Wednesday, December 12, 2007

From Success to Significance

Sepuluh tahun yang lalu saya membuat peralihan kehidupan pada paruh umur saya (sekitar usia 45 tahun) untuk mengarahkan kembali kehidupan saya pada hal-hal yang saya anggap bermakna. Saya tidak lagi mengalami perasaan tidak enak dalam perut saya karena terjebak dalam kehidupan yang penuh kesibukan, karena mengejar hal-hal yang tidak kekal dengan mengorbankan hal-hal yang lebih saya pentingkan. Yang rasanya aneh bagi saya adalah saya masih bekerja sama kerasnya dengan sebelumnya, tetapi entah mengapa saya mengetahui bahwa saya sudah bebas dari gaya hidup yang penuh dengan persaingan hebat. Satu perbedaan yang nyata adalah saya merasakan sedikit saja stres, setidaknya kalau dibandingkan dengan stres yang menciutkan nyali yang saya alami dalam paruh pertama kehidupan saya sebagai seorang pengembang real estate.

Saya masih ingat malam-malam saya tidak bisa tidur dan bergolek ke sana kemari di tempat tidur karena memikirkan apakah bank akan bersedia mendanai transaksi real estate saya berikutnya. Memikirkan apakah permintaan pelanggan untuk proyek perumahan lansia saya bisa sebaik yang saya perkirakan. Saya masih ingat perasaan bahwa saya mungkin sedang menyia-nyiakan kehidupan saya untuk mengejar sesuatu yang ternyata hanya ilusi. Secara diam-diam saya sering menanyai diri saya sendiri apakah untuk semua ini saya diciptakan?

Memang benar, saya masih merasa khawatir dari waktu ke waktu, seperti misalnya saat pasar saham naik turun atau kalau tiba-tiba ada pengeluaran keluarga yang tidak terduga. Tetapi, ini adalah stres yang sama sekali berbeda. Saya masih menikmati kerja keras, mencapai tujuan-tujuan, saya masih mengambil risiko, tetapi sekarang saya melakukannya karena rasa panggilan bukannya suatu dorongan batin yang tidak bisa dijelaskan. Saya melakukannya dengan rasa percaya diri bahwa saya berada di tempat terbaik di dalam tujuan saya diciptakan. Dan, saya menikmati kehidupan saya. Saya bangun setiap pagi dengan perasaan bahwa saya sangat beruntung karena mengetahui apa kesenangan terbesar saya, karena saya tahu apa keahlian saya dan saya sudah diberi kemampuan untuk menjalani kehidupan saya dengan berfokus pada hal-hal tersebut.

Pada tahun 1993, saya melakukan peralihan kehidupan di paruh umur saya. Bagaimana caranya? Saya menekan tombol "berhenti sejenak" di tengah-tengah pertandingan kehidupan untuk menengok kembali kepada semua pelajaran dan pencapaian dari paruh umur pertama, untuk merenungkan apa yang benar-benar penting pada masa mendatang dan untuk mengarahkan kembali kehidupan saya pada paruh umur kedua. Secara khusus, saya ingin mengejar kemungkinan untuk pindah dari keberhasilan kepada kebermaknaan. Tetapi, tanpa uang jutaan dolar di dalam rekening bank, tentu dibutuhkan kreativitas dan keteguhan dalam tujuan untuk menemukan jalan untuk mencapai kehidupan yang bermakna. Demikianlah kesaksian Lloyd Reeb dalam buku "From Success to Significance"

Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com