Search This Blog

Friday, November 30, 2007

Hanya Seorang Diri

Pengkhotbah ini diundang dari Amerika Serikat untuk berkhotbah di London. Sesampai di bandara Heathrow, ia menunggu cukup lama di situ dan ternyata tidak ada seorangpun yang menjemputnya. Ia mencoba menghubungi nomor telpon kantor gereja, namun nomor yang diingatnya ternyata keliru, salah sambung. Ia memutuskan datang ke kota dan mencari gereja yang mengundangnya. Ia tidak tahu persis gereja itu dimana, namun areanya di sekitar perkantoran terkenal.

Ia masuk ke gereja itu dan duduk di deretan bangku depan, dan tak ada seorangpun yang menyambut atau mengenalnya. Ia menunggu. Tiba-tiba ada seorang pemuda masuk dan ketika ia bertatapan mata dengan pemuda itu, sang pemuda menyapa.
"Bukankah bapak adalah Pendeta John?"
"Ya, saya."
"Bapak sudah ditunggu di gereja di belakang blok ini. Mari saya antarkan. Saya tadi kesini mampir karena ada suatu keperluan. Wah, rupanya Tuhan menuntun saya untuk menjemput Bapak. Kami sudah membagikan selebaran-selebaran yang berisi undangan untuk Kebaktian Kebangunan Rohani (KKR) ini, dengan foto bapak terpampang di situ."

Setelah sampai di gereja yang dituju, Pendeta ini berkhotbah dalam ibadah KKR dan pada akhir khotbahnya ia mengundang jemaat yang membutuhkan juruselamat pribadi untuk maju ke depan altar. Setelah ditunggu beberapa saat, ternyata hanya ada seorang pemuda yang maju menanggapi 'altar call' itu. Ia heran dan agak kecewa. Kenapa dalam KKR ini hanya ada seorang saja yang maju? Ia mendoakan pemuda itu dan membimbingnya untuk mengaku dosa dan menerima Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat pribadinya. Selesai.

Beberapa waktu kemudian ia mengadakan KKR lagi di kota lain di Inggris. Ia mengundang jemaat maju ke depan altar bagi mereka yang membutuhkan Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat pribadi mereka. Lagi-lagi satu orang maju dan kali ini adalah seorang gadis. Ia mendoakan gadis ini dan membimbingnya mengalami pertobatan dan kelahiran baru.

Selesai kebaktian gadis ini menemui sang pendeta.
"Apakah Bapak pernah mengadakan KKR di gereja anu di London pada tanggal sekian?"
"Ya."
"Kekasih saya pada tanggal itu sedang cekcok dengan saya. Orang-orang menyaksikan ia maju sendirian ke depan altar waktu Bapak mengundang jemaat untuk menerima Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat. Setelah pulang dari KKR itu, kekasih saya mengalami kecelakaan fatal dan meninggal di tempat kejadian. Namun saya bersyukur karena ia meninggal dalam Tuhan, ia sempat maju ke depan altar untuk menerima Tuhan Yesus sebagai Juruselamat pribadinya. Kini saya juga tidak mau menyia-nyiakan kesempatan, saya mengalami hidup baru saat ini."

Pendeta itu terharu sekali dan mengagumi apa yang telah Tuhan perbuat. Dirinya jauh-jauh melayani ke London atau ke kota manapun karena ada pribadi-pribadi yang akan menerima keselamatan kekal. Ia percaya, dalam persekutuan dengan Tuhan jerih payahnya tidaklah sia-sia. Kita tidak selalu tahu apa dampak pelayanan kita, namun satu hal, apabila kita sungguh-sungguh melayani Tuhan dengan hati yang berbelas kasihan, akan Tuhan kirim orang-orang yang perlu dijamah Tuhan. Segala puji, hormat dan kemuliaan hanya bagi Dia, Raja di atas segala raja, Tuhan Yesus Kristus nama-Nya!

Ditulis oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Cerita dari Afrika

Suatu malam aku bekerja keras untuk menolong seorang ibu di sebuah bangsal rumah sakit. Sayangnya, apapun yang kami lakukan, dia tetap meninggal dan meninggalkan bayi prematur yang sangat mungil serta seorang anak perempuan usia 2 tahun yang menangis.

Kami mengalami kesulitan untuk menjaga agar si bayi tetap hidup, karena kami tidak punya inkubator. Kami tidak punya listrik untuk menyalakan inkubator. Kami juga tidak punya makanan khusus bayi. Meskipun kami tinggal di daerah khatulistiwa, di malam hari seringkali udara sangat dingin dan anginnya kencang.

Salah seorang muridku menaruh bayi itu dalam box dan membungkus bayi dengan kain wol. Yang lain menyalakan api dan mengisi botol air panas. Kemudian muridku yang mengisi botol air panas segera kembali dengan kebingungan sambil bercerita bahwa saat mengisi botol itu dan ternyata meledak. Karet mudah rusak dalam kondisi cuaca tropis.

"Dan ini adalah botol air panas terakhir kita," dia berseru.

"Oke," kataku, "taruh bayi itu di dekat api dalam jarak yang cukup aman, dan tidurlah diantara bayi itu dan pintu untuk menjaganya dari angin. Tugasmu adalah menjaga bayi tetap hangat."

Siang hari berikutnya, seperti hari sebelumnya, aku pergi berdoa dengan beberapa anak yatim piatu yang berkumpul denganku. Aku berikan mereka bermacam-macam saran untuk mendoakan dan bercerita pada mereka tentang bayi mungil itu.

Aku menceritakan masalah kami soal menjaga bayi supaya cukup hangat, menyebutkan tentang botol air panas, dan bagaimana bayi itu bisa dengan mudah meninggal bila kedinginan. Aku juga bercerita pada mereka tentang saudara perempuannya yang berumur 2 tahun, yang menangis karena ibunya meninggal. Selama berdoa, seorang gadis usia 10 tahun, Ruth, berdoa dengan doa singkat seperti anak Afrika kami.

"Tolong, Tuhan," dia berdoa, "kirim kan botol air. Tidak baik besok, Tuhan, karena bayinya bisa mati, jadi tolong kirim sore ini."

Saat aku menarik napas dalam hati karena keberaniannya dalam berdoa, dia menambahkan, "Dan saat Engkau mengirimkan botol air itu, maukah Engkau mengirimkan juga boneka untuk gadis kecil itu, supaya dia tahu bahwa Engkau sungguh mengasihinya?"

Seringkali dalam doa anak-anak, aku merasa ditempatkan pada pusatnya. Dengan sungguh-sungguh kukatakan, "Amin". O, ya, aku tahu bahwa Tuhan dapat melakukan segalanya, Alkitab mengatakan demikian. Tapi pasti ada batasnya, 'kan? Pikiran manusia selalu ingin membatasi kuasa Tuhan...

Dan menurutku satu-satunya jalan Tuhan dapat menjawab doa-doa kami yaitu jika keluargaku di Amerika mengirimi bingkisan. Namun aku sudah tinggal selama hampir 4 tahun, dan tidak pernah, sama sekali menerima bingkisan dari rumah. Tapi, bila seseorang mengirimiku bingkisan, siapa yang akan memberi botol air panas? Sebab aku tinggal di daerah tropis!

Menjelang sore, ketika aku sedang mengajar di sekolah pelatihan perawat, sebuah parsel dikirimkan dengan mobil di depan pintu rumahku. Saat aku sampai di rumah, mobilnya sudah pergi, tapi disana, di beranda, ada dua puluh dua pon parsel yang sangat besar. Aku merasa pedih di mataku. Aku tidak dapat membuka parsel itu sendirian, jadi aku meminta anak-anak yatim piatu untuk membantuku.

Bersama-sama kami menarik talinya, dengan hati-hati membuka simpulnya. Kami melipat kertasnya, supaya tidak menyobeknya. Kegembiraan meningkat. Sebanyak 30 atau 40 pasang mata melihat ke dalam kardus tersebut. Dari atas, kami mengeluarkan baju rajutan berwarna cerah. Mata kami langsung silau melihatnya. Ada perban rajutan untuk pasien kusta, dan anak-anak mulai terlihat sedikit bosan. Lalu ada sekotak kismis, ini bisa dipakai untuk membuat setumpuk kue kismis di akhir pekan. Lalu, aku memasukkan tanganku lagi, aku merasa .... benarkah ini? Aku menariknya keluar .... yaa .... ini baru, botol air panas karet. Aku menangis terharu.

Aku tidak meminta Tuhan untuk mengirimkannya. Aku tidak percaya bahwa Dia benar-benar melakukannya. Ruth ada di barisan depan dari anak2. Ia cepat2 maju, sambil menangis, "Jika Tuhan mengirimkan botolnya, Dia harus mengirim bonekanya juga!" Sambil mengobrak-abrik bagian bawah kotak, dia menarik sesuatu yang mungil, boneka bergaun indah. Matanya berkilau! Dia tidak pernah sangsi. Sambil melihatku, dia berkata, "Dapatkah aku pergi bersamamu dan memberikan boneka ini kepada gadis kecil itu, supaya dia tahu, Tuhan Yesus sangat mencintainya?"

Ternyata parsel ini telah dipersiapkan dan dikirim 5 bulan lalu. Dibungkus oleh para siswa Sekolah Mingguku, yang mana saat mempersiapkan parsel itu, Tuhan telah memerintahkannya juga untuk mengirimi botol air panas walaupun di daerah tropis.
Lalu salah satu dari siswaku juga telah memberikan boneka untuk dikirimkan kepada anak Afrika - Dan itu semua terjadi 5 bulan sebelumnya, sebagai jawaban dari doa seorang anak gadis 10 tahun untuk membawanya "sore itu".

Yesaya 65:24: "Maka sebelum mereka memanggil, Aku sudah menjawabnya; ketika mereka sedang berbicara, Aku sudah mendengarkannya."

Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Isteri yang Cakap

Ini kisah nyata yang dialami seorang keluarga CEO di Jakarta. Kehidupan suami isteri ini boleh menjadi teladan bagi kita semua karena mereka memiliki kehidupan keluarga yang harmonis. Salah satu rahasia yang terungkap dari pasangan penuh bahagia ini adalah karena isterinya adalah seorang isteri yang cakap, seperti yang digambarkan dalam Amsal 31. "Isteri yang cakap siapakah akan mendapatkannya? Ia lebih berharga dari pada permata. Hati suaminya percaya kepadanya, suaminya tidak akan kekurangan keuntungan. Ia berbuat baik kepada suaminya dan tidak berbuat jahat sepanjang umurnya."

Isteri sang CEO ini adalah seorang pendoa yang sangat tekun. Setiap hari ia berdoa berjam-jam. Itulah salah satu rahasia mengapa ia sabar. Ia sabar apabila pada suatu saat suaminya dengan emosi menyatakan suatu hal karena salah paham. Ia tidak berreaksi, ia tidak membantah, ia tidak menyela pembicaraan suaminya, ia tidak melawan, ia tidak memberontak, ia tunduk kepada suaminya. Mereka tidak pernah bertengkar. Karena anak-anaknya sering melihat maminya koq sabar banget, anak-anak itu protes, "Mam, kalau pendapat papi salah, bilang dong! Jangan diam aja..." sang mama hanya tersenyum.

Kali lain, isteri CEO ini telah berdandan rapi dari salon dengan gaun pesta, menjemput suaminya di kantornya di kawasan Senayan, karena dari tempat itu mereka langsung akan berangkat bersama ke resepsi di Hotel Mulia Senayan. Ia menunggu di mobil selama kurang lebih dua jam di pelataran parkir karena suaminya masih sibuk di kantornya. Dandanan yang semula rapi mulai berubah setelah dua jam, namun cinta kasih sang isteri terhadap suaminya tak pernah luntur. Ia tidak gelisah menelpon atau mengirim SMS kepada suaminya agar segera keluar dari kantornya. Ia menunggu dengan manis, tidak merengut, tidak gondok, tidak kecewa. Ketika suaminya akhirnya datang dua jam kemudian, sang isteri tersenyum senang, seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Ia tahu suaminya adalah orang yang sangat sibuk. Ia tidak mau menambah beban suaminya dengan menyatakan kedongkolan karena menunggu. Ia memang tidak dongkol atau jengkel dibiarkan menunggu begitu.

Isteri sang CEO ini termasuk isteri yang sangat baik melayani suaminya. Setiap malam ia tidak akan makan malam sebelum suaminya datang dan makan malam bersama. Jika suaminya datang jam 12 malam atau jam 1 dini haripun, sang isteri akan menyambut suaminya dengan penuh senyuman dan mereka akan makan bersama. Ia tidak menginterogasi suaminya, "ngapain aja sih sampe kerja begini malam?" Tidak, ia tidak mau menambah beban suaminya yang super sibuk.

Bahkan ia mengerti betapa detik-detik suaminya amat berharga. Setiap pagi sebelum pergi ke kantor, suaminya selalu membaca koran sambil disuapi makan pagi oleh dirinya. Bukan karena suaminya manja, namun demi menghemat waktu, suaminya harus membaca dan sarapan pagi sekaligus. Ia menolong suaminya agar dapat tepat waktu berangkat ke kantor. Sang isteri tidak minta dilayani, namun lebih suka melayani.

Dalam hal pakaianpun, sang isteri tidak menuntut dibelikan gaun-gaun. Suaminyalah yang memilihkan dan membelikan gaun untuk dirinya. Bahkan apabila ia kurang sreg dengan model gaun tertentu, namun karena suaminya senang ia memakai gaun itu, ia akan lebih sering memakainya.

Suatu saat suaminya terlihat orang lain di Plaza Indonesia dikelilingi wanita-wanita cantik. Ketika itu memang suaminya masih bekerja di bidang fashion. Ketika sang isteri diceritakan hal itu, ia tersenyum saja. Ia tidak cemburu, ia tidak bertanya apa-apa terhadap suaminya. Ia sadar, memang dalam rangka tugas suaminya banyak berhubungan dengan peragawati yang cantik-cantik. Yang ia lakukan adalah, ia berdoa agar Tuhan menjaga kekudusan suaminya, agar suaminya tidak jatuh dalam pencobaan.

Hati suami mana yang tak tersentuh melihat kebaikan isteri seperti ini? Jika suatu saat sang suami berbicara keras terhadap isterinya, akhirnya sang suami merasa bersalah sendiri, karena isterinya diam saja dan tunduk kepada dirinya. Untuk menebus hal itu ia biasanya akan mengajak isterinya jalan-jalan dan membelikannya suatu hadiah.

Sebagai seorang isteri ia paham betul bahwa ia harus menjadi penolong yang sepadan bagi suaminya. Ia tunduk kepada suaminya tanpa syarat. Ia mengasihi suaminya dengan segenap hatinya. Itulah sebabnya mereka menikmati sorga di bumi. Suami memang perlu memberi kasih sayang kepada isterinya dan isteri yang cakap akan selalu tunduk kepada suaminya.

Ditulis oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Tentang Glen Fredly

Kisah tentang Glenn Fredly ini cukup menarik untuk disimak:

Dia adalah Glenn Fredly Deviano Latuihamallo, anak pertama dari pasangan Hengky Latuihamallo dan Linda Siahaya, yang punya nama beken Glenn Fredly. Setelah memesan kopi susu di warteg tempat kami mengobrol, team GF! langsung melontarkan beberapa pertanyaan seputar perjalanan karier dan kehidupan pribadi pemuda kelahiran, Jakarta, 30 September 1975. Dan dengan antusias nyong Ambon ini menjawab dengan seksama setiap pertanyaan yang kami lontarkan, mau tau liputannya ikuti terus wawancara dengan cowok yang selalu berpenampilan sederhana ini.

