakan damai dan sukacita yang tidak dapat diberikan oleh dunia ini. Ketika ia mereguk kesenangan duniawi, ia haus terus, ia tidak pernah puas. Namun ketika ia hidup baru, menjadi ciptaan yang baru, kehidupan yang lama itu sudah berlalu. Ia mengalami perjumpaan yang hidup dengan Penciptanya. Ia mengalami Kristus sendiri.

Ia mengalami pembentukan Tuhan. Kehidupannya mulai diarahkan Tuhan sejak saat itu. Ia ditawari sebuah tempat di depan ruko untuk usaha jual makanan.
”Apa yang ada padamu?” tanya temannya.
”Saya sudah tidak punya modal banyak. Tapi saya bisa bikin wedang ronde, karena saya suka makan ronde. Sejak saat itu saya bertekad berbisnis makanan. Kalau cuma jualan ronde saja, kurang menarik. Oleh karena itu saya tambahkan dengan roti bakar. Tapi kalau jualan roti bakar biasa, apa bedanya dengan penjual roti bakar yang lain? Bersyukur, saya mendapatkan hikmat dari Tuhan untuk mengembangkan isi roti bakar, bukan hanya roti manis saja.”

Selebihnya dari kisah Yuyung adalah kisah keberhasilan. Karena semakin berkembang usahanya tidak hanya menempati emperan ruko, tetapi sekarang menempati bangunan ruko itu. Jangan heran setiap sore di depan kedainya jalanan selalu macet karena banyak kendaraan parkir dan keluar masuk tempat jajanan yang laris ini.
Posted by Hadi Kristadi for: http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Monday, March 5, 2007

Tentang Pendidikan Anak-Anak Kita

Sabtu siang saya mendengarkan presentasi di Sekolah Don Bosco Pondok Indah. Yang berbicara pada waktu itu adalah Ir. Antonius Tanan MSc., Ir. Agung Waluyo Ph.D, dan Ir. Ciputra. Mereka berbicara tentang paradigma baru dalam pendidikan di sekolah-sekolah yang bernaung di bawah Yayasan Pondok Indah Don Bosco.

Saat ini tingkat pengangguran di Indonesia sangat tinggi. Beberapa waktu yang lalu ada sekitar 110.000 pelamar kerja di Stasiun Trans TV, padahal yang diterima hanya 500 orang, 1 orang dipilih dari 220 orang. Demikian juga halnya apabila ada lowongan pekerjaan di instansi pemerintah pusat atau daerah, jumlah pelamar sangat jauh lebih besar daripada jumlah pegawai yang akan diterima. Apa artinya ini? Makin lama tingkat persaingan di dunia kerja makin keras.

Sekarang ini lulusan SMA ataupun universitas memiliki tingkat employability yang makin kecil. Makin sulit mereka mendapatkan pekerjaan yang sesuai dengan bidangnya dan menghasilkan pendapatan yang baik. Banyak pekerjaan telah digantikan dengan mesin. Kalau di Indonesia saat ini terdapat 15.000 mesin ATM, itu artinya sekurang-kurangnya 15.000 tenaga kasir telah digantikan oleh mesin ATM. Penjaga konter parkir atau penjaga gerbang tol lambat atau cepat bisa digantikan oleh mesin. Para pekerja di industri sebagian telah digantikan oleh mesin robotik.

Yang menyedihkan, para murid SMA dan mahasiswa sekarang ini masih lebih banyak diajarkan ”Lower Order Thinking”: menghafal. Seharusnya setiap anak didik bergerak dari Lower Order Thinking : Remembering -> Understanding -> Applying -> Analyzing -> Evaluating -> Creating (Higher Order Thinking). Selain itu mereka juga harus banyak mengasah employability skill, termasuk di dalamnya fundamental skills seperti : communication skill, team work skill, personal management skill. Selain itu mereka harus belajar life skills diantaranya problem solving skill, critical thinking, leadership skill. Di sekolah-sekolah di bawah Yayasan yang dipimpin Ir. Ciputra, pelajaran sekolah atau kuliah diarahkan untuk meningkatkan enterpreneurship skill, employability skill, creative thinking, ICT (information & communication technology) literacy, good moral and character education, disamping 21st Century Content (global awareness, finacial- economic and business literacy, civic literacy).

