Search This Blog

Monday, December 24, 2007

Merry Christmas & Happy New Year

Dear All,
I wish you all a Very Merry Christmas 2007 and a Happy Prosperous New Year 2008!

"And this I pray, that your love may abound yet more and more in knowledge and in all judgment; That ye may approve things that are excellent; that ye may be sincere and without offence till the day of Christ. Being filled with the fruits of righteousness, which are by Jesus Christ, unto the glory and praise of God."
(Philipians 1:9-11)

"Semoga kasihmu makin melimpah dalam pengetahuan yang benar dan dalam segala macam pengertian, sehingga kamu dapat memilih apa yang baik, supaya kamu suci dan tak bercacat menjelang hari Kristus, penuh dengan buah kebenaran yang dikerjakan oleh Yesus Kristus untuk memuliakan dan memuji Allah. (Filipi 1:9-11)

Ditulis oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Wednesday, December 19, 2007

Blessing In Disguise

Berkat dari Kerusuhan

Jemmy berasal dari keluarga yang tidak mengenal Tuhan. Ayahnya adalah seorang pengusaha sukses di Medan yang kemudian jatuh miskin karena ditipu karyawannya sendiri. Saat itu Jemmy masih duduk di bangku kelas dua Sekolah Dasar. Kondisi ekonomi yang sulit membuat ayah Jemmy membawa seluruh keluarganya ke Jakarta. Di sana mereka tinggal di sebuah garasi milik teman ayah Jemmy.

Selama bertahun-tahun utang melilit keluarga Jemmy. Tinggal di sebuah garasi menjadi suatu pengalaman pahit yang tak terlupakan bagi Jemmy. Bahkan Jemmy sendiri pun harus bekerja keras untuk membiayai kuliahnya. Namun kesulitan yang harus Jemmy hadapi di dalam keluarganya tidak membuatnya menjadi mundur, melainkan membuat Jemmy mempunyai satu tekad untuk keluar dari masalah ekonomi itu.

Pada tahun 1984 Jemmy menikah dengan Ninawati. Setelah 10 tahun, kerja keras Jemmy dan Ninawati terbayar. Usaha Chic's Music yang mereka rintis mulai berkembang. Bertahun-tahun Jemmy berjuang untuk lepas dari lingkaran kemiskinan. Saat usaha mulai berkembang, sebuah kerusuhan mengancam usahanya.

Sabtu, 27 Juli 1996

Ketakutan melanda kota Jakarta. Konflik kekuasaan terhadap dua kubu politik pecah. Korban pun berjatuhan. Tak sedikit dari mereka adalah warga sipil. Jemmy Suhadi adalah salah satu di antaranya.

Beberapa hari sebelummya Jemmy memang sudah mendengar akan ada penyerangan ke kantor PDI, kantor yang hanya berjarak 1 km dari toko alat musik Jemmy. Tapi Jemmy hanya menanggapinya dengan biasa karena ia tidak menyangka kalau keadaannya akan separah itu karena memang belum pernah terjadi kerusuhan apalagi sampai terjadi peristiwa pembakaran.

Pada saat itu toko Jemmy sedang mendapat order yang banyak karena sebagaimana lazimnya setiap tahun, menjelang tanggal 17 Agustus, pembeli di toko Jemmy pasti sangat ramai dikunjungi orang. Biasanya mereka membutuhkan alat band maupun sound system yang akan dipakai di perayaan-perayaan 17-an. Waktu itu Jemmy juga mendapat order yang besar sehingga pada waktu kejadian, Jemmy sedang mengumpulkan barang-barang yang akan ia kirim ke pembelinya.

Pukul 1 siang Jemmy sudah mulai menyuruh sebagian karyawannya pulang terutama wanita sampai tinggal sembilan orang yang masih bekerja di toko itu. Pukul 5 sore, massa mulai berpencar. Mereka mulai bergerak ke arah pertokoan. Dengan membabi buta mereka mulai merusak beberapa bangunan. Karyawan Jemmy pun mulai panik. Ditambah lagi keadaan yang gelap gulita karena lampu sudah mati sejak pukul 4 sore. Massa sudah sangat banyak dan bergerak semakin dekat ke toko Jemmy. Dengan cepat Jemmy menyuruh karyawannya untuk menutup pintu besi tokonya dan segera mencari tempat perlindungan. Ruko di sebelah toko Jemmy pun sudah dijarah. Keadaan sudah semakin gawat.

Jam 5 sore massa sudah membakar toko di ujung jalan, sederetan dengan toko Jemmy. Pada waktu itu Jemmy dan seluruh karyawannya sudah tidak dapat berbuat apa-apa lagi. Dengan penuh ketakutan dan kepanikan, Jemmy bersembunyi di dalam ruko yang gelap total karena lampu yang sudah padam. Mereka hanya dapat mendengar teriakan massa yang histeris, "Bakar!! Bakar!! Bunuh!! Bongkar!!". Teriakan-teriakan itu semakin membuat Jemmy dan seluruh karyawannya ketakutan. Stres pun melanda mereka karena mereka sudah tidak tahu lagi apa yang seharusnya mereka perbuat.

Amukan massa di depan toko Jemmy pun terdengar semakin tidak terkendali. Malam kian mencekam saat massa mulai menerobos masuk ke dalam toko. Hati Jemmy tergerak untuk berdoa.

"Saya hanya minta satu hal kepada Tuhan: jangan sampai satu pun di antara kami yang mati."

Tiba-tiba Jemmy seperti mendapatkan suatu hikmat. Dengan segera ia meminta seluruh karyawannya untuk naik ke atap dan berusaha untuk keluar dari plafon. Tepat pada saatnya mereka semua dapat keluar dari toko tanpa kekurangan sesuatu apapun karena kira-kira pada pukul 8 malam, toko Jemmy sudah dijebol, habis dijarah dan dibakar orang.

Sabtu kelabu, 27 Juli 1996, usaha dan seluruh impian Jemmy habis dijarah dan dibakar massa. Yang tersisa hanyalah utang, kesedihan dan trauma yang mendalam. Akankah pengalaman pahitnya di masa kecil akan kembali terulang?

Bangkit Dari Keterpurukan
Secara jujur Jemmy mengakui kalau ia tidak dapat menerima keadaan itu. Selama tujuh tahun Jemmy merintis usaha dari nol, dan hanya dalam satu malam semuanya habis lenyap begitu saja. Jemmy mengalami kerugian kurang lebih 1 milyar akibat kerusuhan itu. Sekalipun ia harus menjual seluruh harta miliknya, tidak akan cukup untuk melunasi utangnya. Jemmy benar-benar tidak percaya dengan kejadian yang menimpanya saat itu. Ia tidak dapat mempercayai bahwa hal itu dapat terjadi atas hidupnya.

Selama satu bulan sesudah peristiwa itu, Jemmy terlihat seperti orang yang bingung. Tidak banyak bicara dan sepertinya untuk berdoa pun Jemmy sudah tidak mampu lagi. Jemmy benar-benar sudah kehilangan semangat hidupnya. Tapi Jemmy patut bersyukur karena memiliki istri yang luar biasa. Ninawati senantiasa menguatkan Jemmy dan tak pernah berhenti berdoa untuknya. Sampai pada suatu hari Jemmy menerima satu firman Tuhan dari 1 Petrus 1:6-7 yang menyadarkan Jemmy bahwa dirinya begitu berharga di mata Tuhan. Karena kalau Tuhan tidak sayang kepadanya, ia pasti akan mati terbakar juga pada saat kerusuhan itu. Hal itulah yang membuat Jemmy bangkit kembali.

Setelah berdoa, Tuhan memberikan kekuatan kepada Jemmy dan Jemmy benar-benar merasakan penyertaan Tuhan saat ia menemui para suppliernya. Dengan terus terang Jemmy mengatakan kalau dirinya saat ini terlibat utang yang sangat besar. Namun apa yang Jemmy takutkan ternyata tidak terjadi. Para suppliernya tidak menuntutnya untuk segera melunasi utangnya namun justru membuka tangan dan berniat membantu Jemmy untuk kembali bangkit di dalam usahanya. Jemmy sangat yakin dan percaya semua ini hanya karena perkenanan Tuhan di dalam hidupnya.

Hal yang luar biasa pun terjadi. Hanya dalam waktu empat bulan, Jemmy telah mempunyai tempat usaha yang baru. Toko musik baru yang jauh lebih besar, lebih mewah dan isinya lebih lengkap daripada sebelum kejadian. Utang Jemmy yang nilainya sekitar 500 juta pun dapat dilunasinya dalam waktu kurang dari tiga tahun. Peristiwa kerusuhan itu ternyata bukanlah menjadi akhir dari Chic's Music, melainkan menjadi titik awal usaha Jemmy yang semakin berkembang lebih maju lagi.

"Hal yang Tuhan ajarkan kepada saya adalah apa yang tidak mungkin bagi manusia, tapi bagi Dia tidak ada yang mustahil. Tuhan mengubahkan yang tadinya tidak bisa menjadi bisa. Saya jauh lebih dekat dengan Tuhan dan merasakan kalau saya ini begitu disayang oleh Dia. Kebaikan Tuhan itu luar biasa, tidak pernah melupakan saya. Saya benar-benar merasakan luar biasanya penyertaan Dia di dalam hidup saya," ujar Jemmy menutup kesaksiannya. (Kisah ini sudah ditayangkan 17 Desember 2007 dalam acara Solusi di SCTV).

Sumber Kesaksian:
Jemmy Suhadi/jawaban.com

Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

A Message From Chuck Pierce

Tuhan berkata kepada Chuck Pierce, “Akulah Pembuat Jalan. Aku akan membuka gerbang baru bagimu. Mintalah kepada-Ku agar mengampunimu karena engkau tidak membalas berkat-berkat-Ku dengan pujian syukur. Mintalah kepada-Ku untuk membersihkan dan memulihkan akal budi dan hatimu dan membawamu ke dalam kekudusan yang baru. Jangan biarkan roh-roh kritik dan penghakiman menguasaimu. Aku akan menerobos jalanmu. Pada siang hari engkau akan mulai melihat Terobosan. Terang-Ku akan menyebabkan kuasa kegelapan dikalahkan. Biarkan Aku berjalan di depanmu dan ijinkan Aku untuk menghadapi kuasa kegelapan yang dirancang untuk menyikat berkat-berkat-Ku daripadamu. Hormatilah Roh-Ku! Aku akan mengirimkan angin Roh-Ku! Aku akan mengirimkan angin Roh-Ku! AKU AKAN MENGIRIMKAN ANGIN ROH-KU! Aku akan mengirimkan angin Roh-Ku untuk membebat luka-luka dari masa lalumu. Roh Kudus akan meyakinkan engkau bahwa luka-luka masa lalumu telah menghalangi engkau untuk datang lebih dekat kepada-Ku.