Ceritain dong awal perjalanan karier kamu?
Puji Tuhan perjalanan karier gue adalah sebuah proses step by step dan itu nggak gampang. Gue percaya semua itu karena Tuhan Yesus sangat sayang ama gue. Kira-kira tahun 1984/1985, waktu itu gue masih kelas 5 SD, gue berhasil menyabet juara pertama di satu festival sekolah.

Waktu itu sebenarnya gue tuh pengen ikut lomba melukis dan gue sendiri udah ambil formulir pendaftarannya, tapi nggak tau kenapa tiba-tiba, karena untuk lomba nyanyi nggak ada yang ikut, dipilihlah gue sebagai relawannya dan alasannya ya itu tadi karena gue orang Ambon satu-satunya di sekolah itu (yang lain mayoritas Tionghoa). Sempet nangis juga sih, karena gue pengennya ikut lomba melukis kok dipaksa ikutan lomba nyanyi.

Berarti bisa dibilang dari sini dong jalan kamu menuju Glenn yang sekarang?
Yup. Opa gue yang melihat celah itu, bahwa gue punya kemampuan itu walaupun gue sendiri belum tau apakah gue bisa nyanyi atau enggak. Singkat cerita Glenn kecil diajar langsung oleh sang Opa yang bisa melihat jauh ke depan. Dengan disiplin yang tinggi, karena terbiasa dengan didikan Belanda, Opa mulai ngajarin gue nyanyi, baca not, tangga nada berikut tinggi rendahnya dan lain sebagainya.

Dan ternyata daya tangkap gue cukup bagus dan suara gue juga cukup oke dan bisa nyanyi dengan baik nggak fals. Setelah itu akhirnya gue berangkat mengikuti festival itu, babak demi babak gue lewati, dari mulai babak penyisihan, semifinal, dan babak final maju terus dan berhasil menjadi juara pertama dalam ajang festival nyanyi anak itu. Sebagai catatan waktu dari semua lomba tidak satupun lomba yang bisa dimenangin oleh sekolah gue, kecuali lomba nyanyi dan Glenn orangnya. He he.

Gimana sih model pelatihan yang Opa kamu terapin?
Waduh, disiplin banget jek, karena pada dasarnya bukan hanya menyanyi yang dia ajarkan ke gue, tapi pelajaran matematika pun gue belajar dari dia, jadi nggak perlu guru les, jadi dengan dasar itulah disiplin belajar mulai di terapin ke gue. Pada saat itu Opa benar-benar pegang semua jadwal kegiatan gue selama sehari.

Cara dia ngajar sangat berbeda dengan guru-guru musik lain. Nggak boleh salah ketika sedang latihan nyanyi. Salah sedikit, misalnya salah ketukan atau salah baca not, gue bisa dimarahin kayak orang dewasa. Terkadang rotan juga melayang ke bokong gue cuma karena salah baca not dan itu setiap hari gue jalanin selama 5 sampai 6 tahun dari kelas 4 SD sampai kelas 2 SMP. Bayangin sehari bisa satu atau dua jam latihan yang sempet bikin gue stres dan nangis-nangis karenanya.

Kamu ngerasa kehilangan masa kecil kamu nggak sih?
Nggak juga. Opa gue tau banget kapan jadwal gue harus main dan kapan jadwal gue harus belajar . Jadi seperti yang gue bilang tadi bahwa semua jadwal kegiatan gue dalam sehari itu sudah diatur sama Opa, ya istilahnya Opa itu jadi manajer gue, mungkin untuk latihan gue ketika gue sukses nantinya. Kayak sekarang semua jadwal kegiatan gue sudah diatur sama manajer gue, gue harus manggung dimana, gue harus ketemu siapa atau apa sajalah kegiatan gue sudah diatur sedemikian rupa.

Pernah ngerasa jenuh dengan didikan Opa kamu ?
So pasti dong, kayaknya gue ngerasa sebel banget dengan Opa, gue benci banget dengan suasana kayak gini dan gue ngerasa itu adalah saat-saat yang luar biasa banget bagi hidup gue.

Yang membuat kamu kuat ?
Gue ngerasa paling deket sama beliau, gue sendiri juga nggak ngerti bisa seperti itu, sekalipun beliau sering marah sewaktu ngajar, tapi tetep ada hubungan batin yang begitu kuat, misalnya saja pas nyokap bokap lagi marah, sering kali gue lari ke Opa, mungkin ceritanya sangat panjang kalau gue mau ceritain, mungkin di lain seri kita bahas masalah ini, he he. Buat gue Opa adalah superhero, beliaulah orang yang paling berjasa dalam hidup gue. Beliau punya sesuatu yang luar biasa buat gue, bahkan masa depan gue.

Pernah nggak Opa kamu bilang, "Opa punya mimpi kamu bakal jadi penyanyi yang sukses"?
Pernah banget, sewaktu gue masuk masa transisi antara SD-SMP. Waktu itu Opa gue bilang bahwa gue udah gede dan udah susah untuk diatur-atur dan tingkat kenakalan gue udah sangat parah. Karena beliau udah nggak bisa ngelarang, maka sepertinya Opa udah nyerah dan ngelihat ada sebuah perubahan dalam diri gue, dari yang suka nyanyi beralih ke basket dan luar biasanya gue bener-bener ninggalin nyanyi dan gila banget dengan yang namanya bola basket.

Tapi dalam kondisi seperti itu Opa sempet bilang sama gue, "talenta menyanyi yang kamu miliki, itu lebih berharga dari pada kamu harus memulai lagi sesuatu yang baru, karena menyanyi itu membuat kamu bisa dapetin apa yang kamu mau dan kamu bisa hidup dari situ". Opa gue adalah tipe orang yang berpikiran jauh ke depan dan punya dedikasi yang besar buat dunianya ini dan orangnya adalah seorang yang sangat tekun dalam menjalani profesinya dan sabar dalam menggapai sesuatu yang dia inginkan. Dan semua itu beliau investasikan ke dalam diri gue.

Kado spesial apa yang pernah diberikan opa buat kamu?
Sebuah alat musik pianika. Sebenarnya beliau pengen banget beliin gue sebuah piano, tapi karena nggak mampu, ya udah akhirnya pianika pun jadi. Dan akhirnya Opa gue juga yang ngajarin gue main pianika, karena orangtua gue nggak mampu biayain gue les piano.

Seberapa badung sih kamu waktu remaja?
Wah, kalau ditanya seberapa nakal, gue nakal banget waktu itu, suka tawuran. Sejak kelas satu SMP aku pernah nyobain jadi bandar obat. Sebenarnya gue nggak mau nyalahin lingkungan gue. Gue bukan tinggal di sebuah real estate tapi di sebuah kampung yang taraf ekonominya menengah ke bawah. Disitu ada tukang bajaj, supir angkot, tukang sayur dan macem-macemlah dengan permasalahan hidup yang sangat pelik. Masuk SMA tingkat kenakalan gue tambah "menggila". Berantem, tawuran adalah hal yang biasa buat gue, bahkan sempet juga gue ketangkep polisi gara-gara tawuran antar sekolah.

Perasaan kamu saat itu?
Ya gue ngerasa everything is over, yang ada dalam otak gue cuma satu: make money, make money and make money. Tapi Opa gue selalu ngingetin gue supaya gue nyanyi lagi. Tapi dasar bandel, nasihat itu sepertinya masuk kuping kiri keluar kuping kanan alias gue cuekin aja dan gue nggak pernah ngerasa bersalah sama sekali. Sampai satu kali pas hari ulang tahun tante gue, kok kayaknya gue tuh ngerasa deket banget ama Opa gue, gue inget banget waktu itu mau terima raport.

Malam itu gue sempet ngobrol sama Opa, beliau nanya, "Glenn kamu mau jadi apa? Kamu harus sekolah yang bener, SMA harus lulus." Gue juga sempet kaget, karena sebelumnya gue nggak pernah ngalamin moment yang seperti itu. Beliau juga sempet bilang, "Talenta yang ada dalam diri kamu itu nggak akan pernah hilang, sekali diberi talenta sama Tuhan, maka talenta itu akan tetap ada dalam diri kamu, dan satu saat nanti kamu akan menyadarinya. Jangan sampai kamu terlambat dan menyesal! Kamu nyanyi lagi dong, kamu masih bisa kok."

Lalu tindakanmu apa?
Pas kebetulan waktu itu akan ada pertandingan Bahana Suara Pelajar dan Opa nyaranin supaya gue ikut ngedaftar, tapi karena hati gue masih keras, banyak alasan yang gue lontarkan untuk menolaknya. Malam itu ada sebuah pengalaman yang nggak akan pernah gue lupain, Opa nanya, "Kamu yakin nggak mau pulang ke rumah Opa? Kamu deh yang bawa mobil." Gue tetep ngotot juga nggak mau nginep dan sempet bingung juga sih, kenapa tiba-tiba Opa baik banget ama gue, karena selama ini gue nggak pernah dikasih kepercayaan bawa mobil dan belum punya SIM pula.

Dan akhirnya gue antar Opa pulang. Dan nggak nyangka itu adalah pertemuan gue dengan Opa untuk yang terakhir kalinya. Gue pulang nyampe rumah jam 10 malam langsung tidur. Kira-kira jam 4 subuh waktu gue masih tidur, nyokap gue dateng ke rumah tante gue sambil nangis-nangis, kasih kabar kalau Opa meninggal karena serangan jantung. Saat itu perasaan gue hancur luluh berantakan, kayak disambar petir di siang bolong, shock berat, nggak bisa mikir, nggak tau harus berbuat apa. Gue baru sadar bahwa malam sebelum Opa meninggal Opa sebenarnya sedang membuka ruang untuk deket lagi sama gue, karena selama ini kan sepertinya ada jarak antara gue sama beliau.

Sampai sebelum upacara pemakaman gue nggak mau ngeliat wajahnya. Gue pergi ke rumah temen gue. Tapi waktu jenazah Opa mau diberangkatin dari rumah ke pemakaman, gue akhirnya pulang juga dan waktu itulah gue nyanyi sebuah lagu buat melepas kepergian Opa. Itulah pertama kalinya gue nyanyi lagi. Dan itu adalah moment paling emosional yang pernah gue alamin sepanjang hidup gue.

Trus apa keputusan kamu pada waktu itu?
Pulang dari pemakaman Opa, gue seperti orang limbung karena gue ngerasa orang yang selama ini jadi mentor gue udah pergi, itu yang bikin gue agak kacau. Tapi gue mulai berpikir dan ngerenungin apa yang Opa gue pernah omongin ke gue, dari situ hubungan gue ama bokap nyokap juga dipulihkan. Dan bokap mulai ambil peran Opa, singkat cerita gue ambil keputusan untuk nyanyi lagi pada saat itu.

Kontes apa yang pertama kali kamu ikuti, seiring dengan kembalinya kamu ?
Kebetulan kantor dimana bokap kerja itu ulang tahun dan ngadain lomba nyanyi. Gue didaftarin untuk ikut lomba itu dan gue dapet juara satu. Dari situlah semangat gue semakin terpacu dan kuat untuk melangkah ke level yang lebih tinggi. Gue ikutan lomba Cipta Pesona Bintang, kira-kira kelas 3 SMA tahun 1994 dan dapet juara satu juga, sampai akhirnya gue ketemu Funk Section dan gabung sama mereka sebagai vokalisnya.

Tiap pulang sekolah gue latihan sama mereka, malemnya main di Jamz Cafe, itulah pertama kalinya gue nyanyi dibayar. Dari situlah gue mulai berkembang, sampai bikin album bareng mereka, kemudian tour promo album, setelah itu dari uang hasil tabungan sebenarnya gue pengen berangkat ke Amerika buat sekolah musik di sana, karena Funk Section untuk sementara vakum dulu.

Sampai satu kali gue disuruh nyanyi di acara 50 tahun Indonesia, bawain lagu-lagunya Mas Guruh Soekarno Putra. Kebetulan musiknya yang ngegarap Mas Aminoto Kosin, ketemulah gue ama dia, singkat cerita gue diajak rekaman album solo dan demo album itu dia serahin ke Sony Music Indonesia yang pada saat itu baru saja buka di Indonesia. Jadilah gue diterima dan jadi penyanyi solo pria pertama yang dikontrak sama Sony Music Indonesia.

Album ketiga ini bercerita tentang apa sih?
"Dia buka jalan, saat tiada jalan, dengan kasih dan kuasa-Nya Dia buka jalan bagiku," begini ceritanya tentang album ketiga gue yang gue kasih judul "Selamat Pagi Dunia". Di tengah-tengah kelesuan dan semangat kerja gue yang sudah mulai lemah, temen-temen komunitas gue ini mulai bangkitin gue, dan terus mendorong gue untuk bikin album lagi.

Sebenarnya gue masih males, tapi karena terus dimotivasi sama temen-temen, singkat cerita akhirnya gue mulai nulis lagu dan ngumpulin materi buat album ini. Album ini sebenarnya bercerita tentang kehidupan Glenn atau diary gue secara pribadi yang sesungguhnya. Artinya album ini gue jadiin tempat curhat gue.

Semua lagu yang gue tulis dalam album ini menggambarkan tentang apa yang sedang gue alami, apa yang gue rasakan, apa yang sedang terjadi. Dan gue mau bangkit, memulai hidup yang baru dan setelah rilis album ini gue udah memulai chapter hidup gue yang baru. Jadi album ini bercerita tentang kejadian-kejadian hidup gue sebelum album ini dirilis. Dan gue juga nggak nyangka kalau ekspektasi industrinya begitu luar biasa.

Kebanyakan lagu yang kamu tulis bermuatan nilai-nilai kekristenan. Apakah setiap lagu itu ada misinya?
Sebenarnya karakter dari lagu-lagu yang gue tulis memang banyak yang berbicara tentang cinta kasih kepada Tuhan dan sesama. Kemudian bagaimana kita menghargai orang lain dengan kapasitas cinta kita yang kita miliki. Gue juga menegaskan bahwa kita nggak bisa hidup seorang diri. Kita juga butuh orang lain, artinya kita harus bicara atau mengkomunikasikan kalau ada sesuatu kita harus bicarakan dari hati ke hati misalnya. Itu salah satu poin positif yang pengen gue bagiin buat siapa aja yang dengerin lagu ini. Kalau ada masalah harus kita omongin, jangan sampai kita kepahitan atau kecewa. Dan di album gue yang berikutnya gue akan banyak bicara tentang bagaimana kita membangun spirit buat orang lain untuk melihat sesuatu lebih maju dan tidak sempit, tapi secara luas.

Inspirasi kamu dari mana?
Banyak orang bilang, kenapa sih Glenn selalu menulis lagu dengan tema yang sedih, putus asa dan lain sebagainya. Menurut gue itulah ungkapan hati gue yang paling jujur dan gue pikir semua orang pasti pernah mengalaminya. Buat gue itu adalah sesuatu yang wajar. Belajar untuk menerima keadaan nggak semua orang bisa, rasanya memang sulit sekali. Dan gue merasa yang gue buat selama ini sangat tepat waktunya. Karena di saat seperti inilah gue bisa mengekspresikan semua isi hati dan dapat lebih menghargai waktu serta kesempatan terbaik yang sudah Tuhan beri.