Menurut penulis buku "Being Digital", Nicholas Negroponte, pada tahun 2020 diperkirakan kebanyakan atasan di negara-negara maju adalah orang yang bekerja untuk dirinya sendiri (entrepreneur). Di Indonesia ini jumlah entrepreneur baru 0,2 % dari jumlah penduduk. Di Singapura sudah 2 % lebih.

Sekarang ini karyawan mungkin hanya merangkap 2 – 5 job, tetapi ke depannya setiap karyawan akan dituntut menguasai 10-12 job yang berbeda atau lebih. Suatu saat seorang mahasiswa tingkat doktoral bertanya kepada pembimbingnya, mengapa ia harus mempelajari 3 bahasa pemrograman komputer sekaligus, tidak satu persatu. Jawab pembimbingnya, “Life is tough, we’ve been there, just do it!” Tantangan yang akan dihadapi kita dan anak-anak kita ke depan makin berat.

Hal lain yang banyak luput dari perhatian orang tua adalah bagaimana orang tua menjadi mentor kehidupan bagi anak-anaknya. Banyak orang tua berhasil dalam karier dan bisnis. Pengalaman mereka sangat baik apabila disharingkan dengan anak-anak. Ayah adalah mentor yang baik bagi anak-anak mereka.

Tentang mentoring ini, kita bisa pelajari lebih lanjut dalam majalah GetLife edisi nomor 29 Tahun III bulan Maret 2007 ini. Banyak aspek mentoring dibahas dalam majalah yang berslogan : “Inspire the Change in The Market Place”.
Posted by : Hadi Kristadi for: http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Thursday, March 1, 2007

Khotbah Jelek Yang Memberkati

Seorang hamba Tuhan terkenal mengaku bahwa pada awalnya dia tidaklah fasih berkhotbah. Bahkan suatu saat ia merasa bahwa khotbahnya di dalam suatu kebaktian sangat membosankan, jelek. Ia melihat pada waktu itu jemaat sudah gelisah dan tampak tidak mengerti apa pesan Tuhan. Sepulang dari ibadah itu sang hamba Tuhan sangat kecewa, 'down' dan merasa tidak menjadi berkat bagi orang lain.

Beberapa waktu kemudian ia bertemu dengan seorang pemuda yang ia tidak kenal.
"Pak, ingat tidak, saya pernah mendengar khotbah bapak di gereja anu?"
"Memangnya kenapa?"
"Karena khotbah bapak, saya sekarang telah mantap belajar di Sekolah Tinggi Teologia!"
"Koq bisa?"
"Ya, pada waktu mendengar khotbah itu saya berpikir begini, 'Pendeta ini khotbahnya begini jelek saja berani naik mimbar.' Maka saya yang semula tidak pede (percaya diri), saya jadi bersemangat dan segera mendaftar ke STT. Terima kasih banyak, pak, karena bapak telah menolong saya."

Karena hamba Tuhan ini telah mendengar bahwa khotbahnya yang jelek telah memberkati orang lain, ia masih bisa bersyukur Tuhan masih mau memakai khotbah itu untuk menguatkan seseorang.

Seringkali orang tidak 'pede' untuk melakukan sesuatu dalam melayani Tuhan dan sesama karena takut atau khawatir pelayanannya mengecewakan. Namun kita tahu, bahkan khotbah jelek saja dapat digunakan Tuhan untuk membawa seseorang ke dalam destiny-nya. Memang dalam persekutuan dengan Tuhan, jerih payah kita dalam pelayanan tidaklah sia-sia. Posted by: Hadi Kristadi for: http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Kesaksian Pembaca Buku "Mukjizat Kehidupan"

Pada tanggal 28 Oktober 2009 datang SMS dari seorang Ibu di NTT, bunyinya:
"Terpujilah Tuhan karena buku "Mukjizat Kehidupan", saya belajar untuk bisa mengampuni, sabar, dan punya waktu di hadirat Tuhan, dan akhirnya Rumah Tangga saya dipulihkan, suami saya sudah mau berdoa. Buku ini telah jadi berkat buat teman-teman di Pasir Panjang, Kupang, NTT. Kami belajar mengasihi, mengampuni, dan selalu punya waktu berdoa."