Hadirat-Ku sudah menanti engkau untuk sampai pada ’tujuanmu’. Apabila engkau berjalan melalui api, hadirat-Ku ada di sana. Apabila engkau berjalan melalui banjir, aliran air tidak akan menghanyutkan engkau karena hadirat-Ku sudah ada bersamamu di sana. Akulah Jehova Shamah. Aku sudah ada di sana. Akuilah keberadaan-Ku di tengah-tengahmu.

Janganlah bergerak terburu-buru. Jangan mengambil keputusan terburu-buru pada saat ini. Mundurlah satu langkah dan engkau akan melihat keputusan-keputusan yang Aku sedang buat demi kepentinganmu. Apabila engkau mundur satu langkah, engkau akan melihat bahwa Aku ada di sana untuk menolongmu mengambil keputusan dan menyelaraskan kehendakmu.

Akulah Penebusmu yang siap di pintu gerbang, untuk membuka dan menyiapkan jalan bagimu. Akulah Penebusmu yang siap di pintu gerbang. Apabila engkau siap untuk bergerak kembali ke posisi yang Aku siapkan bagimu, engkau akan melihat bahwa Aku sudah ada di sana dan telah membuka kunci pintu gerbang yang selama ini mengurung engkau. Aku hadir saat ini untuk menebus engkau kembali dari pihak musuh. Aku hadir saat ini untuk memantapkan engkau dan menyebabkan engkau berkuasa. Aku hadir saat ini untuk membangkitkan engkau dan membawa kembali engkau ke dalam tujuan hidupmu yang penuh dan terencana!"

Blessings,
CHUCK PIERCE

*******
The Lord is saying: I AM the WayMaker. I will open the new gate for you. Ask Me to forgive you for not turning MY blessings back into praise. Ask ME to cleanse and restore your mind and heart and bring you into a new purity of expression. Do not allow critical and judgmental spirits to overtake you. I will break forth your WAY. At noon time you will begin to see Breakthrough. My Light will cause darkness to not triumph. Send Me before you and allow Me to contend with the darkness that is set to rob you of MY blessings. Honor My Spirit! I will send the wind! I will send the wind! I WILL SEND MY WIND! I will send the wind to comfort your woundings of the past. Holy Spirit will convict you of allowing your past hurts keep you from coming near to Me.

My Presence is already waiting for you to get to your "there". When you walked through the fire, MY presence was there. When you walked through the flood, the waters did not overtake you because MY Presence was already there with you. I AM Jehovah Shammah. I AM already there. Recognize Me in your midst.

Do not rush in. Do not rush into your decisions this hour. Take one step back and you will see the decisions I am making on your behalf. If you will take that one step back you will see that I am already there to help you decide and realign your will.

I am already Your redeemer at the gate, to open up and unlock the Way for you. I am your redeemer at the gate. When you are ready to move back into the position I have for you, you will see that I AM already there and have unlocked the gate of your prison. See the NEW GATE into the field that I have for you. I AM your redeemer at the gate. I AM present to buy you back from the hand of the enemy. I AM present to establish you and cause you to reign. I AM present to raise you up and bring you back into the fullness of your planned destiny!"

Blessings,
CHUCK PIERCE

Diterjemahkan dan diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Tuesday, December 18, 2007

The Letter

Seperti yang engkau ketahui, kita semua semakin dekat pada hari kelahiran-Ku. Setiap tahun ada perayaan untuk menghormati-Ku dan Aku pikir tahun ini perayaannya akan berulang.

Selama masa Natal banyak sekali orang yang berbelanja hadiah. Ada banyak iklan di toko-toko, di radio, di TV, dan di setiap bagian dunia ini setiap orang membicarakan kelahiran-Ku yang makin mendekat. Memang menyenangkan juga mengetahui bahwa paling tidak setahun sekali beberapa orang memikirkan Aku.

Seperti engkau ketahui, perayaan hari ulang tahun-Ku dimulai sejak dulu. Pada mulanya orang-orang nampak mengerti dan berterima kasih atas segala yang Aku lakukan bagi mereka, namun sekarang ini sedikit orang yang kelihatannya tahu alasan mengapa ada perayaan kelahiran-Ku.

Keluarga dan teman-teman berkumpul bersama dan menikmati banyak kesenangan, namun mereka tidak tahu arti perayaan itu. Aku ingat bahwa tahun lalu ada perayaan besar untuk menghormati Aku. Meja makan telah penuh dengan makanan-makanan lezat, kue-kue dan roti, buah-buahan, kacang dan coklat pilihan. Dekorasinya begitu indah dan anggun dan di sana diletakkan begitu banyak kado yang dibungkus dengan sangat indah.

Namun demikian, apakah engkau ingin tahu sesuatu? Aku tak diundang ke pesta itu! Akulah tamu kehormatannya dan mereka bahkan tidak ingat mengirimkan undangannya kepada-Ku. Pesta itu untuk-Ku, tetapi ketika hari luar biasa itu datang, Aku dibiarkan di luar, mereka menutup rapat pintu di depan-Ku, padahal Aku ingin bersama mereka dan duduk bersama di meja perjamuan itu.

Sesungguhnya, hal itu tidak terlalu mengagetkan-Ku karena dalam beberapa tahun terakhir ini banyak orang selalu menutup pintu bagi-Ku. Karena Aku tak diundang, Aku memutuskan untuk memasuki pesta itu diam-diam. Aku masuk dan berdiri di suatu pojok ruangan. Mereka sedang minum-minum; ada yang sudah mabuk dan bercerita tentang lelucon-lelucon. Mereka semua tertawa karenanya.

Mereka semua sedang menikmati suasana yang luar biasa. Supaya tambah meriah, ada seorang pria gemuk yang mengenakan baju yang berwarna merah seluruhnya dengan jenggot putih, dan memasuki ruangan itu dengan berseru ‘Ho-Ho-Ho!’ Ia kelihatannya mabuk. Ia duduk di sofa dan semua anak-anak berlarian ke arahnya, sambil berkata, “Santa Claus, Santa Claus”, seolah-olah pesta itu diadakan bagi dirinya!

Pada tengah malam itu semua orang saling berpelukan; Aku mengulurkan tangan-Ku, menunggu ada orang yang memeluk-Ku dan tak seorangpun memeluk-Ku. Tiba-tiba mereka mulai saling berbagi kado. Mereka membuka kado itu satu per satu dengan pengharapan yang besar. Ketika semua kado selesai dibuka, Aku mencari tahu apakah ada kado tersedia bagi-Ku. Bagaimana perasaanmu kalau pada hari ulang tahunmu setiap orang saling berbagi kado namun engkau yang berulang tahun tidak mendapat kado apapun?
Lantas Aku mengerti bahwa Aku tidak dikehendaki di pesta itu dan aku diam-diam berlalu. Setiap tahun malah bertambah buruk. Orang-orang hanya ingat kado-kado, pesta-pesta, makan dan minum, dan sedikit orang yang mengingat-Ku.

Aku ingin pada hari Natal ini engkau mengizinkan Aku masuk ke dalam kehidupanmu. Aku ingin agar engkau menyadari kenyataan bahwa sekitar dua ribu tahun lalu, Aku datang ke dunia ini untuk menyerahkan nyawa-Ku bagimu di kayu salib, untuk menyelamatkan engkau.

Hari ini Aku hanya ingin agar engkau mempercayai hal ini dengan segenap hatimu. Aku ingin membuka suatu rahasia kepadamu. Karena mereka tidak mengundang-Ku pada pesta mereka, Aku akan mengadakan pesta dan perjamuan agung dan mulia yang tidak pernah dibayangkan siapapun, pesta yang sangat luar biasa dan spektakuler. Aku masih mengadakan persiapan akhir untuk itu.

Hari ini Aku mengirimkan banyak undangan dan ada satu undangan bagimu. Aku ingin memastikan apakah engkau mau menghadiri pesta-Ku dan Aku akan mereservasi satu tempat bagimu dan menuliskan namamu dengan tinta emas di dalam buku tamu-Ku yang luar biasa. Hanya mereka yang ada di dalam daftar tamu yang akan diundang ke pesta itu. Mereka yang tidak memberikan konfirmasi akan dibiarkan berada di luar ruangan pesta. Bersiap-siaplah karena apabila semuanya telah siap, engkau akan bersama-sama dengan-Ku di pesta yang agung itu.

Aku mengasihimu!
Yesus

********


A letter from Jesus Christ....Our God

As you well know, we are getting closer to my birthday. Every year there is a celebration in my honor and I think that this year the celebration will be repeated. During this time there are many people shopping for gifts, there are many radio announcements, TV commercials, and in every part of the world everyone is talking that my birthday is getting closer and closer.

It is really very nice to know, that at least once a year, some people think of me. As you know, the celebration of my birthday began many years ago. At first people seemed to understand and be thankful of all that I did for them, but in these times, no one seems to know the reason for the celebration.

Family and friends get together and have a lot of fun, but they don't know the meaning of the celebration. I remember that last year there was a great feast in my honor. The dinner table was full of delicious foods, pastries, fruits, assorted nuts and chocolates. The decorations were exquisite and there were many, many beautifully wrapped gifts.

But, do you want to know something? I wasn't invited.
I was the guest of honor and they didn't remember to send me an invitation. The party was for me, but when that great day came, I was left outside, they closed the door in my face .. and I wanted to be with them and share their table. In truth, that didn't surprise me because in the last few years all close their doors to me. Since I wasn't invited, I decided to enter the party without making any noise. I went in and stood in a corner. They were all drinking; there were some who were drunk and telling jokes and laughing at everything. They were having a grand time.

To top it all, this big man all dressed in red wearing a long white beard entered the room yelling Ho-Ho-Ho! He seemed drunk. He sat on the sofa and all the children ran to him, saying: "Santa Claus, Santa Claus" as if the party were in his honor!

At midnight all the people began to hug each other; I extended my arms waiting for someone to hug me and do you know no-one hugged me. Suddenly they all began to share gifts. They opened them one by one with great expectation. When all had been opened, I looked to see if, maybe, there was one for me. What would you feel if on your birthday everybody shared gifts and you did not get one?

I then understood that I was unwanted at that party and quietly left.
Every year it gets worse. People only remember the gifts, the parties, to eat and drink, and nobody remembers me.

I would like this Christmas that you allow me to enter into your life.
I would like that you recognize the fact that almost two thousand years ago, I came to this world to give my life for you, on the cross, to save you.

Today, I only want that you believe this with all your heart. I want to share something with you. As many didn't invite me to their party, I will have my own celebration, a grandiose party that no one has ever imagined, a spectacular party. I'm still making the final arrangements..