Ceritain dong hubungan kamu sama Tuhan selama ini?
Gue ngerasa Tuhan itu bukan hanya sebagai Bapa, tapi seorang Pribadi yang akan senantiasa ada dalam diri kita. Kapanpun dan dimanapun kita mau bicara sama Dia, Dia nggak pernah jauh dari gue dan nggak pernah membuat jarak dengan gue. Dia sangat dekat sekali dengan gue dan gue nganggep Tuhan itu jadi temen curhat dan temen ngobrol gue. Dia selalu ada dalam diri gue dan gue ada di dalam Dia. Gue bisa mencipta lagu dan bahkan semua hasil karya gue, itu adalah hasil dari hubungan gue sama Tuhan.

Sekalipun masalah tetap ada, bersama Tuhan ada jaminan kalau gue bisa menuntaskan masalah itu. Gue adalah orang yang sama dengan orang lain nggak ada bedanya. Mungkin kalau kita orang percaya sudah mengenal kebenaran, sedangkan mereka yang belum percaya belum mengenal kebenaran. Jadi tugas kita sebagai orang percaya adalah memberitakan kebenaran itu kepada mereka.

Boleh tau siapa sih yang nge-back up kerohanian kamu?
Orang yang nge-back up kerohanian gue, pertama adalah Oom gue. Sori gue nggak bisa sebutin namanya, dia seorang pendeta yang sangat concerned mementoring kehidupan rohani gue selama ini. Kedua, orang-orang yang berada di sekeliling gue atau komunitas gue. Dalam komunitas ini kita saling menopang, saling menguatkan seperti yang udah gue bilang tadi. Dan gue ngerasa orang-orang yang berada di belakang gue itu sangat menentukan, karena kita berhadapan dengan sesuatu yang tidak mudah dan secara spirit pun sangat berbeda. Makanya sudah menjadi tugas kita untuk menjadi terang di tempat itu.

Hal yang selalu kamu lakukan sebelum tampil di atas panggung ?
Yang pasti karena tim musik yang gue bangun anak Tuhan semua, kita selalu berdoa dan meminta urapan baru sebelum manggung. Karena gue ngerasa nggak mampu tampil maksimal dan berbuat lebih banyak tanpa pertolongan Tuhan. Terbukti dalam sebuah acara Soundrenalin 2004 kemarin kebetulan gue satu panggung dengan Iwan Fals dan pada saat itu hujan turun deras sekali, sebelum naik panggung kita doa bareng dan tenyata waktu kita naik panggung hujan berhenti dan kita bisa main dengan luar biasa.

Gue percaya itu perbuatan Tuhan, sekalipun orang bilang itu karena ada pawang hujan dan lain sebagainya, tapi gue percaya itu kuasa Tuhan, gue yakin itu Spirit-nya Tuhan. Dan pada saat itu juga atmosfir di tempat itu berubah, menjadi atmosfir cinta kasih, sukacita, damai sejahtera, dan setiap kali gue main Spirit itu ada. (Sumber: Majalah GetFresh)

Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Thursday, November 29, 2007

Ungkapan Jujur Seorang Anak

Berikut ini adalah posting bagus yang saya terima dari adik saya di Sydney, dia juga terima dari seorang teman di Indo:

Tahun 2002 yang lalu saya harus mondar-mandir ke SD Budi Mulia Bogor. Anak sulung kami yang bernama Dika, duduk di kelas 4 di SD itu. Waktu itu saya memang harus berurusan dengan wali kelas dan kepala sekolah. Pasalnya menurut observasi wali kelas dan kepala sekolah, Dika yang duduk di kelas unggulan, tempat penggemblengan anak-anak berprestasi itu, waktu itu justru tercatat sebagai anak yang bermasalah.

Saat saya tanyakan apa masalah Dika, guru dan kepala sekolah justru menanyakan apa yang terjadi di rumah sehingga anak tersebut selalu murung dan menghabiskan sebagian besar waktu belajar di kelas hanya untuk melamun. Prestasinya kian lama kian merosot. Dengan lemah lembut saya tanyakan kepada Dika:
"Apa yang kamu inginkan?" Dika hanya menggeleng.
"Kamu ingin ibu bersikap seperti apa?" tanya saya.
"Biasa-biasa saja." jawab Dika singkat.

Beberapa kali saya berdiskusi dengan wali kelas dan kepala sekolah untuk mencari pemecahannya, namun sudah sekian lama tak ada kemajuan. Akhirnya kamipun sepakat untuk meminta bantuan seorang psikolog. Suatu pagi, atas seijin kepala sekolah, Dika meninggalkan sekolah untuk menjalani test IQ. Tanpa persiapan apapun, Dika menyelesaikan soal demi soal dalam hitungan menit. Beberapa saat kemudian, Psikolog yang tampil bersahaja namun penuh keramahan itu segera memberitahukan hasil testnya. Angka kecerdasan rata-rata anak saya mencapai 147 (Sangat Cerdas) dimana skor untuk aspek-aspek kemampuan pemahaman ruang, abstraksi, bahasa, ilmu pasti, penalaran, ketelitian dan kecepatan berkisar pada angka 140 - 160. Namun ada satu kejanggalan, yaitu skor untuk kemampuan verbalnya tidak lebih dari 115 (Rata-Rata Cerdas).

Perbedaan yang mencolok pada 2 tingkat kecerdasan yang berbeda itulah yang menurut psikolog, perlu dilakukan pendalaman lebih lanjut. Oleh sebab itu psikolog itu dengan santun menyarankan saya untuk mengantar Dika kembali ke tempat itu seminggu lagi. Menurutnya Dika perlu menjalani test kepribadian. Suatu sore, saya menyempatkan diri mengantar Dika kembali mengikuti serangkaian test kepribadian. Melalui interview dan test tertulis yang dilakukan, setidaknya Psikolog itu telah menarik benang merah yang menurutnya menjadi salah satu atau beberapa faktor penghambat kemampuan verbal Dika. Setidaknya saya bisa membaca jeritan hati kecil Dika. Jawaban yang jujur dari hati Dika yang paling dalam itu membuat saya berkaca diri, melihat wajah seorang ibu yang masih jauh dari ideal.

Ketika Psikolog itu menuliskan pertanyaan "Aku ingin ibuku :...", maka Dika pun menjawab : "Membiarkan aku bermain sesuka hatiku, sebentar saja." Dengan beberapa pertanyaan pendalaman, terungkap bahwa selama ini saya kurang memberi kesempatan kepada Dika untuk bermain bebas. Waktu itu saya berpikir bahwa banyak ragam permainan-permainan edukatif sehingga saya merasa perlu menjadwalkan kapan waktunya menggambar, kapan waktunya bermain puzzle, kapan waktunya bermain basket, kapan waktunya membaca buku cerita, kapan waktunya main game di komputer dan sebagainya. Waktu itu saya berpikir bahwa demi kebaikan dan demi masa depannya, Dika perlu menikmati permainan-permainan secara merata di sela-sela waktu luangnya yang memang tinggal sedikit karena sebagian besar telah dihabiskan untuk sekolah dan mengikuti berbagai kursus di luar sekolah. Saya selalu pusing memikirkan jadwal kegiatan Dika yang begitu rumit. Tetapi ternyata permintaan Dika hanya sederhana : diberi kebebasan bermain sesuka hatinya, menikmati masa kanak-kanaknya.

Ketika Psikolog menyodorkan kertas bertuliskan "Aku ingin Ayahku ...", Dika pun menjawab dengan kalimat yang berantakan namun kira-kira artinya "Aku ingin ayahku melakukan apa saja seperti dia menuntutku melakukan sesuatu." Melalui beberapa pertanyaan pendalaman, terungkap bahwa Dika tidak mau diajari atau disuruh, apalagi diperintah untuk melakukan ini dan itu. Ia hanya ingin melihat ayahnya melakukan apa saja setiap hari, seperti apa yang diperintahkan kepada Dika. Dika ingin ayahnya bangun pagi-pagi kemudian membereskan tempat tidurnya sendiri, makan dan minum tanpa harus dilayani orang lain, menonton TV secukupnya, merapikan sendiri koran yang habis dibacanya dan tidur tepat waktu. Sederhana memang, tetapi hal-hal seperti itu justru sulit dilakukan oleh kebanyakan orang tua.

Ketika Psikolog mengajukan pertanyaan "Aku ingin ibuku tidak ...", maka Dika menjawab "Menganggapku seperti dirinya." Dalam banyak hal saya merasa bahwa pengalaman hidup saya yang suka bekerja keras, disiplin, hemat, gigih untuk mencapai sesuatu yang saya inginkan itu merupakan sikap yang paling baik dan bijaksana. Hampir-hampir saya ingin menjadikan Dika persis seperti diri saya. Saya dan banyak orang tua lainnya seringkali ingin menjadikan anak sebagai foto copy diri kita atau bahkan beranggapan bahwa anak adalah orang dewasa dalam bentuk sachet kecil.

Ketika Psikolog memberikan pertanyaan "Aku ingin ayahku tidak : ...", maka Dika pun menjawab "Tidak menyalahkan aku di depan orang lain. Tidak mengatakan bahwa kesalahan-kesalahan kecil yang aku buat adalah dosa." Tanpa disadari, orang tua sering menuntut anak untuk selalu bersikap dan bertindak benar, hingga hampir-hampir tak memberi tempat kepadanya untuk berbuat kesalahan. Bila orang tua menganggap bahwa setiap kesalahan adalah dosa yang harus diganjar dengan hukuman, maka anakpun akan memilih untuk berbohong dan tidak mau mengakui kesalahan yang telah dibuatnya dengan jujur. Kesulitan baru akan muncul karena orang tua tidak tahu kesalahan apa yang telah dibuat anak, sehingga tidak tahu tindakan apa yang harus kami lakukan untuk mencegah atau menghentikannya. Saya menjadi sadar bahwa ada kalanya anak-anak perlu diberi kesempatan untuk berbuat salah, kemudian iapun bisa belajar dari kesalahannya. Konsekuensi dari sikap dan tindakannya yang salah adakalanya bisa menjadi pelajaran berharga supaya di waktu-waktu mendatang tidak membuat kesalahan yang serupa.

Ketika Psikolog itu menuliskan "Aku ingin ibuku berbicara tentang ...", maka Dika pun menjawab "Berbicara tentang hal-hal yang penting saja." Saya cukup kaget karena waktu itu saya justru menggunakan kesempatan yang sangat sempit, sekembalinya dari kantor untuk membahas hal-hal yang menurut saya penting, seperti menanyakan pelajaran dan PR yang diberikan gurunya. Namun ternyata hal-hal yang menurut saya penting, bukanlah sesuatu yang penting untuk anak saya. Dengan jawaban Dika yang polos dan jujur itu saya dingatkan bahwa kecerdasan tidak lebih penting dari pada hikmat dan pengenalan akan Tuhan. Pengajaran tentang kasih tidak kalah pentingnya dengan ilmu pengetahuan.

Atas pertanyaan "Aku ingin ayahku berbicara tentang ...", Dika pun menuliskan "Aku ingin ayahku berbicara tentang kesalahan-kesalahannya. Aku ingin ayahku tidak selalu merasa benar, paling hebat dan tidak pernah berbuat salah. Aku ingin ayahku mengakui kesalahannya dan meminta maaf kepadaku." Memang dalam banyak hal, orang tua berbuat benar tetapi sebagai manusia, orang tua tak luput dari kesalahan. Keinginan Dika sebenarnya sederhana, yaitu ingin orang tuanya sportif, mau mengakui kesalahannya dan kalau perlu meminta maaf atas kesalahannya, seperti apa yang diajarkan orang tua kepadanya.

Ketika Psikolog menyodorkan tulisan "Aku ingin ibuku setiap hari ...", Dika berpikir sejenak, kemudian mencoretkan penanya dengan lancar "Aku ingin ibuku mencium dan memelukku erat-erat seperti ia mencium dan memeluk adikku." Memang adakalanya saya berpikir bahwa Dika yang hampir setinggi saya sudah tidak pantas lagi dipeluk-peluk, apalagi dicium-cium. Ternyata saya salah, pelukan hangat dan ciuman sayang seorang ibu tetap dibutuhkan supaya hari-harinya terasa lebih indah. Waktu itu saya tidak menyadari bahwa perlakukan orang tua yang tidak sama kepada anak-anaknya seringkali oleh anak-anak diterjemahkan sebagai tindakan yang tidak adil atau pilih kasih.

Secarik kertas yang berisi pertanyaan "Aku ingin ayahku setiap hari ...", Dika menuliskan sebuah kata tepat di atas titik-titik dengan satu kata "Tersenyum." Sederhana memang, tetapi seringkali seorang ayah merasa perlu menahan senyumannya demi mempertahankan wibawanya. Padahal kenyataannya senyuman tulus seorang ayah sedikitpun tidak akan melunturkan wibawanya, tetapi justru bisa menambah simpati dan energi bagi anak-anak dalam melakukan segala sesuatu seperti yang ia lihat dari ayahnya setiap hari.

Ketika Psikolog memberikan kertas yang bertuliskan "Aku ingin ibuku memanggilku...", Dika pun menuliskan "Aku ingin ibuku memanggilku dengan nama yang bagus.". Saya tersentak sekali! Memang sebelum ia lahir kami telah memilih nama yang paling bagus dan penuh arti, yaitu Judika Ekaristi Kurniawan. Namun sayang, tanpa sadar, saya selalu memanggilnya dengan sebutan "Nang". "Nang" dalam Bahasa Jawa diambil dari kata "Lanang" yang berarti laki-laki.

Ketika Psikolog menyodorkan tulisan yang berbunyi "Aku ingin ayahku memanggilku...", Dika hanya menuliskan 2 kata saja, yaitu "Nama Asli." Selama ini suami saya memang memanggil Dika dengan sebutan "Paijo" karena sehari-hari Dika berbicara dalam Bahasa Indonesia atau Bahasa Sunda dengan logat Jawa medok. "Persis Paijo, tukang sayur keliling," kata suami saya. Atas jawaban-jawaban Dika yang polos dan jujur itu, saya menjadi malu karena selama ini saya bekerja di sebuah lembaga yang membela dan memperjuangkan hak-hak anak. Kepada banyak orang saya kampanyekan pentingnya penghormatan hak-hak anak sesuai dengan Konvensi Hak-Hak Anak Sedunia. Kepada khalayak ramai saya bagikan poster bertuliskan "To Respect Child Rights is an Obligation, not a Choice" sebuah seruan yang mengingatkan bahwa "Menghormati Hak Anak adalah Kewajiban, bukan Pilihan".

Tanpa saya sadari, saya telah melanggar hak anak saya karena telah memanggilnya dengan panggilan yang tidak hormat dan bermartabat. Dalam diamnya anak, dalam senyum anak yang polos dan dalam tingkah polah anak yang membuat orang tua kadang-kadang bangga dan juga kadang-kadang jengkel, ternyata ada banyak Pesan Yang Tak Terucapkan. Seandainya semua ayah mengasihi anak-anaknya, maka tidak ada satupun anak yang kecewa atau marah kepada ayahnya. Anak-anak memang harus diajarkan untuk menghormati ayah dan ibunya, tetapi para orang tua tidak boleh membangkitkan amarah di dalam hati anak-anaknya. Para orang tua harus mendidik anaknya di dalam ajaran dan nasehat yang baik.

Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Cinta Kepada Kakak & Adik Menghancurkan Keluargaku

Berikut ini ada kesaksian keluarga yang cukup bagus:

Sudah 18 tahun Timotius menikah dengan Sonnie. Namun di tahun-tahun awal pernikahan, tidak ada keharmonisan sedikit pun di dalam kehidupan rumah tangga mereka. Ada banyak perselisihan yang semakin hari semakin memperburuk kehidupan pernikahan Timotius dan Sonnie. Bahkan anak mereka pun ikut menjadi korban. Sering kali sang anak dipukuli oleh ibu mereka sendiri. "Sampai efeknya, mereka menjadi anak yang bodoh," ucap Sonnie, isteri Timotius sambil menangis.

Latar Belakang Timotius
Timotius terbiasa mempunyai hubungan yang dekat dengan keluarganya. Bahkan ia sering membantu adik dan keluarganya dalam hal keuangan. Bagi Timotius, keluarganya adalah yang terpenting dalam hidupnya, terutama kakak dan adiknya. Ia merasa harus membantu keluarganya dan menjaga supaya mereka tidak dicela orang. Tersimpan keinginan besar dalam hatinya untuk menjadi pahlawan bagi kakak dan adiknya. Hal ini terjadi karena ia yang pertama kali bisa mandiri dan ingin menunjukkan kemampuannya kepada mereka dalam hal keuangan.

Sejak umur 12 tahun Timotius sudah ikut saudara sepupunya. Ia menjadi kacung dan sering kali diremehkan orang. Ipar Timotius bekerja sebagai kepala bank dan pegawai-pegawainya selalu mengira bahwa Timotius adalah kacungnya. Setiap ada pertemuan keluarga, tidak pernah Timotius diajak, karena dia sudah dianggap kacung dan bukan bagian dari keluarga. Timotius hidup dengan menumpang di rumah saudara sepupu yang satu ke saudara yang lain. Hingga pada akhirnya setelah lulus dari sekolah, ia bisa bekerja sendiri sambil mengambil kuliah malam. Namun untuk lulus dari sekolah pun ia harus mengalami drop-out sampai 3 kali. Hal-hal itulah yang membuat gambar diri Timotius rusak dan gambar diri yang rusak itu dibawanya masuk ke dalam pernikahan bersama Sonnie.

Latar Belakang Sonnie
Sonnie adalah anak kedua dan dibesarkan di keluarga yang sederhana. Ayahnya adalah seorang sopir dan ibunya membantu berjualan untuk mencukupi kebutuhan keluarga. Ketika Sonnie lulus dari bangku SD, ia sudah membantu ibunya berjualan untuk mencari uang. Ayah Sonnie cukup peduli dengan anak-anaknya. Walaupun ia bekerja sebagai sopir, tetapi ia ingin anak-anaknya bisa sekolah tinggi. Sonnie melihat dan merasakan betapa ayahnya sangat sayang dan peduli kepadanya. Tetapi di sisi lain, Sonnie juga sering melihat keluarganya dihina dan dicela oleh banyak orang karena ketidak-harmonisan dan kemiskinan. "Beli baju untuk pergi ke ulang tahun teman saja sangat sulit saya dapatkan," ujar Sonnie.

Pada suatu hari Sonnie tidak diberikan uang untuk membeli baju oleh ibunya. Ibunya berkata tidak ada. Tapi setelah itu ia melihat kakaknya meminta uang kepada ibunya dan diberikan. Melihat kejadian itu Sonnie kecewa dan mulai timbul kepahitan kepada ibunya. Sempat terlontar dari mulutnya perkataan kasar kepada ibunya setelah kejadian itu, "Kalau saya sudah besar dan bekerja, saya tidak akan berikan mama uang!"

Ayah Sonnie pun turut membantu pernikahan Sonnie dengan Timotius hingga mereka bisa menjadi seperti saat ini. Ia sangat sayang kepada Sonnie sehingga ia sering menghabiskan apa yang ia punya untuk Sonnie. Dan ketika ayah Sonnie meninggal, Sonnie mulai dituntut untuk hidup tanpa dukungan sang ayah dan ia harus hidup mandiri tanpa bergantung kepada siapa pun.

Masalah Keuangan Memicu Perselisihan
Sonnie yang semenjak lepas remaja mulai hidup mandiri tanpa dukungan orang tua, merasa gerah melihat perbuatan Timotius ketika memberikan uang kepada adik dan kakaknya. Bukan hanya beberapa kali, namun sering kali Timotius membantu keluarganya dalam hal keuangan. Bahkan Sonnie melihat bahwa keluarga suaminya tidak pernah membimbing Timotius untuk mencari uang semenjak mereka menikah. Akan tetapi mereka selalu menuntut untuk diberikan uang. Hal itu tidak pernah Sonnie duga sebelum ia mengambil keputusan untuk menikah dengan Timotius.

Sonnie yang pada waktu itu tahu bagaimana keadaan keuangan rumah tangga mereka, selalu emosi ketika melihat Timotius bersikap seolah-olah ingin menunjukkan kepada keluarganya bahwa ia mampu. Padahal sebaliknya. Timotius pun ikut tertekan dengan situasi itu. Ia merasa ingin mempertahankan egonya di depan keluarga, namun dengan begitu ia malah menambah permasalahan di dalam rumah tangganya sendiri. Terutama dengan Sonnie yang selalu menggerutu mengenai sikap suaminya yang tidak bertanggung-jawab dalam hal keuangan keluarga dan tidak memperhatikan anak dan isterinya sendiri. Menurut Sonnie keadaan keuangan keluarganya masih labil dan belum saatnya mereka memberikan bantuan untuk keluarga Timotius yang tidak pernah mau berusaha sendiri mencari uang untuk memenuhi kebutuhan mereka. "Saya sebenarnya tidak melarang suami saya membantu, tapi kalau sudah kuat dulu," ujar Sonnie. Pada waktu itu mereka belum memiliki rumah sendiri dan belum bisa menyisihkan pendapatan mereka untuk ditabung. Tindakan Timotius memberikan sebagian dari penghasilannya secara rutin kepada kakak dan adiknya itulah yang selalu memancing keributan bersama sang isteri.

"Persoalan-persoalan yang muncul pasti ada di dalam rumah tangga karena perbedaan karakter di antara kami," ujar Timotius. "Seperti, isteri saya ini biasa berteriak saat bicara. Hal itu kurang bisa saya terima. Sehingga ketika ia berteriak, pikiran saya mulai kacau dan saya tanggapi juga dengan berteriak sehingga kita bertengkar besar."

Mengurus Proses Perceraian
Ketika konflik terjadi dan Sonnie mengatakan sesuatu yang buruk tentang keluarga Timotius, Timotius bisa langsung marah dan tidak segan-segan menyakiti isterinya sendiri. Timotius sendiri merasa isterinya selalu menyerang dia dalam setiap kesempatan yang ada. Bahkan di saat mereka sedang berada dalam kelompok sel gereja. Hal ini terus berlangsung bertahun-tahun hingga Sonnie tidak tahan lagi dengan keadaan rumah tangganya dan memutuskan untuk pergi ke pengacara meminta bantuan proses perceraian. Sonnie mengambil keputusan untuk bercerai setelah ia merasa tekanan dari keluarga Timotius ikut menambah penderitaannya. Keluarga Timotius selalu menyudutkan Sonnie dan menuduhnya sebagai penghasut. "Mereka bilang saya tidak memperhatikan keluarga suami saya, mereka bilang saya jahat, saya membuat suami saya tidak memperhatikan keluarganya, bahkan dianggap mengajarkan kepada suami untuk tidak dekat dengan keluarganya. Sedangkan sebenarnya saya tidak bermaksud demikian. Tuhan yang tahu hati saya. Tapi saya tetap yang disalahkan," ujar Sonnie.

Retreat Yang Mengubahkan
Pada suatu hari di saat kejenuhan Timotius juga sudah semakin memuncak, ia mengikuti sebuah retreat / man's camp dengan salah satu gereja. Ada banyak firman Tuhan yang disampaikan dan tentang kebenaran-kebenaran dalam pernikahan yang didapat oleh Timotius melalui acara di tempat itu. Pikiran Timotius mulai terbuka. "Setelah saya mengikuti retreat, saya tahu bahwa saya tidak berfungsi sebagai kepala. Apalagi sebagai imam. Saya tidak berfungsi sama sekali," ujar Timotius dengan penuh rasa penyesalan. Ketika ia kembali dari tempat retreat, Timotius berbicara kepada anak-anak dan istrinya untuk meminta maaf atas setiap tindakan salah yang selama ini telah ia lakukan. Ia peluk dan cium seluruh anggota keluarganya di rumah.

"Pulang-pulang saya juga kaget dengan perubahan dia. Dia minta maaf sama saya, dia minta maaf sama anak-anak. Dia menangis. Saya melihat suami saya berubah, tentunya kalau rumah tangga kita mau bagus dan mau baik dan sepakat, saya juga rindu untuk berubah," ujar Sonnie.

Indahnya Keharmonisan Keluarga
Setelah itu mereka mengikuti MMI (Mariage Ministries International). Di situ mereka baru benar-benar mengalami pemulihan hubungan sebagai suami - isteri - keluarga. Timotius dan Sonnie belajar menghayati kesatuan untuk mengemban tugas masing-masing sebagai suami dan isteri. Akhirnya mereka dapat menyimpulkan bahwa pernikahan secara Kristen saja tidak menjamin kehidupan rumah tangga yang harmonis. "Perkawinan yang sesungguhnya adalah mewujudkan keluarga ilahi. Tapi hal ini bisa terwujud jika kita tahu rahasia pernikahan di firman Tuhan," ujar Timotius. Ia masih tetap membantu keluarga besarnya, namun prioritas utamanya telah ditetapkan untuk isteri dan anak-anaknya.

Sonnie sendiri mulai terbuka dan mau mencari jalan yang terbaik dari setiap permasalahan yang mereka temukan. Ia mau berusaha keras mengubah sifatnya yang kasar terhadap suami dan anak-anaknya. "Saya senang suami saya menyadari hal itu. Bukan berarti kita tidak memperhatikan atau mementingkan keluarga kita yang mengalami kesusahan. Kita pasti memberi dan memperhatikan mereka. Bukan hanya saudara atau keluarga yang harus kita beri, tetapi orang lain atau siapa pun yang mengalami kesusahan harus kita beri. Memberi itu lebih baik dari pada menerima," ujar Sonnie. Selama 18 tahun mereka berumah tangga, 16 tahun pertama mereka jalani dengan keributan terus menerus. Namun 2 tahun belakangan ini mereka baru bisa merasakan begitu indahnya kehidupan dalam rumah tangga setelah pribadi masing-masing dipulihkan Tuhan. Perubahan demi perubahan mulai mereka alami; mereka bisa sehati, bisa saling memercayai, bisa melepaskan pengampunan satu dengan yang lain - khususnya Sonnie kepada keluarga suaminya, dan Sonnie juga tak lupa meminta maaf kepada anak-anaknya yang sempat mengalami kepahitan karena perbuatan kasarnya. Kebenaran firman Tuhan telah mengubahkan keadaan keluarga Timotius Laoly menjadi semakin indah. (Kisah ini telah ditayangkan 26 September 2007 dalam acara Solusi Life di O Channel).

Sumber Kesaksian: Timotius Laoly, dari jawaban.com

Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Wednesday, November 28, 2007

Allah Mengasihi Anda Meskipun Anda Tak Melihat-Nya

Para penumpang di bis itu memandang dengan penuh simpati ketika seorang wanita muda yang cantik dengan tongkat putih itu menaiki tangga bis dengan hati-hati. Ia membayar tiket kepada pengemudi itu dan, dengan menggunakan tangannya ia meraba kursi di bis itu, berjalan sepanjang lorong bis untuk menemukan kursi kosong yang dikatakan pengemudi itu. Lantas ia duduk, menaruh tasnya di pangkuan dan meletakkan tongkat di dekat kakinya. Sudah setahun ini Susan, tiga puluh empat tahun, menjadi buta. Karena kesalahan diagnosa medis, iapun kehilangan penglihatannya, dan tiba-tiba ia terlempar ke dunia yang penuh kegelapan, disertai amarah, frustrasi dan mengasihani diri sendiri.

Yang semula menjadi wanita mandiri, Susan kini merasa tersiksa dengan perubahan nasib yang mengerikan ini sehingga ia menjadi tak berdaya, menjadi beban bagi setiap orang di sekelilingnya. ”Bagaimana hal ini bisa terjadi pada diriku?” tanyanya dengan penuh kegeraman. Namun tak peduli betapa banyak ia menangis atau berdoa, ia tahu suatu kebenaran yang menyakitkan: penglihatannya tidak akan kembali lagi. Segumpal awan depresi menggayuti dirinya, yang semula dipenuhi semangat yang optimistis. Melewati hari-harinya adalah menjalani kehidupan yang bikin frustrasi dan lelah. Dan ia harus bergantung sepenuhnya kepada Mark, suaminya.

Mark adalah seorang perwira Angkatan Udara Amerika Serikat, dan ia sangat mengasihi Susan dengan segenap hatinya. Ketika Susan pertama kali kehilangan penglihatannya, ia melihat betapa isterinya tenggelam ke dalam keputus-asaan dan kemudian Mark memutuskan untuk membantu isterinya mendapatkan kekuatan dan keyakinan kembali sehingga ia dapat menjadi mandiri lagi. Latar belakang militer Mark telah melatih dirinya dengan baik untuk mengatasi situasi-situasi yang sensitif, dan meskipun demikian ia tahu bahwa inilah pertempuran paling sulit yang ia akan harus hadapi.

Akhirnya, Susan merasa siap untuk kembali bekerja, namun bagaimana ia sampai ke kantornya? Ia biasanya naik bis, namun kini ia terlalu takut untuk pergi ke kota sendirian dalam keadaan buta. Mark menyediakan dirinya untuk mengantar dengan mobil ke kantor Susan, meskipun arah kantor isterinya berlawanan arah dengan kantornya. Untuk pertama kali, hal ini membuat Susan nyaman dan memenuhi kebutuhan Mark untuk melindungi isterinya yang tunanetra yang masih belum merasa aman untuk mengerjakan sesuatu yang paling mudahpun. Namun, dengan segera Mark menyadari bahwa pengaturan seperti ini tidaklah efisien, karena jalanan macet dan berat di ongkos. Susan harus mencoba naik bis lagi, demikian menurut pertimbangan Mark. Namun hanya baru memikirkannya saja untuk mengutarakan hal itu kepada Susan membuat dirinya merinding. Susan masih terlalu sensitif dan mudah tersinggung. Bagaimana nanti reaksi isterinya?

Tepat seperti yang diduga Mark, Susan sangat ketakutan mendengar gagasan suaminya untuk naik bis ke kantor lagi. ”Aku ini buta!” katanya dengan getir. ”Bagaimana aku tahu akan ke arah mana? Aku merasa engkau sudah meninggalkanku.” Hati Mark hancur mendengar perkataan itu, tetapi ia tahu apa yang harus dilakukannya. Ia berjanji kepada Susan bahwa ia akan naik bis setiap pagi dan sore bersamanya, selama diperlukan, sampai ia merasa yakin dan nyaman. Dan itulah yang persis terjadi.
Selama dua minggu berturut-turut, Mark, dengan seragam militer menemani Susan pergi dan pulang kerja setiap hari. Ia mengajarkan isterinya bagaimana mengandalkan indera yang lain, khususnya pendengaran, untuk mengenali dimana dia berada dan bagaimana beradaptasi dengan lingkungan baru. Ia menolongnya untuk bersahabat dengan para sopir bis yang dapat ikut menjaganya dan menyediakan tempat duduk kosong baginya. Ia dapat membuat Susan tertawa, meskipun pada hari-hari yang tidak begitu baik ketika ia hampir terjatuh menuruni tangga bis atau menjatuhkan tasnya. Setiap pagi mereka bepergian dengan bis bersama, dan Mark akan naik taksi kembali ke kantornya setelah mengantar isterinya.