Hall of Fame - Daftar Pembaca Yang Diberkati Buku Mukjizat Kehidupan

  • A. Rudy Hartono Kurniawan - Juara All England 8 x dan Asian Hero
  • B. Pdt. DR. Ir. Niko Njotorahardjo
  • C. Pdt. Ir. Djohan Handojo
  • D. Jeffry S. Tjandra - Worshipper
  • E. Pdt. Petrus Agung - Semarang
  • F. Bpk. Irsan
  • G. Ir. Ciputra - Jakarta
  • H. Pdt. Dr. Danny Tumiwa SH
  • I. Erich Unarto S.E - Pendiri dan Pemimpin "Manna Sorgawi"
  • J. Beni Prananto - Pengusaha
  • K. Aryanto Agus Mulyo - Partner Kantor Akuntan
  • L. Ir. Handaka Santosa - CEO Senayan City
  • M. Pdt. Drs. Budi Sastradiputra - Jakarta
  • N. Pdm. Lim Lim - Jakarta
  • O. Lisa Honoris - Kawai Music Shool Jakarta
  • P. Ny. Rachel Sudarmanto - Jakarta
  • Q. Ps. Levi Supit - Jakarta
  • R. Pdt. Samuel Gunawan - Jakarta
  • S. F.A Djaya - Tamara Jaya - By Pass Ngurah Rai - Jimbaran - Bali
  • T. Ps. Kong - City Blessing Church - Jakarta
  • U. dr. Yoyong Kohar - Jakarta
  • V. Haryanto - Gereja Katholik - Jakarta
  • W. Fanny Irwanto - Jakarta
  • X. dr. Sylvia/Yan Cen - Jakarta
  • Y. Ir. Junna - Jakarta
  • Z. Yudi - Raffles Hill - Cibubur
  • ZA. Budi Setiawan - GBI PRJ - Jakarta
  • ZB. Christine - Intercon - Jakarta
  • ZC. Budi Setiawan - CWS Kelapa Gading - Jakarta
  • ZD. Oshin - Menara BTN - Jakarta
  • ZE. Johan Sunarto - Tanah Pasir - Jakarta
  • ZF. Waney - Jl. Kesehatan - Jakarta
  • ZG. Lukas Kacaribu - Jakarta
  • ZH. Oma Lydia Abraham - Jakarta
  • ZI. Elida Malik - Kuningan Timur - Jakarta
  • ZJ. Luci - Sunter Paradise - Jakarta
  • ZK. Irene - Arlin Indah - Jakarta Timur
  • ZL. Ny. Hendri Suswardani - Depok
  • ZM. Marthin Tertius - Bank Artha Graha - Manado
  • ZN. Titin - PT. Tripolyta - Jakarta
  • ZO. Wiwiek - Menteng - Jakarta
  • ZP. Agatha - PT. STUD - Menara Batavia - Jakarta
  • ZR. Albertus - Gunung Sahari - Jakarta
  • ZS. Febryanti - Metro Permata - Jakarta
  • ZT. Susy - Metro Permata - Jakarta
  • ZU. Justanti - USAID - Makassar
  • ZV. Welian - Tangerang
  • ZW. Dwiyono - Karawaci
  • ZX. Essa Pujowati - Jakarta
  • ZY. Nelly - Pejaten Timur - Jakarta
  • ZZ. C. Nugraheni - Gramedia - Jakarta
  • ZZA. Myke - Wisma Presisi - Jakarta
  • ZZB. Wesley - Simpang Darmo Permai - Surabaya
  • ZZC. Ray Monoarfa - Kemang - Jakarta
  • ZZD. Pdt. Sunaryo Djaya - Bethany - Jakarta
  • ZZE. Max Boham - Sidoarjo - Jatim
  • ZZF. Julia Bing - Semarang
  • ZZG. Rika - Tanjung Karang
  • ZZH. Yusak Prasetyo - Batam
  • ZZI. Evi Anggraini - Jakarta
  • ZZJ. Kodden Manik - Cilegon
  • ZZZZ. ISI NAMA ANDA PADA KOLOM KOMENTAR UNTUK DIMASUKKAN DALAM DAFTAR INI