Today I am sending out many invitations and there is an invitation for you. I want to know if you wish to attend and I will make a reservation for you and write your name with golden letters in my great guest book. Only those on the guest list will be invited to the party. Those who don't answer the invitation will be left outside. Be prepared because when all is ready you will be part of my great party.

I love you!
Jesus

Diterjemahkan dan diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Monday, December 17, 2007

Witnessing All The Time

Partini yang Rajin Bersaksi

Ini kisah seorang pembantu yang bekerja pada Pdt. Sukirno. Partini menerima Tuhan Yesus setelah seseorang memberitakan Kabar Baik kepadanya. Sejak saat itu Partini rajin berdoa dan membaca Alkitab. Bukan itu saja, ia suka membagikan berita keselamatan itu kepada teman pembantu, tukang sayur, petugas PLN yang mencatat meteran listrik, petugas PAM yang mencatat pemakaian air PAM, siapapun yang ia bisa temui. "Mas, udah kenal Tuhan Yesus belum?" katanya kepada orang-orang itu.

Suatu saat Pdt. Sukirno kedatangan tukang sayur yang marah-marah diceritakan kabar baik oleh Partini. Dengan enteng Partini membela diri, "Kan saya cuma cerita tentang Tuhan Yesus. Terserah dia mau terima atau tidak. Yang penting, saya ingin semua orang dengar tentang Tuhan saya yang ajaib.

Pada waktu tertentu Pdt. Sukirno mempekerjakan 'pembantu infal' yaitu para TKW yang dapat dipekerjakan beberapa hari jika ada kebutuhan mendesak. Nah, beberapa TKW yang pernah bekerja di rumah itu harus bertemu dan mendengar cerita tentang Tuhan Yesus. Dari belasan orang TKW yang pernah bertemu dengan Partini, ada empat orang yang percaya kepada Tuhan Yesus.

"Pak, minta dibelikan Alkitab lagi dong?" kata Partini kepada majikannya.
"Emangnya Alkitab kamu kemana?"
"Oh, Alkitab saya diberikan kepada Siti, TKW yang mau berangkat ke Singapura. Saya bilang kepadanya, 'Supaya kamu gak kesepian, biar Tuhan Yesus dan Alkitab ini temanin kamu ke Singapura...' Gitu pak..."

Kali lain Partini bilang kepada sopir baru, "Mas, ayo baca Alkitab yang ada di mobil itu. Biarpun punya Bapak, itu boleh dibaca lho, isinya bagus," kata Partini meyakinkan. Partini percaya, karena oleh anugerah-Nya ia diselamatkan, maka ia ingin orang-orang lainpun diselamatkan seperti dirinya.

Ditulis oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Friday, December 14, 2007

The Backsliding of God's Servants

Jatuh Ke Lembah Dosa

Kisah tragis ini dapat menjadi pelajaran berharga bagi kita semua. Kejatuhan Ted Hagard, seorang hamba Tuhan terkenal di Amerika Serikat yang terlibat dalam hubungan sesama jenis, ternyata belum memberi pelajaran bagi hamba-hamba Tuhan yang lain. Minggu lalu saya mendengar seorang Wakil Gembala di sebuah gereja diangkat menjadi Gembala Cabang di gereja itu karena sang Gembala Cabang sebelumnya kedapatan berbuat tidak senonoh dengan sesama jenisnya.

Kisah ini terjadi di Jakarta dan memang tidak diketahui banyak orang karena hal ini cukup memalukan. Sekarang mantan Gembala ini entah kemana. Menurut pengakuan seorang pengerja yang dilecehkan secara seksual oleh gembala tadi, sang gembala memeluk dirinya dengan penuh nafsu, bukan pelukan dengan hati Bapa. Ah, mengapa bisa demikian? Saya teringat firman Tuhan yang berkata, "Yang cemar akan menjadi semakin cemar, yang kudus akan menjadi semakin kudus." dan "penghakiman itu dilakukan di rumah Tuhan terlebih dahulu." Biarlah kita hati-hati menjaga hati dan kekudusan kita supaya kita kedapatan tak bercacat cela pada kedatangan Tuhan Yesus pada kali yang kedua. Semoga!

Ditulis oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Thursday, December 13, 2007

Touch My Heart

Sentuh Hatiku

Kasih yang selalu memberi. Itu yang saya lihat dalam orang-orang yang mendoakan pasien di RS Cikini, RS Siloam Hospitals, dan di Rumah Sakit lainnya. Kasih yang bagai air mengalir dari tempat tinggi ke tempat lebih rendah, terus ke tempat paling rendah. Air itu membawa harapan baru, membawa pemulihan, membawa semangat baru. Kasih yang selalu memberi, itu yang saya lihat dari orang-orang yang melayani pemulung, PSK, gelandangan, pengamen dll. Kasih yang selalu memberi, itu yang saya lihat dari orang-orang yang melayani di pedesaan, di hutan, di gunung, di lembah, dimana saja ada orang yang memperlukan kasih Kristus.

Lagu "Sentuh Hatiku" ini telah menjadi theme song sebuah sinetron di sebuah stasiun TV. Lebih enak kalau kita menyanyikan lagu itu dengan keyakinan bahwa kita rela mau menjadi seperti air itu, turun ke tempat lebih rendah, mengisi kekosongan, mengisi celah-celah yang gersang.

SENTUH HATIKU

BETAPA KUMENCINTAI
SEGALA YANG T'LAH TERJADI
TAK PERNAH SENDIRI JALANI HIDUP INI
SELALU MENYERTAI

BETAPA KUMENYADARI
DI DALAM HIDUPKU INI
KAU SLALU MEMBERI RANCANGAN TERBAIK
OLEH KARENA KASIH

REFF :
BAPA, SENTUH HATIKU, UBAH HIDUPKU
MENJADI YANG BARU
BAGAI EMAS YANG MURNI
KAU MEMBENTUK BEJANA HATIKU

BAPA, AJARKU MENGERTI SEBUAH KASIH
YANG SELALU MEMBERI
BAGAI AIR MENGALIR
YANG TIADA PERNAH BERHENTI

Ditulis oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Worse Than A Donkey

Jatuh Ke Lubang Yang Sama

Mr. Bean datang ke dokter dengan kedua telinganya luka terbakar.
Dokter: "Apa yang terjadi?"
Mr. Bean: "Saya sedang menyeterika dan telepon berdering, saya salah mengambil gagang telepon. Tidak sengaja saya mengangkat seterika dan menempelkannya di telinga saya."
Dokter: "Wah wah! Tetapi apa yang terjadi dengan telinga Anda yang satu lagi?"
Mr. Bean: "Teman saya yang tolol itu menelepon lagi!"

Kejadian di atas sebenarnya sering kita lihat dalam kehidupan sehari-hari. Roy sudah tahu bahaya narkoba, tapi lagi-lagi Roy terjerumus ke dalam lubang yang sama. Roy sudah pernah merasakan betapa malu dan sengsaranya di penjara, lalu kini masuk penjara lagi. Kenapa masih mau dipenjara? " Abis, temen gua yang tolol itu menelpon lagi," kata Mr. Bean dan mungkin juga kata Roy. Lucu? Tragis?

Seorang pemuda minggu lalu mengalami kecelakaan sepeda motor, berdarah-darah, gegar otak, dan patah tulang bahunya. Penyebabnya sederhana, ia baru saja menenggak tiga botol bir. Dalam keadaan mabuk dan jalanan licin ia yang tidak memakai helm terjatuh dan harus dirawat di Rumah Sakit beberapa hari. Ia masih suka menenggak bir atau vodka meskipun tahu akibat buruknya. Mengapa jatuh ke lubang yang sama?

Ditulis oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

The Effect of the Film "My Hope"

Kebangunan Rohani Via Film "Sebuah Penantian"

Ternyata film "Sebuah Penantian" yang akan ditayangkan di RCTI pada hari Sabtu 15 Desember 2007 dan di TVRI pada hari Minggu 16 Desember 2007 telah membangkitkan kehidupan rohani banyak jemaat. Meskipun filmnya belum diputar, sejak beberapa minggu terakhir ini terjadi kebangunan rohani di beberapa gereja.

Seorang gembala dari Nias melaporkan bahwa jemaatnya meningkat dari biasanya 10-15 orang menjadi 30-35 orang setelah dipromosikan akan ada program Harapanku Indonesia. Gembala lain di Jawa banyak melaporkan peningkatan jemaat di dalam ibadah-ibadah mereka. Namun yang penting, bukan hanya kuantitas jemaat yang meningkat, namun kualitas kehidupan rohani kita semua berkembang saat-saat ini. Saya percaya kita semua antusias menyambut program Harapanku Indonesia ini. Yang lebih penting adalah kalau kita bertindak sebagai "Tuan dan Nyonya Matius" yaitu orang-orang yang mengajak tetangga, teman dan saudara-saudara untuk sama-sama menyaksikan kisah yang sangat menyentuh hati: Sebuah Penantian.

Ditulis oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Wednesday, December 12, 2007

From Success to Significance

Sepuluh tahun yang lalu saya membuat peralihan kehidupan pada paruh umur saya (sekitar usia 45 tahun) untuk mengarahkan kembali kehidupan saya pada hal-hal yang saya anggap bermakna. Saya tidak lagi mengalami perasaan tidak enak dalam perut saya karena terjebak dalam kehidupan yang penuh kesibukan, karena mengejar hal-hal yang tidak kekal dengan mengorbankan hal-hal yang lebih saya pentingkan. Yang rasanya aneh bagi saya adalah saya masih bekerja sama kerasnya dengan sebelumnya, tetapi entah mengapa saya mengetahui bahwa saya sudah bebas dari gaya hidup yang penuh dengan persaingan hebat. Satu perbedaan yang nyata adalah saya merasakan sedikit saja stres, setidaknya kalau dibandingkan dengan stres yang menciutkan nyali yang saya alami dalam paruh pertama kehidupan saya sebagai seorang pengembang real estate.

Saya masih ingat malam-malam saya tidak bisa tidur dan bergolek ke sana kemari di tempat tidur karena memikirkan apakah bank akan bersedia mendanai transaksi real estate saya berikutnya. Memikirkan apakah permintaan pelanggan untuk proyek perumahan lansia saya bisa sebaik yang saya perkirakan. Saya masih ingat perasaan bahwa saya mungkin sedang menyia-nyiakan kehidupan saya untuk mengejar sesuatu yang ternyata hanya ilusi. Secara diam-diam saya sering menanyai diri saya sendiri apakah untuk semua ini saya diciptakan?