Meskipun kegiatan rutin ini cukup memakan biaya dan melelahkan, dibandingkan dengan sebelumnya, namun Mark tahu bahwa hanya soal waktu sebelum Susan akan mampu bepergian dengan bis sendirian. Ia percaya isterinya pasti bisa, karena ia tahu Susan tidak pernah takut menghadapi tantangan apapun atau menyerah pada apapun sebelum ia buta. Akhirnya, Susan memutuskan bahwa ia telah siap mencoba naik bis sendirian. Senin pagi datanglah, dan sebelum ia pergi, Susan melingkarkan lengannya di pundak Mark, teman naik bis, suami dan sahabat terbaiknya. Matanya dipenuhi airmata ucapan syukur atas kesetiaannya, kesabarannya, dan kasihnya. Ia berpamitan, dan untuk pertama kalinya, ia pergi dengan arah berlawanan. Senin, Selasa, Rabu, Kamis…. Setiap hari ia pergi naik bis sendirian dengan sempurna, dan Susan tidak pernah merasa sebaik ini. Ia telah berhasil melakukannya! Ia dapat pergi bekerja sendirian, tanpa bantuan orang lain!

Pada suatu Jumat pagi, Susan naik bis untuk bekerja sebagaimana biasanya. Ketika ia membayar tiket sebelum turun dari bis, sopirnya berkata, ”Wah, aku iri padamu lho!” Susan tidak yakin apakah sopir ini sedang berbicara kepadanya atau bukan. Memangnya kenapa ada orang yang iri kepada wanita buta seperti dirinya yang harus berjuang mendapatkan keberanian untuk menghadapi kehidupan ini. Karena ingin tahu, ia bertanya kepada pengemudi bis itu, “Kenapa anda berkata bahwa anda iri kepadaku?” Pengemudi itu hanya berkata, “Kayaknya enak diperhatikan dan dilindungi seperti kamu!” Susan tidak mengerti apa yang dikatakan pengemudi bis ini, sehingga ia bertanya lagi, ”Maksud anda?” Pengemudi itu menjawab, ”Tahu tidak, setiap pagi selama minggu lalu, seorang pemuda gagah dengan seragam militer berdiri di seberang sana memandangi anda turun dari bis. Ia memastikan apakah anda dapat menyeberang dengan aman, dan ia mengawasi anda sampai anda masuk ke gedung kantor anda. Kemudian ia akan memberikan tanda ciuman dan tanda hormat kepada anda dan pergi. Anda adalah seorang wanita yang beruntung!”

Airmata kebahagiaan mengalir dari pipi Susan. Meskipun ia tidak dapat melihat suaminya secara fisik, ia selalu dapat merasakan kehadirannya. Ia merasa diberkati, begitu diberkati, karena ia telah memberikan kepadanya suatu hadiah yang lebih dahsyat dibandingkan dengan penglihatan, suatu hadiah dimana ia tidak perlu melihat untuk percaya, suatu hadiah kasih yang dapat memberikan terang dimana di sana hanya ada kegelapan. Seperti dalam kisah-kisah lain dalam Pentas Kesaksian ini(http://pentas.kesaksian.blogspot.com) Tuhan menyatakan bahwa Ia memperhatikan kita dengan cara seperti itu. Kita mungkin tidak tahu kalau Ia hadir. Kita mungkin tidak mampu melihat wajah-Nya, namun Ia ada di sana tanpa disangsikan lagi. Harapan saya bagi anda adalah biarlah anda diberkati dengan pikiran ini: ”Allah mengasihi anda – meskipun anda tidak melihatnya.” Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN http://pentas-kesaksian.blogspot.com (Mohon agar alamat blog ini tidak di-delete, kalau posting ini diforward ke teman anda! - Thank you)

Tujuh Gunung

Tiga puluh dua tahun lalu, dua orang pria Kristen bertemu dalam sebuah jamuan makan siang. Setiap orang ini telah diberi suatu pesan dari Tuhan dan diperintahkan untuk berbagi pesan itu kepada pria lainnya. Ternyata Tuhan memberikan masing-masing orang pesan yang sama. Mereka menceritakan pesan yang sama itu kepada satu sama lain.

Dua orang itu adalah Almarhum Bill Bright, pendiri Campus Crusade for Christ, dan Loren Cunningham, pendiri Youth With A Mission. Pesan itu adalah mengenai penglihatan dari Tuhan untuk memenangkan masyarakat dengan berfokus pada tujuh area kunci yang paling berpengaruh terhadap budaya suatu masyarakat. Ada orang yang menyebut ketujuh kunci itu sebagai: wilayah pengaruh atau gunung-gunung. Ketujuh gunung itu adalah: seni/dunia hiburan, bisnis, pendidikan, keluarga, pemerintah, media, dan agama.

Kita harus menjadi garam dan menjadi terang di bidang seni/dunia entertainment, dunia bisnis, dunia pendidikan, keluarga, pemerintahan, media dan agama. Kalau sekarang ini banyak anak-anak Tuhan menjadi tokoh di gunung-gunung itu, kita harus mendukung dan bekerja sama dengan mereka, karena mereka sedang menggenapkan apa yang Tuhan targetkan bagi mereka untuk merebut masyarakat (society) bagi Tuhan.

Ditulis oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Setia Sampai Mati

Tuhan Yesus Kristus dalam suratnya kepada jemaat di dalam kitab Wahyu 2:10b mengatakan, "Hendaklah engkau setia sampai mati, dan Aku akan mengaruniakan kepadamu mahkota kehidupan." Ayat ini sungguh digenapi seorang Worship Leader yang meninggal ketika memimpin Pujian dan Penyembahan di suatu gereja pada hari Minggu, 25 November 2007 yang lalu. Di tengah-tengah suatu lagu penyembahan, tubuhnya yang tinggi besar rebah ke lantai dan seketika itu juga ia menghembuskan nafasnya yang penghabisan. Jemaat yang sedang beribadahpun menjadi gempar.

Pak Bambang, Worship Leader itu, memang sudah mengidap gagal ginjal sejak beberapa tahun terakhir ini. Ia harus dicuci darah setiap minggu dan upayanya untuk cangkok ginjal di Cina tidak jadi dilakukan karena kendala kesehatannya. Namun semangat hidup dan pelayanannya tidaklah mengendor. Terbukti, ia setia sampai mati...

Ditulis oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Tuesday, November 27, 2007

Cara Gereja Setan Merekrut Korbannya

Istilah 'Gereja Setan' (GS) memang keliru, namun sudah salah kaprah. Baru-baru ini saya mendengarkan kembali kesaksian sdr. Mongol yang konon sudah bertobat dari GS. Ada hal yang menarik yang diceritakan dirinya sebagai mantan pemimpin di GS, yaitu bagaimana mereka merekrut para pengikut atau korbannya.

Salah satu cara adalah dengan mengajak anak-anak muda untuk makan di restoran yang mahal. Kalau anak-anak muda itu biasa makan di Warteg, diajak makan di restoran sekelas The Dome, misalnya, membuat mereka terperangah. Ketika bon atau 'bill' disodorkan, para pemimpin GS yang mentraktirnya sengaja mengekspos mahalnya atau besarnya 'bill' itu. Anak-anak muda yang sudah ditraktir demikian mahalnya, mana mungkin akan menolak ketika setelah makan mereka diajak, "Yuk, kita ibadah Sabtu malam besok?" Begitu mereka datang untuk pertama kali di dalam ibadah GS, mereka akan disambut dengan hangat, dan pada acara perkenalan, mereka yang baru pertama kali hadir dalam ibadah di GS akan diminta maju dan harus bersedia mengeluarkan darah untuk dicampur dalam 'air suci' sebagai ritual penyambutan mereka. Darah yang bercampur air suci itu kemudian harus diminum setelah diberi mantera-mantera. Sejak saat itu anak muda yang bersangkutan sudah masuk dalam perjanjian darah dengan Lucifer.

Cara kedua adalah melalui jabat tangan dengan pemimpin GS yang di jarinya dipasang cincin pentagram menghadap ke dalam kepalan tangan dan ketika jabat tangan itu diusahkan dengan sengaja agar ujung cincin melukai anak muda yang menjadi target mereka. Dengan aksi menyesal, orang yang melukai itu akan meminta maaf dan mengelap tetesan darah. Selanjutnya darah itu akan diberi mantera agar terjadi ikatan darah antara orang itu dengan Lucifer. Sejak saat itu, para pemimpin GS tinggal memanggil nama anak muda itu, maka dia bagai kerbau dicocok hidung akan menjadi pengikut GS.

Cara lain adalah melalui penyusupan para pengikut GS di dalam kebaktian-kebaktian gereja. Mereka berani mengikuti ibadah di gereja-gereja tradisi dari awal sampai akhir dan dalam kesempatan itu mereka akan menyerang jemaat yang ditargetkan dengan kuasa-kuasa jahat. Jika di kebaktian karismatik, mereka tidak akan berani datang dalam acara Praise & Worship, karena setan tidak tahan tinggal dan berhadapan dalam hadirat Tuhan. Namun kini banyak ibadah karismatik juga tidak ada hadirat Tuhan, sehingga mereka berani 'ngobok-ngobok' ibadah raya sejak awal. Nah, jika dalam kebaktian karismatik yang kuat hadirat Tuhannya, mereka biasanya berani menyerang pada waktu altar call. Mereka yang diserang bisa rebah ke lantai, dan biasanya orang yang rebah ke lantai tidak diperhatikan oleh pendeta yang melayani, karena pendeta itu biasanya konsentrasi kepada jemaat yang belum rebah. Orang-orang Kristen yang diserang kuasa kegelapan sehingga rebah ke lantai ini akan menjadi target yang empuk untuk menjadi pengikut GS.

Ditulis oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Monday, November 26, 2007

Mati Mendadak

Ini kisah nyata yang dialami seorang teman, keluarga Tionghoa. Sudah sejak beberapa tahun lalu suaminya selingkuh dengan seorang perempuan yang berprofesi sebagai SPG (Sales Promotion Girl). Nasihat dari hamba-hamba Tuhan tidak ada yang dihiraukan oleh suaminya. Isterinya ini tabah sekali dan tidak berdaya, karena dia bekerja di pabrik roti milik mertuanya. Beberapa kali wanita piaraan itu mendatangi rumah keluarga ini, mencari suaminya. Hubungan segitiga itu berlangsung bertahun-tahun sampai isteri mudanya melahirkan seorang anak. Suaminya sering membawa simpanannya ini beribadah di gereja lain.

Untuk memutuskan hubungan gelap suaminya itu, sang isteri menganjurkan agar suaminya memberi uang santunan sekaligus kepada isteri piaraannya, seperti Abraham menceraikan Hagar, dan setelah itu putus hubungan. Namun wanita piaraannya itu pintar. Dia menolak diberi uang, bahkan rumah yang pernah diberikan suaminya dikembalikan, untuk membuktikan bahwa dirinya bukan mengejar harta, namun membutuhkan seorang suami.

Sang isteri sudah konseling dengan banyak hamba Tuhan, bahkan seorang hamba Tuhan berkata, "Ya, sudah, relakan saja suamimu dipinjam 'kuntilanak' itu, mungkin sang 'kuntilanak' akan menjadi orang percaya sungguh-sungguh melalui suamimu yang Kristen." Keadaan rumah tangga seperti itu terus berlangsung beberapa tahun, hingga suatu hari suaminya mengeluh sakit di dada. Isterinya membawa sang suami ke RS Pusat Pertamina. Di perjalanan menuju RS suaminya menghembuskan nafas terakhir tanpa sempat ditolong para dokter di RSPP. Padahal selama ini suaminya sehat-sehat saja, tidak ada keluhan sakit jantung atau sakit kritis apapun.

Ketika kuburannya disiapkan dan batu nisan akan dibuat, sang isteri bertanya kepada kami, "Dimana ya ayat yang mengatakan: 'Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik, aku telah mencapai garis akhir dan aku telah memelihara iman.'?" "Oh, itu di 2 Timotius 4:7." kata saya via SMS. Saya tidak mau berkomentar, apakah suami yang menyakiti isteri dan anak-anaknya, masih layak mengaku telah mengakhiri pertandingan yang baik.

Satu hal yang kita perlu renungkan, apabila kita berbuat dosa dan tidak ada halangan apapun, itu bukan berarti Tuhan merestui perbuatan dosa kita. Ada saatnya penghakiman Tuhan akan dilakukan, dan ketika hal itu terjadi, mungkin sudah tidak ada waktu untuk bertobat. Jangan menyia-nyiakan kesabaran dan kasih karunia Tuhan. Kita tidak pernah tahu apakah kita masih memiliki waktu untuk bertobat dan memperbaiki kesalahan kita.

Ditulis oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Friday, November 23, 2007

Kedatangan Tuhan

Setelah kami mengadakan acara Bahtera di Papua, kami mengadakan perjalanan ke Israel. Tuhan berkata, ”Bukalah Papua karena Aku akan masuk. Injil ini harus diberitakan dari Yerusalem sampai ke ujung bumi dan sekarang Aku harus balik dari ujung bumi masuk ke Yerusalem.”

Setelah kami sampai di Israel, Tuhan memerintahkan kami untuk mendekati Golden Gate. Padahal untuk datang mendekati Golden Gate itu susah sekali karena itu merupakan daerah terlarang. Pada waktu melihat Golden Gate, Tuhan berbicara kepada Ibu Nanny, adik Drg. Yusak Tjipto yang melayani Persekutuan Doa Ecclesia di Cirebon, ”Kamu harus mendekati Golden Gate sedekat mungkin.”
”Kan tidak boleh, Tuhan?”
”Memang sulit, tapi kamu bisa.” kata Tuhan lebih lanjut.

Tuhan tidak memberitahukan bagaimana caranya menuju ke sana. Tour guide-nya juga berkata bahwa kami tidak boleh mendekati ke sana. Kemudian kami melapor kepada Tuhan bahwa menurut tour guide-nya tidak mungkin. Tapi anehnya Tuhan berbicara kepada salah satu guide, sehingga guide itu bertanya kepada kami, ”Berapa orang yang akan masuk ke sana?” Kami menjawab, ”Hanya enam orang!”
”Hanya enam? Baiklah, saya akan antarkan.”

Suatu keanehan terjadi. Setiap guide itu tahu benar bahwa mendekati Golden Gate itu adalah suatu larangan. Setelah dia mengantarkan kami, kami bertanya kepadanya, ”Mengapa ia begitu berani mengambil risiko yang besar seperti itu?” Ia cuma menjawab, ”Tidak tahu, tuh!”

Sebab itu kita harus percaya, jika Tuhan yang memerintahkan, Dia pasti akan atur sehingga semuanya terjadi.

Tuhan tidak memberitahukan kepada kami dari dulu bahwa kami disuruh mendekati Golden Gate itu dan berdoa di sana. Kalau kami diberitahu dari dulu, kami mungkin akan menjawab, ”Berdoa dimana saja kan sama?” Pada waktu kami sampai di dekat Golden Gate itu Tuhan katakan, ”Ayo berdoa menghadap Bapa dalam nama-Ku, minta supaya kedatangan-Ku dipercepat.”

Oleh karena itu, mengingat kedatangan Tuhan sudah semakin dekat, marilah kita selesaikan bagian yang harus kita selesaikan dengan tuntas dan setia. Setiap kita dipanggil untuk menggenapkan Amanat Agung dan menjadi berkat bagi saudara kita yang paling hina di muka bumi ini. Kalau kita kedapatan setia mengerjakan bagian kita, Dia akan senang mendapati kita pada waktu kedatangan-Nya kembali di bumi ini. Demikianlah kesaksian Drg. Yusak Tjipto seperti tertulis dalam buku "Garis Akhir - Sampaikah Anda?"

Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Thursday, November 22, 2007

Gelora Cinta

Suatu hari seorang hamba Tuhan yang terkenal disuruh Tuhan membaca Kitab Kejadian pasal 1,2, dan3.
"Sudah, Tuhan!"
"Bukan gitu, caranya, nak! Kamu ini baca tanpa perasaan sih, ya tidak menangkap apa perasaan-Ku!"
"Ya, saya baca lagi deh, Tuhan!"
"Kalau engkau baca dengan perasaan, engkau akan merasakan ada gelora cinta yang besar ketika Aku menciptakan manusia. Aku sangat penuh gelora cinta ketika membentuk manusia pertama Adam dan Hawa, Aku sangat penuh gelora cinta ketika menciptakan setiap orang."

Setelah direnung-renungkan, memang pantas Tuhan rela mengorbankan nyawa-Nya untuk kita, karena gelora cintanya terhadap kita begitu besar. Tak ada seorangpun yang rela mengorbankan nyawanya, tanpa cinta yang menyala-nyala bagi orang itu.

Dalam sebuah film, ada adegan dimana seorang laki-laki yang tergolong 'Kucing Garong' menodongkan pistol ke arah gadis cantik yang mau dipaksa menjadi kekasihnya. Di sampingnya ada seorang pemuda tampan yang ingin membela gadis ini. Ketika pistol diarahkan kepada gadis ini untuk membunuhnya karena gadis itu tetap menolak cinta sang kucing garong, maka terdengarlah letusan pistol. Secepat kilat sang pemuda memeluk gadis yang dicintainya dan peluru itu bersarang di tubuh pemuda itu. Dalam saat-saat terakhirnya, pemuda itu hanya berkata,"Saya mulai menyukai warna 'pink'." Gadis itu sembari menangis berkata,"Aku tahu." Lha, orang sudah sekarat saja masih ngomong soal warna? Itulah orang orang yang sedang kasmaran, penuh gelora cinta. Pemuda itu rela memasang tubuhnya sebagai tameng bagi gadis pujaannya, meskipun untuk itu dia harus mati. Ada gelora cinta.

Seorang anak perempuan usia 9 tahun ikut ibadah raya pada suatu hari Minggu. Pas hari Minggu itu ada Perjamuan Kudus. Ia bertanya kepada ayahnya apa arti perjamuan Tuhan itu. Setelah diberitahu dan dijelaskan, anak perempuan itu bertanya, "Ayah, apakah saya boleh ikut Perjamuan Kudus?" "Boleh, asal kamu percaya sungguh-sungguh bahwa tubuh Tuhan Yesus telah diserahkan dan darah Tuhan Yesus telah dicurahkan bagi pengampunan dosa kamu!"

Ketika anak perempuan itu makan roti perjamuan, tidak terjadi apa-apa. Ia sungguh bersyukur boleh dipersatukan dengan tubuh Kristus. Ketika ia akan mengangkat cawan perjamuan tiba-tiba terdengar pertanyaan di hatinya, "Apakah engkau rela minum cawan-Ku?" Ingat, ketika Tuhan Yesus akan disalib, Ia bergumul lama untuk menerima cawan penderitaan itu. "Kalau boleh, biarlah cawan itu lalu daripada-Ku!" kata Tuhan Yesus sampai tiga kali. Anak gadis itu hatinya penuh gelora cinta kepada Tuhan. Meskipun ia tidak begitu mengerti apa arti cawan itu, ia hanya berkata, "Aku mau minum cawan-Mu, Tuhan!" Dua kali ia ditanya, "Apakah engkau rela minum cawan penderitaan-Ku?" Ia taat saja dan berkata, "Aku mau, Tuhan!" Anak itu minum cawan perjamuan, dan sejak itu kehidupannya penuh penderitaan karena nama Yesus. Ia hidup dalam aniaya, intimidasi, penderitaan karena imannya kepada Tuhan Yesus, namun kehidupannya menjamah banyak jiwa. Ia rela menderita bagi Kristusnya karena ada gelora cinta di hatinya. Gelora cinta akan mengatasi penderitaan, kesusahan, pergumulan, dan pengorbanan. Itulah jalan salib yang telah ditempuh Tuhan Yesus. Kita jadi diingatkan, apabila kita mengaku sebagai murid-Nya, kita wajib hidup seperti Dia telah hidup: penuh gelora cinta akan Bapa Sorgawi!

Ditulis oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Wednesday, November 21, 2007

I don't Understand, but I trust You

Almarhum John Wimber adalah pendiri gereja-gereja Vineyard, dimana salah satu gereja Vineyard Airport di Toronto menjadi terkenal ke seluruh dunia beberapa tahun yang lalu dengan "Toronto Blessings"-nya. John Wimber sendiri adalah gembala dan penginjil yang terkenal dengan konsep "Penginjilan Dengan Api" dimana manifestasi kuasa Roh Kudus nyata dalam tanda-tanda dan mukjizat-mukjizat.

Bagaimana John Wimber bertobat dan sungguh-sungguh percaya kepada Tuhan? Kisahnya cukup menarik. Beberapa puluh tahun yang lalu John diajak temannya untuk mengikuti suatu "Bible Study" pada seorang guru. John tidak bertobat karena pelajaran-pelajaran di dalam Bible Study itu, namun oleh suatu kejadian yang menimpa guru Bible Study ini. Gurunya memiliki dua orang anak, satu putera dan satu puteri. Putera pertamanya mengalami kecelakaan fatal bersama mobilnya sehingga sejak saat itu kakinya lumpuh.

Jika kita mengalami peristiwa tragis dimana anak kita lumpuh, bagaimana reaksi kita? Guru ini tetap melayani Tuhan dengan setia. Ia tidak mempertanyakan, mengapa Tuhan mengizinkan kecelakaan itu terjadi. Mengapa Tuhan tidak melindungi keluarga hamba-Nya yang setia melayani Tuhan? Tidak, ia tidak bertanya-tanya atau kecewa kepada Tuhan.

Pada suatu malam ketika pelajaran Bible Study berlangsung dimana John Wimber ikuti, pintu rumah itu diketuk. Dua orang polisi masuk dan menanyakan apakah ini rumah Anne. Gurunya mengiyakan.
"Ada kabar buruk!" kata salah seorang polisi itu, "Puteri bapak dibunuh orang secara brutal. Saat ini jenazahnya masih di Rumah Sakit untuk diautopsi."

Tentu saja gurunya kaget, karena ketika Anne pergi kuliah malam itu tidak ada firasat buruk apapun.

"Ya, terima kasih atas informasinya, Officer! Saya akan segera ke Rumah Sakit." kata gurunya.

Yang membuat John Wimber bertobat dan mau percaya sungguh-sungguh kepada Tuhan adalah doa gurunya yang berbunyi:
"Father, I don't understand. I won't ask You any question. I trust You." Luar biasa sekali orang ini! Dia tidak mengerti mengapa anak gadisnya dibunuh orang dengan biadab. Dia tidak mengerti mengapa hamba Tuhan seperti dia mengalami peristiwa tragis lagi. Dia tidak mengerti mengapa Tuhan tidak melindungi anak gadisnya. Tapi ia tidak mau bertanya apapun. Dia tidak mempertanyakan kasih Tuhan dalam tragedi kematian anak gadisnya. Dia tidak mempertanyakan mengapa Tuhan memanggil pulang anak gadisnya secepat itu. Ia hanya percaya kepada Tuhan. Ia percaya Tuhan itu baik dan sangat baik. Ia percaya bahwa Tuhan mempunyai rancangan-rancangan yang terbaik.

Melihat kejadian dan reaksi gurunya, John tersentuh dan mau sungguh-sungguh percaya kepada Tuhan, apapun yang terjadi. Ia ingin menjadi seperti gurunya yang bisa mempercayakan diri kepada Tuhan dalam situasi sesulit apapun. I don't understand, but I trust You...
Ditulis oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Tuesday, November 20, 2007

Diberkati Setelah Memberkati

Pengusaha ini mengaku bahwa ketika ia menyampaikan persembahan bagi pembangunan Sentul City Convention Center (SCCC) ia tidak berharap akan dibalas kebaikannya oleh Tuhan. Ia memberi dengan penuh ucapan syukur saja.

Dalam bisnis chemicals itu ia biasa memasok suatu perusahaan penerbangan domestik yang berkantor di Surabaya. Biasanya ia mendapat pembayaran dari perusahaan ini setelah enam bulan barang dikirim. Setelah dihitung-hitung, bisnis dengan perusahaan ini ternyata rugi, karena pembayaran yang lambat tadi. Ketika tagihan sebelumnya sudah lunas, perusahaan penerbangan ini mengajukan pembelian lagi dalam jumlah besar. Mengingat pengalaman masa sebelumnya, pengusaha ini mengenakan harga jual yang sudah diperhitungkan biaya bunga untuk enam bulan ke depan. Eh, ternyata penawaran ini diterima dengan baik oleh perusahaan di Surabaya itu. Barang dikirim segera, dan setelah dua minggu pengusaha ini menerima telpon agar ia mengambil giro pembayaran. "Paling-paling, mereka akan bayar dengan giro mundur," pikirnya. Ketika ia mengirim stafnya untuk menagih, ia terkejut karena giro itu hanya mundur seminggu. Ia tidak menyangka bahwa pembayaran dari perusahaan itu akan sedemikian cepatnya, padahal ia sudah mengenakan biaya bunga untuk enam bulan. Ia mendapat untung cukup banyak dari transaksi ini.

Bukan itu saja. Setelah dipikir-pikir ke belakang, sejak ia menyumbang untuk proyek SCCC, ia mendapat banyak pelanggan baru yang pembayarannya lancar. Sejak ia menabur untuk proyek itu, Tuhan tidak pernah berutang, Ia membalas dengan berkat dan rejeki yang berlimpah. Terpujilah Tuhan!

Ditulis oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Monday, November 19, 2007

Kisah Perjalanan Ke Pedesaan

Pada hari Kamis sampai dengan Sabtu, 15-17 November 2007, yang lalu saya berkesempatan mengunjungi gereja-gereja yang kami bantu pembangunan/renovasi gedungnya. Misi pelayanan ini adalah "dari yang tidak ada gedung gereja dijadikan ada, dari gedung gereja yang tidak layak dijadikan layak." Kami tahu, segala hal ini berasal dari Dia, segala hal terjadi melalui Dia, dan segala hal dipersembahkan bagi Dia.

Dalam kunjungan itu banyak pelajaran menarik yang saya dapatkan:
1. Ada gereja yang tanahnya disumbangkan oleh orang muslim. Bayangkan, Tuhan bisa memakai siapa saja untuk menjadi saluran berkat.

2. Kebanyakan gereja dibangun dengan gotong royong bersama penduduk muslim, tanpa dibayar. Sebaliknya anggota jemaat dan gembalanya juga membantu pembangunan masjid secara gotong royong.

3. Ketika kami kunjungi, ada gembala di beberapa gereja yang sedang bekerja membangun gedung gereja itu bersama-sama penduduk yang lain. Betapa senangnya kami melihat betapa rajin dan bersemangatnya mereka. Kami membayangkan, ketika Tuhan Yesus datang kembali ke bumi ini untuk kedua kalinya dan Ia mendapati kita sedang bekerja bagi-Nya dengan setia, betapa Ia akan senang.

4. Ada seorang gembala yang agak lamban mengerjakan pembangunan gedung gerejanya karena ia merasa sungkan meminta pertolongan orang-orang. Ketika kami datang dan ia membuka pintu gereja, kakinya disengat kalajengking. Entah, apakah itu merupakan peringatan dari Tuhan agar ia lebih bersemangat membangun gedung gereja itu, atau karena kebetulan saja.

5. Pada gereja-gereja yang selesai direnovasi/dibangun, nampak pertumbuhan jumlah jemaat, dari 6-10 orang menjadi 75-an orang. Tuhan menggerakkan para donatur di kota-kota agar gereja-gereja di pedesaan menjadi layak dan memberkati banyak orang untuk datang beribadah.

6. Pada kebanyakan gereja, Tuhan pakai orang-orang muslim untuk menopang gereja-gereja itu. Ada pemimpin masjid yang mengerahkan para jemaatnya untuk menanda-tangani persetujuan pembangunan gereja, ada yang menyediakan rumahnya untuk dipakai beribadah sementara, ada yang memberi bantuan keuangan, dan ada orang muslim yang mengizinkan gembalanya tinggal di rumah mereka selama gedung gereja dan pastori sedang dibangun. Itulah keajaiban Tuhan dan hal itu seharusnya menempelak orang-orang Kristen: mereka saja mau membantu pembangunan gereja, apalagi kita?

7. Ketika kami mengunjungi gereja-gereja di pedesaan, kita yang ada di kota-kota seharusnya sangat bersyukur kepada Tuhan karena kita hidup dalam kelimpahan. Pada hari Jumat itu kami dijamu oleh salah seorang gembala di desa Nglelo, di lereng gunung. Untuk mencapai daerah itu beberapa kali kami harus jalan kaki karena mobil yang kami tumpangi tidak kuat menanjak di jalan yang berbatu dan terjal. Ketika kami akan menyantap hidangan, teman-teman ragu-ragu karena semua hidangan di meja dihinggapi lalat berpuluh-puluh. Dalam doanya seorang teman berkata, "Biarlah Tuhan kuduskan makanan ini dari virus dan bakteri..." Siang itu saya makan nasi jagung bersama lauk lain disertai lalat yang pada kelaparan juga.

8. Tuhan Yesus, Kepala Gereja, memperhatikan gereja-gereja kecil di tempat-tempat yang terpencil. Bayangkan, oleh karena anugerah-Nya kami dipertemukan dengan jemaat-jemaat yang ada di lereng gunung dan di tepian hutan jati di sekitar Kopeng, Boyolali, Grobogan dan Purwodadi.

9. Kisah perjalanan ini bukan hanya hal-hal yang memprihatinkan. Di sepanjang jalan kami sharing dengan gembala-gembala pedesaan yang mengantar kami. Kami bagikan pesan-pesan Tuhan yang kami dapatkan di kota untuk menguatkan jemaat di pedesaan. Ketika kami kembali ke Semarang kami boleh menikmati makanan khas Semarang yang enak namun murah.

Ditulis oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Umur Panjang?

Satu kali saya diajak oleh anaknya seorang nenek yang berusia 98 tahun ke rumah sakit dan menjenguk ibunya yang sudah terbaring dengan lemah dan makannya pakai selang. Ketika saya berdoa, Tuhan bicara, "Nenek ini baik hati, tapi doanya selalu minta umur panjang, jadi Aku kabulkan. Biarpun sebetulnya kalau dipanggil pulang itu untuk kebaikannya. Dia tidak mau mengerti Aku, biarpun dia baik. Karena setiap ulang tahun dia minta didoakan supaya panjang umur." Tubuh manusia ada batasnya. Nenek ini sudah mulai agak pelupa tapi koma, jadi tidur terus, biarpun anak cucunya datang ya tetap tidur terus, diajak ngomong ya diam saja.