Memang benar, saya masih merasa khawatir dari waktu ke waktu, seperti misalnya saat pasar saham naik turun atau kalau tiba-tiba ada pengeluaran keluarga yang tidak terduga. Tetapi, ini adalah stres yang sama sekali berbeda. Saya masih menikmati kerja keras, mencapai tujuan-tujuan, saya masih mengambil risiko, tetapi sekarang saya melakukannya karena rasa panggilan bukannya suatu dorongan batin yang tidak bisa dijelaskan. Saya melakukannya dengan rasa percaya diri bahwa saya berada di tempat terbaik di dalam tujuan saya diciptakan. Dan, saya menikmati kehidupan saya. Saya bangun setiap pagi dengan perasaan bahwa saya sangat beruntung karena mengetahui apa kesenangan terbesar saya, karena saya tahu apa keahlian saya dan saya sudah diberi kemampuan untuk menjalani kehidupan saya dengan berfokus pada hal-hal tersebut.

Pada tahun 1993, saya melakukan peralihan kehidupan di paruh umur saya. Bagaimana caranya? Saya menekan tombol "berhenti sejenak" di tengah-tengah pertandingan kehidupan untuk menengok kembali kepada semua pelajaran dan pencapaian dari paruh umur pertama, untuk merenungkan apa yang benar-benar penting pada masa mendatang dan untuk mengarahkan kembali kehidupan saya pada paruh umur kedua. Secara khusus, saya ingin mengejar kemungkinan untuk pindah dari keberhasilan kepada kebermaknaan. Tetapi, tanpa uang jutaan dolar di dalam rekening bank, tentu dibutuhkan kreativitas dan keteguhan dalam tujuan untuk menemukan jalan untuk mencapai kehidupan yang bermakna. Demikianlah kesaksian Lloyd Reeb dalam buku "From Success to Significance"

Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Tuesday, December 11, 2007

A Song Titled "Dia Mengerti"

Lagu "Dia Mengerti"

Lagu "Dia Mengerti, Dia Peduli" oleh Delon Idol (lihat posting November 12-2007), dipakai menjadi lagu thema dalam Film Sinetron "Sebuah Penantian" yang akan ditayangkan di RCTI pada tanggal 15 Desember 2007 jam 4.30 WIB, sebuah program dari Billy Graham International untuk memberkati Indonesia. Lagu tersebut terdapat dalam Album Rohani Anak-Anak, berjudul "Hujan Berkat". Untuk menghormati hak cipta produsernya, silakan beli CD-nya di toko-toko terdekat.

Ditulis oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Sofia

Kisah ini mengingatkan kita betapa banyak orang-orang yang masih tertindas ketika mereka percaya kepada Tuhan Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat. Inilah salah satunya, yang dialami oleh Sofia Alam.

Ketika Sofia Alam meninggalkan agamanya yang lama dan menjadi orang Kristen, tanggapan dari keluarganya adalah penganiayaan dan ancaman-ancaman. Alasdair Palmer menyelidiki bahaya-bahaya yang dihadapi orang-orang yang beralih dari agama yang lama.

Sofia Alam sungguh tak dapat mempercayainya. Ayahnya yang semula baik dan penuh kasih sekarang duduk di hadapannya mengancam untuk membunuhnya. Ia katakan bahwa Sofia telah membawa aib dan penghinaan terhadap ayahnya, bahwa Sofia sekarang lebih buruk dari pada kotoran di sepatu mereka dan Sofia pantas mati.

Dan apa yang membuat ayahnya berubah jadi kejam? Karena ia mendapatkan Sofia telah meninggalkan agama yang dipeluknya sejak ia dibesarkan dan menjadi seorang Kristen. ”Ayah berkata bahwa ia tidak dapat menerima saya di rumah mereka lagi karena saya telah menjadi seorang kafir,” kata Sofia, bukan nama sebenarnya. ”Ayah berkata bahwa saya terkutuk selama-lamanya. Ia menghina saya secara mengerikan. Saya tidak dapat mengenali lagi pria ini sebagai ayah yang dulunya begitu baik ketika saya tumbuh dewasa.”

"Perubahan ibu saya bahkan lebih buruk lagi. Ia selalu memukuli kepala saya. Ia membentak-bentak saya setiap waktu. Saya ingat ketika saya berkata kepada mereka, ketika mereka mengancam untuk membunuh saya, ‘Ibu, Ayah, mau membunuh saya? Bukankah saya anak Ibu dan Ayah? Apakah Ibu dan Ayah tidak sadar?’" Namun mereka sama sekali tidak menyadarinya: mereka terus menerus mengusirnya keluar dari rumah mereka.

Setelah tiga minggu penganiayaan, dan tepat sebelum kedua orang tuanya melemparkan Sofia keluar, ia meninggalkan rumah itu. “Mereka meletakkan kesetiaan kepada agama mereka lebih tinggi dari pada kasih sayang mereka kepada saya,” katanya dengan suara yang lirih.

“Hal itu sungguh mengagetkan. Saya ingat ketika kedua orang tua saya membawa seluruh paman mengelilingi saya untuk berusaha menakut-nakuti saya. Semua paman bergantian mengata-ngatai betapa mengerikannya saya, betapa iblis telah merebut saya. Saya pikir, bagaimana hal ini bisa terjadi? Karena ini bukan di Timur Tengah, ini di Dagenham – London! Ini di negara Inggris Raya!”

”Ayah saya tidak dapat dikatakan seseorang yang ekstrim,” jelas Sofia, yang sekarang berusia 31 tahun. ”Kami membaca Kitab Suci agama yang lama dan bersembahyang secara teratur bersama-sama, tetapi ia tidak pernah memaksa saya memakai gaun agamawi dan ia cukup puas ketika saya sekolah khusus perempuan.”

Memang terjadi konflik ketika kedua orang tua Sofia berusaha menjodohkannya pada usia 18 tahun, namun mereka nampaknya setuju atas kemauan Sofia untuk melanjutkan pendidikannya. ”Bahkan mereka mengizinkan saya melanjutkan ke Universitas,” katanya menerangkan. ”Saya menghargai betapa sulitnya bagi mereka untuk memberikan kebebasan seperti itu kepada saya, dan saya sangat bersyukur untuk itu. Sayangnya saya hanya tahan tiga bulan, karena saya begitu kangen sehingga saya pulang menemui ibu dan ayah saya.”

Sofia mendapat pekerjaan di sebuah hotel dan kemudian dengan cepat menjadi seorang manajer. Minatnya pada Kekristenan sepenuhnya tumbuh sendiri. Ia mendapatkan sebuah Alkitab, yang ia sembunyikan di bawah ranjangnya. Namun empat tahun yang lalu, ibunya menemukan Alkitab itu.

”Ia menanyai saya pada suatu pagi dengan, Apakah kamu masih seorang muslim? Saya harus mengakui kepada ibu saya kebenarannya: saya tidak lagi. Sejak saat itu ibu saya pada dasarnya menolak saya. Ayah saya sangat terkejut dan sedih sekali. Namun akhirnya mereka memperlakukan saya seolah-olah saya jauh lebih baik kalau dibunuh saja.”

Apakah orang tua Sofia lambat laun akan mengakui perpindahan agamanya? Akankah mereka dalam jangka waktu 10 tahun menerimanya kembali? ”Tidak,” kata Sofia, dengan air mata menggenang. ”Saya tahu itu tidak akan pernah terjadi. Mereka tidak akan pernah menerima saya sebagaimana adanya saya sekarang ini.”

==========

When Sofia Alam left the Muslim faith for Christianity, the response from her family was one of persecution and threats. Alasdair Palmer explores the dangers facing Islam’s apostates.

Sofia Alam simply could not believe it. Her kind, loving father was sitting in front of her threatening to kill her. He said she had brought shame and humiliation on him, that she was now “worse than the muck on their shoes” and she deserved to die. And what had brought on his transformation? He had discovered that she had left the Muslim faith in which he had raised her and become a Christian.

“He said he couldn’t have me in the house now that I was a Kaffir [an insulting term for a non-Muslim],” Sofia - not her real name - remembers.

“He said I was damned for ever. He insulted me horribly. I couldn’t recognise that man as the father who had been so kind to me as I was growing up.

“My mother’s transformation was even worse. She constantly beat me about the head. She screamed at me all the time. I remember saying to them, as they were shouting death threats, ‘Mum, Dad - you’re saying you should kill me… but I’m your daughter! Don’t you realise that?’”

They did not: they insisted they wanted her out of their house. After three weeks of bullying, and just before her parents physically threw her out, Sofia left. “They put their loyalty to Islam above any love for me,” she says, her voice faltering slightly.

“It was such a shock. I remember thinking when they brought all my uncles round to try to intimidate me - all these men were lined up telling me how terrible a person I was, how the devil had taken me - I remember thinking, how can this be happening? Because this isn’t Middle East. This is Dagenham in London! This is Britain!”

“My father could not be described as an extremist,” insists Sofia, who is now 31. “We read the Koran and prayed regularly together, but he never insisted on my wearing Islamic dress and he was quite happy that I went to the local comprehensive, which was all girls, but not by any means dominated by Muslims.”

There were conflicts when Sofia’s parents tried to arrange a marriage for her at the age of 18, but they seemed to accept her decision to continue her education.
“They even let me go away to university,” she explains. “I appreciated how difficult it was for them to grant me that freedom, and I was very grateful for it. In the event, though, I only lasted three months - I just got so homesick that I had to come back to Mum and Dad.”

Sofia got a job in a hotel and quickly became a manager. Her interest in Christianity was entirely self-generated. She acquired a Bible, which she hid in her bedroom. But four years ago, her mother found it.

“She confronted me one morning with, ‘Are you still a Muslim?’ I had to tell the truth: I didn’t think I was. From that moment on, she basically disowned me. My father was shocked and saddened. But the reality was that my parents behaved to me as if they thought it would be much better if I was dead.”

Still, won’t her parents eventually just recognise that she has chosen to change her religion? Won’t they, in 10 years’ time, accept her back? “No,” Sofia says, her eyes full of tears. “That will never happen. I know it. They will never accept me the way I am.” (Sumber: religionnewsblog.com)

Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Monday, December 10, 2007

Lapar Akan Allah

"Saya benar-benar tidak mengerti mengapa saya sampai begini? Bagaimana saya mendapatkan berkat?" demikianlah jawabannya. Pada saat itu saya menyadari bahwa saya hanya membuang-buang waktu dengan orang yang selama ini saya banyak menginvestasikan diri saya selama kehidupan kekristenannya. Ia sering seperti roller coaster yang satu menit naik, berikutnya turun lagi.

"Engkau cuma tidak cukup lapar," komentar saya kepada teman itu.