Saya berkata, "Nek... Nek... kamu minta umur panjang dan dikabulkan Tuhan, tapi kalau sekarang Nenek cuma tidur terus bagaimana ini? Ya, kasihan anakmu karena harus bayar dokter, obat, infus dan terbaring terus di rumah sakit. Kekayaan yang nenek tinggalkan buat mereka bisa habis hanya untuk biaya rumah sakit lho. Makanya sekarang bertobat, minta ampun dan doa, bilang kepada Tuhan Yesus, "Tuhan Yesus, aku minta ampun dan permintaanku aku cabut, tidak jadi minta umur panjang. Kalau sudah waktunya aku pulang, bebaskan aku Tuhan, dan ampuni dosa-dosaku." Di dalam dunia roh saya tahu bahwa dia mendengar dan setelah saya tunggu sebentar kemudian saya ucapkan ”Amin.” Sebelum saya pulang anaknya saya beri pesan supaya ibunya ditunggu karena akan terjadi sesuatu.

Pada malam hari itu anaknya menemani ibunya di rumah sakit dan pada tengah malam ibunya bangun, "Lho aku koq bisa di sini?" Anaknya terkejut dan bertanya, "Lho, Mama sudah bisa bangun?" Ibunya menjawab, "Ayo panggilkan dokter dan semua selang ini dilepas." Dokternya kaget dan berkata, "Sudah bisa bangun, Nek?" "Ya memang aku kan sehat tidak sakit, tapi baru tidur." kata nenek itu. Padahal komanya sudah berbulan-bulan. Setelah diperiksa oleh dokter dan ternyata kondisinya baik maka ia diperbolehkan pulang. Setelah di rumah dia minta supaya semua keluarganya dikumpulkan karena dia mau bicara untuk meninggalkan pesan, karena dia merasa waktunya hampir tiba untuk pulang ke rumah Bapa.

Dua hari kemudian setelah pesan disampaikan maka dia berpamitan dan mengucapkan selamat tinggal kepada keluarganya. Akhirnya dia tidur dan meninggal dengan tenang. Untunglah nenek ini dengan rendah hati mau bertobat memperbaharui komitmennya pada Tuhan.

Makanya kalau kita berdoa, jangan minta apa yang kita pandang dan pikir itu baik buat kita, tapi berdoalah supaya apa yang sudah Tuhan sediakan dan jatahkan pada kita itu yang akan kita terima tanpa ada pengurangan dan tepat waktu kita terima. Karena Tuhan sudah menyediakan yang terbaik buat kita. Sebab Tuhan tahu apa yang terbaik buat kita di zaman akhir ini, supaya kita bisa mencapai garis akhir dan mengakhiri pertandingan iman kita dengan penuh kemenangan. (Kisah ini merupakan kesaksian Ev. Yusak Tjipto, diambil dari buku "Masa Persiapan Di Akhir Zaman")

Diedit dan diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Wednesday, November 14, 2007

Menjadi Sarjana Hukum Meskipun Buta (2)

Berbagai Pengobatan
Kondisi saya memang memprihatinkan. Dengan bantuan saudara-saudara, saya dibawa berobat mata hingga ke Singapura. Keluarga berusaha mengumpulkan uang untuk berobat ke Singapura. Namun selama tiga bulan berobat di sana tetap tidak ada hasilnya. Dokter mengatakan bahwa syaraf mata sudah putus, dan tidak bisa lagi diobati. Saya kembali lagi ke Jakarta dan kemudian pulang ke rumah orangtua di Belitung. Orangtua saya tidak mau putus asa, mata saya tetap diusahakan sembuh dengan jalan berobat alternatif di luar medis, yaitu membawa saya bersembahyang ke kelenteng, dibawa ke dukun dengan obat yang macam-macam.

Selama buta saya tidak bersekolah dan tidak keluar rumah. Apalagi orang-orang di kampung sering mengatakan, ”Kok mata anaknya tiba tiba jadi buta. Memang orangtuanya melakukan dosa apa?” Saya sedih mendengar orang-orang bilang seperti itu. Selama empat tahun saya tidak mempunyai teman bermain dan hanya tinggal di rumah saja. Di tahun keempat, saya kembali berobat ke dokter mata di pusat kota Belitung. Dokter itu juga mengatakan, mata saya tidak bisa disembuhkan lagi, dan ada baiknya sekolah luar biasa untuk anak cacat, SD Luar Biasa. Selesai mengikuti SD Luar Biasa, saya melanjutkan ke Jakarta.

Ditolak Karena Buta
Di Jakarta saya tinggal di asrama Tuna Netra, Lebak Bulus. Tepatnya pada tahun 1989 selama di asrama itulah, saya mulai kenal Tuhan Yesus, karena di tempat itu ada Persekutuan Doa. Selain itu saya sering mendengar acara rohani di radio. Ada teman juga yang mengajak saya mengikuti acara KKR Reinhard Bonke di Senayan. Katanya, Tuhan Yesus yang bisa menyembuhkan mata dari kebutaan. Saya pun pergi dengan penuh harapan bisa melihat normal. Setiap ada KKR, saya pergi terus bersama dengan teman-teman lainnya, tapi tidak juga sembuh-sembuh. Dalam hati ada rasa kecewa.
Tapi saya bersyukur, meski mata ini tetap buta, saya sudah kenal nama Tuhan Yesus. Saya mulai mengerti ada pribadi yang sangat mengasihi anak-anak yang telah dipilih. Termasuk orang buta seperti saya.

Selesai SMP selama tiga tahun, saya ingin melanjutkan lagi ke tingkat SMA, tapi harus bergabung dengan sekolah yang bukan anak anak cacat. Semua sekolah menolak saya, karena saya tidak bisa melihat. Lebih dari 10 sekolah telah saya minta kesempatan untuk bergabung hingga pendaftaran telah ditutup. Saya sedih, kenapa orang-orang tidak adil. Mata saya buta tapi saya punya kemampuan yang sama dengan teman-teman yang tidak buta.

Kesedihan itu membuat saya selalu berdoa agar Tuhan memberi jalan. Tadinya saya pikir tidak mungkin lagi ada sekolah menerima karena masa pendaftaran sekolah telah ditutup, namun suatu ketika Tuhan menggerakkan hati seorang kepala sekolah. Ia mengijinkan saya mencoba mendaftarkan diri di SMA Santo Joseph di daerah Dwi Warna - Jakarta Pusat. Saya akhirnya diterima, dan masuk sekolah itu.

Memang tidak mudah sekolah bergabung dengan siswa-siswi yang tidak buta. Saya harus berjuang keras karena buku-buku pelajaran tidak menggunakan huruf-huruf Braille, seperti yang biasa dipakai di sekolah khusus tuna netra. Tiap kali saya harus pergi ke rumah teman-teman minta tolong dibacakan buku-buku pelajaran, lalu saya rekam di kaset. Terkadang pinjam catatan teman lalu dibawa pulang bila saya tidak keburu mencatat semua bahan yang diajarkan guru-guru. Puji Tuhan, di rumah ada teman dari gereja yang suka membacakan.

Mujizat Tuhan
Pertolongan Tuhan memang tidak terlambat. Tuhan pertemukan saya dengan seorang ibu yang bekerja sebagai notaris dan menganjurkan saya bersama teman yang buta juga tinggal di rumahnya. Selama tinggal tidak pernah diminta bayar sampai saya menyelesaikan semua pendidikan.

Lulus SMA, saya tidak jera untuk masuk ke sekolah tinggi. Sama seperti waktu di SMA, banyak kampus yang tidak mau terima karena buta, apalagi saya tidak mempunyai biaya yang cukup. Semasa di SMA, biaya dibantu oleh dua orangtua asuh hingga kuliah. Apalagi orang tua tidak memberi saya uang yang cukup. Karena saya berjanji untuk tidak membebani keluarga. Saya terus berdoa kepada Tuhan meminta petunjuk agar diberi jalan untuk bisa berkuliah. Akhirnya ada satu kampus, yaitu Universitas Atmajaya yang mengijinkan saya ikut tes. Puji Tuhan, saya lulus dan masuk Fakultas Hukum.

Lepas dari satu pergumulan, saya masuk lagi ke pergumulan lainnya. Saya bingung bagaimana caranya membayar uang perkuliahan sebesar empat juta rupiah (12 tahun lalu), padahal saya hanya mempunyai uang satu juta rupiah. Saya menangis kepada Tuhan bagaimana caranya saya harus membayar empat juta rupiah. Selesai malam itu saya berdoa, ada teman menelpon dan menyarankan saya agar besok menemui pengurus yayasan dan cerita asal usul dan segala kesulitan-kesulitan saya. Besoknya saya temui pengurus yayasan dan menceritakan kesulitan saya. Menunggu dan menunggu dari hasil rapat yayasan, akhirnya saya mendapat jawaban kalau saya diwajibkan membayar sesuai dengan uang yang saya miliki.

Masuk kuliah, kembali lagi saya harus berjuang keras naik bis dari Mangga Besar ke Jl. Jend. Sudirman. Saya sebenarnya tidak bisa dan takut karena trauma jatuh dari bus dua kali semasa SMP, tapi saya harus berani dan tidak mau bergantung pada orang lain. Saya tidak mau mengecewakan Tuhan yang memberi anugerah hingga saya bisa kuliah dan bebas dari uang pangkal. Saya memberanikan diri sendiri naik bis dengan menggunakan tongkat.

Satu semester saya harus beli 100 kaset kosong untuk merekam perkuliahan dan buku-buku dari peraturan perundang-undangan. Saya mempunyai tape recorder tiga buah: satu untuk saya pakai, dan dua ada di teman. Mereka bawa pulang tape recorder dan merekam semua pelajaran saya. Semester demi semester saya lalui. Tuhan memang selalu baik, saya mendapat beasiswa 100 persen dari semester tiga sampai semester delapan. Tiap semester, saya hanya membayar 30 ribu rupiah untuk biaya daftar ulang.

Sempat saya frustasi dan capek menjalankan perkuliahan. Tapi Tuhan memberikan kekuatan dan saya bangkit lagi untuk mencapai cita-cita. Saat paling melelahkan adalah ketika skripsi. Memang ada teman yang membantu, mencari buku dan membacakan sehingga saya tinggal mendengar melalui kaset rekaman. Namun rasanya rumit. Bayangkan, setelah mendengar dari kaset, saya harus menulis dengan huruf-huruf Braille. Setelah menulis, saya harus membacakan kembali ke teman untuk ditulis dengan huruf biasa. Setelah itu berikan ke teman untuk diketik. Syukurnya, skripsi saya selesai juga. Namun ketika saya hendak mengambil hasil ketikan skripsi di kantor teman, saya naik ojek motor dan mengalami keeelakaan di jalan raya.

Puji Tuhan, akhirnya saya bisa ikut ujian skripsi dan lulus kuliah dalam waktu empat tahun. Nilai skripsi saya: A. Pada bulan September 1999 saya mendapat gelar Sarjana Hukum. Setelah lulus saya merenungkan semuanya. Sesulit apapun yang saya jalani, ada Tuhan yang selalu memperhatikan dan tidak pernah meninggalkan saya sejak masuk SD Luar Biasa hingga mendapat gelar Sarjana Hukum.

Saya selalu mengajak teman-teman untuk mempunyai harapan: sesulit apapun untuk dijalani, Tuhan pasti membuka jalan. Saya bersyukur, bisa ikut melayani. Bahkan acara Fajar Harapan yang saya kelola bersama teman-teman bisa menjadi berkat bagi banyak orang, bukan hanya untuk orang cacat saja. Saya memang buta, tapi bisa melihat dengan mata hati. Melihat kasih Tuhan, kebaikan Tuhan, rencana Tuhan yang indah. Saya tidak perlu lagi meratapi masa lalu, namun mengucap syukur dalam segala keadaan. Saya buktikan bahwa orang cacat juga bisa dipakai Tuhan dan memiliki kesempatan yang sama dengan orang normal lainnya. Jika saya bisa bertahan sampai sekarang, semua karena iman saya ada bersama dengan Tuhan Yesus.
Diambil dari Majalah "Mission" Edisi September 2007.

Catatan Akhir:
Ketika saya mendengar kesaksian ini di gereja dan sdri. Linda menyanyikan lagu "Pelangi Kasih", saya sampai menangis terharu. Wanita ini tegar sekali dan dia mengerti jalan kehidupan yang disediakan: Menjadi berkat meskipun ada keterbatasan fisik. Yang saya tahu, beberapa waktu yang lalu Sdri. Linda juga aktif berbisnis bersama Capriasi. Puji Tuhan!

PELANGI KASIH
Do=A

Apa yang kau alami kini
Mungkin tak dapat engkau mengerti
Satu hal tanamkan di hati
Indah semua yang Tuhan b'ri

Tuhan-mu tak akan memberi
Ular beracun pada yang minta roti
Cobaan yang engkau alami
Tak 'kan melebihi kekuatanmu


Reff:
Tangan Tuhan sedang merenda
Suatu karya yang agung mulia
Saatnya 'kan tiba nanti
Kau lihat pelangi kasih-Nya


Ditulis oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Tuesday, November 13, 2007

Menjadi Sarjana Hukum Meskipun Buta (1)

Berikut ini adalah kesaksian sdri. Monica Linda SH. Saya pernah bertemu dan mendengarkan kesaksiannya beberapa kali di gereja dan persekutuan. Kisah ini diambil dari Majalah "Mission" Edisi September 2007.

Kecelakaan
Saya anak pertama dari enam bersaudara. Karena keluarga tidak mampu, sejak berusia lima tahun saya sudah bekerja membantu orangtua berjualan kue dan es lilin. Sama dengan anak-anak seusia, saya pun juga suka bermain. Sesekali, di waktu luang, saya mengambil waktu untuk bermain. Suatu hari, di usia tujuh tahun, saya mengalami kecelakaan. Kala itu saya dan adik diam-diam pergi bermain ke taman. Di taman itu ada ayunan yang terbuat dari tali tambang dan papan. Kami berdua bergantian bermainan ayunan. Ketika giliran saya untuk berayun, tiba-tiba papan ayunan lepas dari talinya. Saya jatuh ke belakang dengan kepala membentur tanah. Cukup keras, namun saya berusaha bangun. Kepala saya terasa pusing, sakit sekali rasanya.

Dengan kekuatan yang ada, saya kembali ke rumah. Saya pun berpesan pada adik agar jangan bercerita kepada mama dan papa. Karena kalau diberitahu, pasti saya dimarahi mama dan papa. Saat berjalan pulang menuju rumah, papa melihat dan curiga dengan cara berjalan saya yang tidak stabil. Memang saya jalannya nabrak-nabrak dan tidak bisa tegak. Saya pikir karena masih ada rasa pusing akibat jatuh dari ayunan tadi. Kemudian saya langsung tidur, dan setelah bangun dari tidur kepala benjol dan saya muntah-muntah. Kejadian ini tidak bisa saya sembunyikan. Orangtua pun menanyakan apa yang telah terjadi. Saya terpaksa beritahu kejadian kala bermain ayunan. Ketakutan saya kena marah dan dipukul oleh orangtua pun akhirnya terjadi.