Setiap kali orang harus selalu merasionalisasikan dan memeriksa apakah perkara-perkara dari Allah bermanfaat bagi mereka, anda akan tahu bahwa mereka tidak cukup lapar akan Allah. Saya ingat pada suatu waktu ketika saya ada dalam situasi yang sulit. Saya menerima kaset dari seseorang yang memberi saya pendalaman-pendalaman ke dalam persoalan saya. Saya demikian lapar sehingga saya terbang ke sebuah kota yang jauhnya 500 mil hanya untuk bertemu dengan orang itu dan mencari tahu lebih banyak lagi. Pada waktu itu keuangan saya berada pada titik terendah, sehingga memerlukan iman untuk melakukan perjalanan itu. Pertemuan itu ternyata merupakan pertemuan ilahi dan menjadi titik balik dalam kehidupan saya.

Allah sedang mencari pria dan wanita yang sungguh-sungguh lapar untuk mengenal Dia. Ketika kita menganggap bahwa kita telah mengetahui segala hal yang kita perlu tahu, kita berada dalam bahaya. Allah telah menempatkan pria dan wanita di dalam Tubuh Kristus yang memiliki pengalaman dan talenta berbeda yang dapat menolong dalam perjalanan rohani kita. Hal ini memerlukan kerendah-hatian kita untuk menyadari bahwa kita perlu belajar dari orang-orang lain. Kita boleh jadi merasonalisasikan tekanan-tekanan bisnis atau komitmen-komitmen waktu kita sehingga melewatkan peluang-peluang yang ada.

Allah memandang ke bawah dari sorga kepada anak-anak manusia, untuk melihat apakah ada yang berakal budi dan yang mencari Allah. Mazmur 53:3



*****
HUNGRY FOR GOD
"I really don't understand why I should come to this. How can I really benefit?" was his response. At that moment, I realized that I was wasting my time with this man on whom I had invested much throughout his Christian walk. He was often like a roller coaster-up one minute, down the next.

"You simply aren't hungry enough," I commented to my friend.

Whenever someone must always rationalize and examine whether the things of God are beneficial to them, you know that they are not hungry enough for God. I recall one time when I was in a difficult place. I received an audiotape from a man who gave me some insights into my problem. I was hungry enough to book a flight to a city 500 miles away just to meet him and find out more. My finances were at a very low point, so it took some real faith to do this. That meeting turned out to be a divine appointment and became a turning point in my life.

God is looking for men and women who hunger to know Him. When we believe that we know all we need to know, we are in a dangerous place. God has placed men and women in the Body of Christ who have had different experiences and gifts that can be helpful in our own spiritual pilgrimages. It requires humility of heart to realize that we can learn from others. We can easily rationalize our business pressures and time commitments to discount such opportunities.

God looks down from heaven on the sons of men to see if there are any who understand, any who seek God. Psalms 53:2 - Acts 21:11-12

Diterjemahkan dari pengakuan mantan seorang pengusaha yang telah melayani Tuhan sepenuh waktu di dunia Market Place, untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Friday, December 7, 2007

Disembuhkan dari Sakit Mata (2)

Pada waktu berdoa itu dengan jelas Tuhan berbicara di hatinya, "Lan, tempat retret yang ada di Ciputat itu harus dijadikan Rumah Doa..." Ia memang memiliki sebidang tanah luas di Ciputat dengan beberapa bangunan yang biasa dipakai oleh para pemimpin Abbalove Ministries untuk berdoa puasa di sana, atau dari gereja-gereja lain. Namun pesan saat ini jelas sekali: Pakai tempat itu untuk rumah doa setiap hari, bukan ketika ada retret saja.

Beberapa hari setelah rumah doa dibuka di Ciputat itu, ada seorang ibu, dari kepercayaan lain, yang datang ke tempat itu minta didoakan karena dirinya sudah tidak sanggup lagi membiayai pengobatan matanya yang buta. Pengurus di Rumah Doa itu berkata, "Kami bukan dari kepercayaan yang sama dengan Ibu, tapi kami akan berdoa kepada Tuhan agar terjadi mukjizat pada mata ibu. Apakah ibu mau didoakan?"
"Ya, mau!" katanya dengan penuh kepasrahan.

Setelah mereka memuji dan menyembah Tuhan serta berdoa, ibu itu tiba-tiba berkata, "Lho, saya bisa melihat sekarang..." Mereka yang ada di situ mulai menguji apakah benar-benar dia telah dapat melihat.

"Ini berapa?" sambil mengacungkan lima jari.
"Lima!"
"Ini warna apa?" kata yang lain menunjukkan warna kuning.
"Kuning!"
"Puji Tuhan! Itulah Tuhan, ini mukjizat dari Tuhan. Mata ibu sudah disembuhkan Tuhan Yesus."

Sekarang pengusaha wanita itu tahu bahwa melalui kesembuhan mata ibunya, Tuhan ingin menjadikan keluarga ini sebagai saluran berkat untuk membagikan mukjizat kesembuhan bagi sesama manusia. Memang dalam buku "Mukjizat Kesembuhan" telah dituliskan nubuatan bahwa pengusaha wanita ini akan menjadi berkat melalui mukjizat kesembuhan karena dirinyapun dulu mendapatkan mukjizat kesembuhan yang luar biasa. Baca kisahnya dalam buku yang saya tulis itu. (Tamat)

Ditulis oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Thursday, December 6, 2007

Disembuhkan dari Sakit Mata (1)

Pengusaha wanita yang kesaksiannya pernah saya tulis dalam buku "Mukjizat Kehidupan" tadi malam bersaksi lagi. Ibunya yang sudah berusia lanjut mengalami kelainan di mata sebelah kirinya, matanya merah, bengkak, dan menonjol keluar sepertinya mau keluar dari rongga mata. Dari beberapa dokter spesialis mata di Indonesia dan Singapura, akhirnya diketahui bahwa ada pembuluh darah mata yang berada di bagian otak yang mengalami kebocoran, dengan istilah medis: "coronatus cortus flatula". Setelah check up medis di Singapura ternyata kebocoran pembuluh darah terjadi di cabang pembuluh darah yang sangat kecil. Dokter spesialis mata di Singapura yang pertama menyerah, tidak berani mengoperasi pembuluh darah yang sangat sulit ini, karena risikonya sangat besar, tidak ada 'screw' atau bor yang dapat menembus pembuluh darah yang merupakan pembuluh cabang terakhir yang sangat kecil.

Selama beberapa bulan oma ini sakit, setiap pagi bangun tidur, kelopak mata kirinya tidak dapat dibuka. Pelan-pelan baru terbuka, itupun mengeluarkan gumpalan darah yang bentuknya seperti lintah, keluar dari kelopak matanya. Selain itu tentu saja ia merasa kesakitan. Mereka sudah sungguh-sungguh berdoa kepada Tuhan, namun nampaknya pertolongan Tuhan tidak jelas.

"Lan, mama ingin sembuh dari sakit mata ini," kata oma ini.
Anaknya, sang pengusaha wanita, tentu saja berusaha mencari dokter ahli mata terbaik. Sembilan dokter mata di Indonesia dan Singapura dicoba. Salah satu dokter di Singapura itu diantaranya sudah bersedia mengoperasi pembuluh darah yang bermasalah, namun ketika dokter ini mengecek jantung sang oma, ia berkata, "Jantung ibu ini kurang baik, saya tidak bisa mengoperasi mata dalam keadaan jantungnya ada masalah." Mereka pulang lagi ke Indonesia, lalu check jantung kepada Profesor Dr. Santoso, ahli jantung terbaik di Indonesia. "Jantung ibu, baik-baik saja, tetapi memang irama jantungnya agak terganggu. Tapi saya jamin, ibu dapat dioperasi mata karena jantungnya masih OK."

Mereka berobat lagi ke dokter mata lain di Singapura, dan kali ini dokternya mau mencoba mengoperasi meskipun sulit. Sebelum operasi dilakukan, mereka berdoa di luar "operating theatre". Mereka sungguh-sungguh meminta pertolongan Tuhan, karena operasi ini sangat sulit dilakukang, mengingat kebocoran pembuluh darah mata terjadi di cabang dari cabang dari cabang pembuluh darah utama.

Operasi mata yang biasa dilakukan biasanya hanya 15 menit itupun telah lewat. Tiga puluh menit berlalu. Satu jam berlalu. Oma belum keluar dari ruang operasi. Dua jam berlalu. Pengusaha wanita ini bertanya-tanya, mengapa operasinya demikian lama. Ada apa? Apakah ibunya akan tertolong? Tiga jam berlalu, apakah ibunya masih hidup? Akhirnya setelah tiga setengah jam, dokternya keluar dari ruang operasi. Dokter ini mengajak sang pengusaha wanita melihat di rekaman komputer proses operasi itu. Dokter menerangkan dengan detail apa yang telah ia lakukan.

"Lihat, di sini pembuluh darah yang bocor!" kata dokter itu sambil menunjukkan jarinya ke arah layar monitor. "Itu adalah pembuluh darah yang kecil sekali. Saya juga tidak tahu kenapa 'pen' yang kita tembakkan bisa masuk ke pembuluh darah bocor itu sehingga pendarahan berhenti. Anda tahu tidak bagaimana 'pen' itu bisa masuk mengunci pembuluh darah yang bocor?"
"Wah, saya tidak tahu, Dokter! Tapi pasti itulah pertolongan Tuhan!"
"Ya, itu mukjizat dari Tuhan! Kalian sebelumnya 'kan sudah berdoa ya? Saya mendengarnya tadi karena kalian berdoa sambil berseru dan berteriak dengan suara keras."

Meskipun semula pertolongan Tuhan tidak nampak dan tidak jelas: apakah Tuhan peduli, apakah Tuhan akan menolong, namun satu hal yang pasti, apabila kita tetap percaya dan mengandalkan serta berharap hanya kepada Tuhan, suatu saat pasti pertolongan Tuhan akan nyata. Kita perlu percaya terus sampai mukjizat itu menjadi nyata.

Setelah bertemu dengan Dokter yang mengoperasinya, pengusaha wanita ini diizinkan bertemu ibunya yang dalam proses pemulihan.
"Mam, bagaimana?"
"Ya, masih sakit bekas operasi, tapi lebih baik sekarang."
Ternyata mata yang bengkak itu mulai pulih, kempis, dan warna merahnya menjadi normal kembali.

Ketika mereka pulang ke Indonesia, sang pengusaha wanita berdoa kepada Tuhan mengucap syukur atas kesembuhan ibunya, dan pada saat itu terdengar suara Tuhan...
(Bersambung)

Ditulis oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Wednesday, December 5, 2007

Tentang Jacqlien Celosse

“Rocker juga manusia,” demikian ucap pelantun tembang “Raja Mulia”, Jacqlien Celosse. Dengan jujur diakui ibu dua anak ini bahwa ia sering selisih paham dengan suaminya, David Novendus. Apalagi diawal-awal pernikahan. Waktulah yang memroses keduanya, hingga volume perselisihanpun berkurang.

"Saya akui memang tidak mudah berumah tangga. Di awal pernikahan kami, ada saja masalah yang datang. Apalagi masa pacaran kami sangat singkat, sehingga masa pengenalan cenderung tidak ada. Hanya oleh kasih anugerah Tuhan, rumah tangga kami masih utuh hingga sekarang," ucap Jacqlien.

Dituturkan wanita kelahiran Manado, 11 Maret 1973 ini, untuk membangun rumah tangga memang memerlukan waktu pengenalan. Ia belajar dari pengalaman hidupnya. "Saya mengenal David sangat singkat. Saya di Jakarta, sedangkan dia di Surabaya. Dalam waktu kurang dari tiga bulan kami menikah. Setelah menikah baru saya dan suami mengetahui karakter masing-masing. Masa penyesuaianpun sangat berat. Tak heran jika kami sering bertengkar," jujur Jacqlien. Syukurnya, keduanya sama-sama tahu akan firman Tuhan, sehingga pertengkaran bisa diredam dengan takut akan Tuhan.
"Pantas saja ya, banyak rumah tangga yang hancur. Jaman sekarang ini masalah rumah tangga makin berat. Mungkin karena pengaruh kemajuan jaman. Kami sendiri kalau tidak berpegang teguh pada Tuhan mungkin juga bisa mengalami perpecahan,” terang ibu yang kini telah dianugerahi dua anak ini.

Seberat-beratnya masalah yang mereka alami, pasangan yang sudah mendedikasikan diri di dunia pelayanan ini menolak perpecahan dalam rumah tangga atau populer dikenal dengan kata perceraian.

Pertama, adalah karena keduanya sudah menyandang nama 'hamba Tuhan', sehingga sungkan rasanya menciderai gelar tersebut. ”Jadi batu sandungan,” kata keduanya. Oleh karena itu seberat apapun masalah yang menimpa, pantang bagi mereka mengucapkan kata ”cerai”.

Kedua, anak-anak. Bagi pasangan ini anak-anak merupakan bumbu perekat hubungan mereka. ”Kalau kita bercerai, yang paling menderita adalah anak-anak. Apa salah mereka sehingga harus menanggung akibat perselisihan orang tua mereka? Itu juga yang mendasari pantangnya bercerai.”

Dan satu lagi, ketika kita menikah dan mengucapkan janji nikah, sesungguhnya kita tidak hanya berjanji kepada manusia, tetapi kepada Tuhan. Karena itu ikatan dan komitmen kita untuk terus bersatu merupakan janji kita kepada Tuhan.” jelas Jacqlien.

Belajar dari pengalaman, Jacqlien ingin kedua anaknya dibesarkan di tengah keluarga yang harmonis. Apa yang dirasa tidak enak pada masa kanak-kanaknya sebisa mungkin jangan dialami kedua buah hatinya. Sejak kecil ia hidup dalam keluarga yang ’broken home’. Tiada hari tanpa cekcok diantara ayah dan ibunya. Bahkan, di usia 12 tahun, ia divonis mati oleh dokter, akibat penyakit syaraf yang dideritanya pada otak bagian kiri. Dia hanya akan tetap hidup kalau makan obat setiap hari. Maka lengkaplah sudah penderitaan hidupnya.

Namun Tuhan menghendaki ia tetap hidup agar melalui dirinya orang dapat melihat kemuliaan-Nya. Mukjizat demi mukjizatpun terjadi sehingga ia memutuskan untuk full time dan full heart melayani Tuhan.

Sebelum menikah nama Jacqlien sudah membahana sebagai rocker rohani. Iapun sering keliling luar kota, bahkan luar negeri untuk urusan tersebut. Saat itu masih sedikit sekali penyanyi rohani yang terjun di dunia tersebut. Hampir setiap KKR selalu ada namanya. ”Apalagi saat itu saya masih berapi-api ikut pelayanan," imbuhnya. Kebiasaan tersebut terus terbawa hingga ia menikah dan memiliki momongan. Pikirnya saat itu, tidak salah kalau meninggalkan keluarga demi pelayanan. Namun kenyataannya, ia mengalami beberapa hambatan. Salah satunya adalah masalah anak. Putri sulungnya, Keren Serona mulai memberontak. Ia mulai uring-uringan tiap kali mamanya pelayanan. Mulanya Jacqline marah dengan sikap putrinya, namun akhirnya ia sadar bahwa kesalahan terletak padanya dan suaminya.

”Saya pikir saya terlalu memanjakan dia, sehingga ia berperangai kurang menyenangkan. Keadaan ini membuat saya stres. Akhirnya saya meminta nasehat beberapa teman, bahkan psikolog anak. Mereka menyadarkan kami bahwa kenakalan anak salah satunya adalah akibat kurang perhatian. Kami memang sibuk melayani, sehingga tugas mengasuh anak itu kami serahkan kepada orang lain. Itu kesalahan yang sangat fatal. Sejak itu, saya mulai kurangi jam keluar untuk pelayanan. Tiap ada waktu luang kami menyempatkan diri menemani anak-anak. Saya tidak mau sibuk pelayanan, namun anak menjadi pemberontak," tuturnya.

Meski sempat kecolongan, Jacqlien dan David tetap mengucap syukur. Pasalnya, mereka segera menangani masalah tersebut. "Coba kalau terlambat, saya tidak tahu anak kami nanti mau jadi apa. Tak dipungkiri banyak anak pendeta yang hidupnya kacau. Saya tidak mau hal itu terjadi pada anak-anak kami," tambahnya. Karena segera diatasi, perangai Karen pun berubah. Ia menjadi anak yang manis dan mau ikut dalam pelayanan. Apalagi ketika dia melahirkan anak kedua, Keith David.

Kedua anaknya ternyata memiliki bakat yang dimiliki Jacqlien. Baik Karen maupun Keith sama-sama hobi bernyanyi dan menari. Dan harapan pasangan ini, kelak anak-anak mereka juga aktif di dunia pelayanan. David dan Jacqlien berupaya menjadi orang tua yang bijak dan memberi teladan bagi anak.

”Untuk apa pelayanan di luar kami hebat, tapi dalam keluarga hancur. Karena itu, sambil pelayanan, kami benahi mezbah rumah tangga kami. Terutama kami harus mempersiapkan anak-anak untuk takut Tuhan dan mulai mengenalkan mereka arti pelayanan. Keluarga merupakan jemaat mula-mula yang harus benar-benar digembalakan, setelah itu barulah pelayanan.” terang Jacqlien. Kesaksian Jacqlien ini diposting di http://pentas-kesaksian.blogspot.com berdasarkan penuturannya di Tabloid Rohani "Keluarga".

Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

ROSE : Impian Seorang Mahasiswi

Inilah suatu kisah dari sebuah milis yang penuh inspirasi:

Hari pertama kuliah di kampus, profesor memperkenalkan diri dan menantang kami untuk berkenalan dengan seseorang yang belum kami kenal diantara teman-teman kuliah. Saya berdiri dan melihat sekeliling ketika sebuah tangan lembut menyentuh bahu saya.

Saya menengok dan mendapati seorang wanita tua, kecil, dan berkeriput, memandang dengan wajah yang berseri-seri dengan senyum yang cerah. Ia menyapa, "Halo anak cakep. Namaku Rose. Aku berusia delapan puluh tujuh. Maukah kamu memelukku?" Saya tertawa dan dengan antusias menyambutnya, "Tentu saja boleh!". Dia pun memberi saya pelukan yang sangat erat.

"Mengapa ibu ada di kampus pada usia yang masih begitu "muda" dan tak berdosa seperti ini?" tanya saya berolok-olok. Dengan bercanda dia menjawab, "Saya di sini untuk menemukan suami yang kaya, menikah, mempunyai beberapa anak, kemudian pensiun dan bepergian." "Ah yang serius?" pinta saya.

Saya sangat ingin tahu apa yang telah memotivasinya untuk mengambil tantangan ini di usianya. "Saya selalu bermimpi untuk mendapatkan pendidikan tinggi dan kini saya sedang mengambilnya!" katanya. Setelah jam kuliah usai, kami berjalan menuju kantor Senat Mahasiswa dan berbagi segelas Chocolate Milkshake. Kami segera akrab.

Dalam tiga bulan kemudian, setiap hari kami pulang bersama-sama dan bercakap-cakap tiada henti. Saya selalu terpesona mendengarkannya berbagi pengalaman dan kebijaksanaannya. Setelah setahun berlalu, Rose menjadi bintang kampus dan dengan mudah dia berkawan dengan siapapun. Dia suka berdandan dan segera mendapatkan perhatian dari para mahasiswa lain. Dia pandai sekali menghidupkan suasana.

Pada akhir semester kami mengundang Rose untuk berbicara di acara makan malam klub sepak bola kami. Saya tidak akan pernah lupa apa yang diajarkannya pada kami. Dia diperkenalkan dan naik ke podium. Begitu dia mulai menyampaikan pidato yang telah dipersiapkannya, tiga dari lima kartu pidatonya terjatuh ke lantai. Dengan gugup dan sedikit malu dia bercanda pada mikrofon. Dengan ringan berkata, "Maafkan saya sangat gugup. Saya sudah tidak minum bir. Tetapi wiski ini menyengsarakan saya. Saya tidak bisa menyusun pidato saya kembali, maka ijinkan saya menyampaikan apa yang saya tahu."

Rose mengakhiri pidatonya dengan bernyanyi "The Rose". Dia menantang setiap orang untuk mempelajari liriknya dan menghidupkannya dalam kehidupan sehari-hari.

Akhirnya Rose meraih gelar sarjana yang telah diupayakannya sejak beberapa tahun lalu. Seminggu setelah wisuda, Rose meninggal dunia dengan damai. Lebih dari dua ribu mahasiswa menghadiri upacara pemakamannya sebagai penghormatan pada wanita luar biasa yang mengajari kami dengan memberikan teladan bahwa tidak ada yang terlambat untuk apapun yang bisa kau lakukan. Ingatlah, menjadi tua adalah kemestian, tetapi menjadi dewasa adalah pilihan.

Kita tidak pernah berhenti bermain karena kita tua.
Kita menjadi tua karena berhenti bermain. Hanya ada rahasia untuk tetap awet muda, tetap menemukan humor setiap hari.