Dinyatakan Buta

Tak lama kemudian, saya dibawa ke dokter puskesmas. Setelah diperiksa, dokter bilang tidak apa apa dan diberi obat. Saya pikir, minum obat pasti sembuh. Tapi pada hari ketiga, keadaan bertambah buruk. Saya tidak bisa bangun, susah makan, napas terkadang sesak, sehingga badan jadi sangat lemas. Karena keadaan makin buruk, saya dibawa ke dokter lagi. Ketika diperiksa, dokter bilang tidak terjadi apa-apa. Saya kembali ke rumah. Kata orang, kalau jatuh dan kepala terantuk batu, baiknya digosok dengan arak. Maka di rumah, orang tua menggosok kepala saya dengan arak. Gosokan itu bukan membaik, malah benjolan itu bertambah besar. Setiap makanan yang saya makan pasti keluar, bahkan sampai keluar dari hidung.

Pada hari ke enam, orangtua saya mengamati sakit saya tidak ada perubahan, terutama pada kepala dan mata ada yang tidak beres. Hari ke tujuh orang tua memutuskan untuk berobat ke Jakarta. Menurut mereka mungkin di Bangka Belitung peralatannya belum lengkap, sehingga tidak bisa mendeteksi. Setelah dokter di Jakarta melihat dari hasil rontgen, saya harus segera siap untuk dioperasi. Menurut dokter, untung saya segera dibawa, jika tidak saya akan segera meninggal.

Opa yang ikut mengantar saya segera menyetujui operasi. Malam sebelum dioperasi, saya tidak bisa melihat apa-apa. Padahal sebelumnya saya masih bisa melihat perawat dan dokter meski secara dekat. Operasi pun dilakukan di RS Cipto Mangunkusumo. Hasilnya, saya dinyatakan buta. Semua saraf menjadi lumpuh, sehingga saya hanya bisa tidur-tiduran.

Selama setengah bulan di rumah sakit, banyak saudara dan teman-teman yang menjenguk. Setelah itu saya diijinkan pulang dan tinggal di rumah saudara di Jakarta. Saya tetap berobat dan lakukan terapi. Jalan saya tidak bisa, pegang sendok pun tidak juga, sehingga saya harus digendong dan disuapi. Setelah empat bulan ikut terapi, lambat laun saya bisa berjalan kembali dengan perlahan-lahan. (Bersambung)

Diposting oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Monday, November 12, 2007

Lagu "Dia Mengerti"

Ada lagu baru yang diluncurkan oleh Impact Music yang berjudul “Dia Mengerti”. Lagu ini terdapat dalam Album Rohani Anak-Anak, tapi lagu untuk orang dewasa. Lagu ini dinyanyikan oleh Delon Idol. Alberd Tanoni yang menjadi produser album ini bercerita kepada saya bahwa penggubah lagu ini adalah Pendeta Isaac Arief dari Jawa Timur yang mengalami dalam kehidupannya sendiri apa yang dikisahkan lagu ini.

Dalam pergumulan hidupnya ia terkadang merasa tidak ada jalan terbuka, tidak ada lagi waktu, sepertinya terlambat pertolongan Tuhan. Namun Tuhan tidak pernah berdusta, Dia s’lalu pegang janji-Nya. Pdt. Arief sudah mengalami bahwa yang Dia minta hanyalah percaya, sampai mukjizat itu menjadi nyata. Lagu ini bukan hanya enak dinyanyikan, namun sangat menguatkan hati kita.

Menurut Alberd lagi, lagu ini akan menjadi theme song dalam acara Natal RCTI bulan Desember mendatang. Ayo, simaklah lagu yang enak didengar ini.

DIA MENGERTI
Ciptaan : Isaac Arief

Terkadang kita merasa
Tak ada jalan terbuka
Tak ada lagi waktu
Terlambat sudah,

Tuhan tak pernah berdusta
Dia s’lalu pegang janji-Nya
Bagi orang percaya
Mukjizat nyata.

Chorus:
Dia mengerti, Dia peduli
Persoalan yang sedang terjadi
Dia mengerti, Dia peduli
Persoalan yang kita alami

Namun satu yang Dia minta
Agar kita percaya
Sampai mukjizat menjadi nyata.


Ditulis oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Tuhan Di Sepanjang Hidupku

Bertahun-tahun yang lalu, anak laki laki saya menderita sakit sangat parah, sistem kekebalan tubuhnya sangat rendah sehingga ia harus selalu berada dalam ruang isolasi. Pada waktu itu saya sudah melayani di sebuah gereja. Karena anak saya itu tidak bisa pergi ke gereja, maka saya juga tidak bisa pergi ke gereja.

Waktu itu saya tinggal di sebuah kota kecil yang sangat dingin di Kanada, penduduk kota itu hanya 5000 orang dan saya tinggal di sebuah rumah yang kecil juga. Saya hanya pergi dari rumah ke Rumah Sakit saja, tidak bisa pergi menyanyi untuk Tuhan, tidak bisa melayani lagi, tidak bisa kemana pun. Saya hanya bisa tinggal di rumah dan keadaan sangat buruk dalam hidup saya waktu itu. Tapi seseorang menelpon saya ke rumah, ia berkata bahwa ia mendapat sebuah pesan dari Tuhan untuk disampaikan pada saya. Ini yang dikatakannya, "Saya melihat engkau sedang memimpin suatu bala tentara penyembah dan pelayananmu tidak hanya di kota ini, tidak hanya di Kanada, tidak hanya di Amerika, tapi Tuhan mempunyai sebuah pelayanan yang sangat besar untukmu."

Pada saat itu saya hanya bisa tinggal di rumah, tidak bisa kemana-mana, sepertinya dunia saya berakhir. Tapi tiba-tiba ada seseorang menelpon dan bernubuat untuk saya, itu adalah nubuatan yang membangun, mengangkat roh saya, mengingatkan saya bahwa Tuhan punya tujuan besar untuk saya.

Ini bukan pertama kali diberitakan pada saya. Bertahun-tahun yang lalu Tuhan telah memberitahukan hal besar ini pada saya. Tapi pada saat yang sangat sukar dalam hidup saya, Tuhan berbicara lewat seseorang yang lain untuk mendorong dan menyemangati saya.

Tidak berapa lama yang lalu, ada seorang penginjil datang ke gereja kami di Kanada. Keesokan harinya, saya harus pergi ke luar kota untuk melakukan rekaman lagu. Pada waktu saya tiba di airport, penginjil itu pun ternyata tiba juga di airport dan ia berjalan persis di sebelah mobil saya, kami pun mengantri di barisan yang sama. Ia mengetahui bahwa malam sebelumnya saya menyanyi di kebaktian yang ia layani dan ia pun mulai mengatakan kata-kata yang mendorong saya.

Kami naik pesawat yang sama dan ternyata duduk bersebelahan. Ia berkata bahwa Tuhan menempatkan kami bersama karena Tuhan mau agar ia menyampaikan sesuatu kepada saya. Kemudian ia berkata bahwa mukjizat-mukjizat akan mulai terjadi pada saat saya menyanyi dan dalam waktu satu minggu hal ini akan dikonfirmasikan. Sepanjang perjalanan ia terus mendorong pelayanan saya dan mendorong saya untuk membuat CD lagu-lagu tentang mukjizat dan kesembuhan.

Kamipun berpisah dan saya melakukan rekaman lagu seperti yang sudah direncanakan di kota itu. Tapi tidak seorang pun yang berbicara tentang mukjizat pada saya selama saya ada di kota itu. Lalu sayapun pulang kembali ke kota saya pada akhir minggu. Akhir minggu itu adalah hari ke-7 seperti yang dijanjikan oleh si penginjil bahwa akan ada konfirmasi yang diberikan pada saya mengenai nubuatan yang diberikannya.

Lalu saya pergi ke satu kota lain dan menyanyi di gereja di kota itu. Di sana ada seorang pelayan musik yang mengatakan bahwa ada seseorang yang ingin bertemu saya untuk menceritakan sesuatu pada saya. Seorang wanita kemudian dipertemukan dengan saya. Dia menceritakan bahwa terakhir kali saya berada di kota itu dan bernyanyi, wanita ini juga hadir dan waktu itu tubuhnya penuh dengan rasa sakit dan pada waktu saya menyanyi dia merasa ada rasa hangat yang mengaliri tubuhnya dan rasa sakit itu pun meninggalkan dia. Jadi wanita ini meneguhkan apa yang dikatakan penginjil tadi. Itu adalah nubuatan, ia menasehati saya untuk melakukan hal yang baik. Ia memberitahu saya untuk membuat lagu tentang mukjizat dan merekamnya.

Anak laki-laki saya yang tadi saya ceritakan, akhirnya meninggal pada usianya yang ke-3. Masa itu adalah masa yang paling sukar yang tidak bisa saya gambarkan. Saya bahkan merasa sangat sulit untuk bernafas waktu itu, karena rasanya sangat sakit. Saya berdoa agar Tuhan menolong saya, karena seperti mau mati rasanya. Pada hari penguburan, ada seorang wanita datang dan menemui gembala kami. Ia kebingungan karena ia merasa mendapatkan pesan dari Tuhan tapi tidak lumrah orang bernubuat pada saat pemakaman. Lalu gembala kami mengajaknya masuk ke ruang tunggu keluarga dimana kami sedang menunggu acara pemakaman dimulai.

Dan wanita ini pun mulai menyampaikan apa yang Tuhan taruh di dalam hatinya. Kata-kata ini seperti menyembuhkan hati kami. Ia berkata bahwa Tuhan akan menyertai kami semua di waktu waktu sulit yang akan datang dan bahwa akan banyak jiwa datang pada Tuhan Yesus melalui kematian anak kami. Dan ia menyemangati kami dengan banyak kata-kata.

Beberapa tahun sebelum saya menikah, saya merasa bahwa Tuhan mendorong saya untuk membuat album rekaman dan saya pun melakukannya. Namun album rekaman itu tidak dapat terjual dalam jumlah banyak pada waktu itu. Dan bertahun-tahun kemudian, pada waktu anak laki laki saya sakit, sekali waktu saya harus pergi ke sebuah kota yang berjarak 20 jam berkendaraan dari tempat tinggal saya dan saya harus meninggalkan anak perempuan saya bersama neneknya. Tapi selama saya tidak bersama anak perempuan saya itu, ternyata neneknya memutarkan kaset rekaman saya itu sehingga anak perempuan saya bisa tertidur setiap malam dengan mendengarkan suara saya dari kaset dan ia yang masih kecil dapat tetap merasa bersama saya. Pada waktu saya merekam kaset itu saya tidak tahu bahwa kejadian ini akan terjadi, tapi saya sudah lakukan apa yang saya bisa. Saya pikir bahwa saya akan menjual kaset saya ke seluruh dunia, tapi ternyata itu yang terjadi dan saya tidak akan menukarnya dengan apapun di dunia ini, bahwa saya bisa tetap bersama anak perempuan saya melalui suara saya di kaset itu ketika kami harus terpisah karena penyakit. Tuhan Yesus memberkati
(Kesaksian Ev. Evangeline Inman)

Ditulis oleh Hadi Kristadi untuk PENTAS KESAKSIAN
http://pentas-kesaksian.blogspot.com

Kesaksian Pembaca Buku "Mukjizat Kehidupan"

Pada tanggal 28 Oktober 2009 datang SMS dari seorang Ibu di NTT, bunyinya:
"Terpujilah Tuhan karena buku "Mukjizat Kehidupan", saya belajar untuk bisa mengampuni, sabar, dan punya waktu di hadirat Tuhan, dan akhirnya Rumah Tangga saya dipulihkan, suami saya sudah mau berdoa. Buku ini telah jadi berkat buat teman-teman di Pasir Panjang, Kupang, NTT. Kami belajar mengasihi, mengampuni, dan selalu punya waktu berdoa."

Hall of Fame - Daftar Pembaca Yang Diberkati Buku Mukjizat Kehidupan

  • A. Rudy Hartono Kurniawan - Juara All England 8 x dan Asian Hero
  • B. Pdt. DR. Ir. Niko Njotorahardjo
  • C. Pdt. Ir. Djohan Handojo
  • D. Jeffry S. Tjandra - Worshipper
  • E. Pdt. Petrus Agung - Semarang
  • F. Bpk. Irsan
  • G. Ir. Ciputra - Jakarta
  • H. Pdt. Dr. Danny Tumiwa SH
  • I. Erich Unarto S.E - Pendiri dan Pemimpin "Manna Sorgawi"
  • J. Beni Prananto - Pengusaha
  • K. Aryanto Agus Mulyo - Partner Kantor Akuntan
  • L. Ir. Handaka Santosa - CEO Senayan City
  • M. Pdt. Drs. Budi Sastradiputra - Jakarta
  • N. Pdm. Lim Lim - Jakarta
  • O. Lisa Honoris - Kawai Music Shool Jakarta
  • P. Ny. Rachel Sudarmanto - Jakarta
  • Q. Ps. Levi Supit - Jakarta
  • R. Pdt. Samuel Gunawan - Jakarta
  • S. F.A Djaya - Tamara Jaya - By Pass Ngurah Rai - Jimbaran - Bali
  • T. Ps. Kong - City Blessing Church - Jakarta
  • U. dr. Yoyong Kohar - Jakarta
  • V. Haryanto - Gereja Katholik - Jakarta
  • W. Fanny Irwanto - Jakarta
  • X. dr. Sylvia/Yan Cen - Jakarta
  • Y. Ir. Junna - Jakarta
  • Z. Yudi - Raffles Hill - Cibubur
  • ZA. Budi Setiawan - GBI PRJ - Jakarta
  • ZB. Christine - Intercon - Jakarta
  • ZC. Budi Setiawan - CWS Kelapa Gading - Jakarta
  • ZD. Oshin - Menara BTN - Jakarta
  • ZE. Johan Sunarto - Tanah Pasir - Jakarta
  • ZF. Waney - Jl. Kesehatan - Jakarta
  • ZG. Lukas Kacaribu - Jakarta
  • ZH. Oma Lydia Abraham - Jakarta
  • ZI. Elida Malik - Kuningan Timur - Jakarta
  • ZJ. Luci - Sunter Paradise - Jakarta
  • ZK. Irene - Arlin Indah - Jakarta Timur
  • ZL. Ny. Hendri Suswardani - Depok
  • ZM. Marthin Tertius - Bank Artha Graha - Manado
  • ZN. Titin - PT. Tripolyta - Jakarta
  • ZO. Wiwiek - Menteng - Jakarta
  • ZP. Agatha - PT. STUD - Menara Batavia - Jakarta
  • ZR. Albertus - Gunung Sahari - Jakarta
  • ZS. Febryanti - Metro Permata - Jakarta
  • ZT. Susy - Metro Permata - Jakarta
  • ZU. Justanti - USAID - Makassar
  • ZV. Welian - Tangerang
  • ZW. Dwiyono - Karawaci
  • ZX. Essa Pujowati - Jakarta
  • ZY. Nelly - Pejaten Timur - Jakarta
  • ZZ. C. Nugraheni - Gramedia - Jakarta
  • ZZA. Myke - Wisma Presisi - Jakarta
  • ZZB. Wesley - Simpang Darmo Permai - Surabaya
  • ZZC. Ray Monoarfa - Kemang - Jakarta
  • ZZD. Pdt. Sunaryo Djaya - Bethany - Jakarta
  • ZZE. Max Boham - Sidoarjo - Jatim
  • ZZF. Julia Bing - Semarang
  • ZZG. Rika - Tanjung Karang
  • ZZH. Yusak Prasetyo - Batam
  • ZZI. Evi Anggraini - Jakarta
  • ZZJ. Kodden Manik - Cilegon
  • ZZZZ. ISI NAMA ANDA PADA KOLOM KOMENTAR UNTUK DIMASUKKAN DALAM DAFTAR INI