Kita harus mempunyai mimpi. Bila kita kehilangan mimpi-mimpi kita, kita bisa mati. Ada banyak sekali orang yang berjalan di sekitar kita yang mati namun mereka tak menyadarinya." Jika sulit mempunyai dan menggapai mimpi anda, hubungi: hadi.kristadi@gmail.com

Sungguh jauh berbeda antara menjadi tua dan menjadi dewasa. Bila kamu berumur sembilan belas tahun dan berbaring di tempat tidur selama satu tahun penuh, tidak melakukan apa-apa, kamu tetap akan berubah menjadi dua puluh tahun. Bila saya berusia delapan puluh tujuh tahun dan tinggal di tempat tidur selama satu tahun, tidak melakukan apapun, saya tetap akan menjadi delapan puluh delapan. Setiap orang pasti menjadi tua.

Itu tidak membutuhkan suatu keahlian atau bakat. Tumbuhlah dewasa dengan selalu mencari kesempatan dalam perubahan." "Jangan pernah menyesal. Orang-orang tua seperti kami biasanya tidak menyesali apa yang telah diperbuatnya, tetapi lebih menyesali apa yang tidak kami perbuat. Orang-orang yang takut mati adalah mereka yang hidup dengan penyesalan."



* * * * *
Sediakan waktu untuk berpikir, itulah sumber kekuatan.
Sediakan waktu untuk bermain, itulah rahasia awet muda.
Sediakan waktu untuk membaca, itulah landasan kebijaksanaan.
Sediakan waktu untuk berteman, itulah jalan menuju kebahagiaan.
Sediakan waktu untuk bermimpi, itulah yang membawa anda ke bintang.
Sediakan waktu untuk mencintai dan dicintai, itulah hak istimewa Tuhan.
Sediakan waktu untuk melihat sekeliling anda, hari anda terlalu singkat untuk mementingkan diri sendiri.
Sediakan waktu untuk tertawa, itulah musik jiwa.

Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Tuesday, December 4, 2007

Bertemu Mini Mouse

Seorang pengusaha wanita muda pernah bermimpi untuk berjumpa dengan Mini Mouse dari Disneyland. Karena sejak kecil ia dibesarkan dalam keluarga pas-pasan, ia tidak pernah memiliki mainan atau boneka yang layak. Ia harus memandang anak-anak lain yang punya boneka atau mainan yang sangat menarik. Obsesi ini terbawa sampai dewasa, bahkan sampai ia kuliah, di dasar hatinya ia ingin berjumpa dengan karakter Mini Mouse, meminta tanda tangannya dan berfoto bersamanya.

Ketika rekan bisnisnya bertanya, apa mimpinya, tanpa malu-malu ia berkata, "Kalau target bisnis saya tercapai, saya ingin ketemu Mini Mouse di Disneyland." Rekan bisnisnya tidak menertawakan, bahkan menimpali, "Ah, itu impian yang bagus!" Setelah ia bekerja keras membangun jaringan bisnisnya, ia diundang memberikan sharing di dalam suatu pertemuan bisnis di L.A. Ia dengan tulus membagikan kiat-kiat bisnisnya. Setelah pertemuan ini ia berharap akan ke Disneyland, berjumpa dengan Mini Mouse-nya.

Yang mengagetkan dan mengharukan, pas setelah ia selesai berbicara dalam pertemuan internasional itu, ia dipanggil rekan bisnisnya, "Rachmasari, ini dia Mini Mouse yang ingin bertemu kamu..." Saat itu Rachmasari tertegun, haru, terpana melihat Mini Mouse ada di depannya. "It is your dream come true!" Rachma memeluk Mini Mouse, meminta tanda tangan, berfoto bersama. Ia baru tahu kemudian bahwa Disneyland tidak pernah mengijinkan salah satu karakternya keluar dari areanya di Disneyland. Namun karena ada rekan bisnis yang rela membayar berapapun harganya agar Mini Mouse dapat bertemu seorang Rachmasari, maka impian itu menjadi nyata. Apa impian yang paling liar yang anda miliki? Ternyata ada jalan yang dapat mengantarkan impian itu menjadi nyata. Jumat, Sabtu dan Minggu ini, rekan-rekan bisnis Rachmawati akan sharing tentang bagaimana menggapai impian kita, meskipun itu nampak naif atau konyol, semisal bertemu dengan Mini Mouse. Apa impian atau cita-cita anda?

Ditulis oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

God's Defense

Meskipun saya bukan berasal dari keluarga Kristen, dulu saya bersekolah di sekolah Kristen. Di situlah saya mengenal Tuhan Yesus untuk pertama kali, walaupun hanya sebatas Tuhan Yesus sebagai gembala yang baik. Ketika saya bersekolah di Kanada orangtua saya bercerai. Dari situlah saya mulai down dan mencari siapa itu Tuhan. Saya mencoba doa ini dan itu. Karena saya tidak dibekali dengan pendidikan agama yang kuat, jadi saya asal doa saja dan minta ayah saya balik. Sekian lama saya berdoa, tetap tidak mendapat jawaban seperti yang saya mau. Saya mulai menyalahkan Tuhan dan berpikir bahwa Tuhan itu tidak ada. Lebih dikuatkan lagi oleh dua teman saya, satu dari Latin Amerika (orang Katolik) dan satu dari Rusia (Komunis - yang berpendapat bahwa Tuhan itu tidak ada), dari dua sisi yang berbeda.

Pada saat awal kuliah di Jakarta saya mulai mencari identitas. Satu saat saya bertemu dengan seorang 'Master’ yang punya tenaga/kuasa yang supranatural, itu membuat saya percaya. Dari situlah saya belajar kebatinan. Tapi Tuhan Yesus itu luar biasa baiknya, Dia mengirim satu teman yang selalu mengajak saya datang ke Persekutuan Doa. Pertama saya pikir hal itu tidak berguna, tetapi ada saja cara yang Tuhan pakai untuk saya lebih mengenal Dia.

Suatu saat saya berbisnis di Turki. Tiga orang yang menjemput saya adalah orang non Kristen. Tiga hari saya di sana dan hari terakhir meeting-nya begitu cepat, jadi ada sisa waktu 9 jam untuk ke airport. Mereka mengajak saya ke kota Efesus. Di sana pelabuhannya terbuat dari batu pualam, indah sekali.

Waktu itu saya ingat Efesus ada di Alkitab. Saya baru sadar kalau Alkitab itu nyata. Kemudian mereka mengajak saya ke sebuah kuburan, yang membuat saya merinding, bukan karena takut tapi damai sejahtera luar biasa yang saya rasakan. Setelah saya meninggalkan kuburan itu, saya tertarik untuk kembali lagi. Saya sujud berdoa di sana dan melihat Tuhan Yesus pertama kalinya menampakkan diri kepada saya. Wajah-Nya bersinar. Sinar itu memberikan damai sejahtera yang luar biasa. Dan hal itu meyakinkan saya, bahwa Tuhan itu hidup dan nyata. Ternyata itu kuburan Yohanes, murid Tuhan Yesus.

Pulang dari sana, saya mempunyai kesukaan untuk datang ke Persekutuan Doa dan rajin membaca Alkitab. Ada beberapa buku yang diberi oleh teman juga sangat menguatkan saya. Dan saya lepaskan semua jimat dan keyakinan kebatinan saya. Dulu jika keluar rumah tanpa jimat, saya akan ketakutan. Kalau mau bisnis, saya juga bertanya: luas bangunan berapa, pintu di sebelah mana, tanggal berapa saya harus buka, tiangnya saya beri apa? Itu semua saya lakukan karena pada waktu itu saya pikir semuanya harus ada jimatnya.

Ketika saya meninggalkan semuanya itu, guru saya melawan dengan mengirim 'tentaranya' untuk menyerang saya. Tapi kekuatan Tuhan sungguh lebih besar dari apa pun di dunia ini. Sekarang saya tidak perlu memberi suap, umpan, dan sebagainya untuk memperlancar bisnis saya. Dulu waktu ikut tender suatu proyek, saya terlebih dahulu telah mengaturnya dan pasti saya akan menang. Sejak ikut Tuhan 90% dari armada transportasi saya ditarik oleh Pertamina. Itu artinya 90% income hilang. Banyak orang yang bilang, sejak saya ikut Kristus saya menjadi tambah bodoh. Tapi Tuhan tunjukkan pembelaan-Nya. Sembilan bulan kemudian, Tuhan kembalikan seluruh kerugian yang saya alami, bahkan berlipat ganda.

Di saat kita melakukan kebenaran, pasti ada harga yang harus dibayar. Saat ini, saya menjadi bendahara di gereja dan di departemen misi, yang berkonsentrasi pelayanan ke desa-desa di Jawa Tengah. Setiap 3 bulan sekali, kami mengumpulkan 150 Pendeta desa untuk di-support dari segi finansial, buku-buku penunjang, seminar tentang real live, yang bisa diterapkan dalam pengembangan kehidupan jemaat yang mereka layani.

Saat ini bisnis saya bergerak di bidang plastik, transportasi, restoran, perkebunan, perkapalan, trading, dan sebagainya. Namun hal itu, bisa berhasil dalam waktu yang bersamaan, hanya karena kemurahan Tuhan semata. Maka seorang pebisnis yang sekaligus menjadi pelayan Tuhan harus memperhatikan apa yang menjadi keterampilan yang merupakan anugerah dari Tuhan. Apa yang kita punyai itu, harus senantiasa kita jaga. Harus ada aksi, bukan sekedar menunggu untuk menggapai masa depan yang
sudah Tuhan sediakan untuk anak anak-Nya. Ora et labora.

Kesaksian Beni Prananto, President Director PT. Fatrapolindo Nusa Industri Tbk. – Jakarta seperti dimuat dalam Tabloid Rohani ”Keluarga” edisi 15/2007.

Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Monday, December 3, 2007

To Be A Blessing at Young Age

Inilah suatu kesaksian indah yang diceritakan seorang hamba Tuhan yang melayani di GBI Lembah Pujian - Denpasar - Bali:

Suatu kali saya diminta mendoakan pemberangkatan jenazah yang akan diterbangkan ke Kupang. Dalam peti tersebut terbaring jenazah seorang anak berumur 7 tahun, bernama Joshua. Sebelumnya saya tidak mengerti apa yang menyebabkan kematian anak itu dan juga latar belakang kedua orangtuanya. Namun pesan yang Tuhan taruh dalam hati saya dan saya sampaikan dalam renungan singkat pagi itu adalah sebagai berikut: "Memang, tidak gampang untuk mengerti rencana Tuhan dengan meninggalnya anak Bapak dan Ibu, tetapi mari kita meminta hikmat-Nya supaya kita mengerti bahwa dari kacamata Tuhan ini waktu yang terbaik bagi anak kita untuk dibawa kembali ke surga. Kita tidak bisa tahu bagaimana kelak ia berumur 17 tahun atau 30 tahun atau 50 tahun. Jika dalam usia antara 17, 30, atau 50 tahun memungkinkan anak ini hidup tidak seturut dengan kehendak Tuhan, maka ia meninggal sekarang adalah keputusan terbaik dari pihak Tuhan."

Satu minggu kemudian, saya mendapat kesaksian dari Ibu Christin Here, yang baru saja kembali dari kota tempat anak tersebut dikuburkan. Dia menyampaikan bahwa di antara para pelayat ternyata ada orang-orang yang tidak terlalu dikenal oleh kedua orangtuanya, namun mereka telah mengenal anak berusia 7 tahun ini sebab anak itu sering mendoakan beberapa orangtua dan menjadi sembuh, dan banyak pekerjaan yang sepantasnya belum bisa dikerjakan anak seumur 7 tahun, bahkan sepeninggal dirinya terjadi Kebangunan Rohani di kalangan anak-anak muda di sekitarnya.

Pada Ibadah Raya pertama di GBI Lembah Pujian di Denpasar, saya dikejutkan dengan sebuah bingkisan yang dibawakan oleh saudara saya Bundi yang baru saja kembali dari Kupang. Ternyata bingkisan tersebut dari keluarga Heri Purnomo, yang belum lama berselang kami doakan keberangkatan jenazah anaknya, Joshua, berumur 7 tahun, yang telah meninggal di Bali. Namun, yang jauh lebih menarik perhatian saya adalah surat yang berisi pengalaman keluarga tersebut saat menghadapi kenyataan ini. Sebagian isi surat itu sempat saya bacakan kepada jemaat saat saya berkhotbah, dan isi selengkapnya adalah sebagai berikut:

Jalan dan rencana Tuhan terkadang sulit dimengerti oleh kita sebagai manusia biasa, namun ada satu hal yang selalu melekat dalam pikiran kami, yaitu Tuhan tidak pernah salah karena rancangan dan rencana-Nya sempurna bagi setiap manusia. Berdasarkan keyakinan inilah maka kami sekeluarga dapat menerima semua rencana-Nya bagi kehidupan Joshua, anak kami. Tuhan yang menitipkan dia dalam pernikahan kami, dan Tuhan jualah yang berhak mengambil kembali titipan-Nya dari kami.

Bagi ukuran manusia, 7 tahun adalah usia yang sangat singkat. Tetapi kami percaya, di mata Tuhan itu bukanlah suatu ukuran. Semasa hidupnya bersama kami, Joshua juga menjalani kehidupan yang normal layaknya anak-anak seusianya. Ia bermain, belajar, bersahabat, dan melakukan aktivitas lainnya. Tetapi ada satu hal yang sangat membuat Joshua agak sedikit berbeda dengan teman-teman sebayanya, yaitu ia memiliki hubungan yang sangat intim dengan Sang Penciptanya - hal ini terlihat dari cara ia berbicara dan bertingkah laku. Seringkali ia mengatakan kepada kami, "Papa-Mama, Joshua kagum dengan Tuhan Yesus." Atau, "Papa-Mama, Joshua bangga sama Tuhan Yesus."

Masih segar dalam ingatan kami, seminggu sebelum Joshua kembali ke pangkuan Bapa Surgawi, ia sempat mengikuti retret yang diadakan oleh sekolahnya. Sekembalinya Joshua dari retret tersebut, dengan penuh keyakinan ia berkata kepada kami, "Mulai sekarang Papa-Mama tidak boleh khawatir dengan hidup Kakak, karena roh Kakak sudah diperbarui oleh Tuhan." Mendengar pernyataan yang spontan ini kami sebagai orangtua semakin kagum dengan apa yang sudah Joshua alami bersama Tuhan, dan kami terus berdoa agar rencana Tuhan sajalah yang berlaku atas kehidupannya.

Beberapa saat sebelum Joshua pulang ke surga, ia sempat bertanya kepada kami, "Mama, kalau Joshua sudah di surga, bisakah Joshua bermain kelereng dengan Tuhan Yesus?" Sebuah pertanyaan yang melukiskan kepolosan seorang bocah! Tetapi bila kita renungkan sejenak, kita akan menemukan sebuah arti sangat mendalam yang terkandung di dalamnya, dan ia sangat mengenal siapa dan bagaimana Tuhan yang selama ini ia percayai. Joshua juga menanyakan apa dan bagaimana keadaan di surga, serta apa yang harus kita lakukan bila ia telah berada di surga. Kami sangat kehilangan Joshua, tetapi di pihak lain kami bangga dan bersyukur karena saat ini ia sudah berada di dalam pelukan yang sangat aman, yaitu pelukan Bapa Surgawi, dan ia aman di sana.

Semasa hidupnya, setiap malam sebelum tidur, di samping mendoakan keluarga kami, Joshua juga setia mendoakan lingkungan di mana kami tinggal saat ini. Yang lebih mengagumkan lagi, Tuhan sedang mengerjakan dalam kehidupan lingkungan kami, teristimewa dalam kehidupan pemuda-pemudinya. Joshua sudah pergi ke surga, tetapi benih-benih doa yang pernah ia taburkan telah mulai mengeluarkan hasilnya. Segala pujian hanya bagi Tuhan Yesus!

Kami percaya Tuhan akan terus mengerjakan rencana-Nya dalam kehidupan kami sekeluarga hingga suatu saat nanti seluruh rencana-Nya terselesaikan dalam kehidupan kami dan akhirnya kami juga kembali ke pangkuan Bapa Surgawi, dan bertemu dengan Joshua di Rumah Bapa yang kekal.

Doa kami sekeluarga agar Bapak, Ibu, dan Saudara yang membaca tulisan ini memperoleh berkat dan rahmat-Nya, serta semakin menyadari kedaulatan dan kebesaran Allah dalam kehidupan kita masingmasing. Untuk mengakhiri surat ini, izinkan kami mengutip Firman Allah: "Dan Aku akan mengadakan mukjizat-mukjizat di atas, di langit dan tanda tanda di bawah, di bumi: darah dan api dan gumpalan-gumpalan asap." (Kisah Para Rasul 2:19). Dan juga Firman Tuhan yang dikutip dari Kitab Korintus: "Supaya iman kamu jangan bergantung pada hikmat manusia, tetapi pada kekuatan Allah" (I Korintus 2:5). Amin!

Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Kesaksian Pembaca Buku "Mukjizat Kehidupan"

Pada tanggal 28 Oktober 2009 datang SMS dari seorang Ibu di NTT, bunyinya:
"Terpujilah Tuhan karena buku "Mukjizat Kehidupan", saya belajar untuk bisa mengampuni, sabar, dan punya waktu di hadirat Tuhan, dan akhirnya Rumah Tangga saya dipulihkan, suami saya sudah mau berdoa. Buku ini telah jadi berkat buat teman-teman di Pasir Panjang, Kupang, NTT. Kami belajar mengasihi, mengampuni, dan selalu punya waktu berdoa."

Hall of Fame - Daftar Pembaca Yang Diberkati Buku Mukjizat Kehidupan

  • A. Rudy Hartono Kurniawan - Juara All England 8 x dan Asian Hero
  • B. Pdt. DR. Ir. Niko Njotorahardjo
  • C. Pdt. Ir. Djohan Handojo
  • D. Jeffry S. Tjandra - Worshipper
  • E. Pdt. Petrus Agung - Semarang
  • F. Bpk. Irsan
  • G. Ir. Ciputra - Jakarta
  • H. Pdt. Dr. Danny Tumiwa SH
  • I. Erich Unarto S.E - Pendiri dan Pemimpin "Manna Sorgawi"
  • J. Beni Prananto - Pengusaha
  • K. Aryanto Agus Mulyo - Partner Kantor Akuntan
  • L. Ir. Handaka Santosa - CEO Senayan City
  • M. Pdt. Drs. Budi Sastradiputra - Jakarta
  • N. Pdm. Lim Lim - Jakarta
  • O. Lisa Honoris - Kawai Music Shool Jakarta
  • P. Ny. Rachel Sudarmanto - Jakarta
  • Q. Ps. Levi Supit - Jakarta
  • R. Pdt. Samuel Gunawan - Jakarta
  • S. F.A Djaya - Tamara Jaya - By Pass Ngurah Rai - Jimbaran - Bali
  • T. Ps. Kong - City Blessing Church - Jakarta
  • U. dr. Yoyong Kohar - Jakarta
  • V. Haryanto - Gereja Katholik - Jakarta
  • W. Fanny Irwanto - Jakarta
  • X. dr. Sylvia/Yan Cen - Jakarta
  • Y. Ir. Junna - Jakarta
  • Z. Yudi - Raffles Hill - Cibubur
  • ZA. Budi Setiawan - GBI PRJ - Jakarta
  • ZB. Christine - Intercon - Jakarta
  • ZC. Budi Setiawan - CWS Kelapa Gading - Jakarta
  • ZD. Oshin - Menara BTN - Jakarta
  • ZE. Johan Sunarto - Tanah Pasir - Jakarta
  • ZF. Waney - Jl. Kesehatan - Jakarta
  • ZG. Lukas Kacaribu - Jakarta
  • ZH. Oma Lydia Abraham - Jakarta
  • ZI. Elida Malik - Kuningan Timur - Jakarta
  • ZJ. Luci - Sunter Paradise - Jakarta
  • ZK. Irene - Arlin Indah - Jakarta Timur
  • ZL. Ny. Hendri Suswardani - Depok
  • ZM. Marthin Tertius - Bank Artha Graha - Manado
  • ZN. Titin - PT. Tripolyta - Jakarta
  • ZO. Wiwiek - Menteng - Jakarta
  • ZP. Agatha - PT. STUD - Menara Batavia - Jakarta
  • ZR. Albertus - Gunung Sahari - Jakarta
  • ZS. Febryanti - Metro Permata - Jakarta
  • ZT. Susy - Metro Permata - Jakarta
  • ZU. Justanti - USAID - Makassar
  • ZV. Welian - Tangerang
  • ZW. Dwiyono - Karawaci
  • ZX. Essa Pujowati - Jakarta
  • ZY. Nelly - Pejaten Timur - Jakarta
  • ZZ. C. Nugraheni - Gramedia - Jakarta
  • ZZA. Myke - Wisma Presisi - Jakarta
  • ZZB. Wesley - Simpang Darmo Permai - Surabaya
  • ZZC. Ray Monoarfa - Kemang - Jakarta
  • ZZD. Pdt. Sunaryo Djaya - Bethany - Jakarta
  • ZZE. Max Boham - Sidoarjo - Jatim
  • ZZF. Julia Bing - Semarang
  • ZZG. Rika - Tanjung Karang
  • ZZH. Yusak Prasetyo - Batam
  • ZZI. Evi Anggraini - Jakarta
  • ZZJ. Kodden Manik - Cilegon
  • ZZZZ. ISI NAMA ANDA PADA KOLOM KOMENTAR UNTUK DIMASUKKAN DALAM DAFTAR INI